oleh Zhang Dun
Xu Zhangrun, seorang profesor hukum Tiongkok di Universitas Tsinghua, yang dikenal sebagai seorang kritikus vokal Partai Komunis Tiongkok. Dia ditangkap dan ditahan selama enam hari pada bulan Juli lalu. Tuduhannya karena “mencari pelacur.”
Setelah dibebaskan, Xu Zhangrun mengeluarkan surat terbuka, menyatakan, “Totaliterisme akan kalah, kebebasan akan datang ke negara saya!”
Ia meminta orang-orang untuk meninggalkan rezim Tiongkok dan memiliki harapan untuk masa depan. Universitas Tsinghua segera memecatnya.
Polisi menangkap Xu Zhangrun yang berusia 57 tahun di rumahnya di Beijing pada tanggal 6 Juli. Polisi menahanya karena dicurigai melakukan prostitusi.
Xu Zhangrun dibebaskan pada tanggal 12 Juli. Tiga hari kemudian, Universitas Tsinghua memecat Xu Zhangrun karena telah melakukan “pelanggaran serius terhadap 10 Standar Perilaku Profesional Pengajar di Perguruan Tinggi di Era Baru.”
Pedoman tersebut, yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Tiongkok pada tahun 2018, menetapkan bahwa para pengajar harus dipecat atau dihukum jika mereka mengatakan atau melakukan apa pun yang merongrong otoritas Partai Komunis Tiongkok atau melanggar arah dan kebijakan Partai Komunis Tiongkok.
Menurut pedoman tersebut, para pengajar harus “mematuhi pedoman Pemikiran Xi Jinping mengenai Sosialisme Menurut Karakteristik Tiongkok untuk era baru dan mendukung kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok,” yang mengacu pada ideologi politik pemimpin Tiongkok Xi Jinping.
Setelah pemecatan Xu Zhangrun, lebih dari 500 alumni Universitas Tsinghua memprakarsai sumbangan untuk Xu Zhangrun yang menghasilkan lebih dari 100.000 yuan (usd 14.308).
Dalam surat terbukanya pada tanggal 19 Juli, Xu Zhangrun berterima kasih kepada mereka tetapi mengatakan tidak akan menerima uang sumbangan itu.
Menurut Xu Zhangrun, ia masih dapat mencari nafkah dengan menulis, dan uang itu harus diberikan kepada orang-orang yang mengalami kesulitan besar.
Tuduhan “mencari pelacur” sering digunakan oleh pihak berwenang Komunis Tiongkok untuk menindak warga yang dianggap sebagai pembangkang. Teman-teman Xu Zhangrun mengatakan bahwa kemungkinan kritik terbuka Xu Zhangrun terhadap rezim Komunis Tiongkok menyebabkan penangkapannya.
Pada bulan Februari, Xu Zhangrun menyerukan kepada Partai Komunis Tiongkok karena Partai Komunis Tiongkok menyebabkan pandemi virus Komunis Tiongkok global. Dalam artikel berjudul, “Orang yang Marah Tidak Takut Apa-Apa Lagi,” Xu Zhangrun mengkritik rezim Tiongkok yang dianggap telah melakukan bencana, karena “ketidakmampuan”, “korupsi moral”, dan “kegagalan institusional” rezim Komunis Tiongkok.
Xu Zhangrun meminta 1,4 miliar orang Tiongkok untuk “bersiap-siap untuk merangkul kekuatan anda, hati anda, dan hidup anda, semangat kebebasan yang akan bersinar di atas tanah Tiongkok.”
Pada bulan Mei, Xu Zhangrun menerbitkan artikel lain berjudul, “Tiongkok, Satu-satunya Kapal Di Samudra Lone Boat di Peradaban Dunia,” memberikan daftar panjang siasat penipuan rezim Tiongkok.
Xu Zhangrun menyimpulkan dengan mengatakan, “Cukup dengan gunung mayat dan lautan darah selama 70 tahun kediktatoran merah!”
Li Hengqing, juga mantan alumni Universitas Tsinghua dan mahasiswa pembangkang selama unjuk rasa di Lapangan Tiananmen pada tahun 1989 silam, mengatakan kepada grup media The Epoch Times bahwa rezim komunis Tiongkok menggunakan tuduhan prostitusi untuk mengkriminalkan siapa pun yang diinginkannya.
“Rezim Tiongkok tidak menunjukkan pedoman saat rezim Tiongkok mengarang alasan-alasan. Saya yakin itulah yang dilakukan rezim Komunis Tiongkok,” kata Li Hengqing.
Vivi/rp
Keterangan Foto : Seorang petugas polisi paramiliter berjaga di Lapangan Tiananmen di Beijing, pada 11 Maret 2018. (Greg Baker / AFP via Getty Images)
Video Rekomendasi :


