Xi Jinping Akui Negara Dalam Kesulitan, Memprakarsai Semangat Swasembada Era Mao Sebagai Tanggapan

oleh Luo Tingting

Sekretaris Jenderal Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok Xi Jinping, baru-baru ini mengadakan perjalanan ke wilayah selatan dari daratan Tiongkok untuk melakukan inspeksi. Saat berada di sebuah perusahaan di kota Chaozhou, Guangdong, Xi Jinping mengakui bahwa komunis Tiongkok sedang dihadapkan pada ‘perubahan besar yang belum pernah terjadi dalam abad terakhir’, sedang menemui berbagai kesulitan yang tidak mudah untuk diatasi, oleh karenanya ia ingin mengajak rakyat Tiongkok untuk kembali belajar dari semangat swasembada yang dibangun oleh Mao Zedong pada eranya. 

Para cendekiawan percaya bahwa dalam situasi negara dihadang oleh berbagai kesulitan, strategi tanggapan dari Sekjen Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jining tidak lain adalah ingin kembali ke strategi menutup negara seperti zaman dahulu. Tampaknya, Xi Jinping masih ingin terus mempertahankan filsafat marxisme dan membawa Tiongkok kembali ke era ekonomi terencana/terpimpin.

Pada 12 Oktober sore hari, Xi Jinping dan rombongannya tiba di ChaoZhou Three-circle (Group) Co.,Ltd. untuk mengadakan inspeksi. 

Zhang Wanzhen, pemimpin tertinggi perusahaan tersebut adalah mantan wakil walikota Chaozhou. Jadi dapat dikatakan bahwa perusahaan tersebut adalah perusahaan swasta yang kental dengan “bau pemerintah”.

Selama inspeksi, Xi Jinping mengatakan bahwa Partai Komunis Tiongkok, kini sedang mengalami perubahan besar yang belum pernah terjadi dalam abad terakhir, dan satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah swasembada. 

Komentar dari Radio France Internasionale menyebutkan bahwa swasembada atau berdikari adalah istilah yang paling sering digunakan pada era Mao Zedong. 

Pada saat itu, Partai Komunis Tiongkok diisolasi secara global, putus hubungan diplomatik dengan AS yang dituduh imperialisme dan berselisih dengan Uni Soviet yang dituduh beraliran revisionisme. Mao Zedong terpaksa meminta rakyat Tiongkok untuk “berdiri di atas kaki sendiri”.

Dalam ingatan generasi Tionghoa sebelumnya, Berdikari sering dikaitkan dengan kemiskinan dan kelaparan. 

Faktanya, pada puncak perang dagang Tiongkok – AS, Xi Jinping telah menyinggung soal perlunya Tiongkok untuk tidak tergantung pada luar negeri. 

Pada bulan September 2018, ketika Xi mengunjungi tiga provinsi Timur Laut Tiongkok, ia mengatakan bahwa teknologi canggih dan utama dari dunia luar semakin sulit diperoleh, memaksa kita untuk menempuh jalan swasembada.

Xi Jinping menyinggung soal perlunya swasembada pada waktu inspeksi ke selatan, saat Amerika Serikat mulai melakukan serangan balik terhadap Partai Komunis Tiongkok di semua aspek termasuk politik, militer, ekonomi, dan budaya, menjadi perhatian publik dalam dan luar negeri.

Laporan Bloomberg menyebutkan bahwa apa yang disebut Xi tentang perubahan besar yang belum pernah terjadi dalam abad terakhir, jelas mengacu pada kemerosotan hubungan AS – Tiongkok dan dampak epidemi virus terhadap ekonomi Tiongkok. 

Sedangkan prakarsa  swasembada dianggap sesuai dengan kebijakan ekonomi Xi Jinping, yang mana belakangan ini sering ia gemakan dalam berbagai kesempatan, yakni berfokus pada ekonomi “sirkulasi internal”(dalam negeri) dan “sirkulasi ganda” (dalam dan luar negeri).

Namun demikian, banyak ahli mengatakan bahwa apa yang dimaksudkan oleh Xi Jinping “sirkulasi internal,” pada dasarnya adalah menutup negara dari hubungan dengan dunia luar, tetapi itu sudah jelas tidak akan membawa keberhasilan. 

Mr. Feng, seorang sarjana lulusan Universitas Shantou kepada Radio Free Asia mengatakan bahwa serangkaian pidato yang disampaikan Xi Jinping baru-baru ini, sebenarnya sudah mengindikasikan kehendaknya agar ‘memperbesar peran sektor negara dan memperkecil peran sektor swasta’, sehingga Tiongkok bisa kembali ke era ekonomi terencana/terpimpin.

“ia (Xi Jinping) sekarang ingin menemukan model ekonomi yang berbasis pada perusahaan milik negara dan berdasarkan pada sistem distribusi sumber daya nasional. Jelas, itu adalah memperbesar peran sektor negara dan menekan peran sektor swasta. Dan, apa yang dimaksudkan oleh XiJinping sebagai reformasi adalah reformasi yang dilakukan di bawah premis, di mana negara yang mengalokasikan sumber daya milik negara. Ini merupakan ekonomi terencana”.

“Shenzhen akan menjadi Hongkong berikutnya”

Dalam pidatonya di Chaozhou, Xi Jinping juga mengatakan bahwa ia juga menghadiri perayaan 40 tahun berdirinya Zona Ekonomi Khusus Shenzhen pada 14 Oktober. Seolah-olah Xi ingin menyampaikan kepada dunia bahwa komunis Tiongkok masih konsisten untuk berjalan pada jalur reformasi dan keterbukaan.

Sehari sebelum pidato Xi Jinping, Shenzhen menerima “paket hadiah besar” dari pemerintah pusat. 

Pada 11 Oktober, Kantor Umum Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok dan Kantor Umum Dewan Negara, mengeluarkan sebuah arahan menyangkut ‘Rencana Shenzhen Membangun Zona Ekonomi Sosialisme Berkarakteristik Tiongkok sebagai Percontohan Implementasi Reformasi Komprehensif Tahun 2020 – 2025’. 

Arahan tersebut juga disebut-sebut sebagai zona ekonomi khusus Tiongkok merintis babak baru dalam mengimplementasikan reformasi dan keterbukaan.

Shenzhen adalah salah satu zona ekonomi khusus pertama yang didirikan oleh rezim Beijing. Zhong Haibo, manajer umum Guangdong Zhanfu Assets memberitahu media daratan bahwa Shenzhen akan memimpin pelaksanaan program percontohan reformasi, yang membuka jalan bagi rencana pembangunan 5 tahun ke depan bagi Tiongkok.

Dengan kata lain, membuka jalan bagi diskusi tentang program ‘Lima Tahun ke-14’ (semacam GBHN Tiongkok), yang akan dibawakan dalam Sidang Paripurna Kelima PKT pada bulan Oktober ini. Sedangkan “sirkulasi ganda” disebut-sebut sebagai pengatur nada untuk menggolkan rencana ekonomi ‘Lima Tahun ke-14’.

Wang Jian, orang media senior memberikan analisisnya melalui saluran YouTube, mengatakan bahwa pembentukan zona ekonomi sosialisme berkarakteristik Tiongkok di Shenzhen, adalah sebuah reposisi terhadap kota Shenzhen oleh otoritas Xi Jinping.

Wang Jian membandingkan tur Xi Jinping ke selatan dengan tur Deng Xiaoping ke selatan pada waktu lalu. Mengatakan tentang tur Deng Xiaoping ke selatan adalah tur untuk menggemakan reformasi, karena ekonomi terencana atau terpimpin yang diterapkan oleh PKT sudah menghadapi jalan buntu, alias Tiongkok tidak akan bisa maju.

Jadi, perlu reformasi menjadi ekonomi pasar. Sedangkan Shenzhen sekarang, malahan ditugaskan untuk membuktikan bahwa sosialisme dapat dilaksanakan di Tiongkok. Wang Jian secara gamblang mengatakan bahwa tugas ini tidak mungkin bisa dipenuhi.

Wang Jian mengatakan bahwa, Xi Jinping sesungguhnya menentang reformasi dengan melambaikan bendera reformasi. Itu sebenarnya ditujukan untuk menentang reformasi yang dilakukan sebelumnya, bahkan menggunakan reformasi untuk mencapai tujuan anti-reformasi. 

Xi bahkan ingin mempertahankan jalan sosialis. Tujuannya tak lain adalah untuk membuktikan bahwa jalan yang ia pilih tidak salah. Jika ini terus berlanjut, Shenzhen akan menjadi Hongkong berikutnya, dan Partai Komunis Tiongkok pasti menemui kehancuran.

Hal yang perlu disebutkan di sini adalah bahwa pada malam perjalanan Xi Jinping ke Shenzhen, menjelang berlangsungnya Sidang Pleno Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok Ke-5, Li Youwei, mantan sekretaris Komite Partai Kota Shenzhen yang menjabat sebagai walikota Shenzhen sewaktu Deng Xiaoping tur ke selatan, menerbitkan sebuah artikel di media Hongkong pada 21 September yang sampai 13 kali menuliskan ‘Mau Kemana ?’ rezim Beijing ini membawa negara. Mengingatkan pihak berwenang untuk tidak membuat “kesalahan” dengan mengikuti jalan yang ke “kiri”.

Analisis : Resep Xi Jinping mempercepat kematian Partai Komunis Tiongkok

Qin Jiishi, seorang komentator politik menulis di media ‘Secretchina’ bahwa tur ke selatan Deng Xiaoping pada tahun 1992 berhasil memberikan obat penenang bagi PKT. Membuat PKT tidak jadi gila saat itu. Kontrol ideologis PKT untuk sementara dapat dilonggarkan, tekanan ekonomi berkurang dan pembangunan dapat dimulai.

Namun, pada era Xi Jinping, kadar penenang dari obat yang diberikan Deng telah pudar. Di sisi lain, Amerika Serikat tidak lagi bersedia menerima beban transfusi darah untuk PKT. 

Sebaliknya, malahan menetapkan target untuk menghancurkan PKT dan sedang dijalankan secara efisien. PKT sekarang seperti pasien yang membutuhkan perawatan segera dan intensif, tetapi dokter yang bertanggung jawab hanya satu orang, ia bernama Xi Jinping yang dijuluki sang ‘Juru Akselerasi’, karena resepnya dapat mempercepat kematian PKT. (sin/asr)

https://www.youtube.com/watch?v=8QFaz3_fda0

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine