Di Balik Guncangan Skandal Joe Biden yang Diblokir Penyebarannya oleh Facebook dan Twitter

Tian Yun

Kasus dijegalnya artikel  New York Post oleh Twitter dan Facebook. Artikel berisi kritikan terhadap kandidat presiden Amerika Serikat, Joe Biden.  Bahkan kedua media sosial terbesar di dunia itu juga memblokir akun resmi terpilihnya kembali presiden Amerika Serikat Donald Trump dan New York Post

Pada 14 Oktober pukul 5 pagi waktu setempat, New York Post merilis berita eksklusif, mengungkap sejumlah email yang berisi tentang Hunter Biden yang memperkenalkan ayahnya kepada Vadym Pozharskyi, seorang eksekutif puncak di sebuah perusahaan energi Ukraina, Burisma. 

Salah satu email pada April 2015 itu menyebutkan bahwa seorang penasehat dewan Burisma Vadym Pozharskyi berterima kasih kepada Hunter karena mengundangnya ke Washington bertemu dengan ayahnya, yang saat itu menjabat sebagai wakil presiden Amerika Serikat.

Setelah artikel  dipublikasikan, media sosial terbesar di dunia Twitter dan Facebook segera menjegal penggunanya untuk menyebarkan tautan link artikel New York Post yang mengkritik Joe Biden.  

Dalam kasus ini, mereka juga memblokir akun resmi terpilihnya kembali presiden Amerika Serikat Donald Trump dan New York Post, serta akun sekretaris pers Gedung Putih Kayleigh McEnany karena telah membagikan artikel tersebut. Selain itu, akun pribadi bintang film Hollywood, James Woods dan akun pribadi lainnya juga diblokir.

Alasan Twitter terkait pemblokiran tersebut adalah keaslian berita New York Post belum diverifikasi dan mungkin berasal dari “materi yang diretas”, yang berisi alamat email dan nomor telepon pribadi. Namun, tim kampanye Biden tidak mengklaim bahwa email tersebut palsu atau komputer Hunter telah diretas.

Pada pukul 4 sore tanggal 14 Oktober, “New York Post” menerbitkan laporan bahwa “Facebook dan Twitter memblokir artikel tentang skandal Hunter Biden.” 

Artikel tersebut menulis: “Meskipun tim kandidat presiden Joe  Biden hanya menyangkal Biden tidak pernah bertemu dengan seorang eksekutif puncak di sebuah perusahaan energi Ukraina, Burisma dalam ‘perjalanan resmi’-nya pada tahun 2015, dan tidak ada klaim sama sekali bahwa komputer putranya diretas, tetapi pemblokiran (media sosial) telah terjadi.”

Artikel itu menyebutkan bahwa Senator Republik Josh Hawley menulis kepada CEO Facebook Zuckerberg pada 14 Oktober, mempertanyakan mengapa Facebook “menyensor” laporan New York Post.

Hawley juga mengirim surat kepada Kepala Staf Administrasi Twitter Jack Dorsey pada hari yang sama, menanyakan mengapa Twitter memastikan bahwa berita New York Post melanggar kebijakannya tentang data yang dicuri dan mengapa Twitter mengambil “tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya” dengan memblokir akun organisasi berita ini.

Hawley mengatakan dalam surat itu: “Saya meminta Anda untuk segera menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dan memberikan penjelasan yang diperlukan, dengan demikian pengguna Anda baru dapat percaya bahwa Anda tidak mencoba mempengaruhi hasil pemilihan presiden dengan menghapus konten tertentu.” 

Situs web berita politik Amerika Serikat Politico menerbitkan sebuah artikel pada malam tanggal 14 Oktober. Artikel menyebutkan bahwa tim kampanye Biden tidak akan mengesampingkan kemungkinan bahwasannya mantan wakil presiden Joe Biden memiliki semacam kontak informal dengan Vadym Pozharskyi, eksekutif puncak perusahaan energi Ukraina, Burisma, dan itu tidak ada dalam rencana perjalanan resmi Biden. Namun, mereka mengatakan bahwa setiap pertemuan itu bersifat “mendadak”.

Tindakan dua raksasa media sosial utama Amerika itu seketika membuat heboh. Presiden Trump, politikus Republik, media konservatif, dan pendukung Trump mengecam tindakan kedua media sosial itu. Bahkan beberapa media sayap kiri menyebut pemblokiran Twitter dan Facebook “tidak biasa”.

Menurut laporan Radio France Internationale (RFI), pada 16 Oktober lalu, tim kampanye Biden menyatakan, bahwa mereka tidak keberatan dengan penjegalan Twitter dan Facebook, dan bahkan mengaku “senang” dengan pemblokiran itu.

Pada 16 Oktober itu, di bawah tekanan opini publik yang kuat, CEO Twitter Jack Dorsey menyesali tindakan perusahaannya dalam berkomunikasi pada publik soal artikel tersebut.

“Komunikasi kami seputar tindakan pada artikel @nypost tidak bagus. Dan memblokir berbagi URL melalui tweet atau DM tanpa konteks mengapa kami memblokir: tidak dapat diterima,” bunyi tweetnya.

Menurut New York Post, email dan informasi lain mengenai Hunter Biden berasal dari laptop Apple yang diperbaiki, tetapi kemudian tidak diambil seusai diperbaiki. Di atas laptop itu ada stiker atas nama yayasan Beau Biden, putra sulung Joe Biden. Pemilik toko menyerahkan komputer tersebut ke FBI pada Desember tahun lalu, tetapi sebelum menyerahkan laptop itu, si pemilik dilaporkan sempat menggandakan isinya dan menyerahkan ke Roberto Costolleo, pengacara Rudy Giuliani.  

Setelah Giuliani mempelajari isi hard drive itu kemudian diberikan ke New York Post pada 11 Oktober.

Pada pagi tanggal 15 Oktober, Giuliani mengunggah tweet berbunyi: “Email yang diperoleh dari hard drive komputer Hunter Biden menunjukkan bahwa Joe Biden berbohong tentang Perusahaan Burisma dan banyak masalah lainnya.”

Pada Mei 2014, Hunter Biden menjadi direktur Burisma, pemasok gas alam terbesar di Ukraina, dengan gaji bulanan US $ 50.000. Sementara Hunter tidak memiliki pengalaman di bidang energi. Saat itu, Joe Biden, ayahnya, yang saat itu menjabat Wakil Presiden, memimpin kebijakan Amerika Serikat  terhadap Ukraina.

Pada Desember 2015, Biden menekan pemerintah Ukraina untuk memecat Viktor Shokin, jaksa yang menyelidiki kasus korupsi di Burisma. Terkait konflik kepentingan antara Joe Biden dan putranya, politisi, media, dan pengamat Amerika Serikat sudah berulang kali meragukan, kecuali Joe Biden mengklaim bahwa dia “tidak pernah berbicara dengan putranya tentang bisnisnya di luar negeri.”

Dilaporkan bahwa informasi lebih lanjut tentang email Hunter Biden dan informasi lainnya akan dipublikasikan, diantaranya mungkin termasuk transaksi dengan Partai Komunis Tiongkok. Sebelumnya, reporter investigasi  dan laporan Senat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa dari 2010 hingga 2014, Hunter Biden kurang lebih pernah 5 kali berkunjung ke Tiongkok dan bertemu dengan sejumlah besar eksekutif bisnis dan perbankan Tiongkok. 

Perusahaan di bawah namanya memiliki modal yang disuntikkan perusahaan Tiongkok dengan latar belakang Partai Komunis Tiongkok, dan bersama-sama melakukan transaksi dengan perusahaan milik negara Partai Komunis Tiongkok, menyelesaikan merger dan akuisisi yang diyakini bermanfaat bagi militer Partai Komunis Tiongkok serta membahayakan keamanan nasional Amerika.

Saat ini, “isi hard drive” itu jelas berdampak negatif pada Joe Biden dalam pemilihan presiden Amerika Serikat pada November 2020 mendatang. Selain itu, tindakan Facebook dan Twitter yang tidak biasa itu mengundang kecurigaan publik. Sementarta itu, pihak Biden senior sendiri tidak menyangkal dengan keaslian laporan yang dipaparkan New York Post, dan mengapa kedua media sosial itu memblokir penyebaran berita tersebut?

Jika kejadian serupa menimpa Presiden Trump dan keluarganya, Partai Demokrat dan media sayap kiri pasti akan memanfaatkan kesempatan itu dan menciptakan momentum. Saat ini, Facebook dan Twitter secara terbuka menerapkan standar ganda dan menerapkan sensor informasi lintas batas yang brutal, mungkinkah ada faktor Partai Komunis Tiongkok di baliknya ?

Skandal keluarga Biden bukan hanya murni kasus korupsi, tapi juga menyangkut keamanan nasional dan pemilihan presiden Amerika Serikat saat ini, dan tentunya ini sangat serius. (jon)

Keterangan foto : Mantan Presiden AS Barack Obama (kiri), mantan Wakil Presiden Joe Biden (tengah) dan Hunter Biden (kanan), putra kedua Joe Biden. (Mitchell Layton / Getty Images)

https://www.youtube.com/watch?v=lEVnE4RjT7E

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine