Jumlah Korban Tewas di Pihak Tiongkok dalam Bentrokan Berdarah di Perbatasan India – Tiongkok Masih Menyimpan Misteri

Nicole Hao

Media pemerintah Tiongkok pada (19/2/2021) mengklaim bahwa empat tentara Tiongkok tewas di Lembah Galwan, wilayah perbatasan India-Tiongkok, dalam pertempuran sengit 15 Juni 2020, sementara seorang perwira India mengatakan korban tewas di pihak Tiongkok  adalah 45 orang.

Itu adalah bentrokan mematikan pertama di perbatasan Tiongkok-India dalam empat dekade terakhir.

Setelah pertarungan berdarah tersebut, India mengumumkan bahwa 20 tentaranya tewas dan berkali-kali menghormati tentara yang tewas tersebut. Tiongkok tidak mengumumkan kematian tentaranya selama delapan bulan, sampai pada tanggal 19 Februari 2021.

Pasukan Tiongkok dan pasukan India, mengalami kebuntuan selama berbulan-bulan di berbagai lokasi di sepanjang perbatasan Tiongkok-India yang dipersengketakan di wilayah Ladakh. Pada 10 Februari 2021, pasukan dari kedua belah pihak mulai memisahkan diri.

Jumlah Korban yang Tewas yang Bertentangan

Pada 17 Februari, Pejabat Umum India Letnan Jenderal YK Joshi mengatakan kepada News18 India, bahwa setidaknya 45 tentara Tiongkok tewas dalam bentrokan tersebut dan “Tiongkok tidak mendapatkan apa-apa selain kehilangan muka.”

Dalam delapan bulan terakhir, para anggota keluarga mengungkapkan bahwa orang yang mereka cintai adalah tentara Tiongkok di perbatasan yang tewas dalam bentrokan Lembah Galwan. Rezim Tiongkok menyangkal laporan tersebut, dan jumlah korban yang tewas di pihak Tiongkok tetap menyimpan misteri.

Pada 10 Februari, kantor berita TASS Rusia yang dikelola pemerintah melaporkan bahwa 45 orang prajurit Tiongkok tewas dalam bentrokan tersebut.

Yao Cheng, seorang mantan perwira Angkatan Laut Tiongkok, mengatakan kepada Sound of Hope, radio bahasa Mandarin di luar negeri, pada 23 Februari bahwa saluran-saluran informasinya di Tiongkok menghitung jumlah kuburan tentara yang tewas tersebut dan melaporkan kepadanya bahwa lebih dari 40 tentara Tiongkok tewas dalam bentrokan itu. 

“Beberapa [saluran-saluran informasi saya] memberitahu saya bahwa jumlah korban tewas adalah 42 orang. Saya pikir jumlah ini masalah akurat.”

Yao Cheng juga mengatakan bahwa, baik Tiongkok maupun India telah menarik kembali pasukan garis depannya masing-masing  dari daerah sengketa itu. 

“Situasi internasional saat ini memaksa kedua belah pihak untuk menghentikan tembakan,” kata Yao Cheng. 

Yao Cheng yakin pihak India merasa khawatir atas kebijakan Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengenai Tiongkok, dan pihak Tiongkok perlu  fokus di Selat Taiwan dan Laut Tiongkok Selatan, yang lebih banyak kritis.

Yao Cheng mengatakan, ia menerima jumlah tentara yang tewas yang berbeda dari saluran-saluran informasi yang berbeda di Tiongkok. Yao Cheng mengatakan ia yakin jumlah tentara yang tewas yang sebenarnya adalah 42 orang, yang dilaporkan oleh beberapa saluran-saluran informasi miliknya.

Rezim Tiongkok memiliki sebuah kebiasaan melaporkan jumlah kematian yang tidak dilaporkan.

Perang Korea tahun 1950–1953 adalah contoh yang bagus. Rezim Beijing mengumumkan jumlah korban tewas dari pihak Tiongkok adalah lebih sedikit dari 200.000 orang, tetapi perkiraan dari Amerika Serikat, Inggris, dan Korea Selatan mencantumkan jumlah korban yang tewas dari pihak Tiongkok adalah antara 400.000 orang sampai 600.000 orang.

Apa yang Memulai Konflik Tersebut?

Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok mengklaim tentara India menyerang lebih dulu, dan pihak New Delhi mengatakan bahwa tentara Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok menyergap pasukan India yang sedang berpatroli.

PLA Daily melaporkan bahwa, komandan resimen Qi Fabao terluka dan tiga orang lainnya tewas dalam pertempuran itu. Kematian keempat  orang itu dilaporkan, karena seorang tentara yang jatuh ke sebuah sungai yang dingin dalam perjalanan ke garis depan.

Namun, sebuah video diambil di tempat kejadian yang pertama kali dirilis oleh web portal Tiongkok NetEase pada 19 Februari, menunjukkan bahwa Qi Fabao menghina seorang tentara India yang menghampiri untuk bernegosiasi.

“Jika anda tidak ingin berperang, anda harus keluar dari sini [daerah perbatasan]. Keluar!” Qi Fabao berteriak kepada tentara India tersebut dalam video itu. “Saya tidak suka kalian. … Saya akan membunuh kalian semua jika kalian tidak keluar dari sini.”

Netizen Tiongkok berkomentar di bawah video tersebut, bahwa mereka percaya sikap Qi Fabao yang agresif membuat marah tentara-tentara India dan memicu terjadinya bentrokan tersebut. (vv)

Keterangan Foto : Komandan resimen Tiongkok Qi Fabao berteriak kepada seorang tentara India yang ingin bernegosiasi dengannya di Lembah Galwan, wilayah perbatasan India-Tiongkok, pada Juni 2020. (Screenshot / Weibo)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine