100 Lebih Pintu Masuk Rumah Warga Apartemen di Guangzhou, Tiongkok Didobrak Petugas Ketika Penghuninya Menjalani Karantina Kolektif

oleh Chang Chun

Insiden perilaku ekstrem dari petugas pencegahan epidemi di Kota Guangzhou, Tiongkok kembali terjadi. Setelah kasus penyebaran virus COVID-19 yang dikonfirmasi terdeteksi di sebuah komplek apartemen di Kota Guangzhou, kemudian warga penghuninya secara paksa dibawa ke sebuah hotel untuk menjalani karantina. Selama masa karantina itu, petugas pencegah epidemi bersama petugas keamanan komplek bersama melakukan tindakan ilegal dengan mendobrak pintu masuk tempat tinggal warga lalu masuk ke dalam rumah kosong untuk mengadakan penggeledahan. 

Menurut media daratan Tiongkok “Tianmu”, 100 lebih rumah warga penghuni komunitas Guangzhou Banghua dan Xingxing yang dipaksa menjalani karantina di hotel. Mereka mengalami kerusakan pintu masuk karena didobrak oleh petugas ber-APD dengan dalih mengadakan penggeledahan di dalam rumah.

Video online menunjukkan bahwa kunci pintu masuk banyak rumah penghuni dibongkar paksa dan digeletakkan di lantai lalu pintu-pintu itu disegel.

Petugas dari komunitas pada 15 Juli mengatakan bahwa kasus mendobrak pintu masuk warga itu terjadi pada 10 Juli, karena menerima laporan “ada warga yang bersembunyi dalam apartemen”, lalu keempat instansi yakni CDC, kantor kecamatan, komite lingkungan, dan kantor polisi bersama memutuskan untuk mendobrak pintu masuk rumah warga yang mendiami dari lantai 6 hingga 12 yang dikonfirmasi terinfeksi untuk mengadakan penggeledahan.

Petugas dari komunitas mengatakan, bahwa tujuannya adalah pertama untuk melakukan penyemprotan disinfektan seluruh tempat tinggal, dan yang kedua adalah untuk mencegah kalau-kalau ada warga yang bersembunyi di dalam karena menolak karantina. Mereka berjanji akan membantu pemilik rumah untuk mengganti kunci baru.

Polisi dalam komplek itu mengatakan : “Sebagai warga negara, harus selalu mau bekerja sama dengan pemerintah terutama dalam periode khusus ini. Nanti kunci-kunci pintu yang rusak akan ada penggantiannya”.

Zhang Hai, anggota keluarga dari korban COVID-19 mengatakan : “Kesan yang saya peroleh adalah petugas komunitas tampaknya sudah menjadi anggota terendah dari dunia hitam di Tiongkok sekarang, menjadi tukang pukul dan membantu kepolisian untuk melakukan tindak kekerasan dengan mengaku sebagai pelayan rakyat. Termasuk petugas komunitas dan petugas instansi pemerintahan, mereka bisa memerintah orang seenaknya seperti bos saja, Anda harus begini dan begitu sesuai kemauannya. Ini adalah fenomena sosial yang sangat tidak normal”.

Zhang Hai juga mengatakan bahwa petugas komunitas hanya orang yang disewa oleh penghuni apartemen untuk membantu tugas-tugas menjaga keamanan, ketertiban, tetapi mereka merendahkan hukum dan menyalahgunakan hak itu untuk melakukan apa saja yang mereka kehendaki.

Berkenaan dengan rumah ke dalam tempat tinggal penghuni secara ilegal dengan dalih penyemprotan disinfektan, Pasal 27 Undang-Undang tentang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Tiongkok menetapkan : Untuk limbah, kotoran, tempat dan barang yang terkontaminasi oleh patogen penyakit menular, unit dan individu terkait harus melakukan perawatan disinfeksi yang ketat di bawah bimbingan lembaga pencegahan dan pengendalian penyakit atau sesuai dengan persyaratan kebersihan yang diajukan oleh mereka. “Jika penyemprotan disinfektan ditolak, departemen administrasi kesehatan setempat atau badan pencegahan dan pengendalian penyakit berhak melakukan pemaksaan”.

Namun, beberapa penghuni apartemen mengungkapkan bahwa warga yang pintu masuk rumahnya didobrak itu tidak “terkontaminasi oleh patogen menular”. Juga bukan warga yang menolak penyemprotan disinfektan, jadi petugas tidak berhak masuk ke rumah warga dengan cara mendobrak pintu masuk untuk melakukan penyemprotan.

Setelah berita tersebut beredar, beberapa netizen Tiongkok meninggalkan komentar yang mengkritik, seperti petugas bertindak “sangat tidak masuk akal”, “Apakah hukum masih ditegakkan ?”, “Begitu enaknya keputusan diambil keempat instansi secara bersama-sama …. tapi dengan mengabaikan hukum yang berlaku”.

Ada netizen yang menekankan bahwa, padahal pihak berwenang baru saja mengumumkan Virus COVID-19 tidak dapat bertahan di permukaan selama sehari pada suhu kamar. Jadi tidak berdasar untuk masuk ke dalam rumah warga dengan mendobrak pintu untuk melakukan penyemprotan.

Sesungguhnya 1001 macam cara pencegahan epidemi wajib yang diberlakukan di berbagai wilayah Tiongkok. 

Misalnya, penduduk Distrik Changping, Beijing mengungkapkan bahwa pihak berwenang mengharuskan orang untuk memakai gelang elektronik selama menjalani karantina mandiri di rumah. 

Di Kota Changchun menetapkan bahwa masker N95 harus dikenakan dalam perjalanan kereta api. Kota Lanzhou memerintahkan 4,4 juta penduduknya tinggal di rumah mulai 13 Juli. Kota Wugang, Provinsi Henan yang menjadi pusat industri baja seluruh kotanya benar-benar diblokir. Kota Beihai, Provinsi Guangxi memberlakukan blokir parsial terhadap dua area dengan lebih dari 800.000 jiwa penduduk mulai 16 Juli, dan seterusnya.

Zhang Hai mengatakan : “Menjelang Kongres Nasional ke-20 jadi para pejabat di berbagai wilayah mulai menunjukkan sikap pro-pemerintah pusat melalui prestasinya dalam mencegah penyebaran epidemi. Perintah turun dari satu jenjang ke jenjang yang lebih bawah. Saya pikir langkah pencegahan penularan epidemi di Tiongkok ini sudah sampai pada situasi  yang tidak manusiawi”.

Zhang Hai mengatakan bahwa dirinya harus pontang panting karena melakukan uji asam nukleat setiap hari di Shenzhen. Tetapi seorang profesor medis mengatakan di CCTV Channel 7 bahwa gejalanya hanya seperti pilek. Mengapa pihak berwenang masih bersikukuh dengan kebijakan nol kasus dan menyusahkan rakyat jelata ? Ini adalah fenomena sosial yang tidak normal.

Xing Tianxing, seorang komentator politik yang tinggal di Amerika Serikat mengatakan : “Pencegahan dan pengendalian ekstrim Tiongkok terus berjalan meskipun dipertanyakan oleh masyarakat. Mereka tetap saja bisa menjalankan kejahatan karena tidak adanya kekuatan yang mengawasi, Jadi kejahatan yang mereka lakukan termasuk melanggar hukum, melanggar HAM, tidak dapat dimintai pertanggungjawaban. Itulah sebabnya mereka jadi tidak bermoral, takut takut berbuat kebrutalan”.

Xing Tianxing percaya bahwa di mata pejabat PKT, rakyat jelata adalah hewan berkaki dua yang dikurung dalam sangkar, mereka dapat melakukan apapun yang mereka inginkan. Rakyat jelata tidak memiliki hak asasi manusia dan tidak memiliki perlindungan hukum. Pencegahan dan pengendalian ekstrim Tiongkok adalah manifestasi dari arogansi kekuasaan, dan juga menunjukkan betapa brutal dan mendominasinya mereka. (sin)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine