Mimi Nguyen Ly
Sebanyak 129 orang tewas dan 180 orang lainnya terluka setelah massa berdesak-desakan dalam kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/10/2022).
Tragedi terjadi usai pertandingan tim tuan rumah Arema FC dan Persebaya Surabaya dalam lanjutan Liga I. Arema FC kalah dengan skor 2-3.
Setelah pertandingan berakhir, para suporter menyerbu lapangan, kerusuhan pun terjadi. Polisi anti huru hara kemudian melepaskan gas air mata yang memicu kepanikan hingga masa tak terkendali, sebagaimana diungkapkan oleh Kapolda Jawa Timur, Irjen Nico Afinta kepada wartawan.
“Lebih dari 300 orang dilarikan ke rumah sakit, akan tetapi banyak yang meninggal dunia dalam perjalanan dan selama perawatan,” kata Afinta.
Ia mencatat, sebagian besar dari 180 orang yang terluka memburuk, berarti jumlah korban tewas dapat bertambah.
Rekaman video yang beredar menunjukkan orang-orang masuk ke lapangan di stadion dengan kantong mayat.
Di media sosial, rekaman penyerbuan menunjukkan orang-orang berlari menuju ke stadion sebelum rusuh. Ketika polisi memasuki stadion, mengejar mereka sambil memegang tongkat. Rekaman juga menunjukkan asap muncul tiba-tiba di lapangan sepak bola, membuat orang-orang berhamburan.
Ratusan orang berlarian ke pintu keluar untuk menghindari gas air mata. Sejumlah orang sesak napas karena penumpukan massa dan lainnya terinjak-injak hingga menewaskan 34 orang dalam seketika.
Menteri Pemuda dan olahraga Zainudin Amali kepada KompasTV mengatakan pemerintah akan mengevaluasi kembali keamanan di pertandingan sepak bola, termasuk mempertimbangkan untuk tidak mengizinkan penonton di stadion.
Indonesia akan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 FIFA pada Mei dan Juni 2023. (asr)
Reuters dan The Associated Press berkontribusi pada laporan ini.


