Ledakan Besar di Tehran! Depot Minyak Iran Dibombardir, Negara-Negara Teluk Ikut Terseret Konflik

EtIndonesia. Operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran kini telah memasuki minggu kedua sejak konflik besar di kawasan Timur Tengah pecah pada 28 Februari 2026. Dalam perkembangan terbaru, Israel melancarkan salah satu serangan udara terbesar sejak perang dimulai dengan menargetkan infrastruktur energi strategis di ibu kota Iran.

Serangan Udara Besar-besaran di Teheran

Menurut pernyataan resmi militer Israel pada 8 Maret 2026, lebih dari 80 pesawat tempur dikerahkan dalam operasi udara besar yang berlangsung sejak dini hari hingga pagi hari untuk menyerang sejumlah target strategis di Teheran.

Serangan kali ini menandai perubahan strategi penting, karena untuk pertama kalinya operasi udara Israel secara terang-terangan menargetkan fasilitas penyimpanan minyak dan infrastruktur energi Iran, yang juga berperan sebagai pusat logistik militer.

Beberapa lokasi utama yang menjadi sasaran serangan antara lain:

  • Depot minyak Shahran, salah satu fasilitas penyimpanan bahan bakar terbesar di Teheran
  • Beberapa gudang penyimpanan bahan bakar di wilayah timur laut ibu kota

Citra satelit yang beredar setelah serangan menunjukkan ledakan besar disertai kebakaran hebat di sejumlah fasilitas tersebut. Asap hitam pekat terlihat membumbung tinggi ke langit dan dapat terlihat dari berbagai wilayah di kota.

Pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa sebagian kebakaran berhasil dikendalikan oleh tim pemadam kebakaran. Namun pihak berwenang juga mengakui bahwa fasilitas-fasilitas yang terkena serangan memang memiliki fungsi logistik yang berkaitan dengan operasi militer.

Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa setidaknya lima fasilitas terkait minyak terkena dampak langsung serangan udara tersebut. Insiden itu dilaporkan menewaskan empat orang serta menyebabkan kerusakan material yang sangat besar.


Bandara Militer Mehrabad Juga Terus Menjadi Target

Selain infrastruktur energi, militer Israel juga terus menggempur kawasan di sekitar Bandara Internasional Mehrabad di Teheran.

Bandara ini tidak hanya berfungsi sebagai bandara sipil, tetapi juga merupakan salah satu pusat transportasi militer utama Iran, yang digunakan untuk operasi logistik dan pergerakan pesawat militer.

Beberapa laporan menyebutkan bahwa area di sekitar bandara tersebut telah menjadi target serangan berulang dalam beberapa hari terakhir, sebagai bagian dari upaya Israel untuk melemahkan kemampuan mobilisasi militer Iran di ibu kota.


Iran Meluncurkan Gelombang Serangan Balasan

Di tengah meningkatnya tekanan militer, Iran melancarkan serangan balasan besar-besaran terhadap Israel.

Dalam 24 jam terakhir hingga 8 Maret 2026, Iran dilaporkan telah meluncurkan setidaknya 12 gelombang rudal balistik yang diarahkan ke wilayah Israel.

Sebagian besar rudal tersebut berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel, termasuk sistem Iron Dome dan sistem pertahanan multilapis lainnya.

Namun demikian, sebuah kilang minyak di dekat kota Haifa dilaporkan terkena serpihan rudal yang jatuh, yang kemudian memicu kebakaran lokal di area industri tersebut.


Serangan Drone Iran Meluas ke Negara-Negara Teluk

Selain menyerang Israel, Iran juga memperluas serangan menggunakan drone dan rudal ke beberapa negara di kawasan Teluk Persia.

Beberapa insiden yang dilaporkan antara lain:

Bahrain
Sebuah fasilitas industri yang digunakan untuk pemurnian air laut (desalinasi) mengalami kerusakan akibat serangan drone.

Kuwait
Sebuah gedung tinggi milik Badan Jaminan Sosial Kuwait dilaporkan terkena serangan drone dan terbakar. Gedung tersebut kemudian ditutup sementara untuk publik.

Arab Saudi
Sistem pertahanan udara Saudi dilaporkan berhasil mencegat sejumlah target rudal yang diarahkan ke wilayahnya.

Serangan terhadap negara-negara Teluk ini memperluas potensi konflik regional dan menimbulkan kekhawatiran akan meluasnya perang ke seluruh kawasan Timur Tengah.


Negara-Negara Teluk Mengeluarkan Kecaman Keras

Serangan Iran terhadap fasilitas di negara-negara Teluk segera memicu reaksi keras dari pemerintah setempat.

Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengeluarkan pernyataan yang menyebut tindakan Iran sebagai:

“Agresi terang-terangan terhadap target sipil.”

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Kuwait mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan kriminal yang tidak dapat diterima.

Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Kuwait menegaskan bahwa negara tersebut memiliki hak penuh untuk membela diri serta berhak mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna melindungi kedaulatannya.

Menariknya, serangan tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Iran menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga, sebuah perkembangan yang memperlihatkan adanya ketegangan internal dalam kepemimpinan Iran.


Presiden Iran Dikritik Keras oleh Garda Revolusi

Pada 7 Maret 2026, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pidato yang disiarkan di televisi nasional.

Dalam pidato tersebut, ia:

  • menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga
  • menyatakan bahwa Iran tidak akan lagi menyerang negara-negara di kawasan

Namun hanya beberapa jam setelah pidato itu disampaikan, media Raja News, yang dikenal dekat dengan Garda Revolusi Iran (IRGC), secara terbuka mengkritik keras pernyataan presiden.

Media tersebut bahkan menyatakan bahwa:

“Mikrofon harus diambil dari tangan Presiden Pezeshkian.”

Pernyataan ini dianggap sebagai kritik yang sangat tajam dan tidak biasa dalam politik Iran. 

Raja News juga melaporkan bahwa kurang dari satu jam setelah pidato presiden, juru bicara Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran serta penasihat komandan Garda Revolusi segera tampil di media untuk:

  • mengoreksi pernyataan presiden
  • membatasi dampak politik dari pidato tersebut

Media tersebut bahkan menuduh bahwa memberikan hak bicara kepada presiden adalah kesalahan besar dari Komite Kepemimpinan Sementara Iran, serta menilai bahwa Pezeshkian tidak memiliki kecakapan politik dasar.


Ketegangan Internal dalam Struktur Kekuasaan Iran

Dalam struktur kekuasaan Iran, Garda Revolusi Iran (IRGC) merupakan kekuatan militer yang sangat kuat dan langsung berada di bawah komando Pemimpin Tertinggi, yaitu Ayatollah Ali Khamenei.

Sementara itu, presiden sebagai kepala pemerintahan sipil tidak memiliki kendali langsung atas militer.

Menurut konstitusi Iran, apabila Pemimpin Tertinggi meninggal dunia atau tidak mampu menjalankan tugasnya, maka sebuah Komite Kepemimpinan Sementara akan mengambil sebagian tanggung jawab kepemimpinan negara hingga pemimpin baru dipilih.

Dalam situasi saat ini, sikap media yang mewakili Garda Revolusi yang secara terbuka menantang komite tersebut dianggap sebagai perkembangan yang sangat tidak biasa.

Beberapa analis politik menilai bahwa dinamika ini menunjukkan ketegangan serius di dalam struktur kekuasaan Iran, yang berpotensi memperumit situasi politik domestik di tengah konflik militer yang semakin intens di kawasan Timur Tengah. (***)

KPPU Gelar Sidang Perdana Dugaan Persekongkolan Tender Geomembrane di Pertamina Hulu Rokan

Jakarta, 10 Maret 2026 – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) resmi memulai persidangan perdana kasus dugaan persekongkolan tender pengadaan geomembrane di lingkungan PT Pertamina Hulu Rokan. Sidang perkara Nomor 09/KPPU-L/2025 digelar pada Senin, 9 Maret 2026, dengan agenda pembacaan Laporan Dugaan Pelanggaran (LDP) oleh tim investigator.

Perkara ini menyeret tiga pihak sebagai terlapor, yakni PT Pertamina Hulu Rokan selaku pemilik proyek (Terlapor I), PT Total Safety Energy (Terlapor II), dan PT Mutiaracahaya Plastindo (Terlapor III). Ketiganya diduga terlibat dalam praktik persekongkolan yang melanggar Pasal 22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Dalam LDP yang dibacakan di persidangan, investigator mengungkap sejumlah kejanggalan dalam proses tender pengadaan geomembrane—lembaran plastik tebal berbahan HDPE yang berfungsi sebagai lapisan kedap air pada kolam limbah pengeboran minyak. Produk ini krusial untuk mencegah kebocoran limbah yang berpotensi mencemari lingkungan.

Berdasarkan hasil penyelidikan, proses tender diawali dengan tahap request for information (RFI) yang hanya dihadiri dua dari tiga perusahaan yang diundang. Akibatnya, hanya dua peserta yang dilibatkan hingga tahap penawaran. Meskipun kedua peserta dinyatakan lulus evaluasi administrasi, teknis, dan komersial, kejanggalan mulai terlihat pada tahap negosiasi harga. Penawaran dari Terlapor II mengalami penurunan signifikan hingga akhirnya ditetapkan sebagai pemenang.

Investigator menemukan sejumlah fakta mencurigakan lainnya, di antaranya:

  • Penggunaan sertifikat produk yang diduga tidak valid oleh para terlapor;
  • Ketidaklengkapan dokumen Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) milik Terlapor II;
  • Belum terverifikasinya surat kemampuan usaha penunjang migas milik Terlapor III.

Lebih lanjut, investigator menduga adanya dua skema persekongkolan dalam tender ini. Persekongkolan vertikal diduga terjadi ketika Terlapor I memfasilitasi Terlapor II untuk menawarkan produk milik Terlapor III. Sementara persekongkolan horizontal diduga terjadi antara Terlapor II dan Terlapor III melalui koordinasi dalam menawarkan produk yang tidak sesuai spesifikasi, sehingga proses kompetisi berlangsung tidak wajar atau dikondisikan.

Sidang perkara ini dipimpin oleh Majelis Komisi yang terdiri atas Ketua Majelis Eugenia Mardanugraha bersama Anggota Majelis Hilman Pujana, serta Anggota Majelis Mohammad Reza yang mengikuti persidangan secara daring. Sidang selanjutnya dijadwalkan berlangsung pada 30 Maret 2026 dengan agenda tanggapan para terlapor atas LDP serta pemeriksaan alat bukti dari pihak terlapor.

KPPU mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk terus memantau perkembangan kasus ini sebagai bentuk komitmen lembaga dalam menegakkan persaingan usaha yang sehat dan transparan, khususnya di sektor pengadaan barang dan jasa milik negara.

Militer AS Menyerang Kapal Diduga Pengangkut Narkoba di Pasifik Timur, 6 Orang Tewas

EtIndonesia. Militer Amerika Serikat menyatakan bahwa pada 8 Maret, pasukan AS menyerang sebuah kapal yang diduga terlibat dalam penyelundupan narkoba di wilayah Pasifik Timur. Penyerangan ini mengakibatkan enam pria tewas. Operasi ini merupakan bagian dari upaya pemerintah Donald Trump untuk menindak kelompok yang diduga terlibat dalam perdagangan narkoba.

Komandan United States Southern Command, Francis Donovan, menulis di platform X bahwa:
“Informasi intelijen telah mengkonfirmasi bahwa kapal tersebut sedang berlayar di jalur penyelundupan narkoba yang terkenal di Pasifik Timur dan sedang melakukan aktivitas penyelundupan narkoba.”

Menurut laporan Agence France-Presse (AFP), insiden ini merupakan bagian dari operasi yang diklaim Amerika Serikat untuk memerangi kapal-kapal milik kartel narkoba. Namun pihak AS tidak memberikan bukti mengenai narkoba yang diselundupkan.

Sejak September tahun lalu, operasi penindakan yang dilakukan Amerika Serikat terhadap penyelundupan narkoba dilaporkan telah menyebabkan lebih dari 150 orang tewas.

Pada 7 Maret, Presiden AS Donald Trump dalam pertemuan dengan para pemimpin Amerika Latin mendorong mereka untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat dalam melakukan tindakan militer terhadap kartel narkoba dan organisasi kejahatan lintas negara.

Ia menyatakan bahwa kelompok-kelompok tersebut telah menjadi “ancaman yang tidak dapat diterima terhadap keamanan nasional” negara-negara kawasan. (hui) 

Putra Kedua Khamenei Menjadi Pemimpin Tertinggi Iran, Ada Warga Merespons dengan Kemarahan 

Pada 8 Maret, Iran mengumumkan bahwa Mojtaba Khamenei menggantikan ayahnya Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Namun pengumuman ini langsung memicu kemarahan sebagian warga Iran yang meneriakkan slogan “Mojtaba mati saja!”.

EtIndonesia. Setelah Ali Khamenei tewas, Iran sempat lama tidak mengumumkan penggantinya. Pada 8 Maret, media resmi Iran akhirnya menyatakan bahwa putra keduanya, Mojtaba Khamenei, secara resmi menjadi Pemimpin Tertinggi ketiga Iran.

Mojtaba yang kini berusia 56 tahun diketahui memiliki hubungan dekat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Dalam gelombang serangan pertama oleh pasukan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari, kedua orang tuanya serta istrinya dilaporkan tewas.

Video yang beredar di internet menunjukkan warga Iran berdiri di balkon rumah mereka sambil meneriakkan: “Mojtaba mati saja!” sebagai bentuk protes.

Jurnalis Iran Masih Alinejad juga membagikan video di platform X dan mengatakan: “Ini adalah reaksi pertama dari dalam Iran terhadap berita bahwa Mojtaba Khamenei menggantikan ayahnya sebagai ‘pemimpin tertinggi’. Orang-orang berdiri di balkon sambil meneriakkan: ‘Mojtaba mati saja!’ Seluruh rakyat Iran sedang menyampaikan kepada dunia bahwa kami tidak akan menerima rezim diktator turun-temurun lagi.”

Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan mendadak terhadap Iran yang menyebabkan Ali Khamenei tewas. Sejak saat itu, siapa yang akan menjadi penggantinya menjadi fokus perhatian dunia.

Sebelum pengumuman resmi tentang pengangkatan Mojtaba, Presiden AS Donald Trump pada 8 Maret mengatakan bahwa pemimpin tertinggi Iran berikutnya akan sulit mempertahankan kekuasaan tanpa persetujuan Amerika Serikat.

“Dia harus mendapatkan persetujuan kami. Jika tidak, dia tidak akan bertahan lama,” kata Trump. Ia juga secara tegas menyatakan tidak menerima putra Khamenei sebagai penerus.

“Saya tidak ingin lima tahun lagi kita harus melakukan hal yang sama lagi, atau bahkan lebih buruk—membiarkan mereka memiliki senjata nuklir,” tambahnya.

Sebelum Iran mengumumkan putra Khamenei sebagai penerus, militer Israel juga telah memperingatkan bahwa mereka tidak akan ragu menyerang penerus Khamenei maupun siapa pun yang terlibat dalam proses pemilihannya.

Juru bicara Israel Defense Forces, Avichay Adraee, dalam sebuah pernyataan menulis:

“Setelah tiran Khamenei disingkirkan, rezim teror Iran sedang mencoba mengatur kembali diri mereka dan memilih pemimpin tertinggi baru.”

Ia menambahkan bahwa “lengan panjang” Israel akan terus memburu penerus tersebut serta siapa pun yang mencoba menunjuknya.

Adraee juga memperingatkan semua pihak yang berencana menghadiri pertemuan pemilihan penerus bahwa mereka juga dapat dijadikan target serangan.

Laporan gabungan oleh reporter Luo Tingting / Editor: Wen Hui

Salurkan 700 Paket Sembako, BRI Region 12 Surabaya Bukti Hadir untuk Masyarakat

SURABAYA – Memasuki pertengahan Ramadan 1447 Hijriah, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus menggencarkan aksi sosial melalui program BRI Peduli. Kali ini, BRI Region 12 Surabaya menyalurkan sebanyak 700 paket sembako kepada warga yang membutuhkan di Kelurahan Embong Kaliasin, Kota Surabaya, Sabtu (7/3/2026).

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekitar wilayah operasional BRI Region 12 Surabaya tersebut menjadi bukti nyata kehadiran perusahaan pelat merah di tengah masyarakat, tidak hanya sebagai lembaga intermediasi keuangan tetapi juga sebagai entitas yang peka terhadap kondisi sosial warganya.

Regional CEO BRI Region 12 Surabaya, Reza Syahrizal Setiaputra, secara langsung turun ke lapangan bersama jajaran manajemen dan karyawan untuk membagikan paket sembako kepada para penerima manfaat. Menurutnya, momen Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat tali silaturahmi sekaligus meringankan beban ekonomi masyarakat.

“Kami berharap bantuan paket sembako ini dapat meringankan beban masyarakat dan membawa keberkahan bagi kita semua. BRI akan terus hadir dan tumbuh bersama masyarakat,” ujar Reza dalam keterangannya, Senin (9/3/2026).

Paket sembako yang dibagikan berisi bahan kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, dan beberapa komoditas pangan lainnya. Bantuan ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari warga, terutama di tengah gejolak harga pangan yang kerap terjadi menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Penyaluran bantuan sosial ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan BRI dalam mendukung kesejahteraan masyarakat melalui berbagai aksi sosial kemasyarakatan. Program BRI Peduli sendiri dirancang sebagai wujud tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang menyasar berbagai kalangan, mulai dari pendidikan, lingkungan, hingga pemberdayaan ekonomi.

Lebih dari sekadar bantuan materi, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan emosional antara korporasi dan komunitas sekitar. Dengan menggandeng warga Kelurahan Embong Kaliasin, BRI Region 12 Surabaya ingin memastikan bahwa kehadiran perusahaan memberikan dampak positif yang langsung dirasakan oleh tetangga terdekatnya.

Melalui aksi berbagi di bulan penuh berkah ini, BRI Region 12 Surabaya berharap dapat terus memperluas kontribusi sosial serta mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. Konsistensi program sosial ini sekaligus menjadi bagian dari upaya BRI dalam memperkuat nilai kebermanfaatan dan membangun kedekatan dengan masyarakat di wilayah kerjanya.

Dengan total 700 paket sembako yang tersalurkan, BRI Region 12 Surabaya optimistis bahwa semangat gotong royong dan kepedulian yang terbangun selama Ramadan dapat terus terjaga dan menjadi inspirasi bagi aksi-aksi sosial serupa di masa mendatang.

Ledakan di Kedubes AS Norwegia, Polisi Curiga Serangan Teroris

Etindonesia.  Pada 8 Maret dini hari, polisi Norwegia mengkonfirmasi bahwa terjadi ledakan di luar Kedutaan Besar Amerika Serikat di Oslo, Norwegia. Insiden ini menyebabkan kerusakan ringan. Polisi mencurigai bahwa insiden tersebut mungkin merupakan serangan teroris.

Ledakan terjadi sekitar pukul 01.00 waktu setempat di pintu masuk Kedubes AS yang berada di ibu kota Norwegia, Oslo.

Polisi menyatakan bahwa gedung kedutaan mengalami kerusakan ringan, namun tidak ada korban luka dalam insiden tersebut.

Seorang saksi mata, Sebastian Toerstad, mengatakan:  “Saya melihat sebuah helikopter berputar-putar di atas kedutaan. Kami melihat asap tebal muncul dari area tepat di belakang saya.”

Pihak berwenang Norway mengatakan mereka telah berkoordinasi dengan diplomat dari United States dan telah mengerahkan anjing pelacak, drone, serta berbagai sumber daya kepolisian untuk mencari tersangka.

Penyebab ledakan belum diumumkan secara resmi, tetapi polisi menduga kemungkinan serangan terorisme.

Sejak United States dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran, Iran juga melakukan serangan balasan terhadap sejumlah lokasi industri dan fasilitas diplomatik di kawasan Timur Tengah, dan beberapa kedutaan besar Amerika Serikat dilaporkan menjadi sasaran serangan.

Namun sejauh ini tidak ada indikasi bahwa ledakan di Kedutaan Besar AS di Oslo berkaitan dengan konflik di Timur Tengah.

Pemerintah Norwegia menyatakan bahwa insiden ledakan tersebut tidak dapat diterima, sementara pihak Amerika Serikat belum memberikan tanggapan resmi.

Dilaporkan oleh jurnalis NTD, Li Jiayin, dari AS

Visa di Paspor Dicoret-coret Anak Kerabat Hingga Tak Bisa Naik Pesawat, Tiga Kata yang Ditulis Bikin Petugas Bandara Tertawa

EtIndonesia. Seorang warganet dari Tiongkok baru-baru ini menulis dengan marah di platform Xiaohongshu (Little Red Book), “mengadukan” bahwa seorang anak kerabatnya yang masih duduk di bangku SMP mencoret-coret visa Amerika Serikat di paspornya, sehingga ia tidak diizinkan naik pesawat. Kejadian ini memicu perbincangan hangat di internet.

Pemilik unggahan mengatakan bahwa ia awalnya berencana berangkat ke Amerika Serikat pada 1 Maret, lalu melanjutkan perjalanan ke Bali untuk merayakan ulang tahun bersama orang tuanya. Namun ketika ia mengeluarkan paspornya di konter bandara, ia tiba-tiba menemukan bahwa halaman visa telah dicoret dengan tinta hitam, dan tertulis tiga kata besar dalam bahasa Mandarin: “大傻子” (orang yang sangat bodoh). Ia sebelumnya sama sekali tidak menyadari hal tersebut.

Seorang netizen Tiongkok baru-baru ini mengeluh bahwa anak seorang kerabatnya mencoret-coret paspornya, sehingga ia tidak bisa naik pesawat. (Xiaohongshu)

Melihat tulisan itu, petugas darat di bandara bahkan tertawa sampai harus berjongkok, tetapi tetap menolak penumpang tersebut untuk naik pesawat karena dokumen dianggap rusak, sesuai dengan peraturan penerbangan.

Pemilik unggahan yakin bahwa hal itu dilakukan oleh anak dari salah satu kerabatnya. Ia kemudian menelepon kerabat tersebut untuk memprotes, tetapi pihak keluarga hanya mengatakan bahwa anak itu “masih belum mengerti apa-apa” dan meminta agar masalah itu tidak diposting di internet. Karena tidak ada solusi saat itu, ia akhirnya pulang ke rumah. Ia juga menemukan bahwa uang rupiah Indonesia yang sudah ia siapkan serta visa Schengen cadangan juga ikut dicoret-coret hingga rusak.

Seorang netizen Tiongkok baru-baru ini mengeluh bahwa anak seorang kerabatnya mencoret-coret paspornya, sehingga ia tidak bisa naik pesawat. (Xiaohongshu)

Keesokan harinya, kerabat tersebut kembali menjelaskan bahwa anak itu memang masih kecil dan suka menggambar, sehingga tidak tahu bahwa itu adalah dokumen penting. Mereka bersedia memberi kompensasi sebesar 5.000 yuan (sekitar jutaan rupiah), tetapi juga meminta pemilik unggahan menghapus postingan di internet, dengan alasan takut guru dan teman sekolah anak tersebut melihatnya dan mempengaruhi prestasi sekolahnya.

Seiring dengan viralnya kejadian ini, pemilik unggahan juga mengungkap kejadian sebelumnya. Tahun lalu, anak tunggal dari kerabat tersebut pernah datang berkunjung ke rumahnya. Karena tidak diberi boneka populer Labubu yang ia minta, anak itu mengamuk dan melempar remote control, hingga membuat lampu kristal di rumah senilai 300.000 yuan hancur berkeping-keping.

Peristiwa ini memicu banyak komentar dari warganet yang mendukung korban. Beberapa komentar berbunyi:

  • “SMP? Saya kira masih taman kanak-kanak.”
  • “Anak SMP sudah punya tanggung jawab hukum. Ini bukan kenakalan biasa, tapi masalah pendidikan dan disiplin.”

Pemilik unggahan juga mengeluhkan bahwa anak SMP seharusnya sudah memahami batasan sosial dasar dan menghargai barang milik orang lain, dan menurutnya semua ini terjadi karena orang tua terlalu memanjakan anak tersebut.

Sebuah lampu gantung kristal senilai 300.000 RMB hancur di tempat kejadian. (Xiaohongshu)

Ia akhirnya mengungkap akhir dari kejadian ini: kerabatnya membayar ganti rugi untuk dua lampu kristal, sementara ia sendiri menghapus kerabat tersebut dari daftar temannya dan memilih menjauh dari keluarga itu.

Menurut informasi publik, visa Amerika Serikat yang rusak akan langsung dianggap tidak berlaku. Pemilik visa harus mengajukan permohonan baru, mengisi formulir Form DS‑160, serta membayar kembali biaya visa. Saat wawancara visa, pemohon disarankan membawa paspor lama yang rusak dan menjelaskan dengan jujur bahwa kerusakan terjadi karena ulah anak kerabat, agar tidak dicurigai mencoba memalsukan dokumen. (Hui)

Mengabaikan Sama dengan Melupakan

EtIndonesia. Seorang anak perempuan yang akan segera menikah mulai membereskan barang-barangnya untuk pindah. Ia mengangkut tiga kotak pakaian, lalu sebuah kotak kosmetik, dua bantal, dan empat boneka.

Terakhir, ia mengambil televisi kecil dari kamarnya.

Sang ibu yang sejak tadi membantu membuka pintu, tiba-tiba menutup wajahnya dan menangis ketika melihat televisi itu dibawa keluar.

Putrinya tertegun. Ia buru-buru meletakkan televisi dan menghampiri ibunya.

“Bu, ada apa?” tanyanya cemas.

“Aku melihat televisi itu… dan aku tak bisa menahan diri,” jawab sang ibu.

“Televisi?” putrinya bingung. “Itu kan aku beli sendiri.”

“Ibu tahu. Ibu tidak menangis karena kamu membawanya pergi. Ibu menangis… karena televisi itu.”

Sang ibu menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, lalu berkata pelan:

“Dulu, saat kamu kecil, kita sangat miskin. Kita tidak punya televisi. Setiap malam, kita duduk bersama di ruang tamu dan mengobrol.

Lalu kita membeli satu televisi. Kita tetap duduk bersama di ruang tamu. Meski mata tertuju ke layar, saat iklan kita masih bisa berbicara beberapa kalimat.

Kemudian kalian tumbuh besar. Kalian membeli televisi kecil masing-masing. Setelah makan malam, kalian masuk kamar dan menonton acara favorit sendiri-sendiri.

Tapi setidaknya… dari celah pintu, Ibu masih bisa melihat kalian.”

Sang ibu terdiam sejenak. Ia menggigit bibirnya dan melanjutkan,

“Sekarang ayahmu gemar karaoke, sering pulang larut malam. Sweater yang Ibu rajut untukmu masih tertinggal di lemari. Lukisan yang Ibu buat untukmu masih tergantung di dinding.

Tapi kamu tidak lupa membawa televisi kecil itu…”

Putrinya terdiam. Dua puluh tahun kenangan berkelebat di benaknya. Tiba-tiba ia memeluk ibunya erat-erat. Keduanya menangis dalam pelukan.


Yang Diabaikan, Perlahan Terlupakan

Kasih keluarga tidak mudah hilang.
Namun ia mudah diabaikan.

Dan sering kali, mengabaikan sama dengan melupakan.

Persahabatan pun demikian. Kita jarang secara sadar melupakan teman. Tetapi karena sibuk, karena terbiasa, karena merasa mereka “selalu ada”, kita mulai jarang menyapa, jarang mengucap terima kasih.

Padahal, perhatian kecil, kepedulian sederhana, dan kebersamaan yang pernah dilewati bersama—semua itu tersimpan diam-diam di hati.

Kadang kita merasa belum dilupakan hanya karena masih ada kabar, pesan, atau sapaan.

Namun ketika kotak masuk sunyi, tanpa pesan dari sahabat, hati terasa kosong. Bukan karena benar-benar sendirian, melainkan karena hubungan itu perlahan tak lagi dirawat.


Teknologi Mendekatkan, atau Menjauhkan?

Dulu, dalam satu rumah hanya ada satu televisi dan beberapa saluran. Program tidak sebanyak sekarang. Namun keluarga duduk bersama.

Kini hiburan tak terbatas. Setiap orang punya layar sendiri. Ruang pribadi semakin nyaman. Namun waktu bersama semakin berkurang.

Kehidupan menjadi lebih praktis.
Tetapi kedekatan justru bisa semakin renggang.

Dahulu, jika berjalan melewati perumahan di malam hari, kita bisa mendengar tawa satu keluarga dari dalam rumah. Sekarang, pintu tertutup rapat, masing-masing di balik layar masing-masing.

Kemajuan memberi kemudahan.
Namun tanpa kesadaran, ia juga bisa mencuri kebersamaan.


Renungan

Cerita ini bukan tentang televisi.

Ia tentang perubahan kecil yang pelan-pelan menggeser kehangatan.

Tentang perhatian yang tidak lagi diungkapkan.

Tentang kasih yang dianggap wajar sehingga tak lagi dirawat.

Kita jarang sengaja melupakan orang tua, pasangan, atau sahabat.
Namun kita bisa tanpa sadar mengabaikan mereka.

Dan yang terus diabaikan, lama-lama terasa jauh.
Yang terasa jauh, perlahan memudar.

Maka sebelum suatu hari kita menyadari semuanya sudah berubah,
luangkan waktu untuk duduk bersama.

Untuk berbicara tanpa tergesa.

Untuk mengucapkan terima kasih.

Karena kebahagiaan bukan hanya tentang apa yang kita miliki,
tetapi tentang siapa yang masih kita perhatikan dan hargai. (jhon)

Hiu dan Ikan

EtIndonesia. Seseorang pernah melakukan sebuah eksperimen. Seekor hiu yang sangat ganas dimasukkan ke dalam satu kolam bersama sekumpulan ikan tropis yang berwarna-warni. Namun di antara mereka dipasang kaca tebal yang tak terlihat.

Pada awalnya, hiu itu terus-menerus menabrak dinding kaca tersebut. Ia melihat mangsa di depannya, tetapi tak pernah bisa mencapainya. Setiap kali ia menerjang dengan sekuat tenaga, tubuhnya membentur penghalang tak kasat mata itu.

Para peneliti setiap hari tetap memasukkan ikan kecil jenis lain sebagai makanan, sehingga hiu sebenarnya tidak kekurangan mangsa. Namun ia tetap tergoda pada ikan-ikan tropis di seberang sana—warna mereka indah, gerakannya lincah, seperti sesuatu yang lebih menggoda.

Hiu itu mencoba dari segala sudut. Ia menghantam kaca dengan keras, berulang kali, hingga tubuhnya penuh luka. Beberapa kali ia bahkan berdarah. Hari demi hari ia mencoba, tetapi selalu gagal.

Setiap kali kaca mulai retak, para peneliti menggantinya dengan kaca yang lebih tebal.

Akhirnya, hiu itu berhenti menabrak.

Ia tak lagi memedulikan ikan tropis itu. Mereka baginya seperti lukisan bergerak di dinding.

Ia mulai menunggu ikan kecil yang setiap hari diberikan kepadanya. Ia berburu seperti biasa, cepat dan tepat, seolah kembali menjadi penguasa laut.

Namun itu hanya ilusi.

Pada tahap akhir eksperimen, kaca itu diangkat.

Tidak ada lagi penghalang.

Tetapi hiu itu tidak bereaksi.

Ia tetap berenang di wilayah yang sama. Ia mengabaikan ikan tropis yang kini bebas dijangkau. Bahkan ketika mangsa hariannya berenang ke sisi “terlarang” itu, hiu langsung berhenti mengejar. Ia menolak melewati batas yang sebenarnya sudah tidak ada.

Eksperimen pun berakhir. Para peneliti menyebutnya sebagai hiu paling pengecut di laut.

Namun siapa pun yang pernah patah hati tahu alasannya.

Ia takut sakit lagi.


Luka yang Mengubah Batas

Hiu itu tidak berhenti karena ia lemah.

Ia berhenti karena terlalu sering terluka.

Kegagalan yang berulang, rasa sakit yang terus-menerus, membuatnya menciptakan batas baru dalam pikirannya.

Kadang dalam hidup, kegagalan bukan karena kurang usaha. Bisa jadi ada “kaca tak terlihat” yang terus menghalangi—lingkungan, sistem, kebijakan, atau orang-orang yang memang tidak ingin kita berhasil.

Ada orang yang bekerja keras tetapi terhambat atasan yang tidak adil.
Ada pengusaha yang berjuang, tetapi kebijakan berubah dan pasar runtuh.
Ada yang bermimpi besar, tetapi terus-menerus disabotase.

Bukan berarti semua kegagalan harus disalahkan pada orang lain. Namun penting untuk memahami bahwa tidak semua hambatan lahir dari kemalasan.


Umpan dan Ilusi

Kadang dunia bekerja seperti eksperimen itu.

Seseorang diberi harapan—seperti ikan tropis di balik kaca—tetapi setiap kali mendekat, ia terluka. Lalu ia diberi “umpan kecil” agar tetap bertahan.

Dalam bisnis, dalam investasi, bahkan dalam hubungan.

Ada sistem yang memperlihatkan contoh keberhasilan untuk memancing orang lain ikut masuk, tetapi pada saat yang sama perlahan menggerus modal mereka. Sesekali diberikan “imbalan kecil” agar mereka tetap bertahan.

Dalam cinta pun demikian. Ada orang yang tidak sungguh-sungguh, tetapi memberi sedikit perhatian atau janji agar pasangannya tetap tinggal.

Sedikit manis cukup untuk membuat seseorang lupa bahwa ia terus dirugikan.


Intinya Tetap pada Diri Sendiri

Namun pada akhirnya, inti dari semua ini tetap kembali kepada diri sendiri.

Kegagalan bisa terjadi karena faktor luar.
Tetapi terjebak selamanya adalah pilihan pribadi.

Orang yang hanya menyalahkan orang lain akan berhenti di situ.
Orang yang mau merenung akan bertanya:
“Apa yang harus saya ubah? Apa yang belum saya pahami? Di mana saya salah menilai situasi?”

Orang yang gagal karena dikhianati mungkin marah pada pengkhianatnya.
Tetapi orang yang ingin bangkit akan berkata,
“Saya salah menilai orang. Saya harus belajar membaca karakter.”

Kegagalan bukan aib.
Yang menyedihkan adalah ketika seseorang berhenti belajar darinya.


Jangan Hidup dalam Kaca yang Sudah Tidak Ada

Kisah hiu itu mengingatkan kita pada satu hal penting:

Jangan sampai luka masa lalu menciptakan batas yang sebenarnya sudah tidak ada.

Mungkin dulu memang ada dinding.
Mungkin dulu memang sakit.

Tetapi jika dinding itu sudah diangkat, dan kita tetap tidak berani melangkah, maka yang membatasi kita bukan lagi dunia—melainkan ketakutan kita sendiri.

Berani mencoba lagi memang berisiko.
Tetapi tidak mencoba sama sekali membuat kita hidup dalam kolam yang sempit, padahal lautan sudah terbuka.

Dan sering kali, yang membedakan orang yang bangkit dan yang tenggelam bukan pada seberapa besar lukanya—
melainkan pada keberanian untuk berenang melewati batas yang dulu pernah menyakitkan. (jhon)

Berbagi di Bulan Suci, MYZE Hotel Sumenep Hadirkan Kebahagiaan untuk Anak Panti Asuhan

SUMENEP – Menebar keberkahan di bulan Ramadan, MYZE Hotel Sumenep menggelar acara santunan dan buka puasa bersama puluhan anak panti asuhan, Senin (9/3/2026). Kegiatan yang berlangsung di hotel berbintang empat tersebut menjadi wujud nyata kepedulian sosial manajemen terhadap masyarakat sekitar.

Dimulai pukul 15.00 WIB, acara berlangsung hangat dan penuh keceriaan. Rangkaian kegiatan meliputi sambutan manajemen, doa bersama, pemberian santunan, hingga momen berbuka puasa yang sarat makna kebersamaan.

Anndy Bramasto, S.E., M.Par., General Manager MYZE Hotel Sumenep by Artotel, menegaskan bahwa Ramadan menjadi momen tepat untuk memperkuat empati dan nilai kemanusiaan.

“Melalui kegiatan berbuka puasa bersama anak-anak panti asuhan ini, kami ingin menghadirkan kebahagiaan yang tulus dan menciptakan momen berharga yang bisa dikenang bersama. Semoga kebersamaan ini membawa keberkahan untuk kita semua,” ujarnya.

Senada dengan itu, Massidah, perwakilan Direksi MYZE Hotel Sumenep by Artotel, menyampaikan bahwa keberadaan hotel tidak sekadar sebagai entitas bisnis, tetapi juga bagian dari ekosistem masyarakat.

“Kami percaya bahwa keberadaan sebuah hotel tidak hanya sebagai tempat pelayanan dan bisnis, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat. Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa MYZE Hotel Sumenep hadir untuk berbagi, tumbuh, dan memberikan dampak yang berarti bagi masyarakat,” ungkap Massidah.

Suasana semakin mengharukan saat adzan Magrib berkumandang. Anak-anak panti menikmati hidangan berbuka yang telah disiapkan, dengan senyum dan kebahagiaan yang terpancar jelas di wajah mereka. Momen tersebut menjadi puncak acara yang memperkuat makna kebersamaan dan kepedulian.

Kegiatan sosial ini direncanakan akan terus menjadi agenda rutin sebagai bagian dari komitmen MYZE Hotel Sumenep dalam memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar.

KPPU Buka Investigasi Dugaan Kartel Tiket Pesawat Jelang Lebaran

Jakarta, 9 Maret 2026 – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) resmi membuka penyelidikan awal terhadap dugaan praktik penetapan harga tiket pesawat oleh maskapai penerbangan domestik. Langkah ini diambil setelah otoritas persaingan usaha menemukan tren kenaikan harga yang konsisten dalam dua tahun terakhir, khususnya menjelang periode mudik Lebaran.

Ketua KPPU, M. Fanshurullah Asa, menegaskan bahwa pihaknya akan mencermati secara serius pola penetapan tarif yang berpotensi merugikan konsumen. “Persaingan yang sehat dalam industri penerbangan sangat penting untuk memastikan masyarakat memperoleh layanan transportasi udara dengan harga yang wajar, transparan, dan kompetitif,” ujarnya dalam siaran pers yang diterbitkan Senin (9/3/2026).

Penyelidikan ini merupakan tindak lanjut dari pengawasan pelaksanaan Putusan KPPU No. 15/KPPU-I/2019 yang telah berkekuatan hukum tetap melalui Putusan Mahkamah Agung No. 1811/K/Pdt.Sus-KPPU/2022 pada September 2023. Dalam putusan tersebut, tujuh maskapai—yakni PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk., PT Citilink Indonesia, PT Sriwijaya Air, PT NAM Air, PT Batik Air, PT Lion Mentari, dan PT Wings Abadi—telah dinyatakan terbukti melakukan kesepakatan penetapan harga tiket pesawat.

Salah satu amar putusan mewajibkan para terlapor untuk memberitahukan secara tertulis kepada KPPU sebelum mengambil kebijakan yang berdampak pada persaingan usaha dan harga tiket selama dua tahun. Periode pengawasan tersebut berlangsung dari September 2023 hingga September 2025. Dalam prosesnya, KPPU telah memanggil berbagai pihak serta menerima sejumlah dokumen dari maskapai penerbangan.

Berdasarkan hasil pengawasan, KPPU menemukan indikasi bahwa harga tiket pesawat domestik pada rute-rute utama, seperti Jakarta–Surabaya, cenderung melonjak signifikan saat periode permintaan tinggi, termasuk musim liburan dan Hari Raya Idulfitri. Menjelang arus mudik tahun ini, KPPU mengimbau seluruh maskapai untuk menjaga kewajaran tarif dan menghindari praktik penetapan harga yang eksesif.

“Maskapai diwajibkan tetap mematuhi ketentuan tarif yang berlaku serta menjaga transparansi dalam mekanisme penetapan harga,” tegas Fanshurullah.

KPPU menyatakan akan terus memantau perkembangan harga tiket selama periode Lebaran. Apabila ditemukan indikasi praktik persaingan usaha tidak sehat atau perilaku yang merugikan konsumen, langkah penegakan hukum akan ditempuh sesuai ketentuan yang berlaku.

Selain membuka penyelidikan, KPPU juga akan menyampaikan saran dan pertimbangan kepada Kementerian Perhubungan terkait hasil pengawasan yang telah dilakukan.

Gabattha: Ketika Orang Menghormati Harta, Bukan Diri Kita

EtIndonesia. Di India kuno, ada seorang pemuda bernama Gabattha (Transliterasi-red). Ia lahir dari keluarga yang sangat kaya. Sejak muda ia gemar bergaul dan memiliki banyak teman. Hidupnya dipenuhi pesta, jamuan, dan pertemanan yang tampak hangat.

Namun setelah ayahnya meninggal dunia, ia tidak pandai mengelola usaha keluarga. Harta yang begitu besar perlahan-lahan habis. Usaha merugi, kekayaan menyusut, dan akhirnya keluarganya jatuh miskin.

Saat ia kaya, rumahnya tak pernah sepi.

Saat ia miskin, pintunya tak lagi diketuk.

Teman-teman dan kerabat yang dahulu gemar makan minum bersamanya bukan hanya tidak lagi datang, bahkan mereka sengaja menghindar—takut jika Gabattha meminjam uang kepada mereka.

Ia sangat kecewa dan terluka.

Akhirnya ia memutuskan untuk mengubah nasib. Ia menjual sisa harta terakhirnya dan pergi merantau ke negeri yang jauh. Tak ada seorang pun yang mengantar kepergiannya, karena ia sudah tak memiliki teman.

Ia pergi selama tiga puluh tahun.


Kembalinya Sang Perantau

Suatu hari, beberapa orang asing datang dan membeli sebidang tanah luas di kota itu. Mereka membangun sebuah rumah mewah yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Orang-orang pun bertanya-tanya.
Ternyata kabar beredar: Gabattha akan pulang dengan penuh kejayaan.

Kerabat dan kenalan yang dulu menghindarinya kini mulai bercerita dengan bangga bahwa mereka pernah mengenalnya.

Pada hari kepulangannya, jalanan dipenuhi orang. Rombongannya panjang, dipenuhi barang-barang berharga dari negeri jauh. Di barisan paling depan berjalan seorang pria tua berambut putih dan tubuh berisi.

Tak banyak yang mengenalinya.

Orang-orang terus bertanya kepada lelaki tua itu,
“Di mana Gabattha?”

Ia terus menunjuk ke arah belakang rombongan dan berkata,
“Di belakang.”

Orang-orang mencari-cari, namun akhirnya mereka mulai curiga bahwa lelaki tua itulah Gabattha.

Dengan tenang ia berkata:

“Saya tidak salah menjawab. Saya tidak membawa emas, tidak mengenakan pakaian kebesaran. Yang kalian tunggu bukanlah saya yang dahulu miskin. Yang kalian sambut sebenarnya adalah kereta-kereta di belakang saya—yang membawa harta berharga. Itulah yang kalian ingin hormati dan dekati.”

Kata-kata itu membuat banyak orang terdiam.


Apa yang Sebenarnya Kita Lihat?

Dalam hidup, manusia sering melihat permukaan:
jabatan, kekayaan, gelar, penampilan.

Kita mudah mengira bahwa semua itu adalah keseluruhan diri seseorang. Padahal, semua itu bisa berubah oleh waktu.

Hari ini seseorang kaya, besok bisa bangkrut.
Hari ini seseorang tampan atau cantik, esok usia menggerogoti.
Hari ini seseorang punya gelar tinggi, besok mungkin tak lagi relevan.

Jika kebahagiaan kita bergantung pada hal-hal yang bisa berubah, maka kebahagiaan itu pun rapuh.


Tentang Gagal dan Berhasil

Tak ada hidup yang benar-benar mulus tanpa gelombang. Kegagalan adalah bagian dari perjalanan.

Yang menyedihkan bukanlah kegagalan itu sendiri, melainkan sikap menyerah setelah gagal.

Selama seseorang belum mencapai akhir hidupnya, tak seorang pun berhak menilai ia gagal atau berhasil. Sejarah menunjukkan banyak orang yang gagal di masa muda tetapi berjaya di kemudian hari. Ada pula yang sukses di awal hidup namun berakhir tragis.

Kegagalan sering kali justru membuka mata kita.
Ia menyingkap siapa yang hanya teman saat senang, dan siapa yang benar-benar tulus.

Ketika semua “bungkus” dilepas, kita mulai melihat wajah asli dunia.


Pertanyaan untuk Diri Kita

Kisah ini mengajak kita merenung:

Jika suatu hari gelar, kekayaan, dan reputasi kita hilang—
apa yang masih tersisa?

Apakah orang tetap menghormati kita karena karakter?
Ataukah selama ini mereka hanya menghormati “kereta di belakang kita”?

Mencari kebahagiaan yang sejati berarti menemukan diri yang tidak tergantung pada waktu, status, atau harta.

Diri yang tetap bernilai meski tanpa sorotan.
Diri yang tetap bermakna meski tanpa tepuk tangan.

Karena pada akhirnya, harta bisa mengundang kerumunan.
Tetapi hanya karakter yang mampu mempertahankan hormat yang tulus. (Jhon)

Tebar Berkah Ramadan, BRI Region 12 Surabaya Salurkan Santunan untuk Anak Panti Asuhan

SURABAYA – Semangat berbagi di bulan suci Ramadan 1447 Hijriah terus digelorakan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Mengusung tema “Pengajian dan Berbagi Bahagia di Bulan Ramadhan 1447 H”, BRI Region 12 Surabaya menggelar kegiatan pengajian dan buka puasa bersama yang melibatkan 48 anak dari empat panti asuhan di Kota Surabaya, Kamis (26/2/2026) lalu.

Acara yang berlangsung di Masjid An-Nur, Plaza BRI Tower Surabaya ini menjadi wujud nyata komitmen perusahaan dalam menjalankan tanggung jawab sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR) melalui program BRI Peduli. Keempat yayasan yang diundang antara lain PAY Pesantren Luhur At Tholibin (Wonorejo), PAY Daarul Musthofa (Gogor), Yayasan Ibnu Sina Kertajaya, dan Yayasan Nurani Indonesia (Petemon).

Dalam sambutannya, Regional CEO BRI Region 12 Surabaya, Reza Syahrizal Setiaputra, secara simbolis menyerahkan santunan kepada perwakilan anak-anak panti asuhan. Momen tersebut menjadi puncak acara yang sarat akan kehangatan dan kebersamaan antara jajaran manajemen dan Insan BRILiaN BRI Region 12 Surabaya.

“Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk mempererat silaturahmi sekaligus berbagi kebahagiaan dengan sesama. Kegiatan ini merupakan bagian dari program BRI Peduli yang menjadi wujud komitmen perusahaan untuk terus hadir di tengah masyarakat,” ujar Reza dalam keterangan resminya, Senin (9/3/2026).

Reza menegaskan bahwa pihaknya tidak hanya berperan sebagai lembaga intermediasi keuangan, tetapi juga bagian dari ekosistem sosial masyarakat. Pihaknya berharap bantuan yang diberikan dapat memberikan manfaat serta menambah semangat bagi anak-anak panti asuhan dalam menjalani hari-hari mereka dan meraih masa depan yang lebih baik.

“Kegiatan ini sekaligus mencerminkan komitmen BRI untuk terus berkontribusi dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar,” tegasnya.

Selain berbuka puasa bersama dan penyaluran santunan, acara juga diisi dengan tausyiah keagamaan oleh Ustadz H Ali Fauzi Shahib. Mengangkat tema “Ibadah Puasa Jangan Dijadikan Alasan untuk Bermalas-malasan”, ceramah tersebut mengajak para peserta untuk menjaga semangat produktivitas selama bulan Ramadan.

Kegiatan yang juga memperkuat nilai spiritual di lingkungan kerja perusahaan pelat merah ini ditutup dengan doa bersama. Semangat kebersamaan dan berbagi yang terbangun dalam kegiatan ini diharapkan dapat terus terjaga dan menjadi inspirasi bagi aksi-aksi sosial lainnya di masa mendatang.

Seorang “Manusia Besi” Falun Gong yang Saya Kenal

Penulis: Ding Zhong

Ketika pertama kali mengenalnya, saya baru berusia 25 tahun. Dalam sebuah pertemuan membaca buku yang kebetulan saya hadiri, saya bertemu dengan Wang Xueming. Ia hadir sebagai pakar pendidikan untuk memberikan ceramah. Setelah ceramah selesai, saya mendatanginya untuk bertanya beberapa hal. Tampaknya ia memiliki kesan yang baik terhadap saya. Ia menanyakan cita-cita hidup saya dan memberi saya kontaknya, mengatakan bahwa jika suatu saat saya membutuhkan bantuan, saya boleh menghubunginya.

Saat itu saya memiliki banyak cita-cita, tetapi tidak tahu bagaimana mewujudkannya. Saya bekerja di bidang asuransi, tetapi hati saya tidak berada di sana, sehingga saya merasa bingung dan murung. Karena itu saya menghubunginya dan menceritakan keadaan saya. Ia mengundang saya ke Anhui untuk bekerja bersamanya di bidang pendidikan. Saya pun dengan senang hati berangkat ke Anhui, dan sejak saat itu terjalinlah hubungan antara kami.

Setelah tiba di Anhui, saya sangat terkejut. Saya merasa seolah memasuki lingkungan yang sebelumnya hanya pernah saya baca di buku. Saya menyebut lingkungan itu sebagai “tanah yang murni”. Ia mengelola sebuah lembaga penitipan anak kecil dengan kurang dari 20 murid dan enam atau tujuh guru. Semua orang di sana sangat tulus, tanpa intrik atau persaingan.

Saya sendiri telah membaca banyak karya klasik Timur dan Barat, dan sudah beberapa tahun berusaha memperbaiki diri, sehingga menganggap diri saya seorang yang berprinsip. Namun dibandingkan dengan mereka, saya justru merasa jauh tertinggal.

Ia adalah seorang pakar pendidikan, ahli kajian klasik Tiongkok, dan penulis dengan banyak karya. Buku yang telah diterbitkannya saja lebih dari sepuluh judul. Ketika ia mengajar tentang budaya klasik Tiongkok, bukan hanya saya, tetapi semua guru, murid, dan orang tua murid merasa seolah semangat kami terangkat setiap kali mendengarnya. Bukan hanya karena ia sangat berpengetahuan luas, tetapi juga karena isi ceramahnya sangat murni dan luhur, serta karena kekuatan moral yang terpancar dari perilakunya.

Pada waktu itu saya bahkan menulis sebuah artikel refleksi diri. Di dalamnya saya menulis kira-kira begini: bisa belajar dari seorang guru dengan kebajikan sebesar ini, uang tidak lagi berarti apa-apa. Ini menunjukkan betapa besar rasa hormat saya kepadanya saat itu.

Di lembaga pendidikan kecil itu saya merasa seperti berada di rumah sendiri. Bahkan di kantor, jika saya makan makanan yang ia beli, ia tidak pernah mempermasalahkannya. Istrinya dan putranya juga bekerja bersama kami, tetapi mereka tidak pernah menunjukkan rasa lebih tinggi dari orang lain. Justru ia lebih keras terhadap putranya daripada terhadap kami.

Misalnya ketika kami pergi belajar di luar kota. Saat pulang, sepeda motor listrik hanya bisa ditumpangi satu orang, sementara yang lain harus mengayuh sepeda. Ia menyuruh saya naik motor listrik, sedangkan putranya pulang dengan sepeda. Dalam ingatan saya, dalam setiap hal ia selalu keras terhadap keluarganya sendiri, tetapi sangat baik kepada kami.

Ia juga meninggalkan kesan sebagai seorang “manusia besi”. Sejak tahun 1999 hidupnya penuh kesulitan dan penderitaan.

Ia mulai berlatih Falun Gong pada tahun 1996. Saat itu ia adalah guru sekolah menengah. Kemudian ia membuka sekolah pelatihan komputer dan bahkan mendirikan sekolah kejuruan, yang semuanya cukup berhasil. Namun pada tahun 1999, ketika pemerintah Tiongkok mulai menindas Falun Gong, ia pergi ke Lapangan Tiananmen untuk menyampaikan petisi dan kemudian ditangkap serta dikirim ke kamp kerja paksa di Sichuan selama tiga tahun.

Sejak itu ia masuk dalam daftar hitam pemerintah dan selalu berada di bawah pengawasan. Setelah dibebaskan, ia mengajar di sebuah universitas di Zhejiang, tetapi kemudian ditangkap lagi dan dipenjara tiga atau empat tahun. Setelah keluar dari penjara, ia mendirikan lembaga pendidikan di Chengdu. Ketika lembaga itu mulai berkembang, ia kembali ditangkap dan dipenjara satu atau dua tahun.

Setelah dibebaskan lagi, ia mendirikan lembaga pendidikan di Wuhan. Ia sangat dipercaya oleh para murid sehingga jumlah siswa meningkat pesat. Namun ia kembali ditangkap dan dijatuhi hukuman tiga tahun penjara. Pada tahun 2014, setelah dibebaskan, ia mendirikan lembaga pendidikan di Anhui. Pada masa inilah saya bergabung dengannya untuk bekerja di bidang pendidikan.

Beberapa bulan setelah saya bekerja, putranya berbicara kepada saya tentang Falun Gong, tentang hakikat Partai Komunis Tiongkok, serta tentang penindasan terhadap Falun Gong. Saat itulah saya baru mengetahui bahwa Wang Xueming adalah seorang praktisi Falun Gong.

Ketika kami semakin akrab, ia menceritakan kepada saya tentang penyiksaan yang ia alami di penjara. Misalnya, mulutnya menjadi miring karena dipukul di penjara. Ia juga bercerita bahwa pada suatu malam musim dingin ia pernah ditelanjangi, dibungkus selimut kapas yang basah, dan dibiarkan kedinginan sepanjang malam. Banyak penyiksaan lain yang ia alami, dan ia menuliskannya dalam sebuah buku yang ia harap dapat diterbitkan suatu hari nanti.

Kemudian pada tahun 2015 ia mendirikan kantor pusat perusahaan di Shenzhen dan membuka dua cabang di Wuhan dan Dongguan. Saya ditugaskan mengelola cabang Wuhan, sementara ia dan putranya pergi ke Shenzhen.

Namun pada tahun 2016 cabang Anhui ditutup karena gangguan dari polisi setempat, begitu pula cabang Dongguan. Kantor pusat Shenzhen pun harus pindah dari Bao’an ke Longgang karena gangguan yang sama.

Pada akhir 2016 saya pergi bekerja di kantor pusat Shenzhen. Pada tahun 2018 kantor di Longgang kembali diganggu sehingga dipindahkan ke sebuah rumah terpencil di pegunungan Buji. Perusahaan bahkan menghabiskan ratusan ribu yuan untuk membangun rumah kayu kecil, tetapi kurang dari setahun kemudian tempat itu juga ditutup oleh polisi.

Ia kemudian memindahkan perusahaan ke Weihai, tetapi setelah lebih dari setahun juga ditutup. Setelah itu ia beralih ke bisnis daring. Pada akhir 2020, ketika ia pergi ke Mongolia Dalam untuk memberikan ceramah, ia kembali ditangkap dan dijatuhi hukuman tiga tahun penjara. Pada tahun 2022 ia meninggal dunia di penjara akibat penganiayaan.

Jika kita melihat kembali perjalanan hidupnya, ia benar-benar seperti seorang “manusia besi”. Berkali-kali dipenjara dan disiksa, hartanya disita. Setelah keluar dari penjara, ia kembali memulai usaha dan menyebarkan apa yang ia yakini sebagai kebenaran. Kemudian hartanya kembali disita dan ia dijatuhi hukuman lagi. Hal ini terjadi berulang kali.

Setiap kali lembaga pendidikan yang ia dirikan mulai berkembang, tempat itu akan ditutup dan hartanya disita. Sering kali uang sekolah baru saja dikumpulkan dari para siswa, tetapi perusahaan sudah ditutup dan ia harus menanggung utang besar. Namun setiap kali keluar dari penjara, ia kembali memulai lagi. Jika satu tempat diganggu, ia pindah ke tempat lain. Bahkan ketika ia pindah ke daerah pegunungan atau pesisir laut, nasib yang sama tetap terjadi.

Ia selalu memikul utang besar. Setiap kali tiba saatnya membayar gaji, ia harus meminjam uang ke sana kemari. Di zaman sekarang, siapa yang sanggup menanggung penderitaan sebesar ini? Apalagi menghadapi penindasan berulang dari rezim komunis yang begitu keras, terus-menerus diawasi dan diganggu, serta memikul utang besar sepanjang hidupnya. Bagaimana mungkin orang seperti ini tidak membuat orang lain merasa kagum?

Namun selama empat atau lima tahun saya hidup dan bekerja bersamanya, saya tidak pernah mendengar ia mengeluh sekali pun, dan tidak pernah melihat wajahnya murung. Sebaliknya, hingga akhir hidupnya ia selalu menunjukkan keceriaan seperti anak kecil—lincah, bahkan agak nakal.

Ia sering tertawa keras tanpa sedikit pun kesedihan. Ia juga sangat suka bermain. Setiap kali kami pergi belajar di luar, pada usia lima puluh tahun ia bahkan lebih bersemangat bermain daripada saya yang masih berusia dua puluh lima tahun. Ia memanjat pohon, memanjat tebing, dan bermain air dengan penuh kegembiraan.

Jika ia sendiri tidak menceritakan masa lalunya, Anda tidak akan pernah tahu bahwa ia menanggung penderitaan sebesar itu.

Inilah sosok praktisi Falun Gong “seperti manusia besi” yang saya kenal, yaitu Wang Xueming. Sebelum mengenalnya, saya sama sekali tidak memahami Falun Gong. Saya hanya mendengar guru sekolah mengatakan bahwa Falun Gong adalah aliran sesat, sehingga saya memiliki prasangka sejak awal.

Selain itu saya belajar filsafat dan terbiasa berpikir rasional. Karena itu ketika putra Wang Xueming berbicara kepada saya tentang Falun Gong dan memperlihatkan buku-bukunya, saya tidak bisa menerimanya. Bahkan ketika mendengar bahwa Wang Xueming pernah ditangkap dan disiksa karena Falun Gong, secara naluriah saya justru menjauh dari hal itu.

Namun jika saya tidak berinteraksi dengan Wang Xueming, para guru Falun Gong di perusahaan kami, dan banyak orang tua murid yang juga berlatih Falun Gong selama empat atau lima tahun, mungkin sampai sekarang saya masih tidak tahu bahwa mereka adalah sekelompok orang yang begitu baik.

Terutama seseorang seperti Wang Xueming yang memiliki kebajikan besar—saya mungkin masih akan menganggapnya sebagai penganut aliran sesat.

Sumber: Ding Zhong @dingzhonggood