Rezim Iran Berjuang Mati-matian, Pakar : Perang Bisa Segera Berakhir

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (2 Maret) mengungkapkan bahwa operasi militer terhadap Iran berkembang sangat cepat, jauh melampaui rencana awal yang diperkirakan berlangsung empat minggu. Para pakar menilai, konflik ini berpeluang mengalami titik balik atau bahkan memasuki tahap akhir dalam satu hingga dua minggu. Seiring tewasnya Ali Khamenei, dunia luar memperkirakan Iran akan bergerak menuju de-ekstremisasi agama, membentuk pemerintahan sekuler, dan sepenuhnya menghilangkan ancaman regional. Berikut analisis para ahli.

EtIndonesia. Presiden AS Donald Trump menyatakan dalam wawancara media bahwa tempo keseluruhan operasi militer terhadap Iran melampaui ekspektasi; semula operasi direncanakan selesai dalam empat minggu.

Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, Jenderal Dan Caine, pada hari yang sama juga menyampaikan bahwa operasi tempur telah mencapai efek yang diharapkan, membuat Iran terkejut dan jatuh ke dalam kekacauan.

Sejumlah pakar menilai, jika perkembangan saat ini berlanjut, konflik ini sangat mungkin mengalami perubahan besar—bahkan memasuki tahap penutupan—dalam satu hingga dua minggu ke depan.

“Pada tahap ini, fokus militer AS adalah penyerangan terarah untuk menyingkirkan lapisan pimpinan, sehingga rezim Iran runtuh. Perang ini seharusnya tidak akan berlangsung lama. Ketika persenjataan Iran—baik rudal darat-udara, darat-darat, maupun pesawat tempur—hampir habis, Iran kemungkinan akan menyatakan kesediaannya untuk berunding dengan Amerika Serikat, Arab Saudi, dan Israel sebagai kekuatan gabungan. Harapannya, dalam satu hingga dua minggu ke depan perang bisa diakhiri,” ujar profesor kajian internasional Universitas St. Thomas, Yeh Yao-yuan.

Pembawa acara Mark Space-Time dan Chronicles of Current Affairs, Mark, menilai: “Trump menggunakan serangan dahsyat dan menghancurkan untuk membuat kepercayaan diri internal Iran runtuh total, memecah belah, dan mendorong lebih banyak pihak ‘lompat kapal’. Situasi ini bisa berubah drastis dalam waktu satu minggu atau bahkan lebih singkat.”

Pengamat menyoroti bahwa setelah pemimpin diktator Iran Khamenei dan jajaran elitnya diserang, struktur kekuasaan Iran menghadapi kekosongan. Banyak pihak menilai rezim Iran kini berada di titik kritis hidup-mati.

Namun ada pula pandangan yang menyebutkan bahwa, karena struktur khusus Garda Revolusi Iran, Iran belum sepenuhnya berada dalam kondisi “tanpa kepala”.

Yeh Yao-yuan menjelaskan : “Tidak sepenuhnya tanpa pemimpin, karena Garda Revolusi tidak selalu tunduk pada satu figur tertentu. Namun kemampuan militer mereka terbatas. Dalam kondisi sekarang, saya melihat mereka sedang berjuang seperti binatang terpojok—berusaha merebut lebih banyak modal tawar untuk negosiasi setelah perang berakhir.”

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa setelah serangan gabungan AS–Israel terhadap Iran, Teheran melancarkan aksi balasan terhadap negara-negara Teluk, dengan tujuan memperluas konflik, memicu sentimen anti-Amerika di kawasan, dan mengalihkan tekanan domestik. Namun Iran dinilai meremehkan kuatnya hubungan negara-negara Teluk dengan Amerika Serikat.

Para pakar juga menyatakan bahwa, setelah bertahun-tahun pemerintahan represif dan akumulasi ketidakpuasan sosial, serta dengan kematian Khamenei, langkah berikutnya dalam politik Iran kemungkinan melibatkan kerja sama antara putra mahkota terakhir yang kini hidup di pengasingan, Reza Pahlavi, dan tokoh-tokoh berpengaruh dari Garda Revolusi Islam yang memiliki otonomi tinggi.

Mark menambahkan : “Selama rezim teokrasi ini masih ada, Timur Tengah akan tetap berada di bawah ancaman besar. Membangun pemerintahan yang lebih sekuler—non-religius—adalah tujuan akhir Amerika Serikat dan Israel. Apakah mereka akan mencari figur kuat untuk menggantikannya? Itu sangat mungkin.” (hui)

Laporan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Chen Yue dan Qiu Yue

Militer AS Menenggelamkan Seluruh Kapal Perang Iran di Teluk Oman – Rekaman Aksi Pembom B-1 (Multi-Video)

Operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran terus berlanjut. Baru-baru ini, militer AS telah menenggelamkan 11 kapal perang Iran di Teluk Oman, sementara pembom B-1 Lancer juga masuk jauh ke wilayah Iran untuk melancarkan serangan. Dalam 48 jam pertama sejak pecahnya perang, lebih dari 1.250 target telah dihantam.

EtIndonesia. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa ia tidak menutup kemungkinan mengirim pasukan darat AS ke Iran, serta memperingatkan bahwa serangan berskala besar akan segera dilakukan.

Pada 2 Maret, United States Central Command (CENTCOM), yang bertanggung jawab atas operasi militer AS di kawasan tersebut, menulis di platform X:

“Dua hari lalu, rezim Iran masih memiliki 11 kapal perang di Teluk Oman. Hari ini, tidak tersisa satu pun.”

CENTCOM juga menegaskan: “Selama puluhan tahun, rezim Iran mengganggu dan menyerang pelayaran internasional di Teluk Oman. Hari-hari itu telah berakhir. Kebebasan navigasi selama lebih dari 80 tahun merupakan fondasi kemakmuran ekonomi Amerika Serikat dan dunia. Militer AS akan terus mempertahankannya.”

Citra satelit yang diambil pada 2 Maret sore menunjukkan beberapa kapal perang Iran di Bandar Abbas terbakar hebat, dengan asap hitam membumbung ke udara. Salah satu kapal yang panjangnya lebih dari 750 kaki (sekitar 229 meter) diduga merupakan kapal tanker yang dimodifikasi dan dilengkapi dengan landasan helikopter besar.

Bandar Abbas adalah kota pelabuhan yang terletak di dekat Teluk Persia dan Selat Hormuz, serta menjadi lokasi salah satu pangkalan angkatan laut Garda Revolusi Iran.

Dalam operasi militer ini, militer AS menggunakan berbagai persenjataan canggih, termasuk pesawat siluman, pembom strategis, dan drone mutakhir. Menurut daftar yang dirilis CENTCOM, target yang diserang meliputi pusat komando dan kendali, fasilitas rudal balistik, kapal perang dan kapal selam Angkatan Laut Iran, serta instalasi rudal anti-kapal.

Pada 3 Maret, CENTCOM kembali menulis di X: “Tadi malam, pembom B-1 Angkatan Udara AS melancarkan serangan jauh ke wilayah Iran, melemahkan kemampuan rudal balistik Iran. Seperti yang dikatakan Presiden, ‘Kami akan menghancurkan rudal mereka dan meratakan industri rudal mereka.’”

Selama bertahun-tahun, pembom B-1 telah menjalankan berbagai misi tempur untuk CENTCOM, termasuk membombardir target tetap, membersihkan fasilitas senjata kimia, memberikan dukungan udara berjam-jam bagi pasukan darat sekutu, serta menjatuhkan bom presisi terhadap militan ISIS.

Militer AS menyatakan bahwa lebih dari 1.250 target telah dihantam dalam 48 jam pertama perang melawan Iran. Pada hari pertama konflik saja, lebih dari 1.000 target diserang. Jumlah korban tewas di pihak militer AS meningkat dari 4 menjadi 6 orang.

CENTCOM juga mengumumkan 2 Maret pagi bahwa kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R. Ford, kini beroperasi bersama pasukan AS untuk mendukung Operation Epic Fury, dengan meluncurkan pesawat tempur dari Laut Mediterania Timur.

Pada 3 Maret, CENTCOM kembali menegaskan bahwa militer AS tengah menyerang Iran dengan cara yang presisi, menghancurkan, dan tanpa kompromi. Tujuan utama Operasi Epic Fury adalah menghancurkan kemampuan rudal ofensif Iran. (hui)

Sumber : NTDTV.com

Serangan Militer AS–Israel ke Iran, Beijing Mengalami Pukulan Berlapis

Iran sebelumnya menghabiskan dana besar untuk membeli apa yang disebut sebagai sistem pencegat rudal pertahanan udara canggih dan sistem peringatan radar dari Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan Rusia. Namun, ketika berhadapan dengan kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel, sistem-sistem tersebut nyaris sepenuhnya “bisu” dan tidak berfungsi, ibarat hiasan semata. Kalangan pengamat menilai PKT salah menilai situasi sebelum perang, dan banyak tokoh yang disebut sebagai “penasihat strategis” PKT pun menjadi bahan olok-olok.

EtIndonesia. Pada 1 Maret 2026, pemerintah Iran mengkonfirmasi bahwa pemimpin tertinggi Iran berusia 86 tahun, Ali Khamenei, telah tewas dalam operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Dalam beberapa hari terakhir, selain gelombang warga Iran yang turun ke jalan merayakan peristiwa tersebut, komunitas diaspora Iran di Amerika Serikat, Jerman, Prancis, Inggris, dan negara-negara lain juga menggelar unjuk rasa besar-besaran. Mereka menyampaikan terima kasih kepada pemerintah AS dan Israel atas bantuan yang diberikan untuk membantu rakyat Iran mendapatkan kembali kebebasan, sekaligus menyerukan perubahan rezim di Iran.

Seorang warga diaspora Iran di AS, Salehi, mengatakan:  “Kami sangat berharap rezim ini runtuh sepenuhnya. Saya percaya rakyat Iran—baik yang di dalam negeri maupun kami yang berada di luar—pasti akan memiliki sebuah negara yang bebas.”

Salehi juga menyatakan bahwa aliansi “poros kejahatan” telah membawa bencana besar bagi dunia.

 “Kami tahu Iran bersekutu dengan PKT dan Rusia. Lihatlah bencana yang ditimbulkan oleh rezim-rezim ini ketika mereka bergandengan tangan. Baik yang mengusung komunisme maupun Islamisme, semuanya adalah rezim diktator.”

Pengamat luas menilai runtuhnya rezim Khamenei akan memberikan dampak terbesar terhadap PKT.

Komentator militer senior bermarga Ma mengatakan:  “Dari sisi ekonomi, sekitar 90% minyak mentah Iran dijual ke Tiongkok. Jika pasokan itu terputus, bagi ekonomi PKT yang sudah buruk, ini akan menjadi pukulan tambahan. Selain itu, jika Iran benar-benar mengalami perubahan rezim, maka seluruh investasi PKT di sana bisa lenyap begitu saja.”

Menurut laporan, Iran baru-baru ini mengeluarkan dana besar untuk mengimpor sistem pertahanan udara dan radar dari Tiongkok dan Rusia, namun sistem tersebut sama sekali tidak mampu menghadapi operasi militer AS–Israel kali ini.

Pada 1 Maret, Donald Trump mengungkapkan di platform Truth Social bahwa militer AS telah menghancurkan ratusan target militer Iran, termasuk fasilitas Garda Revolusi dan sistem pertahanan udara Iran.

Sumber yang memahami sistem diplomasi PKT mengatakan kepada The Epoch Times bahwa sebelum serangan udara terhadap Iran, internal PKT bersikap “terlalu optimistis”, meyakini konflik AS–Israel dengan Iran hanya sebatas pencegahan dan tekanan, serta tidak akan menyentuh inti kekuasaan Iran. Namun, serangan presisi AS–Israel kali ini justru menghancurkan kepercayaan diri PKT terhadap kemampuan kerja sama teknologinya sendiri.

Komentator militer Ma menambahkan:  “Jelas sekali, di bawah perang elektronik dan penekanan semacam ini oleh AS dan Israel, sistem-sistem tersebut hampir tidak berfungsi. Bukan hanya memperlihatkan kelemahan persenjataannya, tetapi juga rudal pertahanan udara dan radar buatan Tiongkok tampak sama sekali tidak mampu melawan serangan AS dan Israel.”

Sebelum perang pecah, media corong PKT dan para “penasihat negara” ramai-ramai melontarkan analisis tentang situasi Iran, secara terbuka mengklaim bahwa “Amerika tidak berani menyerang Iran” dan “sistem pertahanan udara buatan Tiongkok sangat hebat”. Kini, pernyataan-pernyataan yang menyesatkan tersebut menjadi bahan tertawaan.

Beberapa pernyataan yang pernah dilontarkan antara lain:
“Poros utama Inisiatif Sabuk dan Jalan Tiongkok ada di Iran. Jika Iran kacau, maka Sabuk dan Jalan akan hancur.”
“Iran cukup dengan satu rudal saja untuk menakuti Amerika.”
“Menurutmu Amerika akan menyerang Iran? Amerika miskin dan tidak punya apa-apa—beranikah mereka menyerang?”

Media corong PKT, CCTV, dilaporkan lupa menutup kolom komentar saat memberitakan kematian Khamenei. Akibatnya, warganet Tiongkok berbondong-bondong masuk, menyatakan dukungan kepada rakyat Iran, serta mengungkapkan harapan agar hari berakhirnya kekuasaan otoriter PKT juga segera tiba.

Komentator urusan aktual Tang Jingyuan mengatakan:  “Jika suatu hari nanti benar-benar giliran PKT runtuh, Anda akan melihat betapa luar biasanya kegembiraan rakyat Tiongkok. Itu mungkin akan menjadi perayaan nasional—bahkan menyalakan petasan sepanjang malam pun mungkin tidak cukup untuk menggambarkan suasananya.”

Reporter New Tang Dynasty Television, Tang Rui dan Han Bing, melaporkan

Delapan Negara Timur Tengah Terdampak Perang, Rezim Iran Menghadapi Isolasi Total

EtIndonesia. Operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang diberi nama Operation Epic Fury memasuki hari ketiga pada Senin (2 Maret). Pentagon menggelar konferensi pers pertamanya untuk memaparkan perkembangan pertempuran serta menunjukkan tekad Amerika Serikat dalam menyingkirkan ancaman teror dari rezim diktator Iran. Hingga kini, jumlah personel militer AS yang gugur meningkat menjadi enam orang.

Pada saat yang sama, Iran melancarkan serangan balasan tanpa pandang bulu terhadap Israel dan delapan negara Teluk, yang memicu kecaman keras dari Amerika Serikat, negara-negara Teluk, dan komunitas internasional.

“Presiden Donald Trump sepenuhnya memiliki kewenangan untuk menentukan berapa lama perang ini berlangsung: empat minggu, dua minggu, atau enam minggu,” ujar Menteri Perang AS Pete Hegseth.

Serangan militer gabungan AS–Israel terhadap Iran memasuki hari ketiga. Asap hitam tebal yang membumbung di langit Teheran menunjukkan bahwa serangan udara intensif masih terus berlangsung.

Pentagon pada Senin menyatakan bahwa tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, merupakan titik balik krusial yang mengubah arah situasi. Meski demikian, Hegseth menegaskan bahwa operasi ini bukan perang untuk mengganti rezim.

Hegseth menambahkan: “Tujuan Operasi Epic Fury sangat jelas: menghancurkan rudal ofensif Iran, fasilitas produksi rudalnya, serta angkatan laut dan infrastruktur keamanan lainnya, agar mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.”

Ia menegaskan bahwa ini bukan Perang Irak dan tidak akan berlangsung tanpa akhir. Namun, militer AS harus menyelesaikan misinya dan tidak menutup kemungkinan mengerahkan pasukan darat ke Iran bila diperlukan. Hingga saat ini, pasukan gabungan AS–Israel telah menyerang lebih dari 2.000 target, termasuk fasilitas nuklir Iran, sistem pertahanan udara, dan pangkalan peluncuran rudal.

Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, menyatakan: “Di darat, udara, laut, dan ruang siber, pasukan gabungan AS melakukan operasi serentak dan berlapis untuk mengacaukan, melemahkan, menghalangi, dan menghancurkan kemampuan Iran dalam menjalankan serta mempertahankan operasi militer.”

Jenderal Caine juga mengonfirmasi bahwa AS telah menguasai supremasi udara atas Iran, serta terus mengirim tambahan pasukan ke Timur Tengah untuk memperkuat pengerahan militer besar yang sudah ada. Militer AS melaporkan bahwa hingga Senin pukul 16.00, enam tentara AS telah gugur dalam operasi melawan Iran.

United States Central Command (CENTCOM) merilis sebuah video pada Senin yang menunjukkan tekad militer AS memburu sisa-sisa kekuatan Iran. Militer AS menyebutkan bahwa sehari sebelumnya, pembom B-1 telah masuk jauh ke wilayah Iran untuk menghancurkan industri rudal Iran. AS juga mengkonfirmasi bahwa 11 kapal Iran yang sebelumnya mengganggu pelayaran di Teluk Oman kini telah dihancurkan seluruhnya.

Sementara itu, Teheran dinilai berupaya menyeret kawasan ke dalam perang regional penuh, dengan menggandeng proksi seperti Hezbollah untuk melancarkan serangan rudal dan drone ke Israel, negara-negara Teluk, serta pangkalan militer AS.

Pada Senin, Israel melancarkan serangan udara ke pinggiran selatan Beirut sebagai respons atas serangan Hizbullah. Militer Israel mengonfirmasi bahwa kepala intelijen Hizbullah, Hussein Makled, telah tewas dalam serangan tersebut.

Dalam situasi pertahanan udara yang sangat tegang, pasukan pertahanan udara Kuwait keliru mengidentifikasi tiga jet tempur F-15 milik AS sebagai target musuh dan menembaknya jatuh. Militer AS memastikan ini adalah insiden salah tembak antar-sekutu, dan keenam awak pesawat berhasil menyelamatkan diri dengan melontarkan parasut serta telah dievakuasi dengan aman.

Di Arab Saudi, kilang minyak terbesar di Timur Tengah diserang drone Iran sehingga harus ditutup darurat. Akibat serangan Iran yang berkelanjutan, Qatar juga terpaksa menangguhkan produksi gas alam cair (LNG).

Pada Senin, Amerika Serikat bersama Kuwait, Arab Saudi, Bahrain, dan total enam negara Teluk mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam “serangan membabi buta dan sembrono” Iran terhadap delapan negara Teluk. Negara-negara tersebut menyatakan akan bersatu membela rakyat, kedaulatan, dan wilayah mereka.

Pada saat yang sama, sirine pertahanan udara meraung di pangkalan militer Inggris di Siprus, setelah serangan drone Iran menyebabkan kerusakan ringan. Seorang warga Siprus mengatakan:

“Kami terbangun oleh suara ledakan keras. Rumah berguncang, jendela dan segalanya ikut bergetar.”

Ini merupakan serangan pertama terhadap pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris tersebut sejak 1986. Sehari sebelumnya, Inggris menyetujui permintaan AS untuk menggunakan pangkalan itu dalam serangan defensif terhadap fasilitas rudal Iran. Serangan ini dinilai menandai eskalasi signifikan. Analisis menyebutkan bahwa rasa krisis eksistensial mendorong Iran mengambil langkah yang semakin agresif di kawasan Teluk dan wilayah lain.

Pejabat keamanan tertinggi Iran, Ali Larijani, tetap bersikap keras dan menyatakan tidak akan berunding dengan Amerika Serikat.

Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen pada Senin mengecam keras Iran dan para proksinya atas serangan sembrono terhadap negara-negara tetangga. Ia menegaskan:

“Satu-satunya solusi jangka panjang adalah jalur diplomasi. Ini berarti Iran harus melakukan transisi yang kredibel, sepenuhnya menghentikan program nuklir dan rudal balistiknya, serta menghentikan semua aktivitas yang mengganggu stabilitas kawasan.” (Hui)

Reporter New Tang Dynasty TV: Yi Jing (laporan komprehensif)

Kain Kafan Tak Memiliki Kantong

EtIndonesia. Chuck Feeney, Ia lahir di New Jersey, Amerika Serikat, dalam keluarga Katolik keturunan Irlandia yang sederhana. Sejak kecil ia adalah seorang Kristen yang taat.

Di usia 76 tahun, ia tinggal bersama istrinya di sebuah apartemen sewaan satu kamar tidur di San Francisco.

Ia tidak pernah mengenakan pakaian bermerek. Kacamata yang dipakainya sudah usang. Jam tangannya dibeli dari lapak pinggir jalan.

Ia tidak gemar makanan mewah. Favoritnya hanyalah sandwich keju panggang dan tomat yang murah. Ia tidak memiliki mobil pribadi; bepergian biasanya menggunakan bus umum. Tas kerjanya hanyalah tas kain sederhana.

Jika Anda duduk bersamanya di sebuah kedai kecil, ia akan memeriksa tagihan dengan teliti. Jika Anda menginap di rumahnya, sebelum tidur ia akan mengingatkan untuk mematikan lampu.

Anda mungkin bertanya-tanya, apa istimewanya seorang pria tua Amerika yang tampak miskin dan hemat ini?

Mari kita lihat apa yang telah ia lakukan.

Ia pernah menyumbangkan 588 juta dolar AS kepada Cornell University, 125 juta dolar kepada University of California, dan 60 juta dolar kepada Stanford University. Ia menggelontorkan 1 miliar dolar untuk membangun dan merenovasi tujuh universitas di Irlandia dan dua universitas di Irlandia Utara.

Ia mendirikan yayasan amal “Operation Smile” yang membiayai operasi anak-anak penderita bibir sumbing di negara berkembang. Ia juga mengalokasikan dana besar untuk mengendalikan wabah dan penyakit di Afrika.

Hingga kini, ia telah menyumbangkan sekitar 4 miliar dolar—dan masih ada 4 miliar dolar lagi yang siap didonasikan.

Namanya adalah Chuck Feeney—orang yang pelit terhadap dirinya sendiri tetapi sangat murah hati kepada orang lain; orang yang suka menghasilkan uang, namun tidak suka memilikinya.


Dermawan yang Memilih Anonim

Chuck Feeney dikenal sangat rendah hati. Ia adalah tipe filantropis “pertapa” yang sengaja memilih anonim.

Ia mendirikan Atlantic Philanthropies dengan dana mencapai 8 miliar dolar. Yayasan itu bahkan didaftarkan di Bermuda untuk menghindari aturan keterbukaan tertentu di Amerika Serikat.

Nama Feeney tidak tercantum dalam nama yayasan tersebut. Ia bahkan meminta karyawannya untuk tidak memberi tahu keluarga mereka di mana mereka bekerja. Lembaga yang menerima donasi tidak boleh memasang plakat atas namanya. Banyak penerima bantuan bahkan tidak tahu siapa penyumbangnya. Siapa pun yang tahu harus menandatangani perjanjian kerahasiaan.

Baru pada tahun 1997, ketika perusahaan toko bebas pajaknya diakuisisi oleh raksasa barang mewah Prancis Bernard Arnault, publik mengetahui bahwa saham Feeney telah dialihkan ke Atlantic Philanthropies. Jumlah donasinya bahkan melebihi yayasan-yayasan terkenal seperti milik keluarga Rockefeller dan MacArthur.

Selama bertahun-tahun, ia beramal dalam diam. Bahkan yayasan senilai 8 miliar dolar yang ia dirikan tidak memakai namanya sendiri.

Ketika identitasnya terungkap, dunia terkejut.

Namun ia tetap menjaga kesederhanaan. Ia menolak gedung yang dibangun dengan dananya memakai namanya. Ia berkata,
“Yang penting bukan siapa yang membangun gedung itu, tetapi bahwa gedung itu berdiri.”


Hidup Sederhana di Tengah Kekayaan

Feeney pernah memiliki enam rumah mewah di lokasi elit seperti London dan New York. Kini tak satu pun tersisa.

Ia dan istrinya tinggal di apartemen sewaan. Bepergian dengan transportasi umum atau taksi.

Ia menghasilkan hampir 10 miliar dolar dari penjualan barang bebas pajak bermerek, tetapi tidak pernah memakai pakaian bermerek.

Ia berkata,
“Anda bisa makan di restoran mahal dan menghabiskan 100 dolar. Tapi makan seharga 25 dolar pun sudah cukup membuat saya puas.”

Ia memiliki lima anak. Mereka tidak dimanjakan atau diwarisi kekayaan besar. Saat liburan, mereka harus bekerja di hotel, restoran, atau supermarket.

Pernah suatu ketika putrinya membuat tagihan telepon jarak jauh yang besar. Feeney memutus sambungan telepon rumah dan menempelkan peta kota yang menunjukkan lokasi telepon umum terdekat.

Putrinya sempat merasa malu, tetapi kemudian menyadari ayahnya benar.

Anak-anaknya juga mendukung keputusan sang ayah untuk menyumbangkan hampir seluruh hartanya. Mereka berkata,
“Dengan begitu, orang yang menerima bantuan tidak perlu memperlakukan kami secara istimewa.”

Dalam catatan dewan yayasan, Feeney pernah berkata,
“Jika orang kaya tidak menggunakan kekayaannya untuk tujuan yang bermakna selama hidupnya, mereka secara tidak langsung meninggalkan beban bagi generasi berikutnya.”


Saat Uang Menjadi Bermakna

Salah satu program yang ia danai adalah “Operation Smile”, untuk operasi anak-anak bibir sumbing.

Suatu hari, ia melihat seorang gadis kecil yang akan menjalani operasi menutupi mulutnya dengan tangan. Setelah operasi, gadis itu tersenyum—senyum yang seolah berkata, “Aku bukan lagi gadis yang dulu kamu lihat.”

Feeney berkata, pada momen seperti itulah ia merasa kekayaan benar-benar memiliki arti.

Pernah pula seorang pria menghampirinya di restoran dan berkata,
“Saya penerima beasiswa Anda. Sekarang saya menjadi manajer umum jaringan restoran ini.”

Feeney tersenyum bahagia.

Donasinya melintasi batas negara—dari keselamatan lalu lintas bagi anak-anak Vietnam hingga riset kanker di Australia.

Ia berkata,
“Menjadi kaya memang menarik bagi banyak orang. Saya tidak ingin memerintah siapa pun. Saya hanya percaya bahwa jika orang memberi untuk kepentingan umum, mereka akan merasakan kepuasan besar.”

Banyak miliarder seperti Bill Gates dan Warren Buffett menjadikannya teladan dalam filantropi.


Dua Keinginan Terakhir

Feeney memiliki dua keinginan besar:

Pertama, menghabiskan seluruh sisa 4 miliar dolarnya sebelum 2016. Dana itu mengalir lebih dari 400 juta dolar per tahun ke berbagai belahan dunia.

Ia pernah bersumpah,
“Jika uang ini tidak habis dibagikan, saya tidak akan bisa memejamkan mata dengan tenang.”

Kedua, menjadi contoh bagi orang kaya: menikmati hidup sambil memberi kembali kepada masyarakat.

Ketika ditanya mengapa ia ingin menyumbangkan semuanya, jawabannya sederhana:

“Kain kafan tidak memiliki kantong.”


Renungan

Definisi sukses berbeda bagi setiap orang.

Bagi sebagian orang, sukses berarti rumah mewah, mobil mahal, makanan lezat, dan kehidupan nyaman.

Bagi yang lain, sukses berarti mampu membantu lebih banyak orang hidup layak.

Keduanya bisa disebut sukses, tetapi esensinya berbeda: satu untuk diri sendiri, satu untuk orang banyak.

Memang, setiap orang bebas menggunakan hartanya. Namun pertanyaannya adalah: apakah uang itu mengendalikan kita, atau kita yang mengendalikan uang?

Uang tidak dibawa saat lahir, dan tidak dibawa saat mati. Semua orang tahu itu. Tetapi sedikit yang benar-benar memahaminya.

Terlalu banyak uang bisa merusak karakter. Terlalu sedikit empati bisa menghancurkan generasi berikutnya.

Ada pepatah lama dari Lin Zexu:

“Jika anak cucu tidak lebih baik dariku, untuk apa meninggalkan harta? Jika bodoh dan kaya, kekayaan hanya memperbesar kesalahannya. Jika anak cucu lebih baik dariku, untuk apa meninggalkan harta? Jika bijak dan kaya, kekayaan justru melemahkan semangatnya.”

Membaca kisah ini, lalu melihat betapa sering keluarga kaya bertikai karena warisan, hati terasa tersentuh.

Karena pada akhirnya, yang kita tinggalkan bukanlah harta—
melainkan nilai yang kita tanamkan. (Jhon)

Bagaimana Seharusnya Suami Istri Bertengkar?

EtIndonesia. Pernikahan yang bahagia bukan hanya soal menaati aturan dan menghindari kesalahan. Bukan pula sekadar tidak berbuat salah satu sama lain.

Ada satu pelajaran penting yang harus dipelajari pasangan suami istri: bagaimana mengelola konflik.

Karena itu, “Seni Bertengkar bagi Suami Istri” memiliki tujuh prinsip penting yang wajib dipelajari.


1. Pertengkaran Itu Wajar

Dalam pernikahan, pertengkaran hampir tidak bisa dihindari. Itu adalah hal yang normal dan tidak perlu ditakuti.

Suami dan istri berbeda jenis kelamin, berbeda kepribadian, pola pikir, kebiasaan, dan latar belakang. Saat pacaran, banyak hal masih bisa ditutupi. Setelah menikah dan hidup bersama setiap hari, interaksi menjadi intens. Konflik kecil maupun besar pasti terjadi.

Jika setiap konflik dianggap sebagai tanda bahwa pasangan tidak cocok, itu keliru.

Sebaliknya, jika menganggap pernikahan bahagia berarti tidak pernah bertengkar, lalu memilih menahan diri habis-habisan demi menjaga “damai semu”, itu juga tidak sehat.

Pasangan yang tahu cara bertengkar justru akan semakin dekat. Dan seiring waktu, frekuensi pertengkaran akan semakin berkurang.


2. Pertengkaran Adalah Soal Sudut Pandang, Bukan Benar atau Salah

Banyak pertengkaran terjadi karena masing-masing merasa hanya ada satu jawaban yang benar.

“Pasti aku yang benar, dan kamu yang salah.”

Jika dua orang berpikir seperti itu, konflik tidak akan ada habisnya.

Padahal dalam kehidupan rumah tangga, banyak persoalan sebenarnya hanyalah perbedaan sudut pandang, bukan persoalan benar atau salah mutlak.

Orang yang “pandai bertengkar” akan berusaha memahami maksud pasangannya dan melihat di mana perbedaan itu terjadi.

Orang yang tidak pandai bertengkar hanya ingin menjatuhkan lawan debatnya. Yang penting ia terbukti benar. Akibatnya? Keduanya terluka.


3. Dalam Pernikahan, Dahulukan Perasaan, Bukan Logika

Ciri umum orang bertengkar adalah ingin memenangkan logika. Mereka mencari kesalahan kata, celah logika, dan menyerang habis-habisan.

Masalahnya, ketika terlalu sibuk membela logika, perasaan justru terluka.

Menang dalam argumen sering kali berarti kalah dalam hubungan.

Dalam pernikahan, menyelesaikan konflik dengan dasar kasih sayang jauh lebih membangun daripada debat panjang penuh analisis.


4. Jangan Pernah Bertengkar di Depan Orang Ketiga

Banyak orang mencari dukungan dengan mengadu kepada pihak ketiga—orang tua, teman, rekan kerja—demi membuktikan dirinya benar.

Untuk mendapatkan simpati, ia mulai membuka kekurangan pasangannya.

Kebiasaan ini sangat merusak hubungan.

Pasangan yang bijak akan menyelesaikan konflik secara langsung, berdua. Semakin sedikit campur tangan orang luar, semakin besar peluang hubungan itu pulih.


5. Jangan Berusaha Menang

Dalam pertengkaran suami istri, tidak ada pemenang. Siapa pun yang menang, hubungan tetap kalah.

Orang yang tahu cara bertengkar hanya menyampaikan inti persoalan, tidak pernah berniat “menghancurkan” lawan.

Ada penelitian di Amerika terhadap para istri korban kekerasan. Ditemukan bahwa banyak dari mereka selalu memenangkan perdebatan secara verbal. Suami yang merasa kalah secara kata-kata akhirnya melampiaskan frustrasinya dengan kekerasan fisik.

Ini menunjukkan bahwa memenangkan pertengkaran tidak membawa keuntungan nyata—bahkan bisa membawa bahaya.

Orang yang dewasa selalu memberi ruang bagi pasangannya untuk menjaga harga diri.


6. Fokus pada Fakta, Jangan Membesar-besarkan Perasaan

Pertengkaran pasti ada sebabnya.

Orang yang bijak akan menyampaikan fakta situasi dan kebutuhannya.

Sebaliknya, orang yang tidak dewasa cenderung menggunakan kata-kata berlebihan dan menyakitkan.

Misalnya, seorang istri sibuk mengurus empat anak kecil hingga rumah berantakan.

Jika suami berkata,
“Sayang, kamu pasti sangat sibuk. Di dapur bahkan tidak ada piring bersih.”

Kalimat itu menyampaikan fakta sekaligus empati.

Namun jika suami berkata,
“Kamu ini malas dan jorok sekali!”

Perang besar tidak terhindarkan.


7. Yang Mengalah Lebih Dulu Justru Lebih Berani

Karena pertengkaran sering hanya soal sudut pandang, orang yang matang akan berusaha meredakannya.

Cara terbaik meredakan konflik adalah mengakui bahwa mungkin pasangan memiliki sudut pandang yang lebih baik.

Butuh kepercayaan diri dan kedewasaan untuk melakukannya.

Mengalah kepada pasangan bukanlah kerugian, melainkan investasi dalam hubungan.

Namun ketika pasangan sudah lebih dulu mengalah, jangan mempermalukannya dengan berkata,
“Kan sudah kubilang kamu salah!”

Sebaliknya, hargai dan hormati sikapnya. Dengan begitu, lain kali ia akan lebih mudah melunak.


Renungan

Bertengkar adalah seni yang sulit.

Menang logika bisa melukai perasaan. Mengutamakan perasaan bisa terasa seperti kehilangan prinsip. Kadang kita takut jika terlalu lembut, pasangan akan semakin semena-mena.

Padahal pertengkaran juga ujian kecerdasan emosional (EQ).

Orang dengan EQ baik mampu menahan kata-katanya, mempertimbangkan perasaan pasangan, dan tidak mengungkit masa lalu.

Sebaliknya, orang dengan EQ rendah menjadikan setiap kalimat seperti jarum yang menusuk hati. Ia membuka luka lama, menyakiti lebih dalam, dan memperumit masalah.

Jika kita sering menggunakan kata-kata tajam atau mengungkit masa lalu saat bertengkar, tanpa perlu melihat siapa yang benar, itu sudah cukup menjadi bahan introspeksi.

Ketika pasangan memilih mengalah, jangan selalu berpikir kita benar. Bisa jadi ia mengalah karena ia mencintai kita.

Jika dipahami seperti ini, hubungan justru semakin kuat.

Bahkan setelah pertengkaran, jika pihak yang “menang” mau mendekat dengan lembut, bercanda, atau menunjukkan perhatian, kemarahan pasangan akan cepat mereda.

Karena dalam pernikahan, sering kali berlaku ungkapan lama:
bertengkar di kepala ranjang, berdamai di ujung ranjang.

Terakhir, pertengkaran juga bentuk komunikasi.

Jika seseorang masih mau bertengkar denganmu, artinya ia masih peduli dan ingin memperbaiki hubungan.

Namun jika seseorang bahkan tidak mau bertengkar lagi…
mungkin hatinya sudah lelah, dan hubungan itu benar-benar berada di ujung jalan. (jhon)

Akhir dari Sebuah Hadiah Besar

EtIndonesia. Seekor anjing milik seorang kaya raya hilang saat diajak berjalan-jalan. Sang pemilik segera memasang pengumuman di televisi:

“Anjing hilang. Siapa pun yang mengembalikan akan diberi imbalan 10.000 yuan.”

Pengumuman itu dilengkapi foto anjing kecil tersebut agar mudah dikenali.

Setelah iklan ditayangkan, banyak orang datang membawa anjing. Namun tak satu pun adalah anjing milik sang kaya raya.

Istri si kaya berkata,
“Mungkin orang yang benar-benar menemukannya merasa uangnya terlalu sedikit. Itu anjing ras Irlandia yang murni.”

Akhirnya, hadiah dinaikkan menjadi 20.000 yuan.

Sementara itu, orang yang sebenarnya menemukan anjing itu adalah seorang pengemis. Ia menemukannya ketika sedang tertidur di bangku taman.

Karena tidak melihat pengumuman pertama, ia baru mengetahui soal hadiah 20.000 yuan belakangan. Ia begitu girang. Seumur hidupnya, belum pernah ia mendapat keberuntungan sebesar itu.

Keesokan paginya, ia membawa anjing tersebut untuk menukarkannya dengan hadiah.

Namun saat melewati dinding layar televisi di sebuah pusat perbelanjaan besar, ia melihat pengumuman yang sama—hadiahnya kini naik menjadi 30.000 yuan.

Pengemis itu berhenti dan berpikir.
“Hadiah ini naiknya cepat sekali. Sebenarnya, seberapa berhargakah anjing ini?”

Ia pun berubah pikiran. Ia kembali ke gubuk reyotnya dan mengikat anjing itu lagi.

Beberapa hari kemudian, benar saja, hadiah kembali naik.

Selama beberapa hari berikutnya, pengemis itu hampir tidak pernah meninggalkan layar televisi di pusat perbelanjaan. Ia terus memantau jumlah hadiah yang semakin hari semakin besar.

Ketika nilai hadiahnya sudah membuat seluruh warga kota terkejut, barulah ia kembali ke gubuknya, berniat menyerahkan anjing itu.

Namun saat ia tiba, anjing tersebut sudah mati.

Anjing itu terbiasa makan susu segar dan daging panggang di rumah si kaya. Ia tak mampu memakan sisa makanan dari tempat sampah yang diberikan pengemis.

Sang kaya mengira uang bisa menyelesaikan segalanya, tetapi justru uang itulah yang memperumit keadaan.

Sang pengemis, karena keserakahannya, kembali ke kondisi semula—tidak memiliki apa-apa.

Baik si kaya maupun si miskin, keduanya melakukan kesalahan yang sama dalam menghadapi uang.


Hikmah Cerita

Uang bisa menjadi alat yang membantu, tetapi juga bisa menjadi sumber petaka. Garis pembatasnya adalah satu kata: keserakahan.

Keserakahan membuat uang berubah menjadi racun. Sebaliknya, rasa cukup menjadikan uang sebagai alat yang membawa manfaat.

Dulu manusia menciptakan uang agar bisa dipakai dan dimanfaatkan. Namun perlahan, justru manusia yang diperbudak oleh uang dan terjebak dalam kilau semunya.

Sang kaya merasa uangnya tak terbatas. Ia mencoba menyelesaikan segalanya dengan nominal yang semakin besar, tanpa mempertimbangkan sisi manusia dan batas kewajaran. Pepatah lama berkata, “Keserakahan tak pernah terpuaskan.”

Sementara sang pengemis kehilangan kesempatan untuk keluar dari kemiskinan karena terlalu menunggu harga yang lebih tinggi. Ia tak pernah menetapkan batas kapan harus berhenti.

Kesalahan ini sering terjadi dalam kehidupan nyata, terutama dalam mengelola uang dan investasi. Tidak menetapkan batas keuntungan, dan tidak menetapkan batas kerugian.

Seperti orang yang melihat harga saham terus naik, lalu enggan menjual karena berharap naik lebih tinggi lagi. Ia terus membeli di harga yang makin mahal. Hingga akhirnya pasar berbalik arah dan ia terjebak.

Keserakahan selalu berbisik, “Tunggu sedikit lagi.”

Namun hidup sering kali berakhir sebelum “sedikit lagi” itu datang. (jhon)

49 Tokoh Tewas, 40 Tanker Tertahan: Krisis Besar yang Mengguncang Energi Dunia

EtIndonesia. Serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 dinilai banyak pihak sebagai operasi “pemenggalan kepala” yang menandai perubahan drastis pola konfrontasi di Timur Tengah. 

Jika sebelumnya Washington dan Tel Aviv lebih mengandalkan strategi pencegahan dan tekanan bertahap, kali ini keduanya melancarkan serangan presisi yang langsung menyasar pucuk pimpinan serta struktur komando militer Iran.

Langkah tersebut disebut telah mengubah “aturan permainan” di kawasan dan memicu efek domino terhadap stabilitas energi global, kalkulasi geopolitik Tiongkok, hingga dinamika keamanan di Asia Timur.


Pertahanan Udara Iran Ditembus dalam Hitungan Jam

Sebelum serangan terjadi, Iran mengoperasikan sistem pertahanan udara berlapis yang mencakup perangkat buatan Rusia seperti S-300 PMU-2 dan Tor-M1, sistem HQ-9B buatan Tiongkok, serta sistem domestik Bavar-373. Secara teori, kombinasi ini dirancang untuk menghadapi ancaman rudal dan pesawat tempur modern.

Namun dalam praktik tempur pada 28 Februari, sistem tersebut menunjukkan kelemahan signifikan. Sejumlah analis militer menilai AS dan Israel menerapkan taktik sistematis:

  1. Melumpuhkan radar peringatan dini lebih dahulu melalui serangan presisi jarak jauh;
  2. Mengacaukan jaringan komando dan kendali dengan perang elektronik;
  3. Menekan daya tembak rudal sebelum melakukan gelombang serangan lanjutan.

Akibatnya, sebagian besar sistem pertahanan kehilangan efektivitas hanya dalam waktu singkat. Beberapa fasilitas militer strategis, termasuk instalasi Garda Revolusi dan pusat komando, dilaporkan hancur atau lumpuh.


Selat Hormuz Bergejolak, 40 Kapal Tanker Tertahan

Ketegangan meningkat tajam setelah Teheran mengambil langkah memblokade Selat Hormuz, jalur vital yang menyalurkan sekitar seperempat perdagangan minyak dunia melalui laut serta seperlima gas alam cair global.

Data perusahaan pelayaran Kepler pada 1 Maret 2026 menunjukkan sedikitnya 40 kapal tanker raksasa tertahan di Teluk Persia, masing-masing membawa sekitar dua juta barel minyak mentah. Banyak operator kapal memilih mematikan transponder untuk mengurangi risiko.

Pada 1 Maret, hanya empat kapal tanker yang berhasil melintasi selat tersebut—turun drastis dari 22 kapal sehari sebelumnya. Gangguan ini langsung mengguncang pasar energi global dan memicu lonjakan premi asuransi pengiriman.

Direktur Proyek Iran dari International Crisis Group, Ali Vaez, menilai penutupan total selat justru akan merugikan Iran sendiri dan menjauhkan mitra ekonomi utama, termasuk Tiongkok. Menurutnya, Teheran kemungkinan lebih memilih tekanan selektif terhadap pelayaran guna menaikkan harga energi tanpa sepenuhnya memutus jalur.


Tiongkok Hadapi Tiga Tekanan Besar

Sebagai importir minyak terbesar dunia, Tiongkok mengimpor sekitar 1,38 juta barel per hari dari Iran, setara 12–13 persen impor lautnya. Gangguan pasokan akan berdampak langsung pada stabilitas energi dan inflasi domestik.

Selain itu, perjanjian kerja sama 25 tahun yang ditandatangani Beijing dan Teheran pada 2021—yang mencakup sektor energi, infrastruktur, dan industri—terancam terdampak ketidakpastian politik pasca-serangan.

Sejumlah analis menyebut Beijing kini menghadapi tiga tekanan utama apabila Iran melemah drastis:

  1. Kenaikan harga energi dan risiko inflasi dalam negeri;
  2. Potensi kerugian investasi dalam proyek Sabuk dan Jalan di Timur Tengah;
  3. Peningkatan tekanan geopolitik AS, termasuk di Selat Taiwan dan Laut Cina Selatan.

Pada 2 Maret 2026, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi berbicara melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Beijing menegaskan “persahabatan tradisional” kedua negara dan menyatakan keyakinan bahwa Iran mampu menjaga stabilitas nasional.

Sebelumnya, pada 28 Februari dan 1 Maret, Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyampaikan “keprihatinan mendalam” serta menyerukan penghentian aksi militer, tanpa secara langsung menyalahkan AS maupun Israel—menunjukkan sikap yang relatif hati-hati.


Dampak Regional: Taiwan hingga Korea Utara

Di Asia Timur, dinamika Timur Tengah turut memicu spekulasi. Kementerian Pertahanan Taiwan melaporkan bahwa sejak 28 Februari hingga 2 Maret 2026, selama tiga hari berturut-turut tidak terdeteksi pesawat tempur Tiongkok memasuki zona identifikasi pertahanan udara Taiwan—hanya aktivitas balon dan kapal militer. Pola ini berbeda dari intensitas sebelumnya dan memicu analisis bahwa Beijing tengah melakukan penyesuaian strategis.

Sementara itu, sejumlah pakar menilai perkembangan di Iran dapat memperkuat keyakinan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, mengenai pentingnya pencegahan nuklir. Meski demikian, Pyongyang menyatakan kemungkinan kembali ke meja perundingan bergantung pada sikap Washington.


PBB dan Pernyataan Trump

Pada 28 Februari 2026, Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat. Duta Besar AS untuk PBB menuduh Iran selama ini mengancam stabilitas kawasan dan menyerang kepentingan Amerika serta Israel melalui jaringan proksi.

Pada 1 Maret 2026, Presiden Donald Trump menyatakan operasi militer telah menghantam ratusan target, termasuk fasilitas Garda Revolusi, sistem pertahanan udara, serta sembilan kapal dan instalasi angkatan laut Iran. Ia menyebut total 49 tokoh rezim Iran tewas hingga 2 Maret, dan menegaskan gelombang tekanan belum berakhir.

Trump juga menyerukan agar pasukan Iran meletakkan senjata dan menyampaikan dukungan bagi rakyat Iran yang menginginkan kebebasan.


Dimensi Moral dan Simbolik

Di tengah konflik, Gedung Putih mengumumkan bahwa pada 2 Maret 2026, Presiden Trump akan menganugerahkan Medal of Honor kepada tiga prajurit Angkatan Darat AS atas jasa mereka dalam Perang Dunia II, Perang Vietnam, dan Perang Afghanistan. Langkah ini dipandang sebagai penegasan simbolis mengenai penghormatan terhadap prajurit dan legitimasi moral penggunaan kekuatan militer.


Perubahan Doktrin Perang?

Sejumlah analis militer menilai operasi 28 Februari mencerminkan model perang baru:

  • Menargetkan pucuk pimpinan dan struktur komando lebih dahulu;
  • Mengandalkan dominasi intelijen dan perang elektronik;
  • Berupaya meminimalkan korban sipil sembari memaksimalkan efek strategis.

Pendekatan ini tidak hanya berdampak pada Iran, tetapi juga mengirim pesan geopolitik yang luas—bahwa dominasi udara dan intelijen tetap menjadi faktor penentu dalam konflik modern.

Memasuki 2 Maret 2026, perang telah memasuki hari ketiga. Dampaknya meluas dari Teluk Persia hingga Asia Timur, menempatkan pasar energi global, stabilitas regional, dan rivalitas kekuatan besar dalam satu pusaran ketidakpastian baru. (***)

Kapal Perang Ditenggelamkan, 2.000 Bom Dijatuhkan : Eskalasi Paling Berbahaya dalam Dekade Ini

EtIndonesia. Operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang diberi nama sandi “Operasi Amarah Epik” resmi memasuki hari kedua pada Minggu, 1 Maret 2026, dengan eskalasi yang meluas ke berbagai front. 

Serangan besar-besaran yang dimulai pada 28 Februari 2026 kini tidak hanya menghantam infrastruktur militer Iran, tetapi juga menyeret proksi Teheran di Lebanon, memicu gangguan penerbangan global, hingga mengguncang pasar energi dunia.

Serangan Intensif AS: B-2 Hantam Fasilitas Bawah Tanah Iran

Pada malam 1 Maret 2026, dalam wawancara telepon dengan ABC News, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa operasi tersebut “sangat berhasil” dan mengklaim hampir seluruh kandidat penerus Ayatollah Ali Khamenei telah dieliminasi. Ia juga mengungkapkan bahwa ribuan pejabat Iran disebut telah menghubungi pihak Amerika untuk meminta pengampunan.

Di hari yang sama, United States Central Command (CENTCOM) mengonfirmasi pengerahan pesawat pengebom siluman B-2. Empat unit B-2 yang lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Whiteman di Missouri menjatuhkan puluhan bom seberat 2.000 pon ke fasilitas rudal balistik bawah tanah Iran yang diperkuat secara khusus.

Menurut pejabat pertahanan AS yang tidak disebutkan namanya, ini merupakan penggunaan besar kedua B-2 setelah serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025 lalu.

Pada laporan pembaruan 2 Maret 2026, CENTCOM menyatakan lebih dari 20 jenis pesawat, kapal perang, rudal, dan sistem persenjataan telah digunakan untuk menyerang lebih dari 1.000 target di Iran. Operasi ini disebut sebagai pengerahan kekuatan militer terbesar Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir.

Angkatan Laut Iran Dihantam, Sistem Komando Disebut Runtuh

Pada dini hari 2 Maret 2026, Trump melalui unggahan daring menyebut sembilan kapal Angkatan Laut Iran telah dihancurkan dan ditenggelamkan. Markas besar Angkatan Laut Iran juga dilaporkan hampir sepenuhnya hancur akibat serangan presisi.

Sekitar empat jam kemudian, dalam pidato video lanjutan, Trump menyatakan bahwa sistem komando militer Iran telah runtuh. Ia mendesak Garda Revolusi Islam, militer reguler, serta aparat kepolisian Iran untuk meletakkan senjata dan menerima pengampunan penuh, atau menghadapi konsekuensi serius.

Israel Rebut Superioritas Udara, 2.000 Bom Dijatuhkan

Menurut laporan The Jerusalem Post, Angkatan Udara Israel dalam operasi bertajuk “Dukungan Menggelegar” pada 1–2 Maret 2026 menjatuhkan sekitar 2.000 bom ke berbagai target di Iran. Jumlah tersebut setara dengan setengah total bom yang dijatuhkan selama konflik 12 hari pada Juni 2025.

Untuk pertama kalinya, Israel melakukan penetrasi skala besar ke wilayah ibu kota Teheran, menyerang gedung pemerintah, lembaga intelijen, serta pusat komando militer. Ledakan terdengar berulang kali, sementara asap tebal membumbung di sejumlah titik strategis.

Di wilayah barat dan tengah Iran, sekitar 200 peluncur rudal balistik dilaporkan dihancurkan atau dilumpuhkan, yang berarti hampir setengah kemampuan rudal balistik Iran kini tidak lagi operasional.

Hizbullah Buka Front Lebanon, Gencatan Senjata Berakhir

Konflik meluas ketika kelompok Hizbullah di Lebanon, yang didukung Iran, meluncurkan roket dan drone ke Israel utara pada dini hari 2 Maret 2026, sebagai respons atas kematian Khamenei.

Menurut laporan Reuters tertanggal 2 Maret, sebagian besar roket berhasil dicegat sistem pertahanan udara Israel dan tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, sirene peringatan berbunyi di berbagai wilayah dan warga terpaksa mengungsi.

Israel segera mengakhiri gencatan senjata yang telah berlangsung selama satu tahun dan melancarkan serangan balasan besar-besaran ke basis Hizbullah di selatan Beirut, desa-desa di Lebanon selatan, serta Lembah Bekaa. Lebih dari selusin ledakan dilaporkan terjadi sekitar pukul 03.00 waktu setempat.

Militer Israel memerintahkan evakuasi lebih dari 50 desa di Lebanon selatan dan timur, memperingatkan bahwa operasi darat dan udara dapat berlangsung beberapa hari.

Iran Serang Infrastruktur Energi Saudi

Eskalasi tidak berhenti di Lebanon. Pada pagi 2 Maret 2026, Iran dilaporkan meluncurkan drone ke kilang minyak Ras Tanura milik Saudi Aramco di pesisir Teluk Persia. Kilang tersebut memiliki kapasitas pengolahan sekitar 550.000 barel per hari dan dilaporkan terpaksa menghentikan operasional sementara.

Serangan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.

Inggris Siapkan Evakuasi Darurat

Pemerintah Inggris mulai menyusun rencana evakuasi warganya dari kawasan Timur Tengah. Menurut laporan BBC, lebih dari 76.000 warga Inggris telah mendaftarkan keberadaan mereka ke Kementerian Luar Negeri, dengan sebagian besar berada di Uni Emirat Arab.

Peringatan perjalanan dikeluarkan untuk Bahrain, Qatar, Kuwait, dan UEA. Warga Inggris diminta berlindung di tempat aman dan mengikuti perkembangan resmi pemerintah.

Penerbangan Global Terguncang

Pembatasan dan penutupan wilayah udara di berbagai negara Timur Tengah berdampak luas pada penerbangan internasional. Bandara di Tel Aviv, Dubai, dan Doha mengalami gangguan operasional.

Maskapai besar seperti Emirates, Etihad Airways, dan British Airways menangguhkan sejumlah penerbangan. Ratusan hingga ribuan jadwal penerbangan dibatalkan atau dialihkan, menyebabkan ribuan penumpang terlantar.

Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Terancam Tembus US$100

Ketegangan meningkat drastis setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz — jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.

Di perairan timur selat, dekat Oman, dilaporkan terjadi insiden terhadap kapal-kapal komersial. Garda Revolusi Iran memperingatkan kapal tanker agar tidak melintas. Sedikitnya 150 kapal tanker minyak dan LNG tertahan di sekitar Teluk Persia.

Analis energi memperingatkan bahwa jika penutupan berlangsung lama, harga minyak mentah global berpotensi melonjak melampaui US$100 per barel dan memicu gelombang resesi global.

Perkembangan dalam 48 jam terakhir menunjukkan bahwa konflik ini tidak lagi terbatas pada konfrontasi bilateral, melainkan telah menjelma menjadi krisis regional dengan implikasi global. Situasi di Timur Tengah kini berada dalam fase paling genting dalam beberapa dekade terakhir, dengan risiko eskalasi lanjutan yang masih terbuka lebar. (***)

24 Provinsi Dibombardir! AS–Israel Klaim Kuasai Langit Iran, Teheran di Ambang Titik Balik?

EtIndonesia. Operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memasuki hari kedua pada (2 Maret 2026), dengan intensitas serangan yang semakin meluas. Dari total 31 provinsi di Iran, sedikitnya 24 provinsi dilaporkan menjadi sasaran serangan udara sejak gelombang pertama dimulai pada Jumat pagi, 28 Februari 2026.

Target utama serangan meliputi pangkalan rudal balistik, pusat komando militer, sistem pertahanan udara, serta markas pasukan elite Garda Revolusi Iran (IRGC). Sejumlah fasilitas strategis dilaporkan mengalami kerusakan berat akibat kombinasi serangan udara dan rudal presisi tinggi.

Strategi Serangan Jangka Panjang

Sumber-sumber di Washington menyebutkan bahwa operasi ini diperkirakan akan berlangsung selama empat hingga lima pekan. Pemerintahan Presiden Donald Trump dikabarkan telah mengirimkan sinyal kuat kepada komunitas internasional bahwa strategi yang dipilih bukanlah invasi darat berskala besar, melainkan kampanye udara intensif dan berkelanjutan.

Sejumlah analis militer menilai pendekatan ini bertujuan melemahkan secara sistematis kemampuan militer Iran sekaligus mengguncang struktur kekuasaan dari dalam. Model operasi ini dinilai berbeda dengan invasi darat seperti yang pernah dilakukan Amerika Serikat di Irak pada 2003.

Bagi Israel, opsi invasi darat ke Iran dinilai tidak realistis mengingat jarak geografis yang jauh, luasnya wilayah Iran, serta kompleksitas jalur logistik yang akan menimbulkan biaya politik dan militer sangat besar.

Netanyahu Tingkatkan Tekanan, 100.000 Cadangan Dipanggil

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada (2 Maret 2026) menyatakan bahwa serangan udara terhadap Teheran dan wilayah strategis lainnya akan ditingkatkan dalam beberapa hari mendatang.

Militer Israel juga mengumumkan pemanggilan sekitar 100.000 tentara cadangan untuk bersiaga menghadapi kemungkinan eskalasi regional, termasuk keterlibatan kelompok proksi Iran di berbagai front.

Iran Balas dengan Rudal dan Drone

Sebagai respons, Iran meluncurkan beberapa gelombang rudal balistik dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah pada Sabtu malam hingga Minggu dini hari (1–2 Maret 2026).

Sebuah kota di Israel bagian tengah dilaporkan terkena serangan langsung, menyebabkan delapan hingga sembilan orang tewas serta puluhan lainnya luka-luka. Otoritas Israel menyebut insiden ini sebagai serangan paling mematikan di wilayahnya dalam rangkaian konflik terbaru.

Iran juga memperluas serangan balasan ke beberapa titik di kawasan Teluk Persia. Sejumlah negara Arab dilaporkan berhasil mencegat sebagian rudal dan drone tersebut sebelum mencapai sasaran.

Pemerintah Italia secara terbuka mengecam aksi balasan Iran, menyebutnya sebagai langkah yang tidak konstruktif dan hanya memperparah situasi keamanan regional.

Gedung Putih Intensifkan Koordinasi Regional

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, melalui platform X pada (2 Maret 2026) menyatakan bahwa Presiden Trump telah melakukan komunikasi langsung dengan para pemimpin Israel, Bahrain, dan Uni Emirat Arab guna mengoordinasikan respons keamanan kawasan.

Di Lebanon, kelompok Hizbullah dilaporkan secara resmi menyatakan perang dan meluncurkan serangan roket besar-besaran ke wilayah Israel utara, membuka front baru dalam konflik yang kian meluas.

Dominasi Udara dan Tekanan di Wilayah Barat Iran

Berbagai rekaman video yang beredar sejak dini hari menunjukkan ledakan besar dan kepulan asap tebal di sejumlah kota Iran. Serangan gabungan AS–Israel disebut berlangsung cepat, terkoordinasi, dan presisi.

Beberapa pengamat militer menyebut kemungkinan penggunaan teknologi berdaya tinggi, termasuk sistem laser untuk mencegat rudal di udara atau menghancurkan instalasi artileri darat.

Militer Israel menyatakan telah mengendalikan sebagian besar wilayah udara Iran, terutama di bagian barat dan tengah. Sistem pertahanan udara Iran dilaporkan mengalami tekanan berat sehingga drone dan jet tempur Israel dapat beroperasi dalam durasi panjang untuk mengidentifikasi dan menyerang target tanpa gangguan signifikan.

Sejumlah analis menyebut dukungan penuh Washington terhadap Israel menjadi faktor krusial dalam tercapainya dominasi udara tersebut. Sistem pertahanan Iran yang selama ini disebut mendapat dukungan teknologi dari Rusia dan Tiongkok dinilai tidak mampu bertahan di bawah serangan intensif.

Sikap Eropa dan Isu Ukraina

Pada 2 Maret 2026, Inggris, Prancis, dan Jerman mengeluarkan pernyataan bersama usai pertemuan tingkat tinggi. Ketiga negara menyatakan kesiapan mengambil langkah-langkah defensif yang proporsional guna melindungi kepentingan keamanan mereka.

Langkah tersebut, menurut pernyataan resmi, dapat mencakup tindakan militer defensif untuk menghancurkan kemampuan peluncuran rudal dan drone Iran dari sumbernya, termasuk kemungkinan penargetan lokasi peluncuran di dalam wilayah Iran.

Mereka juga menyatakan kesiapan bekerja sama dengan Ukraina dalam menghadapi ancaman drone Iran yang beroperasi di kawasan.

Isu Ketidakpuasan Internal dan Potensi Kudeta

Di media sosial, seorang pengguna asal Kanada mengklaim adanya ketidakpuasan di dalam tubuh Garda Revolusi Iran terhadap kepemimpinan sementara. Disebutkan bahwa sejumlah faksi garis keras tengah mempertimbangkan opsi pemerintahan militer.

Bahkan beredar kabar bahwa sebagian perwira IRGC siap mengumumkan kudeta sewaktu-waktu, meski informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Presiden Trump dalam video di platform Truth Social pada Minggu (2/3/2026) kembali menyerukan agar rakyat Iran bangkit dan mengambil alih masa depan mereka sendiri. Ia menyebut momentum saat ini sebagai kesempatan untuk perubahan besar.

Situasi Dalam Negeri Iran Memanas

Di dalam negeri Iran, laporan menyebut televisi dan jaringan internet mengalami gangguan serta dugaan peretasan. Tayangan yang beredar menampilkan ulang serangan gabungan dan pidato para pemimpin Amerika serta Israel.

Sebuah video dari Teheran memperlihatkan insiden antara polisi moralitas dan seorang perempuan yang tidak mengenakan hijab sesuai aturan. Penumpang lain dalam kendaraan tersebut dilaporkan membela perempuan itu hingga aparat tersebut akhirnya meninggalkan lokasi di tengah sorakan.

Kepemimpinan Sementara dan Nama Lama yang Muncul

Dalam situasi genting ini, pemerintahan sementara Iran disebut dijalankan oleh komite tiga orang yang terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni Ejei, serta seorang ulama senior.

Namun sejumlah analis menilai posisi mereka sangat rentan di tengah tekanan militer eksternal dan ketidakstabilan internal.

Nama Reza Pahlavi, putra mahkota dari dinasti sebelum Revolusi Iran 1979, kembali disebut-sebut sebagai opsi alternatif kepemimpinan. Meski demikian, para pengamat menilai Washington berhati-hati agar tidak terlihat secara langsung menentukan figur pengganti guna menghindari tudingan intervensi politik.

Reaksi di Tiongkok

Di Tiongkok, setelah media pemerintah melaporkan wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran pada 28 Februari 2026, kolom komentar media sosial dipenuhi reaksi beragam. Sebagian warganet menyuarakan dukungan terhadap perubahan di Iran, bahkan mengaitkannya dengan harapan akan perubahan politik di negara mereka sendiri.

Hingga, 2 Maret 2026 malam, operasi militer masih terus berlangsung. Ketegangan di Timur Tengah kini memasuki fase yang semakin kompleks, dengan keterlibatan aktor regional dan internasional yang kian luas. Dunia menanti apakah konflik ini akan mengarah pada perubahan politik besar di Iran atau justru berkembang menjadi konfrontasi regional yang lebih luas. (***)

Mencegah Iran Memiliki Senjata Nuklir dan Menghentikan Terorisme, Militer AS Terus Melancarkan Serangan

EtIndonesia. Operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah memasuki hari ketiga. Serangan terus diarahkan ke berbagai fasilitas militer Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa operasi ini diperkirakan akan berlangsung selama empat hingga lima minggu. Militer AS kini memasuki hari ketiga operasi berkelanjutan dan masih terus melakukan pengejaran terhadap target-target Iran.

 “Ini adalah serangan berskala besar dan sangat menghancurkan yang mencakup seluruh domain operasi. Dalam 24 jam pertama saja, lebih dari 1.000 target telah dihantam,” kata  Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine.

Presiden Trump menegaskan bahwa operasi ini bertujuan untuk menghentikan terorisme serta melindungi keamanan nasional Amerika Serikat. Departemen Pertahanan AS menyatakan bahwa sasaran utama operasi ini adalah memutus kemampuan Iran untuk membangun kembali industri militernya.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan:  “Menghancurkan rudal ofensif Iran, menghancurkan fasilitas produksi rudalnya, menghancurkan angkatan laut Iran serta infrastruktur keamanan lainnya—dengan begitu Iran tidak akan pernah bisa memiliki senjata nuklir.”

Hegseth menekankan bahwa operasi ini bukanlah perang tanpa akhir.

Ia menegaskan:  “Ini bukan Irak. Ini bukan perang yang tak berkesudahan. Kami akan maju demi melindungi kepentingan Amerika, tetapi kami tidak bodoh. Militer AS tidak perlu mengerahkan 200.000 pasukan dan menetap di sana selama 20 tahun.”

Hegseth juga menyampaikan belasungkawa atas gugurnya personel militer AS dalam operasi ini.

Ia mengatakan:  “Seluruh bangsa menyampaikan rasa terima kasih dan penghormatan kepada empat prajurit Amerika yang telah gugur sejauh ini, serta kepada semua yang terluka. Mereka adalah putra-putri terbaik Amerika.”

Reporter New Tang Dynasty Television, Zheng Shengxun, melaporkan dari Amerika Serikat.

【Eksklusif】Gejolak Perubahan di Iran Mengguncang Beijing, Petinggi Singgung Runtuhnya Partai Komunis Uni Soviet

EtIndonesia. Kabar bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dalam serangan terus memicu dampak lanjutan. Sumber yang mengetahui situasi mengungkapkan bahwa pimpinan tinggi Partai Komunis Tiongkok (PKT) dalam beberapa hari terakhir secara intensif mengkaji perkembangan situasi. Frekuensi rapat meningkat tajam, dan berbagai departemen terkait telah memasuki tahap pemeriksaan risiko.

Fokus utama diskusi internal bukan pada perkembangan medan perang, melainkan pada apakah struktur kekuasaan Iran mulai melonggar, serta bagaimana perubahan tersebut akan mempengaruhi tata letak strategis Beijing yang telah lama dibangun di Timur Tengah. 

Sumber juga mengungkapkan bahwa dalam berbagai pertemuan tingkat tinggi, berulang kali disebut perlunya menarik pelajaran dari runtuhnya Uni Soviet.

Namun, sejumlah orang dari dalam sistem menekankan bahwa yang paling dikhawatirkan oleh otoritas tertinggi PKT bukanlah dampak ekonomi dari perang ini, melainkan reaksi berantai di bidang politik. 

Seorang narasumber internal bermarga Liang mengatakan kepada Epoch Times bahwa dalam beberapa bulan terakhir, Kementerian Luar Negeri Tiongkok terus menjaga komunikasi erat dengan Rusia terkait isu Iran.

“Kontak tiga pihak berlangsung sangat sering. Iran berharap memperoleh dukungan lebih besar dari Beijing dan Moskow, tetapi hingga kini Tiongkok dan Rusia belum mengirimkan sinyal tindakan konkret. Iran merasa sangat tidak puas, tetapi juga tidak berdaya,” ujarnya. Menurutnya, Beijing memilih bersikap menahan diri dan menghindari pernyataan terlalu dini.

Rapat Komite Tetap Kembali Menyinggung Pelajaran Runtuhnya Uni Soviet


“Belakangan ini terdengar bahwa para anggota Komite Tetap Politbiro beberapa kali bertemu untuk membahas situasi Timur Tengah. Isi pembahasan dirahasiakan, tetapi ada satu hal yang jelas: mereka mengingatkan para pejabat tinggi untuk menarik pelajaran dari runtuhnya Partai Komunis Uni Soviet,” kata Liang. 

“Perbandingan sejarah semacam ini tidak umum muncul dalam diskusi internal. Mereka juga mencermati gelombang protes anti-pemerintah di Iran dan dampaknya terhadap pemikiran rakyat Tiongkok. Terlihat jelas bahwa opini publik di dunia maya kini lebih berpihak pada rakyat Iran,” tambahnya. 

Ia menambahkan, pembubaran Uni Soviet berulang kali disebut dalam rapat internal sebagai rujukan risiko.

Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi baru-baru ini secara terbuka menyatakan bahwa melancarkan serangan terhadap Iran di tengah proses perundingan adalah “tidak dapat diterima”, serta menegaskan bahwa “lebih tidak dapat diterima lagi mendorong pergantian rezim melalui pembunuhan pemimpin sebuah negara berdaulat.”

Surat kabar Prancis Le Monde pada  Senin (2/3/2026)  melaporkan bahwa Tiongkok adalah pembeli minyak terbesar Iran sekaligus pendukung penting bagi rezim Iran. Selama bertahun-tahun, Beijing dan Teheran menjalin kerja sama di bidang energi, pembangunan infrastruktur, dan urusan regional. Di mata pimpinan tinggi Tiongkok, kerja sama ini bukan hanya menyangkut kepentingan ekonomi, tetapi juga posisi strategis.

Seorang narasumber internal bermarga Huang yang dekat dengan pimpinan PKT mengatakan, setelah kabar kematian Khamenei sampai ke Beijing, pimpinan segera meminta Kementerian Luar Negeri, sistem perdagangan, dan departemen keamanan untuk menyerahkan laporan penilaian risiko. Fokusnya meliputi sikap militer Iran, pengaturan suksesi kekuasaan, serta reaksi negara-negara sekitar.

Ia mengatakan:  “Jika terjadi perubahan besar dalam struktur internal Iran, keseimbangan kekuatan di Timur Tengah akan terguncang, dan tata letak jangka panjang PKT di kawasan tersebut akan terdampak, termasuk inisiatif Sabuk dan Jalan yang didorong oleh Xi Jinping.” Semua isu ini, katanya, telah dimasukkan dalam ruang lingkup analisis internal.

Huang menambahkan bahwa dalam diskusi di Beijing, isu energi dipandang sebagai tekanan nyata.

 “Iran adalah salah satu sumber energi penting bagi Tiongkok, dan energi merupakan penopang dasar proyek Sabuk dan Jalan di Timur Tengah. Jika pasokan minyak dan gas terganggu, dampaknya bukan hanya pada harga, tetapi juga pada laju pembangunan, yang pada akhirnya akan menaikkan biaya bagi kontraktor BUMN,” ujarnya. Topik ini disebut berulang kali dalam rapat.

Data menunjukkan bahwa Tiongkok mengimpor lebih dari 11 juta barel minyak mentah per hari dari luar negeri, sekitar separuhnya berasal dari negara-negara Teluk Persia, termasuk Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab. 

Minyak ini harus diangkut melalui Selat Hormuz. Sumber internal mengatakan bahwa risiko terkait telah dimasukkan ke dalam pembahasan rencana darurat dan daftar evaluasi internal.

Kapal Dagang Diperintahkan Menghindari Selat Hormuz

Huang mengungkapkan:  “Meskipun otoritas Iran berjanji tidak akan menyerang kapal Tiongkok, rudal tidak mengenal sasaran. Jika sebuah kapal Tiongkok sampai tenggelam, apakah PKT akan bernegosiasi dengan Iran atau menahannya begitu saja? Bagaimana dengan kompensasi? Setelah sebuah jet tempur F-35 Amerika dilaporkan terkena tembakan salah sasaran dari pasukan sekutu, otoritas Tiongkok kemarin telah memerintahkan kapal dagang untuk menghindari Selat Hormuz.” Keputusan ini, katanya, menunjukkan kewaspadaan Beijing terhadap risiko meluasnya konflik.

Perusahaan data maritim Kpler mencatat bahwa pasokan minyak Iran ke Tiongkok melalui jalur laut mencakup 13,4% dari total impor Tiongkok. Sumber internal menyebutkan bahwa angka-angka ini telah dimasukkan ke dalam model penilaian risiko internal.

Risiko Limpahan Politik Menjadi Prioritas

Para analis menilai bahwa Rusia masih terjebak dalam perang Ukraina, sementara Beijing menghadapi perlambatan pertumbuhan ekonomi dan tekanan eksternal. Dalam konteks aksi militer AS–Israel terhadap Iran, Beijing harus menjaga kerangka kerja sama yang ada dengan Iran, menghindari konfrontasi langsung dengan Washington, serta mencegah gejolak opini publik dan emosi sosial di dalam negeri.

Sejarah runtuhnya Uni Soviet—yang terjadi di bawah tekanan eksternal dan retakan internal secara bersamaan—berulang kali disebut dalam rapat internal. Seorang akademisi mengatakan kepada wartawan bahwa bagi PKT, perang di Iran bukan sekadar konflik regional, melainkan cerminan risiko kekuasaan.

“Yang benar-benar dikhawatirkan Beijing bukan hanya harga minyak, melainkan efek demonstratifnya. Menjelang runtuhnya Uni Soviet, situasinya juga ditandai oleh tekanan luar dan retakan dalam negeri yang terjadi bersamaan.”

Sumber internal mengatakan bahwa dalam evaluasi internal, risiko limpahan politik ditempatkan sebagai prioritas utama. Di mata Beijing, ancaman sejati bukanlah harga energi, melainkan munculnya retakan pada tingkat struktur politik.

Dikutip dari Epochtimes.com

【Laporan Internal】Partai Komunis Tiongkok Salah Menilai Situasi Iran, Evakuasi Perwakilan Luar Negeri Terlambat Setengah Langkah

EtIndonesia. Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap Iran, menghantam Teheran dan sejumlah kota inti lainnya. Pemimpin tertinggi Iran yang telah berkuasa selama 36 tahun, Ali Khamenei, bersama menteri pertahanan serta lebih dari 40 pejabat tinggi dilaporkan tewas, sehingga peta kekuatan di Timur Tengah berubah drastis.

Sejumlah sumber mengungkapkan bahwa sebelum serangan udara terjadi, internal Partai Komunis Tiongkok (PKT) memiliki penilaian yang jelas-jelas “terlalu optimistis” terhadap situasi. Mereka meyakini AS dan Israel tidak akan melakukan “serangan pemenggalan kepala” langsung terhadap Khamenei, dan konflik hanya akan berhenti pada level intimidasi dan tekanan, tanpa benar-benar menyentuh inti kekuasaan Iran. Keyakinan berbasis pengalaman inilah yang menyebabkan personel diplomatik Tiongkok di Iran gagal menyelesaikan rencana evakuasi sekitar sepuluh hari lebih awal.

Beberapa jam setelah Teheran diguncang serangan, tanggapan Beijing juga terbilang dingin. Pada malam yang sama, Kementerian Luar Negeri PKT menjawab pertanyaan wartawan mengenai serangan AS–Israel hanya dengan pernyataan kurang dari 80 kata, menyatakan “keprihatinan tinggi”, menekankan bahwa kedaulatan Iran harus dihormati, serta menyerukan penghentian aksi militer.

Seorang sumber di Beijing yang memahami cara kerja sistem diplomasi, bermarga Kong, mengungkap kepada The Epoch Times:

“Dalam draf awal sempat ada bahasa yang lebih tegas, yang secara langsung menunjuk Israel dan Amerika Serikat sebagai pihak bertanggung jawab. Namun, dalam rapat internal, kalimat-kalimat itu dihapus satu per satu. Prinsip akhir yang disepakati adalah ‘jangan menyentuh AS dan Israel’.”

Namun, setelah kematian Khamenei dipastikan, PKT beralih ke sikap yang jauh lebih keras. Pada 1 Maret, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi dalam percakapan telepon dengan Menlu Rusia menyatakan bahwa “secara terang-terangan membunuh pemimpin sebuah negara berdaulat dan mendorong perubahan rezim adalah hal yang tidak dapat diterima.” 

Keesokan harinya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Mao Ning menuduh AS dan Israel melakukan serangan militer terhadap Iran tanpa otorisasi Dewan Keamanan PBB, sehingga melanggar hukum internasional.

Kong juga menyebutkan bahwa hubungan Khamenei dengan PKT tergolong dekat. Meski dalam beberapa tahun terakhir Iran menerima berbagai dukungan teknologi dari otoritas Tiongkok di bidang keamanan, hal itu tetap gagal mencegah serangan presisi tersebut. Hasil ini sekaligus menghantam kepercayaan diri Beijing terhadap kemampuan kerja sama teknologinya sendiri.

Selain itu, “perintah evakuasi darurat” juga menyingkap kegagalan pengendalian risiko PKT. Seorang sumber internal bermarga Ma mengatakan bahwa Beijing terlalu bergantung pada analisis data dan penilaian yang diberikan pihak Iran, sehingga salah menilai situasi secara serius. 

Mereka beranggapan bahwa meski Iran lama berada di bawah ancaman militer AS dan Israel, negara itu tidak akan menghadapi serangan menyeluruh. Karena itu, “sebelum serangan udara benar-benar terjadi, sistem diplomasi PKT dan perwakilan luar negerinya tidak mengeluarkan peringatan substansial, dan baru memutuskan evakuasi setelah Amerika Serikat dan negara-negara Barat mulai mengevakuasi warganya.”

Serangan “pemenggalan kepala” AS–Israel terhadap Khamenei dan lingkaran intinya juga membuat Beijing kehilangan ritme. Cendekiawan independen Tiongkok Zhong Liang (nama samaran) mengatakan dalam wawancara bahwa Beijing memilih tidak secara terbuka berdiri di sisi sekutu, melainkan menyisakan ruang manuver demi kepentingannya sendiri.

 “Mereka tahu bahwa pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump sudah di depan mata, yang akan menyangkut isu perdagangan, pembatasan teknologi, dan sanksi keuangan—semuanya berkaitan langsung dengan kepentingan inti PKT. Dalam kalkulasi seperti ini, apa yang disebut ‘mitra strategis’ bisa diturunkan statusnya kapan saja,” katanya. 

Sumber : NTDTV.com

Serangan Udara AS–Israel ke Iran Dorong Harga Minyak Melonjak, Saham Pariwisata Terpukul Hingga Penerbangan Kacau

Pada Senin (2 Maret), seiring meningkatnya serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, harga minyak dan gas melonjak tajam, dolar AS menguat, dan pasar saham global umumnya melemah. Sebaliknya, aset lindung nilai seperti emas mengalami kenaikan signifikan. 

Dalam tiga hari terakhir, lebih dari 4.000 penerbangan di seluruh dunia dibatalkan. Sejumlah bandara hub utama di Timur Tengah terpaksa ditutup, menyebabkan puluhan ribu penumpang terlantar dan situasi di bandara menjadi kacau.

EtIndonesia. Setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran, Iran membalas dengan menyerang kota-kota di Teluk Persia yang menjadi lokasi pangkalan militer AS, serta menghambat kapal tanker minyak mentah dan produk minyak melewati jalur transportasi terpenting kawasan tersebut, yaitu Selat Hormuz. 

Selain itu, berbagai fasilitas minyak dan gas di Timur Tengah terpaksa menghentikan produksi, mendorong harga minyak dan gas melonjak tajam—sempat naik lebih dari 13% dan mencatat level tertinggi sejak Januari 2025.

Hingga Senin pukul 14.45 waktu Pantai Timur AS, harga minyak mentah AS naik 6,09% menjadi 71,10 dolar AS per barel, sementara minyak mentah Brent naik 6,63% menjadi 77,7 dolar AS per barel.

Industri penerbangan menjadi salah satu sektor yang paling terpukul. Bandara internasional hub utama di Dubai dan Doha telah ditutup selama tiga hari berturut-turut, menyebabkan puluhan ribu penumpang terlantar. 

Perusahaan analisis penerbangan Cirium menyatakan bahwa pada Senin saja sedikitnya 1.560 penerbangan dibatalkan, dan sejak Sabtu lalu total pembatalan telah melampaui 4.000 penerbangan.

Saham perusahaan pariwisata Eropa terbesar, TUI, anjlok 9,6%.
Maskapai Lufthansa turun 5,7%;
Perusahaan induk British Airways, IAG, turun 5,4%.
Saham grup hotel Prancis Accor dan perusahaan kapal pesiar AS Carnival juga merosot tajam.

Saham maskapai Asia turut tertekan, termasuk ANA Holdings, China Eastern Airlines, dan AirAsia X Malaysia yang masing-masing turun setidaknya 4%. Cathay Pacific telah membatalkan seluruh penerbangan menuju Timur Tengah.

Pasar saham global sebagian besar melemah. Indeks saham global MSCI turun 0,97%, indeks pan-Eropa STOXX 600 merosot 1,77%, dan Indeks Dow Jones Industrial Average juga mencatat penurunan cukup besar.

Namun, pemulihan saham teknologi membantu S&P 500 dan Nasdaq bangkit setelah sempat menyentuh level terendah dua pekan dalam perdagangan intraday. Saham NVIDIA naik 2,8%, sementara Microsoft naik 1,7%. Saham sektor pertahanan juga menguat, dengan Lockheed Martin naik 2,5% dan Palantir melonjak 5,6%.

Pada Senin pagi, Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,20%, S&P 500 turun 0,05%, sementara Nasdaq Composite naik 0,22%.

Dipicu ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, emas sebagai aset lindung nilai sempat melonjak ke 5.400 dolar AS per ons, naik 1,4% dan mencatat level tertinggi dalam sebulan terakhir. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS (^TNX) naik karena pasar menurunkan ekspektasi penurunan suku bunga, di tengah kekhawatiran bahwa inflasi dapat kembali meningkat.

Investor selanjutnya akan mencermati laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis Jumat (6 Maret). Para ekonom memperkirakan jumlah lapangan kerja non-pertanian AS pada Februari hanya bertambah 60.000, lebih rendah dibandingkan kenaikan tak terduga 130.000 pada Januari, yang berpotensi mempengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Reporter New Tang Dynasty Television, Liu Jiajia, melaporkan dari Amerika Serikat

Laporan Terbaru Think Tank Hudson Institute Menilai Risiko Perang AS–Iran 

(Catatan Redaksi: Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap Iran. Sejumlah target pemerintah dan militer Iran dihancurkan. Puluhan pejabat tinggi militer dan politik, termasuk penguasa otoriter Iran Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan “pemenggalan kepala”. Pada 2 Maret, Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak menutup kemungkinan mengerahkan pasukan darat AS ke Iran, serta memperingatkan akan adanya serangan berskala besar. Artikel berikut merupakan laporan penilaian perang terbaru yang dirilis oleh Hudson Institute di platform X, disajikan untuk pembaca.)

72 jam ke depan sangat krusial!

 Laporan terbaru Hudson Institute menilai situasi perang saat ini, menganalisis risiko utama serta memberikan sejumlah rekomendasi sebagai berikut :

1. Khamenei Sebenarnya Sudah Kehilangan Kekuasaan Nyata Sebelum Tewas

Dalam dua dekade terakhir, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) telah berubah dari sekadar “pengawal rezim” menjadi pusat saraf kekuasaan Iran. Seiring menurunnya kendali Khamenei atas urusan militer, Garda Revolusi tidak lagi bergantung pada instruksi langsung dari kalangan ulama untuk menjalankan rencana darurat. 

Proses pengambilan keputusan telah terintegrasi di dalam lembaga keamanan, sehingga tetap berfungsi di bawah tekanan dan kerugian besar. Pada praktiknya, Iran kini lebih menyerupai negara militer yang dibungkus simbol teokrasi. Karena itu, apakah Khamenei hidup atau tewas di bawah puing-puing bangunan, secara militer mungkin tidak membawa perbedaan besar. Kekuasaan nyata sudah lama berada di tangan Garda Revolusi.

2. Ukuran Keberhasilan Sesungguhnya: Seberapa Cepat AS dan Israel Melemahkan Kemampuan Kunci dan Rantai Serangan Iran

Tewasnya Panglima IRGC Jenderal Mohammad Pakpour, Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh, serta penasihat militer senior Ali Shamkhani, memang menghilangkan simpul-simpul berpengalaman dalam jaringan komando Iran. 

Hal ini mengganggu koordinasi dan memperumit transisi kekuasaan. Namun, indikator penentu bukanlah siapa yang mengendalikan militer, melainkan apakah IRGC mampu mempertahankan kemampuan tempur dan rantai serangannya.

Pertanyaannya antara lain:
– Apakah AS dan Israel menghancurkan peluncur rudal Iran lebih cepat daripada Iran menyebarkannya?
– Bisakah jaringan terowongan ditutup melalui serangan udara?
– Mampukah fasilitas produksi dan penyimpanan drone Iran dilemahkan?
– Dapatkah intensitas, akurasi, atau sinkronisasi salvo rudal Iran diturunkan?

Bagi rezim otoriter, mengganti personel jauh lebih mudah daripada membangun ulang infrastruktur militer. Karena itu, keberhasilan strategis terletak pada penghancuran mekanisme yang menopang operasi militer Teheran.

Keberhasilan operasi gabungan AS–Israel mensyaratkan pelemahan kemampuan inti IRGC—terutama sistem rudal dan drone—yang sama pentingnya dengan menyingkirkan para pemimpinnya. Frekuensi dan jangkauan serangan Iran menunjukkan bahwa rantai serangan mereka masih utuh. Teheran terus melancarkan serangan jarak jauh terkoordinasi terhadap fasilitas AS di kawasan, negara-negara Teluk Arab, dan wilayah Israel. 

Dalam dua hari pertempuran, sistem pertahanan udara Uni Emirat Arab dilaporkan mencegat 152 rudal balistik. Pada 28 Februari saja, Iran menembakkan sekitar 170 rudal balistik ke Israel. Keberlanjutan serangan ini menandakan kesinambungan sistem komando.

3. Sekutu Harus Segera Menghancurkan Rudal dan Peluncurnya

AS dan Israel harus melemahkan kemampuan rudal dan drone Iran sebelum persediaan pencegat mereka sendiri menipis. Sistem pertahanan udara tidaklah tak terbatas. Faktor seperti stok amunisi, siklus pengisian ulang, dan kapasitas industri akan membatasi daya tahan pertahanan.

AS telah mengerahkan sekitar 150 pencegat sistem THAAD dan sekitar 80 pencegat Standard-3 untuk menghadapi sebagian besar ancaman. 

Sebelumnya, AS juga menggunakan sekitar 200 pencegat SM-2 dan SM-6 untuk menahan serangan rudal dan drone dari kelompok Houthi yang didukung IRGC. Selain itu, Washington menempatkan sistem Patriot dalam jumlah yang tidak diumumkan di Qatar untuk melindungi Pangkalan Udara Al Udeid.

Sejak dimulainya “Operasi Epic Rage”, sekutu mempercepat tempo operasi guna menghancurkan rudal dan peluncurnya sebelum digunakan Iran. Angkatan Udara Israel dilaporkan melancarkan salah satu serangan udara terbesar dalam sejarahnya, dengan sekitar 200 pesawat menyerang lebih dari 500 target, serta 700 sortie dalam 36 jam. 

Stok kendaraan peluncur rudal balistik Iran dilaporkan berkurang hampir setengahnya. Namun, tantangan tetap besar karena Iran, dengan bantuan Korea Utara, telah membangun jaringan pertahanan bawah tanah selama puluhan tahun. Karena itu, selain peluncur, pintu masuk terowongan juga harus menjadi prioritas serangan.

4. Perdagangan Maritim Menghadapi Ancaman Serius

Selat Hormuz kembali menjadi pusat risiko geopolitik. Setelah serangan AS–Israel ke Iran, banyak kapal kargo menghentikan atau membalikkan rute melalui selat tersebut. Sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia melewati Selat Hormuz. Iran tidak perlu menutup selat sepenuhnya; cukup dengan meningkatkan risikonya. Menjelang puncak konflik, premi asuransi melonjak dan gangguan pengiriman menjadi tak terhindarkan bila pasar meragukan keamanan jalur pelayaran.

5. Cara membaca rencana pasca perang sekutu

Analis perlu memperhatikan target yang tidak diserang. Pemilihan target—dan penahanan diri—merupakan bahasa strategi. AS dan Israel mungkin menyampaikan rencana masa depan mereka terhadap Iran dengan tidak menyerang tokoh atau lembaga tertentu.

Presiden Masoud Pezeshkian kemungkinan termasuk dalam perhitungan ini. Sebagai warga etnis Azerbaijan-Turki yang menjabat presiden Republik Islam Iran, posisinya sangat krusial. Tokoh penting lain adalah Ali Larijani dari kubu garis keras rezim. 

Dalam konteks pascaperang, figur seperti Larijani mungkin dibutuhkan untuk mengelola jaringan global IRGC. Washington dan sekutunya kemungkinan memprioritaskan stabilitas daripada rekayasa ulang Iran, dengan tujuan mencegah terorisme dan mengendalikan eskalasi.

Selain itu, peran militer reguler Iran (Artesh) sangat penting. Struktur dan fungsi Artesh berbeda dari IRGC. Jika kemampuan dan rantai komandonya tetap utuh serta terpisah dari IRGC, Artesh berpotensi menjadi tulang punggung kekuatan keamanan nasional baru pada masa transisi pasca perang.

6. Hal-hal yang perlu dipantau dalam 72 jam ke depan

Tiga hari ke depan akan sangat menentukan. Analis perlu memantau secara khusus:

– Tempo salvo rudal dan drone IRGC;
– Pejabat politik dan militer senior yang “dimaafkan” oleh AS dan Israel;
– Kepadatan dan daya tahan peluncur rudal Iran, interval pengisian ulang, mobilitas, serta penggunaan fasilitas bawah tanah;
– Tanda-tanda perlawanan, perpecahan, atau pembangkangan dalam Artesh atau di antara para komandannya, serta friksi apa pun antara Artesh dan IRGC;
– Arus tanker minyak di Selat Hormuz, gangguan sistem identifikasi otomatis, dan lonjakan biaya asuransi;
– Mobilisasi besar-besaran Hizbullah, yang dapat menandakan niat Teheran membuka perang kedua dari Lebanon.

Sumber : NTDTV.com