Trump : Setelah Khamenei Tewas, Ribuan Perwira Iran Menyerah kepada AS 

EtIndonesia. Koalisi AS–Israel terus melancarkan serangan udara ke Iran dan melakukan “serangan pemenggalan” terhadap Khamenei serta lebih dari 40 pejabat tinggi militer dan politik Iran. Pada 1 Maret, Presiden Trump merilis pidato video yang mengungkapkan bahwa ribuan perwira Iran telah menelepon Amerika Serikat untuk menyatakan menyerah.

Trump mengunggah video di platform Truth Social, mengumumkan bahwa militer AS telah menghancurkan ratusan target militer Iran, termasuk fasilitas Korps Garda Revolusi dan sistem pertahanan udara Iran. Dalam hitungan menit, militer AS menghancurkan sembilan kapal perang Iran beserta markas angkatan lautnya, sehingga seluruh sistem komando militer Iran dilaporkan telah runtuh.

Trump mengatakan,  “Pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei, telah tewas. Orang yang hina dan keji ini memiliki darah ratusan bahkan ribuan warga Amerika di tangannya, dan bertanggung jawab atas pembantaian tak terhitung jumlahnya terhadap orang-orang tak berdosa di banyak negara.”

Ia juga mengungkapkan bahwa banyak anggota militer Iran ingin menyerah demi menyelamatkan nyawa mereka. Mereka meminta pengampunan, dan jumlah panggilan untuk menyerah mencapai ribuan.

Trump kembali mendesak Korps Garda Revolusi Iran, militer Iran, dan kepolisian untuk meletakkan senjata dan menerima pengampunan penuh, jika tidak mereka akan menghadapi kematian yang tak terelakkan.

 “Itu akan menjadi kematian yang sudah ditentukan, dan pemandangannya tidak akan indah,” katanya.

Pada hari yang sama, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) memposting pernyataan di platform X, menyebutkan:  “Pada tahap awal ‘Operasi Murka Epik’, militer AS telah menghantam sebuah fregat kelas Jamaran milik Iran. Kapal tersebut kini sedang tenggelam di dermaga Chah Bahar, Teluk Oman.”

Pernyataan itu menambahkan:  “Seperti yang dikatakan Presiden (Trump), angkatan bersenjata Iran, Korps Garda Revolusi Islam, dan kepolisian ‘harus meletakkan senjata’ dan meninggalkan kapal.”

Pada hari itu juga, Trump mengatakan kepada media bahwa sebagian pejabat Iran yang sebelumnya terlibat dalam perundingan diplomatik kini telah tewas dalam operasi militer. Ia menyebutkan bahwa 48 pemimpin Iran telah dibunuh.

“Mereka sebenarnya bisa mencapai kesepakatan, tetapi sekarang semuanya sudah terlambat,” ujar Trump. Ia menambahkan bahwa pimpinan baru Iran ingin berbicara dengannya dan ia menyetujui dialog tersebut. “Mereka seharusnya melakukan ini lebih awal.”

Pengungkapan Trump tentang ribuan perwira militer Iran yang menyerah kepada AS memicu perbincangan hangat di dunia maya. 

Seorang pengguna X berkomentar:  “Ketika kabar kematian pemimpin mereka menyebar, jalan-jalan Iran dipenuhi orang-orang yang bersorak dan merayakan. Di satu sisi rakyat merayakan, di sisi lain para pejabat ingin menyerah. Perang siapa ini? … Dua minggu lalu mereka masih bisa berbuat sesuatu, tapi mereka melewatkan kesempatan itu. Sekarang ingin berbalik arah—apakah sudah terlambat?”

Pengguna lain bahkan menyindir pejabat Partai Komunis Tiongkok:  “Iran: Pejabat Tiongkok, perhatikan baik-baik—kami hanya mendemonstrasikannya sekali! Seharusnya sudah tahu harus berpihak ke mana!”

Ada juga  warganet yang berspekulasi tentang target berikutnya yang mungkin akan “dipenggal” oleh militer AS:  “Berikutnya, Xi Jinping.”

Media daring / Laporan gabungan oleh Luo Tingting / Editor Wen Hui)

Analisis Khamenei Dipenggal : Mengejutkan Elite Beijing, Xi Jinping Terpukul Keras

Belakangan ini, Amerika Serikat dan Israel bersama-sama melancarkan operasi militer besar-besaran. Puluhan pejabat tinggi militer dan politik Iran—termasuk diktator Iran Ali Khamenei—dilaporkan tewas dalam operasi “pemenggalan”. Sejumlah analisis menilai, kabar “dilenyapkannya” elite Iran ini mengguncang kalangan elite Beijing, dan khususnya menjadi pukulan besar bagi pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT)  Xi Jinping. Operasi ini disebut bertujuan mendorong pergantian rezim Iran, sesuatu yang paling ditakuti oleh PKT.

EtIndonesia. Pada 28 Februari 2026, Khamenei dilaporkan tewas dalam operasi militer gabungan AS–Israel. Radio nasional Iran mengonfirmasi kabar kematiannya.

Pada 1 Maret, Presiden Trump dalam wawancara dengan berbagai media menyatakan bahwa operasi militer AS di Iran berjalan lancar—bahkan melampaui jadwal—dan 48 pemimpin Iran telah tewas.

Pada hari yang sama, Trump juga menjelaskan:  “Kami telah menyerang ratusan target di dalam Iran, termasuk fasilitas Korps Garda Revolusi dan sistem pertahanan udara Iran. Baru saja kami mengumumkan bahwa dalam hitungan menit kami menghancurkan sembilan kapal beserta markas angkatan lautnya.”

Operasi “Epic Fury” yang dilancarkan AS–Israel diawali dengan serangan mendadak Israel ke Iran, lalu Trump mengonfirmasi dimulainya operasi militer besar dan berkelanjutan. Trump juga menyeru rakyat Iran:
“Waktu kebebasan kalian hampir tiba.”
“Ini mungkin satu-satunya kesempatan bagi beberapa generasi kalian.”
“Ketika kami menyelesaikan misi, kalian akan mengambil alih pemerintahan kalian.”

Menanggapi hal ini, pengamat politik Wang He pada 1 Maret menulis analisis di The Epoch Times bahwa perbedaan terbesar operasi kali ini dibandingkan aksi militer serupa sebelumnya adalah tujuannya mendorong perubahan rezim Islam Iran—dan inilah yang paling ditakuti PKT.

Penulis menilai, setelah perubahan besar di Eropa Timur, rezim komunis yang tersisa di dunia kini hanya PKT, Korea Utara, Kuba, dan Vietnam. PKT dengan susah payah membangun poros dengan Rusia, Iran, dan Venezuela untuk menantang Amerika Serikat. Namun, strategi pemerintahan Trump yang dinilai tajam dan tegas justru memecah aliansi yang susah payah dirajut PKT.

Menurut penulis, serangan militer Trump terhadap Iran dan dorongan perubahan rezim bukan aksi tunggal, melainkan bagian penting dari strategi besar untuk mematahkan satu per satu sekutu PKT, hingga PKT terisolasi. Inilah dampak paling mengguncang dari serangan ke Iran bagi PKT.

Komentator politik Zhou Xiaohui dalam artikelnya juga menyebutkan, ketika banyak warga Tiongkok sudah tidak tahan terhadap pemerintahan otoriter PKT dan mendambakan perubahan, kabar “dilenyapkannya” elite Iran yang dipimpin Khamenei turut mengejutkan kalangan elite Beijing.

Ia menegaskan, bagi siapa pun yang jeli, jelas terlihat bahwa setiap “teman lama” yang didukung kuat oleh PKT berakhir tragis. Ceaușescu, Gaddafi, Saddam Hussein, dan Khamenei tewas; Maduro, Noriega, Mubarak,  dan Milošević dipenjara. Para “teman lama” itu—mati, dipenjara, atau melarikan diri. Sebagai kekuatan di balik layar yang menopang para diktator, mungkinkah PKT berakhir berbeda?

Penulis juga menyatakan, para pejabat tinggi yang “menumpang” di kapal PKT yang rapuh sebenarnya sadar bahwa kapal itu sedang tenggelam makin cepat. Jika mereka terus mengikuti Xi demi mempertahankan partai, maka harta dan nyawa pun terancam. Demi bertahan hidup, satu-satunya jalan adalah mengikuti kehendak rakyat dan arus zaman, bersama-sama meninggalkan Xi dan PKT—barulah ada masa depan yang cerah.

Warganet di platform X berkomentar:
“Melihat pemerintah Iran kian terdesak, Xi Jinping gemetar—giliran dia berikutnya.”
“Di abad ke-21, siapa pun yang menjalankan kediktatoran akan menempuh jalan tanpa kembali!”
“Hidup Amerika Serikat! Hidup rakyat Amerika! Xi dan PKT pasti tumbang!”

Editor : Tang Zheng – NTDTV.com

Perang AS–Iran Meluas, Cerita Pebisnis Taiwan di Dubai: “Pengeboman Terjadi Tepat di Luar Jendela”

Perang antara Amerika Serikat dan Iran terus meluas—bahkan Dubai ikut menjadi medan konflik. Wu Tianlin, seorang eksekutif perusahaan Taiwan yang telah menetap lebih dari lima tahun di Dubai, merasakan langsung “lokasi perang” dari jarak dekat. 

Kepada wartawan CNA (Central News Agency), ia mengungkapkan betapa berharganya perdamaian, sekaligus menyadari bahwa hal-hal paling dasar—makan dan tidur dengan baik serta menjaga stamina—adalah fondasi untuk menghadapi ketidakpastian jangka panjang.

EtIndonesia. Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran. Iran segera membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di negara-negara Teluk. Kota komersial terbesar Uni Emirat Arab—Dubai—dalam sekejap berubah dari “surga kemewahan” menjadi lokasi yang mencekam.

Sebagai salah satu simpul penerbangan internasional terpenting dunia, Dubai International Airport mengalami kerusakan pada sebagian fasilitas akibat serangan drone. Hotel bintang lima Fairmont The Palm di Palm Jumeirah terbakar setelah puing drone yang berhasil dicegat jatuh ke area hotel. Satu dermaga di Jebel Ali Port ikut terbakar akibat hantaman puing. Hotel supermewah “tujuh bintang” Burj Al Arab mengalami kebakaran kecil di bagian eksteriornya. Di sekitar ikon kota—gedung tertinggi dunia setinggi 828 meter, Burj Khalifa—rudal berhasil dicegat.

Wu Tianlin, Direktur Utama cabang Timur Tengah perusahaan teknologi Taiwan Patech, mengatakan bahwa apartemennya berada tak jauh dari bandara Dubai. Biasanya, menikmati pemandangan pesawat lepas landas dan mendarat adalah kesehariannya. Dari rumahnya ke Fairmont The Palm atau Burj Khalifa juga hanya sekitar sepuluh menit berkendara.

Pada 28 Februari, setelah menerima peringatan pemerintah di ponselnya—“tetap di dalam ruangan dan berlindung”—ia tidak berani keluar rumah.

Karena wilayah udara beberapa negara di sekitar ditutup dan bandara Dubai rusak, seluruh penerbangan dihentikan. Banyak penumpang terpaksa tertahan di Dubai dengan perasaan bingung dan cemas. Ada pula yang sudah dalam perjalanan menuju bandara, namun setelah mendengar dentuman ledakan di langit, mereka panik dan berbalik kembali ke pusat kota.

Pada 28 Februari, AS dan Iran mulai menembak, dan Dubai, kota komersial terbesar di UEA, terkena dampak pertempuran di banyak tempat. Wu Tianlin (kiri), seorang pengusaha Taiwan yang berbasis di Dubai, bertukar pengalaman tak terlupakan tentang “perang” dengan para asisten toko yang dikenalnya pada 1 Februari. (Foto disediakan oleh Wu Tianlin/CNA)

Konflik berlanjut hingga 1 Maret. Wu Tianlin mengatakan bahwa hingga sore hari, suara ledakan dari sekitar Jebel Ali Port masih terdengar jelas. Ia memberanikan diri keluar untuk mengamati situasi: pagi hari, supermarket Carrefour tampak normal; namun sore harinya, jalanan Dubai dipenuhi orang dan kendaraan. Terjadi pembelian panik—orang-orang mengantri cemas masuk pusat perbelanjaan, takut kehabisan makanan keesokan harinya.

Di toko langganannya, Wu Tianlin berbincang dengan para pegawai, saling berbagi pengalaman “perang” yang tak terlupakan. Di mata mereka tampak emosi campur aduk yang sulit diungkapkan. Setelah melewati semua itu, Wu Tianlin hanya punya satu kalimat: “Perdamaian itu tak ternilai.”

Beredar kabar di internet bahwa layanan pengantaran bahan segar di Dubai mengalami keterlambatan parah akibat lonjakan pesanan. Media Uni Emirat Arab The National mengonfirmasi terjadinya gelombang penimbunan di supermarket. Para peritel terus menenangkan publik bahwa rantai pasok aman.

Pengusaha Taiwan Wu Tien-lin, yang berbasis di Dubai, mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan lokal sehari setelah dimulainya konflik AS-Iran pada 28 Februari. Ia mengamati bahwa meskipun keramaian pagi di supermarket Carrefour tampak normal, pembelian panik telah terjadi di jalan-jalan Dubai pada siang hari. (Foto disediakan oleh Wu Tien-lin/CNA)

CEO jaringan supermarket Spinneys, Warwick Gird, menyerukan melalui media: “Belilah secukupnya, tidak perlu menimbun.” Namun kepanikan di kalangan warga tampaknya sudah terlanjur menyebar.

Pemerintah UEA juga mengumumkan pada 1 Maret agar karyawan sektor swasta bekerja dari rumah dan menghindari aktivitas luar ruangan.

Wu Tianlin mengatakan ia tidak punya waktu untuk takut. Sebagai pimpinan perusahaan, pada hari itu juga ia segera melaporkan kondisi setempat ke kantor pusat di Taiwan, mengkoordinasikan kerja jarak jauh, serta menenangkan klien dan pemasok. Ia juga menghubungkan komunitas warga Taiwan di Dubai dengan kantor perwakilan Taiwan, menjaga jalur komunikasi tetap terbuka.

“Arus informasi itu sendiri memberi rasa aman,” kata Wu Tianlin.

Setelah melewati hari pertama di “lokasi perang”, ia menyemangati dirinya untuk bersiap menghadapi lingkungan yang sulit diprediksi. Ia menyadari bahwa kembali ke hal-hal paling sederhana—makan dengan baik, tidur cukup, menjaga stamina, memastikan listrik dan persediaan makanan—adalah dasar untuk bertahan dalam ketidakpastian jangka panjang.

“Tindakan ini terlihat biasa, tapi hanya dengan menenangkan diri sendiri, kita bisa menenangkan orang lain,” ujarnya dengan nada tenang, membagikan filosofi bertahan hidup warga sipil di masa perang.

Menjaga napas tetap stabil adalah cara terbaik melawan guncangan.

Berapa lama perang AS–Iran akan berlangsung? Tidak ada yang tahu. Namun Wu Tianlin menatap langit di luar jendelanya dan berkata dengan tegas: “Pelajaran sejarah bagi saya bukan soal memprediksi dengan tepat, melainkan soal ‘bertahan cukup lama’.”

Dikutip dari CNA / Editor Lu Yongxin – NTDTV.com

AS–Israel Menewaskan 48 Pejabat Tinggi Iran, Trump Serukan Militer Letakkan Senjata 

EtIndonesia. Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara bersama. Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Presiden AS Donald Trump pada 1 Maret menyatakan bahwa 48 pejabat tinggi militer dan pemerintahan Iran telah tewas. Militer AS juga menghancurkan dan menenggelamkan sembilan kapal angkatan laut Iran. Operasi militer ke depan diperkirakan dapat berlangsung sekitar empat minggu.

Trump mengatakan kepada media AS CNBC bahwa operasi militer AS di Iran berjalan lancar, bahkan melampaui jadwal.

Kepada Fox News, Trump menyebutkan bahwa 48 pemimpin Iran telah dieliminasi. “Segalanya bergerak maju—bergerak sangat cepat. Empat puluh delapan pemimpin Iran lenyap dalam sekejap; kemajuannya begitu cepat hingga orang-orang sulit mempercayai hasil yang kami capai,” ujarnya.

Trump juga mengatakan kepada The Atlantic bahwa kepemimpinan baru Iran ingin berdialog dengannya dan ia menyetujuinya. 

“Mereka seharusnya melakukan ini sejak awal. Kesepakatan sebenarnya bisa dicapai; mereka terlalu merasa pintar,” katanya.

Ketika ditanya kapan dialog itu akan berlangsung dan dengan siapa, Trump menjawab, “Saya tidak bisa memberi tahu,” tanpa menyebutkan nama pihak Iran yang akan diajak bicara. Ia menambahkan bahwa sebagian besar pimpinan Iran telah tewas dalam serangan AS–Israel.

Trump juga mengatakan bahwa beberapa pejabat Iran yang terlibat dalam perundingan nuklir AS–Iran dalam beberapa pekan terakhir telah tewas, sebagian besar dalam operasi militer AS–Israel.

Dalam wawancara via telepon dengan Daily Mail, Trump menyebutkan bahwa karena Iran adalah negara besar, operasi militer AS mungkin berlangsung sekitar empat minggu—atau bahkan lebih singkat.

Trump mengakui bahwa sejauh ini tidak ada hasil serangan yang mengejutkannya. “Semua berjalan sesuai rencana. Kecuali fakta bahwa kami menyingkirkan seluruh kepemimpinan mereka—itu jauh melampaui perkiraan kami,” katanya.

Pada 1 Maret, Trump mengumumkan perkembangan terbaru operasi militer di Iran. Ia menyatakan:  “Dalam 36 jam terakhir, Amerika Serikat dan para mitranya melancarkan Operasi Amarah Epik. Ini adalah salah satu serangan militer terbesar, paling kompleks, dan paling tak terbendung yang pernah disaksikan dunia. Kami menyerang ratusan target di Iran, termasuk fasilitas Garda Revolusi dan sistem pertahanan udara.”

“Baru saja kami mengumumkan bahwa dalam hitungan menit kami menghancurkan sembilan kapal beserta gedung angkatan lautnya. Mantan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah tewas. Orang jahat ini bertanggung jawab atas darah ratusan bahkan ribuan warga Amerika, serta pembantaian tak terhitung terhadap warga sipil tak bersalah di banyak negara.”

Trump menambahkan bahwa pada 28 Februari malam, saat kabar kematian Khamenei diumumkan, sorak-sorai perayaan terdengar di jalan-jalan di seluruh Iran. Markas komando militer Iran juga telah dilumpuhkan; banyak yang ingin menyerah demi menyelamatkan diri. Permintaan kekebalan dan panggilan untuk berdamai datang hingga ribuan jumlahnya.

Komando Pusat Amerika Serikat, U.S. Central Command, pada pagi 1 Maret mengumumkan bahwa tiga prajurit AS gugur dan lima lainnya terluka parah—korban jiwa pertama di pihak AS sejak operasi ini dimulai.

Trump berkata:  “Sebagai sebuah bangsa, kami berduka atas para patriot Amerika yang telah berkorban sepenuhnya. Kami akan melanjutkan misi keadilan yang mereka pertaruhkan nyawanya. Kami mendoakan kesembuhan bagi yang terluka dan menyampaikan cinta serta terima kasih abadi kepada keluarga para pahlawan. Sayangnya, mungkin akan ada lebih banyak korban sebelum semuanya berakhir, namun kami akan melakukan segala upaya untuk mencegahnya.”

Ia menegaskan :  “Rezim Iran yang dipersenjatai rudal jarak jauh dan senjata nuklir akan menjadi ancaman mengerikan bagi setiap warga Amerika. Kami tidak dapat membiarkan negara yang memelihara tentara teroris memiliki senjata semacam itu, apalagi memeras dunia dengan niat jahat. Itu tidak akan kami biarkan terjadi.”

Trump melanjutkan:  “Selama hampir 50 tahun, para ekstremis jahat ini menyerang Amerika sambil meneriakkan ‘Matilah Amerika’ dan ‘Matilah Israel’. Mereka adalah pendukung terorisme nomor satu di dunia. Kami adalah negara terbesar dan terkuat di dunia, sehingga kami dapat bertindak terhadap perbuatan mereka. Ancaman yang tak tertoleransi ini tidak akan berlanjut.”

Ia kembali menyerukan kepada Garda Revolusi, militer Iran, dan polisi agar meletakkan senjata:
“Terimalah kekebalan penuh, atau kalian akan menghadapi kematian yang tak terelakkan. Saya menyerukan kepada semua patriot Iran yang mendambakan kebebasan: manfaatkan momen ini, tunjukkan keberanian dan kepahlawanan, rebut kembali negara kalian. Amerika Serikat berdiri bersama kalian. Saya telah berjanji, dan kini saya menepatinya. Selebihnya ada pada kalian—kami akan membantu. Terima kasih, Tuhan memberkati para prajurit hebat kita, dan Tuhan memberkati Amerika Serikat.”

Sementara rakyat Iran bersorak, sisa-sisa kekuatan Khamenei mengancam akan melakukan pembalasan keras terhadap AS dan Israel. 

Pada 1 Maret dini hari, Trump menulis di Truth Social:  “Iran baru saja mengklaim akan melancarkan serangan dahsyat hari ini—lebih ganas dari sebelumnya. Mereka sebaiknya tidak melakukannya, karena jika berani, kami akan membalas dengan kekuatan yang belum pernah terlihat!”

Laporan gabungan oleh Tang Zixuan / Editor penanggung jawab: Xia He – NTDTV.com

Kematian Khamenei Memicu Perubahan Rezim di Iran, Mengguncang Timur Tengah dan Dunia? 

EtIndonesia. Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas, yang mana kemungkinan menandai percepatan pergantian rezim di Iran. Apa dampaknya bagi Timur Tengah dan tatanan global? Berikut analisis para pakar.

Editor senior urusan internasional Tang Hao mengatakan:  “(Militer AS) sekali lagi berhasil melakukan serangan penargetan tingkat tinggi terhadap Khamenei. Ini menunjukkan kemampuan Amerika Serikat dalam pengumpulan intelijen presisi, komando dan komunikasi, serta persenjataan canggih—kapasitas serangan terpadu yang hingga kini tak tertandingi di dunia. Ini juga kembali menjadi peringatan keras bagi Partai Komunis Tiongkok.”

Para pakar menilai, Iran selama ini mendukung banyak kelompok bersenjata. Jika terjadi pergantian rezim, maka sumber pendanaan dan sistem dukungan bagi organisasi-organisasi teroris tersebut akan melemah.

Mantan Dekan Akademi Politik Militer Universitas Pertahanan Nasional Taiwan, Jenderal Yu Tsung-chi, menyatakan:  “Kita melihat Israel juga melakukan serangan penargetan terhadap basis misil dan struktur komando Hizbullah.”

Tang Hao menambahkan:  “Kali ini berhasil menyingkirkan proksi Timur Tengah yang didukung PKT dan Rusia—atau ‘pabrik’ terorisme di kawasan—yaitu Iran. (Donald Trump) pada kesempatan ini bisa dikatakan turun langsung, membersihkan aliansi ‘preman’ Timur Tengah yang dipimpin Iran. Tujuannya memutus kemampuan nuklir Iran agar dunia tidak terjerumus ke ancaman nuklir yang lebih besar, menggulingkan rezim Islam Iran, dan mengembalikan kebebasan kepada rakyat Iran.”

Aksi gabungan AS–Israel menunjukkan kemampuan serangan presisi yang memperkuat daya tangkal militer global, sekaligus dipandang sebagai peringatan bagi rezim PKT yang akan memengaruhi strategi mereka di Selat Taiwan.

Jenderal Yu Tsung-chi berkata:  “Iran ingin membesarkan konflik, tetapi kebijakan Amerika sangat jelas: perang cepat dan tuntas untuk menghancurkan fasilitas kemampuan nuklir. Tujuannya menjaga konflik tetap dalam lingkup serangan presisi yang terkendali.”

Tang Hao melanjutkan:  “Jika rakyat Iran adalah penerima manfaat paling menggembirakan dari pemboman ini, maka PKT adalah pihak yang paling ketakutan. Militer AS telah mencabut kartu penting PKT dalam diplomasi perantara. Selanjutnya akan berdampak pada cadangan minyak PKT—lebih dulu Venezuela, lalu Iran. Dua negara produsen minyak ini adalah sumber energi penting di belakang PKT, sehingga akan mengekang penimbunan energi untuk rencana agresi di Selat Taiwan, dan secara signifikan memukul ambisi PKT menyerang Taiwan.”

Analisis juga menunjukkan, perubahan rezim di Iran berpotensi melemahkan pengaruh strategis PKT dan Rusia di Timur Tengah.

Tang Hao mengatakan:  “Pemboman Iran oleh Trump juga secara tidak langsung memperingatkan Rusia agar tidak memicu kekacauan di Timur Tengah.”

Jenderal Yu Tsung-chi menambahkan:  “Baik Rusia maupun Tiongkok telah menyatakan secara terbuka tidak akan terlibat langsung dalam konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran, tetapi secara diam-diam tentu akan memberikan dukungan penuh.”

Tang Hao menutup:  “Langkah berikutnya mungkin membawa lebih banyak harapan dan cahaya bagi rakyat Tiongkok. Akhir Maret, Trump akan menggelar pertemuan Trump–Xi. Setelah kehilangan kartu Iran, posisi Xi Jinping dalam isu Selat Taiwan akan semakin terjepit.”

Langkah selanjutnya Iran akan menentukan arah situasi Timur Tengah, dan dunia akan terus mencermati perkembangan serta stabilitas kawasan.

Laporan oleh reporter NTD Li Wei, Lin Xi, dan reporter khusus Luo Ya.

AS Menghancurkan Markas Garda Revolusi Iran, 9 Kapal Perang Iran Ditenggelamkan 

EtIndonesia. Pada 1 Maret 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump merilis video yang menyatakan bahwa operasi militer AS terhadap Iran masih berlangsung. Dalam wawancara hari itu, Trump juga mengatakan ia setuju untuk berdialog dengan kepemimpinan sementara Iran yang baru dibentuk. Selain itu, U.S. Central Command mengumumkan pada Minggu bahwa markas besar Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) yang terkenal kejam telah dihancurkan. Militer AS juga mengkonfirmasi tiga prajurit AS tewas dalam pertempuran. Trump menyatakan AS akan membalas kematian mereka.

Trump berkata:  “Dalam 36 jam terakhir, Amerika Serikat dan para sekutunya melancarkan Operasi Murka Epik, salah satu operasi militer terbesar, paling kompleks, dan paling dahsyat dalam sejarah dunia.”

Pada 1 Maret, Trump merilis video keduanya sejak operasi Iran dimulai, menegaskan bahwa pertempuran akan terus berlangsung hingga semua target tercapai. Sore harinya, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan Inggris telah menyetujui penggunaan pangkalan militernya oleh AS untuk menghancurkan rudal Iran.

Ledakan keras terdengar di Teheran pada hari yang sama, dengan asap hitam membumbung ke langit.

Citra satelit ini, yang diambil pada 1 Maret 2026 oleh Vantor, menunjukkan kapal-kapal yang hancur dan tenggelam serta bangunan-bangunan yang rusak di pangkalan angkatan laut Konarak di pantai selatan Teluk Oman di Iran. (Citra satelit ©2026 Vantor/AFP)

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan:  “Pasukan kami sedang meningkatkan intensitas serangan di pusat kota Teheran, dan dalam beberapa hari ke depan serangan akan semakin diperkuat.”

Dalam gelombang pertama serangan gabungan AS–Israel, lebih dari 200 jet tempur Israel bekerja sama dengan rudal jelajah Tomahawk milik AS, membombardir lebih dari 500 target militer di Iran. Pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Abdolrahim Mousavi, serta Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh, bersama total 48 pejabat tinggi Iran, dilaporkan tewas.

Netanyahu menyatakan:  “Kekuatan gabungan (AS–Israel) ini memungkinkan kami mewujudkan tujuan yang saya dambakan selama 40 tahun: memberikan pukulan penentu terhadap rezim teroris.”

Iran kemudian melancarkan serangan balasan dengan menembakkan rudal dan drone ke Israel serta pangkalan militer AS di Timur Tengah. Pada 1 Maret, sebuah rudal jatuh di kota Israel bagian tengah Beit Shemesh, menewaskan sedikitnya 9 warga sipil dan melukai 28 orang, sehingga total korban Israel melampaui 100 orang. Media Iran mengklaim sekitar 200 orang tewas di pihak Iran.

Pada 3 Maret 2026, jet tempur F-35C Lightning II milik Skuadron Serangan Tempur ke-314 Korps Marinir bersiap untuk misi penerbangan di dek penerbangan USS Abraham Lincoln (CVN 72) untuk mendukung Operasi Epic Fury (foto Angkatan Laut AS).

IRGC juga mengklaim empat rudal balistik menghantam kapal induk AS USS Abraham Lincoln. Komando Pusat AS membantah “kebohongan” tersebut, menyatakan rudal tidak mendekati kapal induk dan Lincoln tetap menjalankan misi.

Militer AS mengkonfirmasi tiga prajurit tewas dan lima lainnya luka parah dalam operasi terhadap Iran. Trump mengatakan kepada NBC News bahwa meskipun korban telah diperkirakan, operasi ini pada akhirnya baik bagi dunia.

Komando Pusat AS mengumumkan bahwa dalam serangan udara besar-besaran terhadap Iran, markas besar IRGC telah dihancurkan. Selama 47 tahun terakhir, IRGC disebut telah membunuh lebih dari 1.000 warga Amerika.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 1 Maret menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran tengah melakukan pembalasan atas kematian Khamenei.

Pada hari yang sama, Trump memperingatkan Iran agar tidak melancarkan serangan besar, jika tidak akan menghadapi balasan AS yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Di Truth Social, Trump juga mengumumkan bahwa militer AS telah menghancurkan dan menenggelamkan sembilan kapal angkatan laut Iran—sebagian berukuran besar dan bernilai strategis. “Kami sedang memburu kapal-kapal yang tersisa; mereka juga akan segera tenggelam,” katanya. Dalam serangan lain, markas angkatan laut Iran “pada dasarnya telah kami hancurkan.”

Sementara itu, Iran mengumumkan pembentukan komite transisi tiga orang—termasuk Presiden Pezeshkian—untuk memimpin negara sementara. Dalam wawancara dengan The Atlantic, Trump menyatakan setuju untuk berdialog dengan kepemimpinan sementara Iran yang baru.

Laporan gabungan oleh reporter NTD Yi Jing.

Kematian Khamenei dan Dampaknya terhadap Zhongnanhai

EtIndonesia. Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara gabungan terhadap Iran, dan dalam serangan tersebut Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas. Dalam waktu satu hari, situasi Iran berubah drastis, memicu dampak besar terhadap dinamika Timur Tengah dan bahkan tatanan global.

Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam keras tindakan militer AS dan Israel. Para analis menilai, kematian Khamenei membuat Beijing berada dalam posisi “senasib sepenanggungan”, karena strategi ekspansi luar negerinya kini mengalami pukulan berat.

Pada 1 Maret waktu setempat, televisi pemerintah Iran IRIB mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, telah meninggal dunia pada usia 86 tahun.

Pada dini hari 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel secara mendadak melancarkan operasi militer dengan sandi “Amarah Epik”. Serangan tersebut menargetkan kediaman dan kantor Khamenei, lokasi pertemuan pejabat tinggi, serta fasilitas militer penting termasuk basis uji coba nuklir. Serangan dilakukan secara presisi melalui gelombang serangan udara.

Tak lama setelah itu, muncul laporan bahwa Khamenei kemungkinan besar telah tewas akibat pemboman tersebut. Namun pihak Iran sempat membantah kabar itu dan bahkan menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa Khamenei akan menyampaikan pidato “dalam beberapa menit ke depan”.

Media resmi Tiongkok, Xinhua, yang dikenal sebagai corong partai komunis Tiongkok (PKT), mengutip sepenuhnya pernyataan Iran tersebut. Namun setelah beberapa jam berlalu, Khamenei tetap tidak muncul untuk memberikan pidato.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump secara terpisah menyatakan bahwa mereka yakin Khamenei telah meninggal dunia. Pada akhirnya, pemerintah Iran tidak dapat lagi menutupinya dan resmi mengumumkan kabar kematian tersebut.

Peneliti dari Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Shen Mingshi, mengatakan bahwa wafatnya pemimpin tertinggi atau tewasnya banyak jenderal senior Garda Revolusi dapat mendorong rakyat Iran bangkit untuk menggulingkan rezim, atau setidaknya melemahkan semangat tempur aparat militer. Jika terjadi pergantian rezim di Iran, dampaknya terhadap Timur Tengah maupun dunia akan sangat besar.

Shen juga menilai, jika rezim Iran yang selama ini dicap sebagai pendukung terorisme runtuh, maka kelompok seperti Hamas dan milisi Houthi akan kehilangan penopang utama. Apabila kemudian muncul pemerintahan Iran yang lebih pro-Amerika, hal itu akan menjadi pukulan besar bagi Beijing.

Menurut Shen, perubahan di Timur Tengah juga akan memengaruhi tatanan global. Setelah menyelesaikan persoalan Iran, Amerika Serikat diperkirakan akan meningkatkan tekanan terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin agar menghentikan perang, dan selanjutnya memusatkan perhatian pada Partai Komunis Tiongkok.

Ia menyebut bahwa efek domino telah mulai terlihat: dimulai dari Venezuela, lalu Iran, kemungkinan berikutnya Rusia, dan akhirnya Tiongkok.

Diktator Venezuela Nicolás Maduro, yang juga dianggap sekutu dekat Beijing, sebelumnya dilaporkan ditangkap dalam operasi militer Amerika pada awal tahun ini. Kini, kematian Khamenei semakin membuat Tiongkok terisolasi dan merasakan tekanan strategis yang besar.

Analis politik Chen Pokong menyatakan bahwa meskipun sasaran Amerika belum langsung mengarah ke Beijing, Zhongnanhai, Xi Jinping, atau Partai Komunis Tiongkok, namun jaringan dan pijakan global mereka telah dipangkas. Venezuela dan Iran merupakan negara penghasil minyak utama yang selama ini menjadi penopang vital bagi kebutuhan energi dan ekonomi Tiongkok.

Chen menambahkan bahwa ekspor minyak Venezuela kini telah berada di bawah kendali Amerika Serikat. Jika Iran mengalami nasib serupa, maka jalur vital energi dan ekonomi Tiongkok akan semakin berada dalam pengaruh Washington.

Selain itu, langkah ini juga disebut berdampak terhadap proyek ambisius “Sabuk dan Jalan” Xi Jinping. Venezuela merupakan basis penting di Amerika Latin, sedangkan Iran menjadi pijakan utama di Timur Tengah. Jika kedua negara itu kehilangan pengaruh, maka inisiatif global tersebut dianggap terpotong secara signifikan.

Sesuai rencana, Presiden Trump dijadwalkan berkunjung ke Tiongkok pada akhir Maret. Serangan “pemenggalan kepemimpinan” terhadap elite Iran ini dinilai sebagai sinyal kuat sebelum pertemuan tersebut.

Chen berpendapat, langkah itu membuat Xi Jinping berada dalam posisi sulit. Jika terjadi perundingan ekonomi atau kesepakatan lain antara kedua negara, Xi kemungkinan besar akan berada pada posisi yang harus mengalah, sementara Trump akan tampil sebagai pihak yang lebih unggul.

Selain Khamenei, sejumlah pejabat tinggi Iran juga dilaporkan tewas, termasuk Komandan Garda Revolusi Pakpour dan Menteri Pertahanan Nasirzadeh. Seorang pejabat keamanan nasional Israel mengatakan kepada Fox News bahwa sekitar 40 pejabat tinggi Iran tewas dalam operasi tersebut, yang disebut sebagai salah satu operasi “pemenggalan kepemimpinan” terbesar dalam sejarah perang modern. (jhon)

Sumber : NTDTV.com

Zhongnanhai : Komplek dan kantor pusat partai komunis Tiongkok di Beijing

Situasi Timur Tengah Memanas, Banyak Negara Cegat Rudal dan Drone Iran

EtIndonesia. Amerika Serikat dan Israel pada Minggu (1 Maret) meningkatkan intensitas serangan terhadap target di Iran. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan mematikan ke berbagai wilayah di Timur Tengah, termasuk Israel dan negara-negara Arab di Teluk Persia.

Italia mengecam tindakan balasan Iran dan menyatakan bahwa serangan tersebut tidak masuk akal serta hanya akan memicu kemarahan negara-negara yang menjadi sasaran.

Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengungkapkan melalui platform X bahwa Presiden Trump telah berbicara dengan para pemimpin Israel, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Sejak serangan udara gabungan dilancarkan pada Sabtu sebelumnya, Trump telah melakukan komunikasi dengan sejumlah pemimpin kawasan.

Iran Terus Melancarkan Serangan Balasan

Setelah menyerang beberapa negara Arab pada Sabtu, Iran pada Minggu memperluas target hingga ke Oman, yang sebelumnya menjadi mediator dalam perundingan AS-Iran.

Televisi nasional Oman melaporkan bahwa Pelabuhan Komersial Duqm diserang oleh dua drone. Video yang diverifikasi oleh The Washington Post menunjukkan asap hitam tebal membumbung dari area permukiman sekitar empat mil selatan pelabuhan. Kedutaan Besar AS di Oman memerintahkan seluruh staf untuk berlindung di tempat dan menyarankan warga Amerika di negara tersebut melakukan hal yang sama.

Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab menyatakan tiga orang tewas akibat serangan Iran. Media Kuwait melaporkan satu orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka di negara tersebut.

Pejabat keamanan nasional tertinggi Iran mengklaim bahwa target serangan adalah pangkalan militer Amerika. Namun negara-negara Teluk menyebutkan bahwa hotel dan bangunan tempat tinggal juga terkena dampak.

Rekaman dari Doha, Qatar, memperlihatkan asap tebal membumbung setelah ledakan. Kementerian Pertahanan Qatar menyatakan bahwa angkatan bersenjatanya berhasil menghadapi serangan drone dan rudal Iran segera setelah terdeteksi di wilayah pengawasan, tanpa korban jiwa.

Pemerintah Kuwait juga menyatakan berhasil mencegat sejumlah target udara bermusuhan pada Minggu pagi.

Di Abu Dhabi, sebuah drone berhasil dicegat sistem pertahanan udara, namun puingnya jatuh dan menghantam kompleks Etihad Towers, menyebabkan seorang perempuan dan anaknya mengalami luka ringan. Di Dubai, serpihan drone yang dicegat juga menyebabkan dua orang terluka.

Pemerintah Bahrain meminta warga tetap tenang dan mencari tempat aman saat sirene berbunyi. Hotel Crown Plaza di Manama dilaporkan mengalami kerusakan, namun tidak ada korban jiwa. Di Yordania, pecahan proyektil yang dicegat di wilayah udara negara itu menyebabkan lima orang terluka.

Meski Iran menyatakan di PBB bahwa serangannya hanya menyasar pangkalan militer Amerika, Komando Pusat AS membantah dan menyebut klaim tersebut sebagai kebohongan. Disebutkan bahwa Iran menyerang belasan lokasi sipil, termasuk Bandara Internasional Dubai, Bandara Internasional Kuwait, pelabuhan Dubai, serta Bandara Internasional Erbil di Irak.

Dampaknya, perjalanan udara global kembali terganggu. Sejumlah bandara utama di Timur Tengah, termasuk Dubai yang merupakan salah satu pusat penerbangan internasional tersibuk di dunia, ditutup untuk hari kedua berturut-turut.

Italia Mengecam Iran

Italia menilai bahwa sikap keras Iran dalam isu senjata nuklir dan rudal jarak jauh menjadi ancaman bagi semua pihak. Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani menyatakan bahwa Iran tidak menunjukkan tanda-tanda kompromi, sehingga situasi semakin memburuk.

Ia mengecam keras serangan balasan Iran sebagai tindakan yang tidak masuk akal dan hanya akan semakin mengisolasi Teheran. Tajani menegaskan bahwa negara-negara yang diserang memiliki hak untuk membela diri.

Serangan Militer Berlanjut

Pada 1 Maret 2026, asap terlihat mengepul dari sebuah bangunan di Teheran setelah serangan rudal.

Komando Pusat AS menyatakan bahwa sejak operasi militer dimulai pada Sabtu, lebih dari 1.000 target di Iran telah diserang. Sasaran meliputi pusat komando dan kendali, markas Garda Revolusi, serta markas pasukan dirgantara Garda Revolusi.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan jet tempurnya menyerang puluhan markas Garda Revolusi dan meningkatkan tekanan terhadap target pemerintah di Teheran.

Brigadir Jenderal Effie Defrin mengatakan bahwa pada Minggu, 100 pesawat tempur secara bersamaan menyerang target pemerintah di ibu kota Iran. Target termasuk markas angkatan udara Iran, komando rudal, serta kantor pasukan keamanan yang sebelumnya menindak keras demonstrasi pada Januari.

Ia menegaskan, “Pesan kami kepada rezim Iran jelas: tidak ada yang kebal.”

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa dalam operasi Sabtu lalu, pasukannya berhasil menewaskan Khamenei dan puluhan pejabat senior Iran. Ia menambahkan bahwa serangan di pusat Teheran akan semakin intensif dalam beberapa hari mendatang.

Netanyahu menyebut operasi tersebut sebagai tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan pengerahan seluruh kekuatan IDF, serta dukungan penuh dari Presiden Donald Trump dan militer Amerika Serikat. Ia menegaskan komitmennya untuk memberikan pukulan telak terhadap rezim yang disebutnya sebagai rezim teror. (jhon)

Sumber : NTDTV.com

Kamu Pikir Kamu Siapa?

EtIndonesia. Nilai diri seseorang sering kali dibangun di atas “aura” yang ada di belakangnya. Bahkan seorang selebritas pun belum tentu auranya berasal dari dirinya sendiri—melainkan dari organisasi, sistem, dan kepentingan yang menciptakan nilainya.

Sejujurnya, aku tidak suka mendengar orang mengeluh. Tetapi melihat seorang sahabat lama duduk di depanku dengan wajah letih dan penuh kekecewaan, aku hanya bisa bersabar mendengarkannya.

Ia berkata,  “Sekarang aku baru sadar betapa realistisnya orang-orang itu. Dulu mereka membungkuk-bungkuk di hadapanku. Sekarang, mana ada satu pun yang mau menolong? Padahal dulu aku begitu baik pada mereka…”

Dulu, temanku adalah eksekutif senior di sebuah perusahaan besar. Ia punya kuasa dan pengaruh. Banyak orang mendekat, menjilat, dan mencari perhatiannya. Ia bangga dengan jaringan relasinya yang luas.

Namun setelah ia keluar dan mendirikan perusahaan sendiri, perlahan-lahan orang-orang mulai menjauh. Hingga akhirnya perusahaannya tutup. Kini ia duduk di depanku, mengutuk si ini dan si itu tanpa henti.

Aku melirik jam. Mengeluh seperti ini tidak akan menyelesaikan apa pun. Tidak membantunya, juga tidak membantu siapa pun. Maka aku memotong pembicaraannya dan bertanya,

“Kamu pikir kamu ini siapa?”

Ia terdiam. Tangan yang memegang cangkir kopi tampak gemetar karena marah.

“Pernahkah kamu berpikir, dulu orang mendekatimu bukan karena dirimu pribadi, melainkan karena perusahaanmu?”

Kebanyakan orang tidak pernah menyadari hal ini. Mereka merasa hebat di satu tempat, lalu mengira akan tetap hebat di mana pun. Padahal, yang membuat mereka “hebat” adalah otoritas yang diberikan organisasi. Orang-orang yang memuji dan mendekat sebenarnya mengincar keuntungan yang bisa mereka dapatkan.

Seorang senior di kawasan teknologi pernah berkata, ini disebut “nilai organisasi”. Jika seseorang dipisahkan dari perusahaannya, sering kali ia bukan siapa-siapa. Orang tidak benar-benar mengincar dirinya, tetapi kepentingan yang melekat pada jabatannya. Begitu ia turun, perhatian pun beralih kepada penggantinya. Itu hal yang wajar.

Kesalahpahaman ini muncul karena kita lupa siapa diri kita sebenarnya. Kita enggan mengakui bahwa aura yang kita nikmati berasal dari tim dan sistem di belakang kita.

Seorang senior lain pernah menceritakan pengalamannya. Setelah ia meninggalkan perusahaan ternama, suatu hari ia makan bersama penggantinya. Mereka bertemu pemasok lama yang dulu sangat akrab dengannya.

Begitu ia memperkenalkan penggantinya, suasana langsung berubah. Ia mendadak menjadi orang luar. Pemasok itu seketika memusatkan perhatian pada penggantinya sebagai tokoh utama. Perubahannya begitu cepat hingga ia sendiri terkejut.

Ada pula orang yang sudah menikmati keuntungan besar, tetapi pelit berbagi sedikit demi memperluas pasar. Ia lupa bahwa jaringan dan saluran distribusi nilainya jauh lebih besar daripada satu produk kecil.

Bukankah membangun usaha berarti mengejar keberhasilan?

Bahkan para kaisar yang memperluas wilayah pun terlebih dahulu menjanjikan pembagian wilayah dan gelar kepada para pengikutnya. Tanpa pembagian keuntungan, siapa yang mau berjuang mati-matian?

Siapa yang benar-benar berjuang demi dirimu? Bukankah sebagian besar karena melihat keuntungan?

Inilah soal cara pandang dan kebesaran jiwa. Kita mungkin punya produk bagus, mungkin juga punya kemampuan. Tetapi jika itu membuat kita besar kepala, di situlah benih kegagalan mulai tumbuh.

Produk memiliki siklus hidup. Ketika masanya tiba, ia harus dilepas. Selama masa emasnya, kita harus mendorongnya sekuat tenaga. Jangan sampai karena terlalu sibuk menghitung orang lain mendapat berapa, kita justru kehilangan seluruh peluang.

Tak perlu naif. Jangan berpikir orang akan selamanya percaya pada produkmu atau pada dirimu. Mungkin iya—untuk pertama kali. Paling lama setahun. Setelah itu, tak ada yang akan terus percaya hanya karena reputasi lama.

Orang yang mengeluh tentang dunia yang kejam dan hanya mengejar keuntungan, pernahkah ia mendengar orang lain berbisik di belakangnya, “Jangan bodoh”?

Ada juga senior yang sudah lama meninggalkan jabatannya, tetapi masih bisa “mengendalikan” unit lamanya dan bahkan memengaruhi keputusan.

Aku penasaran, bagaimana mungkin seseorang tanpa jabatan dan tanpa kekuasaan formal justru terlihat lebih berpengaruh?

Dalam suasana santai ditemani sebotol minuman mahal, ia mengungkapkan kuncinya: pembagian keuntungan.

Dulu ketika masih menjabat, ia hanya bisa memberi keuntungan kecil. Kini setelah tidak lagi terikat jabatan, ia bisa memberi keuntungan lebih besar tanpa takut kehilangan posisi. Maka pengaruhnya justru semakin luas.

“Jangan terlalu percaya pada diri sendiri. Percayalah pada uang,” katanya terus terang.

Dalam dunia bisnis, setelah kita meninggalkan bangku sekolah, hanya ada dua jenis teman yang akan bertahan sampai tua:
Pertama, sahabat sejati yang rela berkorban tanpa pamrih.
Kedua, teman yang sejak awal sudah jelas soal kepentingan—hubungan yang transparan dan saling menguntungkan.

Nilai diri kita selalu terkait dengan aura di belakang kita. Bahkan seorang bintang besar pun belum tentu bercahaya karena dirinya sendiri, melainkan karena sistem dan kepentingan yang menopangnya.

Tentu saja dunia ini masih menyimpan persahabatan yang tulus dan kisah yang indah. Namun prasyaratnya, kita harus cukup cerdas dan fleksibel. Ketika ada yang ingin menarik kita naik, jangan sibuk menilai apakah tangan itu bersih atau kotor. Jika sudah hampir jatuh ke jurang tetapi masih memilih-milih, lebih baik benar-benar jatuh saja.

Ada pepatah: “Orang yang patut dikasihani sering kali memiliki sisi yang patut disesali.”

Bersikaplah rendah hati. Tangkap setiap peluang yang bisa menambah nilai diri. Anggaplah diri kita bukan siapa-siapa—justru dari situlah kita akan melihat arah masa depan dengan lebih jelas.


Hikmah Cerita

Tulisan ini berbicara lugas tentang sisi realistis dunia.

Memang benar, dalam dunia bisnis, kepentingan hampir selalu menjadi dasar hubungan. Sikap ramah, pujian, atau perhatian dari orang lain belum tentu karena kepribadian kita yang luar biasa. Sering kali, itu karena keuntungan yang melekat pada posisi kita.

Lingkungan seperti ini mudah menimbulkan ilusi: merasa diri sangat hebat, sangat berpengaruh, bahkan merasa dihormati karena kebesaran pribadi. Namun ketika kepentingan di belakang kita hilang, jaringan yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh dalam sekej

ap.Jika kita memahami realitas ini sejak awal, maka ketika suatu hari mengalaminya, kita tidak akan terlalu terpukul.

Tentu saja, ada orang-orang yang benar-benar bersinar dari dalam dirinya sendiri—tanpa bergantung pada organisasi atau kepentingan. Tetapi jumlahnya sangat sedikit, seperti bintang yang benar-benar memancarkan cahaya sendiri di tengah luasnya alam semesta. (jhon)

Malam Berbintang

EtIndonesia. Suatu hari, seorang pemuda secara tidak sengaja bertemu dengan dosennya semasa kuliah. Sang profesor tua dengan penuh perhatian menanyakan kabarnya.

Pertanyaan sederhana itu seolah menjadi hujan di tengah kemarau panjang bagi si pemuda. Sejak lulus dan bekerja di perusahaan tempatnya sekarang, ia merasa hidupnya penuh ketidakberuntungan. Tanpa menahan diri, ia mencurahkan semua keluh kesahnya—tentang atasan yang sulit, rekan kerja yang tidak mendukung, peluang yang tak kunjung datang.

Profesor tua itu mendengarkan dengan sabar. Setelah pemuda itu selesai berbicara, ia mengangguk pelan dan berkata,

“Kelihatannya keadaanmu memang belum ideal. Tapi yang lebih penting, pernahkah kamu berpikir untuk mengubah keadaan itu? Untuk membuat hidupmu menjadi lebih baik?”

Pemuda itu segera menjawab,
“Tentu saja saya ingin hidup lebih baik, Profesor! Apakah ada rahasianya?”

Sang profesor tersenyum misterius.
“Ada. Besok malam, kalau kamu punya waktu, datanglah ke alamat ini.”

Ia menyerahkan sebuah kartu nama.

Keesokan malamnya, pemuda itu datang ke rumah sang profesor. Rumah itu sederhana, terletak di pinggiran kota.

Profesor menyambutnya dengan gembira. Ia mengeluarkan dua kursi santai dan mengajak pemuda itu duduk di halaman, mengobrol sambil menatap langit malam.

Mereka berbincang santai cukup lama. Namun pemuda itu mulai gelisah. Ia datang untuk mendapatkan solusi, bukan sekadar melihat bintang.

“Profesor, bagaimana caranya agar hidup saya menjadi lebih baik?” tanyanya tak sabar.

Profesor itu tersenyum dan menunjuk ke langit.

“Bisakah kamu menghitung berapa banyak bintang di atas sana?”

Pemuda itu menggaruk kepalanya.
“Tentu saja tidak bisa. Tapi apa hubungannya dengan saya?”

Profesor menatapnya dalam-dalam dan berkata dengan lembut,

“Di siang hari, benda terjauh yang bisa kita lihat adalah matahari. Namun di malam hari, kita dapat melihat benda-benda langit yang jaraknya miliaran kali lebih jauh dari matahari. Dan bukan hanya satu—jumlahnya tak terhitung.”

Pemuda itu terdiam. Ia menengadah menatap bintang-bintang, lalu menunduk merenung.

Profesor melanjutkan,

“Aku tahu hidupmu sedang tidak mudah. Tapi jika sejak muda kamu selalu berjalan mulus tanpa hambatan, mungkin seumur hidup kamu hanya akan melihat satu matahari. Pertanyaannya adalah: ketika hidupmu memasuki malam, mampukah kamu melihat bintang-bintang yang lebih jauh dan lebih banyak?”


Hikmah Cerita

Kemajuan manusia dibangun dari dua hal: keberhasilan dan kegagalan.

Keberhasilan memberi harapan dan semangat untuk melangkah maju. Kegagalan memberi pelajaran agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Bagi mereka yang baru memasuki dunia kerja, hidup bukan hanya tentang mengejar kesuksesan. Justru dalam kegagalanlah sering kali tersimpan pelajaran paling berharga. Pengalaman-pengalaman itu akan menjadi bekal untuk menghadapi gelombang yang lebih besar di masa depan.

Kesuksesan dan kegagalan ibarat siang dan malam. Keduanya memperlihatkan sisi dunia yang berbeda. Keduanya membuat kita merasakan hangat dan dinginnya kehidupan.

Tanpa malam, kita hanya mengenal matahari.
Tanpa kegagalan, kita mungkin tak pernah melihat “bintang” yang lebih jauh dalam diri kita sendiri. (Jhon)

Perang di Timur Tengah Meluas ke Lebanon, Militer Israel Membalas dengan Serangan Sengit ke Beirut

EtIndonesia.  Perang di Timur Tengah secara resmi meluas ke Lebanon. Kelompok Hezbollah yang didukung Iran, pada 1 Maret, menembakkan rudal dan drone ke Israel. Tak lama kemudian, Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke wilayah pinggiran selatan Beirut yang berada di bawah kendali Hezbollah.

Kantor berita Reuters mengutip kesaksian para saksi mata yang menyebutkan bahwa lebih dari sepuluh ledakan mengguncang Beirut. Ini merupakan gelombang serangan paling intens ke wilayah selatan Dahiyeh sejak perang antara Israel dan Hezbollah pada tahun 2024.

Selain Beirut, wilayah serangan udara Israel juga meluas ke Lebanon selatan dan timur, termasuk Lembah Bekaa.

Ini merupakan pertama kalinya Hezbollah menyerang Israel sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer besar terhadap Iran pada 28 Februari.

Militer Israel kemudian menyatakan akan mengambil tindakan atas keputusan Hezbollah yang terlibat langsung dalam konflik. Israel telah mulai menyerang target-target Hezbollah di berbagai wilayah Lebanon, dan menegaskan bahwa Hezbollah harus bertanggung jawab atas eskalasi situasi.

Pasukan Pertahanan Israel menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah membiarkan organisasi tersebut mengancam keamanan nasional Israel.

Selama bertahun-tahun, Hezbollah dikenal sebagai sekutu regional terpenting Iran. Israel dan Lebanon pernah mencapai perjanjian gencatan senjata pada tahun 2024 melalui mediasi Amerika Serikat. Saat itu, Hezbollah mengalami kerugian besar akibat serangan Israel, dan sejak itu kedua pihak saling menuduh melanggar kesepakatan tersebut.

Istana Kepresidenan Lebanon sebelumnya menyatakan bahwa Duta Besar Amerika Serikat telah memberitahu pihak Lebanon pada 28 Januari lalu, bahwa selama tidak ada aksi permusuhan, Israel tidak akan meningkatkan konflik.

Editor penanggung jawab: Cheng Yiren)

Putra Mahkota Iran Menyerukan Kepada Sisa Loyalis Khamenei: Serahkan Kekuasaan Tanpa Pertumpahan Darah 

EtIndonesia. Setelah pemimpin tertinggi rezim Iran Ali Khamenei dilaporkan tewas, pada 1 Maret Reza Pahlavi menyampaikan seruan kepada “pejabat yang tersisa” agar menyerahkan kekuasaan tanpa pertumpahan darah, dan mendorong rakyat Iran untuk terus turun ke jalan menentang rezim yang berkuasa.

Pahlavi yang berusia 65 tahun dan kini hidup di pengasingan di Amerika Serikat, pada hari kedua setelah serangan udara koalisi AS–Israel ke Iran, kembali mengunggah video di platform X untuk menyampaikan pesan kepada para pejabat dan rakyat Iran. Ia menyatakan bahwa Khamenei telah tewas pada hari pertama pecahnya perang—sebuah tanda bahwa rezim saat ini berada di ambang kehancuran.

Berikut adalah teks lengkap pidatonya:

Saudara-saudariku sebangsa,

 Ali Khamenei—Zahhak di zaman kita (tokoh jahat dalam legenda rakyat Persia)—yang hanya beberapa minggu lalu memerintahkan pembantaian puluhan ribu putra-putri terbaik Iran, kini telah mati.

Dengan kematian memalukan dirinya serta banyak pejabat dan kaki tangannya, Republik Islam kini sekarat. Dengan tekad dan keberanian kalian, ia akan segera disapu ke tong sampah sejarah. Rakyat besar Iran menuntut runtuhnya Republik Islam secara total, dan kita akan menggulingkan rezim iblis ini.

Peringatan saya kepada para pejabat sisa dari republik teror ini:
Menyerahlah kepada rakyat Iran. Nyatakan kesetiaan kalian pada rencana saya dan kerangka transisi kami. Serahkan kekuasaan tanpa pertumpahan darah. Setiap upaya sisa rezim untuk menunjuk pengganti Khamenei pasti gagal. Siapa pun yang mereka angkat tidak hanya tidak memiliki legitimasi, tetapi juga akan menjadi kaki tangan kejahatan rezim ini.

Kepada militer, aparat penegak hukum, dan pasukan keamanan:
Senjata kalian harus digunakan untuk melindungi Iran yang agung—bukan untuk melawan rakyat dan demi republik kriminal yang anti-Iran. Bergabunglah dengan rakyat Iran dan Revolusi Singa dan Matahari. Gunakan senjata kalian untuk melindungi rakyat Iran dari tentara bayaran Republik Islam, agar mimpi buruk selama 47 tahun ini dapat segera berakhir.

Meskipun kematian Khamenei tidak dapat menebus darah yang telah tertumpah, hal itu dapat menghibur hati para orang tua, pasangan, anak-anak, serta saudara-saudari yang berduka; dan memberi sedikit penghiburan bagi keluarga para martir Revolusi Singa dan Matahari.

Wahai rakyat Iran yang mulia dan berani, kematian tiran di zaman kita ini—meski menandai awal perayaan besar bangsa kita—bukanlah akhir. Tetap waspada dan bersiaplah. Saat untuk turun ke jalan secara massal dan tegas sudah dekat.

Saya meminta kalian, dengan tetap mengutamakan keselamatan diri, untuk mengekspresikan kepuasan dan dukungan terhadap penggulingan Republik Islam melalui slogan-slogan malam hari, serta menyuarakan tuntutan kalian bagi masa depan Iran. Kekuatan saya bersumber dari kekuatan dan dukungan kalian.

Kepada warga Iran di luar negeri—yang selama berminggu-minggu tanpa lelah menjadi suara kuat bagi saudara-saudari di dalam negeri—tingkatkan upaya kalian. Biarkan dunia mendengar dukungan rakyat Iran terhadap intervensi kemanusiaan ini dan tuntutan kami untuk menggulingkan rezim secara total. Hari-hari ke depan penuh tantangan. Kita akan melangkah bersama menuju kemenangan dan menggulingkan Republik Islam. Hidup Iran!

Pada 28 Februari pagi, setelah koalisi AS–Israel melancarkan serangan udara ke Iran, Pahlavi segera menyerukan kepada rakyat Iran bahwa inilah momen penentuan nasib; bantuan telah tiba, dan ia akan bersama mereka merebut kembali serta membangun ulang Iran.

Laporan gabungan oleh Luo Tingting / Editor penanggung jawab: Wen Hui – NTDTV.com

 inDrive Pertahankan Komisi di Bawah 15%, Luncurkan Program Kesejahteraan Pengemudi

0

Jakarta, 2 Maret 2026 – Platform layanan transportasi online global, inDrive, menegaskan komitmennya terhadap kesejahteraan pengemudi melalui peluncuran Program Pengemudi Sejahtera. Inisiatif ini mengkombinasikan pendekatan sistemik berupa kebijakan komisi maksimal 15 persen dengan program tematik seperti Bantuan Hari Raya (BHR) dan fasilitasi akses BPJS Ketenagakerjaan.

Sejak beroperasi di Indonesia pada 2019, inDrive telah memperluas jangkauannya ke lebih dari 70 kota dengan layanan roda dua dan roda empat. Perusahaan menyatakan bahwa kebijakan komisi yang kompetitif menjadi fondasi utama dalam menjaga fleksibilitas pendapatan mitra pengemudi.

Country Manager inDrive Indonesia, Rio Aristo, menjelaskan bahwa pendekatan menyeluruh diperlukan untuk menciptakan ekosistem bisnis yang berkelanjutan. “Kesejahteraan pengemudi harus dilihat secara sistemik. Komisi yang rasional dan rendah kami hadirkan untuk memastikan pendapatan pengemudi, sementara program tematik seperti BHR dan fasilitasi perlindungan sosial menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan kami,” ujarnya dalam acara buka puasa bersama di Jakarta, Senin (2/3).

Program Bantuan Hari Raya diberikan secara tahunan kepada pengemudi dengan kualifikasi kinerja tertentu. Sementara itu, uji coba fasilitasi pembayaran iuran BPJS Ketenagakerjaan dirancang untuk mendorong kesadaran dan kemampuan pengemudi dalam mengakses perlindungan sosial secara mandiri.

Acara iftar yang digelar inDrive turut dihadiri perwakilan dari sejumlah instansi pemerintah. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian diwakili oleh Asisten Deputi Peningkatan Produktivitas dan Pengembangan Ekosistem Ketenagakerjaan Chairul Saleh; Kementerian Ketenagakerjaan diwakili oleh Lisadarti; Kementerian Perhubungan diwakili oleh Ketua Tim Angkutan Tidak Dalam Trayek Wilayah Perkotaan Ellena; serta BPJS Ketenagakerjaan diwakili oleh Febrian Kholillulah.

Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut mencerminkan dukungan terhadap inisiatif yang dijalankan inDrive, sekaligus harapan akan kolaborasi berkelanjutan antara sektor swasta dan pemerintah dalam mengembangkan ekosistem transportasi online yang lebih adil.

Melalui berbagai inisiatif ini, inDrive berharap dapat menghadirkan manfaat nyata secara berkelanjutan bagi para pengemudi yang menjadi ujung tombak operasional platform. Program ini juga dinilai sejalan dengan upaya perusahaan untuk berkontribusi terhadap penguatan ekonomi masyarakat dalam ekosistem transportasi berbasis aplikasi.

Siaran Televisi Iran Disusupi ; Video Trump Menyerukan Rakyat Iran Mengambil Alih Pemerintahan

EtIndonesia. Pada 1 Maret malam, siaran televisi nasional Iran tiba-tiba terputus dan diselingi tayangan pidato Presiden Trump yang disampaikan di Mar-a-Lago, lengkap dengan subtitle berbahasa Persia. Pada 28 Februari pagi, militer AS dan Israel melancarkan serangan mendadak bersama terhadap Iran, dan Trump menyampaikan pidato video dari Mar-a-Lago yang mendesak rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan.

Akun “NewsDayMundo” di platform X menulis:  “Peristiwa bersejarah! Amerika Serikat menyusupi televisi nasional Iran dan menyiarkan pidato Presiden Trump ke seluruh negeri: ‘Kebebasan kalian sudah di depan mata. Inilah saatnya turun ke jalan dan mengambil kendali atas nasib kalian sendiri.’

Warganet “S.L. Kanthan” membagikan ulang video tersebut dengan komentar:
“Tebak siapa yang muncul di televisi Iran? Presiden Trump! Badan intelijen militer AS menyusupi sistem televisi Iran dan menayangkan pidato Trump yang menyerukan rakyat Iran untuk bangkit melawan.”

Sementara itu, Eric Daugherty menulis:  “Wow! Dilaporkan televisi Iran diretas dan menayangkan video Presiden Trump yang menyerukan rakyat Iran bangkit merebut kembali negara mereka. Inilah yang disebut aksi nyata! Ayo! Kebebasan!”

Pada 1 Maret malam, Presiden Trump kembali menyampaikan pidato video terkait operasi militer serangan udara terhadap Iran dan mengumumkan perkembangan terbaru. Ia mengatakan bahwa dalam 36 jam terakhir, Amerika Serikat bersama mitranya telah melancarkan ‘Operasi Kemarahan Epik’—salah satu operasi militer terbesar, paling kompleks, dan paling tak terbendung yang pernah disaksikan dunia.

“Kami telah menyerang ratusan target di dalam Iran, termasuk fasilitas Korps Garda Revolusi dan sistem pertahanan udara Iran. Baru saja, kami mengumumkan bahwa dalam hitungan menit kami telah menghancurkan sembilan kapal beserta markas angkatan lautnya. Mantan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah tewas,” kata Trump.

Trump mendesak Korps Garda Revolusi Iran, militer Iran, dan kepolisian untuk meletakkan senjata dan menerima pengampunan penuh. Jika tidak, mereka akan menghadapi kematian yang tak terelakkan. “Itu akan menjadi kematian yang sudah ditentukan, dan pemandangannya tidak akan indah,” ujarnya.

Di akhir pidatonya, Trump kembali menyerukan kepada semua patriot Iran yang merindukan kebebasan:  “Manfaatkan momen ini. Tunjukkan keberanian, ketegasan, dan kepahlawanan. Rebut kembali negara kalian. Amerika Serikat bersama kalian. Saya telah membuat janji kepada kalian, dan kini saya menepatinya. Sisanya bergantung pada kalian, tetapi kami akan membantu. Terima kasih. Semoga Tuhan memberkati para prajurit hebat kita, dan semoga Tuhan memberkati Amerika Serikat.”

Video lain menunjukkan bahwa pada malam 1 Maret, koalisi AS–Israel melancarkan serangan udara bertubi-tubi ke Teheran. Banyak warga Iran terlihat berdiri di atap rumah menyaksikan serangan udara, bersorak gembira tanpa rasa takut atau upaya berlindung. Mereka sepenuhnya yakin bahwa Israel hanya akan menyerang pasukan rezim Iran.

Video tambahan juga memperlihatkan jalan-jalan Teheran dipenuhi warga yang mengemudi sambil membunyikan klakson keras-keras dan bersorak, merayakan kabar bahwa para petinggi Iran seperti Khamenei telah “dipenggal” oleh militer AS.

(Laporan gabungan oleh Luo Tingting / Editor penanggung jawab: Wen Hui)

Video Pembom B-2 AS Dikerahkan, Markas Militer Iran Dihancurkan 

Serangan militer besar-besaran Amerika Serikat terhadap Iran terus berlanjut. Pada 1 Maret, CENTCOM merilis video pembom B-2 yang menyerang Iran dan menegaskan bahwa markas IRGC telah dihancurkan.

EtIndonesia. Operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang diberi nama “Operasi Kemarahan Epik” (Operation Epic Fury) memasuki hari ketiga pada 2 Maret.

Pada 1 Maret, CENTCOM—yang bertanggung jawab atas pasukan AS di Timur Tengah—merilis rekaman video pembom siluman B-2 lepas landas dari pangkalan untuk menyerang Iran. Dalam keterangan video tersebut disebutkan:  “Semalam, pembom siluman B-2 Amerika Serikat membawa bom seberat 2.000 pon (sekitar 907,18 kilogram) dan menyerang fasilitas rudal balistik Iran yang diperkuat. Tidak ada negara mana pun yang boleh meragukan tekad Amerika Serikat.”

CENTCOM juga merilis video kapal perusak yang meluncurkan rudal jelajah untuk membombardir Iran, dan menyatakan bahwa markas IRGC telah dihancurkan.

Dalam keterangan tertulisnya disebutkan:  “Selama 47 tahun terakhir, Korps Garda Revolusi Islam Iran telah membunuh lebih dari 1.000 warga Amerika. Kemarin, serangan udara besar-besaran Amerika memenggal kepala ular berbisa ini. Amerika Serikat memiliki militer terkuat di dunia, dan kini Korps Garda Revolusi Islam Iran tidak lagi memiliki markas.”

Pada 2 Maret, CENTCOM kembali merilis beberapa video yang menunjukkan penghancuran pesawat tempur dan fasilitas rudal Iran, serta menyatakan:  “Militer AS sedang mengambil tindakan tegas untuk menghilangkan ancaman langsung yang ditimbulkan oleh rezim Iran. Serangan udara masih terus berlangsung.”

“Rezim Iran selama puluhan tahun secara sewenang-wenang menggunakan dan menyebarkan rudal balistik, yang merupakan ancaman berbahaya. Kini, atas arahan Presiden, militer AS sedang menghilangkan ancaman tersebut.”

Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan mendadak besar-besaran terhadap Iran. CENTCOM mempublikasikan video langsung serangan udara tersebut.

Kapal perusak kelas Arleigh Burke USS Spruance meluncurkan rudal jelajah Tomahawk. Pesawat tempur siluman F-35C Angkatan Laut AS dari kapal induk “Lincoln”, serta pesawat tempur F/A-18E/F “Super Hornet” yang membawa bom JDAM 500 pon, rudal udara-ke-udara jarak menengah AIM-120 (AMRAAM), dan rudal AIM-9X, secara bersamaan menyerang target darat Iran, termasuk drone, rudal, radar, dan peralatan lainnya.

Menurut pejabat militer AS, dalam waktu 12 jam, militer AS melakukan sekitar 900 kali pemboman terhadap Iran. Tujuan akhir militer AS adalah membuat Iran “tidak memiliki kemampuan untuk menyerang negara tetangga”, sehingga Iran “tidak memiliki drone, tidak memiliki rudal, dan tidak memiliki angkatan laut”. (Hui)

Dilaporkan oleh Luo Tingting / Editor Wen Hui  – NTDTV.com