Dialog Shangri-La Resmi Dibuka, Negara-Negara Fokus pada Strategi Keamanan Indo-Pasifik

EtIndonesia.com.  Dialog Shangri-La, forum keamanan paling berpengaruh di kawasan Asia-Pasifik, resmi dibuka di Singapura pada Jumat (29/5/2026). Para pemimpin pertahanan, pejabat tinggi militer, dan pakar keamanan dari berbagai negara berkumpul untuk membahas tantangan keamanan regional dan global. Di tengah meningkatnya ketegangan di Laut Tiongkok Selatan, Selat Taiwan, dan kawasan Indo-Pasifik, strategi keamanan regional menjadi fokus utama pembahasan.

Dalam pidato pembukaannya, para pemimpin dan pejabat pertahanan menekankan pentingnya menjaga tatanan internasional berbasis aturan, kebebasan navigasi, serta stabilitas di kawasan Indo-Pasifik.

Sejumlah negara menyatakan keprihatinan atas meningkatnya aktivitas militer dan ketegangan geopolitik di kawasan. Mereka juga menyoroti pentingnya memperkuat kerja sama pertahanan, berbagi informasi intelijen, serta meningkatkan kemampuan menghadapi berbagai ancaman keamanan, termasuk konflik militer, serangan siber, dan tantangan keamanan maritim.

Forum tahun ini dihadiri oleh pejabat dan delegasi dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Australia, India, negara-negara ASEAN, serta sejumlah negara Eropa. Para peserta membahas berbagai isu strategis, seperti keamanan maritim, stabilitas Selat Taiwan, konflik regional, dan kerja sama pertahanan multilateral.

Sejumlah analis menilai bahwa meningkatnya perhatian terhadap kawasan Indo-Pasifik mencerminkan perubahan lanskap geopolitik global. Kawasan ini kini dipandang sebagai salah satu pusat persaingan strategis paling penting di dunia, sehingga menjadi fokus utama kebijakan keamanan banyak negara.

Dialog Shangri-La yang diselenggarakan setiap tahun di Singapura telah menjadi platform penting bagi para pemimpin pertahanan dan keamanan untuk bertukar pandangan, mengelola perbedaan, serta mencari peluang kerja sama dalam menghadapi tantangan keamanan yang semakin kompleks.

Sumber : NTDTV.com

Trump Gugat Wall Street Journal Rp 178 Triliun, Ungkap Pernyataan Murdoch dalam Gugatan Terbaru

EtIndonesia.com. Menurut laporan Reuters, pada 28 Mei, Donald Trump kembali mengajukan gugatan pencemaran nama baik senilai US$10 miliar atau Rp 178 triliun terhadap The Wall Street Journal. Trump menuduh media tersebut menerbitkan laporan mengenai hubungannya dengan mendiang taipan kontroversial Jeffrey Epstein, yang menurutnya telah merusak reputasinya secara serius.

Dalam versi terbaru gugatan tersebut, Trump menambahkan satu rincian penting. Ia mengklaim bahwa taipan media Rupert Murdoch pernah mengatakan kepadanya, “Saya akan menangani masalah ini.”

Trump menyatakan dalam gugatan bahwa The Wall Street Journal menerbitkan artikel yang menyebut Epstein menerima sebuah kartu ucapan ulang tahun yang memuat tanda tangan Trump.

Namun Trump dan tim hukumnya menegaskan bahwa kartu ucapan tersebut adalah dokumen palsu. Belakangan, anggota parlemen yang menyelidiki kasus Epstein mempublikasikan salinan kartu yang diberikan oleh pengelola warisan Epstein.

Pada 15 Juli 2025, wartawan The Wall Street Journal menghubungi Gedung Putih untuk meminta komentar terkait isu tersebut. Setelah itu, Trump menelepon Murdoch, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Kehormatan News Corp, guna menyampaikan keberatannya.

Menurut isi gugatan, Murdoch menjawab, “Saya akan menangani masalah ini.” Trump mengaku memahami pernyataan itu sebagai tanda bahwa Murdoch mempercayai penjelasannya dan bahwa artikel tersebut tidak akan diterbitkan. Namun pada akhirnya, The Wall Street Journal tetap mempublikasikan laporan tersebut.

Gugatan itu diajukan ke pengadilan federal di Miami. Selain perusahaan induk The Wall Street Journal, yaitu Dow Jones & Company, para tergugat juga mencakup News Corp, Rupert Murdoch secara pribadi, CEO News Corp Robert Thomson, serta dua wartawan The Wall Street Journal.

Pada April lalu, Hakim Federal Darrin P. Gayles menolak gugatan awal Trump. Menurut hakim, sebagai figur publik, Trump tidak memenuhi standar hukum “actual malice” (niat jahat yang nyata) yang menjadi syarat dalam perkara pencemaran nama baik di Amerika Serikat.

Artinya, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa media tersebut mengetahui informasi yang diterbitkan kemungkinan tidak benar, tetapi tetap sengaja menerbitkannya.

Karena itu, Trump menambahkan rincian baru mengenai percakapannya dengan Murdoch dalam versi gugatan terbaru, untuk memperkuat argumennya bahwa pihak media mengetahui adanya keberatan serius terhadap kebenaran laporan tersebut sebelum artikel dipublikasikan.

Hingga saat ini, Dow Jones belum memberikan tanggapan atas gugatan terbaru tersebut.

Epstein merupakan seorang finansier yang namanya menjadi simbol skandal seksual besar di Amerika Serikat. Ia ditangkap atas tuduhan perdagangan seks dan kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur. Pada tahun 2019, ia ditemukan meninggal dunia di penjara di New York. Otoritas Amerika menyimpulkan kematiannya sebagai bunuh diri.

Sumber : NTDTV.com

“Raksasa Hutan” Masuk Museum, Sampah Disulap Menjadi Karya Seni untuk Mengingatkan Bahaya Pemborosan

EtIndonesia.com. Di Denmark, ada seorang seniman unik yang ahli menciptakan karya seni dari barang-barang bekas dan limbah daur ulang. Ia terutama dikenal karena patung-patung raksasa dari kayu yang dibuatnya. Melalui karya-karya tersebut, ia berharap dapat mengingatkan masyarakat agar mengurangi pemborosan dan menghasilkan lebih sedikit sampah.

Pameran yang bertajuk “Trash People” (Manusia Sampah) ini digelar di ARKEN Museum of Contemporary Art, sebuah museum seni modern yang terletak di pinggiran kota Copenhagen.

“Ceritanya adalah delapan raksasa menyelinap masuk ke museum pada tengah malam… lalu membuat seorang manusia raksasa dari sampah. Seolah-olah mereka sedang memperingatkan manusia dan memberi pelajaran kepada kita: bersikaplah lebih baik dan jangan membuang sampah di tempat orang lain hidup,” ujar Seniman daur ulang asal Denmark, Thomas Dambo, menjelaskan konsep pameran. 

Seniman daur ulang asal Denmark, Thomas Dambo (Tangkapan Layar)

Selama lebih dari sepuluh tahun, Thomas Dambo telah menempatkan patung-patung troll raksasa dari kayu di berbagai belahan dunia. Hingga saat ini, ia telah menciptakan hampir 200 patung raksasa di 19 negara. Banyak di antaranya menjadi viral di internet dan menarik banyak pengunjung untuk datang berfoto dan melihatnya secara langsung.

Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah Long Leif, yang menjulang setinggi 43 kaki (sekitar 13 meter).

Patung-patung raksasa bernuansa dongeng ciptaan Dambo tersebar dan tersembunyi di hutan, pegunungan, serta kawasan alam liar di berbagai negara. Masyarakat dapat menemukan lokasi karya-karya tersebut melalui “Peta Raksasa” yang tersedia secara daring.

Patung daur ulang (tangkapan Layar)

Hampir seluruh patung yang dibuatnya berasal dari limbah dan bahan daur ulang. Ia bahkan memanfaatkan barang elektronik bekas, pakaian bekas, dan berbagai material yang telah dibuang.

“Ini sebenarnya bukan semata-mata soal mendaur ulang. Faktanya, pakaian yang ada di lemari Anda mungkin sudah cukup untuk dipakai seumur hidup,” ujar Thomas Dambo. 

Laporan oleh Liu Jiajia, NTD Television, Amerika Serikat.

Penulis yang Pernah Menuduh Trump Melakukan Pelecehan Seksual Diselidiki atas Dugaan Kesaksian Palsu

EtIndonesia.com. Sejumlah sumber yang mengetahui perkara menyebutkan Departemen Kehakiman Amerika Serikat telah meluncurkan penyelidikan pidana terhadap kolumnis E. Jean Carroll, yang sebelumnya menuduh Donald Trump melakukan pelecehan seksual. Fokus penyelidikan kali ini adalah apakah Carroll memberikan keterangan yang tidak benar mengenai sumber pendanaan gugatan hukumnya saat memberikan kesaksian di pengadilan.

Sebelumnya, Carroll menyatakan bahwa gugatan tersebut tidak menerima dukungan dana dari pihak luar. Namun kemudian ia mengubah keterangannya dan mengakui bahwa miliarder sekaligus salah satu pendiri LinkedIn, Reid Hoffman, telah membantu membayar sebagian biaya pengacara dan pengeluaran terkait perkara tersebut.

Menurut laporan sejumlah media, termasuk CNN, Departemen Kehakiman AS sedang menyelidiki apakah Carroll melakukan sumpah palsu dalam kesaksiannya pada dua gugatan perdata yang berkaitan dengan Presiden AS Donald Trump.

Carroll sebelumnya menuduh Trump melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya di ruang ganti sebuah department store di New York pada tahun 1996. Pada Mei 2023, juri federal di New York memutuskan bahwa Trump harus membayar ganti rugi sebesar 5 juta dolar AS kepada Carroll.

Trump secara konsisten membantah tuduhan tersebut dan menyebut Carroll mengarang cerita demi mempromosikan buku barunya.

Setelah itu, Carroll kembali menggugat Trump atas tuduhan pencemaran nama baik dan menuntut ganti rugi sebesar 12 juta dolar AS. Pada Januari 2024, juri di Manhattan memutuskan bahwa Trump harus membayar ganti rugi sebesar 83,3 juta dolar AS.

Fokus Penyelidikan: Sumber Dana Gugatan

Kontroversi yang kini menjadi pusat penyelidikan berawal dari kesaksian Carroll di bawah sumpah pada tahun 2022.

Saat itu, pengacara Trump, Alina Habba, menanyakan apakah ada pihak lain yang membantu membiayai gugatan tersebut. Carroll menjawab bahwa tidak ada.

Namun, dua minggu kemudian, menjelang persidangan, tim kuasa hukum Carroll memberi tahu hakim dan pengacara Trump bahwa sebagian biaya litigasi ternyata didanai oleh sebuah organisasi nirlaba yang memiliki hubungan dengan Reid Hoffman.

Habba kemudian menyatakan di pengadilan bahwa tim Carroll sebenarnya telah: “Menyembunyikan kebenaran selama hampir enam bulan.”

Trump Terus Ajukan Banding

Terkait putusan ganti rugi sebesar 5 juta dolar AS, Trump telah mengajukan banding hingga ke Mahkamah Agung Amerika Serikat.

Sementara itu, untuk putusan pencemaran nama baik senilai 83,3 juta dolar AS, Trump juga menyatakan akan terus mengajukan banding hingga proses hukum berakhir.

Namun, Mahkamah Agung AS telah beberapa kali menunda keputusan mengenai apakah akan menerima permohonan banding tersebut untuk diperiksa lebih lanjut.

Sumber : NTDTV.com

Laporan Ungkap Penyusupan PKT ke Kelompok G7, Lebih dari 2.000 Organisasi Tersingkap

EtIndonesia.com. Lembaga pemikir (think tank) Kanada, Montreal Institute for Global Security (MIGS), pada 27 Mei merilis sebuah laporan berjudul “Melindungi G7: Menghadapi Operasi Intervensi Beijing”. Laporan tersebut menyatakan bahwa Departemen Kerja Front Persatuan Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah menerapkan strategi intervensi yang bersifat “sistematis” di negara-negara anggota G-7. 

Laporan itu membahas bagaimana PKT, melalui Departemen Kerja Front Persatuan serta jaringan luas organisasi afiliasi dan lembaga perantara yang beroperasi di bidang politik, ekonomi, akademik, media, dan masyarakat, menjalankan berbagai pola kegiatan di Kanada, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Jepang. 

Kegiatan tersebut mencakup pendekatan terhadap kalangan elite, mobilisasi diaspora Tionghoa, pengaruh terhadap media, represi lintas negara, serta keterlibatan ekonomi yang bersifat strategis.

Lembaga pemikir (think tank) Kanada, Montreal Institute for Global Security (MIGS)

Menurut statistik dalam laporan tersebut, Departemen Kerja Front Persatuan PKT telah membangun jaringan yang terdiri atas lebih dari 2.000 organisasi, dengan lebih dari 900 di antaranya berada di Amerika Serikat. Sejumlah entitas tersebut mencakup asosiasi profesi, kelompok mahasiswa, organisasi kebudayaan, dan platform media.

PKT disebut berupaya memanfaatkan keterbukaan masyarakat demokratis untuk menjalankan berbagai aktivitas, seperti memengaruhi pemilu, memanipulasi opini publik, menganiaya pembangkang yang hidup di pengasingan, hingga mencuri rahasia industri. Hal ini dinilai menimbulkan tantangan bersama terhadap tata kelola demokrasi, kedaulatan negara, dan integritas ruang debat publik di negara-negara G7.

Laporan tersebut juga merekomendasikan agar negara-negara terkait mengambil langkah-langkah yang terkoordinasi untuk menghadapi berbagai bentuk intervensi tersebut.

PKT Keluarkan Aturan Baru untuk Memperketat Pengawasan Jenderal, Pakar: Isyarat Penangkapan Baru

Setelah konflik internal di kalangan petinggi militer PKT semakin memanas, Komisi Militer Pusat PKT pada 27 Mei mengeluarkan 26 aturan baru yang ditujukan kepada pejabat senior militer. Aturan tersebut menekankan pengawasan ketat terhadap para komandan utama dan peningkatan pengawasan terhadap pimpinan inti, serta mengklaim akan menegakkan “aturan besi”.

Sejak Juli 2023, militer yang direformasi dan dibangun langsung oleh Xi Jinping telah mengalami gelombang pembersihan besar-besaran. 

Hingga 24 Januari lalu, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat PKT Zhang Youxia dan anggota Komisi Militer Pusat Liu Zhenli dilaporkan tumbang secara bersamaan. Akibatnya, dalam komisi militer saat ini hanya tersisa Ketua Komisi Militer Pusat Xi Jinping dan Wakil Ketua Zhang Shengmin. Beberapa media luar negeri bahkan menggambarkan Komisi Militer Pusat PKT saat ini sebagai institusi yang pada dasarnya telah mengalami kehancuran.

Aturan baru tersebut hanya diumumkan dalam bentuk ringkasan oleh media resmi Partai. Isinya mencakup tujuh aspek utama dengan total 26 ketentuan, termasuk “pengawasan ketat terhadap komandan utama sebagai teladan”, “penguatan kepemimpinan kolektif komite partai”, serta “mempertahankan prinsip partai dalam mengelola dan memilih kader”.

Para analis menilai bahwa penerbitan aturan baru ini menunjukkan bahwa gelombang pembersihan di lingkungan militer belum berakhir.

Peneliti senior dari Institute for National Defense and Security Research, Shen Mingshi, mengatakan bahwa berbagai slogan yang tercantum dalam dokumen resmi tersebut tidak benar-benar mampu mengendalikan para jenderal saat ini. 

Menurutnya, terlalu banyak aturan justru dapat membuat banyak orang memilih bersikap pasif, dengan pola pikir “lebih sedikit bertindak, lebih sedikit kesalahan; semakin banyak bertindak, semakin banyak kesalahan.”

Sementara itu, pengamat senior politik dan militer Mark berpendapat bahwa penerapan aturan terbaru untuk mengawasi para jenderal berpangkat tinggi kemungkinan merupakan pertanda bahwa menjelang Sidang Pleno Kelima atau Kongres Nasional PKT ke-21, akan ada gelombang penangkapan baru terhadap sejumlah petinggi militer.

Sumber : NTDTV.com

Penyerang Bersenjata Pisau Mengamuk di Stasiun Kereta Swiss, Seorang Guru dengan Berani Lindungi Anak-Anak

EtIndonesia. Pada Kamis pagi (28/5/2026),  insiden penyerangan dengan pisau terjadi di depan stasiun kereta di pinggiran kota Zurich, Swiss. Seorang pria tiba-tiba mengamuk sambil membawa pisau, melukai tiga orang hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Selama aksinya, ia juga berulang kali berteriak. Saat kejadian berlangsung, terdapat sekelompok anak-anak di sekitar lokasi, sehingga situasi sempat sangat mencekam.

Menurut sebuah video yang beredar di internet, seorang pria yang tampak berpakaian tidak rapi terlihat berlari di sepanjang jalan sambil berteriak. 

Pada saat itu, sekelompok anak-anak berada tidak jauh dari lokasi kejadian.

Seorang saksi mata mengatakan bahwa pria tersebut tampak sangat emosional dan gelisah. Warga yang berada di tempat kejadian panik, berteriak ketakutan dan berlarian menyelamatkan diri. Di tengah kepanikan itu, seorang guru segera maju ke depan untuk melindungi anak-anak yang tidak bersenjata tersebut.

Belakangan, polisi Zurich menyatakan bahwa tersangka adalah seorang pria warga negara Swiss dan Turki berusia 31 tahun.

Sekitar pukul 08.30 pagi waktu setempat, ia melakukan penikaman terhadap tiga pria di dekat stasiun kereta Winterthur railway station yang terletak di pinggiran Zurich.

Pelaku kemudian berhasil ditangkap oleh polisi. Aparat telah menutup lokasi kejadian untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. Hingga kini, pihak berwenang belum mengumumkan motif penyerangan tersebut.

Sumber : NTDTV.com

Drone Rusia Terobos Wilayah NATO, Hantam Gedung Apartemen di Rumania

Uni Eropa dan NATO sama-sama menyatakan dukungan penuh kepada Bukares setelah insiden tersebut, yang mana terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai aktivitas Rusia di Eropa Timur.

EtIndonesia.com.  Sebuah drone Rusia melukai dua orang di wilayah tenggara Rumania pada 29 Mei, menurut pernyataan pemerintah negara anggota Uni Eropa dan NATO tersebut.

Insiden yang terjadi saat salah satu serangan udara Rusia semalam terhadap Ukraina, menandai pertama kalinya dalam perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun bahwa sebuah drone menghantam kawasan padat penduduk di Rumania. Insiden itu menyebabkan korban terluka.

Kementerian Pertahanan Rumania menyatakan: “Pada malam 28 hingga 29 Mei, Federasi Rusia kembali melancarkan serangan drone terhadap sasaran sipil dan infrastruktur di Ukraina, di dekat perbatasan sungai dengan Rumania.”

“Sebuah drone memasuki wilayah udara Rumania, terpantau radar menuju bagian selatan Kota Galati, lalu jatuh menimpa atap sebuah gedung apartemen. Benturan tersebut kemudian memicu kebakaran.”

Kementerian menambahkan bahwa tim khusus dari berbagai instansi langsung dikerahkan ke lokasi. Dua jet tempur F-16 juga diterbangkan dan diberi wewenang untuk mencegat target selama status siaga masih berlaku.

“Pusat Komando Militer Nasional telah memberi tahu Inspektorat Jenderal untuk Situasi Darurat mengenai perlunya langkah-langkah peringatan kepada masyarakat. Dalam konteks ini, pesan peringatan RO-Alert dikirimkan ke wilayah Tulcea, Galati, dan Braila,” kata kementerian tersebut.

Kepala Departemen Situasi Darurat Rumania sekaligus Wakil Menteri Dalam Negeri, Raed Arafat, mengatakan bahwa dua orang mengalami luka ringan dan mendapatkan perawatan di lokasi kejadian.

Menteri Luar Negeri Rumania, Oana Toui, mengonfirmasi melalui platform X pada 29 Mei bahwa drone tersebut berasal dari Rusia. “Kami telah memanggil Duta Besar Federasi Rusia ke Kementerian Luar Negeri. Keamanan Rumania adalah prioritas mutlak kami,” tulisnya.

Drone Lain Ditemukan di Barat Laut Rumania

Dalam insiden terpisah, sebuah drone tanpa bahan peledak ditemukan di sekitar Basesti, Kabupaten Maramures, di barat laut Rumania. Media pemerintah TVR melaporkan bahwa area tersebut segera diamankan oleh pihak berwenang setempat.

Rumania, yang berbatasan darat sepanjang sekitar 640 kilometer dengan Ukraina, telah mengalami 28 kali pelanggaran wilayah udara oleh drone Rusia sejak Moskow mulai menyerang pelabuhan-pelabuhan Ukraina di sepanjang Sungai Donau.

Menanggapi insiden terbaru ini, Presiden Rumania Nicusor Dan mengumumkan bahwa ia telah mengadakan rapat Dewan Pertahanan Nasional Tertinggi pada 29 Mei.

Ia menyebut insiden tersebut sebagai: “Insiden paling serius yang memengaruhi wilayah nasional sejak dimulainya perang agresi Federasi Rusia terhadap Ukraina.”

 “Saya menyatakan dengan tegas bahwa tanggung jawab penuh atas insiden ini berada pada Federasi Rusia,” ujarnya. 

Menurutnya, insiden tersebut merupakan konsekuensi langsung dari perang Rusia terhadap Ukraina, penggunaan sistem senjata yang dinilai tidak bertanggung jawab di dekat perbatasan NATO, serta pengabaian sistematis terhadap hukum internasional.

Dan mengatakan bahwa ia akan memberi tahu para sekutu NATO, meminta tambahan kemampuan pertahanan anti-drone, dan membawa masalah ini ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

NATO dan Uni Eropa Mengecam

Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, mengatakan bahwa ia telah berbicara dengan Presiden Dan pada 29 Mei.

“Saya menyampaikan solidaritas penuh NATO kepada Rumania dan simpati kepada mereka yang terluka dalam insiden ini. Saya menegaskan bahwa NATO siap mempertahankan setiap jengkal wilayah sekutu.”

Rutte menambahkan: “Kami akan terus meningkatkan kesiapan untuk mencegah dan mempertahankan diri dari segala ancaman, termasuk ancaman drone. Perilaku Rusia yang ceroboh merupakan ancaman bagi kita semua.”

Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menyatakan bahwa Rusia telah “melampaui batas sekali lagi”.“Kami berdiri dalam solidaritas penuh dengan Rumania dan rakyatnya.”

Ia menambahkan bahwa Uni Eropa akan terus memperkuat keamanan dan kemampuan pencegahan, khususnya di perbatasan timur, serta sedang mempersiapkan paket sanksi ke-21 terhadap Rusia.

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas dan Presiden Dewan Eropa, Antonio Costa.

Slovakia Serukan Dialog

Sementara itu, Perdana Menteri Slovakia Robert Fico menyerukan dimulainya dialog langsung antara Uni Eropa dan Rusia.

“Beberapa hari lalu saya mengatakan bahwa tanpa dialog antara Uni Eropa dan Rusia, satu drone yang tersesat saja dapat memicu eskalasi yang tidak akan mampu kita kendalikan.”

Fico menyatakan solidaritasnya kepada pemerintah Rumania, namun juga meminta semua pihak menahan diri dari pernyataan yang dapat memperkeruh situasi dan kembali menyerukan pembukaan dialog segera antara Uni Eropa dan Rusia.

Slovakia selama ini dikenal memiliki hubungan yang relatif lebih dekat dengan Rusia dibandingkan sebagian besar negara anggota Uni Eropa lainnya.

Hingga kini, Rusia belum memberikan komentar resmi terkait insiden tersebut.

Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai pelanggaran wilayah dan aktivitas militer Rusia di sisi timur NATO. Sejumlah negara anggota di kawasan tersebut telah menyerukan peningkatan kemampuan pertahanan untuk menghadapi potensi ancaman di masa mendatang.

Reuters turut berkontribusi dalam laporan ini.

Sumber : Theepochtimes.com

Mantan Wali Kota Mengaku Bersalah di Pengadilan atas Tuduhan Menjadi Agen Partai Komunis Tiongkok Secara Ilegal

EtIndonesia. Mantan Wali Kota Arcadia, sebuah kota di negara bagian California, Amerika Serikat  Eileen Wang  atau Wang Ailin, yang didakwa oleh pengadilan federal Amerika Serikat karena secara ilegal bertindak sebagai “agen Partai Komunis Tiongkok (PKT)”, pada hari ini secara resmi mengaku bersalah di Pengadilan Federal Los Angeles. Sebelumnya, ia telah menyetujui kesepakatan pengakuan bersalah dan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai wali kota. Berikut laporan langsung dari reporter kami, Li Jiayin, di luar gedung pengadilan.

Reporter NTD, Li Jiayin, melaporkan: “Pagi ini, mantan Wali Kota Arcadia Wang Ailin tiba di Pengadilan Federal Los Angeles mengenakan setelan jas hitam. Ia tampil dengan riasan tipis dan rambut yang tampak telah ditata rapi, namun menunjukkan ekspresi serius. Didampingi pengacara pembelanya, Jason Liang, serta beberapa orang lainnya, Wang hadir di persidangan dan secara resmi mengaku bersalah atas tuduhan bertindak sebagai agen PKT secara ilegal di wilayah Amerika Serikat.”

Reporter NTD, Li Jiayin

Dokumen dari Departemen Kehakiman Amerika Serikat menunjukkan bahwa antara tahun 2020 hingga 2022, Wang Ailin diduga menjalankan propaganda pro-PKT di Amerika Serikat atas arahan pihak PKT dan membantu memperjuangkan kepentingan Beijing tanpa melaporkannya kepada Jaksa Agung AS sebagaimana diwajibkan oleh hukum.

Seorang warga yang mengenal Wang selama bertahun-tahun dan meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan bahwa Wang sering secara aktif dan terbuka membagikan berbagai kegiatan serta materi propaganda yang berkaitan dengan PKT melalui grup-grup WeChat.

Selain itu, Wang bersama mantan tunangannya, Sun Yaoning, yang sebelumnya juga telah dijatuhi hukuman karena bertindak sebagai agen PKT, pernah mengelola sebuah situs berita berbahasa Mandarin bernama “Pusat Berita Amerika” (America News Center).

Anggota Dewan Kota Arcadia, Eileen Wang, menghadiri upacara pelantikan Asian Hall of Fame 2023 di Biltmore Los Angeles, Los Angeles, pada 21 Oktober 2023. Frazer Harrison/Getty Images

Menurut dokumen pengadilan, atas permintaan pejabat PKT, situs tersebut menerbitkan sejumlah artikel yang mengulang narasi resmi Beijing. Salah satu artikel bahkan mengklaim bahwa tidak ada genosida maupun kerja paksa di Xinjiang. Setelah mendapat pujian dari seorang pejabat PKT, Wang dilaporkan membalas dengan kalimat: “Terima kasih, pemimpin.”

Setelah keluar dari ruang sidang, reporter NTD menanyakan kepada Wang: “Sebagai pejabat publik yang dipilih rakyat Amerika, mengapa Anda bertindak sebagai agen PKT? Apakah PKT memberi Anda keuntungan tertentu? Apakah Anda mengetahui atau terlibat dalam tindakan Chen Jun dan Sun Yaoning terhadap kelompok oposisi di luar negeri serta praktisi Falun Gong?”

Namun Wang Ailin tetap bungkam sepanjang waktu dan tidak memberikan jawaban apa pun. Orang-orang yang mendampinginya juga menyatakan bahwa mereka tidak akan memberikan komentar.

Reporter Li Jiayin menambahkan bahwa Wang Ailin menghadapi ancaman hukuman maksimum 10 tahun penjara, 3 tahun masa pengawasan setelah bebas, serta denda hingga 250.000 dolar AS.

Pengadilan telah menetapkan 6 Oktober sebagai tanggal pengumuman putusan hukuman.

Laporan oleh Li Jiayin dan Lin Yongfeng, NTD Television, Los Angeles.

Iran Gencarkan Perang Informasi, Militer AS Bantah Klaim Pesawat Tempurnya Ditembak Jatuh

EtIndonesia.com. Militer Amerika Serikat menyatakan bahwa tidak ada satu pun pesawat militernya yang ditembak jatuh di dekat Provinsi Bushehr, Iran, meskipun televisi pemerintah Iran mengklaim sebaliknya.

Menurut laporan Reuters, televisi pemerintah Iran pada Jumat (29 Mei) dini hari mengutip pernyataan pejabat lokal Distrik Jam di Provinsi Bushehr, Masoud Tangestani, yang mengklaim bahwa sebuah pesawat militer Amerika telah dihancurkan di wilayah tersebut.

Menanggapi klaim itu, United States Central Command melalui platform X menyatakan: “Tidak ada pesawat militer Amerika yang ditembak jatuh. Seluruh aset Angkatan Udara Amerika Serikat berada dalam kondisi aman.”

Di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, kedua pihak tidak hanya berhadapan di ranah militer, tetapi juga semakin terlibat dalam perang informasi dan perebutan opini publik.

Sebelumnya, dua pejabat Amerika Serikat juga mengonfirmasi kepada Fox News bahwa laporan Iran mengenai keberhasilan menembak jatuh pesawat militer AS tidak benar.

Dengan demikian, klaim yang disiarkan oleh media pemerintah Iran dibantah baik oleh Komando Pusat Militer AS maupun oleh sejumlah pejabat Amerika yang mengetahui situasi tersebut.

Sumber : NTDTV. com

Siswi SD di Guangdong, Tiongkok  Dirundung dan Direkam, Warganet Murka Tuntut Pelaku Dijatuhkan Hukuman Berat

EtIndonesia. Baru-baru ini, seorang siswi sekolah dasar di Kota Leizhou, Kota Zhanjiang, Provinsi Guangdong, Tiongkok menjadi korban perundungan oleh sejumlah siswi lain. Korban ditampar dan didorong secara bergantian, sementara beberapa pelaku merekam seluruh kejadian dengan telepon genggam sambil tertawa-tawa. Setelah video tersebut beredar luas, kemarahan publik pun meledak di media sosial.

Video yang beredar menunjukkan bahwa di sebuah gang kawasan permukiman, seorang siswi berseragam sekolah dasar dikepung oleh beberapa siswi lain yang mengenakan seragam yang sama. Korban ditampar, didorong, bahkan dihantam hingga terhempas ke dekat tembok.

Di lokasi terdengar suara tawa dan ejekan. Salah seorang siswi terus mengarahkan ponselnya ke wajah korban untuk merekam kejadian tersebut. Sedikitnya enam hingga tujuh anak terlihat terlibat dalam aksi perundungan itu.

Sepanjang insiden, korban tampak menggenggam kedua tangannya erat-erat. Ia tidak berani melawan ataupun membalas, dan terlihat sangat ketakutan.

Menurut laporan media Tiongkok, para siswa yang terlibat merupakan murid sebuah sekolah dasar di Kota Leizhou.

Pada 25 Mei sore, petugas dari Kantor Polisi Kota Baru Leizhou menyatakan bahwa polisi telah menemukan seluruh siswa yang terlibat dalam kasus tersebut. Saat ini kasus masih dalam proses penanganan, dan seluruh pihak yang terlibat merupakan siswa sekolah dasar.

Pada 26 Mei pagi, seorang pejabat dari bagian keamanan dan ketertiban Biro Pendidikan Kota Leizhou menyatakan bahwa insiden perundungan itu dipicu oleh perselisihan dan pertengkaran sehari-hari antar siswa. Ia juga mengatakan bahwa korban telah menjalani pemeriksaan di rumah sakit dan tidak mengalami cedera fisik yang serius.

Namun, penjelasan tersebut tidak meredakan kemarahan publik.

Banyak warganet mengecam keras insiden itu:

“Ya Tuhan! Tamparannya terdengar sangat keras. Kasus seperti ini tidak boleh dianggap sepele. Pelaku harus dihukum berat, kalau tidak kejadian seperti ini akan semakin sering terjadi.”

“Kalau ibunya melihat video ini, pasti sangat sedih dan sakit hati. Saya sampai marah melihatnya.”

“Saya benar-benar ingin menolong anak itu.”

Banyak komentar juga menyoroti dampak psikologis yang mungkin dialami korban:

“Hanya karena tubuhnya tidak terluka parah bukan berarti masalahnya selesai. Trauma psikologis bisa membekas seumur hidup.”

“Luka fisik mungkin ringan, tetapi luka batin bisa sangat dalam.”

“Dokter mengatakan tidak ada masalah besar secara fisik. Tapi bayangan buruk dalam hatinya mungkin tidak akan pernah hilang sepanjang hidup. Itulah masalah yang sebenarnya.”

Sebagian warganet mengaku pernah mengalami pengalaman serupa saat masih kecil:

“Waktu SD saya juga pernah mengalami perundungan seperti ini.”

“Pelaku harus ditindak tegas.”

“Kasus ini harus diselidiki secara serius. Saya sangat marah melihatnya.”

Ada pula komentar yang menuntut hukuman yang lebih berat:

“Anak-anak seperti iblis.”

“Keluarkan mereka dari sekolah dan catatan pelanggaran mereka harus disimpan permanen.”

“Pelaku perundungan harus dihukum berat.”

“Mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai hukum!”

Sumber : NTDTV.com

(Berita Terlarang) Lebih dari 2.000 Foto Tragedi Pembantaian Tiananmen 1989 Terungkap, Saksi Mata: Sejarah Tidak Bisa Ditutupi

Menjelang peringatan 37 tahun Peristiwa Tiananmen 4 Juni 1989, The Epoch Times mempublikasikan secara eksklusif lebih dari 2.000 foto sejarah yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Foto-foto tersebut kembali menarik perhatian dunia terhadap fakta-fakta seputar penumpasan berdarah tahun 1989. Sejumlah saksi mata Peristiwa 4 Juni mengatakan bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) dapat memblokir informasi, tetapi tidak dapat menghapus ingatan sejarah.

EtIndonesia.com. Pada 27 Mei, The Epoch Times merilis kumpulan foto berharga yang telah tersimpan selama 37 tahun. Jumlahnya mencapai lebih dari 2.000 lembar. Foto-foto itu mendokumentasikan secara lengkap berbagai peristiwa yang terjadi di jalan-jalan Beijing pada musim semi hingga awal musim panas 1989, termasuk lautan massa yang berkumpul secara damai di Lapangan Tiananmen, ketegangan saat pasukan darurat militer memasuki kota, hingga pemandangan tragis setelah penumpasan terjadi.

Kumpulan foto tersebut diambil oleh seorang fotografer resmi pemerintah pada masa itu. Menjelang akhir hidupnya, ia mempercayakan arsip foto tersebut kepada The Epoch Times dengan harapan dapat meninggalkan kesaksian sejarah atas peristiwa yang mana selama puluhan tahun diblokir oleh PKT.

Salah seorang pendiri Partai Demokrasi Tiongkok, Zhu Yufu, mengatakan bahwa terlalu banyak orang yang menyaksikan langsung Peristiwa 4 Juni sehingga bukti-buktinya tidak mungkin dihapus sepenuhnya oleh PKT.

“Masih ada orang-orang yang dahulu berada di dalam sistem pemerintahan yang tidak berani mengungkapkan kebenaran. Namun ketika seseorang mendekati akhir hidupnya, biasanya ia ingin mengatakan hal yang benar. Beban moral itu terlalu berat untuk dipikul seumur hidup. Kejahatan seperti ini tidak mungkin disembunyikan selamanya. PKT membantai begitu banyak anak muda di siang bolong. Siapa yang bisa menerima hal seperti itu?” ujarnya.

Zhu Yufu sendiri pernah memotret aksi pawai mahasiswa pada tahun 1989. Ia mengungkapkan bahwa bahkan sebelum penumpasan terjadi, berbagai daerah sudah mulai melakukan persiapan untuk penyelidikan dan pengawasan besar-besaran.

“Saat itu saya menjabat sebagai pimpinan serikat pekerja. Sebelum penindasan dimulai, aparat keamanan sudah memerintahkan kami untuk menyusup ke tengah mahasiswa, memotret kegiatan mereka, lalu menyerahkan foto-foto itu agar nantinya bisa digunakan untuk melakukan pembalasan setelah peristiwa berakhir,” katanya. 

Ia mengatakan bahwa setelah itu aparat berulang kali menggeledah rumahnya dan menangkapnya, dengan tujuan menghancurkan berbagai dokumen terkait Peristiwa 4 Juni.

“Mereka mengira dengan cara itu semua bukti di masyarakat akan hilang. Tetapi saya percaya selalu ada celah yang membuat kebenaran bocor keluar. Tidak ada seorang pun yang bisa menutupi langit dengan satu tangan.”

Perkiraan Korban Jauh Lebih Besar

Tiga puluh tujuh tahun telah berlalu sejak Peristiwa Tiananmen, namun PKT hingga kini belum pernah mengumumkan jumlah korban tewas secara resmi.

Sementara itu, dokumen diplomatik Inggris yang telah dideklasifikasi sebelumnya menyebut bahwa militer PKT sedikitnya menewaskan 10.000 orang dalam operasi penumpasan tersebut.

Saksi mata Peristiwa 4 Juni sekaligus sejarawan Tiongkok, Yu Luowen, berpendapat bahwa jumlah korban sesungguhnya kemungkinan jauh lebih besar daripada angka yang diketahui publik saat ini.

“Jumlah mahasiswa yang tewas pasti lebih dari 10.000 orang. Banyak mahasiswa datang dari luar Beijing. Jika warga Beijing atau mahasiswa setempat meninggal, kita mungkin masih bisa mengetahuinya. Tetapi mahasiswa dari daerah lain, siapa yang tahu? Bahkan keluarganya mungkin tidak pernah tahu bahwa anak mereka telah meninggal. Jika mereka bertanya, pemerintah mungkin hanya mengatakan bahwa anak mereka hilang. Karena itu jumlah korban yang sebenarnya sangat sulit dihitung,” ujarnya.

Pada tahun 1989, Yu tinggal di Beijing dan sering datang ke lokasi demonstrasi untuk mendukung para mahasiswa.

Ia mengenang: “Saat itu hampir seluruh masyarakat Beijing turun ke jalan. Banyak pegawai CCTV, penerbit, lembaga berita, dan berbagai kalangan masyarakat ikut mendukung mahasiswa.”

Menurut Yu, pada malam penumpasan berlangsung, ia dapat mendengar suara tembakan yang sangat intens dari rumahnya.

“Keesokan paginya, Lapangan Tiananmen sudah dibersihkan. Para mahasiswa telah diusir. Mereka yang tewas dan menjadi korban ditinggalkan di lokasi. Kawasan itu kemudian ditutup agar tidak ada yang bisa melihatnya. Setelah itu, helikopter terus-menerus mengangkut jenazah keluar dari lokasi. Korban meninggal sangat banyak,” ujarnya. 

Ia juga menyatakan bahwa pasukan militer saat itu menggunakan kendaraan lapis baja terhadap para mahasiswa, menembaki kerumunan yang sedang mundur, dan bahkan warga yang menyaksikan dari pinggir jalan juga terkena tembakan. Menurutnya, sebagian jenazah korban kemudian dimusnahkan dan dibuang untuk menghilangkan jejak.

“Peristiwa 4 Juni Adalah Aib Terbesar PKT”

Yu Luowen mengatakan bahwa Peristiwa Tiananmen menjadi titik balik bagi banyak anggota Partai Komunis sendiri.

“Peristiwa 4 Juni adalah aib terbesar Partai Komunis. Karena kejadian ini, banyak anggota partai memutuskan hubungan dengan PKT dan keluar dari partai. Bahkan anggota partai sendiri tidak dapat menerima apa yang terjadi. Mereka menganggap tindakan PKT saat itu terlalu kejam,” katanya. 

Hingga kini, PKT masih menerapkan sensor ketat terhadap segala informasi terkait Peristiwa Tiananmen. Akibatnya, banyak generasi muda di Tiongkok tidak mengetahui sejarah tersebut.

Meski demikian, di berbagai negara di luar Tiongkok, kegiatan peringatan setiap tanggal 4 Juni masih terus diselenggarakan setiap tahun.

Zhu Yufu menegaskan bahwa keluarga korban tidak pernah melupakan peristiwa itu. Mereka yang menyaksikan langsung penumpasan berdarah tersebut juga tidak melupakannya. Kini, generasi kedua keluarga korban telah tumbuh dewasa, dan ingatan sejarah mengenai Peristiwa Tiananmen akan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sumber : NTDTV.com

Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)
Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)
Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)
Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)
Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)
Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)
Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)
Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)
Beijing pada musim semi dan musim panas tahun 1989. (Epoch Times)

Jepang–Filipina Bentuk Aliansi Strategis Langka, Sinyal Bersama Menghadapi PKT Kian Kuat

EtIndonesia.com. Di tengah meningkatnya tekanan dan manuver agresif Partai Komunis Tiongkok (PKT) di Laut Tiongkok Selatan serta Selat Taiwan, Jepang dan Filipina mengambil langkah besar yang jarang terjadi dengan secara terbuka meningkatkan hubungan bilateral mereka. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. pada Kamis (28/5/2026) di Tokyo secara resmi mengumumkan peningkatan hubungan kedua negara menjadi “Kemitraan Strategis Komprehensif”.

Pengumuman tersebut dilakukan pada momen yang sangat sensitif, bertepatan dengan berlangsungnya pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping. Dalam pertemuan itu, Xi secara langsung mengkritik kebijakan penguatan pertahanan yang didorong Takaichi. Namun Trump tidak mengikuti narasi Beijing, bahkan menegaskan dukungannya terhadap upaya negara-negara sekutu untuk memperkuat kemampuan pertahanan mereka sendiri. 

Para analis menilai perkembangan ini menunjukkan munculnya pola baru koordinasi negara-negara Indo-Pasifik dalam menghadapi pengaruh PKT.

Pada 28 Mei, Takaichi dan Marcos Jr. bersama-sama mengumumkan bahwa hubungan Jepang-Filipina resmi ditingkatkan menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif. Kedua negara juga sepakat memperdalam kerja sama di bidang militer, keamanan, dan maritim.

Takaichi mengatakan: “Ini mencerminkan tekad kedua negara yang memiliki nilai dan prinsip yang sama untuk terus memperdalam hubungan secara berkelanjutan dan beragam, tanpa terpengaruh oleh perubahan situasi internasional.”

Marcos Jr. menyatakan: “Kami bersama-sama mengumumkan dimulainya perundingan Perjanjian Keamanan Menyeluruh Informasi Militer, serta konsultasi mengenai penetapan batas maritim.”

Kunjungan ini juga menjadi kunjungan kenegaraan resmi pertama seorang pemimpin Filipina ke Jepang dalam lebih dari satu dekade.

Banyak pengamat menilai peningkatan hubungan Jepang dan Filipina secara terbuka ini memiliki pesan strategis yang jelas terhadap PKT.

Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing terus meningkatkan tekanan militer di Laut Tiongkok Selatan, Laut Tiongkok Timur, dan Selat Taiwan. Kapal-kapal Filipina dan Tiongkok semakin sering terlibat konfrontasi di wilayah sengketa Laut Tiongkok Selatan, sementara Jepang berulang kali memperingatkan aktivitas militer PKT di sekitar Taiwan.

Kerja Sama Intelijen dan Pertahanan Diperkuat

Pengamat politik Li Linyi menilai bahwa kunjungan Marcos Jr. menghasilkan dua capaian utama. “Pertama, hubungan kedua negara ditingkatkan menjadi kemitraan strategis komprehensif. Kedua, kerja sama dan pertukaran intelijen ditingkatkan. Kedua hal ini sangat penting untuk membendung ekspansi PKT.”

Sementara itu, penasihat senior dari Taiwan Institute of Japan Studies, Chen Wenjia, mengatakan bahwa kawasan kini mulai menunjukkan kecenderungan koordinasi regional dalam menghadapi PKT.

“Kerja sama Jepang dan Filipina kini tidak lagi terbatas pada penjaga pantai, tetapi telah meluas ke latihan militer bersama, berbagi intelijen, hingga kerja sama peralatan pertahanan. Yang paling dikhawatirkan PKT bukanlah perlawanan dari satu negara, melainkan terbentuknya efek pengepungan terkoordinasi di sepanjang Rantai Pulau Pertama,” katanya. 

Rantai Pulau Pertama Dinilai Semakin Solid

Para analis menunjukkan bahwa posisi geografis Jepang dan Filipina memiliki arti strategis yang sangat penting.

Jepang berada di sisi utara Laut Tiongkok Timur dan Selat Taiwan, sementara Filipina menguasai jalur strategis di Selat Bashi dan bagian utara Laut Tiongkok Selatan. Kedua negara membentuk titik-titik kunci dalam konsep Rantai Pulau Pertama, yang selama ini dianggap sebagai garis pertahanan utama untuk membatasi pergerakan militer PKT ke Samudra Pasifik.

Chen Wenjia menambahkan: “Jika kerja sama keamanan antara Amerika Serikat dan Filipina semakin terlembagakan, Angkatan Laut PKT akan menghadapi pengawasan dan tekanan yang lebih besar saat beroperasi di Pasifik Barat. Inilah sebabnya PKT terus memperkuat kehadiran militernya di Laut Tiongkok Selatan dan Selat Taiwan, karena khawatir Rantai Pulau Pertama perlahan berkembang menjadi jaringan keamanan yang menyerupai aliansi.”

Menurutnya, dinamika keamanan di kawasan Indo-Pasifik ke depan akan semakin menyerupai persaingan strategis yang melibatkan banyak negara secara bersamaan, bukan sekadar konfrontasi langsung antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Laporan oleh Yi Xin dan Chang Chun, NTD Television

Aktivis HAM dan Komunitas Diaspora Protes Kunjungan Menlu Tiongkok ke Ottawa di Tengah Berlanjutnya Pelanggaran HAM di Tiongkok

EtIndonesia.com. Para aktivis hak asasi manusia (HAM) Kanada dan komunitas diaspora menggelar aksi unjuk rasa di komplek Parliament Hill selama dua hari pada pekan ini. Aksi mereka dalam rangka memrotes kunjungan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi. Mereka juga menyerukan diakhirinya berbagai pelanggaran HAM yang terus berlangsung di Tiongkok.

Wang tiba di Ottawa pada Rabu, (28/5/2026) dan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand serta Perdana Menteri Kanada Mark Carney pada Jumat (29/5/2026).

Anggota dari berbagai kelompok yang mengalami penganiayaan di Tiongkok, termasuk praktisi Falun Gong, warga Uyghur, Tibet, dan Hong Kong, menggelar protes di Ottawa terhadap penganiayaan yang dilakukan rezim komunis Tiongkok terhadap masyarakat di dalam negeri serta tindakan represi lintas negara yang dilakukan di Kanada. Anggota Komite Kanada dari Partai Demokrasi Tiongkok juga turut memprotes kunjungan Wang.

Wang bertemu dengan Anand di kantor Global Affairs Canada pada pagi hari 29 Mei, sementara para praktisi Falun Gong membentangkan spanduk di seberang jalan yang menyerukan penghentian penganiayaan terhadap sesama praktisi mereka di Tiongkok.

Para praktisi Falun Gong juga menggelar aksi di Parliament Hill sejak pagi hingga sore hari dengan membawa spanduk bertuliskan “Hentikan Intimidasi Tiongkok di Kanada,” “Hentikan Pengambilan Organ di Tiongkok,” dan “Hentikan Represi Lintas Negara PKT terhadap Falun Gong,” yang merujuk pada Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Para praktisi Falun Gong menggelar aksi protes di Ottawa saat Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand dan Perdana Menteri Mark Carney pada 29 Mei 2026. Evan Ning/The Epoch Times.

Setelah pertemuan Wang dengan Carney, para praktisi Falun Gong meneriakkan, “Hentikan penganiayaan terhadap Falun Gong,” saat iring-iringan kendaraan Wang melintas.

Falun Gong, yang juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah disiplin spiritual tradisional Tiongkok yang menggabungkan latihan meditasi dan ajaran moral berdasarkan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar.

Latihan ini mulai dianiaya di Tiongkok sejak 1999, ketika PKT memandang popularitasnya yang terus meningkat sebagai ancaman terhadap kekuasaannya dan bertekad untuk memberantasnya. Penganiayaan terhadap Falun Gong masih berlanjut hingga saat ini, dengan berbagai laporan mengenai penyiksaan, kerja paksa, indoktrinasi, pengawasan, pembunuhan, hingga pengambilan organ secara paksa dari orang yang masih hidup.

Para praktisi Falun Gong menggelar aksi protes di seberang kantor pusat Global Affairs Canada di Ottawa saat Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand pada 29 Mei 2026. Evan Ning/The Epoch Times.
Pada 29 Mei, Perdana Menteri Kanada Mark Carney dan Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand bertemu dengan Wang Yi. Pada saat yang sama, kelompok Falun Gong menggelar aksi protes di Parliament Hill terhadap penganiayaan dan penindasan lintas negara yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). (Ren Qiaosheng/The Epoch Times)
Pada 29 Mei, Perdana Menteri Kanada Mark Carney dan Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand bertemu dengan Wang Yi. Sementara itu, kelompok Falun Gong menggelar aksi protes di Parliament Hill untuk menentang penganiayaan dan penindasan lintas negara yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). (Ren Qiaosheng/The Epoch Times)
Pada 29 Mei, Perdana Menteri Kanada Mark Carney dan Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand bertemu dengan Wang Yi. Pada saat yang sama, kelompok Falun Gong menggelar aksi protes di Parliament Hill terhadap penganiayaan dan penindasan lintas negara yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). (Ren Qiaosheng/The Epoch Times)

Campur Tangan Beijing dalam Urusan Kanada

Ruth Collins, seorang praktisi Falun Gong dari Montreal, datang ke Ottawa untuk mengikuti aksi di Parliament Hill pada 29 Mei. Ia mengatakan kepada NTD, media saudara The Epoch Times, bahwa protes terhadap kunjungan Wang sangat penting mengingat gangguan yang baru-baru ini terjadi terhadap pertunjukan Shen Yun Performing Arts di Toronto serta berbagai upaya Beijing untuk menekan teater-teater di Kanada agar tidak mengizinkan pertunjukan tersebut berlangsung.

Shen Yun adalah kelompok seni tari dan musik klasik Tiongkok yang berbasis di New York dan didirikan pada 2006 oleh sejumlah seniman Tiongkok terkemuka. Misinya adalah menghidupkan kembali budaya tradisional Tiongkok yang menurut kelompok tersebut hampir hancur akibat puluhan tahun pemerintahan komunis. Kelompok ini melakukan tur dunia dengan slogan “Tiongkok Sebelum Komunisme,” dan banyak anggotanya merupakan praktisi Falun Gong.

Ruth Collins, seorang praktisi Falun Gong dari Montreal, menghadiri aksi unjuk rasa di Parliament Hill, Ottawa, selama kunjungan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi ke Kanada pada 29 Mei 2026. NTD

Penyelenggara Shen Yun di Kanada, Himpunan Falun Dafa Kanada, mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir Shen Yun menghadapi kampanye global yang semakin intensif untuk menghentikan pertunjukannya melalui tekanan diplomatik, gugatan hukum yang tidak berdasar, dan sekitar 150 ancaman bom palsu di berbagai negara.

“Sangat penting bagi kami untuk berada di sini. Setidaknya jika para pejabat Tiongkok melihat spanduk-spanduk ini, mungkin mereka akan memahami bahwa kami tidak menginginkan campur tangan Tiongkok di Kanada,” kata Collins.

Collins mengatakan bahwa berlatih Falun Gong telah mengubah cara hidupnya, cara berbicara kepada orang lain, dan cara ia menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan sehari-hari.

“Sejati, Baik, dan Sabar adalah fokus utama dalam hidup saya. Prinsip itu menjadi ukuran apakah yang saya lakukan benar atau salah. Jika sesuatu tidak sesuai dengan Sejati, Baik, dan Sabar, berarti saya harus memperbaiki diri, melihat ke dalam diri sendiri, dan berubah,” ujarnya.

Penganiayaan terhadap Uyghur di Tiongkok

Dalam siaran pers tertanggal 28 Mei, Uyghur Rights Advocacy Project (URAP) menyatakan bahwa aksi solidaritas yang berhasil telah digelar di Parliament Hill pada hari itu, mempertemukan aktivis Uyghur, Hong Kong, Tibet, dan kelompok HAM lainnya untuk menyerukan “akuntabilitas dan nilai-nilai demokrasi dalam kebijakan luar negeri Kanada.”

Kelompok-kelompok tersebut mendesak pemerintah federal Kanada agar “menghadapi pelanggaran HAM yang terus berlangsung di Tiongkok dan menolak setiap upaya normalisasi hubungan diplomatik yang mengabaikan akuntabilitas.”

Mehmet Tohti, direktur eksekutif Uyghur Rights Advocacy Project, terlihat di Ottawa pada 11 Juli 2023. The Canadian Press/Sean Kilpatrick.

“Kita tidak bisa menormalisasi hubungan dengan pemerintah Tiongkok ketika warga Uyghur masih dipenjara, keluarga-keluarga masih dipisahkan, dan para korban penindasan masih mencari keadilan,” kata Direktur Eksekutif URAP, Mehmet Tohti.

“Kerja sama ekonomi tidak boleh mengorbankan hak asasi manusia.”

Kelompok itu mendesak Carney dan Anand untuk secara terbuka menyampaikan kekhawatiran kepada Wang mengenai penahanan massal dan pengawasan terhadap warga Uyghur di Tiongkok, praktik kerja paksa yang masih berlangsung, penyalahgunaan rantai pasokan, serta represi lintas negara yang menargetkan warga Uyghur dan aktivis HAM di Kanada.

Anggota Komite Kanada dari Partai Demokrasi Tiongkok menggelar aksi protes di Ottawa saat Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand dan Perdana Menteri Mark Carney pada 29 Mei 2026. NTD.

Pemerintah Kanada sendiri telah mengakui adanya kerja paksa di Tiongkok. Dalam siaran pers tahun 2021, Global Affairs Canada menyatakan bahwa “bukti menunjukkan bahwa kerja paksa terhadap warga Uyghur dan kelompok etnis minoritas lainnya terjadi tidak hanya di Xinjiang, tetapi juga di seluruh Tiongkok.”

Selain itu, pada Desember 2024, Kanada menjatuhkan sanksi terhadap delapan pejabat senior Tiongkok, baik yang masih menjabat maupun mantan pejabat, atas keterlibatan mereka dalam penganiayaan terhadap praktisi Falun Dafa, warga Uyghur, dan warga Tibet.

Dalam pernyataan resminya pada 2024, Global Affairs Canada menyebut bahwa kelompok-kelompok tersebut menjadi sasaran berbagai bentuk penindasan oleh rezim Beijing, termasuk penahanan sewenang-wenang, kerja paksa, dan pembatasan kebebasan beragama atau berkeyakinan.

“Wang Yi, Menteri Luar Negeri Tiongkok, adalah salah satu arsitek utama, pelaksana, dan pembela kejahatan kemanusiaan yang dilakukan pemerintah Tiongkok, termasuk genosida yang masih berlangsung, penghapusan budaya, dan represi lintas negara yang menargetkan warga Uyghur, Tibet, dan Hong Kong,” tulis Tohti di platform X pada 24 Mei.

“Kunjungannya tidak boleh berlalu tanpa protes yang kuat.”

Koalisi Kanada Desak Anita Anand

Koalisi Kanada untuk Hak Asasi Manusia di Tiongkok dalam surat tertanggal 28 Mei juga mendesak Anand untuk mengangkat isu HAM dan campur tangan asing dalam pertemuannya dengan Wang.

Di antara sejumlah kasus tahanan yang disebutkan, koalisi meminta Anand menyoroti nasib penerbit Hong Kong Jimmy Lai, yang dijatuhi hukuman 20 tahun penjara pada Februari, serta aktivis HAM Uyghur berkewarganegaraan Kanada, Huseyin Celil, yang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada 2006 dan selama 20 tahun tidak diberi akses konsuler.

“Kami meminta agar Pemerintah Kanada menuntut Tiongkok berkomitmen untuk tidak lagi melakukan diplomasi sandera dan intimidasi lintas batas wilayah, serta mencabut seluruh sanksi hukuman terhadap warga Kanada jika ‘kemitraan strategis’ antara Kanada dan Tiongkok ingin dilanjutkan,” kata koalisi tersebut.

Koalisi itu juga menyatakan keprihatinan atas nota kesepahaman antara Kepolisian Berkuda Kerajaan Kanada (RCMP) dan Kementerian Keamanan Publik Tiongkok, serta mendesak adanya transparansi penuh dan pengawasan parlemen sebelum kerja sama lebih lanjut dilakukan.

Koalisi tersebut terdiri dari sejumlah organisasi, termasuk Canada-Hong Kong Link, Canada Tibet Committee, Falun Dafa Association of Canada, Raoul Wallenberg Centre for Human Rights, Uyghur Rights Advocacy Project, dan Toronto Association for Democracy in China.

Wang Bertemu Anand dan Carney

Anand menyampaikan pernyataan terbuka sebelum bertemu Wang. Ia mengatakan bahwa Carney dan pemimpin Tiongkok Xi Jinping telah membangun “visi ambisius” untuk “hubungan yang dikalibrasi ulang” antara Kanada dan Tiongkok, tetapi masing-masing negara harus menangani berbagai isu dan prioritas penting guna menjamin keselamatan dan keamanan rakyat mereka.

Pada 29 Mei, saat iring-iringan kendaraan Wang Yi meninggalkan kantor Perdana Menteri Kanada, kelompok Falun Gong menggelar aksi protes terhadap penganiayaan dan penindasan lintas negara yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok (PKT). (Evan Ning/The Epoch Times)
Pada 29 Mei, saat iring-iringan kendaraan Wang Yi memasuki kantor Perdana Menteri Kanada untuk bertemu dengan Mark Carney, kelompok Falun Gong menggelar aksi protes terhadap penganiayaan dan penindasan lintas negara yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok (PKT). (Evan Ning/The Epoch Times)
Pada 29 Mei, iring-iringan kendaraan Wang Yi memasuki kantor Perdana Menteri Kanada untuk melakukan pertemuan dengan Mark Carney. Pada saat yang sama, kelompok Falun Gong menggelar aksi protes terhadap penganiayaan dan penindasan lintas negara yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). (Evan Ning/The Epoch Times)
Pada 29 Mei, iring-iringan kendaraan Wang Yi memasuki kantor Perdana Menteri Kanada untuk bertemu dengan Mark Carney. Di saat yang sama, kelompok Falun Gong menggelar aksi protes terhadap penganiayaan dan penindasan lintas negara yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). (Evan Ning/The Epoch Times)
Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi mengunjungi Parliament Hill di Ottawa pada 29 Mei 2026. Evan Ning/The Epoch Times.

Anand juga mengatakan kepada Wang bahwa Kanada menargetkan peningkatan ekspor ke Tiongkok sebesar 50 persen pada 2030, sembari tetap “melindungi kepentingan ekonomi, keamanan nasional, dan nilai-nilai Kanada.”

Dalam sambutan pembukaannya, Wang mengatakan bahwa interaksi antara Ottawa dan Beijing meningkat secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir, yang menurutnya menunjukkan kedua pihak bersedia memperbaiki hubungan.

Ia juga mengatakan bahwa hubungan bilateral telah mengalami “pasang surut” yang memberikan “banyak pelajaran penting.”

Selain itu, Wang menyampaikan bahwa Carney telah diundang untuk menghadiri Konferensi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Tiongkok pada November mendatang.

Carney bertemu Wang di kantornya yang berada di seberang Parliament Hill pada 29 Mei. Namun, sejumlah langkah diambil untuk membatasi liputan media terhadap pertemuan tersebut.

Awalnya hanya fotografer resmi yang diizinkan mengambil gambar jabat tangan antara Carney dan Wang. Setelah mendapat protes dari Parliamentary Press Gallery, media akhirnya diperbolehkan masuk sebentar ke kantor Carney untuk merekam momen jabat tangan tersebut selama kurang dari 30 detik.

Baik Carney maupun Wang tidak memberikan komentar kepada wartawan, dan tidak ada konferensi pers yang dijadwalkan pada hari itu.

Kunjungan terakhir Wang ke Kanada terjadi pada 2016. Saat itu ia mengkritik seorang wartawan Kanada yang mengajukan pertanyaan mengenai hak asasi manusia di Tiongkok dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Kanada saat itu, Stéphane Dion.

Kunjungan Wang kali ini berlangsung setelah Carney mengunjungi Tiongkok pada Januari lalu ketika pemerintahannya berupaya mempererat hubungan dengan Beijing. Selama kampanye pemilu 2025, Carney pernah menyebut Tiongkok sebagai ancaman keamanan terbesar bagi Kanada. Namun dalam kunjungannya ke Tiongkok tahun ini, ia mengatakan bahwa hubungan Ottawa dan Beijing telah memasuki “era baru” dan kedua negara berada dalam “kemitraan strategis”.

Noé Chartier turut berkontribusi dalam laporan ini.

Sumber : Theepochtimes.com

Mengapa Gula Memberi Rasa Tenang Sesaat, tetapi Membebani Tubuh Anda?

Gula meminjam ketenangan dari otak dan membebankan biayanya kepada tubuh.

Oleh Rachel Ann T. Melegrito

Gula adalah mekanisme pelarian yang paling diterima secara sosial di dunia. Setelah hari yang panjang di tempat kerja, banyak orang menikmati cokelat panas, memakan sepotong cokelat, atau membuka minuman manis—dan benar-benar merasa lebih baik.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa meskipun otak mungkin merasa lebih tenang, tubuh sebenarnya masih berada dalam kondisi stres.

Sebuah studi baru yang dipublikasikan dalam International Journal of Psychophysiology meneliti apakah gula memengaruhi tubuh selama aktivitas yang menenangkan seperti pijat dan istirahat santai.

Para peneliti mempelajari 94 orang dewasa sehat yang secara acak dibagi ke dalam empat kelompok: glukosa plus pijat, glukosa plus istirahat, air putih plus pijat, dan air putih plus istirahat. Setelah itu, para peserta menjalani tugas yang memerlukan perhatian berkelanjutan.

Minuman glukosa yang digunakan mengandung 75 gram glukosa yang dilarutkan dalam air—setara dengan kandungan gula dalam sekitar dua kaleng minuman bersoda biasa, atau sekitar 20 sendok teh gula.

Peneliti mengukur kadar glukosa darah, tekanan darah, aktivitas jantung, dan sinyal dari sistem tubuh yang mengatur kewaspadaan maupun relaksasi selama eksperimen berlangsung. Kadar glukosa darah diukur sebelum minum, sebelum sesi pijat atau istirahat, dan kembali diukur sebelum tugas perhatian dilakukan.

Hasilnya menunjukkan bahwa pijat dan istirahat tetap memberikan efek yang diharapkan: peserta merasa lebih rileks dan tubuh mereka menunjukkan tanda-tanda relaksasi yang jelas. Namun, pada peserta yang mengonsumsi glukosa, sebagian sistem kewaspadaan tubuh tidak sepenuhnya mereda, yang menunjukkan bahwa gula dapat menghambat tubuh untuk benar-benar mencapai keadaan rileks.

“Gula meminjam ketenangan sesaat dari sistem dopamin dan membebankan bunganya pada kesehatan metabolisme Anda,” kata Grant Antoine, dokter naturopati dan pemimpin klinis nutrisi presisi di Viome, kepada The Epoch Times.

Menurutnya, meskipun otak merasakan kenyamanan, tubuh mungkin masih menjalankan respons stres di balik layar.

Ketenangan yang Anda Rasakan Bukanlah Ketenangan yang Sebenarnya

Rasa nyaman yang ditimbulkan oleh gula tampaknya terutama berasal dari sistem penghargaan (reward system) di otak, bukan dari respons relaksasi seluruh tubuh.

“Rasa tenang yang dirasakan orang setelah mengonsumsi gula merupakan peristiwa neurokimia dalam sistem penghargaan otak,” kata Antoine, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Menurutnya, rasa tenang itu tidak meluas ke sistem kardiovaskular, sistem saraf, maupun hormon stres yang tetap aktif di balik layar.

“Itulah sebabnya camilan manis dapat secara diam-diam menghapus manfaat dari latihan pernapasan atau meditasi,” katanya.

Meskipun otak merasakan kenyamanan sesaat, “tubuh tidak pernah benar-benar menghentikan program stresnya.”

Kara Seidman, ahli gizi dan direktur kemitraan di Resbiotic Nutrition, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa glukosa meningkatkan aktivitas stres dan membuat tubuh lebih sulit rileks, bahkan ketika seseorang menjalani aktivitas yang menenangkan seperti pijat.

“Ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara rasa tenang yang dirasakan dan tingkat stres fisiologis yang sebenarnya,” ujarnya.

Gula Mengirimkan Sinyal Stres ke Tubuh

Tubuh bereaksi terhadap apa yang beredar dalam aliran darah.

“Lonjakan gula darah itu sendiri merupakan faktor pemicu stres,” kata Antoine.

Peningkatan kadar gula darah mengaktifkan respons “lawan atau lari” (fight-or-flight) tubuh, yang meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah.

“Biasanya perubahan seperti ini hanya terlihat saat tubuh mengalami peningkatan stres, seperti ketika berolahraga. Namun penelitian pada manusia menunjukkan bahwa hal ini juga dapat terjadi bahkan saat sedang beristirahat,” katanya.

Yang terjadi setelah lonjakan gula darah sering kali lebih buruk. Ketika kadar gula darah turun di bawah tingkat normal, tubuh menganggapnya sebagai keadaan darurat dan melepaskan kortisol serta adrenalin—dua hormon stres—untuk mengimbanginya.

“Satu kali konsumsi gula sebenarnya dapat memicu dua gelombang aktivasi stres: satu saat gula darah melonjak dan satu lagi saat gula darah menurun,” kata Antoine.

Yang penting untuk dipahami, tidak ada batas pasti mengenai jumlah gula yang menyebabkan lonjakan gula darah. Efeknya sangat bergantung pada dosis dan kondisi masing-masing individu.

Faktor seperti makanan lain yang dikonsumsi, sensitivitas insulin seseorang, tingkat aktivitas fisik, dan apakah seseorang sudah berada dalam kondisi stres dapat memengaruhi respons tubuh.

Sebagai gambaran, studi ini menggunakan dosis glukosa yang setara dengan jumlah yang digunakan dalam tes toleransi glukosa oral—yakni dosis gula tinggi yang dirancang untuk meningkatkan kadar gula darah secara cepat.

Penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi gula sebelum menghadapi situasi yang menegangkan dapat memperkuat respons hormonal tubuh. Dalam salah satu penelitian, orang yang mengonsumsi glukosa sebelum menjalani tes stres sosial—seperti berpidato atau melakukan perhitungan matematika di depan umum—mengalami lonjakan kortisol yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi glukosa.

Mereka yang sistem respons stresnya sudah terganggu, seperti orang yang mengalami stres kronis, kurang tidur, atau kelelahan berat (burnout), kemungkinan mengalami dampak yang lebih besar. Kadar kortisol mereka cenderung meningkat lebih tinggi dan bertahan lebih lama.

Pada tingkat biologis, kadar gula darah yang tinggi memberi sinyal bahwa energi tersedia dan kondisi mendukung aktivitas, bukan istirahat. Otak kemudian merespons dengan menggeser tubuh ke kondisi yang lebih waspada dan siap bertindak.

Mengapa Kita Menginginkan Gula Saat Stres?

Ada sejumlah faktor biologis dan psikologis yang mendorong kita mencari makanan manis ketika sedang stres.

Kortisol meningkatkan nafsu makan dan memicu keinginan terhadap makanan tinggi kalori.

Stres juga meningkatkan kadar ghrelin, hormon pemicu rasa lapar, yang memperkuat dorongan untuk makan.

Menurut Antoine, stres kronis dapat membuat otak menjadi “setengah tuli” terhadap leptin, hormon yang memberi sinyal rasa kenyang.

“Akibatnya, Anda merasa lebih lapar daripada biasanya dan kurang mampu mengenali kapan Anda sudah cukup makan,” katanya.

Selain itu, gula memang bekerja—setidaknya untuk sementara waktu.

Penelitian menunjukkan bahwa gula dapat meredam respons stres dengan menekan aktivitas pada sumbu HPA (hypothalamic-pituitary-adrenal axis), yaitu bagian dari sistem stres yang membantu menjaga tubuh tetap waspada dan berenergi selama periode stres berkepanjangan.

Namun, efek ini hanya berlangsung singkat.

“Rasa lega itu hanya bertahan sebentar sebelum siklusnya dimulai kembali dan menuntut dosis berikutnya,” kata Antoine.

Gula juga jarang dikonsumsi sendirian. Biasanya gula dikaitkan dengan aktivitas yang menenangkan, seperti duduk santai, menonton sesuatu, atau menghabiskan waktu bersama orang lain, sehingga rasa nyaman yang muncul menjadi semakin kuat.

Karena gula mampu meredakan stres—meskipun hanya sementara—seseorang akan lebih cenderung mencarinya kembali saat merasa tertekan di kemudian hari.

Dan menurut Antoine, keinginan tersebut cenderung semakin kuat setiap kali terulang.

Harga yang Harus Dibayar dalam Jangka Panjang

Seiring waktu, siklus ini akan memberikan dampak negatif.

Ketika gula terus-menerus digunakan sebagai cara untuk meredakan stres, kadar insulin dan kortisol dapat meningkat secara bersamaan, menciptakan efek tarik-menarik.

Satu hormon berusaha menyimpan energi, sementara hormon lainnya berusaha menjaga energi tetap beredar.

Sel-sel tubuh dapat menjadi kurang responsif terhadap insulin, dan kadar gula darah yang terus tinggi dapat memicu peradangan, sehingga meningkatkan risiko berbagai penyakit seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.

Dr. Deepak Bhatt, ahli jantung intervensi dan direktur Mount Sinai Fuster Heart Hospital, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa minuman manis, makanan cepat saji seperti burger dan kentang goreng, pizza, serta berbagai hidangan penutup umumnya mengandung kalori kosong dan lemak yang tidak sehat.

Ketika makan karena stres menjadi kebiasaan, hal itu juga dapat menyebabkan kenaikan berat badan, yang merupakan faktor risiko utama bagi diabetes dan penyakit jantung.

Namun semua ini tidak berarti Anda harus sepenuhnya menghindari gula atau merasa bersalah ketika mengonsumsinya.

Rasa nyaman yang diberikan gula memang nyata, tetapi hanya sebagian.

Memahami bagaimana gula memengaruhi otak dan tubuh dapat membantu seseorang membuat pilihan yang lebih bijaksana, terutama saat menghadapi stres.

Merasa lebih baik bukan hanya soal mendapatkan kenyamanan sesaat, melainkan juga memberi kesempatan kepada tubuh untuk benar-benar kembali ke keadaan istirahat dan pemulihan.


Rachel Melegrito pernah bekerja sebagai terapis okupasi yang menangani kasus-kasus neurologis. Ia juga mengajar mata kuliah ilmu dasar dan terapi okupasi profesional di universitas. Pada 2019, ia meraih gelar magister dalam bidang perkembangan dan pendidikan anak. Sejak 2020, Melegrito secara luas menulis artikel mengenai kesehatan untuk berbagai publikasi dan merek.

Rahasia Fisiologis di Balik Kemampuan Mengambil Keputusan Saat Tertekan

Serangkaian penelitian Angkatan Laut Amerika Serikat mengeksplorasi bagaimana keselarasan antara jantung dan otak dapat membantu mencapai kinerja puncak di bawah tekanan.

Oleh Rakefet Tavor

Setelah beberapa tabrakan yang melibatkan kapal perang Amerika Serikat antara tahun 2017 hingga 2019, salah satunya menewaskan tujuh pelaut, pimpinan Angkatan Laut AS melakukan penyelidikan terhadap penyebab insiden tersebut.

Laporan tahun 2019 yang diterbitkan oleh Naval Health Research Center menyatakan bahwa “masalah dalam pengambilan keputusan di antara awak kapal mungkin merupakan faktor penting yang berkontribusi” terhadap kecelakaan tersebut dan bahwa “stres mungkin turut berperan.”

“Para pelaut di kapal menghadapi tingkat stres yang tinggi karena operasi di atas kapal memiliki berbagai faktor stres yang unik dan sering kali intens, yang memengaruhi kesiapan personel militer,” demikian bunyi laporan tersebut. “Meskipun stres terkadang dapat menjadi motivasi, paparan terhadap faktor stres yang intens atau berkepanjangan memiliki dampak negatif yang telah terdokumentasi dengan baik terhadap pengambilan keputusan dan kinerja operasional.”

Untuk mencegah kecelakaan serupa di masa depan, Naval Health Research Center meneliti sejumlah program yang dapat membantu para pelaut belajar mengatasi stres secara efektif, mempertahankan fokus di bawah tekanan, dan memperkuat kemampuan mereka menghadapi situasi yang sulit dan berbahaya. Salah satu program tersebut adalah Stress Resilience Training System, yang dikembangkan bersama HeartMath Institute yang berbasis di California.

Sebagai bagian dari program tersebut, 92 awak dari sebuah kapal masing-masing diberikan iPad yang telah dilengkapi aplikasi khusus dengan sistem biofeedback yang menampilkan aktivitas jantung pengguna secara waktu nyata (real-time). Aplikasi tersebut memuat berbagai simulasi yang memungkinkan peserta mempraktikkan teknik yang diajarkan kepada mereka, seperti latihan pernapasan dan metode mengubah emosi dalam berbagai skenario yang menantang.

Tujuan latihan tersebut adalah mengubah perasaan stres dengan cepat dan menggantinya dengan emosi positif seperti rasa syukur atau kasih sayang terhadap orang yang dicintai.

Untuk menilai dampak program tersebut, para awak kapal mengikuti serangkaian tes kognitif yang dilakukan dua kali: pada awal penelitian dan setelah delapan minggu menggunakan aplikasi. Tes tersebut mengukur kemampuan pengambilan keputusan, kecepatan pemrosesan informasi, perhatian, dan perencanaan.

Pada akhir periode delapan minggu, peningkatan paling signifikan ditemukan pada skor tes pengambilan keputusan, yang meningkat rata-rata sebesar 65 persen. Kecepatan pemrosesan informasi juga meningkat, meskipun lebih kecil, yaitu sebesar 14 persen.

Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Jawabannya terletak pada perubahan aktivitas jantung, suatu bidang yang telah dipelajari oleh tim peneliti HeartMath selama bertahun-tahun.

Pada tahun 1995, tim tersebut melakukan penelitian awal yang meneliti hubungan antara emosi dan aktivitas jantung, serta bagaimana aktivitas tersebut selanjutnya memengaruhi fungsi otak.

Penelitian itu menemukan hubungan antara emosi yang dialami seseorang dan ukuran fisiologis yang disebut variabilitas denyut jantung (heart rate variability atau HRV), yaitu pengukuran fluktuasi kecil dalam denyut jantung atau perbedaan interval waktu antar denyut jantung.

Di masa lalu, denyut jantung yang stabil dianggap sebagai tanda kesehatan yang baik. Namun kini diketahui bahwa variabilitas yang lebih tinggi (HRV tinggi) justru menunjukkan fleksibilitas fisiologis yang lebih baik.

Fleksibilitas ini menandakan bahwa jantung dan sistem saraf dapat beradaptasi secara efisien terhadap perubahan kebutuhan tubuh, seperti mempercepat denyut jantung saat beraktivitas fisik dan memperlambatnya saat beristirahat.

Seseorang dengan HRV tinggi cenderung lebih mampu menghadapi aktivitas fisik, stres, dan perubahan lingkungan.

Dalam penelitian tahun 1995 tersebut, peneliti utama Rollin McCraty dan rekan-rekannya meminta peserta memasuki dua kondisi emosional yang berlawanan: mengingat suatu peristiwa yang membuat mereka marah dan membangkitkan rasa penghargaan terhadap seseorang.

Analisis aktivitas listrik jantung mereka menunjukkan perbedaan yang mencolok. Ketika peserta merasa marah, hanya terjadi peningkatan pada pita frekuensi rendah. Sebaliknya, ketika mereka merasakan penghargaan atau rasa syukur, terjadi peningkatan pada frekuensi rendah maupun tinggi. Perbedaan ini memengaruhi HRV para peserta.

Dari Kekacauan Menuju Koherensi

Dalam penelitian lain yang diterbitkan setahun kemudian, para peneliti memperdalam analisis mereka terhadap data HRV.

Dalam penelitian tersebut, 20 peserta diminta menggunakan latihan pernapasan dan meditasi untuk membangkitkan emosi positif seperti penghargaan, kepedulian, atau cinta kasih.

Para peneliti memeriksa data HRV beberapa menit sebelum dan sesudah latihan.

Ketika hasilnya digambarkan dalam grafik, terlihat perubahan yang sangat jelas: grafik berubah dari pola yang kacau menjadi jauh lebih halus dan teratur.

Beberapa tahun kemudian, para peneliti HeartMath mendefinisikan pola tersebut sebagai “koheren”, yang mencerminkan pengaruh positif emosi terhadap ritme jantung.

“Saat kita merasakan stres, frustrasi, kemarahan, kecemasan, atau kekhawatiran, pola ritme jantung menjadi bergerigi dan tidak teratur, dan sinyal itu dikirim dari jantung ke otak,” kata Deborah Rozman, salah satu peneliti utama HeartMath, dalam sebuah kuliah yang dipublikasikan oleh Science and Nonduality.

“Ketika kita merasakan cinta, kepedulian yang tulus, belas kasih, kebaikan, dan penghargaan—semua kualitas yang kita kaitkan dengan hati—kita melihat gelombang sinus yang indah, sebuah pola koheren, dan otak jantung mengirimkan pola tersebut ke otak di kepala.”

Menurutnya, ketika sinyal yang teratur seperti itu mencapai otak, hal tersebut berkontribusi pada sinkronisasi global di dalam otak sehingga otak dapat beroperasi pada kapasitas optimalnya.

Dalam sebuah artikel tinjauan yang diterbitkan pada tahun 2009, para peneliti menjelaskan bahwa mereka mengukur gelombang alfa di otak dan mengamati sinkronisasinya dengan denyut jantung. Mereka juga menemukan frekuensi tertentu ketika denyut jantung menjadi stabil dalam pola sinusoidal.

Penelitian tambahan menunjukkan adanya korelasi antara gelombang alfa otak dan aktivitas jantung selama kondisi emosional tertentu.

McCraty dan rekan-rekannya berpendapat bahwa dalam keadaan koheren, jantung yang merupakan osilator ritmis yang kuat dapat menyelaraskan ritme sistem tubuh lainnya sehingga ikut tersinkronisasi.

Dengan kata lain, jantung “menarik” pernapasan, tekanan darah, bahkan ritme otak lainnya agar selaras dengan frekuensinya, menciptakan sinkronisasi harmonis di seluruh tubuh.

McCraty menjelaskan bahwa sinkronisasi ini meluas melampaui otak dan memengaruhi berbagai sistem tubuh lainnya, yang kemudian menyatu dalam pola yang teratur dan harmonis.

Institut tersebut segera menemukan bahwa proses biofeedback—di mana seseorang menerima umpan balik langsung mengenai perubahan fisiologis pada aktivitas jantungnya—dapat membantu mengubah kondisi emosional dan fisiologis seseorang.

Melalui teknik yang memperkuat emosi positif, seseorang dapat mencapai keadaan “koherensi” dengan relatif efektif.

Lebih dari Sekadar Kinerja di Bawah Tekanan

Keadaan koheren menawarkan banyak manfaat.

Dari sisi kesehatan dan fisiologi, berbagai penelitian menunjukkan bahwa keadaan koheren membantu menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi dan mengurangi rasa sakit pada penderita nyeri kronis.

Efek serupa juga ditemukan pada aspek mental. Keadaan koheren membantu perempuan yang mengalami depresi pascamelahirkan dan pasien yang berjuang menghadapi gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Para peneliti HeartMath menjelaskan bahwa koherensi muncul dari interaksi antara dua sistem saraf utama dalam tubuh:

  • Sistem saraf simpatik, yang bertanggung jawab membangkitkan tubuh saat stres dan mengaktifkan respons “lawan atau lari”.
  • Sistem saraf parasimpatik, yang mendorong kondisi tenang dan pemulihan.

Rozman menjelaskan bahwa dalam keadaan koheren, “sistem saraf simpatik dan parasimpatik tersinkronisasi sehingga kekuatan keduanya bekerja bersama.”

Dengan kata lain, ketika kita mengalami kemarahan, frustrasi, atau emosi negatif lainnya, tidak ada koordinasi antara kedua sistem tersebut dan masing-masing berusaha memengaruhi denyut jantung ke arah yang berlawanan.

Sebaliknya, ketika kita menunjukkan kepedulian, kebaikan, belas kasih, cinta, atau rasa syukur, kedua sistem tersebut bekerja secara terkoordinasi sehingga menghasilkan ritme jantung yang seimbang dan harmonis.

Koherensi Bukan Sekadar Relaksasi

Para peneliti menjelaskan bahwa terdapat perbedaan penting antara relaksasi dan koherensi.

Dalam keadaan relaksasi, tubuh hanya “menurunkan gigi.” Sistem saraf menjadi tenang, denyut jantung menjadi seragam, dan aktivitas sistem parasimpatik meningkat.

Tubuh berada dalam kondisi istirahat mendalam atau keadaan “energi rendah.”

Sebaliknya, dalam keadaan koheren, jantung dan otak bekerja bersama secara tersinkronisasi dan harmonis.

Kita merasa tenang dan fokus, tetapi tetap penuh vitalitas.

Tubuh beroperasi pada frekuensi yang teratur sehingga mampu merespons lingkungan dengan lebih baik dan lebih seimbang.

Hubungan dengan Intuisi

Sebuah penelitian menarik yang dilakukan McCraty dan rekan-rekannya bahkan menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas jantung yang koheren dan meningkatnya intuisi.

Sebanyak 26 peserta yang telah terlatih dalam teknik HeartMath dan mampu memasuki keadaan koheren mengikuti eksperimen yang menampilkan 45 gambar: 15 gambar yang membangkitkan emosi dan 30 gambar yang menenangkan.

Eksperimen dilakukan dalam dua putaran. Pada satu putaran peserta diminta mempertahankan keadaan koheren, sedangkan pada putaran lainnya mereka berada dalam kondisi normal.

Urutan putaran ditentukan secara acak untuk setiap peserta.

Aktivitas jantung peserta direkam sepanjang eksperimen.

Hasilnya menunjukkan bahwa denyut jantung peserta melambat secara signifikan sebelum gambar yang membangkitkan emosi ditampilkan, sedangkan perlambatan serupa tidak terjadi sebelum gambar yang menenangkan.

Dengan kata lain, jantung tampak merespons secara intuitif. Jantung mulai memperlambat ritmenya sebelum gambar emosional muncul, seolah-olah mempersiapkan tubuh menghadapi apa yang akan datang.

Sebelum gambar yang menenangkan ditampilkan, denyut jantung tetap relatif stabil karena tubuh secara intuitif “merasakan” bahwa tidak diperlukan persiapan emosional.

Ketika peserta berada dalam keadaan koheren, efek intuitif tersebut menjadi lebih jelas.

Sebelum setiap rangkaian gambar ditampilkan, peserta berusaha memusatkan perhatian pada jantung sambil mempertahankan emosi positif seperti rasa syukur atau kepedulian selama beberapa saat.

Sebagian peserta—terutama perempuan—menunjukkan perlambatan denyut jantung yang signifikan sebelum stimulus emosional di masa depan, yang mengindikasikan bahwa keadaan koheren mungkin meningkatkan sensitivitas intuitif.

“Jantung mengirimkan sinyal saraf yang berbeda ke otak, hingga mencapai lobus frontal, dan otak merespons sebelum komputer secara acak memilih gambar yang akan ditampilkan,” kata Rozman.

“Apa yang kami temukan adalah bahwa orang-orang yang terlatih dalam koherensi jantung lebih terhubung dengan bimbingan intuitif dari jantung.”

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh Epoch Magazine Israel.