EtIndonesia. Pesawat Cathay Pacific penerbangan CX156 yang terbang dari Brisbane, Australia menuju Hong Kong pada Sabtu (23/5/2026), mengalami turbulensi di tengah perjalanan sehingga menyebabkan 8 penumpang dan awak kabin mengalami luka ringan akibat benturan. Setelah kabar tersebut tersebar, Bandara Internasional Hong Kong di Chek Lap Kok mengerahkan sejumlah ambulans untuk bersiaga di lokasi. Pesawat akhirnya mendarat dengan selamat, dan petugas medis segera memeriksa para korban serta membawa mereka ke rumah sakit untuk perawatan.
Menurut situs resmi Cathay Pacific, pesawat tersebut tiba di Hong Kong sekitar pukul 06.41 pagi hari ini.
Media Hong Kong melaporkan bahwa Cathay Pacific menyatakan setelah penerbangan mendarat pada pukul 06.45 waktu Hong Kong, petugas medis segera naik ke pesawat untuk memeriksa kondisi beberapa penumpang dan awak kabin yang merasa tidak sehat, serta memberikan penanganan yang diperlukan.
Korban terdiri dari dua penumpang perempuan dan satu penumpang laki-laki, serta lima awak kabin — empat pria dan satu wanita. Semua korban dilaporkan dalam keadaan sadar.
Sekitar pukul 08.15 pagi, ambulans secara bertahap membawa kedelapan korban ke Rumah Sakit North Lantau. Terlihat salah satu pramugari mengenakan penyangga leher (neck brace).
EtIndonesia. Pada 23 Mei 2026, media Zhejiang melaporkan bahwa seorang lansia berusia 80 tahun di Jiaxing, Zhejiang, masih bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan pertamanan dengan gaji bulanan sekitar 3.400 yuan. Ditambah uang pensiunnya, total pendapatan bulanannya mencapai 7.000 yuan.
Saat ini, lansia tersebut bertugas melakukan pekerjaan ringan sesuai kemampuannya di perusahaan itu. Ia mengatakan kepada wartawan bahwa setelah pensiun ia merasa “bosan” jika hanya tinggal di rumah, sehingga memutuskan mencari pekerjaan paruh waktu. Sebagian besar uang yang diperolehnya diberikan untuk cicitnya, digunakan untuk biaya pendidikan dan kebutuhan hidup. Ia juga memegang prinsip: “Selama masih mampu bekerja, maka harus bekerja.”
Berita tersebut dengan cepat menyebar di internet dan memicu banyak komentar emosional dari netizen:
“Seorang lansia 80 tahun, usia yang seharusnya dirawat anak dan cucu, malah masih bekerja demi mereka. Ini sebenarnya kelanjutan kasih sayang keluarga atau justru pemindahan tekanan antar generasi?”
Ada juga yang berpendapat: “Ini mencerminkan fenomena aneh di masyarakat saat ini: banyak anak muda menganggur di rumah dan memilih rebahan, sementara para lansia justru aktif masuk ke persaingan kerja dan menjadi penopang utama ekonomi keluarga.”
Sebagian lainnya bertanya: “Ketika lansia secara sukarela masuk ke persaingan kerja demi membantu ekonomi keluarga, sementara anak muda yang seharusnya menjadi tulang punggung malah terpaksa memilih rebahan karena sulit mendapat pekerjaan, sebenarnya kesulitan hidup seperti apa yang sedang tercermin di zaman ini?”
Analisis: Lansia 80 Tahun Harus Membuktikan Diri “Masih Berguna”, Itu Sendiri Sudah Kejam
Komentator media independen “Shanshui Xianping” menulis bahwa kehidupan pensiun bagi orang berusia 80 tahun seharusnya diisi dengan berjalan-jalan di taman, berlatih tai chi, menjaga cucu, atau duduk menikmati matahari di panti jompo.
Namun nenek 80 tahun ini masih bekerja demi anak, cucu, dan cicitnya. Menurutnya, ini adalah “corong kekayaan” khas keluarga Tiongkok — uang selalu mengalir ke bawah, tidak pernah ke atas. Setiap sen yang dihemat generasi tua dengan susah payah akan terus mengalir kepada generasi berikutnya.
Artikel itu menyebut bahwa saat sang nenek berkata “uang ini untuk cicit saya”, mungkin ia masih tersenyum. Dalam budaya tradisional Tiongkok, mampu membantu keturunan dianggap sebagai bukti bahwa seseorang “masih berguna” dan memiliki martabat.
Namun justru di situlah masalahnya. Sebuah masyarakat yang membuat orang berusia 80 tahun harus membuktikan nilainya dengan cara “masih berguna”, pada dasarnya adalah sesuatu yang kejam. Martabat yang sesungguhnya adalah ketika seseorang di usia 70 atau 80 tahun bisa memilih untuk tidak bekerja — bukan terpaksa bekerja di usia yang seharusnya sudah beristirahat.
Artikel tersebut menekankan bahwa ini bukan sekadar pilihan pribadi sang nenek, melainkan kesulitan yang dihadapi satu generasi. Bayangkan, seorang nenek berusia 80 tahun masih memperoleh penghasilan 7.000 yuan per bulan dan tetap bekerja paruh waktu. Lalu apa yang dilakukan anak, cucu, dan cicitnya? Seberapa rendah pendapatan mereka hingga harus bergantung pada bantuan seorang leluhur berusia 80 tahun?
Dan ini bukan kasus tunggal. Di kota-kota kecil di Tiongkok, para lansia yang berjualan di pasar, memungut botol bekas di taman, atau menjaga parkiran sepeda di kompleks perumahan — uang pensiun, hasil jual sayur, atau pendapatan kecil mereka sering kali berubah menjadi uang susu cucu, biaya sekolah, atau uang muka rumah bagi keturunan mereka.
Anak Muda Menghadapi Krisis Pekerjaan
Berbeda tajam dengan para lansia yang aktif ikut “persaingan kerja”, generasi muda Tiongkok kini menghadapi kesulitan pekerjaan yang serius.
Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi Tiongkok terus memburuk. Banyak pabrik dan perusahaan tutup, sehingga situasi pekerjaan bagi anak muda makin suram. Ditambah persaingan industri yang semakin ketat, biaya hidup yang naik, serta tekanan harga rumah, pendidikan, dan biaya kesehatan, generasi muda menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Semakin banyak anak muda terjebak dalam kondisi “tidak bisa rebahan dengan tenang, tetapi juga tidak mampu terus bersaing”.
Universitas Renmin Tiongkok pernah merilis “Survei Perkembangan Pemuda Tiongkok” yang menunjukkan bahwa 28,5% anak muda hidup dalam kondisi “45 derajat” — istilah untuk keadaan “tidak sanggup terus bersaing, tetapi juga tidak bisa benar-benar menyerah”. Sementara yang benar-benar memilih “rebahan” hanya 12,8%. Sebanyak 58,7% anak muda masih berada dalam tekanan persaingan yang berat.
Presiden Universitas Keuangan dan Ekonomi Shanghai, Liu Yuanchun, pernah memperingatkan dalam laporan gabungan bahwa masalah pengangguran pemuda di Tiongkok mungkin akan berlanjut hingga 10 tahun ke depan. Dalam jangka pendek, situasi diperkirakan terus memburuk. Jika tidak ditangani dengan baik, persoalan ini dapat memicu masalah sosial lain di luar bidang ekonomi, bahkan berpotensi menjadi pemicu masalah politik.
Laporan gabungan reporter Li Yun/Li Quan – NTDTV.com
EtIndonesia. Konflik Rusia–Ukraina kembali memasuki fase yang semakin berbahaya. Dalam beberapa hari terakhir, Ukraina dilaporkan meningkatkan intensitas serangan drone jarak jauh ke wilayah Rusia, termasuk menyerang target militer strategis, pusat operasi pasukan khusus, hingga fasilitas energi vital yang berada jauh dari garis depan perang.
Gelombang serangan terbaru ini memunculkan kekhawatiran baru di Moskow karena kemampuan drone Ukraina dinilai semakin canggih, presisi, dan mampu menembus sistem pertahanan udara Rusia hingga ratusan kilometer dari perbatasan.
Operasi “Salju Akhmat” Guncang Donetsk
Salah satu operasi terbesar terjadi pada 19 Mei malam hingga 20 Mei 2026. Dalam operasi yang disebut “Salju Akhmat”, militer Ukraina dilaporkan menyerang kota Snizhne di wilayah Donetsk yang saat ini berada di bawah pendudukan Rusia.
Menurut sumber militer Ukraina, target utama operasi tersebut bukan sekadar posisi tempur biasa, melainkan fasilitas penting yang digunakan untuk mendukung operasi drone Rusia di medan perang.
Beberapa sasaran yang disebut terkena serangan antara lain:
pusat pelatihan operator drone,
bengkel perakitan UAV,
gudang amunisi,
serta fasilitas operasi pasukan khusus Chechnya.
Serangan itu disebut dilakukan menggunakan kombinasi drone jarak jauh dan sistem serangan presisi yang mampu menembus pertahanan Rusia pada malam hari.
Laporan awal dari pihak Ukraina menyebut sedikitnya 65 personel Rusia tewas dalam operasi tersebut. Korban dikabarkan mencakup operator drone, instruktur militer, teknisi UAV, dan personel pasukan elite yang selama ini terlibat dalam operasi garis depan.
Jika laporan ini benar, maka serangan tersebut menjadi salah satu pukulan paling berat terhadap jaringan operasi drone Rusia sepanjang Mei 2026.
Ukraina Kini Menyerang Jauh di Belakang Garis Pertahanan Rusia
Yang paling mengkhawatirkan bagi Moskow bukan hanya jumlah korban, melainkan fakta bahwa Ukraina kini mampu menyerang jauh ke belakang wilayah yang selama ini dianggap relatif aman.
Pengamat militer menilai pola serangan Ukraina telah berubah drastis dibanding fase awal perang. Jika sebelumnya fokus utama berada di garis depan Donbas dan wilayah selatan, kini Kyiv mulai menjalankan strategi penghancuran infrastruktur strategis Rusia secara sistematis.
Strategi tersebut mencakup:
penghancuran fasilitas energi,
serangan ke depot logistik,
penghancuran fasilitas drone,
serta gangguan terhadap jalur pasokan militer Rusia.
Tujuannya diyakini untuk melemahkan kemampuan perang Rusia dalam jangka panjang, bukan hanya memenangkan pertempuran taktis di garis depan.
Kilang Minyak Syzran Dibakar dari Jarak 950 Kilometer
Beberapa jam setelah operasi di Donetsk, Ukraina kembali melancarkan serangan besar lainnya.
Pada malam 20 Mei 2026, drone Ukraina menyerang kilang minyak Syzran yang berada lebih dari 950 kilometer dari perbatasan Ukraina. Jarak tersebut menunjukkan bahwa kemampuan serangan jarak jauh Ukraina kini telah berkembang jauh melampaui perkiraan banyak pihak.
Menurut laporan yang beredar, serangan menghantam menara distilasi utama di kompleks kilang dan memicu ledakan besar yang diikuti kebakaran hebat.
Api dilaporkan membumbung tinggi di area fasilitas energi tersebut dan membutuhkan waktu lama untuk dikendalikan.
Kilang Syzran sendiri merupakan salah satu fasilitas penting dalam jaringan energi Rusia. Kerusakan pada instalasi semacam itu tidak hanya berdampak pada distribusi bahan bakar, tetapi juga dapat mempengaruhi logistik militer Rusia.
Zelenskyy Sebut Ini “Sanksi Ekonomi Jarak Jauh”
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, secara langsung mengomentari operasi tersebut.
Dalam pernyataannya, Zelenskyy menyebut serangan terhadap fasilitas energi Rusia sebagai bentuk “sanksi ekonomi jarak jauh” terhadap Moskow.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Ukraina kini tidak lagi sekadar bertahan dari invasi Rusia, melainkan aktif mencoba menghancurkan fondasi ekonomi yang menopang mesin perang Kremlin.
Menurut intelijen Ukraina, sepanjang Mei 2026 saja sudah ada sedikitnya 11 fasilitas energi Rusia yang dihantam melalui serangan presisi.
Target-target tersebut mencakup:
kilang minyak,
terminal bahan bakar,
depot logistik energi,
dan fasilitas distribusi bahan bakar strategis.
Serangan yang terus berulang membuat banyak analis percaya bahwa Kyiv kini menjalankan strategi perang ekonomi secara penuh.
Rusia Dinilai Mulai Kewalahan
Sejumlah analis militer Barat menilai Rusia mulai menghadapi tekanan serius akibat intensitas serangan drone Ukraina yang terus meningkat.
Masalah utama bagi Moskow bukan hanya menghancurkan drone yang datang, tetapi mempertahankan wilayah yang sangat luas dari serangan kecil namun mematikan.
Drone modern memiliki beberapa keunggulan:
sulit terdeteksi radar,
biaya produksi relatif murah,
dapat diluncurkan dalam jumlah besar,
dan mampu menyerang target secara presisi.
Dalam beberapa bulan terakhir, Ukraina juga diyakini berhasil meningkatkan teknologi navigasi, kecerdasan buatan, serta kemampuan penerbangan rendah untuk menghindari radar Rusia.
Akibatnya, sistem pertahanan udara Rusia mulai menghadapi tantangan besar karena harus melindungi ribuan kilometer wilayah sekaligus.
Kremlin Dikabarkan Gelar Rapat Darurat
Di tengah meningkatnya serangan tersebut, sumber internal Rusia melaporkan bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin, langsung memanggil para jenderal senior dan pejabat keamanan ke Kremlin untuk menggelar rapat darurat.
Menurut bocoran yang beredar di berbagai kanal pengamat militer, suasana rapat disebut berlangsung sangat tegang.
Putin dikabarkan meluapkan kemarahan terhadap kegagalan sistem pertahanan udara Rusia yang dinilai tidak mampu menghentikan gelombang drone Ukraina yang semakin sulit dideteksi.
Beberapa laporan bahkan menyebut Kremlin mulai khawatir bahwa Ukraina akan terus meningkatkan frekuensi serangan ke pusat industri, fasilitas energi, dan basis militer jauh di wilayah Rusia.
Jika tren ini terus berlangsung, tekanan terhadap ekonomi Rusia diperkirakan akan semakin berat, terutama karena biaya perbaikan infrastruktur energi dan pertahanan udara terus meningkat.
Perang Memasuki Babak Baru
Serangan-serangan terbaru ini memperlihatkan bahwa perang Rusia–Ukraina kini telah memasuki babak baru yang jauh lebih kompleks.
Perang tidak lagi hanya terjadi di parit-parit garis depan atau pertempuran artileri di Donbas. Kini, konflik berubah menjadi perang teknologi, perang drone, dan perang penghancuran infrastruktur strategis.
Banyak analis percaya bahwa kemampuan Ukraina menyerang target hingga hampir 1.000 kilometer ke wilayah Rusia akan menjadi faktor yang dapat mengubah arah perang dalam jangka panjang.
Di sisi lain, Rusia diperkirakan akan meningkatkan sistem pertahanan udara, memperketat keamanan fasilitas energi, dan mungkin melancarkan serangan balasan yang lebih besar terhadap Ukraina.
Dengan eskalasi yang terus meningkat sepanjang Mei 2026, dunia internasional kini semakin khawatir bahwa konflik ini dapat berkembang menjadi konfrontasi yang lebih luas dan sulit dikendalikan. (***)
EtIndonesia. Beberapa hari lalu, sebuah tambang batu bara di Kota Changzhi, Provinsi Shanxi, Tiongkok mengalami ledakan gas. Saat ini setidaknya 90 orang dilaporkan tewas.
Pada 23 Mei, Biro Manajemen Darurat Kabupaten Qinyuan mengumumkan bahwa pada 22 Mei pukul 19.29, terjadi ledakan gas di Tambang Batu Bara Liushenyu milik Grup Tongzhou di Kabupaten Qinyuan.
Saat kejadian, terdapat 247 pekerja di bawah tanah. Hingga 23 Mei pukul 06.00 pagi, sebanyak 201 orang telah berhasil naik ke permukaan, 8 orang dinyatakan meninggal dunia dan 38 orang masih berada di bawah tanah. Penyebab kecelakaan masih diselidiki.
Namun hingga pukul 14.00 siang pada 23 Mei, media resmi Tiongkok melaporkan bahwa jumlah korban tewas telah mencapai 90 orang. Operasi penyelamatan masih terus berlangsung.
Karena rezim Tiongkok kerap dituduh menutupi skala bencana, banyak pihak menduga jumlah korban sebenarnya mungkin jauh lebih besar daripada angka resmi.
Seorang pekerja pengangkut batu bara mengatakan kepada media The Beijing News bahwa tambang tersebut beroperasi dalam tiga shift. Saat kejadian, para pekerja shift tengah sedang turun ke tambang. Lokasi kini telah dipasang garis polisi dan tidak dapat dimasuki. Sebagian besar pekerja tambang berasal dari Qinyuan dan Qinxian.
Pekerja lain yang menangani kelistrikan mengatakan dua temannya yang biasanya bekerja di bawah tanah lolos dari maut karena saat itu mereka bertugas pada shift pagi.
Warganet Tiongkok meninggalkan banyak komentar:
“Ya Tuhan, masih banyak orang terjebak di dalam.”
“Sangat menyedihkan.”
“Baru pagi sudah melihat berita seperti ini, benar-benar membuat hati berat.”
“Katanya terjadi di sumur nomor tiga.”
“Masih banyak orang belum keluar dari tambang, sangat mengkhawatirkan.”
“Kalau ledakan gas, kemungkinan kecil bisa selamat.”
“Jumlah korban sebenarnya mungkin jauh lebih banyak.”
Ada juga yang mempertanyakan perubahan jumlah korban: “Awalnya diumumkan 201 orang selamat, 8 orang meninggal, dan 38 masih dicari. Kok tiba-tiba korban tewas jadi sebanyak ini?”
Sebagian warganet menduga beberapa korban yang berhasil keluar ternyata dalam kondisi kritis dan akhirnya meninggal.
Komentar lain menyebut:
“Keuntungan industri batu bara dibayar dengan keringat dan keselamatan pekerja garis depan.”
“Satu shift bisa sampai sebanyak itu orang masuk tambang?”
“Sebagai pekerja tambang, melihat berita seperti ini sangat menyakitkan.”
“Berdasarkan pengalaman kerja saya, kecelakaannya pasti sangat serius.”
“Ini tambang hitam. Keamanan dan kondisi kerjanya sangat buruk.”
Seorang warganet yang ayahnya bekerja di tambang berkata: “Ayah saya bilang, kalau terjadi ledakan gas, hampir tidak ada yang bisa lolos.”
Banyak orang juga menyoroti dampak tragedi ini terhadap keluarga korban:
“Berapa banyak keluarga kehilangan anak dan ayah mereka.”
“Dalam belasan jam saja, jumlah korban melonjak drastis. Sangat mengerikan.”
“Harus ada pemeriksaan keselamatan besar-besaran dan pihak bertanggung jawab harus dihukum.”
Menurut laporan, saat kejadian terdapat 247 orang di bawah tanah. Hingga kini, 156 orang berhasil diselamatkan dan 90 orang tewas. Selain itu, 123 orang dilarikan ke rumah sakit.
Para korban luka dirawat di beberapa rumah sakit di Kota Changzhi dan Kabupaten Qinyuan. Mereka terutama mengalami keracunan gas beracun dan kini menjalani terapi oksigen hiperbarik. Pihak berwenang juga telah menahan penanggung jawab perusahaan terkait.
“Saat saya berada di area kerja 311, saya tidak mendengar suara ledakan apa pun. Tiba-tiba muncul asap dengan bau belerang seperti habis peledakan. Saya langsung menyuruh semua orang lari. Dalam perjalanan saya melihat ada yang pingsan karena asap. Saya sendiri juga pingsan. Setelah sekitar satu jam lebih, saya sadar dan membangunkan orang di sebelah saya, lalu kami keluar bersama,” ujar seorang penambang yang selamat bernama Wang Yong kepada CCTV.
Komentator independen Cai Shenkun menulis di platform X bahwa jumlah korban kemungkinan masih akan terus bertambah dan mungkin akhirnya melebihi 100 orang.
Ia menilai tragedi besar ini menjadi pukulan berat bagi Gubernur Shanxi yang baru menjabat tahun lalu, Lu Dongliang. Sebelumnya sempat beredar rumor bahwa Lu akan dipindahkan menjadi Sekretaris Partai di Yunnan, namun tragedi ini kemungkinan besar akan mempengaruhi karier politiknya.
Data publik menunjukkan bahwa perusahaan tambang yang terlibat, Shanxi Tongzhou Group Liushenyu Coal Industry Co., sebelumnya bernama Shanxi Liushenyu Coal Industry Co. Tambang tersebut berada di Desa Shangzhuang, Kabupaten Qinyuan, Kota Changzhi, dengan kapasitas produksi yang diklaim mencapai 1,2 juta ton per tahun.
Informasi dari Biro Energi Kota Changzhi menunjukkan bahwa tambang tersebut tergolong tambang dengan kandungan gas tinggi, sehingga memiliki risiko besar terhadap ledakan gas.
Provinsi Shanxi dikenal sebagai provinsi utama penghasil batu bara di Tiongkok. Dengan wilayah yang lebih luas daripada Yunani dan populasi sekitar 34 juta jiwa, ratusan ribu penambang di provinsi itu menggali 1,3 miliar ton (1,17 miliar metrik ton) batu bara tahun lalu, atau hampir sepertiga dari total produksi batu bara Tiongkok.
Pada Oktober 2021, Biro Pengawasan Keselamatan Tambang Beijing menemukan bahwa tambang-tambang batu bara di Shanxi menghadapi sejumlah masalah keselamatan serius, termasuk protokol keselamatan yang tidak memadai untuk situasi darurat seperti kebocoran gas serta kurangnya pengawasan terhadap para pekerja.
Li Yuanhua, mantan profesor madya pendidikan di Capital Normal University di Beijing, mengatakan kepada The Epoch Times pada Oktober 2021 bahwa meskipun PKT telah menetapkan aturan keselamatan, aturan tersebut sering kali tidak ditegakkan.
Li juga menuduh bahwa tambang-tambang yang tidak aman masih bisa mendapatkan izin untuk kembali beroperasi karena pemerintah daerah mengejar pendapatan pajak, serta adanya kolusi antara pemerintah dan pihak bisnis.
Pada Februari 2023, sebanyak 53 orang tewas setelah terjadi runtuhan di tambang terbuka di wilayah Mongolia Dalam, Tiongkok utara. Pada November 2009, ledakan di sebuah tambang di Provinsi Heilongjiang, Tiongkok timur laut, menewaskan 108 orang, menurut media pemerintah.
SURABAYA, 22 Mei 2026 – Suasana santai khas komunitas sepak bola berpadu dengan edukasi keuangan dalam acara “NGOPI SORE” (Ngobrol Seputar Investasi Saham, Obligasi, Reksadana) yang digelar oleh Bank BRI Regional Office Surabaya bersama BRI Danareksa Sekuritas. Kegiatan yang berlangsung di Surabaya ini juga didukung oleh Bursa Efek Indonesia Kanwil Jawa Timur dan Pegadaian Kanwil Surabaya.
Acara yang dikemas dalam bentuk kopi darat (kopdar) bersama Komunitas Indo Barca Chapter Surabaya ini menjadi bukti bahwa literasi keuangan dapat disampaikan dengan cara yang ringan dan dekat dengan komunitas.
Kartu Debit dan Brizzi Bertema FC Barcelona
Ery Wicaksono, Funding & Transaction Head BRI RO Surabaya, menyampaikan bahwa kopdar kali ini terasa berbeda.
“Teman-teman Indo Barca mendapat edukasi sambil NGOPI SORE, tetapi juga mendapat penawaran dari Bank BRI selaku Official Commercial Banking Partner of FC Barcelona in Indonesia, berupa kartu debit dan Brizzi (e-Money BRI) bertema FC Barcelona,” ujarnya saat membuka acara.
Para peserta yang merupakan penggemar berat klub asal Catalunya itu pun tampak antusias dengan produk bernuansa Blaugrana tersebut.
Ragam Produk dan Layanan dari BRI, Pegadaian, hingga Sekuritas
Tiga narasumber hadir untuk memberikan pemaparan menarik:
Rafli Rizki Septian, Relationship Manager BRI, menjelaskan cara mendapatkan Kartu Debit FC Barcelona. Cukup dengan membuka tabungan di Bank BRI dengan setoran awal hanya Rp1 juta, peserta sudah bisa memiliki kartu eksklusif tersebut.
Gais Nomanto, Manager Pegadaian Cabang Dinoyo Surabaya, memaparkan keunggulan memiliki tabungan emas di Pegadaian, sebagai salah satu instrumen investasi yang aman dan likuid.
Taufan Febiola, Branch Manager BRI Danareksa Sekuritas Regional Cabang Surabaya, memperkenalkan produk unggulan seperti BRIGHTS Move-in (program pemindahan saham tanpa biaya dengan fee transaksi 0,125% untuk pembelian), fitur Smart Invest, layanan dividen dipercepat (BREW), hingga Gadai Efek.
Buka Rekening Saham Gratis dengan Saldo Awal Rp50 Ribu
Sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan jumlah investor ritel, BRI Danareksa Sekuritas memberikan kesempatan kepada peserta untuk membuka rekening saham secara gratis. Tak hanya itu, setiap rekening juga diisi saldo RDN BRI senilai Rp50 ribu melalui program Cuan XTRA.
Langkah ini sejalan dengan upaya Bursa Efek Indonesia untuk memperluas basis investor di Jawa Timur, khususnya di kalangan komunitas dan generasi muda.
Kegiatan NGOPI SORE ini membuktikan bahwa edukasi pasar modal dan perbankan tidak harus kaku. Dengan pendekatan komunitas yang hangat seperti kopdar Indo Barca, literasi keuangan dapat tersampaikan dengan lebih efektif dan menyenangkan.
EtIndonesia. Pada 20 Mei 2026, pemerintah Amerika Serikat secara resmi kembali membuka salah satu kasus paling kontroversial dalam sejarah hubungan antara Amerika Serikat dan Kuba. Melalui Departemen Kehakiman AS, Washington mengumumkan tuntutan pidana terhadap sejumlah tokoh penting Kuba terkait insiden penembakan dua pesawat sipil Amerika pada 24 Februari 1996, tragedi yang menewaskan empat warga Amerika Serikat dan sempat mengguncang dunia internasional.
Langkah tersebut langsung menarik perhatian global karena salah satu nama yang tercantum dalam dakwaan adalah Raúl Castro, mantan pemimpin Kuba yang kini berusia 94 tahun dan pada saat tragedi terjadi menjabat sebagai Menteri Pertahanan Kuba.
Banyak analis internasional menilai bahwa langkah hukum ini bukan sekadar upaya mencari keadilan atas kasus lama. Di baliknya, pemerintahan Presiden Donald Trump dinilai sedang mengirim pesan strategis yang jauh lebih besar: Washington siap meningkatkan tekanan politik, psikologis, intelijen, ekonomi, bahkan militer terhadap rezim komunis Kuba.
Tragedi 24 Februari 1996 yang Mengubah Hubungan AS-Kuba
Untuk memahami mengapa kasus ini kembali memanas setelah tiga dekade, dunia harus kembali ke tanggal 24 Februari 1996.
Pada hari itu, tiga pesawat sipil ringan milik organisasi “Brothers to the Rescue” lepas landas dari Florida menuju wilayah perairan dekat Kuba. Organisasi tersebut awalnya dikenal sebagai kelompok kemanusiaan yang membantu menyelamatkan warga Kuba yang melarikan diri menuju Amerika Serikat menggunakan rakit kayu, kapal kecil, hingga perahu seadanya.
Pada awal 1990-an, kondisi Kuba mengalami krisis ekonomi parah setelah runtuhnya Uni Soviet. Hilangnya bantuan ekonomi dari Moskow membuat perekonomian Kuba terpukul hebat. Kelangkaan makanan, bahan bakar, dan kebutuhan pokok memicu gelombang besar pelarian warga Kuba menuju Amerika Serikat.
Di tengah situasi itu, “Brothers to the Rescue” menjadi simbol harapan bagi banyak pengungsi Kuba.
Namun seiring waktu, aktivitas organisasi tersebut berubah semakin politis. Selain melakukan misi penyelamatan, kelompok itu mulai mendekati wilayah udara Kuba dan menjatuhkan selebaran anti-komunis yang menyerukan perlawanan terhadap pemerintahan Havana.
Pemerintah Kuba menganggap tindakan tersebut sebagai provokasi dan operasi subversif yang didukung Amerika Serikat untuk menggulingkan rezim komunis.
Ketegangan pun mencapai puncaknya pada 24 Februari 1996.
Pemimpin Kuba Raúl Castro Image by U.S. DOJ/news release
Jet tempur Kuba diterbangkan secara darurat. Tak lama kemudian, dua rudal udara-ke-udara ditembakkan ke arah dua pesawat sipil Amerika.
Kedua pesawat langsung hancur di udara.
Empat warga Amerika tewas seketika, sementara satu pesawat lainnya berhasil melarikan diri dan kembali ke Florida.
Investigasi internasional dan pemerintah Amerika Serikat kemudian menyimpulkan bahwa penembakan terjadi di wilayah udara internasional. Namun pemerintah Kuba bersikeras bahwa pesawat-pesawat tersebut telah memasuki wilayah udara Kuba secara ilegal dan dianggap mengancam keamanan nasional.
Insiden itu langsung memicu kemarahan dunia internasional.
Tragedi tersebut juga menjadi salah satu faktor utama yang mendorong disahkannya Helms-Burton Act pada Maret 1996, sebuah undang-undang yang memperketat embargo dan sanksi ekonomi Amerika Serikat terhadap Kuba.
Pemerintahan Trump Hidupkan Kembali Kasus Lama
Tiga puluh tahun setelah tragedi itu, pemerintahan Trump kini kembali membawa kasus tersebut ke panggung utama politik internasional.
Pelaksana tugas Jaksa Agung Amerika Serikat, Blanche, mengeluarkan pernyataan keras yang langsung menjadi sorotan dunia:
“Jika Anda membunuh warga Amerika, kami akan memburu Anda. Tidak peduli siapa Anda dan jabatan apa yang Anda miliki.”
Pernyataan itu dipandang banyak pengamat sebagai ancaman terbuka terhadap para pemimpin rezim otoriter di berbagai negara.
Sementara itu, Donald Trump juga menyampaikan pesan politik yang sangat jelas: “Keadilan mungkin datang terlambat, tetapi tidak akan pernah absen.”
Di mata para analis geopolitik, pembukaan kembali kasus lama ini merupakan bagian dari strategi Trump untuk menunjukkan bahwa pemerintahannya tidak akan melupakan serangan terhadap warga Amerika, meskipun peristiwa itu telah terjadi puluhan tahun lalu.
Raúl Castro Didakwa, Legitimasi Rezim Kuba Dipertanyakan
Dalam dokumen tuntutan Departemen Kehakiman AS, Raúl Castro dan sejumlah pejabat Kuba lainnya dituduh terlibat dalam konspirasi pembunuhan terhadap empat warga Amerika melalui penembakan pesawat sipil tersebut.
Langkah ini memiliki dampak politik yang sangat besar.
Dengan mendakwa mantan pemimpin tertinggi Kuba, Washington secara tidak langsung sedang mempertanyakan legitimasi pemerintahan militer Kuba saat ini.
Banyak pengamat menilai bahwa Amerika Serikat sedang mencoba membangun narasi internasional bahwa rezim Kuba bukan lagi pemerintahan sah, melainkan kelompok penguasa yang bertanggung jawab atas pembunuhan warga sipil.
Jika narasi tersebut berhasil dibangun di mata publik internasional, maka langkah-langkah yang lebih keras terhadap Kuba — baik diplomatik, ekonomi, intelijen, maupun militer — akan lebih mudah dibenarkan.
María Elvira Salazar Kirim Peringatan Keras kepada Keluarga Castro
Ketegangan semakin meningkat ketika anggota Kongres AS keturunan Kuba, María Elvira Salazar, secara terbuka melontarkan peringatan keras kepada keluarga Castro.
Ia bahkan membandingkan situasi Kuba dengan tekanan Washington terhadap pemerintahan Nicolás Maduro di Venezuela.
Dalam pernyataannya, Salazar menyebut keluarga Castro sebaiknya segera meninggalkan Kuba sebelum menghadapi tindakan yang lebih keras dari pemerintahan Trump.
Ia mengatakan:
“Sekarang ada sheriff baru, dan sheriff itu bernama Trump.”
Pernyataan tersebut dianggap sebagai sinyal bahwa Washington tidak lagi sekadar ingin memberi tekanan diplomatik, melainkan mungkin sedang mempersiapkan perubahan besar terhadap rezim Kuba.
Trump Secara Terbuka Mengaku CIA Beroperasi di Kuba
Salah satu momen paling mengejutkan datang langsung dari Donald Trump.
Dalam sebuah pernyataan publik, Trump secara terbuka mengatakan:
“Kami punya banyak orang di Kuba. CIA juga ada di sana.”
Pernyataan seperti itu sangat jarang diucapkan secara terbuka oleh seorang Presiden Amerika Serikat.
Selama puluhan tahun, Washington hampir tidak pernah secara langsung mengakui keberadaan operasi intelijen aktif di negara lain.
Namun Trump justru secara terang-terangan menyebut bahwa Amerika memiliki jaringan dan pengaruh di dalam Kuba.
Ia juga menambahkan bahwa komunitas Kuba di Miami berharap suatu hari nanti dapat kembali ke tanah kelahiran mereka dan berinvestasi di Kuba pasca-rezim komunis.
Tiga Tujuan Strategis di Balik Pernyataan Trump
Para analis menilai ucapan Trump memiliki sedikitnya tiga tujuan strategis besar.
1. Menghancurkan Kepercayaan Internal Elite Kuba
Ketika Presiden AS secara terbuka mengatakan bahwa Amerika memiliki banyak orang di dalam Kuba, maka rasa curiga di tubuh pemerintahan Kuba hampir pasti meningkat.
Pejabat militer dan intelijen Kuba bisa mulai saling mencurigai sebagai mata-mata Amerika.
Dalam banyak kasus sejarah, konflik internal seperti ini sering mempercepat keruntuhan rezim otoriter.
2. Memberi Semangat kepada Kelompok Oposisi Kuba
Pernyataan Trump juga dipandang sebagai pesan kepada kelompok oposisi Kuba bahwa mereka tidak sendirian.
Ucapan mengenai keberadaan CIA dianggap sebagai sinyal bahwa Washington mendukung gerakan perubahan politik di Kuba.
3. Mengirim Peringatan kepada Rusia dan Tiongkok
Trump tampaknya juga ingin mengirim pesan kepada Tiongkok dan Rusia agar tidak terlalu jauh ikut campur dalam urusan Kuba.
Dalam beberapa tahun terakhir, Havana memang semakin dekat dengan Beijing dan Moskow, terutama dalam kerja sama intelijen, teknologi, dan militer.
Marco Rubio: “Masalah Kuba Bukan Amerika, Tapi Rezimnya”
Tak lama setelah Trump berbicara, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menyampaikan pidato keras yang ditujukan langsung kepada rakyat Kuba.
Sebagai menteri luar negeri pertama keturunan Kuba dalam sejarah Amerika Serikat, Rubio berbicara menggunakan bahasa Spanyol dan menolak narasi lama pemerintah Kuba yang menyalahkan embargo Amerika atas krisis ekonomi negara tersebut.
Menurut Rubio, penyebab utama penderitaan rakyat Kuba adalah sistem diktator komunis dan elite militer yang menguasai sektor-sektor ekonomi paling menguntungkan.
Rubio menyebut militer Kuba mengendalikan bisnis pariwisata, perdagangan valuta asing, hingga impor-ekspor, sementara rakyat biasa harus mengantre panjang hanya untuk mendapatkan kebutuhan pokok.
Ia juga menuding Kuba telah menjadi pusat aktivitas intelijen Rusia dan Tiongkok di kawasan Amerika Latin.
Rubio Dorong Agenda “De-Komunisasi Kuba”
Marco Rubio kemudian mengajukan dua agenda besar:
Program “de-komunisasi Kuba”
Bantuan kemanusiaan senilai 100 juta dolar AS
Bantuan tersebut disebut akan disalurkan melalui Gereja Katolik dan organisasi amal internasional, bukan melalui pemerintah Kuba.
Namun banyak pengamat skeptis bantuan itu benar-benar dapat terhindar dari kontrol elite partai dan militer Kuba selama sistem politik saat ini masih bertahan.
USS Nimitz Bergerak ke Laut Karibia
Situasi semakin memanas ketika Komando Selatan Amerika Serikat mengumumkan bahwa gugus tempur kapal induk USS Nimitz telah bergerak ke Laut Karibia dekat Kuba.
Kapal induk bertenaga nuklir itu membawa berbagai kapal perang pendamping, termasuk kapal perusak rudal berpemandu USS Gridley.
Gugus tempur tersebut memiliki kemampuan operasi udara, pertahanan rudal, perang anti-kapal selam, hingga peluncuran rudal jelajah Tomahawk untuk menyerang target darat secara presisi.
Yang paling menarik perhatian para analis adalah pernyataan resmi Komando Selatan AS yang menyebut bahwa USS Nimitz menjaga stabilitas global “dari Selat Taiwan hingga Teluk Arab”.
Banyak pengamat melihat pernyataan tersebut sebagai sinyal bahwa Washington kini mulai menempatkan Kuba dalam level strategis yang sejajar dengan ketegangan di Timur Tengah dan Asia-Pasifik.
Dugaan Persiapan Operasi Militer terhadap Kuba
Di saat yang sama, berbagai laporan intelijen menyebut Pentagon sedang menyusun sejumlah simulasi operasi militer terhadap Kuba.
Berbagai skenario disebut tengah diuji, mulai dari operasi tekanan terbatas hingga kemungkinan penghancuran pusat komando militer Kuba.
Jika laporan-laporan tersebut benar, maka langkah hukum, tekanan diplomatik, operasi intelijen, hingga pengerahan militer yang dilakukan Washington saat ini tampak bukan sebagai kebijakan yang berdiri sendiri.
Sebaliknya, semuanya terlihat seperti bagian dari satu strategi besar yang saling terhubung.
Kini dunia mulai bertanya-tanya: apakah Amerika Serikat hanya sedang meningkatkan tekanan psikologis terhadap Havana, atau sebenarnya sedang membuka babak baru konfrontasi besar di kawasan Karibia?
Tiga dekade setelah tragedi penembakan pesawat sipil tahun 1996, hubungan Amerika Serikat dan Kuba tampaknya kembali memasuki salah satu periode paling berbahaya dalam sejarah modern kedua negara. (***)
EtIndonesia. Kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Tiongkok pada 20 Mei 2026 menjadi salah satu peristiwa geopolitik yang paling banyak disorot dunia internasional dalam beberapa hari terakhir. Di tengah tekanan ekonomi akibat perang berkepanjangan dengan Ukraina dan sanksi Barat yang terus menekan Moskow, Putin datang ke Beijing dengan harapan memperkuat “jalur penyelamat” ekonomi Rusia melalui kerja sama strategis dengan Tiongkok.
Secara simbolis, kunjungan tersebut memang terlihat sangat megah. Pemerintah Rusia dan Tiongkok mengumumkan penandatanganan lebih dari 40 dokumen kerja sama di berbagai bidang. Media resmi kedua negara juga menggambarkan hubungan Moskow–Beijing sebagai “persahabatan tanpa batas” yang semakin kokoh menghadapi tekanan Barat.
Namun di balik kemegahan acara dan sederet seremoni diplomatik, banyak pengamat internasional justru melihat sesuatu yang berbeda: hasil konkret yang benar-benar penting bagi Rusia dinilai sangat minim.
Fokus utama perhatian dunia tertuju pada proyek pipa gas raksasa “Power of Siberia 2”, sebuah proyek energi strategis yang selama ini dianggap sebagai harapan besar Rusia untuk menggantikan pasar energi Eropa yang hilang sejak pecahnya perang Rusia–Ukraina.
Hingga akhir kunjungan Putin, proyek tersebut ternyata masih belum mendapatkan kepastian final.
Lebih dari 40 Kesepakatan, Tetapi Kebanyakan Hanya Bersifat Simbolis
Dalam pertemuan bilateral pada 20 Mei 2026 itu, kedua negara memang mengumumkan berbagai kerja sama baru, mulai dari pertukaran budaya, pendidikan, media, teknologi, hingga perpanjangan kebijakan bebas visa tertentu.
Namun para analis menilai sebagian besar dokumen yang ditandatangani lebih bersifat deklarasi politik dan kerangka kerja umum, bukan kontrak ekonomi besar yang benar-benar dapat membantu Rusia keluar dari tekanan keuangan dan energi saat ini.
Bagi Kremlin, kebutuhan paling mendesak sebenarnya bukan kerja sama budaya atau media, melainkan kepastian pembelian energi jangka panjang dari Tiongkok.
Itulah sebabnya proyek “Power of Siberia 2” menjadi inti perhatian dunia.
Mengapa “Power of Siberia 2” Sangat Penting bagi Rusia?
Setelah perang Rusia–Ukraina pecah pada Februari 2022, hubungan energi Rusia dengan Eropa mengalami perubahan drastis. Negara-negara Uni Eropa secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap gas Rusia dan mulai mencari pemasok alternatif.
Akibatnya, Moskow kehilangan salah satu pasar energi terbesar dan paling menguntungkan yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung pemasukan negara.
Dalam situasi itulah Rusia mulai memandang Tiongkok sebagai pasar pengganti utama.
Melalui proyek “Power of Siberia 2”, Rusia berharap dapat mengalihkan sebagian besar pasokan gas yang sebelumnya dijual ke Eropa menuju pasar Tiongkok. Jalur pipa tersebut dirancang menghubungkan ladang gas Rusia dengan wilayah utara Tiongkok melalui Mongolia.
Bagi Kremlin, proyek ini bukan sekadar bisnis energi biasa. Ini adalah proyek strategis jangka panjang yang dapat menentukan masa depan ekonomi Rusia selama beberapa dekade ke depan.
Namun justru di sinilah masalah besar mulai muncul.
Beijing Tidak Lagi Terburu-Buru Membeli Gas Rusia
Berbeda dengan kondisi Rusia yang sangat membutuhkan pasar baru, Tiongkok saat ini justru berada dalam posisi jauh lebih nyaman.
Beijing memiliki banyak pilihan sumber energi gas alam. Selain sudah menerima pasokan dari jalur “Power of Siberia 1”, Tiongkok juga memperoleh gas dari Asia Tengah, jalur pipa Tiongkok–Myanmar, serta impor LNG dari negara-negara seperti Qatar dan Australia.
Di saat yang sama, ekonomi domestik Tiongkok juga sedang menghadapi perlambatan besar.
Krisis sektor properti, lemahnya konsumsi domestik, serta pertumbuhan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin membuat peningkatan permintaan gas tidak lagi secepat beberapa tahun lalu.
Karena itu, Beijing tidak berada dalam posisi mendesak untuk segera menyetujui proyek baru dengan harga mahal.
Situasi ini membuat posisi tawar Rusia menjadi jauh lebih lemah.
Perang Harga Gas: Rusia Minta Mahal, Beijing Menawar Separuhnya
Salah satu hambatan terbesar dalam negosiasi “Power of Siberia 2” adalah persoalan harga.
Rusia berharap harga gas untuk jalur kedua dapat mendekati harga proyek “Power of Siberia 1”, yakni sekitar 260 hingga 290 dolar AS per 1.000 meter kubik.
Namun menurut berbagai laporan media internasional, pihak Tiongkok hanya bersedia menawarkan kisaran 120 hingga 130 dolar AS per 1.000 meter kubik — hampir separuh dari harga yang diinginkan Moskow.
Perbedaan ini bukan sekadar negosiasi dagang biasa.
Beijing memahami bahwa Rusia saat ini kehilangan sebagian besar pasar Eropa dan sangat membutuhkan pembeli jangka panjang. Dalam industri gas alam, jaringan pipa menciptakan ketergantungan besar karena gas tidak bisa dipindahkan semudah minyak bumi.
Begitu infrastruktur pipa selesai dibangun, Rusia praktis akan sangat bergantung pada Tiongkok sebagai pembeli utama.
Karena itulah Beijing diyakini berusaha menekan harga serendah mungkin demi memperoleh keuntungan maksimal.
Rusia Takut Efek Domino Harga Murah
Di sisi lain, Moskow juga tidak berani menerima harga terlalu rendah.
Jika Rusia memberikan harga “diskon besar” kepada Tiongkok, negara-negara lain seperti India, Turki, bahkan calon pembeli Eropa di masa depan berpotensi menuntut harga serupa.
Bila hal itu terjadi, pendapatan energi Rusia bisa mengalami tekanan sangat besar dalam jangka panjang.
Karena itu, banyak analis menilai bahwa negosiasi “Power of Siberia 2” sebenarnya adalah pertarungan kepentingan strategis antara dua negara yang sama-sama mencoba memaksimalkan keuntungan nasional masing-masing.
Hubungan Rusia–Tiongkok mungkin terlihat sangat dekat di panggung politik, tetapi di balik layar keduanya tetap saling berhitung dengan sangat hati-hati.
Elite Rusia Mulai Bicara Terbuka soal “Ketimpangan” Hubungan dengan Tiongkok
Belakangan ini, tanda-tanda kekecewaan dari kalangan elite Rusia mulai muncul secara lebih terbuka.
Direktur Pendiri Dewan Urusan Internasional Rusia, Andrey Kortunov, mengungkapkan bahwa perdagangan Rusia–Tiongkok dalam dua tahun terakhir sebenarnya nyaris stagnan.
Ia bahkan memberikan contoh yang cukup menarik mengenai fenomena “demam es krim Rusia” di Tiongkok beberapa tahun lalu.
Saat itu, produk es krim Rusia sempat sangat populer di pasar Tiongkok. Banyak perusahaan Rusia mengira mereka berhasil membuka pasar besar yang menjanjikan.
Namun tidak lama kemudian, perusahaan-perusahaan Tiongkok mulai mempelajari formula dan model produksinya, lalu memproduksi produk serupa secara lokal.
Akibatnya, ekspor es krim Rusia ke Tiongkok disebut anjlok hingga 20 kali lipat. Produk sosis Rusia juga dikabarkan mengalami situasi serupa.
Pernyataan tersebut dianggap cukup sensitif karena menunjukkan bahwa sebagian elite Rusia mulai mempertanyakan narasi resmi tentang hubungan ekonomi “saling menguntungkan” antara Moskow dan Beijing.
Hubungan Politik Dekat, Tetapi Kepentingan Ekonomi Tetap Berbeda
Sejumlah analis internasional kini menilai hubungan Rusia–Tiongkok sebenarnya lebih didorong oleh kebutuhan politik bersama menghadapi tekanan Barat, bukan karena adanya kepercayaan ekonomi penuh di antara kedua pihak.
Rusia membutuhkan dukungan ekonomi dan diplomatik dari Tiongkok di tengah isolasi Barat.
Sebaliknya, Beijing dinilai melihat situasi ini sebagai peluang strategis untuk memperoleh energi murah sekaligus memperkuat pengaruhnya terhadap Moskow.
Karena itu, meskipun kedua negara terus menunjukkan citra “persahabatan tanpa batas” di depan publik, realitas di balik layar tampaknya jauh lebih kompleks.
Kunjungan Putin ke Beijing pada 20 Mei 2026 mungkin berhasil menghadirkan kemegahan diplomatik dan simbol politik yang kuat. Namun bagi banyak pengamat, satu hal justru semakin jelas:
Dalam hubungan Rusia–Tiongkok saat ini, masing-masing pihak tetap mengutamakan kepentingannya sendiri — dan di meja negosiasi ekonomi, Beijing tampaknya memegang posisi yang jauh lebih kuat dibanding Moskow. (***)
EtIndonesia. Pada Selasa, 20 Mei 2026, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan peringatan keras terkait mandeknya proses negosiasi nuklir antara Washington dan Teheran.
Dalam keterangannya kepada media di Joint Base Andrews, Trump menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran telah memasuki “tahap akhir”. Namun di saat yang sama, ia menegaskan bahwa Amerika Serikat siap kembali melancarkan operasi militer apabila Iran menolak mencapai kesepakatan.
Trump mengatakan bahwa jalur pelayaran strategis di kawasan Timur Tengah harus segera dibuka kembali, terutama menyangkut keamanan di Selat Hormuz yang selama beberapa pekan terakhir menjadi pusat ketegangan global.
“Kita harus membuka jalur selat itu agar bisa langsung dilalui. Karena itu, kita harus mengambil langkah besar. Saya hanya berpikir, apakah mereka benar-benar memikirkan rakyat Iran? Karena menurut saya, beberapa tindakan mereka sama sekali tidak mengutamakan kepentingan rakyat,” katanya.
Pernyataan tersebut langsung memicu spekulasi bahwa Washington sedang bersiap meningkatkan tekanan militer terhadap Teheran.
Fox News: AS Diduga Bersiap untuk Gelombang Kedua Operasi Militer
Tak lama setelah pernyataan Trump muncul, sejumlah media Amerika, termasuk Fox News, melaporkan bahwa militer AS diduga tengah mempersiapkan gelombang kedua operasi militer terhadap Iran.
Perhatian dunia pun kembali tertuju pada aktivitas militer Amerika di kawasan Timur Tengah. Beberapa pesawat tanker Angkatan Udara AS dilaporkan terlihat berada di sekitar Bandara Ben Gurion.
Kemunculan pesawat tanker tersebut dinilai para analis sebagai indikasi penting, karena pesawat jenis itu biasanya digunakan untuk mendukung operasi udara jarak jauh dan pengisian bahan bakar pesawat tempur di tengah operasi militer.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa konflik yang sempat mereda kini kembali berada di ambang eskalasi besar.
Iran Tuduh Amerika Sengaja Memicu Perang Baru
Di pihak lain, Iran memberikan respons keras terhadap langkah-langkah Washington.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuduh Amerika Serikat sengaja berupaya memicu perang baru di kawasan Timur Tengah.
Melalui pernyataannya yang dikutip media Iran pada 20 Mei 2026, Ghalibaf menyatakan bahwa baik operasi terbuka maupun operasi rahasia Amerika menunjukkan bahwa Washington belum meninggalkan tujuan militernya terhadap Iran.
Ia menilai Amerika masih terus mencari cara untuk memulai konflik baru demi menekan Teheran secara politik dan ekonomi.
Meski demikian, di tengah meningkatnya ancaman militer, pemerintah Iran juga mengonfirmasi bahwa mereka masih meninjau proposal perdamaian terbaru yang diajukan pihak Amerika Serikat.
CENTCOM Rilis Video Marinir AS Naik ke Kapal Dagang Iran
Masih pada 20 Mei 2026, United States Central Command atau CENTCOM merilis video yang langsung menarik perhatian internasional.
Video tersebut memperlihatkan helikopter serang Marinir AS melakukan patroli di sekitar sebuah kapal dagang yang melintas di wilayah perairan strategis Timur Tengah. Dalam rekaman itu terlihat pasukan Marinir turun dari helikopter dan naik ke atas kapal.
Dalam pernyataannya di platform X, CENTCOM menyebut bahwa pasukan dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 telah menaiki kapal dagang berbendera Iran bernama “Tian Hai”.
Menurut CENTCOM, kapal tersebut diduga mencoba melanggar blokade yang diterapkan Amerika Serikat dan berlayar menuju pelabuhan Iran.
Militer AS menyatakan bahwa setelah pemeriksaan dilakukan dan awak kapal diperintahkan mengubah arah pelayaran, pasukan Marinir kemudian meninggalkan kapal tersebut tanpa insiden besar.
Washington juga menegaskan bahwa operasi blokade akan terus dilaksanakan secara penuh.
Hingga 20 Mei 2026, militer Amerika mengklaim sebanyak 91 kapal dagang telah diarahkan ulang demi memastikan seluruh pihak mematuhi aturan blokade yang diterapkan di kawasan.
Proposal Perdamaian Rahasia Bocor, Hormuz dan Uranium Jadi Fokus Utama
Di tengah memanasnya situasi, muncul pula kebocoran informasi yang menghebohkan publik internasional.
Seorang influencer garis keras Iran bernama Gorhaki mengaku membocorkan isi proposal perdamaian terbaru yang disebut diajukan Amerika Serikat kepada Teheran.
Menurut klaim tersebut, proposal Washington mencakup beberapa poin utama:
Pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz
Pelepasan sekitar 25% aset Iran yang dibekukan, dengan nilai diperkirakan mencapai 25 miliar dolar AS
Izin bagi Iran untuk mengirim uranium hasil pengayaan ke luar negeri
Pembatasan tingkat pengayaan uranium maksimum 3,67%
Selain itu, seluruh proses disebut harus dijalankan secara bertahap dalam waktu 30 hari agar Iran bisa kembali mengekspor minyak dan melanjutkan pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat.
Meski isi proposal tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, dan banyak pihak meragukan keasliannya, sejumlah pengamat menilai kebocoran semacam ini kemungkinan besar memang sengaja dilakukan untuk memperkuat posisi tawar Iran dalam negosiasi.
Drone Israel Diduga Digunakan UEA untuk Menyerang Iran
Perkembangan lain yang tak kalah mengejutkan juga muncul pada hari yang sama.
Sejumlah media melaporkan bahwa dalam sebuah serangan terbaru ke wilayah Iran, pasukan Uni Emirat Arab menyerang target sipil dan militer di Provinsi Hormozgan.
Namun yang paling menyita perhatian dunia bukan hanya serangan tersebut, melainkan jenis senjata yang digunakan.
Pihak Iran mengaku mengetahui asal drone itu setelah berhasil merebut setidaknya dua unit drone dalam kondisi relatif utuh.
Menurut laporan media Iran, drone-drone tersebut dikirim Israel ke UEA pada minggu kedua sejak pecahnya perang Iran. Bahkan disebutkan bahwa militer Israel secara langsung mengantarkan drone itu ke pangkalan militer UEA.
Jika informasi tersebut benar, maka hal ini menunjukkan bahwa negara-negara sekutu Teluk masih aktif terlibat dalam tekanan militer terhadap Iran, meskipun Amerika Serikat dan Israel untuk sementara tampak mengurangi serangan langsung mereka.
Timur Tengah Dinilai Mulai Bergerak ke Pola “Perang Perwakilan”
Sejumlah analis internasional menilai perkembangan terbaru ini memperlihatkan perubahan pola konflik di Timur Tengah.
Alih-alih hanya melibatkan Amerika Serikat dan Israel secara langsung, konflik kini mulai bergerak menuju pola “proxy war” atau perang perwakilan, di mana negara-negara sekutu bertindak mewakili kepentingan aliansi yang lebih besar.
Artinya, meskipun Washington dan Tel Aviv untuk sementara menahan diri dari operasi besar secara terbuka, negara-negara Teluk kemungkinan besar tetap akan bergerak untuk menekan Iran melalui operasi militer terbatas, serangan drone, maupun tekanan ekonomi dan jalur perdagangan.
Dengan negosiasi nuklir yang masih belum mencapai titik temu, sementara operasi militer dan blokade terus berlangsung, kawasan Timur Tengah kini kembali berada di ambang fase konflik yang jauh lebih berbahaya. (***)
EtIndonesia— Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah mantan pejabat militer senior Amerika melontarkan pernyataan yang mengejutkan dunia internasional. Di tengah spekulasi mengenai langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah kembali ke Gedung Putih, muncul dugaan bahwa Iran kemungkinan bukan lagi sedang mengejar senjata nuklir, melainkan mungkin sudah berhasil memilikinya secara diam-diam.
Pernyataan kontroversial itu disampaikan oleh mantan Kolonel Angkatan Darat Amerika Serikat, Larry Wilkerson, dalam sebuah wawancara yang tayang pada 20 Mei 2026 bersama pembawa acara terkenal di platform X, Mario Nawfal.
Ucapan Wilkerson langsung memicu gelombang kekhawatiran baru di kalangan pengamat geopolitik, intelijen, dan militer internasional. Jika pernyataannya benar, maka keseimbangan kekuatan di Timur Tengah berpotensi berubah drastis dalam waktu singkat.
Sosok Larry Wilkerson Bukan Tokoh Sembarangan
Larry Wilkerson bukanlah analis biasa yang sekadar memberikan opini politik. Ia pernah menjabat sebagai kepala staf Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Colin Powell, dan termasuk salah satu tokoh penting dalam lingkaran keamanan nasional AS pada era perang Irak.
Wilkerson juga diketahui pernah terlibat langsung dalam berbagai operasi intelijen strategis, termasuk penanganan isu nuklir Korea Utara serta pengungkapan jaringan proliferasi nuklir internasional milik Abdul Qadeer Khan pada tahun 2002. Abdul Qadeer Khan sendiri dikenal luas sebagai “bapak bom nuklir Pakistan” dan pernah dituduh menyebarkan teknologi nuklir ke berbagai negara.
Menurut Wilkerson, kasus intelijen pada awal 2000-an itu membuka mata Washington bahwa Korea Utara dan Iran ternyata memiliki hubungan kerja sama militer dan nuklir yang jauh lebih dalam dibanding yang diketahui publik.
Dugaan Korea Utara Membantu Iran Bangun Fasilitas Nuklir Bawah Tanah
Dalam wawancara tersebut, Wilkerson mengungkapkan bahwa Korea Utara diduga bukan hanya memasok teknologi kepada Iran, tetapi juga membantu Teheran membangun jaringan fasilitas nuklir rahasia di bawah tanah.
Ia menjelaskan bahwa kondisi geografis Iran dianggap sangat mirip dengan Korea Utara, terutama dari sisi struktur pegunungan dan lapisan batuannya. Faktor inilah yang disebut memudahkan pembangunan fasilitas militer tersembunyi yang sulit dideteksi satelit maupun serangan udara.
Menurut Wilkerson, Pyongyang kemungkinan mengajarkan teknik pembangunan bunker superdalam kepada Iran, termasuk metode perlindungan fasilitas nuklir dari serangan rudal penghancur bunker milik Amerika Serikat.
Ia bahkan menyatakan bahwa fasilitas rahasia tersebut mungkin berada sangat dalam di bawah tanah hingga lokasi pastinya belum diketahui secara pasti oleh intelijen AS maupun badan intelijen Israel, Mossad.
Pernyataan ini menjadi sangat sensitif karena selama bertahun-tahun Israel dan Amerika Serikat terus memantau aktivitas nuklir Iran melalui pengawasan satelit, operasi siber, serta infiltrasi intelijen.
Iran Diduga Sudah Masuki Tahap Akhir Perakitan Senjata Nuklir
Bagian paling mengejutkan dari wawancara Wilkerson muncul ketika ia menyebut bahwa Iran kemungkinan kini telah memasuki tahap akhir pengembangan senjata nuklir.
Menurutnya, fasilitas bawah tanah rahasia itu diduga sedang digunakan untuk proses akhir perakitan, termasuk memasukkan uranium yang telah diperkaya ke dalam sistem rudal.
Meski tidak menunjukkan bukti konkret secara publik, Wilkerson mengatakan dirinya percaya Iran sudah jauh lebih maju dibanding perkiraan banyak analis Barat.
Ia juga memperingatkan bahwa apabila suatu hari Israel menyerang fasilitas nuklir utama Iran atau menyerang situs sensitif seperti kompleks nuklir Dimona di Israel, Teheran mungkin akan langsung membuka “kartu truf” dan mengumumkan diri sebagai negara pemilik senjata nuklir.
Skenario semacam itu dinilai dapat memicu perubahan besar dalam peta geopolitik global, khususnya di Timur Tengah.
Solusi Diplomatik Dinilai Hampir Mustahil
Wilkerson juga menyampaikan pandangan pesimistis mengenai peluang diplomasi antara Washington dan Teheran.
Menurutnya, jika Iran benar-benar telah menyelesaikan pengembangan senjata nuklir secara diam-diam, maka peluang menghentikan program tersebut lewat negosiasi hampir tidak ada.
Ia menilai satu-satunya pilihan yang mungkin tersisa bagi Amerika Serikat adalah menemukan lokasi fasilitas rahasia tersebut, lalu melancarkan operasi militer cepat menggunakan pasukan khusus.
Namun langkah seperti itu tentu membawa risiko sangat besar, termasuk kemungkinan perang regional berskala luas yang melibatkan Israel, Iran, kelompok proksi di Timur Tengah, hingga kekuatan global lain seperti Rusia dan Tiongkok.
Konflik Internal Iran Mulai Memanas
Di tengah meningkatnya tekanan eksternal, Iran juga disebut sedang menghadapi gejolak internal yang serius.
Menurut laporan sejumlah media Arab dan Radio Free Voice, sepanjang Maret hingga April 2026 terjadi bentrokan bersenjata di beberapa kota penting Iran, termasuk Teheran, Isfahan, dan Tabriz.
Yang mengejutkan, bentrokan itu bukan melibatkan kelompok oposisi, melainkan konflik antara Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dengan militer reguler Iran sendiri.
Beberapa laporan bahkan menyebut adanya korban jiwa di kedua pihak.
Sumber-sumber tersebut mengungkapkan bahwa Garda Revolusi mulai mencurigai adanya kebocoran informasi rahasia mengenai pangkalan rudal serta fasilitas drone Iran kepada Israel dan Amerika Serikat.
Kecurigaan kemudian mengarah kepada unsur-unsur tertentu di tubuh militer reguler Iran yang dituduh menjadi “mata-mata internal.”
Situasi itu disebut memicu gelombang penangkapan besar-besaran serta ketegangan serius di internal aparat keamanan Iran.
Pengamat menilai konflik seperti ini sangat berbahaya karena dapat berkembang menjadi perebutan kekuasaan internal yang mengancam stabilitas pemerintahan Iran sendiri.
Trump Dinilai Sedang Menunggu Momen Terbaik
Bagi Presiden Donald Trump, kondisi tersebut dianggap sebagian analis sebagai peluang strategis yang sangat menguntungkan.
Selama ini Trump dikenal memiliki pendekatan tekanan maksimum terhadap Iran, namun pada saat yang sama lebih menyukai strategi melemahkan lawan tanpa harus terlibat perang besar berkepanjangan.
Sejumlah analis percaya Washington mungkin sedang memanfaatkan tekanan ekonomi, infiltrasi intelijen, serta konflik internal Iran untuk memperlemah rezim dari dalam.
Sementara itu, analis intelijen dari Channel 14, Dror Barzadeh, mengatakan elite Iran percaya Trump kemungkinan hanya akan melakukan serangan terbatas jika benar-benar memutuskan mengambil opsi militer.
Karena itulah, menurutnya, Teheran diduga sengaja memperlambat proses negosiasi sambil terus melontarkan ancaman keras kepada Amerika Serikat dan Israel.
Dunia Menunggu Langkah Berikutnya
Kini perhatian dunia internasional tertuju pada satu pertanyaan besar: apakah Amerika Serikat di bawah Donald Trump akan benar-benar melancarkan operasi militer terhadap Iran?
Atau justru Iran akan lebih dahulu terguncang oleh konflik internal sebelum perang besar benar-benar terjadi?
Di tengah meningkatnya ketegangan global, Timur Tengah kembali berdiri di ambang krisis baru yang dapat mempengaruhi keamanan internasional, harga energi dunia, hingga keseimbangan kekuatan nuklir global.
Untuk saat ini, belum ada bukti resmi yang dipublikasikan pemerintah Amerika Serikat maupun badan intelijen internasional yang memastikan Iran telah memiliki senjata nuklir. Namun pernyataan Larry Wilkerson telah cukup untuk memicu alarm baru di panggung geopolitik dunia. (***)
EtIndonesia. Sebuah pembantaian terjadi pada 21 Mei di kawasan perkebunan kelapa sawit di Honduras utara dan menewaskan sedikitnya 19 orang. Insiden ini terjadi ketika pemerintah Honduras sedang mempersiapkan tindakan militer terhadap kejahatan geng. Saat ini, tingkat pembunuhan di Honduras mencapai 24 orang per 100.000 penduduk.
Peristiwa pembantaian terjadi di Rigores, wilayah Bajo Aguan, tempat kelompok-kelompok geng yang saling bermusuhan selama bertahun-tahun memperebutkan kendali atas perkebunan sawit dan jalur penyelundupan narkoba.
Seorang pemimpin kelompok masyarakat pedesaan setempat mengatakan melalui telepon kepada AFP bahwa para petani yang dibunuh di Lembah Aguan bekerja untuk sebuah geng bersenjata yang menguasai perkebunan sawit tersebut.
Peta Honduras
Rekaman yang ditayangkan media lokal menunjukkan sedikitnya sembilan jenazah berserakan di area perkebunan sawit yang luas. Juru bicara kejaksaan, Yuri Mora, mengatakan di televisi lokal bahwa dua tim penyidik menemukan 13 jenazah di satu lokasi dan 6 jenazah di lokasi lain, dan jumlah korban tewas kemungkinan masih akan bertambah. Penutup kepala, sepatu bot, dan pakaian kerja milik para korban tampak berserakan di tanah.
“Dari gambar di lokasi kejadian, situasinya seperti neraka. Beberapa orang jelas dibunuh menggunakan senjata berkekuatan besar, termasuk senapan laras panjang dan senapan buru,” ujar Menteri Keamanan Honduras, Gerzon Velasquez kepada wartawan.
Velasquez mengatakan motif kejahatan masih belum jelas, tetapi lokasi kejadian “telah berada dalam konflik selama bertahun-tahun”. Kelompok geng bersenjata sering terlibat baku tembak untuk memperebutkan hak eksploitasi minyak sawit dan jalur penyelundupan narkoba.
Kepala Kepolisian Trujillo, Carlos Rojas, mengatakan kepada media lokal bahwa geng-geng menduduki lahan hutan primer, menebangi vegetasi secara ilegal untuk membuka lahan penanaman kelapa sawit Afrika sebagai tanaman komersial, lalu menggunakan hasilnya untuk membeli senjata.
Kongres Honduras baru saja menyetujui serangkaian reformasi untuk memerangi kekerasan kriminal. Kebijakan baru itu memberi wewenang kepada militer untuk ikut menjalankan tugas keamanan publik dan membentuk satuan tugas baru guna memerangi kejahatan terorganisasi. Pemerintah juga mempertimbangkan untuk menetapkan geng dan kartel narkoba sebagai organisasi teroris.
Presiden konservatif Honduras yang baru, Nasry Asfura, berjanji akan bekerja sama dengan Presiden AS Donald Trump dalam memerangi kejahatan terorganisasi di Amerika Latin.
ETIndonesia. Laporan Bloomberg menyebutkan Iran sedang berdiskusi dengan Oman untuk membangun sebuah “sistem pungutan permanen” guna secara resmi mengendalikan Selat Hormuz.
Selat Hormuz terletak di antara Iran dan Oman dan merupakan salah satu jalur transportasi energi terpenting di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur ini.
Namun, sejak pecahnya konflik antara AS-Israel dan Iran pada akhir Februari tahun ini, Iran sempat secara drastis membatasi lalu lintas di selat tersebut, yang menyebabkan harga energi global melonjak dan tekanan inflasi meningkat.
Kini, Iran tidak hanya enggan sepenuhnya memulihkan pelayaran normal, tetapi juga berencana memperluas kontrolnya atas Selat Hormuz.
Menurut laporan tersebut, Iran bersiap membentuk lembaga baru bernama “Otoritas Teluk Persia dan Selat”. Di masa depan, kapal-kapal yang melintasi selat kemungkinan harus melapor terlebih dahulu kepada lembaga tersebut dan membayar biaya transit.
Menanggapi hal ini, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan penolakan keras. Pada 21 Mei, ia mengatakan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur perairan internasional dan penerapan sistem pungutan di sana “sepenuhnya tidak dapat diterima”. Ia mengatakan: “Ini adalah ancaman bagi dunia dan sepenuhnya ilegal.”
Saat ini, Iran bersikeras bahwa mereka tidak akan sepenuhnya memulihkan lalu lintas normal di Selat Hormuz kecuali Amerika Serikat mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Meskipun Iran mengklaim bahwa dalam beberapa waktu terakhir sudah ada kapal tanker yang melewati selat dengan pengawalan Garda Revolusi, banyak perusahaan pelayaran internasional mengatakan bahwa sebagian besar perusahaan masih enggan mengambil risiko melintas karena ancaman rudal, drone, dan ranjau laut masih ada.
Selain itu, Iran juga menyatakan bahwa bahkan jika perang berakhir, mereka akan terus memperkuat kontrol atas Selat Hormuz di masa mendatang untuk mencegah Amerika Serikat dan Israel kembali melancarkan serangan.
Sementara itu, pejabat tinggi sektor energi United Arab Emirates memperingatkan bahwa jika masyarakat internasional membiarkan Iran memungut biaya di jalur pelayaran penting dunia, maka hal itu akan menciptakan “preseden berbahaya” yang dapat mengancam kebebasan pelayaran global di masa depan.
EtIndonesia. Pada Kamis (21 Mei), pemerintah Iran dilaporkan mengambil sikap keras dengan melarang pengiriman uranium yang diperkaya ke luar negeri. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa pihak AS pada akhirnya akan mengambil kembali uranium dengan tingkat pengayaan tinggi tersebut.
Selain itu, menurut informasi intelijen, dengan dukungan Rusia dan PKT, Iran sedang membangun kembali persenjataan dan kemampuan produksi drone dengan kecepatan yang melebihi perkiraan.
Pada Rabu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menelepon Trump secara mendesak dan mendesak militer AS agar tidak menunda kesempatan perang serta segera melanjutkan serangan militer terhadap Iran.
Trump pada Rabu (20 Mei) mengatakan bahwa ia bersedia menunggu beberapa hari lagi agar Iran memberikan “jawaban yang benar”. Namun, ia juga mengeluarkan peringatan yang tegas.
“Percayalah kepada saya, situasinya sekarang berada di garis batas. Jika kami tidak mendapatkan jawaban yang benar, situasi akan memburuk dengan cepat. Kami sudah siap sepenuhnya,” ujarnya.
Trump menambahkan bahwa jika kesepakatan dapat dicapai, maka banyak waktu dan tenaga bisa dihemat, dan yang terpenting adalah lebih banyak nyawa dapat diselamatkan.
Pada Kamis, Panglima Angkatan Darat Pakistan Asim Munir awalnya dijadwalkan mengunjungi Iran untuk melakukan mediasi darurat terkait perundingan damai AS-Iran dan mencoba mendorong kemajuan negosiasi. Namun, pada hari yang sama tiba-tiba muncul kabar bahwa kunjungan tersebut dibatalkan. Sejumlah analis menilai bahwa Amerika Serikat mungkin akan segera melancarkan serangan terhadap Iran.
Hal ini karena Iran tampaknya semakin bersikap keras dalam isu nuklir yang paling krusial. Dua sumber Iran mengatakan kepada Reuters bahwa pemimpin tertinggi Mojtaba telah memerintahkan agar uranium yang diperkaya tidak boleh dikirim ke luar negeri.
Kelompok garis keras Iran berpendapat bahwa jika material tersebut dikirim keluar negeri, maka rezim Iran akan menjadi lebih rentan menghadapi serangan Amerika Serikat dan Israel di masa depan.
Sebelum perang, Iran pernah secara sukarela menyatakan bersedia mengirim setengah dari stok uranium yang diperkayanya ke luar negeri.
Trump pada Kamis kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat pada akhirnya akan mengambil kembali uranium Iran yang diperkaya tingkat tinggi.
“Kami akan mendapatkan uranium yang diperkaya tinggi itu. Kami tidak membutuhkannya, dan kami juga tidak menginginkannya. Setelah kami mendapatkannya, mungkin kami akan menghancurkannya, tetapi kami sama sekali tidak akan membiarkannya berada di tangan mereka (Iran),” ujarnya.
Pada hari yang sama, harga minyak mentah Brent melonjak hampir 3 persen dan sempat mencapai 108,09 dolar AS per barel. Dunia luar menilai situasi negosiasi AS-Iran menjadi semakin rumit.
Menurut pejabat AS dan sumber Israel yang mengetahui masalah tersebut, Netanyahu pada Rabu melakukan percakapan telepon selama satu jam dengan Trump. Netanyahu mendesak AS untuk melanjutkan aksi militer terhadap Iran karena ia menilai penundaan serangan hanya akan menguntungkan Iran.
CNN pada Kamis mengutip beberapa pejabat intelijen AS yang mengatakan bahwa kecepatan Iran dalam membangun kembali industri militernya jauh melampaui perkiraan dunia luar.
Intelijen menunjukkan bahwa selama gencatan senjata enam minggu yang dimulai awal April, Iran telah memulihkan sebagian produksi drone, dan kemungkinan dapat sepenuhnya memulihkan kemampuan serangan drone dalam waktu paling cepat enam bulan.
Penilaian tersebut juga menyebutkan bahwa pembangunan kembali kemampuan militer Iran mencakup penggantian peluncur rudal yang hancur selama konflik serta pemulihan kemampuan produksi sistem persenjataan penting. Ini berarti bahwa bahkan setelah AS kembali melancarkan pemboman, Iran masih mungkin menjadi ancaman besar bagi negara-negara di kawasan.
Sumber-sumber mengatakan bahwa dukungan Rusia dan PKT menjadi salah satu alasan Iran dapat pulih dengan cepat. PKT disebut tetap memasok komponen yang dapat digunakan untuk pembuatan rudal kepada Iran selama konflik berlangsung.
Laporan gabungan jurnalis NTD Television, Yi Jing.
EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat (22/5/2026) menegaskan bahwa apa pun yang terjadi, AS pasti akan mengambil kembali uranium yang diperkaya tingkat tinggi yang ditimbun Iran dan akan menghancurkan bahan nuklir tersebut.
Terkait perundingan damai, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengungkapkan bahwa sudah ada kemajuan. Namun, jika Iran tetap ingin mengenakan biaya pelayaran di selat strategis, maka kesepakatan gencatan senjata tidak akan tercapai.
Di sisi lain, ada laporan yang menyebutkan bahwa saat ini pimpinan Garda Revolusi Islam telah “membajak” Iran dan secara paksa mendominasi posisi kebijakan dalam negosiasi.
“Tidak ada yang lebih penting daripada memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir, dan kami sama sekali tidak akan membiarkan itu terjadi,” kata Trump.
Meskipun pihak Iran menyatakan tidak akan menyerahkan material nuklirnya, Trump sebelumnya menegaskan bahwa pada akhirnya AS pasti akan mengambil kembali uranium yang diperkaya tinggi yang disimpan Iran.
Ia menyatakan bahwa jika Iran memiliki senjata nuklir, perang nuklir dapat pecah di Timur Tengah dan dampaknya akan meluas ke Eropa bahkan Amerika Serikat.
Seorang wartawan bertanya: “Apakah mereka boleh tetap menyimpan uranium yang diperkaya?”
Trump menjawab: “Kami akan mengambilnya. Kami tidak membutuhkannya, dan kami tidak ingin memilikinya. Setelah kami mendapatkannya, mungkin kami akan menghancurkannya, tetapi kami tidak akan membiarkan mereka memilikinya. Mengerti?”
Sebelumnya, Rubio juga mengatakan kepada wartawan bahwa dalam negosiasi untuk mengakhiri perang, telah muncul beberapa perkembangan positif. Delegasi Pakistan sedang menuju Teheran untuk mendorong pembicaraan lebih lanjut.
Rubio mengatakan:“Pilihan utama Presiden selalu mencapai kesepakatan, mencapai konsensus, dan menggunakan jalur diplomatik.”
Ia menambahkan:“Saat ini memang sudah terlihat beberapa tanda positif, tetapi kami juga memahami situasinya, dan saya tidak ingin terlalu optimistis. Mari kita lihat perkembangan beberapa hari ke depan.”
Rubio dan Trump sama-sama menegaskan bahwa Strait of Hormuz harus tetap terbuka untuk pelayaran bebas biaya. Jika Teheran bersikeras memberlakukan biaya transit, maka kesepakatan damai tidak mungkin tercapai.
Mantan pejabat Dewan Keamanan Nasional AS, Richard Goldberg, dalam sebuah artikel opini di New York Post menyatakan bahwa elit Teheran mungkin bisa menipu dunia dengan video propaganda buatan AI, unggahan media sosial, dan pernyataan tertulis untuk “pemimpin tertinggi bayangan”, namun mereka tidak dapat menghindari kenyataan runtuhnya ekonomi akibat blokade militer AS.
Ia mengatakan bahwa Trump saat ini berada di posisi unggul dan selanjutnya harus mendorong tiga garis strategi: terus melakukan blokade dan perang ekonomi untuk mengguncang rezim Iran; membentuk ulang tatanan energi global guna memperkuat dominasi AS, menstabilkan harga energi, sekaligus membendung ambisi PKT; serta meluncurkan “Operasi Jalur Pelayaran Epik” atau “Blockade Plus”, yaitu memerintahkan militer AS membuka jalur pelayaran di selat tersebut guna memulihkan kebebasan navigasi.
Goldberg berpendapat bahwa di bawah tekanan berlapis dari AS, Teheran pada akhirnya harus mengalah dalam isu senjata nuklir, jika tidak maka keruntuhan rezim akan semakin cepat.
Seiring negosiasi yang menemui jalan buntu, para pakar menunjukkan bahwa komandan Garda Revolusi Iran, Ahmad Vahidi, kini telah menjadi tokoh inti dalam membentuk sikap keras Iran dalam negosiasi dengan Amerika Serikat. Ada informasi yang menyebutkan bahwa ia merupakan salah satu anggota kelompok inti yang memiliki akses langsung kepada pemimpin tertinggi Mojtaba.
“Vahidi dan anggota lingkaran intinya tidak hanya memperkuat kendali atas respons militer dalam konflik ini, tetapi kemungkinan juga telah menguasai kebijakan negosiasi Iran,” demikian Institute for the Study of War.
Analisis lain menyebutkan bahwa tokoh seperti Vahidi “tidak hanya mengelola perang, tetapi juga secara aktif membentuk ulang suksesi kekuasaan, memperkuat otoritas di sekitar pemimpin tertinggi yang melemah, dan pada dasarnya telah ‘membajak’ Iran melalui pengelolaan krisis.”
Laporan jurnalis NTD Television, Wang Ziyi, dari AS
EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (21 Mei) mengumumkan bahwa AS akan menambah 5.000 personel militer ke Polandia. Awal bulan ini, Trump sempat berbicara melalui telepon dengan Presiden Polandia Karol Nawrocki untuk membahas perubahan penempatan pasukan AS di Eropa setelah Washington mengumumkan pengurangan pasukan AS di Jerman.
Trump menulis di platform media sosial miliknya, Truth Social, bahwa berdasarkan terpilihnya Nawrocki sebagai Presiden Polandia serta hubungan baik antara keduanya, “saya dengan senang hati mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan menambah 5.000 tentara ke Polandia.”
Saat ini sekitar 8.500 tentara AS ditempatkan di Polandia, baik dalam misi North Atlantic Treaty Organization maupun operasi berdasarkan perjanjian bilateral kedua negara. Polandia merupakan sekutu penting di sayap timur NATO yang berbatasan dengan Rusia.
Wakil Menteri Pertahanan Polandia, Paweł Zalewski, sebelumnya mengatakan kepada media Polandia bahwa pemerintah Polandia sedang berdiskusi dengan Pentagon untuk memperkuat penempatan militer AS di Polandia.
Rencana penempatan militer AS di Eropa belakangan menjadi perhatian besar. Setelah berselisih dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz terkait perang Iran, Trump bahkan mengatakan bahwa ia mungkin mempertimbangkan keluar dari NATO. Pada awal Mei, Washington mengumumkan akan menarik sekitar 5.000 tentara AS dari Jerman.
Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance awal pekan ini mengatakan bahwa rencana pengerahan 4.000 tentara AS ke Polandia hanya ditunda, bukan dibatalkan. Namun, ia juga menegaskan bahwa Eropa harus “lebih mandiri dan memperkuat diri sendiri”.
Menurut data dari Defense Manpower Data Center milik Pentagon, hingga Desember 2025 terdapat sekitar 68.000 personel militer AS yang ditempatkan secara permanen di pangkalan luar negeri di Eropa. Angka tersebut belum termasuk personel rotasi maupun peserta latihan militer.
EtIndonesia. Banyak orang saat sedang sedih atau stres merasa sangat ingin makan makanan manis, dan setelah memakannya merasa seperti “energi kembali penuh”. Dari sudut pandang ilmu gizi, memang ada hubungan tertentu antara makanan dan suasana hati. Berikut tujuh jenis “makanan ramah emosi” yang diperkenalkan.
Pertama adalah pisang. Pisang mengandung triptofan, vitamin B6, dan magnesium, yaitu nutrisi yang berkaitan dengan pembentukan neurotransmiter. Zat-zat ini membantu tubuh mengatur emosi dengan lebih baik, sehingga pisang sering dianggap sebagai buah yang baik untuk suasana hati.
Kedua adalah buah-buahan sitrus seperti jeruk, mandarin, dan grapefruit. Penelitian menemukan bahwa orang yang sering mengkonsumsi buah sitrus memiliki risiko depresi sekitar 20% lebih rendah. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan bakteri baik di usus yang disebut “Faecalibacterium prausnitzii”. Probiotik ini mempengaruhi metabolisme serotonin dan dopamin, yaitu zat yang berhubungan dengan emosi, sehingga membantu menjaga kestabilan suasana hati.
Ketiga adalah blueberry. Blueberry kaya akan antosianin dan polifenol lainnya yang memiliki efek antioksidan, membantu menjaga kesehatan otak dan mengurangi stres oksidatif.
Keempat adalah bayam. Mengkonsumsi lebih banyak sayuran hijau tua seperti bayam baik untuk kesehatan tubuh maupun emosi.
Kelima adalah ikan laut dalam, seperti salmon dan sarden. Ikan-ikan ini kaya akan asam lemak Omega-3, terutama EPA dan DHA, yang sangat berperan dalam pengaturan emosi.
Keenam adalah kerang-kerangan. Makanan ini mengandung seng dan vitamin B12. Kekurangan seng dapat menyebabkan ketidakseimbangan neurotransmiter dan meningkatkan rasa cemas.
Terakhir adalah coklat hitam. Kakao dalam cokelat hitam mengandung flavonoid dan magnesium yang membantu mengurangi stres oksidatif serta memberikan efek positif bagi otak dan suasana hati.
Karena itu, kondisi “lingkungan usus” memang dapat mempengaruhi emosi. Pola makan sehat dan seimbang, ditambah jadwal hidup teratur serta olahraga yang cukup, memang dapat membantu menjaga kondisi tubuh dan suasana hati tetap lebih baik.