Penunggakan pembayaran upah sudah menjadi lumrah terjadi di Tiongkok yang perekonomiannya sedang menurun tajam. Sebuah video yang diposting online menunjukkan bahwa pekerja proyek konstruksi di Guinea, Afrika melakukan pemogokan karena penunggakan upah mereka oleh China Construction Fifth Engineering Division Corp. Ltd, sebuah BUMN Tiongkok yang memenangkan tender pembangunan jalur KA di sana.
Rekaman video yang ditayangkan di Internet menunjukkan protes dan pemogokan pekerja Afrika terjadi pada 22 Maret di lokasi proyek pembangunan jalur KA Guinea – West Railway Bid no.9 yang sedang dibangun oleh China Construction Fifth Engineering Division Corp. Ltd. akibat perusahaan BUMN Tiongkok ini menunggak pembayaran upah pekerja. Slogan minta pembayaran upah sampai ditulis dalam bahasa Mandarin yang berbunyi : “Pekerja menginginkan uang hasil jerih payah mereka”.
Menurut laporan “NetEase”, ada netizen yang mengabarkan bahwa seorang pejabat dari China Construction Fifth Engineering Division Corp. Ltd. sampai kepalanya ditodong senjata oleh pekerja yang meminta pembayaran. Namun uangkapan ini telah dihapus.
Beberapa netizen mengatakan bahwa masyarakat setempat minta pembayaran upah sambil memegang AK47 membuat pejabat dari BUMN sangat takut sehingga buru-buru melakukan pembayaran pada hari yang sama ! Fakta membuktikan bahwa ketika senjata ada di tangan, tidak akan ada lagi sebutan “pekerja meminta upah dengan mengganggu ketertiban umum”.
Li Jiang, nama samaran dari seorang insinyur yang pernah berpartisipasi dalam pembangunan jalur KA Tiongkok – Laos, bagian dari proyek “Satu Sabuk Satu Jalan” (OBOR) milik PKT, mengungkapkan bahwa kantor konsulat Tiongkok di Laos sampai diduduki oleh para pekerja migran lokal karena masalah menunggak upah.
Li Jiang mengatakan : “Tunggakan pembayaran upah para pekerja migran di proyek-proyek OBOR umum terjadi. Saya mendengar bahwa beberapa perusahaan lain juga melakukan hal yang sama. Saya kan bekerja untuk pembangunan jalur KA Kunming – Vientiane. Ruang kantor proyek sampai diduduki para pekerja migran yang menuntut pembayaran upah, bahkan protes berkembang sampai menduduki Konsulat Tiongkok di Vientiane. Hal tersebut membuat marah pemerintah pusat, sehingga menghukum pemimpin perusahaan karena dianggap tidak becus dalam menangani masalah”.
Li Jiang mengatakan bahwa para pekerja migran dari daratan Tiongkok juga sangat sengsara, mereka harus menghadapi risiko tinggi dan intensitas pekerjaan juga tinggi.
Li Jiang mengatakan : “Para pekerja migran yang berangkat dari Tiongkok ke lokasi proyek OBOR di luar negeri juga menghadapi tekanan yang sangat tinggi, sebagai tangan pertama atau kedua dalam menangani pekerjaan borongan mungkin masih oke, oke saja. Tetapi kalau menangani borongan ketiga atau keempat, maka risikonya sangat tinggi. Saya sendiri tidak dibayar sedikit pun saat epidemi karena proyek terhenti. Pemerintah ini sadis, satu sen pun tidak diberikan. Namun intensitas pekerjaannya sangat besar, orang harus bekerja tanpa hari Minggu atau hari besar, apa lagi pekerjaan masih belum selesai. Kami yang insinyur saja tidak boleh libur kerja. Sehari bekerja belasan jam, sangat letih, tidak ada bedanya dengan sapi atau kuda. Kejam adalah faktanya”.
Pada Januari tahun ini, proyek OBOR yang ditangani oleh Sinohydro Bureau 7 Co., Ltd, sebuah BUMN Tiongkok juga memicu protes dari para pekerja Indonesia karena menunggak pembayaran upah mereka. Rekaman video menunjukkan spanduk protes digantung di seberang jalan di mana Kedutaan Besar Tiongkok untuk Indonesia berada. (sin)
Seorang diplomat AS mengungkapkan soal mengapa Partai Komunis Tiongkok (PKT) menemui kesulitan untuk menumbuhkan minat orang asing menanamkan modalnya di RRT meskipun Xi Jinping sendiri yang turun tangan lewat pertemuan usai Forum Pembangunan Tiongkok (China Development Forum. CDF) beberapa hari lalu. Itu karena PKT di satu pihak mau orang asing menanamkan modalnya tetapi di pihak lain juga mau menangkap orang asing.
Duta Besar AS untuk Jepang, Rahm Emanuel baru-baru ini menerima wawancara dari media mandiri “China Talk” untuk membahas topik mengenai penindasan yang dilakukan oleh pemimpin PKT terhadap aktivitas bisnis Tiongkok.
Menurut pratinjau yang dirilis oleh pembawa acara “China Talk” Jordan Schneider di media sosial “X” pada hari Senin (1 April), video wawancara lengkap akan disiarkan pada hari Selasa.
Dalam pratinjau tersebut, Dubes Rahm Emanuel mengatakan : “Tiongkok memiliki budaya kewirausahaan yang kuat, dan dia (mengacu pada pemimpin PKT Xi Jinping) telah merusak semangat kewirausahaan mereka. Dalam proses merusak semangat kewirausahaan para wirausahawan dan melaksanakan strategi Xi, dia menghancurkan kredibilitas dunia terhadap Tiongkok”.
Pada 27 Maret, 15 orang pemimpin bisnis Amerika Serikat diundang oleh pemimpin Partai Komunis Tiongkok untuk menghadiri pertemuan tertutup. Namun, sumber mengatakan bahwa alih-alih meredakan kekhawatiran, pertemuan tersebut malah menambah ekspektasi negatif terhadap perekonomian Tiongkok dari para CEO AS ini.
“Tentu saja sangat sulit jika Anda menginginkan orang lain kembali menanamkan modal tetapi pada saat yang sama Anda ingin menangkap mereka”, kata Rahm Emanuel.
Selanjutnya ia mengatakan bahwa, 10 tahun lalu, perusahaan asing tidak akan dilarang atau dibatasi jika mereka ingin mengirimkan karyawannya ke Beijing atau Shanghai, atau membuka kantornya di Tiongkok.
Tapi segalanya berbeda sekarang. “Anda tidak akan mungkin membuat karyawan baik dari perusahaan Jepang, Eropa, Tiongkok atau Amerika Serikat mengangkat jari tangan dan mengatakan, bahwa ia sudi memindahkan anggota keluarganya untuk hidup di kota (Tiongkok) yang sewaktu-waktu bisa menangkap dan mengurung mereka”, katanya.
“Jadi, mereka (Partai Komunis Tiongkok) kini sudah kehilangan kepercayaan dunia”, kata Rahm Emanuel.
Michelle Caruso-Cabrera, kontributor stasiun televisi keuangan Amerika CNBC, lewat akunnya di media sosial “X” pada 27 Maret menggambarkan bahwa dirinya baru saja mewawancarai seseorang CEO yang ikut berpartisipasi dalam “China Development Forum” (CDF), dan para eksekutif Amerika Serikat yang berdiskusi dengan Xi Jinping. Eksekutif tersebut secara anonim mengatakan kepada media bahwa selama pertemuan yang berlangsung selama 1,5 jam itu, kekhawatiran mengenai investasi di Tiongkok malah meningkat.
Eksekutif tersebut mengatakan : “Kondisi bisnis masih buruk” dan kepercayaan tentang pemulihan ekonomi Tiongkok sangat rendah.
Dalam wawancaranya di program “Squawk Box” CNBC pada 28 Maret Michelle Caruso Cabrera mengatakan, pemimpin Partai Komunis Tiongkok pada pertemuan tersebut berulang kali menegaskan bahwa Beijing tidak akan melepaskan sentralisme ekonomi. Meskipun perusahaan swasta juga beberapa kali disinggung dalam pertemuan itu, tetapi Xi Jinping tetap bersikap bahwa dirinya akan mengalihkan fokusnya untuk mendukung perusahaan-perusahaan besar milik negara, karena merekalah yang mampu mendominasi pertumbuhan ekonomi.
Michelle mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan AS yang berpartisipasi dalam pertemuan tersebut umumnya sudah berinvestasi besar-besaran di Tiongkok sejak 20 atau 30 tahun silam, namun lingkungan bisnis saat ini benar-benar berbeda dibandingkan ketika perusahaan-perusahaan ini pertama kali masuk Tiongkok.
Menurut pengamatannya, komunitas bisnis Amerika Serikat saat ini tampaknya tidak lagi berminat untuk menanamkan modal di Tiongkok. Sebaliknya alokasi aset dari Tiongkok ke AS sedang meningkat tajam. (sin)
MERAK – Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo mengimbau masyarakat yang akan mudik bisa mengatur waktu perjalanan. Hal itu menjadi cara agar dapat menghindari puncak arus mudik Lebaran 2024.
“Bisa manfaatkan waktu dan atur waktu untuk hindari puncak-puncak arus mudik. Yang biasanya mungkin melaksanakan kegiatan malam hari, ini bisa bergeser ke siang hari,” jelas Jenderal Sigit saat melakukan peninjauan di Pelabuhan Merak Banten, Senin (1/4).
Menurut Kapolri, hal itu disarankan karena adanya lonjakan pemudik pada tahun ini dibandingkan momen sebelumnya. Berdasarkan data dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub), setidaknya ada peningkatan 65% masyarakat yang mudik dibandingkan 2023. “Karena itu, tentunya kami semua mengimbau agar mudik berjalan aman dan lancar, agar apabila tidak ada kegiatan bisa mudik lebih awal dan cepat,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo bersama Menko Polhukam Hadi Tjahjanto dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto melakukan peninjauan kesiapan mudik di penyeberangan Merak, Banten, hari ini (1/4). Hal itu dilakukan guna memastikan tidak ada kendala di jalur mudik Lebaran 2024.
“Kami ingin mengecek kesiapan personel, serta sarana dan prasarana, guna melayani masyarakat yang akan melaksanakan mudik Lebaran,” kata Jenderal Sigit dalam keterangan resminya kepada wartawan, Senin (1/4).
Dalam tinjauan itu, Kapolri memastikan akan adanya pengawalan kepada pemudik di daerah rawan kejahatan maupun kecelakaan. Oleh karenanya, masyarakat diimbau untuk melaporkan kepada anggota di tiap pos yang ada. “Untuk pengamanan yang disampaikan pak Menko Polhukam terkait dengan kekhawatiran, apabila masyarakat merasa di dalam perjalanannya khawatir di wilayah tertentu rawan kejahatan silahkan melapor ke pos terdekat,” jelas Jenderal Sigit.(Leo)
EtIndonesia. Bayangkan pemandangannya – Anda sedang di kapal pesiar di tengah laut, mungkin menyeruput pina colada, ketika tiba-tiba sambaran petir menyambar kapal dan kebakaran terjadi.
Itulah yang terjadi pada pasangan ini yang mengalami momen mengerikan selama perjalanan pelayaran mereka di tamasya Karibia.
Florence Torchia ingat menyaksikan sambaran petir menghantam kapal Carnival Freedom saat terjadi badai petir, menyebabkannya terbakar.
Saat itu, kapal berada 20 mil di lepas pantai Pulau Eleuthera di Bahamas ketika terjadi kecelakaan pada Sabtu (23 Maret).
Pasangan itu menjelaskan kepada Fox Weather bahwa beberapa saat setelah sambaran petir terjadi, para kru melaporkan adanya kebakaran di saluran pembuangan kapal.
Joe Torchia mengatakan pasangan tersebut sedang menonton kebakaran di TV, dan ‘mereka telah menyiapkan [kamera]’.
Saat menyaksikan kobaran api, dia teringat pernah berkata: “Ya Tuhan, ini tidak terlihat bagus.”
Meskipun para kru dengan cepat merespons kebakaran tersebut, pasangan tersebut mengatakan selang mereka ‘tidak mencapai corong’.
Dalam hiruk pikuk, para Torchia mencoba mengikuti perintah kapten untuk berjalan ke tempat pengumpulan, namun dihadapkan pada ‘anak-anak menangis’ yang berusaha menemukan orangtua mereka.
“Itu menakutkan,” kata Joe.
Namun mimpi buruk baru saja dimulai.
Beberapa saat kemudian tumpukan gas buang jatuh ke dek ke-10, menimbulkan kepulan asap ‘di kabin kami dan segalanya’.
Namun, terlepas dari parahnya situasi, pasangan ini memuji komunikasi pihak kapal pesiar karena mereka ‘memberi tahu kami segalanya’, namun hal ini memberikan tekanan pada upaya pelayaran Torchia.
“Saya lebih suka pergi ke Karibia untuk mengunjungi satu tujuan saja,” kata Florence, yang merupakan penggemar kapal pesiar untuk ketiga kalinya.
Joe mengatakan ini adalah pelayaran ketiga pasangan itu, ‘tapi mungkin ini yang terakhir bagi kami’.
Berbicara kepada Fox Weather, juru bicara Carnaval mengatakan pekan lalu: “Sementara kami terus menyelidiki laporan beberapa saksi mata tentang sambaran petir, tim teknis kami menyelesaikan penilaian menyeluruh selama kunjungan kapal ke Freeport pada hari Minggu.”
Perusahaan mengakui bahwa kerusakan yang disebabkan oleh kebakaran tersebut perlu segera diperbaiki untuk menstabilkan corong dan jumlahnya ‘lebih dari yang kami duga’.
Kerusakan tersebut menyebabkan banyak wisatawan yang bersemangat kehilangan perjalanan mereka setelah pelayaran tanggal 25 dan 29 Maret dibatalkan oleh Port Canaveral, meskipun untungnya uang tersebut dikembalikan.
Pihak pelayaran menambahkan: “Kami sangat menghargai tamu-tamu hebat kami atas kerja sama dan dukungan mereka yang luar biasa.” (yn)
EtIndonesia. Laporan yang mengerikan dan tragis kini berbicara tentang mayat yang diambil dari sungai yang membeku yang konon milik seorang wanita yang mencoba menyelamatkan seekor anjing dari tragedi.
Wanita itu dilaporkan jatuh ke sungai beku ketika mencoba menyelamatkan anak anjing malang itu sesuai laporan dari media lokal.
Tanpa ragu-ragu sama sekali, dia langsung terjun, mengetahui betul apa konsekuensi dari tindakannya. Dan sekarang, tim penyelamat mengatakan telah menemukan mayatnya, yang masih berpegangan erat pada anjing yang dikatakan akan dia selamatkan.
Keluarganya telah mengirimkan penghormatan yang memilukan, mengakui perilaku tanpa pamrihnya dan menambahkan bagaimana dia akhirnya meninggal sebagai pahlawan.
Cobaan tragis terjadi di Anchorage, Alaska, AS, di mana polisi mengidentifikasi korban sebagai Amanda Richmond Rogers yang sedang berjalan-jalan dengan rekannya, dr. Brian Rogers.
Pasangan tersebut diyakini sedang merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke -18, namun tiba-tiba, anjing peliharaan mereka terjatuh ke dalam air. Tanpa berpikir dua kali, Amanda langsung melompat ke dalam.
Seorang pejalan kaki menemukan jenazahnya di jalur North Fork pada suatu sore yang sangat suram. Hal ini menyebabkan polisi dan petugas tanggap darurat dipanggil untuk mengidentifikasi mayat tersebut dengan lebih baik. (yn)
EtIndonesia. Seorang wanita di Tiongkok dituduh mencoba mengakhiri kehamilan rekan kerjanya dengan meracuni airnya untuk mencegahnya mengambil cuti hamil dan dengan demikian menghindari beban kerjanya yang lebih tinggi.
Dalam salah satu kasus insiden terkait pekerjaan paling mengejutkan yang dilaporkan di Tiongkok, seorang pekerja di lembaga yang berafiliasi dengan pemerintah di Provinsi Hubei diduga mencoba mengakhiri kehamilan rekan kerjanya dengan berulang kali meracuni airnya untuk menghindari beban kerja yang lebih tinggi yang disebabkan oleh cuti hamilnya.
Rencana jahat ini dilaporkan terungkap ketika korban menyadari bahwa airnya terus terasa aneh, terlepas dari sumbernya. Pada awalnya, dia yakin bahwa itu adalah pasokan air dari kantor, tetapi rasa itu tetap ada bahkan setelah dia beralih ke air kemasan. Saat itulah dia memutuskan untuk menyelidiki lebih lanjut.
Salah satu teman korban yang tidak disebutkan namanya bercanda bahwa seseorang di kantor mungkin mencoba meracuninya, dan wanita tersebut memutuskan untuk menguji teori tersebut dengan menggunakan tabletnya untuk merekam video mejanya dan siapa saja yang mendekatinya. Begitulah cara dia memergoki salah satu rekannya sedang menuangkan zat seperti bubuk ke dalam botol airnya sebelum segera berbalik dan pergi tanpa ada yang menyadarinya.
Berdasarkan tangkapan layar percakapan WeChat, saat dikonfrontasi, tersangka peracun mengatakan bahwa dia mengutak-atik air korban karena tidak mampu menangani sendiri beban kerja tambahan saat wanita hamil tersebut mengambil cuti melahirkan.
Korban sudah melapor ke polisi dan penyelidikan sedang dilakukan. Pihak berwenang menangani kasus ini dengan sangat serius, seolah-olah ternyata tersangka bertindak dengan maksud untuk menimbulkan kerugian, hal ini dapat dianggap sebagai tindak pidana yang melukai, terlepas dari sifat zat yang digunakannya.
Kasus yang tidak biasa ini menjadi viral di media sosial Tiongkok, di mana sebagian besar pengguna mengungkapkan keterkejutan mereka atas solusi yang dilakukan rekan kerja tersebut dalam menghadapi potensi peningkatan beban kerja.
“Meracuni seseorang hanya karena Anda tidak ingin mereka mengambil cuti? Apakah dia terlalu banyak menonton drama polisi?” satu orang mengomentari WeChat. (yn)
FBI sedang menyelidiki ancaman yang dialamatkan kepada perusahaan kesenian yang berbasis di New York, yang merupakan target utama dari Beijing
Petr Svab
Perusahaan tari dan musik yang berbasis di New York, Shen Yun Performing Arts, telah menjadi sasaran setidaknya 10 ancaman bom, penembakan massal, penculikan, dan pemerkosaan. Berbagai ancaman tersebut dikirim melalui email, biasanya dalam bahasa Mandarin, selama dua minggu terakhir dengan frekuensi yang meningkat.
Beberapa email dikirim ke kantor pusat perusahaan. Yang lainnya dikirim ke teater-teater di mana Shen Yun tampil atau dijadwalkan untuk tampil, memicu evakuasi dan penyisiran bom. Tidak ada bahan peledak yang ditemukan. Shen Yun telah lama menjadi target Partai Komunis Tiongkok (PKT) karena pertunjukannya yang menggambarkan “Tiongkok sebelum komunisme.”
Ancaman terakhir, pada 27 Maret, dikirim ke markas Shen Yun, yang disebut Dragon Springs, di bagian utara New York.
“Dalam waktu dekat, Anda harus menjaga para aktris Anda, yang sangat mungkin menghilang satu per satu dan mungkin dalam keadaan telanjang ketika ditemukan. Kesimpulan forensiknya adalah mereka dibunuh setelah diperkosa!” demikian tertulis dalam bahasa Mandarin. “Saya tidak bercanda.”
Email tersebut dikirim dari alamat yang sama dengan tiga ancaman sebelumnya sehari sebelumnya, satu ke sebuah teater di California, satu lagi ke teater di Taiwan, dan satu lagi ke Dragon Springs. Salah satu email, yang penuh dengan sumpah serapah, menunjukkan bahwa semua ancaman tersebut berasal dari satu sumber.
Penari dari Shen Yun Performing Arts tampil di atas panggung. Rezim Tiongkok telah menargetkan Shen Yun selama hampir dua dekade. (Courtesy of Shen Yun)
“Saya, Bos Besar Anda, telah menjadi berita utama ratusan kali! FBI sama sekali tidak perlu dikhawatirkan,” demikian isi email tersebut dalam bahasa Mandarin. “Terus mengirim [email seperti itu] akan membuat polisi lelah, cepat atau lambat, dan mereka akan berpikir bahwa ini adalah anak laki-laki yang berteriak ada serigala.”
“Suatu hari nanti, saya akan benar-benar meletakkan bom di teater. Jika itu membunuh salah satu dari kalian, maka akan berkurang satu pengkhianat.”
Dalam insiden terpisah di California dua minggu yang lalu, ban dua bus tur Shen Yun digembosi dengan tujuan untuk menimbulkan terjadinya kecelakaan serius.
Epoch Times Inggris sebelumnya melaporkan bahwa FBI sedang menyelidiki insiden tersebut. The Epoch Times telah menghubungi FBI untuk memberikan komentar atas insiden terbaru ini, namun belum mendapatkan balasan hingga saat berita ini dipublikasikan.
Juru bicara Departemen Luar Negeri Matthew Miller saat konferensi pers pada 27 Maret 2024. (Screenshot/The Epoch Times)
Ketika ditanya tentang serangkaian ancaman terhadap Shen Yun pada konferensi pers 27 Maret, juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Matthew Miller, mengatakan, “Kami mengutuk penindasan transnasional nasional dalam bentuk apa pun, yang dilakukan oleh negara mana pun.”
Kampanye PKT
Shen Yun, perusahaan tari dan musik klasik Tiongkok terkemuka di dunia, telah dikenal karena representasi budaya Tiongkok yang otentik dengan slogan “Tiongkok sebelum komunisme.” Sejak awal berdirinya, perusahaan ini telah menjadi target kampanye campur tangan oleh PKT.
Ying Chen, wakil presiden Shen Yun Performing Arts mengatakan : Shen Yun menunjukkan kepada dunia betapa mendalam, inspiratif, dan megahnya budaya otentik Tiongkok sebelum PKT merebut kekuasaan, sementara juga menawarkan visi yang menawan tentang betapa indahnya Tiongkok sekali lagi tanpa PKT.”
Tentara paramiliter berjaga di depan Aula Besar Rakyat di Beijing pada tanggal 7 Maret 2006. (Frederic J. Brown/AFP via Getty Images)
“Ini adalah hal yang paling tidak diinginkan oleh PKT untuk ditampilkan dengan sangat jelas di berbagai pertunjukan di seluruh dunia, sehingga selama lebih dari 15 tahun, mereka tidak berhenti untuk menggagalkan Shen Yun.”
Banyak seniman Shen Yun berlatih Falun Gong, sebuah latihan spiritual Tiongkok dari zaman lampau yang meliputi latihan gerak lambat dan mempelajari prinsip-prinsip ajaran yang didasarkan pada Sejati-Baik-Sabar.
PKT telah melancarkan kampanye fitnah, penangkapan, penyiksaan, dan pengambilan secara paksa organ tubuh terhadap Falun Gong sejak 1999, setelah survei yang dilakukan oleh pemerintah mengindikasikan bahwa 70 juta hingga 100 juta orang telah mengadopsi latihan ini, melebihi jumlah keanggotaan PKT. Beberapa tarian Shen Yun menggambarkan penganiayaan terhadap Falun Gong.
Dalam puluhan kasus, pejabat PKT telah menekan gedung teater atau pejabat pemerintah untuk membatalkan pertunjukan Shen Yun. Beberapa seniman Shen Yun telah mengalami kerabat mereka di Tiongkok diintimidasi oleh polisi atau dipenjara.
Eskalasi
Perwakilan Shen Yun percaya bahwa semua ancaman tersebut terkait dengan kampanye PKT terhadap perusahaan.
Ancaman pertama disampaikan pada 14 Maret, dalam sebuah email berbahasa Mandarin ke Dragon Springs yang mengklaim bahwa “sebuah bom kendali jarak jauh” telah ditempatkan di fasilitas tersebut. Penegak hukum telah diberitahu, namun tidak ada bahan peledak yang ditemukan.
Lokasi Dragon Springs meliputi fasilitas pelatihan Shen Yun, sebuah perguruan tinggi seni, akademi seni, dan beberapa temples dengan gaya Dinasti Tang.
Pada waktu yang hampir bersamaan, ban pada dua bus tur Shen Yun digembosi di Costa Mesa, California, menurut laporan polisi yang diperoleh The Epoch Times.
Sayatannya sekitar setengah inci hingga satu inci – tidak cukup untuk menggemboskan ban, tetapi cukup untuk membuat ban meletus ketika sedang melaju. Setelah kejadian serupa di tahun-tahun sebelumnya, perusahaan telah menjaga bus-bus mereka di bawah pengawasan yang ketat. Namun, kedua bus tersebut harus ditinggalkan tanpa pengawasan di garasi untuk menjalani perawatan. Sayatan ditemukan setelah kendaraan diambil.
Kemudian, pada 22 Maret, sebuah teater di Santa Barbara, California, menerima ancaman bom tepat ketika Shen Yun sedang bersiap-siap di tempat tersebut untuk pertunjukan akhir pekan itu. Teater dievakuasi, dan polisi menyisir tempat itu untuk mencari bahan peledak dengan tim K-9. Tidak ada yang ditemukan, dan pertunjukan tetap berjalan sesuai jadwal, meskipun dengan keamanan yang ditingkatkan.
“FBI mengetahui adanya dugaan ancaman tersebut dan sedang berkomunikasi dengan mitra lokal kami di Departemen Kepolisian Santa Barbara,” kata juru bicara biro tersebut kepada The Epoch Times.
Agen FBI berjalan di dekat markas besar FBI di Washington pada 15 Februari 2024. (Madalina Vasiliu / The Epoch Times)
Pada 23 Maret, ancaman bom serupa dikirim ke sebuah teater di Vancouver, Kanada, di mana kelompok Shen Yun lainnya sedang tampil pada akhir pekan itu. Polisi menyisir gedung tersebut untuk mencari bahan peledak, namun tidak menemukan apa-apa.
Pada 26 Maret, sejumlah email ancaman dikirim ke Dragon Springs dan juga beberapa gedung teater.
Satu email mengklaim bahwa “beberapa bom plastik C4 telah ditempatkan di berbagai lokasi di Temple Dragon Springs.”
Sebuah email lainnya mengancam akan adanya penembakan massal.
“Kami akan menyelinap ke Temple Dragon Springs di Shawangunk Ridge, bagian utara New York, dalam waktu dekat, menembaki siapa pun yang kami lihat dengan senjata dan melemparkan granat ke kerumunan orang!” demikian isi email tersebut.
Pada hari itu juga muncul kata-kata kasar yang sarat sumpah serapah di mana pengirimnya tampak marah karena Dragon Springs dan Shen Yun telah melaporkan ancaman tersebut kepada polisi dan media.
“Saya, ayahmu, yang telah mengirim email [ancaman] bom ke teater Shen Yun, lalu kenapa?” katanya, membual tentang kekebalan hukum dan koneksi yang tidak jelas.
“Sejujurnya, saya, ayahmu, juga memiliki koneksi di Amerika Serikat.”
Pada hari yang sama, alamat email yang sama mengirimkan ancaman ke sebuah teater di Long Beach, California, dan ancaman bom ke sebuah teater di Kaohsiung, Taiwan, di mana Shen Yun dijadwalkan tampil dalam beberapa hari mendatang.
Masih ada lagi email, dari alamat yang berbeda, yang dikirim pada hari itu ke Dragon Springs, membuat ancaman tentang bom di Teater Nasional Taichung di Taiwan; Bandara Taoyuan di Taiwan, di mana kelompok Shen Yun mendarat pada 24 Maret; dan Museum Istana Nasional di Taipei, Taiwan.
Keesokan harinya, Dragon Springs menerima dua ancaman lagi, satu dari alamat email yang tidak asing lagi, yang mengancam akan melakukan penculikan, pemerkosaan, dan pembunuhan terhadap para penari wanita Shen Yun, dan yang lainnya mengklaim bahwa bom akan diledakkan di Gedung Kantor Kepresidenan di Taipei jika pertunjukan Shen Yun tidak dibatalkan.
Chen berkata : Tentu saja, kami menanggapi ancaman ini dengan serius dan memastikan otoritas penegak hukum terlibat, tapi pikir penting juga untuk memahami apa sebenarnya email-email ini – upaya terakhir dari sebuah rezim untuk menyembunyikan kebenaran. Adalah penting bahwa mereka tidak akan berhasil.”
Penegak hukum kemungkinan besar akan menanggapi ancaman tersebut dengan serius, kata Betsy Brantner Smith, seorang mantan sersan polisi dan juru bicara Asosiasi Polisi Nasional.
Ia menambahkan, sangat percaya, terutama pada penegak hukum negara bagian dan lokal. Dan karena hal ini telah mendapatkan perhatian publik, maka hal ini menjadi bahan perbincangan di media sosial. Ia berpikir penegak hukum menanggapi hal ini dengan serius,. Hal demikian disampaikannya kepada NTD, sebuah outlet media saudara dari The Epoch Times.
Dia juga mengatakan bahwa ancaman tersebut tampaknya merupakan tindakan ujaran kebencian karena mereka menargetkan Shen Yun berdasarkan keyakinan para pemainnya.
Brantner Smith menuturkan, hal Ini benar-benar penganiayaan agama, dan harus dianggap sebagai ujaran kebencian. Ia berharap pihak berwenang federal, Departemen Kehakiman, FBI, serta pejabat setempat yang menyelidiki hal ini, menangani hal ini seperti itu.” (asr)
EtIndonesia. Berawal dari pertengkaran dengan ibu mertuanya dan berakhir dengan kematian tragis balitanya.
Seorang ibu di Chongqing, Tiongkok melemparkan anaknya yang berusia tiga tahun ke luar jendela di lantai 22 sebuah gedung pada hari Senin (1 April), yang menyebabkan kematian anak tersebut, lapor beberapa media Tiongkok.
Sebelum kejadian, wanita bermarga He itu dilaporkan menyerang dan melukai ibu mertuanya dengan pisau.
Rekaman video menangkap bagaimana tragedi itu terjadi.
Dalam salah satu klip, seorang wanita terlihat menggendong seorang anak di balkon gedung lantai 22, sementara seorang anak lainnya berdiri di sampingnya.
Saat anak tersebut mencoba untuk memanjat kembali pagar, wanita tersebut mendorong balita tersebut lebih jauh ke bawah sambil menggendong anak tersebut di lengannya.
Dalam video lainnya, wanita tersebut menggendong anaknya ke luar jendela berbeda di lantai yang sama sebelum memberi isyarat untuk melempar balita tersebut. Video terpotong pada saat ini.
Ibu mertua menerima perawatan atas lukanya di rumah sakit namun tidak dalam bahaya.
Kerabat dan tetangga dilaporkan mengatakan bahwa He, yang telah ditahan oleh polisi, menunjukkan perilaku tidak normal baru-baru ini.
Sebagai upaya untuk meningkatkan keamanan nasional dan mencegah Tiongkok menggunakan teknologi AS untuk mengembangkan kekuatan militer Tiongkok dan kemampuan pengawasan terhadap rakyatnya. Pada Jumat (29 Maret) pemerintah AS merevisi peraturan yang akan menambah kesulitan bagi Tiongkok untuk mendapatkan chip kecerdasan buatan (AI) dari AS beserta mesin-mesin pembuatnya.
Peraturan yang melarang ekspor chip AI buatan Nvidia ke Tiongkok sudah dikeluarkan sejak Oktober tahun lalu. Tak lama setelah itu, larangan juga diberlakukan bagi beberapa raksasa teknologi AS lainnya.
Reuters melaporkan, aturan baru sepanjang 166 halaman itu dirilis pada hari Jumat dan akan mulai diberlakukan pada Kamis (4 April). Dalam aturan baru tersebut, pemerintah AS mengklarifikasi bahwa pembatasan ekspor chip ke Tiongkok kini juga berlaku untuk chip yang digunakan laptop.
Kementerian Perdagangan AS yang mengawasi pengendalian ekspor mengatakan bahwa pihaknya akan terus memperbarui pembatasan ekspor teknologi ke Tiongkok untuk memperkuat dan menyesuaikan langkah-langkah pengamanan nasional.
Biro Industri dan Keamanan (Bureau of Industry and Security. BIS) yang berada di bawah Kementerian Perdagangan AS sebelumnya telah mengatakan bahwa pihaknya akan terus berupaya untuk membatasi akuisisi chip semikonduktor oleh perusahaan Tiongkok yang digunakan dalam “produksi sistem militer canggih termasuk senjata pemusnah massal”, juga “sarana yang digunakan untuk melanggar hak asasi manusia”. Hal ini sejalan dengan metode peninjauan ketat pemerintah AS terhadap ekspor chip terhadap Tiongkok.
Di sisi lain, Shanghai yang baru-baru ini mengumumkan rencana menyiapkan dana sebesar RMB.100 miliar (setara USD.13,8 miliar) yang difokuskan untuk pengembambangan teknologi penting guna mendorong pembangunan ekonomi, termasuk mendukung start-up di berbagai bidang seperti kecerdasan buatan. Namun, ketika raksasa kecerdasan buatan di Amerika Serikat seperti Nvidia dan AMD terkena larangan ekspor chip kecerdasan buatan kelas atas, maka besar kemungkinan upaya pengembangan yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok ini akan menghadapi hambatan.
Pemerintah AS telah melarang ekspor chip kecerdasan buatan tanpa izin yang sesuai, dan Nvidia serta saingannya AMD dengan cepat menghentikan ekspor, sehingga menciptakan hambatan bagi Partai Komunis Tiongkok. Namun, laporan menunjukkan bahwa meskipun ada larangan ini, militer Tiongkok masih bisa lolos membeli chip Nvidia, khususnya chip A100 dan chip H100 yang tenaganya lebih besar. Hal ini menimbulkan kekhawatiran serius masyarakat mengenai tantangan yang dihadapi pemerintah Amerika Serikat dalam memutus sepenuhnya akses Tiongkok terhadap chip kecerdasan buatan yang canggih.
Pada saat yang sama, dalam konferensi GTC (GPU Technology Conference) baru-baru ini, Nvidia mengumumkan peluncuran “Blackwell”, chip kecerdasan buatan paling kuat hingga saat ini. Hal ini juga memicu kekhawatiran masyarakat mengenai kemungkinan militer Tiongkok dapat memperoleh chip kecerdasan buatan ini.
Reuters mengutip pembicaraan dari sumber yang mengetahui masalah melaporkan bahwa para pejabat AS telah menyusun daftar pabrik chip canggih Tiongkok yang dilarang menerima teknologi AS untuk memudahkan perusahaan mematuhi sanksi. Daftar tersebut kemungkinan akan dirilis dalam beberapa bulan mendatang.
Bulan lalu, Kementerian Perdagangan AS menangguhkan izin puluhan pemasok AS untuk menjual bahan dan komponen pembuat chip senilai jutaan dolar ke Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC) Tiongkok.
Amerika Serikat juga meminta perusahaan-perusahaan di negara sekutunya untuk berhenti menyediakan peralatan pembuatan chip tertentu kepada pelanggan Tiongkok. Alan Estevez, Wakil Menteri Industri, Keamanan dan Kepala Pengendalian Ekspor di Kementerian Perdagangan AS, mengatakan kepada media di Washington, DC, pada Rabu (27 Maret) bahwa ia bekerja dengan negara sekutu AS untuk “menentukan perbaikan mana yang penting dan perbaikan mana yang tidak ?”
“Kami sedang mendorong untuk tidak memberikan layanan komponen penting ini (kepada perusahaan Tiongkok), jadi kami sedang mendiskusikannya dengan sekutu kami”, katanya.
Kontrol ekspor yang diperluas baru-baru ini mempersulit perusahaan-perusahaan AS untuk terus melayani peralatan yang dibeli oleh perusahaan-perusahaan Tiongkok sebelum sanksi diberlakukan. Namun peraturan tersebut tidak berlaku bagi perusahaan Belanda dan Jepang.
Amerika Serikat juga berusaha mendesak Belanda dan Jepang untuk memperketat pembatasan. (sin)
EtIndonesia. Para arkeolog menemukan DNA kuno dari sisa-sisa kaisar Tiongkok abad keenam yang merupakan penguasa selama zaman kegelapan negara tersebut dan merekonstruksi wajah raja.
Kaisar Wu memerintah sebagian dari dinasti Zhou Utara di Tiongkok. Dia dianggap telah melakukan penyatuan bagian utara Tiongkok kuno selama periode kekacauan.
Pada tahun 1996, para arkeolog menemukan sebuah makam di barat laut Tiongkok. Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Current Biology pada Kamis (28 Maret), para peneliti mempelajari materi genetik yang diambil dari jenazahnya, termasuk tengkorak yang hampir lengkap.
Para arkeolog menyelidiki informasi tersebut untuk memahami penampilan, kesehatan, dan keturunan raja.
Menurut para arkeolog, kaisar adalah bagian dari kelompok nomaden yang jarang dipelajari yang dikenal sebagai Xianbei dan tinggal di daerah yang saat ini merupakan bagian dari Tiongkok utara dan timur laut serta Mongolia.
Para ahli menganalisis urutan genom dari DNA yang menunjukkan bahwa Wu memiliki rambut hitam, mata coklat, dan warna kulit gelap.
Dalam siaran persnya, rekan penulis studi dan profesor di Universitas Fudan di Shanghai Shaoqing Wen berkata: “Beberapa pakar mengatakan Xianbei memiliki penampilan yang ‘eksotis’, seperti janggut tebal, batang hidung mancung, dan rambut kuning.”
“Analisis kami menunjukkan Kaisar Wu memiliki ciri-ciri wajah khas Asia Timur atau Timur Laut,” tambahnya.
Para ahli berharap bahwa DNA kuno juga dapat mengungkap penyebab kematian Raja Wu. Sesuai penelitian, dia meninggal mendadak pada usia 36 tahun.
Jika kematiannya bisa dijelaskan, hal ini akan membantu para sejarawan menyusun ulang teks sejarah seputar penyakit atau keracunan yang disengaja.
Tim gagal menemukan bukti pasti tentang alasan kematiannya. Namun para peneliti mengatakan bahwa mereka menemukan kerentanan genetik terhadap stroke.
Teknik DNA kuno semakin banyak diterapkan oleh para arkeolog untuk mencari informasi mengenai tulang, gigi, artefak, dan kotoran gua.
Informasi genetik yang diperoleh dari sisa-sisa – termasuk tengkorak Wu – digunakan oleh tim untuk membayangkan bagaimana dia muncul dan menciptakan rekonstruksi wajah 3D raja.
Tobias Houlton, dosen identifikasi kraniofasial dan pencitraan forensik di Universitas Dundee mengatakan: “Studi ini… menawarkan wawasan menarik tentang sosok sejarah Kaisar Wu, dengan perkiraan wajah yang disajikan tampak realistis dan meyakinkan.”
“Detail warna (kulit, rambut, dan mata) tidak mungkin diprediksi hanya dari sisa kerangka, sehingga analisis genetik menjadi alat yang berguna,” tambahnya saat berbicara kepada CNN. (yn)
Baru-baru ini, pihak berwenang Hunan, Tiongkok menghancurkan secara paksa beberapa desa di Kota Aizhai di barat Hunan untuk membangun Waduk Daxingzhai. Sejumlah video yang beredar menunjukkan pihak berwenang menghancurkan bangunan secara paksa dan mengirimkan sejumlah besar petugas polisi khusus untuk memukul dan menangkap penduduk desa yang melawan penggusuran.
Pada 27 Maret, sejumlah video yang diunggah di Internet menunjukkan bahwa sejumlah besar rumah di Desa Deru, Kota Aizhai, Kota Jishou, Prefektur Otonomi Hunan Xiangxi dihancurkan dengan ekskavator. Bahkan, sebuah bangunan dengan gaya arsitektur kuno berubah menjadi puing-puing. Subjudul videonya berbunyi “Pembongkaran paksa ZF (pemerintah) akan terjadi lagi.”
Informasi masyarakat menunjukkan bahwa Desa Deru merupakan desa yang indah dan merupakan daya tarik wisata lokal yang dikenal sebagai “surga”. Namun dengan dibangunnya Waduk Daxingzhai, desa tersebut akan terendam seluruhnya.
Pemandangan desa Deru. (Tangkapan layar dari video online)
Belakangan, beredar banyak video yang menunjukkan pejabat setempat mengirimkan sejumlah besar polisi khusus untuk menindas warga desa yang menolak pembongkaran secara paksa. Hingga membuat terjadi saling dorong dan bentrokan antara kedua belah pihak. Banyak penduduk desa yang jatuh tersungkur atau dibawa pergi.
Dalam video tersebut terlihat seorang perempuan pingsan di lokasi konflik, dokter datang ke lokasi kejadian untuk menyelamatkannya, dan beberapa pria dibawa pergi oleh aparat.
Netizen menyesalkan pembongkaran paksa yang dilakukan PKT tanpa batasan apa pun yang mana terus menciptakan malapetaka bagi masyarakat.
Informasi publik menunjukkan bahwa proyek Waduk Daxingzhai, yang akan mulai dibangun pada 2022, adalah apa yang diklaim oleh Partai Komunis Tiongkok sebagai “salah satu proyek pemeliharaan air yang besar.” Waduk ini terletak di Kota Aizhai, Kota Jishou, di Sungai Dong, anak sungai tingkat pertama dari Lembah Sungai Yuanjiang, berdekatan dengan tempat pemandangan tingkat 5A Aizhai Shibadong Dehang Grand Canyon.
Pada Februari lalu, media resmi Partai Komunis Tiongkok mengumumkan bahwa proyek tersebut sedang dalam “konstruksi intensif” dan diharapkan selesai pada 2025.
Pihak berwenang mengklaim bahwa waduk tersebut dibangun untuk “pengendalian banjir dan pasokan air.” Akan tetapi, banyak netizen percaya bahwa hanya untuk PDB. Masyarakat setempat beramai-ramai mengeluh, “Kami berumur tujuh puluh tahun dan belum pernah mengalami banjir. Selama pembangunan Waduk Daxing, selalu terjadi bencana setiap sepuluh tahun sekali. Berapa banyak penduduk desa yang terkena dampak.” (Hui)
Epidemi Tiongkok terus meningkat, di mana rumah sakit di banyak tempat membludak dan tempat tidur penuh akibat infeksi paru-paru dan penyakit kardiovaskular di kalangan paruh baya dan lanjut usia. Pasien yang dirawat di rumah sakit berisiko terinfeksi, akan tetapi pihak berwenang merahasiakan berita ini.
Selain itu, orang-orang di banyak tempat lainnya melaporkan peningkatan jumlah teman dan kerabat, banyak di antaranya berusia muda dan paruh baya, yang telah tertular infeksi atau mengalami kematian mendadak akibat infark otak atau jantung, meski demikian pihak berwenang belum membuat laporan resmi tentang hal ini.
Baru-baru ini, Li Ying, seorang dokter yang merawat di departemen pernapasan sebuah rumah sakit perawatan tersier, mengunggah kabar utama “Setiap kali seorang pasien di bangsal mengalami demam, dia dites untuk penyakit arteri koroner baru, dan hasilnya positif. Dalam dua minggu terakhir, jumlah COVID-19 telah meningkat lagi, dan rawat inap berisiko terkena infeksi.”
Netizen lain memperingatkan, “COVID-19 kembali melanda, baru-baru ini banyak rumah sakit penuh, dengan banyak pasien yang menunjukkan hasil positif, yang menyebabkan kekurangan bangsal yang serius di seluruh tempat, terutama untuk orang tua.
Orang-orang di banyak tempat mengatakan kepada NTD pada Kamis (28/3) bahwa rumah sakit mereka penuh sesak, dan banyak orang paruh baya dan lanjut usia dirawat di rumah sakit karena infeksi paru-paru atau penyakit kardiovaskular.
Yu, seorang warga Shaoyang, provinsi Hunan, berkata, “Rumah sakit penuh, ibu saya sendiri dirawat di rumah sakit karena pilek, infeksi paru-paru, dan masalah jantung, dan dia dirawat di bagian kardiovaskular, di mana tidak ada tempat tidur, dan hanya ada tempat tidur di bangsal khusus.
Pada 29 Maret, seorang netizen di jejaring sosial Xiaohongshu, mengatakan: “Virus ini terlalu mengerikan, sembilan dari sepuluh orang terinfeksi, pergi ke rumah sakit untuk melihat orang dewasa dan anak-anak batuk. Netizen lain berkata, “Gelombang COVID terlalu ganas. Ini jelas merupakan versi lanjutan dari COVID.”
Yue, warga Anyang, Provinsi Henan, Tiongkok mengatakan bahwa epidemi ini lazim di daerah setempat, ke rumah sakit untuk menemui dokter tidak lagi menyebutkan COVID, tidak melakukan test COVID, berdasarkan pilek dan demam yang harus diobati.
“Saya juga positif, saya mengalami demam, sakit tenggorokan, rumah sakit terlalu banyak orang, tapi juga tidak bisa tinggal di rumah sakit, sedang mencari kenalan untuk mendapatkan obat untuk di rumah, membeli banyak obat, saya tidak tahu mana yang manjur dan tidak. Saya punya teman yang menderita bintil paru dan kesulitan bernapas. Ada yang dirawat di rumah sakit dan beberapa dirawat di rumah,” ujarnya.
Zhang, warga Xingtai, Provinsi Hebei, mengatakan bahwa ada banyak pasien yang sakit parah di sana, dan dalam beberapa waktu terakhir dia telah menerima berita tentang teman-temannya yang dirawat di rumah sakit atau meninggal dunia satu demi satu.
Masyarakat Xingtai, Provinsi Hebei, Zhang: “sekarang cukup banyak yang mengalami demam dan pilek, banyak orang yang tenggorokannya tersayat silet seperti sakit yang luar biasa, anak-anak juga cukup banyak, anak-anak relatif masih sedikit ringan.
Sekarang yang berusia lima puluh tahunan menyelenggarakan banyak pemakaman, entah di sini atau di sana, dan beberapa teman mereka telah pergi. Pemakaman berlangsung hampir terus menerus, saya mengenal sekitar dua puluh orang, yang berusia lima puluhan dalam satu rangkaian.
Masyarakat Shijiazhuang dan Handan, Provinsi Hebei, juga mengungkapkan bahwa banyak orang di daerah tersebut yang terserang flu dan demam, dan sering terjadi kematian mendadak.
Wang, warga Handan, Hebei berkata: “Pokoknya, ada banyak orang yang meninggal dunia, ada beberapa di sekitar mereka, sebagian besar yang meninggal dunia adalah orang tua, sebelum dan sesudah tahun ini berusia 60 tahun, 70 tahun, 80 tahun.
Penduduk desa Hebei Shijiazhuang, Wei berkata: “Tahun ini, pilek dan demam lebih banyak, satu demi satu tanpa henti, setiap desa ada beberapa orang yang meninggal dunia. Paman saya berusia lebih dari tujuh puluh tahun, dia terkena pneumonia, batuk, diinfus selama sepuluh hari.”
Epidemi di Hanzhong, Provinsi Shaanxi juga menyebar, banyak orang yang meninggal dunia secara tiba-tiba.
Feng, seorang penduduk Hanzhong, Provinsi Shaanxi, mengatakan: “Beberapa orang telah meninggal dunia secara tiba-tiba, lebih dari 60 orang, lebih dari 50 orang, dan lebih dari 30 orang. Tidak ada yang salah dengan mereka, mereka semua tiba-tiba pingsan dan tidak bangun lagi. Ketika dokter tiba, ia mengatakan dikarenakan serangan jantung atau infark otak, kita semua tahu apa yang terjadi, tidak ada yang bisa berbuat apa-apa.
Chen, seorang warga Shenzhen, mengungkapkan bahwa epidemi ini cukup serius di mana-mana, tetapi pihak berwenang menyembunyikan kebenaran epidemi tersebut.
Chen, seorang penduduk Shenzhen, berkata: “Periode waktu ini, ada sekitar orang-orang mengalami batuk-batuk dan relatif lama. Beberapa teman di utara entah bagaimana meninggal dunia, mungkin berusia sekitar 40 atau 50 tahun, tidak ada penyakit bawaan, seperti biasanya tidak ada masalah. Saat ini, dokter tidak mungkin mengatakan sesuatu.” Chen juga mendengar bahwa semua informasi di rumah sakit kini telah dihapus, dan manajemen internal rumah sakit menjadi ketat dan tidak dapat dibocorkan kepada pasien.
Baru-baru ini, terungkap bahwa Partai Komunis Tiongkok telah meminta rumah sakit untuk menghancurkan semua informasi tentang COVID-19. Tidak ada kertas atau informasi terkomputerisasi yang diizinkan untuk disimpan. Bahkan, catatan vaksinasi, tes PCR dan semua sarana pemerintah untuk menangkal wabah tersebut juga harus dimusnahkan. (Hui)
Pasukan Pertahanan Israel pada Minggu (31 Maret), menyatakan bahwa sejumlah senjata disita dari bangsal bersalin “Rumah Sakit Shifa” di Gaza. Selain itu, orang-orang yang mengetahui masalah tersebut mengungkapkan bahwa Amerika Serikat baru-baru ini mengizinkan pasokan bom dan jet tempur senilai miliaran dolar ke Israel
Yu Liang – NTD
Pada Minggu, unit pengintaian Brigade Nahar Pasukan Pertahanan Israel menemukan sejumlah besar senjata, termasuk mortir, alat peledak, senapan sniper, senapan serbu, pistol dan lainnya di bantal, tempat tidur, langit-langit dan dinding pasien di bangsal bersalin Shifa. Rumah Sakit Peralatan militer.
Yanai, seorang perwira di unit pengintai Brigade Nahar tentara Israel: “Kami sekarang berada di bangsal bersalin. Kami bertemu teroris dua kali di sini dan kami melenyapkan mereka.”
Perang Israel-Hamastelah berkecamuk selama hampir enam bulan, dengan pasukan Israel terus terlibat dalam pertempuran sengit dengan teroris Hamas di Gaza tengah dan selatan.
Saat ini, Israel berencana untuk melancarkan operasi militer di kota Rafah di Gaza selatan, benteng terakhir Hamas, untuk melenyapkan empat batalion terakhir angkatan bersenjatanya. Namun, Amerika Serikat dan banyak negara Barat menentang hal ini, karena khawatir hal itu akan menimbulkan kerugian besar korban jiwa bagi warga sipil.
Pekan lalu, PBB mengeluarkan resolusi yang menyerukan gencatan senjata segera di Gaza dan Hamas segera membebaskan semua sandera tanpa syarat.
Pada Minggu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa dia tidak akan menghentikan serangan terhadap Rafah karena tekanan dari komunitas internasional, namun dengan lebih dari satu juta warga Gaza mengungsi di kota tersebut, diperlukan lebih banyak persiapan untuk menghindari bencana kemanusiaan.
Ketika kendaraan transportasi darat diblokir, militer AS mengirimkan lebih banyak bantuan ke Gaza pada hari Minggu, termasuk makanan dan obat-obatan.
Menurut sumber yang dikutip Washington Post, Amerika Serikat juga bersiap untuk mentransfer lebih banyak senjata ke Israel, termasuk lebih dari 1.800 bom MK84 dan 500 bom MK82, untuk membantu militer Israel melenyapkan Hamas.
Menurut pengakuan anggota Hamas yang ditangkap, organisasi tersebut runtuh karena serangan selama setengah tahun oleh Pasukan Pertahanan Israel. (Hui)
Pada Jumat (29/3) malam, polisi Peru tiba-tiba menggerebek kediaman resmi presiden, sekali lagi memicu gejolak politik. Perdana Menteri Peru Gustavo Adrianzén mengutuk penggerebekan pada Sabtu.
Gustavo Adrianzen berkata: “Seperti yang saya katakan, saya ingin mengatakan bahwa kami menganggap perilaku ini benar-benar tidak pantas dan tidak adil, ilegal dan inkonstitusional.”
Sekitar 40 jaksa dan petugas polisi terlibat dalam penggerebekan yang bertujuan untuk mencari tiga jam tangan Rolex milik Presiden Peru Dina Boluarte yang tidak diumumkan. Ia menghadapi dakwaan korupsi dan kegagalan mengumumkan jam tangan mewah setelah apa yang disebut polisi sebagai “penggeledahan dan penyitaan”.
Polisi mengambil tindakan pada Jumat (29/3) malam. Hal demikian, setelah menunggu beberapa menit di luar kediaman presiden dan tidak ada yang membuka pintu, mereka menggunakan palu godam untuk mendobrak kunci pintu. Pada Sabtu (30 Maret) dini hari, polisi menggerebek Kantor Presiden yang berjarak beberapa kilometer dari kediaman presiden. Pada saat itu, Presiden Boluarte sedang berada di kantornya.
Boluarte kemudian memposting di platform media sosial X bahwa pencarian “berjalan normal dan tanpa insiden apa pun.”
Jaksa melancarkan penyelidikan terhadap Presiden Boluarte setelah foto-foto baru-baru ini muncul di media tentang dia mengenakan jam tangan Rolex di acara-acara publik. Pengadilan mengeluarkan panggilan pengadilan yang mengharuskannya memberikan tanda terima pembelian. Presiden meminta waktu lebih lama untuk memberikan tanggapan, namun jaksa menolak.
Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Peru polisi menggunakan kekerasan untuk masuk ke rumah presiden yang sedang menjabat. Peru telah mengalami banyak penggeledahan atau penahanan sistem peradilan terhadap mantan presiden atau mantan pejabat, termasuk penggerebekan di istana presiden pada masa jabatan presiden sebelumnya. (Hui)