Kebahagiaan dalam Memberi

EtIndonesia. Ini adalah kisah menyentuh tentang memberi dan menerima, yang terjadi di Amerika Serikat.

Setiap tahun, perusahaan tempat kami bekerja selalu mengadakan acara kebersamaan untuk seluruh karyawan. Bentuk dan lokasinya memang selalu berbeda-beda, tetapi ada satu tradisi yang tidak pernah berubah, yaitu sebuah permainan undian bernama “Puerto Rico yang Beruntung.”

Aturan permainannya sangat sederhana. Sebelum acara dimulai, setiap orang menyumbang 10 dolar AS sebagai dana hadiah. Karena jumlah karyawan lebih dari 200 orang, total hadiah mencapai lebih dari 2.000 dolar, cukup untuk membiayai liburan dua minggu ke Kepulauan Puerto Rico bagi satu orang.

Menjelang akhir acara, setiap orang menuliskan namanya di secarik kertas kecil, lalu memasukkannya ke dalam sebuah akuarium kaca kosong. Setelah itu, pembawa acara akan memanggil seseorang ke atas panggung untuk mengambil satu kertas secara acak. Nama yang terambil berhak menggunakan uang tersebut untuk menikmati liburan dua minggu di Puerto Rico.

Hari yang Berbeda dari Biasanya

Tahun ini, acara perayaan tetap berlangsung seperti biasa.  Namun ada satu hal yang berbeda—hari itu juga merupakan hari pensiun penjaga keamanan kami, Willie Jones.

Willie mulai bekerja di perusahaan sejak usia 20 tahun, dan telah menjadi penjaga pintu selama lebih dari 40 tahun.

DIa menderita polio yang membuat kedua kakinya lumpuh, tetapi dia memiliki kepribadian yang ceria dan ramah. Setiap pagi dan sore, orang-orang selalu melihat Pak Willie duduk di kursi roda sambil tersenyum dan melambaikan tangan menyambut semua orang.

Menyadari bahwa ini adalah acara Tahun Baru terakhir yang dihadiri Willie, banyak dari kami merasa sedikit sedih.

Satu Ide Kecil

Menjelang akhir acara, pembawa acara mengingatkan semua orang untuk memasukkan kertas berisi nama ke dalam akuarium.

Tiba-tiba aku mendapat sebuah ide. Di kertas namaku, aku menulis: “Willie Jones.”

Memang peluang terpilihnya kecil, tetapi setidaknya aku menambah satu peluang dari dua ratus lebih kesempatan untuk Willie. Siapa tahu, jika beruntung, Pak Willie bisa menikmati dua minggu yang indah di pantai.

Dengan perasaan senang, aku menggulung kertas itu kecil-kecil dan memasukkannya ke dalam akuarium. Tepat pukul lima sore, undian pun dimulai.

Kejutan yang Mengharukan

Tak disangka, pembawa acara justru menunjuk aku untuk mengambil kertas undian.

Aku memasukkan tanganku ke dalam akuarium, meraba-raba di antara gulungan kertas kecil. Setelah cukup lama, aku mengambil satu kertas yang rasanya paling mirip dengan kertas yang kugulung sendiri, lalu menyerahkannya kepada pembawa acara.

Dia membuka kertas itu dan membacakan dengan suara lantang: “Willie Jones!”

Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar. Rasanya seperti mimpi—aku sendiri pun merasa sangat beruntung.

Sekejap, seluruh ruangan dipenuhi sorak sorai. Semua karyawan berbondong-bondong menghampiri Willie, mengucapkan selamat, menjabat tangannya, dan memeluknya.

Semua orang tampak jauh lebih bahagia daripada jika mereka sendiri yang memenangkan undian.

Rahasia di Dalam Akuarium

Saat itulah aku tiba-tiba menyadari sesuatu. Aku kembali memasukkan tanganku ke dalam akuarium dan diam-diam mengambil empat atau lima kertas kecil lainnya.

Setelah acara selesai, aku membuka kertas-kertas itu. Tulisan tangannya berbeda-beda, tetapi nama yang tertulis di setiap kertas sama:  “Willie Jones.”

Barulah aku mengerti mengapa semua orang begitu gembira. Setiap orang mengira kertas merekalah yang terambil.

Mendapatkan liburan gratis tentu menyenangkan, tetapi memberikan kejutan dan kebahagiaan kepada Willie jauh lebih menggembirakan.

Kebahagiaan dalam memberi, ternyata benar-benar jauh lebih besar daripada kebahagiaan saat menerima.

Renungan

Ada orang yang beruntung karena anugerah Tuhan. Ada pula yang beruntung karena usaha pribadi.

Namun keberuntungan Willie Jones adalah hasil dari keramahan, ketulusan, dan kebaikan hati yang dia tunjukkan selama bertahun-tahun, hingga akhirnya mendapat doa dan restu dari semua orang.

Permainan dalam cerita ini sungguh menarik. Setiap orang menyumbang sedikit uang sebagai dana liburan bersama. Yang tidak terpilih menganggapnya sebagai hiburan, sementara yang terpilih bukan hanya memperoleh hadiah, tetapi juga tenggelam dalam kebahagiaan dan doa tulus dari banyak orang.(jhn/yn)

Segaris Tipis antara Kaya dan Miskin

EtIndonesia. Seorang perempuan dari keluarga berpenghasilan rendah menerima bantuan pemerintah sebesar 2.000 yuan. Dia menggunakan uang itu untuk membeli 50 pasang kaus kaki, lalu menjualnya di pasar dengan harga 100 yuan per pasang. Setelah dikurangi modal, dia memperoleh keuntungan total 3.000 yuan.

Sementara itu, seorang penerima bantuan berpenghasilan rendah lainnya berpikir berbeda. Dia menganggap 2.000 yuan itu hanya cukup untuk biaya hidup sementara. Uang tersebut dia habiskan untuk kebutuhan sehari-hari—beras, minyak, garam, dan lain-lain. Namun dia menyisakan 100 yuan untuk membeli tiket lotre.

Jumlah uangnya sama, sama-sama 2.000 yuan. Yang pertama mengubah uang menjadi aset melalui jual beli, sedangkan yang kedua hanya menukarnya dengan biaya hidup. Secara kasat mata, hidupnya memang terasa terbantu, tetapi uang itu segera habis tanpa bekas.

Hal paling menyedihkan dari orang miskin bukanlah karena dia tidak punya uang, melainkan karena uangnya tidak pernah berubah dari biaya hidup menjadi modal.

Orang miskin bukan tidak punya modal untuk berinvestasi, melainkan tidak memiliki kesadaran untuk berinvestasi.

Perjalanan Waktu dan Perbedaan Masa Depan

Mari kita bayangkan apa yang terjadi selanjutnya pada dua orang ini.

Dengan modal 2.000 yuan untuk usaha kaus kaki, dalam satu bulan dia bisa memperoleh 5.000 yuan pendapatan, dengan keuntungan 3.000 yuan. Dari keuntungan itu, dia kembali mengambil 2.000 yuan untuk diputar lagi. Bulan berikutnya, dia kembali untung 3.000 yuan. Pada bulan ketiga, total keuntungannya sudah mencapai 9.000 yuan.

Beberapa tahun kemudian, dia bisa mempekerjakan orang lain, membangun “kerajaan kaus kaki”, dan akhirnya keluar dari kemiskinan.

Faktanya, cara berpikir orang miskin dan orang kaya memang sangat berbeda.

Kebanyakan orang, jika diberi 2.000 yuan, akan membeli beras atau garam.Diberi 4.000 yuan, mereka membeli ikan atau daging.Diberi 10.000 yuan, mereka membeli pakaian yang lebih bagus dan modis. Dan uang terakhir yang tersisa—bahkan 100 yuan pun akan dipakai membeli kupon undian.

Bagi mereka, cara menggunakan uang hanya bertujuan satu: “memperbaiki kondisi hidup saat ini.”

Bahkan jika tiba-tiba memperoleh 10 juta yuan, yang terpikir hanyalah segera membeli rumah dan mobil, lalu mengumumkan kepada dunia bahwa dia bukan orang miskin lagi.

Padahal, cara kita membelanjakan uanglah yang menentukan apakah kita miskin atau kaya.

Konsumsi yang Menguras, Bukan Menumbuhkan

Ada banyak barang yang tidak menambah nilai, malah terus menguras uang.

Contohnya mobil. Setelah membeli mobil, kita harus menanggung biaya bensin, asuransi, perawatan, perbaikan, bahkan biaya parkir. Jika uang hanya terus keluar tanpa pernah masuk, sebanyak apa pun uang yang kita miliki, pasti akan habis.

Orang miskin miskin bukan karena tidak punya modal, melainkan karena kesadaran investasinya kabur.

Jika seseorang memiliki rencana dan konsep investasi yang jelas, bank justru penuh dengan dana.

Karena tidak memiliki kemampuan, pengalaman, dan keterampilan dalam mengelola uang, orang miskin terjebak dalam lingkaran setan: yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Ketika orang miskin meniru kemewahan orang kaya, itu seperti katak yang menggembungkan perut untuk menandingi kerbau—konyol dan menyedihkan.

Langkah pertama menuju kekayaan adalah mengubah sebagian konsumsi yang bersifat beban hidup menjadi konsumsi yang bersifat aset.

Jika langkah pertama ini pun tidak pernah ditempuh, maka seseorang hanya bisa menghabiskan hidupnya dalam kemiskinan.

Hanya Selapis Tipis Perbedaannya

Antara kaya dan miskin, hanya ada selapis tipis perbedaan. Coba renungkan:

Siswa pintar makan—siswa nakal juga makan.
Siswa pintar tidur—siswa nakal juga tidur.
Siswa pintar melihat lawan jenis bisa berdebar dan tersipu—siswa nakal pun sama, bahkan mungkin detak jantungnya lebih kencang.

Kehidupan siswa pintar dan siswa bermasalah 99% sebenarnya sama. Perbedaannya hanya 1%.

Begitu pula antara miliarder dan pengemis— perbedaannya juga hanya 1%.

Jika seseorang tidak mampu menembus batas pola pikirnya sendiri, dia tidak akan pernah mampu melakukan hal besar.

Cara berpikir menentukan nasib, metode melahirkan kekayaan. Kondisi finansial pada dasarnya berakar dari pandangan sebuah keluarga terhadap uang dan kekayaan.

Renungan & Hikmah Cerita

Saat membaca artikel ini, pikiran pertama yang terlintas di benak saya adalah: orang pertama itu mungkin sudah keburu kelaparan sebelum 50 pasang kaus kakinya terjual.

Sementara orang kedua, meski uangnya habis, nyawanya terselamatkan. Selama masih hidup, harapan selalu ada.

Dalam kehidupan nyata, tidak mungkin segalanya berjalan semulus cerita— “beli 50 pasang kaus kaki, sehari laku semua, langsung untung 3.000 yuan.”

Berbisnis tidak pernah seratus persen menang. Tanpa pengalaman, tidak pandai membaca pembeli, gerak lamban, peluang untuk benar-benar menghasilkan uang dari bisnis sesungguhnya sangat kecil.

Namun jika dipikir lebih dalam, maksud penulis bukanlah soal teknis berdagang, melainkan ingin menegaskan bahwa perbedaan manusia tidak ditentukan oleh kondisi luar, tetapi oleh dunia batinnya.

Dunia batin—pola pikir dan sikap mental—itulah yang benar-benar menentukan keberhasilan atau kegagalan seseorang.

Jika seseorang hanya bergantung pada bantuan luar, sementara batinnya tidak bergerak, maka sebesar apa pun bantuan itu, ia akan kembali jatuh miskin.

Sebaliknya, jika batinnya aktif dan berusaha, maka meski tanpa bantuan luar, ia mampu menemukan jalan dan menciptakan peluang untuk berhasil.

Di bagian akhir, tulisan ini memberi satu sudut pandang lain yang sangat menarik:

Ketika melihat seseorang kelaparan,  jangan hanya memberinya ikan dan joran— ajarkan juga cara memancingnya. Jika tidak, ia bisa saja memegang joran namun tetap mati kelaparan.

Catatan: Memancing itu perlu keterampilan. Tanpa kemampuan, bahkan menemukan ikan pun bisa menjadi masalah. (jhn/yn)

Serangan Terbatas Atau Operasi Besar? Ini  Yang Kita Ketahui Tentang Rencana Trump Terhadap Iran

EtIndonesia. Washington sedang mempertimbangkan beberapa skenario tekanan terhadap Teheran, mulai dari serangan terbatas pada fasilitas militer hingga kampanye yang lebih luas dengan potensi konsekuensi politik bagi kepemimpinan Iran, menurut The Washington Post dan The Wall Street Journal.

Skenario serangan terbatas

Presiden AS, Donald Trump sedang mempertimbangkan operasi militer terbatas awal terhadap Iran, yang melibatkan serangkaian serangan terarah pada fasilitas militer atau negara tertentu yang bertujuan untuk menekan Teheran agar menerima persyaratan terkait kesepakatan nuklir.

Menurut sumber, langkah tersebut dapat diimplementasikan dalam beberapa hari. Jika Iran menolak untuk menghentikan pengayaan uranium, pemerintah sedang mempertimbangkan untuk beralih ke kampanye yang lebih luas yang menargetkan infrastruktur rezim. Belum ada keputusan akhir yang dibuat.

Pengembangan militer dan diplomasi

Di tengah diskusi, Pentagon memperkuat kehadirannya di Timur Tengah. Pasukan tambahan sedang dikerahkan, termasuk kapal induk USS Gerald R. Ford, bersama dengan jet tempur canggih dan sistem pertahanan udara.

Pada saat yang sama, kontak dengan pihak Iran terus berlanjut. Washington menuntut penghentian pengembangan nuklir, pembatasan program rudal, dan peninjauan dukungan untuk kelompok bersenjata di kawasan tersebut, sementara Iran menolak persyaratan yang luas dan tetap menyatakan tidak menginginkan senjata nuklir.

Trump mengindikasikan bahwa jangka waktu pengambilan keputusan telah ditetapkan, dengan mengatakan bahwa Amerika Serikat akan mencapai kesepakatan atau memastikan kesepakatan tersebut tercapai.

Risiko eskalasi

Para ahli AS dan internasional memperingatkan bahwa bahkan serangan terbatas pun dapat memicu pembalasan Iran dan meningkat menjadi konflik regional yang lebih luas.

Gedung Putih mengatakan langkah selanjutnya akan bergantung pada respons Iran dan kemajuan negosiasi.

Washington sedang mempertimbangkan berbagai opsi respons terhadap program rudal Iran, menggabungkan tekanan diplomatik dengan persiapan untuk langkah-langkah alternatif. Jika pembicaraan gagal, AS dapat mempertimbangkan untuk mendukung aksi militer Israel terhadap Iran, dengan keputusan akhir bergantung pada perkembangan di lapangan.

Trump juga telah membahas kemungkinan jangka waktu serangan, mencatat bahwa keputusan dapat diimplementasikan paling cepat akhir pekan mendatang tergantung pada reaksi Teheran.(yn)

Sisakan Beberapa Buah Kesemek di Pohon

EtIndonesia. Memberi ruang bagi orang lain, sering kali berarti memberi jalan hidup dan harapan bagi diri sendiri.

Di pedesaan Israel, setiap kali musim panen tiba, ladang yang berada di tepi jalan selalu menyisakan sebagian tanaman di keempat sudutnya untuk tidak dipanen.

Tanaman di keempat sudut itu dapat diambil oleh siapa saja yang membutuhkan.

Mereka percaya bahwa Tuhanlah yang telah menganugerahkan kehidupan yang lebih baik kepada bangsa Yahudi yang dahulu penuh penderitaan. Sebagai ungkapan rasa syukur, mereka memilih meninggalkan sebagian hasil panen di sudut ladang sebagai balasan atas anugerah yang mereka terima hari ini.

Dengan cara ini, mereka tidak hanya bersyukur kepada Tuhan, tetapi juga memberi kemudahan bagi para pelintas jalan yang miskin dan kelaparan.

Tanaman itu memang mereka tanam sendiri, tetapi menyisakan sedikit untuk orang lain mereka anggap sebagai hal yang wajar. Bagi mereka, berbagi adalah bentuk rasa syukur, dan berbagi adalah sebuah kebajikan.

Kesemek yang Dibiarkan di Pohon

Hal serupa juga dapat ditemui di pedesaan Korea bagian utara, di sepanjang jalan desa yang dipenuhi kebun kesemek.

Saat musim gugur tiba, para petani tampak sibuk memetik kesemek yang matang. Namun setelah panen selesai, masih ada sejumlah kesemek matang yang sengaja dibiarkan menggantung di pohon.

Kesemek-kesemek yang tersisa ini menjadi pemandangan khas. Banyak wisatawan yang lewat sering berkata:  “Kesemeknya besar dan merah sekali, bukankah sayang kalau tidak dipetik?”

Namun para petani setempat menjawab :  “Sebagus apa pun buahnya, kami tetap tidak akan memetiknya, karena itu disisakan untuk burung murai.”

Mengapa kebiasaan ini terbentuk?

Ternyata daerah ini merupakan habitat burung murai. Setiap musim dingin, burung-burung itu bersarang di pepohonan dan bertahan hidup di sana.

Suatu tahun, musim dingin datang dengan sangat ekstrem. Salju turun lebat, dan ratusan burung murai yang kehabisan makanan mati membeku dalam satu malam.

Pelajaran dari Alam

Musim semi berikutnya, pohon kesemek kembali bertunas, menghijau, berbunga, dan berbuah.

Namun tiba-tiba, hama ulat yang tidak dikenal berkembang tanpa kendali. Akibatnya, hasil panen kesemek tahun itu hampir gagal total.

Sejak kejadian itu, setiap musim panen tiba, orang-orang dengan sengaja menyisakan sebagian kesemek di pohon sebagai makanan burung murai selama musim dingin.

Kesemek yang tertinggal menarik banyak burung murai untuk tinggal di sana sepanjang musim dingin. Dan seolah tahu berterima kasih, burung-burung itu tidak pergi saat musim semi datang, melainkan sibuk menangkap serangga di pohon, sehingga panen kesemek pun kembali melimpah.

Di musim panen, jangan lupa menyisakan beberapa buah kesemek di pohon. Karena sering kali, memberi ruang bagi makhluk lain berarti memberi kehidupan dan harapan bagi diri sendiri.

Di alam, segala sesuatu saling bergantung—satu makhluk makmur, yang lain ikut makmur; satu rusak, yang lain pun terdampak.

Memberi adalah sebuah kebahagiaan. Karena memberi bukan berarti kehilangan sepenuhnya, melainkan sebuah perolehan yang mulia.

Memberi adalah kebahagiaan, karena memberi membuat jiwa menjadi indah.

Menyisakan beberapa buah kesemek di pohon— itulah salah satu pemandangan terindah dalam kehidupan manusia.

Renungan & Hikmah Cerita

Ciptaan alam semesta adalah sesuatu yang luar biasa, dan kehidupan pun berkembang dengan cara yang sangat unik.

Hewan buas karena sedikit musuh alami, melahirkan anak satu per satu. Sementara serangga, yang memiliki banyak pemangsa dan menjadi sumber makanan bagi banyak makhluk, berkembang biak dalam jumlah besar.

Dengan cara inilah alam menjaga keseimbangan, melalui rantai makanan dan hubungan saling mengendalikan, agar kehidupan di bumi dapat terus berlanjut.

Manusia, yang berada di puncak rantai makanan dan hampir tidak memiliki musuh alami, terus bertambah jumlahnya. Jika manusia tidak mampu mengendalikan keserakahan dan merusak keseimbangan ekosistem, maka pada akhirnya manusia pun akan membawa kehancurannya sendiri.

Menyisakan beberapa buah kesemek di pohon adalah sebuah sedekah dan wujud welas asih— kesediaan untuk menyisakan sedikit makanan bagi makhluk lain, agar kehidupan dapat terus berlanjut dengan layak.(jhn/yn)

Iran di Titik Kritis: Investasi Tiongkok Tersendat, Gudang Amunisi Meledak, Warga Asing Diminta Pergi!

EtIndonesia. Pada 18 Februari 2026, sebuah video yang beredar luas di platform X (sebelumnya Twitter) menampilkan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dalam sebuah rapat internal pemerintahan.

Dalam potongan video tersebut, Pezeshkian secara tersirat menyampaikan kekecewaan bahwa investasi besar yang sebelumnya dijanjikan Tiongkok kepada Iran belum terealisasi sesuai ekspektasi pemerintah.

Pernyataan itu langsung memicu diskusi luas, terutama terkait komitmen jangka panjang Beijing terhadap Teheran.

Latar Belakang: Perjanjian Strategis 25 Tahun Iran–Tiongkok

Kerja sama yang dimaksud merujuk pada Perjanjian Kerja Sama Komprehensif 25 Tahun yang ditandatangani pada 27 Maret 2021 antara Iran dan Tiongkok.

Kesepakatan tersebut diperkirakan bernilai sekitar 400 miliar dolar, dengan fokus pada:

  • Pengembangan sektor energi dan petrokimia
  • Infrastruktur transportasi dan pelabuhan
  • Modernisasi jaringan telekomunikasi
  • Investasi dalam proyek jalur kereta dan kawasan industri

Namun, sejak diumumkan, implementasi perjanjian berjalan lambat. Sejumlah faktor yang disebut memperlambat realisasi investasi antara lain:

  1. Sanksi sekunder Amerika Serikat, yang membatasi akses Iran ke sistem keuangan global serta membuat perusahaan asing berhati-hati.
  2. Risiko geopolitik kawasan, terutama meningkatnya ketegangan Timur Tengah.
  3. Kondisi ekonomi domestik Iran, termasuk inflasi tinggi dan volatilitas nilai tukar rial.

Meski perdagangan minyak Iran ke Tiongkok tetap berlangsung, sebagian besar dilakukan melalui mekanisme tidak langsung dan diskon harga, sehingga dampaknya terhadap investasi jangka panjang dinilai terbatas.

Situasi Keamanan: Seruan Evakuasi dari Polandia

Di tengah sorotan ekonomi tersebut, faktor keamanan turut memperkeruh situasi.

Pada 19 Februari 2026, kantor berita Reuters melaporkan bahwa Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk, menyerukan seluruh warga Polandia yang berada di Iran untuk segera meninggalkan negara itu.

Dalam pernyataannya, Tusk memperingatkan bahwa “kesempatan evakuasi bisa tertutup dalam hitungan jam” apabila situasi memburuk.

Seruan tersebut tidak diikuti dengan rincian ancaman spesifik, namun mencerminkan kekhawatiran sejumlah negara Eropa terhadap potensi eskalasi keamanan di Iran dan kawasan sekitarnya.

Langkah ini mengingatkan pada pola seruan evakuasi serupa yang pernah terjadi pada periode meningkatnya ketegangan regional di masa lalu.

Ledakan di Shahriar: Misteri yang Belum Terjawab

Sebelumnya, pada 18 Februari 2026, media Azerbaijan, News.az, melaporkan terjadinya ledakan besar di sebuah gudang amunisi di wilayah Shahriar, Provinsi Teheran.

Hingga saat ini, otoritas Iran belum memberikan penjelasan rinci mengenai:

  • Penyebab ledakan
  • Jumlah korban atau kerusakan
  • Apakah insiden terkait faktor teknis atau keamanan

Dalam beberapa tahun terakhir, Iran memang beberapa kali mengalami ledakan misterius di fasilitas industri maupun militer. Secara resmi, banyak di antaranya dikaitkan dengan kebocoran gas atau gangguan teknis. Namun di luar pernyataan resmi, spekulasi mengenai kemungkinan sabotase atau operasi intelijen asing kerap mencuat, meski jarang dikonfirmasi secara terbuka.

Tekanan Berlapis bagi Teheran

Jika dirangkai dalam satu garis waktu:

  • 27 Maret 2021: Penandatanganan perjanjian strategis 25 tahun Iran–Tiongkok.
  • 18 Februari 2026: Video internal Presiden Pezeshkian beredar, menyinggung lambatnya realisasi investasi.
  • 18 Februari 2026: Laporan ledakan gudang amunisi di Shahriar.
  • 19 Februari 2026: Polandia menyerukan evakuasi warganya dari Iran.

Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa Iran saat ini menghadapi tekanan di tiga lini sekaligus:

  1. Ekonomi – Ketergantungan pada investasi luar negeri yang belum sepenuhnya terealisasi.
  2. Keamanan – Insiden dalam negeri yang memicu kekhawatiran internasional.
  3. Diplomatik – Meningkatnya kewaspadaan negara-negara Eropa terhadap stabilitas kawasan.

Di tengah sanksi yang masih berlaku dan ketidakpastian regional, Teheran berada dalam posisi yang semakin kompleks: berusaha mempertahankan kemitraan strategis dengan Beijing, sekaligus menavigasi tekanan Barat dan risiko keamanan domestik.

Situasi ini berpotensi menentukan arah kebijakan luar negeri dan stabilitas internal Iran dalam beberapa bulan ke depan.

Jenewa Gagal, Rudal Siaga: Timur Tengah di Ambang Perang Besar

EtIndonesia. Pada 17 Februari, Amerika Serikat dan Iran menggelar putaran lanjutan perundingan di Jenewa, Swiss. Namun hanya sehari kemudian, pada 18 Februari, media Amerika Axios menerbitkan analisis yang menyebut bahwa kemungkinan konflik bersenjata antara kedua negara kini lebih dekat dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Laporan tersebut menyoroti fakta bahwa di tengah jalur diplomasi yang masih terbuka, Washington justru memperkuat postur militernya secara signifikan di kawasan Timur Tengah.

Pengerahan Besar-besaran Militer AS

Menurut laporan yang beredar pada 18 Februari, Amerika Serikat telah mengerahkan:

  • Satu kelompok tempur kapal induk aktif di kawasan
  • Ratusan kapal perusak dan kapal pendukung
  • Lebih dari 170 pesawat angkut militer bersenjata penuh
  • Tambahan lebih dari 50 jet tempur, termasuk F-35, F-22, dan F-16
  • Satu kapal induk tambahan yang sedang dalam perjalanan menuju kawasan

Selain itu, dalam beberapa jam terakhir menjelang 18 Februari, terpantau pemindahan besar-besaran pesawat pengisian bahan bakar udara dan pesawat peringatan dini dari pangkalan di Eropa menuju pangkalan Amerika Serikat di Timur Tengah.

Dua pesawat tanker KC-135 dilaporkan lepas landas dari RAF Lakenheath, Inggris, dikawal jet tempur F-15E Strike Eagle dalam dua gelombang terpisah. Pangkalan tersebut diketahui menampung lebih dari 30 unit F-15 yang diperkirakan akan dikerahkan sepenuhnya apabila konflik benar-benar pecah.

Sebelumnya, enam jet tempur siluman F-22 juga dilaporkan terbang dari Pangkalan Angkatan Udara Langley di Amerika menuju Inggris, dengan dukungan pengisian bahan bakar udara. Dalam kurun waktu singkat, tercatat pula 22 pesawat tanker KC-135 dan KC-46, 13 pesawat angkut C-17 dan C-5, serta satu pesawat peringatan dini E-3 bergerak dari Amerika menuju Eropa.

Seorang pejabat Gedung Putih menyebutkan bahwa skenario yang dipertimbangkan bukan sekadar serangan terbatas, melainkan operasi militer berskala besar yang dapat berlangsung beberapa minggu hingga lebih dari satu bulan. Kemungkinan keterlibatan Israel juga disebut terbuka.

Pernyataan Politik: Diplomasi di Ujung Batas

Pada Selasa, 18 Februari, Wakil Presiden AS, JD Vance, dalam wawancara dengan Fox News menyatakan bahwa meskipun putaran kedua perundingan di Jenewa berjalan cukup baik dalam beberapa aspek, masih terdapat “garis merah” yang belum diterima oleh Iran.

Dia menegaskan bahwa prioritas utama Washington adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan bahwa seluruh opsi tetap terbuka. Pemerintah berharap jalur diplomasi tetap bertahan, tetapi keputusan akhir berada di tangan presiden.

Sementara itu, pada 17 Februari, stasiun televisi Israel N12 melaporkan bahwa Gedung Putih telah memberi tahu Israel bahwa negosiasi mengalami kebuntuan karena Iran tidak menerima syarat yang diajukan Presiden Donald Trump.

Israel Siaga Tinggi

Di Israel, situasi juga berkembang cepat. Pada 18 Februari, Komandan Komando Front Dalam Negeri Israel, Mayor Jenderal Rafi Milo, dijadwalkan memberikan pengarahan tertutup kepada Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan Knesset.

Fokus pembahasan adalah kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan serangan rudal dan drone dari Iran atau proksinya. Sumber-sumber Israel memperkirakan perang bisa pecah dalam hitungan hari, meskipun sebagian pejabat AS menilai masih ada kemungkinan jeda beberapa minggu.

Respons Iran: Latihan Gabungan dengan Rusia

Sebagai respons terhadap pengerahan besar AS, Iran dan Rusia mengumumkan akan menggelar latihan angkatan laut gabungan pada 19 Februari di Teluk Oman dan bagian utara Samudra Hindia.

Langkah ini dipandang sebagai sinyal strategis langsung terhadap kehadiran armada AS di kawasan. Sebelumnya, Iran juga sempat mengumumkan pembatasan sementara aktivitas di Selat Hormuz dengan alasan keamanan—jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Waktu dan lokasi latihan tersebut dinilai provokatif karena memperluas area operasi hingga mendekati jalur laut vital, berhadapan langsung dengan kekuatan militer Amerika.

Skenario Terburuk: Operasi Militer Modern Berskala Besar

Beberapa analis menyebut bahwa jika serangan udara benar-benar diluncurkan, operasi tersebut berpotensi menjadi salah satu yang paling canggih secara teknologi dalam sejarah modern.

Targetnya tidak hanya fasilitas nuklir atau instalasi militer, tetapi kemungkinan juga pusat komando dan struktur kepemimpinan strategis Iran. Spekulasi berkembang bahwa operasi khusus, intelijen, hingga sabotase darat dapat dilibatkan untuk mengidentifikasi dan menetralkan target bernilai tinggi.

Strategi “Tekanan Maksimum” Versi Baru?

Sejumlah pengamat menilai dinamika ini mencerminkan strategi “menggunakan kekuatan untuk mendorong negosiasi”. Dengan kata lain, pengerahan militer masif dimaksudkan sebagai alat tekan agar Teheran menerima syarat yang sebelumnya ditolak.

Namun risiko dari strategi ini sangat tinggi. Kesalahan perhitungan sekecil apa pun—misalnya insiden di Selat Hormuz atau salah tafsir atas latihan militer—dapat memicu eskalasi tak terkendali.

Dunia Menunggu Titik Balik

Per 19 Februari, situasi masih berada di antara dua kemungkinan: diplomasi yang tersisa atau konfrontasi terbuka.

Jika jalur negosiasi gagal dan serangan benar-benar diluncurkan, konflik ini bukan hanya akan mengguncang Timur Tengah, tetapi juga pasar energi global, stabilitas keamanan internasional, serta keseimbangan kekuatan antara blok Barat dan poros Rusia–Iran.

Untuk saat ini, dunia menahan napas—menunggu apakah minggu-minggu ke depan akan mencatatkan kesepakatan diplomatik… atau justru awal dari perang baru berskala besar.

Mudik Pakai Mobil Listrik, Cas 12 Kali, Perjalanan Sehari Jadi Tiga Hari: Pemilik Mobil Stres

Saat perayaan Tahun Baru Imlek di Tiongkok, banyak pemilik mobil listrik yang mudik mengeluhkan berbagai kendala. Harga pengisian daya di jalan tol melonjak, sementara daya tempuh kendaraan listrik menyusut drastis. Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam satu hari satu malam, kini memakan waktu hingga tiga hari dan belum juga sampai tujuan.

EtIndonesia.  Baru-baru ini, sebuah video di platform Toutiao menjadi viral. Seorang warganet perempuan mengeluhkan bahwa ia bersama keluarganya mengendarai mobil listrik dari Zhejiang menuju Guizhou, menempuh jarak sekitar 1.800 kilometer. Namun setelah tiga hari perjalanan, mereka masih belum tiba di kampung halaman. Sepanjang perjalanan, mereka sudah mengisi daya sebanyak 12 kali, dengan total biaya pengisian dan tol mencapai 2.000 yuan. Dalam video tersebut, sang perempuan berkali-kali berteriak, “Saya benar-benar hampir gila!”

Kolom komentar pun langsung ramai. Ada yang menyindir, “1.800 dibagi 12 sama dengan 150 kilometer sekali cas. Itu mobil listrik atau sepeda listrik kecil?” Ada pula pengemudi senior dengan pengalaman 30 tahun yang berkomentar, “Kecuali seluruh negeri sudah tidak menjual mobil bensin lagi, walau mobil listrik didiskon 70 persen pun saya tidak akan membelinya.”

Sejumlah pemilik mobil berbahan bakar bensin juga membandingkan pengalaman mereka. “Dari Beijing ke Yulin sejauh 1.022 kilometer, cukup isi bensin dua kali dan 8 jam sudah sampai. Untuk 1.800 kilometer, satu hari satu malam pasti bisa tiba. Mobil listrik memang terlalu lambat,” tulis seorang warganet.

Ada juga komentar bernada humor, “Sebenarnya mobil listrik punya satu kelebihan, hampir tidak ada yang mengalami kelelahan berkendara karena terlalu sering berhenti untuk cas.”

Seorang pemilik kendaraan berpengalaman menyarankan, perjalanan jarak jauh sebaiknya menggunakan mobil bensin. Mobil listrik dinilai kurang cocok untuk perjalanan lebih dari 500 kilometer, terutama di musim dingin. Ia bahkan menyebutkan wilayah seperti Heilongjiang, Jilin, Liaoning, Mongolia Dalam, Xinjiang, Tibet, dan kawasan barat laut lainnya sebagai daerah yang bisa memberikan “pengalaman tak terduga” bagi pengguna mobil listrik di musim dingin. Menurutnya, mobil listrik lebih cocok untuk perjalanan jarak pendek dan wilayah dengan suhu di atas nol derajat Celsius.

Pengalaman warganet yang mudik tersebut ternyata bukan kasus tunggal. Banyak pengguna mobil listrik lainnya juga mengeluhkan frekuensi pengisian daya yang terlalu sering serta biaya yang tinggi.

Dalam sejumlah video yang beredar, ada pemilik mobil yang mengeluhkan tarif pengisian daya di jalan tol mencapai 3 yuan per kWh. Sekali pengisian penuh bisa menghabiskan 200 yuan, bahkan disebut lebih mahal dibandingkan mobil bensin. 

Pemilik lain menyebut tarif 1,8 yuan per kWh di jalan tol, dengan perjalanan lebih dari 2.000 kilometer menghabiskan lebih dari 1.000 yuan untuk listrik saja dan memakan waktu tiga hari. Ia menyimpulkan bahwa menggunakan mobil listrik di jalan tol tidaklah ekonomis.

Masalah lain yang banyak dikeluhkan adalah penurunan daya tempuh secara signifikan. Seorang pemilik mobil Li Auto mengungkapkan bahwa setelah mengisi daya hingga 100 persen, mobilnya bahkan tidak mampu menempuh 80 kilometer sebelum baterai utama habis total.

Pengguna mobil T03 juga mengeluhkan bahwa pada suhu minus 21 derajat Celsius, daya tempuh kendaraan turun drastis. Meskipun indikator menunjukkan 80 persen baterai (sekitar 230 kilometer), setelah menempuh 60 kilometer di jalan tol, sisa daya tinggal 27 persen. Bahkan pemilik Tesla menyebutkan, meskipun spesifikasi menyatakan jarak tempuh 400 kilometer, pada praktiknya setelah 300 kilometer saja sudah mulai merasa cemas.

Banyak warganet menyatakan bahwa perjalanan jauh dengan mobil listrik di jalan tol membutuhkan terlalu banyak pengisian daya dan sangat memakan waktu. Ada yang menempuh 1.100 kilometer dari Zhejiang ke Hunan dengan tujuh kali pengisian daya, di mana sekali pengisian menghabiskan 80 hingga 90 yuan. Ada pula yang menempuh 2.000 kilometer dengan hampir 20 kali pengisian daya dan baru tiba setelah tiga hari.

Selain itu, penggunaan mobil listrik dalam cuaca ekstrem juga menimbulkan risiko keselamatan. Ada pengemudi yang terjebak di jalan tol saat hujan salju lebat dan tidak berani menyalakan pemanas karena baterai hampir habis, sehingga harus menahan dingin di dalam mobil.

Beberapa pemilik juga menyebutkan bahwa sebagian stasiun pengisian daya menyarankan “pengemudi dan kendaraan terpisah” demi menghindari risiko kebakaran spontan. Artinya, pada suhu minus 20 derajat, pengemudi harus berdiri di luar kendaraan dalam angin dingin selama puluhan menit hingga pengisian selesai.

Bagi pengguna mobil listrik yang tetap ingin mudik, pengemudi berpengalaman menyarankan agar menjaga kecepatan sekitar 100 km/jam dan berkendara di lajur tengah untuk menghemat daya. Jika memacu kendaraan hingga 120 km/jam sesuai batas maksimal, konsumsi daya akan meningkat drastis dan hasilnya sangat tidak efisien.

Setelah mengalami berbagai kesulitan tersebut, sejumlah pemilik kendaraan menyatakan kekecewaannya. “Ke depan saya tidak akan membeli mobil listrik lagi,” tulis seorang warganet. Yang lain menambahkan, “Mobil listrik memang tidak layak untuk perjalanan jauh. Kalau pun membeli, jangan pernah dipakai untuk jarak jauh.” (jhon)

Sumber : NTDTV.com

Kutukan Sistem? Delapan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat PKT Berakhir Tragis

ETIndonesia. Belakangan ini, setelah Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC) Partai Komunis Tiongkok (PKT), Zhang Youxia, secara resmi diumumkan “jatuh” dari jabatan, inti kekuasaan militer PKT kembali bergejolak.

Pengamat menyoroti bahwa posisi Wakil Ketua CMC, yang secara lahiriah tampak sangat tinggi dan berkuasa, pada kenyataannya justru menjadi salah satu “jabatan berisiko tinggi” dalam sistem PKT. Jika menelusuri sejarah sejak PKT merebut kekuasaan, sejumlah jenderal yang pernah menduduki posisi tersebut tidak luput dari pembersihan politik, kehancuran reputasi, bahkan kematian tragis.

Mantan sekretaris Komisi Inspeksi Disiplin Pusat PKT, Wang Youqun—yang pernah menjadi sekretaris bagi mantan Kepala Komisi Disiplin Pusat Wei Jianxing—baru-baru ini menulis artikel yang merangkum perjalanan nasib delapan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat PKT.

Pembersihan Era Mao: Peng Danhuai dan He Long

Peng Dehuai dan He Long adalah tokoh marsekal generasi awal PKT. Namun dalam pergulatan garis politik, keduanya menjadi korban pembersihan Mao Zedong.

Peng Dehuai, karena mengkritik kebijakan “Lompatan Jauh ke Depan”, dicap sebagai pemimpin “kelompok anti-partai”. Selama Revolusi Kebudayaan, ia mengalami penyiksaan berat dan akhirnya meninggal dunia dengan membawa ketidakadilan.

He Long dianggap Mao sebagai ancaman potensial. Kelompok Revolusi Kebudayaan Pusat merekayasa apa yang disebut sebagai “Insiden Pemberontakan Februari” dan menjatuhkannya dalam isolasi serta pemeriksaan. Dalam kondisi sakit parah, He Long dikabarkan dipaksa menerima suntikan glukosa dosis tinggi hingga meninggal dalam tahanan. Bahkan setelah wafat, ia masih dicemarkan dan dinyatakan bersalah.

Kasus Paling Ikonik: Lin Biao

Yang paling simbolis adalah Lin Biao. Ia pernah ditetapkan sebagai penerus Mao Zedong dan menjabat Wakil Ketua CMC. Namun dalam pertarungan kekuasaan, ia dengan cepat tersingkir. Pada peristiwa “9.13”, Lin Biao dilaporkan melarikan diri secara tergesa-gesa dan tewas dalam kecelakaan pesawat. Hingga kini, kasus tersebut masih menyisakan banyak tanda tanya dan menjadi salah satu episode paling mengejutkan dalam sejarah perebutan kekuasaan militer PKT.

Peristiwa 4 Juni dan Zhao Ziyang

Saat peristiwa 4 Juni 1989, Zhao Ziyang yang menjabat Wakil Ketua Pertama Komisi Militer Pusat, menentang penggunaan militer untuk menindas mahasiswa. Ia berselisih dengan Deng Xiaoping dan para sesepuh partai. Akibatnya, ia dicopot dari jabatan dan menjalani tahanan rumah selama 16 tahun hingga meninggal dunia.

Era Jiang dan Xi: Guo Boxiong, Xu Caihou, hingga He Weidong

Guo Boxiong dan Xu Caihou, yang berafiliasi dengan Jiang Zemin, memegang kendali CMC selama sepuluh tahun dan dianggap sebagai perpanjangan tangan Jiang dalam mengontrol militer setelah pensiun. Keduanya dituduh memperjualbelikan jabatan dan meraup keuntungan besar, menjadikan CMC sebagai pusat transaksi kekuasaan dan uang.

Dalam kampanye anti-korupsi Xi Jinping, mereka menjadi “macan besar” di tubuh militer. Xu Caihou meninggal dunia karena sakit saat menjalani proses hukum, sementara Guo Boxiong dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

He Weidong, yang dipromosikan secara luar biasa cepat oleh Xi Jinping dan disebut sebagai “orang kepercayaan nomor satu di militer”, juga tak luput dari kejatuhan. Ia dituduh melakukan korupsi serius dan dianggap tidak setia. Bahkan beredar kabar bahwa ia telah bunuh diri.

Kejatuhan Zhang Youxia dan Gejolak Baru

Kejatuhan Zhang Youxia baru-baru ini mengguncang lingkaran militer PKT. Ia dikenal sebagai salah satu jenderal senior yang memiliki pengalaman tempur nyata dan merupakan teman masa kecil Xi Jinping. Ia juga memainkan peran penting dalam konsolidasi kekuasaan Xi pada Kongres ke-20 PKT yang memungkinkan masa jabatan ketiga.

Namun, menjelang masa pensiun, ia tiba-tiba diselidiki. Detail sebenarnya masih menunggu pengungkapan lebih lanjut.

Analisis: Produk Sistem Satu Partai dan Politik Kekuasaan

Pengamat politik yang bermukim di Amerika Serikat, Chen Pokong, menyatakan bahwa kekacauan dalam kekuasaan militer PKT merupakan produk dari sistem satu partai dan pemerintahan berbasis kekuasaan personal.

Menurutnya, militer di Tiongkok bukanlah milik negara, melainkan milik partai dan bertugas menjaga kelangsungan rezim. Pemimpin tertinggi bahkan berupaya menjadikannya sebagai “tentara pribadi”.

Chen Pokong menyebut bahwa baik Mao Zedong maupun Xi Jinping memiliki kecenderungan tersebut, sehingga konflik dengan rekan-rekan di sekitarnya tak terhindarkan. Jika diringkas secara ringan disebut sebagai perbedaan garis atau ideologi, namun dalam kenyataannya merupakan perebutan kekuasaan.

Pada era Mao, militer ditarik ke dalam konflik internal Revolusi Kebudayaan. Pada era Deng Xiaoping, militer digunakan untuk menekan rakyat. Di era Xi Jinping, prinsip “partai memimpin senjata” berubah menjadi situasi di mana “senjata mengendalikan partai”, dan posisi Wakil Ketua CMC dijadikan alat untuk menyerang pemimpin lain. Semua ini mencerminkan karakter sistem itu sendiri.

Chen juga menilai bahwa pemimpin tertinggi bergantung pada militer untuk menjaga stabilitas, tetapi pada saat yang sama sangat takut kehilangan kendali atas militer. Struktur kekuasaan yang sangat tegang ini membuat risiko semakin besar bagi mereka yang berada di inti kekuasaan. Inilah sebabnya posisi Wakil Ketua CMC menjadi jabatan berisiko tinggi.

Ia mengibaratkan situasi tersebut sebagai “mendampingi raja ibarat mendampingi harimau”. Ketidakpercayaan mendalam membuat hubungan penuh bahaya—entah penguasa membunuh bawahannya, atau bawahan menggulingkan penguasa. Dalam sistem seperti itu, para pejabat tinggi bisa menjadi penerima manfaat sekaligus korban, bahkan pemimpin tertinggi pun bisa menjadi korban terakhir dari sistem yang sama.

Sementara itu, pakar hukum yang bermukim di Australia, Yuan Hongbing, menyatakan bahwa karena militer adalah milik partai, dan partai berada di bawah kendali figur seperti Stalin, Mao Zedong hingga Xi Jinping—yang ia sebut sebagai “kaisar komunis”—maka loyalitas absolut menjadi syarat utama.

Namun tuntutan loyalitas mutlak tersebut pada dasarnya mustahil dipenuhi. Karena itu, setiap posisi militer yang berpotensi menimbulkan ancaman akan menjadi target pembersihan. Bahkan jabatan setingkat anggota Komisi Militer Pusat pun dapat menjadi sasaran penindakan.

Nasib delapan Wakil Ketua CMC tersebut menggambarkan garis waktu politik yang berdarah sekaligus mencerminkan kegelisahan mendalam PKT terhadap kendali militer.

Yuan Hongbing menyebut sistem PKT sebagai “mesin penggiling daging”. Semakin sering pembersihan dilakukan, semakin rapuh sistem tersebut, dan pada akhirnya dapat mempercepat runtuhnya struktur otoritarian secara keseluruhan. (Jhon)

Sumber : NTDTV.com

Perusahaan Milik Kementerian Keamanan Publik Tiongkok Tunggak Gaji 2 Tahun, Ancam Hentikan Iuran Jaminan Sosial Karyawan

EtIndonesia. Di tengah perlambatan ekonomi Tiongkok yang terus berlanjut, kondisi operasional perusahaan milik negara (BUMN) juga semakin memburuk. Baru-baru ini terungkap bahwa Beijing Ruian Technology Co., Ltd., perusahaan yang berada di bawah naungan Kementerian Keamanan Publik Partai Komunis Tiongkok (PKT), diduga secara sengaja menunggak pembayaran gaji selama dua tahun. Lebih dari 300 karyawan yang berupaya menuntut hak mereka justru menghadapi ancaman penghentian pembayaran jaminan sosial.

Pada 14 Februari, akun publik WeChat bernama “Pekerja Migran Biasa yang Membela Hak” menerbitkan artikel berjudul “Bersekongkol dan Bertindak Tanpa Takut? Kejahatan Beijing Ruian Technology dan Salah Satu Lembaga di Bawah Kementerian Keamanan Publik”

Artikel tersebut menuduh Beijing Ruian Technology berkolusi dengan salah satu lembaga di bawah Kementerian Keamanan Publik, melakukan penunggakan gaji secara sengaja, memindahkan aset, serta secara ilegal menekan dan mengancam karyawan yang memperjuangkan hak mereka.

Menurut artikel itu, dalam beberapa waktu terakhir karyawan Beijing Ruian Technology sering menerima ancaman. Mereka disebut diberi dua pilihan: “Patuh dan mengikuti pengaturan perusahaan, atau iuran jaminan sosial Anda akan dihentikan dan dibekukan, sehingga Anda akan kesulitan saat mencari pekerjaan baru maupun saat membutuhkan layanan kesehatan.”

Disebutkan bahwa perusahaan telah menunggak gaji selama 24 bulan, dengan total tunggakan mencapai lebih dari 80 juta yuan. Lebih dari 300 karyawan beserta keluarga mereka disebut berada dalam kondisi sulit, tidak mampu membayar cicilan rumah dan kendaraan. Bahkan ada karyawan yang telah mengeluarkan dana pribadi untuk kebutuhan proyek perusahaan, namun tidak mendapatkan penggantian.

Menghadapi tuntutan yang dinilai wajar dari para karyawan, manajemen Ruian Technology disebut di satu sisi menjanjikan bahwa “gaji pasti akan dibayarkan” dan mengklaim sebagai BUMN yang bertanggung jawab, namun di sisi lain justru memaksakan pemotongan gaji sebesar 30% hingga 50%, melakukan pemutusan hubungan kerja dalam skala besar, serta menolak membayar kompensasi.

Selain itu, perusahaan juga dituduh diam-diam memindahkan aset. Artikel tersebut menyebut bahwa “kode model besar (AI), kartu grafis, dan perangkat keras inti lainnya telah dipindahkan ke perusahaan pengendali yang terkait dengan salah satu lembaga Kementerian Keamanan Publik; informasi paten sedang didata untuk dialihkan.” Piutang yang jatuh tempo disebut dialihkan ke perusahaan afiliasi, bahkan ada dana yang ditransfer ke rekening pribadi.

Artikel itu juga mengungkap informasi internal yang menyebutkan bahwa kontrak proyek saat ini sebenarnya ditandatangani oleh salah satu lembaga Kementerian Keamanan Publik dengan pihak klien, sementara tenaga kerja yang menjalankan proyek adalah karyawan Ruian Technology. 

Setelah pembayaran proyek diterima oleh lembaga tersebut, dana tersebut diduga masuk ke kantong pribadi sejumlah pejabat. Akibatnya, Ruian Technology tidak menerima dana, sehingga gaji dan jaminan sosial karyawan tidak dapat dipenuhi.

Untuk mencegah aksi tuntutan karyawan, perusahaan disebut menggunakan ancaman penghentian dan pembekuan jaminan sosial, memaksa karyawan menandatangani perjanjian yang tidak adil, serta meminta mereka melepaskan hak untuk menuntut.

Artikel tersebut menilai bahwa keberanian Ruian Technology bertindak demikian tidak lepas dari “persetujuan dan perlindungan diam-diam” dari pihak terkait di belakangnya. Diduga terdapat ikatan kepentingan yang membentuk semacam “payung perlindungan”.

Menurut data publik, Beijing Ruian Technology Co., Ltd. didirikan pada tahun 2003 dan dimiliki bersama oleh Institut Riset Ketiga Kementerian Keamanan Publik PKT serta Aerospace Development. 

Perusahaan ini mengklaim sebagai penyedia solusi informatika big data, yang menyediakan produk, teknologi, dan solusi cerdas bagi berbagai instansi pemerintah dan lembaga, termasuk kepolisian, badan siber, lembaga kerahasiaan negara, kejaksaan, pengadilan, sektor kelistrikan, operator telekomunikasi, militer, dan lembaga penanggulangan darurat.

Berdasarkan informasi terkait, perusahaan tersebut terutama menyediakan layanan big data, keamanan siber, serta peralatan teknologi informasi bagi sistem keamanan publik Tiongkok, dan memiliki hubungan yang sangat erat dengan jaringan kepolisian di seluruh negeri. (Jhon)

Sumber ; NTDTV.com

Dalam 10 Tahun, Peru Ganti 8 Presiden, Ketua Kongres Baru Jose Maria Balcazar Resmi Jadi Presiden Sementara

EtIndonesia. Setelah Kongres Peru meloloskan mosi pemakzulan terhadap Presiden Jose Jeri, pada Rabu (18 Februari) para anggota parlemen memilih Jose Maria Balcazar sebagai Ketua Kongres yang baru. Sesuai mekanisme konstitusi, Balcazar secara otomatis menggantikan posisi presiden sementara dan akan menjabat hingga 28 Juli tahun ini.

Jose Jeri sendiri baru menjabat sekitar empat bulan. Ia naik ke kursi kepresidenan setelah mantan Presiden Dina Boluarte dimakzulkan pada Oktober tahun lalu. Dengan pelantikan Jeri saat itu, ia menjadi kepala negara ketujuh Peru dalam satu dekade terakhir.

Namun, Jeri tersandung skandal pertemuan pribadi dengan seorang pengusaha asal Tiongkok. Pada 17 Februari, Kongres Peru melakukan pemungutan suara dan menyetujui pemakzulan terhadap Jeri, serta menyatakan ia tidak lagi layak menjabat sebagai kepala negara.

Pada 18 Februari, Kongres kembali bersidang untuk memilih pimpinan baru. Empat kandidat awalnya tidak berhasil meraih dukungan mayoritas sederhana, sehingga sidang berlangsung selama beberapa jam. Akhirnya, para anggota parlemen sepakat memilih Jose Maria Balcazar sebagai Ketua Kongres, yang sekaligus otomatis menjabat Presiden Sementara.

Pemungutan suara tersebut disiarkan secara langsung melalui televisi. Balcazar, yang kini berusia 83 tahun dan berlatar belakang sebagai pengacara serta mantan hakim, menjadi kepala negara kedelapan Peru sejak 2016.

Ia akan memimpin negara hingga presiden terpilih dalam pemilu 12 April mendatang resmi dilantik pada 28 Juli.

Sementara itu, Jose Jeri menjadi presiden ketiga berturut-turut yang dimakzulkan, mempertegas krisis kepemimpinan yang semakin dalam di Peru. Situasi ini juga memicu kekhawatiran internasional terhadap stabilitas dan masa depan negara tersebut, yang merupakan produsen tembaga terbesar ketiga di dunia. (jhon)

Sumber : NTDTV.com

Longsor Salju di California Tewaskan 8 Orang, 1 Masih Hilang

Insiden Paling Mematikan di AS dalam 45 Tahun

EtIndonesia. Di tengah terjangan badai musim dingin yang melanda California, longsor salju besar terjadi di Castle Peak, kawasan Tahoe, dan menjadi insiden paling mematikan di Amerika Serikat dalam 45 tahun terakhir.

Pada Rabu, 18 Februari, pihak kepolisian mengonfirmasi bahwa delapan pemain ski telah ditemukan meninggal dunia, sementara satu orang lainnya masih belum diketahui keberadaannya.

Perusahaan pemandu pendakian Blackbird Mountain Guides, yang mengorganisir perjalanan petualangan tersebut, menjelaskan bahwa 11 pemain ski bersama 4 pemandu telah menginap sejak 15 Februari di Pondok Frog Lake, kawasan Castle Peak. Saat mereka kembali menuju titik awal pendakian setelah menyelesaikan perjalanan, rombongan tersebut tiba-tiba diterjang longsor salju.

Castle Peak sendiri terletak sekitar 16 kilometer di barat laut Danau Tahoe (Lake Tahoe).

Pada dini hari 17 Februari, kelompok tersebut tertimbun longsor salju yang luasnya diperkirakan setara dengan satu lapangan sepak bola Amerika. Di tengah kondisi angin kencang dan badai salju, lebih dari 40 petugas penyelamat garis depan bergerak dalam gelap dan melintasi medan terjal untuk melakukan operasi penyelamatan.

Upaya tersebut berhasil menyelamatkan enam orang yang selamat, dua di antaranya harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

Sheriff Nevada County, Shannan Moon, mengatakan, “Kami masih terus mencari satu orang yang dinyatakan hilang.” Ia menambahkan bahwa cuaca buruk sangat menghambat proses pencarian dan penyelamatan.

Menurut Moon, “Menyebut cuaca ini sebagai ekstrem mungkin masih terlalu ringan. Kondisinya benar-benar berupa hujan salju lebat, angin kencang yang menderu, serta jarak pandang yang sangat rendah.”

Sementara itu, Kepolisian Placer County mengimbau masyarakat untuk tidak memasuki kawasan pegunungan hingga kondisi cuaca membaik.

Badai salju kuat masih terus melanda pegunungan Sierra Nevada. Sebuah resor ski di dekat lokasi kejadian melaporkan bahwa dalam satu minggu terakhir, ketebalan salju telah mencapai sekitar 1,7 meter.

Lembaga Cuaca Nasional Amerika Serikat memperingatkan bahwa di wilayah pegunungan dengan ketinggian di atas 3.500 kaki, akumulasi salju bisa mencapai 2,44 meter, dengan kecepatan angin hingga sekitar 90 kilometer per jam.

Berdasarkan data statistik, dalam 10 tahun terakhir, rata-rata sekitar 27 orang per tahun meninggal akibat longsor salju di Amerika Serikat. Pada Januari tahun ini, Castle Peak juga sempat mengalami insiden longsor mematikan. (jhon)

Sumber : NTDTV.com

Ketegangan Meningkat, Analisis: Perang AS–Iran Bisa Meletus Kapan Saja

Sejak gelombang protes nasional di Iran yang pecah akhir tahun lalu, situasi dalam negeri terus bergejolak. Setelah demonstrasi mencapai puncaknya pada 8–9 Januari dan ditindak dengan kekerasan oleh aparat, jumlah korban tewas hingga kini belum dapat dipastikan. Berbagai pihak memperkirakan korban mencapai ribuan hingga puluhan ribu orang.

EtIndonesia. Pada 14 Februari, dukungan diaspora Iran memuncak. Diperkirakan jutaan orang di berbagai negara turun ke jalan menyerukan perubahan rezim di Teheran. Sementara itu, Amerika Serikat terus meningkatkan kesiapan militer, meski secara resmi belum menutup pintu diplomasi. Namun laporan menyebut Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan opsi perubahan rezim.


Iran Siaga Perang, Perkuat Fasilitas Nuklir dan Keamanan Dalam Negeri

Menurut laporan The Wall Street Journal pada 18 Februari, Iran secara terbuka bersiap menghadapi kemungkinan perang jika negosiasi dengan AS gagal. Teheran dilaporkan mengerahkan pasukan ke sekitar Selat Hormuz, memperkuat pembangunan fasilitas nuklir di Isfahan dan wilayah yang dikenal sebagai Pickaxe Mountain, serta meningkatkan pertahanan udara dan pengamanan domestik.

Iran juga menerbitkan pemberitahuan penerbangan (NOTAM) A0605/26, memperingatkan aktivitas peluncuran roket pada 19 Februari (03.30–13.30 UTC), dengan pembatasan wilayah udara dari Iran selatan hingga ke Selat Hormuz.

Media Israel melaporkan Iran menekan Hizbullah agar siap terlibat jika perang dengan Israel pecah. Di sisi lain, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dikabarkan telah menyiapkan rencana serangan besar terhadap Hizbullah serta bersiap menghadapi potensi keterlibatan kelompok Houthi dan proksi Iran lainnya.


Evakuasi Diplomatik dan Ultimatum Washington

Beberapa laporan menyebut staf kedutaan sejumlah negara Eropa telah ditarik dari Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir, hanya menyisakan personel esensial.

Sumber diplomatik kepada majalah Foreign Policy menyatakan bahwa kesabaran Washington terhadap kebuntuan negosiasi mungkin segera habis. Pejabat Israel bahkan menyebut “zero hour” — momen dimulainya operasi militer — mungkin tinggal hitungan hari.

Menurut laporan Fox News, Washington telah menyampaikan ultimatum kepada Teheran: membongkar program nuklirnya atau menghadapi “opsi lain”.


Pengerahan Militer AS: Skala Besar dan Cepat

Analisis AXIOS pada 18 Februari menyebut kemungkinan perang lebih dekat dari perkiraan publik. AS telah mengerahkan satu kapal induk, ratusan kapal perang pendukung, serta lebih dari 170 pesawat angkut militer bermuatan persenjataan ke kawasan. Lebih dari 50 jet tempur tambahan—termasuk F-35, F-22, dan F-16—telah dikirim, dan satu kapal induk lagi sedang menuju wilayah tersebut.

Kapal induk USS Gerald R. Ford dilaporkan telah meninggalkan Karibia dan bergerak di Atlantik menuju Timur Tengah, dikawal sejumlah kapal perusak.

Dalam beberapa jam terakhir saja, puluhan pesawat tanker KC-135 dan KC-46, pesawat angkut C-17 dan C-5, serta pesawat peringatan dini E-3 diterbangkan dari AS ke Eropa. Enam jet siluman F-22 juga dilaporkan bergerak dari Pangkalan Langley ke Inggris.

Seorang penasihat Trump dikutip menyatakan kemungkinan intervensi militer dalam beberapa pekan ke depan mencapai “90 persen”.


Target Utama: Rezim?

Sejumlah analis open-source intelligence menyebut mobilisasi besar ini mengindikasikan tujuan yang lebih luas daripada sekadar serangan terbatas. Jika terjadi, serangan bisa mencakup ribuan target militer dan politik, bahkan menyasar pimpinan tertinggi Iran, termasuk Ali Khamenei. Tidak dikesampingkan pula operasi khusus di darat untuk memburu target bernilai tinggi.


Perkembangan di Dalam Negeri Iran

Pada 17 Februari, ledakan besar dilaporkan terjadi di wilayah barat daya Teheran, dekat fasilitas militer termasuk basis Garda Revolusi. Di kota Mashhad, ribuan orang kembali turun ke jalan mengenang korban protes sebelumnya. Laporan di media sosial menyebut aparat menutup akses jalan dan bahkan melepaskan tembakan di kota Abdanan saat acara peringatan 40 hari korban demonstrasi.


Pernyataan Wakil Presiden AS

Wakil Presiden JD Vance menyatakan bahwa meskipun ada kemajuan dalam pembicaraan nuklir, Iran belum menerima “garis merah” yang ditetapkan Washington. Ia menegaskan tujuan utama AS adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan semua opsi tetap terbuka.


Kesimpulan

Dengan diplomasi yang tersendat, pengerahan militer besar-besaran, serta tekanan internal di Iran, kawasan Timur Tengah kini berada di titik yang sangat sensitif. Apakah ini hanya strategi tekanan maksimal atau benar-benar menuju konfrontasi terbuka, masih menjadi tanda tanya. Namun satu hal jelas: suhu geopolitik di kawasan tersebut terus meningkat, dan dunia tengah menanti langkah berikutnya dari Washington dan Teheran. (jhon)

Sumber : NTDTV.com

CBS News : AS Bisa Menyerang Iran Secepatnya Akhir Pekan Ini, Trump Masih Mempertimbangkan Keputusan

EtIndonesia. Presiden AS, Donald Trump membahas waktu potensi serangan terhadap Iran, termasuk kemungkinan bertindak secepatnya akhir pekan ini, menurut CBS News dan CNN.

Menurut sumber, pejabat senior keamanan nasional mengatakan kepada Donald Trump pada hari Rabu (18/2) bahwa militer dapat siap untuk melakukan potensi serangan terhadap Iran paling cepat hari Sabtu. Namun, tindakan apa pun mungkin berlanjut hingga setelah akhir pekan ini, karena Trump belum membuat keputusan akhir.

Salah satu sumber mengatakan kepada CNN bahwa Trump secara pribadi telah menyatakan dukungan dan penentangannya terhadap aksi militer sambil berkonsultasi dengan penasihat dan sekutu tentang langkah terbaik ke depan dan menghabiskan banyak waktu untuk mempertimbangkan keputusan tersebut.

“Dia menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan hal ini,” kata salah satu sumber.

Pengerahan Pasukan AS

CNN melaporkan bahwa Gedung Putih diberi pengarahan tentang kesiapan serangan setelah AS secara signifikan meningkatkan kehadiran udara dan angkatan lautnya di Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir.

Gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln sudah berada di wilayah tersebut, sementara gugus kedua yang dipimpin oleh USS Gerald R. Ford sedang menuju Timur Tengah dan berada di lepas pantai Afrika Barat pada hari Rabu, menurut data pelacakan kapal.

Sumber yang dikutip oleh CBS News mengatakan Pentagon berencana untuk sementara memindahkan beberapa personel dari Timur Tengah ke Eropa atau kembali ke AS dalam tiga hari ke depan sebagai tindakan pencegahan menjelang potensi aksi militer atau pembalasan Iran. Media tersebut mencatat bahwa reposisi tersebut merupakan praktik standar dan tidak selalu menunjukkan serangan yang akan segera terjadi.

Latar Belakang

Pada 17 Februari, AS dan Iran mengadakan pembicaraan di Jenewa tentang program nuklir Teheran. Kepala negosiator Iran mengatakan kedua pihak sepakat tentang serangkaian prinsip panduan, sementara seorang pejabat AS mengatakan banyak detail masih perlu dibahas.

Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt mengatakan Iran diperkirakan akan menyampaikan lebih banyak detail tentang posisi negosiasinya dalam beberapa minggu mendatang tetapi tidak mengatakan apakah Trump akan menunda aksi militer.

Laporan media juga menyebutkan bahwa Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio diperkirakan akan melakukan perjalanan ke Israel pada 28 Februari untuk bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan membahas negosiasi tersebut.

Laporan sebelumnya menunjukkan bahwa selama putaran pertama pembicaraan di Oman pada 6 Februari, Iran mengusulkan untuk mentransfer uranium yang diperkaya ke Rusia dan mengisyaratkan kesediaan untuk menangguhkan pengayaan hingga tiga tahun.

AS sebelumnya bergabung dengan Israel dalam serangan terhadap fasilitas nuklir Iran selama konflik 12 hari pada Juni 2025, yang menurut penilaian intelijen menyebabkan kerusakan signifikan pada program nuklir Teheran.

Sebelum konflik tersebut, Iran mempercepat pengayaan uranium setelah AS menarik diri dari kesepakatan nuklir 2014. Menurut Badan Energi Atom Internasional, Iran telah memperkaya uranium hingga 60%, tingkat yang dianggap sebagai langkah teknis singkat dari tingkat senjata nuklir, menjadikannya satu-satunya negara non-nuklir yang memperkaya uranium hingga tingkat tersebut. (yn)