Ketegangan Meningkat, Analisis: Perang AS–Iran Bisa Meletus Kapan Saja

Sejak gelombang protes nasional di Iran yang pecah akhir tahun lalu, situasi dalam negeri terus bergejolak. Setelah demonstrasi mencapai puncaknya pada 8–9 Januari dan ditindak dengan kekerasan oleh aparat, jumlah korban tewas hingga kini belum dapat dipastikan. Berbagai pihak memperkirakan korban mencapai ribuan hingga puluhan ribu orang.

EtIndonesia. Pada 14 Februari, dukungan diaspora Iran memuncak. Diperkirakan jutaan orang di berbagai negara turun ke jalan menyerukan perubahan rezim di Teheran. Sementara itu, Amerika Serikat terus meningkatkan kesiapan militer, meski secara resmi belum menutup pintu diplomasi. Namun laporan menyebut Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan opsi perubahan rezim.


Iran Siaga Perang, Perkuat Fasilitas Nuklir dan Keamanan Dalam Negeri

Menurut laporan The Wall Street Journal pada 18 Februari, Iran secara terbuka bersiap menghadapi kemungkinan perang jika negosiasi dengan AS gagal. Teheran dilaporkan mengerahkan pasukan ke sekitar Selat Hormuz, memperkuat pembangunan fasilitas nuklir di Isfahan dan wilayah yang dikenal sebagai Pickaxe Mountain, serta meningkatkan pertahanan udara dan pengamanan domestik.

Iran juga menerbitkan pemberitahuan penerbangan (NOTAM) A0605/26, memperingatkan aktivitas peluncuran roket pada 19 Februari (03.30–13.30 UTC), dengan pembatasan wilayah udara dari Iran selatan hingga ke Selat Hormuz.

Media Israel melaporkan Iran menekan Hizbullah agar siap terlibat jika perang dengan Israel pecah. Di sisi lain, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dikabarkan telah menyiapkan rencana serangan besar terhadap Hizbullah serta bersiap menghadapi potensi keterlibatan kelompok Houthi dan proksi Iran lainnya.


Evakuasi Diplomatik dan Ultimatum Washington

Beberapa laporan menyebut staf kedutaan sejumlah negara Eropa telah ditarik dari Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir, hanya menyisakan personel esensial.

Sumber diplomatik kepada majalah Foreign Policy menyatakan bahwa kesabaran Washington terhadap kebuntuan negosiasi mungkin segera habis. Pejabat Israel bahkan menyebut “zero hour” — momen dimulainya operasi militer — mungkin tinggal hitungan hari.

Menurut laporan Fox News, Washington telah menyampaikan ultimatum kepada Teheran: membongkar program nuklirnya atau menghadapi “opsi lain”.


Pengerahan Militer AS: Skala Besar dan Cepat

Analisis AXIOS pada 18 Februari menyebut kemungkinan perang lebih dekat dari perkiraan publik. AS telah mengerahkan satu kapal induk, ratusan kapal perang pendukung, serta lebih dari 170 pesawat angkut militer bermuatan persenjataan ke kawasan. Lebih dari 50 jet tempur tambahan—termasuk F-35, F-22, dan F-16—telah dikirim, dan satu kapal induk lagi sedang menuju wilayah tersebut.

Kapal induk USS Gerald R. Ford dilaporkan telah meninggalkan Karibia dan bergerak di Atlantik menuju Timur Tengah, dikawal sejumlah kapal perusak.

Dalam beberapa jam terakhir saja, puluhan pesawat tanker KC-135 dan KC-46, pesawat angkut C-17 dan C-5, serta pesawat peringatan dini E-3 diterbangkan dari AS ke Eropa. Enam jet siluman F-22 juga dilaporkan bergerak dari Pangkalan Langley ke Inggris.

Seorang penasihat Trump dikutip menyatakan kemungkinan intervensi militer dalam beberapa pekan ke depan mencapai “90 persen”.


Target Utama: Rezim?

Sejumlah analis open-source intelligence menyebut mobilisasi besar ini mengindikasikan tujuan yang lebih luas daripada sekadar serangan terbatas. Jika terjadi, serangan bisa mencakup ribuan target militer dan politik, bahkan menyasar pimpinan tertinggi Iran, termasuk Ali Khamenei. Tidak dikesampingkan pula operasi khusus di darat untuk memburu target bernilai tinggi.


Perkembangan di Dalam Negeri Iran

Pada 17 Februari, ledakan besar dilaporkan terjadi di wilayah barat daya Teheran, dekat fasilitas militer termasuk basis Garda Revolusi. Di kota Mashhad, ribuan orang kembali turun ke jalan mengenang korban protes sebelumnya. Laporan di media sosial menyebut aparat menutup akses jalan dan bahkan melepaskan tembakan di kota Abdanan saat acara peringatan 40 hari korban demonstrasi.


Pernyataan Wakil Presiden AS

Wakil Presiden JD Vance menyatakan bahwa meskipun ada kemajuan dalam pembicaraan nuklir, Iran belum menerima “garis merah” yang ditetapkan Washington. Ia menegaskan tujuan utama AS adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan semua opsi tetap terbuka.


Kesimpulan

Dengan diplomasi yang tersendat, pengerahan militer besar-besaran, serta tekanan internal di Iran, kawasan Timur Tengah kini berada di titik yang sangat sensitif. Apakah ini hanya strategi tekanan maksimal atau benar-benar menuju konfrontasi terbuka, masih menjadi tanda tanya. Namun satu hal jelas: suhu geopolitik di kawasan tersebut terus meningkat, dan dunia tengah menanti langkah berikutnya dari Washington dan Teheran. (jhon)

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Menelusuri Jejak Biksu Xuanzang Melintasi Lanskap Suci Dunia Buddhis yang Telah Hilang

Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya) Salah satu catatan perjalanan paling penting dan paling rinci mengenai Jalur Sutra kuno berasal dari perjalanan biksu Tiongkok Xuanzang (玄奘), yang...

Menurunkan Berat Badan dan Mengubah Penampilan adalah Dua Proyek yang Berbeda

 Chen Jing - Visiontimes.com Kebanyakan orang hanya menjalankan proyek yang pertama. Itulah sebabnya angka di timbangan turun, tetapi bayangan di cermin tampak tidak banyak berubah. Anda...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine