Serangan Balik Ukraina Mencapai Terobosan, Zelenskyy ke AS untuk Mendapatkan Lebih Banyak Bantuan
oleh Yi Jing – NTD
Baru-baru ini, serangan balik Ukraina meraih hasil positif dan berturut-turut merebut kembali dua pemukiman penting di kawasan Bakhmut.
Tentara Ukraina berkata : “Kami, para prajurit Brigade Serangan Udara ke-80, Brigade Serangan ke-5, dan Brigade Polisi Nasional telah menyelesaikan misi kami – membebaskan Krischivka di wilayah Donetsk dari penjajah Rusia.”
Komandan pasukan darat Ukraina mengatakan pada Minggu (17/9) bahwa pasukan Ukraina telah merebut kembali pemukiman selatan Krischivka di wilayah Bakhmut, sebuah desa yang diklaim Rusia kendalikan pada Januari.
“Hari ini (17 September), saya ingin secara khusus memuji tentara Ukraina yang mengambil kembali wilayah Bakhmut milik Ukraina selangkah demi selangkah,” kata Presiden Ukraina Volodymir Zelenskyy.
Analis militer Ukraina mengatakan pembebasan pemukiman di dekat Bakhmut akan memungkinkan pasukan Ukraina maju dari selatan wilayah tersebut dan menguasai dataran tinggi.
Awal pekan lalu, Andrivka, pemukiman lain yang diduduki Rusia di wilayah Bakhmut, juga direbut kembali oleh tentara Ukraina.
Serangan balasan Ukraina pada musim panas dimulai pada Juni, namun kemajuannya lebih lambat dari perkiraan, sehingga meningkatkan kekhawatiran dari dunia luar.
Presiden Ukraina Zelensky sebelumnya menyatakan bahwa dia tidak akan peduli dengan apa yang dikatakan orang lain dan serangan balik Ukraina “bergerak maju.”
Seorang pejabat senior Ukraina mengatakan kepada CNN bahwa pasukan Ukraina telah membebaskan 300 kilometer persegi wilayah dari Rusia sejak serangan balasan dimulai. (Hui)
Iran Tukar 5 Tahanan Amerika Serikat dengan Pencairan Duit 6 Miliar Dolar
oleh Qiao An
Setelah berbulan-bulan negosiasi, perjanjian pertukaran tahanan antara Amerika Serikat dan Iran resmi dilaksanakan pada Senin (18/9/2023). Lima warga AS telah dibebaskan oleh otoritas Iran dan sedang dalam perjalanan kembali ke AS.
Lima warga AS yang dibebaskan oleh otoritas Iran turun dari pesawat di Bandara Internasional Doha di Qatar pada Senin dan disambut oleh pejabat AS.
Lima orang yang dibebaskan termasuk Siamak Namazi, yang dijatuhi hukuman 10 tahun penjara atas tuduhan spionase dan pemodal ventura Emad Sharghi.
Menteri Luar Negeri AS Anthony Blinken berkata: “Saya berbicara dengan mereka ketika mereka tiba di Doha, saya dapat memberitahu Anda, itu adalah percakapan yang sangat mengharukan bagi mereka dan saya.”
Antony Blinken mengatakan bahwa lima warga negara Amerika yang dibebaskan pada hari itu, semuanya ditahan secara ilegal oleh otoritas Iran. Di masa mendatang, Amerika Serikat akan terus bekerja keras untuk memulangkan semua warga Amerika Serikat yang ditahan secara tidak adil di luar negeri.
Sebagai imbalannya, pemerintahan Biden mencairkanduit sebesar US$6 miliar (Rp 92 Triliun) dana Iran yang dibekukan karena sanksi dan juga membebaskan lima tahanan Iran yang ditahan di Amerika Serikat.
Namun demikian, operasi pertukaran tahanan ini dipertanyakan banyak pihak. Bob Menendez, ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat dan seorang Demokrat, percaya bahwa hal ini akan mendorong negara-negara yang bermusuhan untuk menyandera lebih banyak warga Amerika Serikat. Beberapa anggota parlemen khawatir bahwa tindakan Gedung Putih sama saja dengan membayar uang tebusan sebagai imbalan atas tahanan. “Tebusan” ini kemungkinan besar akan digunakan oleh Iran untuk mendukung terorisme.
Tepat setelah operasi pertukaran tahanan selesai, Departemen Keuangan AS mengumumkan pada hari yang sama bahwa mereka akan menjatuhkan sanksi tambahan terhadap mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dan badan intelijen Iran. (Hui)
Dari ‘Konspirasi’ Menjadi Serangan ‘Rasisme’: Memilah-milah Melalui Disinformasi dan Pelabelan Terkait Diskusi Asal Virus
Omid Ghoreishi
Sampai sekarang, setiap saran hingga diskusi mengenai kemungkinan kebocoran sebuah laboratorium menyebabkan pandemi COVID-19 akan sangat merugikan oleh banyak outlet media yang dicap “teori konspirasi.” Bahkan muncul berbagai pelabelan mulai disinformasi hingga rasisme. Ada Apakah dengan serangan-serangan tersebut?
Alternatif untuk hipotesis virus berasal dari alami ini menerima lebih banyak pengakuan arus utama, setelah 18 ilmuwan terkemuka, di antaranya adalah seorang anggota Tabel Penasihat Sains COVID-19 Ontario, menerbitkan sebuah surat di majalah Science pada tanggal 14 Mei, mengatakan bahwa teori insiden laboratorium tidak boleh diabaikan. Selain itu, menyebutkan bahwa penyelidikan mengenai asal virus tersebut harus dilanjutkan.
Gagasan itu mulai berkembang pada pertengahan bulan Februari, setelah Kepala Organisasi Kesehatan Dunia -WHO- Tedros Adhanom Ghebreyesus bertentangan dengan laporan Organisasi Kesehatan Dunia mengenai asal usul virus.
Laporan itu memutuskan bahwa sebuah virus yang berasal dari laboratorium adalah “sangat tidak mungkin,” sementara Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa penyelidikan lebih lanjut diperlukan.
Penyelidikan WHO dirusak oleh kurangnya transparansi dari Beijing dan hubungan-hubungan Tiongkok yang dilaporkan dengan beberapa penyidik.
Pada bulan Mei, tampak lebih banyak pembalikan dari tren sebelumnya untuk menolak teori asal usul virus dari laboratorium, di mana Anthony Fauci, kepala Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular Amerika Serikat, mengatakan pada 11 Mei bahwa kini ia “tidak” yakin” bahwa virus tersebut berkembang secara alami.
Komentar-komentar Anthony Fauci adalah dalam menanggapi sebuah pertanyaan dari seorang anggota staf situs web pemeriksa fakta PolitiFact.
Beberapa hari kemudian, PolitiFact secara diam-diam mencabut sebuah pemeriksaan fakta yang dipublikasikan pada bulan September 2020, di mana pemeriksaan fakta tersebut dicap sebagai tidak akurat dan “teori konspirasi yang dibantah” atas klaim oleh seorang ahli virus Hong Kong pada saat itu bahwa COVID-19 berasal dari sebuah laboratorium.
Pada bulan Mei 2020, Anthony Fauci menepis teori kebocoran laboratorium dalam sebuah wawancara dengan National Geographic, mengatakan bukti tersebut “sangat mengusulkan” asal virus yang alami.
Pada tanggal 24 Mei, Vox mengubah sebuah catatan editor pada sebuah artikel bulan Maret 2020 yang mengklaim teori kebocoran laboratorium telah “dibantah,” menyatakan dalam pembaruannya bahwa “konsensus ilmiah telah bergeser.”
Dalam perkembangan-perkembangan terakhir, pada 25 Mei pemerintahan Joe Biden mengatakan bahwa seharusnya ada sebuah studi “transparan” baru mengenai asal virus tersebut. Kemudian pada tanggal 24 Mei, pemerintah Inggris mengatakan bahwa WHO harus “mengeksplorasi semua teori kemungkinan” mengenai asal virus itu.
Sebelumnya, 14 negara, termasuk Kanada dan Amerika Serikat, mengangkat masalah kekhawatiran mengenai studi WHO mengenai asal virus itu, meminta sebuah “analisis dan evaluasi yang transparan dan independen dalam pernyataan tanggal 30 Maret.
Mantan kepala Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat, Robert Redfield mengatakan pada tanggal 26 Maret bahwa ia yakin virus tersebut berasal dari sebuah laboratorium Tiongkok.
Mengutip laporan intelijen Amerika Serikat yang sebelumnya tidak diungkapkan, sebuah Artikel Wall Street Journal yang diterbitkan pada tanggal 23 Mei melaporkan bahwa tiga peneliti dari Institut Virologi Wuhan Tiongkok mencari perawatan di rumah sakit dengan gejala-gejala mirip COVID pada November 2019—–sekitar sebulan sebelum munculnya “penderita pertama” yang diidentifikasi oleh rezim komunis Tiongkok.
Pengungkapan ini cocok dengan isi selembar fakta yang dirilis oleh Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, di hari-hari terakhir pemerintahan Donald Trump, yang mengatakan beberapa peneliti Institut Virologi Wuhan jatuh sakit pada musim gugur 2019 dengan gejala yang konsisten dengan COVID-19.
Beijing dengan cepat menolak klaim Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat pada bulan Januari, sebagai “teori-teori konspirasi,” yang menyebut lembar fakta tersebut sebagai “selembar kebohongan.”
Tetapi komunis Tiongkok bukanlah satu-satunya yang kembali ke pelabelan “konspirasi” selama pandemi. The New York Times, dalam sebuah postingan Twitter pada tanggal 3 Februari yang menautkan ke artikelnya dengan kunjungan tim WHO ke Institut Virologi Wuhan pada waktu itu, menulis, “Laboratorium [Institut Virologi Wuhan] menjadi fokus teori-teori konspirasi yang tidak berdasar yang dipromosikan oleh pemerintahan Donald Trump mengenai asal pandemi.”
Sebuah artikel oleh CNN pada hari yang sama berbunyi, “Sebuah tim para penyelidik WHO di Wuhan mengunjungi sebuah laboratorium pada hari Rabu yang telah menjadi fokus konspirasi dan spekulasi mengenai asal pandemi Coronavirus.”
Diskusi-Diskusi Parlemen
Pelabelan “konspirasi” dan tuntutan-tuntutan untuk mengakhiri setiap pertanyaan mengenai asal virus, bahkan meluas ke diskusi-diskusi di Parlemen Kanada.
Hal ini terjadi selama sebuah rapat komite parlemen Kanada-Tiongkok pada tanggal 10 Mei, di mana anggota parlemen berusaha untuk mendapatkan jawaban dari administrator Laboratorium Mikrobiologi Nasional di Winnipeg mengenai mengapa ilmuwan Xiangguo Qiu dan suaminya Keding Cheng, serta beberapa mahasiswa Tiongkok dikawal keluar dari Laboratorium Mikrobiologi Nasional pada tahun 2019.
Laboratorium Mikrobiologi Nasional, seperti laboratorium Wuhan, adalah sebuah fasilitas dengan peringkat Tingkat 4, tingkat keselamatan hayati tertinggi, dilengkapi untuk bekerja dengan penyakit-penyakit menular manusia dan binatang yang paling mematikan. Ini adalah satu-satunya laboratorium Tingkat 4 di Kanada.
Pada pertemuan tersebut, kritikus urusan luar negeri dari Partai Konservatif, Michael Chong berupaya membangun konteks mengenai kebutuhan anggota parlemen untuk rincian lebih lanjut.
Michael Chong mengatakan kepada komite tersebut, bahwa Beijing telah memblokir penyelidikan-penyelidikan mengenai asal-usul pandemi COVID-19. Ia juga menunjukkan bahwa Laboratorium Mikrobiologi Nasional, telah mengirim sampel-sampel virus Ebola dan virus Henipah yang mematikan ke Tiongkok “hanya delapan bulan sebelum sebuah pandemi global seolah-olah dimulai di kota yang sama,” dan bahwa Qiu telah melakukan perjalanan beberapa kali ke Laboratorium Keamanan Hayati Nasional Wuhan, yang adalah bagian Institut Virologi Wuhan.
Penyelidikan menambahkan bahwa Qiu dan Cheng, berada di bawah penyelidikan oleh pihak berwenang Kanada dan akhirnya dipecat karena pelanggaran-pelanggaran kebijakan.
“Paralel antara dua situasi ini adalah mengerikan. Kami tinggal di demokrasi parlementer dan kami menghadapi hambatan-hambatan yang sama untuk penyelidikan-penyelidikan kami sebagai penyelidik-penyelidik, menghadapi ketika mereka mencoba untuk menemukan asal mula pandemi COVID-19 di Tiongkok,” kata Michael Chong.
Selama poin-poin ketertiban, para anggota parlemen dari Partai Liberal mengatakan Michael Chong, menyinggung konspirasi-konspirasi dan keberatan dengan pernyataan Michael Chong yang menghubungkan masalah asal virus dengan penyelidikan ke laboratorium Winnipeg. Seorang anggota parlemen dari Partai Liberal mengatakan Michael Chong “meminjam dari beberapa teori paling liar di Facebook dan media sosial lainnya untuk menyatakan sesuatu.”
Menolak pelabelan konspirasi, Michael Chong mengutip sebuah kalimat dari Presiden Kelompok Eurasia, Ian Bremmer, yang mengatakan “apa pun kecuali seorang ahli teori konspirasi.”
“Keengganan Tiongkok untuk bekerja sama dengan WHO dalam menyelidiki asal-usul Coronavirus, telah membuat mustahil untuk membuktikan bagaimana penyakit tersebut muncul, sehingga mengaburkan tanggapan ilmiah. Memang, terlepas dari semua klaim konspirasi, teori bahwa COVID sebenarnya secara tidak sengaja dilepaskan dari sebuah laboratorium hayati Wuhan yang menyisakan keprihatinan yang amat sangat dan masuk akal,” kata Michael Chong mengutip Ian Bremmer.
Administrator Laboratorium Mikrobiologi Nasional Kanda, sejauh ini melanjutkan penolakannya untuk memberikan para anggota parlemen dengan perincian-perincian mengenai mengapa para ilmuwan dipecat dari satu-satunya fasilitas virologi Tingkat 4 di Kanada.
Makalah yang Berpengaruh
Salah satu dokumen yang paling berpengaruh di awal pandemi yang membentuk diskusi mengenai asal usul virus, adalah sebuah pernyataan yang diterbitkan oleh sekelompok ilmuwan dalam jurnal medis bergengsi The Lancet pada tanggal 19 Februari 2020. Berjudul “Pernyataan untuk mendukung para ilmuwan, para profesional kesehatan masyarakat, dan para profesional medis Tiongkok yang memerangi COVID-19,” kata dokumen tersebut: “Kami berdiri bersama untuk mengutuk keras teori-teori konspirasi yang menyatakan bahwa COVID-19 tidak berasal dari alam.”
Kelompok riset penyelidikan nirlaba Right to Know Amerika Serikat mengatakan dalam sebuah postingan bulan November 2020 bahwa, menurut yang diperoleh dokumen tersebut berdasarkan permintaan-permintaan catatan publik, para ilmuwan yang menulis naskah pertama dari pernyataan itu adalah Peter Daszak, kepala EcoHealth Alliance yang berbasis di New York.
Right to Know Amerika Serikat mengatakan bahwa, adalah para karyawan organisasi Daszak—yang telah menyalurkan dana pemerintah Amerika Serikat untuk penelitian Coronavirus di Institut Virologi Wuhan–—yang mengorganisir pernyataan itu.
Namun, pernyataan yang diterbitkan di The Lancet mengatakan, “Kami menyatakan tidak memiliki kepentingan untuk bersaing.”
“Peter Daszak adalah kurang kredibel karena surat The Lancet pada tanggal 19 Februari, bahwa Peter Daszak membuat naskah dan terorganisir secara salah mengklaim tidak ada konflik kepentingan,” kata cendekiawan Tiongkok Anders Corr, penerbit Journal of Political Risk dan seorang kontributor The Epoch Times, dalam sebuah email.
“Faktanya, organisasi Peter Daszak membantu mendanai penelitian di Institut Virologi Wuhan. Penelitian itu adalah mengenai Coronavirus.”
Peter Daszak juga merupakan bagian tim WHO yang melakukan sebuah misi pencarian fakta mengenai asal virus tersebut di Tiongkok awal tahun ini. Sedangkan Peter Daszak termasuk di antara para pakar WHO yang memicu kontroversi, karena hubungan mereka dengan Tiongkok. Selain menyalurkan uang Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat ke Institut Virologi Wuhan, organisasi milik Peter Daszak menerima uang Partai Komunis Tiongkok, kata Peter Daszak dalam sebuah konferensi pada tahun 2018 di sebuah konferensi yang disponsori oleh sebuah media pemerintah Tiongkok.
Peter Daszak tidak menanggapi permintaan komentar dari The Epoch Times.
Sementara itu, penulis dan jurnalis ilmiah, Nicholas Wade mengatakan bahwa jika virus tersebut “memang lolos dari penelitian yang didanai Peter Daszak, maka Dr. Peter Daszak akan berpotensi bersalah.”
Nicholas Wade menulis sebuah artikel panjang yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah yang disegani Bulletin of Atomic Scientists, di mana ia menetapkan alasan mengapa teori kebocoran laboratorium tidak dapat diabaikan.
‘Ilmiah yang Buruk’
Nicholas Wade selama bertahun-tahun adalah seorang anggota staf The New York Times dan jurnal ilmiah bergengsi Nature and Science. Ia mengatakan dokumen lain yang berpengaruh dalam membentuk wacana, mengenai asal usul virus tersebut dan menolak teori kebocoran laboratorium adalah sebuah surat tertanggal 17 Maret dari beberapa ilmuwan yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine.
Surat itu menyajikan alasan para penulis untuk mengesampingkan alternatif apa pun untuk sebuah virus yang berasal dari alam.
Membantah alasan dalam surat itu, Nicholas Wade mengatakan, klaim-klaim itu adalah sebuah kasus “Ilmiah yang buruk.”
The Epoch Times menghubungi Kristian G. Andersen, penulis utama dari surat Nature Medicine, tetapi tidak mendapat tanggapan.
Nicholas Wade menulis bahwa surat-surat di The Lancet and Nature Medicine adalah lebih bersifat politis daripada ilmiah.
“Pernyataan-pernyataan itu dirancang untuk memiliki sebuah efek politik, bukan untuk menyajikan fakta-fakta ilmiah,” kata Nicholas Wade dalam sebuah email.
Di antara alasan-alasan mengapa asal alami virus belum dipastikan adalah bahwa para ilmuwan masih belum menemukan bukti awal infeksi virus dari binatang ke manusia.
“Spesies pejamu perantara SARS1 diidentifikasi dalam waktu empat bulan wabah epidemi, dan spesies pejamu perantara MERS diidentifikasi dalam waktu sembilan bulan. Namun sekitar 15 bulan setelah pandemi SARS2 [SARS-CoV-2, yang menyebabkan penyakit COVID-19] dimulai, dan setelah sebuah pencarian yang agak intensif, para peneliti Tiongkok gagal menemukan populasi kelelawar asli, atau spesies perantara tempat batu loncatan bagi SARS2, atau bukti serologis apa pun bahwa setiap penduduk Tiongkok, termasuk penduduk Wuhan, pernah terpapar virus tersebut sebelum bulan Desember 2019,” kata artikel Nicholas Wade.
Nicholas Wade mengatakan, bagian masalah yang menyebabkan banyak media cepat menolak teori apa pun, selain sebuah kejadian alami adalah bahwa, tidak seperti para reporter politik, para reporter ilmiah tidak sepenuhnya waspada terhadap motif-motif sumbernya.
Alasan lain, tambah Nicholas Wade, “adalah migrasi sebagian besar media ke arah kiri dari spektrum politik.”
“Karena Presiden Donald Trump mengatakan virus tersebut telah lolos dari sebuah laboratorium Wuhan, para editor memberi gagasan itu sedikit kepercayaan,” kata Nicholas Wade.
Akses Data Ditolak
Banyak ilmuwan dan cendekiawan Tiongkok, berulang kali meminta Beijing untuk mengizinkan penyelidikan yang tepat mengenai asal usul virus tersebut, yang akan membantu mengakhiri spekulasi yang memecah belah.
Tetapi, Anders Corr mengatakan rezim Tiongkok mampu mengarahkan narasi mengenai asal-usul virus tersebut dengan cara menolak akses ke data dasar.
“Para penyelidik dan ahli virologi forensik kami, belum memiliki akses penuh ke data yang tersedia di Tiongkok. Apa yang mereka lihat adalah terlalu sering apa yang diinginkan Partai Komunis Tiongkok untuk mereka lihat,” kata Anders Corr.
Anders Corr menerangkan : “Jadi, ketika para penyelidik kami pergi dari sebuah penyelidikan di Tiongkok dengan mengatakan, ‘sebagian besar bukti menunjukkan bertentangan terhadap hipotesis kebocoran laboratorium, dan oleh karena itu hipotesis kebocoran laboratorium kemungkinan adalah tidak benar, ‘mereka tidak menggunakan metodologi ilmiah yang baik.”
Marcus Kolga, seorang rekan senior di Institut Macdonald-Laurier yang berbasis di Ottawa dan seorang ahli disinformasi, mengatakan rezim-rezim seperti yang ada di Tiongkok dan Rusia, memiliki departemen-departemen dengan ribuan orang yang didedikasikan untuk penciptaan dan penguatan disinformasi.
“Tentu saja, Partai Komunis Tiongkok berkepentingan untuk mempromosikan narasi apa pun yang meragukan asal usul virus tersebut,” kata Marcus Kolga kepada The Epoch Times.
“Jika virus tersebut memang berasal dari tempat lain selain berasal dari sebuah pasar basah atau tempat lain, saya yakin Partai Komunis Tiongkok akan memperkuat narasi apapun yang akan meragukannya.”
Marcus Kolga menambahkan bahwa di awal pandemi, rezim Tiongkok menyembunyikan informasi mengenai virus tersebut. Bahkan, tidak mengambil tindakan yang tepat untuk menghentikan penyebaran virus tersebut.
“Jika rezim Tiongkok bertindak lebih awal, kita dapat menyelamatkan jutaan nyawa.” ujar Marcus.
Tuduhan-Tuduhan Rasis Adalah Sebuah Taktik Politik
Cara lain rezim Komunis Tiongkok memengaruhi percakapan mengenai pandemi, Marcus Kolga mengatakan, adalah melabeli setiap kritik atas perilaku rezim Tiongkok terhadap pandemi sebagai rasis.
Marcus Kolga mengatakan, Partai Komunis Tiongkok mempelajari taktik ini dari Uni Soviet, yang melabel siapa pun yang mengkritik Uni Soviet sebagai seorang fasis atau neo-Nazi.
“Rezim-rezim ini memahami bahwa kita adalah sangat sensitif terhadap tuduhan-tuduhan rasisme karena keragaman dan toleransi yang luas yang kita miliki di negara ini. Dan kemudian rezim-rezim ini terlibat dalam penggunaan label dan tuduhan semacam itu untuk mendiskreditkan setiap kritik terhadap rezim-rezim itu,” kata Marcus Kolga.
Pemilik bar yang berbasis di London, Ontario, Alex Petro, menjadi sasaran cemoohan oleh beberapa laporan media dan politisi setempat, mengenai sebuah tanda yang ia pasang di barnya yang menyebut virus itu sebagai “virus Tiongkok.” Kritik tersebut tidak mereda, bahkan setelah ia mengklarifikasi bahwa tanda tersebut adalah untuk mengkritik rezim komunis Tiongkok, yang menindas orang-orang Tiongkok, dan bahwa ia mencintai rakyat tiongkok.
Upaya ini untuk memberikan kritik rasis terhadap Tiongkok, atas penanganannya terhadap wabah virus telah muncul di iklan media sosial oleh media negara Tiongkok yang dilihat oleh jutaan orang.
Ada juga upaya-upaya oleh para pejabat Tiongkok untuk menyalahkan virus tersebut untuk negara tertentu, termasuk sebuah klaim oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian, bahwa virus itu berasal dari Amerika Serikat dan dibawa ke Wuhan oleh Angkatan Darat Amerika Serikat. Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat memanggil
Duta Besar Amerika Serikat atas kejadian tersebut.
Laporan baru-baru ini oleh Federasi Jurnalis Internasional yang berbasis di Brussel mengatakan bahwa, Beijing menggunakan infrastruktur media globalnya “untuk menanamkan narasi-narasi positif” mengenai Tiongkok di media nasional, serta memobilisasi lebih banyak taktik seperti informasi.”
Anders Corr mengatakan bahwa, selain upaya-upaya Partai Komunis Tiongkok, label-label rasisme juga merupakan sebuah hasil pengaruh komunis dan sosialis di Barat.
“Pengaruh komunis secara lebih umum—–beberapa di antaranya telah menjadi organik untuk masyarakat Barat dan beberapa di antaranya menaungi ke dalam bentuk demokrasi sosialisme—–telah bersekutu secara elektoral dengan politik identitas menjadi hiperkritis terhadap isu-isu ras, gender, seksualitas, pascap-kolonial, dan kelas,” kata Anders Corr.
Melakukan Pemeriksaan Fakta yang Benar
Marcus Kolga mengatakan, selain ekstrem kiri, ekstrem kanan juga merupakan sebuah target informasi sesat, di mana rezim-rezim seperti di Tiongkok dan Rusia mempromosikan teori-teori konspirasi untuk mempolarisasi masyarakat dan menyebabkan kebingungan. Hal ini juga dapat mendorong suara-suara yang sah di bawah label yang sama, untuk meragukan argumen-argumen yang valid.
Saran yang mapan untuk melawan informasi sesat, adalah untuk memeriksa sumber-sumber yang andal. Selain itu, untuk menghindari hanya mengandalkan informasi di media sosial, di mana Tiongkok dan Rusia, termasuk di antara negara-negara yang diketahui melakukan kampanye-kampanye informasi sesat yang utama.
Tetapi ketika banyak media mapan terpengaruh oleh disinformasi, masalah menjadi lebih menantang.
Marcus Kolga menganjurkan agar para jurnalis, melakukan pengecekan fakta yang tepat dari semua klaim-klaim dan juga diberitahu mengenai latar belakang para ahli yang mereka ajak bicara.
“Periksa latar belakang mereka, dan di mana mereka terhubung,” kata Marcus Kolga. (Vv)
Sebuah Asteroid yang Berdampak Setara dengan 22 Bom Atom Akan Menabrak Bumi
Aboluowang
Sekarang para ilmuwan sedang bekerja keras untuk mengubah arah asteroid yang diperkirakan akan menghantam bumi pada 24 September 2182.
Menurut pemberitaan sejumlah media asing, bahwa para ilmuwan dari NASA di Amerika Serikat memperkirakan bahwa asteroid yang diberi nama Bennu akan melewati Bumi setiap enam tahun sekali, namun akan langsung menabrak Bumi pada 24 September 2182.
Situasi ini mungkin cukup serius. Bahkan dianggap berpotensi menjadi hari kiamat, karena dampaknya setara dengan kekuatan ledakan dari 22 bom atom.
Sampel asteroid ini juga akan tiba di Bumi pada Minggu (24 September) ini, yang berarti dalam tabrakan bisa terjadi 159 tahun lagi.
Saat ini, para ilmuwan NASA sedang bekerja keras mencari cara untuk mengubah jalur pergerakannya guna mencegah kejadian yang tidak diinginkan itu. (sin)
India akan Membangun Lanud Tertinggi di Dunia Sebelah Perbatasan India – Tiongkok untuk Menanggapi PKT
Aboluowang
India akan membangun pangkalan udara militer tertinggi di dunia di sepanjang perbatasan Tiongkok-India di kawasan Neoma, Ladakh timur. Kawasan ini hanya berjarak 50 kilometer dari Garis Kontrol Aktual (LAC) antara Tiongkok dan India, tempat terjadinya konflik antar tentara penjaga perbatasan kedua negara yang berkali-kali terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Pangkalan udara baru ini akan membantu dalam pengangkutan personel dan pasokan lebih cepat tiba di daerah tersebut, atau untuk memberikan dukungan udara.
“Voice of America” menunjukkan bahwa Neoma terletak pada ketinggian hampir 4.000 meter dari permukaan laut, dan saat ini memiliki landasan pacu tanah yang hanya dapat digunakan buat pesawat angkut C-130J dan helikopter. Angkatan Darat India menggunakan landasan pacu ini untuk mengangkut personel dan pasokan selama konflik dengan tentara perbatasan Tiongkok.
Pensiunan Letnan Jenderal Angkatan Udara India Anil Golani mengatakan : “Pembangunan Bandara Neoma akan menjadi langkah yang mengubah permainan karena landasan pacu akan ditingkatkan menjadi bandara militer yang dapat digunakan untuk lepas landas dan mendaratnya jet tempur”. “Ini juga sebuah pesan kepada Partai Komunis Tiongkok sebagai sinyal politik dan strategis yang menunjukkan kemampuan dan niat India”.
Setelah konflik perbatasan di Lembah Galwan pecah pada tahun 2020, hal tersebut memicu perlombaan pembangunan infrastruktur di sepanjang perbatasan di Himalaya. Profesor DK Pandey, peneliti senior di Pusat Penelitian Kekuatan Udara di New Delhi mengatakan : “Tujuan utama pembangunan Bandara Neoma adalah untuk memperkuat kemampuan tempur udara di wilayah Ladakh, yang telah menjadi tempat ketegangan antara India dengan Tiongkok sejak tahun 2020”.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa dibandingkan dengan Partai Komunis Tiongkok, India tampaknya lebih lamban dalam pembangunan infrastruktur perbatasan dan saat ini menggunakan dukungan teknis dan keuangan agar dapat segera mempersempit kesenjangan tersebut.
Pembangunan Bandara Neoma baru diumumkan dalam rangka peningkatan substansial pangkalan militer Tiongkok di dekat Garis Kontrol Aktual. Bandara ini diharapkan selesai dalam waktu 20 bulan dan akan menjadi bandara militer India yang paling dekat dengan perbatasan Tiongkok.
Analis pertahanan mengatakan bahwa pembangunan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan transportasi ke dan dari kawasan itu, dan secara signifikan meningkatkan infrastruktur penerbangan Ladakh guna meningkatkan kemampuan Angkatan Udara India di wilayah perbatasan utara.
Analis strategi pertahanan India menunjukkan bahwa tujuan India adalah untuk melawan strategi blokade Tiongkok di wilayah tersebut, yang melibatkan penggelaran berbagai rudal permukaan-ke-udara, radar jarak jauh, artileri, roket, tentara dan kendaraan lapis baja untuk membatasi kebebasan bergeraknya musuh di medan perang. Rudal pertahanan udara Gra yang dapat dibawa manusia telah berada di sana, dan Angkatan Udara India telah menggunakan jet tempur Rafale terbaru serta jet tempur MiG-29 di wilayah tersebut.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa mengingat Beijing tidak berniat membangun hubungan normal dengan New Delhi, India telah memulai transformasi infrastruktur berskala besar di sepanjang garis kendali sebenarnya, termasuk membangun jalan, terowongan, jembatan dan bandara di wilayah terpencil dan kompleks. Tujuan utama dari inisiatif ini adalah untuk meningkatkan mobilitas tentara dan memberikan dukungan logistik yang diperlukan bagi pasukan di perbatasan sana. (sin)
Segerombolan Preman Menyerang Peserta Aksi Damai dan Obrak-abrik Sejumlah Spanduk yang Bertuliskan Menentang Penganiayaan Terhadap Praktisi Falun Gong
ETIndonesia – Segerombolan pria entah dari mana datangnya menyerang peserta aksi damai yang menuntut agar dihentikannya penindasan terhadap praktisi Falun Dafa atau Falun Gong oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang digelar di depan Kedutaan Besar Tiongkok di Jalan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (20/9/2023) pagi. Bahkan, sejumlah spanduk yang isinya bertemakan agar penindasan terhadap praktisi Falun Dafa dihentikan, tak luput dari sasaran perusakan hingga diseret di jalanan serta dibawa kabur.
“Kami seperti biasa di seberang Kedubes, kurang lebih sekitar pukul 6 pagi langsung mencabut dan merusak merobohkan spanduk-spanduk yang kami pasang,” ujar Zaenal seorang praktisi Falun Dafa.
Menurut Zaenal, para pelaku yang tiba berjumlah sekitar 30 orang. Setelah berhasil merusak sejumlah spanduk, mereka pun langsung pergi begitu saja. Akan tetapi, kepergian mereka secara kilat tak serta merta membuat peserta aksi damai acuh tak acuh. Pada saat itu, ia menghampiri serta mengikuti gerombolan pria tersebut untuk menanyai perihal pengrusakan yang mereka lakukan. Namun, intimidasi dan tekanan justru yang diterima oleh Zaenal.
BACA JUGA : Kisah Ajaib Wanita Barat yang Berlatih Falun Gong
“Saya tanya kenapa dirusak, kalian dari mana, saya coba klarifikasi, sampai di Jalan Satrio setelah di Jalan Satrio, mereka balik serang saya lagi, dorong-dorong, sampai sekitar saya 4 atau 5 orang, saya kewalahan sampai saya kena pukul,” terangnya.

Tak ayal, intimidasi yang dialami Zaenal berbuah dengan kepalan tangan yang mendarat di rahangnya. Walaupun demikian, ia pantang mundur untuk memasang kembali spanduk yang masih bertemakan tuntutan penghentian penindasan terhadap praktisi Falun Dafa di Tiongkok. “Saat itu dipukul di rahang kanan, setelah itu kita dirikan lagi dua spanduk lagi,” tegasnya.
BACA JUGA : EDITORIAL: Mengapa Falun Gong Penting
Berselang beberapa saat kemudian, kembali tiba gerombolan pria bermotor dengan mengenakan helm bersama rekan-rekan mereka sambil berboncengan. Mereka pun kembali melakukan tindakan serupa yakni pengrusakan spanduk.
“Setelah itu dengan sekitar 5 sampai 10 menit, mereka datang lagi pakai motor rombongan, ada juga yang berboncengan, ada juga yang membawa spanduk itu, sehingga kami kesulitan,” ujarnya.

Atas apa yang dialami oleh praktisi Falun Dafa pada pagi buta itu, mereka kemudian membuat pelaporan ke Polda Metro Jaya. Tak hanya itu, direncanakan akan menggelar konfrensi pers di Kantor LBH Jakarta.
Untuk diketahui, Falun Gong, yang juga dikenal sebagai Falun Dafa, mencakup lima latihan yang bergerak lambat dan lembut serta ajaran moral yang didasarkan pada sejati-Baik-Sabar.
BACA JUGA : Genosida Partai Komunis Tiongkok Terhadap Falun Gong Terus Berlanjut
Berdasarkan isi brosur yang diberikan praktisi Falun Dafa, disebutkan juga Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah melancarkan penganiayaan terhadap Falun Gong sejak 20 Juli 1999 hingga kini telah berlangsung selama 24 tahun. Selama kurun waktu tersebut para praktisi Falun Gong di seluruh dunia terus berjuang untuk melawan penganiayaan.

Disebutkan juga adalah sosok Jiang Zemin, pemimpin PKT pada saat itu yang melancarkan penganiayaan terhadap Falun Gong di seluruh negeri. Ia cemburu terhadap Falun Gong yang lebih populer dari PKT. Lebih parah lagi, para praktisi menjadi sasaran kejahatan pengambilan organ secara paksa. Meskipun faktanya latihan ini tidak hanya memberi manfaat bagi puluhan juta praktisi, juga mendapat pengakuan dari para pejabat PKT atas kontribusinya terhadap “peradaban spiritual masyarakat.”
Oleh karena itu, praktisi Falun dafa menyerukan agar masyarakat Indonesia membuka mata dan hati nurani mereka atas penganiayaan yang dialami oleh praktisi Falun Gong di Tiongkok. Diharapkan agar turut serta menghentikan penindasan yang masih terus terjadi hingga sekarang.
“Kami tanpa letih setiap hari di sini, mengimbau supaya masyarakat membuka mata dan nurani tentang kejahatan yang terjadi di sana (Tiongkok) karena ini sudah sangat-sangat memprihatinkan, bukan hanya Falun Gong tapi semuanya seperti Uighur dan kristiani, jangan sampai ikut-ikutan melakukannya,” pungkas Zaenal. (asr)
Wabah Virus Nipah Melanda India, Negara Bagian Kerala Siaga Setelah Kematian 2 Orang
Naveen Athrappully
Negara bagian Kerala di India selatan dalam keadaan siaga setelah dua orang meninggal dunia akibat wabah virus Nipah dan ratusan orang telah menjalani tes.
“Infeksi virus Nipah telah dikonfirmasi di distrik Kozhikode. Dua orang meninggal dunia karena penyakit ini,” kata Ketua Menteri Kerala Pinarayi Vijayan pada 13 September.
Lebih dari 700 orang sedang diuji untuk kemungkinan terinfeksi setelah diidentifikasi sebagai kontak erat, kata Menteri Kesehatan negara bagian Veena George kepada para wartawan, menurut CNN.
Sebanyak 77 dari kontak erat telah diidentifikasi sebagai “berisiko tinggi” dan diminta isolasi mandiri di rumah dengan pemantauan kesehatan yang ketat. Tiga orang, termasuk seorang anak, yang dinyatakan positif terjangkit virus tersebut. Kini mereka dirawat di rumah sakit untuk observasi.
Virus Nipah adalah virus zoonosis, yang berarti bahwa virus ini dapat menyebar antara hewan dan manusia. Infeksi dapat dicegah dengan menghindari paparan terhadap kelelawar dan babi yang sakit, menghindari tempat-tempat di mana virus ini ada dan tidak meminum getah kurma mentah, yang dapat terkontaminasi oleh kelelawar yang terinfeksi. Tidak ada vaksin untuk virus Nipah.
Virus Nipah diperkirakan dapat membunuh 40 hingga 75 persen orang yang terinfeksi, jauh lebih tinggi dari tingkat kematian COVID-19 yang hanya sekitar 2 persen.
Di distrik Kozhikode, pihak berwenang menyatakan tujuh desa sebagai “zona karantina”. Di sembilan desa, lembaga keagamaan, gedung pemerintah, kantor publik, dan pusat pendidikan telah ditutup. Transportasi umum dihentikan di daerah-daerah yang dianggap berisiko tinggi.
Di negara bagian tetangga, Tamil Nadu dan Karnataka, pihak berwenang telah memerintahkan tes untuk pengunjung dari Kerala, dengan rencana mengisolasi orang-orang yang menunjukkan tanda-tanda influenza.
“Kami berada dalam tahap kewaspadaan dan deteksi yang tinggi,” kata George kepada Reuters. “Para ahli sedang mengumpulkan sampel cairan dari area hutan yang bisa menjadi titik penyebaran.”
Sampel kotoran hewan, air seni kelelawar, dan buah yang sudah setengah dimakan dikumpulkan dari sebuah desa di mana korban pertama wabah baru-baru ini bertempat tinggal. Desa tersebut berada di dekat hutan seluas 300 hektar yang menjadi tempat tinggal berbagai spesies kelelawar.
Ini adalah wabah virus Nipah keempat di negara bagian ini sejak tahun 2018. Wabah pada tahun 2018 menewaskan 17 orang, dengan lebih dari 230 orang menjalani tes. Pada tahun 2019, pemerintah negara bagian menempatkan 300 orang di bawah pengawasan setelah seorang pria ditemukan terinfeksi. Pada tahun 2021, wabah ketiga tercatat, di mana seorang anak laki-laki berusia 12 tahun meninggal dunia.
“Kami adalah orang-orang yang mencegah dan secara efektif mengatasi penyakit Nipah. Kita tidak perlu takut, tetapi hadapi situasi ini dengan hati-hati,” kata Vijayan, menyarankan bahwa pembatasan mungkin akan segera diberlakukan.
“Semua orang harus siap untuk mengikuti instruksi dari Departemen Kesehatan dan Polisi dengan ketat dan sepenuhnya bekerja sama dengan pembatasan tersebut.”
Tanda dan Gejala Virus Nipah
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), kelelawar buah adalah “reservoir hewan” virus Nipah (NiV) di alam. Reservoir hewan mengacu pada spesies yang menyimpan patogen virus dan menularkannya ke manusia.
“Infeksi NiV dikaitkan dengan ensefalitis (pembengkakan otak) dan dapat menyebabkan penyakit ringan hingga berat dan bahkan kematian. Wabah terjadi hampir setiap tahun di beberapa bagian Asia, terutama Bangladesh dan India,” kata badan tersebut.
Gejala infeksi dapat muncul dalam waktu empat hingga 14 hari setelah terpapar. Penyakit ini awalnya memicu demam dan sakit kepala selama tiga hingga 14 hari dan dapat mencakup tanda-tanda penyakit pernapasan seperti batuk, kesulitan bernapas, dan sakit tenggorokan.
“Fase pembengkakan otak (ensefalitis) dapat terjadi, di mana gejalanya dapat berupa rasa kantuk, disorientasi, dan kebingungan mental, yang dapat dengan cepat berkembang menjadi koma dalam waktu 24-48 jam,” kata CDC. (asr)



















