Menangis di Kaki Buddha: Jeritan Sunyi Rakyat Tiongkok Menjelang Imlek
ETIndonesia. Kurang dari satu bulan lagi, Tahun Baru Imlek 2025 akan tiba. Seharusnya ini menjadi masa paling hangat dalam setahun—waktu untuk berbelanja, berkumpul bersama keluarga, dan menatap tahun baru dengan harapan. Namun di Tiongkok hari ini, suasana yang terlihat justru berbanding terbalik.
Alih-alih memenuhi pusat perbelanjaan, banyak warga justru berbondong-bondong menuju kuil. Bukan untuk memohon keberuntungan, melainkan untuk menumpahkan kesedihan yang tak lagi menemukan saluran di dunia nyata.
Tangisan di Gunung-gunung Suci
Di Gunung Jiuhua, salah satu gunung suci Buddhisme di Tiongkok, seorang pria muda terlihat bersujud di kaki patung emas Bodhisattva Ksitigarbha. Tubuhnya gemetar, tangisnya pecah, seolah semua beban hidup runtuh sekaligus di hadapan patung suci itu.
Sementara itu di Gunung Putuo, Provinsi Zhejiang, pemandangan serupa terulang. Di depan patung Bodhisattva Avalokitesvara, seorang perempuan muda berlutut di anak tangga batu, menangis sambil berdoa. Di bawah alas patung, deretan orang bersandar ke dinding, berlutut di tanah, dan menangis tanpa malu—tanpa suara ditahan.
Video-video ini menyebar luas di media sosial Tiongkok. Kolom komentar dipenuhi kalimat pendek yang menusuk hati:
“Seandainya aku juga bisa menangis di depan Buddha.”
“Aku benar-benar ingin menangis sepuasnya.”
“Aku menanggung begitu banyak penderitaan, tapi tak ada yang mengerti.”
Tangisan-tangisan itu bukan sekadar emosi sesaat. Itu adalah akumulasi luka sosial yang telah lama dipendam.
Dunia yang Diam-diam Berubah
Seorang blogger daratan Tiongkok menyimpulkan dengan getir: “Dunia ini sedang berubah tanpa suara—dan menjadi semakin asing.”
Dulu, meski hidup pas-pasan, masih ada kehangatan, tawa, dan kebahagiaan sederhana. Kini, rasa bahagia terasa terus merosot dari hari ke hari. Fenomena-fenomena yang dulu tak pernah terdengar—bahkan tak terbayangkan—kini muncul satu per satu, menyelimuti kehidupan sehari-hari rakyat.
Fenomena Aneh Pertama: Konsumsi Menghilang
Jalan-jalan kota kini dipenuhi toko-toko tutup. Papan bertuliskan “disewakan” dan “dijual” menggantikan etalase yang dulu ramai.
Banyak pemilik toko berkata pahit: bertahan enam bulan saja sudah dianggap beruntung, sebagian bahkan tutup sebelum tiga bulan.
Para ekonom akhirnya menyimpulkan satu fakta sederhana namun berat: rakyat benar-benar kehabisan uang.
Hari ini, bagi banyak orang, bisa makan dengan stabil, tetap sehat, dan tidur nyenyak sudah menjadi harapan terbesar—bukan lagi impian kemakmuran.
Fenomena Aneh Kedua: Pendidikan Tak Lagi Mengubah Nasib
Dulu, satu mahasiswa adalah harapan seluruh keluarga. Orangtua berhemat bertahun-tahun demi satu ijazah, berharap nasib keluarga ikut terangkat.
Kini, pasar kerja membeku. Lulusan universitas membanjiri jalanan dengan seragam kurir makanan, berjuang di tengah lalu lintas demi bertahan hidup. Bertahun-tahun belajar keras, yang menanti justru masa depan buram tanpa kepastian.
Dari sinilah lahir fenomena “rebahan”.
Bukan karena generasi muda malas, melainkan karena sekeras apa pun berusaha, mereka tetap terbentur langit-langit tak terlihat. Daripada terus terkuras secara mental, mereka memilih menurunkan ekspektasi—asal bisa bertahan hidup.
Fenomena Aneh Ketiga: Orang Sakit Takut ke Rumah Sakit
Dulu, rumah sakit berarti harapan. Kini, itu identik dengan biaya yang mencekik.
Sebelum pengobatan dimulai, pasien harus menjalani serangkaian tes mahal: CT scan, tes darah, EKG—bahkan untuk flu atau sakit gigi. Penyakit belum sembuh, tabungan sudah habis ribuan yuan.
Yang lebih menakutkan, muncul cerita-cerita tentang pasien yang masuk rumah sakit dan tak pernah pulang hidup-hidup. Setelah dinyatakan mati otak, organ tubuh segera diambil untuk transplantasi.
Dari sinilah lahir ungkapan pahit yang kini beredar luas: “Penyakit kecil ditahan, penyakit besar pasrah pada nasib.”
Fenomena Aneh Keempat: Rumah Tak Lagi Diinginkan
Tak peduli seberapa besar diskon atau slogan pengembang, pembeli rumah terus menyusut.
Dulu rumah adalah simbol status dan kekayaan. Kini itu dianggap beban hidup. Banyak orang kehilangan pekerjaan, tak sanggup membayar cicilan. Rumah disita, nama dicap sebagai penunggak utang—sementara harga properti terus merosot.
Daripada menjadi budak rumah dan budak utang, semakin banyak orang memilih menyewa dan hidup lebih bebas.
Fenomena Aneh Kelima: Orang Tak Mau Menikah
Data resmi menunjukkan, dalam sembilan bulan pertama tahun 2024, jumlah pernikahan nasional hanya 4,747 juta pasangan—angka terendah dalam hampir 40 tahun.
Anak muda berhitung dengan dingin: menikah berarti rumah, mobil, mahar; setelah menikah harus menopang empat generasi orangtua; biaya hidup melonjak drastis.
Maka era lajang pun dimulai.
Fenomena Aneh Keenam: Orang Tak Mau Punya Anak
Dulu orangtua berkata: hidup adalah hidup demi anak. Kini, membesarkan anak terasa seperti menghabiskan seluruh hidup dan masa depan.
Lebih jauh lagi, setelah legalisasi transplantasi organ dan komersialisasi tubuh manusia, muncul ketakutan yang jauh lebih gelap. Anak-anak dianggap rentan menjadi “tambang organ”. Cerita kehilangan misterius dan penculikan paksa ke ambulans menyebar dari mulut ke mulut.
Banyak orangtua akhirnya berpikir pahit: lebih baik tidak melahirkan, daripada kehilangan anak suatu hari tanpa jejak.
Menangis Karena Tak Ada Tempat Mengadu
Di tengah semua ini, rakyat hanya bisa menangis di depan Buddha. Bukan karena mereka terlalu religius, melainkan karena tak ada lagi tempat untuk mengadu.
Tangisan di kuil-kuil itu adalah jeritan sunyi sebuah masyarakat—sebuah tanda bahwa sesuatu telah retak jauh di dalam sendi kehidupan.
Menjelang Imlek 2025, ketika lentera merah mulai digantung, yang menyala bukanlah harapan, melainkan air mata yang tak lagi bisa ditahan.
Video Ledakan Pabrik Baja di Tiongkok, Lebih dari 40 Orang Dilarikan ke Rumah Sakit
Pada 18 Januari 2026, sebuah pabrik di Kota Baotou, Daerah Otonomi Mongolia Dalam, Tiongkok, mengalami ledakan. Di lokasi kejadian muncul “awan jamur”, dan gelombang kejut dahsyat memecahkan kaca pintu dan jendela rumah-rumah warga di sekitar. Lebih dari 40 orang telah dibawa ke rumah sakit setempat.
EtIndonesia. Berdasarkan laporan gabungan media daratan Tiongkok pada 18 Januari sekitar pukul 15.00, terjadi insiden ledakan di pabrik cabang Baogang yang berlokasi di Desa Erjiahai, Distrik Jiuyuan, Kota Baotou. Video yang beredar di internet memperlihatkan awan jamur raksasa membumbung tinggi dari lokasi ledakan, dengan asap dan debu pekat menutupi langit.
Sejumlah warga yang tinggal di sekitar lokasi mengatakan kepada wartawan The Beijing News bahwa ledakan tersebut menyebabkan kaca pintu dan jendela di banyak rumah warga pecah akibat getaran hebat.
1月18日,内蒙古包头市鋼廠爆炸。 pic.twitter.com/0r5kFncU92
— ying tang (@yingtan04410735) January 18, 2026
Hingga pukul 15.55 hari yang sama, lima orang korban luka telah berhasil dievakuasi. Beberapa warganet menyebutkan bahwa banyak ambulans berada di lokasi, dan rumah sakit seperti Rumah Sakit Baogang serta Rumah Sakit Baogang No. 3 telah menerima sejumlah besar korban luka.
1月18日,内蒙古包头市鋼廠爆炸。 pic.twitter.com/TwV0ZOsKPr
— ying tang (@yingtan04410735) January 18, 2026
Seorang staf Rumah Sakit Baogang mengatakan kepada Xiaoxiang Morning News bahwa lebih dari 40 korban luka telah dibawa ke rumah sakit tersebut, dengan kondisi luka yang bervariasi dari ringan hingga berat, dan saat ini sedang mendapatkan perawatan darurat.
Hingga kini, pihak berwenang belum mengumumkan penyebab pasti ledakan maupun jumlah korban jiwa dan luka secara resmi. (hui)
AS Terima Laporan Iran Siap Menyerang Pangkalan AS, Washington Peringatkan: Jangan Bermain-main dengan Trump
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada 17 Januari menyatakan bahwa jika Iran berani melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS, maka Iran akan menghadapi respons militer yang sangat keras. Departemen Luar Negeri kembali memperingatkan rezim Iran agar “jangan bermain-main dengan Presiden Trump”.
EtIndonesia. Dalam unggahan di platform media sosial X melalui akun berbahasa Persia, Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa mereka telah memperoleh informasi bahwa rezim Iran sedang menyiapkan rencana untuk menyerang pangkalan militer Amerika Serikat. Unggahan tersebut juga mengutip peringatan Presiden AS Donald Trump sebelumnya, bahwa “semua opsi masih tersedia di atas meja”. Jika rezim Iran bertindak menyerang aset Amerika, maka mereka akan “menghadapi serangan yang sangat, sangat keras”, dan diperingatkan kembali agar “jangan bermain-main dengan Presiden Trump”.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei, membantah adanya rencana untuk menyerang pangkalan militer AS.
Sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat telah berulang kali mengeluarkan peringatan keamanan, mendesak warga negara AS untuk segera meninggalkan Iran. Kedutaan Besar AS di Arab Saudi juga mengingatkan warga Amerika di wilayah tersebut agar meninjau kembali rencana perjalanan mereka dan menghindari lokasi-lokasi fasilitas militer.
Komandan senior Garda Revolusi Islam Iran, Mohsen Rezaei, juga pernah mengancam bahwa jika Iran diserang, maka pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah tidak akan lagi aman. Ia bahkan menyatakan akan “memotong tangan dan jari-jari Trump”.
Tindakan brutal otoritas Iran dalam membantai para demonstran telah memicu kecaman global. Pada 17 Januari, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menyampaikan pidato yang disiarkan televisi dan untuk pertama kalinya mengakui bahwa ribuan orang telah tewas. Namun, ia justru menyalahkan Amerika Serikat dan mengklaim bahwa Presiden Trump harus bertanggung jawab atas kematian-kematian tersebut. Pernyataan provokatif ini semakin memperuncing ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Xu Zhe dan Zhang Ruiqi.
Sekitar 1.500 Tahanan ISIS Melarikan Diri di Tengah Bentrokan Antara Tentara Suriah dan SDF
EtIndonesia. Laporan mengklaim bahwa 1.500 tahanan ISIS telah melarikan diri dari penjara di Kota Shaddadeh, sekitar 50 kilometer (31 mil) dari perbatasan Suriah dengan Irak, sementara kementerian Suriah melaporkan jumlahnya sekitar 120 tahanan.
Hal ini terjadi di tengah ketegangan antara Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dan pasukan Pemerintah Suriah. Meskipun gencatan senjata telah tercapai pada hari Senin (19/1), bentrokan singkat meletus pada Senin malam di kota Raqa, dengan laporan pemboman hebat.
SDF mengatakan pasukan pemerintah menembaki penjara Al-Aqtan, “yang menampung anggota dan pemimpin ISIS, dalam upaya untuk menyerbunya.” Sebuah sumber kementerian pertahanan kemudian mengatakan kepada AFP bahwa bentrokan telah berhenti.
Sementara Kementerian Dalam Negeri Suriah mengatakan bahwa sekitar 120 militan ISIS telah melarikan diri dari penjara di Shaddadi, situs web Kurdi Rudaw melaporkan, mengutip Pasukan Demokratik Suriah yang dipimpin Kurdi, bahwa sekitar 1.500 tahanan ISIS telah melarikan diri.
Pasukan pemerintah dan SDF saling tuduh sebagai pelaku pelarian dari penjara. Sementara tentara mengklaim bahwa SDF, yang mengendalikan fasilitas tersebut, sengaja membebaskan para tahanan, SDF yang dipimpin Kurdi menyatakan bahwa mereka kehilangan kendali atas penjara setelah pasukan pemerintah menyerang.
Tentara Suriah membantah adanya serangan terhadap penjara tersebut, menyatakan bahwa pasukannya akan berupaya mengamankan fasilitas tersebut dan menangkap kembali para pelarian.
Setelah pelarian dari penjara, pasukan pemerintah memberlakukan jam malam di Shaddadeh. SDF mengawasi lebih dari selusin penjara di Suriah timur laut, tempat sekitar 9.000 tahanan ISIS ditahan selama bertahun-tahun. Banyak dari tahanan ini diyakini telah melakukan kekejaman di Suriah dan Irak setelah ISIS mendeklarasikan kekhalifahan pada Juni 2014 di sebagian besar wilayah kedua negara tersebut.
Pada hari Senin, Pemerintah Suriah mengatakan bahwa Presiden Ahmed al-Sharaa melakukan panggilan telepon dengan Presiden AS, Donald Trump untuk membahas jaminan hak-hak Kurdi, sehari setelah Damaskus mencapai kesepakatan dengan pasukan Kurdi, termasuk gencatan senjata. Sharaa juga bertemu dengan Mazloum Abdi, kepala Pasukan Demokratik Suriah yang dipimpin Kurdi, untuk membahas perjanjian tersebut, yang mencakup pengintegrasian pemerintahan Kurdi ke dalam negara. Namun, AFP melaporkan, mengutip sumber Kurdi yang mengetahui pembicaraan tersebut, bahwa diskusi tersebut tidak positif. (yn)
Basarnas Temukan Lokasi Jatuhnya Pesawat ATR 42-500 Yogya-Makassar Kurang dari 24 Jam, Fokus Manfaatkan Golden Time Pencarian Korban
ETIndonesia — Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan/Basarnas) berhasil menemukan lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-500 Yogya-Makassar kurang dari 24 jam sejak laporan kehilangan kontak diterima Sabtu (17/1/2026). Saat ini, fokus utama operasi SAR diarahkan pada pencarian dan evakuasi korban dengan memanfaatkan golden time yaitu tiga hari sejak kejadian.
Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menyampaikan bahwa kecepatan penemuan lokasi menjadi modal penting dalam upaya penyelamatan korban.
“Kurang dari 24 jam sejak kejadian, tim SAR gabungan sudah berhasil menemukan lokasi jatuhnya pesawat. Saat ini kami memaksimalkan “golden time” pencarian, dengan harapan besar seluruh korban dapat ditemukan dan dievakuasi, khususnya dalam kondisi selamat,” ujar Mohammad Syafii dalam siaran persnya.
Ia menjelaskan, hingga saat ini tim SAR gabungan telah menemukan dua korban. Satu korban berjenis kelamin laki-laki ditemukan pada hari sebelumnya (Minggu, 18 Januari 2026), dan Senin, 19 Januari 2026 kembali ditemukan satu korban berjenis kelamin perempuan.
“Namun demikian, perlu kami tegaskan bahwa proses identifikasi korban bukan menjadi kewenangan Basarnas, dan akan dilakukan oleh instansi yang berwenang sesuai prosedur,” tegasnya.
Menurut Syafii, lokasi kejadian berada di medan yang sangat ekstrem, berupa tebing curam dengan perkiraan posisi korban berada di kedalaman sekitar 500 meter dari puncak, sehingga menuntut kehati-hatian dan teknik evakuasi khusus.
“Tantangan terbesar yang dihadapi tim SAR gabungan saat ini adalah kondisi cuaca dan alam yang sangat ekstrem. Kabut tebal, medan terjal, serta perubahan cuaca yang cepat menjadi faktor penghambat utama dalam operasi,” jelasnya.
Basarnas sendiri memprioritaskan evakuasi melalui jalur udara. Namun, upaya tersebut belum dapat dilaksanakan karena jarak pandang yang sangat terbatas akibat kabut tebal di sekitar lokasi kejadian.
“Evakuasi melalui udara menjadi prioritas, tetapi hingga saat ini belum memungkinkan. Oleh karena itu, kami mengoptimalkan unsur darat yang secara bertahap melakukan pencarian dan upaya evakuasi,” ungkap Syafii.
Ia menambahkan, proses evakuasi masih terus berlangsung. Pencarian terhadap korban akan terus dilakukan, dengan memaksimalkan tim rescue darat yang telah mengenal dan menguasai jalur sementara terus berupaya menembus medan untuk menjangkau seluruh titik yang diduga menjadi lokasi korban.
“Ini adalah misi kemanusiaan. Seluruh personel SAR gabungan bekerja dengan penuh dedikasi, kehati-hatian, dan semangat kebersamaan. Kami mohon doa dari seluruh masyarakat agar operasi ini diberikan kelancaran dan keselamatan,” jelasnya.
Operasi SAR akan terus dilanjutkan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan keselamatan personel hingga seluruh korban berhasil ditemukan dan dievakuasi. (***)
Perang Informasi Dimulai: TV Nasional Iran Diretas di Tengah Ancaman Perang
EtIndonesia. Ketegangan politik di Iran kembali meningkat tajam setelah para aktivis oposisi dilaporkan berhasil meretas sistem satelit penyiaran nasional Iran dan untuk sementara mengambil alih siaran televisi serta radio pemerintah pada Minggu malam waktu setempat.
Peretasan Siaran Nasional: Seruan Terbuka untuk Bangkit
Menurut laporan yang beredar luas di media sosial dan dikonfirmasi oleh berbagai sumber oposisi, gangguan siaran terjadi sekitar pukul 21.30 waktu Teheran, ketika sejumlah saluran televisi dan radio nasional tiba-tiba terputus dari siaran normal.
🇮🇷 | URGENTE — Acaban de hackear todos los canales de la emisora estatal de Irán y están transmitiendo el discurso del príncipe heredero Reza Pahlavi a nivel nacional, convocando a levantarse contra el régimen.
— Agustín Antonetti (@agusantonetti) January 18, 2026
pic.twitter.com/JYX8tkjr6t
Dalam jeda siaran tersebut, pemirsa di berbagai wilayah Iran menyaksikan:
- Video protes nasional
- Slogan monarki “Javid Shah” (Hidup Raja)
- Serta pidato dari Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi
Dalam pidatonya, Reza Pahlavi secara tegas:
- Menyerukan rakyat Iran untuk bangkit melawan rezim yang ia sebut brutal
- Mendesak aparat keamanan dan militer agar berpihak kepada rakyat
- Menyatakan bahwa rezim Teheran telah kehilangan legitimasi moral dan politik
Sekitar 10 menit kemudian, siaran televisi dan radio kembali normal.
Internet Diputus, Sensor Ditembus
Peristiwa ini dinilai sangat signifikan, mengingat sejak 8 Januari 2026, pemerintah Iran telah memutus akses internet nasional sebagai bagian dari upaya menekan arus informasi dan koordinasi demonstrasi.
Tim Reza Pahlavi menyatakan bahwa:
- Rekaman pidato tersebut diambil langsung dari sistem penyiaran internal Iran
- Video berhasil didistribusikan ke seluruh negeri, meski di tengah sensor ketat
- Keberhasilan ini menunjukkan bahwa barikade informasi rezim mulai jebol
Sejumlah tokoh oposisi menyebut peretasan ini sebagai pukulan telak terhadap kendali informasi pemerintah dan simbol bahwa demonstran mulai menembus sistem pertahanan digital rezim.
Reaksi Resmi Pemerintah Iran
Pada 18 Januari 2026, kantor berita AFP melaporkan bahwa Presiden Iran Masoud Pezeshkian menulis di platform X bahwa: “Serangan terhadap pemimpin agung negara kami sama artinya dengan deklarasi perang total terhadap bangsa Iran.”
Sementara itu, pada hari Minggu yang sama, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menyampaikan pidato nasional, menuding bahwa:
- Musuh asing berada di balik eskalasi kerusuhan
- Tujuan mereka adalah menghancurkan Republik Islam Iran dari dalam
Tekanan dari Washington: Trump Serukan Perubahan Kepemimpinan
Di sisi lain, tekanan internasional terhadap Teheran terus meningkat. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya secara terbuka menyatakan bahwa Iran sudah saatnya mencari pemimpin baru.
Dalam wawancara eksklusif dengan Politico, Trump:
- Menyebut Ali Khamenei sebagai “orang sakit yang menghancurkan negaranya sendiri”
- Menunjukkan sikap permusuhan terbuka terhadap kepemimpinan Teheran
- Menandai retaknya hubungan AS–Iran ke titik paling ekstrem dalam beberapa dekade terakhir
Tuduhan Pelanggaran HAM: Korban Tewas hingga Puluhan Ribu?
Lembaga hak asasi manusia Iran mengungkapkan bahwa berdasarkan sumber internal eksklusif, jumlah korban tewas akibat penindasan demonstrasi diperkirakan mencapai:
- Sekitar 12.000 orang,
- Bahkan hingga 16.300 jiwa menurut sejumlah estimasi nonresmi.
Namun demikian, angka ini belum dapat diverifikasi secara independen oleh organisasi HAM internasional, termasuk Amnesty International.
Lebih mengkhawatirkan lagi, beredar laporan bahwa:
- Pasukan keamanan Iran diduga menggunakan senjata kimia beracun
- Beberapa korban meninggal beberapa hari setelah terpapar zat kimia
- Dugaan ini masih dalam tahap investigasi dan belum dikonfirmasi secara internasional
Ancaman Hukuman Mati Kembali Menguat
Sebelumnya, pemerintah Iran sempat menunda rencana eksekusi terhadap sekitar 800 tahanan. Namun pada Minggu yang sama, juru bicara kehakiman Iran, Jahangir, menyatakan dalam konferensi pers bahwa:
- Sejumlah tindakan kini dikategorikan sebagai “permusuhan terhadap Tuhan”
- Dakwaan ini merupakan salah satu pasal terberat dalam hukum Islam Iran
- Hukuman maksimalnya adalah hukuman mati
Pengamat menilai pernyataan ini sebagai sinyal kuat bahwa eksekusi massal masih berpotensi dilanjutkan.
Pengerahan Militer AS dan Sinyal Perang
Pada hari yang sama, mantan Duta Besar AS untuk Israel, Dan Shapiro, menghebohkan publik dengan prediksi bahwa:
- Trump mungkin memerintahkan operasi “pemenggalan kepala” terhadap Khamenei dalam beberapa hari ke depan
Namun para analis memperingatkan bahwa:
- Meski Khamenei (86 tahun) disingkirkan, rezim Iran tidak serta-merta runtuh
- Justru berpotensi diambil alih sepenuhnya oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC)
- Yang dapat berujung pada pemerintahan militer penuh
Sementara itu, militer AS telah mengerahkan:
- Kapal induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln
- Kapal perusak USS Spruance dan USS Michael Murphy
- Dari Laut Tiongkok Selatan menuju Laut Arab, diperkirakan tiba pada 25 Januari 2026
Selain itu:
- 12 jet tempur F-15E Strike Eagle dari Pangkalan Udara Lakenheath (Inggris)
- Telah dikerahkan ke Yordania, didukung pesawat pengisian bahan bakar dan transportasi
Pejabat AS menegaskan bahwa langkah ini bersifat pencegahan, untuk melindungi kepentingan sekutu, terutama Israel, dan belum ada otorisasi resmi serangan.
Dua–Tiga Pekan Penentuan
Menurut laporan Axios, keputusan Trump untuk sementara menunda serangan kemungkinan dipengaruhi oleh peringatan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menilai Israel belum siap menghadapi serangan balasan Iran.
Analis Axios Mario Nawfal menyoroti bahwa kemunculan jet F-15E di situs pelacakan publik sangat jarang dan terkesan disengaja sebagai sinyal kekuatan terbuka.
Secara umum, para pengamat menilai bahwa:
- 2–3 minggu ke depan akan menjadi fase krusial
- Setelah seluruh aset militer AS siap penuh
- Trump akan dihadapkan pada keputusan strategis terbesar: menyerang Iran atau menahan diri
- Komando Pusat AS telah diminta menyiapkan dukungan operasi 24 jam selama satu bulan ke depan (***)
Bayangan Perang Total Menguat: Ancaman Teheran, Manuver Senyap AS, dan Darah Anak Muda Iran
EtIndonesia, Pada malam 18 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membagikan ulang sebuah prediksi politik yang memicu perhatian luas. Prediksi tersebut berasal dari mantan penulis pidato Gedung Putih sekaligus komentator politik Amerika, Marc Thiessen.
Dalam unggahan tersebut, Thiessen menuliskan: “Saya memperkirakan Trump akan mengunjungi Iran yang merdeka, Havana yang merdeka, dan Caracas yang merdeka sebelum masa jabatannya berakhir.”
Unggahan ulang ini dipandang banyak pengamat sebagai sinyal simbolik dukungan terhadap perubahan rezim di negara-negara yang selama ini berada di bawah pemerintahan otoriter dan bermusuhan dengan Washington.
Peringatan Keras dari Teheran
Tak lama setelah unggahan tersebut beredar, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan peringatan terbuka kepada pihak asing. Ia menegaskan bahwa setiap serangan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, akan dianggap sebagai deklarasi perang total terhadap rakyat Iran.
Pezeshkian menyatakan bahwa tindakan semacam itu akan dibalas dengan respons keras dan menyeluruh, menandai meningkatnya retorika konfrontatif dari Teheran di tengah eskalasi krisis domestik dan internasional.
Pergerakan Militer AS dan Sinyal Tekanan Mendadak
Di sisi militer, sejumlah perkembangan strategis turut menyita perhatian. Beberapa sumber pertahanan melaporkan bahwa sistem pelacakan posisi kapal induk nuklir AS USS George Washington telah dimatikan, sehingga lokasi pastinya kini tidak dapat dipantau publik.
Kapal induk tersebut dilaporkan telah meninggalkan Pantai Timur Amerika Serikat sejak pekan sebelumnya. Situasi ini kontras dengan USS Abraham Lincoln, yang masih dapat dilacak dan diketahui bergerak menuju kawasan yang berdekatan dengan Iran.
Analis militer menilai konfigurasi ini membuka kemungkinan tekanan militer mendadak dan tanpa peringatan, dengan dua kapal induk bertenaga nuklir AS berpotensi beroperasi secara bersamaan di kawasan tersebut.
Selain itu, dilaporkan pula bahwa:
- Dua jet tempur F-15 AS
- Empat pesawat pengisian bahan bakar udara
sedang bergerak menuju Timur Tengah. Kapasitas persenjataan maksimum F-15 mencapai sekitar 23.000 pon, sementara F-35 sekitar 5.000 pon, memperkuat indikasi kesiapan tempur berintensitas tinggi.
Klaim Internal IRGC: Angka Korban Disebut Jauh Lebih Besar
Di tengah ketegangan ini, seorang individu yang mengaku sebagai anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan pernyataan mengejutkan. Ia menuding bahwa angka resmi korban tewas yang diumumkan pemerintah adalah kebohongan, dan menyebut bahwa jumlah korban sebenarnya telah melampaui 30.000 orang.
Dalam pernyataannya, ia mengatakan: “Kami tidak akan lagi bernegosiasi dengan kalian. Kami tidak akan lagi meminta kalian bergabung dengan rakyat. Demi setiap jengkal tanah Iran, semua yang kalian lakukan akan tercatat dalam sejarah Iran. Kalian akan segera menyadarinya.”
Ia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada komunitas internasional yang telah menyuarakan dukungan bagi rakyat Iran.
22 Hari Protes Nasional dan Krisis Kemanusiaan
Hingga 18 Januari 2026, gelombang protes nasional di Iran telah berlangsung selama 22 hari berturut-turut. Dalam hampir dua pekan terakhir, aparat keamanan Teheran disebut menggunakan peluru tajam untuk membubarkan demonstrasi.
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa sebagian besar korban berusia di bawah 30 tahun, memperdalam kekhawatiran akan hilangnya satu generasi muda Iran.
Data yang dihimpun dari:
- 8 rumah sakit mata besar
- 16 unit gawat darurat
memperkirakan jumlah korban luka mencapai 330.000 hingga 360.000 orang. Seorang saksi mata mengungkapkan bahwa dalam satu malam di Teheran pernah dilakukan lebih dari 800 operasi pengangkatan bola mata, menggambarkan skala kekerasan yang ekstrem.
Televisi Nasional Diretas, Pesan Reza Pahlavi Disiarkan
Pada 18 Januari, televisi nasional Iran dilaporkan diretas dan menayangkan video Reza Pahlavi, Putra Mahkota Iran di pengasingan.
Dalam pesannya yang ditujukan langsung kepada militer Iran, Reza Pahlavi mengatakan: “Kalian adalah tentara nasional Iran, bukan tentara Republik Islam. Kalian bertanggung jawab melindungi nyawa kalian sendiri. Waktu kalian tidak banyak, segeralah berdiri di pihak rakyat.”
Pesan ini dipandang sebagai seruan terbuka untuk pembelotan aparat keamanan.
Pandangan CSIS: Tiongkok dan Rusia Dinilai Tak Efektif Melindungi Iran
Sementara itu, Center for Strategic and International Studies (CSIS) melalui penasihat senior bidang pertahanan dan keamanannya Mark F. Cancian menyatakan bahwa Beijing kemungkinan hanya akan merespons potensi serangan terhadap Iran dengan kecaman rutin dan seruan menahan diri.
Ia menambahkan bahwa ketika Amerika Serikat benar-benar bertindak, kemitraan Iran dengan Tiongkok hampir tidak memberikan perlindungan nyata. Menurutnya, semakin banyak negara kini menyadari bahwa Rusia dan Tiongkok memiliki keterbatasan serius dalam melindungi mitra-mitranya.
PBB Soroti Eksekusi Massal dan Disfungsi Dewan Keamanan
Di ranah HAM internasional, Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Türk, mengungkapkan bahwa Iran mengeksekusi sekitar 1.500 orang sepanjang tahun lalu.
Ia memperingatkan bahwa skala dan kecepatan eksekusi tersebut menunjukkan hukuman mati digunakan secara sistematis sebagai alat teror negara. Organisasi HAM internasional menegaskan bahwa Iran merupakan negara dengan jumlah eksekusi terbanyak kedua di dunia setelah Tiongkok.
Pada hari yang sama, Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menyatakan bahwa Dewan Keamanan PBB tidak lagi mencerminkan realitas dunia saat ini, bersifat disfungsional, dan bekerja secara tidak efisien.
Reaksi Publik Global dan Solidaritas Internasional
Pada 18 Januari, beredar video di platform Douyin yang mengklaim seorang reporter Xinhua dipukuli demonstran di Iran. Namun, di kolom komentar, banyak warganet justru menyambutnya dengan sorak sorai, bahkan menyindir praktik propaganda media negara Tiongkok.
Sementara itu, aksi solidaritas internasional terus meluas:
- Los Angeles menggelar demonstrasi besar, menampilkan boneka raksasa berwajah Xi Jinping dan Ali Khamenei yang digantung, sebagai simbol hukuman mati.
- Lebih dari 10.000 orang di Vancouver berunjuk rasa di depan Galeri Seni pusat kota mendukung rakyat Iran.
- Warga Hong Kong di Richmond Hill, Ontario, menggelar aksi solidaritas dengan spanduk bertuliskan:
“Warga Hong Kong berdiri bersama rakyat Iran yang memperjuangkan kebebasan.”
Refleksi Sejarah yang Kembali Dipertanyakan
Sejumlah netizen kemudian mengaitkan krisis saat ini dengan sejarah. Mereka mengingatkan bahwa pada 4 Juni 1989, parlemen Iran secara resmi memilih Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi.
Komentar yang beredar menyebut: “Tiongkok dan Iran memasuki masa paling kelam pada hari yang sama. Apakah ini kebetulan, atau ada keterkaitan yang tak kasat mata?”
Kesimpulan
Perkembangan pada 18 Januari 2026 menandai titik eskalasi serius dalam krisis Iran—mulai dari tekanan militer Amerika Serikat, peringatan keras Teheran, klaim korban massal, hingga gelombang solidaritas global. Situasi ini memperlihatkan bahwa konflik Iran tak lagi bersifat domestik, melainkan telah menjadi krisis internasional dengan implikasi geopolitik luas. (***)
Trump Bentuk “PBB Versi Sendiri” Dewan Perdamaian : 60 Negara Diundang, Dunia Internasional Terbelah
ETIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump menginisiasi pembentukan sebuah badan internasional baru yang disebut Board of Peace (Dewan Perdamaian), menyerukan sekitar 60 negara untuk bergabung dalam forum ini yang dirancang untuk menyelesaikan konflik global, dimulai dari konflik Gaza. Inisiatif ini telah memicu perhatian diplomatik luas dan diskusi panjang di berbagai ibu kota dunia.
Asal Usul dan Tujuan Inisiatif
Rencana pembentukan Board of Peace pertama kali diperkenalkan oleh Trump pada 15 Januari 2026, sebagai bagian dari strategi baru untuk mengelola konflik dan perdamaian global, terutama setelah perang panjang antara Israel dan Hamas di Gaza. Organisasi ini digambarkan sebagai badan multilateral yang dipimpin oleh Trump sebagai ketua seumur hidup, dengan mandat awal menangani transisi damai di Gaza dan kemudian diperluas ke wilayah konflik lain di dunia.
Menurut draf piagam yang beredar, badan ini akan:
- Mengawasi administrator teknokrat Palestina yang baru dibentuk untuk memimpin pemerintahan sementara di Gaza.
- Mengelola fase kedua rencana gencatan senjata Gaza, termasuk demiliterisasi, rekonstruksi, dan keamanan jangka panjang.
- Memperluas misi ke konflik lain di luar Timur Tengah setelah fase awal Gaza.
Undangan kepada Negara-Negara Dunia
Sejak 17 Januari 2026, pemerintah AS telah mulai mengirimkan surat undangan resmi kepada sekitar 60 negara untuk bergabung dalam Board of Peace. Beberapa respons awal dari negara-negara yang diundang meliputi:
- Hungaria menyatakan menerima undangan tersebut.
- Kazakhstan dan Uzbekistan menyetujui ajakan AS untuk bergabung sebagai anggota pendiri.
- Raja Yordania Abdullah II menerima undangan dan dokumen terkait sedang ditinjau oleh pemerintah Yordania.
- Undangan juga dilaporkan diberikan kepada Presiden Polandia Karol Nawrocki, dan informasi di media mengatakan Israel juga diundang, meskipun belum ada konfirmasi resmi penerimaan dari Tel Aviv.
- Undangan tersebar kepada negara-negara besar lain seperti India, Australia, Kanada, Mesir, Turki, Argentina, dan negara-negara Uni Eropa.
Struktur Keanggotaan dan Ketentuan Keuangan
Draf piagam yang diperoleh media internasional mengungkapkan bahwa status keanggotaan Board of Peace terdiri dari:
- Keanggotaan sementara tiga tahun untuk negara yang bergabung tanpa komitmen tambahan.
- Keanggotaan permanen bagi negara yang bersedia memberikan kontribusi finansial US$ 1 miliar.
Dana yang dikumpulkan diproyeksikan digunakan untuk rekonstruksi Gaza dan program pembangunan jangka panjang di wilayah konflik lain, meski rincian alokasi dana belum diumumkan secara lengkap oleh pemerintah AS.
Hubungan dengan PBB dan Reaksi Komunitas Internasional
Langkah Trump membentuk Board of Peace datang setelah Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyetujui mandat perdamaian untuk Gaza hingga tahun 2027, sebuah resolusi yang memperoleh abstain dari Rusia dan Tiongkok.
Namun, inisiatif ini menuai kecaman dan keprihatinan dari sejumlah diplomat dan pemimpin dunia, dengan beberapa menilai bahwa:
- Board of Peace berpotensi menjadi alternatif atau pesaing informal PBB, melemahkan peran badan multilateral tersebut.
- Model kepemimpinan seumur hidup yang memberi kendali luas kepada Trump dinilai bertentangan dengan praktik demokrasi dalam hubungan internasional.
- Beberapa negara besar seperti Perancis disebut telah menolak atau menyatakan skeptis terhadap mandat dan struktur organisasi baru ini.
Komentar dan Kritik
Para pengamat internasional juga mencatat bahwa Board of Peace:
- Dibentuk di tengah skeptisisme atas keberlanjutan gencatan senjata Gaza yang telah berlangsung selama berbulan-bulan dan masih menghadapi cekcok operasional.
- Belum secara jelas melibatkan wakil dari pihak Palestina dalam struktur keputusan utama, yang menyebabkan kritik tentang legitimasi dan representasi.
Beberapa analis bahkan memperingatkan bahwa jika tidak dikelola dengan hati-hati, inisiatif ini bisa memperdalam polarisasi geopolitik dan berdampak negatif bagi kerja sama internasional yang lebih luas.
Kesimpulan:
Inisiatif Board of Peace yang digagas Presiden Trump pada pertengahan Januari 2026 merupakan upaya baru dalam diplomasi global yang bertujuan menangani konflik mulai dari Gaza hingga potensi konflik lain di masa depan. Meskipun menawarkan visi alternatif untuk meredakan konflik, gagasan ini telah menarik tanggapan beragam dari negara-negara di seluruh dunia, dengan respons yang mencerminkan harapan dan kekhawatiran terhadap masa depan kerja sama multilateral di era pasca perang Gaza. (***)
‘Israel Akan Bertindak dengan Kekuatan yang Belum Pernah Dilihatnya’: Netanyahu Memperingatkan Iran
EtIndonesia. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu telah memperingatkan Iran tentang “serangan dengan kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya” jika Teheran menyerang Israel di tengah ketegangan regional. Netanyahu, dalam pidatonya di Knesset—Parlemen Israel—mengatakan Tel Aviv “dengan cermat” memantau Iran saat negara itu kembali tenang setelah gelombang protes yang memicu penindakan berdarah.
“Jika mereka melakukan kesalahan dan menyerang kita, kita akan bertindak dengan kekuatan yang belum pernah mereka alami,” kata Netanyahu.
Pemimpin Israel itu mengatakan dia “dengan cermat” memantau Iran, memperingatkan bahwa “tidak ada yang dapat memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan bagi Iran, tetapi negara itu tidak akan kembali seperti dulu,” yang menyiratkan konsekuensi yang tidak dapat diubah bagi Teheran dalam konflik apa pun.
Pernyataan tersebut muncul di tengah laporan yang menunjukkan bahwa Amerika Serikat sedang memindahkan Gugus Tempur Kapal Induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln menuju Timur Tengah setelah kebuntuan dengan rezim teokratis Iran atas penindakan berdarah terhadap demonstran anti-pemerintah.
Situasi di Iran
Penindakan terhadap demonstran yang berpartisipasi dalam protes nasional di Iran menewaskan sedikitnya 4.029 orang, kata para aktivis pada hari Selasa (20/1). Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di AS mengatakan lebih dari 26.000 orang juga telah ditahan dalam penindakan tersebut.
Dikatakan bahwa dari yang tewas, 3.786 adalah demonstran, 180 adalah pasukan keamanan, 28 adalah anak-anak, dan 35 adalah orang-orang yang tidak berdemonstrasi.
Mereka khawatir lebih banyak lagi yang mungkin telah tewas. Kantor berita tersebut telah akurat dalam putaran kerusuhan sebelumnya di Iran dan bergantung pada jaringan aktivis di lapangan untuk mengkonfirmasi setiap kematian.
Senjata AS di Timur Tengah
Sementara itu, ketegangan tetap tinggi antara Amerika Serikat dan Iran terkait tindakan keras setelah Presiden Donald Trump menetapkan dua garis merah bagi Republik Islam – pembunuhan para demonstran damai dan eksekusi massal yang dilakukan Teheran setelah demonstrasi. Sebuah kapal induk AS, yang beberapa hari sebelumnya berada di Laut Cina Selatan, melewati Singapura semalam untuk memasuki Selat Malaka – menempatkannya pada rute yang dapat membawanya ke Timur Tengah.
Karena ketegangan tetap tinggi antara Teheran dan Washington, data pelacakan kapal yang dianalisis oleh AP pada hari Senin menunjukkan kapal induk USS Abraham Lincoln, serta kapal-kapal militer Amerika lainnya, berada di Selat Malaka setelah melewati Singapura pada rute yang dapat membawa mereka ke Timur Tengah.
Lincoln berada di Laut Cina Selatan dengan kelompok serangnya sebagai pencegahan terhadap Tiongkok atas ketegangan dengan Taiwan. Data pelacakan menunjukkan bahwa USS Frank E. Petersen Jr., USS Michael Murphy, dan USS Spruance, semuanya kapal perusak rudal berpemandu kelas Arleigh Burke, sedang berlayar bersama Lincoln melalui Selat tersebut.
Beberapa laporan media AS yang mengutip pejabat anonim mengatakan bahwa Lincoln, yang memiliki pangkalan di San Diego, sedang dalam perjalanan ke Timur Tengah. Kemungkinan besar kapal tersebut masih membutuhkan beberapa hari perjalanan lagi sebelum pesawat-pesawatnya berada dalam jangkauan wilayah tersebut. Timur Tengah saat ini tidak memiliki kelompok kapal induk atau kelompok amfibi yang siap tempur, yang kemungkinan akan mempersulit diskusi tentang operasi militer yang menargetkan Iran, mengingat penentangan luas negara-negara Teluk Arab terhadap serangan semacam itu.(yn)
Jerman dan Prancis Ikut Kirim Pasukan ke Greenland Hingga Trump Tegaskan Hanya AS yang Mampu Mengamankan Greenland
EtIndonesia. Laporan Radio Denmark (DR) menyebutkan, selain Norwegia dan Swedia, Kementerian Pertahanan Jerman juga mengumumkan telah mengirim tentara ke Greenland. Pemerintah Jerman menyatakan bahwa tim beranggotakan 13 prajurit diperkirakan tiba paling cepat Kamis (22/1/2026) pagi di ibu kota Greenland, Nuuk.
Pemerintah Jerman mengatakan langkah ini bertujuan untuk: “Mengkaji kemungkinan pemberian bantuan militer kepada Denmark guna mendukung upaya menjamin keamanan kawasan tersebut, misalnya dengan menyediakan kemampuan pengawasan wilayah laut.”
Langkah Jerman ini juga merupakan tanggapan atas undangan Denmark kepada negara-negara mitra Eropa untuk berpartisipasi dalam operasi pengintaian di Greenland.
Tak lama kemudian, Kementerian Pertahanan Prancis juga mengungkapkan kepada stasiun televisi BFMTV bahwa Prancis akan berpartisipasi dalam “latihan militer Eropa” di Greenland. Seorang sumber militer menyebutkan bahwa Prancis akan mengirim sekitar 15 tentara.
Denmark dan Greenland ke Mana Arah Pilihannya: “Amerika Serikat” atau “PKT–Rusia”?
Akun resmi Gedung Putih di platform X mengunggah sebuah gambar yang menyodorkan pilihan kepada Denmark dan Greenland: bagaimana memilih antara Amerika Serikat atau PKT–Rusia?
Tak lama setelah pertemuan antara Denmark, Greenland, dan Amerika Serikat berakhir, Kedutaan Besar Denmark di Washington menggelar konferensi pers sekitar setengah jam kemudian.
Denmark Mulai Mengirim Pasukan ke Greenland
Sebelumnya, karena Amerika Serikat menyatakan bahwa perlindungan Denmark terhadap Greenland jauh dari memadai, Denmark pada 14 Januari telah mengerahkan satuan militer beserta peralatannya ke Greenland, sebagai persiapan kemungkinan penempatan pasukan dalam skala yang lebih besar.
Trump Tarik Garis Merah soal Greenland: Di Bawah Standar Ini Tidak Dapat Diterima
Presiden Trump kembali menegaskan dengan huruf kapital di platform Truth Social mengenai pentingnya Greenland bagi Amerika Serikat dan NATO: “JIKA KITA TIDAK MELAKUKANNYA, RUSIA ATAU TIONGKOK AKAN MELAKUKANNYA, DAN HAL ITU SAMA SEKALI TIDAK BOLEH TERJADI!”
Ia mengatakan:“Amerika Serikat membutuhkan Greenland untuk menjaga keamanan nasional. Greenland sangat penting bagi ‘Kubah Emas’ (Golden Dome) yang sedang kami bangun. NATO seharusnya memimpin dalam membantu kami mengambil Greenland.”
Trump menekankan bahwa sebagian besar kekuatan Amerika Serikat dibangun pada masa jabatan pertamanya, dan kini ia sedang membawanya ke tingkat yang lebih tinggi.
Ia menegaskan: “Dari sisi militer, tanpa kekuatan besar Amerika Serikat, NATO tidak akan mampu berfungsi secara efektif atau memiliki daya tangkal yang memadai—masih jauh dari itu. Mereka tahu, dan saya juga tahu. Jika Greenland berada di bawah kendali Amerika Serikat, NATO akan menjadi lebih kuat dan lebih efektif.”
Ia menutup dengan menetapkan garis merah: “Segala sesuatu yang berada di bawah standar ini tidak dapat diterima.”
Trump: Hanya AS yang Mampu Mengamankan Greenland
Sekitar pukul 10.30 waktu Pantai Timur AS, Menteri Luar Negeri Denmark dan Menteri Urusan Luar Negeri Greenland dijadwalkan bersama-sama bertemu Wakil Presiden AS Vance dan Menteri Luar Negeri Rubio di Gedung Putih.
Menjelang pertemuan tersebut, Presiden Trump kembali memposting: “NATO: Beritahu Denmark agar segera mundur dari sini! Dua anjing penarik kereta salju tidak cukup! Hanya Amerika Serikat yang bisa melakukannya!!!”
Ia juga mengutip laporan Just The News 13 Januari, yang menyebut bahwa Dinas Intelijen Pertahanan Denmark (DDIS) telah memperingatkan sejak tahun lalu mengenai ambisi militer Rusia dan PKT di Greenland dan kawasan Arktik.
Pekan lalu, Trump mengatakan kepada wartawan di Air Force One bahwa Amerika Serikat membutuhkan Greenland “demi keamanan nasional”, serta menyebut bahwa wilayah tersebut “dipenuhi” kapal Rusia dan PKT.
Namun, diplomat senior dan pejabat pertahanan Denmark segera membantah pernyataan Trump, dengan menyatakan bahwa tidak ada kapal Rusia maupun PKT di sekitar Greenland.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa media resmi dan Kementerian Luar Negeri PKT turut menggemakan bantahan Denmark, serta mengklaim bahwa langkah Amerika Serikat ini didorong oleh kepentingan sendiri, bukan pertimbangan keamanan. (Hui)
