Operasi militer gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran kini telah memasuki minggu kelima. Kapan perang ini akan berakhir menjadi perhatian luas.
EtIndonesia. Pada Sabtu (28 Maret), Israel menyatakan telah melancarkan serangkaian serangan terhadap infrastruktur militer di Teheran. Pada hari yang sama, kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran mengonfirmasi telah menembakkan rudal ke Israel dan menyatakan siap terlibat dalam konflik.
Muncul kekhawatiran bahwa keterlibatan Houthi dapat memperluas dan memperpanjang perang yang telah memasuki minggu kelima ini, serta mengganggu jalur pelayaran di Semenanjung Arab dan sekitar Laut Merah.
Host kanal militer “Mark Space”, Mark, mengatakan: “Dipengaruhi oleh berita ini, saya percaya harga minyak akan naik dalam jangka pendek. Serangan rudal dari Houthi ini lebih sebagai pernyataan sikap kepada dunia luar. Namun dari skala dan intensitasnya, ancamannya masih jauh di bawah dibandingkan dengan ancaman Hizbullah terhadap Israel. Sebenarnya, kelompok garis keras di Iran ingin menyeret dunia ke dalam konflik ini dan menciptakan kepanikan global.”
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, pada Jumat menyatakan bahwa ada tanda-tanda Iran bersedia melakukan negosiasi mengenai beberapa isu. Amerika Serikat memperkirakan operasi militer “Epic Fury” akan berakhir dalam beberapa minggu ke depan.
“Di bawah tekanan perang seperti ini, pemerintah Iran pasti mengalami perpecahan internal. Hal terpenting adalah bagaimana menghapus kekuatan kelompok garis keras di Iran, ini adalah kunci utama,” Mark menambahkan.
“Dengan begitu, masa depan Iran bisa bekerja sama dengan Amerika Serikat dan Israel. Tujuan utama yang ingin dicapai oleh Presiden Donald Trump sebenarnya ada dua: pertama, menghapus program senjata nuklir Iran; kedua, membuka Selat Hormuz. Saya rasa tujuan ini bisa dicapai dalam jangka pendek. Jika tujuan tersebut tercapai, maka Presiden Trump pada dasarnya dapat mengumumkan berakhirnya perang,” ujarnya.
Laporan ini disampaikan oleh reporter NTDTV, Guo Yuexi
EtIndonesia. Pada Senin (23/6/2026), sebuah kilang minyak besar milik Valero Energy di dekat pesisir Port Arthur, negara bagian Texas, Amerika Serikat mengalami ledakan. Asap tebal terlihat membumbung dan api menjulang tinggi di lokasi kejadian.
Kilang tersebut terletak sekitar 90 mil (145 kilometer) di sebelah timur Houston. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden ini.
Foto dan video yang beredar di internet menunjukkan kepulan asap tebal dan kobaran api besar dari kilang. Sejumlah warga melaporkan mendengar suara ledakan keras dan merasakan getaran pada jendela rumah mereka.
Menurut situs resmi Valero Energy, kilang tersebut mempekerjakan sekitar 770 karyawan dan mampu mengolah sekitar 435.000 barel minyak mentah per hari. Kilang ini berfungsi mengolah minyak mentah berat yang mengandung sulfur menjadi bensin, solar, dan bahan bakar jet.
Seorang anggota DPR negara bagian Texas, Christian Manuel, menyatakan di media sosial bahwa Texas Commission on Environmental Quality telah membawa peralatan pemantauan kualitas udara ke lokasi kilang. Ia mengimbau warga di sekitar untuk tetap berada di dalam rumah, menutup pintu dan jendela, mengurangi aktivitas di luar ruangan, serta mengikuti arahan dari pejabat setempat.
Laporan ini disusun secara komprehensif oleh reporter NTDTV, Meilin.
EtIndonesia. Produsen aluminium terbesar di Timur Tengah, Emirates Global Aluminium (EGA), pada 28 Maret menyatakan bahwa rudal dan drone Iran menyerang fasilitas produksi penting mereka di Uni Emirat Arab, menyebabkan “kerusakan signifikan”. Fasilitas Aluminium Bahrain juga dilaporkan ikut diserang dengan dua karyawan mengalami luka ringan.
Sebelumnya, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan bahwa sebagai balasan atas serangan terhadap dua pabrik baja Iran, mereka menargetkan Aluminium Bahrain dan Emirates Global Aluminium.
IRGC mengklaim kedua perusahaan tersebut memiliki keterkaitan dengan perusahaan militer dan dirgantara Amerika Serikat, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Foto tersebut menunjukkan kerusakan di wilayah Manamasef setelah serangan pesawat tak berawak pada 10 Maret 2026. Wilayah Teluk yang kaya minyak ini adalah yang pertama kali terkena serangan balasan atas serangan udara AS dan Israel. (AFP via Getty Images)
Menurut laporan Reuters, EGA dalam pernyataannya menyebut fasilitas Al Taweelah yang berlokasi di kawasan ekonomi Khalifa di Abu Dhabi menjadi sasaran serangan. Beberapa karyawan dilaporkan terluka, namun tidak ada yang dalam kondisi mengancam jiwa.
EGA menyatakan bahwa mereka masih menilai tingkat kerusakan akibat serangan di kompleks peleburan Al Taweelah tersebut, dan belum mengumumkan apakah operasional akan dihentikan.
Di sisi lain, Aluminium Bahrain melalui kantor berita resmi negara, Bahrain News Agency, menyatakan bahwa keselamatan karyawan selalu menjadi prioritas utama dan mengkonfirmasi dua pekerja mengalami luka ringan. Namun, mereka tidak merinci detail serangan maupun tingkat kerusakan fasilitas.
Sebagai salah satu produsen aluminium terbesar dunia, Aluminium Bahrain menyatakan sedang mengevaluasi dampak insiden terhadap operasional dan akan mengumumkan perkembangan lebih lanjut.
Pada 12 Maret 2026, Iran diduga menyerang tangki penyimpanan bahan bakar di Muharragh, menyebabkan kepulan asap membumbung ke udara. Bahrain juga melaporkan bahwa Iran menyerang tangki penyimpanan bahan bakarnya. (Fadhel MADHAN / AFP via Getty Images)
Setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, jalur pelayaran di Selat Hormuz praktis terhenti. Kawasan Teluk Persia yang menyumbang sekitar 9% pasokan aluminium global kini kesulitan menyalurkan produk ke pasar dunia melalui jalur normal.
Reuters sebelumnya juga melaporkan bahwa EGA berencana mengalihkan ekspor aluminium dan impor bahan baku melalui Pelabuhan Sohar di Oman. Diketahui, pabrik peleburan Al Taweelah milik EGA memproduksi sekitar 1,6 juta ton aluminium cor pada 2025, serta memiliki kilang alumina terdekat yang memproduksi 2,4 juta ton bahan baku tahun lalu.
Sementara itu, Aluminium Bahrain sebelumnya telah menutup tiga lini produksi peleburan aluminium yang mencakup sekitar 19% dari total kapasitasnya, guna menjaga kelangsungan operasional. Pada 4 Maret, perusahaan juga mengumumkan kondisi “force majeure” karena tidak dapat mengirim produk ke pelanggan.
Gangguan produksi ini menjadi contoh terbaru dampak konflik antara AS dan Israel melawan Iran terhadap industri aluminium di Timur Tengah.
Harga aluminium sendiri sudah menunjukkan tren kenaikan sebelum konflik Iran pecah. Dengan meningkatnya kekhawatiran pasar akan pengetatan pasokan dan menurunnya stok global, harga diperkirakan masih akan terus naik. (Hui)
Pada 28 Maret 2026 malam, sebuah bangunan komersial di Taiyuan, Provinsi Shanxi, Tiongkok, mengalami kebakaran. Hingga 29 Maret pagi, sedikitnya 3 orang dilaporkan tewas dan 23 lainnya terluka dengan 9 orang di antaranya dalam kondisi serius.
EtIndonesia. Beberapa video yang beredar di internet menunjukkan bahwa kebakaran terjadi di dekat Jalan Qin Xian Bei, Distrik Xiaodian, Taiyuan, sekitar pukul 19.50 pada 28 Maret 2026. Menurut rekaman saksi mata, api awalnya muncul di bagian atas sebuah restoran barbekyu di lantai bawah bangunan, lalu dengan cepat merambat ke atas sepanjang dinding luar gedung. Potongan material yang terbakar jatuh bersama asap tebal.
Bangunan yang terbakar merupakan gedung komersial dengan berbagai usaha di dalamnya, termasuk restoran barbekyu, rumah makan, kedai makanan ringan, supermarket, toko lotre, serta lantai atas yang digunakan untuk KTV dan warnet.
Seorang saksi mengatakan api menyebar sangat cepat, terutama karena material dinding luar seperti panel aluminium-plastik ikut terbakar dan jatuh.
Seorang pemilik toko di sekitar lokasi menyebut, “Belum jam 8 malam, karyawan saya sudah melihat dari kaca bahwa gedung seberang terbakar, bagian luar bangunan terbakar dengan sangat cepat.”
Media resmi awalnya melaporkan 1 orang tewas dan 25 orang terluka. Namun kemudian diperbarui bahwa 2 orang meninggal dunia setelah gagal diselamatkan di rumah sakit, sehingga jumlah korban tewas meningkat menjadi 3 orang, dengan total 23 orang terluka, termasuk 9 orang dalam kondisi serius.
Namun demikian, beberapa netizen menyatakan bahwa saat kebakaran terjadi, ada orang yang melompat dari gedung untuk menyelamatkan diri, sehingga jumlah korban sebenarnya belum dapat dipastikan.
Seorang saksi yang mengaku berada di dekat lokasi kejadian mengatakan bahwa mobil pemadam kebakaran sempat terhambat aksesnya. Ia menulis bahwa sejak awal api belum besar, mobil pemadam sudah terlihat dari kejauhan, namun terhalang jalan sempit dan kemacetan, termasuk pedagang kaki lima dan kendaraan yang parkir sembarangan, sehingga menghambat waktu emas untuk pemadaman.
Seorang netizen yang mengaku mengetahui situasi mengungkapkan tiga kemungkinan penyebab kebakaran:
Titik api berada di bagian luar lantai bawah (dekat restoran).
Penyebab langsung diduga karena material pelapis dinding yang tidak tahan api sehingga memicu kebakaran pada bahan insulasi luar.
Proyek bangunan tersebut pernah dikeluhkan karena belum lulus inspeksi keselamatan kebakaran dan lama tidak bisa mendapatkan sertifikat properti, sehingga diduga memiliki masalah keselamatan sejak lama.
Setelah kebakaran terjadi, orang-orang di dalam gedung dan toko-toko sekitar segera menyelamatkan diri.
Seorang pemilik toko di sebelah gedung, bermarga Tang (nama samaran), mengatakan kepada media bahwa saat kebakaran terjadi, adiknya sedang bekerja di toko dan segera menghubunginya setelah berhasil menyelamatkan diri, mengatakan bahwa “toko sebelah terbakar.”
Ia menambahkan bahwa awalnya mengira hanya kebakaran kecil, tetapi kemudian menjadi sangat besar. Setelah melihat berita, ia mengetahui papan nama tokonya juga telah hangus terbakar, dan seluruh barang masih berada di dalam toko, sehingga kerugian belum dapat dihitung.
Setelah api berhasil dipadamkan, lokasi kejadian tampak porak-poranda. Dinding luar bagian timur bangunan terlihat hangus terbakar, beberapa toko di sekitar jalur akses mengalami kerusakan parah, banyak sepeda listrik terbakar hingga tinggal rangka, dan jalanan dipenuhi puing-puing serta barang berserakan. (Hui)
EtIndonesia. Menjelang Qingming Festival atau Cheng Beng, masyarakat Tionghoa di berbagai tempat mulai bersiap melakukan ziarah makam untuk menghormati leluhur. Namun, sebuah insiden terjadi di Malaysia, di mana seorang pria meninggal duni secara mendadak saat berziarah.
Menurut laporan media Malaysia, korban adalah seorang pria keturunan Tionghoa bermarga Ye, berusia 57 tahun. Pada 28 Maret, ia mengemudi sendiri ke makam untuk berziarah. Tanpa sengaja, ia memicu kebakaran hutan kecil.
Saat petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi, mereka menemukan pria tersebut sedang bersembahyang di depan makam, sementara rumput liar di sekitarnya terbakar. Ia mengakui bahwa percikan api dari pembakaran kertas sembahyang menyulut rumput kering di sekitar.
Setelah api berhasil dipadamkan, pria tersebut mulai membereskan perlengkapan sembahyang dan bersiap pulang. Karena makam yang diziarahi berada di lereng bawah, ia harus naik turun tangga di area miring, sehingga kelelahan dan duduk untuk beristirahat.
Saat beristirahat, ia mengeluh, “Sangat capek, tahun depan tidak datang lagi saat Qingming.” Namun tak lama setelah itu, ia bangkit untuk melanjutkan perjalanan. Ketika mencoba menopang tubuhnya dengan kedua tangan untuk naik, ia tiba-tiba kehilangan kesadaran dan pingsan.
Petugas pemadam yang berada di lokasi segera melakukan pertolongan pertama dan memanggil ambulans untuk membawanya ke rumah sakit. Namun, setelah upaya penyelamatan, ia akhirnya dinyatakan meninggal dunia. (Hui)
EtIndonesia. Pada 29 Maret 2026 dini hari, sebuah bangunan di Hailin, Provinsi Heilongjiang, Tiongkok, runtuh. Hingga saat ini diketahui ada 9 orang yang terjebak, dengan kondisi hidup atau meninggal dunia yang belum diketahui.
Video yang beredar di internet menunjukkan bahwa kejadian terjadi sekitar pukul 00.00 pada 29 Maret, di dekat stasiun kereta di Kota Hailin. Sebuah bangunan yang memiliki beberapa lantai usaha tiba-tiba runtuh. Di sekitar bangunan tersebut terdapat pemukiman warga yang berdekatan.
Menurut keterangan netizen yang mengetahui situasi, lantai bawah bangunan tersebut merupakan restoran hotpot, sementara lantai atas digunakan sebagai tempat karaoke. Saat runtuh, suara yang ditimbulkan sangat keras hingga membangunkan banyak warga di sekitar.
Pihak berwenang menyatakan bahwa insiden ini menyebabkan 9 orang terjebak, namun pernyataan tersebut memicu keraguan dari netizen di daratan Tiongkok. Ada yang berkomentar, “Hanya 9 orang? Jumlah pelayan saja pasti lebih dari itu,” serta, “Video sudah beredar sejak pagi tapi dihapus, baru siang hari diberitakan, kenapa?”
Sebagian netizen juga menyebut kejadian ini sebagai bencana akibat “konstruksi berkualitas buruk (tofu-dreg project)”, dan menduga adanya praktik pengurangan material di masa lalu. Komentar lain menyebut, “Perlu diselidiki baik-baik apakah ini akibat penghematan bahan sebelumnya,” “Mengapa bangunan yang terlihat baik tiba-tiba runtuh? Kualitas bangunannya sangat mengkhawatirkan,” dan “Sudah berapa banyak bangunan yang runtuh di provinsi ini?”
Sebelumnya, Provinsi Heilongjiang juga telah mengalami beberapa insiden runtuhnya bangunan.
Pada Juli 2023, atap gedung olahraga sebuah sekolah di Qiqihar runtuh, menewaskan 11 orang di antaranya 10 siswi.
Pada November tahun yang sama, atap gimnasium di Kabupaten Huanan, Kota Jiamusi, runtuh. Menurut laporan resmi, insiden tersebut menyebabkan 3 orang tewas dan 1 orang terluka.
Beberapa hari kemudian, netizen juga mengunggah video yang menunjukkan runtuhnya atap gedung krematorium Sixin di Qitaihe. (Hui)
EtIndonesia. Hingga Kamis, 26 Maret, sebanyak 784 warga di daratan Tiongkok telah menandatangani petisi yang menyerukan peninjauan menyeluruh dan penghentian sementara transplantasi organ manusia. Aksi ini dilaporkan terus mendapat tekanan dari pihak berwenang.
Penggagas inisiatif ini, seorang warga Guangzhou bernama Gao Fei, pada 8 Maret 2026 mengirimkan “Surat Seruan Darurat” kepada lima lembaga pemerintah, termasuk Kantor Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional, Kantor Dewan Negara, Kementerian Keamanan Publik, Komisi Pengawas Nasional, dan Komisi Kesehatan Nasional. Surat tersebut diterima antara 11 hingga 12 Maret.
Dalam surat tersebut disebutkan bahwa sejak pemerintah Tiongkok mendorong “legalisasi” transplantasi organ secara paksa, rasa takut di masyarakat terus meningkat. Banyak kasus yang melibatkan “kematian otak” dilaporkan secara mencurigakan terkonsentrasi pada kelompok usia muda.
Selain itu, proses distribusi organ dinilai tidak transparan, dengan berbagai tudingan tentang “kejahatan tersembunyi” dan “pasar gelap organ” yang terus bermunculan, sehingga merusak kepercayaan publik dan rasa aman.
Surat tersebut menyerukan agar seluruh aktivitas transplantasi organ manusia ditinjau ulang secara menyeluruh dan dihentikan sementara, serta meminta pemerintah memberikan penjelasan terbuka dan transparan atas kekhawatiran masyarakat.
(Tangkapan layar halaman web)
Dalam suratnya, Gao Fei menulis: “Setiap kehidupan adalah sesuatu yang sakral dan utuh, bukan ‘komponen biologis’ yang bisa dibongkar dan diperdagangkan oleh negara atau kelompok kepentingan.”
Selain mengirim surat, Gao Fei juga meluncurkan petisi online. Hingga 26 Maret, jumlah penandatangan mencapai 784 orang.
Namun, aksi ini mendapat tekanan dari pihak kepolisian. Gao Fei mengungkapkan bahwa ia menerima telepon dari polisi pada dini hari dan diminta datang ke kantor polisi untuk “memberikan keterangan”. Ia juga terpaksa pindah dari tempat tinggalnya karena pemilik rumah melakukan “renovasi”, sehingga ia kesulitan mencari tempat tinggal. Selain itu, ia juga menerima panggilan dari pihak berwenang di daerah asalnya.
Pada saat yang sama, sebagian konten yang dia bagikan di WeChat diblokir, tautan petisi tidak bisa diakses, dan akun publik WeChat miliknya diblokir permanen setelah hanya digunakan beberapa hari.
Meski demikian, Gao Fei tetap mempublikasikan seluruh komunikasi dengan pihak berwenang di media sosial, dan menyatakan: “Jika pemerintah tidak bisa transparan, maka kita semua tidak bisa hidup dengan layak.”
Isu rantai industri gelap transplantasi organ di Tiongkok telah terungkap sejak tahun 2006. Sejak itu, sejumlah investigasi independen internasional menuduh adanya praktik pengambilan organ secara paksa terhadap praktisi Falun Gong.
Saat ini, sumber donor organ disebut-sebut telah meluas dari kelompok tertentu ke masyarakat umum. Banyak laporan mengenai hilangnya anak-anak dan orang dewasa muda di daratan Tiongkok, yang mana oleh sebagian masyarakat dicurigai terkait dengan praktik pengambilan organ paksa.
Menurut laporan media, seorang pengacara HAM Tiongkok, Shen Guoliang, menyatakan dalam wawancara bahwa praktik pengambilan organ “telah menjadi sebuah industri” dan “cukup luas terjadi, sehingga masyarakat tidak lagi merasa aman.”
Ia juga menyebut praktik tersebut sebagai “kejahatan terhadap kemanusiaan paling berdarah di planet ini”, serta menyerukan agar pemerintah dan masyarakat internasional tidak menganggap isu ini sebagai urusan internal Tiongkok, melainkan segera mengambil tindakan untuk mengungkap dan menghentikannya. (Hui)
ETIndonesia. Dalam beberapa waktu terakhir, di berbagai daerah di Tiongkok dilaporkan adanya drone yang diam-diam menyemprotkan bahan kimia yang tidak diketahui, menyebabkan kerugian besar bagi para petani dan memicu kemarahan publik. Baru-baru ini, di Nanyang, Henan, terjadi lagi kasus drone menyemprot pestisida hingga menyebabkan banyak ikan di kolam mati.
Pemilik kolam ikan mengunggah video dan tulisan di media sosial untuk mengadukan kejadian tersebut: “Kolam pancing seberat puluhan ribu kilogram hancur! Pestisida langsung disemprot ke dalam kolam, dalam semalam semua ikan mengapung ke permukaan. Polisi sudah datang, tapi pihak pelaku masih berdalih. Usaha yang semula berjalan baik terpaksa berhenti, kerugian mencapai ratusan ribu yuan. Mohon keadilan dari semua pihak!”
Menurut laporan media daratan Tiongkok, insiden terjadi di Kota Bidian, Nanyang. Drone yang digunakan untuk menyemprot pestisida ke lahan pertanian tanpa sengaja mengenai kolam ikan, menyebabkan ratusan jin (1 jin = 0,5 kG- 1 kg = 2 jin) ikan mati.
Setelah memeriksa rekaman CCTV, pemilik kolam menemukan bahwa penyemprotan dilakukan oleh pihak ketiga yang ditugaskan oleh pemerintah daerah dan desa untuk melakukan penyemprotan gratis menggunakan drone. Dalam prosesnya, pestisida beberapa kali masuk ke kolam ikan.
Pihak terkait, Tuan Wang, mengatakan bahwa operator drone mengklaim bahan yang disemprot “bukan racun, bahkan manusia bisa meminumnya.” Namun, ratusan kg ikan sudah mati, dan ikan yang masih mengapung pun tidak lagi bergerak saat ditangkap.
Ia menambahkan bahwa polisi telah menemukan pelaku, yang mengaku mendapat perintah dari pihak pemerintah desa. Pejabat pertanian tingkat kecamatan juga telah datang ke lokasi.
Pada 27 Maret, staf pemerintah Kota Bidian menanggapi bahwa mereka telah mengetahui situasi tersebut dan akan menangani masalah ini dengan baik untuk pemilik kolam.
Sejak tahun lalu, pemerintah Tiongkok secara luas mendorong penggunaan drone dalam pertanian melalui program yang disebut “pengendalian terpadu.” Media resmi gencar melaporkan keunggulan efisiensi dan penghematan tenaga kerja, bahkan mengklaim dapat mengurangi penggunaan pestisida hingga 30%, serta menjadi bagian penting dari upaya “revitalisasi pedesaan.”
Baru-baru ini, setelah media resmi CCTV melaporkan penggunaan drone untuk menyemprot pestisida pada bunga kanola di bawah bimbingan ahli, praktik ini semakin terbuka dilakukan.
Namun, para petani mengkritik bahwa penyemprotan pada masa berbunga dapat membunuh lebah penyerbuk dan menyebabkan penurunan hasil panen. Banyak peternak lebah mengunggah video keluhan tentang kematian massal lebah mereka. Selain itu, sejumlah petani mengeluhkan sayuran mereka tidak lagi bisa dijual setelah terkena pestisida, bibit gandum mati, bahkan ikan di kolam ikut mati.
Seorang peternak lebah dari Shaanxi yang sedang berpindah mengikuti musim bunga di Tianmen, Hubei, bernama Liu Baoguo (nama samaran), mengatakan bahwa penyemprotan dilakukan siang dan malam tanpa memperhatikan waktu. Ia bahkan melihat satu lahan disemprot dua hingga tiga kali. Ia menduga sebagian operator sengaja melakukan penyemprotan berulang untuk memperbesar luas lahan yang dilaporkan, demi mendapatkan subsidi pemerintah lebih banyak.
Peternak lebah lain dari Yunnan, Zhang Aimin (nama samaran), yang kini berpindah ke Xishuangbanna untuk menghindari area bunga kanola, juga mengalami kerugian besar. Ia memiliki 400 kotak lebah dan telah beternak selama hampir 30 tahun. Tahun ini saja, kerugiannya diperkirakan lebih dari 200 ribu yuan. Ia mengatakan setiap hari menerima banyak telepon dari rekan sesama peternak di seluruh negeri, hampir semuanya melaporkan kasus keracunan.
Baik Zhang maupun Liu menyatakan bahwa skala penyemprotan drone tahun ini belum pernah terjadi sebelumnya.
“Pada tahun-tahun sebelumnya mungkin hanya sekitar 1% peternak lebah yang melaporkan kasus keracunan, tetapi tahun ini terjadi secara luas,” kata mereka.
Zhang juga mengamati bahwa sebagian petani di wilayah utara semakin marah terhadap kebijakan penyemprotan paksa. Bahkan ada yang “lebih memilih menghancurkan seluruh tanaman kanola dengan mesin” sebagai bentuk protes diam.
EtIndonesia. Baru-baru ini, Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat melalui House Committee on Education and the Workforce menggelar sidang dengar pendapat bertema “Universitas Amerika Serikat di Bawah Kepungan”. Sidang ini mengungkap sejumlah kasus yang mengkhawatirkan, menunjukkan bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) diduga memanfaatkan apa yang disebut sebagai “lembaga penelitian bersama” untuk mengambil talenta dan teknologi Amerika.
Reporter NTD: “Anggota Kongres menegaskan bahwa dunia akademik di seluruh Amerika Serikat sedang menghadapi tantangan keamanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam pernyataan pembuka, sidang bahkan secara langsung menyebut University of Michigan, dengan menyatakan bahwa sejumlah peneliti dan mahasiswa di kampus tersebut sedang diselidiki secara federal karena dugaan keterlibatan dalam konspirasi terkait PKT dan penyelundupan.”
Ketua Komite Pendidikan DPR AS, Tim Walberg, mengatakan: “Khususnya lawan geopolitik seperti Partai Komunis Tiongkok, sedang secara aktif berhadapan dengan kepentingan negara kita di medan kampus universitas. Mereka tanpa ragu memanfaatkan niat baik Amerika untuk memperoleh keuntungan yang tidak sah.”
Presiden University of Michigan, Domenico Grasso, menyatakan: “Kami telah mengambil tindakan cepat dan tegas, bekerja sama dengan aparat penegak hukum federal, segera mencabut visa pelajar/kerja individu-individu tersebut dan memutus semua hubungan dengan mereka.”
Kesaksian juga mengungkap bahwa di Stanford University, agen asing kerap menyamar sebagai “mahasiswa sebaya” untuk mendekati mahasiswa yang menguasai teknologi inti. Mereka berusaha membujuk dengan pendanaan dan tawaran pekerjaan agar pindah ke Tiongkok, sekaligus menekan akademisi yang tidak mau bekerja sama.
Pemimpin redaksi Stanford Review, Elsa Johnson, mengatakan: “Asosiasi Mahasiswa dan Cendekiawan Tiongkok dimanfaatkan untuk memantau sesama mahasiswa dan melaporkan kepada PKT. Hal ini membuat banyak mahasiswa Tiongkok berada dalam situasi yang tidak aman. Jika mereka tidak bekerja sama, keluarga mereka sering kali diancam.”
Laporan investigasi juga mengungkap keberadaan luas “lembaga penelitian bersama” di universitas-universitas AS. Secara tampak merupakan kerja sama akademik, namun diduga menjadi “jalur langsung” bagi PKT untuk memperoleh teknologi mutakhir.
Reporter: “Sejumlah saksi di lokasi menyatakan bahwa proyek kerja sama teknologi antara Kementerian Pertahanan Tiongkok dan universitas-universitas AS secara langsung mengancam keamanan nasional Amerika, dan mendesak dilakukannya penyelidikan mendalam.”
Dilaporkan oleh wartawan NTD, Yu Liang dan Chen Shengxu dari New York.
Demi menuntut perundingan ulang perjanjian kerja bersama, para jurnalis di Italia menggelar aksi mogok besar-besaran pada 27 Maret. Media arus utama di seluruh negeri menghentikan penerbitan dan pembaruan situs mereka. Asosiasi jurnalis menegaskan, “Mogok ini bukan untuk mempertahankan hak istimewa, tetapi untuk mempertahankan prinsip dasar: pekerjaan kami memiliki nilai.”
EtIndonesia. Saat membuka situs media besar seperti ANSA, Corriere della Sera, dan Il Messaggero, halaman depan masih menampilkan berita lama dari 26 Maret, tanpa pembaruan terbaru. Notifikasi berita di ponsel pelanggan pun ikut terhenti.
Il Fatto Quotidiano memuat “surat untuk pembaca” di situsnya, menjelaskan bahwa jika pembaca tidak menemukan koran edisi 28 di kios, atau situs tidak diperbarui pada 27 Maret, hal itu karena para jurnalis sedang melakukan aksi protes.
Sementara itu, Il Messaggero juga menandai di halaman utamanya bahwa, sebagai bentuk solidaritas terhadap aksi mogok jurnalis, mereka tidak akan memperbarui berita hingga 27 Maret tengah malam.
Federazione Nazionale della Stampa Italiana (FNSI) dalam pernyataannya menyebutkan bahwa mogok nasional ini dilakukan untuk menuntut pembaruan perjanjian kerja bersama, guna memperbaiki kondisi upah yang terlalu rendah dan praktik eksploitasi di tempat kerja. Perjanjian tersebut telah kedaluwarsa selama 10 tahun.
Para jurnalis Italia merencanakan total lima aksi mogok nasional; aksi kali ini merupakan yang kedua, dan mogok berikutnya dijadwalkan pada 16 April.
FNSI juga menyatakan bahwa perjanjian kerja bersama terakhir berakhir pada 1 April 2016. Sejak itu, kondisi kerja berubah drastis: beban kerja dan ritme meningkat, pekerjaan harus dilakukan lintas platform, ruang redaksi hampir tidak berfungsi, namun gaji jurnalis tetap stagnan. Bahkan, akibat inflasi dan pembekuan kenaikan gaji yang tidak masuk akal, hal ini setara dengan penurunan upah secara nyata.
FNSI menegaskan bahwa dasar perjuangan jurnalis adalah menuntut pengakuan atas martabat kerja. Namun tuntutan tersebut justru dianggap berlebihan—sebuah tuduhan yang dinilai salah dan berbahaya, karena dapat merusak kualitas jurnalisme dan penyampaian informasi.
“Masyarakat tanpa hak dan perlindungan bagi jurnalis akan kehilangan industri pers, dan demokrasi pun akan ikut hilang. Mogok ini bukan untuk mempertahankan hak istimewa, tetapi untuk mempertahankan prinsip dasar dan hak: pekerjaan kami memiliki nilai,” demikian pernyataan tersebut. (Hui)
EtIndonesia. Tokoh Nepal yang sebelumnya dikenal sebagai rapper dan kemudian beralih menjadi politikus, Balendra Shah, baru saja dilantik sebagai perdana menteri pada Senin (27/3/2026). Namun sehari kemudian (28 Maret), mantan PM KP Sharma Oli dan Menteri Dalam Negeri Ramesh Lekhak ditangkap karena diduga lalai dalam menangani aksi protes antikorupsi yang dipimpin Generasi Z pada September tahun lalu. Tindakan terhadap demonstran menyebabkan puluhan korban jiwa.
Menurut laporan Reuters, sebelumnya tim investigasi atas kekerasan dalam aksi protes tersebut merekomendasikan agar keduanya didakwa atas kelalaian. Kerusuhan yang berlangsung selama dua hari itu menewaskan total 76 orang. Insiden itu memaksa Oli mengundurkan diri.
“Kami menangkap mereka berdasarkan rekomendasi komisi penyelidikan,” kata juru bicara kepolisian, Om Adhikari.
Ia juga menyebutkan bahwa Oli dan Lekhak saat ini ditahan di kantor polisi Kathmandu, dan dijadwalkan akan dibawa ke pengadilan pada 29 Maret. Di Nepal, hari Minggu merupakan hari kerja.
Oli yang kini berusia 74 tahun diketahui pernah menjalani dua kali transplantasi ginjal. Menurut saksi mata, ia kemudian dipindahkan dari kantor polisi ke sebuah rumah sakit.
Pengacara Oli, Tikaram Bhattarai, mengatakan kepada Reuters bahwa penangkapan ini “ilegal dan tidak tepat”, karena kliennya tidak berisiko melarikan diri atau menghindari penyelidikan.
Tim investigasi menyimpulkan bahwa Oli gagal mengambil tindakan untuk menghentikan penembakan yang berlangsung selama beberapa jam pada hari pertama demonstrasi, yang menyebabkan sedikitnya 19 pengunjuk rasa Generasi Z tewas, sehingga ia harus bertanggung jawab.
Kematian para demonstran tersebut memicu kemarahan publik, yang kemudian membantu partai yang dipimpin Shah, Rastriya Swatantra Party, meraih kemenangan telak dalam pemilu baru-baru ini.
JAKARTA – Drama Tiongkok terbaru, Pursuit of Jade (Mengejar Cinta), langsung menjadi perbincangan hangat netizen sejak penayangan perdananya di WeTV. Menampilkan duet maut antara Tian Xi Wei dan Zhang Ling He, drama ini menawarkan perpaduan unik antara aksi bela diri yang tangguh dan romansa manis yang terasa seperti “pelukan hangat” bagi penontonnya.
Bagi para penonton yang baru akan memulai perjalanan ini, berikut adalah tiga poin krusial dari episode perdana yang membangun rasa penasaran tinggi di setiap episodenya:
• Episode 1: Rahasia Kelam di Balik Ketampanan Yan Zheng Pertemuan tak sengaja Fan Changyu dengan Yan Zheng yang pingsan di tengah badai salju menjadi awal mula terseretnya sang tukang jagal babi ke dalam masa lalu kelam seorang mantan tentara yang kini menjadi buronan petugas. Kehadiran pria misterius ini secara drastis mengubah ketenangan hidup Changyu dan memaksa sang gadis untuk menyembunyikan identitas aslinya yang penuh kejutan.
• Episode 2: Motif Tersembunyi di Balik Pernikahan Kontrak Keputusan Yan Zheng yang secara mengejutkan langsung menyanggupi tawaran untuk menjalani pernikahan kontrak dan menetap di rumah keluarga Fan menyisakan teka-teki besar mengenai rencana rahasia yang ia bawa. Kesediaan tanpa basa-basi ini menjadi titik awal dinamika hubungan mereka yang kini terikat oleh komitmen hukum namun penuh dengan niat yang belum terungkap.
• Episode 3: Kebenaran Mengenai Jenderal yang “Gugur” Ketegangan mencapai puncaknya saat identitas asli Yan Zheng sebagai Xie Zheng, seorang Jenderal legendaris yang dikabarkan telah gugur di medan perang, terancam terbongkar. Momen emosional terjadi ketika Changyu memberikan pujian tulus atas jasa sang Jenderal tepat di hadapan pria itu sendiri, menandai titik balik di mana Xie Zheng merasa benar-benar dimengerti sebagai manusia, bukan sekadar mesin perang.
Estetika Visual dan Chemistry Natural Pursuit of Jade tidak hanya mengandalkan kekuatan cerita, tetapi juga kualitas visual “mahal” yang menangkap detail tekstur pakaian hingga cahaya matahari keemasan musim dingin secara artistik. Interaksi antara Tian Xiwei dan Zhang Linghe terbangun secara alami melalui tatapan mata yang canggung dan gerakan tangan yang ragu, menciptakan simfoni yang tenang namun bertenaga bagi para penonton.
Jangan lewatkan setiap momen mendebarkan dan romantis dalam Pursuit of Jade, yang kini dapat disaksikan secara eksklusif hanya di aplikasi WeTV.
Markas United States Central Command sebelumnya menerima ancaman terkait alat peledak. Kini, kasus tersebut mengalami perkembangan baru. Tiga tersangka telah didakwa, termasuk sepasang kakak beradik keturunan Tionghoa.
EtIndonesia. Kantor jaksa di Distrik Tengah Florida pada Kamis (26 Maret) mengumumkan telah mendakwa seorang pria berusia 20 tahun yang tinggal di Land O’Lakes, Alen Zheng. Ia diduga menempatkan alat peledak rakitan (IED) di MacDill Air Force Base yang terletak di Tampa, dan saat ini telah melarikan diri ke Tiongkok.
Alen Zheng didakwa atas percobaan merusak properti pemerintah melalui pembakaran atau peledakan, pembuatan ilegal, serta kepemilikan alat peledak yang tidak terdaftar. Jika terbukti bersalah, ia terancam hukuman penjara antara 5 hingga 40 tahun.
Kakak perempuannya, Zheng An, didakwa sebagai pihak yang membantu setelah kejadian serta melakukan perusakan barang bukti, dengan ancaman hukuman maksimal 30 tahun penjara.
Kantor jaksa di Distrik Tengah Florida (Tangkapan layar)
Menurut pihak berwenang, kakak beradik warga Amerika keturunan Tionghoa ini melarikan diri ke Tiongkok dua hari setelah kejadian. Zheng An ditangkap setelah kembali ke AS melalui bandara Detroit pada 17 Maret. Sementara itu, jaksa masih berupaya menangkap Alen Zheng.
Ibu mereka mengatakan kepada penyelidik bahwa putranya mengakui keterlibatan dalam rencana tersebut.
Berdasarkan dakwaan, pada 10 Maret malam, Alen Zheng mencoba meledakkan sebuah alat peledak rakitan di pusat pengunjung di MacDill Air Force Base, namun tidak berhasil. Aparat penegak hukum menemukan alat tersebut di luar pusat pengunjung pada 16 Maret.
Hingga saat ini, pihak berwenang belum mengungkap motif pelaku maupun kemungkinan keterkaitan dengan Partai Komunis Tiongkok. Penyelidikan masih berlangsung.
Tersangka ketiga dalam kasus ini, Jonathan James Elder, ditangkap karena diduga menelepon pangkalan tersebut dengan ancaman setelah alat ditemukan. Ia menghadapi ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara. Saat ini belum ada bukti yang menunjukkan adanya hubungan antara dirinya dengan kakak beradik Zheng tersebut.
Dilaporkan oleh jurnalis NTD, Guo Yuexi dari Amerika Serikat.
EtIndonesia. Sejumlah media melaporkan bahwa pada Jumat (27 Maret) pagi terjadi insiden yang tidak biasa: dua kapal kontainer besar milik perusahaan negara Tiongkok COSCO Shipping berbalik arah saat mencoba melintasi Selat Hormuz untuk keluar dari Teluk Persia. Peristiwa ini memicu perhatian luas, dan para analis menilai hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara Tiongkok dan Iran tidak sekuat yang dibayangkan.
Mengutip data dari situs pelacakan kapal, dua kapal berbendera Hong Kong—“Zhonghai Indian Ocean” dan “Zhonghai Arctic Ocean”—mencoba melewati Selat Hormuz pada 27 Maret dini hari untuk kembali ke Tiongkok. Namun saat mendekati pintu masuk selat di sekitar Pulau Larak, kapal-kapal tersebut tiba-tiba berbalik arah.
Data sistem identifikasi otomatis kapal menunjukkan bahwa pemilik dan awak kedua kapal tersebut adalah warga Tiongkok.
Padahal dua hari sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melalui media sosial menyatakan bahwa kapal dari negara-negara “bersahabat” seperti Tiongkok, Rusia, dan India diizinkan melintasi Selat Hormuz. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan dengan jaminan keamanan secara lisan, tetap tidak ada kepastian perlindungan.
Pengamat politik Li Linyi mengatakan bahwa dari situasi saat ini terlihat bahwa kepentingan antara Tiongkok dan Iran belum tentu sejalan. Ini menunjukkan hubungan keduanya tidak seerat yang terlihat. Kepentingan Tiongkok tidak sepenuhnya dijamin oleh Iran.
Media The Epoch Times mengutip sumber yang menyebutkan bahwa Menteri Luar Negeri PKT Wang Yi telah beberapa kali meminta Iran untuk menjamin keselamatan jalur pelayaran kapal dagang Tiongkok. Namun Iran hanya menyatakan dapat menjamin “sebagian” keamanan, khususnya untuk barang yang dikirim ke Iran, sehingga mendorong Beijing untuk memilih antara memberikan bantuan militer atau menjaga keamanan perdagangan.
Mengenai apakah Beijing akan menyesuaikan kebijakan, sejumlah pengamat menilai kemungkinannya kecil.
Li Linyi menyatakan bahwa kemungkinan PKT secara terbuka meningkatkan bantuan militer kepada Iran sangat rendah. PKT mungkin hanya memberikan bantuan ekonomi terbatas atau bantuan militer secara tidak langsung, tetapi perubahan besar dalam kebijakan luar negeri—seperti dukungan militer langsung—hampir tidak mungkin terjadi kecuali dalam situasi ekstrem.
Sementara itu, mantan pengacara Beijing sekaligus ketua organisasi demokrasi di Kanada, Lai Jianping, mengatakan bahwa kepentingan hubungan Tiongkok–Amerika Serikat jauh lebih besar dibandingkan hubungan PKT dengan Iran.
Sebelumnya, Beijing berencana memanfaatkan hubungan khususnya dengan Iran untuk berperan sebagai mediator utama dalam konflik AS–Iran, serta berupaya memperoleh pengaruh di “Global South”. Namun rencana tersebut dengan cepat menghadapi hambatan.
Seiring perkembangan situasi, strategi Tiongkok di Timur Tengah terus mengalami kemunduran. Pengamat memperkirakan bahwa dalam jangka pendek, PKT kemungkinan hanya akan mengambil sikap menunda, dan ke depan hubungan Tiongkok–Iran berpotensi semakin memburuk. (Hui)
Dilaporkan oleh jurnalis NTD, Chen Yue dan Chang Chun.
EtIndonesia. Kecelakaan mobil listrik Huawei yang menabrak orang dilaporkan sering terjadi. Baru-baru ini, sebuah mobil listrik Huawei menabrak seorang balita berusia 2 tahun di area perkotaan tanpa mengurangi kecepatan. Kondisi anak tersebut belum diketahui secara pasti. Pihak berwenang disebut-sebut menutup informasi. Seorang netizen yang membagikan video insiden itu dilaporkan diancam polisi serta dipaksa menulis surat pernyataan.
Menurut laporan media daratan Tiongkok. Xin Huanghe, sebuah video dashcam tertanggal 9 Maret 2026 menarik perhatian publik. Setelah diverifikasi, kejadian berlangsung di Distrik Qianjiang, Kota Chongqing. Saat itu, sebuah kendaraan “HarmonyOS Intelligent Driving” (Hongmeng Zhixing) dalam mode bantuan berkendara NCA menabrak seorang balita yang menyeberang jalan.
Rekonstruksi frame demi frame dari beberapa detik penting menunjukkan bahwa sistem penghindaran aktif tidak berfungsi. Lokasi kejadian merupakan jalan nasional yang melintasi kota dengan banyak toko dan lalu lintas campuran antara kendaraan dan pejalan kaki.
Data menunjukkan bahwa pada pukul 13:46:06–08, kendaraan berada dalam mode NCA dan kecepatannya meningkat dari 24 km/jam menjadi 31 km/jam, saat itu anak belum terlihat di kamera.
Pada pukul 13:46:10, balita tersebut melangkah dari trotoar ke jalur kendaraan, diikuti seorang dewasa di belakangnya. Dalam dua detik, anak itu bergerak ke tengah jalan. Kecepatan kendaraan sempat mencapai 32 km/jam sebelum turun menjadi 28 km/jam. Saat tabrakan terjadi, indikator rem dan pedal gas tidak menyala (menandakan tidak diinjak). Meskipun ada kemungkinan jeda pada watermark video, tidak terlihat adanya pengereman aktif baik dari pengemudi maupun sistem pada saat kritis.
Setelah tabrakan, balita masuk ke area titik buta di depan kendaraan. Ikon NCA masih aktif hingga sekitar pukul 13:46:13. Kemudian bagian depan mobil bergerak naik dan badan kendaraan bergetar, dan pada detik ke-14 kendaraan akhirnya berhenti total. Setelah berhenti, pengemudi membuka sabuk pengaman dan memindahkan transmisi ke posisi parkir. Warga sekitar dan pemilik toko segera datang ke lokasi.
(Tangkapan layar dari internet)
Menurut laporan, para pedagang di sekitar lokasi mengkonfirmasi kejadian tersebut benar terjadi pada 9 Maret. Anak yang tertabrak adalah anak dari pedagang setempat, dan setelah kejadian mengalami pendarahan dari hidung dan mulut. Saksi mata mengatakan kecepatan kendaraan tidak tinggi, sesuai dengan rekaman sekitar 31 km/jam.
(Tangkapan layar dari internet)
Menanggapi insiden ini, layanan pelanggan “Hongmeng Zhixing” menyatakan bahwa kondisi anak “tidak serius” dan setelah komunikasi dengan pemilik kendaraan “tidak ditemukan masalah”, serta mengklaim bahwa “insiden ini bukan disebabkan oleh kendaraan”, namun tanpa memberikan bukti rinci.
Seorang pelaku industri yang dikutip media menyatakan bahwa sistem tersebut selama ini dipromosikan memiliki kemampuan penghindaran aktif, namun dalam kasus pejalan kaki yang tiba-tiba menyeberang pada kecepatan rendah, sistem tidak bereaksi. Penilaian cepat dari pihak layanan pelanggan tanpa investigasi mendalam juga menimbulkan keraguan publik terhadap kesesuaian antara promosi teknologi dan penentuan tanggung jawab.
Huawei sebelumnya kerap mempromosikan keamanan sistem berkendara pintarnya. Pada November 2025, mereka merilis video penghindaran kecelakaan dalam situasi “kemunculan mendadak”, mengklaim “perlindungan keselamatan di semua skenario”.
Laporan tahunan menyebutkan sistem tersebut telah mencegah lebih dari 3 juta potensi tabrakan, dengan slogan “keselamatan adalah kemewahan terbesar”, serta mengklaim NCA dapat merespons kondisi jalan kompleks dalam hitungan detik.
Beberapa netizen juga menyebutkan bahwa berdasarkan nomor rangka, kendaraan tersebut diduga adalah model AITO M8 tahun 2025.
Selain itu, seorang netizen dilaporkan dipanggil polisi setelah membagikan video kecelakaan tersebut, dan dipaksa menulis surat pernyataan yang berisi janji “tidak akan menyebarkan informasi negatif tentang Huawei”.
Komentar netizen menyebutkan bahwa selama proses, sistem NCA tetap aktif tanpa perlambatan hingga pengemudi mengerem. Bahkan saat tabrakan terjadi, kecepatan tidak berkurang dan sistem tetap aktif, yang menunjukkan bahwa sistem tidak mendeteksi keberadaan anak tersebut maupun melakukan pengereman.
Disebutkan pula bahwa jika tidak ada pengereman dari pengemudi, kendaraan kemungkinan akan terus melaju dan melindas korban.
Kecelakaan serupa yang melibatkan mobil listrik Huawei dilaporkan telah terjadi beberapa kali. Pada Januari tahun ini di Changsha, sebuah mobil listrik Huawei menabrak petugas kebersihan, meski korban hanya mengalami luka ringan.
Pada November 2025, model AITO M7 dalam mode “smart driving” menabrak seorang lansia yang menyeberang jalan hingga tewas di tempat.
Sebelumnya, Huawei pernah mempromosikan bahwa “mengemudi pintar memungkinkan pengemudi tidur saat berkendara” atau “mengemudi dalam keadaan mabuk tidak memerlukan sopir pengganti”, bahkan mengklaim bahwa “sangat sulit untuk mengalami kecelakaan”.