Jepang akan Berinvestasi di Sektor Energi AS Sebesar Rp1.240,9 Triliun

 oleh Chen Ting

Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengadakan pertemuan resmi di Gedung Putih pada hari Kamis (19 Maret). Kedua pihak mengumumkan serangkaian perjanjian kerja sama untuk memperkuat aliansi mereka, termasuk rencana Jepang untuk menginvestasikan dana sebesar USD 73 miliar (Rp1.240,9 triliun) di sektor energi Amerika Serikat, selain juga merilis kesepakatan kerja sama yang menargetkan rantai pasokan terkait dengan mineral kritis dan unsur tanah jarang, demi melawan tekanan ekonomi dari Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan memperkuat ketahanan rantai pasokan.

Menurut laporan singkat Gedung Putih setelah pertemuan , investasi sebesar USD 73 miliar ini merupakan tahap kedua dari rencana investasi Jepang sebesar USD 550 miliar di AS untuk mengamankan pengecualian tarif.

Komitmen investasi spesifik Jepang meliputi pembangunan reaktor modular kecil (SMR) oleh GE Vernova Hitachi di Negara Bagian Tennessee dan Alabama, dengan proyeksi investasi hingga USD 40 miliar. Selain itu, sekitar USD 33 miliar untuk fasilitas pembangkit listrik tenaga gas alam di Negara Bagian Pennsylvania dan Texas.

GE Vernova Hitachi adalah usaha patungan antara General Electric (GE) dan produsen peralatan listrik terintegrasi Jepang, Hitachi.

Gedung Putih menyatakan bahwa proyek-proyek ini akan membantu menstabilkan harga listrik AS dan menyediakan dukungan daya untuk jumlah pusat data yang terus bertambah.

Pada Februari 2026), Jepang telah menyepakati rencana investasinya yang pertama sebesar USD 36 miliar untuk mendorong tiga proyek besar di AS: Pertama, membangun pembangkit listrik tenaga gas alam 9,2 GW di Negara Bagian Ohio. Kedua, membangun fasilitas ekspor minyak mentah di perairan dalam Teluk Meksiko. Ketiga, membangun kemampuan manufaktur berlian sintetis di AS untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasokan asing.

Menetapkan Mekanisme “Harga Minimum” Mineral untuk Mengoreksi Distorsi Pasar

Di bidang keamanan ekonomi, AS dan Jepang secara resmi meluncurkan “Critical Minerals Action Plan” , yang bertujuan untuk mengembangkan alternatif guna mengurangi ketergantungan pada rantai pasokan PKT. Kedua negara menekankan bahwa tujuan rencana tersebut adalah “untuk mencapai hasil jangka pendek yang konkret dalam memastikan ketahanan rantai pasokan bilateral.”

Meskipun tidak secara langsung menuding negara tertentu, namun dalam dokumen tersebut disebutkan bahwa tujuannya adalah untuk memperbaiki “distorsi pasar yang disebabkan oleh kebijakan dan praktik non-pasar yang meluas.” Reuters meyakini bahwa ini jelas merujuk pada PKT.

“Critical Minerals Action Plan” menyatakan bahwa memperbaiki distorsi pasar ini sangat urgen karena membuat rantai pasokan mineral kritis di ekonomi yang berorientasi pasar menjadi “sangat rentan terhadap berbagai risiko gangguan, termasuk pemaksaan ekonomi.”

Pernyataan tersebut lebih lanjut menekankan bahwa mineral kritis merupakan “aset strategis yang sangat dibutuhkan” dalam ekonomi industri modern dan inovatif, dan memperbaiki mata rantai yang lemah dalam rantai pasokan sudah tidak dapat ditunda-tunda, hanya dengan membangun rantai pasokan yang terdiversifikasi, tangguh, dan berbasis pasar, keamanan ekonomi dan nasional secara keseluruhan dapat lebih terjamin.

Awalnya, rencana tersebut akan membahas dan mengkoordinasikan kebijakan perdagangan untuk mineral tertentu, seperti menetapkan mekanisme “harga minimum”, dan mengeksplorasi cara untuk memasukkannya ke dalam perjanjian pasokan multilateral yang melibatkan negara lain. 

Kedua pihak tidak menyebutkan mineral mana yang akan dikenakan “harga minimum,” tetapi Gedung Putih mencantumkan 13 proyek yang akan didukung oleh kedua pemerintah, termasuk daur ulang logam tanah jarang, nikel, galium, litium, dan proyek fluorit.

Kerja Sama Pertambangan Mineral Laut Dalam dan Teknologi Mutakhir

Kedua negara juga menandatangani Memorandum of Cooperation tentang kerja sama dalam eksploitasi mineral laut dalam, mempercepat penelitian dan pengembangan teknologi terkait. Fokus utama kerja sama ini adalah pengembangan lumpur tanah jarang di dekat Pulau Minamitorishima, Jepang, di mana sumber daya ini diyakini “cukup untuk memenuhi kebutuhan industri selama ratusan tahun.”

Di bidang sains dan antariksa, kedua negara juga akan memperdalam kerja sama dalam kecerdasan buatan (AI), komputasi kuantum, dan program pendaratan bulan Artemis, termasuk pengembangan kendaraan penjelajah bulan berawak buatan Jepang untuk para astronot.

Peningkatan Kapasitas Produksi Rudal demi Daya Deterensi Terhadap PKT dan Korea Utara

AS dan Jepang menegaskan bahwa mereka akan meningkatkan daya deterensi kolektif untuk memperkuat pertahanan negara. Sanae Takaichi berjanji untuk melipatgandakan produksi Rudal Standar-3 (SM-3 Blok IIA) buatan Jepang, dan menjajaki rencana untuk memproduksi bersama dengan AS Rudal Udara-ke-Udara Jarak Menengah Canggih (AMRAAM).

Kedua pihak juga menegaskan kembali komitmen mereka tentang pengerahan kemampuan yang canggih di wilayah Jepang untuk mencapai postur pertahanan yang kuat. Tahun ini, mereka akan mempertahankan koordinasi yang erat, dan akan terus melangkah maju berdasarkan keberhasilan AS menempatkan sistem rudal Typhon di daratan Jepang pada tahun 2025.

Mengenai situasi regional, kedua pemimpin menegaskan kembali pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan.

Pernyataan tersebut mencatat bahwa perdamaian di Selat Taiwan adalah “elemen yang sangat diperlukan untuk keamanan regional dan kemakmuran global,” dan menyatakan penentangan terhadap setiap upaya untuk mengubah status quo secara sepihak dengan kekerasan atau paksaan.

AS dan Jepang juga menegaskan kembali komitmen mereka terhadap denuklirisasi total Korea Utara dan memperkuat kemitraan AS-Jepang-Korea Selatan.

Trump Menanggapi Secara Humor “Serangan ke Iran Tanpa Memberi Tahu Sekutu” 

Pada akhir bulan lalu, militer AS meluncurkan “Operation Epic Fury” terhadap Iran yang sebelumnya tidak memberi tahu sekutunya seperti Jepang. Kepada media pada hari Kamis (19 Maret) selama kunjungan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, Trump dengan humoris memberi tanggapan yang merujuk pada serangan Pearl Harbor tahun 1941.

“Operation Epic Fury” yang dilancarkan oleh AS mulai 28 Februari telah berlangsung selama hampir tiga minggu. Baik Pentagon maupun Presiden Trump belum mengindikasikan kapan militer AS akan mengakhiri operasi tersebut. Pada hari pertama operasi, militer AS, bersama dengan pasukan Israel, melancarkan serangan udara mendadak terhadap Iran, menewaskan 49 orang pemimpin Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang sempat mengejutkan dunia.

Selama pertemuan di Ruang Oval pada hari Kamis, Presiden Trump dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi membahas perang dengan Iran. Ketika seorang jurnalis Jepang bertanya kepada presiden mengapa operasi tersebut tidak dikomunikasikan terlebih dahulu kepada Jepang dan sekutu Eropa sebelum serangan, Presiden Trump menjawab: “Salah satu alasannya adalah kami tidak ingin memberi musuh terlalu banyak peringatan. Anda tahu, ketika kami menyerang, pukulannya sangat kuat. Kami tidak memberi tahu siapa pun karena kami ingin terjadi di luar dugaan mereka.”

Secara bercanda Trump mengatakan: “Berbicara soal bertindak di luar dugaan, siapa yang lebih hebat daripada Jepang dalam memainkan trik ini? Mengapa kalian tidak memberi tahu saya sebelum menyerang Pearl Harbor?”

“Saya rasa kalian lebih percaya terhadap strategi serangan di luar dugaan daripada kami,” katanya. Kemudian Trump menambahkan: “Kami memang menciptakan serangan di luar dugaan. Oleh karena itu, kami mencapai hasil yang luar biasa, yang setara dengan 50% dari rencana, bahkan lebih dari yang diharapkan hanya dalam dua hari pertama serangan.” 

Serangan Pearl Harbor merujuk pada serangan militer Jepang terhadap pangkalan angkatan laut AS di Pearl Harbor, Hawaii pada 7 Desember 1941 yang menewaskan 2.390 orang warga Amerika Serikat. Keesokan harinya, Amerika Serikat menyatakan perang terhadap Jepang.

Iran Retak dari Dalam! Ghalibaf Serang Garda Revolusi, Tapi Justru ‘Diselamatkan’ AS

EtIndonesia. Di tengah eskalasi konflik besar yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, satu nama tiba-tiba muncul sebagai pusat perhatian: Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran.

Dalam perkembangan terbaru, Ghalibaf menunjukkan sikap yang dinilai sangat kontradiktif—bahkan oleh para analis internasional disebut memiliki “tiga wajah politik” yang berbeda, namun berjalan secara bersamaan.

Fenomena ini memunculkan satu pertanyaan besar: apakah ia sedang memainkan strategi bertahan, atau justru bersiap mengambil alih kekuasaan di tengah perang?


Tiga Wajah Ghalibaf: Keras, Marah, dan “Dipilih”

Pada 25 Maret 2026, di hadapan publik internasional, Ghalibaf tampil sebagai tokoh garis keras anti-Amerika. Ia secara terbuka mengancam bahwa negara-negara yang membeli obligasi Amerika Serikat dapat dianggap sebagai “target sah serangan”, serta menegaskan Iran tidak akan menerima gencatan senjata.

Namun di balik retorika keras tersebut, laporan dari media Israel Channel 14 mengungkap sisi berbeda. Dalam rapat internal, Ghalibaf justru meluapkan kemarahan kepada petinggi Garda Revolusi Iran:

“Kalian sudah mengambil semua uangnya, sampai tentara tidak bisa dibayar! Kembalikan uang hasil korupsi itu!”

Pernyataan ini menunjukkan adanya konflik serius di dalam tubuh kekuasaan Iran sendiri.

Lebih mengejutkan lagi, menurut laporan media Amerika yang mengutip dua pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump, Gedung Putih justru mempertimbangkan Ghalibaf sebagai calon pemimpin masa depan Iran.

Ia bahkan tidak dimasukkan dalam daftar target eliminasi militer oleh AS dan Israel—sebuah sinyal yang sangat tidak biasa di tengah perang aktif.


Strategi Tiga Peran: Bertahan, Menyerang, dan Bernegosiasi

Para analis menilai bahwa tiga “wajah” Ghalibaf bukanlah kebetulan, melainkan strategi politik yang sangat terukur:

  • Retorika anti-Amerika → untuk menjaga dukungan kelompok garis keras dalam negeri
  • Kritik terhadap Garda Revolusi → untuk merebut pengaruh saat militer sedang melemah akibat serangan
  • Pendekatan dengan AS (secara tidak langsung) → untuk membuka peluang kekuasaan di masa depan

Seorang pakar keamanan Israel bahkan menyampaikan analisis tajam: “Dia memang korup, tetapi justru itu yang membuatnya bisa diajak bertransaksi.”

Ironisnya, Ghalibaf sendiri tidak lepas dari tuduhan korupsi. Ia disebut memiliki sejumlah properti mewah di Istanbul dan pernah terlibat dalam skandal penjualan aset negara dengan harga murah kepada kroninya saat menjabat sebagai Wali Kota Teheran. Bahkan mantan wakilnya dijatuhi hukuman 30 tahun penjara dalam kasus korupsi bernilai miliaran dolar.


Iran Diam-Diam Membuka Jalur Negosiasi

Di tengah sikap keras di permukaan, sinyal berbeda muncul dari balik layar.

Pada 24–25 Maret 2026, sejumlah laporan mengungkap bahwa Iran melalui jalur rahasia telah menyampaikan pesan kepada pemerintahan Trump: mereka bersedia berunding—namun dengan syarat.

Iran menolak bernegosiasi dengan utusan seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner, dan justru meminta untuk berbicara langsung dengan Wakil Presiden AS, JD Vance, yang dinilai lebih condong pada upaya mengakhiri perang.

Menanggapi hal ini, Trump kemudian mengumumkan bahwa JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio akan dilibatkan dalam proses negosiasi.

Langkah ini menunjukkan bahwa kedua pihak mulai membuka ruang kompromi, meskipun secara publik masih mempertahankan posisi keras.

Namun, sebagian analis menilai langkah Iran ini juga bisa menjadi strategi untuk memecah belah internal pemerintahan AS.


Selat Hormuz: Medan Tempur Baru yang Lebih Berbahaya

Sementara diplomasi mulai bergerak, ketegangan justru meningkat di titik paling krusial: Selat Hormuz.

Pada akhir Maret 2026, analis geopolitik Pereira mengungkap fakta yang mengkhawatirkan:

  • Kapal tanker masih bisa melintas
  • Namun harus mendapat izin dari Garda Revolusi Iran
  • Setiap kapal membayar “biaya lewat” sebesar 2–4 juta dolar

Yang lebih mengejutkan, pembayaran ini tidak menggunakan dolar AS, melainkan yuan Tiongkok atau mata uang kripto.

Ini menandakan munculnya sistem pembayaran baru yang berpotensi melewati dominasi dolar.

Bahkan perusahaan asuransi global Lloyd’s of London mulai memasukkan “persetujuan Garda Revolusi” sebagai faktor dalam penentuan premi kapal—sebuah tanda bahwa kontrol Iran mulai diakui secara tidak langsung dalam sistem global.

Jika tren ini berlanjut, maka fondasi dominasi dolar dalam perdagangan minyak dunia sejak tahun 1974 berpotensi mulai runtuh.


Respons Militer AS: Pasukan Elite Dikerahkan

Sebagai respons, Pentagon pada 25 Maret 2026 mengerahkan sekitar 2.000 pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke Timur Tengah.

Pasukan ini dikenal sebagai unit elite yang biasa digunakan untuk operasi cepat dalam merebut kendali wilayah strategis.

Pesan dari langkah ini jelas:  selama Selat Hormuz belum berada di bawah kendali AS, konflik ini belum akan berakhir.


Iran Semakin Terisolasi di Panggung Internasional

Dalam waktu bersamaan, posisi Iran di dunia internasional semakin terjepit.

  • Arab Saudi meninggalkan netralitas dan mendukung langkah militer AS
  • Putra Mahkota Mohammed bin Salman bahkan membuka kemungkinan operasi bersama dengan Uni Emirat Arab
  • Saudi juga menekan Pakistan untuk ikut serta, dengan ancaman pembayaran utang sebesar 6,3 miliar dolar

Pukulan paling mengejutkan datang dari Lebanon, yang selama ini dikenal sebagai sekutu Iran.

Pemerintah Lebanon secara resmi menyatakan duta besar Iran sebagai persona non grata dan memerintahkan untuk meninggalkan negara tersebut.

Sementara itu, Israel memperluas operasi militernya dengan memerintahkan penguasaan wilayah selatan Lebanon hingga Sungai Litani sejauh 30 kilometer sebagai zona penyangga.


Kesimpulan: Perang yang Ditentukan dari Dalam

Hingga 25 Maret 2026, dalam waktu kurang dari sebulan sejak konflik meningkat tajam, Iran menghadapi situasi yang semakin kompleks:

  • Kapasitas militer terpukul
  • Sekutu regional mulai meninggalkan
  • Jalur ekonomi terancam
  • Dan konflik internal semakin terbuka

Di tengah semua itu, sosok seperti Ghalibaf muncul sebagai simbol dari perubahan arah kekuasaan.

Perang ini mungkin tidak akan ditentukan hanya di medan tempur—  tetapi juga oleh siapa yang berhasil mengendalikan kekuasaan dari dalam Iran sendiri. (***)

Mimpi Buruk 6 Tahun Lalu Terulang, Hujan Lebat Hantam Mesir, Kairo Terendam Parah

Mesir pada 25 Maret dilanda cuaca buruk. Hujan deras menyebabkan banyak wilayah di Kairo tergenang air, sehingga sangat mengganggu aktivitas dan mobilitas warga. Menurut badan meteorologi Mesir, kondisi atmosfer masih tidak stabil dalam satu hari ke depan, dan beberapa wilayah berpotensi mengalami badai petir, hujan lebat sesekali, serta angin kencang.

EtIndonesia. Media Mesir Al Ahram melaporkan bahwa hujan deras yang datang tiba-tiba dengan cepat membanjiri jalan-jalan di berbagai daerah di Mesir. Hujan ini membuat banyak warga tidak dapat keluar rumah dan sangat mengganggu kehidupan sehari-hari.

Di kawasan permukiman dan komersial kelas atas di New Cairo, “Tagamoa”, jalan-jalan mengalami genangan air parah hingga roda kendaraan terendam. Suhu terendah di wilayah Kairo juga turun hingga 11°C, sementara rata-rata suhu terendah pada periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya berkisar antara 13 hingga 15°C.

Selain itu, di kota Alexandria, sebuah bangunan runtuh akibat hujan deras, menyebabkan seorang wanita meninggal di tempat.

Akibat cuaca buruk berupa hujan lebat dan angin kencang, badan meteorologi Mesir mengumumkan penangguhan kegiatan belajar di semua tingkat sekolah di seluruh negeri pada tanggal 25 dan 26 Maret.

Badan meteorologi memperkirakan bahwa cuaca dingin dan lembap ini akan berlanjut hingga 26 Maret, dengan kemungkinan badai petir tambahan yang akan melanda wilayah pesisir Laut Mediterania di utara Mesir, lalu meluas ke Delta Nil dan Kairo.

Seorang jurnalis dari kantor berita di Kairo juga menyebutkan bahwa pada 12 Maret 2020, ia mengalami peristiwa serupa, ketika sistem tekanan rendah Mediterania yang tidak biasa aktif menyebabkan hujan deras selama tiga hari berturut-turut, dengan curah hujan harian maksimum mencapai 67 mm. 

Menurut data dari situs cuaca Belanda Bestereistijd, total curah hujan di Kairo pada Maret 2020 mencapai 208 mm—sekitar delapan kali lipat dari rata-rata curah hujan tahunan kota. (Hui)

Tidak Terduga! Feri di Bangladesh Menabrak Jembatan Apung, Bus Jatuh ke Sungai Tewaskan 18 Orang

EtIndonesia. Sebuah kecelakaan terjadi di wilayah tengah Bangladesh pada Rabu (25 Maret) sore. Sebuah feri kecil bernama “Hasna Hena” menabrak keras jembatan apung saat hendak merapat ke dermaga, menyebabkan sebuah bus yang sedang berhenti di atas jembatan kehilangan kendali dan jatuh ke perairan dalam. Insiden ini menewaskan sedikitnya 18 orang, sementara banyak lainnya terjebak di dalam bus. Operasi pencarian dan penyelamatan besar-besaran masih berlangsung.

Sekitar pukul 17.15 waktu setempat, di dermaga feri wilayah Rajbari, sebuah bus yang membawa sekitar 40 penumpang sedang menunggu giliran di jembatan apung nomor 3 ketika tiba-tiba ditabrak keras oleh feri dan terjatuh ke Sungai Padma.

Saksi mata mengatakan bahwa bus tersebut terbalik dan tenggelam ke sungai dalam hitungan detik di depan banyak orang, sehingga tidak ada waktu untuk bereaksi.

Setelah menerima laporan, tim penyelamat segera menutup lokasi kejadian. Militer, penjaga pantai, dan pemadam kebakaran langsung dikerahkan untuk melakukan operasi penyelamatan dan pencarian.

Kecelakaan ini menyebabkan 18 orang meninggal dunia, termasuk 7 perempuan dan 2 anak-anak, sementara 11 orang lainnya masih hilang. Pihak berwenang memperkirakan jumlah korban tewas bisa terus bertambah seiring berjalannya operasi pencarian.

Bus yang tenggelam ke sungai dengan kedalaman sekitar 20 meter berhasil diangkat setelah 5 jam.

Petugas pemadam kebakaran setempat menjelaskan bahwa sebagian besar korban ditemukan terjebak di dalam bus yang berhasil diangkat tersebut.

Pihak medis melaporkan bahwa dua perempuan pertama yang dibawa ke pusat kesehatan setempat sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan saat tiba. Hingga saat ini, tim penyelamat telah mengevakuasi total 18 jenazah.

Diketahui bahwa proses penyelamatan sempat terhambat oleh cuaca buruk. Kapal penyelamat profesional “Hamza” memang telah tiba di lokasi, namun arus yang kuat dan kondisi cuaca yang tidak stabil membuat proses pengangkatan bus serta pencarian korban hilang menjadi semakin sulit. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Risiko Warga Taiwan ke Daratan Tiongkok Meningkat Tajam, 313 Orang Hilang Kontak atau Ditahan

Hubungan lintas Selat Taiwan terus tegang. Menurut pemberitahuan resmi pemerintah Taiwan, secara kumulatif terdapat 313 warga Taiwan yang hilang kontak atau ditahan setelah memasuki Tiongkok daratan. Pada Februari tahun ini saja, jumlahnya bertambah 17 orang. Pemerintah mengingatkan masyarakat untuk mempertimbangkan risiko sebelum bepergian ke Tiongkok.

EtIndonesia. Berdasarkan statistik terbaru dari Mainland Affairs Council, hingga 28 Februari, jumlah warga Taiwan yang hilang kontak, ditahan untuk pemeriksaan, atau diduga dibatasi kebebasan pribadinya oleh otoritas Tiongkok mencapai 313 orang.

Rinciannya:

  • 114 orang hilang kontak
  • 25 orang ditahan untuk pemeriksaan
  • 174 orang mengalami pembatasan kebebasan pribadi

Menurut data, pada tahun 2024 terdapat 55 warga Taiwan yang hilang atau ditangkap di Tiongkok. Pada tahun 2025 jumlahnya meningkat empat kali lipat menjadi 221 orang. Sementara pada Januari hingga Februari tahun ini, bertambah lagi 37 orang.

Pihak Mainland Affairs Council menyatakan bahwa kemungkinan masih banyak kasus hilang kontak yang belum dilaporkan kepada pemerintah.

Seorang pejabat Taiwan yang mengetahui situasi tersebut mengungkapkan bahwa setiap bulan jumlah warga Taiwan yang hilang atau ditahan di Tiongkok terus meningkat. Pada Februari saja bertambah 17 orang, sekitar setengahnya tidak diketahui keberadaannya, sementara sebagian lainnya ditahan, namun keluarga mereka tidak ingin kasus tersebut dipublikasikan.

Dalam beberapa tahun terakhir, otoritas Tiongkok terus memperbarui dan memperketat undang-undang keamanan nasional. Ditambah dengan kurangnya transparansi dalam proses hukum serta perluasan yurisdiksi secara sewenang-wenang, hal ini dinilai serius mengancam keselamatan pribadi warga Taiwan yang bepergian ke Tiongkok, Hong Kong, dan Makau. Kasus warga Taiwan yang hilang atau ditangkap setelah pergi ke Tiongkok pun semakin sering terjadi.

Pejabat tersebut juga menyebutkan bahwa dalam laporan kerja bulan Maret oleh “dua lembaga tinggi” Tiongkok (Mahkamah Agung dan Kejaksaan Agung), seorang kepala redaksi penerbitan budaya, Fu Cha, yang dituduh melakukan “pemisahan negara” dan “merusak persatuan nasional”, sebelumnya juga ditangkap secara sewenang-wenang, ditahan, dan diadili secara rahasia setelah pergi ke Tiongkok.

Pejabat itu menambahkan bahwa Partai Komunis Tiongkok bersifat ateis, namun juga memanfaatkan organisasi keagamaan untuk melakukan upaya pengaruh politik terhadap Taiwan. Ia mengingatkan warga Taiwan agar dengan cermat menilai berbagai risiko sebelum bepergian ke Tiongkok. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

AS Dakwa 2 Perusahaan Tiongkok dan 6 Warga Negara Tiongkok, Terkait Perdagangan Prekursor Fentanil dan Penyelundupan

EtIndonesia. Departemen Kehakiman Amerika Serikat pada Selasa (24 Maret) mengumumkan bahwa dewan juri federal di Dayton, Ohio, secara resmi mendakwa dua perusahaan farmasi asal Tiongkok dan enam warga negara Tiongkok. Mereka dituduh terlibat dalam produksi dan penjualan bahan kimia prekursor fentanyl, serta bersekutu dengan kartel narkoba Meksiko untuk menyelundupkannya ke Amerika Serikat. 

Perusahaan farmasi Tiongkok yang didakwa adalah Shandong Believe Chemical dan Shandong Ranhang Biotechnology. Sementara enam individu yang didakwa meliputi: Zhao Hansen (Hanson Zhao), Gao Yanpeng, Xia Yi, Zhang Jian, Wang Zhuolan, dan Zhang Chunhai.

Reporter NTD melaporkan:  “Menurut dakwaan, perusahaan-perusahaan farmasi Tiongkok ini, melalui keenam terdakwa tersebut, sejak 2025 hingga 2026 secara terbuka mencari pelanggan internasional dan menjual bahan kimia prekursor yang digunakan untuk memproduksi fentanil yang kemudian dikirim ke Amerika Serikat.”

Dakwaan ini merupakan bagian dari operasi yang disebut “Operation Box Cutter” (Operasi Pisau Cutter). Operasi ini dipimpin oleh Federal Bureau of Investigation (FBI) dan melibatkan berbagai lembaga dalam upaya penegakan hukum internasional. 

Tujuan operasi FBI adalah untuk menargetkan mata rantai penting dalam rantai pasokan global fentanil, khususnya jaringan yang terkait dengan produksi bahan kimia prekursor dan penyelundupan lintas negara.

Direktur FBI, Kash Patel, pada Rabu (25 Maret) menyatakan di platform X:  “Presiden Trump memilih untuk menghadapi langsung krisis fentanil—dengan melakukan negosiasi langsung dengan Tiongkok untuk memutus aliran narkoba.” Ia menambahkan bahwa dakwaan ini memiliki makna bersejarah.

Laporan oleh reporter NTD, Meng Yu dan Shang Jing dari New York.

Rusia Gencarkan Serangan Musim Semi, Ukraina Membalas dan Tembus Garis Belakang

EtIndonesia. Perang Rusia-Ukraina kembali memanas seiring dengan membaiknya cuaca. Pada Rabu (25 Maret), pasukan Rusia melancarkan gelombang baru ofensif musim semi yang menargetkan kota-kota dalam “sabuk benteng” pertahanan Ukraina. Namun, pasukan Ukraina tidak tinggal diam—mereka tidak hanya berhasil menembus beberapa garis depan dan merebut kembali wilayah, tetapi juga menyerang jauh ke belakang garis musuh, menghantam jalur logistik dan gudang amunisi Rusia.

Pada  Rabu, kota terbesar kedua di Ukraina, Kharkiv, diserang drone Rusia, menyebabkan sembilan orang terluka.

Seorang anggota keluarga korban, Sharamova, mengatakan:  “Kami sangat terkejut, karena rumah kami hancur dan mengalami kerusakan parah.”

Dalam 48 jam terakhir, Rusia meluncurkan hampir seribu drone dan berbagai jenis rudal ke seluruh wilayah Ukraina. Di kota barat Lviv, Gereja Santo Andreas yang bersejarah terkena serangan dan terbakar hebat.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyatakan:  “Skala serangan ini dengan jelas menunjukkan bahwa Rusia sama sekali tidak memiliki niat nyata untuk mengakhiri perang ini.”

Militer Ukraina menyebutkan bahwa serangan besar-besaran ini terjadi bersamaan dengan dimulainya ofensif musim semi baru Rusia di wilayah timur Ukraina. Memanfaatkan cuaca yang lebih hangat, Rusia meningkatkan serangan terhadap “sabuk benteng” pertahanan Ukraina, berusaha mengepung kota strategis Pokrovsk dengan menggunakan bom luncur berat dan pasukan lapis baja.

Secara keseluruhan, Rusia saat ini menerapkan taktik tekanan multi-front, mencoba menggoyahkan beberapa garis pertahanan sekaligus.

Sementara itu, pasukan Ukraina berhasil mencapai terobosan terbatas di arah selatan, tepatnya di wilayah Zaporizhzhia, dan dilaporkan telah merebut kembali sekitar 400 kilometer persegi wilayah di beberapa zona pertempuran.

Seiring dengan perkembangan konflik di Iran belakangan ini, upaya perundingan antara Amerika Serikat, Rusia, dan Ukraina tampaknya mengalami kebuntuan. 

Para pengamat memperkirakan bahwa dalam jangka pendek, perang Rusia-Ukraina kemungkinan akan terus berlangsung dalam kondisi buntu tanpa perubahan yang menentukan.

Laporan disusun oleh reporter NTD, Yi Jing.

Persaingan di Selat Hormuz Meningkat, Mengungkap Kontradiksi Strategis di Internal Partai Komunis Tiongkok 

EtIndonesia. Di tengah memanasnya situasi di Timur Tengah, persaingan geopolitik di sekitar Selat Hormuz kembali meningkat. Sejumlah analis menyebut bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama ini menerapkan strategi “mencari keuntungan tanpa menanggung tanggung jawab” melalui keterlibatan selektif di kawasan tersebut. 

Di satu sisi, mereka bergantung pada sistem keamanan yang sudah ada untuk memperoleh keuntungan, sementara di sisi lain menghindari tanggung jawab yang seharusnya ditanggung. Namun, seiring meningkatnya konflik, pendekatan ini kini menghadapi tekanan dan ujian nyata.

Direktur Pusat Studi Asia Selatan dan Indo-Pasifik di Stockholm, Jagannath Panda, dalam tulisannya di media The Diplomat, menyatakan bahwa sikap “netral” Beijing dalam krisis ini sebenarnya adalah strategi yang diperhitungkan secara matang, yakni tetap memperoleh keuntungan ekonomi tanpa harus memikul tanggung jawab keamanan.

Artikel tersebut menilai bahwa PKT tidak ikut serta dalam operasi keamanan maritim maupun menawarkan solusi alternatif, tetapi tetap lama bergantung pada jalur ini untuk memperoleh energi dan keuntungan perdagangan. Hal ini menciptakan kontradiksi: “mengambil manfaat sendiri, sementara risiko ditanggung pihak lain.”

 “PKT tidak pernah berani menyatakan seberapa besar kepentingannya di Selat Hormuz. Yang mereka lakukan hanyalah menyalahkan Amerika Serikat, sementara bagian yang paling penting justru tidak berani mereka jawab,” kata pakar masalah Tiongkok, Li Linyi. 

Analisis lain juga menunjukkan bahwa PKT bukan sekadar “penumpang gratis.” Selain membeli minyak Iran dengan harga diskon dalam jumlah besar dan menggunakan yuan untuk mendukung perekonomian, PKT juga diduga memberikan dukungan dalam bidang teknologi dan intelijen, ini berarti telah terlibat secara mendalam dalam situasi regional di Selat Hormuz.

 “Kita melihat Iran melakukan pengeboman besar-besaran terhadap Israel. Iran tidak mungkin menggunakan sistem GPS milik Amerika Serikat, sehingga kemungkinan besar mereka menggunakan sistem BeiDou dari Tiongkok dan GLONASS dari Rusia. Saya kira semua itu disediakan oleh PKT,” kata profesor ekonomi dari Aiken School of Business, University of South Carolina, Xie Tian. 

Analisis menyebutkan bahwa meskipun PKT secara terbuka menyerukan dialog dan negosiasi, pada kenyataannya mereka mendukung Iran untuk menahan Amerika Serikat dan Israel, sehingga membuat AS terus menguras sumber daya strategisnya di Timur Tengah, dan dari situ memperoleh keuntungan geopolitik.

 “PKT tentu bersedia mendukung pihak yang bisa membuat Amerika Serikat terpecah perhatian dan kelelahan di panggung internasional. Dengan begitu, tekanan terhadap PKT dapat berkurang. Ini merupakan strategi nasional mereka,” ujar Xie Tian.

Hal  yang mesti diperhatikan adalah, seiring Amerika Serikat mengalihkan sumber daya militernya ke Timur Tengah, muncul potensi kekosongan pertahanan di kawasan Asia. Para ahli memperingatkan bahwa PKT mungkin akan melihat ini sebagai peluang strategis untuk memperluas pengaruhnya di kawasan Teluk. (Hui)

Laporan oleh reporter NTD, Yixin dan Qiu Yue.

Trump : Iran Sedang Bernegosiasi tapi Tak Berani Mengaku, Pemimpinnya Takut Dibunuh oleh “Orang Sendiri”

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa Iran sebenarnya sedang terlibat dalam perundingan, namun beberapa pejabat Iran tidak berani mengakuinya secara terbuka karena takut dibunuh oleh “orang sendiri”.

Trump menyampaikan pernyataan tersebut pada Rabu (25 Maret) malam dalam acara makan malam penggalangan dana Komite Kongres Nasional Partai Republik (NRCC). Ia mengatakan bahwa sejumlah pejabat Iran tengah berupaya mencapai kesepakatan dengan pihak AS secepat mungkin untuk mengakhiri konflik.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa saat ini “tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung antara AS dan Iran”. Ia juga mengatakan bahwa Washington hanya menyampaikan pesan melalui berbagai perantara, dan pertukaran pesan tersebut tidak bisa dianggap sebagai negosiasi resmi.

Menanggapi hal itu, Trump mengatakan bahwa meskipun Teheran menunjukkan sikap keras di hadapan publik, sikap sejumlah pejabatnya secara diam-diam telah berubah. Namun, mereka takut jika menunjukkan kelemahan secara terbuka akan menghadapi pembalasan dari kelompok garis keras.

 “Mereka sedang bernegosiasi, dan mereka sangat ingin mencapai kesepakatan. Tetapi mereka takut mengakuinya, karena mereka merasa bisa dibunuh oleh rakyat mereka sendiri,” katanya. 

 “Mereka juga takut akan dibunuh oleh kami.” Menurut Trump, para pejabat Iran yang ingin bernegosiasi tidak hanya takut dihukum oleh kelompok keras di dalam negeri, tetapi juga khawatir menjadi target serangan “pemenggalan” oleh Amerika Serikat dan Israel.
“Mereka sangat takut, takut akan dibunuh oleh kami. Tidak ada pemimpin negara yang lebih tidak ingin menjalankan pekerjaannya selain pemimpin Iran,” ujar Trump.

Pada hari pertama serangan udara gabungan AS dan Israel terhadap Iran (28 Februari), dilaporkan bahwa pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, bersama puluhan pejabat inti telah tewas. Saat ini, serangan militer AS terhadap Iran masih terus berlanjut.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada 25 Maret mengkonfirmasi bahwa dialog antara AS dan Iran terus berlangsung dan bersifat “konstruktif”.

Ia menekankan bahwa Presiden Trump dalam tiga hari terakhir terus berupaya mencari jalan untuk mengakhiri konflik, namun juga memberikan peringatan keras:  “Presiden Trump tidak sedang menggertak. Ia siap melepaskan serangan dahsyat (‘unleash hell’). Iran tidak boleh salah perhitungan lagi.” (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Mantan Wali Kota Taipei Ko Wen-je Dijatuhi Hukuman 17 Tahun Penjara pada Putusan Tingkat Pertama, Dicabut Hak Politik Selama 6 Tahun

EtIndonesia. Pada Kamis (26 Maret), mantan ketua Taiwan People’s Party sekaligus mantan Wali Kota Taipei, Ko Wen-je, dijatuhi vonis dalam kasus yang melibatkan proyek Jinghua City dan dugaan penggelapan dana politik. Ia dijatuhi hukuman total 17 tahun penjara serta pencabutan hak politik selama 6 tahun. Putusan ini masih dapat diajukan banding.

Menurut laporan Central News Agency, Taipei District Court mengadili empat kasus utama, termasuk kasus bonus koefisien lantai (FAR) proyek Jinghua City dan kasus dana politik Partai Rakyat Taiwan, dan mengumumkan putusan tingkat pertama pada sore harinya. 

Pengadilan memutuskan bahwa dalam kasus korupsi, Ko Wen-je dijatuhi hukuman 13 tahun penjara dan pencabutan hak politik selama 6 tahun. Untuk penggelapan dana politik publik, ia masing-masing dijatuhi hukuman 2 tahun dan 3 tahun 6 bulan. 

Dalam kasus penyalahgunaan dana yayasan Zhongwang untuk membayar gaji staf kampanye, ia dijatuhi hukuman 2 tahun. Setelah digabungkan, total hukuman yang harus dijalani adalah 17 tahun penjara dan pencabutan hak politik selama 6 tahun.

Menurut dakwaan dari Taipei District Prosecutors Office, pada 26 Desember 2024, Ko Wen-je didakwa bersama 10 orang lainnya, termasuk ketua grup Weijing, Shen Qingjing, anggota dewan kota Taipei dari Kuomintang, Ying Hsiao-wei, serta mantan kepala kantor Wali Kota Taipei, Li Wenzong. Mereka didakwa atas berbagai tuduhan seperti menerima suap, penyalahgunaan jabatan, penggelapan dana publik, dan pelanggaran kepercayaan. Jaksa sebelumnya menuntut Ko Wen-je dengan total hukuman 28 tahun 6 bulan penjara.

Dalam putusan hari ini:

  • Shen Qingjing dijatuhi hukuman 10 tahun penjara
  • Ying Hsiao-wei dijatuhi hukuman 15 tahun 6 bulan
  • Li Wenzong dijatuhi hukuman 4 tahun 6 bulan
  • Mantan Wakil Wali Kota Taipei, Peng Zhensheng, dijatuhi hukuman 2 tahun, pencabutan hak politik 1 tahun, dengan masa percobaan 3 tahun
  • Mantan Kepala Dinas Pembangunan Kota Taipei, Huang Jingmao, dijatuhi hukuman 6 tahun 6 bulan dan pencabutan hak politik 3 tahun
  • Mantan Sekretaris Eksekutif Komite Perencanaan Kota Taipei, Shao Xiupie, dijatuhi hukuman 1 tahun 3 bulan, pencabutan hak politik 1 tahun, dengan masa percobaan 3 tahun
  • Akuntan Duanmu Zheng dijatuhi hukuman 1 tahun
  • Penanggung jawab perusahaan Muke serta adik Li Wenzong, Li Wenjuan, dijatuhi hukuman 2 tahun 4 bulan

Sementara itu, pengawas Jinghua City, Zhang Zhicheng, dan penasihat anggota dewan kota Taipei, Wu Shunmin, dinyatakan tidak bersalah.

Menurut dakwaan jaksa, kasus ini terbagi menjadi empat bagian utama, yaitu:

  1. Kasus pemberian bonus koefisien lantai (FAR) ilegal proyek Jinghua City
  2. Kasus penggelapan dana politik publik
  3. Kasus penyalahgunaan dana Yayasan Zhongwang untuk membayar staf kampanye
  4. Kasus pelaporan tidak benar terkait rekening khusus dana politik Ko Wen-je

Ko Wen-je hanya terlibat dalam tiga kasus pertama.

Setelah lebih dari setahun persidangan, Taipei District Court akhirnya menjatuhkan putusan. Para terdakwa termasuk Ko Wen-je, Ying Hsiao-wei, Shen Qingjing, Li Wenzong, Li Wenjuan, Huang Jingmao, dan Zhang Zhicheng semuanya hadir di pengadilan.

Di luar gedung pengadilan, para pendukung Partai Rakyat Taiwan berkumpul untuk memberikan dukungan. (Hui)

Iran Dibombardir 50 Target dalam Semalam! 9.000 Serangan Diluncurkan, Tapi Diam-Diam Minta Damai?

EtIndonesia. Situasi di Timur Tengah memasuki fase yang sangat menentukan setelah rangkaian serangan besar mengguncang Iran dalam satu malam. Ledakan terdengar bertubi-tubi di berbagai wilayah strategis, menandai salah satu operasi militer paling intens sejak konflik ini memanas.

Pemerintah Israel secara resmi mengonfirmasi bahwa dalam operasi pada 24 Maret 2026, lebih dari 50 target militer di wilayah Iran telah diserang hanya dalam satu malam. Sasaran utama mencakup fasilitas rudal dan infrastruktur militer penting yang selama ini menjadi tulang punggung pertahanan strategis Teheran. Dampaknya, sejumlah lokasi dilaporkan mengalami kerusakan parah hingga melumpuhkan kemampuan operasionalnya.

Di saat yang sama, Amerika Serikat meningkatkan skala operasi secara signifikan. Berdasarkan laporan sejumlah media Amerika, termasuk The Wall Street Journal, militer AS telah meluncurkan hingga 9.000 sorti serangan, menunjukkan eskalasi besar dalam keterlibatan langsung Washington dalam konflik ini.


Pengerahan Pasukan Elit AS ke Timur Tengah

Masih pada 24 Maret 2026, Pentagon dilaporkan tengah mempersiapkan langkah lanjutan berupa pengerahan pasukan darat. Sekitar 3.000 prajurit dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat AS direncanakan akan diterbangkan ke Timur Tengah.

Pasukan elit ini akan diangkut menggunakan pesawat angkut berat C-17A Globemaster III, sebuah indikasi kuat bahwa Washington tidak hanya mengandalkan serangan udara, tetapi juga mulai membuka opsi operasi darat jika situasi terus memburuk.

Langkah ini memperlihatkan bahwa konflik telah bergerak dari sekadar tekanan militer menjadi potensi operasi skala penuh.


Paradoks Iran: Dibombardir, Tapi Mengirim Sinyal Damai

Di tengah tekanan militer yang meningkat drastis, Iran justru menunjukkan sikap yang bertolak belakang. Pada saat yang sama dengan gelombang serangan, Teheran dilaporkan mulai mengirimkan sinyal kesiapan untuk bernegosiasi.

Momentum ini bertepatan dengan batas waktu lima hari yang sebelumnya ditetapkan oleh Presiden Donald Trump bagi Iran untuk membuka jalur diplomasi.

Menurut laporan media Israel, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara diam-diam telah menghubungi utusan khusus Amerika, Steve Witkoff, menyampaikan bahwa pemimpin tertinggi Iran saat ini, Mojtaba Khamenei, telah menyetujui dimulainya perundingan.

Lebih lanjut, pembicaraan tersebut disebut-sebut kemungkinan akan digelar di Pakistan, menandakan adanya jalur komunikasi rahasia yang mulai aktif di tengah konflik terbuka.


Batas Waktu Konflik: 9 April dan Tekanan Selat Hormuz

Sumber pejabat Israel mengungkapkan bahwa Gedung Putih telah menetapkan 9 April 2026 sebagai target batas waktu untuk mengakhiri konflik ini.

Selain itu, tekanan terhadap Iran juga difokuskan pada jalur energi global. Presiden Trump menetapkan 27 Maret 2026 sebagai batas akhir bagi Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi distribusi minyak dunia.

Trump menyatakan bahwa proses negosiasi berjalan “sangat baik” dan bahkan mengklaim bahwa Iran telah menunjukkan niat untuk berdamai, termasuk komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Ia menggambarkan situasi ini sebagai momen di mana “cahaya harapan mulai terlihat” di tengah konflik yang semakin kompleks.


Peringatan Mossad: Tiongkok dan Rusia Disorot

Di sisi lain, ketegangan geopolitik semakin meluas. Surat kabar The Jerusalem Post pada 24 Maret 2026 menerbitkan laporan yang menyatakan bahwa meskipun Israel berhasil melemahkan kekuatan militer Iran, ada kekhawatiran bahwa pemulihan cepat dapat terjadi dengan bantuan eksternal.

Laporan tersebut menyoroti peran Partai Komunis Tiongkok (PKT) sebagai pihak yang diduga membantu Iran membangun kembali kapasitas militernya.

Kepala Mossad, David Barnea, secara terbuka memperingatkan Tiongkok dan Rusia agar tidak ikut campur membantu Iran. Pernyataan ini dinilai sebagai pesan strategis yang tidak hanya ditujukan kepada Teheran, tetapi juga kepada kekuatan global lain yang berpotensi memperpanjang konflik.

Di dalam negeri Israel sendiri, reaksi publik terhadap isu ini sangat keras. Sejumlah komentar bahkan menyerukan langkah ekstrem, termasuk opsi strategis terhadap Taiwan, sebagai bentuk tekanan terhadap Tiongkok.


Konflik Meluas: Negara Teluk Mulai Bersiap

Tekanan terhadap Iran kini tidak lagi hanya datang dari AS dan Israel. Menurut laporan Bloomberg, serangan Iran yang berdampak ke pelabuhan, fasilitas energi, dan bandara negara-negara tetangga telah memicu kekhawatiran regional.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dilaporkan mulai mempertimbangkan kemungkinan untuk ikut terlibat dalam operasi militer melawan Iran, yang berpotensi memperluas konflik menjadi perang regional terbuka.


Target Strategis: Pulau Khark dan Selat Hormuz

Mantan utusan Presiden Trump, Letnan Jenderal purnawirawan Keith Kellogg, mengusulkan langkah agresif berupa pengerahan pasukan darat untuk merebut Pulau Khark—pusat ekspor minyak utama Iran—dan mengendalikan Selat Hormuz.

Strategi ini dinilai dapat memutus jalur ekonomi vital Iran sekaligus menghilangkan kemampuan Teheran dalam mempengaruhi pasar energi global.


Serangan ke Bushehr dan Tewasnya Jenderal Iran

Pada malam hari 24 Maret 2026 sekitar pukul 21.08 waktu setempat, fasilitas penting Iran kembali menjadi sasaran. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr dilaporkan diserang oleh gabungan kekuatan AS dan Israel.

Tak hanya itu, pukulan juga terjadi di tingkat komando militer. Seorang pejabat tinggi Iran, Brigadir Jenderal Afshin Naqshbandi dilaporkan tewas dalam serangan di Teheran.

Naqshbandi dikenal sebagai penghubung utama antara Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran dengan milisi Basij, serta memiliki kedekatan dengan lingkaran kekuasaan Mojtaba Khamenei. Kehilangan ini dipandang sebagai pukulan serius terhadap struktur komando Iran.


Situasi di Teheran: Ketakutan dan Kekosongan Keamanan

Di dalam negeri, kondisi keamanan Iran menunjukkan tanda-tanda melemah. Ketakutan terhadap serangan drone membuat banyak pos pemeriksaan di Teheran tidak lagi dijaga secara aktif.

Milisi yang sebelumnya bertugas di jalan-jalan dilaporkan memilih bersembunyi atau melarikan diri demi menyelamatkan diri. Situasi ini menciptakan kekosongan keamanan di ibu kota dan memperlihatkan tekanan psikologis yang semakin besar di dalam negeri Iran.


Kesimpulan: Perang dan Damai Berjalan Bersamaan

Perkembangan pada 24 Maret 2026 menunjukkan satu hal yang sangat jelas: konflik ini telah memasuki fase paling kompleks.

Di satu sisi, operasi militer terus meningkat dengan intensitas tinggi. Namun di sisi lain, jalur diplomasi diam-diam mulai terbuka.

Dunia kini menyaksikan sebuah paradoks:
perang besar yang berjalan berdampingan dengan upaya damai yang tersembunyi.

Pertanyaannya bukan lagi apakah konflik ini akan berakhir, tetapi siapa yang akan menentukan bentuk akhir dari tatanan baru di Timur Tengah—dan bahkan dunia. (***)

Damai di Mulut, Perang di Udara : Iran Ganti Jenderal, AS Siapkan Pukulan Terakhir!

EtIndonesia. Situasi perang di Timur Tengah kini memasuki fase paling membingungkan sekaligus berbahaya. Dalam sehari, sinyal perdamaian dan eskalasi militer muncul bersamaan—menciptakan ketidakpastian yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pada 24 Maret 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka mengungkapkan bahwa para pejabat Iran berada dalam kondisi terdesak.

Ia bahkan menyebut mereka telah “berlutut sambil menangis memohon belas kasihan” demi mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat.

Namun yang terjadi setelah itu justru berlawanan arah.


Teheran Berbalik Arah: Tokoh Pro-Negosiasi Dicopot

Tak lama setelah pernyataan Trump, pemerintah Iran justru mengambil langkah keras yang mengejutkan.

Kelompok yang sebelumnya dianggap pro-negosiasi dicopot dari lingkaran kekuasaan, dan digantikan oleh figur militer garis keras dari Garda Revolusi, yaitu Baqher Zolghadr.

Langkah ini memunculkan pertanyaan besar di kalangan analis internasional:

Apakah Iran benar-benar ingin berdamai, atau justru sedang bersiap untuk perang yang lebih besar?

Menanggapi berbagai spekulasi tersebut, Trump memberikan jawaban yang sangat dingin kepada wartawan:

“Saya tidak percaya siapa pun.”


Serangan Udara Dimulai: B-52 AS Menggempur Iran

Pada hari yang sama, 24 Maret 2026, perkembangan militer meningkat drastis.

Pembom strategis B-52 milik Angkatan Udara AS dilaporkan lepas landas dari Pangkalan RAF Fairford di Inggris, dan langsung melancarkan serangan udara ke wilayah Iran.

Pesawat ini membawa hingga 24 bom penghancur bunker berbobot 2.000 pon, yang dirancang khusus untuk menembus target bawah tanah.

Sasaran utama serangan meliputi:

  • Fasilitas rudal bawah tanah
  • Pusat komando militer
  • Instalasi strategis yang tertanam dalam

Serangan gabungan AS-Israel bahkan disebut sebagai upaya untuk “menggali hingga ke jantung pertahanan Iran”, dengan tujuan menghancurkan sepenuhnya infrastruktur militer bawah tanah.

Kehadiran B-52 sendiri memiliki makna strategis besar.

Pesawat ini bukan pesawat siluman, sehingga biasanya hanya digunakan ketika:

  • Pertahanan udara lawan telah dilemahkan
  • Superioritas udara telah dikuasai

Analis militer menilai bahwa kemunculan B-52 menjadi indikasi kuat bahwa sistem pertahanan udara Iran—termasuk S-300 dan S-400—kemungkinan besar telah dilumpuhkan.


Dominasi Udara AS: Iran Kehilangan Pertahanan

Menurut pengamatan militer, sebelum B-52 dikerahkan, pesawat tempur canggih seperti:

  • F-22 Raptor
  • F-35 Lightning II

telah lebih dulu membersihkan ancaman udara.

Hal ini membuka jalan bagi pembom berat untuk beroperasi secara bebas di wilayah Iran.

B-52 sendiri memiliki kemampuan:

  • Membawa hingga 70.000 pon persenjataan
  • Menjangkau hingga 14.000 km
  • Menggunakan bom pintar JDAM dan rudal jelajah
  • Melakukan pengisian bahan bakar di udara

Saat ini, pesawat tersebut dilaporkan menjalankan misi hampir setiap hari, menargetkan fasilitas militer strategis Iran.


Mobilisasi Besar: Ancaman Invasi Semakin Nyata

Di tengah meningkatnya serangan udara, tanda-tanda mobilisasi militer skala besar juga mulai terlihat.

Israel dikabarkan tengah mempersiapkan mobilisasi hingga 4 juta tentara cadangan sebelum akhir Mei 2026.

Sementara itu, Amerika Serikat secara diam-diam terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan.

Menurut laporan pejabat AS yang dikutip Axios, Trump disebut tengah mempertimbangkan operasi pendaratan langsung ke Iran.

Bahkan, Divisi Lintas Udara ke-82 AS telah menerima perintah untuk bersiap dikerahkan ke Timur Tengah.

Langkah ini menandakan bahwa konflik berpotensi meningkat dari: serangan udara → menuju operasi darat skala besar


Militer Iran Runtuh dalam Waktu Singkat

Pernyataan mengejutkan datang dari Menteri Perang AS, Pete Hegseth, yang menyebut bahwa:

Pada hari pertama perang, kekuatan militer Iran telah dihancurkan secara sistematis oleh serangan gabungan AS dan Israel.

Ia menegaskan bahwa:

  • Angkatan laut
  • Angkatan udara
  • Sistem pertahanan
  • Fasilitas bawah tanah

semuanya mengalami kerusakan parah dalam waktu sangat singkat.

Bahkan, rekaman video yang beredar di internet menunjukkan sebagian pasukan Iran:

  • Meninggalkan posisi
  • Melarikan diri dari garis depan

Fenomena ini disebut sebagai salah satu kehancuran militer tercepat dalam sejarah modern.


Zolghadr Naik: Iran Dipimpin Tokoh Garis Keras

Masih pada 24 Maret 2026, Iran secara resmi menunjuk Baqher Zolghadr sebagai: Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Ia menggantikan Ali Larijani, yang dilaporkan tewas dalam serangan udara sebelumnya.

Zolghadr dikenal sebagai:

  • Veteran Garda Revolusi selama lebih dari 40 tahun
  • Mantan wakil komandan
  • Tokoh inti dalam lingkar kekuasaan

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi sendiri merupakan lembaga paling strategis di Iran, yang menentukan:

  • Kebijakan pertahanan
  • Program nuklir
  • Arah diplomasi

Penunjukan Zolghadr memperkuat sinyal bahwa Iran sedang beralih ke garis keras, bukan menuju kompromi.


Negosiasi atau Tipu Daya? Dua Versi yang Bertolak Belakang

Di balik eskalasi militer, muncul laporan bahwa negosiasi rahasia tetap berlangsung.

Sumber Iran kepada CNN mengungkapkan bahwa:

  • AS telah mencoba membuka jalur komunikasi melalui berbagai perantara
  • Tujuannya adalah mencapai kesepakatan besar, bukan sekadar gencatan senjata

Iran disebut bersedia mempertimbangkan:

  • Pencabutan sanksi
  • Jaminan tidak mengembangkan senjata nuklir

Namun tetap mempertahankan:

  • Hak atas program nuklir damai

Di sisi lain, pemerintah Iran secara terbuka membantah adanya negosiasi tersebut.

Teheran justru menuduh:

Trump sedang memainkan taktik untuk mengulur waktu sambil memperkuat kekuatan militernya.

Dua narasi ini menciptakan situasi yang membingungkan:

  • Di satu sisi, ada sinyal damai
  • Di sisi lain, eskalasi militer terus meningkat

Trump: “Mereka Sangat Ingin Kesepakatan”

Dalam pernyataan lanjutan pada 24 Maret 2026, Trump kembali menegaskan:

“Anda tidak bisa membayangkan betapa besar keinginan mereka untuk mencapai kesepakatan.”

Namun ketika ditanya apakah ia percaya pada Iran, jawabannya tetap keras:

“Saya tidak percaya siapa pun. Bahkan saya juga tidak percaya Anda.”

Saat didesak mengapa tetap bernegosiasi, ia menjawab singkat:

“Karena mereka akan mencapai kesepakatan.”


Klaim Kemenangan dan Target Akhir Perang

Pada hari yang sama (Selasa, 24 Maret 2026), Trump bahkan menyatakan bahwa:

Amerika Serikat telah memenangkan perang melawan Iran.

Ia mengklaim:

  • Iran telah setuju tidak memiliki senjata nuklir
  • Eliminasi pemimpin Iran telah memicu perubahan rezim
  • Iran memberikan “hadiah besar” terkait minyak dan gas

Trump juga menyebut bahwa target Amerika Serikat adalah:

Mengakhiri perang sebelum 9 April 2026


Menuju Titik Penentuan

Seiring mendekati awal April, kekuatan militer AS terus bertambah.

Kapal serbu amfibi USS Tripoli dan Unit Ekspedisi Marinir ke-31 dijadwalkan tiba di kawasan Timur Tengah dalam waktu dekat.

Kini dunia menghadapi satu pertanyaan krusial:

Apakah kedatangan armada ini akan membuka jalan menuju perdamaian—atau justru menjadi awal invasi besar-besaran ke Iran?


Kesimpulan:

Konflik Iran saat ini berada di titik paling tidak pasti dalam sejarah modern. Negosiasi dan perang berjalan beriringan, sementara keputusan besar tampaknya akan ditentukan dalam hitungan hari.

Dunia kini menahan napas—menunggu apakah krisis ini akan berakhir di meja perundingan, atau berubah menjadi perang skala penuh yang mengguncang tatanan global. (***)

Film Dokumenter Baru ‘Unbroken’ Menunjukkan Ketangguhan Shen Yun Menghadapi Represi Lintas Negara

Film dokumenter ini ditayangkan perdana di AMC Lincoln Square di Manhattan, New York City, Amerika Serikat dengan penonton penuh.

EtIndonesia. NEW YORK CITY—Ketika Levi Browde pertama kali mendengar tentang ancaman bom yang menargetkan gedung teater di Taiwan, berbagai kekhawatiran langsung terngiang di pikirannya.

Dua putranya dijadwalkan tampil di sana bersama Shen Yun Performing Arts.

Berbasis di wilayah utara Negara Bagian New York, Shen Yun telah tampil untuk jutaan penonton di seluruh dunia selama dua dekade terakhir, menampilkan budaya tradisional Tiongkok dengan slogan “Tiongkok sebelum komunisme.”

Namun sejak 2024, perusahaan ini menghadapi ancaman yang semakin meningkat berupa pemboman dan kekerasan lainnya terhadap tempat-tempat pertunjukan mereka di seluruh dunia. Ini hanyalah sebagian dari upaya terselubung yang dikaitkan dengan rezim Tiongkok—mulai dari disinformasi media hingga aksi protes berbayar hingga perusakan ban kendaraan—yang bertujuan menghentikan pertunjukan mereka.

Dan, keluarga Browde telah menyaksikannya secara langsung.

Saudara Browde, Jesse (kanan) dan Lucas (kiri), dalam “Unbroken: The Untold Story of Shen Yun” pada pemutaran perdana dunianya di bioskop AMC Lincoln Square di New York City pada 24 Maret 2026. Samira Bouaou/The Epoch Times

Kisah mereka menjadi bagian utama dari film dokumenter “Unbroken: The Untold Story of Shen Yun,” yang diproduksi oleh NTD, media saudara dari The Epoch Times.

Film ini ditayangkan perdana di AMC Lincoln Square di Manhattan pada 24 Maret malam dengan penonton yang memenuhi gedung.

Anggota Dewan Kota New York, Phil Wong (kedua dari kiri), dan penghubung layanan konstituen Bernard Chow (kedua dari kanan), menyerahkan sebuah proklamasi untuk Shen Yun Performing Arts bersama penari utama Shen Yun, Piotr Huang (kiri) dan Angelia Wang (kanan), pada pemutaran perdana dunia “Unbroken: The Untold Story of Shen Yun” di bioskop AMC Lincoln Square di New York City pada 24 Maret 2026. Samira Bouaou/The Epoch Times

Tim pembuat film awalnya tidak mengetahui sejauh mana proyek ini akan berkembang. Proyek ini bermula sebagai laporan khusus, dan berkembang seiring waktu ketika semakin banyak temuan terungkap. Hal demikian diungkapkan oleh produser eksekutif Steve Lance.

Saat tim mengajukan pertanyaan, mengikuti para penari ke berbagai lokasi, dan menyaksikan mereka berlatih, proyek ini seolah memiliki kehidupannya sendiri, katanya.

Di satu sisi, terdapat “kampanye pengaruh yang sangat canggih, menyeluruh, dan mencakup segala aspek yang berasal dari Tiongkok, semuanya menargetkan kelompok ini,” katanya kepada The Epoch Times.

“Namun, di sinilah mereka, 20 tahun kemudian, tetap tak tergoyahkan,” katanya. “Itulah kesimpulan yang kami capai,” imbuhnya. 

Lance mengingat saat menyaksikan para penari menyiapkan panggung pada hari pertunjukan mereka di Lincoln Center pada 2025. Mereka sedang melakukan pemanasan.

“Tiba-tiba, semua 10 atau 12 penari di atas panggung secara serempak mengangkat kaki mereka lurus ke atas melewati kepala mereka, dan menahannya di posisi itu,” katanya. Tingkat fokus dan semangat yang ia lihat di mata mereka membuatnya menyadari bahwa kelompok ini berbeda.

“Mereka bukan orang-orang yang berusaha mencari ketenaran.”

Pada acara pemutaran perdana, anggota Dewan Kota New York Phil Wong membawa dua piagam penghargaan, satu dari dirinya dan satu lagi dari pendahulunya Robert Holden, yang tidak sempat menyerahkannya selama masa jabatannya. Ini menjadi perayaan ganda untuk ulang tahun ke-20 perusahaan seni tersebut, kata Wong dan stafnya.

“Mereka mencintai apa yang mereka lakukan,” kata Wong tentang Shen Yun, seraya menambahkan bahwa kelompok ini telah “melakukan begitu banyak” untuk melestarikan bentuk seni yang hampir hilang.

“Koreografinya benar-benar sempurna.”

Para penari Shen Yun menghadiri pemutaran perdana dunia “Unbroken: The Untold Story of Shen Yun” di Teater AMC di Lincoln Square, New York City, pada 24 Maret 2026. Samira Bouaou/The Epoch Times

Di karpet merah, para penari Shen Yun menampilkan gaun buatan tangan berwarna-warni yang terinspirasi dari dinasti-dinasti kuno. Para penampil yang berbicara kepada The Epoch Times mengatakan bahwa mereka berharap dapat menunjukkan sisi lain dari Shen Yun yang jarang terlihat oleh penonton.


‘Pertempuran di Halaman Belakang Kami’

Keluarga Browde menggambarkan pengalaman mereka seperti berada di garis depan sebuah pertempuran.

“Kami semua merasakan tekanannya,” kata Browde kepada The Epoch Times.

Diskusi panel setelah pemutaran perdana dunia “Unbroken: The Untold Story of Shen Yun” di bioskop AMC Lincoln Square di New York City pada 24 Maret 2026. Samira Bouaou/The Epoch Times

Pertempuran ini tidak dimulai di Amerika Serikat. Ini bermula ketika Partai Komunis Tiongkok meluncurkan penganiayaan nasional terhadap praktisi Falun Gong, sebuah latihan meditasi yang berlandaskan prinsip Sejati-Baik-Sabar. 

(Dari kiri ke kanan) Violinis Rachel Chen, penari utama Shen Yun Angela Lin, dan mantan penari Shen Yun Alison Chen menghadiri pemutaran perdana dunia “Unbroken: The Untold Story of Shen Yun” di bioskop AMC Lincoln Square di New York City pada 24 Maret 2026. Samira Bouaou/The Epoch Times

Kampanye ini bersifat sistematis, menggabungkan propaganda kebencian, tekanan finansial, penangkapan massal, dan penyiksaan dalam upaya total untuk menghancurkan praktik tersebut. Jumlah kematian praktisi Falun Gong tidak diketahui, termasuk melalui pengambilan organ secara paksa untuk mendukung industri transplantasi yang menguntungkan bagi rezim komunis.

Dari seluruh dunia, sekelompok seniman berkumpul pada tahun 2006 dengan harapan menyoroti pelanggaran hak asasi manusia oleh rezim Tiongkok serta menghidupkan kembali warisan budaya Tiongkok, yang kemudian dikenal sebagai Shen Yun.

Para penonton diwawancarai pada pemutaran perdana dunia “Unbroken: The Untold Story of Shen Yun” di bioskop AMC Lincoln Square di New York City pada 24 Maret 2026. Samira Bouaou/The Epoch Times

Sejak awal berdirinya, rezim tersebut bertekad untuk menekannya, menggunakan pengaruh diplomatik dan finansial untuk menekan negara dan teater penyelenggara—terkadang berhasil. Namun dalam beberapa tahun terakhir, upaya Beijing semakin meningkat.

Pada akhir 2022, pemimpin Tiongkok Xi Jinping menginstruksikan pejabat tinggi untuk memanfaatkan organisasi media Barat serta media sosial guna menyerang Falun Gong dan perusahaan yang didirikan oleh para praktisinya di seluruh dunia, menurut laporan sebelumnya dari The Epoch Times berdasarkan sumber yang mengetahui pertemuan rahasia tersebut.

Sejak itu, sebuah kasus federal oleh Departemen Kehakiman AS mengungkap rencana suap di mana dua agen Tiongkok mencoba membayar seorang pejabat IRS atau dinas pajak AS untuk membuka penyelidikan terhadap Shen Yun. Pejabat IRS tersebut ternyata adalah agen FBI yang menyamar.

Sementara itu, lebih dari selusin artikel yang menyerang Shen Yun dan Falun Gong mulai muncul di The New York Times.

Browde, yang keluarganya telah membaca The New York Times sejak era Eisenhower, mengatakan ia hampir merasa “dikhianati” ketika melihat artikel-artikel tersebut.

“Ini adalah contoh terbaik dalam hidup saya tentang kegagalan The Times dalam meliput berita dengan benar,” katanya.

Selama lebih dari dua dekade, Browde memimpin Falun Dafa Information Center, yang menyoroti penderitaan praktisi Falun Gong di Tiongkok. Ia mengatakan kampanye Beijing terus meningkatkan tekanan terhadap dirinya, bahkan menjadi semakin personal.

“Seolah-olah ada dua panggung dalam perang ini,” katanya.

Meningkatkan kesadaran tentang penganiayaan di negeri yang jauh saja sudah cukup sulit, katanya, “tetapi sekarang kami juga harus menghadapi kampanye di Amerika yang berusaha membungkam kami, mengintimidasi kami, dan, yang paling penting, meyakinkan orang lain agar tidak mendengarkan kami.”

Hal ini terasa seperti “pertempuran di halaman belakang kami,” katanya.


‘Memperjuangkan Kebenaran’ 

Banyak penonton pada 24 Maret mengaku terkejut setelah menonton film tersebut.

“Shen Yun adalah gambaran masyarakat kuno yang telah dihancurkan oleh rezim yang tidak percaya pada kebebasan,” kata produser TV Maria Cavenaghi kepada The Epoch Times. “Hal pertama yang dilakukan seorang diktator adalah membungkam budaya, membungkam suara rakyat.”

Produser TV Maria Cavenaghi menghadiri pemutaran perdana dunia “Unbroken: The Untold Story of Shen Yun” di AMC Lincoln Square, New York City, pada 24 Maret 2026. Samira Bouaou/The Epoch Times

Aktris dan model Kimberly Magness menggambarkan dokumenter tersebut sebagai “seperti mimpi.”

“Ancaman bom, perusakan ban, fakta bahwa ada semua serangan ini dan mata-mata Tiongkok—saya sama sekali tidak tahu tentang semua ini,” katanya kepada The Epoch Times. Ia mengatakan momen favoritnya adalah ketika salah satu penari mengatakan bahwa pikiran bisa menjadi hal yang menahan seseorang—sesuatu yang ia rasakan sebagai seorang penampil.

Aktris Kimberly Magness menghadiri pemutaran perdana dunia “Unbroken: The Untold Story of Shen Yun” di AMC Lincoln Square, New York City, pada 24 Maret 2026. Samira Bouaou/The Epoch Times

“Fakta bahwa mereka bertahan melalui semuany dan tetap tampil, dan tetap menciptakan keajaiban ini, sangat berarti,” katanya.

Ia berharap dapat bertemu para seniman untuk menunjukkan dukungan. “Mereka adalah orang-orang yang sangat kuat, luar dan dalam,” katanya.

Aktor Thomas Copeland, yang juga berbasis di New York City, turut mengungkapkan kekagumannya terhadap semangat para seniman. Ia mendorong mereka untuk “terus memperjuangkan kebenaran.”

Aktor dan produser Thomas M. Copeland menghadiri pemutaran perdana dunia “Unbroken: The Untold Story of Shen Yun” di AMC Lincoln Square, New York City, pada 24 Maret 2026. Samira Bouaou/The Epoch Times

“Setiap orang berhak atas kebebasan,” katanya.

Dampak kampanye Beijing telah menyebar ke seluruh dunia. Perdana Menteri Australia Anthony Albanese baru-baru ini dievakuasi dari kediaman resminya setelah penyelenggara lokal Shen Yun menerima email berbahasa Tiongkok yang menyatakan bahwa keselamatan pribadinya akan terancam jika pertunjukan tetap berlangsung.

Meski sulit, para seniman dan keluarga mereka mengatakan bahwa mereka akan terus melangkah maju.

“Kami memberikan suara kepada … orang-orang berkeyakinan di Tiongkok yang tidak memiliki suara,” kata putra sulung Browde, Jesse Browde, kepada NTD menjelang acara tersebut.

Ini adalah sesuatu yang “jauh lebih besar daripada diri saya sendiri,” katanya.

Para penari Shen Yun menghadiri pemutaran perdana dunia “Unbroken: The Untold Story of Shen Yun” di AMC Lincoln Square, New York City, pada 24 Maret 2026. Samira Bouaou/The Epoch Times

#Artikel ini sebelum terbit di The Epoch Times edisi bahasa Inggris

Perang di Timur Tengah Picu Kekurangan Energi di India, Kompor Induksi Laris—400 Ribu Unit Terjual dalam 10 Hari Hingga Gunakan Kayu Bakar

Akibat konflik di Timur Tengah yang menyebabkan gangguan pasokan energi, India mengalami kesulitan distribusi energi. Gas LPG yang biasa digunakan rumah tangga, pedagang kecil, dan restoran masih langka hingga kini. Masyarakat pun berupaya mengurangi ketergantungan pada tabung LPG, sehingga di beberapa wilayah terjadi fenomena mengejutkan: 400.000 unit kompor induksi terjual hanya dalam waktu 10 hari.

EtIndonesia.  Di tengah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, sekitar 20% pengiriman minyak dan gas dunia yang melewati Selat Hormuz terganggu akibat blokade Iran, sehingga distribusi energi global terdampak serius.

Menurut laporan NDTV, kepanikan masyarakat terhadap kelangkaan LPG mendorong mereka mencari alternatif memasak. Hal ini memicu lonjakan penjualan kompor induksi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di kota satelit selatan New Delhi, Gurgaon, seorang distributor besar mencatat penjualan hingga 400.000 unit hanya dalam 10 hari.

Seorang manajer toko dari jaringan ritel elektronik di New Delhi, Gopal Agarwal, mengatakan bahwa saat ini masyarakat berbondong-bondong membeli kompor induksi dan produk sejenis. Namun, karena harga produk merek internasional relatif mahal dan biasanya tidak banyak disimpan sebagai stok, produk yang paling banyak terjual dalam lonjakan ini adalah kompor induksi buatan lokal India yang lebih terjangkau.

Ia menambahkan bahwa karena lonjakan permintaan yang tiba-tiba, banyak toko—termasuk miliknya—kehabisan stok. Meski begitu, sebagian besar toko masih menerima pemesanan, dengan waktu tunggu sekitar 5 hingga 7 hari.

Seorang warga bernama Satyam mengatakan bahwa biasanya rumah tangga menggunakan LPG untuk memasak, sementara kompor induksi hanya sesekali dipakai. Karena kekurangan LPG, keluarganya ingin kembali menggunakan kompor induksi, tetapi ternyata alat lama sudah rusak, sehingga ia harus membeli yang baru.

“Kalau tidak bisa mendapatkan yang baru, mungkin harus memperbaiki yang lama,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa sebelumnya kompor induksi jarang dipajang di toko dan sering mendapat diskon hingga sekitar 30%. Namun sekarang, selain sulit ditemukan, produk tersebut juga tidak lagi didiskon.

Warga lain, Sunned Kumar, mengatakan bahwa kompor induksi sudah tidak tersedia di platform e-commerce, sehingga ia datang langsung ke toko fisik untuk mencoba peruntungan. Karena sulit mendapatkan LPG, keluarganya kini mulai memasak menggunakan microwave dan oven listrik.

Dalam kondisi kelangkaan LPG, masyarakat India berusaha menyesuaikan gaya hidup mereka. Beberapa restoran mulai menggunakan batu bara dan kayu bakar untuk memasak. Media India Today melaporkan bahwa beberapa kantin sekolah terpaksa menyesuaikan menu karena kekurangan LPG, sehingga makanan seperti roti panggang dan gorengan untuk sementara tidak dapat disediakan.

Sumber: CNA / Editor: Lin Qing

Layar Besar Rumah Duka di Kota Kecil di Tiongkok Bocor, Dipenuhi Data—Sebagian Besar Korban adalah Anak Muda

Jumlah kematian anak muda di daratan Tiongkok disebut mengejutkan, namun karena ditutupi oleh otoritas, hal ini tidak banyak diketahui dunia luar. Baru-baru ini, data dari sebuah rumah duka di kota kecil menunjukkan bahwa sebagian besar yang meninggal adalah anak muda, membuat warganet terkejut dan merasa ngeri.

EtIndonesia. Pada 22 Maret, seorang pengguna internet dengan alamat IP dari Sichuan mengunggah postingan yang mengungkapkan bahwa temannya sejak awal tahun ini bekerja di sebuah rumah duka di kota kecil. Menurut penuturan temannya, angka-angka yang ditampilkan di layar besar yang memuat informasi almarhum di dalam rumah duka tersebut sangat mengerikan.

Dalam postingannya, pengguna tersebut menulis:
“Baru awal tahun 2026, tapi setiap hari melihat data seperti ini benar-benar menakutkan. Ini hanya sebuah kota kecil tempat teman saya bekerja. Setelah melihat ini, apa lagi yang perlu direbutkan atau dipikirkan berlebihan? Setiap orang datang ke dunia ini dengan tangan kosong, dan pergi juga tanpa membawa apa-apa. Hanya saat sehat dan bahagia, dunia ini benar-benar milikmu—yang lainnya hanyalah seperti awan yang berlalu.”

(Tangkapan layar dari internet)

Di bawah postingan tersebut terdapat “pengumuman pemakaman” dari rumah duka itu, yang memuat daftar panjang nama-nama orang yang meninggal dunia serta usia mereka. Daftar ini mengungkap fakta yang keras: sebagian besar yang meninggal adalah anak muda. Salah satu gambar menunjukkan daftar 18 Maret 2026, di mana dalam waktu hanya satu jam terdapat 7 jenazah yang diberangkatkan untuk pemakaman, dengan usia tertua 90 tahun dan yang termuda hanya 17 tahun.

Dalam daftar lain tertanggal 24 Februari, usia tertua hanya 45 tahun dan yang termuda 15 tahun, sementara lainnya termasuk usia 18, 25, 28, dan 30 tahun.

(Tangkapan layar dari internet)

Menanggapi hal ini, beberapa warganet berkomentar:
“Ini bukan rumah sakit besar di kota-kota seperti Beijing, Shanghai, Guangzhou, atau Shenzhen yang penuh pasien karena begadang—ini hanya kota kecil biasa!”
“Apa masih mau menaikkan usia pensiun?”
Ada juga yang mengatakan: “Ini cuma kumpulan kasus individual dalam jumlah besar.”

(Tangkapan layar dari internet)

Sejak pandemi COVID-19, di  daratan Tiongkok terus bermunculan laporan tentang banyaknya kasus kematian mendadak di kalangan anak muda. Pada 24 Maret, sebuah perusahaan pendidikan di Suzhou mengumumkan bahwa seorang tokoh pendidikan internet terkenal, Zhang Xuefeng, meninggal akibat henti jantung mendadak pada usia 41 tahun.

Screenshot

Menurut data publik, sejak Januari hingga Februari tahun ini, sejumlah pengacara muda juga meninggal secara beruntun: pada 27 Februari, pengacara Xu Xuehan dari Nanjing meninggal dunia pada usia 36 tahun; 25 Februari, pengacara Chen Weiwei dari Shanghai meninggal pada usia 43 tahun; 6 Februari, pengacara Sun Tao dari firma hukum Longan (Nanjing) meninggal secara mendadak pada usia 35 tahun; 2 Januari, pengacara Su Ze dari Zhejiang meninggal pada usia 36 tahun; dan 18 Januari, pengacara Yan Yafeng dari Shanghai meninggal karena penyakit mendadak pada usia 48 tahun.

Screenshot

Pada Januari lalu, warga daratan Tiongkok mengungkapkan kepada NTDTV bahwa menjelang Tahun Baru Imlek, wabah kembali mencapai puncak di Tiongkok. Rumah sakit dan klinik penuh sesak, namun informasi tersebut ditutupi oleh otoritas. 

Screenshot

Warga di berbagai daerah serta pelaku industri pemakaman juga menyebutkan bahwa banyak lansia meninggal, dan kasus kematian mendadak di kalangan anak muda juga meningkat. Industri pemakaman dan krematorium sangat sibuk, bahkan beberapa rumah duka terus merekrut tenaga kerja tambahan.

Laporan disusun oleh reporter Li Li / Editor: Lin Qing