Maduro Ditangkap Hidup-hidup oleh Militer AS, Analisis: Sistem Intelijen Partai Komunis Tiongkok Gagal Total

EtIndonesia. Diktator Venezuela, Nicolás Maduro, ditangkap hidup-hidup oleh militer Amerika Serikat dalam sebuah serangan mendadak, hanya beberapa jam setelah ia bertemu dengan utusan khusus Partai Komunis Tiongkok (PKT). Peristiwa ini mengguncang dunia. 

Para pakar keamanan nasional Taiwan menilai bahwa PKT tidak hanya salah menilai secara serius operasi militer AS ini, tetapi juga hampir tidak memberikan dukungan nyata setelah kejadian, selain pernyataan diplomatik semata. Hal ini sangat kontras dengan ketegasan dan kecepatan tindakan pemerintahan Trump. Insiden ini menjadi pukulan berat bagi PKT.

 “Bisa dikatakan Amerika telah menampar PKT dengan keras. Ini sekali lagi menegaskan bahwa, seperti yang mereka katakan, ‘halaman belakang’ Amerika sama sekali tidak akan dibiarkan dimasuki kekuatan anti-Amerika. Ini akan menjadi efek penjeraan yang sangat besar terhadap kekuatan-kekuatan tersebut,” ujar Peneliti Asisten Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Zhong Zhidong. 

Pada 3 Januari, Presiden AS Donald Trump memerintahkan peluncuran operasi militer dengan sandi “Operation Absolute Resolve” (Operasi Tekad Mutlak). Dalam waktu kurang dari tiga jam, pasukan AS berhasil menangkap Maduro hidup-hidup dari istana kepresidenan yang dijaga ketat, lalu membawanya ke Amerika Serikat untuk diadili. 

Beberapa jam sebelum penangkapannya, Maduro baru saja bertemu dengan utusan diplomatik PKT, Qiu Xiaoqi, dan rombongannya. Kedua pihak bahkan sempat mengeluarkan pernyataan bersama yang menegaskan kembali apa yang mereka sebut sebagai hubungan kemitraan strategis.

“Saya pikir hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa PKT telah salah menilai operasi militer Amerika kali ini. Amerika kembali menunjukkan kredibilitas antara ucapan dan tindakan mereka. Mereka tidak terlalu peduli pada opini publik internasional, yang mereka perhatikan adalah hasil nyata. Apa yang diucapkan pasti dilakukan, dan sejauh ini tampaknya memang demikian,” tambah Zhong Zhidong.

Yang lebih menarik perhatian, setelah Maduro ditangkap, PKT selain menyampaikan protes secara lisan, tidak mengambil langkah dukungan substansial apa pun. Hingga kini, keberadaan Qiu Xiaoqi dan rombongannya juga tidak diketahui. Opini publik menilai peristiwa ini memperlihatkan bahwa klaim PKT tentang menjamin keamanan dan stabilitas sekutunya hanyalah omong kosong dan bahan tertawaan.

Pada 5 Januari, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, ditanya mengenai keberadaan Qiu Xiaoqi dalam konferensi pers. Ia terdiam hampir 50 detik, lalu menghindari pertanyaan substansial dan hanya memberikan jawaban diplomatik yang tidak relevan.

Penangkapan hidup-hidup Maduro oleh militer AS ini mengguncang dunia dan menjadi topik hangat di internet. Sejumlah warganet menyebutnya sebagai “kecelakaan tingkat buku teks” dalam sejarah diplomasi PKT. Insiden ini bukan sekadar kesalahan biasa, melainkan menyingkap kegagalan total sistem intelijen, analisis, dan pengambilan keputusan PKT.

Laporan oleh reporter New Tang Dynasty Television Zhao Fenghua dan reporter khusus Luo Ya.

Seorang Pria di Amerika yang Tidak Berbahasa Spanyol Menjadi Fasih Setiap Kali Menjalani Operasi

EtIndonesia. Seorang pria Amerika berusia 33 tahun didiagnosis menderita Sindrom Bahasa Asing yang unik yang menyebabkannya fasih berbahasa Spanyol setiap kali bangun dari operasi.

Stephen Chase berusia 19 tahun ketika dia bangun dari operasi lutut dan fasih berbahasa Spanyol meskipun sebelumnya hanya mampu menghitung sampai 10 dalam bahasa asing tersebut. Meskipun hanya memiliki pengetahuan minimal tentang bahasa Spanyol, dia mampu berbicara dengan fasih dalam bahasa Spanyol selama sekitar 20 menit setelah bangun dari operasi, sebelum kembali berbahasa Inggris.

“Saya tidak berbicara bahasa Spanyol. Saya pernah mengikuti kelas bahasa Spanyol selama setahun di sekolah menengah,” kata Chase kepada LadBible. “Itu benar-benar tingkat pemula, tingkat rendah. Mungkin saya bisa menghitung sampai 10 dan tahu beberapa frasa di sana-sini.”

Ayah dari tiga anak dari Salt Lake City, Utah, tidak ingat pernah berbicara bahasa Spanyol, hanya saja perawat memintanya untuk berbicara bahasa Inggris setelah bangun dari operasi, yang membuatnya sangat bingung. Dia mengingat semua yang dikatakannya kepada mereka dalam bahasa Inggris, dan baru kemudian dia mengetahui bahwa dia fasih berbahasa Spanyol.

Pengacara berusia 33 tahun itu didiagnosis menderita Sindrom Bahasa Asing (FLS), suatu kondisi medis yang sangat langka, dengan hanya sekitar 100 kasus yang terkonfirmasi sejak ditemukan pada tahun 1907. Menurut Perpustakaan Kedokteran Nasional, kondisi ini dapat disebabkan oleh sejumlah faktor, termasuk cedera otak dan tumor, stres psikologis, dan anestesi umum.

Kasus Chase menonjol karena dia telah berulang kali menunjukkan Sindrom Bahasa Asing setelah beberapa operasi selama lebih dari satu dekade. Selama periode itu, dia menjalani beberapa operasi untuk cedera terkait olahraga dan, baru-baru ini, septoplasti, dan setiap kali dia bangun dari anestesi, dia berbicara bahasa Spanyol dengan fasih.

“Para perawat mengatakan mereka menanyakan pertanyaan seperti ‘bagaimana perasaanmu?’ dan ‘apakah aku kesakitan?’ setelah bangun, dan aku menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dalam bahasa Spanyol,” kata Stephen Chase. “Dalam pikiran saya, saya hanya berbicara dan saya tidak mengerti mengapa mereka tidak bisa memahami saya.”

Ketika ditanya mengapa dia berpikir dia berbicara bahasa Spanyol di antara semua bahasa, pria berusia 33 tahun itu mengatakan dia percaya hal itu ada hubungannya dengan tumbuh di lingkungan orang-orang Hispanik dan terus-menerus mendengar bahasa tersebut, meskipun dia tidak pernah berusaha untuk memahaminya.

Rupanya, FLS berbeda dari Sindrom Aksen Asing yang sama langkanya, di mana orang berbicara dalam bahasa ibu mereka tetapi mengembangkan aksen asing.(yn)

Saat 60 Prajurit Tumbang Tanpa Balasan: Hari Ketika Dunia Berubah

EtIndonesia. Garis pertahanan strategis terakhir Rusia di Amerika Latin dilaporkan runtuh secara memalukan, menandai salah satu pukulan geopolitik paling telak terhadap Moskow dalam beberapa dekade terakhir.

Pada 6 Januari 2026, Kementerian Pertahanan Rusia secara resmi mengumumkan bahwa Satuan Tugas Gabungan “Chidao”, unit Rusia yang selama ini bertanggung jawab atas pengamanan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, telah diperintahkan untuk segera ditarik kembali ke Rusia akibat kegagalan misi.

Perintah tersebut dikeluarkan langsung oleh sistem Staf Umum Rusia dan disampaikan kepada komandan tertinggi satuan tugas, Jenderal Makaralev. Penarikan ini secara efektif mengakhiri kehadiran militer simbolis Rusia di Venezuela—negara yang selama bertahun-tahun disebut Moskow sebagai benteng strategisnya di Belahan Barat.

Rusia Gagal Total, Mundur Tanpa Perlawanan

Penarikan pasukan ini menegaskan dua fakta krusial:

-Pertama, Rusia gagal mencegah operasi penangkapan Maduro oleh militer Amerika Serikat; 

– Kedua, Moskow kehilangan kemampuan mempertahankan pengaruh politiknya, bahkan secara simbolis, di Venezuela.

Alih-alih melakukan perlawanan terbuka, Rusia memilih mundur secara senyap, sebuah langkah yang oleh banyak pengamat dinilai sebagai pengakuan implisit atas kekalahan strategis.

Operasi “Absolute Resolve” dan Runtuhnya Garda Terakhir Maduro

Operasi militer Amerika Serikat yang diberi sandi “Absolute Resolve”  menjadi titik balik dari seluruh peristiwa ini.

Dalam operasi tersebut, pengamanan jarak dekat Maduro sebenarnya tidak dilakukan oleh pasukan Rusia, melainkan oleh unit khusus Kuba yang dikenal sebagai “Black Wasp” (Tawon Hitam)—pasukan elite yang selama ini dipromosikan rezim Caracas sebagai “legiun abadi” dan benteng terakhir kekuasaan Maduro.

Unit Black Wasp dikenal luas sebagai pasukan dengan pelatihan lintas negara. Para anggotanya dilatih oleh instruktur pasukan khusus dari Rusia, Kuba, Korea Utara, serta satu negara Asia Timur lainnya. Di dalam negeri Venezuela, mereka dipuja sebagai pasukan serba bisa dengan pengalaman tempur di berbagai konflik Amerika Latin.

Namun, reputasi tersebut runtuh seketika ketika mereka berhadapan langsung dengan Delta Force Amerika Serikat.

60 Banding 0: Pertempuran yang Berubah Menjadi Penghancuran Sepihak

Dalam baku tembak langsung, 32 anggota Black Wasp tewas di tempat, sementara total korban—termasuk luka berat—diperkirakan mencapai sekitar 60 orang. Sebaliknya, pihak Amerika Serikat tidak mengalami satu pun korban.

Perbandingan korban 60 banding 0 ini bahkan tidak lagi dapat disebut sebagai pertempuran konvensional. Sejumlah analis militer asing secara terbuka menyebutnya sebagai penghancuran sepihak, bahkan “pembantaian” dari sudut pandang militer murni.

Penting dicatat, kekalahan ini bukan disebabkan oleh kurangnya keberanian. Dari sisi tekad tempur dan pengalaman lapangan, pasukan Black Wasp tidak kekurangan keduanya. Bahkan dari segi perlengkapan individu—di luar keterbatasan sistem peperangan elektronik—tidak terdapat kesenjangan teknologi generasi yang ekstrem.

Namun, sebagaimana ditegaskan para pengamat, perang modern tidak ditentukan oleh keberanian, melainkan oleh keunggulan sistem secara menyeluruh.

Keunggulan Sistem AS: Perang di Dimensi yang Berbeda

Di hadapan sistem operasi khusus Amerika Serikat—yang mengintegrasikan intelijen real-time, peperangan elektronik, komando terpadu, serta pengambilan keputusan instan—bahkan prajurit paling tangguh pun berubah menjadi target yang mudah “dipanen”.

Kenyataan pahit ini kembali menegaskan satu hukum dasar peperangan modern: bukan seberapa kuat dirimu, melainkan seberapa unggul sistem lawanmu.

Lumpuh di Udara: Sistem Pertahanan Venezuela Tak Berdaya

Kekalahan Venezuela tidak hanya terjadi di darat. Pada saat yang sama, negara itu nyaris sepenuhnya lumpuh dalam aspek intelijen, pertahanan udara, sistem peringatan dini, dan respons cepat.

Beberapa sistem pertahanan udara IS-300 buatan Rusia, serta radar anti-siluman JY-27, terbukti tidak berfungsi di bawah tekanan pesawat peperangan elektronik EA-18G Growler milik Amerika Serikat. Sistem-sistem tersebut gagal mengunci target, bahkan sebagian kehilangan fungsi operasional sepenuhnya.

Peristiwa ini kembali menyingkap satu fakta keras: senjata apa pun yang belum teruji dalam lingkungan peperangan elektronik berintensitas tinggi tidak layak disebut sebagai senjata canggih.

Mitos sistem perlindungan keamanan Rusia pun runtuh secara melihat.

Dampak Geopolitik: Narasi “Sekutu Rusia Aman” Terbongkar

Dengan membawa pergi Maduro melalui operasi khusus yang cepat dan presisi, Amerika Serikat tidak hanya mengubah nasib politik Venezuela, tetapi juga menghantam langsung jaringan pengaruh global Rusia.

Penangkapan Maduro secara efektif merobek narasi Moskow bahwa sekutunya aman di bawah payung Rusia, sekaligus menjadi likuidasi total aset geopolitik Rusia di Amerika Latin.

Analisis ISW: Rezim Tanpa Basis Sosial

Menanggapi peristiwa ini, Katherine Campbell, analis utama dari Institute for the Study of War, menilai bahwa rezim Venezuela sejak awal merupakan koalisi rapuh antara kelompok kriminal, oligarki kepentingan, dan birokrasi yang tidak kompeten—tanpa basis sosial yang kokoh.

Ketika rezim menghadapi momen hidup dan mati, militer, kepolisian, bahkan kelompok yang diuntungkan oleh kekuasaan gagal mengorganisir perlawanan efektif. Loyalitas runtuh seketika di hadapan kekuatan absolut.

Sinyal Berbahaya bagi Dunia

Selama bertahun-tahun, Moskow menjual satu logika sederhana kepada dunia: beli senjata Rusia, terima perlindungan Rusia, maka rezim akan aman.

Namun, di Venezuela, sistem pertahanan udara mahal gagal total, pasukan yang dilatih dengan metode Rusia bubar atau menyerah. Bagi negara-negara lain yang masih mengamati, ini merupakan sinyal peringatan yang sangat serius.

Efek Lanjutan: Ekonomi Rusia di Ujung Tanduk

Dampak paling dalam justru muncul di sektor ekonomi. Rusia sangat bergantung pada ekspor energi untuk menopang fiskal dan mesin perangnya. Jika Amerika Serikat benar-benar menguasai sumber daya minyak Venezuela, Washington akan memegang tuas penting dalam pengendalian harga minyak global.

Penurunan tajam harga minyak akan mendorong keuangan Rusia ke tepi jurang—sementara sistem ekonominya tidak memiliki mekanisme pemulihan pasar yang memadai.

Efek Domino Global Mulai Bergerak

Gelombang kejut ini kini mulai merambat keluar. Ketegangan di Timur Tengah meningkat, protes di Iran menguat, dan struktur kekuasaan di sejumlah negara sekutu Rusia mulai menunjukkan tanda-tanda pelonggaran.

Semua indikator ini mengarah pada satu kesimpulan besar: Rusia secara bersamaan kehilangan dua pilar strategisnya—Amerika Latin dan Timur Tengah.

Pengaruh globalnya menyusut kembali ke jantung Eurasia, dan status internasionalnya tak terelakkan melorot ke jajaran negara kelas dua atau tiga.

Ini bukan hasil perang opini, melainkan konsekuensi alami dari runtuhnya kekuatan keras, kapabilitas sistem, dan kredibilitas geopolitik secara menyeluruh.

Yang diruntuhkan Amerika Serikat bukan sekadar satu kartu bernama Venezuela, melainkan satu rangkaian kartu domino. Pada titik ini, tabir terakhir yang menutupi wajah Kremlin pun telah tercabik habis.

Kenapa Iran Tiba-tiba Memanggil Trump? Ini yang Sebenarnya Terjadi

EtIndonesia. Gelombang protes anti-pemerintah di Iran terus meningkat dan kini memasuki fase paling menentukan sejak pecah beberapa pekan terakhir. Hingga awal Januari 2026, organisasi perlawanan dilaporkan telah menguasai tiga kota, sementara aksi demonstrasi telah berubah menjadi gerakan nasional yang menjalar ke seluruh negeri.

Pada saat yang sama, fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya muncul di ibu kota Teheran. Sejumlah warga Iran secara terbuka menyampaikan seruan langsung kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dengan teriakan “tolong selamatkan kami” yang terekam dalam berbagai video di media sosial. Bahkan, di beberapa sudut kota, muncul papan nama jalan tidak resmi bertuliskan “Trump Street”, mencerminkan eskalasi keputusasaan publik terhadap situasi domestik.

Korban Jiwa dan Penangkapan Terus Bertambah

Menurut laporan Associated Press, rangkaian aksi protes yang meluas ini diperkirakan telah menewaskan sedikitnya 36 orang, sementara lebih dari 2.200 orang ditangkap oleh aparat keamanan. Selain itu, sedikitnya dua pejabat tinggi keamanan Iran dilaporkan turut tewas dalam kekacauan yang terjadi.

Saat ini, protes telah menyebar ke seluruh 31 provinsi Iran, mencakup 111 kota dan wilayah, menandai transformasi dari aksi sporadis menjadi perlawanan nasional berskala penuh. Seiring memburuknya situasi keamanan, sejumlah negara — termasuk Australia, Tiongkok, dan Rusia — telah mengeluarkan peringatan evakuasi bagi warganya yang berada di Iran.

Aktivitas Militer Meningkat, Garda Revolusi Dikerahkan

Seorang pengguna platform X melaporkan bahwa Angkatan Udara Garda Revolusi Islam Iran kini aktif beroperasi di wilayah barat negara itu. Sejumlah helikopter dan jet tempur terpantau terbang rendah, sementara sistem pertahanan udara lokal diduga telah berada dalam kondisi siaga penuh.

Di kota Kord, Iran utara, kemarahan massa memuncak ketika patung mendiang komandan Garda Revolusi, Qassem Soleimani, diruntuhkan lalu dibakar oleh demonstran — sebuah simbol penolakan terbuka terhadap rezim.

Sementara itu, pemandangan mencengangkan terjadi di Abdanan, Iran barat. Ribuan warga turun ke jalan, namun aparat kepolisian setempat tidak melakukan penindakan. Sebaliknya, sejumlah polisi terlihat berdiri di atap kantor mereka sambil bertepuk tangan mendukung demonstran, menandai indikasi pembelotan aparat di lapangan.

Bentrokan Terbuka dan Seruan Bantuan ke AS

Video terbaru yang beredar memperlihatkan militer Iran dikerahkan secara darurat, menggunakan meriam air bertekanan tinggi untuk membubarkan massa. Pada saat yang sama, sebagian warga dilaporkan merebut senjata dari tangan tentara. Laporan lain menyebutkan bahwa kelompok pemuda bersenjata asal Suriah telah memasuki wilayah Iran, meski informasi ini masih sulit diverifikasi secara independen.

Dalam sejumlah rekaman video, warga Iran berbicara langsung ke kamera dan menyerukan: “Presiden Trump, tolong selamatkan kami seperti Anda menyelamatkan Venezuela. Kami sedang dibantai. Mohon kirim pasukan untuk mengakhiri mimpi buruk ini.”

Para analis menilai, perubahan sikap demonstran Iran yang kini secara terbuka meminta bantuan Trump sangat dipengaruhi oleh perkembangan di Venezuela. Pada 3 Januari 2026, pasukan khusus Amerika Serikat dilaporkan berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro. Kejadian tersebut memicu keyakinan di kalangan demonstran Iran bahwa tekanan ekstrem dan tindakan nyata dari Washington dapat memutus sumber pendanaan represi rezim Teheran.

Represi Meningkat, Khamenei Perintahkan Tindakan Keras

Di sisi lain, tindakan represif pemerintah Iran semakin brutal. Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan telah mengeluarkan perintah langsung kepada aparat keamanan untuk menindak keras massa.

Unit bersenjata dikerahkan ke kawasan permukiman utama Teheran. Rekaman menunjukkan penggunaan gas air mata di sekitar Rumah Sakit Sina serta pusat-pusat perbelanjaan, memicu kecaman luas karena membahayakan warga sipil.

Tiga Kota Jatuh, Posisi Strategis Direbut

Pada 7 Januari 2026, para demonstran dilaporkan berhasil menguasai Kota Kord, menjadikannya kota ketiga yang jatuh ke tangan kelompok perlawanan. Kota dengan populasi lebih dari 1,5 juta jiwa ini merupakan kota satelit terbesar Teheran serta simpul industri dan transportasi vital yang menghubungkan ibu kota dengan pesisir Laut Kaspia.

Sehari sebelumnya, pada 6 Januari 2026, organisasi protes Iran mengumumkan telah mengendalikan Abdanan dan Malekshahi. Dengan demikian, kini tiga kota resmi berada di bawah kendali kelompok perlawanan.

Para pengamat menilai perkembangan ini sebagai bukti bahwa gerakan anti-pemerintah Iran terorganisasi dengan baik, memiliki strategi jelas, dan memperoleh dukungan luas dari masyarakat. Kota demi kota mulai kehilangan kendali pemerintah pusat.

Bentrokan Sengit dan Seruan Mogok Nasional

Di kawasan Grand Bazaar Teheran, bentrokan berlangsung paling sengit. Aparat keamanan menembakkan gas air mata, sementara demonstran membalas dengan batu dan bom molotov. Video memperlihatkan seluruh kawasan pertokoan sempat dikuasai massa.

Di kota suci Mashhad, demonstran berhasil memukul mundur pasukan keamanan dan merebut sebagian perlengkapan mereka. Sejumlah kelompok perlawanan juga secara terbuka menyerukan mogok nasional.

Situasi serupa terjadi di Shiraz, kota bersejarah Iran, di mana demonstran memblokade jalan-jalan utama dan terlibat baku tembak dengan militer serta polisi. Jumlah massa sangat besar, semangat perlawanan tinggi, dan sebagian demonstran dilaporkan memiliki persenjataan sederhana. Mayoritas warga setempat disebut berpihak pada gerakan perlawanan.

Mahasiswi Gilan: “Ini Pertempuran Terakhir”

Di Rumah Sakit Sina, pasukan khusus Garda Revolusi dilaporkan mengepung sejumlah demonstran dan warga sipil. 

Sementara itu, di asrama mahasiswi Universitas Gilan, para mahasiswi secara serempak meneriakkan:“Ini adalah pertempuran terakhir. Pahlavi pasti akan kembali. Kebebasan! Kebebasan! Kebebasan!”

Fase Penentuan

Para analis sepakat bahwa beberapa hari ke depan akan menjadi fase paling krusial. Mobilisasi nasional masih terus berlangsung, dan arah perkembangan selanjutnya akan menentukan apakah gerakan perlawanan Iran mampu mencapai terobosan besar atau justru menghadapi represi yang lebih keras dari rezim.

Situasi di Iran kini menjadi sorotan dunia, dengan dampak geopolitik yang berpotensi meluas jauh melampaui kawasan Timur Tengah.

AS dan Inggris Pukul Jaringan Minyak Ilegal Rusia–Iran, Pendapatan Moskow Terjun Bebas

EtIndonesia. Militer dan aparat penegak hukum Amerika Serikat (AS) berhasil menyita sebuah kapal tanker minyak besar di Samudra Atlantik Utara pada 7 Januari 2026 setelah pengejaran selama berminggu-minggu. Kapal itu awalnya dikenal sebagai Bella 1 dan baru-baru ini mengganti nama menjadi Marinera serta mengibarkan “bendera Rusia” dalam upaya menghindari sanksi internasional.

Langkah ini merupakan bagian dari kampanye AS untuk menindak kapal-kapal yang mencoba memintas sanksi minyak Venezuela dan Rusia melalui praktik yang oleh Washington disebut sebagai “armada bayangan” (shadow fleet).

Bagaimana Marinera Ditangkap

Operasi penyitaan dimulai setelah kapal yang hampir kosong itu menghindari blokade AS di Karibia pada Desember 2025 dan mengarah ke utara melewati Atlantik. AS telah melacak kapal tersebut sejak akhir Desember menggunakan kapal Penjaga Pantai USCGC Munro dan pesawat patroli laut P-8, kemudian mengejarnya hingga perairan internasional dekat Islandia dan Skotlandia.

Pada 7 Januari 2026, satuan tempur AS menaiki kapal tersebut di tengah laut dan mengambil alih kendali penuh. Aset militer termasuk pesawat patroli serta helikopter ikut digunakan dalam operasi ini.

Pejabat AS menjelaskan bahwa kapal itu diagendakan untuk kembali mengambil muatan minyak Venezuela yang terkena sanksi, dan telah berulang kali mematikan sistem pelacakan serta mengganti identitas dan bendera sebagai taktik pengelakan hukum.

Peran Inggris dalam Operasi Ini

Pemerintah Inggris turut memberikan dukungan signifikan selama operasi. Menurut Kementerian Pertahanan Inggris:

  • Pengawasan udara melalui pesawat militer dikerahkan untuk melacak kapal di wilayah Atlantik.
  • Dukungan logistik laut diberikan oleh kapal logistik RFA Tideforce.

London menegaskan bahwa kerja sama intelijen dan keamanan dengan Washington pada operasi ini mencapai tingkat sangat dalam dan sepenuhnya sesuai dengan hukum internasional.

Alasan Penegakan: Armada Bayangan dan Pelanggaran Sanksi

Pihak berwenang Amerika menyatakan bahwa Bella 1 (sekarang Marinera) sudah sebelumnya dikenai sanksi pada 2024 karena menjadi bagian dari jaringan kapal yang membantu negara-negara seperti Iran, Venezuela, dan Rusia menghindari embargo minyak.

Konsep armada bayangan merujuk pada jaringan kapal yang mematikan pelacakan, berganti nama dan bendera, serta mentransfer minyak secara ilegal untuk mengelabui penegakan hukum internasional atas sanksi.

Menurut pakar maritim:

  • Kapal yang tidak memiliki kewarganegaraan sah atau menggunakan bendera palsu dapat menjadi target penegakan berdasarkan hukum laut internasional.
  • Perubahan bendera di tengah pelayaran biasanya tidak diakui jika tidak mencerminkan perubahan kepemilikan atau registrasi resmi.

Reaksi Internasional dan Dampak Geopolitik

Langkah penyitaan ini memicu reaksi keras dari beberapa pihak:

Rusia:
Kementerian Transportasi Rusia menyatakan telah kehilangan kontak dengan Marinera setelah boarding oleh pasukan AS, dan menuduh tindakan tersebut melanggar hukum laut internasional serta kebebasan navigasi.

Kritik terhadap AS:
Beberapa negara, termasuk yang tergabung di PBB, sebelumnya mengkritik langkah AS atas blokade kapal minyak terkait Venezuela, menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan laut.

Apa Selanjutnya? Penegakan Sanksi yang Lebih Ketat

Washington menegaskan bahwa operasi ini menunjukkan komitmen kuat terhadap penegakan sanksi dan keamanan energi global, serta menjadi peringatan bagi kapal-kapal lain yang mencoba menghindari aturan internasional.

Data pelacakan menunjukkan bahwa armada bayangan telah menjadi fenomena yang semakin besar sejak 2024, dengan banyak kapal yang dipindai dari daftar pelayaran resmi dan berupaya beroperasi tanpa pengawasan.

Catatan Akhir

Penyitaan Marinera termasuk dalam serangkaian tindakan AS di perairan internasional sejak akhir 2025 yang menarget kapal-kapal tanker dengan dugaan pelanggaran sanksi. Kasus ini menyoroti kompleksitas penegakan hukum maritim serta ketegangan geopolitik antara kekuatan besar yang berbeda kepentingan dalam pasar energi dan diplomasi global.

Video Fenomena Misterius: Rangkaian Titik Cahaya Muncul di Langit Malam Banyak Wilayah Daratan Tiongkok, Bergerak dengan Cepat

Baru-baru ini, di langit malam sejumlah wilayah termasuk Henan, Shaanxi, dan Hebei, muncul rangkaian “titik cahaya misterius” yang bergerak cepat selama lebih dari sepuluh menit, memicu berbagai spekulasi di kalangan publik.

EtIndonesia. Media daratan Tiongkok melaporkan bahwa pada 6 Januari malam, warganet di berbagai kota di Provinsi Henan—termasuk Zhengzhou, Luoyang, Kaifeng, dan Xinxiang—menyaksikan rangkaian “titik cahaya misterius” yang bergerak cepat di langit malam, melintas seperti untaian manik-manik dan tampak sangat spektakuler.

Banyak warganet mengatakan bahwa rangkaian cahaya tersebut tersusun dalam satu garis lurus, berjumlah sekitar 20 hingga 30 titik. Setelah sekitar sepuluh menit lebih, rangkaian itu pun menghilang dari pandangan. Waktu kemunculannya diperkirakan antara pukul 18.30 hingga 19.30 waktu setempat.

Pada saat yang sama, warganet dari Provinsi Shandong, Shaanxi, dan Hebei juga melaporkan melihat fenomena serupa.

Fenomena ini memicu perbincangan hangat di dunia maya. Sejumlah komentar warganet antara lain:
“Benda terbang tak dikenal muncul di langit Xinxiang.”
“Saya juga melihatnya, rasanya terbang terlalu rendah.”
“Sangat terang.”
“Benda terbang tak dikenal. Ingin tahu apa benda yang muncul di langit sekitar pukul tujuh malam tanggal 6 Januari, terbang berbaris. Saya melihatnya di Zhengzhou. Apakah kalian juga melihatnya? Di mana?”

Komentar lain menyebutkan:
“Terlihat di Qixian, Kaifeng, pukul 18.47.”
“Melintas dari Luoyang.”
“Juga terekam di Xunxian, Hebi.”
“Terlihat di Heze, Shandong.”
“Tidak tahu apa itu. Pada 7 Januari 2026 pukul 18.42 saya melihatnya—satu rangkaian panjang, lalu perlahan menghilang. Tidak tahu apa itu. (Hebei).”
“Terlihat di Cangzhou, Hebei.”

Sebagian warganet pun berspekulasi:
“Reaksi pertama saya adalah UFO.”
“Kapal luar angkasa alien.”
“Starlink milik Elon Musk.”
“Ada buktinya?”
“Mungkin jejak yang ditinggalkan pesawat militer.”
“Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena aneh di langit semakin sering terjadi.”

Sumber : NTDTV.com

Jangan Menyesali Dompet yang Hilang

EtIndonesia. Seorang pria duduk di dek kapal sambil membaca koran. Tiba-tiba, hembusan angin kencang menerbangkan topi barunya ke laut. Dia hanya mengusap kepalanya, melirik topi yang jatuh ke air, lalu kembali membaca koran seperti biasa.

Orang lain yang melihat kejadian itu merasa heran dan berkata :“Tuan, topi Anda tertiup angin ke laut!”

“Saya tahu, terima kasih,” jawabnya singkat, sambil tetap membaca koran.

 “Padahal topi itu harganya puluhan dolar.”

 “Ya, saya sedang memikirkan bagaimana cara berhemat untuk membeli topi baru. Topinya memang hilang dan saya tentu sayang, tapi apakah topi itu bisa kembali?” ” katanya dengan tenang.

Selesai berkata demikian, dia kembali tenggelam dalam bacaan korannya.

Memang benar, yang sudah hilang tetaplah hilang. Mengapa harus panik berlebihan atau terus-menerus menyesalinya?

Banyak orang pernah mengalami kehilangan sesuatu yang penting atau sangat disayangi—misalnya tanpa sengaja kehilangan gaji yang baru diterima, sepeda kesayangan dicuri, atau pasangan yang telah bersama bertahun-tahun tiba-tiba pergi. Semua itu sering meninggalkan bayang-bayang psikologis, bahkan membuat seseorang tersiksa dalam waktu lama.

Akar masalahnya adalah: kita tidak menata ulang sikap batin untuk menghadapi kehilangan. Kita tidak mau mengakui kehilangan itu secara mental, hanya larut dalam sesuatu yang sudah tidak ada, tanpa berpikir untuk menciptakan sesuatu yang baru. Karena itu, orang sering menghibur mereka yang kehilangan dengan kalimat, “yang lama pergi, yang baru akan datang.” Dan memang itulah kenyataannya.

Daripada menyesali sepeda yang hilang, lebih baik memikirkan cara membeli yang baru. Daripada tenggelam dalam penderitaan karena ditinggal kekasih, lebih baik bangkit kembali dan membuka diri untuk cinta yang baru.

Ada dua orang sahabat yang bepergian bersama. Menjelang pulang, mereka menyadari dompet mereka hilang. Salah satunya kembali menyusuri semua tempat yang telah mereka datangi, bertanya ke banyak orang, bahkan melapor ke kantor polisi—namun tak membuahkan hasil apa pun.

Sahabat yang lain memilih cara berbeda. Setelah menyadari dompetnya hilang, dia masuk ke sebuah restoran dan menjelaskan keadaannya kepada pemiliknya. Dia menawarkan diri mencuci sayur di dapur sebagai imbalan. Dengan cara itu, dia berhasil mendapatkan ongkos pulang untuk dirinya dan temannya. Bahkan, sejak saat itu dia menjalin persahabatan dengan pemilik restoran tersebut dan mereka saling berkirim surat secara berkala.

Setiap kali orang lain menyinggung peristiwa itu, dia selalu berkata : “Waktu bepergian itu singkat, hal-hal menarik begitu banyak. Terus-menerus merisaukan dompet yang hilang benar-benar tidak sepadan.”

Hikmah cerita:

Benar sekali—dalam hidup ini masih banyak hal yang perlu kita lakukan. Mengapa harus terus bersedih hanya karena kehilangan sesaat?

Setiap orang pasti pernah kehilangan sesuatu, tetapi sikap batin dalam menghadapinya berbeda-beda. Ada orang yang terus-menerus menceritakan betapa berharganya apa yang telah hilang. Namun ada pula yang memilih jalan lain: ketika kehilangan pekerjaan, mereka tidak larut dalam kesedihan, melainkan aktif mencari pekerjaan baru.

Mereka percaya bahwa kehilangan tidak sama dengan kegagalan. Setelah kehilangan, kita masih bisa memiliki kembali.

Inilah sikap hidup yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang yang akan berhasil.(jhn/yn)

Pengerahan Pasukan Khusus Angkatan Udara AS di Eropa Menyusul Penangkapan Maduro Menarik Perhatian 

Menurut sejumlah informasi, unit Angkatan Udara Amerika Serikat ke-160 dan pasukan khusus yang terlibat dalam operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro saat ini sedang melakukan konsentrasi pasukan di Eropa, memicu perhatian publik.

EtIndonesia. Situs berita dan analisis pertahanan The War Zone pada 5 Januari melaporkan bahwa dalam waktu dekat sejumlah besar pesawat militer AS tiba-tiba dikerahkan ke Eropa. Di antaranya termasuk pesawat angkut C-17 Globemaster III (yang diduga mengangkut helikopter), beberapa helikopter MH-47 Chinook, MH-60M Black Hawk, pesawat patroli maritim P-8 Poseidon, pesawat tempur pendukung AC-130J Ghostrider, serta sebuah pesawat turboprop operasi khusus yang pergerakannya sulit dilacak.

Artikel tersebut mengutip data pelacakan penerbangan daring yang menunjukkan bahwa pada 3 Januari, sedikitnya 10 pesawat angkut C-17 terbang dari Amerika Serikat ke Eropa. Setidaknya empat di antaranya lepas landas dari Fort Campbell, Kentucky. Fort Campbell merupakan markas Resimen Penerbangan Operasi Khusus ke-160 Angkatan Darat AS (160th SOAR), yang juga dikenal sebagai “Night Stalkers”. Unit penerbangan elit ini memainkan peran kunci dalam operasi penangkapan diktator Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya pada 3 Januari dini hari.

Setelah penangkapan Maduro, pergerakan pesawat militer AS yang berkumpul di Eropa memicu spekulasi bahwa Amerika Serikat mungkin akan melaksanakan misi operasi khusus di kawasan tersebut dalam waktu dekat.

Saat ini, situasi di Iran juga tengah bergejolak. Rakyat Iran melakukan aksi protes besar-besaran menentang rezim diktator dan menuntut kebebasan, namun menghadapi penindasan dengan kekerasan. Presiden AS Donald Trump pada 4 Januari menyatakan bahwa jika Iran kembali menindas rakyatnya seperti di masa lalu, “Amerika Serikat akan memukul mereka dengan keras”.

The War Zone menyebutkan bahwa Resimen Penerbangan Operasi Khusus ke-160 (160th SOAR) setiap hari menjalankan misi di berbagai belahan dunia, termasuk penugasan pelatihan, latihan skala besar, dan operasi tempur. Namun, pengerahan mereka kali ini menarik perhatian lebih besar, terutama setelah keterlibatan mereka dalam operasi di Venezuela.

Resimen Penerbangan Operasi Khusus ke-160 dikenal sebagai “kekuatan dukungan udara eksklusif” bagi Pasukan Delta, dengan julukan Night Stalkers. Unit ini sangat mahir dalam operasi malam hari. Hampir semua misi berisiko tinggi Pasukan Delta bergantung pada dukungan helikopter Night Stalkers. Salah satu kerja sama paling terkenal terjadi saat Perang Irak, dalam operasi penangkapan Saddam Hussein, ketika unit ke-160 menggunakan helikopter MH-6 Little Bird bersama Pasukan Delta.

The War Zone menganalisis bahwa pengerahan pesawat militer AS ke Eropa baru-baru ini tampaknya bertujuan untuk mendukung kemungkinan operasi pencegatan kapal tanker minyak mentah Marinela yang mengibarkan bendera Rusia. Kapal tersebut telah dilacak oleh Penjaga Pantai AS sejak bulan lalu.

Kapal Marinela, yang bermuatan penuh minyak Venezuela, merupakan bagian dari apa yang disebut sebagai “armada bayangan”. Armada ini mengangkut minyak untuk Rusia, Iran, dan Venezuela, melanggar sanksi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat dan negara-negara lain.

Jaringan berita CBS News pada 5 Januari melaporkan bahwa Amerika Serikat kemungkinan akan mencoba mencegat kapal tanker tersebut, yang saat ini berada di wilayah Atlantik Utara.

Para pemantau daring juga mengamati bahwa pesawat patroli maritim P-8 Poseidon milik Angkatan Laut AS terus membuntuti kapal Marinela, yang semakin menguatkan dugaan adanya kemungkinan misi operasi khusus untuk naik dan menguasai kapal tersebut.

Selain itu, beberapa helikopter MH-47 Chinook dan MH-60M Black Hawk yang telah dimodifikasi secara signifikan terlihat di Pangkalan Udara Kerajaan RAF Fairford. Diperkirakan helikopter-helikopter tersebut diangkut menggunakan pesawat C-17. Namun hingga kini belum ada bukti visual yang dapat memastikan hal tersebut, dan unit ke-160 juga belum memberikan tanggapan resmi.

Pengamat pesawat lokal, Andrew McKelvey, juga memotret setidaknya dua pesawat AC-130J Ghostrider yang mendarat di Pangkalan RAF Mildenhall pada tanggal 4 Januari dan hingga kini masih berada di sana.

Selain itu, sebuah pesawat intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR) misterius milik Angkatan Udara AS jenis CASA CN-235 juga dilaporkan dikerahkan ke Pangkalan RAF Fairford di Inggris.

Komando Eropa Amerika Serikat (EUCOM) menanggapi melalui email dengan menyatakan:
“Berdasarkan perjanjian akses, penempatan, dan hak lintas udara yang telah disepakati dengan negara sekutu dan mitra, Komando Eropa AS secara rutin menerima pesawat militer AS (dan personel) yang sedang transit. Demi keamanan operasional aset dan personel AS, kami tidak dapat mengungkapkan rincian lebih lanjut.”

Meskipun sifat pengerahan pesawat militer AS di Eropa ini masih belum jelas, sebelum penangkapan Maduro, Fort Campbell juga telah mengalami lonjakan aktivitas pesawat militer AS yang signifikan. (Hui)

Polisi Diduga Bersekongkol Menangkap Orang-orang di Jalanan? Beredar Screenshot Percakapan ‘Mafia Organ’ di Changchun, Kini Dihapus Secara Massal di Daratan Tiongkok

Di daratan Tiongkok, banyak anak-anak dan remaja dilaporkan hilang. Bahkan, sering beredar video “ambulans” yang diduga menculik orang di jalanan. Hal ini menimbulkan kecurigaan bahwa kasus-kasus tersebut terkait dengan praktik pengambilan organ hidup oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). Baru-baru ini, beredar tangkapan layar percakapan sebuah “kelompok proyek” di Kota Changchun yang menunjukkan bahwa aparat kepolisian diduga bekerja sama dalam penculikan seorang donor organ perempuan yang telah “dipilih”.

EtIndonesia. Pada 5 Januari, beredar dua tangkapan layar percakapan beredar di platform Douyin (TikTok versi Tiongkok). Salah satunya berasal dari sebuah grup bernama “250701 Komunikasi Proyek”. 

Foto dalam tangkapan layar menunjukkan korban hanya mengenakan pakaian tipis, sehingga diduga kejadian tersebut berlangsung pada musim panas. Warganet berspekulasi peristiwa itu terjadi sekitar 1 Juli 2025, dan grup tersebut kemungkinan dibentuk sementara untuk suatu operasi rahasia. Terlihat bahwa grup itu memiliki 11 anggota.

Tangkapan layar percakapan “kelompok proyek” yang diduga menculik donor organ di jalanan Kota Changchun

Dalam tangkapan layar tersebut, seseorang bernama “Yang Min” mengunggah dua foto seorang perempuan muda yang sedang membeli buah di pinggir jalan, dan menyebutkan bahwa korban sedang membeli durian di kios buah. 

Tak lama kemudian, anggota lain di grup tersebut memberikan perintah agar menunggu korban selesai berbelanja, lalu “mengendalikan dia di dalam kompleks, langsung paksa bawa dengan ambulans”, serta “langsung bawa, jangan biarkan dia pulang”.

Tangkapan layar lain dari percakapan “kelompok proyek” 

Tangkapan layar kedua menunjukkan bahwa sekitar belasan menit kemudian, orang yang memberi perintah tersebut meneruskan dua foto korban ke grup lain, yang diduga untuk melaporkan situasi kepada “atasan”. Ia menuliskan komentar, “Dilihat dari postur tubuhnya, tingkat kondisi fisiknya tidak akan tinggi,” lalu menambahkan, “Uji kecocokan penolakan DNA sudah lolos.” Ia juga mengatakan, “Sekarang di Universitas Jilin ada penerima hati dan ginjal.”

Anggota lain di grup bertanya, “Apakah kantor polisi wilayah sudah dihubungi?” Orang tersebut menjawab, “Baru saja selesai dihubungi.”

Ada warganet Tiongkok yang bertanya kepada pembocor informasi, “Apakah polisi wilayah (jc) bekerja sama dalam penangkapan orang?” Pembocor tersebut menjawab dengan simbol tanda centang, yang berarti mengiyakan.

Tangkapan layar lain dari percakapan “kelompok proyek” 

Saat ini, tangkapan layar terkait di Douyin hampir seluruhnya telah dihapus, dan akun Douyin yang membocorkan informasi tersebut juga sudah tidak dapat ditemukan. Namun, riwayat pencarian terkait masih tersisa di platform tersebut.

Berdasarkan isi tangkapan layar tersebut, diduga perempuan korban berhasil dicocokkan sebagai donor organ, kemudian diculik di jalan dan diangkat ke dalam ambulans. Seluruh proses ini juga disebut melibatkan kerja sama kantor polisi wilayah, yang menunjukkan bahwa “kelompok proyek” tersebut memiliki latar belakang resmi.

Dalam percakapan grup disebutkan kata “Jida” (Universitas Jilin), sehingga diduga peristiwa ini terjadi di Kota Changchun, Provinsi Jilin, dan operasi transplantasi organ dilakukan di rumah sakit yang berada di bawah Universitas Jilin.

Menurut laporan Organisasi Internasional untuk Penyelidikan Penganiayaan terhadap Falun Gong (WOIPFG), Rumah Sakit Pertama dan Rumah Sakit Kedua Universitas Jilin keduanya diduga terlibat dalam praktik pengambilan organ hidup dalam skala besar dan telah dimasukkan dalam daftar investigasi.

Hasil penyelidikan WOIPFG selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa setelah PKT mulai menganiaya Falun Gong, rezim tersebut membangun industri transplantasi organ berskala besar dengan mengandalkan pengambilan organ hidup dari praktisi Falun Gong. Sistem “610” PKT, aparat keamanan, kejaksaan, pengadilan, militer, dan sistem medis bekerja sama membangun bank donor manusia hidup yang terhubung secara nasional.

Kini, korban pengambilan organ hidup oleh PKT tidak lagi terbatas pada praktisi Falun Gong. Banyaknya kasus orang hilang di masyarakat luas semakin sering dicurigai terkait dengan rantai industri gelap ini.

Pada Mei 2024, setelah dokter magang Rumah Sakit Kedua Xiangya di Changsha, Provinsi Hunan, bernama Luo Shuaiyu, meninggal akibat jatuh, orang tuanya mempublikasikan sejumlah besar bukti yang ditinggalkan putranya. Mereka menuduh bahwa Luo dibungkam karena melaporkan praktik pengambilan organ hidup skala besar di rumah sakit tersebut. 

Bukti-bukti itu termasuk sejumlah dokumen “donasi organ” yang dibuat secara asal-asalan, di mana alamat rumah keluarga seorang “anak perempuan donor organ” justru tercantum sebagai sebuah kantor polisi setempat. Hal ini tampaknya semakin membuktikan bahwa sistem kepolisian PKT terlibat secara mendalam dalam kejahatan pengambilan organ hidup.

Selain itu, dalam tangkapan layar laporan dari Changchun tersebut juga disebutkan praktik “ambulans menculik donor di jalan”, yang diduga telah terjadi berulang kali di Tiongkok daratan.

Pada Juni 2025, beredar video dari Kota Guigang, Guangxi, yang menunjukkan seorang gadis diculik di jalan oleh lima hingga enam pria, diikat di atas tandu, lalu diangkat ke dalam ambulans. 

Gadis itu berteriak histeris meminta tolong sambil berteriak, “Saya punya hepatitis B.” Ada laporan daring yang menyebutkan bahwa keesokan harinya gadis tersebut telah dikirim ke rumah duka. Otoritas PKT kemudian melakukan “klarifikasi” untuk menyangkal kejadian tersebut, namun banyak warganet tidak mempercayainya.

Baru-baru ini, video lain yang beredar di internet menunjukkan seorang perempuan di Apartemen Jinxiang, Wenzhou, Provinsi Zhejiang, diculik dari rumahnya pada larut malam oleh beberapa orang berseragam dan diangkat ke dalam ambulans. Perempuan tersebut berteriak histeris, “Saya tidak ingin mati.” Warganet terkejut dan berkomentar, “Sekarang pengambilan organ, langsung menarik orang dari rumah!?” (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Aksi Protes Melanda Seluruh Iran Seiring Seruan Rakyat untuk Martabat dan Perubahan

Aksi protes rakyat di Iran dalam beberapa hari terakhir terus meningkat. Demonstrasi dan pemogokan telah menyebar ke sebagian besar kota di seluruh negeri, bahkan dua kota di wilayah barat Iran dilaporkan telah dikuasai para pengunjuk rasa. Para analis menilai, gerakan ini berbeda dari gelombang protes sebelumnya dan mencerminkan kerinduan mendalam masyarakat Iran akan martabat dan kebebasan.

EtIndonesia. Meskipun otoritas Iran meningkatkan tindakan represif—menggunakan gas air mata, senapan peluru karet, dan kekerasan terhadap para demonstran—rakyat Iran tetap melanjutkan aksi protes dan pemogokan, yang kini telah meluas ke puluhan kota di seluruh negeri.

Kelompok oposisi menyatakan bahwa para demonstran telah sepenuhnya menguasai dua kota di Iran barat, yakni Kota Abdanan dan Kota Malekshah, yang terletak dekat perbatasan Irak. Warga turun ke jalan merayakan kemenangan tersebut sambil meneriakkan slogan-slogan menentang Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Di Provinsi Ilam, sejumlah saksi mata mengatakan bahwa aparat berusaha menangkap demonstran yang terluka, bahkan sampai melepaskan gas air mata di dalam rumah sakit. 

Gambar yang beredar di internet memperlihatkan seorang perempuan memegang poster yang secara langsung meminta bantuan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dengan tulisan: “Tolong jangan biarkan mereka membunuh kami.”

Presiden Trump sebelumnya telah menyampaikan peringatan kepada rezim Iran.

Presiden AS Donald Trump:  “Kami memantau perkembangan situasi ini dengan sangat saksama. Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya, saya rasa mereka akan menghadapi serangan keras dari Amerika Serikat.”

Penerbit Epoch Times edisi bahasa Persia, Shahzadeh Ghanai, mengatakan bahwa otoritas Iran sebenarnya sangat memperhatikan pernyataan Trump.

Shahzadeh Ghanai:  “Di dalam negeri Iran, para pemimpin sangat memperhatikan setiap ancaman langsung dari Donald Trump dan pemerintahannya. Secara lahiriah mereka mungkin tampak tidak peduli, tetapi mereka ingat bahwa tindakan Trump di masa lalu sering kali sulit diprediksi.”

Ia menambahkan bahwa hal ini sangat penting bagi rakyat Iran.

Shahzadeh Ghanai:  “Rakyat Iran merasakan bahwa kali ini mereka mendapat dukungan dari pemerintah Amerika Serikat. Pesan yang sampai kepada para pengunjuk rasa memberi mereka ketenangan psikologis, membuat mereka merasa tidak sepenuhnya diabaikan.”

Ghanai menilai gelombang protes kali ini berbeda dari sebelumnya dalam berbagai aspek. Salah satu faktor kunci adalah bergabungnya para pedagang di Bazar Besar Teheran—sebuah langkah yang jarang terjadi. Kelompok ini selama ini dikenal sangat konservatif dan biasanya menghindari keterlibatan dalam gejolak politik.

Shahzadeh Ghanai:  “Dalam kondisi normal, mereka tidak banyak ikut campur. Mereka dianggap sebagai salah satu kelompok paling konservatif di Iran, dan Bazar Besar adalah pusat perdagangan terbesar di negara ini.”

Ia juga mengatakan bahwa perbedaan lainnya adalah semakin besarnya dukungan publik terhadap putra mahkota Iran yang hidup di pengasingan, terutama di kalangan anak muda. Banyak orang turun ke jalan meneriakkan namanya sebagai bentuk dukungan terbuka.

Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, menyatakan kesediaannya memimpin pemerintahan transisi sebelum diadakannya referendum.

 “Selama bertahun-tahun, saya belum pernah melihat peluang sebesar ini muncul di Iran seperti sekarang,” katanya. 

Ghanai menambahkan bahwa suara-suara penentangan juga mulai muncul dari dalam sistem pemerintahan sendiri. Rezim kini menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, sementara sanksi dari pemerintahan Trump semakin memperberat tekanan ekonomi terhadap Iran.

Shahzadeh Ghanai:  “Mereka adalah rakyat yang cinta damai. Mereka tahu bahwa Republik Islam Iran tidak mewakili rakyat Iran yang sesungguhnya. Jika Anda pergi ke Iran, Anda akan menemukan bahwa orang Iran sangat ramah—saya bahkan berpendapat mereka adalah salah satu bangsa paling ramah di dunia. Mereka terkenal sangat hangat dan bersahabat terhadap para tamu. Namun, hal itu tidak tercermin dalam pemberitaan media. Karena itulah mereka ingin menjadikan Iran besar kembali dan memulihkan citra-citra indah tersebut.”

Dalam beberapa hari terakhir, Amerika Serikat telah mengerahkan 12 pesawat militer ke dua pangkalan di wilayah Inggris, memicu spekulasi apakah pesawat-pesawat tersebut akan digunakan jika situasi di Iran semakin memanas. (Hui)

Laporan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Daniel Monahan dan Wang Yanjiao, dari Washington, D.C., Amerika Serikat.

Mengapa AS Menguasai Minyak Venezuela Sekarang? Jawabannya Mengarah ke Beijing

EtIndonesia. Kebijakan energi global mengalami perubahan besar setelah Menteri Energi AS, Chris Wright mengumumkan rencana Washington untuk mengambil alih pengendalian penjualan minyak mentah Venezuela secara tak terbatas, sekaligus menjualnya ke pasar internasional. Pernyataan ini disampaikan Wright dalam konferensi energi Goldman Sachs yang digelar di Miami, Florida, pada 7 Januari 2026.

Menurut Wright, AS akan terlebih dahulu memasarkan minyak Venezuela yang sudah tersimpan di fasilitas penyimpanan, kemudian melanjutkan penjualan produksi minyak negara itu tanpa batas waktu. Penjualan akan dilakukan oleh Pemerintah AS, dengan hasil pendapatan disetorkan ke rekening yang dikendalikan oleh Washington.

Wright menyatakan bahwa langkah ini dimaksudkan sebagai alat untuk mendorong perubahan politik dan ekonomi di Venezuela yang sedang bergejolak, sekaligus memberi manfaat tidak hanya bagi pasar energi global tetapi juga bagi rakyat Venezuela melalui aliran hasil penjualan tersebut.

Perubahan Arah Ekspor Minyak Venezuela

Sejak bertahun-tahun, Venezuela menjadi salah satu eksportir minyak utama ke Tiongkok, dengan estimasi sekitar 40% ekspor minyaknya ditujukan ke pasar Asia tersebut pada periode 2024–2025.

Namun kebijakan AS yang kini mengambil alih penjualan dan pengelolaan hasil penjualan minyak secara penuh berarti arus perdagangan minyak Venezuela akan berubah drastis. Wright menyatakan bahwa AS ingin menjual minyak Venezuela ke pasar global, termasuk kilang-kilangnya sendiri di AS, serta kepada pembeli internasional lain.

AS juga telah mencapai kesepakatan awal dengan pemerintah sementara Venezuela untuk mengekspor sekitar 30–50 juta barel minyak mentah Venezuela ke AS pada fase awal, senilai sekitar 1,8–2,8 miliar dolar. Hasil penjualan minyak tersebut akan dikendalikan oleh AS melalui rekening yang dikelola Washington terlebih dahulu.

Dampak Geopolitik dan Analisis Ahli

Menurut beberapa pengamat geopolitik, termasuk analis dan akademisi dari Eropa, langkah AS ini memiliki tujuan strategis besar untuk melemahkan pengaruh rival global, terutama Tiongkok, yang selama ini menjadi pembeli minyak Venezuela terbesar. Pengambilalihan aliran minyak Venezuela oleh Washington dinilai dapat mengurangi ketergantungan energi global Tiongkok terhadap Caracas serta memutus hubungan strategis antara Venezuela, Iran, Rusia, dan Partai Komunis Tiongkok. (Catatan: Laporan wawancara dari majalah L’Express seperti dikutip sebelumnya dalam pertanyaan pengguna.)

Para analis juga menekankan bahwa tujuan Pemerintah AS bukan sekadar soal ekonomi, tetapi juga termasuk perubahan internal rezim Venezuela dan restrukturisasi hubungan diplomatik energi global.

Reaksi Publik dan Komentar Netizen

Di media sosial dan platform diskusi internasional, pengumuman tentang kendali minyak Venezuela oleh AS memicu gelombang komentar satir dan kritik. Beberapa netizen menanggapi secara sarkastik dengan menyampaikan bahwa tindakan seperti itu akan membuat zona larangan terbang atau pembelaan udara Tiongkok tidak relevan. Ada pula komentar yang menyebut bahwa kemampuan militer Taiwan — dengan peralatan buatan AS — secara teori bisa melakukan operasi serupa, menciptakan suasana yang dipandang semakin kompleks dan menegangkan di arena geopolitik. 

Implikasi Lebih Luas

Langkah ini terjadi pada momen yang bersamaan dengan dukungan AS terhadap perubahan politik di Iran, serta sanksi yang dikenakan pada perusahaan energi besar Rusia seperti Lukoil dan Rosneft. Sanksi tersebut dipandang memperdalam tekanan terhadap hubungan energi antara Rusia dan Tiongkok, serta dapat memicu serangkaian sanksi lanjutan yang berpotensi menahan impor minyak China dari pasar energi Rusia.

Secara keseluruhan, keputusan AS untuk mengendalikan dan menjual minyak Venezuela secara tak terbatas mencerminkan pergeseran signifikan dalam peta geopolitik energi global, dengan kemungkinan dampak ekonomi, strategis, dan diplomatik jangka panjang yang masih akan terus berkembang.

Retaknya Benteng Terakhir Rezim Iran: Ketika Militer Tak Lagi Solid

EtIndonesia. Iran kini berada di ambang sebuah perubahan besar yang bersifat fundamental dan menentukan. Situasi yang berkembang di negara tersebut tidak lagi dapat dipandang sebagai aksi protes biasa atau bentrokan jalanan sporadis. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern Iran, Putra Mahkota Iran secara terbuka dan langsung menyerukan sikap kepada militer, kepolisian, dan seluruh aparat keamanan negara.

Pada 7 Januari 2026, Putra Mahkota Iran yang hidup dalam pengasingan di Amerika Serikat, Reza Pahlavi, merilis sebuah pernyataan video yang segera menyita perhatian dunia. Pernyataan tersebut tidak ditujukan kepada komunitas internasional, melainkan secara eksplisit diarahkan kepada tentara Iran, kepolisian, dan pasukan keamanan.

Dalam pesannya, Reza Pahlavi menegaskan bahwa seragam militer dikenakan untuk melindungi Iran dan rakyatnya—bukan untuk mempertahankan sebuah rezim. Dia menyatakan bahwa para aparat kini berdiri di sebuah persimpangan sejarah yang tidak dapat dihindari, di mana pilihan yang diambil akan menentukan nasib pribadi sekaligus masa depan bangsa.

“Bukan Lagi Soal Apakah, Melainkan Kapan”

Putra Mahkota Iran menyampaikan peringatan yang sangat tegas: runtuhnya rezim, menurutnya, bukan lagi persoalan “apakah”, melainkan “kapan”. Dia menekankan bahwa waktu tersebut kini jauh lebih dekat dibandingkan sebelumnya.

Dalam pernyataannya, dia memperingatkan bahwa setiap aparat yang terus menembaki rakyat akan dikenali dan dimintai pertanggungjawaban di masa depan. Sebaliknya, mereka yang memilih berpihak kepada rakyat dan negara akan dilindungi serta dikenang oleh sejarah Iran.

Retaknya Soliditas Aparat Keamanan

Selama sepuluh hari terakhir, jutaan warga Iran dilaporkan turun ke jalan di lebih dari seratus kota. Namun, terdapat satu perubahan signifikan yang menjadi sorotan para analis: penindasan brutal yang biasanya menyertai demonstrasi besar tidak lagi terjadi secara merata.

Di berbagai wilayah, warga menyaksikan aparat militer dan polisi bersikap pasif, bahkan tidak bergerak sama sekali. Dalam sistem kekuasaan Iran yang sangat bergantung pada loyalitas militer, fenomena ini dipandang sebagai sinyal berbahaya yang menunjukkan mulai terjadinya retakan serius dalam soliditas internal aparat keamanan.

“Platform Kerja Sama Nasional” dan Jalur Aman Pembelotan

Reza Pahlavi menegaskan bahwa seruannya bukan sekadar pernyataan moral. Dia mengungkapkan bahwa sejak enam bulan lalu telah dibangun sebuah sistem yang disebut “Platform Kerja Sama Nasional”—sebuah jalur aman bagi tentara, pejabat pemerintah, dan anggota parlemen untuk menyatakan kesetiaan kepada negara, bukan kepada rezim.

Menurutnya, hingga kini puluhan ribu orang telah mendaftarkan diri melalui platform tersebut, mencerminkan besarnya keresahan internal di tubuh pemerintahan Iran.

Dalam wawancara lanjutan dengan Fox News, Reza Pahlavi menegaskan bahwa tanpa kerja sama diam-diam dari militer, transisi kekuasaan yang stabil pasca runtuhnya rezim tidak mungkin terwujud. Dia juga memastikan bahwa jaringan ini tidak hanya melibatkan tentara, tetapi juga pejabat pemerintahan dan anggota parlemen aktif.

Selebaran Protes dan Simbol Internasional

Di sejumlah kota Iran, selebaran protes juga dilaporkan beredar luas dengan pesan berbunyi:

“Terima kasih Presiden Trump. Terima kasih Raja Pahlavi. Hidup Israel.”

Kemunculan pesan-pesan ini menandai perubahan signifikan dalam narasi perlawanan, yang kini semakin berani dan terbuka dalam mengekspresikan dukungan politik lintas negara.

Starlink Lumpuhkan Senjata Pemutusan Internet

Perkembangan penting lainnya turut mempersempit ruang gerak rezim Iran. Sejumlah saluran oposisi mengonfirmasi bahwa sistem komunikasi satelit Starlink telah dikerahkan secara luas di dalam Iran.

Dengan keberadaan jaringan satelit ini, apabila pemerintah memutus internet nasional—salah satu alat penindasan paling efektif selama ini—komunikasi dan koordinasi massa tetap dapat berjalan. Artinya, kemampuan rezim untuk mengisolasi dan memadamkan perlawanan rakyat kini mengalami pelemahan signifikan.

Protes Meluas, Bojnurd Bergabung

Gelombang protes terus meluas. Pada 7 Januari 2026, kota penting di timur laut Iran, Bojnurd, dilaporkan dilanda demonstrasi besar-besaran. Bergabungnya Bojnurd menandai bertambahnya kota-kota utama yang kini berada dalam pusaran perlawanan nasional.

Hingga saat ini, aksi protes telah memasuki hari ke-11, mencakup puluhan kota besar dan kecil, dengan skala yang terus meningkat.

Dimensi Regional: Serangan Israel di Lebanon Selatan

Pada hari yang sama, situasi semakin kompleks ketika Israel melancarkan serangan militer ke wilayah selatan Lebanon. Perkembangan ini membuat krisis Iran tidak lagi dipandang sebagai persoalan domestik semata, melainkan bagian dari dinamika geopolitik kawasan yang lebih luas.

“Saya Akan Kembali ke Iran”

Di akhir pernyataannya, Reza Pahlavi menyampaikan satu kalimat yang mengguncang: “Ketika waktunya tiba, saya akan kembali ke Iran, bersama para patriot, untuk ikut dalam pertempuran terakhir.”

Analisis: Militer Menjadi Penentu Segalanya

Sejumlah analis internasional menilai bahwa nasib Iran kini sepenuhnya bergantung pada pilihan militer. Ketika aparat mulai ragu, penindasan kehilangan efektivitas, dan pemutusan internet tak lagi ampuh, Iran dinilai telah memasuki sebuah fase baru yang tidak dapat diputar balik.

Dengan kombinasi perlawanan rakyat yang meluas, retaknya loyalitas aparat, serta melemahnya alat kontrol rezim, Iran kini berdiri di titik balik sejarah yang paling menentukan dalam beberapa dekade terakhir.

Kudeta Rakyat di Iran? Kota Industri Jatuh, Intelijen Dipenggal, Elite Mulai Retak

EtIndonesia. Situasi di Iran kian memburuk dan memasuki fase yang dinilai paling berbahaya sejak gelombang protes nasional meletus. Pada hari ke-11 aksi demonstrasi, pemerintah Iran dilaporkan kehilangan kendali atas setidaknya tiga kota, sementara pembelotan aparat, keterlibatan kelompok bersenjata, serta sinyal perpecahan elite kekuasaan semakin nyata.

Dua Kota Jatuh pada 6 Januari, Kota Ketiga Menyusul

Pada 6 Januari 2026, Pemerintah Iran secara berturut-turut kehilangan kendali atas Abdanan dan Malekshahi, dua kota di wilayah barat Iran. Sehari berselang, laporan dari berbagai sumber menyebutkan bahwa kota ketiga—diduga Karaj—telah jatuh ke tangan demonstran.

Karaj memiliki arti strategis yang sangat besar. Kota ini merupakan ibu kota administratif Provinsi Alborz, kota satelit terbesar Teheran, pusat industri utama, serta simpul transportasi yang menghubungkan ibu kota dengan wilayah Laut Kaspia. Dengan jumlah penduduk lebih dari 1,5 juta jiwa, hilangnya Karaj akan menjadi pukulan telak bagi stabilitas nasional Iran.

Pembelotan Aparat dan Eskalasi Bersenjata

Seiring meluasnya protes, sejumlah aparat kepolisian dan pasukan keamanan dilaporkan membelot ke pihak rakyat. Kelompok bersenjata yang sebelumnya bersikap netral kini mulai mengangkat senjata dan terlibat baku tembak langsung dengan pasukan pemerintah.

Pada saat yang sama, Tiongkok dan Rusia dilaporkan melakukan evakuasi darurat staf kedutaan mereka, sebuah langkah yang memperkuat dugaan bahwa situasi Iran telah melampaui level krisis domestik biasa.

Grand Bazaar Teheran Jadi Titik Didih Konflik

Hingga 7 Januari, Grand Bazaar Teheran masih menjadi pusat bentrokan. Video yang beredar luas memperlihatkan ribuan massa meneriakkan slogan anti-pemerintah, bahkan secara terbuka menyatakan dukungan terhadap monarki dan Raja Iran.

Di kawasan Sar, para pemuda pendukung Dinasti Pahlavi menduduki ruang publik dan meneriakkan slogan “Matilah diktator”. Aparat keamanan merespons dengan gas air mata, namun gagal sepenuhnya membubarkan massa.

Demonstrasi besar juga pecah di:

  • Mashhad, kota besar di timur laut Iran
  • Naziabad, Teheran selatan, dengan ribuan warga memadati jalan
  • Aligudarz, Provinsi Lorestan, di mana puluhan ribu pendukung Pahlavi meneriakkan slogan “Ini adalah pertempuran terakhir” dan “Dinasti Pahlavi pasti akan kembali”

Militer Iran Bereaksi, Tapi Penindasan Terus Berlangsung

Pada 7 Januari, Panglima Angkatan Darat Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami menyatakan bahwa demonstrasi telah berubah menjadi “kerusuhan yang direkayasa musuh”. Dia menegaskan kesiapan tempur militer Iran saat ini lebih tinggi dibanding sebelum konflik Iran–Israel pada Juni 2025.

Namun di lapangan, fakta berkata lain. Di Kabupaten Larestan, Provinsi Fars, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dilaporkan melepaskan tembakan massal ke arah demonstran sipil tak bersenjata.

Selain itu, IRGC mengaktifkan latihan pertahanan udara dan radar di Teheran, Shiraz, dan kota-kota besar lain—mengisyaratkan persiapan menghadapi pemberontakan internal sekaligus potensi serangan eksternal.

Serangan Balasan: Markas IRGC Diserang, Kepala Intelijen Dipenggal

Eskalasi berlanjut pada 7 Januari, ketika sebuah organisasi bersenjata Islam menyerang markas utama IRGC di Borujerd, Iran barat. Ini menandai pertama kalinya Garda Revolusi—pilar utama rezim—menjadi target langsung serangan bersenjata terorganisir.

Pada hari yang sama, Kepala Kepolisian Iranshahr, Hajighat, yang juga berperan sebagai pimpinan intelijen daerah, dilaporkan dipenggal oleh kelompok anti-rezim.

Sementara itu, Tentara Nasional Kurdistan mengeluarkan pernyataan bahwa pasukan internal memiliki hak bela diri yang sah, sebuah sinyal keras kemungkinan keterlibatan militer regional.

Sebuah video viral memperlihatkan perwira milisi Basij menolak menindas rakyat dan menyebut tanggal 8–9 Januari sebagai momen penentuan. Pesan ini menyebar luas di tengah masyarakat Iran.

Ulama Syiah Serukan Perlawanan Terbuka

Dalam perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, seorang ulama Syiah menyampaikan pidato terbuka dalam bahasa Persia, menyerukan rakyat menggulingkan Ali Khamenei, memulihkan monarki, dan menyebut pemimpin tertinggi Iran sebagai akar seluruh penderitaan nasional.

Ancaman Pemutusan Internet, Starlink Disiapkan

Pada 7 Januari, sejumlah sumber di platform X mengungkapkan bahwa internet Iran akan diputus malam hari. Pemerintah dilaporkan telah memberi tahu penyedia layanan—indikasi persiapan tindakan represif besar-besaran.

Di saat yang sama, video menunjukkan satelit Starlink milik Elon Musk melintas di atas Iran.

Reza Pahlavi, dalam pernyataan tertanggal 7 Januari, menegaskan bahwa kehadiran rakyat hari ini adalah bentuk kesiapan menuju 8 Januari. Dia menegaskan, meski internet diputus, komunikasi akan tetap berjalan melalui ratusan ribu perangkat Starlink dan jaringan alternatif lainnya.

Sinyal Perang Besar Mulai Terlihat

Dalam 24 jam terakhir, Rusia mengirim tiga pesawat evakuasi untuk staf kedutaannya di Israel beserta keluarga. Australia juga mulai mengevakuasi warganya.

Situasi ini memicu spekulasi luas mengenai kemungkinan perang besar di Timur Tengah. Donald Trump sebelumnya telah memperingatkan Teheran bahwa penindasan brutal terhadap rakyat dapat memicu intervensi AS.

Presiden Iran Melarang Penindasan, Isyarat Perpecahan Elite

Namun pada 7 Januari, media resmi Iran menayangkan rapat kabinet di mana Masoud Pezeshkian memerintahkan aparat keamanan tidak menindas demonstran, kecuali jika keamanan nasional benar-benar terancam. Dia menekankan pembedaan antara demonstran damai dan perusuh.

Presiden juga dijadwalkan menyampaikan pidato nasional dalam beberapa hari ke depan. Di saat bersamaan, muncul laporan bahwa pemerintah menjanjikan subsidi 7 dolar AS per bulan per warga—langkah yang banyak dinilai sebagai tanda kepanikan dan perpecahan elite, mirip skenario Venezuela pasca-penangkapan Maduro.

Tekanan Global: Mossad, Rusia, dan Kapal Pesiar Ditahan

Dalam pesan terbuka yang mengejutkan, Mossad menyerukan militer Iran agar tidak mengandalkan rudal untuk menghadapi rakyat, bahkan menyindir agar peluncur rudal “dikembalikan ke gudang” dan memesan tiket satu arah ke Rusia.

Pada 7 Januari, militer AS menahan kapal pesiar bayangan berbendera Rusia di perairan antara Islandia dan Inggris. Kapal kedua, Bella One, ditahan di Karibia setelah pengejaran dua minggu. Rusia mengirim kapal perang dan kapal selam, namun tidak berani bertindak—sebuah penghinaan besar bagi Vladimir Putin.

Kesimpulan

Memasuki hari ke-11, krisis Iran telah berkembang dari demonstrasi ekonomi menjadi pemberontakan nasional multidimensi—melibatkan pembelotan militer, perang informasi, ancaman perang regional, dan tekanan global. Dunia kini menanti: apakah malam ini akan menjadi titik balik sejarah Iran?

AS Menarik Diri dari 66 Organisasi Internasional dan Badan PBB, Menlu AS Rubio Isyaratkan Gelombang Penarikan Baru Sedang Disiapkan

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu (7/1/2026) menandatangani memorandum presiden yang menginstruksikan Amerika Serikat untuk keluar dari 66 organisasi internasional. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kemudian menyatakan melalui sebuah pernyataan bahwa peninjauan terhadap organisasi internasional lainnya masih terus berlangsung.

Menurut memorandum yang ditandatangani Presiden Trump, pemerintah AS akan menghentikan partisipasi dan pendanaan terhadap 66 organisasi, lembaga, dan komite internasional, yang mencakup 35 organisasi non-PBB dan 31 badan PBB.

Setelah Amerika Serikat mengumumkan keluar dari 66 organisasi internasional tersebut, Menteri Luar Negeri Marco Rubio merilis pernyataan yang menyebutkan bahwa pemerintahan Trump menemukan lembaga-lembaga ini memiliki fungsi yang tumpang tindih, manajemen yang buruk, tidak diperlukan, serta memboroskan sumber daya. 

Selain itu, lembaga-lembaga tersebut dinilai telah dikuasai oleh kekuatan yang bertentangan dengan kepentingan Amerika Serikat, atau menimbulkan ancaman terhadap kedaulatan nasional, kebebasan, dan kemakmuran Amerika secara keseluruhan.

“Hari-hari di mana miliaran dolar uang pajak mengalir ke kekuatan asing yang merugikan kepentingan rakyat Amerika telah berakhir,” kata Rubio. Ia menegaskan bahwa Trump telah menyatakan dengan jelas bahwa hasil jerih payah rakyat Amerika tidak seharusnya lagi disia-siakan untuk lembaga-lembaga tersebut.

Gedung Putih belum merilis daftar lengkap dari 66 organisasi internasional yang ditinggalkan, namun sumber menyebutkan bahwa kelompok-kelompok yang ditinggalkan AS kali ini mencakup Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), Komisi Hukum Internasional PBB (ILC), Pusat Perdagangan Internasional (ITC), International Union for Conservation of Nature (IUCN), Partnership for Atlantic Cooperation (PAC), serta International Federation of Arts Councils and Culture Agencies (IFACCA), dan lain-lain.

Menurut laporan Associated Press, organisasi-organisasi ini berfokus pada isu-isu seperti iklim, ketenagakerjaan, dan topik lainnya. Pemerintahan Trump menilai sebagian dari kelompok tersebut sebagai pihak yang mendukung agenda keberagaman dan budaya “woke”.

Ini merupakan langkah terbaru Amerika Serikat dalam menarik diri dari lembaga-lembaga internasional. Sejak memulai masa jabatan keduanya setahun lalu, Presiden Trump sebelumnya telah menghentikan partisipasi AS dalam Dewan Hak Asasi Manusia PBB, keluar dari UNESCO, serta memperpanjang masa penangguhan pendanaan bagi Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA). (Hui)

Sumber : NTDTV.com