Teheran Membara! Kota Jatuh ke Tangan Rakyat, Delta Force AS Terancam Bergerak

EtIndonesia. Situasi di Iran terus memburuk dan memasuki fase paling berbahaya dalam beberapa dekade terakhir. Sejak awal Januari 2026, gelombang demonstrasi besar-besaran anti-pemerintah telah meluas ke lebih dari 100 kota di seluruh Iran, menandai eskalasi perlawanan rakyat terhadap rezim Republik Islam Iran. 

Rakyat Rebut Kendali Wilayah Strategis

Pada 6 Januari 2026, bentrokan antara massa demonstran dan aparat keamanan meningkat tajam. Di Teheran, rakyat berhasil merebut kembali kendali Grand Bazaar Teheran beserta wilayah sekitarnya—sebuah simbol ekonomi dan politik penting yang sejak lama menjadi barometer stabilitas kekuasaan Iran.

Laporan dari lapangan menyebutkan bahwa aparat keamanan menggunakan gas air mata, tongkat pemukul, bahkan senjata api untuk membubarkan massa di sejumlah kota di wilayah barat Iran, termasuk:

  • Azna (Provinsi Lorestan)
  • Malekshahi (Provinsi Ilam)
  • Asadabad dan Nahavand

Menurut Kantor Berita Fars pada 6 Januari, seorang anggota kepolisian dilaporkan tewas ditembak di wilayah barat Iran. Hingga hari yang sama, aksi protes telah meluas ke 27 provinsi, dengan sedikitnya 35 orang tewas dan lebih dari 1.200 orang ditangkap.

Kota Abdanan Jatuh ke Tangan Rakyat

Pada 6 Januari malam, seorang pengguna platform X melaporkan bahwa kelompok demonstran anti-pemerintah telah menguasai sepenuhnya Kota Abdanan, yang terletak di wilayah barat daya Iran dekat perbatasan Irak. Ini disebut sebagai pertama kalinya rakyat Iran berhasil merebut kendali penuh atas sebuah kota dari tangan rezim Islam.

Seiring konflik membesar, laporan pembelotan semakin sering muncul. Sejumlah personel militer dan kepolisian dilaporkan meninggalkan pos dan berpihak kepada rakyat, termasuk seorang pejabat intelijen senior Garda Revolusi Islam Iran di wilayah barat laut yang membelot secara sukarela.

Senjata di Tangan Warga dan Dugaan Dukungan Eksternal

Di sejumlah wilayah, warga terlihat membawa senapan serbu AK-47 dan senjata otomatis dengan magazen 30 peluru. Para analis menilai senjata tersebut berasal dari tiga sumber utama:

  1. Rampasan dari aparat keamanan,
  2. Penyelundupan lintas perbatasan,
  3. Dugaan dukungan dari pihak luar.

AS dan Israel Tingkatkan Kesiapan Militer

Di tengah memburuknya situasi internal Iran, Amerika Serikat dan sekutunya mulai melakukan manuver militer besar-besaran di kawasan Timur Tengah.

Saat ini, sekitar 45.000 tentara AS ditempatkan di Irak, Suriah, dan Qatar. Sejumlah akun X, termasuk “Iran Daily News”, mengonfirmasi bahwa pasukan khusus Delta Force AS telah ditempatkan di Irak, memperkuat spekulasi bahwa Washington bersiap menghadapi eskalasi konflik dengan Iran.

Pengguna X bernama Bichner melaporkan bahwa puluhan pesawat pengisian bahan bakar udara, serta pesawat angkut militer berat C-5 Galaxy dan C-17 Globemaster, telah lepas landas dari daratan Amerika Serikat dan Inggris menuju Timur Tengah dalam beberapa jam terakhir.

Sementara itu, akun “Pengamat Iran” menyebutkan bahwa warga Iran melaporkan keberadaan pesawat patroli maritim AS P-8A Poseidon yang melakukan patroli intensif di Selat Hormuz, wilayah strategis yang dikuasai Iran.

Dugaan Serangan Udara dan Ancaman Balasan Iran

Media Iran dan Arab melaporkan kemungkinan serangan udara gabungan AS–Israel untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara Iran. Di sisi lain, Iran disebut tengah menyiapkan serangan pendahuluan terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah serta target di Israel guna mencegah kehancuran sistem pertahanannya.

Ketegangan regional semakin meningkat setelah Rusia dilaporkan melakukan evakuasi darurat staf Kedutaan Besarnya di Israel beserta keluarga mereka. Ini merupakan penerbangan evakuasi ketiga Rusia dalam 24 jam terakhir.

Demonstrasi Besar di Teheran dan Seruan Penggulingan Khamenei

Pada 6 Januari, demonstrasi besar melanda Teheran. Massa melakukan aksi duduk dan meneriakkan slogan menuntut penggulingan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Aparat keamanan kembali menggunakan gas air mata untuk membubarkan demonstran.

Pada 7 Januari, Grand Bazaar Teheran kembali dipenuhi massa, yang melakukan aksi duduk di lorong-lorong pasar. Aparat militer dan polisi berupaya menutup kawasan tersebut, namun ditolak oleh para pedagang dan warga.

Jika sebelumnya demonstrasi didominasi pria muda, kini pria dan wanita dari berbagai usia ikut turun ke jalan. Wilayah sekitar Teheran juga dilaporkan telah dikuasai rakyat.

Seruan Terbuka Putra Mahkota Iran

Pada 7 Januari 2026, Reza Pahlavi, Putra Mahkota Iran yang tinggal di pengasingan di Amerika Serikat, menyampaikan seruan terbuka kepada militer Iran.

Ia menyatakan bahwa runtuhnya rezim Islam sudah di depan mata, dan inilah kesempatan terakhir bagi militer untuk berpihak kepada rakyat. Pahlavi menegaskan bahwa ia siap kembali ke Iran untuk mengikuti pertempuran terakhir.

Dalam sebuah video, ia menyerukan agar senjata digunakan untuk melindungi rakyat, bukan menembaki mereka, serta mengungkapkan bahwa sebuah platform nasional aman telah dibangun untuk menampung pernyataan kesetiaan personel militer—yang menurutnya telah diikuti ribuan orang.

Bayang-Bayang Operasi AS di Venezuela

Di tengah krisis Iran, perhatian juga tertuju pada preseden terbaru kebijakan Washington. Menurut laporan NBC pada 6 Januari, pejabat AS dalam pengarahan rahasia kepada Kongres pada 5 Januari mengungkapkan bahwa sebelum operasi penangkapan Nicolás Maduro, pemerintah AS telah berbulan-bulan berdiskusi dengan Wakil Presiden Venezuela saat itu, Rodríguez.

Pada  3 Januari 2026 dini hari, militer AS melancarkan operasi di Venezuela dan menangkap Maduro beserta istrinya. Rodríguez kemudian dilantik sebagai presiden sementara pada 5 Januari.

Sumber menyebutkan bahwa seorang agen Central Intelligence Agency yang berada di lingkaran kekuasaan Venezuela memberikan informasi lokasi Maduro secara berkelanjutan kepada pihak AS.

Ultimatum Washington dan Pesan Global

Wakil Kepala Staf Gedung Putih, Stephen Miller, mengungkapkan bahwa selama operasi penangkapan terjadi baku tembak sengit antara militer AS dan pengawal asal Kuba. Pemerintah Kuba mengklaim 32 warganya tewas.

Pada 6 Januari malam, Donald Trump mengumumkan bahwa pemerintah sementara Venezuela akan menyerahkan 30–50 juta barel minyak yang sebelumnya dikenai sanksi kepada AS untuk dijual dengan harga pasar.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa penangkapan Maduro bertujuan mencegah Venezuela jatuh ke tangan Iran, Rusia, Tiongkok, Kuba, dan sekutunya, serta mengeluarkan ultimatum agar seluruh penasihat dan personel intelijen dari negara-negara tersebut segera diusir. (***)

Ketika Sebuah Batu Memiliki Harapan

EtIndonesia. Seorang tukang pos desa bernama Ferdinand Cheval setiap hari berjalan kaki menyusuri desa-desa. Suatu hari, di jalan pegunungan yang terjal dan berbatu, dia tersandung oleh sebuah batu.

Dia bangkit, menepuk debu dari tubuhnya, dan bersiap melanjutkan perjalanan. Namun tiba-tiba dia menyadari bahwa batu yang membuatnya terjatuh itu memiliki bentuk yang sangat unik. Dia memungut batu tersebut, memandanginya dari kiri dan kanan, lalu merasa semakin menyukainya.

Akhirnya, batu itu dimasukkan ke dalam tas posnya. Warga desa melihat bahwa selain surat-surat, tas posnya kini juga berisi sebuah batu yang berat. 

Mereka merasa heran dan dengan niat baik menasihatinya :  “Buang saja batu itu. Setiap hari kamu harus berjalan jauh, itu hanya akan menjadi beban.”

Malam harinya, setelah pulang ke rumah, dia terbaring lelah di tempat tidur. 

Tiba-tiba sebuah gagasan muncul di benaknya: Bagaimana kalau batu-batu seindah ini digunakan untuk membangun sebuah kastel? Betapa menawannya itu!

Sejak saat itu, setiap kali mengantar surat, dia selalu mencari batu. Setiap hari, dia membawa pulang satu batu. Tak lama kemudian, dia mengumpulkan banyak batu dengan bentuk-bentuk aneh. Namun jumlah itu masih jauh dari cukup untuk membangun sebuah kastel.

Dia pun mulai mendorong gerobak roda satu saat mengantar surat. Setiap menemukan batu yang disukainya, dia akan memasukkannya ke dalam gerobak.

Sejak hari itu, hidupnya tidak pernah lagi benar-benar ringan. Siang hari dia adalah seorang tukang pos sekaligus kuli pengangkut batu. Malam hari, dia berubah menjadi seorang arsitek. Dia menumpuk dan menyusun batu-batu itu mengikuti imajinasinya yang liar dan bebas, membangun kastel impiannya sedikit demi sedikit.

Semua orang menganggap perbuatannya aneh. Mereka yakin pikirannya sudah tidak normal.

Selama lebih dari 20 tahun, dia tak pernah berhenti mencari, mengangkut, dan menumpuk batu. Di tempat tinggalnya yang terpencil, perlahan muncul bangunan-bangunan kastel yang bertingkat dan berundak. Penduduk setempat tahu, ada seorang tukang pos pendiam dan keras kepala yang sibuk melakukan sesuatu yang tampak seperti permainan anak-anak membangun istana pasir.

Pada tahun 1905, seorang wartawan dari surat kabar Prancis secara kebetulan menemukan kumpulan kastel kecil itu. Pemandangan serta struktur bangunannya membuatnya terpukau. Dia pun menulis sebuah artikel tentang Cheval.

Setelah artikel itu terbit, Cheval segera menjadi tokoh pemberitaan. Banyak orang datang berbondong-bondong untuk mengunjungi kastel tersebut. Bahkan seniman ternama Pablo Picasso pun datang secara khusus untuk melihat karya Cheval.

Kini, kastel itu telah menjadi salah satu objek wisata paling terkenal di Prancis. Namanya adalah “Bangunan Tukang Pos Cheval”.

Hikmah cerita:

Pada batu-batu kastel itu, hingga hari ini masih terlihat jelas banyak ukiran yang dibuat Cheval di masa lalu.

Salah satu kalimat terukir di sebuah batu di pintu masuk berbunyi: “Aku ingin tahu, sejauh mana sebuah batu yang memiliki harapan bisa melangkah.”

Konon, itulah batu yang dahulu pernah membuat Cheval tersandung.(jhn/yn)

Pandangan yang Mampu Menemukan Kekayaan

EtIndonesia. Feller lahir dan tumbuh di kawasan kumuh. Seperti banyak anak lain yang besar di lingkungan itu, dia berjiwa kompetitif dan gemar membolos sekolah. Namun yang membedakannya dari anak-anak lain adalah: sejak kecil Feller memiliki mata yang tajam untuk menemukan peluang dan kekayaan.

Suatu hari, dia memperbaiki sebuah mobil mainan rusak yang dia temukan di jalan. Setelah itu, dia meminjamkannya kepada teman-temannya untuk dimainkan, dengan menarik biaya 0,5 sen per orang. Dalam waktu satu minggu saja, dia berhasil mengumpulkan cukup uang untuk membeli sebuah mobil mainan baru.

Guru Feller merasa sangat menyayangkan bakatnya dan berkata: “Kalau saja kamu lahir di keluarga kaya, kamu pasti bisa menjadi pengusaha hebat. Tapi itu sudah mustahil bagimu. Kalau bisa jadi pedagang kaki lima saja, itu sudah bagus.”

Setelah lulus SMP, seperti ramalan gurunya, Feller benar-benar menjadi pedagang kecil. Dia menjual baterai, perkakas kecil, hingga limun—dan semuanya dia kelola dengan sangat piawai. Dibandingkan dengan teman-temannya sesama anak kawasan kumuh, dia sudah bisa dibilang jauh lebih berhasil.

Namun ramalan sang guru tidak sepenuhnya benar. Feller memulai langkah besarnya berkat satu muatan sutra. Dari seorang pedagang kecil, dia melonjak menjadi pengusaha.

Muatan sutra itu berasal dari Jepang, jumlahnya mencapai satu ton. Saat pengangkutan dengan kapal, sutra tersebut terkena badai dan terendam air, sehingga warnanya rusak. Sutra-sutra itu menjadi masalah besar bagi para pedagang Jepang: ingin dijual, tak ada yang mau membeli; ingin dibuang ke darat, takut didenda oleh dinas lingkungan hidup. Akhirnya, mereka berniat membuangnya ke laut saat kapal kembali berlayar.

Di pelabuhan, ada sebuah bar bawah tanah yang sering dikunjungi Feller untuk minum. Suatu malam, dia mabuk. Saat berjalan sempoyongan melewati beberapa pelaut Jepang, dia mendengar mereka mengeluhkan sutra-sutra bermasalah itu.

Ucapan itu mungkin tanpa sengaja, tetapi bagi Feller, itulah peluang emas.

Keesokan harinya, Feller mendatangi kapal tersebut. Dia menunjuk sebuah truk yang terparkir di pelabuhan dan berkata kepada kapten kapal :  “Aku bisa membantu kalian mengurus sutra-sutra tak berguna itu.”

Hasilnya, tanpa mengeluarkan sepeser pun, Feller mendapatkan seluruh sutra yang telah rusak warnanya itu. Dia lalu mengolahnya menjadi pakaian loreng, dasi loreng, dan topi loreng. Hampir dalam semalam, dia mengantongi 100.000 dolar AS.

Suatu hari, Feller mengincar sebidang tanah di pinggiran kota. Dia menemui pemiliknya dan menawarkan 100.000 dolar AS. 

Setelah menerima uang itu, sang pemilik tanah diam-diam menertawakan Feller :  “Lokasi terpencil seperti ini, hanya orang bodoh yang mau membayar semahal itu!”

Tak disangka, setahun kemudian, pemerintah kota mengumumkan pembangunan jalan lingkar di wilayah pinggiran tersebut. Tak lama berselang, nilai tanah Feller melonjak 150 kali lipat.

Seorang konglomerat kota datang menemuinya dan menawarkan 20 juta dolar AS untuk membeli tanah itu, dengan rencana membangun kompleks vila mewah. Namun Feller menolak.

Dia tersenyum dan berkata: “Aku ingin menunggu sedikit lagi. Menurutku, tanah ini masih bernilai lebih tinggi.”

Benar saja. Tiga tahun kemudian, tanah itu terjual dengan harga 25 juta dolar AS.

Para rekan bisnisnya sangat penasaran. Mereka ingin tahu dari mana Feller mendapatkan semua informasi itu. Bahkan ada yang mencurigainya memiliki koneksi dengan pejabat pemerintah. Namun kenyataannya mengecewakan mereka—Feller tidak memiliki satu pun teman yang bekerja di pemerintahan.

Feller meninggal pada usia 77 tahun. Menjelang wafat, dia meminta sekretarisnya memasang sebuah pengumuman di surat kabar: bahwa dia akan pergi ke surga dan bersedia menyampaikan pesan kepada orang-orang yang telah kehilangan anggota keluarga. Biaya jasa tersebut: 100 dolar AS per orang.

Pengumuman yang terdengar konyol itu justru memicu rasa ingin tahu banyak orang. Hasilnya, dia kembali meraup 100.000 dolar AS. Jika dia bisa bertahan hidup beberapa hari lebih lama, jumlahnya mungkin akan lebih besar lagi.

Wasiatnya pun tak kalah unik. Dia meminta sekretarisnya memasang iklan bahwa dia adalah seorang pria terhormat yang ingin dimakamkan satu liang dengan seorang wanita berpendidikan. Akhirnya, seorang wanita bangsawan bersedia membayar 50.000 dolar AS untuk beristirahat bersama Feller selamanya.

Hikmah Cerita:

Bagi banyak orang, perjalanan hidup dan kekayaan Feller selalu terasa seperti misteri. Namun jawaban terbaik justru datang darinya sendiri.

Tulisan pada batu nisannya—yang penuh kecerdikan—merangkum hidupnya yang sepanjang masa mampu menemukan keajaiban di tengah hal-hal biasa, sekaligus mungkin membuka rahasia kesuksesannya:

“Di sekitar kita sebenarnya tidak pernah kekurangan kekayaan. Yang kurang adalah mimpi dan mata yang mampu melihatnya.”(jhn/yn)

Ultimatum Trump ke Venezuela: Putus dengan Tiongkok–Rusia atau Minyakmu Tak Jalan

EtIndonesia. Amerika Serikat kembali memperketat cengkeramannya terhadap Venezuela. Menurut laporan ABC News pada 7 Januari 2026, yang mengutip tiga sumber internal yang memahami strategi pemerintahan Presiden Donald Trump, Gedung Putih telah menyampaikan ultimatum tegas kepada Presiden sementara Venezuela, Rodríguez.

Isi pesannya jelas: Venezuela hanya akan diizinkan meningkatkan produksi minyak apabila terlebih dahulu memutus seluruh hubungan strategis dengan Tiongkok dan Rusia.

Dua Syarat Utama Gedung Putih

Sumber-sumber yang mengetahui langsung negosiasi tersebut mengungkapkan bahwa Washington mengajukan dua syarat utama:

  1. Pemutusan Total Aliansi Lama
    Venezuela diwajibkan mengusir seluruh personel dan pengaruh politik, ekonomi, serta keamanan dari Tiongkok, Rusia, Iran, dan Kuba, termasuk menghentikan semua kerja sama ekonomi dan strategis dengan negara-negara tersebut.
  2. Sinkronisasi Kebijakan Energi dengan AS
    Caracas harus menyelaraskan kebijakan produksi minyaknya dengan Amerika Serikat serta memprioritaskan penjualan minyak mentah kepada AS, khususnya minyak hasil pemrosesan ulang dari ladang-ladang yang sebelumnya berada di bawah sanksi.

Langkah ini menandai perubahan drastis arah geopolitik Venezuela dalam waktu yang sangat singkat.

Pernyataan PKT Dipatahkan dalam Hitungan Hari

Situasi ini kontras tajam dengan pernyataan Kementerian Luar Negeri Partai Komunis Tiongkok (PKT) hanya dua hari sebelumnya. Pada 5 Januari 2026, juru bicara Kemenlu PKT, Lin Jian, dengan percaya diri menyatakan bahwa kerja sama Tiongkok–Venezuela “dilindungi oleh hukum internasional” dan kepentingan sah Beijing di Venezuela akan tetap terjaga.

Namun, dalam waktu kurang dari 48 jam, klaim tersebut runtuh di hadapan tekanan langsung Washington—sebuah ironi yang menjadi bahan olok-olok luas di media internasional.

Rubio: Venezuela Hanya Punya Waktu Beberapa Minggu

Tekanan AS tidak berhenti di situ. Seorang pejabat yang mengetahui langsung proses ini mengungkapkan bahwa Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam pengarahan tertutup kepada anggota Kongres pada Senin, 6 Januari 2026, menyampaikan keyakinannya bahwa Venezuela berada di posisi yang sangat lemah.

Menurut Rubio, seluruh kapal tanker Venezuela saat ini telah penuh, sementara jalur penjualan lama terblokir.

“Jika cadangan ini tidak bisa dijual, Venezuela hanya akan mampu bertahan beberapa minggu sebelum mengalami kebangkrutan total,” ujar Rubio dalam pengarahan tersebut.

Axios: Trump Desak Pengusiran Intelijen Asing

Pada saat yang hampir bersamaan, media Axios melaporkan bahwa seorang pejabat senior AS mengonfirmasi Presiden Trump secara langsung menekan pemerintah sementara Venezuela agar:

  • Mengusir seluruh tersangka mata-mata dan personel intelijen dari Tiongkok, Rusia, Iran, dan Kuba
  • Membersihkan infrastruktur keamanan Venezuela dari pengaruh negara-negara tersebut

Pengumuman Truth Social: 50 Juta Barel Minyak Berpindah Tangan

Langkah Washington bahkan lebih cepat dari reaksi Beijing. Sehari setelah konferensi pers Kemenlu PKT, tepatnya 6 Januari 2026, Trump mengumumkan melalui platform Truth Social bahwa Venezuela akan menyerahkan 30 hingga 50 juta barel minyak mentah yang sebelumnya terkena sanksi kepada Amerika Serikat.

Trump menegaskan:

  • Minyak akan dijual sesuai harga pasar internasional
  • Dana hasil penjualan akan dikendalikan langsung oleh pemerintah AS
  • Dana tersebut, menurut Trump, akan digunakan demi kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat

Dampak Langsung ke Pasar Energi

Pengumuman ini segera mengguncang pasar. Harga minyak mentah AS tercatat turun lebih dari 1,5% dalam waktu singkat.

Trump juga menyatakan bahwa kebijakan ini:

  • Mengalihkan minyak yang sebelumnya mengalir ke Tiongkok
  • Membantu Venezuela menghindari pemangkasan produksi lebih lanjut

Kerugian PKT: Bukan Sekadar 50 Juta Barel

Pada 7 Januari 2026, sejumlah media internasional menyebut Trump telah “merebut” 50 juta barel minyak dari Beijing. Namun, dampak sebenarnya jauh lebih besar.

Media ekonomi daratan Tiongkok Sina Finance pada 6 Januari 2026 mengungkap bahwa selama lebih dari 20 tahun, PKT telah menginvestasikan lebih dari 60 miliar dolar ke Venezuela melalui skema oil-for-loans—hampir setengah dari total pinjaman Tiongkok ke Amerika Latin.

Investasi tersebut mencakup:

  • Energi dan minyak
  • Infrastruktur
  • Kelistrikan
  • Pertanian

Namun, Sina Finance juga mengakui bahwa jaringan kerja sama berbasis minyak yang dibangun selama dua dekade itu kini terancam runtuh hanya akibat satu operasi militer dan satu keputusan politik Washington.

Seorang pengguna lama platform X menyindir: “Dua puluh tahun minyak ditukar pinjaman, investasi 60 miliar dolar, kini lenyap. Monopoli energi terputus, ekspansi RMB terpukul. Untuk beli minyak lagi, harus pakai dolar.”

Chevron Ambil Alih Aliran Minyak

Menurut laporan Reuters, aliran minyak Venezuela saat ini dikendalikan oleh Chevron, mitra utama perusahaan minyak negara Venezuela yang beroperasi dengan izin khusus dari AS.

Chevron mengekspor sekitar 100.000–150.000 barel per hari ke Amerika Serikat dan menjadi satu-satunya perusahaan yang tetap mengangkut minyak Venezuela selama periode blokade internasional.

PKT Jadi Bahan Olok-olok Publik

Di tengah tekanan geopolitik tersebut, Kemenlu PKT justru mengumumkan agenda lain. Pada 7 Januari 2026, Beijing menyatakan bahwa Menteri Luar Negeri Wang Yi akan mengunjungi Ethiopia, Somalia, Tanzania, dan Lesotho—dengan klaim bahwa Afrika menjadi tujuan awal kunjungan luar negeri selama 36 tahun berturut-turut.

Namun, alih-alih mendapat pujian, kolom komentar media resmi Phoenix TV justru “meledak” dengan lebih dari 16.000 komentar bernada sindiran, seperti:

  • “Somalia segera bebas visa, siapa mau ikut?”
  • “Paket wisata lima hari perairan Somalia, peluru asli!”
  • “Kenapa tidak ke Venezuela? Takut ditangkap pasukan Delta?”

Sebuah komentar sarkastik bahkan menulis: “Diplomasi negara besar membuat saya akhirnya mengenal satu negara baru—Lesotho.”

Militer AS Menangkap Maduro dalam 5 Jam, Para Ahli : Senjata Tiongkok Mudah Dikalahkan

Dalam operasi militer yang dilancarkan Amerika Serikat baru-baru ini terhadap Venezuela, militer AS berhasil menangkap Nicolás Maduro. Militer AS mundur dengan selamat dalam waktu kurang dari lima jam. Operasi ini bukan hanya membuktikan kemampuan tempur nyata militer AS, tetapi juga secara langsung meruntuhkan ilusi senjata yang dibesar-besarkan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) saat parade militer “9.3”.

EtIndonesia. Militer AS memberi sandi operasi ini “Operation Absolute Resolve” (Operasi Tekad Mutlak). Sejak Presiden Trump mengeluarkan perintah pada 2 Januari pukul 22.46 , pasukan AS memasuki wilayah Venezuela dan mulai bertindak. Hingga 3 Januari pukul 03.20 dini hari, Maduro dan istrinya telah dibawa pergi. Seluruh operasi berlangsung kurang dari lima jam.

Ketidakmampuan total militer Venezuela dalam menghadapi operasi ini juga mengguncang kepemimpinan di Zhongnanhai (pusat kekuasaan PKT).

Menurut laporan, selama bertahun-tahun militer Venezuela telah menghabiskan dana besar untuk membeli peralatan militer buatan Tiongkok, termasuk jaringan pertahanan udara dengan radar anti-siluman JY-27 sebagai inti, kendaraan serbu amfibi VN-16, kendaraan tempur infanteri VN-18, serta sistem roket peluncur ganda SR-5.

Pada September tahun lalu, PKT dengan gembar-gembor mengklaim dalam “parade militer besar” bahwa senjata dan sistem tempurnya yang disebut-sebut canggih berada “di garis terdepan dunia”. Namun, hasil nyata di medan perang Venezuela langsung membuat apa yang disebut “mitos persenjataan PKT” runtuh seketika.

“Sistem radar deteksi yang dijual PKT kepada Venezuela sama sekali tidak berfungsi. Maduro hampir ditangkap oleh pasukan khusus Amerika dalam keadaan tidur. Dalam parade militer 9.3 tahun lalu, kita melihat seolah-olah senjata Tiongkok begitu maju dan berteknologi tinggi. Namun ketika benar-benar diuji dalam situasi nyata, terlihat jelas bahwa kualitasnya sangat patut dipertanyakan,” ujar Wakil Profesor Ilmu Politik Universitas Nasional Taiwan, Chen Shimin. 

Para pakar juga menunjukkan bahwa di bawah sistem PKT, data penelitian dan pengembangan industri militer serta latihan militer sering dimanipulasi dan diperindah berlapis-lapis, serta minim verifikasi tempur nyata. Begitu menghadapi pola operasi militer AS yang sangat terintegrasi dan berkeputusan cepat, kelemahan fatal langsung diperbesar dalam sekejap.

“Ini membuktikan bahwa PKT selama ini hanya membual. Senjata-senjata mereka sama sekali tidak tahan uji. Hal ini seharusnya membuat rakyat Taiwan semakin percaya diri untuk mempertahankan Taiwan dan melawan agresi PKT. Jika Xi Jinping bersikeras menyerbu Taiwan, para jenderal di bawahnya tahu bahwa begitu perang pecah, mereka semua akan tamat,” ujar juru bicara berbahasa Mandarin World Uyghur Congress, Ilshat Hassan. 

Analisis menyebutkan bahwa operasi militer AS ini setara dengan memberikan “contoh nyata dari medan perang” kepada dunia: rezim mana pun yang salah menilai kekuatan militer AS dan terlalu mempercayai persenjataan PKT, bisa saja mengulangi nasib Maduro. (Hui)

Laporan wawancara oleh  reporter New Tang Dynasty Television: Li Yun dan Qiu Yue

[Berita Terlarang] Perubahan Rezim di Venezuela Mengancam akan Menghapus Investasi Tiongkok Senilai Miliaran Dolar AS

Venezuela mengalami perubahan rezim secara tiba-tiba, sementara dana ratusan miliar dolar AS yang selama ini dikucurkan Beijing ke negara tersebut terancam menjadi piutang macet. Para analis menilai bahwa investasi, perdagangan, pinjaman Partai Komunis Tiongkok (PKT) di Venezuela, serta pengaruhnya di Amerika Latin, akan menerima pukulan berat dan PKT kemungkinan menjadi pihak yang paling merugi dalam peristiwa ini.

EtIndonesia. Sehari sebelumnya, Nicolás Maduro masih bertemu dengan Qiu Xiaoqi, Perwakilan Khusus PKT untuk Urusan Amerika Latin, di Istana Kepresidenan Miraflores. Namun keesokan harinya, ia justru ditangkap hidup-hidup oleh militer Amerika Serikat. 

Seiring pergantian rezim di Venezuela, hubungan ekonomi dan perdagangan antara Tiongkok dan Venezuela kini menghadapi dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya.

PKT dan Venezuela selama bertahun-tahun menjalin hubungan kerja sama strategis, yang pada tahun 2023 ditingkatkan menjadi “kemitraan strategis segala cuaca”. 

Venezuela juga menjadi salah satu basis investasi penting PKT di Amerika Latin, mengekspor minyak dan berbagai sumber daya ke Tiongkok. Sementara itu, Tiongkok menjadi mitra dagang terbesar kedua Venezuela.

Data menunjukkan bahwa skala investasi perusahaan Tiongkok di Venezuela sangat besar. Pada tahun 2024, nilai perdagangan bilateral Tiongkok–Venezuela mencapai 6,4 miliar dolar AS, meningkat lebih dari 52% dibandingkan tahun sebelumnya. 

Dari jumlah tersebut, ekspor Tiongkok ke Venezuela mencapai 4,8 miliar dolar AS, naik hampir 40%. Pada periode Januari hingga Oktober 2025, total perdagangan barang bilateral meningkat menjadi 5,34 miliar dolar AS.

Perusahaan-perusahaan Tiongkok telah menyebar luas di sektor telekomunikasi, energi, infrastruktur, serta proyek-proyek terkait “Inisiatif Sabuk dan Jalan”. Di antaranya, Huawei telah beroperasi di Venezuela selama lebih dari 20 tahun, dengan bisnis mencakup infrastruktur telekomunikasi, peralatan komunikasi, dan sistem pengawasan digital, serta menjalin kerja sama mendalam dengan pemerintah setempat.

Namun, seiring pergantian rezim di Venezuela, investasi-investasi tersebut sangat mungkin akan terdampak serius.

Para pengamat menilai bahwa setelah Donald Trump kembali menjabat sebagai presiden, langkah awal pemerintahannya adalah menata kembali negara-negara di sekitar Amerika Serikat yang secara langsung mengancam keamanan dan kepentingan nasional AS. Perubahan rezim di Venezuela merupakan bagian dari strategi tersebut.

“Venezuela memang secara langsung mengancam kepentingan nasional Amerika Serikat. Namun ancamannya bukan berasal dari Venezuela sendiri—karena itu hanya negara kecil. Ancaman utamanya datang dari investasi Tiongkok di sana, kehadiran Rusia, serta Iran yang membeli minyak dari sana,” kata juru bicara berbahasa Mandarin Kongres Dunia Uyghur, Ilshat Hasan. 

Minyak bumi selalu menjadi pilar utama hubungan bisnis antara Tiongkok dan Venezuela. Diperkirakan PKT membeli 80% minyak mentah Venezuela melalui Malaysia. 

Data publik menunjukkan bahwa hingga tahun 2015, PKT telah menyalurkan lebih dari 60 miliar dolar AS kepada Venezuela melalui skema ‘pinjaman ditukar minyak’ lewat bank-bank milik negara. Tiongkok pun menjadi pembeli minyak terbesar, sekaligus salah satu investor infrastruktur dan kreditur terbesar Venezuela.

“Dengan ditangkapnya Maduro oleh Amerika Serikat, utang-utang Tiongkok, investasi infrastrukturnya, termasuk investasi di sektor minyak, sangat mungkin akan hangus. Perusahaan-perusahaan Amerika akan masuk, dan setelah mereka masuk, perusahaan-perusahaan Tiongkok akan tersingkir sepenuhnya,” kata Ilshat Hasan. 

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa langkah pemerintahan Trump ini bertujuan melumpuhkan strategi keseluruhan Beijing di Amerika Latin, serta menuntut Venezuela memutus hubungan dengan negara-negara yang dianggap mengancam keamanan dan kepentingan Amerika Serikat.

“Baik secara ekonomi maupun militer, Tiongkok selama ini berusaha menyusup ke ‘halaman belakang’ Amerika Serikat, mengikat negara-negara tersebut ke pihaknya, lalu mengubahnya menjadi kekuatan militer. Kali ini, Amerika Serikat pertama-tama menyerang Tiongkok secara ekonomi, lalu berusaha mengusirnya dari halaman belakangnya sendiri,” tambahnya. 

Menurut data Kementerian Luar Negeri PKT, Tiongkok dan Venezuela juga memiliki berbagai kerja sama lain, termasuk di bidang kesehatan, transportasi udara, budaya dan pariwisata, program pertukaran talenta, serta Institut Konfusius.

Profesor Xie Tian dari Darla Moore School of Business, Universitas South Carolina, AS, menilai bahwa pihak yang paling terdampak dari tindakan Amerika Serikat terhadap rezim Maduro adalah PKT.

“Dengan perubahan rezim di Venezuela kali ini, pengaruh PKT, termasuk berbagai investasinya—terutama investasi pemerintah Tiongkok—hampir pasti akan hangus. Pemerintah baru tidak akan mengakui, dan juga tidak berani mengakui, investasi tersebut,” katanya. 

“Pengaruh PKT terhadap pemerintah Venezuela akan lenyap, begitu pula upayanya untuk menancapkan ‘pisau dari belakang’ atau membangun basis di dekat Amerika Serikat. Jadi, PKT jelas merupakan pihak yang paling merugi,” tambahnya. 

Dampak lainnya adalah piutang PKT di Venezuela yang belum tertagih. Menurut beberapa sumber, setelah pasangan Maduro ditangkap, otoritas pengawas keuangan PKT telah meminta seluruh bank di Tiongkok melaporkan eksposur risiko pinjaman ke Venezuela, serta memperketat pemantauan kredit dan investasi terkait.

“Pinjaman yang ditukar dengan minyak, serta investasi di sektor telekomunikasi Venezuela—perangkat komunikasi, peralatan 5G, instalasi Huawei, dan seluruh investasi infrastruktur tersebut—kemungkinan besar akan hangus dan bahkan dibongkar. Ini berarti pinjaman bank berubah menjadi kredit macet. Sebagian kecil mungkin bisa dipulihkan, tetapi sebagian besar pasti akan mengalami kerugian total,” jelasnya. 

Selain investasi, perdagangan, dan pinjaman, para ahli menekankan bahwa pengaruh PKT di Amerika Latin kini menghadapi ujian berat. Amerika Serikat tidak akan mentolerir Tiongkok dan Rusia membangun basis anti-Amerika di Belahan Barat. Penangkapan Maduro dipandang sebagai langkah penting untuk menyingkirkan kekuatan anti-Amerika di Belahan Barat secara menyeluruh dan membentuk kembali tatanan kawasan. (Hui)

Li Yun/Zhong Yuan

Gelombang Dingin Melanda Eropa, Badai Salju Menerjang Prancis dan Belanda, Ratusan Penerbangan Terpaksa Dibatalkan

Sejak awal pekan ini, gelombang udara dingin menyapu sebagian besar wilayah Eropa. Prancis dan Belanda diguyur salju lebat, menyebabkan transportasi udara, kereta api, dan jalan raya lumpuh total. Ratusan penerbangan terpaksa dibatalkan. Otoritas meteorologi menyatakan bahwa gelombang dingin ini masih akan semakin menguat. 

Dalam beberapa hari ke depan, lebih banyak penerbangan kemungkinan dibatalkan, kereta mengalami keterlambatan, dan sejumlah jalan ditutup. Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk sebisa mungkin tetap berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar.

EtIndonesia. Menteri Transportasi Prancis, Philippe Tabarot, pada Selasa (6/1/2026) mengatakan bahwa maskapai penerbangan telah diperintahkan untuk membatalkan setidaknya 40% penerbangan di Bandara Charles de Gaulle Paris pada pagi hari berikutnya, sementara Bandara Orly yang lebih kecil harus membatalkan 25% penerbangan.

Transportasi dalam kota Paris juga terdampak. Puluhan rute bus dibatalkan akibat salju. Pada jam pulang kerja hari Senin, kemacetan di wilayah Paris Raya mencapai 1.020 kilometer, mencetak rekor baru, sementara pada jam sibuk normal biasanya hanya sekitar 300 kilometer.

Tabarot juga memerintahkan pembatasan kecepatan maksimum di jalan-jalan wilayah Île-de-France (sekitar Paris) menjadi 80 kilometer per jam (50 mil per jam). Sebelumnya, salju telah menyebabkan kecelakaan serius di berbagai wilayah Prancis dan menewaskan sedikitnya lima orang.

Di Bandara Schiphol Amsterdam, Belanda, lebih dari 400 penerbangan dibatalkan pada Selasa. Cuaca ekstrem telah membuat salah satu pusat transportasi utama Eropa ini lumpuh selama lima hari berturut-turut. Otoritas bandara mengimbau penumpang yang penerbangannya dibatalkan agar tidak datang ke bandara guna menghindari kepadatan.

 “Setelah penerbangan dibatalkan, baru sekitar pukul tiga atau empat pagi saya menerima pemberitahuan penjadwalan ulang. Penerbangan baru tiga hari kemudian, artinya anak saya akan absen sekolah dan kami juga akan absen kerja. Saya hanya bisa mengantri dan berharap bisa terbang ke kota lain. Inggris memiliki banyak bandara, saya berharap bisa mendapatkan penerbangan yang lebih awal untuk meminimalkan dampak,” ujar seorang penumpang, Sun Simiao. 

Pada Selasa pagi, seluruh layanan kereta api di Belanda sempat berhenti total akibat gangguan sistem TI. Di beberapa wilayah, layanan kereta baru mulai pulih secara bertahap setelah pukul 09.00.

Di Jerman bagian selatan dan timur, suhu pagi hari turun hingga dibawah minus 10 derajat Celcius, dan sebagian besar wilayah negara itu tertutup salju tebal. Inggris juga mengalami cuaca sangat dingin. Di timur laut Inggris, suhu terendah turun hingga minus 10,9 derajat Celcius, sementara di beberapa wilayah Skotlandia utara, ketebalan salju bahkan mencapai 52 sentimeter.

Badan meteorologi memperingatkan bahwa gelombang salju ini belum berakhir. Banyak wilayah di Inggris diperkirakan akan terus mengalami salju dan pembekuan jalan. 

Di Prancis, peringatan salju dan es level “oranye” di sejumlah departemen setidaknya akan berlangsung hingga Selasa pagi (6 Januari), dan tidak menutup kemungkinan akan diperpanjang.

Otoritas Belanda mengimbau masyarakat untuk sebaiknya tetap berada di rumah pada Rabu (7 Januari), karena badai salju baru diperkirakan akan datang pada malam hari. (Hui)

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Liu Jiajia.

Ledakan Terus Berlanjut di Seluruh Rusia Sepanjang Malam, Dukungan untuk KTT Ukraina Digelar di Paris

EtIndonesia. Pada Selasa (6 Januari), KTT “Koalisi Sukarela” Eropa digelar di Paris. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, para pemimpin negara-negara Eropa, serta utusan khusus Amerika Serikat turut menghadiri pertemuan tersebut. 

Dunia internasional menaruh perhatian pada apakah pertemuan ini benar-benar dapat menetapkan arah jaminan keamanan Rusia–Ukraina setelah tercapainya perjanjian damai. Sementara itu, Dinas Keamanan Ukraina melancarkan serangkaian serangan keras terhadap target militer dan energi di dalam wilayah Rusia.

Ledakan Tak Henti Sepanjang Malam di Rusia

Ukraina Gencar Menyerang Target Militer dan Energi Rusia

“Suara ledakan terdengar sepanjang malam,” demikian deskripsi seorang sumber internal Dinas Keamanan Ukraina (SBU) mengenai operasi terbaru SBU di wilayah Rusia pada Selasa.

Kali ini, drone jarak jauh Ukraina menargetkan gudang senjata besar di Oblast Kostroma. Gudang Senjata No. 100 milik Direktorat Utama Rudal dan Artileri Rusia (GRAU) dilaporkan mengalami kebakaran besar.

Sumber tersebut mengatakan bahwa ledakan dahsyat yang terjadi terus-menerus pada malam hari disebabkan oleh amunisi yang tersimpan dan ikut meledak. Gudang senjata ini merupakan fasilitas penting militer Rusia yang bertugas memasok amunisi ke gudang-gudang senjata tingkat bawah di wilayah Rusia barat dan tengah.

Selain itu, sebuah depot minyak di Oblast Lipetsk serta fasilitas industri di Oblast Penza juga dilaporkan mengalami ledakan hebat yang memicu kebakaran besar.

Di Oblast Tver, puing-puing drone Ukraina yang berhasil dicegat menghantam sebuah gedung apartemen sembilan lantai, menyebabkan satu orang tewas dan dua lainnya luka-luka.

Media independen Rusia ASTRA melaporkan bahwa sasaran serangan tersebut kemungkinan adalah Tver Carriage Works, produsen kereta penumpang terbesar dalam jaringan perkeretaapian Rusia. Pabrik itu berjarak sekitar satu kilometer dari gedung apartemen yang terdampak.

KTT Koalisi Sukarela Digelar di Paris

Fokus pada Jaminan Keamanan Ukraina

Pada Selasa, para pemimpin dan perwakilan dari 35 negara anggota “Koalisi Sukarela”, pimpinan NATO dan Uni Eropa, utusan negosiasi Amerika Serikat, serta Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berkumpul di Paris dalam sebuah KTT penting. Pertemuan ini bertujuan untuk sejauh mungkin menetapkan langkah-langkah konkret jaminan keamanan Ukraina jika Rusia dan Ukraina mencapai gencatan senjata.

 “Sebuah deklarasi (Paris) yang ditandatangani oleh ‘Koalisi Sukarela’ untuk pertama kalinya mengakui bahwa 35 negara anggota koalisi, Ukraina, dan Amerika Serikat telah mencapai konsensus tindakan dalam membangun jaminan keamanan yang kuat,” ujar Presiden Prancis Emmanuel Macron. 

Menurut rancangan pernyataan tersebut, jaminan keamanan harus mencakup dukungan yang mengikat bagi Kyiv jika Rusia kembali melancarkan serangan bersenjata di masa depan. Rancangan itu juga menyebutkan bahwa negara-negara sekutu akan berpartisipasi dalam mekanisme pengawasan dan verifikasi gencatan senjata yang dipimpin Amerika Serikat, serta mempertimbangkan kelanjutan bantuan militer jangka panjang dan pengerahan pasukan multinasional ke Ukraina.

Selain itu, komitmen tersebut juga dapat mencakup penyediaan dukungan intelijen dan logistik, langkah-langkah diplomatik, serta penerapan sanksi tambahan terhadap Rusia.

 “Sudah ditetapkan negara mana yang siap memimpin di bidang tertentu untuk menjamin keamanan di darat, udara, laut, serta rekonstruksi pasca perang. Jumlah pasukan yang dibutuhkan juga telah ditentukan, termasuk cara pengelolaan dan struktur komandonya,” kata  Zelenskyy. 

Selama beberapa bulan terakhir, jaminan keamanan pasca perang bagi Ukraina telah menjadi fokus utama agenda. Sekutu Eropa Ukraina berharap dapat memastikan komitmen Amerika Serikat untuk ikut merespons jika Rusia melanggar ketentuan perjanjian damai.

Zelenskyy menambahkan:  “Hari ini kami melakukan pembahasan substansial dengan tim Amerika Serikat mengenai mekanisme pengawasan guna memastikan perdamaian tidak dirusak. Amerika Serikat bersedia berupaya ke arah itu.”

Utusan khusus AS, Steve Witkoff, mengatakan:  “Perjanjian keamanan ini bertujuan untuk: pertama, mencegah setiap serangan, termasuk serangan lanjutan di Ukraina. Kedua, jika serangan terjadi, perjanjian ini dimaksudkan untuk membela. Perjanjian ini dirancang untuk menjalankan kedua fungsi tersebut sekaligus.”

Witkoff juga menyatakan bahwa ia akan bertemu dengan delegasi Ukraina dan berharap dapat mencapai kesepakatan atau menemukan titik kompromi mengenai isu teritorial yang paling krusial.

Sejak November tahun lalu, proses perundingan untuk mengakhiri konflik Rusia–Ukraina mulai dipercepat. Namun, setelah Kyiv mendesak Amerika Serikat merevisi rencana perdamaian awal yang dinilai terlalu mengakomodasi tuntutan utama Rusia, Moskow hingga kini belum menunjukkan kesediaan untuk mengalah. (Hui)

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Yi Jing.

Penangkapan Maduro Picu Efek Berantai, Mempengaruhi Harga Minyak Dunia Serta Pergerakan Pasar Saham

Perubahan drastis dalam situasi politik Venezuela telah memicu reaksi berantai di pasar keuangan dan energi global. Setelah militer AS menangkap Nicolás Maduro, pasar saham AS naik selama dua hari berturut-turut, dengan indeks Dow Jones mendekati tonggak bersejarah 50.000 poin. Namun, harga minyak internasional yang sempat melonjak justru kembali melemah.

EtIndonesia. Setelah militer AS melancarkan operasi dan berhasil menangkap Nicolás Maduro, pasar saham Wall Street ditutup menguat secara menyeluruh pada 5 Januari. 

Saham sektor keuangan tampil kuat dan mendorong Indeks Dow Jones Industrial Average mencetak rekor tertinggi baru dalam sejarah. 

Pada saat yang sama, saham sektor energi juga naik. Investor bertaruh bahwa langkah ini berpotensi membuka jalan bagi perusahaan-perusahaan AS untuk mengakses cadangan minyak terbesar di dunia.

Pada 6 Januari, pasar saham AS melanjutkan reli. Indeks Dow Jones naik 1,02% dan ditutup di 49.476,54 poin, mendekati level simbolis 50.000 poin. Indeks S&P 500 naik 0,62% menjadi 6.944,55 poin, sementara Indeks Nasdaq Composite naik 0,61% ke 23.537,96 poin.

 “Saya pikir para investor masih mencerna peristiwa yang terjadi pada akhir pekan dan menilai dampak potensialnya terhadap pasar saham, khususnya pasar energi. Jika situasi di Venezuela benar-benar memengaruhi pasar energi, saya tidak melihatnya sebagai dampak jangka pendek, melainkan lebih mungkin sebagai pengaruh jangka menengah hingga panjang,” ujar Presiden dan Kepala Investasi Henion & Walsh Asset Management, Kevin Mahn.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk mendorong perusahaan-perusahaan minyak AS berpartisipasi dalam rekonstruksi industri perminyakan Venezuela, serta membahas kemungkinan peningkatan produksi Venezuela. Pernyataan ini meningkatkan kepercayaan investor terhadap sektor energi.

Harga saham Chevron melonjak lebih dari 5%, Exxon Mobil naik lebih dari 2%, dan saham perusahaan jasa ladang minyak Halliburton juga mengalami kenaikan signifikan. Pasar minyak mentah sempat menguat, dengan harga minyak WTI AS dan Brent masing-masing naik sekitar 1,7%.

Namun, seiring pasar kembali memusatkan perhatian pada fundamental global sisi penawaran dan permintaan, harga minyak internasional berbalik turun pada hari ini (6 Januari). Harga minyak mentah Brent turun 1,06 dolar AS atau 1,7% menjadi 60,70 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 1,19 dolar AS atau 2% menjadi 57,13 dolar AS per barel.

Pakar kebijakan energi dari Rice University di Texas, Francisco Monaldi, menyatakan bahwa mengingat kurangnya investasi selama bertahun-tahun serta penuaan infrastruktur ladang minyak Venezuela, untuk memulihkan produksi ke level tahun 1970-an kemungkinan diperlukan investasi sekitar 10 miliar dolar AS per tahun selama satu dekade ke depan. Hal ini berarti bahwa hanya melalui investasi jangka panjang dan berskala besar, produksi minyak Venezuela dapat meningkat secara signifikan. (Hui)

Laporan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Tian Xin, dari Amerika Serikat.

Efek Domino Geopolitik 2026: Iran, Tiongkok, Arktik, dan Titik Balik Dunia

EtIndonesia. Penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro oleh militer Amerika Serikat tidak hanya mengguncang Amerika Latin, tetapi memicu efek domino geopolitik global yang kini terasa dari Timur Tengah hingga Asia Timur. Sejumlah analis menilai, rangkaian peristiwa yang terjadi setelahnya menunjukkan bahwa dunia telah memasuki fase baru persaingan kekuatan besar yang lebih terbuka, langsung, dan berisiko tinggi.

Gema di Iran: Pesan Jalanan yang Menggetarkan Rezim

Di Iran, beberapa hari setelah penangkapan Maduro, muncul fenomena yang tidak biasa. Stiker-stiker dan coretan di tembok kota Teheran mulai bermunculan dengan tulisan provokatif: “Trump, Iran sedang menunggumu.”

Pesan ini dengan cepat menyebar di media sosial Iran, memicu kekhawatiran di kalangan elite politik Teheran. Para analis Timur Tengah menilai bahwa rakyat Iran membaca kejatuhan Maduro sebagai preseden berbahaya bagi rezim-rezim otoriter, terutama yang selama ini bergantung pada represi internal dan aliansi anti-Amerika.

Kemiripan Struktur Kekuasaan Maduro dan Xi Jinping

Sejumlah pakar politik internasional menggarisbawahi setidaknya enam kesamaan utama antara struktur kekuasaan Maduro dan Presiden Tiongkok Xi Jinping:

  1. Negara dilebur ke dalam kekuasaan pribadi pemimpin
  2. Pergantian rezim dianggap sebagai ancaman eksistensial
  3. Militer beralih fungsi dari penjaga negara menjadi penjaga pemimpin
  4. Pemusnahan sistematis ruang masyarakat sipil
  5. Pengendalian ekonomi secara ekstrem oleh negara
  6. Ketergantungan eksternal yang sengaja diciptakan

Kedua rezim juga membangun aliansi anti-Amerika, melibatkan Rusia dan Iran, serta saling melindungi di forum internasional seperti Dewan HAM PBB.

Badai Opini Publik di Tiongkok

Di dalam negeri Tiongkok, dampak psikologis kejatuhan Maduro mulai terasa. Media sosial diguncang ketika seorang warganet menggunakan lagu populer Sayang Bukan Kamu milik Liang Jingru sebagai sindiran simbolik terhadap Xi Jinping.

Tak lama setelah viral, lagu tersebut dilaporkan menghilang dari sejumlah platform, memicu gelombang komentar sinis warganet: “Ini terlalu sensitif.”

Komentar lain menyimpulkan dengan nada lebih serius: “Dari minyak ke opini publik, dari Amerika Latin ke Timur Tengah, dari Caracas ke Beijing—ini bukan lagi operasi tunggal, melainkan rantai perhitungan geopolitik yang terus memanjang.”

Pertanyaan yang kini menggantung di banyak ibu kota dunia adalah: Jika diktator pertama jatuh, berapa lama yang kedua dan ketiga bisa bertahan?

Trump Bahas Akuisisi Greenland, Opsi Militer Tidak Dikesampingkan

Pada hari yang sama, Gedung Putih secara resmi mengonfirmasi bahwa Presiden AS, Donald Trump dan lingkaran inti pemerintahannya tengah membahas secara serius rencana akuisisi Greenland, dengan opsi militer tidak dikecualikan.

Dalam pernyataan resmi, Greenland disebut sebagai prioritas keamanan nasional Amerika Serikat, terutama dalam konteks persaingan strategis dengan Rusia dan Partai Komunis Tiongkok di kawasan Arktik.

Seorang pejabat tinggi AS yang menolak disebutkan namanya mengungkapkan bahwa Washington sedang mengevaluasi beberapa jalur:

  • Pembelian langsung dari Denmark
  • Pembentukan hubungan khusus menyerupai status asosiasi bebas

Trump disebut berambisi menyelesaikan pengaturan Greenland dalam masa jabatannya.

Meski langkah ini menuai keberatan dari sebagian negara Eropa dan NATO, Gedung Putih menegaskan bahwa isu Greenland telah naik kelas dari diplomasi biasa menjadi persoalan keamanan geopolitik tingkat tinggi. Trump bahkan secara terbuka menyatakan Denmark tidak mampu menjamin keamanan kawasan tersebut, dan bahwa Uni Eropa memahami kepentingan AS dalam kendali Arktik.

Para analis menilai, ini adalah sinyal jelas bahwa persaingan Arktik telah memasuki fase panas dan terbuka.

Israel Akui Somaliland, Strategi PKT di Afrika Terguncang

Di Afrika, kejutan besar datang ketika Israel secara resmi mengakui Somaliland sebagai negara berdaulat dan menjalin hubungan diplomatik.

Langkah ini dinilai sebagai pukulan strategis terhadap Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang selama dua dekade membangun pengaruh di kawasan Tanduk Afrika. Pengakuan ini juga membuka terobosan diplomatik besar bagi Taiwan, yang selama ini terisolasi secara internasional.

Somaliland memiliki garis pantai terpanjang di Afrika dan berada di simpul jalur pelayaran Eurasia. Kolaborasi dengan Israel dan Taiwan dinilai dapat mengancam jalur maritim strategis PKT dalam proyek Belt and Road Initiative.

Komentator politik Wang Duran menyatakan: “Ini bukan sekadar kegagalan diplomatik PKT, melainkan pukulan struktural terhadap strategi jangka panjangnya di Afrika.”

Prancis Pertimbangkan Kirim Ribuan Tentara ke Ukraina

Di Eropa, Prancis menggelar Konferensi Paris bersama negara-negara pendukung utama Ukraina. Presiden Emmanuel Macron menyatakan bahwa Paris tengah mempertimbangkan pengiriman ribuan tentara ke Ukraina pasca-gencatan senjata.

Macron menegaskan bahwa pasukan tersebut bukan untuk terlibat pertempuran, melainkan berfungsi sebagai jaminan keamanan dan stabilitas.

Konferensi ini dihadiri oleh 35 negara, dengan Amerika Serikat untuk pertama kalinya mengirim utusan khusus secara langsung. Meski masih terdapat perbedaan sikap di antara para peserta, para pengamat menilai pertemuan ini sebagai pergeseran nyata dari sekadar retorika ke tahap perencanaan konkret.

Kesimpulan

Rangkaian peristiwa sejak awal Januari 2026 menunjukkan satu pola yang semakin jelas: dunia sedang bergerak menuju fase geopolitik baru, di mana perubahan rezim, akuisisi wilayah strategis, dan penataan ulang aliansi global terjadi secara simultan dan saling terkait.

Dari Caracas hingga Teheran, dari Arktik hingga Tanduk Afrika, satu pesan kini bergema:
stabilitas lama telah retak, dan tatanan baru sedang dipaksa lahir.

Surat Wasiat Tersangka Penembakan Universitas Brown Terungkap : Perencanaannya Berlangsung Selama Berbulan-bulan

EtIndonesia. Pelaku bernama Claudio Neves Valente (48 tahun), pada  13 Desember 2025 lalu melepaskan tembakan di sebuah gedung teknik Universitas Brown, menewaskan dua mahasiswa dan melukai sembilan orang. 

Dua hari kemudian, ia kembali membunuh seorang profesor MIT, Nuno F. G. Loureiro, di Boston. Pada tanggal 18 bulan lalu, Valente ditemukan tewas di sebuah gudang di Negara Bagian New Hampshire; polisi menyatakan kematiannya sebagai bunuh diri.

Pejabat Departemen Kehakiman AS mengatakan pada Selasa (6 Januari) bahwa saat penyelidik menggeledah ruang penyimpanan yang digunakan Valente, mereka menemukan sebuah perangkat elektronik yang berisi serangkaian video pendek yang direkam Valente setelah penembakan. Rekaman tersebut dibuat di ruang penyimpanan itu setelah insiden terjadi.

Berdasarkan terjemahan bahasa Inggris yang disediakan Departemen Kehakiman, pelaku tampak berbicara dengan pikiran yang kacau dalam rekaman tersebut dan sebagian besar membahas kematian yang akan datang. Ia menyebutkan bahwa dirinya menghabiskan setidaknya enam semester untuk merencanakan serangan ini.

“Saya tidak pernah berniat melakukannya di ruang kuliah atau auditorium. Saya ingin melakukannya di ruangan biasa,” katanya saat menyinggung penembakan di Universitas Brown. “Saya memiliki banyak kesempatan—terutama semester ini—tetapi saya selalu mengurungkan niat di saat-saat terakhir.”

Ia juga tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun. Bahkan, ia mengeluhkan cedera pada matanya saat menembak profesor tersebut.

“Dalam rekaman video, Neves Valente sama sekali tidak menunjukkan rasa penyesalan; sebaliknya, ia menyalahkan kematian mahasiswa yang tidak bersenjata dan tidak bersalah kepada para korban itu sendiri, serta mengeluhkan cedera yang dia timbulkan pada dirinya saat menembak mati profesor MIT dari jarak dekat. Hal ini menyingkap jati diri pelaku yang sebenarnya,” demikian pernyataan Kantor Kejaksaan Distrik Massachusetts.

Pernyataan tersebut juga menegaskan bahwa penyelidikan terkait motif penembakan masih berlangsung. 

Berdasarkan bukti yang telah ditemukan dan dianalisis sejauh ini, pihak berwenang menilai bahwa insiden penembakan ini tidak menimbulkan ancaman berkelanjutan terhadap keselamatan publik. (Hui)

Laporan terjemahan oleh reporter Jin Jing / Editor Wen Hui

Gempa Magnitudo 5,2 Guncang Tash, Xinjiang, Kedalaman Hiposentrum 10 Km

Pada 7 Januari pukul 03.00 dini hari, gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,2 terjadi di wilayah Tash, Xinjiang, Tiongkok, dengan kedalaman sumber gempa 10 kilometer. Hingga saat ini, kondisi korban jiwa maupun kerusakan masih belum diketahui.

EtIndonesia. Menurut Pusat Jaringan Gempa Bumi Tiongkok daratan, gempa tersebut terjadi pada pukul 03.17 dini hari tanggal 7 Januari. Lokasi gempa berada di wilayah Kabupaten Tashkurgan, daerah Tash, Xinjiang. Informasi mengenai korban dan kerugian material masih belum tersedia.

Pusat gempa berada di wilayah dengan rata-rata ketinggian sekitar 4.625 meter dalam radius 5 kilometer. Lokasinya berjarak sekitar 34 kilometer dari Kabupaten Otonomi Tajik Tashkurgan dan sekitar 186 kilometer dari Kabupaten Yengisar.

Berdasarkan katalog laporan cepat Pusat Jaringan Gempa Bumi Tiongkok, dalam radius 200 kilometer dari pusat gempa, selama lima tahun terakhir telah terjadi total 100 gempa bumi berkekuatan magnitudo 3 ke atas.

Gempa terbesar adalah gempa bermagnitudo 7,2 yang terjadi di Tajikistan pada 23 Februari 2023, dengan jarak sekitar 151 kilometer dari pusat gempa kali ini. (Hui)

Minyak Venezuela Berpindah Tangan: Langkah Trump yang Mengguncang Aliansi Global

EtIndonesia. Langkah geopolitik dan energi paling dramatis di awal 2026 terjadi setelah penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, oleh pasukan militer Amerika Serikat pada 3 Januari 2026 dalam sebuah operasi militer yang besar dan kontroversial di negara Amerika Selatan tersebut.

Pada 6 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengumumkan secara resmi melalui media sosial bahwa Venezuela akan menyerahkan antara 30 hingga 50 juta barel minyak mentah kepada Amerika Serikat. Minyak tersebut bukan bersifat bantuan, tetapi akan dijual di pasar global dengan harga pasar standar.

Pengumuman ini datang tepat tiga hari setelah Maduro dibawa ke Amerika Serikat, di mana dia kini ditahan dan menjalani proses hukum atas tuduhan kejahatan narkotika dan narco-terrorism di pengadilan federal Manhattan.

Tiga Pokok Pernyataan Trump

Dalam pernyataan resminya, Trump menegaskan tiga hal berikut:

  1. Minyak berasal dari aset Venezuela yang sebelumnya dikenai sanksi oleh AS.
  2. Pendapatan hasil penjualan akan dikendalikan oleh pemerintahan AS untuk diprioritaskan dalam tujuan ekonomi tertentu.
  3. Tujuan utamanya adalah menguntungkan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat, dengan penekanan pada stabilisasi ekonomi dan kebutuhan domestik.

Trump juga langsung memerintahkan Menteri Energi AS, Chris Wright, untuk mengeksekusi pengiriman minyak itu. Rencananya, minyak akan diangkut melalui kapal tanker dan didaratkan di pelabuhan-pelabuhan di pantai Amerika Serikat.

Skala dan Nilai Transaksi

Jika dibandingkan dengan kapasitas produksi Venezuela sebelum sanksi dan konflik, volume 30–50 juta barel setara dengan sekitar 30–50 hari penuh produksi nasional negara itu. Dengan harga minyak mentah saat ini, nilai total transaksi diperkirakan lebih dari 2,8 miliar dolar.

Hal ini menunjukkan bukan hanya nilai ekonomi, tetapi juga langkah mengambil kembali kendali atas sektor energi Venezuela, yang selama bertahun-tahun menjadi pilar ekonomi utama negara itu. Banyak analis menyebut ini sebagai momentum historis yang berpotensi mengubah peta energi global.

Perusahaan Minyak AS Dipanggil ke Gedung Putih

Pada hari yang sama (6 Januari 2026), sejumlah media internasional melaporkan rencana Trump untuk mengundang raksasa industri energi AS seperti Chevron, ConocoPhillips, dan ExxonMobil ke Gedung Putih guna membahas investasi besar dan rekonstruksi industri minyak Venezuela.

Trump menyampaikan bahwa perusahaan-perusahaan ini akan diberi kesempatan menanam puluhan miliar dolar untuk memperbaiki jaringan energi yang hancur oleh korupsi dan stagnasi selama rezim Maduro. Menurutnya, keterlibatan perusahaan AS akan mempercepat pemulihan produksi minyak Venezuela.

Para pakar energi mencatat, infrastruktur minyak Venezuela saat ini dalam kondisi sangat rusak dan memerlukan investasi besar selama bertahun-tahun. Bahkan ada yang memperkirakan diperlukan puluhan hingga ratusan miliar dolar untuk mengembalikan produksi ke tingkat sebelumnya.

Reaksi Politik dan Publik di Amerika Latin

Selain langkah ekonomi dan energi, reaksi politik domestik di Amerika Latin juga menunjukkan dukungan yang tinggi terhadap operasi penangkapan Maduro — meskipun bukti survei resmi berskala regional tidak selalu tersedia. Lembaga-lembaga independen menunjukkan angka dukungan yang kuat, antara lain:

  • Kosta Rika: 87%
  • Chili: 78%
  • Kolombia: 77%
  • Panama: 76%
  • Peru: 74%
  • Argentina: 61%

Data ini mencerminkan keinginan publik di beberapa negara untuk melihat perubahan besar dalam manajemen pemerintahan Venezuela setelah bertahun-tahun krisis ekonomi dan politik berkepanjangan.

(Catatan: angka-angka ini bersifat indikatif berdasarkan survei yang beredar; laporan resmi yang komprehensif masih terbatas.)

Konteks Penangkapan Maduro

Operasi militer yang menangkap Presiden Nicolás Maduro dilakukan oleh pasukan khusus AS (termasuk Delta Force) pada 3 Januari 2026 di Caracas, Ibukota Venezuela. Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dibawa ke AS dan menghadapi tuduhan pidana federal terkait narkoba. Peristiwa ini menimbulkan kecaman internasional dan pertanyaan serius terkait legalitas intervensi semacam ini.

Setelah penangkapan, Delcy Rodríguez, yang sebelumnya menjabat Wakil Presiden Venezuela, dilantik sebagai Presiden interim oleh Mahkamah Agung Venezuela, meskipun posisinya tetap dipandang sangat dipengaruhi oleh situasi politik dan tekanan internasional.

Dampak pada Energi Global

Langkah ini berpotensi mengguncang pasar minyak global. Minyak Venezuela, dikenal sebagai jenis heavy crude yang selama ini diekspor ke berbagai negara termasuk Tiongkok, sekarang dialihkan ke pasar AS secara langsung. Selain itu, AS juga telah menyita sejumlah kapal tanker yang terkait dengan ekspor minyak Venezuela, memperketat kontrol terhadap aliran energi mentah di tengah konflik geopolitik yang makin intens.

Para analis memperingatkan bahwa meskipun volume minyak yang dilepas relatif besar, pemulihan penuh produksi Venezuela akan tetap menantang karena infrastruktur yang rusak berat dan kebutuhan investasi besar.

Kesimpulan

Peristiwa penangkapan Maduro dan pengumuman transfer minyak Venezuela ke Amerika Serikat pada 6 Januari 2026 bukan sekadar langkah diplomatik atau ekonomi biasa. Ini merupakan momen geopolitik bersejarah yang membuka babak baru dalam hubungan AS–Amerika Latin, pengaruh energi global, serta perdebatan mengenai tindakan militer terhadap pemerintahan berdaulat.

Dampaknya akan terus dipantau, terutama terkait stabilitas politik di Venezuela, harga minyak global, serta respons negara-negara besar seperti Tiongkok dan Rusia terhadap dominasi AS di wilayah tersebut.