Bom Saudi Menghantam Logistik UEA: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Yaman?

EtIndonesia.  Dalam beberapa pekan terakhir, dunia internasional kembali diguncang oleh rangkaian konflik yang saling berkelindan. Setelah pecahnya perang antara Thailand dan Kamboja, gelombang protes besar di Iran, serta latihan militer Partai Komunis Tiongkok di kawasan Selat Taiwan, kini Timur Tengah kembali memanas. Konflik terbaru meletus di Yaman, melibatkan dua sekutu lama: Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

Serangan Udara Saudi di Yaman

Pada malam 2 Januari 2026, Angkatan Udara Arab Saudi melancarkan serangan udara intensif terhadap kelompok bersenjata di wilayah Yaman. Rekaman yang beredar memperlihatkan sejumlah kendaraan militer hancur total dan terbakar hebat di lokasi serangan, dengan api dan asap membumbung tinggi ke udara.

Serangan tersebut bukan insiden tunggal. Beberapa hari sebelumnya, pada 30 Desember 2025, Arab Saudi juga melakukan serangan udara presisi ke Pelabuhan Mukalla, Yaman timur. Target serangan adalah material logistik militer yang diketahui milik Uni Emirat Arab dan digunakan oleh kelompok bersenjata lokal.

Pada hari yang sama, otoritas Saudi merilis rekaman pengawasan berbasis drone yang memperlihatkan dua kapal angkut penuh senjata dan amunisi berlabuh di Mukalla. Senjata tersebut diduga akan didistribusikan kepada kelompok bersenjata lokal Yaman yang mendapat dukungan langsung dari Uni Emirat Arab.

Logistik Militer dan Serangan Presisi

Perlu dicatat, rekaman yang dirilis bukanlah video pengeboman secara langsung, melainkan hasil pemantauan drone jangka panjang. Video tersebut melacak pergerakan senjata sejak tiba di pelabuhan, proses pemindahan kontainer, hingga distribusi kendaraan militer.

Juru bicara militer Arab Saudi menyatakan bahwa dua kapal angkut UEA tersebut membawa lebih dari 80 kendaraan militer, serta sejumlah besar kontainer berisi senjata dan amunisi. Tanpa pemberitahuan kepada pihak Saudi, UEA memindahkan kendaraan, kontainer, dan personel militernya ke Pangkalan Rayyan di wilayah Hadramaut.

Rekaman pascaserangan yang diambil warga setempat menunjukkan puluhan kendaraan militer di area pelabuhan hancur total akibat serangan udara. Video lain yang direkam pada malam hari memperlihatkan warga melintas di sekitar pelabuhan Mukalla, sementara asap tebal masih terlihat membubung di berbagai titik.

Respons UEA dan Aktivitas Militer

Sebagai respons terhadap eskalasi tersebut, warga Uni Emirat Arab merekam aktivitas darurat di sejumlah pangkalan udara dekat Dubai. Dalam rekaman tersebut terlihat jet-jet tempur UEA lepas landas secara mendesak, menandakan kesiapsiagaan militer tingkat tinggi.

Namun, alih-alih meningkatkan eskalasi terbuka, Uni Emirat Arab justru memilih langkah yang mengejutkan.

STC Mundur, Pasukan Pro-Saudi Maju

Memasuki awal Januari 2026, dampak serangan Saudi mulai terlihat di lapangan. Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC)—kelompok bersenjata yang didukung Uni Emirat Arab—mulai menarik pasukannya dari sejumlah wilayah di Provinsi Hadramaut.

Sebaliknya, Pasukan Perisai Nasional yang didukung Arab Saudi bergerak maju ke garis depan, mengisi wilayah yang ditinggalkan STC.

Mengapa Saudi dan UEA Bisa Berhadap-hadapan?

Banyak pihak mempertanyakan situasi ini. Bukankah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab selama ini berada dalam satu koalisi di Yaman? Mengapa kini mereka justru terlibat bentrokan tidak langsung?

Untuk memahami konflik ini, perlu menengok struktur kompleks perang saudara Yaman.

Tiga Kekuatan Utama di Yaman

Perang saudara Yaman pecah pada 2014, dan pada 2015 Arab Saudi memimpin koalisi militer negara-negara Arab—termasuk Uni Emirat Arab—untuk campur tangan dalam konflik tersebut.

Hingga 2021, peta kekuatan Yaman terbagi menjadi tiga poros utama:

  1. Kelompok Houthi
    • Menguasai wilayah barat laut Yaman, termasuk ibu kota Sana’a
    • Didukung Iran
    • Memiliki kekuatan militer paling solid
    • Dalam dua tahun terakhir aktif meluncurkan rudal ke kawasan Laut Merah
  2. Pemerintah Yaman yang Diakui Internasional
    • Didukung Arab Saudi
    • Memiliki legitimasi internasional, namun lemah secara militer
  3. Dewan Transisi Selatan (STC)
    • Menguasai wilayah pesisir selatan dan timur, termasuk Aden dan Mukalla
    • Didukung Uni Emirat Arab
    • Didirikan pada 2017, berorientasi pada pemisahan Yaman Selatan

Situasi ini kerap dianalogikan sebagai “Tiga Kerajaan” versi Yaman.

Perubahan Kepentingan dan Pecahnya Konflik

Pada fase awal, ketiga kekuatan ini memiliki musuh bersama: kelompok Houthi. Namun setelah bertahun-tahun perang tanpa hasil menentukan, kepentingan mulai bergeser.

STC tidak berniat menyatukan Yaman. Tujuan politik mereka adalah menghidupkan kembali Yaman Selatan, yang secara historis pernah berdiri terpisah dari Yaman Utara.

Hingga 2022, hampir seluruh pesisir selatan dari Aden hingga Mukalla jatuh ke tangan STC. Situasi relatif stabil hingga Desember 2025, ketika STC melancarkan serangan mendadak terhadap pasukan pemerintah Yaman di wilayah utara.

Rekaman lapangan menunjukkan pasukan STC memasuki desa-desa di Hadramaut—wilayah strategis yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi dan memiliki Pelabuhan Mukalla, yang dianggap vital bagi keamanan nasional Saudi.

Video lain memperlihatkan masuknya kendaraan militer buatan UEA, termasuk Cougar LAMV dan Spartan, melalui Mukalla ke wilayah Yaman.

Saudi Murka, UEA Mundur

Pada 28 Desember 2025, peta konflik menunjukkan hampir seluruh wilayah timur laut Yaman dikuasai STC, sementara pasukan pemerintah Yaman tersisa di area gurun.

Situasi ini memicu kemarahan Arab Saudi. STC tidak melawan Houthi, justru menyerang pemerintah sah Yaman, sementara UEA terus mengirimkan senjata dalam jumlah besar.

Akibatnya, akhir 2025, Arab Saudi melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap STC dan menghantam logistik militer UEA di Mukalla.

Secara mengejutkan, Uni Emirat Arab memilih menurunkan eskalasi. Pada 30 Desember 2025, pesawat angkut C-17 UEA terlihat mengevakuasi pasukan dari Mukalla, menandai penarikan resmi UEA dari operasi militer di Yaman.

Pertempuran Masih Berlanjut

Seiring mundurnya UEA, pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi mulai bergerak maju. Rekaman menunjukkan konvoi kendaraan panjang melintasi gurun Hadramaut. Di garis depan, sejumlah kendaraan lapis baja buatan UEA dilaporkan hancur.

Pada 2 Januari 2026, pasukan pemerintah Yaman mengumumkan telah merebut kembali beberapa pangkalan militer. Malam harinya, dengan dukungan udara Saudi, mereka berhasil memasuki Kota Qatn di Lembah Hadramaut.

Perang Tanpa Akhir

Konflik antara pasukan yang didukung Arab Saudi dan STC yang didukung Uni Emirat Arab diperkirakan masih akan berlanjut. Sementara itu, kelompok Houthi di utara justru menjadi pihak yang paling diuntungkan, karena perhatian dan sumber daya lawan mereka terpecah.

Sejak pecah pada 2014, perang saudara Yaman telah berlangsung lebih dari 12 tahun tanpa tanda-tanda penyelesaian. Dengan banyaknya faksi bersenjata dan keterlibatan kekuatan regional—Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab—konflik ini terus berputar dalam lingkaran kekerasan, tanpa pemenang mutlak.

Sepanjang 2025, Penganiayaan Partai Komunis Tiongkok Terus Berlanjut : 751 Praktisi Falun Gong Dijatuhi Hukuman Penjara Secara Ilegal

EtIndonesia. Pada tahun 2025, setidaknya 751 praktisi Falun Gong di daratan Tiongkok dijatuhi hukuman penjara secara ilegal oleh otoritas Partai Komunis Tiongkok (PKT). Kasus-kasus penganiayaan ini tersebar di seluruh negeri, dengan korban mencakup lansia berusia hingga 90 tahun. 

Ketua Aliansi Pengacara Hak Asasi Manusia Tiongkok di Luar Negeri, pengacara Wu Shaoping, menyatakan bahwa penganiayaan PKT terhadap praktisi Falun Gong tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga menyingkap hakikat jahat dari rezim diktator tersebut.

Falun Dafa, juga dikenal sebagai Falun Gong, adalah sebuah ajaran kultivasi tingkat tinggi yang diperkenalkan oleh Guru Li Hongzhi. Ajaran ini berlandaskan pada prinsip universal tertinggi “Sejati, Baik, Sabar”, serta berpedoman pada hukum evolusi alam semesta. 

Sejak diperkenalkan di Tiongkok pada tahun 1992, Falun Gong telah menyebar ke lebih dari 100 negara dan wilayah di seluruh dunia. Buku-buku Falun Gong telah diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa dan beredar secara global, serta telah menerima ribuan penghargaan dari pemerintah berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru.

“Falun Gong semakin diterima dan disambut oleh banyak negara di seluruh dunia. Hal ini membentuk kontras yang sangat tajam dengan situasi di dalam Tiongkok. Ini menunjukkan bahwa kejahatan PKT semakin kehilangan dukungan rakyat, dan sekaligus membuktikan bahwa Falun Gong sendiri adalah sebuah kebenaran,” kata Komentator urusan internasional yang bermukim di Amerika Serikat, Xing Tianxing.

Menurut laporan Minghui.org, pada tahun 2025 setidaknya 68 pengacara membela praktisi Falun Gong di pengadilan dengan pledoi tidak bersalah. Mereka secara umum menegaskan bahwa: berlatih Falun Gong bukanlah kejahatan, mengungkap kebenaran tentang penganiayaan Falun Gong bukanlah kejahatan, dan bahwa pengadilan ilegal terhadap praktisi Falun Gong harus dihentikan serta semua praktisi yang ditahan secara ilegal harus dibebaskan tanpa syarat.

“Selama bertahun-tahun, banyak pengacara menggunakan sarana hukum untuk memberitahu masyarakat bahwa PKT sendiri melakukan penganiayaan ilegal. PKT, karena sifat jahat dari ideologi komunisnya, tidak dapat mentolerir keberadaan keyakinan lurus seperti Falun Gong,” kata Xing Tianxing. 

Ia menambahkan: “Satu-satunya harapan bagi rakyat Tiongkok, termasuk para praktisi Falun Gong, agar benar-benar tidak lagi dianiaya, adalah runtuhnya PKT secara total.”

Di antara praktisi Falun Gong yang dijatuhi hukuman secara ilegal, setidaknya 34 orang berusia di atas 80 tahun, dengan usia tertua mencapai 90 tahun. Selain itu, lebih dari 336 orang berusia antara 60 hingga 80 tahun. Hukuman penjara terberat mencapai 10 tahun.

Wu Shaoping mengatakan: “Saya menilai bahwa penindasan ini justru semakin parah. Dilihat dari usia para praktisi yang dijatuhi hukuman dan beratnya vonis yang dijatuhkan, banyak diantaranya sudah lanjut usia namun tetap dijatuhi hukuman penjara.”

Selain itu, para praktisi Falun Gong yang dihukum secara ilegal juga menjadi sasaran pemerasan finansial oleh PKT. Sepanjang tahun 2025, total uang tunai yang diperas dari praktisi Falun Gong mencapai 4.744.900 yuan, sementara 1.475.500 yuan lainnya dirampas oleh polisi saat penggeledahan rumah.

Wu Shaoping menegaskan: “Penindasan PKT terhadap Falun Gong murni didorong oleh tujuan kediktatoran politik. Ini adalah bentuk penindasan terhadap kebebasan beragama, sekaligus pelanggaran terhadap hak atas kebebasan berkeyakinan.”

Ia melanjutkan: “Karena ini adalah persoalan politik, berarti rezim diktator terpusat PKT, demi mempertahankan stabilitas kekuasaannya, menggunakan segala cara yang mungkin. Segala bentuk kekuatan pemersatu masyarakat sipil dijadikan sasaran penindasan. Dari sini dapat terlihat dengan jelas hakikat jahat dari rezim diktator PKT.” (Hui)

Laporan wawancara oleh reporter New Tang Dynasty Television, Zhao Fenghua dan Chang Chun.

Iran di Ambang Runtuh: Grand Bazaar Direbut Rakyat, Aparat Mulai Lari


EtIndonesia. Gelombang protes nasional di Iran yang kini menjadi sorotan dunia telah memasuki hari ke-10. Aksi yang pada awalnya dipicu oleh runtuhnya ekonomi dan melonjaknya biaya hidup, kini berkembang menjadi perlawanan nasional terbuka terhadap rezim Republik Islam Iran.

Di tengah derasnya arus informasi, muncul kekhawatiran dari sebagian pengamat dan masyarakat internasional: “Berapa lama rakyat Iran bisa bertahan jika hanya mengandalkan keberanian, sementara lawannya adalah negara dengan tentara, polisi, dan senjata?”

Namun, perkembangan di lapangan justru menunjukkan tren sebaliknya. Di bawah tekanan dan penindasan keras aparat keamanan, gelombang protes tidak melemah—bahkan semakin membesar dan meluas.

Grand Bazaar Teheran: Jantung Ekonomi yang Kembali Bergolak

Pada Selasa, 6 Januari 2026, perhatian dunia tidak hanya tertuju pada ruang situasi Gedung Putih, tetapi juga pada sebuah lokasi simbolik di Dataran Tinggi Persia: Grand Bazaar Teheran.

Bagi dunia luar, pasar ini mungkin hanya dikenal sebagai destinasi wisata. Namun bagi rakyat Iran, Grand Bazaar adalah denyut nadi ekonomi dan kekuatan sosial negara. Kompleks ini memiliki lebih dari 10 kilometer lorong seperti labirin, menghubungkan puluhan ribu toko—nyaris menyerupai sebuah kota kecil.

Gerakan protes nasional kali ini bermula dari Grand Bazaar. Setelah sebelumnya dikuasai ketat oleh militer dan polisi, pada hari ini kawasan tersebut kembali direbut oleh rakyat. Banyak analis menyebut peristiwa ini sebagai vonis mati politik bagi Republik Islam Iran.

Bayang-bayang Sejarah 1979 Kembali Menghantui Rezim

Sejarah mencatat, pada Revolusi Iran 1979, para pedagang Grand Bazaar memainkan peran krusial. Mereka melakukan mogok massal dan boikot ekonomi terhadap Dinasti Pahlavi, memutus aliran keuangan kerajaan, dan membuka jalan bagi naiknya Ruhollah Khomeini ke tampuk kekuasaan.

Kini, ironi sejarah kembali terjadi.

Namun kali ini, slogan yang menggema bukan lagi fanatisme agama. Rekaman terbaru dari lokasi menunjukkan massa meneriakkan:

  • “Ini adalah pertempuran terakhir!”
  • “Dinasti Pahlavi akan kembali berkuasa!”

Ketika para pedagang menutup toko secara serentak, menurunkan rolling door, dan turun ke jalan, artinya sirkulasi ekonomi Iran benar-benar terhenti. Pajak, logistik, dan sumber pendanaan rezim mulai mengering.

Protes Meluas: Teheran, Abadan, hingga Iran Barat

Di berbagai wilayah sekitar Teheran, sejumlah kawasan dilaporkan sepenuhnya dikuasai massa protes. Di jalan-jalan, rakyat meneriakkan slogan “Tumbangkan tiran” dan menyerukan pemberontakan nasional.

Di Abadan, kota pelabuhan strategis di Iran selatan, pada malam 5 Januari 2026, hampir seluruh kota turun ke jalan. Tidak lagi didominasi pria muda, demonstrasi kini melibatkan laki-laki, perempuan, anak-anak, hingga lansia.

Di Sari (Iran utara), demonstran berhasil merebut kembali seorang warga yang ditangkap aparat.

Di Hamadan (Iran barat), aparat keamanan dilaporkan kocar-kacir dan melarikan diri, sebuah pemandangan yang mengejutkan para analis militer.

Fenomena ini menjadi peringatan serius bagi rezim: mesin kekerasan negara mulai kehilangan daya gentarnya.

Perang Psikologis di Dunia Maya: Elon Musk Jadi Simbol

Selain di jalanan, pertempuran juga berlangsung di dunia maya. Sosok tak terduga muncul sebagai simbol perlawanan: Elon Musk.

Tiga hari sebelumnya, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menulis di media sosial bahwa Iran “tidak akan pernah tunduk pada musuh”

Musk membalas singkat—dalam bahasa Persia: “Teruslah bermimpi di siang bolong.”

Kalimat itu viral di seluruh Iran, dicetak menjadi spanduk di Grand Bazaar, dan diteriakkan oleh demonstran muda.

Bagi generasi muda Iran, Musk—ikon teknologi dan kebebasan digital—telah meruntuhkan aura sakral Khamenei dengan sindiran modern yang dingin dan meremehkan. Para ulama yang dulu dianggap tak tersentuh, kini menjadi objek ejekan terbuka.

Starlink dan Runtuhnya Sensor Informasi

Sindiran Musk bukan tanpa substansi. Pada Juni 2025, ia mengumumkan aktivasi Starlink di wilayah Iran. Perangkat Starlink dilaporkan telah masuk ke Iran dalam jumlah besar.

Ketika rezim memutus internet untuk membungkam informasi, gambar dan video perlawanan tetap mengalir ke dunia internasional secara real time.

Upaya rezim untuk mengendalikan opini publik justru berbalik arah. Baru-baru ini, pejabat Iran memaksa mahasiswa di sebuah universitas meneriakkan slogan anti-Israel dan anti-Amerika. Respons mahasiswa justru berupa teriakan sindiran dan tawa mengejek, memperlihatkan runtuhnya otoritas ideologis negara.

Retaknya Aparat dan Tanda Perpecahan Internal

Tekanan massa juga memicu retakan serius di tubuh aparat keamanan. Polisi dan tentara—yang bergaji rendah dan terdampak krisis ekonomi—mulai mempertanyakan loyalitas mereka.

Di Abdanan, Provinsi Ilam, sebuah video pada 5 Januari 2026 menunjukkan polisi melambaikan tangan kepada demonstran, simbol krisis internal yang kian nyata.

Seorang perwira Brigade Quds dilaporkan membelot dan bergabung dengan Tentara Nasional Kurdistan. Intelijen Israel juga mengklaim bahwa ribuan aparat menolak menembak rakyat dan meninggalkan posnya.

Sementara itu, kelompok Iran Immortal Guard membakar sekolah-sekolah teologi rezim di berbagai kota—simbol runtuhnya kekuasaan lama.

Blunder Ekonomi dan Tekanan Geopolitik

Di tengah krisis, pemerintah Iran mengumumkan subsidi 1 juta rial per bulan per warga. Namun dengan nilai tukar saat ini—sekitar 1,45 juta rial per 1 dolar AS—bantuan tersebut dianggap penghinaan terbuka, menegaskan kebangkrutan negara.

Di level regional, tekanan makin meningkat. Hubungan Iran–Suriah dilaporkan memburuk, sanksi AS terhadap Suriah dicabut, dan militer AS bersiaga di sekitar perbatasan Iran.

Malam Panjang di Teheran

Malam ini, lampu Grand Bazaar Teheran tidak akan padam. Rakyat berjaga, menanti fajar. Setiap teriakan di jalan kini terdengar seperti lonceng kematian bagi politik ulama Islam.

Banyak pengamat menilai, tahun 2026 bisa menjadi titik balik sejarah Iran, bahkan disebut sebagai bagian dari “pembersihan besar dunia”—sebuah fase ketika tatanan lama runtuh, membuka jalan bagi masa depan yang lebih terbuka.

Apakah rezim mampu bertahan, atau sejarah akan kembali berulang? Jawabannya mungkin akan ditentukan dalam hitungan hari, bukan lagi tahun.

Penangkapan Maduro oleh Militer AS: Tamparan Ganda dan Peringatan Keras bagi Partai Komunis Tiongkok

Militer Amerika Serikat melancarkan serangan mendadak ke Caracas, ibu kota Venezuela, dan menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya. Kabar ini mengguncang dunia. Tindakan tersebut juga membuat rezim-rezim otoriter di seluruh dunia merasa sangat gelisah, terutama Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang selama ini aktif merangkul dan mendukung Venezuela.

EtIndonesia.  Pada 3 Januari 2026, militer AS melancarkan operasi kilat terhadap Venezuela dan berhasil menangkap pasangan Maduro, lalu dengan cepat membawa mereka ke New York untuk diadili. Yang patut diperhatikan, sebelum penangkapan tersebut, PKT baru saja mengirim delegasi untuk bertemu Maduro selama beberapa jam dan secara terbuka menyatakan dukungannya.

Pengamat politik Wang He menulis dalam Epoch Times pada 4 Januari bahwa hanya dalam hitungan jam, militer AS berhasil menangkap Maduro. Dunia luar bahkan tidak melihat adanya informasi mengenai bentrokan antara militer Venezuela dan pasukan AS. Hal ini menimbulkan dampak psikologis yang sangat besar bagi Amerika Latin dan negara-negara lain di dunia, terutama bagi PKT.

Wang He menganalisis bahwa peristiwa ini memberikan tiga bentuk penangkalan terhadap PKT:

Pertama, Maduro memiliki hubungan yang sangat dekat dengan PKT. Pada tahun 2023, Maduro berkunjung ke Tiongkok dan hubungan Venezuela–Tiongkok ditingkatkan menjadi “kemitraan strategis sepanjang waktu”. Kini, ketika Amerika Serikat bersiap mengambil alih Venezuela, hubungan Venezuela dengan PKT pasti akan mengalami perubahan drastis.

Kedua, dampak dari insiden Maduro dapat mendorong seluruh Amerika Latin untuk meninjau kembali hubungan mereka dengan PKT. Upaya PKT selama bertahun-tahun membangun pengaruh di kawasan tersebut kini menghadapi guncangan besar.

Ketiga, hal ini menjadi peringatan keras agar PKT tidak bertindak gegabah di Selat Taiwan. Selama kampanye presiden 2024, Trump pernah melontarkan pernyataan mengejutkan: jika PKT menginvasi Taiwan selama masa jabatannya, ia akan membombardir Beijing sebagai balasan. Setelah kembali ke Gedung Putih pada 2025, Trump secara tak terduga memerintahkan pengeboman fasilitas nuklir Iran. Penangkapan hidup-hidup Maduro kembali menunjukkan kekuatan, tekad, dan kredibilitas Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan kepada media bahwa jika Trump mengatakan ia serius terhadap suatu hal, maka itu benar-benar serius.

Pengamat politik Zhou Xiaohui juga menilai bahwa penangkapan hidup-hidup Maduro memberikan tiga pukulan telak bagi PKT :

Pertama, investasi PKT dan utang ratusan miliar dolar AS di Venezuela kemungkinan besar sulit ditagih kembali, dan pengaruh PKT di Amerika Latin akan sangat melemah.
Kedua, operasi militer AS yang nyaris sempurna memaksa PKT untuk kembali menimbang dengan serius apakah konfrontasi dengan Amerika Serikat akan berujung pada nasib yang sama seperti Maduro.
Ketiga, penangkapan Maduro memicu sorakan dukungan luas dari warga Tiongkok di dalam dan luar negeri. Banyak komentar berharap Amerika Serikat dapat membantu membawa perubahan besar di Tiongkok. Arah opini publik ini menambah tekanan yang sangat besar bagi PKT.

Zhou Xiaohui menambahkan bahwa para pemimpin PKT, yang sebenarnya sudah sangat menyadari hilangnya dukungan rakyat dan terus-menerus berbicara soal “menjaga stabilitas”, kini kembali melihat gelombang besar aspirasi publik. Jika mereka memilih terus mempertahankan kekuasaan dan melindungi rezim PKT yang dianggap jahat, melawan arus sejarah, siapa yang bisa menjamin bahwa nasib Maduro tidak akan menimpa mereka sendiri?

Para pakar menganalisis bahwa langkah Amerika Serikat ini secara langsung menghantam keras kepentingan strategis PKT di Amerika Latin, sekaligus membuat rezim-rezim otoriter di seluruh dunia merasa sangat tidak aman.

Harian South China Morning Post yang berbasis di Hong Kong melaporkan bahwa Terry Haines, pendiri lembaga konsultan Pangaea Policy di Washington, menyatakan bahwa berdasarkan Strategi Keamanan Nasional yang dirilis pemerintah Trump akhir tahun lalu, tujuan keseluruhan Amerika Serikat adalah membatasi, menahan, dan melemahkan pengaruh ekonomi serta geopolitik PKT di Amerika Latin.

Haines menegaskan bahwa Venezuela, yang sebelumnya merupakan sekutu paling setia PKT di Amerika Selatan, kini telah “dicabut”. Ini sama artinya dengan Amerika Serikat secara langsung memutus salah satu basis utama PKT untuk menyusup ke kawasan Amerika Latin. Dampaknya tidak hanya “langsung dan negatif” terhadap tata letak PKT di Amerika Tengah dan Selatan, tetapi juga akan memicu reaksi keras dari negara-negara otoriter seperti Iran dan Rusia.

Surat kabar The Times melaporkan bahwa analis senior Eurasia Group sekaligus mantan pejabat Konsulat Jenderal AS di Shenyang, Jeremy Chan, menilai bahwa operasi ini membuat “para diktator dari Havana (Kuba) hingga Beijing kini pasti merasa jauh lebih gelisah dibandingkan kemarin.” Aksi lintas negara bergaya “pemenggalan kepala” semacam ini memiliki efek penangkalan yang sangat besar terhadap sistem otoriter. (Hui)

Tang Zheng

Maduro Ditangkap Hidup-Hidup, Dunia Terdiam: Pesan Mematikan AS untuk Xi Jinping

EtIndonesia. Penangkapan hidup-hidup Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh militer Amerika Serikat pada 3 Januari 2026 bukan hanya mengguncang tatanan politik Amerika Latin, tetapi juga memicu gelombang ketegangan geopolitik global. Sejumlah analis menilai operasi ini telah menciptakan efek kejut yang jauh melampaui Venezuela—terutama terhadap rezim otoriter Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan pemimpinnya, Xi Jinping.

Operasi Intelijen Tingkat Tinggi

Keberhasilan penangkapan Maduro dinilai bukan peristiwa kebetulan. Para pengamat meyakini Amerika Serikat telah menguasai intelijen rahasia tingkat sangat tinggi sebelum operasi dimulai, termasuk informasi tentang rute pelarian, lokasi rumah aman, dan bahkan titik persembunyian terakhir Maduro.

Menurut sejumlah analis keamanan, faktor penentu keberhasilan bukan semata kekuatan militer, melainkan kolaborasi intelijen dan pengkhianatan dari lingkaran dalam kekuasaan. Dalam konteks inilah, Xi Jinping dinilai menghadapi ketakutan terbesar: bukan serangan militer dari luar, melainkan potensi pengkhianatan dari orang-orang terdekatnya sendiri.

Sinyal Pencegah Ekstrem Trump

Pasca penangkapan Maduro, pemerintahan Presiden Donald Trump secara berturut-turut melepaskan sinyal pencegah ekstrem kepada berbagai negara. Tekanan ini menyasar Kuba, Meksiko, Kolombia, Iran, hingga Greenland—menggunakan bahasa diplomatik yang keras dan cakupan yang luas.

Sejumlah pengamat menyebut langkah tersebut sebagai tekanan terkoordinasi terhadap rezim otoriter, negara bermasalah, serta sisa-sisa pengaruh komunisme global, menandai bahwa dunia tengah memasuki fase geopolitik baru yang lebih konfrontatif.

Pesan Tegas ke Beijing di Kawasan Indo-Pasifik

Dalam perkembangan terpisah, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, seusai latihan militer gabungan di kawasan Taiwan, secara resmi menyampaikan kepada Beijing bahwa Amerika Serikat berkomitmen melindungi Taiwan dan Philipina. Dia menuntut Tiongkok segera menghentikan tindakan provokatif di kawasan tersebut dan memperingatkan agar Beijing tidak memancing keterlibatan militer AS.

Operasi militer AS terhadap Venezuela—yang selama ini dikenal pro-Beijing—dinilai sebagai pesan tidak langsung namun sangat tegas kepada Tiongkok agar tidak bertindak gegabah.

Menariknya, dalam 24 jam setelah penangkapan Maduro, tidak satu pun pesawat militer Tiongkok terpantau mengganggu wilayah udara Taiwan—sebuah anomali yang langsung memicu spekulasi luas di kalangan analis.

“Pemenggalan Kepemimpinan” Jadi Ketakutan Diktator

Di media sosial, sebuah komentar warganet menjadi viral: “Para diktator tidak takut senjata nuklir. Yang paling mereka takuti adalah pemenggalan kepemimpinan.”

Amerika Serikat dinilai telah memperlihatkan satu kartu strategis yang jarang digunakan: menangkap pemimpin hidup-hidup, bukan sekadar mengeliminasinya. Strategi ini membuka peluang hukum, intelijen, dan politik yang jauh lebih besar.

Target Sebenarnya: Beijing

Pengusaha Shanghai, Hu Liren menyampaikan analisisnya melalui media sosial. Menurutnya, di permukaan peristiwa ini tampak sebagai kejatuhan seorang diktator Amerika Latin. Namun sejatinya, target strategis utama operasi ini adalah Beijing.

Hu menilai penangkapan Maduro bukan sekadar menjatuhkan individu, melainkan memanfaatkan kesaksiannya untuk membuka jaringan infiltrasi PKT di Amerika dan dunia. Jika proses kesaksian dimulai, jaringan pengaruh yang dibangun Tiongkok selama bertahun-tahun di kawasan Amerika bisa runtuh secara menyeluruh.

Peringatan “Soleimani” untuk PKT

Jurnalis senior keamanan nasional AS, Bill Gertz pada 28 Desember 2025 menulis bahwa jika PKT menyerang Taiwan, Beijing berpotensi menghadapi skenario mirip operasi Qasem Soleimani—serangan drone pemenggalan kepemimpinan yang menargetkan elit tertinggi, termasuk Xi Jinping.

Namun, mantan pejabat Departemen Pertahanan AS, Hu Zhendong menegaskan perbedaan mendasar: kasus Soleimani adalah pembunuhan, sedangkan penangkapan Maduro adalah penangkapan hidup-hidup, yang jauh lebih menghancurkan secara psikologis dan politis.

Dalam wawancara dengan NowNews Today, Hu Zhendong menyebut operasi ini sebagai mimpi buruk terbesar Xi Jinping, karena menunjukkan bahwa AS mampu menembus inti kekuasaan lawan melalui intelijen, bukan sekadar kekuatan senjata.

Simbol Ketakutan di Dalam Negeri Tiongkok

Pada 3 Januari 2026, hari yang sama dengan penangkapan Maduro, sebuah patung kuda terikat di Provinsi Shanxi tiba-tiba dibongkar pada tengah malam. Pihak pengelola menyebutnya sebagai “keadaan kahar akibat dampak negatif”.

Warganet menafsirkan “keadaan kahar” tersebut sebagai perintah dari tingkat tertinggi, mencerminkan kegelisahan elite PKT terhadap situasi global yang memburuk.

Eskalasi Regional: Iran dan Timur Tengah

Sementara itu, karena milisi yang didukung Iran menolak melucuti senjata, media Kurdistan 24 melaporkan bahwa pasukan elit Delta Force AS telah dikerahkan ke perbatasan Irak—khususnya di kawasan pertemuan Irak, Suriah, dan Yordania—dan siap melakukan aksi langsung kapan saja.

Di Iran, sistem radar pengawasan udara di Teheran dan kota-kota besar lainnya telah diaktifkan. Bahkan, di beberapa wilayah, warga dilaporkan mulai mengganti nama jalan menjadi “Jalan Trump”, sebuah simbol perubahan psikologis yang mencolok.

Kesadaran yang Ditakuti PKT

Di Tiongkok daratan, sebuah video yang memperlihatkan pria dan wanita dari berbagai latar belakang bersumpah: “Jika diberi senjata, tidak satu pun musuh sejati akan lolos.”

Video tersebut dengan cepat disensor. Para analis menilai inilah ketakutan terbesar PKT: kesadaran politik yang meluas, tidak hanya di kalangan bawah, tetapi juga berpotensi tumbuh di semua lapisan masyarakat, termasuk elite.

Nilai Sebuah Mimpi

EtIndonesia. Ada seorang anak laki-laki yang tinggal di sebuah rumah reyot di kawasan kumuh. Dari tujuh bersaudara, tubuhnya paling kurus dan lemah, sering terserang flu dan demam. Dia juga tampak kurang berbakat dalam pelajaran; nilai akademiknya adalah yang terburuk di antara ketujuh anak itu.

Suatu hari, dia menonton sebuah acara televisi yang memperkenalkan pegolf terhebat sepanjang sejarah, Jack Nicklaus. Seketika hatinya tersentuh. 

Dia berkata dalam hati : “Aku juga ingin menjadi seperti Nicklaus—menjadi pegolf profesional yang hebat!”

Dia pun meminta ayahnya membelikan bola dan stik golf. 

Ayahnya berkata:  “Nak, keluarga kita tidak mampu bermain golf. Itu olahraga orang-orang kaya.”

Namun dia tidak menyerah dan terus memohon. 

Sang ibu memeluknya, lalu berkata kepada ayahnya: “Aku percaya padanya. Dia pasti bisa menjadi pegolf yang hebat.”

Kemudian ibu menoleh kepadanya dengan lembut dan berkata : “Nak, kalau kelak kamu menjadi pegolf profesional, belikan ibu sebuah vila, ya?”

Anak itu membuka matanya lebar-lebar dan mengangguk kuat kepada ibunya.

Ayahnya lalu membuatkan sebuah stik golf sederhana, dan menggali beberapa lubang di tanah kosong depan rumah. Setiap hari, anak itu berlatih sebentar menggunakan bola-bola bekas yang dia pungut.

Saat masuk sekolah menengah, dia bertemu guru olahraga yang kelak mengubah hidupnya—Rich Feldman. 

Feldman menemukan bakat besar dalam diri remaja kulit hitam ini. Dia menyarankan agar anak itu berlatih di klub golf, bahkan membantu membayar sepertiga dari biaya latihan. Hanya dalam waktu tiga bulan, dia sudah menjadi juara golf remaja Kota Orlando.

Setelah lulus SMA, dia diterima di Stanford University. Pada liburan musim panas, seorang sahabat datang berkunjung dan bercerita bahwa perusahaan pariwisata tempat kakaknya bekerja sedang merekrut pelayan kapal pesiar mewah, dengan gaji tinggi—500 dolar AS per minggu. Dia pun tergoda. Keluarganya masih miskin, dan dia merasa sudah saatnya bertanggung jawab membantu keluarga seperti seorang pria dewasa.

Beberapa hari kemudian, Rich Feldman datang ke rumahnya. Sang guru telah menghubunginya dengan sebuah klub golf dan berencana membawanya tampil untuk membangun nama. Dengan rasa sungkan, pemuda itu memberi tahu gurunya bahwa dia berniat menerima pekerjaan tersebut.

Rich Feldman terdiam sejenak, lalu bertanya: “Anakku, apa sebenarnya mimpimu?”

Dia tertegun, tampak tak siap dengan pertanyaan itu. 

Setelah cukup lama, dengan wajah memerah dia berkata: “Menjadi pegolf seperti Nicklaus, menghasilkan banyak uang, dan membelikan ibu sebuah vila yang indah.”

Mendengar itu, Rich Feldman berkata dengan tenang namun tajam: “Kalau sekarang kamu memilih bekerja, lalu bagaimana dengan mimpimu? Benar, kamu bisa langsung mendapat 500 dolar per minggu—itu memang mengagumkan. Tapi, apakah mimpimu hanya bernilai 500 dolar per minggu?”

Kata-kata itu mengguncang batin pemuda 18 tahun tersebut. Dia duduk terpaku di dalam rumah, terus mengulang-ulang perkataan gurunya dalam hati. Liburan musim panas itu dia habiskan sepenuhnya untuk berlatih dengan disiplin. Pada Kejuaraan Golf Amatir Nasional Amerika Serikat tahun itu, dia menjadi juara termuda dalam sejarah turnamen tersebut.

Tiga tahun kemudian, dia resmi menjadi pegolf profesional.

Dia kemudian dikenal sebagai salah satu pegolf terhebat sepanjang masa, menciptakan legenda dalam dunia golf.

Pada tahun 1999, dia menjadi pegolf peringkat nomor satu dunia. Pada tahun 2002, dia menjadi pegolf pertama sejak era Jack Nicklaus (1972) yang secara beruntun menjuarai berbagai turnamen besar Amerika Serikat.  Sejak debut profesionalnya pada 1996, dia telah meraih total 39 gelar juara.

Kini, dengan pendapatan tahunan sekitar 100 juta dolar AS, dia menjadi salah satu atlet dengan penghasilan tertinggi di dunia. Dia telah membelikan ibunya enam vila, yang tersebar di berbagai lokasi.

Dia adalah Tiger Woods.

Hikmah Cerita:

Seseorang seharusnya mengerahkan seluruh upaya dan menggali setiap potensi yang dimilikinya untuk mewujudkan mimpi. Berusaha mungkin berakhir dengan kegagalan, tetapi menyerah berarti tidak akan pernah berhasil.

Cobalah berlari mengejar mimpi seperti Woods. Siapa tahu, suatu hari nanti, kamu juga bisa membelikan ibumu enam vila.(jhn/yn)

“Jabat Tangan Kematian” Xi Jinping Sebagai “Mitra Baik” : Setelah Bersalaman dengannya, Empat Pemimpin Negara Berturut-turut Lengser

EtIndonesia. Belum lama ini, militer Amerika Serikat menangkap hidup-hidup Nicolás Maduro beserta istrinya, memicu perhatian luas opini publik dunia. Pengamatan pihak luar menemukan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, di antara para pemimpin asing yang disebut pemimpin PKT Xi Jinping sebagai “teman baik” dan pernah berjabat tangan dengannya, setidaknya empat orang berturut-turut lengser dari kekuasaan. Warganet pun menyindir bahwa Xi Jinping adalah pemilik “jabat tangan kematian” paling kuat di dunia.

Presiden Venezuela Maduro, Disebut Xi Jinping sebagai “Mitra Baik”

Pada 3 Januari 2026, militer AS melancarkan serangan mendadak ke Venezuela dan berhasil menangkap hidup-hidup Presiden Maduro, lalu membawanya ke New York untuk diadili.

Sebelumnya, pada Mei tahun lalu, Xi Jinping bertemu Maduro di Moskow. Saat itu, Xi dan Maduro berjabat tangan dengan akrab. Xi menyebut kedua pihak sebagai mitra baik yang saling percaya dan berkembang bersama. Maduro juga menyatakan harapannya untuk memperkuat “kemitraan strategis sepanjang waktu” dengan Tiongkok.

Maduro telah berulang kali mengunjungi Tiongkok dan bahkan memuji ponsel Huawei yang dihadiahkan Xi Jinping kepadanya, dengan klaim bahwa ponsel tersebut paling aman dan tidak dapat disadap oleh Amerika Serikat. Namun kini, Maduro telah ditangkap oleh militer AS dan langsung dibawa ke New York untuk diadili.

Sejumlah warganet berspekulasi bahwa penangkapan Maduro kali ini mungkin justru karena ponsel Huawei tersebut melacak keberadaannya. Terlebih lagi, pada malam hari setelah ia menerima delegasi PKT, ia ditangkap di istana presiden. Karena itu, militer AS seharusnya “berterima kasih” kepada Xi Jinping yang dianggap “membantu”.

Perdana Menteri Nepal Oli Bertemu Xi Jinping, Seminggu Kemudian Lengser

Pada akhir Agustus 2025, Perdana Menteri Nepal Khadga Prasad Oli berkunjung ke Tiongkok dan bertemu Xi Jinping. Saat itu, Xi menyatakan bahwa kedua negara memiliki hubungan “persahabatan lintas generasi” dan “saling memahami serta saling dekat”.

Namun, hanya seminggu setelah Oli kembali ke Nepal, menghadapi gelombang besar demonstrasi rakyat yang kian memanas, ia terpaksa mengundurkan diri dengan suram. Nepal juga merupakan salah satu mitra proyek “Belt and Road” PKT, dengan berbagai investasi dan proyek pembangunan Tiongkok di negara tersebut.

Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina Bertemu Xi, Pulang lalu Lengser dan Mengungsi

Bangladesh, yang juga merupakan mitra kerja sama “Belt and Road” PKT, menyaksikan Perdana Menteri saat itu Sheikh Hasina mengunjungi Tiongkok pada Juli 2024 dan bertemu Xi Jinping, saling membicarakan “persahabatan”.

Namun setelah Hasina kembali ke negaranya, pada Juli–Agustus tahun yang sama, Bangladesh dilanda gerakan mahasiswa besar-besaran. 

Menghadapi demonstrasi rakyat, pemerintah melakukan penindasan berdarah yang menyebabkan sekitar 1.400 orang tewas, memicu kemarahan publik yang lebih luas. Akhirnya, Hasina yang telah berkuasa selama 15 tahun terpaksa mengundurkan diri dan melarikan diri ke India. Setelah itu, Pengadilan Kejahatan Perang Internasional Bangladesh menjatuhkan hukuman mati kepadanya.

Presiden Suriah Assad dan “Persahabatan di Masa Sulit” dengan Xi Jinping

Presiden Suriah Bashar al-Assad pada September 2023 membawa seluruh keluarganya berkunjung ke Tiongkok, bertemu Xi Jinping, dan bahkan pergi ke Kuil Lingyin di Hangzhou untuk “bersembahyang kepada Buddha”.

Saat itu, media resmi PKT menyatakan bahwa Xi Jinping dan Assad “sepakat bahwa Tiongkok dan Suriah adalah sahabat setia dan sahabat di masa sulit”, serta menyetujui pembentukan “kemitraan strategis” antara kedua negara.

Namun hasilnya, pada akhir 2024, Assad tumbang dari kekuasaan dan segera melarikan diri ke Rusia, mengakhiri 50 tahun pemerintahan keluarga Assad.

Terkait “kemitraan strategis” yang pernah dibangun antara Tiongkok dan Suriah, sejumlah warganet menyindir bahwa investasi pemerintah PKT kembali “lenyap tanpa hasil”.

Sumber ; NTDTV.com

AS dan Tiongkok Berselisih di Dewan Keamanan PBB: Tegaskan Penangkapan Maduro Sebagai Penegakan Hukum, Bukan Invasi 

Terkait penangkapan Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menggelar pertemuan di New York pada 5 Januari 2026. Perwakilan AS menegaskan bahwa penangkapan Maduro merupakan tindakan penegakan hukum, bukan invasi. Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz:  “(Maduro) akan menjalani proses peradilan di Amerika Serikat.”

EtIndonesia. Menanggapi penangkapan pemimpin diktator Venezuela, Nicolás Maduro, oleh Amerika Serikat, Dewan Keamanan PBB mengadakan pertemuan pada tanggal 5. Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, menggunakan sekitar 10 menit untuk menjelaskan secara menyeluruh posisi Amerika Serikat.

Duta Besar AS untuk PBB, Waltz:  “Kami tidak melancarkan perang terhadap Venezuela dan rakyatnya. Kami tidak menduduki sebuah negara. Ini adalah sebuah operasi penegakan hukum.”

Kuasa Usaha Sementara Perwakilan Tetap PKT untuk PBB, Sun Lei:  “Tiongkok dengan tegas menentang hal ini.”

Dalam pertemuan tersebut, Rusia, Kolombia, dan Partai Komunis Tiongkok (PKT) menyatakan kecaman terhadap Amerika Serikat. Perwakilan PKT juga menyerukan bahwa “cara militer bukanlah jalan keluar untuk menyelesaikan masalah.”

Sementara itu, pihak AS kembali menegaskan bahwa Maduro membantu masuknya narkoba ilegal dalam jumlah besar ke Amerika Serikat, yang juga secara bertahap mengalir ke Eropa. Selain itu, Maduro disebut sebagai pemimpin dari rezim ilegal dan bukan kepala negara yang sah.

Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz:  “Jika PBB dan lembaga-lembaganya memberikan legitimasi kepada seorang teroris bandar narkoba yang tidak sah, dan memberinya perlakuan yang sama seperti presiden terpilih atau kepala negara, maka organisasi seperti apa sebenarnya PBB itu?”

Waltz lebih lanjut menyatakan bahwa dunia tidak boleh membiarkan cadangan energi terbesar di dunia jatuh ke tangan musuh Amerika Serikat, serta tidak mengizinkan Belahan Barat dimanfaatkan sebagai basis operasi oleh kekuatan yang memusuhi AS.

Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz:  “Anda tidak boleh mengubah Venezuela menjadi basis bagi Iran, Hizbullah, geng kriminal, intelijen Kuba, dan aktor-aktor jahat lainnya yang mengendalikan negara tersebut.”

Selain Amerika Serikat, Swiss juga bergabung dalam aksi pengetanan. Pemerintah Swiss mengumumkan pembekuan seluruh aset yang dimiliki Maduro dan 37 orang terkait lainnya di wilayah Swiss. Langkah ini segera berlaku. (Hui)

Disusun dan dilaporkan oleh Lin Jiawei dan Zeng Xinmin, New Tang Dynasty Asia-Pacific Television.

Selebgram Wanita Tiongkok Berusia 20 Tahun Terlantar di Jalanan Kamboja, Ia Ditemukan Dalam Kondisi Linglung dan Cedera Lutut 

Belakangan ini, kabar tentang selebgram perempuan Tiongkok berusia 20 tahun bernama “umi” (nama asli: Wu Zhenzhen) yang terlantar di jalanan Kamboja telah memicu perhatian publik. Setelah itu, lebih banyak informasi mengenai kondisinya pun terungkap.

EtIndonesia. Wu Zhenzhen, selebgram asal Provinsi Fujian, lahir pada tahun 2005 di Kota Jian’ou, Fujian. Akun Douyin miliknya memiliki sekitar 24 ribu pengikut. Pada 26 Desember tahun lalu, ia ditemukan terlantar di jalanan Sihanoukville, Kamboja, dalam kondisi linglung, wajah tampak sangat lelah, tubuh kurus, lutut diduga mengalami cedera, dan secara keseluruhan berada dalam keadaan yang sangat buruk. 

Ia mengaku datang ke Kamboja karena tergiur tawaran “pekerjaan bergaji tinggi”, namun akhirnya terlantar di jalanan.

Pada 5 Januari 2026i, Wu Zhenzhen mengatakan kepada China News Weekly melalui panggilan video bahwa pada Maret 2025 ia pergi ke Kamboja untuk bekerja atas perkenalan seorang teman, dan bekerja di sektor jasa. Selama bekerja di sana, ia berkenalan dengan seorang pacar, namun kemudian putus. 

Mengenai alasan dirinya terlantar di jalanan, ia menyatakan bahwa karena keterbatasan mobilitas dan kondisi fisiknya yang buruk, pemilik tempat tinggal khawatir akan keselamatannya sehingga mengusirnya.

Saat ini, Wu Zhenzhen sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Tongji, Sihanoukville, Kamboja. Pihak rumah sakit menyampaikan bahwa saat dirawat, ia mengalami batuk dan sesak napas disertai nyeri dan kembung perut, kesulitan buang air kecil, serta kelelahan di seluruh tubuh. 

Hasil pemeriksaan menunjukkan ia didiagnosis menderita infeksi paru-paru, radang selaput dada (pleuritis), efusi pleura, retensi urine, serta gangguan somatisasi dan hipoalbuminemia (kadar protein darah rendah).

Setelah beberapa hari perawatan, tanda-tanda vitalnya stabil, nafsu makannya berangsur meningkat, dan keinginannya untuk berkomunikasi secara aktif juga membaik. Rumah sakit melakukan tes rambut, dan hasilnya menunjukkan positif metamfetamin (sabu-sabu) dan ketamin.

Dalam proses wawancara, ingatan Wu Zhenzhen tampak kabur dan ia enggan banyak berbicara. Ia menyebut pernah dikurung selama beberapa hari, namun tidak dapat menjelaskan alasan maupun lokasi penahanan tersebut. Ia juga beberapa kali menyebut dirinya bekerja sebagai pelayan di Kamboja, tetapi tidak mau menjelaskan secara rinci jenis pekerjaan yang dilakukan.

Ibu Wu Zhenzhen mengatakan bahwa setelah lulus SMP, putrinya bekerja di luar daerah dan jarang berhubungan dengan keluarga. Keluarga baru mengetahui bahwa ia ke luar negeri setelah lebih dari sebulan. Saat itu, putrinya hanya mengatakan bahwa “di Kamboja uang mudah didapat”, tanpa menjelaskan pekerjaan apa yang ia lakukan.

Menurut penuturan sang ibu, setelah bekerja sekitar setengah tahun, Wu Zhenzhen kehilangan pekerjaannya dan kemudian berulang kali meminta uang kepada keluarga. Selain orang tuanya, ia juga meminjam uang dari banyak kerabat dan kenalan. Seiring permintaan uang yang semakin sering, sang ibu mulai khawatir akan keselamatan putrinya, bahkan mencurigai bahwa ia mungkin berada di bawah kendali orang lain.

 “Saya bertanya uang itu dipakai untuk apa, dia selalu menghindari pertanyaan ini. Tidak mungkin dalam dua hari bisa menghabiskan 10.000 yuan,” ujar sang ibu.

Kontak terakhir antara Wu Zhenzhen dan ibunya terjadi pada pagi hari sekitar pukul 09.00 tanggal 26 Desember 2025 melalui panggilan video. 

Saat itu, sang ibu sudah merasa kondisi putrinya tidak baik. Setelah sambungan terputus, mereka tidak lagi bisa berkomunikasi. Hingga akhirnya, seorang kerabat melihat foto Wu Zhenzhen yang terlantar di jalanan beredar di internet, barulah sang ibu mengetahui kondisi putrinya.

Menurut laporan Jimu News, ayah Wu Zhenzhen menyebutkan bahwa pada hari mereka kehilangan kontak, putrinya menghubungi keluarga dan mengatakan bahwa kakinya bermasalah serta membutuhkan uang untuk berobat. Keluarga segera mentransfer 2.200 yuan. Namun kemudian, setelah kerabat melihat foto-fotonya di jalanan secara daring, mereka tidak lagi bisa menghubunginya. Keluarga Wu lalu melaporkan kejadian ini kepada polisi.

“Pasti dia ditipu untuk pergi ke sana. Dia bilang uang di sana sangat mudah didapat,” ungkap sang ayah. Ia menambahkan bahwa putrinya memang sangat ingin menghasilkan uang. Pada awal mencoba berwirausaha, ia pernah menjual komputer, sepatu, dan pakaian, namun setelah itu ia tidak tahu pasti apa pekerjaan yang dilakukan putrinya.

Ibu Wu Zhenzhen mengatakan kepada Cover News bahwa pada 6 Januari sekitar pukul 15.00 ia berangkat menuju Kamboja. Tiket pesawat dibantu dibelikan oleh kerabat, dan ia ditemani oleh teman dari keponakannya. Ayah Wu tidak ikut karena keterbatasan fisik. Kondisi kesehatan putrinya masih kurang baik dengan banyak masalah kesehatan. 

Dalam panggilan video pada l 5 Januari, kondisi Wu Zhenzhen tampak lebih baik dibandingkan foto-foto yang beredar. Setibanya di Kamboja, keluarga akan melihat langkah apa yang perlu diambil, dan untuk sementara belum diketahui kapan mereka bisa membawa Wu Zhenzhen kembali ke Tiongkok. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Seiring dengan Menyebarnya Wabah Flu di Tiongkok, Orang-orang dari Segala Usia dan Jenis Kelamin Meninggal Dunia Satu Demi Satu

Kita kembali menyoroti wabah di Tiongkok. Belakangan ini, rumah sakit di berbagai kota dipenuhi pasien, dan sejumlah rumah duka kembali penuh sesak. Para pelaku industri pemakaman serta banyak warga Tiongkok mengungkapkan di internet bahwa banyak lansia meninggal dunia, dan tidak sedikit pula kaum muda yang meninggal secara mendadak.

EtIndonesia. Baru-baru ini, sejumlah warganet mengunggah video yang mengatakan bahwa para lansia meninggal satu per satu. Banyak netizen juga meninggalkan komentar, menyebutkan bahwa di desa mereka banyak lansia yang wafat, bahkan ada juga kaum muda yang meninggal.

Seorang petugas pemakaman bermarga Wei dari Ningbo, Provinsi Zhejiang, menyatakan bahwa di daerah setempat jumlah lansia yang meninggal relatif banyak. Gelombang kematian datang silih berganti, dan gelombang terbaru mencapai puncaknya sekitar perayaan titik balik matahari musim dingin (Dongzhi).

 “Yang meninggal banyak berusia 80–90 tahun atau 70–80 tahun. Penyakit jantung dan pembuluh darah otak cukup banyak. Rata-rata harapan hidup di Ningbo, Zhejiang, sebenarnya cukup tinggi,” kata petugas pemakaman Ningbo, Zhejiang, Tn. Wei. 

“Wabah ini berdampak cukup besar pada paru-paru lansia—pada beberapa kasus, paru-paru sampai tampak ‘memutih’. Anak muda yang sakit biasanya menderita penyakit berat, seperti kanker, yang sudah tidak bisa diobati lagi sehingga akhirnya meninggal. Kalau bukan karena wabah, mereka sebenarnya masih bisa hidup lebih lama,” tambahnya. 

Video yang beredar di internet menunjukkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, jalan di depan Rumah Duka Hefei mengalami kemacetan panjang; Rumah Duka Yinchuan penuh sesak dengan keluarga yang menunggu pengambilan abu jenazah; Rumah Duka Jingzhou juga dilaporkan penuh.

Seorang perias jenazah bermarga Liu dari Anhui mengatakan bahwa perusahaan pemakaman yang ia kelola menyediakan layanan satu paket dan bekerja sama dengan rumah duka setempat. Setiap tahun, musim panas dan musim dingin merupakan musim sibuk bagi industri pemakaman. Terlepas dari usia, sebagian besar kematian disebabkan oleh penyakit.

Perias jenazah Anhui, Tn. Liu:  “Banyak yang meninggal karena sakit—serangan jantung dan stroke banyak. Anak muda juga banyak, bahkan cukup parah. Usia 30-an yang meninggal juga cukup banyak. Tahun ini (2025) saya menangani dua hingga tiga puluh anak kecil. Dua hari ini sangat sibuk, hampir selalu di rumah duka. Kalau ada pekerjaan, kami langsung pergi. Di kota kabupaten kami, lebih dari 20 orang meninggal setiap hari, itu dianggap normal.”

Video lain juga menunjukkan bahwa rumah duka di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Hefeng di Provinsi Hubei dan Kabupaten Shouxian di Provinsi Anhui, sedang dalam proses pembangunan.

Seorang warga Shanghai bermarga Liu mengungkapkan bahwa gelombang wabah ini dimulai sejak November 2025. Pada bulan Desember terjadi lonjakan besar di sekolah-sekolah. Banyak anak terinfeksi dan harus izin untuk berobat. Hingga kini wabah masih terus menyebar, dan rumah sakit dipenuhi pasien.

Warga Shanghai, Tn. Liu:  “Orang yang berobat sangat banyak. Ada rumah sakit komunitas yang buka tujuh hari seminggu, setiap hari penuh. Semuanya COVID, tapi secara resmi disebut hanya flu atau pilek—itu istilah yang sudah ditetapkan. Soal kematian mendadak, sejak COVID mulai, sudah ada aturan bahwa dokter tidak akan mengatakan yang sebenarnya. Mereka selalu bilang itu karena penyakit bawaan sebelumnya.”

Seorang warga Taiyuan, Provinsi Shanxi, bermarga Zhao, mengungkapkan bahwa gelombang wabah kali ini sangat ganas. Banyak kaum muda dan lansia meninggal dunia. Di pedesaan setempat, ada lansia yang karena tidak punya uang untuk berobat akhirnya memilih jalan buntu. Pihak berwenang menutup informasi terkait hal ini.

Warga Taiyuan, Shanxi, Tn. Zhao:  “Kondisinya sangat serius. Remaja dan anak-anak yang terinfeksi juga banyak, dan tingkat kematian mendadak meningkat. Kaum muda juga tidak sedikit. Banyak kasus serangan jantung, stroke, nodul paru, pneumonia, dan kanker paru. Pada bulan November, ada pasangan lansia usia 70 tahun yang hanya menerima pensiun 300 yuan. Biaya medis dan hidup tidak mencukupi, mereka menyerah berobat dan akhirnya bundir.” (Hui)

Laporan hasil wawancara oleh reporter New Tang Dynasty Television, Xiong Bin dan Gao Yu.

Setiap Mimpi Mendapat Pertolongan Tuhan

EtIndonesia. Dia adalah anak seorang pedagang kayu asal Hungaria. Sejak kecil, dia terlihat lamban dan kurang cerdas, sehingga orang-orang menjulukinya “Kepala Besar”. Julukan itu pun terasa cocok dengannya. Hingga usia 9 tahun, selain pernah mendapatkan sebuah sekrup mainan sebagai hadiah karena tertib di sekolah, dia nyaris tidak pernah menerima penghargaan apa pun.

Saat berusia 12 tahun, dia bermimpi: dalam mimpinya, seorang raja memberinya penghargaan karena karyanya mendapat perhatian Nobel. Saat terbangun, dia ingin menceritakan mimpi itu kepada orang lain, tetapi takut ditertawakan. Akhirnya, dia hanya berani menceritakannya kepada ibunya.

Sang ibu berkata: “Kalau itu benar-benar mimpimu, berarti kamu anak yang berbakat. Aku pernah mendengar, ketika Tuhan menaruh sebuah mimpi yang tampak mustahil di hati seseorang, itu artinya Tuhan sungguh ingin menolong orang tersebut untuk mewujudkannya.”

Anak itu belum pernah mendengar hubungan antara mimpi dan Tuhan seperti itu. Namun setelah ibunya berkata demikian, dia langsung mempercayainya. Dia merasa dirinya adalah orang paling beruntung di dunia—di tengah dunia yang begitu luas, Tuhan seolah-olah memilih dirinya secara khusus.

Agar tidak mengecewakan harapan Tuhan, sejak saat itu dia benar-benar jatuh cinta pada dunia menulis.

“Jika aku sanggup melewati ujian, Tuhan pasti akan datang membantuku.”

 Dengan keyakinan itulah dia memulai perjalanan menulisnya.

Tiga tahun berlalu, Tuhan belum datang. Tiga tahun berikutnya berlalu lagi, Tuhan tetap belum datang.

Ketika dia masih menantikan pertolongan Tuhan, justru pasukan Hitler yang lebih dulu datang. Sebagai seorang Yahudi, dia dikirim ke kamp konsentrasi. Di tempat itu, jutaan orang kehilangan nyawa. Namun dia berhasil bertahan hidup dengan keyakinan bahwa “hidup adalah tentang menerima dan bertahan”.

“Aku bisa kembali menekuni profesi impianku,” pikirnya, ketika dia melangkah keluar dari Auschwitz.

Pada tahun 1965, dia akhirnya menulis novel pertamanya, Fatelessness (Sorstalanság).

Setelah itu, dia terus melahirkan karya demi karya.

Ketika dia sudah tidak lagi memikirkan apakah Tuhan akan menolongnya atau tidak, Swedish Academy mengumumkan: Hadiah Nobel Sastra tahun 2002 diberikan kepada penulis Hungaria, Imre Kertész.

Dia terperanjat, karena nama yang disebut itu persis adalah namanya sendiri.

Ketika orang-orang meminta penulis yang sebelumnya nyaris tak dikenal ini untuk mengungkapkan perasaannya setelah meraih penghargaan tertinggi tersebut, ia hanya berkata dengan tenang :  “Aku tidak merasakan apa-apa yang istimewa. Aku hanya tahu satu hal: ketika kamu berkata, ‘Aku memang suka melakukan ini, seberat apa pun kesulitannya aku tidak peduli,’ maka Tuhan akan meluangkan waktu untuk membantumu.”

Hikmah cerita:

Setiap mimpi mendapat pertolongan Tuhan.

Di abad baru ini, Imre Kertész menjadi bukti pertama.Kelak akan ada bukti kedua, ketiga—dan mereka tersembunyi di antara orang-orang yang berani bermimpi.

Lalu, apakah orang itu sedang membaca kisah ini sekarang… adalah kamu?(jhn/yn)

3 Menit

EtIndonesia. Kita sering kali tidak tahu apa yang seharusnya kita lakukan. Impian yang dulu pernah kita miliki perlahan menjadi semakin kabur, hingga kita pun kebingungan menentukan langkah berikutnya. Mungkin, setelah membaca kisah tiga menit berikut ini, kamu akan mendapatkan pencerahan.

Sebuah jam kecil yang baru saja dirakit diletakkan di antara dua jam tua. Kedua jam tua itu terus berdetak, “tik-tak, tik-tak”, detik demi detik berjalan tanpa henti.

Salah satu jam tua berkata kepada jam kecil:  “Ayo, sekarang giliranmu bekerja. Tapi aku agak khawatir, setelah kamu berdetak sebanyak 32 juta kali, aku takut kamu tidak akan sanggup lagi.”

“Ya Tuhan, 32 juta kali?” jam kecil terkejut. “Harus melakukan pekerjaan sebesar itu? Tidak mungkin, aku tidak sanggup.”

Jam tua yang satunya lagi berkata: “Jangan dengarkan omong kosongnya. Tidak perlu takut. Kamu hanya perlu berdetak satu kali setiap detik.”

“Mana ada hal yang sesederhana itu?” jawab jam kecil dengan ragu. “Tapi kalau memang begitu, aku akan mencobanya.”

Jam kecil pun dengan santai berdetak sekali setiap detik: “tik”, lalu “tak”. 

 “Tik”, lalu “tak” lagi.

Tanpa terasa, satu tahun pun berlalu—dan jam kecil itu telah berdetak sebanyak 32 juta kali.

Pesan hidup:

Setiap orang ingin mimpinya menjadi kenyataan. Namun kesuksesan sering terasa begitu jauh, seolah tak terjangkau. Rasa lelah dan kurang percaya diri membuat kita meragukan kemampuan sendiri, lalu menyerah sebelum benar-benar berjuang.

Padahal, kita tidak perlu memikirkan apa yang akan terjadi sebulan atau setahun ke depan.

Cukup pikirkan: apa yang harus aku lakukan hari ini?  Apa yang perlu aku kerjakan besok?

Lalu, lakukan dengan sungguh-sungguh.

Seperti jam kecil itu—cukup berdetak satu kali setiap detik—perlahan tapi pasti, kebahagiaan dan keberhasilan akan meresap ke dalam hidup kita.(jhn/yn)