31 Tahun Buku Zhuan Falun Diterbitkan: Insinyur AI Menemukan Kembali Arah Hidup

Jacky dulu adalah anak yang nakal dan memberontak—suka merokok, minum alkohol, bermain game semuanya ia lakukan. Orangtua dan gurunya sudah tidak berdaya lagi menghadapinya. Namun kemudian, setelah ia berkenalan dengan sekelompok orang dan membaca sebuah buku, ia meninggalkan semua kebiasaan buruk dan berubah menjadi pemuda teladan yang peduli pada orang lain. 

Dalam serial laporan “Zhuan Falun Menuntun Jalan Kehidupan” episode kali ini, mari kita simak kisah Jacky, seorang insinyur AI di Amerika Serikat.

EtIndonesia. Jacky yang berusia 22 tahun adalah seorang insinyur AI sekaligus mahasiswa pascasarjana. Sejak kecil, ia pernah tinggal di banyak negara—dari Tiongkok, Eropa, hingga Amerika Serikat. Lingkungan yang terus berubah dan beragam budaya asing memberikan banyak guncangan bagi dirinya di usia muda.

 “Saya pergi ke luar negeri sejak usia enam tahun. Waktu itu kami ke Eropa, karena perusahaan ibu saya menugaskannya ke sana. Saat remaja, setiap anak pasti melewati fase ini—tidak terlalu patuh, punya pemikiran sendiri. Saat itu saya merasa ya memang seperti itu. Semua orang melakukan ini dan itu, kadang emosinya buruk, mudah marah, main game. merokok, minum alkohol, semuanya dilakukan,” kata insinyur AI AS, Jacky Guan. 

Saat itu, Jacky adalah anak nakal dan pemberontak di mata orangtua dan gurunya. Namun menurut Jacky, sesungguhnya ia hanya merasa gelisah dan bingung terhadap kehidupan serta masa depannya.

Jacky, seorang insinyur AI di Amerika Serikat (tangkapan layar NTD)

 “Orang tua saya juga tidak punya cara untuk memaksa saya melakukan sesuatu. Bagi seorang anak, jika kamu dipindahkan ke lingkungan baru, bolak-balik seperti itu, dia perlu cara untuk beradaptasi dengan lingkungan baru tersebut,” ujarnya. 

Beruntung, sekolah menengah atas yang Jacky masuki di Amerika memiliki Klub Falun Dafa yang dapat diikuti secara bebas. Ibu Jacky juga seorang praktisi Falun Gong. Saat kecil, ia pernah melihat ibunya membaca Zhuan Falun dan berlatih. Pemandangan yang familiar ini kembali ia lihat di sekolah barunya di Amerika.


“Kebetulan di sekolah kami ada beberapa orang yang berlatih Falun Gong. Mereka melakukan latihan pagi, atau malam hari membaca buku—seperti umat Kristen membaca Alkitab. Praktisi Falun Gong membaca buku mereka, yaitu Zhuan Falun,” ujarnya. 

“Pada saat itu, saya memang sedang berada dalam kondisi seperti sedang mencari sesuatu di dalam hati—sulit dijelaskan, tetapi seperti sedang mencari rasa memiliki. Saya sudah mencoba banyak hal. Main game tidak benar-benar memuaskan, ikut-ikutan teman juga tidak. Jadi saya berpikir, kenapa tidak mencoba berlatih Falun Gong?” tambahnya. 

Dengan Zhuan Falun di tangannya, Jacky mulai membaca dengan sungguh-sungguh, dan perubahan pun perlahan terjadi.

 “Sejak berlatih Falun Gong, hidup saya benar-benar berbalik arah. Orang-orang di sekitar saya berkata, ‘Kamu seperti menjadi pribadi yang sama sekali baru.’ Mereka melihat saya kini lebih lurus dalam prinsip, lebih tertata dalam tindakan, lebih santun dalam bersikap, dan lebih tahu ke mana harus melangkah,” ujarnya.

Jacky, seorang insinyur AI di Amerika Serikat (tangkapan layar NTD)

“Dulu saya pemarah. Setelah belajar Falun Gong, orang-orang berkata kepada saya bahwa saya seharusnya berbicara dengan orang lain dengan lebih baik, lebih mau berdiskusi. Saya merasa itu benar. Melalui ini saya tahu bahwa saya harus menjadikan ‘Sejati, Baik, Sabar’ sebagai standar untuk menilai baik dan buruk,” katanya. 

“Saya menggunakannya untuk menilai apakah saya berbohong pada orang lain, apakah tindakan saya sesuai dengan hati nurani saya, apakah saya memperlakukan orang lain dengan baik, dan apakah saya mampu bersabar saat menghadapi kesulitan,” imbuhnya. 

Melalui pembelajaran Zhuan Falun, kebuntuan batin Jacky pun terbuka. Pertanyaan-pertanyaan tentang hidupnya mendapat jawaban, dan ia menemukan tempat berlabuh yang telah ia cari sejak kecil. Ia menjadi sangat yakin terhadap masa depannya.

“Bukan hanya memahami banyak prinsip yang sebelumnya tidak saya ketahui, tetapi saya juga menyadari bahwa inilah sesuatu yang telah lama saya cari. Setelah berlatih Falun Gong, saya benar-benar menemukan arah hidup saya. Jika saya tidak memiliki arah ini, mungkin sekarang hidup saya akan penuh kebingungan,” tambahnya. 

Pada saat yang sama, latihan Falun Gong juga sangat meningkatkan kemampuan belajarnya. Dari yang sebelumnya berprestasi biasa saja, setelah lulus SMA ia berhasil diterima di universitas ternama di Swiss, Universitas Zürich, memenuhi harapan orang tuanya. Namun setelah belajar selama setengah tahun, Jacky memilih kembali ke Amerika. Ia merasa sangat bersyukur karena menemukan keyakinannya di sini.

 “Dalam kehidupan duniawi, kamu selalu akan memiliki berbagai pemikiran. Tetapi jika kamu tidak memiliki keyakinan, itu adalah hal yang sangat menakutkan. Saya merasa bahwa jika kamu menemukan keyakinan, kamu akan memiliki batasan dan norma untuk mengendalikan diri, dan itu bisa menjamin bahwa kamu dapat membuat banyak pilihan yang benar dalam hidup. Dan bagi saya, keyakinan itu adalah Falun Gong,” tambahnya. 

Perubahan besar lainnya adalah, setelah berlatih Falun Gong, Jacky belajar untuk peduli pada orang lain. Ia sering mengorganisir berbagai kegiatan di sekolah dan komunitas untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Tanggal 4 Januari 2026 menandai peringatan 31 tahun penerbitan buku Zhuan Falun, karya pendiri Falun Gong, Master Li Hongzhi. Buku ini telah menuntun ratusan juta orang menuju kesehatan fisik dan peningkatan spiritual, kembali pada jati diri sejati manusia.

 “Tentu saja saya sangat bersyukur. Siapa yang bisa menulis buku sebaik ini, saya rasa pasti bukan orang biasa. Bagi kami yang belajar Falun Gong, selama kamu mengikuti buku ini dan mengikuti Dafa ini, kamu bisa menjadi orang baik. Dan, dalam hidupmu, kamu bisa menemukan tempatmu berlabuh,” pungkasnya. (Hui)

Coba Bayangkan… Lima Tahun Lagi, Apa yang Paling Kamu Inginkan?

EtIndonesia. Saya pernah membaca sebuah kisah yang sangat menyentuh di sebuah majalah—sebuah kisah tentang mimpi.

Tokoh utama dalam cerita ini adalah seorang staf laboratorium pesawat ulang-alik di NASA wilayah Houston. Di saat yang sama, dia juga kuliah jurusan komputer di University of Houston.

Meski hidupnya nyaris habis terbagi antara sekolah, tidur, dan pekerjaan—hingga hampir mengisi 24 jam setiap hari—selama masih ada satu menit tersisa, dia selalu mencurahkan seluruh energinya untuk mencipta musik.

Menulis lirik bukan keahliannya. Karena itu, selama periode tersebut dia terus mencari rekan yang pandai merangkai kata untuk berkolaborasi. Hingga akhirnya dia bertemu seorang sahabat bernama Vaneri. Dialah yang, di masa-masa awal perjalanan kariernya, memberi dukungan paling besar.

Vaneri saat itu baru berusia 19 tahun, namun sudah berkali-kali memenangkan lomba puisi di Texas. Tulisan-tulisannya membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Mereka benar-benar menciptakan banyak karya yang bagus bersama, dan hingga hari ini, dia masih menganggap karya-karya itu sarat dengan keunikan dan kreativitas.

Suatu Sabtu pagi, Vaneri dengan penuh semangat mengundangnya ke peternakan keluarganya untuk acara barbeku. Keluarganya adalah taipan minyak terkenal di Texas dan memiliki lahan peternakan yang sangat luas.

Meski lahir dari keluarga superkaya, cara berpakaian Vaneri, mobil yang dia kendarai, serta sikapnya yang rendah hati dan tulus kepada siapa pun, justru membuatnya semakin kagum dari lubuk hati.

Vaneri memahami betul kegigihannya pada musik. Namun, menghadapi dunia musik yang terasa begitu jauh dan pasar rekaman Amerika yang sama sekali asing, mereka tidak punya saluran apa pun. Saat itu, mereka hanya berada di pedesaan Texas—tak tahu harus melangkah ke mana selanjutnya.

Tiba-tiba, Vaneri melontarkan satu pertanyaan: “Coba bayangkan, lima tahun lagi kamu sedang melakukan apa?”

Dia terdiam sejenak.

Vaneri berbalik, menunjuk ke arahnya sambil berkata : “Hei, ceritakan padaku: dalam hatimu, apa yang PALING kamu harapkan akan kamu lakukan lima tahun lagi? Seperti apa kehidupanmu saat itu?”

Belum sempat dia menjawab, Vaneri menambahkan: “Jangan terburu-buru. Pikirkan baik-baik. Setelah benar-benar yakin, baru ucapkan.”

Dia merenung beberapa menit, lalu berkata: “Pertama, lima tahun lagi aku berharap sudah memiliki satu album yang beredar di pasaran, dan album itu disukai banyak orang serta mendapat pengakuan luas. Kedua, aku ingin tinggal di tempat yang dipenuhi musik, bisa bekerja setiap hari bersama para musisi kelas dunia.”

Vaneri bertanya lagi:  “Kamu yakin?”

Dengan suara pelan, dia menjawab : “Ya.”

“Baik, kalau begitu, mari kita tarik mundur target ini dari lima tahun ke hari ini,”” kata Vaneri.

“Jika pada tahun ke-5 albummu sudah beredar, maka pada tahun ke-4 kamu pasti sudah menandatangani kontrak dengan sebuah label rekaman.”

“Kalau begitu, pada tahun ke-3 kamu harus sudah memiliki karya yang benar-benar lengkap untuk diperdengarkan ke banyak perusahaan rekaman, benar?”

“Maka pada tahun ke-2, kamu harus sudah memiliki karya yang sangat bagus dan mulai merekamnya.”

“Lalu pada tahun pertama, kamu harus menyelesaikan seluruh aransemen lagu dan menyiapkannya untuk rekaman.”

“Pada bulan ke-6, kamu harus merapikan semua karya yang belum selesai, lalu menyortirnya satu per satu.”

“Pada bulan pertama, kamu harus menuntaskan lagu-lagu yang sedang kamu kerjakan sekarang.”

“Dan pada minggu pertama, kamu perlu membuat daftar lengkap: lagu mana yang harus diperbaiki, mana yang harus diselesaikan.”

Vaneri tersenyum lalu berkata: “Bukankah sekarang kita sudah tahu apa yang harus kamu lakukan mulai hari Senin depan?”

“Oh ya, kamu juga bilang ingin hidup di tempat yang penuh musik dan bekerja bersama para musisi top, kan? Kalau pada tahun ke-5 kamu sudah bekerja bersama mereka, maka secara logis pada tahun ke-4 kamu harus sudah punya studio atau ruang rekaman sendiri. Pada tahun ke-3, kamu seharusnya sudah mulai bekerja dengan orang-orang di lingkaran itu. Dan pada tahun ke-2, kamu jelas tidak lagi tinggal di Texas, melainkan di New York atau Los Angeles,” tambahnya.

Tahun berikutnya, dia benar-benar mengundurkan diri dari pekerjaan impian banyak orang di NASA, meninggalkan Houston, dan pindah ke Los Angeles.

Dan yang luar biasa: memang bukan tepat lima tahun, tetapi kira-kira pada tahun ke-6—tahun 1983—albumnya mulai laris di Asia. Hampir 24 jam sehari ia sibuk bekerja dari pagi hingga malam bersama para maestro musik papan atas dunia.

Hikmah cerita:

Ketika kamu sering bertanya, “Mengapa hidupku menjadi seperti ini?”  cobalah bertanya pada diri sendiri: apakah aku benar-benar tahu apa yang aku inginkan?

Jika bahkan kamu sendiri tidak jelas tentang apa yang kamu inginkan, bagaimana mungkin orang-orang yang mencintaimu bisa membantu mengatur jalan hidupmu? Dan bagaimana mungkin kita menyalahkan mereka karena tidak membuka jalan bagi kita?

Prabowo Tegaskan Program MBG Adalah Kebijakan Strategis Kepedulian Negara Terhadap Gizi Anak

EtIndonesia. Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan strategis yang dilandasi kepedulian negara terhadap kondisi gizi anak-anak Indonesia. 

Hal ini disampaikan Kepala Negara dalam Taklimat Awal Tahun pada Selasa, 6 Januari 2026, Presiden mengungkapkan bahwa berbagai kajian menunjukkan persentase anak Indonesia mengalami kekurangan gizi mencapai lebih dari 20 hingga 30 persen.

“Itu yang jelas dikatakan malnutrisi, stunting, badannya sangat lemah, pertumbuhannya tidak normal. Kemudian ternyata puluhan juta anak-anak Indonesia berangkat sekolah tanpa makan pagi. Banyak juga makan mereka hanya nasi dengan daun-daun,” kata Presiden di Hambalang, Kabupaten Bogor dikutip dari rilis BPMI Setpres. 

Menurut Presiden, dari kondisi tersebut menuntut kehadiran negara untuk melakukan intervensi langsung dan terukur demi menyelamatkan masa depan generasi bangsa melalui program makan bergizi gratis (MBG). Presiden Prabowo menjelaskan bahwa program MBG yang telah berjalan tepat satu tahun lalu telah berhasil menjangkau 55 juta penerima manfaat.

“Hari ini adalah 6 Januari 2026 dan kita sudah mencapai hari ini dilaporkan kepada saya 55 juta penerima manfaat, 55 juta, 55 juta anak-anak Indonesia menerima makan tiap hari dan termasuk ibu-ibu hamil. Ini sesuatu yang membanggakan juga,” ucapnya.

Meski demikian, Presiden tidak menutup mata terhadap kekurangan dan potensi penyimpangan dalam pelaksanaan program MBG tersebut. Namun, menurut Presiden, berdasarkan evaluasi objektif tingkat keberhasilan MBG mencapai angka 99 persen.

“Dengan kekurangan 0,00 sekian itu pun bagi kita sesuatu yang harus kita atasi, dan Alhamdulillah kita sudah mengatasi, dan kita sedang atasi terus. Langkah demi langkah, pengawasan demi pengawasan, langkah-langkah pengamanan terus kita lakukan. Tapi intinya adalah bahwa kita intervensi,” katanya.

Lebih lanjut, Presiden menegaskan bahwa pemimpin yang bertanggung jawab harus bekerja keras untuk menghilangkan kelaparan dan kemiskinan. Untuk itu, Presiden pun mengajak seluruh jajaran pemerintahan untuk tetap yakin berada di jalan yang benar dalam memberantas kemiskinan dan menghilangkan kelaparan demi masa depan bangsa.

“Kita buktikan. Kalau niat kita bersih, niat kita tidak mencuri uang rakyat, kita berbuat untuk kepentingan rakyat, kepentingan bangsa kita, keselamatan bangsa kita, kita tidak perlu ragu-ragu, kita tidak perlu sedikitpun gentar,” tandasnya.

Setelah Maduro, Siapa Berikutnya? Tiongkok Terpukul, Xi Jinping Masuk Mode Siaga

EtIndonesia. Dunia diguncang oleh perkembangan dramatis setelah Presiden Venezuela, Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap oleh pasukan militer Amerika Serikat dalam sebuah operasi militer skala besar yang mengejutkan komunitas internasional. Penangkapan ini mengikuti serangkaian serangan udara dan serangan terhadap pangkalan militer di Venezuela pada 3 Januari 2026 dini hari, yang secara resmi disebut “Operation Absolute Resolve” oleh militer AS.

Serangan Militer dan Penangkapan Mendadak

Operasi militer yang dimulai pada tanggal 3 Januari 2026 itu melibatkan ratusan pesawat serta unit pasukan khusus seperti Delta Force dan unit laut serta udara lainnya. Sasaran serangan mencakup pangkalan militer utama di Caracas, termasuk La Carlota (Generalissimo Francisco de Miranda Air Base) dan Fort Tiuna, serta fasilitas penting lain di wilayah utara Venezuela. Akibat operasi tersebut, terjadi ledakan di sejumlah titik strategis dan beberapa bagian Kota Caracas dilaporkan kehilangan pasokan listrik.

Tak lama setelah serangan udara dimulai, pasukan khusus AS berhasil masuk ke kawasan tempat tinggal Maduro dan menangkapnya bersama istrinya. Keduanya kemudian dibawa keluar dari wilayah Venezuela dan diterbangkan ke Amerika Serikat, tiba di Stewart Air National Guard Base di negara bagian New York pada hari yang sama.

Sidang Perdana di New York

Pada 5 Januari 2026, Maduro dan Cilia Flores muncul di pengadilan federal Manhattan, New York, di bawah pengamanan ketat. Keduanya menghadapi tuduhan serius terkait konspirasi narkoterrorisme, perdagangan kokain, dan kejahatan lain yang berkaitan dengan impor narkotika ke AS — dakwaan yang sudah bergulir sejak tahun 2020. Di hadapan hakim, kedua terdakwa menyatakan “tidak bersalah” atas semua dakwaan tersebut. Maduro diperintahkan tetap ditahan hingga persidangan lanjutan yang dijadwalkan 17 Maret 2026.

Kekacauan Politik Internasional dan Kecaman Global

Operasi militer ini memicu gelombang kritik internasional yang intens. PBB dan lembaga hak asasi manusia menilai tindakan AS melanggar hukum internasional, karena menggunakan kekuatan militer tanpa mandat Dewan Keamanan PBB atau persetujuan Kongres AS. Beberapa negara anggota Dewan Keamanan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap prinsip kedaulatan nasional.

Sementara itu, pemerintah Venezuela menyatakan kecaman keras terhadap serangan tersebut, menyebutnya sebagai agresi imperialistis. Pemerintah sementara yang dibentuk, dengan Delcy Rodríguez sebagai pemimpin sementara, mengumumkan masa berkabung nasional dan menegaskan akan mempertahankan kedaulatan negara.

Reaksi Domestik dan Dampak di AS

Di Amerika Serikat sendiri, langkah militer yang dramatis ini turut memicu perdebatan politik. Laporan menunjukkan bahwa dukungan publik terhadap Presiden Donald Trump meningkat tajam setelah penangkapan Maduro, dengan sebagian pendukung memuji tindakan keras terhadap pemerintahan yang dituduh korup dan bersekongkol dalam perdagangan narkoba. Namun, banyak anggota parlemen dan pakar hukum menyoroti kekhawatiran legalitas tindakan tersebut.

Trump sendiri mengumumkan bahwa AS “akan menjalankan” Venezuela sementara waktu untuk mengatur transisi yang aman, meskipun rincian praktis dari kebijakan ini masih belum jelas dan menuai kritik luas. Pernyataan mengenai pengelolaan minyak Venezuela juga menjadi sorotan, terutama di tengah spekulasi bahwa AS akan memanfaatkan cadangan minyak besar negara itu untuk kepentingan strategisnya.

Dampak Global dan Perubahan Kekuatan Energi

Penangkapan Maduro dipandang sebagai pergeseran besar dalam geopolitik energi global. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, dan kontrol atas sumber daya ini menjadi salah satu alasan kuat di balik keputusan AS. Beberapa analis mencatat bahwa hilangnya akses terhadap minyak Venezuela merupakan pukulan besar bagi negara-negara yang selama ini mengandalkan pasokan energi murah dari Caracas.

Kesimpulan

Penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan Cilia Flores pada awal Januari 2026 adalah peristiwa luar biasa yang mengguncang tatanan geopolitik internasional. Operasi militer AS dan konsekuensi hukum yang menyertainya menandai titik balik hubungan antara AS, Amerika Latin, dan komunitas internasional secara umum.

Perkembangan terbaru masih terus memunculkan ketidakpastian, baik secara hukum, politik, maupun dampaknya terhadap stabilitas regional. 

Bangkitlah Terlebih Dahulu

EtIndonesia. Pada zaman dahulu, ada seorang penderita kusta yang telah sakit hampir 40 tahun. Selama itu pula dia terbaring di tepi jalan, menunggu seseorang menyeretnya ke sebuah kolam yang diyakini memiliki kekuatan penyembuhan ajaib. Empat puluh tahun berlalu, namun dia tetap terbaring di tempat yang sama, tidak pernah melangkah satu langkah pun mendekati kolam tersebut.

Suatu hari, seorang utusan langit bertemu dengannya dan bertanya : “Tuan, apakah engkau ingin disembuhkan dan dibebaskan dari penyakit ini?”

Si penderita kusta menjawab : “Tentu saja ingin. Tapi hati manusia terlalu kejam. Mereka hanya memikirkan diri sendiri, tak akan ada yang mau menolongku.”

Utusan langit itu mendengar jawabannya, lalu bertanya lagi : “Apakah engkau benar-benar ingin disembuhkan?”

“Ya, tentu ingin,tetapi ketika aku merangkak ke sana, air kolam itu pasti sudah kering,”” jawabnya. 

Mendengar itu, utusan langit mulai merasa kesal dan kembali bertanya dengan tegas: “Sebenarnya, engkau mau disembuhkan atau tidak?”

Penderita kusta itu tetap menjawab: “Mau!”

Utusan langit pun berkata: “Baik. Kalau begitu, sekarang juga berdirilah dan berjalanlah sendiri menuju kolam itu. Jangan terus-menerus mencari alasan yang mustahil sebagai pembenaran atas dirimu.”

Mendengar kata-kata itu, si penderita kusta merasa sangat malu. Dia pun segera berdiri, berjalan menuju kolam, menampung air suci dengan telapak tangannya, lalu meminumnya beberapa teguk. Dalam sekejap, penyakit kusta yang telah mengikatnya selama 40 tahun pun lenyap tanpa bekas.

Hikmah cerita:

Setiap orang memiliki cita-cita, dan setiap orang mendambakan kesuksesan. Namun jika hari ini cita-citamu belum tercapai dan keberhasilan terasa masih sangat jauh, pernahkah kamu bertanya pada diri sendiri: Sudah seberapa besar usaha yang benar-benar aku lakukan untuk impianku? Apakah aku sering mencari segudang alasan untuk membenarkan kegagalanku?

Sesungguhnya, kita tidak seharusnya sibuk mencari alasan atas kegagalan, melainkan mencari cara untuk meraih keberhasilan. Selama kita mau berusaha dan terus menggali potensi diri, takdir pun akan selalu berpihak pada mereka yang berani bangkit dan melangkah lebih dulu.(jhn/yn)

111 Kota di Iran Bergolak, Garda Revolusi Retak, dan Pasukan Elite AS Muncul di Perbatasan

EtIndonesia. Gelombang protes nasional di Iran telah memasuki hari ke-10 dan menunjukkan eskalasi paling serius sejak awal demonstrasi pecah. Hingga Selasa (6/1), sedikitnya 35 orang dilaporkan tewas dan sekitar 1.200 warga ditangkap akibat penindasan keras aparat keamanan. Namun alih-alih mereda, perlawanan rakyat justru berkembang menjadi krisis politik dan keamanan berskala nasional.

Perkembangan terbaru menunjukkan dua kota telah sepenuhnya lepas dari kendali rezim Islam Iran, disertai pembelotan aparat keamanan, pemogokan massal di pusat ekonomi Teheran, serta meningkatnya keterlibatan aktor regional dan internasional.

Ancaman Terbuka Rezim: “Pergi atau Mati”

Dalam upaya membendung gelombang perlawanan, Kepala Kehakiman Iran, Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, pada awal Januari mengeluarkan instruksi keras kepada aparat penegak hukum. Dia menuntut tindakan hukum ekstrem terhadap pihak-pihak yang disebutnya sebagai “perusuh”.

Di Shahrekord, situasi berkembang lebih jauh. Seluruh unit Garda Revolusi Islam (IRGC) dikerahkan dan mengeluarkan ultimatum langsung kepada massa demonstran: meninggalkan lokasi atau menghadapi kekerasan mematikan.

Pesan tersebut secara luas ditafsirkan sebagai ancaman terbuka: “Pergi, atau mati.”

Langkah ini mencerminkan pola klasik rezim otoriter—mengandalkan teror dan kekerasan untuk membungkam aspirasi publik. Namun, realitas di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya.

Grand Bazaar Teheran Lumpuh Total

Pada 6 Januari 2026, sebuah peristiwa simbolik mengguncang ibu kota. Para pedagang di Grand Bazaar Teheran secara serempak menutup seluruh toko, bergabung dalam pemogokan nasional anti-pemerintah.

Grand Bazaar bukan sekadar pasar. Dia adalah jantung ekonomi dan simbol historis Iran, yang dalam sejarah sering menjadi penentu arah perubahan politik.

Rekaman video yang beredar luas memperlihatkan kios-kios tertutup total, sementara teriakan “kebebasan” menggema tanpa henti. Para pedagang berdiri bahu-membahu, menegaskan bahwa pusat kekuasaan rezim kini menghadapi perlawanan langsung dari pusat ekonomi negara.

Karena hampir seluruh lembaga pemerintahan utama Iran berada di Teheran, aksi ini menjadikan ibu kota kembali sebagai episentrum perlawanan nasional.

Slogan dari Dunia Maya Menjadi Seruan Jalanan

Menariknya, gelombang protes juga dipengaruhi dinamika global. Sebuah kalimat berbahasa Persia yang pernah dilontarkan Elon Musk untuk menyindir Ali Khamenei—yang berarti “bermimpi di siang bolong”—kini berubah menjadi slogan populer di jalan-jalan Iran.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kemarahan publik kini terfokus langsung pada figur Pemimpin Tertinggi, bukan lagi sekadar kebijakan pemerintah.

Terobosan Besar: Polisi Meletakkan Senjata, Kota Dibebaskan

Hari yang sama, 6 Januari, menjadi titik balik dramatis.

Di kota Apdanan, seluruh warga turun ke jalan, dan dalam kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya, polisi setempat meletakkan senjata mereka. Aparat terlihat melambaikan tangan kepada massa sebagai tanda dukungan.

Saat senjata dilepaskan, sorak-sorai dan perayaan spontan meledak di jalanan. Apdanan pun menjadi kota pertama yang sepenuhnya lepas dari kendali rezim Islam Iran.

Tak lama berselang, saluran oposisi Iran mengumumkan bahwa kota Malekshahi juga telah “dibebaskan”. Seorang komandan kota baru telah ditunjuk, menandakan pengambilalihan administratif penuh.

Dengan demikian, dua kota kini secara de facto keluar dari kekuasaan rezim Teheran.

Pembelotan IRGC di Kurdistan: Ancaman dari Dalam

Eskalasi berlanjut pada 5 Januari 2026, ketika laporan dari wilayah Kurdistan Iran menyebutkan bahwa anggota Garda Revolusi Islam membelot dan bergabung dengan Tentara Nasional Kurdistan.

Seorang personel keamanan menyampaikan pernyataan resmi yang mengguncang publik: “Sebagai letnan Pasukan Quds, saya dan rekan-rekan saya siap mengambil segala tindakan untuk menghancurkan Republik Islam.”

Pernyataan ini menandai retakan serius di tubuh aparat elit rezim, sekaligus memperbesar risiko konflik internal bersenjata.

Internet Diputus, Pasukan Tambahan Dikirim

Di tengah situasi yang memburuk, warga Apdanan melaporkan bahwa rezim Khamenei mengirim pasukan tambahan ke wilayah tersebut. Secara nasional, sedikitnya 111 kota di Iran telah terdampak aksi protes sejak awal gelombang demonstrasi.

Laporan lain menyebutkan pemutusan koneksi internet nasional, sebuah langkah yang sering mendahului operasi penindasan besar-besaran.

Jika hal ini terjadi, pengamat menilai situasi dapat memicu skenario yang pernah diutarakan Donald Trump—bahwa “peluru telah terisi”, yang berarti intervensi militer Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran bukan lagi sekadar ancaman verbal.

Israel Siaga, AS Bergerak di Perbatasan

Pada 6 Januari, Komandan Pertahanan Dalam Negeri Israel menggelar rapat pengarahan darurat nasional bersama para wali kota dan pimpinan pemerintahan daerah, memerintahkan kesiapsiagaan penuh menghadapi kemungkinan status darurat.

Di saat yang sama, laporan intelijen menyebutkan bahwa Pasukan Delta Angkatan Darat AS telah memasuki wilayah perbatasan Irak, khususnya di area Irak–Suriah–Yordania—wilayah yang kini tegang akibat konflik antara pemerintah Irak dan milisi pro-Iran.

Fakta penting lainnya: Apdanan berada dekat dengan wilayah perbatasan Irak, menambah signifikansi strategis perkembangan di kota tersebut.

Selain itu, Amerika Serikat, Israel, dan Suriah dilaporkan telah menyepakati pembentukan pusat berbagi intelijen bersama dan kelompok komunikasi khusus untuk koordinasi waktu nyata—mulai dari stabilisasi keamanan, diplomasi, hingga potensi kerja sama ekonomi di bawah pengawasan AS.

Manuver Politik Presiden Pezeshkian

Di tengah tekanan yang kian menumpuk, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian mengeluarkan pernyataan publik yang tidak biasa. 

Dia menyatakan bertanggung jawab penuh atas aksi protes: “Kesalahan ada pada saya. Mahasiswa, pekerja, dan rakyat lainnya tidak seharusnya disalahkan. Kita perlu memperbaiki tindakan kita.”

Pernyataan ini ditafsirkan dalam dua kemungkinan:

  1. Upaya meredakan ketegangan dan membeli waktu agar protes tidak meluas.
  2. Taktik penundaan strategis, sembari menunggu kejelasan langkah Amerika Serikat dan Israel sebelum melancarkan penindasan lebih keras.

Menuju Babak Penentuan

Dengan dua kota lepas dari kendali, aparat elite membelot, internet diputus, dan pergerakan pasukan asing di sekitar perbatasan, Iran kini berada di ambang babak penentuan sejarah.

Pertanyaan yang mengemuka di kalangan pengamat internasional adalah satu:  Apakah kemunculan Pasukan Delta AS di sekitar perbatasan Iran merupakan persiapan operasi penyingkiran Ali Khamenei?

Jawabannya masih belum pasti. Namun satu hal jelas— krisis Iran telah melampaui sekadar demonstrasi, dan dunia kini menahan napas menyaksikan arah berikutnya.

Kartu Dibagikan oleh Tuhan

EtIndonesia. Dwight D. Eisenhower adalah Presiden ke-34 Amerika Serikat. Saat masih muda, dia sering bermain kartu bersama keluarganya.

Suatu malam setelah makan malam, seperti biasa dia kembali bermain kartu dengan keluarganya. Namun kali ini, peruntungannya benar-benar buruk. Setiap kartu yang fia dapatkan selalu jelek. Pada awalnya fia hanya mengeluh pelan, tetapi lama-kelamaan dia tak sanggup menahan emosi dan akhirnya meluapkan amarahnya.

Melihat itu, sang ibu tak bisa tinggal diam. 

Dengan wajah serius dia berkata: “Kalau kamu memilih bermain kartu, maka kamu harus memainkan kartu yang ada di tanganmu, entah itu kartu bagus atau kartu buruk. Tidak mungkin semua keberuntungan selalu berpihak padamu!”

Eisenhower masih belum sepenuhnya tenang. 

Sang ibu pun melanjutkan:  “Hidup itu sama seperti bermain kartu. Yang membagikan kartu adalah Tuhan. Entah kartu yang kamu terima itu baik atau buruk, kamu tetap harus menerimanya dan menghadapinya. Yang bisa kamu lakukan hanyalah menenangkan hatimu, bersikap serius, lalu memainkan kartu yang ada sebaik mungkin agar hasilnya mendekati sempurna. Hanya dengan cara itulah bermain kartu—dan menjalani hidup—menjadi bermakna.”

Sejak saat itu, Eisenhower selalu mengingat kata-kata ibunya dan menjadikannya sebagai dorongan untuk terus berjuang secara aktif. Selangkah demi selangkah dia maju, menjadi letnan kolonel, kemudian panglima tertinggi pasukan Sekutu, hingga akhirnya menduduki kursi Presiden Amerika Serikat.

Mantan Presiden India, Jawaharlal Nehru juga pernah mengatakan hal serupa: “Hidup itu seperti bermain poker. Kartu yang dibagikan sudah ditentukan, tetapi bagaimana cara memainkannya sepenuhnya bergantung pada kehendak kita sendiri.”

Keadaan yang dihadapi seseorang mungkin tidak selalu bisa diubah dengan kekuatan pribadi. Namun, cara kita menyesuaikan diri dengan keadaan itu sepenuhnya berada dalam kendali kita. Dalam perjalanan hidup, setiap orang pasti akan menemui berbagai masalah dan tidak sedikit kegagalan. Saat menghadapi kesulitan dan kemunduran, meratapi nasib tidak akan menyelesaikan apa pun.

Menata kembali sikap hidup, berani menghadapi tantangan, dan mengerahkan usaha terbaik dalam setiap hal—itulah pilihan paling bijak dalam menjalani kehidupan.(jhn/yn)

Dua Keluarga

EtIndonesia. Pada awal abad ini, ada sebuah keluarga asal Jepang yang bermigrasi dan menetap di dekat San Francisco. Di sana, mereka merintis sebuah usaha budidaya bunga mawar. Setiap minggu, pada jam tiga pagi, mereka mengantarkan mawar-mawar tersebut ke San Francisco.

Tak jauh dari mereka, tinggal pula sebuah keluarga yang berasal dari Skotlandia. Keluarga ini juga menjual bunga mawar. Kedua keluarga tersebut sama-sama mengandalkan kejujuran dalam berusaha, dan berkat itu, mawar-mawar mereka sangat diminati di pasar San Francisco.

Hampir selama 40 tahun, kedua keluarga ini hidup bertetangga. Ketika waktu berlalu, para anak laki-lakii mereka mengambil alih pengelolaan kebun. Namun pada 7 Desember 1941, Jepang membombardir Kepulauan Hawaii. Meskipun anggota keluarga Jepang lainnya telah menjadi warga negara Amerika, sang ayah tidak pernah mengajukan kewarganegaraan Amerika. Dalam situasi yang kacau dan selama masa penahanan, tetangganya secara tegas memberi tahu mereka bahwa jika diperlukan, dia akan menjaga kebun bunga milik sahabatnya.

Dia berkata dengan ketulusan yang sama seperti yang diajarkan dalam iman Kristiani: “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Jika aku berada di posisimu, kalian pun pasti akan melakukan hal yang sama.”

Tak lama kemudian, keluarga Jepang itu dipindahkan secara paksa ke tanah tandus di Grenada, Colorado. Tempat penampungan baru itu terdiri dari bangunan-bangunan besar beratap aspal kayu, dikelilingi kawat berduri rapat dan dijaga tentara bersenjata lengkap.

Setahun berlalu. Tahun kedua, lalu tahun ketiga…Sementara keluarga Jepang masih berada di kamp penahanan, sahabat mereka terus bekerja di rumah kaca. Anak-anaknya tetap bersekolah setiap hari sebelum Sabtu tiba, dan sang ayah sering bekerja selama 16 hingga 17 jam sehari.

Suatu hari, perang di Eropa berakhir. Keluarga Jepang akhirnya dibebaskan dari kehidupan tahanan dan naik kereta api—mereka diizinkan pulang.

Apa yang akan mereka temukan?

Di stasiun kereta, seluruh anggota keluarga itu bertemu kembali dengan sahabat lama mereka. Ketika akhirnya tiba di rumah, mereka semua tertegun. Kebun bunga mereka tetap utuh dan terawat. Di bawah sinar matahari, mawar-mawar tumbuh rapi, subur, dan sehat—lebih indah dari yang pernah mereka bayangkan.(yn)

Seorang Bayi Baru Lahir di Jiangsu, Tiongkok Kehilangan Jarinya Saat Tali Pusarnya Dipotong, Sehingga Menimbulkan Kecurigaan Adanya Cedera yang Disengaja

EtIndonesia. Kasus cedera medis di daratan Tiongkok kembali terjadi. Di tengah belum meredanya polemik kematian bayi Xiao Luoxi di Ningbo, kini muncul kasus lain di Jiangsu: seorang bayi baru lahir mengalami jari terpotong saat tali pusat dipotong di rumah sakit, memicu perdebatan luas. Sejumlah warganet menyebut peristiwa ini sangat tidak masuk akal, bahkan ada yang menduga tindakan tersebut dilakukan secara sengaja.

Ayah bayi tersebut mengunggah keluhan di media sosial, menyatakan bahwa saat istrinya menjalani operasi caesar, bidan memotong jari bayi mereka ketika memotong tali pusat, sehingga bayi tersebut mengalami cedera serius sejak baru lahir.

Catatan komunikasi medis–pasien menunjukkan:  “Pasien hari ini menjalani operasi caesar dan berhasil melahirkan bayi laki-laki hidup… Saat pemotongan tali pusat di meja bawah, secara tidak sengaja melukai jari tengah tangan kiri bayi. Setelah konsultasi ortopedi, dipertimbangkan adanya patah tulang dan disarankan dirujuk ke rumah sakit tingkat lebih tinggi untuk tindakan operasi.”

Pada 5 Januari, ayah bayi bermarga Sheng mengatakan kepada media daratan bahwa pada 25 Desember 2025 sekitar pukul 09.30, istrinya menjalani operasi caesar di Rumah Sakit Rakyat Kabupaten Xuyi, Jiangsu. Bayi lahir sekitar pukul 10.30. Sekitar pukul 12.00, dokter memberi tahu bahwa saat memotong tali pusat, bidan secara tidak sengaja memotong jari bayi dengan gunting tali pusat.

Sheng mengatakan, “Saat itu pihak rumah sakit menyampaikannya dengan sangat sepele. Namun ketika saya melihat langsung, barulah saya tahu bahwa jari anak saya sudah terpotong, hanya tersisa kulit yang masih menyambung.”

Setelah kejadian, bayi tersebut dirujuk dua kali dan akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Rakyat Kota Wuxi No. 9 untuk menjalani operasi penyambungan jari. Catatan kepulangan rumah sakit menunjukkan bahwa saat masuk, bayi didiagnosis ‘pemotongan tidak sempurna satu jari (jari tengah kiri)’. Setelah menjalani operasi replantasi jari dan perawatan lainnya, kondisinya dinyatakan sembuh.

Sheng menambahkan bahwa rumah sakit menyampaikan urat jari bayi sudah putus, kemudian dipasang pen baja dan disambung pembuluh darah, namun karena bayi masih terlalu kecil, saraf tidak dapat disambungkan.

Ia juga mengungkapkan bahwa setelah kejadian, keluarga mendatangi rumah sakit untuk meminta penjelasan tentang bagaimana kejadian yang begitu absurd ini bisa terjadi. Bidan yang bersangkutan, di hadapan polisi, berbicara terbata-bata dan tidak dapat menjelaskan dengan jelas. Rekaman CCTV diperiksa, namun lokasi kejadian ternyata berada di titik buta kamera, sehingga tidak terlihat jelas. Belakangan, bidan tersebut mengatakan bahwa kejadian itu terjadi karena tangan bayi tiba-tiba bergerak.

Sheng menyatakan hal ini sulit diterima.  “Ini rumah sakit besar. Bagaimana mungkin saat melahirkan, memotong tali pusat malah bisa memotong jari bayi? Bagaimana bisa melakukan kesalahan serendah itu?,” tegasnya. 

Pihak sistem medis setempat menyatakan bahwa rumah sakit sedang aktif berkomunikasi dengan keluarga pasien, dan “perlu menunggu bayi pulih selama jangka waktu tertentu sebelum membahas kompensasi.”

Setelah kasus ini terungkap, warganet ramai membahasnya. Banyak yang menyatakan simpati mendalam terhadap bayi tersebut:
“Terasa sangat menyakitkan, bayi sekecil itu.”
“Ini benar-benar keterlaluan, kasihan anaknya.”

Sejumlah warganet yang diduga berlatar belakang medis mempertanyakan kejadian tersebut, menyatakan bahwa tenaga medis normal tidak mungkin melakukan kesalahan serendah ini. 

Mereka menjelaskan:  “Menurut standar perawatan dasar bayi baru lahir, pemotongan tali pusat harus mengikuti prosedur ketat: fiksasi anggota tubuh – identifikasi tali pusat – verifikasi alat. Gerakan anggota tubuh bayi adalah risiko yang sudah dapat diprediksi, dan prosedur standar justru dibuat untuk mencegah kecelakaan seperti ini.”

 “Saat memotong tali pusat, biasanya digunakan dua klem penjepit darah yang dipasang sejajar, lalu bagian tengah di antara kedua klem (sekitar 1–2 cm) yang dipotong.”

 “Jika mengikuti prosedur resmi, mustahil bisa memotong jari bayi.”
“Biasanya pemotongan dilakukan dengan gunting jaringan, diapit klem pembuluh darah di atas dan bawah, sangat sulit memotong jari.”
“Bidan ini jelas tidak melakukan prosedur sesuai standar.”
“Tak heran keluarga mencurigai adanya upaya penutupan, karena probabilitas kesalahan seperti ini terlalu kecil.”
“Apakah bidan memotong tanpa melihat dengan jelas? Ini sungguh sulit dipercaya.”

Sebagian warganet bahkan menduga tindakan tersebut disengaja, dengan komentar ekstrim seperti:

 “Mungkin kelainan psikologis, melampiaskan emosi pada bayi.”
“Kalau tidak sengaja, tulang tidak mungkin terpotong, paling hanya luka kulit.”
“Melihat foto operasi, bagian yang terpotong ada di tengah ruas jari, bukan di sendi—apakah tulangnya benar-benar dipotong? Kalau iya, itu butuh tenaga besar.”
“Periksa media sosial bidan itu—Douban, Weibo, Xiaohongshu—lihat apakah ada pernyataan ekstrem, jangan-jangan memang menargetkan bayi laki-laki.”

Ada pula warganet yang berkomentar dengan putus asa:  “Siapa lagi yang berani punya anak? Lahir ke dunia saja tidak ada jaminan keselamatan.”

Laporan kompilasi oleh reporter Li Li / Editor Xu Gengwen – NTDTV.com

Konflik di Yaman Meningkat, Penerbangan ke Pulau Socotra Ditangguhkan Hingga 400 Wisatawan Terlantar

EtIndonesia. Ketegangan antara faksi-faksi bersenjata yang saling bermusuhan dan didukung oleh Uni Emirat Arab (UEA) serta Arab Saudi baru-baru ini meningkat. Sebuah perusahaan perjalanan pada Senin (5 Januari) mengatakan kepada AFP bahwa akibat pecahnya konflik di wilayah daratan Yaman, penerbangan dihentikan sehingga ratusan wisatawan terjebak di Pulau Socotra, Yaman.

Wakil Gubernur Urusan Budaya dan Pariwisata Socotra, Yahya bin Afrar, mengatakan kepada AFP bahwa saat ini terdapat “lebih dari 400 wisatawan asing” di pulau tersebut dan “penerbangan mereka telah dihentikan”.

Pulau Socotra biasanya memiliki tiga penerbangan per minggu dari ibu kota UEA, Abu Dhabi, yang secara khusus mengangkut wisatawan asing.

Seorang pejabat lokal lain yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan bahwa sejak akhir bulan lalu, setelah diumumkannya keadaan darurat, semua penerbangan domestik dan internasional di pulau tersebut telah dihentikan. “Kami telah menyerukan dan meminta agar penerbangan dipulihkan.”

“Saat ini terdapat 416 warga negara asing dari berbagai negara yang terjebak, termasuk lebih dari 60 warga Rusia.” Selain itu, juga terdapat warga negara Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat.

Pelaku industri pariwisata Socotra menyebutkan bahwa setidaknya dua warga negara Tiongkok juga termasuk di antara mereka yang terjebak.

Diplomat Barat mengatakan kepada AFP bahwa puluhan wisatawan asing yang datang ke pulau tersebut untuk merayakan Tahun Baru terjebak setelah penerbangan dibatalkan. Mereka kini meminta bantuan dari kedutaan masing-masing untuk dievakuasi. Kedutaan negara-negara terkait telah menghubungi Arab Saudi dan pemerintah Yaman untuk mengupayakan pengaturan evakuasi.

Bandara Aden di daratan Yaman telah kembali beroperasi setelah mengalami gangguan selama beberapa hari.

Kepulauan Socotra Yaman terletak di Samudra Hindia, sekitar 350 kilometer dari pesisir Yaman. Kepulauan ini terdiri dari empat pulau dan dua terumbu karang, dengan jumlah penduduk sekitar 50.000 orang, dan selama ini relatif tidak terdampak oleh perang yang menghancurkan wilayah daratan Yaman.

Kepulauan Socotra terkenal dengan pemandangan hijau, pohon “darah naga” yang unik, satwa langka, serta perairan biru jernih yang menjadi habitat lumba-lumba. Selama bertahun-tahun, tempat ini terus menarik wisatawan petualang dan para influencer.

Banyak wisatawan berangkat dari UEA yang makmur, yang juga merupakan pendukung utama pasukan “Dewan Transisi Selatan” (Southern Transitional Council/STC) yang menguasai kepulauan tersebut.

Selama bertahun-tahun, Arab Saudi dan UEA masing-masing mendukung faksi-faksi yang saling bertentangan dalam pemerintahan Yaman yang terpecah. Namun baru-baru ini, Dewan Transisi Selatan yang didukung UEA melancarkan serangan untuk merebut dua provinsi penting, memicu ketidakpuasan Riyadh.

Arab Saudi kemudian melakukan serangan balasan besar-besaran, melancarkan serangan udara terhadap Dewan Transisi Selatan serta sejumlah pengiriman senjata yang disebut-sebut milik UEA, menghancurkan sebagian besar pasukan dan membalikkan keuntungan yang sebelumnya diraih. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Dari Kerajaan Minyak Menjadi Negara Bangkrut! Utang Menggunung dari Partai Komunis Tiongkok Terancam Hangus

Diktator Nicolás Maduro ditangkap dalam operasi mendadak oleh militer Amerika Serikat, sementara rakyat turun ke jalan untuk merayakannya. Negara yang dahulu indah dan makmur, serta memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, kini mengalami kehancuran ekonomi akibat penerapan sosialisme dan jebakan hutang Partai Komunis Tiongkok (PKT). Dengan ditangkapnya sang diktator, utang luar negeri kepada Tiongkok pun semakin sulit untuk ditagih kembali.

EtIndonesia. Warga membawa bendera Venezuela dan bersorak di jalanan. Ini bukan perayaan hari kemerdekaan, melainkan diaspora Venezuela di luar negeri yang merayakan penangkapan Maduro oleh militer AS.

Sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, rakyat Venezuela justru tidak bisa hidup sejahtera. Utang negara mencapai dua kali lipat dari PDB, sementara rakyat harus menghadapi inflasi ratusan hingga ribuan persen. Akibat tekanan ekonomi dan penganiayaan politik, lebih dari 8 juta orang akhirnya terpaksa bermigrasi ke luar negeri.

Penyebab kemiskinan Venezuela terletak pada kebijakan mantan Presiden Hugo Chávez dan penerusnya Nicolás Maduro, yang menerapkan sosialisme dan nasionalisasi secara masif. Kebijakan ini memicu korupsi, pemborosan anggaran, fasilitas produksi yang usang, serta rendahnya efisiensi.

Selain itu, minyak Venezuela merupakan minyak berat yang sulit diolah. Ditambah dengan sanksi dari negara-negara Barat, ekspor minyak Venezuela menjadi sangat terbatas.

Di saat Venezuela terpuruk, PKT turut masuk campur. Selain menandatangani berbagai perjanjian seperti Belt and Road Initiative, Tiongkok juga memberikan pinjaman besar-besaran, dengan skema pembayaran menggunakan minyak. Tiongkok kemudian menjadi pembeli minyak terbesar Venezuela.

Namun, niat PKT dinilai tidak murni. Dalam pembelian minyak mentah, Tiongkok sering menekan harga sangat rendah, sekaligus menjadikan Venezuela sebagai basis untuk menyusup dan mempengaruhi Amerika Serikat.

Kini, dengan tumbangnya Maduro, PKT tidak hanya kehilangan satu sekutu diktator, tetapi juga menghadapi risiko gagal menagih hampir 100 miliar dolar AS pinjaman yang berpotensi berubah menjadi hutang macet. (Hui)

Laporan dirangkum oleh Lin Jiawei dan Li Yihong, New Tang Dynasty Asia-Pacific Television

Saat Warga Venezuela Rayakan Runtuhnya Maduro, Kamera Rekam Momen Haru Penuh Air Mata

EtIndonesia. Setelah militer Amerika Serikat secara cepat menangkap diktator Nicolás Maduro, Venezuela berubah drastis hanya dalam semalam. Warganet merekam banyak momen ketika rakyat Venezuela mendengar kabar tersebut—mereka menangis bahagia, mengekspresikan luapan emosi saat kebebasan akhirnya kembali. Video-video ini pun viral di internet.

Mari kita rasakan suasananya.

Warga Venezuela:  “Ini tidak nyata, apa?”

Dalam sebuah video yang beredar luas, pada awalnya orang-orang tidak percaya bahwa rezim Maduro benar-benar runtuh hanya dalam satu malam. Namun kemudian, mereka berbondong-bondong turun ke jalan untuk merayakan. Banyak yang saling berpelukan sambil menangis, bersorak penuh kegembiraan.

Warga Venezuela:  “Hidup Venezuela! Terima kasih kepada Tuhan Yang Mahakuasa!”

Di jalan-jalan Venezuela, patung Maduro didorong hingga tumbang, dan potret raksasanya dicabut dari gedung-gedung.

Di mana-mana tampak kerumunan yang berpesta. Orang-orang bernyanyi dan menari, menyambut datangnya kebebasan.

Warga Venezuela:  “Venezuela telah merdeka!”

Di Miami, seorang perempuan Venezuela menangis di tengah jalan. Bukan karena kesedihan, melainkan karena penantian selama 27 tahun akhirnya berakhir.

Warga Venezuela, Yajaira:  “Saya benar-benar sangat bahagia. Setelah menunggu begitu lama (akhirnya bebas). Terima kasih Tuhan!”

Delapan tahun lalu, kakak laki-lakinya dibunuh oleh rezim Maduro, saudara-saudaranya yang lain diculik, dan keluarganya terpaksa melarikan diri ke Amerika Serikat.

Menanggapi kritik dari sejumlah pihak kiri terhadap operasi militer Presiden Trump dalam menangkap Maduro, seorang perempuan Venezuela menyampaikan kecaman keras terhadap kediktatoran Maduro dan menyatakan dukungannya terhadap tindakan pemerintah Trump.

Warga Venezuela:  “Kamu sama sekali tidak tahu rasanya kelaparan. Kamu tidak pernah menyaksikan anggota keluargamu meninggal hanya karena tidak mendapatkan obat. Sementara orang-orang dari kelompok (mantan presiden) Chávez justru memakai jam Rolex dan memamerkan kekayaan. Tahukah kamu berapa banyak orang Venezuela yang meninggal di perjalanan saat melarikan diri? Hanya demi menembus hutan untuk sampai ke Amerika Serikat?”

Meskipun Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, di bawah pemerintahan diktator sosialis Hugo Chávez dan Nicolás Maduro, negara itu justru terlilit utang, rakyat hidup menderita, berubah menjadi neraka di dunia. Rakyat kekurangan makanan, dan jutaan orang terpaksa mengungsi ke luar negeri.

Warga Venezuela:  “Kami memiliki 8 juta warga Venezuela yang terpaksa meninggalkan tanah air. Kamu sama sekali tidak tahu bagaimana hari-hari itu kami jalani.”

“Ketika mereka (rezim tirani Maduro) membantai kami, di mana kalian? Ketika para mahasiswa dibunuh, di mana kalian? Padahal para mahasiswa itu tidak bersenjata.”

Ketika mendengar narasi media Tiongkok yang menyatakan bahwa Amerika Serikat hanya mengincar minyak Venezuela, seorang pemuda menyampaikan pandangan yang dinilai sangat bijak.

Warga Venezuela:  “Saya tidak tahu bagaimana situasi akhirnya nanti, tetapi saya mohon kepada semua orang untuk tetap percaya diri. Jangan biarkan propaganda seperti ‘orang Amerika hanya menginginkan minyak’ atau ‘Amerika hanya mengincar kekayaan kita’ memenuhi pikiran kalian. Saya ingin bertanya kepada mereka yang mengatakan itu: selama ini, menurut kalian, apa yang diinginkan Rusia dan Partai Komunis Tiongkok? Apakah resep tortilla kita?” (Hui)

Laporan komprehensif oleh jurnalis New Tang Dynasty Television, Zhao Fenghua

Bukan Minyak, Bukan Politik: Apa Sebenarnya di Balik Penangkapan Maduro, Apa Pesan AS Untuk PKT?

EtIndonesia. Penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro oleh militer Amerika Serikat tidak hanya mengguncang Amerika Latin, tetapi juga memicu pertanyaan mendasar di tingkat global: siapa yang kini benar-benar memegang kendali atas Venezuela?

Washington: Pemerintah Baru Venezuela “100 Persen Tunduk”

Pada 5 Januari 2026, Wakil Kepala Staf Gedung Putih, Stephen Miller tampil dalam wawancara di CNN. Dalam pernyataannya, Miller menegaskan bahwa meskipun Venezuela telah melantik presiden baru dan secara lahiriah tampak menjalankan pemerintahan sendiri, kenyataannya pemerintahan tersebut sepenuhnya berada di bawah kendali Presiden AS, Donald Trump.

Menurut Miller, dominasi Washington bukan sekadar pengawasan administratif, melainkan kontrol strategis penuh. Pemerintah baru Venezuela, kata dia, telah menyatakan kesediaannya untuk mematuhi seluruh syarat politik, keamanan, dan ekonomi yang diajukan Amerika Serikat.

Lebih dari Sekadar Ganti Presiden: “Harta Karun” Militer

Namun, dampak terbesar operasi militer AS kali ini dinilai jauh melampaui pergantian rezim. Analis perang perkotaan di platform X, Thor Shaoxiao, menyebut keberhasilan utama operasi tersebut adalah pembongkaran menyeluruh sistem pertahanan udara buatan Tiongkok dan Rusia yang selama ini digunakan Venezuela.

Dia menekankan bahwa kekuatan sistem pertahanan udara modern bukan terletak pada jumlah misil, melainkan pada:

  • sistem radar,
  • algoritma perangkat lunak,
  • serta pola pengambilan keputusan operator.

Begitu “otak” sistem ini dipahami, maka seluruh sistem sejenis di dunia praktis kehilangan keunggulan strategisnya. Dalam doktrin perang modern, untuk mengalahkan pertahanan udara, tidak perlu menghancurkannya—cukup memahaminya.

Kini, menurut para analis, rahasia inti tersebut telah “diserahkan” kepada militer AS. Pentagon hanya perlu mengamati, mencatat, mensimulasikan, lalu membagikan hasilnya ke jaringan NATO dan komando Indo-Pasifik.

Implikasinya sangat besar: sistem S-300 versi tiruan Rusia maupun HQ-9 kebanggaan Tiongkok kini dianggap sepenuhnya transparan di mata militer AS. Bagi Beijing, ini setara dengan Amerika telah memperoleh “kunci pintu belakang” pertahanan udara Zhongnanhai.

Operasi Militer yang Membuat Beijing Merinding

Kengerian Beijing tidak berhenti di situ. Pengamat politik Taiwan Liu Baojie, dalam analisisnya di ETtoday News, menilai pola operasi militer AS kali ini mematahkan hukum perang konvensional.

Sebanyak 150 pesawat tempur lintas matra—darat, laut, dan udara—dilaporkan lepas landas dari 20 pangkalan berbeda, dekat maupun jauh, namun mampu tiba secara serentak dan presisi di wilayah Venezuela. Operasi ini membuka jalan bagi Pasukan Delta tanpa adanya tanda-tanda pengerahan pasukan yang bisa dideteksi lebih awal.

Bagi intelijen Tiongkok, ini adalah mimpi buruk strategis. Tanpa konsentrasi pasukan yang terlihat, tidak ada waktu peringatan. Bahkan, AS dinilai tidak lagi perlu mengerahkan kapal induk secara perlahan ke Selat Taiwan—serangan bisa diluncurkan serentak dari Korea Selatan, Jepang, hingga Guam.

Reaksi Media Partai dan Gejolak Internal PKT

Sinyal dari Washington tampaknya ditangkap jelas oleh Beijing. Media resmi Partai seperti Xinhua dan Liga Pemuda Komunis secara serempak menerbitkan artikel bertajuk: “Hari ini Venezuela, besok bisa negara mana pun.”

Di permukaan, ini tampak sebagai kritik terhadap AS. Namun di balik layar, muncul spekulasi bahwa pernyataan tersebut bisa dibaca sebagai isyarat dari faksi anti-Xi di dalam Partai Komunis Tiongkok (PKT): lebih baik mengorbankan satu figur demi menyelamatkan sistem.

Kebetulan, pada 5 Januari 2026, otoritas Tiongkok mengumumkan jatuhnya “harimau besar pertama” tahun ini: mantan Wakil Menteri Sumber Daya Air Tian Xuebin, yang pernah menjadi sekretaris kedua mantan Perdana Menteri, Wen Jiabao. Media daratan bahkan sengaja menampilkan foto Wen berdampingan dengan Tian—sebuah sinyal klasik politik internal Tiongkok.

Kartu Truf Kedua Trump: Greenland

Di tengah kepanikan Beijing, tim Trump melontarkan tekanan baru. Isu Greenland kembali mencuat setelah pernyataan keras yang mempertanyakan dasar Denmark menguasai wilayah tersebut.

Miller menegaskan bahwa demi melindungi NATO, Greenland harus berada di bawah kendali AS. Trump sebelumnya memberikan tenggat waktu dua bulan—menunjukkan bahwa ini bukan sekadar tekanan diplomatik, melainkan bagian dari penutupan lingkaran strategis global.

Secara militer, Kutub Utara merupakan jalur terpendek misil nuklir Tiongkok–Rusia menuju AS. Pangkalan Pituffik di Greenland adalah stasiun radar peringatan dini paling utara Amerika. Gangguan pada sistem ini bisa memangkas waktu peringatan nuklir AS dari 30 menit menjadi hanya beberapa menit.

Detik-fetik Penangkapan: Tiga Kejanggalan Besar

Kembali ke Venezuela. Pada dini hari 3 Januari 2026 sekitar pukul 02:00, Caracas diguncang ledakan beruntun, disusul pemadaman listrik berskala besar. Deru pesawat tempur terdengar selama belasan menit. Saat warga masih menyaksikan siaran langsung melalui ponsel, pasangan Maduro telah diterbangkan ke New York untuk diadili.

Operasi berkode “Absolute Resolve” ini dinilai hampir sempurna, namun menyisakan tiga kejanggalan:

  1. Tidak adanya tembakan pertahanan udara, meski Venezuela diklaim memiliki ribuan rudal.
  2. Pemadaman listrik yang sangat presisi, mengindikasikan kemungkinan keterlibatan pihak internal.
  3. Pesawat Wakil Presiden Delcy Rodríguez yang melintas dan mendarat aman, meski wilayah udara ditutup.

Hal ini memunculkan dugaan bahwa penangkapan Maduro mungkin merupakan kudeta internal yang dibungkus operasi militer AS.

Dampak Regional dan Penutup

Runtuhnya rezim pro-PKT Maduro turut membuka kembali luka lama diplomasi Taiwan di Venezuela. Di saat yang sama, pada 5 Januari, Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung bertemu Xi Jinping di Beijing, memicu kekhawatiran baru di Indo-Pasifik.

Sementara itu, di ranah budaya, aktris legendaris Wang Zuxian akhirnya muncul ke publik pada 4 Januari 2026, mengungkap alasan pensiunnya dini demi menjaga kesehatan mental dan spiritual.

Kesimpulan: Peristiwa Venezuela kini bukan lagi isu regional, melainkan simbol perubahan besar dalam peta kekuatan global. Pertanyaan besarnya bukan apakah dunia sedang bergerak menuju konfrontasi besar—melainkan kapan dan dengan pola seperti apa.