Maduro Tertangkap, Radar Tiongkok Lumpuh, Moskow Diserang Drone: Dunia Bergejolak dalam 72 Jam

EtIndonesia. Amerika Serikat secara mengejutkan meluncurkan sebuah operasi militer berskala besar yang langsung mengguncang tatanan geopolitik global. Washington mengumumkan bahwa melalui operasi tersebut, mereka berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores.  Kabar ini segera menyita perhatian luas komunitas internasional dan memicu reaksi berantai dari Amerika Latin hingga Eurasia.

Venezuela di Bawah Maduro: Negara yang Kehilangan Fungsi Dasar

Selama bertahun-tahun pemerintahan Maduro, Venezuela secara de facto kehilangan kemampuan tata kelola negara yang efektif. Pemilu dinilai banyak pihak telah berubah menjadi formalitas politik tanpa makna substantif. Aparat militer dan kepolisian terjerat kolusi sistemik dengan kartel kriminal dan jaringan narkotika lintas negara.

Sumber daya nasional dijarah oleh elite korup yang memiliki keterkaitan erat dengan kepentingan strategis Tiongkok dan Rusia. Dampaknya bukan hanya dirasakan rakyat Venezuela melalui kemiskinan massal dan krisis kemanusiaan, tetapi juga diekspor ke luar negeri dalam bentuk gelombang pengungsi, kejahatan lintas batas, serta distorsi pasar energi global.

Kritik atas “Non-Intervensi” dan Pembenaran Operasi Militer

Jurnalis senior Jepang, Akio Yaita, menegaskan bahwa apabila komunitas internasional terus mengagungkan prinsip “tidak mencampuri urusan dalam negeri” tanpa batas, maka dunia pada hakikatnya sedang membiarkan para diktator menindas rakyatnya atas nama kedaulatan, sekaligus mengekspor instabilitas ke luar negeri.

Dalam konteks ini, operasi militer AS yang berlangsung singkat dengan dampak eksternal minimal dinilai sebagai bentuk “obat keras di masa kacau”. Meski terlihat dingin dan tegas, langkah tersebut dinilai berpotensi menelan korban jiwa jauh lebih sedikit dibandingkan sanksi berkepanjangan, perang proksi, atau perang saudara yang berlarut-larut.

Sinyal Psikologis untuk Beijing, Moskow, dan Pyongyang

Lebih dari sekadar menjatuhkan satu rezim, operasi ini mengirimkan pesan keras: rezim otoriter tidaklah kebal ketika kubu demokrasi benar-benar mengambil keputusan. Menurut Yaita, dampak psikologis dari pesan ini terhadap Beijing, Moskow, dan Pyongyang jauh lebih menghancurkan daripada ribuan pernyataan diplomatik tanpa aksi nyata.

Dia juga menyoroti detail penting sebelum operasi dimulai: Presiden AS, Donald Trump lebih dahulu menelepon Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi. Langkah ini dipandang sebagai sinyal strategis bahwa aliansi Jepang–AS kini telah masuk ke rantai pengambilan keputusan aksi nyata, bukan sekadar konsultasi simbolik.

Bagi Taiwan, pesan ini sangat krusial: keamanan tidak ditentukan oleh ancaman musuh, melainkan oleh apakah sekutu benar-benar bertindak saat momen genting tiba.

Radar Tiongkok Lumpuh: Demonstrasi Teknologi Militer AS

Dari sisi militer, dampak operasi ini juga langsung menyasar Beijing. Pengamat Taiwan Wang Haoyu mencatat bahwa inti sistem pertahanan udara Venezuela mengandalkan radar buatan Tiongkok JY-27, yang selama ini diklaim mampu mendeteksi pesawat siluman seperti F-22 dan F-35.

Namun dalam operasi ini, setelah militer AS melancarkan perang elektronik intensif, radar-radar tersebut dilaporkan lumpuh total dan gagal memberikan peringatan dini. Angkatan udara Venezuela ditekan habis bahkan sebelum mampu lepas landas.

Ini menjadi demonstrasi terbuka bahwa konsep Anti-Access/Area Denial (A2AD) Tiongkok sangat rapuh di hadapan teknologi siluman dan peperangan elektronik Amerika.

Dampak Energi Global: Rusia dan Tiongkok Paling Terpukul

Peneliti senior CSIS Clayton Swope menyatakan bahwa jika Washington benar-benar mendorong perubahan rezim, maka pihak yang paling tidak aman justru Rusia dan Tiongkok, dua negara dengan kepentingan strategis terbesar di sektor energi Venezuela.

Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak terbesar di dunia yang layak dikembangkan, namun karakter minyaknya yang sangat kental membuat biaya produksi tinggi dan membutuhkan teknologi khusus. Penentu masa depan Venezuela bukan semata kilang minyak, melainkan stabilitas politik—sesuatu yang hampir selalu absen selama era Maduro.

Hingga kini, pemerintahan Trump masih mempertahankan pembatasan ekspor minyak Venezuela dan sanksi sistematis terhadap individu serta entitas terkait, dengan tujuan memaksa perubahan arah politik. Selama kebijakan ini tidak berubah, peran Venezuela di pasar energi global akan tetap terbatas.

Bagi Tiongkok, dampaknya sangat signifikan. Selain sebagian kecil minyak yang dikirim Chevron ke Teluk Meksiko, hampir seluruh ekspor minyak Venezuela mengalir ke Beijing. Preseden bahwa AS dapat menggunakan sanksi hingga kekuatan militer untuk memengaruhi negara pengekspor energi menjadi alarm keras bagi semua importir energi.

Rusia di Bawah Tekanan: Dari Minyak hingga Drone

Bagi Rusia, risiko bahkan lebih besar. Perusahaan minyak Rusia telah lama terlibat di Venezuela. Jika AS memperkuat kontrolnya, Moskow berpotensi kehilangan akses sepenuhnya. Selain itu, terdapat armada tanker bayangan yang digunakan bersama oleh Venezuela, Iran, dan Rusia untuk menghindari sanksi. Jika operasi AS meningkatkan risiko dan biaya armada ini, tekanan langsung akan menghantam ekspor energi Rusia.

Tekanan itu terasa nyata pada malam 5 Januari 2026, ketika Moskow mengalami serangan drone terbesar sejak awal tahun. Ledakan terdengar berulang kali, dan empat bandara utama—Vnukovo, Domodedovo, Zhukovsky, dan Sheremetyevo—ditutup atau dibatasi operasinya, menyebabkan sekitar 200 penerbangan tertunda atau dibatalkan.

Rusia mengklaim menembak jatuh 20–40 drone di sekitar Moskow dan 253 drone di 14 wilayah, meski hingga kini belum ada verifikasi visual independen.

Serangan paling signifikan terjadi di Yelets, sekitar 300 km selatan Moskow, di mana sebuah pabrik militer pemasok sistem tenaga rudal dan drone terbakar hebat—menandakan target prioritas Ukraina kini merambah jauh ke kedalaman strategis Rusia.

Eskalasi Perang Ukraina dan Bayang-bayang Iran

Di medan tempur, Ukraina menunjukkan peningkatan kemampuan. Pada awal Januari, jet MiG-29 Ukraina menjatuhkan bom terpandu ASM Hammer ke jembatan logistik penting di wilayah Pokrovsk, menghancurkannya total. Selain itu, rudal jelajah jarak jauh Ukraina “Flamingo” dilaporkan memiliki jangkauan hingga 3.000 km, cukup untuk menjangkau wilayah industri Rusia.

Sementara itu, laporan The Times mengungkap bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei telah menyiapkan rencana pelarian B ke Moskow jika situasi domestik runtuh. Mantan agen intelijen Israel, Beni Sabti menyatakan bahwa Khamenei praktis tidak memiliki tempat lain untuk pergi.

Di dalam negeri Iran, protes ekonomi besar sejak akhir 2025 telah menewaskan puluhan orang dan memicu tantangan langsung terhadap kepemimpinan tertinggi.

Pada 4 Januari 2026, Trump memperingatkan Teheran dari Air Force One bahwa pembantaian demonstran akan berujung pada “konsekuensi berat”. Di hari yang sama, Departemen Luar Negeri AS merilis video berbahasa Persia dengan pesan singkat namun mengancam: “Pergi sekarang.”

Meski Iran membalas dengan pernyataan keras, banyak pengamat menilai kepercayaan diri elite Teheran kini tak lagi sekuat sebelumnya.

Momen Bersejarah! Maduro Pertama Kali Hadir di Sidang Pengadilan, Terancam Hukuman Penjara Seumur Hidup!

Pada Senin 5 Januari waktu AS, kemunculan perdana Nicolás Maduro di pengadilan Manhattan, New York, Amerika Serikat menarik perhatian media global. Sejumlah besar media memadati lokasi persidangan. Saat ini, jaksa mengajukan empat dakwaan serius terhadap Maduro, termasuk terorisme narkotika dan penyelundupan kokain. Jika seluruh dakwaan terbukti, ia dapat dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Pasangan Maduro menyatakan tidak bersalah atas semua tuduhan.

EtIndonesia. Jaksa penuntut menghadirkan banyak bukti di persidangan, menuduh bahwa selama puluhan tahun Maduro memimpin sebuah jaringan besar perdagangan narkoba. 

Sejumlah warga Tionghoa yang hadir di luar pengadilan menyatakan bahwa apa yang dialami Maduro hari ini adalah gambaran masa depan komunisme. 

Berikut laporan langsung reporter NTD Yu Liang, dari lokasi.

Reporter:  “Sekitar pukul 7.00 pagi hari Senin, pasangan Maduro dibawa keluar dari Pusat Penahanan Metropolitan Brooklyn, New York, dan diterbangkan dengan helikopter ke Manhattan. Ia mengenakan setelan berwarna khaki dan sepatu olahraga oranye. Setelah turun dari helikopter, ia dikawal naik ke kendaraan lapis baja, lalu dibawa memasuki Pengadilan Federal. Sepanjang perjalanan, polisi Kota New York menutup sejumlah persimpangan untuk memastikan persidangan berjalan lancar.”

Perkara Maduro akan disidangkan oleh Hakim Federal Alvin Hellerstein. Hakim Hellerstein yang kini berusia 92 tahun, sebelumnya telah menangani banyak kasus besar yang berkaitan dengan terorisme dan keamanan nasional.

Pengacara Maduro menyatakan bahwa sebagai terdakwa, Maduro memiliki hak yang sama seperti terdakwa lainnya, termasuk diadili oleh juri yang terdiri dari warga biasa Kota New York untuk menentukan apakah tuduhan terhadapnya terbukti atau tidak.

Reporter:  “Jaksa Amerika Serikat mendakwa pasangan Maduro dengan empat kejahatan berat, yaitu:

  1. Konspirasi terorisme narkotika,
  2. Konspirasi penyelundupan kokain,
  3. Kepemilikan senjata api dan alat peledak secara ilegal,
  4. Konspirasi kepemilikan senjata api dan alat peledak

Seluruh dakwaan ini dapat berujung pada hukuman maksimal penjara seumur hidup.”

Namun, di persidangan, pasangan Maduro menyatakan tidak bersalah, dan juga tidak mengajukan permohonan pembebasan dengan jaminan. Istri Maduro menyebut bahwa dirinya mengalami cedera saat proses penangkapan dan meminta dilakukan pemeriksaan kesehatan.

Demo Turunkan PKT

Reporter:  “Sejak pagi hari Senin, hampir seratus media mendatangi Pengadilan Federal, baik di dalam maupun di luar gedung, untuk meliput jalannya sidang. Banyak warga dan kelompok masyarakat juga datang ke luar pengadilan, membawa poster dan bendera Venezuela, menyatakan dukungan terhadap Presiden Trump atas penangkapan langsung Maduro dan upaya melawan komunisme.”

Warga di lokasi, Miles Liao:  “Presiden Trump, Anda adalah pahlawan bagi kami orang Tiongkok. Kami berterima kasih kepada Anda. Nasib Maduro hari ini adalah masa depan Partai Komunis.”

Warga di lokasi:  “Gulingkan Partai Komunis Tiongkok!”

Laporan wawancara di New York oleh reporter New Tang Dynasty Television, Yu Liang dan Shang Jing

Caracas Mencekam: Rentetan Tembakan di Istana, Drone Misterius, dan Bayang-bayang Kudeta

EtIndonesia. Senin malam, 5 Januari 2026 hingga dini hari Selasa, 6 Januari 2026, warga ibu kota Caracas terkejut oleh rentetan tembakan intens dan suara tembakan udara yang berkepanjangan di sekitar Istana Kepresidenan Miraflores, pusat pemerintahan Venezuela. Insiden ini terjadi di tengah suasana ketidakstabilan politik dan militer menyusul operasi penangkapan mantan Presiden Nicolás Maduro oleh militer Amerika Serikat beberapa hari sebelumnya.

Ledakan Suara Tembakan dan Aktivitas Militer di Jalanan

Pada sekitar pukul 20: 00 waktu setempat pada 5 Januari, warga merekam suara tembakan yang sangat banyak, termasuk tembakan ke udara yang tampak seperti tembakan dari sistem pertahanan udara antipesawat, bersamaan dengan lalu-lalang kendaraan lapis baja militer dan pasukan bersenjata di jalanan sekitar istana. Banyak saksi mengunggah video yang menunjukkan polisi bersenjata dan pasukan berpakaian militer dengan pengamanan ketat, berjalan di jalan-jalan di sebelah utara kompleks kepresidenan.

Laporan warga Internet juga mengungkap adanya kendaraan lapis baja amfibi Korps Marinir dalam terowongan di bagian utara Caracas, yang memicu kekhawatiran akan kemungkinan kudeta mendadak di tengah ketegangan nasional.

Penyebab Utama: ‘Drone Tak Dikenal’ dan Kesalahpahaman Internal

Beberapa jam kemudian, pemerintah Venezuela angkat bicara. Instansi terkait menyatakan bahwa rentetan tembakan itu dipicu oleh deteksi sejumlah drone tak dikenal yang terbang di atas kompleks Istana Miraflores. Pasukan keamanan, dalam kondisi tegang, membuka tembakan sebagai respons terhadap penampakan drone ini.

Menurut pernyataan kemudian, drone tersebut ternyata milik militer Venezuela sendiri, yang diterjunkan untuk peninjauan dan pengamanan tambahan — namun miskomunikasi internal dan kurangnya koordinasi menyebabkan unit-unit militer bereaksi berlebihan hingga terjadi salah tembak.

Situasi Mulai Mereda

Memasuki pagi 6 Januari 2026, intensitas tembakan mereda signifikan. Meski demikian, patroli militer dan kepolisian tetap berjaga di titik-titik strategis di seluruh penjuru kota, mencerminkan kondisi yang masih jauh dari stabilitas normal. Para pejabat setempat menyatakan bahwa situasi “dalam kendali”, tetapi ketegangan masih terasa di antara warga.

Konteks Lebih Luas: Transisi Kekuasaan dan Status Politik Venezuela

3 Januari 2026 — Operasi Militer AS dan Penangkapan Maduro

Peristiwa tembakan ini terjadi beberapa hari setelah operasi militer besar-besaran Amerika Serikat di Caracas pada 3 Januari 2026, yang dikenal sebagai bagian dari Operation Absolute Resolve. Dalam operasi tersebut, pasukan AS menyerbu ibu kota dan berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dalam serangan dini hari. Mereka kemudian dibawa ke Amerika Serikat untuk menghadapi tuduhan hukum federal.

Maduro dan Flores muncul di pengadilan federal di New York pada 5 Januari 2026, di mana keduanya memasukkan pembelaan “not guilty” (tidak bersalah) terhadap berbagai dakwaan, termasuk konspirasi narkoterrorisme dan perdagangan narkoba.

3–5 Januari 2026 — Delcy Rodríguez Dilantik sebagai Presiden Sementara

Pasca penangkapan Maduro, Delcy Rodríguez, yang sebelumnya menjabat Wakil Presiden Venezuela, berstatus sebagai Presiden Sementara mulai tanggal 3 Januari 2026 setelah penggulingan Maduro. Pelantikan resminya berlangsung pada Senin, 5 Januari 2026 di tengah sorotan publik dan dinamika politik sengit.

Dalam pernyataannya, Delcy menyampaikan ajakan kerja sama kepada Amerika Serikat untuk membangun hubungan berdasarkan hukum internasional dan saling menghormati.

Tokoh-kekuatan politik lain seperti Jorge Rodríguez (Ketua Majelis Nasional) dan Diosdado Cabello (Menteri Dalam Negeri, dikenal sebagai figur garis keras revolusi Chávez) terlihat aktif memimpin patroli bersenjata di kawasan ibu kota selama krisis berlangsung.

Reaksi Publik, Protes, dan Ketegangan Sosial

Aksi protes besar terjadi di Caracas dalam beberapa hari terakhir, dengan ribuan pendukung Maduro turun ke jalan untuk menolak intervensi AS dan menyerukan dibebaskannya pemimpin mereka.

Sementara itu, kelompok milisi pro-Maduro atau colectivos turut mengambil peran di lapangan, beberapa dikabarkan mengincar pendukung pihak yang mendukung operasi AS, yang semakin memperuncing suasana ketidakpastian.

Penutup: Perencanaan Operasi dan Dampak Jangka Panjang

Pihak militer Amerika Serikat sendiri merilis foto-foto resmi sebelum operasi penangkapan, yang menampilkan jet tempur F-35 bersiap di landasan udara wilayah Puerto Rico — gambaran bahwa operasi ini dirancang dengan persiapan matang dan keyakinan tinggi.

Kendati demikian, kritikus internasional, termasuk Kantor HAM PBB, mengecam tindakan militer AS sebagai pelanggaran hukum internasional yang berpotensi merusak stabilitas global, seraya menyerukan penyelesaian politik yang ditentukan oleh rakyat Venezuela sendiri.

Kesimpulan: Insiden tembakan di Caracas pada malam 5–6 Januari 2026 mencerminkan ketegangan tinggi di tengah transisi kekuasaan yang penuh kontroversi, setelah operasi militer dan penangkapan mantan presiden Venezuela. Meskipun segera terkendali, peristiwa ini menyoroti betapa rapuhnya stabilitas negara tersebut di tengah pergolakan politik dan intervensi internasional.

Gelombang Protes Nasional Iran Berujung Penindasan Brutal

EtIndonesia. Dalam kurun waktu sekitar satu minggu terakhir, Iran diguncang oleh gelombang aksi protes nasional berskala besar. Puluhan ribu warga di berbagai kota turun ke jalan menentang krisis ekonomi yang semakin parah, korupsi sistemik, serta pemerintahan teokratis yang dipimpin oleh Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.

Demonstrasi yang awalnya berlangsung sporadis dengan cepat berkembang menjadi perlawanan terbuka, dengan pusat utama berada di ibu kota Teheran, sebelum menyebar luas ke berbagai provinsi.

Namun, sejak awal Januari 2026, respons negara berubah drastis. Aparat keamanan tidak lagi membatasi diri pada pembubaran massa, melainkan secara terbuka menggunakan kekerasan bersenjata terhadap warga sipil, menandai eskalasi paling serius dalam beberapa tahun terakhir.

Serbuan Garda Revolusi di Teheran

Pada malam 4 Januari 2026, sejumlah rekaman dari berbagai sudut Teheran memperlihatkan ratusan personel Garda Revolusi Islam (Garda Revolusi Islam) mengendarai sepeda motor dan menyerbu langsung ke arah massa demonstran.

Pasukan bergerak cepat dan agresif, memaksa warga sipil berlarian menyelamatkan diri ke gang-gang sempit dan permukiman penduduk. Dalam situasi kacau tersebut, terjadi satu momen yang terekam jelas dan menyebar luas di media sosial: seorang warga berlari sendirian ke arah barisan polisi, tanpa perlindungan apa pun.

Aksi nekat itu justru memicu keberanian massa lainnya, yang kemudian ikut maju dan melawan aparat. Adegan tersebut dinilai banyak pihak sebagai titik balik psikologis, ketika rasa takut mulai berubah menjadi perlawanan kolektif.

Slogan Revolusi Menggema di Jalanan

Sejak awal, Teheran menjadi episentrum utama protes nasional. Dalam rekaman malam 4 Januari, terdengar massa besar meneriakkan slogan-slogan keras: “Tahun ini adalah tahun berdarah!  Khamenei pasti akan digulingkan!”

Dalam video lain, sekelompok anak muda berteriak serempak: “Ini adalah pertempuran terakhir!  Pahlavi pasti akan kembali!”

Seruan tersebut secara terbuka menantang fondasi Republik Islam Iran dan menyiratkan kerinduan terhadap sistem pra-revolusi 1979, sebuah tabu politik yang selama puluhan tahun ditekan oleh negara.

Tembakan di Jalan, Simbol Perlawanan Berkibar

Dari dalam rumah-rumah penduduk, sejumlah warga merekam aparat keamanan bersenjata lengkap yang berjaga di jalan dengan senapan siap tembak. Suara tembakan terdengar berulang kali, menandai eskalasi nyata sejak malam 4 Januari 2026.

Pada hari yang sama, sebuah aksi simbolik mengejutkan terjadi di pusat Teheran. Seorang warga menaikkan bendera Singa dan Matahari, simbol Iran pra-revolusi Islam, di atas jembatan penyeberangan.

Aksi ini langsung dibandingkan oleh warganet dengan insiden Jembatan Sitong tahun 2022 di Beijing, ketika Peng Lifa membentangkan spanduk perlawanan terhadap Partai Komunis Tiongkok—dan hingga kini nasibnya tidak pernah diumumkan secara resmi.

Di pinggiran Teheran, rekaman lain memperlihatkan konvoi besar pasukan keamanan melaju melalui jalan tol menuju ibu kota, memperkuat operasi penindasan di pusat kota.

Protes Menyebar ke Seluruh Negeri

Gelombang perlawanan tidak berhenti di Teheran. Dalam 4–5 Januari 2026, demonstrasi meluas ke berbagai kota besar dan menengah:

• Arak (Iran Tengah)

Massa meneriakkan slogan langsung: “Matilah Khamenei!”

• Marvdasht

Pada 5 Januari 2026, berlangsung pemakaman seorang warga yang tewas dalam aksi protes. Ribuan orang mengiringi jenazah dengan musik duka. Di barisan depan, sejumlah anak muda menembakkan peluru ke udara sebagai penghormatan, sebuah pemandangan yang dinilai sangat mengkhawatirkan bagi rezim.

Pada siang hari yang sama, puluhan ribu pendukung monarki kembali berkumpul di Marvdasht, menyerukan penggulingan rezim Islam, menciptakan suasana yang sangat masif dan emosional.

• Sari, Provinsi Mazandaran

Jalanan hampir berubah menjadi medan perang. Aparat bermotor membubarkan massa secara brutal, sementara demonstran membalas dengan lemparan benda keras. Rekaman lain menunjukkan penangkapan dan pemukulan terbuka terhadap demonstran.

• Fuladshahr

Terdengar rentetan tembakan yang jelas dan beruntun. Massa berhamburan, dan terlihat sejumlah warga tergeletak di jalan.

• Birjand

Mahasiswa universitas turun ke jalan pada malam hari, meneriakkan: “Puluhan tahun kejahatan dan korupsi! Kita harus menggulingkan rezim ini!”

• Ilam

Pasukan khusus menyerbu sebuah rumah sakit yang sebelumnya dikuasai demonstran. Rekaman memperlihatkan penembakan dan pengejaran brutal di dalam area medis, memicu kepanikan besar di kalangan pasien dan tenaga kesehatan.

Internet Diputus, Dunia Tetap Menyaksikan

Pada 4–5 Januari 2026, pemerintah Iran memutus sebagian besar akses internet nasional untuk membendung arus informasi. Namun pada pagi 5 Januari, koneksi kabel kembali aktif di sejumlah wilayah, memungkinkan video-video anti-pemerintah kembali menyebar secara global.

Data lapangan menunjukkan bahwa dalam dua hari terakhir, Kementerian Dalam Negeri Iran mengerahkan sekitar 50.000–70.000 personel keamanan ke seluruh negeri. Pola yang terlihat konsisten: aparat berjaga ketat di siang hari, sementara demonstrasi besar meletus setelah malam tiba.

Situasi Kritis dan Arah Tak Pasti

Hingga kini, belum terlihat strategi efektif dari massa untuk menghadapi penindasan bersenjata langsung. Sementara itu, laporan mengenai korban sipil terus bertambah, meski angka resmi belum diumumkan pemerintah.

Iran kini berada di persimpangan sejarah: antara konsolidasi kekuasaan melalui kekerasan, atau terbukanya babak baru perubahan politik yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Revolusi Islam 1979.

Presiden Interim Venezuela Nyatakan Ingin Bekerja Sama dengan AS

Wakil Nicolás Maduro yang kini menjabat sebagai pemimpin sementara Venezuela menyatakan: “Kami mengundang pemerintah AS untuk bekerja sama dengan kami.”

EtIndonesia. Presiden interim Venezuela Delcy Rodriguez pada Senin (5/1/2026) menyampaikan pesan bernada lunak kepada Amerika Serikat. Pernyataan disampaikan menyusul operasi militer AS akhir pekan lalu yang menangkap Nicolás Maduro dan mengekstradisinya atas tuduhan narco-terorisme dan kejahatan lainnya.

“Kami mengundang pemerintah Amerika Serikat untuk berkolaborasi dengan kami dalam agenda kerja sama yang berorientasi pada pembangunan bersama, dalam kerangka hukum internasional, guna memperkuat kehidupan masyarakat yang damai dan berkelanjutan,” ujar Rodriguez dalam pernyataan berbahasa Inggris di Instagram.

Ia mengatakan Venezuela kini sedang “bergerak menuju hubungan internasional yang seimbang dan saling menghormati antara Amerika Serikat dan Venezuela, serta antara Venezuela dan negara-negara kawasan, yang berlandaskan kesetaraan kedaulatan dan prinsip non-intervensi.”

Rodriguez—politikus sosialis yang sebelumnya menjabat sebagai wakil Maduro—juga menyebut Presiden Donald Trump dalam pernyataannya, serta tetap menyebut Maduro sebagai presiden Venezuela.

“Presiden Donald Trump, rakyat kami, dan kawasan ini berhak atas perdamaian dan dialog, bukan perang. Itu selalu menjadi pesan Presiden Nicolás Maduro, dan kini menjadi pesan seluruh Venezuela,” katanya.

 “Inilah Venezuela yang saya yakini dan saya dedikasikan hidup saya untuknya. Saya memimpikan Venezuela di mana seluruh warga Venezuela yang baik dapat bersatu.”

Mahkamah Agung Venezuela pada akhir pekan lalu menunjuk Rodriguez sebagai presiden sementara, menyusul operasi dramatis militer AS yang menargetkan kompleks kediaman Maduro. Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap dan dijadwalkan menjalani sidang di pengadilan federal AS pada Senin.

Namun, dalam pernyataan pertamanya, Rodriguez sempat bersikap lebih keras dengan menyebut operasi AS sebagai pelanggaran hukum internasional dan menuntut Washington mengembalikan Maduro ke Venezuela.

Pada Minggu malam, Trump mengatakan kepada The Atlantic bahwa Rodriguez harus bertindak sesuai kepentingan nasional AS dan memperingatkan adanya konsekuensi jika ia tidak melakukannya.

“Jika dia tidak melakukan yang benar, dia akan membayar harga yang sangat mahal—mungkin lebih mahal daripada Maduro,” kata Trump.

Trump menyatakan bahwa penyingkiran Maduro diperlukan demi keamanan nasional AS, seraya menambahkan bahwa “perubahan rezim—apa pun sebutannya—lebih baik daripada kondisi yang ada sekarang.”

“Membangun kembali Venezuela bukan hal buruk. Itu negara yang gagal total, negara yang hancur dalam segala hal,” ujarnya.

Akhir pekan lalu, Trump juga mengatakan AS akan menjalankan Venezuela selama masa transisi kekuasaan. Saat ditanya siapa yang akan memimpin negara itu, ia menjawab bahwa “orang-orang yang berdiri di belakang saya” akan menjalankannya “untuk sementara waktu.”

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Washington tidak akan mengelola Venezuela sehari-hari, kecuali dalam hal penegakan karantina minyak yang telah diberlakukan terhadap negara tersebut.

Menurut dakwaan di Pengadilan Distrik Federal Distrik Selatan New York, Maduro dan lima orang lainnya didakwa atas konspirasi narco-terorisme, konspirasi impor kokain, serta pelanggaran senjata.

Sebelum ditangkap, Maduro berulang kali membantah terlibat dalam penyelundupan narkoba atau aktivitas ilegal lainnya, dan menyatakan keinginannya untuk berdamai dengan Amerika Serikat.

Associated Press berkontribusi dalam laporan ini.

Mantan Tahanan Politik Venezuela Jelaskan Konfrontasinya dengan Maduro di Pengadilan

Pedro Rojas, yang mengaku pernah menjadi tahanan politik di Venezuela, kemudian meminta maaf atas ledakannya di pengadilan

Jackson Richman, Arjun Singh, Janice Hisle

EtIndomesia. NEW YORK CITY — Seorang pelarian Venezuela menjelaskan mengapa ia menghadapi mantan pemimpin negaranya, Nicolás Maduro, di dalam ruang sidang federal di Manhattan, New York, Amerika Serikat, saat pengajuan dakwaan pada 5 Januari.

Di akhir persidangan, ketika Maduro dan istrinya menyatakan tidak bersalah atas tuduhan narco-terorisme, Pedro Rojas, 33 tahun, menyebut Maduro sebagai pemimpin “ilegal.”

Maduro membalas dalam bahasa Spanyol, “Saya adalah presiden yang diculik,” sambil dikawal oleh deputi U.S. marshals.

Rojas, yang mengaku pernah menjadi tahanan politik di Venezuela pada 2019, kemudian mengatakan, “Yang kami inginkan adalah agar seluruh kekuatan hukum jatuh kepada Maduro.”

“Maduro diberi makanan, meminta perawatan medis, hal-hal yang tidak pernah diterima tahanan politik di Venezuela,” katanya saat wartawan berkumpul di luar gedung pengadilan setelah sidang.

“Ada orang-orang di penjara Venezuela yang menghadapi hukuman sampai 14, 18, 20 tahun hanya karena tiran haus darah ini.”

Disiden Venezuela itu kemudian menyesali ledakannya, meminta maaf kepada Amerika Serikat dan sistem peradilannya karena berteriak selama persidangan.

“Yang saya katakan hanyalah bahwa Maduro sekarang akan menghadapi keadilan atas semua pelanggarannya, dan ia mengatakan dirinya tidak bersalah dan seorang pria Tuhan,” ujar Rojas.

 “Kami juga pria Tuhan dan tidak pernah memukul orang tak bersalah, mengejar kardinal Gereja Katolik, atau mengambil paspor dari disiden politik.”

Saat wartawan mengikuti Rojas, ia mengatakan bahwa kemampuan bahasa Inggrisnya “tidak terlalu baik” dan akan menjawab pertanyaan dalam bahasa pilihannya, Spanyol.

Rojas menceritakan momen dramatis di pengadilan ketika matanya bertemu dengan mata Maduro. Ia mengatakan tidak merasa takut sama sekali saat menatap Maduro, yang berbicara kepadanya dalam bahasa Spanyol.

Rojas mengatakan ia memberitahu Maduro bahwa mantan pemimpin itu bersalah atas pelanggaran yang disebutkan oleh hakim dan jaksa federal.

Ia menambahkan bahwa ia berbicara atas nama 40 juta rakyat Venezuela yang senang mengetahui bahwa Maduro kini berada di tahanan.

Ketika ditanya pesan apa yang ingin disampaikan kepada Presiden Donald Trump, Rojas mendorong presiden AS untuk tetap waspada sekaligus memastikan transisi kepemimpinan Venezuela berjalan lancar.

Ia juga menyatakan penghormatan besar terhadap pemimpin oposisi Venezuela, María Corina Machado, yang mengatakan bahwa pemerintah yang dipimpin oposisi siap mengambil alih pemerintahan Venezuela.

“Rakyat Venezuela akan memperoleh kebebasan dan membangun kembali negara ini ‘bergandengan tangan’ dengan Presiden Trump,” kata Rojas, sambil berharap rezim “gelap” Maduro akan dilupakan dan orang-orang hanya mengenalnya melalui museum atau penjara tempat Maduro ditahan.

Maduro, yang ditangkap oleh pasukan AS dalam operasi 3 Januari di ibu kota Venezuela, Caracas, menyatakan tidak bersalah atas dakwaan konspirasi narco-terorisme, konspirasi impor kokain, kepemilikan senjata mesin dan alat peledak, serta konspirasi kepemilikan senjata mesin dan alat peledak terhadap Amerika Serikat.

Ia menghadapi hukuman seumur hidup.

Sidang berikutnya dijadwalkan pada 17 Maret.

Evelyn Jones turut berkontribusi pada laporan ini.

Sumber : Theepochtimes.com

Pemimpin Oposisi Venezuela Machado Memuji Trump atas Penangkapan Maduro

Peraih Hadiah Nobel Perdamaian itu mengatakan bahwa penangkapan Maduro menandai runtuhnya rezim sosialis dan dimulainya transisi menuju demokrasi.

Kimberly Hayek

Pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado, memuji Presiden Donald Trump atas keputusan menangkap Nicolás Maduro, dalam penampilannya di acara “Hannity” di Fox News pada  Senin (5/1/2026). 

“Tanggal 3 Januari akan tercatat dalam sejarah sebagai hari ketika keadilan mengalahkan tirani,” kata Machado kepada pembawa acara Sean Hannity. “Ini adalah tonggak sejarah, dan ini bukan hanya sangat besar artinya bagi rakyat Venezuela dan masa depan kami, saya pikir ini adalah langkah besar bagi kemanusiaan, bagi kebebasan, dan martabat manusia,” ujarnya.

“Venezuela yang bebas berarti, pertama, menjadi sekutu keamanan, membongkar pusat kejahatan di benua Amerika dan mengubahnya menjadi perisai keamanan, sekutu terkuat untuk membongkar semua struktur kriminal yang telah menimbulkan begitu banyak kerusakan dan penderitaan bagi rakyat kami dan juga rakyat Amerika Serikat.”

Perempuan berusia 58 tahun itu berjanji akan menjadikan Venezuela “sekutu utama Amerika Serikat di Amerika Latin.”

“Kami akan menegakkan supremasi hukum. Kami akan membuka pasar. Kami akan memberikan keamanan bagi investasi asing,” katanya.

Machado mengatakan bahwa ia akan membantu memulangkan jutaan warga Venezuela yang terpaksa mengungsi, untuk membangun kembali sebuah bangsa yang kuat, makmur, dan masyarakat yang terbuka.

“Kami akan meninggalkan semua kehancuran yang dibawa rezim sosialis, rezim kriminal ini, kepada rakyat kami, dan mengubah Venezuela menjadi sekutu utama Amerika Serikat di Amerika Latin,” ujarnya.

Sebelum penggerebekan 3 Januari yang mengakhiri rezim Maduro, Machado dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian 2025 pada 10 Oktober dan mendedikasikannya kepada Trump karena “ia pantas menerimanya.”

“Saya mendedikasikan hadiah ini kepada rakyat Venezuela yang menderita dan kepada Presiden Trump atas dukungannya yang tegas terhadap perjuangan kami,” tulisnya dalam unggahan di X pada hari ia menerima penghargaan tersebut.

Machado mengatakan ia berbicara dengan Trump pada hari penghargaan itu diumumkan, tetapi tidak setelahnya. Ia menyampaikan rasa terima kasih “atas nama rakyat Venezuela atas keberanian dan visi Trump” dalam mengambil “tindakan bersejarah” melawan “rezim narco-teroris.”

Ia mengatakan bahwa keputusan Trump untuk menangkap Maduro telah membawa 30 juta rakyat Venezuela semakin dekat kepada kebebasan dan membuat Amerika Serikat lebih aman.

Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat akan menjalankan Venezuela menjelang transisi kekuasaan yang damai.

“Kami akan menjalankan negara itu sampai pada saat kami bisa melakukan transisi yang aman, layak, dan bijaksana. Jadi, kami tidak ingin terlibat dengan menyerahkan kepada orang lain untuk mengambil alih,” kata Trump.

Machado menyatakan bahwa ia “sangat ingin” secara pribadi menyerahkan Hadiah Nobel Perdamaian itu kepada Trump, dengan mengatakan bahwa “rakyat Venezuela tentu ingin memberikannya kepadanya dan membaginya dengannya.”

Machado memperoleh lebih dari 92 persen suara dalam pemilihan pendahuluan oposisi tahun 2023 yang diselenggarakan oleh masyarakat sipil. Namun, Maduro melarangnya ikut serta dalam pemungutan suara. Ia kemudian digantikan oleh sekutunya Edmundo Gonzalez, yang mengalahkan Maduro secara telak meskipun pemilu berlangsung dalam kondisi yang tidak adil.

Setelah pemilihan pendahuluan tersebut, Machado bersembunyi di Venezuela selama lebih dari 16 bulan, dan hanya muncul untuk upacara Nobel Perdamaian. Ia tidak langsung kembali karena khawatir terhadap keselamatannya, namun kini berencana untuk kembali “secepat mungkin.”

Ia juga mempertimbangkan pemberian kompensasi bagi keluarga Laken Riley dan orang-orang lain yang kehilangan orang tercinta akibat tindakan para migran Venezuela di bawah rezim Maduro.

Namun, sebuah perintah eksekutif yang ditandatangani Maduro pada hari penangkapannya mewajibkan “penganiayaan dan penahanan terhadap setiap warga Venezuela yang mendukung tindakan Presiden Trump.” Empat belas jurnalis ditahan hanya pada hari itu saja.

Machado menyebut pemimpin sementara Venezuela Delcy Rodriguez sebagai “salah satu arsitek utama penyiksaan, penganiayaan, korupsi, dan perdagangan narkoba” dengan keterkaitan dengan Rusia, Tiongkok, dan Iran.

Rodriguez, seorang sosialis yang pernah menjabat sebagai wakil pemimpin di bawah Maduro sebelum penangkapannya, “ditolak oleh rakyat Venezuela,” kata Machado kepada Hannity, seraya mendesak diadakannya pemilu bebas yang menurutnya akan dimenangkan oposisi dengan lebih dari 90 persen suara.

Sumber : Theepochtimes.com

Berpegang Teguh pada Aturan Hidup Sendiri

EtIndonesia. Saya membayangkan, pasti ada orang yang akan berkata: “Bukankah hidup ini sudah cukup melelahkan dan membosankan? Mengapa masih harus membuat aturan hidup untuk diri sendiri? Bukankah itu terlalu kaku dan mengikat?”

Setiap fase usia sebenarnya memiliki kata kunci yang sangat penting:
– usia 20 tahun penuh gairah dan semangat membara,
– usia 30 tahun mulai stabil dan alami,
– usia 40 tahun tenang dan berwibawa,
– usia 50 tahun lebih realistis,
– usia 60 tahun lapang dan mantap,
– usia 70 tahun santai dan menikmati hidup.

Di setiap tahap usia, melakukan hal-hal yang “sesuai umur” sebenarnya tidak sulit. Yang sulit adalah seumur hidup tetap setia pada aturan hidup dan prinsip hidup yang kita tetapkan sendiri.

Kehidupan kota besar sejatinya jauh dari kata seindah yang terlihat. Gedung pencakar langit, mobil mewah, pria dan wanita rupawan, para profesional sukses, lampu jalan yang berkilauan, neon warna-warni, aroma kopi yang semerbak, dan arus manusia yang tiada henti—semuanya membentuk permukaan kehidupan kota, sebuah dunia tempat peluang dan cita-cita berdampingan.

Namun di balik gemerlap itu, hasrat terus bergolak, konflik tak pernah berhenti, tipu daya dan kepura-puraan merajalela, perebutan kekuasaan, pemujaan terhadap uang, hubungan antarmanusia yang rumit, serta dingin-hangatnya perasaan sesama. Semua itu lebih menyerupai medan perang tanpa asap mesiu. Di sana ada kegembiraan para pemenang, dan tentu saja air mata mereka yang kalah.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota, pernahkah kamu kehilangan kendali atas diri sendiri? Pernahkah kamu tersesat? Ikut hanyut mengikuti arus? Apakah kamu punya aturan hidup dan prinsip sebagai manusia?

Banyak orang mungkin akan mencibir:  “Memangnya aku anak sekolah? Harus hidup sambil menghafal aturan? Untuk apa aturan hidup segala? Aku ini orang dewasa. Aku tahu apa yang kuinginkan dan apa yang tidak kuinginkan.”

Menurut mereka, untuk sukses harus berjuang, dan perjuangan tidak mengenal akhir—terus maju tanpa ragu agar semakin dekat dengan tujuan. Untuk bahagia harus bekerja keras, dan kerja keras menuntut pengorbanan. Keringat dan air mata adalah pembuka kebahagiaan, sementara bunga dan senyum adalah kelanjutannya.

Bukankah hanya orang-orang yang ‘bermasalah’ yang butuh aturan hidup? Membatasi diri hanya akan membuat langkah ke kiri mentok garis, ke kanan terbentur bingkai. Dengan begitu banyak batasan, bagaimana mungkin bisa melakukan hal besar?

Dalam kehidupan nyata, banyak orang hidup tanpa rencana jangka panjang, tanpa target jangka pendek, apalagi aturan hidup dan prinsip. Mereka menjalani hari demi hari, asal senang, asal lewat, ikut kata orang, dan ikut arus.

Ada teman A, awalnya bertubuh ramping, tetapi karena makan dan minum tanpa kendali, dia berubah menjadi sangat gemuk. Lalu karena tubuhnya tak lagi lincah, dia mulai diet dan berolahraga mati-matian. Siklus ini terus berulang.

Ada teman B, karena menuruti hawa nafsu tanpa batas, ingin memiliki semua kecantikan dunia. Melihat satu jatuh cinta pada satu. Akhirnya “api” muncul di belakang, dan dia pun sibuk memadamkan kebakaran demi kebakaran dalam hidupnya.

Ada pula teman C, karena api keserakahan di dalam hatinya tumbuh tanpa kendali, akhirnya membakar dirinya sendiri. Tangannya selalu ingin meraih apa pun yang bisa diraih—yang bukan miliknya pun ingin diambil. Baskom penuh, mangkuk pun penuh, tetapi akhirnya dia hanya bisa duduk di balik jeruji besi, merindukan kebebasan. Seperti pepatah: rumah boleh seribu, tempat tidur malam tetap hanya selebar delapan kaki.

Sebenarnya kita semua tahu, waktu tidak akan pernah bisa diputar ulang. Daripada menipu diri sendiri dengan berbagai andaian, lebih baik sejak awal menjalani hidup sesuai dengan aturan hidup yang kita tetapkan sendiri.

Penulis Jepang Haruki Murakami menetapkan aturan hidup pribadinya sebagai berikut:
– tidak berkata melemahkan diri,
– tidak mengeluh,
– tidak mencari alasan,
– tidur lebih awal dan bangun lebih pagi,
– berlari 10 kilometer setiap hari,
– menulis 10 halaman setiap hari,
– dan hidup seperti orang bodoh.

Sekilas terlihat sangat sederhana.
Tidak berkata melemahkan diri berarti terus menyemangati diri tanpa kendur.
Tidak mengeluh berarti menjaga sikap positif dan memberi sugesti mental yang baik.
Tidak mencari alasan berarti berani menghadapi benar dan salah dengan lapang dada.
Berlari 10 kilometer setiap hari karena manusia adalah bagian dari alam—berlari di antara pepohonan dan bunga membuat tubuh tetap kuat. 

Menulis 10 halaman setiap hari adalah cara menempa diri agar terus berkembang dan tidak kehabisan inspirasi. Hidup seperti orang bodoh berarti tidak memikirkan hal-hal yang membuat tidak bahagia, tidak larut dalam masalah. Siapa tahu, apa yang tampak sebagai kerugian justru adalah keuntungan? Dengan cara itulah kita semakin dekat pada kebahagiaan.

Jika diteliti satu per satu, semuanya memang sederhana. Tetapi menjalankannya setiap hari secara konsisten sama sekali tidak mudah. Kita harus melawan sifat malas dan ceroboh dalam diri, mengatasi kondisi fisik dan kemauan subjektif, serta menghadapi berbagai godaan dan situasi dari luar. Justru karena tidak mudah itulah, hidup yang dijalani berdasarkan aturan sendiri akan tetap berada di jalur yang benar.

Lalu pertanyaannya:  kamu, apakah sudah punya aturan hidupmu sendiri?(jhn/yn)

Mengejutkan! Insiden Langka Lahan Sayur di Sichuan, Tiongkok Terbakar, Menyala 7 Hari Berturut-turut Tak Padam Meski Hujan Turun

Belakangan ini, sebidang lahan sayur di Kota Nanchong, Provinsi Sichuan, Tiongkok, tiba-tiba terbakar hebat. Api telah menyala selama sekitar 7 hari dan belum juga padam, meskipun dalam beberapa hari terakhir hujan turun terus-menerus. Peristiwa ini menarik perhatian publik.

EtIndonesia. Video yang beredar di internet memperlihatkan sebuah lahan sayur di Desa Xujia, Kecamatan Xujiā, Kabupaten Peng’an, di mana api besar menyembur langsung dari permukaan tanah. Hingga kini api tersebut telah menyala terus selama 7 hari, bahkan tidak padam saat cuaca mendung dan diguyur hujan.

Seorang warga desa setempat mengatakan bahwa ketika api pertama kali muncul pada 28 Desember, tinggi nyala api hanya sekitar satu meter. Namun pada  30 Desember siang hari, tinggi api sudah melonjak hingga lebih dari 3 meter, dan area yang terbakar pun semakin meluas.

Pihak berwenang setempat menyatakan bahwa lokasi kebakaran di lahan pertanian tersebut bukan disebabkan oleh kebocoran pipa gas alam. Dugaan sementara adalah adanya cadangan gas alam di bawah tanah yang belum dieksploitasi. Saat ini, pihak berwenang telah memasang garis pembatas di sekitar lokasi kebakaran.

Menurut ingatan warga, beberapa tahun lalu daerah tersebut pernah dilakukan eksplorasi gas alam dengan pengeboran di beberapa titik. Jika lubang-lubang sumur yang sudah ditinggalkan itu tidak ditutup rapat sepenuhnya, ada kemungkinan gas alam bocor ke permukaan.

Menurut laporan sebelumnya, fenomena serupa juga pernah terjadi di Distrik Wutongqiao, Kota Leshan, Sichuan, di mana api di permukaan tanah terus menyala selama dua bulan tanpa padam. Penyebabnya juga adalah kebocoran gas alam.

Selain itu, di sekitar Teluk Niujia, Desa Dongmen, wilayah Jalan Xinshi, Distrik Changshou, Kota Chongqing, terdapat lokasi yang dikenal sebagai “Desa Api Tanah”. Menurut warga setempat, sejak tahun 1958, api tiba-tiba muncul dari tanah di lokasi tersebut dan telah menyala selama puluhan tahun tanpa pernah padam. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Host Media Arus Utama AS: Target Sebenarnya Trump Menyerang Maduro adalah Partai Komunis Tiongkok

Di awal tahun baru, Amerika Serikat berhasil menangkap hidup-hidup Nicolás Maduro, sebuah peristiwa yang mengguncang dunia. Sejumlah analis media Amerika menilai bahwa target sebenarnya Trump dalam menyerang Maduro adalah Partai Komunis Tiongkok (PKT), sehingga menarik perhatian luas.

EtIndonesia. Pembawa acara program Fine Point with Chanel Rion di media konservatif Amerika OAN, Chanel Rion, pada Oktober tahun lalu pernah menyampaikan analisis terkait langkah Amerika Serikat terhadap rezim Maduro di Venezuela.

Cuplikan komentarnya kembali beredar luas di internet. Rion menyatakan bahwa Trump sebenarnya melancarkan “perang bayangan” terhadap Beijing, yang menargetkan tata letak dan pengaruh PKT di Venezuela selama bertahun-tahun. Ia menyebut Trump sebagai “satu-satunya presiden yang benar-benar menghantam titik paling menyakitkan PKT”.

Analisis tersebut menyebutkan bahwa Venezuela adalah agen garis depan PKT dalam menghadapi Amerika Serikat, sekaligus contoh klasik dari permainan energi yang bersifat predator.

“Sejak 2007, Venezuela telah berhutang lebih dari 60 miliar dolar AS kepada Beijing. Bagaimana mereka membayar hutang itu? Anda benar—dengan minyak. Akibat sanksi, ekonomi Venezuela lumpuh, dan satu-satunya negara yang mampu memberi dukungan nyata adalah Beijing, karena mereka adalah pembeli utama. Hal ini memaksa Venezuela menjual minyak dengan harga sangat rendah, yang berarti mereka akan terus berutang kepada Beijing,” kata Rion.

“Ini adalah inti dari keseluruhan permainan, dan begitulah cara PKT beroperasi. Pada Mei 2025, dalam Forum Tiongkok–Amerika Latin, Beijing kembali memberikan investasi minyak baru senilai 1 miliar dolar AS kepada Venezuela, memperkuat posisi Venezuela sebagai garis depan perang bayangan AS–Tiongkok.”

“Namun kepentingan PKT di Venezuela jauh melampaui minyak murah dan ekonomi. Perusahaan-perusahaan Tiongkok terlibat jauh dalam modernisasi pelabuhan dan infrastruktur telekomunikasi Venezuela. Jika Anda mengira PKT melakukan sesuatu tanpa tujuan ‘sipil-militer ganda’, itu terlalu naif.”

Analisis itu juga menyebut bahwa Trump sedang menyatakan perang terhadap aset paling berharga PKT: Iran, Venezuela, dan Gaza.

“Trump telah menciptakan situasi ‘tiga banding nol’ melawan PKT—dan inilah poin yang diabaikan banyak orang. PKT pernah memiliki investasi besar di Iran, dan Trump menghantam mereka; PKT pernah memiliki kepentingan besar di Gaza, dan Trump membangun semacam sekat keamanan regional; PKT secara langsung mengendalikan Venezuela selama dua puluh tahun, dan kini Trump campur tangan secara besar-besaran, sementara PKT untuk ketiga kalinya berada di posisi kalah.”

Video tersebut telah ditonton sekitar 2 juta kali di platform X dan mendapat ribuan komentar. Banyak warganet menyatakan setuju dengan analisis Rion, dengan komentar seperti: “Analisis terbaik tentang geopolitik saat ini”, “Sangat tepat sasaran”, dan “100% benar. Kapal perang PKT telah bertahun-tahun berlabuh di lepas pantai Venezuela.”

Komentar lain berbunyi: “Ini sangat penting, Chanel! Kamu benar sekali—orang-orang mengabaikan papan catur global di balik ini. Setiap langkah saling terhubung, dan Venezuela adalah titik tekanan dalam jaringan bayangan PKT. Badai ini bukan bersifat lokal, melainkan strategis.”

Chanel Rion sendiri juga menanggapi dengan membandingkan investasi PKT dan Rusia di Venezuela: “Investasi Rusia = 17 miliar dolar AS, pinjaman PKT = 62 miliar dolar AS. Dan Rusia pun harus mendengarkan PKT.”

Pada 4 Januari, Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, mengatakan kepada Fox News bahwa PKT secara agresif memperluas pengaruhnya di Amerika Selatan, dan Presiden Trump serta Menteri Luar Negeri Marco Rubio terus secara aktif melawan tindakan tersebut.

“Apa yang Anda lihat adalah Tiongkok memperoleh minyak murah, masuk dan menguasai lokasi-lokasi geografis strategis, termasuk pelabuhan, jalur kereta api, dan pasokan pangan. Semua ini terjadi langsung di belahan bumi barat kita, khususnya di Amerika Tengah dan Selatan. Itulah sebabnya—dan juga karena banyak alasan lain—ini menjadi isu keamanan nasional yang sangat krusial,” ujarnya.

Beberapa jam sebelum penangkapan Maduro, utusan khusus PKT masih bertemu dengan Maduro di Venezuela. Dunia luar menilai langkah ini sebagai upaya PKT untuk “menyemangati” Maduro yang tengah berada di bawah tekanan besar Amerika Serikat.

Saat ini beredar luas kabar bahwa penangkapan Maduro telah membuat Xi Jinping berada dalam kondisi ketakutan ekstrem. Pengusaha asal Shanghai, Hu Liren, pada 4 Januari menulis di X bahwa ada informasi dari Beijing yang menyebut Xi Jinping mulai semakin memperketat sistem perlindungan pribadinya. Basis-basis militer di sekitar Beijing dilaporkan mengalami pergerakan pasukan dengan frekuensi tinggi, dan banyak sistem bunker bawah tanah di sekitar Beijing diperkirakan mulai diaktifkan. (Hui)

Laporan terjemahan oleh reporter Jin Jing / Lin Qing

AS–Israel Bergerak, Rakyat Bangkit: Gerbang Neraka Terbuka bagi Rezim Teokrasi Iran

EtIndonesia. Tahun 2026 dibuka dengan rangkaian peristiwa geopolitik berintensitas tinggi. Setelah operasi kilat Amerika Serikat yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro pada 3 Januari 2026, perhatian Washington dengan cepat beralih ke Iran—sebuah pergeseran fokus yang langsung mengguncang Timur Tengah.

Jika operasi terhadap Maduro dikenal sebagai penangkapan mendadak dan presisi tinggi, maka langkah berikutnya terhadap Iran dipandang dunia sebagai fase eskalasi strategis. Berbagai indikator—politik, militer, hingga sosial—menunjukkan bahwa rezim teokrasi Iran berada di ambang krisis paling serius dalam beberapa dekade terakhir.

Peringatan Terbuka dari Gedung Putih

Pada 4 Januari 2026, Presiden Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Teheran. Berbicara kepada wartawan di atas Air Force One, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat memantau setiap pergerakan di dalam Iran. Dia memperingatkan, setiap upaya kekerasan terhadap demonstran akan dibalas dengan serangan yang menghancurkan.

Nada peringatan itu kian tajam menyusul keberhasilan operasi Venezuela—sebuah preseden yang membuat setiap pernyataan Trump kini dibaca sebagai ancaman operasional, bukan retorika.

Video Berbahasa Persia: Pesan yang Tak Disamarkan

Masih pada 4 Januari 2026, akun resmi pemerintah AS berbahasa Persia merilis sebuah video yang segera viral. 

Tokoh utamanya adalah Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, yang secara eksplisit menyebut Maduro: “Kami pernah memberi Maduro kesempatan. Ketika dia memilih keras kepala, ia kehilangan kesempatan itu.”

Pesan tersebut dibaca luas sebagai seruan langsung kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei—sebuah peringatan bahwa “kesempatan” Iran telah habis.

Israel Bergerak: Ultimatum dan Opsi Militer

Tekanan terhadap Iran tidak datang dari Washington saja. Setelah pertemuan dengan Trump pada awal Januari, Perdana Menteri Israe,l Benjamin Netanyahu mengadopsi sikap yang jauh lebih keras.

Dalam pernyataan terbuka, Israel menyampaikan dua tuntutan utama:

  • Iran harus memindahkan sekitar 400 kilogram uranium yang telah diperkaya
  • Seluruh fasilitas nuklir Iran wajib tunduk pada pengawasan internasional yang ketat dan substantif

Sumber keamanan Israel mengungkapkan bahwa nama sandi operasi terhadap Iran telah ditetapkan sebagai “Tinju Besi”. Netanyahu bahkan dilaporkan menggelar rapat tertutup lima jam dengan para petinggi militer untuk memfinalisasi opsi serangan. Di Yerusalem, diskusi kini bukan lagi soal “apakah”, melainkan “kapan”.

Rencana Gabungan AS–Israel: Target Kepemimpinan

Media Israel melaporkan adanya rencana gabungan AS–Israel yang mencakup operasi pemenggalan kekuasaan dan penangkapan, dengan target langsung Ali Khamenei. Jika penangkapan Maduro terjadi dalam hitungan jam, maka skenario serupa terhadap Teheran dipandang tidak lagi mustahil.

Netanyahu bahkan berbicara langsung kepada rakyat Iran, memuji potensi bangsa Persia dan menegaskan bahwa penghambat kemajuan Iran bukanlah rakyatnya, melainkan rezim ulama.

Elite Iran dalam Mode Bertahan Hidup

Di Teheran, situasi digambarkan oleh pejabat internal sebagai “mode bertahan hidup”. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menggelar rapat darurat semalaman pada 5 Januari 2026. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian dilaporkan menerima saran ekstrem dari para penasihat ekonominya: melemparkan tanggung jawab kebijakan sepenuhnya kepada Khamenei demi menyelamatkan institusi pemerintah.

Lebih jauh, laporan intelijen yang diungkap The Times pada 5 Januari 2026 menyebutkan bahwa Khamenei telah menyiapkan rencana pelarian. Jika situasi tak terkendali—terutama bila Garda Revolusi membelot—dia disebut siap membawa puluhan orang kepercayaan, keluarga inti, serta aset hampir 100 miliar dolar, menuju Moskow.

“Indeks Pizza” dan Sinyal Perang

Sinyal lain datang dari Washington. Pasca-operasi Venezuela, pesanan pizza di sekitar Pentagon melonjak tajam—fenomena yang dikenal analis sebagai “Indeks Pizza”.

  • Gerai Papa John’s dalam radius 3 km mencatat lonjakan hingga 1.250%
  • Gerai lain di radius 1–2 km mencatat kenaikan ratusan persen

Lonjakan semacam ini kerap dikaitkan dengan lembur massal pejabat militer menjelang operasi besar.

Pergerakan Militer: Bukti Nyata

Dalam 4–6 Januari 2026, data intelijen sumber terbuka menunjukkan:

  • C-17 Globemaster III dan KC-135 tanker bergerak dari AS ke Inggris, lalu ke Timur Tengah
  • Salah satu C-17 lepas landas dari Fort Campbell, markas Resimen Penerbangan Operasi Khusus ke-160 (Night Stalkers)—unit yang juga terlibat dalam penangkapan Maduro
  • Drone MQ-4C Triton melakukan misi pengintaian di Selat Hormuz dan Teluk Persia
  • Divisi Lintas Udara ke-101 dan Resimen Kavaleri ke-75 berada pada status siap tempur

Pengamat menilai pola ini identik dengan transisi menuju operasi ofensif.

Pemberontakan Nasional di Dalam Negeri

Di dalam Iran, gelombang perlawanan rakyat memasuki hari kesembilan pada 6 Januari 2026. Protes telah menyebar ke 174 kota—dari Teheran, Qom, Mashhad, hingga Ilam. Bentrok berdarah, barikade jalanan, hingga milisi sipil bersenjata dilaporkan muncul di sejumlah wilayah. Serangan siber oleh kelompok peretas Iran juga melumpuhkan puluhan situs pemerintah.

Di pusat Teheran, sebuah kelompok bernama “Penjaga Kebangkitan” mengibarkan bendera era Dinasti Pahlavi, menyerukan penggulingan rezim teokrasi. Bahkan, sebagian massa menamai ulang sebuah ruas jalan menjadi “Jalan Donald Trump” sebagai simbol dukungan internasional.

Penutup: Sejarah Dipacu oleh Tekanan

Ketika tekanan eksternal AS–Israel bertemu dengan pemberontakan internal berskala nasional, Iran memasuki fase paling menentukan sejak Revolusi 1979.  Bagi banyak warga Iran, suara tembakan di Teheran bukan sekadar konflik—melainkan tanda berakhirnya sebuah era.

Sejarah sedang bergerak cepat. Dan ketika rasa takut lenyap dari hati rakyat, akhir sebuah rezim tirani sering kali tinggal menunggu waktu.

Xi Jinping dan Maduro Sama-sama Menganggap Kekuasaan Sebagai Nyawa, 6 Kesamaan Utama Terungkap

EtIndonesia. Pasukan khusus militer Amerika Serikat baru-baru ini berhasil menangkap Nicolás Maduro dan membawanya ke New York, Amerika Serikat, untuk diadili. Para pengamat menilai bahwa Maduro dan pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping memiliki enam kesamaan utama dalam cara mereka mempertahankan kekuasaan, mengendalikan militer, dan memerintah negara. 

Demi berkuasa seumur hidup, keduanya mengikat nasib negara dengan kekuasaan pribadi, sehingga tugas utama militer bergeser dari melindungi negara menjadi “melindungi pemimpin”.

1- Merebut Kekuasaan dengan Kekerasan

Surat kabar Liberty Times mengutip analisis data yang dihimpun pihak berwenang Taiwan, yang menunjukkan bahwa Maduro dan Xi Jinping memiliki kemiripan tinggi dalam mempertahankan kekuasaan. Maduro meraih dan mempertahankan kekuasaan melalui kecurangan pemilu dan kekerasan. Meski Venezuela masih mempertahankan bentuk pemilu, Maduro menyingkirkan oposisi dengan mencabut kelayakan mereka, memanipulasi sistem penghitungan suara, serta mengerahkan militer dan polisi untuk menindas demonstrasi demi memaksakan masa jabatan baru.

Xi Jinping, di sisi lain, berupaya mempertahankan kekuasaan jangka panjang melalui perubahan konstitusi dan pembersihan lawan politik. Pada 2018, ia menghapus batas masa jabatan presiden melalui amandemen konstitusi, melanggar tradisi suksesi antargenerasi. Dengan dalih pemberantasan korupsi, ia melakukan “pembersihan internal partai” dan memusatkan kekuasaan pada dirinya sendiri.

Keduanya memandang pergantian kekuasaan sebagai jalan menuju kehancuran, lalu mengikat nasib negara dengan kekuasaan pribadi demi mencapai pemerintahan seumur hidup secara de facto.

2- Perdagangan Narkoba

Dalam hal ekspor narkoba dan aktivitas di wilayah abu-abu, Maduro dituduh membangun kartel narkoba tingkat negara. Melalui militer dan kelompok yang dikenal sebagai “Kartel Matahari”, rezimnya secara langsung terlibat dalam pengiriman kokain, menggunakan narkoba sebagai alat untuk memperoleh devisa dan menyuap militer. Ia pun secara resmi didakwa oleh Departemen Kehakiman AS.

Xi Jinping dituduh membiarkan ekspor fentanyl, dengan negara diduga mensubsidi atau membiarkan ekspor bahan kimia prekursor fentanil yang kemudian masuk ke Amerika Serikat melalui Meksiko. Hal ini dipandang sebagai bentuk “perang candu terbalik” dan perang sosial terhadap Barat.

Sumber yang mengetahui masalah ini menyebutkan bahwa keduanya memanfaatkan zat adiktif atau destruktif seperti narkoba sebagai alat perang asimetris untuk melemahkan ketahanan sosial dan kesehatan negara lawan.

3- Pengendalian Militer

Dalam hal pengendalian militer, Maduro menyerahkan urat nadi ekonomi negara—seperti minyak, pertambangan, dan distribusi pangan—kepada para jenderal militer, menjadikan militer sebagai “kelompok kepentingan bersama” yang harus membela Maduro demi melindungi diri mereka sendiri.

Xi Jinping menerapkan prinsip “partai mengendalikan senjata” untuk melakukan pembersihan politik. Melalui reformasi militer dan kampanye antikorupsi, ia menyingkirkan lawan-lawan politik, termasuk di Pasukan Roket, menuntut loyalitas mutlak, dan mengubah militer dari angkatan pertahanan nasional menjadi pasukan penjaga kekuasaan PKT dan pemimpinnya.

Kesamaan utama keduanya adalah keyakinan bahwa “kekuasaan lahir dari laras senjata”, sehingga misi utama militer bukan lagi membela negara, melainkan “melindungi pemimpin” dan menjaga stabilitas rezim.

4- Penindasan Brutal

Dalam menghadapi perbedaan pendapat, Maduro menerapkan metode “pemusnahan fisik dan pemenjaraan”. Melalui badan intelijen SEBIN, rezimnya melakukan penangkapan, penyiksaan, dan eksekusi di luar hukum, yang menyebabkan jutaan warga Venezuela melarikan diri dan menjadi pengungsi.

Xi Jinping menggunakan pendekatan “sentralisasi digital dan pendirian kamp konsentrasi” untuk mengawasi seluruh masyarakat Tiongkok. Ia membangun kamp-kamp di Xinjiang, memberlakukan Undang-Undang Keamanan Nasional Hong Kong, serta menerapkan yurisdiksi lintas batas untuk mengancam para pembangkang di luar negeri.

Analisis menunjukkan bahwa keduanya secara sistematis menghancurkan masyarakat sipil, serta melabeli setiap suara oposisi sebagai “agen kekuatan asing” atau “penghasut subversi”.

5- Perampasan Ekonomi

Dalam model ekonomi, keduanya juga menunjukkan kemiripan besar. Maduro menjalankan “sosialisme predator” yang menyebabkan hiperinflasi dan keruntuhan ekonomi, sementara kelompok inti rezim memperkaya diri melalui pasar gelap dan selisih nilai tukar.

Xi Jinping mendorong kebijakan “negara maju, swasta mundur”, menekan perusahaan teknologi swasta, menegaskan dominasi BUMN, dan mengusung konsep “kemakmuran bersama” yang pada prakteknya dianggap menyedot kekayaan masyarakat dan memusatkan sumber daya ekonomi di tangan Partai Komunis.

6- Aliansi Anti-Amerika

Dalam aliansi internasional, Venezuela berperan sebagai garis depan anti-Amerika di Amerika Selatan, sementara PKT menjadi poros revisionis. Maduro membawa masuk pengaruh Rusia, Tiongkok, dan Iran, menjadikan Venezuela sebagai titik tumpu strategis.

Xi Jinping mendorong narasi “perubahan besar yang belum pernah terjadi dalam satu abad”, berupaya menulis ulang aturan internasional, serta secara diam-diam mendukung negara-negara anti-Amerika seperti Rusia, Iran, dan Venezuela.

Para pengamat mengkritik bahwa dua rezim otoriter ini saling menopang satu sama lain, termasuk saling melindungi melalui pemungutan suara di Dewan HAM PBB dan forum internasional lainnya, guna melawan diplomasi berbasis nilai dari negara-negara demokratis. (Hui)

Video Mengejutkan! Warga Tiongkok Timur Laut Lupa Menutup Keran Airnya, Rumah Berubah Menjadi “Gunung Es” 

Baru-baru ini, sebuah keluarga di wilayah Tiongkok Timur Laut lupa menutup keran air ketika keluar rumah. Saat kembali, mereka terkejut mendapati rumah mereka telah berubah menjadi sebuah “gunung es”, dengan lapisan es di lantai setebal hingga setengah meter. Warganet pun berseloroh bahwa ini adalah “aset tetap yang dibekukan”.

EtIndonesia. Pada 3 Januari 2025, seorang warganet dari Provinsi Heilongjiang mengunggah video rumahnya yang berubah menjadi “gunung es” ke media sosial, dan langsung memicu perbincangan hangat.

Rekaman video memperlihatkan bahwa keluarga tersebut lalai menutup keran air dengan baik saat meninggalkan rumah. Ketika mereka kembali, pemandangan yang terlihat sungguh mengejutkan. 

Air dari keran dapur mengalir terus hingga membeku, bak cuci dipenuhi air yang kemudian mengalir ke berbagai sudut lantai, sementara lapisan es menjalar dengan cepat dari lantai ke dinding.

Lemari dapur terbungkus rapat oleh es, pipa air berubah menjadi bagian dari stalaktit es, dan pintu, perabotan, serta peralatan rumah tangga tertimbun lapisan es yang sangat tebal—pada bagian tertentu bahkan mencapai ketebalan setengah meter.

Seluruh genangan air di dalam rumah membeku, membentuk pemandangan yang spektakuler namun juga membuat orang tak tahu harus tertawa atau menangis. Bahkan tangga di luar rumah pun dipenuhi es akibat rembesan air, sehingga tampak seperti sebuah gua es.

Dalam video terlihat anggota keluarga membawa kapak dan sekop besi untuk memecah dan membersihkan es di dalam rumah, dengan pekerjaan yang tampak cukup berat.

Warganet pun ramai-ramai berkomentar dengan nada bercanda:
“Ini bukan sekadar kebocoran air, tapi benar-benar pembekuan aset tetap.”
“Inilah yang namanya ‘rumah dingin’ dalam arti sebenarnya.” (Hui)

Laporan gabungan oleh reporter Luo Tingting / Fan Ming

Asal-Usul Sepatu Kulit

EtIndonesia. Pada zaman yang sangat, sangat lampau, manusia masih berjalan dengan kaki telanjang ke mana-mana.

Suatu hari, seorang raja bepergian melewati sebuah daerah pedesaan terpencil. Jalan di sana sangat kasar dan tidak rata, dipenuhi batu-batu kecil yang tajam, hingga membuat telapak kaki sang raja terasa perih dan mati rasa.

Setelah kembali ke istana, raja mengeluarkan sebuah perintah: semua jalan di dalam negeri harus dilapisi dengan kulit sapi.

Menurutnya, langkah ini bukan hanya demi kenyamanan dirinya sendiri, tetapi juga untuk kesejahteraan rakyat, agar tidak ada lagi yang harus menahan rasa sakit saat berjalan.

Namun kenyataannya, meskipun seluruh sapi di negeri itu disembelih, tetap tidak akan cukup kulit untuk menutupi semua jalan. Belum lagi biaya yang sangat besar serta tenaga manusia yang harus dikerahkan—jumlahnya tak terbayangkan. Perintah itu jelas mustahil dilakukan, bahkan terkesan konyol. Tetapi karena itu adalah titah raja, tak seorang pun berani menentangnya, hanya bisa mengeluh dalam hati.

Di tengah kebuntuan itu, seorang pelayan yang cerdas memberanikan diri memberi nasihat kepada raja : “Paduka Raja, mengapa Anda harus mengerahkan begitu banyak orang, mengorbankan begitu banyak sapi, dan menghabiskan begitu banyak uang? Mengapa tidak memotong dua lembar kecil kulit sapi saja untuk membungkus kaki Anda? Dengan begitu, semua orang pun bisa melakukan hal yang sama.”

Mendengar hal itu, raja sangat terkejut. Dia merenung sejenak, lalu segera mencabut perintah sebelumnya dan menerima usulan sang pelayan.

Sejak saat itulah, di dunia ini lahir benda yang kita kenal sebagai sepatu kulit.

Hikmah cerita:

Mengubah dunia adalah hal yang sangat sulit.  Namun, mengubah diri sendiri jauh lebih mudah.

Daripada berusaha mengubah seluruh dunia, lebih baik kita mulai dengan mengubah diri sendiri. Ketika diri kita berubah, cara kita memandang dunia pun akan ikut berubah.

Ketika hati berubah, sikap akan berubah. Sikap berubah, kebiasaan pun berubah. Kebiasaan berubah, maka hidup pun akan berubah.

Ada satu hal penting yang tidak boleh kita abaikan: semua niat baik lahir dari kasih sayang.

Pelayan itu bukanlah orang yang luar biasa cerdas. Dia hanya memiliki sedikit lebih banyak rasa belas kasih. Ia bukan semata-mata memberi saran demi raja, melainkan demi sapi, dan demi seluruh makhluk hidup di dunia ini.(jhn/yn)