Iran di Titik Kritis: Ancaman Terbuka AS, Mossad Bergerak, Khamenei Disebut Siap Kabur

EtIndonesia. Setelah penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran mengalami eskalasi tajam dan terbuka. Dalam waktu kurang dari 48 jam, Washington secara simultan mengerahkan tekanan politik, diplomatik, psikologis, dan militer, memicu spekulasi luas bahwa krisis Iran telah memasuki titik paling kritis dalam beberapa dekade terakhir.

Para analis menilai pola ini mencerminkan pendekatan baru Amerika Serikat: tidak lagi bersifat simbolik atau terselubung, melainkan langsung dan konfrontatif, dengan target utama kepemimpinan tertinggi Iran.

Ultimatum Berbahasa Persia: “Pergi atau Bernasib Sama”

Pada 4 Januari 2026, Pemerintah Amerika Serikat merilis video resmi berbahasa Persia melalui akun komunikasi Pemerintah AS yang ditujukan langsung kepada publik Iran. Video tersebut menyampaikan ultimatum terbuka kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Isi pesan dalam video tersebut sangat tegas: “Kami memberi Anda waktu untuk melarikan diri. Jika tidak, nasib Anda akan sama seperti Maduro.”

Dalam pernyataan yang menyertai video itu, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth menegaskan bahwa Maduro sebelumnya telah diberi kesempatan untuk mundur secara damai, sebagaimana Iran juga pernah diberikan peluang serupa. Namun, ketika peluang tersebut diabaikan, konsekuensi dianggap tak lagi dapat dihindari.

Pesan tersirat dari Washington sangat jelas: Khamenei diminta segera meninggalkan kekuasaan.

Tekanan Diplomatik ke Negara-Negara Kunci Timur Tengah

Masih pada 4 Januari 2026, seorang sumber diplomatik yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan bahwa Departemen Luar Negeri AS telah mengirimkan pesan darurat melalui jalur diplomatik kepada negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), termasuk Qatar dan Oman, serta kepada Turki.

Presiden AS, Donald Trump disebut secara langsung mendesak negara-negara tersebut untuk menyampaikan peringatan terakhir kepada rezim Khamenei dan para pendukungnya. Pilihan yang disodorkan hanya tiga:

  1. Menyerah,
  2. Menerima jalur keluar yang aman, atau
  3. Menghadapi konsekuensi yang sama seperti Maduro akibat menindas rakyat sendiri.

Langkah ini mempertegas kembali pernyataan Trump dua hari sebelumnya bahwa Amerika Serikat mengklaim berdiri di pihak rakyat Iran, bukan rezim yang menindas mereka.

Opsi Intelijen: Pembukaan Dokumen Rahasia dan Hadiah Penangkapan

Sejumlah laporan keamanan menyebutkan bahwa Washington juga tengah mempertimbangkan langkah lanjutan berupa:

  • pembukaan dokumen intelijen rahasia, serta
  • pemberian hadiah penangkapan internasional

Bagi para pemimpin kelompok bersenjata yang terlibat langsung dalam penindasan demonstrasi di Iran.

Kelompok-kelompok yang disebut secara eksplisit antara lain:

  • milisi Basij elit,
  • Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC),
  • serta jaringan bersenjata pro-Iran lainnya.

Langkah ini dinilai berpotensi mengubah krisis Iran dari tekanan politik menjadi perburuan hukum dan intelijen berskala global.

Pergerakan Militer AS Picu Spekulasi Operasi Besar

Sejak malam 4 Januari 2026, laporan mengenai pergerakan militer besar-besaran AS mulai bermunculan. Data intelijen sumber terbuka (OSINT) menunjukkan bahwa:

  • 12 pesawat angkut strategis C-17 mendarat di Inggris pada malam hari,
  • kemudian bergerak menuju pangkalan militer Amerika Serikat di Jerman.

Pergerakan ini memicu spekulasi luas bahwa Washington sedang menyiapkan operasi militer skala besar, dengan kemungkinan tujuan strategis yang mencakup penggulingan rezim Iran dan penangkapan Khamenei.

Israel Disebut Siap Bergerak: “Operasi Tangan Besi”

Hampir bersamaan dengan eskalasi AS, kabinet keamanan Israel dilaporkan telah menyetujui sebuah operasi militer baru terhadap Iran dengan sandi “Operasi Tangan Besi.”

Sumber-sumber Timur Tengah menyebutkan kemungkinan serangan militer gabungan Amerika Serikat–Israel dalam waktu 72 jam, meskipun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari kedua pemerintah.

“Indikator Pizza Pentagon” Kembali Muncul

Di Washington, sebuah indikator tidak resmi kembali menyedot perhatian publik. Pada malam 4 Januari 2026, pesanan pizza di sekitar kompleks Pentagon dilaporkan melonjak hingga 1.250%.

Sebagai perbandingan, lonjakan pesanan menjelang operasi militer AS di Venezuela sebelumnya tercatat sekitar 700%. Fenomena ini kembali memicu spekulasi bahwa aksi militer besar sedang dalam tahap finalisasi.

Mossad Serukan Pembelotan Aparat Keamanan Iran

Di sisi lain, badan intelijen Israel Mossad merilis pernyataan berbahasa Persia, mengklaim telah menerima laporan bahwa ribuan anggota pasukan keamanan dan milisi Basij memilih membelot karena muak dengan penindasan rezim.

Dalam pernyataannya, Mossad menyampaikan pesan langsung kepada aparat Iran: “Kalian memilih untuk tidak mengarahkan senjata ke rakyat, tetapi berdiri bersama bangsa. Sejarah akan mencatat kalian sebagai pejuang sejati Iran dan pelindung bangsa.”

Khamenei Disebut Siapkan Rencana Kabur ke Moskow

Sebuah laporan intelijen yang dikutip media Inggris The Times menyebutkan bahwa Khamenei tengah menyiapkan rencana pelarian dari Teheran, bersama sekitar 20 orang pembantu dan anggota keluarga, dengan tujuan akhir Moskow.

Pilihan Rusia—bukan Tiongkok—dinilai penuh perhitungan. Di ruang publik global, beredar sindiran tajam mengenai pola jatuhnya para pemimpin yang sebelumnya memiliki kedekatan dengan Beijing, yang oleh warganet dijuluki “Kutukan Jabat Tangan Xi Jinping.”

Beberapa contoh yang kerap disorot antara lain:

  • K.P. Sharma Oli (Nepal) berkunjung ke Tiongkok (Agustus 2025), sepekan kemudian jatuh dari kekuasaan dan kabur ke Dubai.
  • Hamas menandatangani deklarasi dengan PKT (2024), dalam hitungan hari pimpinan utamanya tewas.
  • Sheikh Hasina (Bangladesh) bertemu Xi Jinping (Juli 2024), lalu jatuh dan melarikan diri ke India.
  • Bashar al-Assad membawa keluarga ke Tiongkok (akhir 2024), tak lama kemudian rezimnya runtuh dan ia mengungsi ke Rusia.
  • Nicolás Maduro berkunjung ke Tiongkok (2025), beberapa bulan kemudian ditangkap dan diekstradisi ke Amerika Serikat.

Sindiran yang kini beredar luas di media sosial pun terdengar sangat tajam: “Mengikuti Partai Komunis sama saja berlari menuju krematorium.”

Penutup

Dengan tekanan diplomatik, pergerakan militer, operasi intelijen, dan perang psikologis yang berlangsung bersamaan, situasi Iran pada awal Januari 2026 dinilai telah mencapai titik balik sejarah. Dunia kini menanti apakah krisis ini akan berujung pada perubahan rezim, atau justru memicu konflik militer besar di Timur Tengah.

Gelombang Protes di Iran Memasuki Pekan Kedua, Bentrokan Polisi–Warga Kembali Menyebabkan Korban Jiwa

Gelombang demonstrasi warga Iran yang dipicu oleh melonjaknya biaya hidup kini memasuki pekan kedua. Kelompok pembela hak asasi manusia dan media lokal pada 4 Januari melaporkan bahwa para pengunjuk rasa kembali terlibat bentrokan mematikan dengan pasukan keamanan.

EtIndonesia. Seiring meningkatnya kemarahan atas lonjakan harga, sejak 28 Desember tahun lalu ketika para pedagang di ibu kota Teheran melakukan mogok, gelombang protes telah menyebar ke seluruh negeri. Hingga kini, sedikitnya 12 orang tewas, termasuk anggota pasukan keamanan.

Menurut laporan Reuters, bentrokan keras antara demonstran dan pasukan keamanan pecah di berbagai wilayah. Kelompok pembela HAM pada 4 Januari menyatakan bahwa kerusuhan yang terus berlanjut telah menyebabkan sedikitnya 16 orang meninggal dunia. Reuters menyebutkan bahwa angka-angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Berdasarkan rangkuman pengumuman resmi dan laporan media oleh AFP, gelombang protes ini telah meluas ke 23 dari total 31 provinsi di Iran, dengan sedikitnya 40 kota mengalami demonstrasi dalam berbagai skala, sebagian besar terjadi di kota-kota kecil dan menengah.

Pada 1 Januari 2026, di Hamadan, Iran, selama kerusuhan, puing-puing yang terbakar berserakan di sekitar sebuah tempat sampah yang terbalik di tengah jalan. (Mobina / Middle East Images / AFP via Getty Images
Seorang demonstran mengacungkan tanda kemenangan saat lalu lintas melambat dalam aksi demonstrasi di Hamedan, Iran, pada 1 Januari 2026. Aksi protes ini meletus setelah para pedagang di Grand Bazaar Teheran menutup toko-toko mereka untuk memprotes anjloknya tajam nilai mata uang Iran dan memburuknya kondisi ekonomi. Bentrokan dilaporkan terjadi di beberapa provinsi, dan media Iran serta kelompok pembela HAM menyebutkan bahwa sejumlah orang tewas dalam kekerasan tersebut, menandai gelombang protes terbesar yang melanda Republik Islam itu dalam tiga tahun terakhir. (Foto oleh Mobina / Middle East Images / AFP via Getty Images)

Ini merupakan gelombang demonstrasi terbesar di Iran sejak protes besar pada periode 2022–2023, yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini—seorang perempuan yang ditahan karena diduga melanggar aturan berpakaian perempuan—yang meninggal dalam tahanan. Namun, skala protes kali ini masih belum sebesar peristiwa tersebut, dan jauh lebih kecil dibandingkan aksi massa pada tahun 2009 yang dipicu sengketa hasil pemilu presiden.

Saat ini, protes terutama terkonsentrasi di wilayah barat Iran, yang memiliki populasi etnis Kurdi dan Lur (Lors) dalam jumlah besar.

Kantor berita Human Rights Activists News Agency yang berbasis di Amerika Serikat menyatakan bahwa pada malam hari, aksi-aksi protes dengan massa besar terjadi di Teheran, kota Shiraz di selatan, serta berbagai wilayah di bagian barat, dengan para demonstran meneriakkan slogan-slogan yang mengkritik kepemimpinan ulama Republik Islam Iran.

Gelombang protes ini menjadi tantangan baru bagi Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, yang kini berusia 86 tahun dan telah berkuasa sejak 1989.

Di tengah tekanan yang terus meningkat, pemerintah Presiden Masoud Pezeshkian, melalui juru bicaranya Fatemeh Mohajerani, mengatakan kepada televisi pemerintah pada 4 Januari bahwa pemerintah akan memberikan bantuan tunai kepada warga sebesar sekitar 7 dolar AS per bulan selama empat bulan ke depan. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Penangkapan Nicolas Maduro Tidak Lepas dari Keterlibatan Puerto Rico

EtIndonesia. Ketika pasukan AS menangkap Nicolas Maduro dari Venezuela pada hari Sabtu, Aguadilla dan beberapa pangkalan Puerto Rico lainnya sudah menjadi tempat berlabuh pesawat dan personel yang terlibat dalam operasi tersebut.

Pulau itu, yang berjarak sekitar 800 km dari Venezuela, merupakan pusat peralatan militer Amerika di wilayah tersebut. Bekas pangkalan seperti bandara di Aguadilla dan stasiun angkatan laut di Roosevelt Roads, yang ditutup pada tahun 2004, telah dihidupkan kembali untuk mendukung operasi AS.

Pesawat tempur, drone, dan peralatan militer lainnya dilaporkan telah dikerahkan ke Puerto Rico seiring meningkatnya tekanan terhadap Maduro. Bekas pangkalan Angkatan Udara di Aguadilla dilaporkan menjadi pemberhentian pertama Maduro di tanah Amerika setelah penangkapannya, menurut Politico.

Petunjuknya adalah foto yang dibagikan oleh Presiden AS, Donald Trump yang menunjukkan Maduro yang ditutup matanya dan diborgol sambil memegang sebotol air merek Nikini, yang banyak tersedia di Puerto Rico.

Meskipun pulau itu menjadi pusat angkatan laut AS yang penting selama Perang Dunia II, kehadiran militer menurun setelah Perang Dingin. Protes menghentikan latihan pengeboman Angkatan Laut di Vieques pada tahun 2001, dan pangkalan seperti Roosevelt Roads ditutup.

Di bawah pemerintahan Trump, jet tempur F-35 dikirim ke Puerto Rico pada bulan September, dan pasukan angkatan laut AS, termasuk kapal perusak dan kapal serbu amfibi, dikerahkan di dekat Venezuela.

Secara historis, Puerto Rico telah menjadi bagian utama dari strategi pertahanan AS di Karibia. AS juga mengandalkannya untuk melindungi Terusan Panama dan mengklaim keunggulan regional. Sekali lagi, pulau ini berfungsi sebagai pusat strategi militer dan geopolitik AS di Amerika Latin.

Operasi penangkapan pemimpin Venezuela tersebut menyusul aktivitas militer AS selama berbulan-bulan di wilayah tersebut. Mulai September 2025 dan seterusnya, setidaknya ada 35 serangan terhadap kapal-kapal yang dituduh AS membawa narkoba dari Venezuela, yang mengakibatkan lebih dari 100 kematian.

AS mengerahkan kapal perang, pesawat terbang, dan sekitar 12.000 tentara di Karibia di bawah Operasi Southern Spear. Sebuah kapal selam Angkatan Laut dengan rudal jelajah juga beroperasi di dekat Amerika Selatan.(yn)

Gempa Bumi Berkekuatan Magnitudo 6,2  Melanda Jepang Barat

EtIndonesia. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,2 melanda wilayah Chugoku barat Jepang pada hari Selasa (6/1), menurut Badan Meteorologi Jepang, diikuti oleh serangkaian gempa susulan yang cukup besar.

Pusat gempa pertama berada di prefektur Shimane timur, kata badan tersebut, menambahkan bahwa tidak ada bahaya tsunami. Chugoku Electric Power mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Shimane, sekitar 32 km (20 mil) jauhnya.

Otoritas Regulasi Nuklir Jepang mengatakan tidak ada penyimpangan di pembangkit tersebut.

Seorang juru bicara mengatakan perusahaan listrik sedang memeriksa dampak apa pun pada unit No. 2 pembangkit, yang telah beroperasi sejak Desember 2024 setelah ditutup menyusul bencana Maret 2011 di Fukushima.

Gempa bumi sering terjadi di Jepang, salah satu wilayah paling aktif secara seismik di dunia.(yn)

Biaya Hidup 100 Yuan

EtIndonesia. Seorang pria tua memiliki seorang anak laki-laki. Anak itu tidak suka belajar, tidak mau bekerja, tetapi setiap hari hanya pandai mengeluh. Dia terus menyalahkan ayahnya karena dianggap tidak punya kemampuan dan tidak mampu mewariskan harta yang cukup untuknya.

Suatu hari, sang ayah berkata kepada anaknya :  “Aku harus pergi ke luar kota untuk mengurus suatu urusan. Ini ada 100 yuan untuk biaya hidupmu.”

Anak itu menerima uang seratus yuan tersebut tanpa bertanya sedikit pun berapa lama ayahnya akan pergi. Setelah sang ayah berangkat, tak butuh waktu lama baginya untuk menghabiskan seluruh uang itu. Dia sama sekali tidak memikirkan bagaimana dia akan bertahan hidup di hari-hari berikutnya, apalagi kemungkinan harus menahan lapar sambil menunggu ayahnya pulang.

Tiga hari kemudian, sang ayah kembali. Dia terkejut melihat anaknya terbaring lemas di tempat tidur, nyaris tak bertenaga. 

Dengan heran dia bertanya :  “Bukankah aku sudah memberimu seratus yuan untuk membeli makanan?”

Dengan wajah penuh keluhan, sang anak menjawab: “Seratus yuan itu terlalu sedikit. Sekali belanja, langsung habis.”

Mendengar itu, sang ayah berkata dengan nada penuh makna : “Uang yang kuberikan padamu sebenarnya cukup untuk tiga hari, tetapi kamu menghabiskannya dalam sekejap. Kalau begitu, sekalipun aku meninggalkan harta yang sangat banyak untukmu, semuanya juga akan segera kau sia-siakan. Jika kamu tidak mau mengandalkan usaha dan kerja kerasmu sendiri, pada akhirnya kamu tetap akan kelaparan.”

Sang anak memegang perutnya yang kempis karena lapar, wajahnya memerah karena malu.(jhn/yn)

Militer AS Menewaskan Sebagian Besar Pengawal Maduro, 32 Orang Berasal dari Kuba

Pemerintah Kuba pada 5 Januari mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa dalam proses penangkapan Nicolás Maduro oleh militer Amerika Serikat, sebanyak 32 warga Kuba tewas. Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino López, sebelumnya juga mengkonfirmasi bahwa para pengawal Maduro telah tewas dalam serangan mendadak militer AS.

EtIndonesia. Media resmi Kuba Granma melaporkan bahwa selama operasi Amerika Serikat untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro, total 32 warga Kuba meninggal dunia. Disebutkan bahwa mereka tewas setelah melakukan “perlawanan sengit” terhadap pasukan militer AS.

Pada  3 Januari dini hari waktu Pantai Timur AS, Amerika Serikat mengerahkan pasukan khusus untuk melancarkan serangan mendadak ke ibu kota Venezuela, Caracas, dan berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya, lalu membawa mereka ke Amerika Serikat untuk diadili.

Menteri Pertahanan Venezuela, Padrino López, dalam pidato televisi pada 4 Januari mengungkapkan bahwa dalam operasi serangan militer AS tersebut, sebagian besar personel keamanan Maduro ditembak mati. Namun, ia tidak merinci jumlah korban tewas maupun luka.

Pernyataan López tersebut membenarkan klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Trump, dalam wawancara dengan New York Post pada 3 Januari, mengatakan bahwa ketika militer AS menyerang Venezuela dan menangkap Maduro, banyak warga Kuba yang bertugas melindungi Maduro tewas.

Trump menyatakan, “Kuba selama ini sangat bergantung pada Venezuela. Uang mereka berasal dari Venezuela, dan mereka juga melindungi Venezuela. Namun kali ini, perlindungan itu tidak terlalu berhasil (maksudnya gagal mempertahankan Maduro).”  (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Minyak, Pemilu, dan Penguasa: Trump Mengungkap Rencananya untuk Masa Depan Venezuela

EtIndonesia. Presiden AS, Donald Trump mengatakan Amerika Serikat tidak sedang berperang dengan Venezuela dan tidak akan mendorong pemilu di sana dalam waktu dekat, beberapa hari setelah pasukan AS menangkap presiden yang kini telah digulingkan, Nicolas Maduro, dalam serangan militer. Trump berpendapat bahwa negara Amerika Selatan itu harus terlebih dahulu distabilkan dan infrastrukturnya dibangun kembali setelah penangkapan Maduro.

Berbicara kepada NBC News, Trump mengatakan kondisi di lapangan membuat pemungutan suara di Venezuela tidak realistis dalam 30 hari ke depan.

“Kita harus memperbaiki negara itu terlebih dahulu. Anda tidak dapat mengadakan pemilu jika orang bahkan tidak dapat memilih,” kata Trump.

Proposal Dana Minyak

Dia mengklaim Washington akan fokus pada pemulihan ketertiban dasar dan pembangunan kembali ekonomi di negara itu terlebih dahulu, dan “perusahaan minyak AS” dapat memainkan peran sentral dalam membangun kembali infrastruktur energi Venezuela.

“Kita harus memulihkan kesehatan negara itu,” katanya, menambahkan bahwa transisi tersebut dapat memakan waktu kurang dari 18 bulan. Trump mengatakan Amerika Serikat mungkin akan mensubsidi sebagian dari upaya tersebut, tetapi menegaskan bahwa perusahaan minyak pada akhirnya akan menanggung biaya dan memulihkan investasi mereka.

“Sejumlah besar uang harus dikeluarkan, dan perusahaan minyak akan mengeluarkannya, dan kemudian mereka akan mendapatkan penggantian dari kita atau melalui pendapatan,” kata Trump.

Tidak Sedang Berperang

Pemimpin Partai Republik itu menolak klaim bahwa Amerika Serikat terlibat dalam perang dengan Venezuela.

“Tidak,” katanya. “Kita sedang berperang dengan orang-orang yang menjual narkoba. Kita sedang berperang dengan orang-orang yang mengosongkan penjara mereka ke negara kita dan mengosongkan pecandu narkoba mereka dan mengosongkan lembaga kejiwaan mereka ke negara kita.”

Dia mengatakan tanggung jawab atas keruntuhan Venezuela terletak pada kepemimpinannya, yang dia tuduh mengekspor kejahatan dan ketidakstabilan.

Maduro ditangkap selama penggerebekan AS di Caracas dan kemudian diadili di New York atas tuduhan termasuk konspirasi terorisme narkoba dan konspirasi impor kokain. Trump mengatakan Presiden sementara Delcy Rodriguez telah bekerja sama dengan pejabat AS tetapi membantah adanya komunikasi antara Washington dan kubu Rodriguez sebelum penggulingan Maduro.

“Tidak, bukan begitu,” kata Trump, menambahkan bahwa keputusan akan segera dibuat mengenai apakah sanksi terhadap Rodríguez akan tetap berlaku.

Trump “Bertanggung Jawab” Atas Venezuela

Ketika ditanya siapa yang pada akhirnya bertanggung jawab atas Venezuela, Trump memberikan jawaban satu kata: “Saya.”

Trump mengatakan Menteri Luar Negeri Marco Rubio telah sangat terlibat dalam komunikasi dengan kepemimpinan Venezuela, mencatat bahwa Rubio “berbicara dengannya dengan lancar dalam bahasa Spanyol” dan bahwa “hubungan mereka sangat kuat.” Dia juga mengatakan Amerika Serikat siap untuk melancarkan serangan militer kedua jika kerja sama gagal, meskipun dia mengatakan dia tidak percaya itu akan diperlukan.

“Kami siap melakukannya,” katanya. “Sebenarnya kami mengantisipasinya.”

Trump menepis kritik bahwa dia gagal meminta persetujuan kongres untuk operasi tersebut, mengatakan para anggota parlemen mengetahui tindakan AS.

“Kami mendapat dukungan yang baik di Kongres,” katanya, menolak untuk menjelaskan lebih lanjut tentang siapa yang mengetahui apa dan kapan.

Tembakan Dilepaskan di Dekat Istana Kepresidenan Venezuela

Tembakan dilepaskan pada Senin malam di dekat istana kepresidenan Venezuela. Mengutip sebuah sumber, kantor berita AFP melaporkan bahwa situasi telah terkendali.

Sebuah video yang diunggah di media sosial menunjukkan apa yang tampak seperti peluru penjejak yang ditembakkan ke langit. Video tersebut menunjukkan banyak anggota pasukan keamanan bergegas ke istana setelah tembakan.

Drone tak dikenal terbang di atas Istana Miraflores di pusat Caracas, dan pasukan keamanan melepaskan tembakan sebagai respons sekitar pukul 20.00 (0000 GMT), kata sumber tersebut, beberapa jam setelah wakil Maduro, Delcy Rodriguez, dilantik sebagai presiden sementara.

Rentetan tembakan terdengar, tetapi tidak sekuat serangan sebelum subuh pada hari Sabtu yang menggulingkan Maduro, menurut seseorang yang tinggal lima blok dari istana, yang mengatakan insiden itu berlangsung sekitar satu menit.

“Hal pertama yang terlintas di pikiran saya adalah melihat apakah ada pesawat yang terbang di atas, tetapi tidak ada. Saya hanya melihat dua lampu merah di langit,” kata warga yang tinggal di dekat istana tersebut dengan syarat anonim.

“Semua orang melihat ke luar jendela mereka untuk melihat apakah ada pesawat, untuk melihat apa yang sedang terjadi.”(yn)

Video: Mantan Presiden Venezuela Maduro Terpincang-pincang Menuju Gedung Pengadilan

EtIndonesia. Segala hal tentang operasi Amerika Serikat di Venezuela, mulai dari penangkapan Presiden Nicolas Maduro hingga prosesi penangkapan dan momen mengenakan pakaian olahraga abu-abu yang kini viral, telah menyebar luas di media sosial. Hal yang sama juga terjadi pada perjalanannya ke gedung pengadilan New York untuk penampilan pertamanya.

Cuplikan yang menunjukkan pergerakan Maduro di New York menjelang penampilan pertamanya di pengadilan telah beredar di internet.

Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dikawal dari helikopter ke kendaraan yang menunggu sebelum dibawa ke gedung pengadilan federal di Manhattan. Sebuah video menunjukkan Maduro diborgol saat dia turun dari kendaraan lapis baja dan bergerak perlahan menuju kendaraan lain.

Dalam rekaman tersebut, Maduro tampak terpincang-pincang. Dia mengenakan celana panjang krem, jaket khaki, dan sepatu oranye terang, dan dikelilingi oleh petugas penegak hukum bersenjata lengkap.

Video lain menunjukkan dia naik ke helikopter. Dia diangkut ke gedung pengadilan dengan kendaraan lapis baja setelah penerbangan.

Iring-iringan kendaraan yang membawa Maduro meninggalkan penjara sekitar pukul 07:15 pagi dan menuju ke lapangan atletik terdekat. Dari sana, Maduro naik helikopter. Helikopter tersebut melintasi pelabuhan New York dan mendarat di helipad Manhattan. Maduro kemudian dimasukkan ke dalam kendaraan lapis baja. Beberapa menit kemudian, konvoi penegak hukum memasuki garasi di kompleks gedung pengadilan.

Maduro Mengaku ‘Tidak Bersalah’ dalam Sidang Pertama

Pada sidang pertamanya, mantan pemimpin Venezuela itu mengaku “tidak bersalah” atas keempat tuduhan terhadapnya. Tuduhan tersebut termasuk konspirasi terorisme narkoba, konspirasi impor kokain, dan kepemilikan senapan mesin dan alat peledak.

Ketika ditanya tentang pembelaannya, Maduro berkata: “Saya tidak bersalah. Saya tidak bersalah. Saya orang yang baik.”

Dia menambahkan: “Saya masih presiden negara saya.”

Ketika diminta untuk memperkenalkan diri, Maduro berbicara dalam bahasa Spanyol, menyebut dirinya presiden Republik Venezuela dan mengatakan bahwa fia berada di sana “diculik.” Sidang selanjutnya dijadwalkan pada 17 Maret.

Catatan pengadilan federal menunjukkan bahwa Maduro telah menyewa pengacara Barry Joel Pollack, yang terkenal karena mewakili pendiri WikiLeaks, Julian Assange.

Maduro, 63 tahun, dan istrinya ditangkap oleh pasukan komando AS pada hari Sabtu selama operasi militer gabungan yang mengejutkan.(yn)

Sebuah Kisah Klasik

EtIndonesia. Lebih dari seratus tahun yang lalu, di Belgia, hiduplah seorang tukang kayu muda bernama Adolphe Sax (nama lengkapnya Antoine-Joseph Adolphe Sax). Fakta bahwa dia bisa bertahan hidup hingga dewasa saja sudah merupakan sebuah keajaiban.

Sejak kecil, hidupnya berkali-kali berada di ambang maut: dia pernah menelan jarum jahit, tanpa sengaja meminum asam sulfat, kepalanya pernah dihantam batu bata, jatuh dari lantai atas bangunan, bahkan pernah terjatuh ke atas tungku api yang baru saja padam. Namun semua musibah itu tidak menghentikannya. Pada usia 21 tahun, dia berhasil menciptakan sebuah alat musik yang sangat unik.

Alat musik itu memiliki corong tiup seperti klarinet, tabung berbentuk kerucut parabola, dan badan logam dengan tombol-tombol layaknya organ. Sebuah rancangan yang belum pernah ada sebelumnya.

Pada awalnya, Adolphe ingin memperkenalkan alat musik ciptaannya ke pusat otoritas musik dunia saat itu—lingkaran musik Paris. Namun sekeras apa pun usahanya, tidak satu pun pembuat alat musik Prancis memandang serius pemuda Belgia yang tak dikenal ini. Para tokoh musik Prancis lebih memilih alat musik yang sudah akrab bagi mereka.

Sembilan tahun berlalu begitu saja. Impiannya tak kunjung terwujud, dan Adolphe tetap hanyalah seorang tukang kayu tanpa nama.

Hingga akhirnya, kesempatan datang.

Seorang komponis memperjuangkan agar Adolphe mendapat kesempatan tampil di sebuah konser musik di Paris, bahkan secara khusus menuliskan sebuah karya untuknya. Namun, di tengah perjalanan menuju tempat pertunjukan, musibah kembali menimpa—alat musik Adolphe terjatuh dari kereta kuda dan terbelah menjadi dua.

Kita bisa membayangkan betapa hancur perasaan Adolphe saat itu. Namun dia tidak pulang. Dia justru naik ke atas panggung sambil membawa alat musik yang rusak. Saat bermain, kedua tangannya tak boleh lepas sedikit pun—jika tidak, bagian pipa logamnya akan terjatuh. Karena itu, dia tak bisa membalik lembaran partitur dan hanya mengandalkan ingatan.

Beberapa kali, karena gugup, dia lupa bagian lagu. Maka dia memilih meniup satu nada panjang, terus berlanjut, sampai ingat kembali bagian berikutnya, lalu melanjutkan permainan.

Para penonton Prancis belum pernah mendengar suara musik yang begitu lembut, indah, dan menggugah jiwa. Seketika, mereka jatuh cinta pada alat musik tersebut. Setelah pertunjukan berakhir, Adolphe naik turun panggung hingga lima kali untuk memberi hormat, sementara tepuk tangan penonton tak kunjung reda.

Sejak saat itu, alat musik dengan suara khas ini langsung menjadi primadona di dunia musik Paris. Sebuah orkestra yang menggunakannya bahkan dengan mudah memenangkan kompetisi musik. Pemerintah Prancis kemudian menetapkannya sebagai alat musik wajib dalam band militer.

Apakah alat musik itu?

Itulah saksofon, alat musik yang kini dikenal di seluruh dunia—dinamai langsung dari nama penciptanya, Sax. Saksofon memiliki pesona luar biasa dan kekuatan ekspresi yang mampu menyaingi alat musik apa pun.

Bahkan Bill Clinton, mantan Presiden Amerika Serikat, pernah menjadi pemain saksofon utama dalam band tiup negara bagian Arkansas. Beberapa tahun lalu, media masih menjulukinya sebagai “saksofonis yang tak pernah menua”.

Jika keberhasilan Adolphe Sax diibaratkan sebagai sebuah buah yang matang, maka semua penderitaan, rintangan, dan kejadian tak terduga sebelumnya hanyalah bunga kecil, daun hijau, dan ranting yang menopangnya. Justru karena adanya semua cobaan itulah, keberhasilan itu tampak begitu cemerlang dan memikat.

 

Kisah Thomas Edison Menemukan Lampu Listrik

EtIndonesia. Thomas Alva Edison mulai melakukan percobaan reformasi lampu busur pada tahun 1877. Dia mengajukan gagasan untuk membagi arus listrik dan mengubah lampu busur menjadi lampu cahaya putih. Agar percobaan ini berhasil secara ideal, dia harus menemukan suatu bahan yang dapat dipanaskan hingga berpijar sebagai filamen lampu.

Filamen tersebut harus mampu bertahan pada suhu sekitar 2.000 derajat Celsius dan menyala terus-menerus selama lebih dari 1.000 jam. Selain itu, lampu harus mudah digunakan, cukup kuat untuk pemakaian sehari-hari, berharga terjangkau, dan yang terpenting—nyala atau padamnya satu lampu tidak boleh memengaruhi lampu lain, sehingga setiap lampu tetap berdiri secara mandiri.

Gagasan ini pada masa itu tergolong sangat berani dan membutuhkan kerja keras luar biasa untuk meneliti dan mengujinya.

Dalam memilih bahan filamen, Edison mula-mula mencoba berbagai bahan karbon, tetapi gagal. Dia lalu beralih ke logam—menggunakan paduan platina dan iridium yang bertitik leleh tinggi. Dia juga menguji lebih dari 1.600 jenis mineral dan bijih, namun semuanya berakhir dengan kegagalan.

Meski begitu, Edison dan para asistennya telah memperoleh kemajuan penting: mereka menyadari bahwa filamen pijar harus disegel di dalam bola kaca dengan tingkat vakum tinggi, agar tidak mudah terbakar. Dari pemahaman ini, Edison kembali meneliti filamen berbahan karbon.

Dia bekerja siang dan malam hingga paruh pertama tahun 1880, namun percobaan lampu pijarnya masih belum menunjukkan hasil. Suatu hari, dia merobek kipas daun pisang di laboratoriumnya, mengambil serat bambu yang terikat di pinggirnya, memotongnya menjadi benang halus, lalu memfokuskan seluruh perhatiannya pada proses karbonisasi.

Hanya dari bahan tumbuhan saja, dia melakukan lebih dari 6.000 percobaan karbonisasi. Catatan eksperimennya mencapai lebih dari 200 buku, dengan total lebih dari 40.000 halaman, yang ditulis selama tiga tahun berturut-turut.

Edison bekerja 18–19 jam setiap hari. Pada dini hari sekitar pukul tiga atau empat pagi, dia baru bisa tidur—kepalanya bertumpu pada dua atau tiga buku, berbaring di bawah meja laboratorium. Kadang-kadang, dalam satu hari dia tertidur di bangku tiga atau empat kali, setiap kali hanya sekitar 30 menit.

Hingga paruh pertama tahun 1880, percobaan lampu pijarnya tetap belum berhasil, bahkan para asistennya mulai kehilangan semangat. Namun suatu hari, Edison kembali mencoba serat bambu yang telah dikarbonisasi sebagai filamen. Kali ini, hasilnya jauh lebih baik dibanding semua percobaan sebelumnya.

Inilah lampu pijar pertama ciptaan Edison—lampu filamen bambu. Jenis lampu ini digunakan selama bertahun-tahun, hingga akhirnya pada tahun 1908, filamen bambu digantikan oleh filamen tungsten.

Setelah itu, Edison melanjutkan penelitian baterai alkaline yang digunakan sebagai sumber tenaga. Penelitian ini pun sangat sulit. Bersama beberapa asisten terpilih, dia meneliti selama hampir sepuluh tahun, melewati tak terhitung kegagalan dan kesulitan. Berkali-kali dia merasa hampir mencapai tujuan, lalu menyadari bahwa dia masih keliru. Namun Edison tidak pernah menyerah—dia selalu memulai kembali dari awal.

Setelah sekitar 50.000 kali percobaan dan menulis lebih dari 150 buku catatan eksperimen, barulah dia mencapai keberhasilan.

Sebagaimana diketahui, Thomas Edison adalah seorang penemu besar. Sepanjang hidupnya, dia memperoleh 1.093 paten penemuan, menjadikannya individu dengan jumlah paten terbanyak sejak sistem paten diberlakukan. 

Ucapannya yang terkenal : “Genius adalah 99 persen kerja keras dan 1 persen inspirasi,”
telah menjadi semboyan yang mendorong banyak orang untuk tekun dan gigih.

Tak dapat disangkal, kontribusi Edison mengubah wajah kehidupan manusia. Dari sekian banyak penemuannya, dia menganggap lampu listrik sebagai yang paling penting, meskipun penemuan yang paling dia cintai sebenarnya adalah fonograf.

Lampu listrik merupakan salah satu penemuan terbesar manusia dalam menaklukkan kegelapan. Sebelum abad ke-19, manusia menggunakan lampu minyak dan lilin sebagai sumber penerangan. Menjelang lahirnya lampu listrik, lampu minyak tanah dan lampu gas menjadi alat penerangan utama. Meski mampu menerangi malam, alat-alat ini belum sepenuhnya membebaskan manusia dari keterbatasan waktu.

Barulah dengan lahirnya generator listrik, manusia dapat menggunakan berbagai jenis lampu listrik untuk menerangi dunia, mengubah malam menjadi siang, memperluas ruang gerak aktivitas manusia, dan memperoleh lebih banyak waktu untuk menciptakan nilai bagi masyarakat.

Edison dikenal sebagai pribadi yang luar biasa rajin dan gemar bereksperimen. Dia sangat tertarik pada bidang kelistrikan. Sejak Michael Faraday menemukan motor listrik, Edison bertekad menciptakan lampu listrik yang dapat membawa cahaya bagi umat manusia.

Lampu filamen karbon ciptaan Edison jauh lebih praktis dibanding lampu busur listrik sebelumnya. Kehadirannya menandai awal resmi era penggunaan lampu listrik oleh manusia. Namun, lampu filamen karbon masih memiliki kelemahan—cahayanya kurang terang, proses pembuatan filamennya rumit, dan usia pakainya relatif singkat. Karena itu, para ilmuwan di berbagai negara terus berupaya menyempurnakan lampu pijar.

Tiga puluh tahun setelah lampu filamen karbon lahir, pada tahun 1909, insinyur William Coolidge dari General Electric menemukan lampu dengan filamen tungsten. Lampu ini merupakan kemajuan besar dibanding lampu karbon. Namun, karena tungsten mudah menjadi rapuh saat dialiri listrik, umur pakainya pun masih menghadapi keterbatasan.`(jhn/yn)

Persaingan AS-Tiongkok di Belahan Bumi Barat: Argentina Menghentikan Proyek Kerja Sama dengan Argentina

Argentina baru-baru ini menghentikan rencana kerja sama dengan Tiongkok untuk membangun teleskop radio satu-piring terbesar di Amerika Latin (CART). Langkah ini dipandang sebagai contoh terbaru dari persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok di Belahan Bumi Barat.

EtIndonesia. Presiden Argentina Javier Milei baru-baru ini menghentikan proyek kerja sama dengan Tiongkok untuk membangun teleskop radio satu-piring terbesar di Amerika Latin (CART). 

Proyek ini merupakan kerja sama besar antara Argentina dan Tiongkok, di mana Argentina menyediakan lokasi, sementara Tiongkok menyediakan pendanaan dan teknologi, dengan total investasi sekitar 24 juta dolar AS. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump sebelumnya mempertanyakan potensi penggunaan militer dari proyek tersebut, serta menyatakan kekhawatiran bahwa teknologi terkait dapat dialihkan untuk kegiatan pengawasan.

Langkah ini dianggap sebagai perkembangan terbaru dalam persaingan AS–Tiongkok di Belahan Bumi Barat. Amerika Serikat berencana memberikan fasilitas pertukaran mata uang (currency swap) senilai 20 miliar dolar AS kepada Argentina, sementara pemerintah Argentina secara diplomatik menyesuaikan diri dengan AS untuk menyingkirkan pengaruh Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Hal ini juga mencerminkan strategi keamanan nasional baru Amerika Serikat yang dirilis pada 4 Desember 2025, yang melalui apa yang disebut sebagai “Korelasi Trump” yang mana  berupaya menghidupkan kembali Doktrin Monroe, memperkuat keunggulan AS di Belahan Bumi Barat. Tujuan utamanya adalah menangani masalah imigrasi dan narkoba, serta membendung pengaruh PKT dan kekuatan lain di Amerika Latin.

 “Strategi Amerika Serikat menekankan prinsip bahwa Belahan Bumi Barat tidak boleh diintervensi oleh kekuatan asing. Dalam prinsip ini, yang dimaksud jelas adalah Tiongkok dan Rusia,” kata Wakil Profesor Huang Fu-juan dari Departemen Ekonomi Politik Global Universitas Tamkang .

“Cara Tiongkok masuk ke Amerika Latin adalah dengan membentuk sebuah forum komunitas Tiongkok–Amerika Latin yang melibatkan 33 negara Amerika Latin secara langsung, untuk menyingkirkan Amerika Serikat. Mereka tidak ingin melakukannya secara terang-terangan, sehingga menyebutnya sekadar forum, tetapi pada kenyataannya forum itu mengurusi hampir semua hal,” tambahnya. 

Para akademisi menunjukkan bahwa setidaknya dalam 15 tahun terakhir, PKT sangat mementingkan pengelolaan strategis di Amerika Latin. Tujuannya adalah mempererat hubungan dengan negara-negara Amerika Latin untuk menekan hubungan diplomatik Taiwan di kawasan tersebut, sekaligus mencari pasar bagi produk industri Tiongkok dan mengimpor produk pertanian dari Amerika Latin. Namun, tujuan-tujuan ini mulai berubah sejak masa jabatan pertama Trump.

 “Amerika Serikat menyadari bahwa Amerika Latin, yang sebelumnya merupakan mitra yang dapat diandalkan, ternyata tidak lagi sepenuhnya dapat diandalkan. Karena kemudahan transportasi darat, kawasan ini menjadi jalur masuk berbagai narkoba baru, terutama fentanil,” kata Wakil Dekan Fakultas Bisnis Universitas Loyola Maryland, Ding Hongbin.

“Ditambah lagi, selama 20 tahun terakhir, masalah imigrasi dari Amerika Latin semakin menjadi beban bagi AS, sehingga diperlukan langkah-langkah yang lebih tegas. Dalam masa jabatan kedua Trump, pemerintah AS dengan jelas kembali menempatkan Amerika Latin sebagai inti kebijakan luar negerinya,” tambahnya. 

Ding Hongbin menambahkan bahwa langkah-langkah ini pada dasarnya merupakan tindakan balasan Amerika Serikat terhadap upaya PKT selama lebih dari dua dekade terakhir.

Mengikuti langkah Amerika Serikat, PKT pada 10 Desember 2025 merilis dokumen kebijakan ketiganya berjudul “Kebijakan terhadap Amerika Latin dan Karibia”, yang menekankan pembangunan pola baru hubungan Tiongkok–Amerika Latin yang bersifat “lima-dalam-satu”, serta secara eksplisit menyatakan akan membagikan apa yang disebut sebagai model modernisasi PKT. Tujuan untuk menghadapi Amerika Serikat terlihat sangat jelas.

 “Kita melihat dokumen putih ketiga ini seperti respons Tiongkok karena Amerika Serikat mulai bereaksi keras. Tiongkok juga ingin menyampaikan kepada para mitranya di Amerika Latin bahwa kerja sama harus terus berlanjut, bahkan diperkuat lebih jauh,” kata Hongbin. 

Huang Fu-juan menilai:  “Kecemasan PKT mungkin terletak pada ketidakmampuannya mengendalikan negara-negara Amerika Latin. Mereka tahu bahwa kawasan ini sejak lama merupakan ‘halaman belakang’ Amerika Serikat. Ketika AS mengabaikan kawasan tersebut, negara-negara Amerika Latin merasa memiliki ruang gerak yang besar, dan kekuatan kiri pun bangkit. Namun, karena pemerintahan kiri sering gagal dalam tata kelola dan distribusi, setelah gelombang kiri meredup, kubu kanan kembali berkuasa. Kebangkitan kanan ini kebetulan sejalan dengan ideologi Amerika Serikat.”

Tahun lalu, karena kekurangan dana, Argentina juga menghentikan dua proyek pembangkit listrik tenaga air yang telah dikerjakan perusahaan Tiongkok selama sepuluh tahun di Provinsi Santa Cruz. 

Panama tahun ini keluar dari prakarsa “Belt and Road”. Meskipun transaksi pelabuhan Terusan Panama belum memiliki kesimpulan akhir, campur tangan dan ambisi PKT telah terungkap. Sementara itu, sekutu lama PKT, pemerintah Nicolás Maduro di Venezuela, kini menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari pemerintahan Trump.

 “Sejauh ini, saya belum melihat pemerintah Tiongkok benar-benar mampu membuat Amerika Latin berpihak kepadanya ketika negara-negara di kawasan ini harus memilih. Sampai saat ini, saya tidak melihat banyak negara Amerika Latin yang bersedia berdiri di pihak Tiongkok, kecuali segelintir kasus yang sangat terbatas, seperti Venezuela. Namun ini tidak berarti Tiongkok tidak akan terus berupaya di masa depan untuk melemahkan pengaruh Amerika Serikat di kawasan ini,” ujar Ding Hongbin. 

Ding Hongbin menambahkan bahwa ke depan, Amerika Serikat akan berupaya semaksimal mungkin untuk mencegah PKT memperluas pengaruhnya di Amerika Latin, serta mewaspadai aktivitas spionase dan infiltrasi yang tersembunyi di balik berbagai kegiatan tersebut. (Hui)

Shang Yan/Yi Ru, Fei Zhen/Gao Yu

Maduro Ditangkap Hidup-hidup, Dukungan Militer Partai Komunis Tiongkok Terbukti Gagal Total

Pada 3 Januari 2026, militer Amerika Serikat melancarkan operasi militer kilat terhadap Venezuela dan berhasil menangkap Nicolás Maduro. Operasi tersebut mencakup serangan udara, perang elektronik, hingga penyusupan pasukan khusus, yang mana seluruhnya berlangsung cepat dan sangat presisi. 

Sementara itu, sistem pertahanan udara yang selama ini dipromosikan secara besar-besaran oleh Venezuela hampir tidak berfungsi sama sekali. Yang lebih ironis, hanya beberapa jam sebelum penangkapan, Partai Komunis Tiongkok (PKT) baru saja mengirim delegasi untuk secara terbuka menyatakan dukungan kepada Maduro—dan kini dukungan itu langsung terbukti sia-sia.

EtIndonesia. Saat ini Nicolás Maduro ditahan di Metropolitan Detention Center (MDC) Brooklyn, dan dijadwalkan akan menjalani sidang perdana di Pengadilan Federal Distrik Selatan New York pada 5 Januari 2026. 

Sebelumnya, akun resmi Gedung Putih merilis sebuah video yang memperlihatkan Maduro mengenakan jaket hitam, berjalan perlahan menyusuri lorong berkarpet biru di bawah pengawalan petugas Badan Penegakan Narkoba AS (DEA). Keterangan video tersebut menyebut adegan itu sebagai “perp walk” (arak-arakan tersangka).

Dalam konferensi pers di Mar-a-Lago pada hari yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkap sebagian detail penangkapan Maduro. Ia mengatakan bahwa saat itu Maduro sempat berlari menuju pintu ruang rahasia, namun “belum sempat menutup pintu, ia sudah berhasil dilumpuhkan.” Peralatan pembobolan dan pemotongan yang dibawa militer AS “bahkan tidak sempat digunakan”.

Opini publik pun ramai membahas fakta bahwa hanya beberapa jam sebelum ditangkap hidup-hidup, Maduro dengan penuh publisitas menerima kunjungan utusan khusus PKT, Qiu Xiaoqi, yang datang untuk memberikan dukungan. 

Ketika Maduro ditangkap, delegasi Tiongkok bahkan masih berada di Venezuela. Selain itu, Venezuela sebelumnya juga gencar mempromosikan sistem pertahanan udara buatan Tiongkok, seperti radar gelombang meter JY-27 dan radar tiga koordinat JYL-1, yang diklaim mampu mengunci pesawat siluman AS F-22 dan F-35. 

Namun dalam pertempuran nyata, sistem-sistem tersebut praktis tidak berguna. Peralatan berat buatan Tiongkok di darat pun berubah menjadi sasaran empuk bagi militer AS.

Banyak warganet juga menggali kembali sebuah video lama Maduro, di mana ia secara terbuka memuji pemimpin PKT Xi Jinping karena memberinya sebuah ponsel Huawei, yang menurutnya dapat mencegah penyadapan dan pelacakan, sehingga Amerika Serikat tidak akan bisa menemukan dirinya.

Warganet pun menyindir: apakah keberhasilan militer AS melacak dan menangkap Maduro justru disebabkan oleh ponsel Huawei tersebut? (Hui)

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Rong Yu, dan reporter magang Ning Xiu.

Seiring Meningkatnya Aksi Protes di Iran, Beredar Khamenei Berencana Melarikan Diri ke Moskow

Menurut informasi intelijen yang diperoleh surat kabar Inggris The Times, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei telah menyiapkan rencana darurat: jika gejolak di Iran semakin parah, ia akan melarikan diri ke Moskow.

EtIndonesia. Laporan The Times tertanggal 4 Januari mengutip sebuah laporan intelijen yang menyebutkan bahwa Khamenei yang kini berusia 86 tahun telah menyusun rencana pelarian cadangan. Jika pasukan keamanannya tidak mampu menghentikan gelombang demonstrasi yang kian membesar, atau jika mereka berbalik meninggalkannya di tengah kekacauan, Khamenei akan meninggalkan Teheran bersama lebih dari 20 orang kepercayaannya serta anggota keluarganya.

Seorang sumber intelijen mengatakan: “Rencana ‘B’ ini disiapkan untuk Khamenei beserta para mitra yang sangat dekat dengannya dan keluarganya, termasuk putranya sekaligus penerus yang telah ditunjuk, Mojtaba.”

Beni Sabti, seorang analis yang bertahun-tahun lalu melarikan diri dari Iran dan kini bekerja untuk badan intelijen Israel, mengatakan bahwa Khamenei kemungkinan akan melarikan diri ke Moskow karena “ia tidak punya tempat lain untuk dituju.” Ia juga menyebut bahwa Khamenei sangat “mengagumi Putin, dan budaya Iran relatif mirip dengan budaya Rusia.”

Rencana pelarian ini disebut-sebut mencontoh pengalaman mantan pemimpin Suriah Bashar al-Assad. Pada Desember 2024, sebelum pasukan oposisi memasuki Damaskus, Assad melarikan diri ke Moskow dengan pesawat.

Sumber tersebut mengatakan bahwa “mereka telah merencanakan rute evakuasi dari Teheran, dan begitu merasa perlu untuk melarikan diri, rencana itu akan segera dijalankan.” Ini termasuk “mengumpulkan aset, properti, dan uang tunai di luar negeri untuk memastikan jalur pelarian yang aman.”

Khamenei diketahui memiliki jaringan aset yang sangat besar. Menurut estimasi hasil investigasi Reuters pada tahun 2013, total aset yang dimiliki dan dikendalikan Khamenei mencapai sekitar 95 miliar dolar AS, termasuk properti dan perusahaan. Banyak pembantu seniornya juga telah mengatur agar keluarga mereka tinggal di luar negeri, termasuk di Amerika Serikat, Kanada, dan Dubai.

Sejak pecahnya aksi protes di Iran pada 28 Desember tahun lalu, situasi terus memanas. Warga yang tidak puas turun ke jalan, dan tuntutan yang semula berfokus pada persoalan ekonomi telah berkembang menjadi tuntutan politik, dengan sasaran langsung kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 2 Januari menyatakan bahwa jika Iran menembaki para demonstran damai atau melakukan penindasan dengan kekerasan, Amerika Serikat akan melakukan intervensi. (Hui)

Laporan diterjemahkan oleh reporter NTDTV.com Jin Jing / Editor Lin Qing

Panama Membongkar Monumen Tionghoa — Analisis: Mengapa Partai Komunis Tiongkok Menggoreng Isu Ini? Bagaimana Sejarahnya?

Monumen yang berdiri sejak 2004 itu dibangun untuk memperingati 150 tahun kedatangan warga Tionghoa di Panama. Kini ia lenyap—dan membuka kembali perseteruan geopolitik di sekitar Terusan Panama. Dibangun saat Panama masih menjalin hubungan diplomatik dengan Republik Tiongkok (Taiwan)

EtIndonesia. Sebuah monumen yang memperingati kontribusi komunitas Tionghoa lokal terhadap pembangunan Panama pada abad ke-19 dibongkar pada 27 Desember 2025. Otoritas lokal Panama memerintahkan pembongkaran monumen tersebut dengan alasan mengalami kerusakan struktural dan dianggap membahayakan keselamatan publik.

Namun, pembongkaran ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Partai Komunis Tiongkok (PKT) dalam perebutan pengaruh atas Terusan Panama—jalur maritim strategis yang menguasai sekitar 5 persen perdagangan dunia.

Rezim Tiongkok, yang baru menjalin hubungan diplomatik dengan Panama pada 2017, bereaksi keras. Kedutaan Besar Tiongkok di Panama mengklaim bahwa pembongkaran itu “secara serius melukai perasaan persahabatan rakyat Tiongkok terhadap rakyat Panama.”

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, pada 29 Desember mendesak pemerintah Panama membuka penyelidikan. Sehari sebelumnya, Presiden Panama José Raúl Mulino mengumumkan bahwa “investigasi harus segera dimulai.” Ia menyebut pembongkaran monumen itu sebagai “tindakan irasional” dan memerintahkan Kementerian Kebudayaan untuk menjajaki kemungkinan membangun kembali monumen tersebut di lokasi semula.

“Foto menunjukkan lokasi pembongkaran sebuah monumen di Kota Arraiján, Panama, pada 28 Desember 2025. (Daniel de Carteret / AFP)”

Monumen Lokal, Klaim Global

Komentator urusan Tiongkok berbasis di Amerika Serikat, Heng He, menilai Presiden Mulino berada di bawah tekanan PKT. Dalam kolomnya di The Epoch Times edisi bahasa mandarin, Heng menegaskan bahwa monumen tersebut adalah urusan lokal Panama dan “tidak ada kaitannya dengan rezim Tiongkok, bahkan bukan pula urusan pemerintah pusat Panama.”

Saat monumen dibangun pada 2004, Panama masih menjalin hubungan diplomatik dengan Republik Tiongkok (Taiwan). Menurut Heng, monumen itu dibangun oleh komunitas Tionghoa lokal yang terdaftar secara hukum di Panama melalui perjanjian penggunaan lahan 20 tahun dengan Pemerintah Kota Arraiján—yang masa berlakunya berakhir pada 2024—dan dibiayai sepenuhnya oleh dana komunitas.

“Ini kontrak antara organisasi masyarakat Panama dan pemerintah kota Arraiján. Bukan urusan Beijing,” tulis Heng.

Jejak Tionghoa di Panama

Pada 30 Maret 1854, sebanyak 694 pekerja Tionghoa tiba di Panama setelah berlayar dari Shantou, Guangdong, menggunakan kapal Sea Witch. Catatan sejarah menunjukkan sekitar 20.000 pekerja Tionghoa terlibat dalam pembangunan rel Kereta Terusan Panama.

Pada 1881, puluhan ribu pekerja Tionghoa lainnya turut membangun Terusan Panama. Mereka bukan tenaga kerja resmi yang dikirim pemerintah Dinasti Qing, melainkan migran yang secara mandiri memilih menetap di wilayah yang saat itu bahkan belum menjadi negara Panama.

“Monumen itu memperingati kontribusi sejarah warga Tionghoa terhadap Panama—bukan persahabatan negara Tiongkok dan Panama, dan sama sekali tidak terkait dengan rezim komunis,” tegas Heng.

Komunitas Tionghoa di Panama telah hadir jauh sebelum berdirinya Partai Komunis Tiongkok. Asosiasi Tionghoa Panama berdiri pada 1943 dan menggalang dana untuk membangun monumen tersebut. Menurut Heng, yurisdiksi duta besar Tiongkok tidak mencakup warga keturunan Tionghoa yang merupakan warga negara Panama.

“Sejak kapan PKT berhak mengklaim mewakili hampir 300 ribu warga Panama keturunan Tionghoa? Siapa yang memberi mandat itu?” ujar Heng.

Komentator urusan internasional Wang He menilai reaksi keras Beijing sebagai bagian dari strategi “nasionalisme internal dan diplomasi serigala” (wolf warrior diplomacy) di luar negeri. “Ini juga upaya untuk memperdalam dan mempertahankan pengaruhnya di Panama,” katanya.

Perebutan Terusan Panama

Pembongkaran monumen itu terjadi saat Washington meningkatkan tekanan untuk menahan laju pengaruh PKT di Panama. Terusan Panama, yang rampung pada 1914, pernah dikuasai Amerika Serikat hingga 1977, sebelum hak operasionalnya diserahkan kepada Panama melalui perjanjian era Presiden Jimmy Carter.

Dalam beberapa tahun terakhir, dua dari lima pelabuhan di sisi Pasifik dan Atlantik terusan dikelola oleh anak perusahaan CK Hutchison Holdings yang berbasis di Hong Kong. Pada akhir 2024, Donald Trump berulang kali menuding Beijing “sebenarnya mengendalikan” terusan tersebut.

CK Hutchison sepakat menjual pelabuhan Balboa dan Cristóbal kepada BlackRock pada Maret tahun lalu, namun transaksi itu mandek akibat tekanan PKT. Beijing bahkan menuntut agar raksasa pelayaran milik negara, Cosco, mendapat saham pengendali—serta mengancam memblokir penjualan jika tuntutan itu tak dipenuhi.

Pada 17 Desember 2025, Duta Besar AS Kevin Cabrera menaiki kapal penjaga pantai AS ALERT saat sandar di Panama City, menegaskan kemitraan keamanan maritim AS–Panama di tengah sengketa terusan.

Di bawah tekanan Washington, Presiden Mulino juga berjanji tidak memperpanjang partisipasi Panama dalam proyek Belt and Road Initiative—program global Beijing yang kerap dituding menjebak negara berkembang dalam utang.

Peneliti pertahanan Taiwan, Shen Ming-shih, menilai Amerika Serikat “akan bersaing habis-habisan” dengan Tiongkok atas terusan tersebut. “Bagi negara kecil seperti Panama, memilih pihak akan sangat sulit,” ujarnya.

Komentator Wang He menambahkan, ketergantungan ekonomi Panama terhadap Tiongkok membuat Panama “tidak mungkin sepenuhnya memihak AS.” Namun, ia menilai Panama kini perlahan menjauh dari Beijing.

Menurut Shen, perubahan arah kebijakan AS di bawah Trump juga mulai memecah lanskap politik Panama. “Dalam pemilu mendatang, perbedaan sikap pro-Tiongkok dan pro-Amerika kemungkinan akan makin tajam,” katanya.

Luo Ya, Zhang Ting, Associated Press, dan Reuters berkontribusi dalam laporan ini.

Serangan Mendadak Militer AS Patut Dicontoh, Proses Penangkapan Maduro Hidup-hidup Terungkap

Pada 2 Januari larut malam, militer Amerika Serikat bersama aparat penegak hukum melancarkan serangan mendadak ke ibu kota Venezuela, Caracas. Operasi ini berhasil menangkap pemimpin Venezuela yang masuk daftar buronan, Nicolás Maduro. Operasi ini juga mengejutkan dunia. Pada  4 Januari, lebih banyak rincian mengenai keseluruhan misi tersebut diungkap ke publik.

Etindonesia. Pada 3 Januari 2026 pagi, pihak AS berhasil menangkap diktator Nicolás Maduro beserta istrinya dalam sebuah operasi gabungan yang sangat rahasia dan berskala belum pernah terjadi sebelumnya.

Pada 3 Januari dini hari, puluhan pesawat tempur dan drone militer AS mulai menekan sistem pertahanan udara Venezuela, membuka jalan bagi tim penyerbu helikopter untuk memasuki wilayah target dengan aman. Kemudian mendarat di kompleks yang dijaga sangat ketat milik Maduro, yang terletak di pusat kota Caracas. 

Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Caine, menyatakan bahwa pesawat F-22, F-35, F-18, pembom B-1, serta drone memberikan perlindungan penuh sepanjang operasi. Pesawat perang elektronik EA-18G “Growler” juga ikut serta dalam misi penindasan sistem pertahanan udara Venezuela.

Caine pada  3 Januari menjelaskan bahwa operasi yang diberi sandi “Absolute Resolve” ini melibatkan 150 pesawat dari satuan militer dan intelijen AS yang berasal dari 20 pangkalan di Belahan Bumi Barat. Namun, operasi tersebut sempat mengalami penundaan akibat kondisi cuaca.

Helikopter dalam operasi ini terbang rendah, sekitar 100 kaki di atas permukaan laut. Akhirnya, pada pukul 01.01 dini hari, helikopter berhasil mendarat. Pasukan khusus segera bergerak cepat, menembus perlawanan pasukan pengawal, dan menangkap pasangan Maduro sebelum mereka sempat bersembunyi di ruang aman. 

Setelah itu, pasukan segera melakukan penarikan. Pada pukul 03.29 dini hari, seluruh armada keluar dari wilayah udara Venezuela.

Maduro dan istrinya kemudian dibawa ke kapal serbu amfibi USS Iwo Jima. Kemudian pada  3 Januari malam dipindahkan ke Pangkalan Garda Nasional Udara Stewart di negara bagian New York.

Menurut laporan, Presiden Donald Trump mengeluarkan perintah penangkapan pada pukul 22.46 waktu Pantai Timur AS pada  2 Januari, disertai pesan: “Semoga beruntung, perjalanan lancar.”

Presiden Trump menyatakan bahwa selama operasi berlangsung, militer AS beberapa kali terlibat baku tembak defensif. Satu pesawat terkena tembakan, namun seluruh armada berhasil mundur dengan selamat. Tidak ada korban tewas di pihak AS, tetapi beberapa prajurit AS mengalami luka-luka. Jumlah korban di pihak Venezuela hingga kini belum diketahui.

Trump juga mengatakan bahwa selain melakukan serangan presisi terhadap sistem pertahanan udara, pihak AS secara bersamaan melancarkan perang siber untuk membantu tim udara dan darat menyingkirkan berbagai hambatan. Militer AS juga memutus pasokan listrik, membuat area sekitar tempat persembunyian Maduro tenggelam dalam kegelapan.

Diketahui bahwa badan intelijen dan militer AS telah secara rahasia mempersiapkan operasi ini selama berbulan-bulan. Pasukan Delta bahkan membangun replika rumah Maduro dalam skala 1:1 untuk latihan. CIA telah mengirim agen ke wilayah Venezuela sejak Agustus tahun lalu untuk menanam sumber intelijen kunci dan memantau pergerakan Maduro secara real time. (Hui)

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Yu Liang dan Chi Xiao