Gedung Hunian Terpanjang di Dunia Hampir 3 Km, Menampung Lebih dari 10.000 Orang

EtIndonesia. Kota Lutsk di Ukraina adalah rumah bagi peninggalan Soviet yang memegang gelar ‘gedung hunian terpanjang di dunia’, sebuah bangunan beton raksasa yang berukuran 2,75 kilometer.

Umumnya dikenal sebagai “Tembok Besar China”, gedung hunian terpanjang di dunia ini terletak di persimpangan Jalan Sobornosti dan Jalan Molodezhy. Pembangunan dimulai pada tahun 1969, pada masa Uni Soviet, dan selesai 11 tahun kemudian. Itu adalah waktu yang luar biasa lama untuk sebuah gedung apartemen, tetapi ini adalah proyek yang luar biasa.

Gagasan dari dua arsitek, R. G. Metelnitsky dan V. K. Malovitsa, Tembok Besar China menjadi gedung hunian terpanjang di Uni Soviet pada saat penyelesaiannya, dan lebih dari 40 tahun kemudian, masih belum ada saingannya di dunia.

Dari permukaan tanah, mustahil untuk benar-benar mengukur ukuran struktur hunian raksasa ini, tetapi dari atas, desain sarang lebahnya yang mengesankan terungkap. Meskipun sumbu utama bangunan hanya berukuran 1,75 kilometer, jika memperhitungkan semua perluasan di sekitarnya, satu kilometer lagi ditambahkan ke panjang total. Konon, berjalan dari satu ujung bangunan ke ujung lainnya dengan kecepatan normal membutuhkan waktu sekitar satu jam bagi orang rata-rata.

Dengan ratusan pintu masuk, lebih dari 3.000 apartemen, puluhan ribu jendela, dan sekitar 10.000 penghuni, bangunan hunian terbesar di dunia ini lebih besar daripada banyak kota kecil di seluruh dunia. Karena ukurannya yang sangat besar, penghuni awal mengingat kesulitan menemukan apartemen mereka selama berminggu-minggu setelah pindah, yang membutuhkan penerapan sistem alamat unik untuk setiap bagian.

Dianggap sebagai keunikan modern yang menarik bahkan di kalangan arsitek, Tembok Besar China mungkin tidak akan tetap dalam bentuknya saat ini untuk waktu yang lama. Meskipun terletak di bagian barat Ukraina, jauh dari garis depan perang dengan Rusia, ancaman pemboman terus-menerus terjadi di seluruh negeri. Menurut media berita lokal, bangunan tersebut sangat membutuhkan perbaikan, tetapi penggalangan dana sulit dilakukan di masa perang.

Sebuah agen perjalanan lokal telah membuat rencana untuk mengamankan dana untuk perbaikan gedung hunian terbesar di dunia dengan menyelenggarakan tur dan acara di atap raksasa beton yang unik ini.

Untuk bangunan hunian besar serupa, lihatlah “Human Anthill” yang terkenal di Rusia, dan bangunan menarik di Tiongkok yang konon menampung sekitar 20.000 orang.

Kisah Inspiratif: Surat dari Burung Walet

EtIndonesia. Di Kota Wenchang, Provinsi Hainan, tinggal seorang gadis kecil bernama Xiao Ju. Di bawah atap rumahnya bersarang dua ekor burung walet yang lucu. Setiap hari, keduanya terbang masuk dan keluar, dan Xiao Ju sangat menyukainya. Namun, walet-walet itu hanya datang setiap bulan November dan akan terbang pergi lagi pada bulan Maret tahun berikutnya. Artinya, lebih dari setengah tahun, Xiao Ju tak bisa melihat mereka.

Setelah menunggu berbulan-bulan dengan penuh kerinduan, suatu hari Xiao Ju tiba-tiba mendengar kicauan yang sangat familiar. Hatinya langsung berbunga-bunga. Dia berlari kecil ke bawah atap rumah dan mendongak—dua ekor walet itu berdiri berdampingan di tepi sarangnya, memiringkan kepala, seolah sedang menatapnya.

Dengan gembira, Xiao Ju mengambil makanan untuk memberi mereka makan. Saat itulah dia mendapati sesuatu yang aneh: di kaki salah satu walet, ada sepotong kecil kertas yang ditempel dengan selotip bening.

Dia mengambil kertas itu dan membacanya.

 Tertulis: “Halo, namaku Wu Yong, usiaku 16 tahun, aku tinggal di Kota Baishan, Provinsi Jilin. Dua ekor walet di rumahku ini setiap tahun datang pada bulan April dan terbang pergi saat angin musim gugur tiba di bulan Oktober. Setelah meninggalkan rumahku, apakah mereka tinggal di rumahmu? Aku sangat menyukai dua ekor walet ini dan berharap bisa berteman denganmu.”

Di bawah tulisan itu, tertera sebuah alamat.

Xiao Ju segera membuka peta.  Astaga—ternyata Baishan di Jilin dan Wenchang di Hainan berjarak lebih dari 4.000 kilometer!

Setiap tahun, dua ekor walet itu terbang dari sini ke Jilin untuk menetap, lalu kembali lagi saat musim gugur—perjalanan pulang-pergi hampir 10.000 kilometer. Betapa luar biasa perjalanan hidup mereka!

Xiao Ju segera membalas surat Wu Yong dan di akhir surat, dia menuliskan nomor telepon rumahnya.

Seminggu kemudian, Xiao Ju menerima sebuah panggilan telepon. Dari seberang terdengar suara yang agak malu-malu : “Halo, apakah ini Xiao Ju? Aku Wu Yong.”

Begitu mendengar namanya, Xiao Ju sangat gembira. Dua anak itu mengobrol dengan akrab di telepon dan sepakat: liburan musim dingin nanti, Wu Yong akan datang ke rumah Xiao Ju untuk melihat burung walet.

Sejak janji itu dibuat, Xiao Ju mulai sibuk. Setiap hari dia membersihkan rumah, membeli banyak camilan dan makanan ringan, menunggu kedatangan Kakak Wu Yong. Namun ayahnya mulai merasa khawatir. Dia menegur Xiao Ju karena terlalu mudah berteman dengan orang asing, apalagi sampai mengundangnya ke rumah.

Xiao Ju tidak terlalu memedulikannya. Dia bersumpah dengan yakin bahwa Wu Yong pasti bukan orang jahat.

Tak lama kemudian, liburan musim dingin tiba—tetapi Wu Yong tak kunjung muncul.

Ayahnya berkata :  “Gadis kecil bodoh, lihat kan? Ayah sudah bilang, orang asing itu tak bisa dipercaya. Dia bicara asal, kamu malah menganggapnya sungguh-sungguh.”

Xiao Ju tak senang mendengarnya. Dia ingin mencari kejelasan. Dia segera menelepon kembali nomor yang pernah dipakai Wu Yong—namun ternyata itu telepon umum.

Ayahnya pun berkata dengan nada serius: “Xiao Ju, ini membuktikan bahwa kamu tak seharusnya sembarangan memberikan alamat rumah kepada orang asing. Identitasnya tak jelas. Untung saja dia tidak datang. Kalau datang, siapa tahu apa niatnya?”

Xiao Ju sangat sedih. Dia ingin membantah, tetapi hatinya sendiri pun mulai ragu.

Hari demi hari berlalu. Wu Yong tak kunjung datang. Di tengah suara petasan, Tahun Baru Imlek tiba. Setelah perayaan berlalu, liburan musim dingin pun hampir berakhir. Xiao Ju menghela napas panjang—tampaknya Kakak Wu Yong hanya menghiburnya dengan janji kosong.

Transportasi sekarang begitu mudah. Kalau Wu Yong benar-benar ingin datang ke Hainan melihat burung walet, entah naik pesawat atau kereta, seharusnya dia sudah lama tiba. Tak mungkin sampai sekarang masih tak terlihat bayangannya.

Suatu hari, Xiao Ju sedang termenung memandangi dua ekor walet, tiba-tiba seseorang berkata: “Halo, apakah kamu Xiao Ju?”

Dia menoleh dan melihat seorang anak laki-laki bertubuh kurus, berusia sekitar 16–17 tahun, memanggul ransel besar.

“Aku Xiao Ju. Maaf, kamu siapa?” tanyanya.

Anak itu tersenyum :  “Aku Wu Yong. Xiao Ju, apa kamu lupa janji kita? Aku bilang akan datang melihat burung walet.”

Xiao Ju tertegun cukup lama, lalu berkata gugup :  “Kak… Kak Wu Yong, selamat… selamat datang!”

Ayah Xiao Ju keluar dari rumah, mengamati Wu Yong. Melihat bahwa dia hanya seorang pelajar biasa, ayah pun merasa lega dan mempersilakannya masuk.

Saat makan, Xiao Ju tak bisa menahan diri untuk bertanya mengapa Wu Yong baru datang sekarang.

Wu Yong tertawa: “Sebenarnya aku berangkat begitu liburan dimulai.”

Xiao Ju dan ayahnya sama-sama heran. Jika berangkat sejak awal liburan, bagaimana mungkin butuh hampir sebulan untuk sampai ke Hainan?

Wu Yong tersenyum lagi:  “Karena cara perjalananku… agak khusus.”

Dia mengeluarkan sebuah papan kecil dari ranselnya. Di atas papan itu tertulis:

“Para sopir yang baik hati, saya berasal dari Kota Baishan, Provinsi Jilin, dan ingin pergi ke Kota Wenchang, Pulau Hainan. Dua ekor burung walet di rumah saya pergi ke sana untuk melewati musim dingin. Saya ingin menjenguk mereka. Jika berkenan, mohon tumpangkan saya. Setiap satu kilometer yang Anda antar, saya semakin dekat satu kilometer kepada mereka.”

Ternyata, Wu Yong—yang sebentar lagi akan dewasa—ingin menghadiahkan sebuah upacara kedewasaan yang istimewa untuk dirinya sendiri. Karena kondisi keluarga yang sederhana, dia jarang memiliki kesempatan bepergian jauh. Maka dia merancang perjalanan yang tak biasa: berangkat dari Jilin, menuju selatan, menembus dinginnya wilayah utara, melintasi Sungai Yangtze dan Sungai Kuning, menyeberangi Selat Qiongzhou, merayakan Tahun Baru di perjalanan, dan setelah hampir sebulan, akhirnya tiba di Pulau Hainan yang hangat.

Wu Yong berkata: “Sepanjang perjalanan, aku mendapat banyak bantuan dari orang-orang baik. Mereka menunjukkan jalan, memberiku bekal dan buah-buahan. Pernah suatu kali aku jatuh dan kakiku terluka, seorang kakek mendorongku dengan gerobak kayu sejauh 10 kilometer.”

“Aku tidak membawa kamera, jadi tak bisa memotret mereka. Tapi aku menggambar wajah mereka. Lihatlah.”

Dia mengeluarkan sebuah buku gambar. Di dalamnya ada setumpuk potret—gambar-gambar itu tak sempurna, beberapa bahkan kotor dan robek. Namun jelas terlihat, setiap gambar dibuat dengan sepenuh hati, dan setiap gambar menyimpan sebuah cerita.

Ayah Xiao Ju terdiam lama. Dia menepuk bahu Wu Yong dan berkata dengan sungguh-sungguh:
“Selamat. Ini benar-benar upacara kedewasaan yang luar biasa. Dunia anak muda seharusnya tidak hanya sebatas sekolah. Di luar sana ada banyak hal yang tak bisa dipelajari dari buku.”

Dia lalu menoleh ke Xiao Ju :  “Kamu berasal dari suku Li. Menurut adat leluhur kita, tahun ini kamu berusia 13 tahun dan juga seharusnya menjalani upacara kedewasaan. Apakah kamu sudah punya rencana?”

Dari luar jendela terdengar kicauan burung walet. 

Xiao Ju tersenyum pada Wu Yong dan berkata : “Musim semi akan segera tiba. Burung walet akan terbang kembali ke Jilin. Ayah, kalau aku bilang ingin pergi melihat rumah burung walet di Jilin, apakah Ayah akan melarangku?”

Ayah bertanya: “Pergi sejauh itu? Perjalanannya pasti sangat melelahkan.”

Xiao Ju menunjuk dua ekor walet di luar jendela dan berkata mantap : “Ke mana burung walet kecil bisa terbang, aku juga pasti bisa sampai.”

Ayahnya tertawa:  “Ayah akan menemanimu! Kita lihat, apakah kisah di sepanjang jalan nanti bisa seindah kisah Wu Yong.”

Xiao Ju sangat gembira. Dia dan Wu Yong mengaitkan jari kelingking di bawah sarang burung walet, berjanji akan bertemu lagi di Jilin.

Ayah Xiao Ju memandang mata kedua anak itu yang penuh harapan, lalu berujar dalam hati: “Betapa indahnya masa muda.” (jhn/yn)

Kisah Inspiratif: Jendela Hati

EtIndonesia. Dalam perjalanan hidup, manusia tak terhindarkan dari kegagalan dan cobaan. Ada kalanya kita terperosok ke dalam kesialan yang seolah tak berujung; hati jatuh ke dalam dingin dan gelap, jiwa meluncur ke tepi kehancuran. Perasaan putus asa dan kelelahan akan mencengkeram begitu kuat, membuat kita tak berdaya dan sesak napas.

Pada saat-saat genting seperti itu, kita membutuhkan seseorang yang mampu mendorong terbukanya sebuah jendela hati—agar sinar matahari yang hangat, angin sepoi yang lembut, dan udara segar dapat masuk, menenangkan luka-luka batin.

Orang yang membuka jendela hati itu bisa siapa saja: keluarga atau sahabat, orang asing yang kebetulan lewat, tokoh terhormat, atau bahkan sosok kecil yang tak dikenal siapa pun.

Di kampung halamanku, ada dua orang sederhana yang pandai membuka jendela hati orang lain.

Yang pertama adalah Tao Si Gemuk, tukang cukur di kota kecil. Dia penuh cerita dan humor, pandai berbincang, dan selalu tahu kata-kata yang tepat untuk setiap masalah. Dia seolah menjadi psikolog sekaligus konselor jiwa bagi warga kota.

Suatu hari, seorang pejabat distrik melakukan kesalahan, dicopot dari jabatannya, lalu mengasingkan diri di kota kecil itu. Dia terpuruk, muram setiap hari, hidup dalam sikap pasrah dan putus asa—seperti bejana pecah yang tak lagi peduli.

Saat Tao Si Gemuk mencukur rambutnya, dia menceritakan banyak kisah tokoh besar masa lampau yang mengalami jatuh bangun hidup namun tetap bangkit dan berjuang. Perlahan, jendela hati sang pejabat pun terbuka.

Dia memperbaiki diri, bangkit kembali, dan mengajukan diri untuk bekerja di daerah paling terpencil dan miskin. Dia bekerja sungguh-sungguh demi rakyat. Kelak, dia bangkit kembali dan diangkat menjadi wakil bupati.

Orang kedua adalah Kakek Zhang, seorang penyeberang perahu di sungai kecil.

Suatu senja, seorang perempuan muda yang cantik mencoba mengakhiri hidupnya dengan menceburkan diri ke sungai. Kakek Zhang segera menyelamatkannya.

Dia bertanya dengan lembut :  “Kamu masih muda, masa depanmu panjang. Mengapa memilih jalan ini?”

Perempuan itu menangis tersedu-sedu :  “Baru setahun menikah, suamiku sudah punya wanita lain dan meninggalkanku. Apa arti hidup ini lagi?”

Kakek Zhang bertanya lagi :  “Bagaimana hidupmu sebelum menikah?”

Perempuan itu terdiam sejenak, lalu matanya berbinar : “Dulu aku bebas, tenang, penuh harapan dan impian…”

Kakek Zhang melanjutkan : “Saat itu, apakah kamu punya suami?”

Perempuan itu menjawab pelan :  “Tentu saja tidak.”

Kakek Zhang tersenyum dan berkata:  “Kalau begitu, hidupmu sekarang hanyalah dikembalikan oleh perahu takdir ke satu tahun yang lalu. Kamu tidak kehilangan apa pun. Kini kamu kembali bebas dan tanpa beban. Lalu, apa yang patut membuatmu begitu putus asa?”

Perempuan itu tertegun lama. Jendela hatinya terbuka lebar—dan cahaya pun masuk dengan terang.

Suara Hati

Setiap orang memiliki kisahnya sendiri, dan juga simpul hati yang mengikatnya.

Kemarin aku berbincang dengan seorang sahabat. Dia berkata tak mampu keluar dari masa lalunya. Dia tahu jalan yang ditempuhnya keliru, namun tetap enggan menoleh kembali—jendela hatinya tertutup rapat.

Saat seseorang berada di ambang sesak batin dan krisis jiwa, yang paling dia butuhkan adalah sepasang tangan—seolah tangan Tuhan—yang membantu membuka satu jendela hati, jendela yang penuh kegembiraan dan harapan.

Sesungguhnya, itu hanyalah perkara kecil, sesuatu yang bisa dilakukan siapa saja.
Namun sering kali kita mengabaikannya, melupakannya, bahkan memandangnya remeh.

Padahal, membuka satu jendela hati bisa menyelamatkan satu kehidupan.(jhn/yn)

Semua Tentang Chip 2nm Tercanggih di Dunia Kini Diproduksi Massal di Taiwan

EtIndonesia. Produsen mikrochip terkemuka dunia Taiwan, TSMC, mengatakan telah memulai produksi massal chip “2-nanometer” generasi berikutnya.

AFP mengulas apa artinya, dan mengapa hal itu penting:

Apa yang dapat mereka lakukan?

Daya komputasi chip telah meningkat secara dramatis selama beberapa dekade karena para pembuatnya memasukkan lebih banyak komponen elektronik mikroskopis ke dalamnya.

Hal itu telah membawa lompatan teknologi besar pada segala hal, mulai dari ponsel pintar hingga mobil, serta munculnya alat kecerdasan buatan seperti ChatGPT.

Chip 2-nanometer (2nm) canggih berkinerja lebih baik dan lebih hemat energi daripada jenis sebelumnya, dan memiliki struktur yang berbeda untuk menampung lebih banyak komponen kunci yang dikenal sebagai transistor.

Teknologi chip baru ini akan membantu mempercepat laptop, mengurangi jejak karbon pusat data, dan memungkinkan mobil otonom untuk mendeteksi objek lebih cepat, menurut raksasa komputasi AS, IBM.

Untuk kecerdasan buatan, “ini menguntungkan perangkat konsumen — memungkinkan AI di perangkat yang lebih cepat dan lebih mumpuni — dan chip AI pusat data, yang dapat menjalankan model besar dengan lebih efisien,” kata Jan Frederik Slijkerman, ahli strategi sektor senior di bank Belanda ING.

Siapa yang membuatnya?

Memproduksi chip 2nm, yang paling mutakhir di industri ini, “sangat sulit dan mahal,” membutuhkan “mesin litografi canggih, pengetahuan mendalam tentang proses produksi, dan investasi besar,” kata Slijkerman kepada AFP.

Hanya beberapa perusahaan yang mampu melakukannya: TSMC, yang mendominasi industri manufaktur chip, serta Samsung dari Korea Selatan dan perusahaan AS Intel.

TSMC memimpin, sementara dua perusahaan lainnya “masih dalam tahap peningkatan hasil produksi” dan kekurangan pelanggan skala besar, kata analis TrendForce, Joanne Chiao.

Produsen chip Jepang, Rapidus, juga sedang membangun pabrik di Jepang utara untuk memproduksi chip 2nm, dengan produksi massal dijadwalkan pada tahun 2027.

Apa dampak politiknya?

Perjalanan TSMC menuju produksi massal 2nm tidak selalu mulus.

Jaksa Taiwan mendakwa tiga orang pada bulan Agustus karena mencuri rahasia dagang terkait chip 2nm untuk membantu Tokyo Electron, sebuah perusahaan Jepang yang membuat peralatan untuk TSMC.

“Kasus ini melibatkan teknologi inti nasional yang sangat penting bagi jalur industri Taiwan,” kata kantor kejaksaan tinggi saat itu.

Faktor geopolitik dan perang dagang juga berperan.

Nikkei Asia melaporkan musim panas ini bahwa TSMC, yang memiliki Nvidia dan Apple sebagai kliennya, tidak akan menggunakan peralatan pembuatan chip Tiongkok dalam jalur produksi 2nm-nya untuk menghindari gangguan dari potensi pembatasan AS.

TSMC mengatakan mereka berencana untuk mempercepat produksi chip 2nm di Amerika Serikat, yang saat ini ditargetkan untuk “akhir dekade ini”.

Seberapa kecil dua nanometer itu?

Sangat kecil — sebagai referensi, sebuah atom berukuran sekitar 0,1 nanometer.

Namun sebenarnya 2nm tidak merujuk pada ukuran sebenarnya dari chip itu sendiri, atau komponen chip apa pun, dan hanyalah istilah pemasaran.

Sebaliknya, “semakin kecil angkanya, semakin tinggi kepadatan” komponen-komponen ini, kata Chiao kepada AFP.

IBM mengatakan desain 2nm dapat memuat hingga 50 miliar transistor, komponen kecil yang lebih kecil dari virus, pada chip seukuran kuku jari.

Untuk membuat transistor, irisan silikon diukir, diproses, dan dikombinasikan dengan lapisan tipis bahan lain.

Kepadatan transistor yang lebih tinggi menghasilkan chip yang lebih kecil atau chip dengan ukuran yang sama tetapi dengan daya pemrosesan yang lebih cepat.

Bisakah chip menjadi lebih baik lagi?

Ya, dan TSMC sudah mengembangkan teknologi “1,4 nanometer”, yang dilaporkan akan mulai diproduksi massal sekitar tahun 2028, dengan Samsung dan Intel tidak jauh tertinggal.

TSMC memulai produksi 3nm dalam jumlah besar pada tahun 2023, dan media Taiwan mengatakan perusahaan tersebut sudah membangun pabrik chip 1,4nm di kota Taichung.

Sedangkan untuk chip 2nm, Rapidus Jepang mengatakan bahwa chip tersebut “ideal untuk server AI” dan akan “menjadi landasan infrastruktur digital generasi berikutnya”, meskipun terdapat tantangan teknis dan biaya yang sangat besar.(yn)

Video: AS Mengatakan 2 Tewas dalam Serangan Terhadap Kapal yang Diduga Membawa Narkoba di Pasifik

EtIndonesia. Militer AS mengatakan telah menewaskan dua orang dalam serangan terhadap sebuah kapal yang diduga membawa narkoba di perairan internasional di Samudra Pasifik bagian timur pada hari Senin.

“Satuan Tugas Gabungan Southern Spear melakukan serangan kinetik mematikan terhadap sebuah kapal yang dioperasikan oleh Organisasi Teroris yang Ditunjuk di perairan internasional,” kata Komando Selatan AS dalam sebuah unggahan di X.

Tidak ada personel AS yang terluka selama operasi tersebut, kata militer.(yn)

Tuapse, Rusia, Dihantam Drone: Kilang Minyak dan Dermaga Terbakar

EtIndonesia. Di Tuapse, Krasnodar Krai, sebuah kilang minyak dan dermaga pelabuhan terbakar, menurut laporan media Rusia.

Sekitar pukul 23 : 00 pada tanggal 30 Desember, warga memposting di halaman komunitas bahwa kota tersebut diduga diserang oleh drone yang tidak diketahui asalnya.

Kemudian, muncul rekaman yang menunjukkan kebakaran tersebut, yang dilaporkan terjadi di kilang minyak setempat.

Selanjutnya, markas operasional Krasnodar Krai mengkonfirmasi bahwa serangan drone memang telah menghantam dermaga pelabuhan dan kilang minyak setempat.

Menurut laporan, kebakaran di kilang tersebut meliputi area seluas 300 meter persegi. 64 personel dan 16 unit peralatan terlibat dalam pemadamannya.

Sementara itu, saluran Telegram pro-Ukraina Exilenova+ melaporkan bahwa, menurut data awal, unit AVT-12 – komponen kunci dari pengolahan minyak primer yang bertanggung jawab untuk distilasi vakum atmosfer – terbakar di kilang setempat.

Seperti yang dilaporkan RBC-Ukraine, mengutip Bloomberg, serangan Ukraina terhadap fasilitas energi Rusia mencapai rekor tertinggi pada bulan Desember.

Setidaknya 24 serangan tercatat sepanjang bulan tersebut terhadap kilang minyak Rusia, kapal tanker minyak, dan aset maritim lainnya, serta elemen-elemen kunci dari sistem pipa.

Serangan terhadap fasilitas di Tuapse

Mengenai Tuapse, laporan menunjukkan bahwa pada tanggal 10 November, drone angkatan laut menyerang pelabuhan setempat, merusak salah satu dermaga.

Pada malam hari, warga melaporkan ledakan di kota tersebut, dan peringatan ancaman drone berlangsung selama hampir 8 jam.

Sebelumnya, dilaporkan bahwa Dinas Keamanan Ukraina, bersama dengan pasukan keamanan dan pertahanan lainnya, melakukan serangan terhadap terminal minyak di pelabuhan Tuapse di Krasnodar Krai, Rusia.

Kemudian diketahui bahwa pada saat serangan, setidaknya tiga kapal sedang dimuat di terminal tersebut. Kapal-kapal tersebut memiliki status semi-bayangan, yang memungkinkan penyelidik untuk menentukan kepemilikannya.(yn)

 Kisah Inspiratif: Utang Kehidupan

EtIndonesia. Memasuki usia paruh baya, hidupnya justru dihantam pukulan yang nyaris menghancurkan segalanya. Akibat keputusan investasi yang keliru, dia bangkrut seketika. Setelah menjual rumah keluarga, dia masih menanggung utang lebih dari 10 juta yuan. Di saat yang sama, kondisi fisiknya ikut memburuk—berat badannya melonjak hingga lebih dari 150 kilogram, otot pernapasannya rusak, dan setiap malam dia hanya bisa tidur dengan bantuan mesin oksigen.

Banyak orang yakin, dia akan benar-benar “tumbang”.

Namun dia berkata pada dirinya sendiri, dia tidak boleh jatuh. Jika dia menyerah, utang itu akan beralih ke pundak anak-anaknya. Selain itu, masih begitu banyak utang kehidupan yang belum dia bayar—dia harus berusaha melunasinya.

Dengan tubuh yang sakit, dia mulai berkeliling mencari peluang, memutar otak demi mencari nafkah. Seberat apa pun perjuangan itu, hasilnya tetap sangat minim. Sepuluh tahun dia bertahan dalam kesulitan—dan tetap tidak menyerah. Sebab, tumpukan utang itu selalu mengingatkannya untuk terus melangkah.

Hingga suatu hari, dia menangkap sebuah peluang kecil. Sebuah kios sempit berukuran 8 meter persegi di gang kecil mengingatkannya pada rasa sosis goreng buatan ibunya di masa lalu. Dengan bantuan teman, dia menyewa kios itu. Dia mencoba membuat sosis goreng berulang kali, tetapi rasanya tak pernah sama seperti yang dia ingat.

Dia pulang ke kampung halaman, bertanya kepada para orangtuanya, lalu mencoba lagi dan lagi, bereksperimen tanpa henti—sampai akhirnya semua orang berkata, “Ini enak.”

Toko sosisnya pun resmi dibuka. Tak disangka, penjualannya meledak. Di bulan-bulan ramai, keuntungannya bisa mencapai lebih dari 50.000 yuan per bulan. Setiap kali teringat bahwa sebagian utangnya bisa dilunasi, dia bekerja semakin giat—siang dan malam. Tak lama kemudian, dia membuka gerai waralaba.

Dalam tiga tahun, dari satu kios sosis ke sosis berikutnya, dia berhasil melunasi utang lebih dari 10 juta yuan.

Namanya Fu Guanzheng—pendiri merek “Fei Chang Bi Ke”—dan oleh warganet dia dijuluki “manusia keajaiban.”

Kebetulan yang luar biasa, ada satu kisah lain yang juga menciptakan keajaiban serupa.

Namanya Yuan Zhushi—seorang petani biasa. Di usia 13 tahun, dia terserang penyakit berat dan menjalani 17 kali operasi. Akibatnya, kedua kakinya masing-masing lebih pendek 14 sentimeter. Karena kegagalan usaha dan berbagai faktor lain, Yuan Zhushi juga terjerat utang hingga puluhan juta yuan.

Utang sebesar gunung itu menekannya tanpa henti. Namun, bukankah namanya Zhushi—yang berarti tiang penyangga?  Meski gunung runtuh menimpa, tiang penyangga harus tetap berdiri. Dia bersumpah akan melunasi semua utangnya.

Fu Guanzheng dan Yuan Zhushi, dibandingkan orang kebanyakan, memiliki tubuh yang lemah dan penuh keterbatasan. Namun mereka menciptakan keajaiban yang sulit dibayangkan.

Utang memang bukan sesuatu yang menyenangkan. Tetapi bagi orang yang menjunjung kejujuran dan berani memikul tanggung jawab, utang justru bisa menjadi sumber dorongan—bahkan penopang hidup.

Sesungguhnya, siapa di antara kita yang tak memiliki utang kehidupan?
Kita berutang pada orangtua atas kasih dan pengorbanan mereka.
Berutang pada pasangan atas kebersamaan dalam susah dan senang.
Berutang pada anak-anak atas kepercayaan dan harapan mereka.
Berutang pada sahabat atas kepercayaan yang diberikan.
Bahkan, kita berutang pada diri sendiri—atas mimpi yang belum terwujud.

Jika kita selalu mengingat berbagai “utang” itu, bukankah langkah kita dalam mengejar hidup akan menjadi lebih teguh dan lebih kuat?(jhn/yn)

 Kisah Inspiratif: Menciptakan Fakta dari yang “Mustahil”


EtIndonesia. Ada seorang anak yang sejak kecil sangat mencintai olahraga basket. Seperti kebanyakan anak Amerika yang tergila-gila pada bola basket, dia pun bermimpi suatu hari bisa berlaga di NBA.

Memiliki mimpi seperti itu sebenarnya adalah hal yang indah. Namun sejak awal, orangtuanya justru menasihatinya agar mengurungkan niat tersebut. Para tetangga yang mendengar impiannya pun hanya tertawa kecil. Apakah mereka sengaja ingin mematahkan mimpi seorang anak?

Belum tentu.

Di mata mereka, nasihat itu murni didasari niat baik. Sebab menurut mereka, mimpi anak ini mustahil terwujud. Bahkan orangtuanya yang paling menyayanginya pun berpikir demikian. Alasannya sederhana: sejak kecil, anak ini selalu jauh lebih pendek dibanding teman-teman sebayanya. Dengan kondisi fisik seperti itu, bermain basket mungkin masih masuk akal sebagai hobi, tetapi bercita-cita menjadi bintang NBA dianggap tak lebih dari mimpi di siang bolong.

Namun anak ini tidak menyerah. Sekalipun itu hanya dianggap mimpi, dia tetap ingin memperjuangkannya.

Tahun demi tahun berlalu. Dia tumbuh dewasa, tetapi mimpinya tidak pernah berubah. Demi mewujudkan cita-citanya, dia berlatih tanpa henti—melatih tembakan, dribel, operan, serta memperkuat fisik. Hampir setiap hari, orang-orang bisa melihatnya bermain basket di lapangan, bertanding dengan siapa pun yang bersedia.

Berkat latihan jangka panjang, dia mulai meraih berbagai prestasi. Namun demikian, masyarakat tetap menertawakan mimpinya untuk masuk NBA. Pasalnya, setelah dewasa pun tinggi badannya hanya sekitar 1,60 meter. Bagi kebanyakan orang, seseorang setinggi itu bermimpi bermain di NBA adalah lelucon.

Tapi baginya, itu adalah tujuan hidup.

Dia berlatih beberapa kali lebih keras dibanding orang lain. Setiap sesi latihan dijalaninya dengan seratus persen kesungguhan. Dan benar saja—kerja keras tidak pernah mengkhianati orang yang bersungguh-sungguh.

Dia mulai dikenal sebagai pemain basket terbaik di kotanya, mewakili kota dalam berbagai kejuaraan. Kemudian, dia menjadi salah satu pemain all-around terbaik di tingkat negara bagian, sekaligus point guard paling andal. Hingga akhirnya, dia benar-benar berhasil masuk NBA, bergabung dengan Charlotte Hornets.

Meski tubuhnya mencatat rekor sebagai pemain terpendek sepanjang sejarah NBA, dia justru dikenal sebagai salah satu guard paling efektif dan minim kesalahan. Kontrol bolanya luar biasa, tembakan jarak jauhnya akurat, bahkan dia mampu—dengan lompatan yang nyaris tak masuk akal—memotong operan pemain lawan yang tingginya lebih dari dua meter.

Yang paling mencolok dari dirinya adalah kecepatan gerak di lapangan. Seorang komentator basket pernah menggambarkannya: “Kecepatannya seperti peluru yang sedang berputar.”

Bagi mereka yang akrab dengan dunia NBA, nama itu tentu sudah tidak asing lagi. Dia adalah Muggsy Bogues—pemain basket terpendek dalam sejarah NBA.

Pesan Kehidupan

“Mustahil” sering kali hanyalah alasan bagi mereka yang malas dan penakut—alasan untuk menyerah sebelum mencoba, dan batasan semu yang kita pasang sendiri terhadap potensi kita.

Ketika semua batas “tidak mungkin” disingkirkan,  keajaiban pun punya ruang untuk terjadi.(jhn/yn)

Militer Taiwan Kerahkan Jet Tempur F-16 dan Sistem HIMARS Sebagai Tanggapan Latihan Tembak langsung PLA di Sekitar Taiwan

EtIndonesia. Komando Teater Timur Tentara Komunis Tiongkok (PKT) pada Senin (29 Desember) mengumumkan pelaksanaan latihan militer mengelilingi Taiwan di lima kawasan laut utama di sekitar pulau tersebut, serta memperingatkan akan dilakukan latihan tembak langsung. PKT menyatakan langkah ini bertujuan untuk memperingatkan apa yang mereka sebut sebagai kekuatan separatis dan campur tangan asing.

Menanggapi hal itu, Kantor Kepresidenan Taiwan mengecam keras tindakan tersebut. Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan menyatakan telah sepenuhnya memantau pergerakan militer PKT dan mengerahkan jet tempur F-16V serta sistem roket HIMARS dalam kesiapsiagaan penuh guna menjamin keselamatan negara dan rakyat. 

Warga Taiwan menegaskan bahwa Taiwan akan mempertahankan sikap kemandiriannya, dan pemerintah telah siap menghadapi berbagai bentuk provokasi.

Komando Teater Timur PKT secara mendadak mengumumkan latihan militer mengelilingi pulau, dengan patroli kesiapan tempur di Selat Taiwan serta perairan utara, barat daya, tenggara, dan timur Taiwan, serta mengumumkan bahwa pada  30 Desember akan dilakukan latihan tembak langsung di kelima wilayah tersebut. PKT mengklaim latihan ini merupakan peringatan keras terhadap kekuatan separatis dan campur tangan eksternal.

Kantor Kepresidenan Republik Tiongkok (Taiwan) mengecam PKT karena mengabaikan norma internasional, dan menegaskan bahwa pihak Taiwan telah sepenuhnya menguasai perkembangan situasi serta siap menghadapi segala kemungkinan.

“Menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan serta kawasan Indo-Pasifik merupakan konsensus tinggi komunitas internasional. Latihan yang secara khusus dilakukan oleh Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok di sekitar negara kami tidak hanya secara kasar merusak stabilitas keamanan di Selat Taiwan dan kawasan Indo-Pasifik, tetapi juga merupakan tantangan terbuka terhadap hukum dan tatanan internasional. Terkait provokasi sepihak Tiongkok, militer nasional dan lembaga keamanan nasional telah melakukan pemantauan menyeluruh sejak awal dan mempersiapkan respons secara lengkap, sehingga keselamatan negara dan rakyat dapat terjamin. Masyarakat tidak perlu khawatir,” kata juru bicara Kantor Kepresidenan Taiwan, Kuo Ya-hui. 

Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan menyatakan bahwa PKT dalam beberapa waktu terakhir terus menggunakan ancaman militer dan operasi kognitif terhadap Taiwan dan kawasan Indo-Pasifik, yang menjadi penyebab utama rusaknya perdamaian regional.

Dalam video yang dirilis Kementerian Pertahanan, ditampilkan berbagai persenjataan dan kekuatan militer Taiwan, termasuk sistem roket mobilitas tinggi HIMARS buatan Amerika Serikat. Kementerian menegaskan bahwa pihaknya sedang memantau secara ketat pergerakan pesawat dan kapal PKT serta melaksanakan latihan kesiapsiagaan tempur.

Kementerian Pertahanan juga merilis rekaman jet tempur F-16V (Block 20) dan kapal perang Angkatan Laut Taiwan Tian Dan yang memantau pesawat dan kapal militer PKT.

Wakil Direktur Kantor Intelijen Staf Umum Kementerian Pertahanan Taiwan, Hsieh Jih-sheng, mengatakan: “Apakah mereka akan melakukan tembak langsung atau tidak, keputusan ada di pihak mereka (PKT). Namun militer kami berpegang pada prinsip mengantisipasi musuh secara luas, sehingga setiap kemungkinan situasi harus kami pertimbangkan.”

Penjaga Pantai Taiwan menyatakan telah mengerahkan kapal-kapal besar di perairan sekitar untuk berhadapan dengan kapal Penjaga Pantai Tiongkok.

Dewan Urusan Daratan (MAC) Taiwan juga mengeluarkan siaran pers yang mengecam latihan militer PKT tersebut.

Warga Taiwan, Nona Huang, mengatakan: “Mereka (PKT) hanya demi harga diri mereka sendiri, ingin mengubah Taiwan menjadi bagian dari negara mereka. Tetapi orang Taiwan tidak berpikir seperti itu.”

Warga lainnya, Tuan Lin, mengatakan: “Menurut saya mereka (PKT) melakukan latihan seperti ini hanya untuk menakut-nakuti kami, sebagai bentuk intimidasi. Karena sebelumnya juga cukup sering terjadi latihan serupa.”

Selain itu, menurut situs pelacakan data penerbangan, beberapa pesawat militer Amerika Serikat sempat melakukan patroli di wilayah udara dekat Taiwan. Menanggapi hal tersebut, Kementerian Pertahanan Taiwan menyatakan bahwa “memang ada negara lain yang beraktivitas di sekitar Selat Taiwan”, namun tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.

Sebelas hari sebelumnya, Amerika Serikat mengumumkan penjualan senjata kepada Taiwan senilai 11,1 miliar dolar AS, yang merupakan paket penjualan senjata terbesar sejauh ini, dan telah memicu protes keras dari PKT. (Hui)

Laporan gabungan oleh Guo Yue-xi, reporter New Tang Dynasty Television.

Persaingan Pasar Kian Ketat, Starbucks AS Berencana Menutup Sekitar 400 Gerai di Perkotaan Serta Memilih Pindah ke Kawasan Pinggiran 

Raksasa jaringan kopi Starbucks, yang sebelumnya sangat padat membuka gerai di kota-kota besar Amerika Serikat seperti New York dan Los Angeles, kini akan menyesuaikan strategi ekspansi di kawasan metropolitan dan berencana menutup sekitar 400 gerai. Saat ini, Starbucks memiliki lebih dari 18.000 gerai di Amerika Serikat dan Kanada.

EtIndonesia. Dengan persaingan pasar yang semakin ketat, ditambah meluasnya kerja jarak jauh, menurunnya populasi di pusat kota, serta meningkatnya biaya operasional gerai, Starbucks mengubah strategi dengan menutup banyak gerai yang berlokasi di lantai dasar gedung perkantoran pusat kota dan mengalihkan fokus operasional ke wilayah pinggiran kota.

Menurut laporan CNN, CEO Starbucks Brian Niccol mendorong sebuah rencana pemulihan senilai 1 miliar dolar AS, yang mencakup penutupan sekitar 400 gerai yang terkonsentrasi di kota-kota metropolitan besar. Langkah ini saat ini telah diterapkan secara bertahap di berbagai kota.

Juru bicara Starbucks mengatakan kepada CNN bahwa gerai-gerai tersebut merupakan gerai dengan kinerja operasional yang buruk atau tidak lagi memenuhi standar merek. Perusahaan juga berencana meluncurkan desain baru dan peningkatan pengalaman pelanggan pada tahun 2026.

Gerai yang telah ditutup sejauh ini meliputi 42 gerai di New York, lebih dari 20 di Los Angeles, 15 di Chicago, dan 7 di San Francisco.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa Starbucks berencana merenovasi 1.000 gerai dalam satu tahun ke depan, dengan menambah sofa, meja, kursi, serta stopkontak listrik, guna meningkatkan pengalaman ruang dan mendorong pelanggan untuk tinggal lebih lama.

Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan penjualan Starbucks melambat, dan harga sahamnya turun sekitar 6% tahun ini. Para analis menilai, tantangan utama Starbucks adalah bahwa satu gerai harus melayani pelanggan takeaway dan pelanggan yang duduk lama secara bersamaan, sementara kedua tipe pelanggan ini memiliki pola konsumsi yang sangat berbeda, sehingga menyulitkan penyesuaian operasional.

Selain itu, dengan persaingan pasar yang semakin ketat, meluasnya kerja jarak jauh, berkurangnya populasi pusat kota, serta kenaikan biaya operasional gerai, Starbucks terus menyesuaikan strateginya dengan menutup banyak gerai di pusat bisnis kota dan mengalihkan fokus ke kawasan pinggiran. (Hui)

Bocah  7 Tahun Masuk Rumah Sakit Karena Melahap Makanan Pedas, Publik Terbelah Soal Tuntutan Orangtuanya 

EtIndonesia. Seorang bocah laki-laki berusia 7 tahun di Tiongkok mencuri dan melahap makanan pesan antar milik tetangganya. Akibat menyantap hidangan yang “super pedas”, ia mengalami sakit parah hingga harus dirawat di rumah sakit. Orang tuanya kemudian menuntut tetangga tersebut untuk mengganti biaya pengobatan, sehingga memicu perdebatan luas.

Menurut laporan gabungan media  daratan Tiongkok, bocah tersebut sering mencuri makanan pesan antar milik tetangganya, yang membuat sang tetangga sangat terganggu. Untuk memberi pelajaran kepada pencuri tersebut, tetangga itu sengaja memesan makanan dengan tingkat kepedasan ekstrem, menunggu agar pencuri kembali beraksi.

Pada hari kejadian, bocah itu menemukan makanan pesan antar yang belum dibuka dan diletakkan tanpa pengawasan di depan pintu rumah tetangga. Seperti biasa, ia mengambil makanan tersebut dan membawanya pulang untuk dimakan. Karena terlalu pedas, tak lama setelah makan bocah itu mengalami ketidaknyamanan, berupa sakit perut hebat dan muntah berulang kali. Setelah dibawa ke rumah sakit dan diperiksa, ia didiagnosis radang lambung dan usus akut,  dan harus menjalani perawatan inap. Biaya medis dilaporkan melebihi 2.000 yuan.

Setelah kejadian tersebut, ibu bocah itu menuntut agar tetangga menanggung biaya pengobatan, dengan alasan bahwa makanan yang terlalu pedas itulah yang menyebabkan anaknya jatuh sakit.

Namun, tetangga tersebut bersikukuh bahwa makanan pesan antar itu adalah milik pribadinya yang dibeli secara sah, dan bocah tersebut mengambil serta memakannya tanpa izin, sehingga segala konsekuensi tidak seharusnya menjadi tanggung jawabnya.

Menanggapi sengketa ini, sejumlah pengacara menilai bahwa memesan makanan adalah tindakan perdata yang wajar, tidak melanggar hukum maupun norma kesusilaan. Meski pemesanan makanan super pedas itu dilakukan dengan perkiraan bahwa makanan mungkin akan dicuri, tindakan tersebut tetap dianggap sebagai upaya melindungi hak milik yang sah, sehingga tidak ada kewajiban untuk memberikan ganti rugi.

Peristiwa ini memicu perdebatan sengit di dunia maya. Banyak warganet Tiongkok mengecam orang tua anak tersebut, menilai mereka tidak mampu membedakan benar dan salah serta gagal mendidik anak. 

Beberapa komentar warganet antara lain:
“Anak mungkin belum mengerti, tapi orang tuanya ke mana? Saya tidak percaya orang tua tidak tahu kalau anaknya sering mencuri makanan.”
“Dengan orang tua yang tidak masuk akal seperti ini, pantas saja anaknya jadi pencuri.”
“Anak yang tumbuh di keluarga seperti ini, entah itu berkah atau malah musibah.” (Hui)

Robot Perawatan Gigi Pertama di Dunia yang Membersihkan Gigi Anda Secara Otomatis

EtIndonesia. Dipasarkan sebagai robot perawatan gigi pertama di dunia, sikat gigi robot “g.eN” adalah perangkat yang membersihkan gigi pengguna tanpa bantuan apa pun.

Apakah Anda benci harus menyikat gigi beberapa kali sehari, tetapi takut jika tidak melakukannya dapat merusak gigi Anda? Nah, Anda beruntung, karena para ilmuwan Jepang telah menciptakan sikat gigi berteknologi tinggi yang tidak memerlukan usaha apa pun selain memasukkannya ke dalam mulut Anda. Cukup gigit corongnya, dan mesin dapat secara otomatis melakukan proses menyikat dalam waktu sekitar satu menit.

Menggunakan teknologi yang dikembangkan oleh Laboratorium Robotika Universitas Waseda, sikat gigi robot “g.eN” memiliki beberapa kepala sikat kecil yang bergerak ke atas, bawah, kiri, dan kanan, yang digerakkan oleh motor kecil namun bertenaga. Dirancang untuk membersihkan kedua sisi gigi secara bersamaan sambil meminimalkan penyikatan yang tidak merata, yang tampaknya merupakan masalah pada penyikatan manual.

Sikat gigi robotik “g.eN” memiliki berat 220 gram, mendukung pengisian daya USB Type-C, dan memiliki beberapa mode pengoperasian (“Mudah,” “Teliti,” “Perawatan Khusus,” dan “Anak-anak”).

Sebuah makalah penelitian yang dipresentasikan pada Japan Society of Healthcare Dentistry 2022 melaporkan bahwa g.eN mencapai tingkat retensi plak rata-rata 22,4%, menunjukkan bahwa ini memenuhi standar untuk “kebersihan mulut yang baik.” Dia mencapai efek pembersihan yang setara atau lebih baik daripada menyikat gigi konvensional, tanpa memerlukan upaya langsung.

Setelah mengamankan dua paten, g.eN saat ini berada dalam tahap penggalangan dana (crowdfunding), dan telah melampaui targetnya hampir empat kali lipat. Anda dapat memesannya dengan harga diskon 31.042 yen (sekitar Rp 3,3 juta).

Meskipun sikat gigi robotik ini awalnya dimaksudkan sebagai alternatif yang lebih nyaman bagi orang-orang dengan keterbatasan fisik yang tidak dapat menggunakan sikat gigi manual, g.eN telah menarik minat masyarakat umum, yang sebagian besar di antaranya memang tidak suka menyikat gigi dengan tangan.(yn)

Upah Rendah dan Biaya Pernikahan yang Tinggi, Berkeluarga Menjadi Kemewahan bagi Rakyat Tiongkok

EtIndonesia. Dalam hampir sepuluh tahun terakhir, angka pernikahan dan jumlah kelahiran di Tiongkok terus menurun. Tahun ini, pemerintah meluncurkan berbagai kebijakan untuk mendorong pernikahan. Namun, di tengah kelesuan ekonomi dan penurunan upah secara luas, tingginya biaya pernikahan serta tekanan ekonomi membuat membangun keluarga tetap menjadi kemewahan bagi masyarakat biasa.

Zhang, pria berusia 32 tahun, mengungkapkan bahwa karena tidak mampu membayar uang seserahan sebesar 288.000 yuan, ia terpaksa berpisah dengan pacarnya. Selain itu, biaya hidup setelah menikah juga sangat besar: cicilan rumah, cicilan mobil, dan biaya membesarkan anak semuanya membutuhkan uang. Melihat banyak kerabat dan teman yang hidup penuh konflik setelah menikah serta tingginya angka perceraian, ia tidak ingin menjalani kehidupan seperti itu.

“Orang biasa tidak bisa menikah, saya juga tidak ingin menikah. Dengan penghasilan hanya beberapa ribu yuan, benar-benar tidak cukup untuk menafkahi keluarga. Saya juga tidak mampu membeli rumah,” ujar Zhang, lajang asal Qingdao. 

“Sebenarnya bisa saja menikah, tapi itu berarti menguras seluruh tabungan keluarga kami seumur hidup, bahkan harus berhutang. Setelah menikah, apakah bisa bertahan? Kalau tidak ada uang, langsung bercerai. Jangan berpikir punya anak pasti jadi jaminan hari tua. Kalau anak tidak menggerogoti masa tua kita saja sudah bagus,” tambahnya. 

Laporan Perkembangan Pernikahan dan Keluarga Tiongkok menunjukkan bahwa rata-rata uang seserahan di pedesaan melonjak dari 88.000 yuan pada 2015 menjadi 187.000 yuan pada 2024, dan di beberapa daerah bahkan mencapai lebih dari 300.000 yuan, sehingga menyebabkan semakin banyak pria lajang di pedesaan.

Li, kurir makanan berusia 22 tahun yang berasal dari desa, telah bekerja mengantar makanan di Hangzhou selama tiga tahun. Demi menghemat lebih dari 1.000 yuan per bulan untuk sewa, ia bahkan mendirikan tenda di bawah jembatan untuk tinggal. Ia mengatakan bahwa pendapatan kurir makanan kini jauh lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Untuk mencukupi hidup sendiri saja sudah sulit, apalagi memikirkan pernikahan.

“Mengantar makanan itu sangat melelahkan, tapi tidak menghasilkan uang. Kalau tidak punya uang, bagaimana bisa berkeluarga? Hanya orang kaya yang bisa menikah. Orang miskin, punya uang seserahan? Punya rumah? Punya mobil? Punya tabungan? Setelah menikah, anak makan apa? Ada uang susu formula? Saya juga tidak ingin menikah, tekanannya terlalu besar. Ini mungkin tragedi generasi muda zaman sekarang,” kata Li, kurir makanan di Hangzhou. 

Wang, pria 41 tahun, mengatakan bahwa harga rumah di Tianjin telah turun kembali ke level sepuluh tahun lalu, dengan penurunan lebih dari setengah. Kini, dengan beberapa ratus ribu yuan sudah bisa membeli satu unit rumah, namun gaji bulanan pekerja biasa umumnya hanya 3.000–4.000 yuan, sehingga memenuhi kebutuhan dasar saja sudah sulit. Tanpa bantuan finansial dari orang tua, sangat sulit untuk membangun keluarga.

“Sekarang kebanyakan perempuan hanya melihat uang. Kegagalan pernikahan semuanya karena pengangguran; pengangguran sama dengan perceraian. Nilai kebajikan perempuan tradisional sudah hilang. Hidup sendiri itu menyenangkan dan bebas. Dengan penghasilan saya 4.000–5.000 yuan per bulan, saya masih bisa menabung, jadi orang tua saya sekarang juga tidak lagi mendesak saya untuk menikah,” ujarnya. 

He, pria 38 tahun, dan istrinya sama-sama bekerja sebagai programmer, namun tahun lalu keduanya terkena PHK dan sama-sama menganggur. Biaya untuk dua anak serta cicilan rumah membuatnya sangat cemas. Ia mengungkapkan bahwa banyak orang yang kehilangan pekerjaan akhirnya pulang ke kampung halaman bersama keluarga, atau bahkan rumah tangga berantakan dan pasangan berpisah.

“Kehidupan sebagian besar orang yang lahir setelah tahun 1980-an berjalan sesuai pola: menikah, punya anak, beli rumah, beli mobil. Dulu, selama Anda berpenghasilan, mengikuti seluruh proses ini berarti sudah ‘dipanen’ oleh sistem—banyak orang akhirnya terlilit utang. Begitu kehilangan pekerjaan dan tidak ada keluarga yang menopang, tekanannya luar biasa besar sampai sulit tidur karena cemas,” katanya. 

Laporan oleh Xiong Bin dan Bai Ni, reporter New Tang Dynasty Television.

 Kisah Inspiratif: Mimpi adalah GPS Kehidupan

EtIndonesia. Pada tahun 1946, seorang anak laki-laki berusia enam tahun bernama Carlos Slim Helú menemukan sesuatu yang menarik di kios kecil pinggir jalan: kartu bisbol. Pada kartu-kartu itu tercetak foto para pemain tim bisbol Meksiko. Ketika seorang pemain tampil gemilang, anak-anak seusianya akan berebut membeli kartu bergambar pemain tersebut.

Helú kecil segera menyadari satu hal penting: nilai kartu bisbol bisa naik seiring prestasi pemainnya. Maka, setiap kali dia memperkirakan seorang pemain akan tampil lebih baik—atau saat dia mendapat kabar bahwa performa seorang pemain sedang menanjak—dia cepat-cepat menggunakan uang jajan dari ayahnya untuk membeli kartu tersebut dalam jumlah banyak. Setelah nilainya naik, dia menjualnya kembali dengan harga lebih tinggi.

Di usia yang masih sangat muda, Helú berhasil melipatgandakan uang jajannya hanya dengan ketajaman pengamatan dan keberanian menangkap peluang. Keberhasilan kecil ini menumbuhkan minat besar pada dunia bisnis dan investasi. Masa kecil yang penuh keyakinan itu membuatnya berani bermimpi besar: “Aku akan bekerja keras untuk menjadi orang terkaya di dunia.”

Dia menceritakan mimpinya kepada sang ayah. Bukannya menertawakan mimpi yang terdengar mustahil, ayahnya justru membacakan sebuah kutipan:

“Saat muda, aku penuh semangat dan bermimpi mengubah dunia. Namun seiring bertambahnya usia dan pengalaman, aku sadar tak mampu mengubah dunia. Aku lalu memperkecil tujuan: ingin mengubah negaraku, tapi itu pun terlalu besar. Ketika memasuki usia paruh baya, aku mencoba mengubah keluargaku sendiri—namun mereka tetap sama. Hingga di usia senja, aku akhirnya mengerti: seharusnya aku mengubah diriku terlebih dahulu. Dengan memberi teladan, mungkin aku bisa memengaruhi keluargaku; lalu negaraku; dan pada akhirnya, dunia.”

Ayahnya mengusap kepala Helú kecil dan berkata :  “Kalimat ini terukir pada sebuah batu nisan di dekat Westminster Abbey. Tuhan menolong mereka yang punya mimpi dan berani mengubah diri. Nak, hidup yang dijalani dengan kecerdasan akan terus bertambah nilainya. Kamu pasti bisa.”

Helú mengangguk mantap, menyimpan kata-kata itu dalam hatinya.

Saat masuk sekolah dasar, Helú belajar dengan tekun sambil mulai mencatat pemasukan, membaca laporan keuangan, dan menjalankan usaha kecil-kecilan. Dia sabar menunggu kesempatan investasi pertama yang benar-benar berarti.

Kesempatan itu datang pada usia 11 tahun. Ketika Meksiko tengah menggenjot pembangunan ekonomi dan kekurangan dana, pemerintah menerbitkan obligasi negara. Dengan dukungan ayahnya, Helú membeli sejumlah obligasi tersebut. Keputusan ini terbukti sangat cerdas: seiring pertumbuhan ekonomi Meksiko, nilai obligasi itu melonjak lebih dari 30 kali lipat.

Empat tahun kemudian—di usia 15 tahun—berkat hasil investasinya sendiri, dia telah menjadi pemegang saham salah satu bank terbesar di Meksiko.

Pada tahun 1960, Helú diterima di Universitas Nasional Meksiko. Menariknya, dia tidak memilih jurusan ekonomi, melainkan teknik sipil. Ketika ditanya alasannya, dia tersenyum dan berkata bahwa ilmu teknik lebih melatih cara berpikirnya.

Selama empat tahun kuliah, dia tak hanya piawai menangkap peluang di pasar berjangka, tetapi juga berinvestasi pada proyek produksi botol bir. Kedua langkah ini memberinya keuntungan yang signifikan.

Kepercayaan diri, ternyata, lebih berharga daripada emas. Alam semesta berpihak pada mereka yang punya mimpi, kecerdasan, dan kemauan bekerja keras.

Setelah lulus, Helú mendirikan Grupo Carso. Dia mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang kinerjanya buruk atau sahamnya sangat diremehkan pasar. Dengan analisis rasional, keputusan ilmiah, dan restrukturisasi manajemen, dia mengubah kerugian menjadi keuntungan. Kekayaannya bertumbuh seperti bola salju—dan wujud mimpinya semakin nyata.

Langkah kecil, dilakukan terus-menerus, akhirnya membawa hasil yang besar.

Penulis Paulo Coelho menulis dalam bukunya The Alchemist: “Tak ada hati yang terluka karena mengejar mimpi… ketika kamu sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, seluruh alam semesta akan bersatu membantumu.”

Carlos Slim Helú—pengusaha dari negara berkembang Meksiko—memiliki kekayaan pribadi sekitar 53,5 miliar dolar AS, menghasilkan 2.200.000 dolar AS per jam. Namun dia tetap mengemudikan mobil lama berusia lebih dari sepuluh tahun dan tinggal di lingkungan perumahan biasa.

Ketika ditanya mengapa, dia menjawab dengan sederhana: “Bagi saya, uang hanyalah simbol. Yang terpenting adalah mimpi saya sejak usia enam tahun telah terwujud. Dan mimpi—itulah GPS kehidupan.”(jhn/yn)

Kisah Inspiratif: Yang Pergi, Tak Pernah Kembali

EtIndonesia. Pertemuan itu terjadi kembali—setelah tujuh tahun berlalu—di sebuah musim dingin.  Di kota kecil di utara, hujan malam turun rintik-rintik, membasahi wajah, terasa dingin menusuk kulit.

Dia menutup pintu mobil, melihat cipratan lumpur yang terlempar ke bodi kendaraan, lalu mengeluh dalam hati mengapa suaminya tidak mengingatkannya membawa payung di hari hujan seperti ini. Bibir kecilnya mengerucut tanpa sadar, tanda rasa kesal yang samar.

Sementara itu, dia—pria itu—berputar cukup lama mencari tempat parkir. Hujan deras mengaburkan pandangan. Setelah berputar-putar di antara arus kendaraan, akhirnya dia menemukan celah sempit yang pas-pasan—cukup untuk badan mobil saja. Bahkan membuka pintu dan menurunkan kaki pun terasa sulit. Saat akhirnya berhasil melangkah keluar, kakinya justru menginjak genangan air.

Dia menggeleng pelan dan menghela napas tipis.

Dia hendak kembali menggerutu—orang macam apa ini, memarkir mobil terlalu dekat, nanti bagaimana aku keluar?  Namun kata-kata itu tertahan di bibirnya. Otot wajahnya menegang sedikit.

Di saat yang sama, pria itu membelalakkan mata. Pandangannya terpaku pada wajahnya.

Dia terdiam sejenak. Ingatan melesat seperti lari sprint seratus meter—kembali ke tujuh tahun silam. Senyum hangat itu. Tatapan yang tenang. Isyarat yang lembut. Bahkan sepatu yang basah seolah kembali terasa hangat.

Mereka masuk ke sebuah kafe bernama “Pertemuan.”  Di malam hujan, sudut ruangan terasa hangat dan sunyi.

Dia menatap pria di hadapannya dengan saksama. Saat alunan lagu “Semoga Kau Baik-baik Saja” terdengar, riak emosi muncul di matanya. Tatapan itu—pria itu—masih terasa begitu akrab. Dia adalah sosok yang pernah lama berkelana dalam mimpinya, dan juga seseorang yang dia rindukan dalam kesepian malam-malam panjang.

Matanya menyimpan kesedihan lembut. Jari-jarinya pucat. Garis wajahnya tegas. Hanya saja, rambut panjangnya telah dipotong pendek, dan di matanya kini ada kedewasaan serta ketenangan yang tak ada dulu.

Dia memesan segelas susu vanila, lalu memberi isyarat kepadanya. Pria itu masih refleks mengernyitkan dahi.

“Kalau masih ingat kebiasaanku, tolong pesan untukku,” katanya.

Dia berkata pada pelayan : “Untuk Tuan ini, satu gelas Cinta Setan.”

Dia mengangkat bahu dan tersenyum pahit.

“Aku tak bisa menyetir sambil mabuk.”

Dia menjawab pelan : “Waktu tak pernah berhenti. Di tengah hiruk-pikuk usia, kita memang harus mengubah banyak kebiasaan.”

Dia tersenyum tanpa suara, mengangkat gelas hitam yang dinamai setan, dan meneguknya perlahan.

“Bertahun-tahun berlalu, tapi satu hal yang tak berubah darimu—kebiasaan mengernyitkan dahi. Di antara alismu, selalu ada bayangan yang tak pernah bisa kuterobos.”

Dia menjawab : “Orangnya mungkin sama, tapi zaman telah berganti. Seperti minuman yang kamu pesan untukku ini—aku tahu, di hatimu, kamu selalu menyimpan rasa tak rela terhadapku.”

“Bukan kebencian,” katanya lirih.  “Aku hanya tak sanggup kalah oleh waktu, tak mampu bertarung melawan kenangan. Waktu diam-diam mengikis ketajamanku. Aku tak lagi sekeras dan seegois dulu. Tapi kamu pergi begitu saja… dan sepanjang hidup ini, kamu masih berutang satu penjelasan padaku.”

Dia menyalakan rokok. Tatapannya tenggelam seperti terperosok ke rawa. Gelas berkaki tinggi terus diputar di antara jemarinya. Lama dia terdiam.

“Sebenarnya, tahun ujian masuk perguruan tinggi itu, aku seharusnya bisa melangkah bersamamu ke masa depan yang sama. Tapi di saat terakhir, aku terpaksa berhenti.”

“Kamu berasal dari keluarga baik-baik. Kamu punya masa depan cerah. Sedangkan aku… hanya pemuda miskin yang bahkan kesulitan membayar uang kuliah. Di saat bersamaan, kakek—satu-satunya keluarga yang kupunya—jatuh sakit parah. Aku terpaksa berbohong, mengatakan bahwa aku gagal ujian, hanya demi menenangkan harapannya.”

“Musim panas itu, ibumu datang ke restoran tempatku bekerja. Dia ingin berbicara. Dia menawarkan sejumlah uang—sebagai bantuan, atau mungkin kompensasi. Syaratnya satu: aku harus berpisah darimu atas inisiatifku sendiri.”

“Aku menolak uang itu. Tapi aku mendengar baik-baik kalimat ‘harus sepadan.’ Sampai hari ini, aku tak pernah membencinya. Mungkin dia benar. Saat itu, aku memang tak mampu memberimu apa pun.”

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan, isaknya berkali-kali memutus kalimat.

Dia berkata lirih : “Aku masih ingat hari kamu meninggalkan kota kecil itu. Kamu mengenakan gaun merah muda. Itu hadiah terakhir dariku. Aku berdiri di sudut peron, melihatmu perlahan menghilang dari pandanganku.”

“Aku ingat ruang kelasmu—di belokan tangga. Tahun kedua kuliah, kamu menjadi penyiar radio kampus. Dan setiap siaranmu selalu diakhiri dengan lagu Qi Qin kesukaanku.”

“Aku ingat tahun ketiga, saat kamu punya pacar. Suatu malam di lapangan basket terbuka, kamu menangis dalam pelukannya. Hari itu ulang tahunmu—juga hari kalian resmi bersama.”

“Aku ingat menjelang kelulusan, kamu sering mengenakan setelan kerja biru tua, syal biru muda di leher, dan bros kristal berbentuk kupu-kupu. Suatu sore, sepulang magang, kamu turun dari bus nomor 24 yang penuh sesak. Tumit sepatu hakmu terkilir. Pria itu mengantarmu ke rumah sakit dengan sepeda. Sebelumnya kamu jongkok menangis di halte, tak berdaya… lalu tersenyum bahagia saat duduk di belakang sepedanya.”

“Mungkin kamu heran, mengapa aku tahu semua ini. Sebenarnya, selama tahun-tahun kuliahmu, aku tak pernah benar-benar pergi. Kita hidup di kota yang sama. Aku hanya berdiri di sudut-sudut jalan sebagai penjaga diam—berpapasan denganmu, lagi dan lagi.”

Dia menangis tersedu, menghabiskan semua tisu. Dia memesan kopi—tanpa gula—seperti dulu.

Saat berpisah, dia mengeluarkan dua keping CD dari mobil. Bungkusnya hitam polos, tanpa tulisan.

“Ini kami temukan tiga tahun lalu, saat aku dan suamiku bulan madu di Lijiang. Aku tahu… kamu pasti menyukainya.”

Dia mengeluarkan sebuah foto dari dompetnya dengan sangat hati-hati. Gambar itu membeku pada masa kuliahnya—rok yang berkibar, tubuh anggun.

“‘Dirimu’ yang pernah kusimpan di saku ranselku, menemaniku ke banyak tempat… kini harus kukembalikan. Maafkan aku atas semua keterpaksaan di masa lalu.”

Dia memundurkan mobil dari arus kendaraan, menyalakan lampu untuk meneranginya.

Dia membuka CD itu.

Di dalamnya, tertulis tangan: “Malam datang dan pagi berlalu, yang pergi—tak pernah kembali.”(jhn/yn)