Menggali Cerita di Balik Angka: Menakar Potensi “Ekonomi Pengalaman” dan Konservasi Nasional

EtIndonesia.com.  Di tengah keriuhan indikator makroekonomi seperti inflasi dan produk domestik bruto (PDB), wajah asli ekonomi Indonesia sering kali tersembunyi dalam dinamika mikro yang jarang mendapat sorotan utama.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai bahwa meskipun ekonomi nasional menunjukkan tren positif, lajunya masih berada di bawah potensi yang sesungguhnya. Ia mengibaratkan kondisi saat ini sebagai mesin yang memerlukan dorongan lebih kuat agar bisa setara dengan negara berkembang lainnya.

Melirik “Experience Economy” senilai Rp400 Triliun

Salah satu sektor yang kini mulai menggeliat namun belum sepenuhnya menjadi narasi utama pemerintah adalah experience ekonomi atau ekonomi pengalaman. Sektor ini merupakan penggabungan antara industri kreatif, film, musik, pariwisata, hingga layanan kebugaran (wellness). Berbeda dengan model jasa tradisional, ekonomi pengalaman menawarkan nilai tambah melalui suasana dan kesan yang didapatkan konsumen.

“Hiburan itu digabungkan menjadi ekonomi pengalaman atau experience ekonomi. Jadi orang sekarang bukan hanya masuk jasa film, tapi dia beli merchandise-nya, dia menikmati keluar dari stresnya kondisi ekonomi sekarang. Dan itu tumbuhnya luar biasa, Rp400 triliun untuk Indonesia,” ujar Bhima di kanal youtube Merry Riana (29/12/2025) menekankan potensi besar sektor ini yang mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Fenomena ini terlihat dari pergeseran gaya hidup, seperti tren konsumsi matcha di kalangan perempuan yang mencari alternatif kafein selain kopi, hingga kebangkitan industri perfilman dan konser musik nasional yang kini digerakkan oleh promotor-promotor muda. Data menunjukkan bahwa di kawasan Asia Pasifik, motivasi utama masyarakat berlibur adalah untuk mencari ketenangan dan kebugaran (wellness), yang kini menjadi ceruk pasar nomor satu di atas wisata kuliner maupun budaya.

Paradigma Baru: Konservasi di Atas Ekstraksi

Di sisi lain, Bhima menawarkan kritik mendasar terhadap cara pandang pemerintah terhadap kekayaan alam. Jika selama ini tambang dan sawit dianggap sebagai anugerah ekonomi utama, Celios melihat peluang yang jauh lebih besar pada sektor konservasi hutan dan mangrove dalam jangka panjang.

“Indonesia ini punya kekayaan alam tambang anugerah, sawit anugerah. Saya membacanya agak kebalik, kalau kita bisa mengkonservasi hutan suatu saat yang lain enggak punya hutan, ini nilainya jauh lebih besar. Nilainya Rp2.000 triliun lebih dalam 15 tahun ke depan kalau kita pilih jalan itu, papar Bhima.

Ia menambahkan bahwa beberapa kepala daerah mulai menyadari keterbatasan sumber daya ekstraktif, seperti nikel yang diprediksi hanya bertahan beberapa tahun lagi, sehingga mulai beralih pada diversifikasi ekonomi berbasis perikanan dan pengolahan hasil laut.

Independensi Riset dan Evaluasi Kebijakan

Sebagai lembaga riset independen, Celios menekankan pentingnya kebijakan berbasis data (evidence-based policy) di tengah dinamika politik yang sering kali mengaburkan objektivitas. Bhima menceritakan bagaimana riset dapat menjadi alat advokasi publik, seperti saat komunitas penggemar K-Pop menggunakan data Celios untuk memprotes rencana kenaikan PPN 12 persen karena dinilai memberatkan pelaku usaha muda dan konsumen generasi Z.

Kritik tajam juga sempat dilayangkan Celios melalui survei kinerja menteri yang menunjukkan adanya ketimpangan kualitas antar-anggota kabinet. Meskipun hasil survei tersebut memicu reaksi beragam dari para menteri—mulai dari permintaan audiensi hingga protes terkait ketidakadilan penilaian—Bhima menegaskan bahwa fungsi riset adalah untuk memberikan peringatan dini kepada Presiden agar melakukan evaluasi terhadap pembantunya.

“Ekonom kalau bikin kebijakan itu jutaan orang bisa diselamatkan. Sebaliknya, kalau ekonom ngasih salah riset, salah kebijakan, salah data, itu korbannya juga jutaan orang,” tegasnya merujuk pada tanggung jawab moral seorang peneliti ekonomi.(isw)

Sangihe di Bawah Bayang-Bayang Tambang: Ketika Kedaulatan Hukum Terbentur Tembok Korporasi

EtIndonesia— Di beranda utara Nusantara, Kepulauan Sangihe kini menjadi saksi bisu atas drama penegakan hukum yang timpang. Meskipun warga telah memenangkan gugatan hingga tingkat Mahkamah Agung (MA) untuk mencabut izin operasi pertambangan, deru alat berat dan aktivitas eksplorasi PT Tambang Masangihe (PTTMS) dilaporkan masih terus berlangsung. Sangihe, sebuah pulau kecil seluas 736 kilometer persegi yang seharusnya dilindungi undang-undang, kini tengah dipertaruhkan kedaulatannya di hadapan modal asing.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014, wilayah dengan luas di bawah 2.000 kilometer persegi dikategorikan sebagai pulau kecil yang mutlak dilarang untuk ditambang. Kanti W. Janis, seorang pengacara publik sekaligus diaspora Sangihe, menilai upaya pemberian izin tambang di wilayah tersebut sebagai langkah yang sangat tidak masuk akal mengingat luasnya yang terbatas.

 “Saya lihat izin yang mau dikasih itu sekitar 60 persen (dari luas pulau). Itu enggak masuk akal. Sangihe ini sangat kecil dan terisolasi. Kalau ada apa-apa, susah orang untuk menyelamatkan diri, apalagi di situ banyak gunung api yang aktif,” ujar Kanti W. Janis dalam sebuah wawancara mendalam DI KANAL Forum Keadilan TV (29/12/2025).

Kanti juga menyoroti bagaimana PT TMS, yang 70 persen sahamnya dimiliki oleh Baru Gold Corporation asal Kanada, seolah menjadi “negara dalam negara”. Meski izin lingkungan dan izin operasi produksi telah dibatalkan oleh putusan MA yang sudah berkekuatan hukum tetap (inkrah), perusahaan tersebut masih beroperasi dengan dalih Kontrak Karya tahun 1997.

Jejak Tragedi dan Kriminalisasi

Konflik ini tak hanya menyisakan kerusakan ekologis, tetapi juga luka kemanusiaan yang dalam. Kasus kematian Wakil Bupati Sangihe, Helmud Hontong, yang meninggal secara mendadak di dalam pesawat setelah menyerahkan surat penolakan tambang ke Jakarta, masih menyisakan kecurigaan besar bagi publik.

Kanti menceritakan kejanggalan di balik peristiwa tersebut:

“Dia meninggal muntah darah, padahal dia itu habis melakukan general check up dan dinyatakan sehat. Ini kok jadi kayak dimunirkan?” ungkapnya, merujuk pada gejala tidak biasa yang dialami almarhum. 

Di sisi lain, warga yang berjuang mempertahankan tanahnya justru menghadapi represi. Seorang nelayan bernama Robinson Saul dijatuhi hukuman 10 bulan penjara hanya karena membawa pisau saat unjuk rasa—padahal pisau tersebut adalah alat kerjanya sehari-hari. 

Kanti menilai aparat keamanan cenderung menjadi pelindung perusahaan daripada melindungi rakyat. Ia bahkan menyebut adanya oknum polisi aktif yang diduga menjadi pengacara sekaligus pemegang saham di perusahaan tersebut.

Ancaman “Genosida” Lingkungan

 Secara ekologis, dampak pembukaan lahan sudah mulai terlihat nyata. Setidaknya 30 hektar hutan telah gundul, dan penggunaan bahan kimia seperti sianida serta merkuri dalam proses pemurnian emas mulai meracuni sumber air dan hasil laut warga.

Saya ke sana November 2023… sudah satu keluarga keracunan. Airnya sudah semakin kering karena tambang ini menyerap air sangat banyak. Kolam sianidanya terbuka dan bau sekali,” kata Kanti memberikan gambaran lapangan,.

Kanti menambahkan bahwa eksploitasi ini merupakan bentuk ketidakadilan global, di mana perusahaan asing membuang limbah di Indonesia demi keuntungan di bursa saham internasional.

“Negara-negara seperti Kanada di mana-mana ngomong mereka green, sustainability… tapi di sini mereka meracuni alam kita, meracuni orang-orang kita. Jadi munafik banget, cuman duit aja,” tegasnya.

Menanti Wibawa Negara

Kini, warga Sangihe hanya bisa menggantungkan harapan pada ketegasan Presiden dan Kapolri untuk mengeksekusi putusan pengadilan. Kanti menekankan bahwa masalah Sangihe bukan sekadar konflik agraria, melainkan isu kedaulatan nasional di wilayah perbatasan yang berbatasan langsung dengan Filipina dan Laut Cina Selatan,.

Tanpa langkah tegas untuk menghentikan operasi tambang ilegal tersebut, wibawa hukum Indonesia dianggap sedang dipertaruhkan di hadapan para “broker” saham internasional. (yud)

Setelah 30 Tahun Sunyi, Tangis Bayi Akhirnya Menggema di Desa Pegunungan Italia

EtIndonesia. Ada sebuah lagu klasik berbahasa Inggris berjudul When a Child Is Born (Ketika Seorang Anak Dilahirkan), yang menceritakan tentang kelahiran Yesus Kristus yang membawa terang dan harapan bagi umat manusia. Dalam beberapa hari terakhir, sebuah kisah lain yang membawa harapan juga beredar di Italia: pada tahun 2025, sebuah desa kecil di pegunungan Italia akhirnya menyambut kelahiran bayi pertama dalam hampir 30 tahun.

Desa pegunungan kecil ini adalah Pagliara dei Marsi, sebuah desa kuno yang terletak di Gunung Girifalco, wilayah Abruzzo, Italia. Bayi perempuan tersebut bernama Lara Bussi Trabucco.

Menurut laporan surat kabar Inggris The Guardian pada 26 Desember, bayi Lara lahir pada  Maret 2025, memecah ketenangan desa kecil Italia tersebut. Sebuah perayaan besar pun digelar untuk merayakan peristiwa langka yang sudah 30 tahun tidak terjadi: kelahiran seorang bayi. Pada saat yang sama, hal ini kembali menarik perhatian pada masalah “musim dingin demografi” yang dihadapi Italia.

Kelahiran Lara bahkan menjadi “objek wisata” lokal, menarik orang-orang yang sebelumnya belum pernah mendengar tentang desa kecil ini untuk datang berkunjung. Ibu Lara, Cinzia Trabucco, mengatakan: “Dia baru berusia 9 bulan, tapi sudah terkenal.”

Kehadiran Lara melambangkan harapan, namun juga mengingatkan masyarakat bahwa krisis demografi di Italia semakin memburuk.

Berdasarkan data dari Badan Statistik Nasional Italia (Istat), pada tahun 2024 jumlah kelahiran di Italia turun ke titik terendah dalam sejarah, yakni hanya 369.944 kelahiran. Tingkat kesuburan juga turun ke rekor terendah, dengan rata-rata perempuan usia subur melahirkan 1,18 anak—salah satu tingkat kesuburan terendah di Uni Eropa. 

Data sementara tujuh bulan pertama tahun 2025 menunjukkan bahwa angka kelahiran Italia akan terus menurun. Wilayah Abruzzo berada dalam kondisi paling parah, dengan jumlah kelahiran dari Januari hingga Juli tahun ini turun 10,2% dibandingkan periode yang sama pada 2024.

Penurunan populasi disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk ketidakstabilan lapangan kerja, arus besar kaum muda yang meninggalkan kampung halaman, kurangnya dukungan bagi ibu yang bekerja, meningkatnya tingkat infertilitas, serta semakin banyak orang yang memilih untuk tidak memiliki anak.

Dalam konteks ini, orang tua Lara tampak agak berbeda dari kebanyakan orang. Sang ibu, Cinzia, kini berusia 42 tahun dan berprofesi sebagai guru musik. Ia lahir di kota kecil Frascati di sekitar Roma. Setelah bertahun-tahun bekerja di ibu kota Italia, ia memutuskan untuk pindah ke desa pegunungan tempat kakeknya dilahirkan, menjauh dari hiruk-pikuk kota untuk membangun keluarga. Beberapa tahun lalu, ia bertemu dengan seorang pekerja bangunan setempat bernama Paolo Bussi, yang kini berusia 56 tahun.

Wali kota setempat, Giuseppina Perozzi, sangat berterima kasih atas kedatangan Cinzia dan berharap kisah mereka dapat menginspirasi orang lain untuk melakukan hal serupa. Ia mengatakan: “Pagliara dei Marsi telah lama menderita akibat penurunan populasi yang tajam. Meninggalnya banyak warga lanjut usia memperparah masalah ini, sementara tidak terjadi regenerasi antargenerasi.”

Namun, dengan kelahiran seorang anak, tantangan baru juga akan muncul. Lara yang kini berusia 9 bulan akan segera menghadapi masalah kurangnya fasilitas pendidikan seperti penitipan anak. Akibat penurunan jumlah penduduk, rumah sakit—termasuk layanan kebidanan—serta sekolah-sekolah di wilayah tersebut juga menghadapi risiko penutupan lebih lanjut. (Hui)

Laporan terjemahan oleh reporter Jin Hong / Lin Qing

Penjara di Liaoning, Tiongkok  Gunakan Cara-Cara Keji untuk Menganiaya Praktisi Falun Gong

Penjara di Liaoning Gunakan Cara-Cara Rendah dan Keji untuk Menganiaya Praktisi Falun Gong

EtIndonesia. Pan Jing, seorang praktisi Falun Gong dari Kota Dandong, Provinsi Liaoning, karena tetap berpegang pada keyakinan Sejati–Baik–Sabar, berulang kali diculik dan ditahan oleh aparat Partai Komunis Tiongkok (PKT). Ia pernah dua kali dijatuhi hukuman kerja paksa ilegal dan sekali dimasukkan secara paksa ke rumah sakit jiwa untuk dianiaya. 

Pada tahun 2022, ia kembali dijatuhi hukuman ilegal selama tiga tahun dan dibawa ke Penjara Wanita Provinsi Liaoning untuk mengalami penganiayaan. Pada 4 Oktober tahun ini, ia akhirnya menyelesaikan masa hukuman yang tidak adil tersebut. Baru-baru ini, ia mengungkapkan siksaan tidak manusiawi yang dialaminya selama di penjara.

Menurut laporan Minghui.org, di Penjara Wanita Provinsi Liaoning, karena Pan Jing menolak menerima apa yang disebut “transformasi” yang dipaksakan oleh pihak penjara—yakni memaksanya meninggalkan keyakinan—ia atas perintah sipir dipukuli dan dimaki oleh para narapidana. Ia tidak diizinkan mandi, tidak diizinkan menggunakan toilet, bahkan dipaksa memakan kotoran manusia. 

Selain itu, ia juga tidak diizinkan tidur dan dipaksa berdiri terus-menerus selama empat hari empat malam. Ia juga dipaksa meminum obat-obatan psikiatri serta dicekoki secara brutal susu bubuk yang direndam dengan air seni.

Minghui.org mengecam bahwa cara-cara PKT dalam menganiaya praktisi Falun Gong telah begitu keji dan rendah, hingga sama sekali kehilangan sisi kemanusiaan.

Falun Gong, yang juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah disiplin spiritual yang berlandaskan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar.  Praktik ini pertama kali diperkenalkan kepada publik di Tiongkok pada tahun 1992 dan dengan cepat berkembang pesat. Menurut perkiraan resmi pada saat itu, hingga akhir dekade tersebut setidaknya 70 juta orang telah memulai latihan Falun Gong.

 Partai Komunis Tiongkok (PKT) karena takut bahwa popularitas Falun Gong mengancam kekuasaan rezimnya, melancarkan kampanye penganiayaan nasional pada tahun 1999, berbagai organisasi hak asasi manusia dan pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mendokumentasikan praktik penahanan sewenang-wenang secara luas, kerja paksa, penyiksaan, serta pengambilan organ secara paksa terhadap para praktisi.

Pada 20 Juli 2025, praktisi Falun Gong di wilayah New York dan sekitarnya mengadakan parade akbar di Pecinan Manhattan, menyerukan diakhirinya penganiayaan PKT terhadap praktisi Falun Gong dan mendukung 449 juta rakyat Tiongkok yang telah mengundurkan diri dari PKT, Liga Pemuda Komunis, dan Pionir Muda. (Dai Bing/The Epoch Times)

Tunduk? Media Partai Tiba-Tiba Terbitkan Editorial untuk Mendekati Amerika Serikat

Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok dan Amerika Serikat kerap mengalami gesekan di bidang ekonomi, perdagangan, dan lain-lain. Media resmi PKT selama ini terus menghasut sentimen anti-Amerika di kalangan masyarakat domestik. 

Namun pada 28 Desember, People’s Daily (Harian Rakyat) secara tiba-tiba menerbitkan sebuah editorial yang menyatakan bahwa slogan yang dikemukakan Trump, “Make America Great Again” (Jadikan Amerika Hebat Kembali), tidak bertentangan dengan pembangunan dan kebangkitan Tiongkok. Hal ini pun menarik perhatian luas.

Editorial tersebut menyatakan bahwa kepentingan Tiongkok dan Amerika Serikat tidak mungkin sepenuhnya sejalan. Adanya persaingan bahkan gesekan di bidang tertentu adalah hal yang normal. Perbedaan tidak seharusnya dibesar-besarkan tanpa batas hingga jatuh ke dalam lingkaran setan yang merugikan.

Para pengamat menilai, perubahan sikap mendadak media Partai yang menunjukkan sikap bersahabat terhadap Amerika Serikat ini merupakan bentuk pelunakan sikap terhadap Trump. (hui)

Untuk Pertama Kalinya dalam Sejarah! “Ledakan di Dalam Ledakan” Bintang yang Sekarat Menghasilkan Sejumlah Besar Emas

EtIndonesia. Para astronom baru-baru ini untuk pertama kalinya mengamati bahwa sebuah bintang raksasa yang berada di ambang kematian mengalami fenomena “ledakan di dalam ledakan” selama proses keruntuhan, yang menghasilkan emas, platinum, dan unsur-unsur berat kosmik lainnya dalam jumlah besar.

Menurut laporan situs sains LiveScience, peristiwa yang diberi kode AT2025ulz ini pertama kali terdeteksi pada 18 Agustus 2025 oleh observatorium gelombang gravitasi LIGO di Amerika Serikat dan Virgo di Eropa.

Sinyal gelombang gravitasi awal menunjukkan bahwa ini merupakan peristiwa penggabungan benda langit. Tak lama kemudian, fasilitas Zwicky Transient Facility (ZTF) di California juga mengamati cahaya merah yang cepat meredup—ciri khas dari kilonova—yang menandakan bahwa wilayah kosmik tempat bintang tersebut berada sedang “menempa” unsur-unsur berat seperti emas dan platinum.

Namun, titik cahaya tersebut tidak meredup sepenuhnya seperti yang biasanya diamati. Sebaliknya, cahaya itu justru kembali menguat dan bergeser ke panjang gelombang biru, yang merupakan ciri khas supernova.

Tim peneliti mengajukan hipotesis bahwa ini adalah sebuah bintang raksasa yang, selama proses keruntuhan, intinya terlebih dahulu terbelah menjadi dua dan membentuk dua bintang neutron yang lebih kecil. Kedua bintang neutron tersebut kemudian bertabrakan hebat dalam hitungan jam, memicu ledakan ganda yang menggabungkan karakteristik supernova dan kilonova.

Fenomena “ledakan di dalam ledakan” ini menjelaskan mengapa data pengamatan menampilkan spektrum cahaya yang tampak bertentangan—berubah dari merah ke biru.

Yang semakin menarik perhatian para ilmuwan adalah hasil analisis data gelombang gravitasi. Penelitian menunjukkan bahwa dari dua bintang neutron yang bergabung, setidaknya satu di antaranya memiliki kemungkinan 99% bermassa lebih kecil dari Matahari. Hal ini secara langsung menantang prediksi fisika bintang konvensional, karena selama ini komunitas ilmiah umumnya meyakini bahwa batas massa minimum bintang neutron tidak boleh lebih rendah dari 1,2 kali massa Matahari.

Tim peneliti menilai bahwa hanya melalui model keruntuhan dan pembelahan bintang yang berotasi sangat cepat, bintang neutron dengan massa seringan itu dapat terbentuk.

Meski masih perlu menyingkirkan kemungkinan bahwa ini hanyalah kebetulan dari dua peristiwa tak terkait yang saling tumpang tindih, jika peristiwa “superkilonova” ini dapat dipastikan, maka hal tersebut akan menjadi terobosan besar dalam teori evolusi benda langit.

Asisten profesor Universitas Carnegie Mellon, Antonella Palmese, menyatakan bahwa jika superkilonova benar-benar ada, maka di masa depan para ilmuwan akan dapat mengamati lebih banyak kasus serupa melalui Observatorium Vera C. Rubin atau Teleskop Luar Angkasa Roman milik NASA. (hui)

Trump Berbicara dengan Putin Sebelum Pertemuan Puncak Trump-Zalenskyy,  Trump Sebut Perang Bisa Berakhir dalam Beberapa Minggu

Menjelang pergantian tahun, situasi geopolitik global memasuki momen krusial. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada 28 Desember terbang ke Mar-a-Lago, Florida, untuk melakukan pertemuan yang sangat disorot dunia dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Banyak pihak menilai, “pertemuan Trump–Zelenskyy” ini menjadi peluang kunci untuk mendorong berakhirnya perang Rusia–Ukraina yang telah berlangsung hampir empat tahun.

EtIndonesia. Pada  28 Desember 2025, Presiden AS Donald Trump menyambut kedatangan Presiden Zelensky di Mar-a-Lago. Keduanya tampak dalam suasana hati yang cukup baik.

Delegasi kedua pihak menggelar pertemuan di ruang makan utama Mar-a-Lago. Presiden Trump menilai bahwa perundingan saat ini telah memasuki tahap akhir dan mungkin sudah memenuhi syarat untuk mencapai kesepakatan.

Pertemuan berlangsung sekitar tiga jam. Usai pertemuan, Trump mengungkapkan bahwa negosiasi kesepakatan telah selesai sekitar 95%. Jika semuanya berjalan lancar, kesepakatan bisa dicapai dalam waktu beberapa minggu, meskipun masih ada kemungkinan gagal karena berbagai faktor.

Presiden Trump juga menulis di platform media sosial Truth Social bahwa sebelum bertemu Zelensky, ia telah melakukan panggilan telepon yang produktif dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Ini merupakan panggilan kesembilan antara pemimpin AS dan Rusia sejak awal tahun 2025.

Dalam beberapa hari terakhir, Rusia melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap Ukraina. Ketika wartawan menanyakan apakah Putin sungguh-sungguh menginginkan perdamaian, Trump menanggapi:

Presiden AS Donald Trump: “Ini adalah perang yang paling sulit. Tetapi kami pasti akan menyelesaikannya. Hari ini kami akan mengadakan pembicaraan yang sangat baik. Pria ini (Zelensky) bekerja sangat keras, dia sangat berani, dan rakyatnya juga sangat berani.”

“Dia (Putin) serius. Saya bisa mengatakan bahwa saya percaya Ukraina juga telah melancarkan beberapa serangan yang sangat keras. Saya mengatakan ini tanpa maksud menyalahkan. Kita lihat saja nanti, tetapi saya percaya kedua belah pihak ingin mengakhiri perang. Kedua negara ingin mengakhiri perang.”

Zelenskyy menyatakan bahwa Amerika Serikat setuju memberikan jaminan keamanan selama 15 tahun bagi Ukraina setelah perang berakhir. Namun, Kyiv khawatir jangka waktu tersebut terlalu singkat dan tidak cukup untuk mencegah Rusia kembali menginvasi. Ia berharap Presiden Trump mempertimbangkan untuk memperpanjang jaminan keamanan menjadi 30, 40, bahkan 50 tahun.

Kedua pihak juga menyusun rancangan jaminan keamanan trilateral antara Ukraina, Amerika Serikat, dan Eropa. Dokumen lainnya menguraikan kerja sama ekonomi yang disebut “Peta Jalan Kemakmuran Ukraina”.

“Ini juga membawa manfaat ekonomi yang sangat besar bagi Ukraina. Anda tahu, ada banyak pekerjaan rekonstruksi yang harus dilakukan di sana, dan banyak kekayaan yang bisa digali. Mereka memiliki kekayaan yang sangat besar, potensi kekayaan yang luar biasa. Mereka ingin segera memulainya. Namun, apa yang sedang kita bicarakan sekarang benar-benar membawa manfaat ekonomi yang sangat besar bagi Ukraina. Meski demikian, semuanya masih belum final,” ujarnya. 

“Namun, pasti akan ada sebuah perjanjian keamanan. Dan itu akan menjadi perjanjian yang kuat. Negara-negara Eropa terlibat secara mendalam. Mereka akan sangat terlibat dalam perlindungan keamanan dan berbagai urusan lainnya. Negara-negara Eropa benar-benar luar biasa.”

Presiden Trump juga menyatakan bahwa setelah bertemu Zelensky, ia akan kembali menelepon Putin untuk melanjutkan negosiasi.

Pada Senin (29 Desember), Moskow menyatakan bahwa pihaknya menuntut penarikan pasukan Ukraina dari wilayah Donbas.

Zelenskyy mengonfirmasi bahwa tim Ukraina akan bertemu kembali pekan depan untuk memfinalisasi berbagai isu terkait. Mengenai masalah wilayah, ia cenderung mengadakan referendum nasional di Ukraina untuk menentukan keputusannya. (Hui)

Laporan oleh Zhang Liang, reporter New Tang Dynasty Television, dari Amerika Serikat.

Kisah Inspiratif: Anak Bebek Kuning Belajar Berenang

EtIndonesia. Musim semi tiba, bunga-bunga bermekaran, dan sungai kecil mengalir riang dengan suara gemericik. Ibu bebek mengajak anak-anaknya ke tepi sungai untuk belajar berenang.

Di daratan, bunga-bunga mekar dengan indah dan berwarna-warni. Rumput hijau segar, dedaunan tampak subur. Anak bebek kuning berbaring di balik rerumputan sambil berlatih berenang—plung, plung—menggerak-gerakkan sayapnya di udara.

“Anakku, kemarilah, belajar bersama Mama,” panggil ibu bebek kepada anak bebek kuning yang masih berlatih di atas rumput.

“Mama, bukankah aku sudah bisa berenang?” jawab si anak bebek sambil meniru gerakan ibunya, mengepakkan kedua sayapnya dengan penuh semangat.

“Kalau ke air, barulah benar-benar bisa berenang,” kata ibu bebek sambil berenang ke tepi sungai dan mengulurkan sayapnya yang lebar dan kuat untuk menjemput anaknya.

Anak bebek mundur selangkah. Tanpa disangka, tubuhnya oleng, kakinya terpeleset.

“Ahhh!”

 Byur!

Dia jatuh ke dalam sungai. Air muncrat ke mana-mana. Anak bebek kuning panik dan langsung memeluk leher ibunya.

“Tolong… tolong!” teriaknya.

Leher ibu bebek terpelintir karena cengkeraman itu. Seketika, lehernya bengkak dan muncul benjolan merah besar.

“Anakku, pegang rumput di tepi sungai!” seru ibu bebek sambil menahan sakit dan mendorong anaknya ke darat.

“Anakku, pegang rumput di tepi sungai!”

 Dengan sisa tenaga, ibu bebek akhirnya berhasil mendorong anaknya naik ke darat.

Anak bebek menunduk saat berjalan pulang bersama ibunya. 

Dalam hati, dia bertekad kuat: “Aku pasti bisa belajar berenang!”

Keesokan harinya, dia bertemu dengan Pak Katak yang sedang bersantai di atas daun teratai sambil bersiul.

“Pak Katak, maukah Anda mengajariku berenang?” tanya anak bebek dengan penuh harap.

“Tidak masalah!” jawab Pak Katak sambil menjentikkan jari dengan mantap.

“Tarik, balik, dorong, jepit!”

 Pak Katak memberi contoh gerakan di dalam air.

Anak bebek kuning belajar dengan sungguh-sungguh. Dia membuka sayapnya, berusaha mengayuh air sekuat tenaga. Meski gerakannya jauh dari sempurna dan tidak menyerupai gaya renang Pak Katak, dia tetap berusaha keras.

Hingga akhirnya, sayapnya kram, kakinya pegal dan mati rasa, hidungnya kemasukan air, air mata dan ingus bercampur jadi satu—barulah dia berhenti.

Melihat anak bebek tersedak air sampai tampak mual, Pak Katak menggelengkan kepala dan pergi begitu saja.

“Tunggu, Pak Katak!”

 Anak bebek tenggelam sebentar, lalu muncul lagi ke permukaan. Namun Pak Katak sudah tak terlihat lagi.

Tak lama kemudian, lewatlah Kakak Anjing yang baik hati.

“Kak Anjing, maukah kamu mengajariku berenang? Aku akan berusaha keras!” pinta anak bebek.

“Tentu saja bisa!”

Kakak Anjing langsung menyelam ke air. Tak lama, dari bawah air muncul gelembung-gelembung.

“Lihat, seperti ini—gerakan maju-mundur bergantian,” kata Kakak Anjing sambil menengadah dan memperagakan gerakan.

Anak bebek berdiri di bagian sungai yang dangkal dan mengamati.

Dia meniru gerakan Kakak Anjing, mengayuh air dengan sayapnya ke depan dan ke belakang. Namun, sekeras apa pun dia mencoba, tubuhnya tetap tak seimbang. Dia terus tersedak air atau justru tak bisa masuk ke air dengan benar.

Kakak Anjing pun kelelahan. Akhirnya, dia berpamitan dengan alasan tertentu dan pergi.

“Aku ini bodoh sekali…”  Anak bebek malu dan menyembunyikan wajahnya di balik rumput.

“Kenapa tidak mencoba berenang telentang?”  Seekor berang-berang laut kecil yang sedang berwisata berkata dengan ramah. “Kalau mau, aku bisa mengajarimu.”

“Wah, bagus sekali!”  Anak bebek kembali melihat harapan.

Dia meniru berang-berang laut, berbaring telentang di air, mengayuh sayap ke depan dan ke belakang, sementara kedua kakinya menepuk air dengan kuat—plak, plak.

Namun belum beberapa kayuhan, percikan air dari sayapnya masuk ke hidung hingga dia sulit bernapas.

Berang-berang kecil berenang dengan stabil, tubuhnya meluncur tenang di atas air. Anak bebek menirunya, tetapi air justru masuk ke hidung dan mulutnya. Gerakannya menjadi kacau.

Byur!

Dia tenggelam lagi.

Berang-berang kecil segera menyelam dan menariknya ke atas. Berkali-kali kejadian yang sama terulang—entah hidung atau mulutnya selalu kemasukan air.

Akhirnya, berang-berang kecil pergi dengan rasa kecewa.

“Bebek kecil, dayunglah dengan tenang seperti mendayung perahu.”

Seekor ikan kecil berenang mendekat sambil menggerakkan siripnya perlahan di kedua sisi.

“Seperti ini.”

Anak bebek menatap kaki lebarnya: “Bukankah ini seperti dua buah dayung?”

Dia teringat cara ibunya mengajarinya dulu.

“Benar… memang seperti itu!”

Dia mulai mengayuh “dayung” itu dengan stabil. Dan perlahan, “perahu kecil” itu pun membawanya berenang.

“Aku bisa berenang!” serunya kegirangan. “Ini hadiah untuk Mama!”

Ibu bebek yang seharian tak melihat anaknya, keluar mencarinya. Tak disangka, dia justru melihat anak bebek kuningnya sudah bisa berenang.

Saking bahagianya, lehernya yang bengkak mendadak terasa sembuh. Dia pun melompat ke air dan berenang bersama anaknya dengan penuh sukacita.

Pesan hidup dari cerita ini: Setiap orang punya cara belajar yang berbeda. Gagal bukan berarti bodoh—hanya belum menemukan cara yang tepat. Selama tidak menyerah, suatu hari kita akan menemukan jalan kita sendiri.(jhn/yn)

Inspirasi dari Burung Kepodang Emas

EtIndonesia. Putrinya untuk pertama kalinya membawa pulang pacarnya ke rumah. Sang ayah menyambut mereka di ruang tamu, menemani putrinya dan sang tamu mengobrol ke sana kemari dengan suasana yang tampak hangat.

Ayah lalu bertanya kepada pacar putrinya : “Apakah kamu suka berolahraga?”

Pemuda itu menjawab :  “Tidak, saya tidak terlalu suka olahraga. Sebagian besar waktu saya habiskan untuk membaca buku dan mendengarkan musik.”

Ayah melanjutkan: “Kalau berjudi, seperti taruhan pacuan kuda, apakah kamu suka?”

“Tidak, saya tidak berjudi.”

Ayah kembali bertanya : “Bagaimana dengan menonton pertandingan atletik atau olahraga di televisi?”

“Tidak juga. Saya tidak terlalu tertarik pada kegiatan yang bersifat kompetisi.”

Setelah pemuda itu pulang, putrinya bertanya : “Ayah, menurut Ayah bagaimana dia?”

Ayah menjawab dengan tenang :  “Jika kamu hanya berteman dengannya, Ayah tidak keberatan. Tapi jika kamu ingin menikah dengannya, Ayah sama sekali tidak setuju.”

Putrinya terkejut dan bertanya :  “Mengapa?”

Ayah lalu berkata :  “Orang yang memelihara burung kepodang emas tidak pernah membiarkannya sendirian di dalam sangkar di rumah. Mereka akan membawa burung itu ke kedai teh, tempat banyak kepodang lain berkumpul. Burung yang baru itu, ketika mendengar kicauan burung-burung sejenis yang bersahut-sahutan, akan terdorong untuk tidak mau kalah dan ikut berkicau nyaring. Itulah rahasia para penghobi burung dalam melatih kepodang agar mengeluarkan suara terbaiknya.”

Putrinya bertanya lagi :  “Apa hubungannya dengan pacarku?”

Ayah menjelaskan :  “Para pemelihara burung merangsang naluri bersaing pada kepodang agar dia menampilkan kicauan terindahnya. Tanpa persaingan, kepodang itu mungkin akan diam seumur hidup dan tak pernah berkicau, karena tidak ada burung lain untuk dijadikan pembanding.”

Putrinya mengangguk pelan, seakan mulai memahami.

Ayah melanjutkan :  “Dari percakapanku dengannya, Ayah melihat bahwa pacarmu tidak suka olahraga, tidak tertarik pada aktivitas kompetitif, tidak berjudi, tidak menyukai pertandingan apa pun, dan cenderung menghindari semua bentuk persaingan. Menurut Ayah, pria seperti ini, kelak akan sulit berkembang dan meraih pencapaian besar. Karena itulah Ayah menentang jika kamu menikah dengannya.”

Banyak orang menghindari persaingan karena takut gagal. Namun dari kisah burung kepodang emas ini, kita akhirnya memahami bahwa inti dari kompetisi bukanlah menang atau kalah, melainkan bahwa setiap keterlibatan dan keberanian untuk mencoba akan membuat kita terus bertumbuh.

Kadang, justru melalui persainganlah potensi terbaik dalam diri kita bangkit dan bersuara.(jhn/yn)

Segala Sesuatu Ada Sebab dan Akibatnya

EtIndonesia. Segala urusan di dunia ini—entah besar atau kecil, sulit atau mudah—selama bersedia dilakukan dan dijalani dengan sepenuh hati, selalu memiliki kemungkinan untuk terwujud. Keberhasilan, bahkan keberhasilan yang lebih besar, sesungguhnya dekat dan mudah diraih ketika hati benar-benar dicurahkan.

Suatu hari, seorang pedagang tengah dilanda kesulitan. Usahanya kian hari kian menyusut. Merasa buntu, dia mendatangi seorang  guru  zen untuk meminta petunjuk.

Sang guru berkata :  “Di belakang vihara ada sebuah pompa air. Pergilah, dan bawakan aku satu ember air.”

Beberapa saat kemudian, si pedagang kembali dengan tubuh berkeringat deras, seraya berkata : “Guru, sumur di bawah pompa itu kering.”

Sang guru menanggapi dengan tenang: “Kalau begitu, turunlah ke kaki gunung dan belilah satu ember air.”

Pedagang pun pergi. Ketika kembali, dia hanya membawa setengah ember.

Guru bertanya: “Bukankah aku memintamu satu ember? Mengapa hanya setengah?”

Wajah pedagang memerah. 

Dia buru-buru menjelaskan : “Bukan karena aku pelit, Guru. Jalannya jauh dan mendaki—sungguh tidak mudah.”

Guru tetap tegas :  “Yang kubutuhkan satu ember air. Pergilah sekali lagi.”

Pedagang pun turun kembali ke kaki gunung, membeli satu ember penuh, dan membawanya pulang.

Guru berkata :  “Sekarang aku akan menunjukkan jalan keluarnya.”

Dia mengajak pedagang ke pompa air dan berkata : “Tuangkan setengah ember itu ke dalam pompa.”

Pedagang ragu dan kebingungan.

 “Tuangkan!” perintah sang guru.

Pedagang pun menuangkan setengah ember air ke dalam pompa. Guru  menyuruhnya memompa. Pedagang itu memompa—terdengar bunyi desis dari mulut pompa, tak setetes pun air keluar. Setengah ember air itu lenyap ditelan pompa.

Pedagang tersentak. Dia paham. Tanpa diminta lagi, dia mengangkat ember dan menuangkannya ke dalam pompa, lalu memompa kembali. Air jernih pun memancar deras.

Titik Kebijaksanaan

Di dunia ini tak ada makan siang gratis. Jika ingin memetik hasil, dahulukan memberi. Sebesar apa yang kita berikan, sebesar itu pula yang kita terima.

Usaha dan hasil berjalan seiring—sebuah hukum yang berlaku di mana pun dan kapan pun.(jhn/yn)

Latvia Menyelesaikan Pembangunan Pagar Perbatasan di Sepanjang Perbatasannya dengan Rusia

EtIndonesia. Latvia telah sepenuhnya menyelesaikan pembangunan pagar di sepanjang perbatasannya dengan Rusia, menurut perusahaan milik negara yang bertanggung jawab atas proyek tersebut, Valsts Nekustamie Ipašumi (VNI).

Pada tahap akhir, 72 km dari 99 km pagar yang dibangun oleh Igate telah dioperasikan.

Panjang total pagar di sepanjang perbatasan Latvia–Rusia sekitar 280 km, menyediakan penghalang fisik yang berkelanjutan di area yang secara teknis memungkinkan.

Biaya proyek sebelumnya diperkirakan sebesar €146 juta.

Menteri Dalam Negeri Latvia, Rihards Kozlovskis, menekankan bahwa penyelesaian pagar di perbatasan dengan Rusia dan Belarus merupakan kontribusi penting bagi keamanan nasional dan untuk melindungi perbatasan eksternal Uni Eropa.

Menurutnya, perbatasan akan terus dilengkapi dengan sistem pengawasan teknologi modern.

Pada saat yang sama, pekerjaan sedang berlangsung untuk mengembangkan infrastruktur tambahan, termasuk jalan patroli, jembatan, dan struktur teknik.

Pada musim panas, tahap akhir pekerjaan dimulai pada bagian sepanjang 41 km lainnya di sepanjang perbatasan dengan Rusia, termasuk daerah rawa. Pekerjaan konstruksi utama direncanakan akan selesai pada akhir tahun 2026.

Perusahaan negara Valsts Nekustamie Ipašumi (VNĪ) juga mengkoordinasikan proyek-proyek di perbatasan dengan Belarus. Pembangunan pagar utama di sana, dengan total panjang hampir 145 km, selesai pada Juli 2024. Pekerjaan infrastruktur akhir pada bagian-bagian tertentu diharapkan selesai pada musim semi 2026.

Secara terpisah dicatat bahwa peralatan teknologi seluruh perbatasan darat eksternal Latvia akan selesai pada akhir tahun 2026.

Bunker di perbatasan Estonia–Rusia

Estonia telah mulai membangun bunker beton pertama di perbatasan tenggara dengan Rusia sebagai bagian dari Garis Pertahanan Baltik.

Tahap pertama mengawasi pemasangan 28 bunker. Tujuh di antaranya telah dikirim dan sedang dipersiapkan untuk dipasang di dekat kotamadya Setomaa.

Jaringan keseluruhan diperkirakan akan mencakup 600 struktur benteng, yang merupakan bagian dari sistem pertahanan berlapis di sayap timur NATO.

Selain itu, dalam dua tahun ke depan, parit anti-tank sepanjang 40 km akan dibangun di sepanjang perbatasan tenggara Estonia.

Secara terpisah, partai oposisi Estonia telah memulai rancangan undang-undang yang mengusulkan penutupan total perbatasan dengan Rusia.(yn)

Dua Hal yang Tak Boleh Dilakukan Sepanjang Hidup

EtIndonesia. Apa hal terbaik yang dimiliki manusia?  Bukan kejayaan kemarin,  bukan pula harapan esok hari, melainkan hari ini—saat ini juga.

Di Kuil Eihei-ji, terdapat seorang biksu Zen tua yang usianya telah lebih dari delapan puluh tahun. Pada suatu hari yang terik, dia terlihat menjemur jamur shiitake di bawah matahari.

Melihat itu, sang kepala biara, Dōgen, merasa iba dan berkata : “Yang Mulia, usia Anda sudah begitu lanjut. Mengapa masih melakukan pekerjaan seberat ini? Tidak perlu bersusah payah, saya bisa meminta orang lain menggantikannya.”

Biksu tua itu menjawab tegas : “Orang lain bukanlah aku.”

Dōgen melanjutkan :  “Memang benar, tetapi jika harus bekerja, bukankah tak perlu memilih waktu di bawah matahari seterik ini?”

Biksu tua itu tersenyum tipis dan berkata : “Jika tidak menjemur jamur saat cuaca cerah, apakah harus menunggu hari mendung atau hujan?”

Dōgen pun terdiam—tak mampu membantah.

Kita sering mendengar ungkapan:  “Pekerjaan hari ini, selesaikan hari ini.”,  “Urusan sendiri, kerjakan sendiri.”

Kata-katanya sederhana, tetapi pelaksanaannya tidak mudah.

Manusia selalu pandai mencari alasan untuk menunda atau bergantung pada orang lain. Namun hasil akhirnya tak pernah berbohong—yang tertipu, pada akhirnya, adalah diri kita sendiri.

Sesungguhnya, ada dua hal yang tidak boleh dilakukan sepanjang hidup:

  1. Menunggu — jangan menunggu hari esok.
  2. Bergantung — jangan bergantung pada orang lain.

Jika hidup dihabiskan dengan menunggu dan bergantung, maka hidup itu sia-sia.

Pendiri aliran Buddhisme Tanah Suci Jepang, Shinran, kehilangan kedua orangtuanya sejak kecil.

Pada usia sembilan tahun, dia telah bertekad untuk menjadi biksu. Dia menemui Guru Jichin dan meminta untuk ditahbiskan.

Sang guru bertanya :  “Kamu masih begitu muda. Mengapa ingin menjadi biksu?”

Shinran kecil menjawab dengan tenang :  “Meski aku baru sembilan tahun, orangtuaku telah tiada. Aku tidak mengerti mengapa manusia harus mati, dan mengapa aku harus berpisah dengan ayah dan ibu. Untuk mencari jawaban itulah aku ingin menjalani kehidupan keagamaan.”

Guru Jichin sangat terkesan dan berkata :  “Baik. Aku mengerti. Aku bersedia menerimamu sebagai murid. Namun hari ini sudah terlalu malam. Besok pagi aku akan menahbiskanmu.”

Mendengar itu, Shinran kecil segera menjawab :  “Guru, meski Anda mengatakan besok pagi, aku masih anak-anak dan tak bisa menjamin tekadku akan bertahan sampai esok hari. Lagipula, Guru sudah lanjut usia—Anda pun tak bisa memastikan apakah besok pagi masih hidup atau tidak.”

Mendengar jawaban itu, Guru Jichin bertepuk tangan dengan gembira :  “Luar biasa! Kata-katamu benar sekali. Kalau begitu, sekarang juga aku akan menahbiskanmu.”

Jika esok masih ada, bagaimana kamu akan menghias wajahmu hari ini? Jika esok tidak datang, bagaimana kamu akan mengucapkan perpisahan?

Setiap orang pasti menghadapi lahir, tua, sakit, dan mati. Anak kecil tak tahu apakah tekad hari ini bisa bertahan sampai esok. Orang tua tak tahu apakah hidupnya masih berlanjut hingga pagi. Lalu, kita—dapatkah kita menjamin rencana hari ini masih kita ingat besok?

Tak seorang pun mampu meramalkan masa depan. Tak ada yang tahu apakah esok membawa harapan baru, atau justru keputusasaan yang tak terduga.

Karena itu, hiduplah dengan sungguh-sungguh hari ini. Jangan biarkan hari ini berlalu hanya menjadi bagian dari masa lalu tanpa makna.

Zelenskyy Menyerukan Pemungutan Suara Publik untuk Rencana Perdamaian 20 Poin di Ukraina

EtIndonesia. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mengatakan pada hari Senin (29/12)  bahwa rencana perdamaian 20 poin untuk mengakhiri perang Rusia harus diajukan ke referendum di Ukraina.

Berbicara kepada wartawan dalam obrolan WhatsApp, dia menambahkan bahwa gencatan senjata setidaknya 60 hari akan diperlukan untuk mengadakan referendum tersebut.

Kremlin Mengatakan Ukraina Harus Menarik Pasukan dari Donbas

Kremlin mengatakan pada hari Senin bahwa Ukraina harus menarik pasukannya dari bagian Donbas yang masih dikuasainya jika menginginkan perdamaian, dan bahwa jika Kyiv tidak mencapai kesepakatan maka mereka akan kehilangan lebih banyak wilayah.

Putin dan Trump berbicara pada hari Minggu menjelang pertemuan Trump di Miami dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan panggilan telepon lain direncanakan segera.

Peskov menolak berkomentar tentang gagasan zona ekonomi bebas di Donbas atau tentang masa depan pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia, yang dikendalikan oleh Rusia, dengan mengatakan bahwa Kremlin merasa hal itu tidak pantas.

Ketika ditanya tentang pernyataan ajudan Kremlin, Yuri Ushakov tentang keputusan yang perlu diambil Kyiv terkait Donbas, Peskov mengatakan bahwa Ukraina harus menarik pasukannya dari wilayah yang masih mereka kuasai.

“Kita berbicara tentang penarikan pasukan bersenjata rezim dari Donbas,” kata Peskov. Ketika ditanya apakah hal itu juga berlaku untuk wilayah Zaporizhzhia dan Kherson, dia menolak untuk membahas detailnya.

Saat ini Rusia menguasai seperlima wilayah Ukraina, termasuk Krimea yang dianeksasi pada tahun 2014, sekitar 90% wilayah Donbas, 75% wilayah Zaporizhzhia dan Kherson, dan sebagian kecil wilayah Kharkiv, Sumy, Mykolaiv, dan Dnipropetrovsk, menurut perkiraan Rusia.

Rusia mengklaim Donbas, Zaporizhzhia, dan Kherson sebagai bagian dari Rusia, meskipun sebagian besar negara menganggap wilayah tersebut sebagai bagian dari Ukraina.

Peskov mengatakan tidak ada pembicaraan mengenai panggilan telepon antara Putin dan Zelenskyy.

Peskov mengutip pernyataan Trump bahwa Ukraina dapat kehilangan lebih banyak wilayah ke Rusia dalam beberapa bulan mendatang kecuali Kyiv mencapai kesepakatan.(yn)

Seorang Pemuda Pingsan dan Dinyatakan Meninggal Dunia oleh Paramedis, Tetapi “Sadar Kembali” Sebelum Dibawa ke Rumah Duka 

Di  daratan Tiongkok, seorang pemuda terjatuh dari sepeda listrik dan pingsan. Setelah petugas ambulans 120 datang dan meraba nadinya, mereka menyatakan orang tersebut sudah meninggal dunia dan hendak mengirimnya ke rumah duka. Namun saat menunggu, pemuda itu tiba-tiba menopang tubuhnya dengan tangan dan mengangkat kepalanya. Sikap ceroboh petugas 120 ini memicu kehebohan luas di daratan Tiongkok

EtIndonesia. Video yang beredar di internet memperlihatkan seorang pemuda tergeletak di tanah, mulutnya mengeluarkan darah. Sepeda listriknya berdiri menempel pada tiang listrik di sampingnya, sementara beberapa barang berserakan di jalanan

Seorang warga di lokasi mengatakan kejadian itu terjadi sekitar pukul 05.00 pagi. Pemuda yang tergeletak tersebut adalah seorang kurir makanan yang mengalami kecelakaan cukup parah dan sedang menunggu pertolongan.

Tak lama kemudian, sebuah ambulans 120 tiba. Seorang pria berseragam turun dari mobil sambil membawa tas P3K. Ia mendekati pemuda itu, meraba lehernya sekali, lalu meraba bagian punggungnya, kemudian berkata, “Orangnya sudah tidak ada (meninggal).”

Petugas 120 itu lalu berdiri, membereskan barang-barangnya, dan bersiap pergi. Terdengar suara mengatakan, “Panggil saja rumah duka.” Saat para saksi merasa iba dan menyesali nasib pemuda tersebut, pemuda yang sebelumnya tergeletak tiba-tiba menopang tubuhnya dengan tangan, mengangkat kepala dan tubuh bagian atas, berputar sedikit, lalu kembali tergeletak.

Para warga berteriak kaget: “Dia masih bergerak! Apa dia hanya pingsan? Semoga saja dia cuma pingsan.”

Sebelumnya, ada video lain yang menunjukkan seorang perempuan menjelaskan bahwa seorang kurir muda menabrakkan sepeda listriknya ke tiang listrik, jatuh dan pingsan, lalu keluarganya menelepon layanan darurat 120.

Informasi daring menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi pada 13 Februari 2025 dini hari di Yuyao, Provinsi Zhejiang. Hingga kini belum ada informasi lanjutan apakah pemuda tersebut akhirnya dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.

Banyak warganet merasa ngeri dan mengecam ketidakprofesionalan petugas medis darurat. Mereka berkomentar:
“Dokter macam apa ini? Hanya meraba dua kali langsung menyatakan meninggal?”
“Bukankah seharusnya dibawa ke rumah sakit dulu untuk diselamatkan? Kenapa langsung mau panggil rumah duka?”
“Orang hidup hampir saja dibawa ke rumah duka.”

Ada pula komentar warganet lain:

“Hampir saja dibawa pergi, organ-organ tubuhnya masih hangat.”
“Bisa jadi sekalian untuk menjual organ tubuh.”
“Kalau sudah diangkat ke mobil, apakah akan disuntik obat penenang? Jadi sama sekali tidak mungkin sadar lagi… makin dipikir makin mengerikan.”
“Orangnya sendiri sudah mengangkat kepala, kok dibilang meninggal? Terlalu menakutkan!”
“Ambulans 120 ini sangat mencurigakan.”
“Masyarakat yang mengerikan, makin lama makin absurd.”

Dalam beberapa tahun terakhir, di daratan Tiongkok sering muncul kasus anak muda yang dinyatakan mati otak lalu ‘menyumbangkan’ organ tubuh, serta berbagai kasus hilangnya anak muda. Masyarakat pun menduga bahwa pihak berwenang PKT memperlakukan anak muda sebagai “bank donor organ.” (Hui)

Laporan komprehensif oleh Li Li / Lin Qing

Apakah Kamu Orang yang Memiliki Masa Depan?

EtIndonesia. Seorang hartawan Amerika, John D. Rockefeller, setiap kali bepergian dan menginap di hotel, selalu memilih kamar biasa.

Seorang pelayan heran dan bertanya :  “Putra Anda setiap datang selalu memesan kamar terbaik. Mengapa Anda tidak melakukan hal yang sama?”

Rockefeller tersenyum dan menjawab: “Karena dia punya ayah seorang hartawan, sedangkan saya tidak.”

Apakah seseorang memiliki masa depan atau tidak, sering kali sudah terlihat sejak masa remajanya.

Di fase inilah, di persimpangan penting kehidupan, seseorang menentukan arah: apakah dia akan menempuh jalan kebaikan atau keburukan, apakah kelak dia akan bermanfaat bagi masyarakat atau justru merugikannya.

Inilah masa paling krusial untuk memilih. Karena itu, setiap anak muda diharapkan menghargai diri sendiri, menghormati diri sendiri, dan berani menampilkan potensi diri—dengan begitu, masa depan pasti terbuka.

Lalu, seperti apa orang yang disebut punya masa depan? 

Berikut empat nasihat untuk para pemuda:

1. Bersyukur kepada sesama

Apa yang kita makan, pakai, dan gunakan—sebagian besar berasal dari jerih payah orangtua. Ilmu dan pengetahuan kita diperoleh dari guru. Cara bersikap dan bertindak kita pelajari dari para senior. Belum lagi fasilitas umum dan berbagai profesi yang membuat hidup kita lebih mudah.

Karena itu, belajarlah berterima kasih, dan miliki rasa syukur terhadap orang lain.

2. Mampu mengendalikan diri

Masa muda adalah masa darah panas—mudah tersulut emosi, gampang marah, dan sering impulsif. Yang paling penting adalah kemampuan menahan diri.

Bukan hakku—aku tidak serakah. Tidak perlu marah—aku memilih tenang.

Mampu menahan emosi adalah tanda kedewasaan besar.

3. Bersungguh-sungguh dalam setiap urusan

Saat menghadapi masalah, jangan takut gagal. Beranilah memikul tanggung jawab dan lakukan dengan sepenuh hati.

Berbuatlah sebaik mungkin saat bekerja, dan terimalah hasilnya dengan lapang dada.

Segala sesuatu di dunia terbentuk oleh sebab dan kondisi. Selama itu bermanfaat bagi banyak orang, lakukanlah dengan sepenuh tenaga—dengan pikiran, keringat, kontribusi, dan kebijaksanaan. Dari situlah kepercayaan dan penghargaan akan lahir.

4. Menghargai harta dan benda

Hargai uang, dan hargai pula barang yang digunakan. Sepatu yang seharusnya bisa dipakai tiga tahun, rusak dalam setahun karena tidak dirawat. Pakaian yang masih layak dipakai, dibuang hanya karena “tidak tren”.

Itu semua adalah tanda tidak menghargai rezeki. Rezeki seperti tabungan—jika dihamburkan terus, suatu hari akan habis.

Seorang guru Zen, Xuefeng, bahkan tidak membuang sehelai daun sayur pun—sebagai latihan menghargai segala sesuatu. Inilah sikap yang patut diteladani generasi muda masa kini.

Sejak kecil kita pernah menulis karangan berjudul “Cita-citaku”. Ada yang ingin menjadi insinyur, pendidik, dokter, pilot, atau ilmuwan.

Hidup memang membutuhkan cita-cita. Cita-cita ibarat bahan bakar—tanpanya, kendaraan tak akan melaju. Ada niat, barulah ada tenaga.

Menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan diri. Membuang energi berarti merusak diri sendiri.

Banyak anak muda hari ini terlihat lesu, tidak bersemangat, malas belajar—bukan karena tidak mampu, tetapi karena belum memiliki tekad yang sungguh-sungguh.

Bayangkan seorang siswa yang bertekad menyusun majalah kelulusan sebaik mungkin.
Begitu tekad itu muncul, tanggung jawab pun lahir. Dia bekerja tanpa mengenal lelah, memeras otak, mengorbankan waktu—semua demi satu tujuan.

Saat hati terfokus dan tekad bulat, keberhasilan hanyalah soal waktu.

Jadi, apakah kamu orang yang punya masa depan? Jawabannya tidak ditentukan oleh siapa orangtuamu, melainkan oleh pilihan, sikap, dan tekadmu hari ini. (jhn/yn)