Serangan Terbatas atau Guncangan Besar? Opsi Rahasia di Meja Presiden
EtIndonesia. Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan menggelar putaran ketiga perundingan nuklir pada Kamis, 26 Februari 2026, di Jenewa, Swiss. Pertemuan ini dipandang sebagai momen penentuan di tengah meningkatnya ketegangan militer dan tekanan politik yang terus menguat dalam beberapa hari terakhir.
Di saat jalur diplomasi masih dibuka, sinyal konfrontasi justru semakin jelas.
Sinyal Keras dari Gedung Putih
Pada 23 Februari 2026, sejumlah media Amerika mengutip sumber internal pemerintahan yang menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump telah menyiapkan opsi militer apabila perundingan di Jenewa gagal mencapai kesepakatan.
Menurut laporan tersebut, Pentagon telah menyusun rencana operasi bertahap. Tahap awal disebut mencakup serangan militer terbatas namun berdampak strategis, termasuk:
- Serangan udara terhadap fasilitas Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC)
- Target infrastruktur nuklir Iran
- Fasilitas yang terkait dengan program rudal balistik
Sumber yang sama menyebutkan bahwa jika serangan terbatas tidak mampu memaksa Teheran berkompromi, Gedung Putih tidak menutup kemungkinan meluncurkan operasi berskala lebih besar, termasuk skenario yang dapat mengguncang struktur kepemimpinan Iran.
Dalam pernyataan publiknya pada 23 Februari, Trump menegaskan bahwa dia tetap mengutamakan kesepakatan damai. Namun dia memperingatkan, apabila negosiasi gagal, “itu akan menjadi hari yang menyedihkan bagi Iran.”
Iran Tawarkan Konsesi Terakhir
Sementara itu, laporan Reuters pada 23 Februari menyebutkan bahwa Iran bersedia menawarkan konsesi baru dalam perundingan mendatang.
Teheran dikabarkan siap:
- Memberikan pembatasan tambahan dalam aktivitas nuklir tertentu
- Membuka ruang transparansi yang lebih luas
Namun dengan dua syarat utama:
- Sanksi ekonomi internasional dicabut secara signifikan
- Iran tetap diizinkan melakukan pengayaan uranium untuk tujuan sipil
Diplomat Barat menilai tawaran ini sebagai upaya diplomatik terakhir sebelum risiko konflik militer meningkat tajam.
Israel dan Kawasan Siaga
Pada hari yang sama, Channel 14 melaporkan bahwa Amerika Serikat telah menyelesaikan seluruh persiapan operasional untuk kemungkinan serangan terhadap Iran. Keputusan akhir kini berada di tangan Gedung Putih.
Di tengah situasi tersebut:
- Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio melakukan kunjungan ke Israel.
- Departemen Luar Negeri AS memerintahkan evakuasi staf non-esensial dari Kedutaan Besar AS di Beirut, Lebanon.
- Pemerintah Irak meminta mahasiswanya segera meninggalkan Iran.
- Pemerintah India juga mendesak warganya untuk keluar dari wilayah Iran.
Langkah-langkah ini memperkuat kesan bahwa kawasan Timur Tengah memasuki fase siaga tinggi menjelang 26 Februari.
Pesan Misterius dan Perang Psikologis
Di dalam negeri Iran, ketegangan juga meningkat. Laporan menyebutkan sekitar 50.000 warga Iran menerima pesan singkat anonim berbahasa Persia yang berbunyi: “Presiden Trump adalah sosok yang bertindak nyata. Kita lihat saja nanti.”
Belum diketahui pihak mana yang berada di balik pesan tersebut. Namun sejumlah analis menilai ini sebagai bagian dari tekanan psikologis di tengah situasi yang semakin sensitif.
Trump Bantah Isu Perpecahan Internal Militer
Di Washington, muncul laporan bahwa Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Kane, memperingatkan Trump bahwa menyerang Iran dapat memicu perang berkepanjangan dengan korban besar.
Trump membantah keras laporan tersebut. Dia menyatakan bahwa Jenderal Kane tidak pernah menolak opsi militer, melainkan hanya menyampaikan risiko strategis.
Menurut Trump, keputusan akhir tetap berada di tangannya sebagai panglima tertinggi. Dia menegaskan kembali preferensinya terhadap solusi damai, namun tidak akan ragu menggunakan kekuatan jika diperlukan.
Dalam pernyataan yang lebih tegas, Trump bahkan menyatakan harapannya agar terjadi perubahan rezim di Iran, dengan alasan bahwa selama hampir lima dekade dialog berlangsung, ketegangan tetap berulang dan korban terus berjatuhan.
Persiapan Suksesi di Teheran
Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei dilaporkan telah menyiapkan skenario darurat jika terjadi serangan terhadap pucuk pimpinan negara.
Dia disebut menunjuk Ali Larijani sebagai figur kunci dalam mekanisme suksesi. Selain itu, untuk setiap posisi militer dan pemerintahan, telah disusun empat tingkat suksesi guna memastikan kelangsungan struktur rezim apabila terjadi skenario ekstrem.
Langkah ini menunjukkan bahwa Teheran tidak menganggap ancaman serangan sebagai sekadar retorika politik.
Sikap Rusia dan Tiongkok
Dua sekutu utama Iran, Rusia dan Tiongkok, hingga kini belum menunjukkan indikasi akan memberikan dukungan militer langsung jika Amerika Serikat melakukan serangan.
Namun, dokumen yang disebut bocor mengindikasikan adanya kesepakatan senjata rahasia senilai 500 juta euro antara Rusia dan Iran. Sementara itu, Tiongkok dilaporkan membantu dalam pengembangan teknologi pertahanan yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan menghadapi pesawat siluman Amerika.
Meski demikian, analis keamanan menilai kecil kemungkinan Moskow dan Beijing terlibat langsung dalam konflik terbuka dengan Washington.
Pekan Penentuan
Dengan perundingan dijadwalkan pada 26 Februari 2026 di Jenewa, banyak pengamat menyebut pekan ini sebagai momen paling krusial dalam hubungan AS–Iran dalam beberapa tahun terakhir.
Dua kemungkinan kini terbuka:
- Iran menerima kompromi signifikan demi pencabutan sanksi
- Atau negosiasi runtuh dan membuka babak baru konfrontasi militer
Apakah diplomasi masih memiliki ruang? Ataukah dunia sedang bergerak menuju eskalasi yang lebih luas?
Jawabannya mungkin akan mulai terlihat pada Kamis mendatang di Jenewa.
El Mencho Tewas! Meksiko Meledak, 11 Negara Bagian Berubah Jadi Medan Perang
EtIndonesia. Pada 22 Februari 2026, Meksiko diguncang kekacauan berskala nasional menyusul tewasnya buronan narkotika paling dicari di dunia, Nemesio Rubén Oseguera Cervantes, yang lebih dikenal dengan julukan El Mencho. Dia merupakan pemimpin organisasi kriminal bersenjata Kartel Jalisco Generasi Baru (CJNG), kelompok yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu pemasok utama fentanil dan metamfetamin ke Amerika Serikat.
Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya menetapkan hadiah sebesar 15 juta dolar AS bagi siapa pun yang memberikan informasi yang mengarah pada penangkapannya. Operasi gabungan militer Meksiko dan dukungan intelijen Amerika Serikat akhirnya mengakhiri pelariannya. Namun alih-alih meredakan kekerasan, kematian El Mencho justru memicu gelombang balas dendam brutal yang meluas ke berbagai wilayah Meksiko.
Operasi Militer 22 Februari: Serangan Udara dan Baku Tembak Sengit
Menurut informasi resmi yang beredar pada 22 Februari 2026, operasi penangkapan dipimpin oleh pasukan khusus Meksiko dengan dukungan intelijen presisi dari Amerika Serikat. Pasukan bergerak cepat menuju lokasi persembunyian target dengan perlindungan helikopter militer jenis Black Hawk.
Kontak senjata pun tak terhindarkan. Baku tembak berlangsung sengit sebelum El Mencho dilaporkan mengalami luka berat. Dia kemudian diterbangkan menggunakan helikopter militer menuju Mexico City, namun dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan.
Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan situasi di dalam helikopter. Dalam operasi tersebut, putra keduanya juga dilaporkan berhasil ditangkap.
Sepuluh hari sebelum operasi, Senat Meksiko diketahui telah menyetujui kehadiran pasukan khusus Amerika Serikat untuk misi “pelatihan”. Namun banyak pengamat menilai keputusan itu merupakan bagian dari persiapan akhir untuk operasi penargetan terhadap pimpinan CJNG.
Siapa El Mencho dan Seberapa Besar CJNG?
Didirikan pada 2009, Kartel Jalisco Generasi Baru berkembang menjadi salah satu organisasi kriminal paling kuat di dunia. Jika kartel narkoba dianalogikan sebagai perusahaan multinasional, maka CJNG adalah raksasa dengan kekuatan finansial dan militer luar biasa.
Beberapa karakteristik kekuatan CJNG:
- Lebih dari 10.000 anggota bersenjata aktif
- Pendapatan tahunan diperkirakan melebihi 40 miliar dolar AS
- Memiliki bunker bawah tanah dan kendaraan lapis baja
- Mengoperasikan drone tempur dan persenjataan berat
- Pernah menembak jatuh helikopter militer pemerintah dengan peluncur roket
El Mencho dikenal sebagai arsitek “kerajaan fentanil” yang menjadikan CJNG pemasok utama narkotika sintetis ke Amerika Serikat. Otoritas AS menilai jaringan ini berkontribusi terhadap puluhan ribu kematian akibat overdosis setiap tahun.
Sejumlah laporan juga menyebutkan bahwa prekursor kimia untuk produksi narkotika sintetis diperoleh dari luar negeri sebelum diproses dan diselundupkan ke pasar Amerika.
22–23 Februari: Enam Negara Bagian Berubah Jadi Zona Perang
Dalam waktu kurang dari 24 jam setelah kabar kematian El Mencho tersebar, CJNG melancarkan aksi balasan terkoordinasi.
Sedikitnya enam negara bagian langsung dilanda kekerasan, dan dalam hitungan jam meluas hingga sebelas negara bagian. Beberapa kota yang terdampak parah antara lain:
- Guadalajara
- Puerto Vallarta
Di kota wisata Puerto Vallarta, kendaraan dibakar dan jalan raya diblokade. Sementara di sekitar Bandara Internasional Guadalajara, kelompok bersenjata dilaporkan mengepung area vital tersebut, bahkan membakar pesawat sipil.
Rekaman yang beredar menunjukkan kendaraan lapis baja milik kartel dengan senapan mesin berat berpatroli di pusat kota. Polisi dan fasilitas pemerintah menjadi sasaran serangan. Toko-toko dijarah dan dibakar. Jalanan berubah menjadi medan tempur terbuka.
Pemerintah Meksiko segera menetapkan status siaga merah nasional. Sedikitnya 15 kota mengalami gangguan keamanan serius.
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Meksiko mengeluarkan peringatan keamanan darurat, meminta warga Amerika—termasuk wisatawan—untuk berlindung di tempat aman dan menghindari perjalanan.
Untuk pertama kalinya dalam skala sebesar ini, wilayah yang selama ini disebut sebagai “halaman belakang” Amerika Serikat menyaksikan perang terbuka antara negara berdaulat dan organisasi narkoba bersenjata.
Bayang-bayang Politik dan Tuduhan Kolusi
Krisis ini juga menyoroti sisi gelap politik Meksiko.
Pada Agustus 2025, Senator Lili Téllez secara terbuka menuduh adanya keterkaitan antara elite politik dan kartel narkoba dalam sebuah wawancara televisi di Amerika Serikat. Dia menyatakan bahwa sebagian dana kampanye partai berkuasa, Morena, diduga berasal dari uang kartel.
Téllez mengklaim sejumlah politisi telah dicap sebagai “narco-politician” oleh komunitas intelijen internasional.
Sementara itu, Wali Kota Uruapan, Carlos Manzo, yang dikenal vokal menentang kartel, dilaporkan tewas dibunuh pada periode yang berdekatan. Banyak pihak menilai peristiwa tersebut sebagai pesan intimidasi bagi pejabat yang berani melawan jaringan kriminal.
Rekaman lama tahun 2016 yang kembali beredar juga memperlihatkan El Mencho mengancam seorang kepala polisi melalui telepon—dan sang pejabat terdengar tunduk dalam ketakutan.
Dilema Strategis Meksiko
Pemerintah Meksiko kini menghadapi pilihan paling sulit dalam sejarah modernnya:
- Melanjutkan pendekatan kompromi tidak resmi dengan kartel demi stabilitas semu.
- Melakukan pembersihan total dengan dukungan militer dan intelijen Amerika Serikat.
Dalam konteks kebijakan keamanan keras yang didorong Presiden Donald Trump, operasi terhadap CJNG dipandang sebagai simbol penegakan kembali pengaruh Amerika Serikat di kawasan.
Selama beberapa dekade, Washington dikritik karena gagal menghentikan arus narkoba yang merenggut nyawa warga Amerika, sementara senjata yang beredar di Meksiko kerap berasal dari pasar AS. Kini pendekatan yang ditempuh lebih langsung dan konfrontatif.
Namun pertanyaannya tetap sama: apakah kematian satu pemimpin cukup untuk meruntuhkan organisasi dengan puluhan ribu anggota bersenjata?
Perang Baru Dimulai
Hingga 23 Februari 2026, kekerasan masih berlangsung di berbagai wilayah. Dari enam negara bagian awal, konflik telah meluas ke sebelas wilayah administratif.
Kematian El Mencho bukan akhir dari perang narkoba di Meksiko. Justru, banyak analis menilai, ini adalah awal babak baru—di mana negara dan kartel kini berhadapan secara terbuka tanpa lagi sekat bayangan.
Peluru pertama telah ditembakkan. Dan Meksiko kini berdiri di persimpangan sejarahnya sendiri.
Iran Tak Gentar, AS Tak Mundur: Dunia Menahan Napas
EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam dalam sepekan terakhir. Washington terus memperkuat pengerahan militernya di kawasan Timur Tengah yang berdekatan dengan Iran, sementara jalur diplomasi tetap diupayakan melalui perundingan yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss.
Langkah-langkah ini terjadi di tengah peringatan keras dari Presiden AS, Donald Trump serta respons tegas dari Teheran yang menolak segala bentuk tekanan militer.
Pengerahan Militer Besar-besaran AS
Sejak pertengahan Februari 2026, Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Teluk dan sekitarnya. Pengerahan tersebut mencakup tambahan kapal perang, pesawat tempur, serta personel militer di sejumlah pangkalan strategis.
Pada 17 Februari 2026, sejumlah pesawat tempur tambahan dilaporkan tiba di kawasan transit Eropa sebelum menuju Timur Tengah. Langkah ini dipandang analis sebagai bagian dari konsolidasi kekuatan jika negosiasi nuklir dengan Iran gagal mencapai titik temu.
Presiden Donald Trump dalam beberapa pernyataannya menegaskan bahwa Iran harus segera mencapai kesepakatan baru terkait program nuklirnya. Dia menyebut bahwa opsi “serangan terbatas” tetap terbuka apabila jalur diplomasi menemui jalan buntu.
Menurut laporan AFP pada 22 Februari 2026, Trump kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan ragu mengambil tindakan militer terbatas jika Iran menolak kompromi.
Sejumlah pengamat menilai konsentrasi militer AS kali ini termasuk yang terbesar dalam beberapa dekade terakhir dalam konteks ketegangan langsung dengan Iran.
Respons Tegas Teheran: “Tidak Ada Istilah Serangan Terbatas”
Pemerintah Iran merespons pernyataan Washington dengan nada keras. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanaani Baghaei, pada 22 Februari 2026 menyatakan bahwa dalam pandangan Teheran tidak ada istilah “serangan terbatas”.
Dia memperingatkan bahwa setiap bentuk agresi militer akan dibalas dengan respons yang tegas dan menyeluruh.
Baghaei juga menanggapi pernyataan Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, yang dalam wawancara dengan Fox News menyebut Presiden Trump heran mengapa Iran belum menunjukkan tanda-tanda menyerah meski berada di bawah tekanan militer besar.
Menanggapi hal itu, Baghaei menegaskan bahwa “rakyat Iran tidak pernah tunduk dalam sejarahnya” dan tidak akan menyerah pada tekanan eksternal.
Jalur Diplomasi: Perundingan di Jenewa
Di tengah meningkatnya ketegangan militer, jalur diplomasi tetap berjalan.
Menteri Luar Negeri Oman pada 22 Februari 2026 mengonfirmasi bahwa putaran baru perundingan antara Amerika Serikat dan Iran akan digelar pada 26 Februari 2026 di Geneva, Swiss.
Sebelumnya, pada 17 Februari 2026, perundingan tidak langsung telah berlangsung di kota yang sama melalui mediasi pihak ketiga.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara dengan CBS menyatakan bahwa dia membuka kemungkinan bertemu langsung dengan Witkoff untuk memulai kembali negosiasi nuklir secara lebih intensif.
Araghchi mengungkapkan bahwa Iran tengah menyusun proposal baru dan meyakini kesepakatan yang “lebih baik dan lebih seimbang” dibanding Perjanjian Nuklir 2015 (JCPOA) masih dapat dicapai. Namun, dia menolak berkomentar mengenai kemungkinan skenario serangan militer dari pihak Amerika Serikat.
Iran dan Rusia Capai Kesepakatan Senjata 500 Juta Euro
Sementara itu, dinamika geopolitik semakin kompleks setelah laporan dari harian Inggris Financial Times pada 22 Februari 2026 mengungkap adanya kesepakatan pembelian senjata antara Iran dan Rusia.
Berdasarkan dokumen yang bocor dan sumber yang dikutip media tersebut, Iran disebut menyetujui perjanjian rahasia senilai 500 juta euro yang ditandatangani di Moskow pada Desember 2025.
Perjanjian tersebut mencakup:
- 500 unit peluncur portabel sistem V-8
- 2.500 rudal jenis 9M336
- Pengiriman dilakukan dalam jangka waktu tiga tahun
Sistem V-8 disebut sebagai salah satu sistem pertahanan udara terbaru Rusia yang mampu menargetkan rudal jelajah, pesawat terbang rendah, serta drone.
Langkah ini dipandang sebagai upaya Iran memperkuat sistem pertahanan udaranya di tengah ancaman serangan dari luar.
Gelombang Protes Mahasiswa Kembali Menguat
Di dalam negeri, Iran juga menghadapi tekanan internal.
Memasuki semester baru pada akhir Februari 2026, mahasiswa di sejumlah universitas di Teheran dan kota-kota besar lainnya kembali menggelar demonstrasi anti-pemerintah.
Para demonstran mengecam kepemimpinan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta meneriakkan dukungan terhadap putra mahkota Iran yang kini berada dalam pengasingan.
Bentrokan antara mahasiswa dan milisi pro-pemerintah dilaporkan terjadi pada 21–22 Februari 2026, menyebabkan sejumlah orang terluka.
Dalam aksi peringatan seorang pemuda yang tewas dalam demonstrasi sebelumnya, massa meneriakkan slogan: “Jika satu orang gugur, seribu akan bangkit menggantikannya.”
Situasi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pemerintah Iran datang tidak hanya dari luar negeri, tetapi juga dari dalam negeri sendiri.
Negara-negara Asing Keluarkan Imbauan Evakuasi
Ketidakpastian situasi keamanan turut mendorong sejumlah negara mengeluarkan imbauan darurat.
India, pada 22 Februari 2026, secara resmi mengimbau seluruh warganya yang berada di Iran untuk segera meninggalkan negara tersebut menggunakan segala moda transportasi yang tersedia.
Imbauan tersebut muncul di tengah kekhawatiran bahwa jika negosiasi gagal, aksi militer dapat terjadi dalam waktu singkat.
Persimpangan Berbahaya
Perkembangan dalam kurun waktu 17–26 Februari 2026 menunjukkan bahwa krisis AS–Iran berada pada fase krusial.
Di satu sisi, Washington meningkatkan tekanan militer dan tidak menutup opsi serangan. Di sisi lain, Iran memperkuat pertahanan dan menjalin kerja sama militer dengan Rusia.
Sementara itu, perundingan di Jenewa menjadi satu-satunya kanal yang masih membuka peluang de-eskalasi.
Dalam situasi yang semakin kompleks ini, dunia kini menunggu apakah jalur diplomasi mampu meredam konflik — atau justru kawasan Timur Tengah kembali memasuki babak konfrontasi yang lebih luas.
Iran 22–23 Februari: Demonstrasi Membesar, Ledakan Misterius Guncang Teheran, Sinyal Perang Menguat
EtIndonesia. Situasi di Iran dalam dua hari terakhir berkembang sangat cepat dan penuh ketegangan. Gelombang demonstrasi mahasiswa kembali meletus di berbagai kampus besar, aparat keamanan dikerahkan secara masif, ledakan misterius mengguncang ibu kota, sementara di saat yang sama pergerakan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah meningkat tajam.
Perkembangan pada 22–23 Februari ini dinilai sebagai salah satu momen paling genting Iran dalam beberapa pekan terakhir.
Bentrokan di Universitas Teheran, Gas Air Mata Ditembakkan
Pada Sabtu, 22 Februari 2026, rekaman yang beredar luas di media sosial memperlihatkan suasana mencekam di Universitas Teheran. Pasukan keamanan Iran, termasuk aparat kepolisian dan unsur militer, terlihat menembakkan gas air mata ke arah mahasiswa yang melakukan aksi protes di dalam dan sekitar area kampus.
Aparat berupaya membubarkan massa dengan tindakan represif, termasuk pemukulan terhadap demonstran. Meski situasi kacau dan dipenuhi kepulan gas air mata, sejumlah mahasiswa tetap bertahan di lokasi sambil meneriakkan slogan-slogan perlawanan.
Salah satu simbol yang mencuri perhatian adalah penggunaan kertas putih oleh para demonstran. Banyak mahasiswa mengangkat lembaran kosong sebagai bentuk protes simbolik—sebuah metode yang mengingatkan publik pada gerakan “kertas putih” yang pernah muncul di berbagai kota di Tiongkok beberapa tahun lalu sebagai simbol penolakan terhadap pembatasan kebebasan berekspresi.
Dalam sejumlah video, mahasiswa terdengar meneriakkan:
- “Hidup Sang Raja!”
- “Darah yang telah tertumpah tidak akan pernah terhapus!”
Seruan tersebut merujuk pada nostalgia terhadap era monarki sebelum Revolusi Islam 1979.
Simbol Monarki Kembali Muncul di Kampus
Gelombang protes tidak hanya terjadi di Universitas Teheran. Pada hari yang sama, aksi serupa juga berlangsung di Universitas Teknologi Sharif, salah satu kampus teknik paling bergengsi di Iran.
Mahasiswa terlihat mengibarkan bendera bergambar singa dan matahari, simbol monarki Iran pada masa Dinasti Pahlavi. Sejumlah demonstran bahkan menyebut aksi ini sebagai “pertarungan terakhir” dan secara terbuka menyerukan kebangkitan kembali Dinasti Pahlavi.
Di beberapa kampus lain, mahasiswa—sebagian masih mengenakan ransel kuliah—berkumpul spontan, meneriakkan tuntutan agar pemerintahan Islam mundur.
Milisi Basij Masuk Kampus
Ketegangan meningkat ketika milisi Basij dikerahkan ke berbagai universitas. Seorang mahasiswa di Universitas Teheran merekam keberadaan anggota Basij di sebuah menara dekat kampus yang diduga digunakan untuk pemantauan dan perekaman aktivitas demonstran.
Pada Minggu, 23 Februari 2026, pasukan khusus Iran dilaporkan memasuki Universitas Ferdowsi Mashhad untuk membubarkan demonstrasi. Bentrokan sempat terjadi dan situasi di lapangan digambarkan sangat kacau.
Di Universitas Teheran sendiri, sekitar 50–60 anggota Basij memasuki area kampus sambil mengibarkan bendera pemerintahan Islam. Ribuan mahasiswa melakukan perlawanan. Bentrokan fisik tidak terhindarkan dan berlangsung hampir sepanjang hari.
Ledakan Misterius Guncang Teheran
Masih pada Minggu pagi, 23 Februari, warga Teheran yang melintas di jalan tol merekam ledakan di beberapa titik kota.
Hingga kini belum ada konfirmasi resmi mengenai:
- Lokasi pasti ledakan
- Penyebab kejadian
- Jumlah korban (jika ada)
Beredar spekulasi bahwa sumber ledakan berasal dari fasilitas bawah tanah—kemungkinan gudang persenjataan atau pusat komando rahasia. Beberapa rekaman memperlihatkan kobaran api dan asap hitam tebal membumbung tinggi.
Belum dapat dipastikan apakah ledakan ini berkaitan dengan aksi sabotase, kecelakaan militer, atau kemungkinan operasi intelijen asing.
Pergerakan Militer AS Meningkat Drastis
Di tengah gejolak internal Iran, perhatian global tertuju pada pergerakan militer Amerika Serikat.
USS Gerald R. Ford di Mediterania
Kelompok tempur kapal induk ini dilaporkan berada di kawasan Laut Mediterania. Pada 22 Februari, kapal perusak USS Winston S. Churchill terpantau melintasi Selat Gibraltar.
Foto yang beredar di media sosial mengklaim kapal induk tersebut telah tiba di Haifa, Israel, namun informasi ini belum terverifikasi.
USS Abraham Lincoln di Laut Arab
Kelompok tempur ini beroperasi di Laut Arab dekat wilayah selatan Iran, didukung kapal perusak kelas Arleigh Burke dan kapal selam nuklir.
Dua kapal selam nuklir tambahan—USS Georgia dan USS South Dakota—juga dilaporkan beroperasi di Samudra Hindia.
F-22 dan Penguatan Udara
Sebanyak 12 jet tempur F-22 terlihat siaga di RAF Lakenheath pada 22 Februari.
Citra satelit di Pulau Kreta menunjukkan:
- 11 pesawat tanker KC-135
- 2 pesawat pengintai RC-135
- 1 jet tempur F-15
Peningkatan penerbangan pesawat angkut militer C-17 dari daratan AS ke Eropa juga terdeteksi dalam 24 jam terakhir.
Sikap Inggris dan Respons Diplomatik Iran
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer dilaporkan menolak penggunaan pangkalan Inggris untuk menyerang Iran.
Sementara itu, pada 22 Februari 2026, Iran menyatakan bersedia:
- Mengekspor separuh cadangan uranium yang diperkaya tinggi
- Mengencerkan separuh sisanya
- Mengizinkan pengawasan badan nuklir internasional
Langkah ini dipandang sebagai sinyal kompromi diplomatik di tengah tekanan militer yang meningkat.
Menurut laporan The New York Times, Presiden Donald Trump mempertimbangkan opsi serangan terbatas terhadap Iran dalam beberapa hari mendatang jika kesepakatan nuklir tidak tercapai.
Ketegangan Global Meluas
Pada hari yang sama, bentrokan bersenjata besar juga dilaporkan terjadi di Meksiko setelah seorang pemimpin kartel narkoba tewas dalam operasi keamanan.
Memasuki tahun 2026, dinamika geopolitik global bergerak sangat cepat. Iran kini berada di persimpangan antara kompromi diplomatik dan kemungkinan eskalasi militer berskala besar.
Perkembangan beberapa hari ke depan akan sangat menentukan arah kawasan Timur Tengah—dan mungkin juga stabilitas global secara lebih luas.
Serangan Balasan atas Pemboman Masjid, Pakistan Menyerang 7 Lokasi Persembunyian Kelompok Bersenjata
EtIndonesia. Otoritas Pakistan pada Sabtu (22 Februari) menyatakan telah menargetkan kelompok bersenjata dengan serangan udara ke tujuh lokasi di wilayah perbatasan Pakistan–Afghanistan. Militer Pakistan menuduh kelompok-kelompok tersebut terlibat dalam serangan bom bunuh diri yang terjadi baru-baru ini.
Laporan Agence France-Presse, Ministry of Information and Broadcasting menyatakan bahwa operasi ini merupakan respons atas pemboman bunuh diri di sebuah masjid Syiah di Islamabad dua pekan lalu, serta serangkaian serangan bunuh diri lain yang terjadi belakangan di wilayah barat laut Pakistan.
Kementerian tersebut menambahkan bahwa Pakistan melakukan serangan selektif berbasis intelijen terhadap tujuh kamp teroris dan tempat persembunyian di kawasan perbatasan yang disebut milik Pakistani Taliban beserta organisasi afiliasinya.
Sementara itu, rezim Taliban Afghanistan mengklaim bahwa serangan pada 21 Februari menyebabkan puluhan korban tewas dan luka-luka, termasuk warga sipil, dan menyatakan militer akan memberikan respons pada waktu yang dianggap tepat. Reuters menyebut klaim Taliban tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Pakistan selama ini menuduh Afghanistan membiarkan wilayahnya digunakan sebagai tempat persembunyian kelompok bersenjata untuk melancarkan serangan ke Pakistan. Dalam beberapa bulan terakhir, bentrokan mematikan di kawasan perbatasan kian sering terjadi dan menyebabkan hubungan kedua negara memburuk tajam.
Kelompok Islamic State mengaku bertanggung jawab atas pemboman masjid di Islamabad pada 7 Februari, yang menewaskan sedikitnya 31 orang dan melukai lebih dari 160 orang. Insiden ini disebut sebagai serangan paling mematikan di Islamabad sejak pemboman Marriott Hotel pada tahun 2008. (Hui)
Sumber : NTDTV.com
Nuklir Taktis Beijing & Kartel Meksiko Mengamuk: Dunia Menuju Dua Titik Ledak Sekaligus?
EtIndonesia. Ketegangan geopolitik global kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Dua perkembangan besar—pergeseran strategi nuklir Tiongkok dan ledakan kekerasan kartel narkoba di Meksiko—memunculkan kekhawatiran baru mengenai stabilitas keamanan internasional.
Laporan intelijen Amerika Serikat mengindikasikan adanya perubahan signifikan dalam doktrin nuklir Beijing. Di saat yang sama, krisis keamanan di Meksiko pada 22–23 Februari memaksa Washington mengaktifkan respons lintas lembaga. Banyak pengamat menilai kedua peristiwa ini, meski terjadi di kawasan berbeda, sama-sama berpotensi memengaruhi kalkulasi strategis Amerika Serikat.
Pergeseran Strategi Nuklir Beijing
Menurut sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat, komunitas intelijen Washington menilai bahwa strategi nuklir Tiongkok tengah mengalami transformasi penting. Jika selama beberapa dekade Beijing menekankan doktrin “kehancuran bersama” (mutual assured destruction) dengan mengandalkan hulu ledak berdaya hancur besar sebagai alat penangkal, kini fokus disebut bergeser pada pengembangan senjata nuklir taktis berdaya ledak rendah.
Pada 22 Juni 2020, sensor seismik internasional mendeteksi getaran anomali berkekuatan 2,75 magnitudo di sekitar kawasan Lop Nur, Xinjiang—wilayah yang sejak lama dikenal sebagai lokasi uji coba nuklir Tiongkok. Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS secara terbuka menyebut getaran tersebut diduga terkait eksperimen miniaturisasi hulu ledak nuklir.
Menurut penilaian Washington, Beijing kini mengembangkan hulu ledak berkekuatan hanya beberapa kiloton, dengan tingkat presisi lebih tinggi dan ambang penggunaan yang lebih rendah. Istilah “lebih dapat digunakan” merujuk pada konsep bahwa senjata tersebut tidak lagi semata-mata berfungsi sebagai penangkal strategis, melainkan berpotensi dipertimbangkan sebagai instrumen taktis di medan konflik.
Implikasi terhadap Selat Taiwan
Sejumlah pengamat luar menilai perubahan ini berkaitan erat dengan dinamika keamanan di sekitar Taiwan. Dalam skenario eskalasi militer di Selat Taiwan, Tiongkok diduga dapat mempertimbangkan penggunaan senjata nuklir berdaya rendah untuk memaksa mundur intervensi militer Amerika Serikat.
Target potensial yang disebut dalam analisis keamanan mencakup pangkalan militer AS di Jepang atau simpul pertahanan udara utama di Taiwan. Logika strategisnya dinilai sangat agresif: menyerang target militer terbatas untuk menghindari serangan terhadap kota-kota besar, sehingga menciptakan dilema bagi Washington—apakah akan membalas dengan eskalasi nuklir penuh demi mempertahankan satu pangkalan atau instalasi tertentu.
Isu ini disebut menjadi salah satu topik sensitif menjelang rencana kunjungan Presiden AS, Donald Trump, ke Beijing pada April mendatang. Sejumlah analis menilai pengungkapan informasi intelijen ini merupakan bentuk tekanan diplomatik awal sebelum pertemuan tingkat tinggi tersebut berlangsung.
Insiden Militer di Guangdong dan Shandong
Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, muncul kabar tambahan pada periode libur Tahun Baru Imlek. Seorang mayor purnawirawan India bernama Samar melalui platform X menyebut bahwa dalam rentang 24 jam terjadi dua insiden di fasilitas militer Tiongkok—pertama di Shantou, Provinsi Guangdong, dan kemudian di Zibo, Provinsi Shandong.
Informasi tersebut belum terverifikasi secara independen. Namun dia mengaitkannya dengan rumor keterlibatan kelompok militan asal Pakistan yang disebut melakukan aksi pembalasan atas dugaan kebocoran koordinat pimpinan mereka.
Kelompok tersebut, menurut klaim yang beredar, pernah terlibat dalam aksi-aksi besar pada 2001, 2006, dan 2008 yang memicu ketegangan serius di Asia Selatan. Jika benar, insiden ini berpotensi menyoroti risiko kebijakan penggunaan aktor proksi di luar negeri—yang sewaktu-waktu dapat berbalik menjadi ancaman domestik.
Krisis Kartel di Meksiko: CJNG Mengamuk
Sementara itu, pada 22 Februari, situasi keamanan di Meksiko memburuk secara drastis. Pemimpin kartel narkoba Jalisco New Generation Cartel (CJNG), yang dikenal dengan julukan “El Mencho”, dilaporkan tewas dalam operasi aparat keamanan. Malam yang sama, putranya ditangkap dan dibawa ke lokasi rahasia untuk diinterogasi.
CJNG segera melancarkan aksi balasan terkoordinasi di sedikitnya delapan negara bagian.
Negara bagian Jalisco menetapkan status siaga merah. Kota Guadalajara dan destinasi wisata Puerto Vallarta mendadak berubah menjadi zona krisis. Jalan-jalan diblokade dengan kendaraan terbakar, layanan publik dihentikan, dan kepanikan meluas.
Pada 23 Februari, Kedutaan Besar India di Meksiko mengimbau warganya untuk tetap berada di dalam ruangan. Otoritas konsuler AS mengeluarkan peringatan serupa. Konsulat Jenderal AS di Guadalajara menghentikan layanan publik, sementara maskapai seperti Air Canada dan United Airlines membatalkan sejumlah penerbangan.
Kartel bahkan mengeluarkan ancaman terbuka bahwa siapa pun yang berada di jalan akan dianggap sebagai target. Laporan tak resmi menyebut adanya penembakan terhadap pesawat yang mendarat darurat di bandara Guadalajara.
Dimensi Geopolitik yang Lebih Luas
Sejumlah laporan sebelumnya menuding kartel Meksiko sebagai bagian dari jaringan perang non-konvensional terhadap Amerika Serikat. Tuduhan tersebut mencakup dugaan pasokan bahan baku narkotika sintetis dari Tiongkok serta penggunaan jaringan keuangan bawah tanah untuk pencucian uang.
Jika eskalasi terjadi secara bersamaan—ketegangan nuklir di Selat Taiwan dan instabilitas domestik di Amerika akibat kekerasan kartel—Washington dapat dipaksa membagi fokus strategisnya.
Kantor berita Reuters melaporkan bahwa gugus tugas lintas lembaga AS telah dikerahkan untuk menangani krisis Meksiko. Hal ini menunjukkan bahwa keamanan dalam negeri kini dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari strategi penahanan global.
Dunia di Persimpangan
Rangkaian peristiwa sejak 22 hingga 23 Februari memperlihatkan betapa rapuhnya keseimbangan global saat ini. Pergeseran doktrin nuklir di Asia Timur dan ledakan kekerasan di Amerika Utara mungkin terjadi di kawasan berbeda, tetapi keduanya memiliki dampak strategis yang saling berkaitan.
Di tengah persiapan kunjungan diplomatik tingkat tinggi dan dinamika keamanan yang cepat berubah, dunia tampak memasuki fase ketidakpastian baru—di mana keputusan politik, kalkulasi militer, dan stabilitas domestik saling berkelindan dalam satu lanskap risiko global yang semakin kompleks.
Badai Pasir Menyapu Banyak Wilayah Tiongkok Utara, Udara Shanghai Alami Polusi Berat
Badai pasir melanda banyak wilayah di Tiongkok Utara dan kini telah mencapai Shanghai serta Zhejiang. Pada 22 Februari, Indeks Kualitas Udara (AQI) Shanghai melonjak hingga 250, dengan PM10 sebagai polutan utama, yang tergolong polusi berat
EtIndonesia. Informasi dari “Shanghai Environment”, pada 22 Februari pukul 17.00, AQI real-time Shanghai tercatat 250 (polusi berat) dengan PM10 sebagai polutan utama. Pada pukul 18.00, AQI turun menjadi 193 (polusi sedang), namun polutan utama tetap PM10.
Situs resmi Shanghai Municipal Bureau of Ecology and Environment menyebutkan bahwa dari malam tanggal 22 hingga dini hari tanggal 23 Februari, akibat transmisi badai pasir dari wilayah utara, Shanghai diperkirakan mengalami episode polusi ringan PM10.
Warganet Shanghai berkomentar, “Hari ini (22 Februari) kabut asap di Kunshan parah sekali, keluar sebentar rasanya seperti menelan debu.” Ada pula yang mengatakan, “Begitu tiba di Kunshan rasanya seperti sudah sampai Shanghai, bau tanah di mana-mana.”
Pada 21 Februari, proses badai pasir dengan cakupan terluas dan intensitas terkuat sejak awal tahun ini menyerang banyak wilayah di utara. Beijing, Hebei, dan Shanxi mengalami kualitas udara dari polusi berat hingga sangat berat.
Sejumlah objek wisata ditutup dan penerbangan mengalami penundaan. Otoritas meteorologi memperkirakan wilayah terdampak akan terus meluas, dengan sebagian wilayah selatan mengalami polusi impor.
Hingga 21 Februari pukul 16.00, AQI real-time Beijing mencapai 258 (polusi berat), dengan PM10 sebagai polutan utama. Wilayah barat laut Beijing seperti Yanqing, Huairou, Changping, dan Mentougou telah mencapai tingkat polusi sangat berat.
Sekitar pukul 15.00 pada 22 Februari, analis meteorologi China Weather Channel, Xin Xin, menulis di Weibo bahwa bagian depan badai pasir telah bergerak hingga sepanjang Sungai Yangtze. Di Anqing, Wuhu, Ma’anshan, dan Shanghai, konsentrasi PM10 melampaui 200 µg/m³. Di Nanjing, Zhenjiang, dan Changzhou melampaui 300 µg/m³; sementara Wuxi dan Nantong melampaui 400 µg/m³. Saat ini, wilayah utara Anhui seperti Suzhou (Anhui), Huaibei, Bozhou, serta Shangqiu masih berada pada level “melampaui batas”.
Pada 22 Februari sore, bagian timur sabuk badai pasir terus bergerak ke selatan. PM10 di wilayah selatan Jiangsu, Shanghai, dan utara Zhejiang kembali melampaui ambang batas. Pukul 17.00, konsentrasi PM10 di Nanjing mencapai 393 µg/m³, dan di Shanghai 375 µg/m³, keduanya berada pada tingkat polusi berat. (Hui)
Penyunting tanggung jawab: Li Enzhen
Sumber : NTDTV.com
Menjelang 4 Tahun Perang Rusia–Ukraina, Rusia Luncurkan Serangan Malam Besar-besaran ke Kyiv
EtIndonesia. Perang Rusia–Ukraina akan memasuki tahun keempat pada 24 Februari. Pada 22 Februari dini hari, ledakan terdengar di ibu kota Ukraina, Kyiv. Rusia meluncurkan sejumlah besar rudal dan drone ke arah kota tersebut, menyebabkan korban jiwa dan melukai beberapa lainnya.
Layanan darurat Ukraina menyatakan bahwa serangan tersebut menyebabkan satu orang meninggal dunia. Delapan orang lainnya—termasuk seorang anak—berhasil diselamatkan dari reruntuhan bangunan.
Seorang pensiunan, Valentina Babchenko, mengatakan ia sangat ketakutan.
Valentina Babchenko berkata : “Hingga sekarang rasanya seperti mimpi. Suami saya histeris, sementara saya justru sebaliknya—agak mati rasa dan belum sepenuhnya pulih.”
Angkatan Udara Ukraina pada Minggu menyatakan bahwa dalam serangan besar tersebut, Rusia mengerahkan 297 drone dan 50 rudal dari berbagai jenis. Sebanyak 274 drone dan 33 rudal berhasil ditembak jatuh atau dihancurkan. Sisanya menghantam 14 lokasi, sementara tiga rudal lainnya tidak diketahui keberadaannya.
Valentina Babchenko menambahkan : “Ini benar-benar genosida. Lihat apa yang sedang terjadi—tidak ada akhirnya. Apa yang sedang diperhatikan dunia?”
Warga lainnya, Denis Kozlov, mengatakan sebuah pelat batu menimpa dirinya saat rumahnya terbakar.
Denis Kozlov, warga Kyiv, mengatakan: “Ibu saya juga ikut lari keluar. Kami berlari tanpa pakaian, bertelanjang kaki.”
Serangan ini merusak lima distrik di wilayah pinggiran Kyiv dan memicu kebakaran. Tim penyelamat masih berupaya mengevakuasi orang-orang yang terjebak di bawah puing-puing.
Dalam setahun terakhir, upaya perdamaian yang dipimpin Amerika Serikat menunjukkan sejumlah kemajuan, namun warga sipil Ukraina tetap menghadapi serangan udara yang berkelanjutan.
Belakangan ini, Rusia meningkatkan serangan terhadap jaringan listrik Ukraina, menyebabkan banyak warga sipil kehilangan listrik dan pemanas di tengah musim dingin yang sangat dingin. (Hui)
Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty, Yan Feng dan Zhang Ruiqi
Gempa Berkekuatan 5,1 Magnitudo Terjadi di Xinjiang, Getaran Terasa Kuat di Banyak Wilayah
EtIndonesia. Gempa bumi berkekuatan 5,1 magnitudo terjadi di Kabupaten Yuli, Prefektur Bayingolin, Xinjiang, pada 23 Februari siang. Getaran gempa dirasakan kuat di banyak daerah.
Menurut pengukuran resmi China Earthquake Networks Center, gempa terjadi pada pukul 12.12 (waktu setempat), dengan episentrum di koordinat 40,88° LU dan 84,17° BT, serta kedalaman 15 kilometer.
Episentrum berada sekitar 182 kilometer dari pusat Kabupaten Yuli dan 32 kilometer dari desa terdekat. Getaran dirasakan sangat kuat di sejumlah kota kecil dan kecamatan di sekitar pusat gempa.
Berdasarkan komentar warganet, getaran terasa jelas di Korla, Shaya, Aksu, Aral, Ürümqi, dan Yining.
Warganet di daratan Tiongkok menuliskan kesaksian seperti:
“Getaran sangat kuat di Tiemenguan.”
“Getaran kuat terasa di Kota Pir.”
“Di Aksu hanya satu-dua detik, tapi terasa sangat kuat.”
“Saya di Tazhong merasakan beberapa kali guncangan.”
Ada pula yang mengatakan:
“Korla juga gempa, tadi pukul 12.13, saya sangat ketakutan.”
“Barusan semua orang lari ke luar!”
“Saya melihat lampu bergoyang.”
“Saya melihat ruangan ikut berguncang.”
Penyunting tanggung jawab: Li Enzhen
