109 Kapal Dialihkan, Iran Meledak Beruntun, Israel Terima KC-46: Timur Tengah Memanas Total

EtIndonesia.com. Pada 27 Mei 2026, situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah serangkaian ledakan dan perkembangan militer besar terjadi hampir bersamaan di Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Pusat energi utama Iran diguncang ledakan dahsyat, Washington melontarkan ancaman keras terkait Selat Hormuz, sementara Israel resmi menerima pesawat tanker udara strategis yang diyakini dapat memperluas kemampuan serangan jarak jauh terhadap Iran.

Rangkaian peristiwa ini memunculkan kekhawatiran baru bahwa kawasan Timur Tengah sedang bergerak menuju fase konfrontasi yang jauh lebih berbahaya.

Ledakan Besar Hantam Kompleks Petrokimia Terbesar Iran

Media dalam negeri Iran pada 27 Mei melaporkan bahwa ledakan besar terjadi di kawasan industri energi Asalouyeh, Provinsi Bushehr, wilayah yang dikenal sebagai jantung industri petrokimia dan gas alam Iran.

Ledakan tersebut terjadi di fasilitas milik perusahaan energi Damavand yang berada di dalam kompleks industri raksasa tersebut. Menurut laporan resmi pemerintah Iran, kecelakaan terjadi pada unit pemrosesan udara dan sistem pemisahan gas di area fasilitas.

Pemerintah Iran menyatakan satu pekerja tewas dan dua lainnya mengalami luka-luka. Namun, sejumlah sumber dari luar Iran menyebut jumlah korban kemungkinan jauh lebih besar, bahkan dilaporkan terdapat anggota Garda Revolusi Iran yang ikut tewas maupun terluka dalam insiden tersebut.

Asalouyeh merupakan salah satu pusat energi paling strategis bagi Iran. Wilayah ini menjadi pusat pengolahan gas South Pars, ladang gas terbesar di dunia yang menjadi tulang punggung ekonomi energi Teheran.

Kawasan itu sebelumnya juga pernah dilaporkan menjadi sasaran serangan udara Israel pada awal April 2026. Sejak saat itu, beberapa ledakan misterius dan kebakaran beruntun terus terjadi di berbagai fasilitas industri Iran, memicu spekulasi mengenai kemungkinan operasi sabotase tersembunyi.

Video-video yang beredar di media sosial memperlihatkan kobaran api besar dan asap hitam pekat membumbung tinggi dari area industri tersebut. Hingga kini, otoritas Iran belum memberikan penjelasan rinci mengenai penyebab pasti ledakan.

Trump Tegaskan Selat Hormuz Bukan Milik Negara Mana Pun

Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggelar rapat kabinet penting di Gedung Putih pada siang hari 27 Mei 2026 bersama seluruh anggota kabinetnya.

Rapat tersebut menjadi sorotan internasional karena membahas eskalasi terbaru di Timur Tengah dan masa depan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran internasional yang tidak boleh dikuasai atau dikendalikan oleh negara mana pun.

Pernyataan itu muncul setelah Iran dan Oman dikabarkan membahas kemungkinan kerja sama pengelolaan kawasan strategis tersebut.

Trump kemudian melontarkan peringatan keras yang langsung memicu perhatian dunia internasional.

“Oman sebaiknya tahu apa yang sedang mereka lakukan. Jika tidak, kami mungkin terpaksa membombardir mereka,” ujar Trump dalam pernyataan yang dikutip berbagai media Amerika.

Ucapan tersebut segera memicu gelombang reaksi karena dianggap sebagai salah satu ancaman paling keras yang pernah disampaikan Washington terkait Selat Hormuz dalam beberapa tahun terakhir.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur energi paling vital di dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati wilayah sempit tersebut setiap hari. Karena itu, setiap ancaman terhadap stabilitas kawasan langsung berdampak pada pasar energi internasional.

AS: Diplomasi Masih Utama, Tapi Opsi Militer Sudah Siap

Dalam rapat kabinet yang sama, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menegaskan bahwa Washington tetap berharap persoalan nuklir Iran dapat diselesaikan melalui jalur diplomasi.

Namun ia juga memperingatkan bahwa militer Amerika telah menyiapkan berbagai opsi jika negosiasi gagal.

Menurut Hegseth, tujuan utama Washington adalah memastikan Iran tidak pernah memperoleh senjata nuklir.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan bahwa beberapa jam hingga beberapa hari ke depan akan menjadi periode paling menentukan bagi pembicaraan damai dan denuklirisasi antara Washington dan Teheran.

Rubio menegaskan bahwa jalur diplomatik masih menjadi prioritas utama Amerika Serikat, namun ia mengakui situasi saat ini berada pada titik yang sangat sensitif.

Dalam wawancara telepon dengan PBS pada hari yang sama, Trump juga menyatakan bahwa sekalipun Iran menyerahkan uranium berkadar pengayaan tinggi, Amerika Serikat belum tentu akan langsung mencabut sanksi terhadap Teheran.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Washington masih mempertahankan tekanan maksimum terhadap Iran di tengah negosiasi yang berlangsung sangat alot.

Ledakan Misterius Guncang Gedung di Teheran

Pada hari yang sama, laporan lain juga muncul dari ibu kota Iran.

Media dan video yang beredar di internet menunjukkan ledakan besar terjadi di Gedung Pamchal No. 6 di Teheran. Rekaman video memperlihatkan api besar dan asap hitam tebal keluar dari bagian dalam bangunan tersebut.

Beberapa laporan menyebut insiden itu kemungkinan bukan kecelakaan biasa, melainkan operasi “pembunuhan terarah” terhadap target tertentu.

Spekulasi tersebut menguat setelah muncul informasi bahwa gedung itu memiliki hubungan dengan yayasan kerja sama militer Iran.

Hingga malam 27 Mei 2026, pemerintah Iran belum mengeluarkan komentar resmi terkait insiden tersebut.

USS Lincoln dan Operasi Blokade Iran

Di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln sedang menjalankan operasi penerbangan rutin untuk mendukung berbagai misi militer Amerika di Timur Tengah.

Dalam unggahan resminya di platform X, CENTCOM menyatakan bahwa operasi lepas landas dan pendaratan pesawat di kapal induk membutuhkan koordinasi yang sangat kompleks antara pelaut dan marinir Amerika.

Selain itu, sebuah helikopter MH-60R Seahawk dilaporkan baru menyelesaikan patroli di Laut Arab untuk mendukung operasi blokade terhadap Iran sebelum mendekati kapal perusak USS Bulkeley.

Menurut laporan terbaru hingga 27 Mei 2026, sedikitnya 109 kapal dagang telah dialihkan rutenya guna memastikan kepatuhan terhadap operasi pengawasan dan blokade maritim yang berlangsung di kawasan tersebut.

Langkah ini menunjukkan bahwa tekanan militer dan ekonomi terhadap Iran masih terus diperkuat, bahkan ketika jalur diplomasi belum sepenuhnya ditutup.

Israel Resmi Terima KC-46, Kemampuan Serangan Jarak Jauh Melonjak

Sementara itu, perkembangan penting juga datang dari Israel.

Pada 27 Mei 2026, militer Israel mengumumkan bahwa Angkatan Udara Israel resmi menerima pesawat tanker udara Boeing KC-46 pertama dari Amerika Serikat.

Pesawat itu merupakan unit pertama dari enam KC-46 yang dibeli oleh Kementerian Pertahanan Israel.

Kehadiran KC-46 dianggap sebagai peningkatan besar dalam kemampuan tempur strategis Israel, terutama untuk operasi serangan jarak jauh terhadap Iran maupun target lain di kawasan Timur Tengah.

KC-46 merupakan pesawat tanker udara multifungsi canggih yang mampu melakukan pengisian bahan bakar di udara untuk jet tempur dan pesawat militer lainnya. Pesawat ini juga dapat digunakan untuk transportasi logistik dan pasukan.

Menurut pihak Boeing, KC-46 saat ini merupakan salah satu pesawat tanker udara paling modern di dunia.

Militer Israel menyatakan bahwa apabila pesawat tersebut sudah dioperasikan dalam konflik sebelumnya melawan Iran, maka jangkauan operasi tempur Israel akan meningkat drastis.

Dengan kemampuan pengisian bahan bakar di udara, jet tempur Israel dapat bertahan lebih lama di wilayah operasi dan menjangkau target-target yang jauh lebih dalam.

Analis militer menilai kedatangan KC-46 merupakan bagian dari pembangunan kekuatan militer jangka panjang antara Israel dan pemerintahan Trump di tengah meningkatnya ancaman regional.

Israel Tingkatkan Tekanan terhadap Hizbullah dan Hamas

Meski ketegangan langsung antara Amerika Serikat dan Iran untuk sementara tampak sedikit mereda, Israel justru terus meningkatkan operasi militernya terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza.

Langkah ini dipandang sebagai strategi untuk mengepung dan melemahkan seluruh jaringan proksi Iran di Timur Tengah.

Karena itu, penghentian operasi militer Israel juga dilaporkan menjadi salah satu syarat utama yang diajukan Iran dalam berbagai pembicaraan gencatan senjata dan negosiasi regional.

Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda bahwa operasi militer Israel akan dihentikan dalam waktu dekat.

Dengan ledakan yang terus mengguncang Iran, ancaman terbuka dari Washington, serta peningkatan kemampuan militer Israel, kawasan Timur Tengah kini kembali berada dalam situasi yang sangat rapuh.

Banyak pengamat internasional memperingatkan bahwa kesalahan kecil saja dapat memicu konflik regional berskala jauh lebih besar dalam beberapa minggu mendatang. (***)

Saat Malam Mencekam di Timur Tengah: Rudal Israel Menghujani Gaza, Kapal Iran Dihancurkan AS

EtIndonesia.com.  Konflik di Timur Tengah kembali memasuki fase yang semakin berbahaya pada 26 Mei 2026. Militer Israel mengumumkan keberhasilan operasi besar-besaran di Jalur Gaza dengan menghancurkan jaringan terowongan bawah tanah Hamas sepanjang hampir 7 mil atau sekitar 11 kilometer. Di saat yang sama, bentrokan baru antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan kembali pecah di kawasan Selat Hormuz, memperbesar kekhawatiran dunia terhadap potensi konflik regional yang lebih luas.

Israel Klaim Hancurkan Salah Satu Jaringan Terowongan Hamas Terbesar

Pada 26 Mei 2026, Pasukan Pertahanan Israel atau Israel Defense Forces (IDF) secara resmi mengumumkan bahwa mereka telah menghancurkan salah satu jaringan terowongan bawah tanah Hamas terbesar di wilayah utara Jalur Gaza sejak perang kembali memanas.

Dalam pernyataannya, militer Israel menyebut jaringan bawah tanah tersebut memiliki panjang hampir 11 kilometer dan tersebar di sejumlah titik strategis di Gaza utara. Operasi penghancuran itu disebut melibatkan pasukan darat, unit teknik tempur, drone pengintai, hingga dukungan serangan udara presisi.

IDF bahkan merilis visualisasi efek 3D yang memperlihatkan skala kompleks jaringan lorong bawah tanah tersebut. Dari gambar yang dipublikasikan, terlihat bahwa terowongan-terowongan itu saling terhubung dan membentuk sistem bawah tanah yang luas.

Menurut militer Israel, jumlah lorong yang ditemukan di kawasan tersebut sangat mengejutkan. Sebagian terowongan disebut berada di dekat fasilitas sipil dan kawasan padat penduduk, sementara beberapa lainnya diduga digunakan sebagai jalur pergerakan militan Hamas, tempat penyimpanan senjata, hingga pusat komando tersembunyi.

Israel menyatakan bahwa operasi ini menjadi salah satu penghancuran infrastruktur bawah tanah terbesar sejak konflik Gaza kembali meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Ratusan Fasilitas Hamas di Atas Permukaan Ikut Dihancurkan

Selain menghancurkan jaringan bawah tanah, Israel juga mengklaim telah merusak ratusan fasilitas Hamas di atas permukaan tanah.

Target-target tersebut disebut mencakup gudang logistik, pusat komunikasi, bangunan operasional, lokasi peluncuran roket, serta berbagai fasilitas yang menurut Israel digunakan oleh kelompok Hamas untuk mendukung aktivitas militer mereka.

Serangan udara Israel di Jalur Gaza juga dilaporkan terus berlangsung tanpa henti sepanjang 26 Mei. Fokus utama operasi kini diarahkan untuk memburu dan menyingkirkan petinggi Hamas yang masih tersisa di wilayah tersebut.

Dalam beberapa pekan terakhir, Israel memang meningkatkan operasi pembunuhan terarah terhadap tokoh-tokoh senior Hamas. Langkah itu disebut sebagai bagian dari strategi untuk melumpuhkan struktur komando kelompok tersebut secara menyeluruh.

Israel Kembali Gempur Hizbullah di Lebanon Selatan

Ketegangan tidak hanya terjadi di Gaza. Pada hari yang sama, militer Israel juga merilis rekaman video serangan udara terhadap target milik Hizbullah di Lebanon selatan.

Menurut keterangan IDF, target yang diserang merupakan sebuah bangunan yang digunakan oleh anggota Hizbullah untuk aktivitas operasional.

Video yang dipublikasikan memperlihatkan momen ketika rudal Israel menghantam bangunan tersebut secara langsung. Ledakan besar terlihat menghancurkan gedung hingga berkeping-keping dalam hitungan detik.

Israel menegaskan bahwa operasi terhadap Hizbullah akan terus dilanjutkan selama kelompok tersebut masih dianggap mengancam keamanan wilayah utara Israel.

Serangan lintas batas antara Israel dan Hizbullah memang terus terjadi sejak konflik Gaza kembali meningkat. Situasi itu membuat kawasan perbatasan Lebanon-Israel tetap berada dalam kondisi sangat tegang.

Rumor “Operation Freedom” Picu Kehebohan di Selat Hormuz

Sementara itu, perhatian dunia juga tertuju pada perkembangan terbaru di Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling penting di dunia.

Pada 26 Mei 2026, sejumlah media Amerika, termasuk The Wall Street Journal, melaporkan bahwa militer Amerika Serikat disebut telah kembali mengaktifkan “Operation Freedom” atau “Rencana Kebebasan”.

Operasi tersebut sebelumnya dikenal sebagai misi pengawalan kapal dagang internasional di kawasan Selat Hormuz guna melindungi jalur pelayaran dari ancaman militer Iran.

Laporan media AS bahkan menyebut beberapa kapal dagang telah berhasil keluar dari kawasan berbahaya dengan pengawalan militer.

Namun tidak lama kemudian, kabar tersebut langsung dibantah oleh United States Central Command atau CENTCOM.

Dalam pernyataan resminya, CENTCOM menegaskan bahwa informasi mengenai dimulainya kembali pengawalan kapal dagang oleh Angkatan Laut Amerika tidak benar.

Militer AS menyatakan bahwa hingga saat ini “Operation Freedom” belum diaktifkan kembali dan Washington juga belum memiliki rencana resmi untuk melakukan pengawalan kapal di Selat Hormuz.

Bentrokan Baru AS-Iran Dilaporkan Pecah

Meski demikian, situasi di kawasan itu ternyata tetap memanas.

Menurut sumber militer Amerika, pada malam sebelum pengumuman tersebut, terjadi bentrokan baru antara pasukan Amerika Serikat dan Iran di sekitar Selat Hormuz.

Pihak Amerika menuduh dua kapal cepat milik Garda Revolusi Iran berusaha secara diam-diam memasang ranjau laut di jalur pelayaran strategis. Aktivitas itu disebut berhasil terdeteksi oleh pesawat pengintai Amerika Serikat.

Setelah itu, sistem rudal darat-ke-udara di sekitar Pelabuhan Abbas dilaporkan mengunci jet tempur AS yang sedang melakukan patroli di kawasan tersebut.

Berdasarkan otorisasi dari CENTCOM, militer Amerika kemudian melancarkan serangan balasan.

Amerika Serikat mengklaim berhasil menghancurkan dua kapal cepat Garda Revolusi Iran serta menyerang posisi rudal yang dianggap terkait dengan ancaman terhadap jalur pelayaran internasional.

Media Iran kemudian melaporkan bahwa beberapa anggota Garda Revolusi tewas dalam insiden tersebut.

Washington menyebut operasi itu sebagai tindakan defensif yang dilakukan di dalam zona operasi militer demi menjaga keamanan pelayaran internasional.

Negosiasi AS-Iran Masuk Fase Sangat Sensitif

Di tengah meningkatnya ketegangan militer, negosiasi antara Washington dan Teheran juga dilaporkan memasuki tahap paling sensitif.

Menurut berbagai laporan media Amerika, Iran meminta pencairan dana sebesar 24 miliar dolar AS sebagai salah satu syarat utama untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat.

Namun tim Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan menolak permintaan tersebut.

Washington menegaskan bahwa bantuan finansial baru akan diberikan apabila Iran benar-benar menjalankan seluruh kewajiban dalam perjanjian yang sedang dibahas.

Selain itu, Amerika Serikat juga meminta Iran menghentikan seluruh program senjata nuklir serta tidak melakukan pengendalian terhadap jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Perundingan kedua negara disebut berlangsung sangat alot karena kedua pihak masih saling menekan dalam isu keamanan dan ekonomi.

Trump Gelar Rapat Kabinet Langka di Camp David

Di tengah situasi yang semakin panas, Presiden Donald Trump dijadwalkan menggelar rapat kabinet penting di Camp David pada Selasa, 27 Mei 2026.

Menurut laporan Fox News, seluruh anggota kabinet diperkirakan hadir dalam pertemuan tersebut.

Salah satu nama yang menjadi sorotan adalah Direktur Intelijen Nasional, Tulsi Gabbard, yang dikabarkan segera mengundurkan diri.

Media Amerika juga mengungkap bahwa sebelum operasi militer besar terhadap Iran pada Juni tahun lalu yang dikenal sebagai “Operation Five Page Hammer”, Trump juga sempat menggelar rapat tertutup bersama pejabat tinggi di Camp David.

Hal itu memunculkan spekulasi bahwa pertemuan terbaru kali ini kemungkinan berkaitan dengan situasi keamanan Timur Tengah yang semakin tidak stabil.

Pemimpin Tertinggi Iran Disebut Masih Bersembunyi

Dalam laporan lain yang juga dirilis Fox News pada 26 Mei, sejumlah pakar kontra-terorisme menyebut bahwa pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba, saat ini masih menggunakan jaringan kurir rahasia untuk menyampaikan dan menyetujui keputusan strategis terkait negosiasi dengan Amerika Serikat.

Mereka mengatakan bahwa tokoh tersebut tetap menjadi target utama operasi intelijen dan militer sehingga terus berpindah lokasi persembunyian demi menghindari pelacakan.

Laporan tersebut semakin memperlihatkan betapa sensitif dan rapuhnya situasi geopolitik di Timur Tengah saat ini.

Dengan konflik Gaza yang terus berkobar, serangan Israel terhadap Hizbullah yang belum berhenti, serta meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz, dunia kini menghadapi risiko eskalasi yang semakin sulit diprediksi dalam beberapa hari ke depan. (***)

AS, Jepang, India, dan Australia Luncurkan Empat Inisiatif Besar untuk Membendung Ekspansi Tiongkok di Indo-Pasifik

Kelompok Quadrilateral Security Dialogue yang terdiri dari Amerika Serikat, Jepang, India, dan Australia mengadakan pertemuan menteri luar negeri di New Delhi pada Selasa (26 Mei). Menghadapi ekspansi militer dan pengaruh ekonomi Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang terus meluas di kawasan Indo-Pasifik, serta krisis Selat Hormuz yang mempengaruhi pasokan energi global, keempat negara meluncurkan sejumlah inisiatif kerja sama di bidang mineral penting, keamanan energi, pengawasan maritim, dan pembangunan infrastruktur pelabuhan.

EtIndonesia. Pada 26 Mei, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bersama Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar, Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong, dan Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi menghadiri Pertemuan Menteri Luar Negeri Quad di New Delhi.

Keempat negara menyatakan akan memperkuat mekanisme kerja sama kawasan dan memperdalam strategi di bidang energi, rantai pasokan, serta pembangunan pelabuhan di Indo-Pasifik guna menghadapi ekspansi militer PKT di Laut China Selatan dalam beberapa tahun terakhir.

Pihak AS mengumumkan pembentukan “Kerangka Mineral Penting Quad” untuk mengurangi ketergantungan global terhadap rantai pasokan yang didominasi PKT.

“Kami akan mengumumkan ‘Kerangka Mineral Penting Quad’, yang akan menjadi pedoman bagi negara-negara kami dalam menggunakan instrumen kebijakan ekonomi dan mengkoordinasikan investasi guna memperkuat rantai pasokan mineral penting, termasuk di bidang penambangan, pemrosesan, dan daur ulang mineral penting,” ujar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. 

Keempat negara juga meluncurkan “Inisiatif Keamanan Energi Indo-Pasifik” untuk memperkuat pasokan bahan bakar, ketahanan energi, dan koordinasi tanggap darurat. Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong memperingatkan bahwa krisis di Selat Hormuz telah secara langsung mengancam keamanan energi dan ekonomi kawasan Indo-Pasifik.

Quad juga mengumumkan peluncuran “Mekanisme Kerja Sama Pengawasan Maritim Indo-Pasifik” yang baru, dengan mengintegrasikan kemampuan pengawasan laut empat negara dan memperkuat pertukaran informasi kawasan.

Rubio menekankan pentingnya perairan Indo-Pasifik bagi ekonomi dunia.

“60% perdagangan maritim global melewati kawasan Indo-Pasifik.”

Selain itu, Quad juga akan meluncurkan “Program Kemitraan Pelabuhan Masa Depan” di Fiji, yang dipandang sebagai langkah penting untuk memperdalam pengaruh keempat negara di kawasan Pasifik.

Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi setelah pertemuan mengatakan bahwa keempat negara sepakat untuk dengan tegas menentang “upaya mengubah status quo secara sepihak dengan kekuatan”, yang dinilai banyak pihak sebagai sindiran langsung terhadap PKT.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio hari ini mengakhiri kunjungan empat harinya di India. Setelah memperkuat hubungan bilateral dengan New Delhi, ia telah meninggalkan India menuju Armenia.

Sumber : NTDTV.com

Dinas Pertanian di Tiongkok Menunggak Utang, Perusahaan Swasta Gunakan Drone dengan Spanduk Raksasa untuk Menagih Pembayaran

EtIndonesia. Pemerintah daerah partai komunis Tiongkok yang menunggak hutang kini telah menjadi hal biasa, dan para kreditur seringkali kesulitan menagih pembayaran. Baru-baru ini, sebuah perusahaan swasta di Shandong menggunakan drone dengan spanduk untuk menuntut Biro Pertanian dan Pedesaan Kabupaten Shanghe membayar hutangnya, sehingga menarik perhatian publik.

Video yang beredar di internet memperlihatkan sebuah drone terbang sambil membawa spanduk merah bertuliskan: “Biro Pertanian Kabupaten Shanghe: Sudah tiga tahun, cepat bayar hutangnya!”

Video tersebut juga menampilkan surat pemberitahuan pemenang tender yang menunjukkan bahwa perusahaan terkait adalah Shandong Junshen Carbon Hydrogen Biotechnology Co., Ltd. (selanjutnya disebut “Perusahaan Junshen”). Pada Mei 2023, perusahaan ini memenangkan proyek pengadaan pemerintah Kabupaten Shanghe untuk program gandum “satu penyemprotan tiga pencegahan” dengan nilai lebih dari 1,2 juta yuan.

Pada 26 Mei, seorang penanggung jawab perusahaan bermarga Gao mengatakan kepada media daratan bahwa proyek tersebut merupakan operasi “satu penyemprotan tiga pencegahan” pada musim pertumbuhan gandum tahun 2023, yaitu menggunakan drone untuk menyemprot pestisida guna mencegah penyakit tanaman, hama, dan angin panas kering. Dana proyek tersebut berasal dari anggaran khusus departemen pertanian dan pedesaan.

Gao mengatakan bahwa perusahaannya sebenarnya memenangkan bukan hanya satu paket proyek, melainkan enam paket, dengan total nilai kontrak lebih dari 3,6 juta yuan.

“Pekerjaannya selesai dalam tujuh hari, tetapi pembayaran terus ditunda,” katanya.

Menurut salinan perjanjian pembayaran kembali yang diberikan Gao, bertanggal 17 Desember 2024 dan dibubuhi cap resmi Biro Pertanian dan Pedesaan Kabupaten Shanghe, total biaya layanan yang diberikan Perusahaan Junshen mencapai 3,6849 juta yuan. Dari jumlah itu, biro tersebut baru membayar 270 ribu yuan dan masih menunggak 3,4149 juta yuan.

Kedua pihak sepakat pembayaran dilakukan secara bertahap:

  • sebelum 26 Januari 2025 membayar 500 ribu yuan;
  • sebelum 30 Oktober 2025 membayar 1,5 juta yuan;
  • sebelum 30 Januari 2026 membayar 1,4149 juta yuan.

Namun Gao mengatakan, pembayaran pertama hanya masuk 400 ribu yuan, pembayaran kedua sebesar 1,5 juta yuan hanya dibayar 100 ribu yuan, sedangkan pembayaran ketiga sebesar 1,4149 juta yuan hanya dibayar 50 ribu yuan.

Gao mengeluhkan bahwa “setiap kali mereka tidak menjalankan perjanjian sesuai kesepakatan”. Hingga kini, masih ada lebih dari 2,8 juta yuan yang belum dibayar.

Ia juga mengatakan bahwa di antara para pekerja perusahaan terdapat orang-orang dengan kondisi keluarga sulit dan orang tua yang sakit. Penunggakan pembayaran jangka panjang telah memengaruhi operasional normal perusahaan.

“Benar-benar sudah tidak ada cara lain, makanya kami membuat video itu,” ujarnya.

Pada pagi 26 Mei, seorang staf kantor Biro Pertanian dan Pedesaan Kabupaten Shanghe menanggapi bahwa dirinya “tidak terlalu memahami” detail tunggakan tersebut.

Informasi dari Platform Nasional Transaksi Sumber Daya Publik Tiongkok menunjukkan bahwa perusahaan pemenang tender proyek layanan “satu penyemprotan tiga pencegahan” gandum Kabupaten Shanghe tahun 2023 memang adalah Perusahaan Junshen. Pihak pemberi tender adalah Biro Pertanian dan Pedesaan Kabupaten Shanghe, dan proyek itu mencakup layanan pengendalian di enam wilayah kecamatan, termasuk Longsangsi, Shahe, Zhenglu, Sunji, Hanmiao, dan Yinxiang.

Laporan ini memicu perhatian luas. Warganet berkomentar:

  • “Berulang kali melanggar janji pembayaran, di mana kredibilitas pemerintah?”
  • “Lagi-lagi pekerjaan selesai tapi uang tidak dibayar.”
  • “Menagih upah memang terlalu sulit, sampai terpaksa melakukan ini.”
  • “Kalau tidak diekspos, mereka akan terus menunda pembayaran.”

Pada 26 Mei sore, seorang pejabat Biro Pertanian dan Pedesaan Kabupaten Shanghe menanggapi bahwa “kami sudah berbicara lewat telepon dengan pihak terkait dan sedang bernegosiasi untuk menyelesaikan masalah ini”. Namun kondisi sebenarnya masih belum jelas. (***)

Sumber : NTDTV.com

Perkembangan Terbaru Pembangunan Pangkalan Bulan AS

EtIndonesia.com.  Administrator NASA, Jared Isaacman, pada 26 Mei pukul 14.00 waktu Pantai Timur AS menghadiri konferensi pers siaran langsung di markas NASA. Dalam acara tersebut, jajaran pimpinan lembaga akan membahas perkembangan terbaru proyek pangkalan bulan, termasuk mitra industri baru yang bergabung serta perencanaan misi mendatang. NTDTV dan Epoch Times menayangkan siaran langsung daring dengan terjemahan subtitle secara real-time.

Peserta yang hadir meliputi:

  • Administrator NASA, Jared Isaacman;
  • Wakil Administrator sementara Divisi Ilmu Bumi (ESDMD), Lori Glaze;
  • Direktur Eksekutif proyek pangkalan bulan, Carlos García-Galán.

Sebagai bagian dari program Artemis Program milik NASA, Amerika Serikat sedang membangun sebuah pangkalan di bulan yang bertujuan menyediakan habitat untuk eksplorasi bulan jangka panjang dan penelitian ilmiah.

“Pangkalan Bulan” merupakan sebuah inisiatif untuk mendorong eksplorasi dan pembangunan infrastruktur di bulan. Tujuannya adalah mewujudkan keberadaan manusia jangka panjang di wilayah kutub selatan bulan, sekaligus memperluas kegiatan ilmiah dan komersial terkait.

Di masa depan, misi robotik akan bekerja bersama para astronaut untuk melakukan penelitian di bulan dan membantu mempersiapkan misi eksplorasi manusia ke Mars. (***)

AS–Iran di Titik Kritis Perundingan, Trump Cegah Israel Membombardir Hizbullah

EtIndonesia. Laporan Fox News menyebutkan Presiden Donald Trump pada Selasa (26 Mei) berbicara melalui telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan meminta militer Israel menghentikan sementara serangan terhadap Hezbollah agar tidak merusak perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang sedang memasuki tahap krusial.

Selain itu, Presiden Trump pada sore hari mengumumkan pembatalan rapat kabinet penuh yang semula dijadwalkan berlangsung besok di Camp David, dan menggantinya dengan pertemuan di Gedung Putih. Pengamat menilai bahwa perkembangan kesepakatan AS–Iran kemungkinan akan menjadi fokus utama dalam rapat tingkat tinggi tersebut.

Menurut laporan Fox News yang mengutip media berbahasa Ibrani, sumber informasi menyebutkan bahwa Presiden Trump berbicara dengan Netanyahu pada Selasa sore. Sebelumnya, Netanyahu telah mengadakan rapat kabinet keamanan dan bersiap meningkatkan serangan terhadap Hizbullah. Namun pihak Trump meminta Israel tidak menyerang Beirut agar tidak mengganggu perundingan AS–Iran yang sedang berada pada tahap penting.

Sementara itu, New York Post mengutip seorang pejabat Gedung Putih yang mengatakan bahwa Presiden Trump awalnya dijadwalkan melakukan kunjungan langka ke tempat peristirahatan presiden di Maryland, Camp David, pada Rabu (27 Mei) untuk mengadakan rapat kabinet penuh. Namun karena faktor cuaca, agenda tersebut kemudian ditunda dan dipindahkan ke Gedung Putih. Semua anggota kabinet dijadwalkan hadir.

Pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa rapat tersebut akan membahas berbagai pencapaian terbaru pemerintahan saat ini, termasuk kebijakan ekonomi dan usaha kecil, perkembangan “Satuan Tugas Pemberantasan Penipuan”, serta perkembangan terbaru kebijakan luar negeri.

Namun, New York Post menilai bahwa kemungkinan besar isu utama dalam rapat tersebut adalah kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran.

Sumber : NTDTV.com

Seorang Dokter Inggris Peringatkan: Media Sosial Membahayakan Remaja Setara dengan Merokok

EtIndonesia. Selasa (26 Mei), Academy of Medical Royal Colleges menyerahkan laporan kepada pemerintah Inggris yang memperingatkan bahwa dampak negatif media sosial terhadap remaja sudah sangat serius, hampir setara dengan bahaya merokok.

Asosiasi tersebut mewakili 23 akademi kedokteran kerajaan di Inggris dan Irlandia.

Laporan itu menyebutkan bahwa banyak anak kini kecanduan media sosial, dan masalahnya sudah sama berbahayanya dengan “kecanduan merokok” atau “mengemudi tanpa sabuk pengaman”.

Hasil survei menunjukkan, dari 132 dokter yang diwawancarai, lebih dari setengah mengatakan mereka setidaknya setiap minggu menangani satu kasus masalah kesehatan yang berkaitan dengan ponsel, internet, atau perangkat elektronik. Lebih dari sepertiga dokter bahkan mengatakan mereka menemui kasus seperti itu beberapa kali dalam seminggu.

Beberapa remaja dilaporkan melukai diri sendiri karena meniru konten pornografi ekstrem di internet. Ada juga yang mengalami gangguan psikologis setelah lama terpapar tayangan kekerasan.

Saat ini, pemerintah Inggris sedang membahas kemungkinan pembatasan penggunaan media sosial bagi anak-anak, termasuk melarang remaja di bawah 16 tahun menggunakan platform media sosial, menetapkan “jam malam” penggunaan pada malam hari, membatasi waktu penggunaan, serta melarang desain aplikasi yang membuat pengguna terus-menerus menggulir tanpa henti.

Online Safety Act di Inggris saat ini telah mewajibkan perusahaan media sosial untuk melindungi anak-anak agar tidak terpapar konten ilegal atau berbahaya. Menteri Teknologi Inggris, Liz Kendall, juga mengatakan bahwa pemerintah akan mengambil langkah tambahan ke depannya.

Saat ini, ratusan keluarga di Inggris telah mulai menguji coba “larangan media sosial” dan pembatasan waktu penggunaan untuk melihat apakah kualitas tidur anak-anak, prestasi belajar, dan hubungan keluarga dapat membaik.

Namun, beberapa ahli juga khawatir bahwa larangan total belum tentu efektif. Dalam wawancara terbaru, sejumlah anak muda Inggris menyatakan mereka tidak mendukung pembatasan tersebut.

Laporan itu mendesak pemerintah untuk segera membuat undang-undang agar semakin banyak generasi muda tidak terus terdampak oleh media sosial. Tahun lalu, Australia menjadi negara pertama di dunia yang melarang anak di bawah 16 tahun menggunakan media sosial, dan kini banyak negara di Eropa juga sedang mempertimbangkan langkah serupa.

Sumber : NTDTV.com

Kecelakaan Tambang Shanxi Menggemparkan Tiongkok, Orang Dalam Bongkar Praktik Kolusi Pejabat dan Pengusaha

EtIndonesia. Tambang batu bara Liushenyu di Kabupaten Qinyuan, Kota Changzhi, Provinsi Shanxi, Tiongkok, mengalami ledakan gas pada 22 Mei lalu. Peristiwa ini menjadi kecelakaan tambang batu bara paling serius di Tiongkok dalam 17 tahun terakhir, menewaskan setidaknya 82 orang dan menyebabkan 2 lainnya hilang. Seiring penyelidikan berlangsung, berbagai fakta mengejutkan mengenai “bencana akibat ulah manusia” mulai terungkap. Publik mempertanyakan bahwa tragedi ini bukan sekadar pelanggaran satu perusahaan, melainkan memperlihatkan kegagalan pengawasan jangka panjang dan rantai kepentingan antara pejabat dan pengusaha di industri tambang batu bara Tiongkok.

Ledakan gas di tambang Liushenyu Shanxi menewaskan sedikitnya 82 penambang dan melukai lebih dari 120 orang. Kini terungkap serangkaian fakta mengerikan mengenai faktor manusia di balik tragedi tersebut.

Misalnya, tim penyelamat menemukan bahwa peta lorong tambang yang diberikan perusahaan sangat berbeda dengan kondisi sebenarnya di bawah tanah, bahkan terdapat lorong rahasia yang tidak dicantumkan. 

Perusahaan itu bukan hanya memiliki dua set gambar tambang, tetapi juga dua sistem pengawasan. Salah satunya adalah “sistem kepatuhan keselamatan” untuk menghadapi pemantauan pemerintah yang terhubung secara daring. Sistem lainnya adalah “sistem bayangan” yang digunakan untuk mengarahkan para pekerja menambang secara ilegal di “area kerja tersembunyi”. Batu bara hasil tambang ilegal itu tidak dimasukkan ke dalam data produksi dan tidak dikenai pajak.

Selain itu, manajemen pekerja di tambang sangat kacau. Demi menghindari pengawasan, perusahaan sengaja tidak mengizinkan para pekerja yang turun ke tambang memakai kartu pelacak posisi personel. Akibatnya, ketika kecelakaan terjadi, tim penyelamat tidak dapat segera mengetahui lokasi para pekerja. Dari 247 pekerja yang turun ke tambang saat kejadian, sebanyak 103 orang tidak mengenakan kartu pelacak.

Kecelakaan ini memicu perhatian besar masyarakat. Warga menyerukan pertanggungjawaban, tetapi media resmi PKT di platform seperti Weibo justru melakukan penyaringan komentar. Komentar yang tersisa sebagian besar hanya ditujukan pada ketidakpuasan terhadap perusahaan terkait.

“Rakyat sekarang berada di bawah tekanan kontrol ucapan PKT, sehingga banyak orang hanya bisa mengarahkan kritik kepada perusahaan. PKT justru senang dengan situasi seperti ini. Di satu sisi, mereka mengalihkan perhatian agar dirinya tidak menjadi sasaran kritik publik,” ujar Ketua Aliansi Pengacara HAM Luar Negeri, Wu Shaoping. 

“Di sisi lain, mereka sengaja mengarahkan kemarahan rakyat kepada perusahaan ilegal itu, seolah-olah ini hanya pelanggaran segelintir perusahaan, bukan masalah sistem pengawasan atau sistem pemerintahan PKT,” tambahnya. 

Namun, apakah “bencana akibat ulah manusia” dalam kecelakaan ini benar-benar hanya masalah Tambang Liushenyu milik Grup Tongzhou? Ternyata tidak. Dalam berbagai laporan tahunan, Administrasi Pengawasan Keselamatan Tambang Nasional Tiongkok berkali-kali menyebut “gambar tambang yang tidak sesuai dengan kondisi nyata” dan “penambangan ilegal di area tersembunyi” sebagai penyakit kronis utama industri tambang batu bara. Dengan kata lain, praktik ini sudah menjadi “aturan tak tertulis” dan metode umum di industri tersebut.

Ding Haifeng, mantan pekerja di anak perusahaan grup tambang batu bara lain di Kota Changzhi, Shanxi, mengatakan bahwa praktik “dua set gambar dan dua sistem pengawasan” bukan hanya karena motif keuntungan perusahaan, tetapi juga karena kelonggaran dari pihak pengawas.

“Kenapa perusahaan membuat dua sistem? Pertama demi keuntungan. Kedua karena pengawasan. Biasanya pemeriksaan sudah diberitahukan lebih dulu kepada perusahaan, sehingga mereka punya cukup waktu untuk bersiap,” kata Mantan pegawai perusahaan tambang di Kabupaten Xiangyuan, Changzhi, Ding Haifeng. 

“Sebelum inspeksi datang, perusahaan akan menyiapkan satu sisi untuk ditunjukkan kepada pengawas, lalu setelah pemeriksaan selesai, mereka kembali menjalankan praktik sebenarnya. Selain itu, tambang dan perusahaan ini merupakan sumber pajak penting bagi pemerintah daerah, sehingga ada unsur kesengajaan untuk membiarkannya. Ditambah lagi perusahaan memberi uang kepada lembaga pengawas agar lolos dari pemeriksaan,” tambahnya. 

Meskipun beberapa tahun terakhir pemerintah menerapkan pengawasan digital dan mewajibkan tambang melaporkan secara real-time data lorong tambang, posisi pekerja, serta pemantauan gas, Ding Haifeng mengatakan bahwa pemeriksaan di tingkat bawah biasanya hanya formalitas. Petugas hanya memeriksa catatan, formulir, dan dokumen yang diberikan perusahaan, tanpa benar-benar turun ke tambang untuk memeriksa jumlah pekerja. Karena itu, praktik pekerja tanpa kartu pelacak dan penambangan ilegal terus berlangsung tanpa koreksi.

“Departemen pengawas tidak mungkin menempatkan satu orang terus-menerus di bawah tanah untuk mengawasi. Karena itu penambangan ilegal bisa berlangsung lama tanpa diketahui. Pemeriksaan juga selalu diberitahukan sebelumnya, sehingga perusahaan bisa sengaja mengarahkan pemeriksa ke lorong-lorong yang sudah dilaporkan,” ujar Ding Haifeng. 

“Lorong rahasia sangat sulit ditemukan. Ditambah adanya aliran keuntungan, para pengawas yang sudah menerima manfaat tentu tidak akan menggagalkan pemeriksaan. Akar masalahnya ada pada sistem PKT itu sendiri. Dari atas sampai bawah, semuanya penuh praktik suap dan kepentingan, sehingga mereka menutup mata terhadap masalah-masalah ini dan menganggap nyawa manusia tidak berharga,” lanjutnya. 

Tambang Liushenyu bukan pertama kali melakukan pelanggaran. Pada 2024, tambang ini sudah dimasukkan ke daftar nasional “tambang dengan tingkat bahaya tinggi”. Pada 2025, tambang tersebut dua kali mendapat sanksi administratif dengan total denda hanya 50 ribu yuan.

“Denda 50 ribu yuan itu terlalu kecil. Bahkan didenda 100 kali pun mungkin tidak sebanding dengan keuntungan produksi satu atau dua hari mereka. Kalau kali ini bukan kecelakaan sebesar ini, kemungkinan besar kasusnya akan ditutup-tutupi dan rakyat biasa tidak akan tahu. Misalnya hanya satu atau dua orang meninggal, bagi mereka tinggal bayar kompensasi 700 ribu yuan per orang lalu masalah selesai. Biaya melakukan pelanggaran terlalu rendah,” ujar Ding Haifeng. 

Saat ini operasi penyelamatan di lokasi tambang masih berlangsung. Dua orang yang hilang hingga kini belum ditemukan. (***)

Sumber : NTDTV.com

Kembali Terungkap Kasus Agen Ilegal Partai Komunis Tiongkok di AS : Seorang Jurnalis Didakwa

EtIndonesia. Kasus terbaru terkait infiltrasi Partai Komunis Tiongkok (PKT) kembali menjadi sorotan. Baru-baru ini, jurnalis Amerika Thomas Pauken II didakwa oleh Departemen Kehakiman AS karena diduga bertindak sebagai agen ilegal bagi PKT.

Thomas Pauken II, yang menggunakan nama pena Tom McGregor, pernah tinggal di Tiongkok lebih dari 10 tahun. Ia bekerja sebagai jurnalis untuk media resmi PKT seperti Radio Internasional Tiongkok, CCTV, CGTN, dan Kantor Berita Xinhua.

Pada tahun 2019, ia menerbitkan sebuah buku mengenai perang dagang AS–Tiongkok dan mengklaim dapat memberikan sudut pandang netral.

Menurut dokumen pernyataan bersumpah di pengadilan, sejak 2019 Pauken beroperasi di bawah arahan seorang kontak dari Kementerian Keamanan Negara PKT bernama “Cathy”. Disebutkan pula bahwa laporan intelijen yang ditulis Pauken akan langsung diberikan kepada pemimpin PKT.

Salah satu tugas utama Pauken adalah mendekati seorang individu yang kemungkinan akan masuk ke pemerintahan Trump.

Pauken diketahui beberapa kali bepergian antara AS dan Tiongkok dengan biaya perjalanan ditanggung pihak Tiongkok. Ditambah bayaran untuk penulisan laporan, total uang yang diterimanya mencapai sedikitnya 100 ribu dolar AS.

Dilaporkan bahwa pada Januari 2025, saat memasuki Bandara Dulles di Washington, FBI memeriksa perangkat komunikasinya dan beberapa kali melakukan wawancara. Pada Februari tahun ini, Pauken kembali ditangkap setelah masuk ke AS.

Ayah Pauken adalah Tom Pauken Sr., tokoh senior Partai Republik di Texas yang pernah menjabat sebagai pejabat pemerintahan Reagan dan ketua Partai Republik Texas.

Pauken dijadwalkan menghadiri “sidang pengakuan bersalah sebelum dakwaan” pada Jumat pekan ini. Biasanya hal ini menandakan terdakwa berencana mencapai kesepakatan pengakuan bersalah dengan jaksa.

Mata-mata Partai Komunis Tiongkok didakwa (tangkapan layar)

Tahun ini, sudah ada beberapa orang yang didakwa atau dijatuhi hukuman atas tuduhan “bertindak sebagai agen ilegal PKT”, termasuk:

  • Tokoh komunitas Tionghoa New York, Lu Jianwang;
  • Mantan wali kota keturunan Tionghoa di Arcadia, California, Eileen Wang;
  • Mantan pacar Eileen Wang, Sun Yaoning, yang telah dijatuhi hukuman 48 bulan penjara;
  • Mantan wakil kepala staf Gubernur New York Kathy Hochul, Sun Wen, beserta suaminya Hu Xiao;
  • Serta Liang Litang, pria keturunan Tionghoa di Massachusetts yang ditangkap pada 2023 karena diduga terlibat dalam penindasan lintas negara terhadap demonstrasi anti-PKT di Boston.

Sumber : NTDTV.com

Lebih dari Separuh Remaja Bermain Ponsel Sebelum Tidur, Pakar Peringatkan Dampaknya

EtIndonesia. American Academy of Pediatrics dan banyak pakar menyarankan agar remaja tidur selama 8 hingga 10 jam setiap malam. Namun, penelitian terbaru menemukan bahwa lebih dari separuh remaja menghabiskan setidaknya satu jam bermain ponsel sebelum tidur.

Para ahli menyarankan agar orangtua memberi contoh terlebih dahulu dengan menetapkan waktu dan aturan penggunaan perangkat elektronik bersama anak-anak, guna mencegah dampak buruk terhadap kesehatan bahkan risiko kecanduan.

Setelah menganalisis data, para peneliti menemukan bahwa lebih dari setengah remaja di Amerika Serikat menghabiskan sedikitnya satu jam bermain ponsel pada malam hari. Kebiasaan buruk ini bukan hanya mengganggu tidur mereka, tetapi juga berdampak pada kesehatan.

Walaupun penelitian ini tidak secara langsung membuktikan bahwa bermain ponsel sebelum tidur pasti membahayakan remaja, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa gangguan tidur dapat mempengaruhi kemampuan kognitif, pengendalian emosi, dan kesehatan mental.

Para ahli mengatakan bahwa untuk membangun kebiasaan penggunaan teknologi yang lebih sehat, orang tua sebaiknya memulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

American Academy of Pediatrics menyarankan agar orang tua membuat “rencana penggunaan perangkat elektronik keluarga”, misalnya dengan menetapkan tempat dan waktu tertentu di mana penggunaan ponsel atau tablet tidak diperbolehkan.

Para ahli juga menyarankan agar ponsel, tablet, dan perangkat elektronik lainnya sebisa mungkin tidak dibawa ke kamar tidur. Selain itu, keluarga dianjurkan lebih sering mengadakan aktivitas luar ruangan.

Selain itu, keluarga juga bisa mempertimbangkan menyiapkan “kotak penyimpanan perangkat elektronik keluarga”, sehingga semua anggota keluarga dapat meletakkan ponsel mereka di sana untuk sementara waktu dan menikmati kebersamaan keluarga tanpa gangguan perangkat elektronik.

Sumber : NTDTV.com

Baru 11 Hari Menjabat, Pemimpin Baru Hamas Dilaporkan Tewas

EtIndonesia. Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memasuki fase yang sangat tegang pada Selasa, 27 Mei 2026. Media Israel melaporkan bahwa militer Israel diduga berhasil menewaskan pemimpin baru Hamas, Mohammed Odeh, dalam sebuah serangan udara presisi yang dilakukan di Jalur Gaza.

Laporan tersebut langsung memicu perhatian internasional karena operasi itu terjadi hanya sekitar 11 hari setelah pemimpin militer Hamas sebelumnya juga dilaporkan tewas dalam operasi militer Israel. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa Israel kini terus meningkatkan strategi “targeted killing” atau pembunuhan terarah untuk memutus rantai komando Hamas di Gaza.

Menurut laporan awal media berbahasa Ibrani pada 27 Mei, evaluasi intelijen Israel menunjukkan bahwa Mohammed Odeh kemungkinan besar tewas setelah jet tempur Israel menggempur sebuah lokasi di Kota Gaza yang diyakini menjadi pusat aktivitas kelompok Hamas.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bersama Menteri Pertahanan Israel sebelumnya telah mengumumkan bahwa operasi militer besar sedang berlangsung di Gaza sebagai bagian dari upaya menghancurkan struktur kepemimpinan Hamas.

Israel Intensifkan Operasi Pembunuhan Terarah

Sejak konflik kembali meningkat pada awal tahun 2026, Israel secara konsisten menjalankan operasi militer yang berfokus pada pemburuan para petinggi Hamas. Strategi tersebut bertujuan melemahkan koordinasi internal kelompok itu sekaligus mengurangi kemampuan Hamas dalam melancarkan serangan terhadap wilayah Israel.

Mohammed Oudeh diketahui merupakan salah satu tokoh penting dalam struktur Hamas. Sejumlah foto dan dokumentasi sebelumnya menunjukkan dirinya sering muncul bersama para pemimpin senior Hamas lainnya dalam berbagai pertemuan internal dan kegiatan militer organisasi tersebut.

Karena itu, jika kematiannya benar-benar terkonfirmasi secara resmi, banyak analis menilai hal tersebut akan memberikan pukulan besar terhadap stabilitas kepemimpinan Hamas di Jalur Gaza.

Serangan terbaru ini juga memperlihatkan bahwa Israel kini semakin mengandalkan operasi intelijen presisi tinggi untuk menghindari perang darat berskala besar yang berpotensi memicu tekanan internasional lebih luas.

Alarm Drone Sempat Berbunyi di Perbatasan Utara Israel

Di tengah operasi di Gaza, ketegangan juga sempat meningkat di wilayah utara Israel yang berbatasan dengan Lebanon.

Pada Selasa, 27 Mei 2026, alarm peringatan keamanan berbunyi di komunitas Baram setelah militer Israel mendeteksi adanya target udara mencurigakan yang diduga drone.

Militer Israel kemudian mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara telah melakukan pemeriksaan terhadap objek tersebut. Namun setelah investigasi lanjutan, alarm akhirnya dicabut dan tidak ditemukan adanya korban jiwa maupun kerusakan.

Meski demikian, insiden itu kembali memperlihatkan tingginya kewaspadaan Israel terhadap ancaman drone dari kelompok-kelompok bersenjata di kawasan, termasuk yang didukung Iran.

Netanyahu dan Trump Bahas Ancaman Iran

Perkembangan penting lainnya terjadi setelah rapat kabinet keamanan Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan melakukan percakapan telepon dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, guna membahas situasi keamanan regional, khususnya terkait Iran dan kelompok-kelompok proksi di Timur Tengah.

Pemerintah Israel disebut sangat khawatir terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan baru antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai tidak benar-benar menghapus ancaman nuklir Teheran maupun jaringan militernya di kawasan.

Bagi Israel, ancaman terbesar bukan hanya program nuklir Iran, tetapi juga pengaruh Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata seperti Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon.

Karena itu, Israel terus menjalankan operasi ofensif di Gaza dan Lebanon sebagai upaya memperkuat posisi tawarnya di tengah proses diplomasi regional yang sedang berlangsung.

Sejumlah analis keamanan menilai Israel berusaha mengirim pesan bahwa mereka tetap siap bertindak secara militer, bahkan ketika jalur negosiasi antara Washington dan Teheran masih berjalan.

Iran Kembali Keluarkan Ancaman terhadap Israel

Ketegangan semakin meningkat setelah Mojtaba Khamenei — putra Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang disebut-sebut sebagai calon penerus kepemimpinan Iran — kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Israel pada 27 Mei 2026.

Dalam pernyataannya, Mojtaba menyebut bahwa Israel “akan segera runtuh”, sebuah komentar yang langsung memicu respons keras dari pejabat Israel.

Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, menanggapi dengan nada sindiran. Ia mengatakan bahwa gaya bahasa Mojtaba sangat mirip dengan ayahnya dan secara terbuka mempertanyakan keberadaan Mojtaba saat ini.

Pernyataan saling serang tersebut kembali memperlihatkan bahwa hubungan Iran dan Israel kini berada pada titik yang sangat sensitif, terutama ketika negosiasi nuklir AS-Iran masih berlangsung di belakang layar.

Timur Tengah Masuk Fase “Berperang Sambil Bernegosiasi”

Secara keseluruhan, situasi Timur Tengah saat ini menunjukkan pola yang semakin rumit: konflik militer terus berlangsung, tetapi jalur diplomasi juga tetap berjalan secara paralel.

Israel menegaskan bahwa prinsip utama mereka tetap “keamanan di atas segalanya”. Karena itu, operasi militer di Gaza dan Lebanon diperkirakan akan terus berlanjut selama Israel masih menilai adanya ancaman langsung dari Hamas maupun kelompok pro-Iran lainnya.

Di sisi lain, Amerika Serikat tetap berusaha mendorong negosiasi nuklir dengan Iran demi mencegah konflik besar yang berpotensi menyeret kawasan ke perang regional berskala luas.

Perhatian dunia kini tertuju pada hasil rapat kabinet Presiden Donald Trump di Washington dan apakah perundingan AS-Iran dalam beberapa hari mendatang mampu menghasilkan terobosan diplomatik yang nyata, atau justru memicu eskalasi baru yang lebih berbahaya di Timur Tengah. (****) 

10.000 Drone per Hari Menggila di Ukraina, Dunia Ketakutan Masuk Era Perang Tanpa Manusia

EtIndonesia. Perang antara Rusia dan Ukraina kini memasuki fase yang benar-benar berbeda. Konflik yang sebelumnya didominasi oleh tank, artileri berat, dan serangan rudal besar-besaran perlahan berubah menjadi perang teknologi drone berskala masif yang mulai mengguncang keseimbangan militer modern.

Pada Selasa, 26 Mei 2026, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio secara terbuka mengakui bahwa setiap kali ia menyaksikan gelombang serangan udara dan aksi balasan yang terus meningkat di Ukraina, dunia kembali diingatkan bahwa perang ini merupakan salah satu konflik paling mengerikan di era modern.

Rubio bahkan menyinggung bahwa durasi perang Rusia-Ukraina kini telah melampaui lamanya Perang Dunia Kedua. Ia menegaskan bahwa perang tersebut harus segera diakhiri, namun situasi di lapangan menunjukkan kenyataan yang jauh lebih rumit.

Menurut Rubio, kedua pihak masih terlibat dalam konfrontasi brutal tanpa tanda-tanda akan mundur. Di satu sisi, Rusia terus meningkatkan bombardemen terhadap kota-kota besar Ukraina. Namun di sisi lain, Ukraina kini mulai menjalankan strategi baru yang dinilai jauh lebih berbahaya bagi stabilitas militer Rusia.

Ukraina Ubah Strategi: Serang “Urat Nadi” Rusia

Dalam beberapa minggu terakhir, ketika militer Rusia terus menggempur Kyiv dengan rudal dan drone, Ukraina secara mendadak meningkatkan serangan jarak menengah terhadap sistem logistik Rusia di wilayah selatan.

Ribuan drone Ukraina mulai diarahkan jauh ke belakang garis pertahanan Rusia. Targetnya bukan lagi hanya posisi tempur di garis depan, melainkan jalur distribusi bahan bakar, kendaraan logistik, kereta suplai militer, hingga transportasi pengangkut amunisi.

Berdasarkan analisis dari Institute for the Study of War serta berbagai rekaman geolokasi medan perang yang beredar sepanjang Mei 2026, Ukraina kini memusatkan operasi pada dua jalur logistik paling penting milik Rusia, yaitu jalan raya M14 dan M18.

Dua jalur tersebut memiliki arti strategis yang sangat besar bagi Moskow.

Jalur itu menghubungkan kota Rostov-on-Don menuju wilayah-wilayah pendudukan Rusia seperti Mariupol dan Berdiansk, lalu berakhir di Krimea.

Para analis militer menyebut jaringan ini sebagai “urat nadi utama” pertahanan Rusia di wilayah selatan.

Kini, drone-drone Ukraina mulai melakukan serangan hampir tanpa henti terhadap truk bahan bakar, kendaraan logistik, serta konvoi militer Rusia yang melintasi jalur tersebut. Serangan dilakukan secara berulang, siang dan malam, dengan pola yang sangat sulit diprediksi.

Tekanan itu mulai memunculkan kepanikan di pihak Rusia sendiri.

Kebijakan Rusia Justru Jadi Bumerang

Pada 21 Mei 2026, gubernur wilayah Kherson bentukan Rusia, Vladimir Saldo, menandatangani perintah yang melarang truk sipil melintasi jalan raya M14.

Tujuannya sebenarnya untuk mengurangi risiko korban sipil dan mempermudah pengawasan lalu lintas di jalur strategis tersebut.

Namun kebijakan itu justru menimbulkan efek sebaliknya.

Ketika kendaraan sipil menghilang dari jalan raya, maka setiap kendaraan besar yang masih bergerak otomatis menjadi sasaran yang sangat mudah diidentifikasi sebagai target militer.

Beberapa blogger militer Rusia bahkan secara terbuka mengecam kebijakan tersebut. Mereka menilai langkah itu sama saja membantu Ukraina mengenali target dengan lebih cepat dan lebih akurat.

Tidak lama setelah kebijakan tersebut diberlakukan, dampaknya mulai terasa di berbagai wilayah pendudukan Rusia.

Krisis Bahan Bakar Mulai Muncul di Krimea

Efek paling nyata terlihat di Krimea.

TES, jaringan pom bensin terbesar di wilayah itu, mulai memberlakukan pembatasan pembelian bensin maksimal hanya 20 liter per orang.

Bensin beroktan tinggi mulai sulit ditemukan, sementara distribusi solar juga mulai dijatah secara ketat.

Situasi serupa kemudian terjadi di wilayah pendudukan Zaporizhzhia yang ikut mengumumkan pembatasan distribusi bahan bakar.

Dalam waktu kurang dari 72 jam, tiga zona perang Rusia sekaligus mengalami pembatasan lalu lintas dan krisis distribusi energi.

Perkembangan ini dianggap sebagai sinyal serius bahwa jaringan logistik militer Rusia di wilayah selatan mulai mengalami keretakan besar.

Bukan hanya jalur darat yang diserang.

Drone Ukraina juga terus memburu kereta logistik dan kereta tangki bahan bakar Rusia. Sedikitnya 10 rangkaian kereta dilaporkan hancur atau mengalami kerusakan berat akibat serangan drone presisi.

Drone Kini Jadi Senjata Paling Mematikan

Perubahan terbesar dalam perang Rusia-Ukraina saat ini sebenarnya terletak pada dominasi drone.

Mantan Direktur CIA, Peter Reuss, baru-baru ini mengungkap data mengejutkan bahwa sekitar 90 persen korban dan kerusakan di pihak Rusia kini disebabkan oleh serangan drone.

Menurut berbagai laporan militer Barat, Ukraina saat ini menggunakan lebih dari 10.000 drone setiap hari di medan perang.

Produksi drone Ukraina juga meningkat sangat drastis.

Sepanjang tahun 2025, Ukraina diperkirakan memproduksi sekitar 3,5 juta unit drone. Sementara pada tahun 2026, kapasitas produksinya diprediksi dapat mendekati 7 juta unit.

Akibat perkembangan tersebut, wilayah sejauh sekitar 35 kilometer dari garis depan kini mulai dijuluki sebagai “zona kematian drone”.

Tank semakin sulit bertahan hidup.

Kendaraan lapis baja menjadi sasaran empuk.

Bahkan parit pertahanan tradisional yang selama puluhan tahun dianggap efektif kini tidak lagi aman.

Drone modern mampu masuk langsung ke dalam parit, mendeteksi panas tubuh manusia, lalu melancarkan serangan presisi terhadap target di dalamnya.

Dunia Mulai Takut pada “Kawanan Drone AI”

Peter Reuss juga memperingatkan bahwa dalam satu hingga dua tahun ke depan, dunia kemungkinan akan menghadapi era baru peperangan yang jauh lebih mengerikan: kemunculan “kawanan drone AI otonom”.

Teknologi ini memungkinkan drone bertindak sepenuhnya otomatis tanpa operator manusia.

Drone dapat mencari target sendiri, melakukan identifikasi mandiri, memilih sasaran, lalu menyerang tanpa perlu dikendalikan dari jarak jauh.

Para ahli keamanan menilai perkembangan tersebut dapat mengubah total konsep peperangan global.

Hingga saat ini, belum ada militer mana pun di dunia yang benar-benar memiliki sistem pertahanan efektif untuk menghadapi serangan drone massal berbasis kecerdasan buatan seperti itu.

NATO dan Eropa Mulai Panik

Ancaman ini kini mulai membuat negara-negara Eropa khawatir.

Mantan Sekretaris Jenderal NATO, Anders Fogh Rasmussen, melalui aliansi pertahanan drone yang dipimpinnya, baru-baru ini mengadakan demonstrasi besar sistem anti-drone di Denmark.

Berbagai perusahaan teknologi pertahanan Eropa kini bekerja sama mengembangkan generasi baru sistem anti-drone untuk melindungi bandara, pelabuhan, fasilitas energi, hingga pangkalan militer.

Kekhawatiran Eropa bukan tanpa alasan.

Dalam beberapa bulan terakhir, negara-negara seperti Polandia, Jerman, Denmark, Swedia, serta tiga negara Baltik berkali-kali melaporkan pelanggaran wilayah udara oleh drone misterius yang belum diketahui asal-usulnya.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa perang Rusia-Ukraina bukan lagi sekadar konflik regional biasa.

Teknologi perang yang lahir dari medan tempur Ukraina kini mulai mengguncang struktur keamanan seluruh Eropa dan berpotensi mengubah wajah peperangan dunia untuk selamanya. (***)

Drone Ukraina Hancurkan Front Rusia, Putin Luncurkan Serangan Balasan

EtIndonesia. Situasi geopolitik dunia pada Senin–Selasa, 25–26 Mei 2026, semakin memanas. Ketika perhatian internasional masih tertuju pada krisis Timur Tengah dan ketegangan di Selat Hormuz, Rusia justru mulai menunjukkan sinyal eskalasi besar baru di medan perang Ukraina.

Serangkaian langkah yang dilakukan Moskow dalam dua hari terakhir memicu kekhawatiran bahwa perang Rusia-Ukraina kini memasuki fase yang jauh lebih berbahaya. Mulai dari peringatan langsung kepada Amerika Serikat dan negara-negara Barat mengenai keselamatan staf diplomatik di Kyiv, serangan terhadap wilayah strategis Ukraina, hingga penandatanganan undang-undang baru oleh Presiden Rusia Vladimir Putin, semuanya dianggap sebagai tanda bahwa Kremlin sedang menyiapkan langkah besar berikutnya.

Para analis keamanan internasional menilai perkembangan ini dapat memperluas konflik di Eropa Timur dan bahkan berpotensi terhubung dengan ketegangan global lain yang sedang berlangsung.

Lavrov Telepon Rubio, Rusia Minta Diplomat Barat Tinggalkan Ukraina

Pada Selasa, 26 Mei 2026, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, dilaporkan melakukan percakapan telepon penting dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio.

Dalam pembicaraan tersebut, pihak Rusia memperingatkan agar Amerika Serikat serta negara-negara Barat mulai mempertimbangkan penarikan staf diplomatik mereka dari Ukraina, khususnya dari ibu kota Kyiv.

Peringatan itu langsung memicu spekulasi luas bahwa Moskow mungkin sedang mempersiapkan operasi militer berskala lebih besar dalam beberapa minggu mendatang.

Sumber-sumber diplomatik menyebutkan bahwa Kremlin menilai situasi keamanan di Kyiv semakin tidak stabil, terutama setelah meningkatnya serangan drone Ukraina terhadap berbagai fasilitas militer Rusia di Crimea, wilayah selatan Rusia, dan area logistik strategis lainnya.

Tak lama setelah percakapan itu berlangsung, Rubio disebut turut menyampaikan peringatan bahwa perang Ukraina kini memiliki risiko berkembang menjadi konflik internasional yang lebih luas apabila eskalasi terus meningkat tanpa kendali.

Pernyataan tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa Washington juga mulai melihat ancaman perluasan perang ke level yang lebih berbahaya, terutama jika konfrontasi langsung antara Rusia dan negara-negara NATO semakin meningkat.

Rusia Lancarkan Serangan ke Dnipro

Masih pada 26 Mei 2026, Rusia juga dilaporkan meluncurkan rudal balistik ke wilayah Dnipro, salah satu kota penting di Ukraina bagian tengah.

Salah satu lokasi yang terkena dampak disebut berada di dekat fasilitas gudang bantuan milik Program Pangan Dunia PBB atau World Food Programme (WFP).

Serangan ini kembali memicu kekhawatiran internasional mengenai risiko gangguan distribusi bantuan kemanusiaan di Ukraina, terutama bagi wilayah-wilayah yang selama ini sangat bergantung pada pasokan pangan dan bantuan internasional.

Sejumlah pengamat menilai serangan terhadap area yang berkaitan dengan jalur logistik bantuan internasional menunjukkan bahwa Rusia kini semakin agresif dalam menekan infrastruktur pendukung Ukraina.

Putin Teken UU Baru yang Memicu Alarm Dunia

Perkembangan paling mengejutkan justru datang sehari sebelumnya.

Pada Minggu, 25 Mei 2026, Presiden Rusia, Vladimir Putin, resmi menandatangani undang-undang baru yang langsung memicu alarm keamanan di berbagai negara.

Undang-undang tersebut memungkinkan Rusia mengirim pasukan militer ke luar negeri untuk “menjemput kembali” warga Rusia yang ditahan oleh lembaga internasional atau otoritas asing apabila Moskow tidak mengakui yurisdiksi lembaga tersebut.

Media-media internasional dan pengamat geopolitik segera menilai aturan baru itu sebagai bentuk legitimasi hukum baru bagi Kremlin untuk melakukan operasi militer lintas batas dengan alasan melindungi warga negara Rusia.

Banyak pihak melihat langkah ini sangat sensitif karena Rusia sebelumnya memang beberapa kali menggunakan alasan “perlindungan warga Rusia” sebagai dasar pembenaran operasi militer di luar negeri.

Kasus serupa pernah muncul sebelum aneksasi Crimea pada 2014, serta dalam berbagai operasi Rusia di wilayah bekas Uni Soviet.

Akibatnya, sejumlah negara yang memiliki populasi etnis Rusia atau berbatasan langsung dengan Rusia kini meningkatkan kewaspadaan keamanan mereka.

Negara-negara seperti Estonia, Latvia, Lithuania, Kazakhstan, Moldova, hingga Ukraina disebut mulai memantau secara serius implikasi dari undang-undang tersebut.

Analis keamanan Eropa menilai aturan itu dapat memperbesar risiko operasi khusus Rusia di luar negeri dan meningkatkan ketegangan keamanan di kawasan Eropa Timur maupun Asia Tengah.

Rusia Dinilai Sedang Menghadapi Tekanan Berat

Meski Moskow menunjukkan sikap yang semakin agresif, sejumlah analis militer Barat menilai Rusia sebenarnya sedang menghadapi tekanan besar di medan perang.

Dalam beberapa pekan terakhir, jalur logistik Rusia di Crimea dan front selatan terus dihantam serangan drone Ukraina.

Wilayah strategis seperti Crimea dan Zaporizhzhia disebut mengalami tekanan logistik yang serius, baik untuk kebutuhan militer maupun sipil.

Gangguan distribusi bahan bakar, amunisi, hingga jalur suplai kendaraan tempur mulai disebut semakin terasa di beberapa sektor garis depan.

Mantan Direktur CIA, Peter Ures, bahkan menyebut bahwa sekitar 90 persen korban pasukan Rusia saat ini berasal dari serangan drone.

Menurutnya, Ukraina kini menggunakan sekitar 10.000 drone setiap hari di berbagai medan tempur untuk menyerang posisi Rusia secara terus-menerus.

Ia menjelaskan bahwa di garis depan sepanjang sekitar 35 kilometer, tank dan kendaraan lapis baja Rusia kini hampir tidak dapat bertahan lama karena drone Ukraina mampu melakukan serangan presisi langsung ke parit pertahanan, bunker, hingga kendaraan logistik.

Perang drone modern disebut telah mengubah total pola peperangan konvensional di Ukraina.

Jika sebelumnya tank dan artileri berat menjadi simbol dominasi medan perang, kini drone murah dengan kemampuan serangan presisi justru menjadi senjata paling mematikan.

Bahkan sejumlah analis pro-Rusia mulai mengakui bahwa Rusia kini sedang menghadapi salah satu fase paling kritis sejak perang Ukraina dimulai pada Februari 2022.

Dunia Khawatir Krisis Global Bisa Meledak

Situasi inilah yang membuat banyak negara semakin khawatir bahwa konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur sewaktu-waktu dapat saling terhubung menjadi krisis global yang jauh lebih besar.

Di satu sisi, Amerika Serikat masih menghadapi tekanan besar di Timur Tengah terkait Iran dan keamanan Selat Hormuz. Di sisi lain, Rusia kini mulai memperlihatkan tanda-tanda peningkatan operasi militer di Ukraina.

Para pengamat internasional memperingatkan bahwa apabila dua pusat konflik besar dunia itu mengalami eskalasi secara bersamaan, maka dampaknya dapat mengguncang stabilitas ekonomi global, harga energi dunia, jalur perdagangan internasional, hingga keamanan geopolitik internasional secara keseluruhan.

Karena itu, perkembangan pada 25–26 Mei 2026 kini dipandang sebagai salah satu momen paling sensitif dalam dinamika geopolitik dunia tahun ini. (***)

Diaspora Indonesia di Prancis Rasakan Kehangatan Iduladha Bersama Presiden Prabowo

EtIndonesia.com. Suasana Iduladha 1447 Hijriah di Wisma Indonesia, Paris, Prancis, pada Rabu, 27 Mei 2026, terasa berbeda bagi warga negara Indonesia dan diaspora yang hadir. Kehadiran Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam salat Iduladha berjemaah menambah kehangatan dan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia di perantauan.

Bagi sebagian WNI yang sedang berada di Paris, kesempatan melaksanakan salat Id di tanah rantau sekaligus bertemu langsung dengan Kepala Negara menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Hal tersebut dirasakan oleh empat mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Brawijaya, yakni Zeahita, Yuri, Kezia, dan Sindhu, yang tengah berada di Prancis untuk mengikuti kegiatan akademik.

“Sangat spesial ya. Apalagi pas banget kita lagi di Prancis dan kebetulan bertemu sama Pak Presiden. It’s such an honor,” ujar Zeahita dikutip dari BPMI Setpres. 

Kezia mengaku tidak menyangka perjalanan mereka ke Prancis akan bertepatan dengan momen salat Iduladha bersama Presiden Prabowo. Awalnya, mereka datang ke Prancis untuk mengikuti konferensi dan lomba Model United Nations di Lyon, sebelum akhirnya mampir di Paris.

“Sebenarnya kami tidak pernah expect akan salat di sini juga karena kami awalnya berangkat ke Lyon untuk konferensi atau lomba Model United Nations. Tapi berhubung kami mampir ke Paris sebentar, kami memutuskan untuk salat Id di sini, dan kami sangat bahagia karena bisa bertemu banyak rekan-rekan dari Indonesia dan tentunya juga Bapak Presiden,” tutur Kezia.

Bagi Sindhu, momen tersebut juga menjadi pengobat rindu terhadap Indonesia. Meski baru dua pekan berada di Prancis, ia mengaku suasana Iduladha bersama sesama WNI membuatnya merasa kembali dekat dengan kampung halaman.

“Alhamdulillah sangat bahagia. Tentunya kita kangen banget dengan Indonesia, padahal baru dua minggu di Prancis, tapi sudah kangen banget sama Indonesia,” ucap Sindhu.

Bagi Yuri, salat Iduladha di Wisma Indonesia menjadi pengalaman yang membahagiakan karena dapat bertemu dengan jajaran kepresidenan serta sejumlah menteri yang turut hadir. “Rasanya cukup menyenangkan dan cukup exciting buat kita semua, buat salat di sini sekaligus bertemu dengan jajaran kepresidenan serta beberapa menteri juga,” ujar Yuri.

Tidak hanya para mahasiswa, pengalaman serupa juga dirasakan Myrna Damayanti, WNI asal Jakarta yang sedang melakukan perjalanan bisnis di Paris. Bagi Myrna, suasana salat Iduladha di Paris terasa berbeda namun tetap penuh kedamaian.

“Di sini rasanya damai. Di antara bangunan-bangunan yang sangat cantik dan historical, kita bisa salat Id dan mendengar takbir. Itu senang banget sih,” tuturnya.

Myrna juga mengaku kehadiran Presiden Prabowo menjadi kejutan yang tidak disangka. Ia sebelumnya hanya mendengar kabar dari teman-temannya bahwa Presiden akan melaksanakan salat Id di lokasi yang sama.

“Teman-teman saya bilang, ‘Oh Myrna mau sama Pak Prabowo ya?’ Itu kayak bercandaan aja. Tiba-tiba saya boleh masuk. Ini sih alhamdulillah banget, benar-benar nggak disangka-sangka,” ucapnya.

Dalam momen Iduladha tersebut, Myrna menyampaikan harapan agar Indonesia dan seluruh masyarakatnya senantiasa diberi keberkahan dan kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan dunia.

“Iduladha tahun ini, saya berharap untuk saya secara pribadi, perusahaan saya, dan negara kita, mudah-mudahan kita semua selalu diberikan keberkahan dan rahmat dari Allah,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, masyarakat yang hadir pun tampak menyanyikan bersama sejumlah lagu nasional. Momen ini semakin memperkuat rasa kebersamaan dan kehangatan diaspora di perantauan.

Bagi masyarakat Indonesia di Paris, Iduladha kali ini tidak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga ruang silaturahmi yang memperkuat rasa kebersamaan di tanah rantau. Kehadiran Presiden Prabowo menjadi pengingat bahwa di mana pun berada, masyarakat Indonesia tetap menjadi bagian dari keluarga besar bangsa Indonesia.

Sumber : BPMI Setpres

Situasi Global Makin Gila: AS Serang Iran, Israel Siap Gempur Beirut, Dunia Masuk Fase Berbahaya

EtIndonesia.com  Situasi geopolitik dunia pada Selasa hingga Rabu, 26–27 Mei 2026, berkembang menuju fase yang semakin mengkhawatirkan. Ketegangan di Timur Tengah dan Eropa Timur meningkat hampir secara bersamaan, memunculkan kekhawatiran internasional bahwa dunia sedang bergerak menuju konflik regional yang dapat meluas menjadi krisis global berskala besar.

Perhatian utama dunia saat ini tertuju pada memburuknya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran, memanasnya konflik Israel–Hezbollah di Lebanon, serta meningkatnya ancaman terhadap jalur pelayaran energi internasional di Selat Hormuz.

Di tengah situasi yang terus memburuk, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan sedang mempertimbangkan berbagai opsi strategis untuk mengakhiri konflik dalam waktu 60 hari sekaligus membuka kembali stabilitas jalur perdagangan global yang kini terguncang akibat eskalasi militer di kawasan Teluk Persia.


Trump Gelar Rapat Kabinet Penting di Gedung Putih

Menurut laporan sejumlah media Amerika pada Rabu, 27 Mei 2026, Trump dijadwalkan menggelar rapat kabinet penting di Gedung Putih yang diperkirakan dihadiri seluruh anggota kabinet dan pejabat keamanan nasional utama Amerika Serikat.

Pertemuan tersebut menjadi rapat kabinet pertama yang dipimpin Trump sejak 26 Maret 2026 dan dipandang sebagai salah satu momen paling menentukan dalam kebijakan luar negeri Washington tahun ini.

Fokus utama pembahasan diperkirakan mencakup:

  • perkembangan negosiasi nuklir dengan Iran,
  • keamanan Selat Hormuz,
  • operasi militer AS di Timur Tengah,
  • eskalasi Israel–Hezbollah,
  • serta kemungkinan langkah militer lanjutan apabila jalur diplomasi gagal total.

Para analis menilai Gedung Putih kini berada dalam posisi yang sangat sulit. Di satu sisi, Washington masih ingin mempertahankan peluang diplomasi dengan Teheran. Namun di sisi lain, tekanan politik domestik dan situasi keamanan regional terus mendorong pemerintahan Trump ke arah pendekatan militer yang lebih keras.


Negosiasi AS-Iran Masuki Titik Paling Kritis

Ketegangan meningkat tajam setelah proses negosiasi antara Washington dan Teheran memasuki fase paling sensitif sejak pembicaraan dimulai beberapa bulan lalu.

Pada 27 Mei 2026, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran menuntut pencairan dana sebesar 24 miliar dolar AS sebagai syarat utama tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat.

Namun tuntutan tersebut langsung ditolak oleh tim negosiasi Trump.

Washington menilai permintaan itu terlalu berisiko dan dapat membuka ruang baru bagi Iran untuk memperkuat program strategisnya, termasuk kemampuan militer dan pengembangan teknologi yang selama ini menjadi perhatian Barat.

Situasi semakin memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Mujtaba Khamenei, melontarkan pernyataan keras bahwa Iran akan “menghitung seluruh utang” terhadap Amerika Serikat dan Israel.

Pernyataan tersebut dipandang luas sebagai sinyal bahwa Iran mulai meninggalkan pendekatan diplomasi lunak dan bergerak menuju posisi yang jauh lebih konfrontatif.

Para pengamat internasional menilai saat ini hubungan AS-Iran berada di titik paling rapuh sejak awal krisis terbaru meletus.

Dunia kini menunggu keputusan besar dari Trump:
apakah Washington akan tetap mempertahankan jalur diplomasi, atau justru mulai membuka opsi operasi militer berskala lebih luas terhadap Iran.


Militer AS Meluncurkan Operasi Mendadak di Iran Selatan

Ketegangan semakin meningkat setelah militer Amerika Serikat pada Senin, 26 Mei 2026, meluncurkan operasi militer mendadak di wilayah selatan Iran.

Operasi yang oleh Pentagon disebut sebagai “serangan defensif” itu dilaporkan menargetkan sejumlah aset strategis Iran, termasuk:

  • kapal penebar ranjau,
  • fasilitas peluncuran rudal,
  • sistem logistik militer,
  • serta wilayah sekitar Abbas Port yang dianggap menjadi pusat aktivitas operasional Garda Revolusi Iran.

Langkah tersebut langsung menarik perhatian dunia internasional karena dilakukan di tengah proses negosiasi diplomatik yang secara resmi masih berlangsung.

Para analis keamanan menilai Washington kini menjalankan dua strategi secara bersamaan:

  1. mempertahankan tekanan militer maksimum terhadap Iran,
  2. sambil tetap membuka peluang tercapainya kesepakatan diplomatik.

Namun strategi ganda ini dinilai sangat berisiko karena kesalahan kecil di lapangan dapat memicu bentrokan terbuka yang lebih luas.


Selat Hormuz Kembali Jadi Titik Paling Berbahaya di Dunia

Dalam beberapa hari terakhir, Selat Hormuz kembali berubah menjadi pusat ketegangan global.

Kawasan ini sangat vital karena menjadi jalur utama distribusi energi dunia. Sebagian besar ekspor minyak dari Timur Tengah melewati selat sempit tersebut.

Sebagai respons terhadap meningkatnya ancaman keamanan, Amerika Serikat kembali mengaktifkan operasi pengamanan maritim bernama “Project Freedom”.

Operasi itu bertujuan memastikan jalur perdagangan energi internasional tetap terbuka dan aman dari ancaman sabotase.

Pada 27 Mei 2026, sebuah kapal tanker super milik Yunani yang membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah dilaporkan berhasil melewati Selat Hormuz dengan pengawalan langsung militer Amerika Serikat.

Washington juga diperkirakan akan mengawal belasan kapal lainnya dalam beberapa hari mendatang, termasuk:

  • kapal tanker minyak,
  • kapal kontainer internasional,
  • serta kapal logistik perdagangan global.

Langkah ini dilakukan setelah muncul kekhawatiran bahwa Iran dapat mencoba mengganggu jalur pelayaran menggunakan:

  • ranjau laut,
  • drone bersenjata,
  • kapal cepat,
  • maupun operasi maritim Garda Revolusi Iran.

Akibatnya, kawasan Teluk Persia kini berubah menjadi salah satu zona militer paling tegang di dunia.


Hezbollah dan Israel Kembali Terlibat Eskalasi Besar

Di saat bersamaan, situasi di perbatasan Israel–Lebanon juga mengalami peningkatan drastis.

Kelompok Hezbollah dilaporkan melancarkan serangan mendadak ke wilayah utara Israel.

Sebagai balasan, militer Israel segera melakukan serangan udara besar-besaran ke berbagai wilayah Lebanon.

Menurut laporan media Israel pada 26 Mei 2026, pasukan Israel menggunakan lebih dari 85 amunisi presisi untuk menyerang lebih dari 70 titik yang disebut sebagai basis dan infrastruktur Hezbollah.

Pejabat tinggi keamanan Israel bahkan menyatakan bahwa pemerintah telah menyetujui kemungkinan operasi pembunuhan terarah di Beirut apabila peluang operasi muncul.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam pernyataan resminya mengatakan:

“Kami sedang berperang melawan Hezbollah. Dalam beberapa minggu terakhir saja, para prajurit kami telah menyingkirkan lebih dari 700 ekstremis. Kami tidak akan mengendurkan tekanan.”

Tidak hanya itu, militer Israel juga dilaporkan telah melintasi Blue Line dan melancarkan operasi darat terbatas di Lebanon selatan dengan target lokasi peluncuran drone Hezbollah.

Namun Iran segera memberikan respons keras melalui jalur diplomatik tidak resmi.

Teheran memperingatkan Amerika Serikat bahwa setiap serangan langsung Israel terhadap Beirut akan langsung mengakhiri seluruh proses negosiasi antara Washington dan Teheran.

Peringatan tersebut membuat situasi kawasan semakin sensitif karena konflik Lebanon kini berpotensi langsung terhubung dengan negosiasi nuklir AS-Iran.


Israel Klaim Tewaskan Pemimpin Militer Baru Hamas

Sementara itu di Jalur Gaza, operasi militer Israel juga terus meningkat.

Militer Israel mengumumkan bahwa mereka berhasil menghancurkan jaringan terowongan Hamas sepanjang hampir 7 mil di Gaza utara.

Selain itu, ratusan fasilitas infrastruktur di atas permukaan tanah juga disebut telah dihancurkan dalam operasi beberapa hari terakhir.

Israel juga mengklaim berhasil menewaskan pemimpin militer baru Hamas, yaitu Mohammed Odeh, melalui serangan udara terhadap sebuah gedung apartemen di Kota Gaza.

Menurut militer Israel, Mohammed Odeh merupakan pengganti Haddad yang sebelumnya tewas dalam operasi Israel pada pekan lalu.

Klaim tersebut hingga kini masih terus dipantau berbagai pihak internasional karena berpotensi memicu eskalasi baru di Gaza.


Trump dan Netanyahu Dikabarkan Bahas Iran dan Lebanon

Laporan lain menyebutkan bahwa Trump dan Netanyahu melakukan pembicaraan telepon penting pada 27 Mei 2026.

Sumber-sumber diplomatik menyebut topik utama pembahasan mencakup:

  • potensi kesepakatan nuklir dengan Iran,
  • perluasan operasi militer Israel di Lebanon,
  • serta strategi menghadapi Hezbollah dan Hamas.

Sejumlah pengamat menduga Trump kemungkinan meminta Netanyahu menahan diri agar tidak menyerang Beirut secara besar-besaran demi menjaga peluang negosiasi dengan Iran tetap hidup.

Namun sebagian analis internasional menilai pendekatan Trump yang terlalu berhati-hati juga berisiko dimanfaatkan oleh Rusia dan Tiongkok untuk mencari kelemahan strategis Amerika Serikat di tengah krisis global yang terus berkembang.


Dunia Khawatir Konflik Regional Bisa Meledak Jadi Krisis Global

Dengan meningkatnya ketegangan secara bersamaan di Iran, Lebanon, Gaza, dan Selat Hormuz, banyak pengamat kini mulai memperingatkan bahwa dunia sedang memasuki salah satu periode paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir.

Setiap keputusan yang diambil Washington, Teheran, maupun Tel Aviv dalam beberapa hari ke depan diperkirakan dapat menentukan arah stabilitas global selanjutnya.

Jika negosiasi gagal dan konflik terus meluas, bukan hanya Timur Tengah yang akan terdampak, tetapi juga:

  • harga energi dunia,
  • jalur perdagangan internasional,
  • pasar keuangan global,
  • hingga stabilitas politik internasional secara keseluruhan.

Dunia kini menunggu:  apakah diplomasi masih mampu mencegah perang besar, atau justru krisis ini akan menjadi awal dari babak konflik global yang lebih luas.  (***)