AS dan Iran Menjadwalkan Negosiasi Mendesak untuk Mencegah Perang
EtIndonesia. AS dan Iran telah sepakat untuk mengadakan negosiasi di Muscat (Oman) pada hari Jumat, 6 Februari, menurut publikasi Reuters.
Meskipun telah menyepakati lokasi dan tanggal, kedua pihak belum menyepakati agenda: Teheran bersikeras untuk membahas program nuklirnya secara eksklusif, sementara Washington ingin memasukkan rudal balistik dan keamanan regional.
Negosiasi berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. AS meningkatkan kehadiran militernya di kawasan tersebut menyusul ancaman Trump tentang kemungkinan serangan terhadap Iran, sementara Iran khawatir bahwa skenario militer apa pun dapat meng destabilisasi situasi di dalam negeri.
Awalnya, pertemuan dijadwalkan di Istanbul, tetapi Teheran mengusulkan untuk memindahkannya ke Oman untuk membatasi diskusi pada masalah nuklir. Pejabat tinggi Amerika, termasuk menantu Trump, Jared Kushner, dan utusan khusus AS, Steven Witkoff, diharapkan akan berpartisipasi dalam negosiasi bersama dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menekankan bahwa negosiasi tersebut tidak hanya mencakup program nuklir, tetapi juga jangkauan rudal balistik Iran, dukungan untuk kelompok proksi regional, dan perlakuan Iran terhadap penduduknya sendiri. Sebagai tanggapan, para pejabat Iran menyatakan bahwa pembahasan program rudal tidak dipertimbangkan, dan prasyarat apa pun dapat membahayakan negosiasi.
Upaya diplomatik ini dilakukan setelah serangan militer AS dan Israel terhadap Iran tahun lalu, yang menyebabkan eskalasi di kawasan tersebut dan meningkatkan risiko konflik skala besar. Ketegangan semakin meningkat akibat insiden baru-baru ini yang melibatkan drone dan kapal militer Iran di dekat kapal induk Abraham Lincoln di Teluk Persia.
Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai agenda, kedua belah pihak telah menegaskan kesediaan mereka untuk terlibat dalam dialog, dengan harapan negosiasi akan membantu mencegah eskalasi dan berkontribusi pada stabilisasi situasi di Timur Tengah.(yn)
Perbedaan antara Menjadi Tua dan Tumbuh Dewasa
EtIndonesia. Pada hari pertama kuliah, setelah dosen memperkenalkan diri, beliau meminta setiap mahasiswa secara aktif berkenalan dengan satu teman baru.
Saat aku berdiri dan memandang sekeliling, seseorang menepuk bahuku dengan lembut.
Aku menoleh dan melihat seorang wanita lanjut usia, bertubuh kecil, dengan wajah penuh keriput, sedang tersenyum kepadaku. Senyumnya cerah dan hangat.
Dia berkata: “Hai, anak muda. Namaku Rose, usiaku 87 tahun. Bolehkah aku memelukmu?”
Aku tertawa dan menjawab dengan antusias : “Tentu saja boleh.”
Dia pun memelukku erat.
Aku bercanda : “Dengan usia semuda ini, kenapa Nenek datang kuliah?”
Dia menjawab dengan nakal : “Aku ingin mencari suami kaya, punya beberapa anak, lalu pensiun keliling dunia.”
“Serius?” tanyaku, meski tahu itu hanya gurauan.
Aku sangat penasaran, apa yang mendorongnya—di usia senja—untuk kembali ke bangku kuliah.
Dia berkata: “Aku selalu bermimpi mendapatkan pendidikan universitas. Sekarang, akhirnya impian itu terwujud.”
Setelah kelas usai, kami berjalan bersama menuju gedung mahasiswa dan menikmati milkshake cokelat. Sejak hari itu, kami menjadi sahabat karib.
Selama tiga bulan berikutnya, hampir setiap hari kami pulang bersama, mengobrol tanpa henti tentang apa saja.
Rose bagaikan mesin waktu hidup, membagikan kebijaksanaan dan pengalamannya. Dan aku mendengarkan dengan penuh ketertarikan.
Dalam satu tahun akademik, Rose menjadi figur terkenal di kampus. Ke mana pun dia pergi, dia selalu mudah mendapatkan teman baru.
Dia kerap berdandan rapi dan menikmati perhatian hangat dari para mahasiswa.
Di akhir semester, Rose diundang untuk memberi pidato pada jamuan makan malam yang diadakan untuk tim sepak bola kami.
Aku takkan pernah melupakan hadiah berharga yang dia berikan malam itu.
Setelah diperkenalkan oleh pembawa acara, Rose melangkah kecil menuju podium. Tepat saat hendak berbicara, catatan pidatonya terjatuh ke lantai.
Beberapa detik dia tampak kikuk dan malu, namun segera dia berkata dengan nada santai ke mikrofon : “Maaf, akhir-akhir ini aku sering menjatuhkan barang. Tadi aku berniat minum bir untuk menenangkan diri, tapi malah minum wiski. Ternyata itu hampir membunuhku. Sepertinya aku tak ingat apa yang sudah kusiapkan—jadi aku akan membicarakan hal yang paling kukenal.”
Di tengah tawa hadirin, dia berdeham lalu berkata: “Kita bukan berhenti bermain karena menjadi tua; kita menjadi tua karena berhenti bermain. Hanya ada satu rahasia untuk tetap muda, bahagia, dan berhasil: seringlah tertawa dan miliki selera humor. Dan yang terpenting—teruslah bermimpi. Saat seseorang kehilangan mimpinya, dia seolah telah mati. Di sekitar kita, banyak orang hidup seperti mayat berjalan, tanpa mereka sadari.”
Dia melanjutkan: “Ada perbedaan besar antara menjadi tua dan menjadi dewasa. Semua orang akan menjadi tua, tetapi tidak semua orang akan menjadi dewasa. Menjadi dewasa berarti terus menemukan peluang untuk bertumbuh di setiap perubahan—dan memanfaatkannya.”
“Jika ingin hidup tanpa penyesalan: orang yang telah berusia lanjut jarang menyesali apa yang telah mereka lakukan; mereka justru menyesali hal-hal yang tidak pernah mereka lakukan saat muda. Hanya mereka yang menyimpan penyesalanlah yang takut akan kematian.”
Pada akhir tahun itu, Rose akhirnya menyelesaikan pendidikan universitasnya.
Seminggu setelah kelulusan, dia meninggal dengan tenang dalam tidurnya.
Lebih dari dua ribu mahasiswa menghadiri pemakamannya.
Kami berkumpul untuk mengenang dan memberi hormat kepada wanita yang mengajarkan kami—dengan teladan hidupnya—bahwa selama kita bertekad, tak ada kata terlambat untuk mewujudkan mimpi.
Hikmah Cerita
Rose menunjukkan bahwa usia boleh menua, tetapi hati tak harus ikut menua. Cara pandangnya terhadap hidup—optimis, ceria, dan penuh humor—patut kita teladani.
Hidup memang seharusnya demikian: belajar sepanjang hayat. Saat seseorang berhenti belajar dan berhenti menyerap hal baru, yang menua bukan hanya usia—pikiran pun ikut berhenti.
Ungkapan Rose bahwa “ketika seseorang kehilangan mimpi, dia seolah mati dan hidup seperti mayat berjalan” memberi kita sudut pandang baru tentang kehidupan.
Semoga setelah membaca kisah ini, kita menemukan kembali mimpi-mimpi kita, dan menjalani hidup dengan semangat, optimisme, serta humor.(jhn/yn)
Zhang Youxia Mendapat Dukungan Para “Sesepuh Politik” Memicu Kemarahan Xi, Tokoh Abu-abu Zhang Shengmin Berbalik Melawan
Kejatuhan mendadak Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (KMP) Partai Komunis Tiongkok (PKT), serta Liu Zhenli, Kepala Staf Gabungan, terus menimbulkan berbagai versi mengenai latar belakang penangkapan mereka.
Sejumlah analis yang memahami politik Tiongkok menilai bahwa Zhang Youxia bukan hanya memiliki wibawa tinggi di kalangan militer, tetapi juga di seluruh birokrasi. Hal ini menjadi ancaman serius di mata pemimpin PKT Xi Jinping. Selain itu, dukungan para sesepuh PKT terhadap Zhang membuat Xi murka dan berujung pada pembalasan.
EtIndonesia. Pada 24 Januari, Zhang Youxia dan anggota KMP Liu Zhenli secara resmi diumumkan “jatuh”. Malam itu juga, surat kabar militer Partai Komunis Tiongkok (PKT) memuat editorial yang mengkritik Zhang dan Liu, menuduh mereka “secara serius menginjak-injak dan merusak sistem tanggung jawab ketua “KMP”. Mulai 31 Januari, selama tiga hari berturut-turut, media militer kembali mengecam keduanya dengan dalih “penanganan unsur korup”, menyebutnya sebagai upaya menyingkirkan “penghalang dan batu sandungan”.
Komentator independen Du Zheng menulis pada 4 Februari di media Taiwan Up Media bahwa banyak pihak paham ini adalah pembersihan politik yang dibungkus isu antikorupsi—pola lama PKT dalam menyelesaikan masalah politik dengan cara non-politik.
Apa sebenarnya yang dilakukan Zhang Youxia terhadap Xi Jinping? Berbagai spekulasi bermunculan. Ada rumor bahwa Zhang dan Liu gagal melakukan kudeta terhadap Xi. Namun Du Zheng menilai Zhang tidak memiliki nyali dan visi sejauh itu. Ia lebih mirip para sesepuh PKT lainnya yang berupaya mencegah Xi menjabat kembali, demi menghindari risiko besar bagi partai dan negara.
Pada Kongres Nasional PKT ke-20, Zhang Youxia yang berusia 72 tahun saat itu tetap menjabat Wakil Ketua KMP. Banyak orang mengira hal itu karena Xi ingin mempertahankan loyalis “princeling” (keturunan elite revolusioner) demi menstabilkan kendali militer. Namun sebenarnya, menurut penulis, Zhang bertahan dengan dukungan para sesepuh yang tidak puas terhadap kebijakan Xi, agar dapat memengaruhi arah politik Tiongkok—sebuah fakta yang di luar dugaan publik.
Sebagai Wakil Ketua KMP peringkat pertama dan princeling senior, Zhang memiliki otoritas besar bukan hanya di militer, tetapi juga di kalangan pejabat sipil. Pasca Kongres ke-20, ia menjalin kontak erat dengan sejumlah sesepuh yang ingin ikut campur dalam politik. Dalam tingkat tertentu, ia bahkan mengosongkan (mengecilkan) peran Xi di militer, dan melakukan langkah yang sangat membuat Xi murka.
Rencana awal Xi adalah mengangkat He Weidong dan Miao Hua sebagai Wakil Ketua KMP—He mengurusi urusan militer, Miao urusan politik. Namun dengan dukungan para sesepuh, Zhang Youxia tetap bertahan, memasukkan dua sekutunya ke KMP periode ke-20, mengangkat Li Shangfu sebagai Menteri Pertahanan dan Liu Zhenli sebagai Kepala Staf Gabungan.
Du Zheng menyebut He Weidong berperan sebagai “pengawas” Xi di militer, memantau Zhang Youxia. Untuk menjatuhkan Zhang, He dan Miao menyarankan Xi menyasar sistem persenjataan (yang sarat rente) dan Pasukan Roket (pengendali arsenal nuklir). Target langsungnya Li Shangfu, target tak langsungnya Zhang Youxia.
Pada 26 Juli 2023, Departemen Pengembangan Peralatan KMP mengumumkan pengumpulan petunjuk pelanggaran dalam pengadaan sejak Oktober 2017—langkah yang secara langsung mengarah pada Li Shangfu, mantan kepala departemen tersebut.
Ada anggapan Xi sengaja “melindungi” Zhang dengan membatasi rentang waktu audit. Du Zheng menepisnya: itu adalah hasil tawar-menawar kekuasaan antara Zhang dan Xi. Di PKT, korupsi meluas; yang menentukan adalah hasil pertarungan. Saat itu Zhang mengorbankan Li Shangfu demi bertahan sementara.
Pada Maret 2024 (sidang Dua Sesi), He Weidong menyatakan akan memberantas “kemampuan tempur palsu”. South China Morning Post melaporkan memiliki risalah rapat tersebut. Tuduhan itu sejatinya menuding Zhang—terkait pengadaan peralatan cacat dan pelatihan fiktif.
Zhang lalu melawan dengan mengumpulkan bukti korupsi He Weidong, terutama praktik jual-beli jabatan oleh Miao Hua, memaksa Xi menyetujui penyelidikan.
Hingga Oktober tahun lalu, sejumlah besar jenderal penuh dan letnan jenderal tumbang bersama-sama—kebanyakan naik jabatan lewat operasi Miao Hua. Bukti berada di tangan Zhang. Du Zheng menegaskan, Xi terpaksa menjatuhkan mereka—bukan “revolusi diri” atau “menegakkan keadilan” seperti klaim resmi.
Dalam pertarungan Zhang vs He dan Xi, Zhang Shengmin (Wakil Ketua CMC saat ini) disebut sebagai “bermuka dua”. Ia menjadi sasaran tarik-menarik. Saat Xi dan He mengaudit korupsi persenjataan, pelaksananya adalah Zhang Shengmin. Saat Zhang Youxia menyerang He, Zhang Shengmin membantu mengumpulkan bukti terhadap Miao dan He. Namun ketika Xi memutuskan menjatuhkan Zhang Youxia, Zhang Shengmin beralih ke kubu Xi.
Pada Pleno Ke-4 Oktober 2025, Zhang Shengmin naik menjadi Wakil Ketua KMP tetapi tidak masuk Politbiro. Zhang Youxia menjadi satu-satunya anggota Politbiro dari militer.
Du Zheng menyebut, dalam pidato Zhang Youxia pada pertemuan sosialisasi militer Pleno Ke-4, auranya seperti “raja di militer”. Ini makin membuat Xi gelisah. Xi khawatir menjelang Kongres PKT ke-21, ia bisa digantikan oleh kubu yang didukung Zhang. Inilah kecemasan inti Xi, mencapai titik kritis yang memicu kejatuhan Zhang—“garis tebasan” dalam perebutan kekuasaan.
Soal siapa yang menangkap Zhang Youxia, ada spekulasi Biro Pengawal Pusat. Du Zheng menyebut, demi menjebak Zhang, He dan Miao membantu Xi membentuk pasukan pribadi di Hebei, di luar struktur militer reguler. Setelah He jatuh, pasukan ini berpindah ke tangan Cai Qi (satu faksi Fujian).
Du Zheng menilai Komisi Keamanan Nasional Pusat—satu-satunya lembaga yang dapat mengkoordinasikan militer—dipakai Cai Qi untuk merencanakan dan mengeksekusi pukulan terakhir terhadap Zhang.
Namun penulis memperingatkan, jatuhnya Zhang membuka krisis baru bagi Xi:
- Personalia militer berantakan; Xi tak lagi punya orang tepercaya, termasuk Zhang Shengmin yang oportunis;
- Moral militer bergejolak, kemarahan terpendam—rawan pembangkangan saat perang;
- Kekuatan nyata yang mengendalikan partai-negara sekaligus memengaruhi militer kini Cai Qi—lebih berbahaya daripada Zhang yang “hanya” jenderal.
Kasus Zhang Youxia masih berlanjut. Pada 2 Februari, majalah Foreign Affairs menerbitkan artikel “Xi the Destroyer (Xi Sang Perusak)” karya Qin Jiangnan (Brookings, mantan analis CIA) dan John Culver (mantan pejabat intelijen senior CIA).
Artikel itu menyebut, ayah Xi dan Zhang adalah rekan dekat di militer PKT; Xi dan Zhang saling mengenal puluhan tahun. Namun kini, pemecatan Zhang yang tidak bermartabat menunjukkan kekejaman Xi dalam mengelola militer—keras terhadap musuh adalah satu hal, tanpa ampun terhadap kawan adalah hal lain.
Artikel menilai, KMP saat ini praktis hancur, hanya menyisakan Xi dan Zhang Shengmin; karenanya Xi disebut “perusak”. Dengan meminggirkan Zhang secara terbuka, Xi memperlihatkan ciri kunci gaya politiknya: tak seorang pun aman, bahkan mereka yang memiliki hubungan pribadi mendalam. Ini disebut sebagai pergeseran seismik dalam politik PKT.
Seorang sumber yang memahami internal PKT, Tuan Feng, mengatakan kepada Epoch Times bahwa penanganan Xi terhadap Zhang dan Liu mengguncang militer. Kini setiap kali disebut “komando terpadu”, reaksi sangat keras; baik pejabat sipil maupun militer enggan menyatakan dukungan. Perlawanan pasif dan ketidakpatuhan nyata di militer kian mempengaruhi birokrasi, melemahkan kapasitas operasi mesin kekuasaan PKT.
Editor Penanggung Jawab: Tang Zheng
Pria 20 Tahun di Sichuan, Tiongkok Membunuh 3 Orang Beruntun, Sang Kakek-Nenek Membantu Membakar Mayat untuk Menghilangkan Jejak
EtIndonesia. Baru-baru ini, terungkap sebuah kasus pembunuhan brutal di daratan Tiongkok. Seorang pria berusia 20 tahun di Provinsi Sichuan membunuh dua orang yang kebetulan lewat tanpa alasan, dan kakek-neneknya membantu membakar mayat untuk menghilangkan bukti. Beberapa hari kemudian, pria tersebut kembali membunuh pacarnya yang berusia 17 tahun. Ia akhirnya dijatuhi hukuman mati.
Menurut sebuah putusan peninjauan hukuman mati yang dipublikasikan di situs China Judgments Online, pada 27 Mei 2020, seorang pria bermarga Wang (Wang Moujia, saat itu berusia 20 tahun) dari Kabupaten Gaoxian, Kota Yibin, Provinsi Sichuan, bertengkar dengan pacarnya bermarga Fan.
Fan kemudian meninggalkan Wang dan pulang ke rumahnya di Kunming, Yunnan. Wang menyimpan dendam dan berniat membalas dengan membunuh perempuan.
Pada 31 Mei 2020 malam, Wang membawa pisau belati dan kain ke sebuah persimpangan tiga jalan di tepi desa. Sekitar pukul 20.00, ia bertemu dua pekerja perempuan dari Pabrik Beton China Railway Third Bureau, Liu Moumou dan Li Moujia, yang sedang berjalan-jalan di jalan desa. Dengan dalih menunjukkan arah, Wang menipu keduanya masuk ke sebuah jalan kecil di dalam desa, lalu membunuh mereka. Setelah itu, ia menguburkan jasad kedua korban di kebun murbei di dalam desa.
Keesokan harinya, Wang memberi tahu neneknya, Li Mouyi, tentang pembunuhan dan penguburan tersebut. Li Mouyi kemudian memberitahu suaminya, Wang Mouyi. Kakek dan nenek Wang menggali kembali jasad Liu dan Li, memindahkannya ke kandang babi di rumah mereka, menyiramnya dengan bensin dan minyak goreng lalu membakarnya. Setelah itu, sebagian sisa-sisa jasad dibuang ke kolam ikan di depan rumah dan ke sungai.
Pada 10 Juni di tahun yang sama, Wang bertemu kembali dengan pacarnya, Fan. Karena perselisihan verbal, Wang berniat membunuh Fan. Sore keesokan harinya, keduanya bertemu di sebuah hotel dan kembali bertengkar. Wang mengikat kedua tangan Fan ke belakang dengan kain yang telah disiapkan sebelumnya, lalu mencekik leher Fan dengan kain lain sebelum melarikan diri dari lokasi. Fan meninggal dunia akibat mati lemas mekanis.
Pada 22 Juli 2021, Pengadilan Menengah Kota Yibin, Provinsi Sichuan, menjatuhkan hukuman mati kepada Wang Moujia atas kejahatan pembunuhan berencana.
Kakek dan nenek Wang juga dinyatakan oleh pengadilan telah melakukan tindak pidana, namun rincian tanggung jawab pidana dan hukuman spesifik yang harus mereka jalani tidak diungkapkan.
Kasus ini memicu perdebatan hangat di kalangan warganet. Beberapa komentar di antaranya:
“Akibat buruk dari kegagalan pendidikan keluarga terlihat jelas pada keluarga ini. Mengetahui cucunya membunuh orang, reaksi pertama bukan menyerahkan diri ke polisi, melainkan membantu membakar dan membuang mayat. Ini bukan kasih sayang, melainkan pembiaran.”
“Semua kejahatan besar bermula dari kesalahan kecil. Keluarga asal punya peran besar.”
“Setelah membunuh dua orang, mereka masih membantunya menyembunyikan kejahatan dan menghancurkan bukti. Ini menunjukkan betapa dimanjakannya Wang sejak kecil oleh keluarganya. Jika bukan karena penutupan fakta yang disengaja oleh kakek-neneknya, mungkin tidak akan ada korban ketiga. Wang sangat kejam, dan keluarganya memikul tanggung jawab yang tak bisa dilepaskan, terutama kakek dan neneknya, yang harus dimintai pertanggungjawaban atas kejahatan menyembunyikan dan melindungi pelaku.”
Reporter: Li Li, laporan kompilasi / Editor Lin Qing
Video: Kereta Pengangkut Bahan Bakar Meledak di Tambov, Rusia
EtIndonesia. Di Tambov, sebuah kecelakaan kereta api merusak gerbong tangki bahan bakar, menyebabkan kebakaran dan ledakan besar. Akibat insiden tersebut, lalu lintas kereta api telah dihentikan sepenuhnya, dan masinis kereta mengalami luka parah, menurut media Rusia.
Menurut laporan media, beberapa gerbong kereta tergelincir di dekat Michurinsk saat kereta sedang bergerak. Hal ini menyebabkan tangki bahan bakar pecah dan bensin tumpah, yang kemudian diikuti oleh ledakan dahsyat. Saat ini, lima gerbong tangki terbakar.
Saksi mata menggambarkan momen kecelakaan itu sebagai benturan yang sangat kuat.
“Ledakan itu sangat dahsyat sehingga jendela di rumah-rumah terdekat bergetar. Seketika, kepulan asap hitam yang besar membubung, dan langit menjadi berapi-api,” kata warga setempat.
Layanan darurat berada di lokasi kejadian, berupaya memadamkan api.
In #Russia's Tambov, a train derailment damaged fuel tank cars, causing a large-scale fire and explosion. Due to the incident, rail traffic has been completely halted, and the train driver sustained severe injuries pic.twitter.com/WER0Wztuwv
— RBC-Ukraine (@NewsUkraineRBC) February 4, 2026
Masinis telah dirawat di rumah sakit karena luka bakar parah. Situasi diperumit oleh suhu tinggi dari produk minyak bumi yang terbakar.
Lalu lintas kereta api di bagian ini telah diblokir sementara tanpa batas waktu.
“Saat ini, pergerakan kereta api di area tersebut sepenuhnya dihentikan. Semua sumber daya difokuskan pada penanganan dampak dan pencegahan penyebaran api ke gerbong-gerbong di dekatnya,” kata perwakilan kereta api.
Sebelumnya, sebuah ledakan terjadi di jalur kereta api di wilayah Oryol, Rusia. Dua orang tewas dan satu lainnya terluka. Insiden tersebut menyebabkan penundaan bagi beberapa kereta jarak jauh.
Ledakan tersebut terjadi di bagian Maloarkhangelsk–Glazunovka. Menurut kepala wilayah Andrey Klichkov, bahan peledak telah ditempatkan langsung di jalur kereta api.
Ledakan kereta api lainnya terjadi di dekat kota Nizhny Tagil, Rusia. Menurut media Rusia, insiden tersebut terjadi di dekat stasiun San-Donato.
Beberapa benda tak dikenal ditemukan di dekat lokasi ledakan, yang mungkin menjadi penyebab kecelakaan tersebut. Sumber-sumber Rusia juga melaporkan bahwa ledakan tersebut diduga terjadi di dekat depot minyak setempat. (yn)
Konferensi Tingkat Tinggi Kebebasan Beragama Internasional Membongkar Penganiayaan Partai Komunis Tiongkok Terhadap Falun Gong
EtIndonesia. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kebebasan Beragama Internasional 2026 atau The International Religious Freedom (IRF) Summit pada Selasa (3/2/2026) kembali digelar di Washington DC, Amerika Serikat. KTT ini membahas bagaimana melindungi kebebasan beragama para pengungsi serta isu represi lintas negara.
Dalam sebuah seminar khusus tentang penganiayaan agama yang diadakan pada Senin (2/2/2026), para pakar secara khusus menyoroti penganiayaan brutal rezim Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap kelompok kepercayaan Falun Gong.
Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah disiplin spiritual yang berpusat pada prinsip Sejati, Baik, dan Sabar. Pertama kali diperkenalkan kepada publik di Tiongkok pada tahun 1992, latihan ini dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut hingga mencapai sekitar 70 juta hingga 100 juta praktisi di negara tersebut pada tahun 1999, menurut perkiraan resmi saat itu.
Karena khawatir popularitas Falun Gong mengancam kekuasaan rezim, Partai Komunis Tiongkok memulai kampanye brutal untuk memberantas latihan tersebut pada Juli 1999. Selama 26 tahun terakhir, banyak praktisi telah dikirim ke penjara, kamp kerja paksa, dan pusat pencucian otak—di mana mereka mengalami kerja paksa, penyiksaan, dan bahkan kematian akibat pengambilan organ secara paksa.
Reporter New Tang Dynasty Television Bo Lei melaporkan : “KTT Kebebasan Beragama Internasional sedang berlangsung di Washington DC. Sebuah seminar khusus yang digelar pada hari Senin mengungkap bagaimana penganiayaan agama secara bertahap berubah menjadi sesuatu yang dianggap normal.”
Para pakar yang hadir secara mendalam menganalisis pola penindasan, serta bagaimana pola tersebut meresap ke dalam sistem hukum, perilaku aparat, dan kehidupan sehari-hari. Mereka secara khusus menyinggung rezim PKT.
“Awalnya selalu menggunakan pola yang sama: propaganda terlebih dahulu, lalu masuk ke sistem peradilan, di mana polisi diberi insentif untuk menangkap penganut agama. Selanjutnya, penganiayaan meluas ke sistem penjara, bahkan hingga ke rumah sakit dengan praktik pengambilan organ,” ujar peneliti senior Falun Dafa Information Center, Cynthia Sun.
“Saya pikir, menjatuhkan sanksi terhadap pejabat tingkat bawah sejauh mungkin adalah langkah yang penting. Selama mereka adalah pejabat lokal, misalnya tingkat kabupaten, hal itu lebih memiliki efek jera dibanding langsung menjatuhkan sanksi kepada Xi Jinping,” katanya.
“Jika sebelum praktisi Falun Gong ditangkap dan dipenjara, penganiayaan dapat dihentikan berkat perhatian media internasional dan publik, maka ibu Simon Zhang (Ji Yunzhi) tidak akan meninggal dunia, dan Pang Xun juga tidak akan kehilangan nyawanya,” tambahnya.

Para ketua bersama KTT Kebebasan Beragama Internasional memperingatkan bahwa jika PKT dan rezim komunis lainnya menjadikan penganiayaan semacam ini sebagai hal yang lumrah, maka kelompok-kelompok beriman akan menghadapi kerusakan yang serius dan berkepanjangan.
“Tanda-tanda bahaya sebenarnya sudah muncul sejak awal. Anda akan melihat pemerintah mengeluarkan pernyataan yang menyebut kelompok tertentu bermasalah, atau mulai mengubah sikap media, seolah-olah sedang mempersiapkan penganiayaan terhadap kelompok tersebut,” kata Ketua bersama KTT dan mantan Duta Besar AS untuk Kebebasan Beragama Internasional, Sam Brownback.
Ketua bersama lainnya, Katrina Lantos Swett, menyatakan: “Di negara seperti Tiongkok (di bawah PKT), penganiayaan terhadap Falun Gong, Muslim Uighur, atau umat Buddha Tibet telah menjadi hal yang biasa. Ketika mayoritas masyarakat tidak lagi merasa terkejut, marah, atau muak terhadap tindakan semacam ini, dan tidak lagi membencinya, maka rezim tersebut dapat dengan leluasa menganiaya dan menyakiti kelompok-kelompok yang rentan.”

Reporter Bo Lei menambahkan: “Mereka juga membagikan cara-cara Amerika Serikat dalam menanggapi situasi tersebut.”
Brownback mengatakan: “Kita dapat menggunakan Global Magnitsky Act untuk menjatuhkan sanksi terhadap individu maupun para pemimpin. Kita juga dapat memberlakukan sanksi luas terhadap seluruh pemerintahan, bahkan bisa melakukan tindakan militer, seperti yang dilakukan Presiden Trump terhadap Nigeria.”
Pada hari Selasa, rangkaian kegiatan KTT masih berlanjut. Penyelenggara juga telah mulai mempersiapkan hari pelobian ke Kongres yang akan digelar pada Rabu (4 Februari). Pada kesempatan tersebut, para pakar akan menyampaikan tuntutan mereka secara langsung kepada anggota Kongres AS.
Reporter Bo Lei menyampaikan: “Mereka berencana menggunakan berbagai cara, termasuk sesi pengarahan, konferensi pers, serta pertemuan langsung dengan para legislator, dengan fokus utama pada bagaimana melindungi para korban penganiayaan agama.”
Berbicara Terus Terang Tentang Hak Asasi Manusia di Tiongkok
Berbagi tokoh yang membicarakan HAM adalah mantan pemain NBA, Enes Kanter Freedom. Ia selama ini sangat vokal mengkritik catatan hak asasi manusia Tiongkok.
“Ketika saya mulai berbicara tentang masalah yang terjadi di Turki, semua orang benar-benar mendukung saya. Mereka membela saya. Itu luar biasa,” katanya dalam panel tersebut. “Tetapi ketika saya mulai bersuara tentang Tiongkok, dukungan itu hampir tidak ada.”

Perubahan sikap itu, katanya, berasal dari ketakutan—ketakutan kehilangan uang dari Tiongkok. Setelah musim 2021–2022, ia tidak menerima satu pun tawaran bermain dari tim NBA, yang menurutnya disebabkan oleh kritiknya terhadap Partai Komunis Tiongkok.
Freedom, advokat hak asasi manusia dan mantan pemain NBA, berbicara dalam International Religious Freedom Summit di Washington pada 3 Februari 2026.
“Meyedihkan sekali bagaimana mereka bisa mengendalikan organisasi yang lahir di Amerika,” katanya kepada The Epoch Times.
Ia mengatakan sedih melihat ketakutan yang sama di Hollywood, di Wall Street, dan di kalangan para pemimpin dunia.
“Tetapi sementara mereka mengkhawatirkan ekonomi mereka, di sisi lain dunia, orang-orang sedang menderita,” katanya. “Begitu banyak orang tak bersalah di daratan Tiongkok sedang dianiaya saat ini—Anda melihat warga Hong Kong, praktisi Falun Gong, orang Mongolia, Uyghur, dan Tibet.”

Grace Jin Drexel adalah salah satu saksi atas pelanggaran di Tiongkok, yang secara konsisten dinilai sebagai negara paling represif di dunia dalam hal kebebasan beragama.
Pada akhir 2025, otoritas Tiongkok menangkap ayahnya, Ezra Jin, pemimpin terkemuka Gereja Zion Beijing, di tengah penangkapan besar-besaran terhadap umat Kristen bawah tanah.
Pihak berwenang melarang ayahnya meninggalkan negara itu pada 2018 karena ia menolak memasang kamera pengenal wajah di dalam tempat ibadah gerejanya.
Ia belum melihat ayahnya selama tujuh tahun, dan di Washington, keluarganya menerima panggilan telepon ancaman, serta diikuti oleh orang-orang mencurigakan, katanya.
“Saya terkadang merasa takut. Bagaimanapun, saya berusaha mengungkap dan meminta pertanggungjawaban negara paling kuat kedua di dunia,” katanya. “Namun, sebagai seorang Kristen, saya percaya kita dipanggil untuk berani dan mengatakan kebenaran, dan bahwa Tuhan yang menciptakan Langit dan Bumi akan berdiri di pihak kita.”
‘Ancaman Terbesar bagi Dunia Bebas’
Aktivis Uyghur Rushan Abbas juga mengalami pembalasan setelah, dalam sebuah diskusi panel di Hudson Institute, ia mengecam penahanan massal dan penyiksaan Muslim Uyghur oleh Beijing di Xinjiang.
Ia mengatakan dirinya hanya menggunakan kebebasan berbicara. Namun beberapa hari setelah ia bersuara, pihak berwenang menculik saudara perempuannya, yang kini telah dipenjara selama tujuh tahun.
Baru-baru ini, ketika Abbas menerbitkan memoarnya berjudul Unbroken, dua versi palsu muncul secara online dengan nama yang sama. Ia yakin itu adalah taktik pembunuhan karakter oleh rezim Tiongkok.
“Sejauh inilah sebuah negara bertindak untuk membungkam orang yang bersuara,” katanya. “Keheningan adalah oksigen bagi tirani, dan saya menolak untuk diam.”
“Ini bukan hanya kisah nyata,” katanya. “Ini adalah kisah setiap orang Tibet, praktisi Falun Gong, dan warga Hong Kong. Taiwan adalah target berikutnya. Jika kita tidak bersuara, maka itu akan menimpa kita semua.”
Freedom, mantan pemain NBA, menyatakan perasaan yang sama dengan Abbas.
“Tiongkok adalah ancaman terbesar bagi dunia bebas, dan kita harus melakukan apa pun yang kita bisa untuk menyampaikan pesan itu,” katanya.
Ia mengatakan bahwa karena bersuara, ia kehilangan kariernya, yang diperkirakan bernilai sekitar 40 juta hingga 50 juta dolar AS dalam bentuk gaji dan potensi kontrak dukungan.
Namun, ia tidak menyesal.
“Ini lebih besar dari diri saya sendiri, lebih besar dari NBA, lebih besar dari bola basket,” katanya. “Orang-orang kehilangan orang yang mereka cintai, kehilangan nyawa mereka, dan kehilangan rumah mereka.”
Untuk mencegah pelanggaran lebih lanjut, sanksi diperlukan, kata Freedom.
“Para pemimpin Barat kita tidak memberikan tekanan yang cukup pada Partai Komunis Tiongkok, dan mereka memanfaatkan hal itu,” katanya. “Kecaman saja tidak akan berhasil ketika Anda melawan kediktatoran terbesar di dunia.”
The Epoch Times telah menghubungi NBA untuk meminta komentar, tetapi tidak menerima tanggapan.
Reporter New Tang Dynasty Television, Bo Lei, melaporkan dari Washington DC, Amerika Serikat.
【Wawancara Terkini】Pendapatan Fiskal Tiongkok Mengalami Pertumbuhan Negatif, Langka dalam Lebih dari 40 Tahun
Kementerian Keuangan Partai Komunis Tiongkok (PKT) pada 30 Januari merilis data statistik terbaru yang menunjukkan bahwa pendapatan fiskal sepanjang tahun 2025 turun 1,7% secara tahunan. Kondisi ini dinilai sebagai kejadian yang jarang terjadi dalam lebih dari 40 tahun terakhir. Sejumlah pengamat menilai, penurunan pendapatan fiskal PKT ini berpotensi memberikan dampak lanjutan yang serius terhadap perekonomian Tiongkok.
EtIndonesia. Pada 30 Januari 2026, Kementerian Keuangan PKT mengumumkan kondisi penerimaan dan belanja fiskal tahun 2025. Data menunjukkan bahwa pendapatan anggaran umum nasional mencapai 21,6 triliun yuan, turun 1,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini bukan hanya gagal mencapai target pertumbuhan anggaran awal sebesar 0,1%, tetapi juga merupakan penurunan pertama sejak tahun 2020.
Situasi ini tergolong sangat jarang terjadi sejak lebih dari 40 tahun pasca kebijakan “reformasi dan keterbukaan” PKT.
Terakhir kali pendapatan fiskal PKT mengalami pertumbuhan negatif sepanjang satu tahun penuh adalah pada tahun 2020, yang saat itu disebabkan oleh dampak pandemi COVID-19.
“Namun pada tahun 2025 tidak ada bencana alam besar maupun musibah besar lainnya, tetapi perekonomian Tiongkok justru mengalami pertumbuhan negatif. Ini menunjukkan bahwa operasi keseluruhan ekonomi Tiongkok telah berada pada kondisi yang sangat berbahaya,” kata Kolumnis Epoch Times, Wang He.
“PKT membanggakan bahwa PDB tahun ini masih tumbuh 5%, tetapi pendapatan fiskal tidak ikut meningkat, malah mengalami penurunan. Ini menunjukkan adanya konflik antar data resmi PKT sendiri, dan masalah pemalsuan data sangat serius,” tambahnya.
Pakar keuangan Taiwan, Huang Shicong, menyatakan: “Tentu saja, menurut saya, penurunan pendapatan fiskal juga berarti bahwa kemampuan pemerintah pusat Tiongkok untuk melakukan apa yang disebut kebijakan stimulus sebenarnya juga sedang melemah.”
Dalam beberapa tahun terakhir, defisit fiskal pemerintah daerah di Tiongkok terus memburuk. Dunia luar juga lama meragukan keabsahan data PKT, dan menilai bahwa masalah fiskal yang sebenarnya bisa jauh lebih serius.
Wang He menambahkan: “Awalnya mereka berpikir bahwa kebijakan moneter sudah tidak efektif, sehingga harus mengandalkan kebijakan fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Namun sekarang kebijakan fiskal pun sudah tidak mampu dijalankan. Seluruh perekonomian menjadi kacau, sehingga tekanan fiskal menjadi sangat besar.”
Pengamat menilai bahwa pertumbuhan negatif pendapatan fiskal PKT berkaitan dengan perlambatan ekonomi, lesunya pasar properti, dan faktor-faktor lainnya.
Huang Shicong mengatakan: “Sektor properti adalah lokomotif yang sangat penting bagi perekonomian Tiongkok. Begitu perdagangan luar negeri Tiongkok melambat atau kehilangan momentum, hal itu bisa menyebabkan kehancuran total ekonomi Tiongkok, karena hingga saat ini sektor properti masih belum bisa bangkit.”
Pendapatan fiskal PKT secara resmi dibukukan dalam “empat buku anggaran”, yaitu:
- Anggaran Umum Pendapatan dan Belanja Nasional
- Anggaran Dana Pemerintah Nasional
- Anggaran Operasional Modal Negara
- Anggaran Jaminan Sosial
Di antaranya, Anggaran Umum Pendapatan dan Belanja Nasional terdiri dari pendapatan pajak dan non-pajak. Pada tahun 2025, pendapatan pajak naik 0,8%, sementara pendapatan non-pajak turun 11,3%. Namun, pajak terkait sektor properti terus mengalami penurunan.
Wang He menambahkan: “Setelah pendapatan fiskal menurun, PKT pasti akan memprioritaskan apa? Mereka akan menjaga anggaran pertahanan, menjaga stabilitas (keamanan dalam negeri), dan mempertahankan aparat kepolisian, kejaksaan, serta pengadilan. Ketika uang menjadi sedikit, lalu dari mana kekurangannya diambil? Dari rakyat, dari anggaran kesejahteraan masyarakat.”
Pendapatan anggaran dana pemerintah juga merupakan sumber pendapatan penting bagi PKT, yang terutama bergantung pada penjualan lahan. Namun data Kementerian Keuangan PKT menunjukkan bahwa pendapatan dari penjualan hak penggunaan tanah milik negara pada tahun 2025 turun 14,7%, dan ini merupakan penurunan tahun keempat berturut-turut.
Wang He mengatakan: “Tiongkok sejak awal mengalami kekurangan konsumsi, khususnya konsumsi rumah tangga. Dengan menurunnya pendapatan fiskal yang mempengaruhi pendapatan banyak orang, seluruh perekonomian Tiongkok memancarkan mentalitas spiral penurunan.”
Seperti diketahui, modal perusahaan milik negara (BUMN Tiongkok) sangat besar. Menurut laporan terbaru Dewan Negara PKT kepada Kongres Rakyat Nasional, pada tahun 2024, total ekuitas modal negara mencapai 109,4 triliun yuan, dengan total aset mencapai 401,7 triliun yuan.
Namun, modal BUMN yang sangat besar tersebut tidak mampu meringankan tekanan fiskal pemerintah.
Huang Shicong mengatakan: “Dalam kondisi pendapatan fiskal Tiongkok yang menurun, pemerintah tetap akan memprioritaskan investasi di sektor seperti pertahanan. Dana yang dapat digunakan untuk kesejahteraan rakyat tentu akan sangat terbatas. Ini menunjukkan bahwa investasi di sektor kesejahteraan masyarakat kemungkinan masih akan terus menurun.”
Pada tahun 2025, pendapatan Anggaran Operasional Modal Negara secara nasional mencapai 854,7 miliar yuan, meningkat 25,8% dibanding tahun sebelumnya; sementara pengeluarannya sebesar 264,7 miliar yuan, turun 15,1% secara tahunan.
Artinya, meskipun modal BUMN sangat besar, bagian yang benar-benar dimasukkan ke dalam anggaran operasional modal negara hanyalah sebagian kecil.
Para pengamat menilai bahwa penurunan pendapatan fiskal PKT akan memberikan dampak besar terhadap prospek ekonomi Tiongkok, prospek ketenagakerjaan, serta tingkat stabilitas sosial secara keseluruhan.
Editor: Meng Xinqi Wawancara: Chang Chun
Peraih Nobel Mogok Makan di Balik Jeruji Besi di Iran: Kejahatan terhadap Kemanusiaan
EtIndonesia. Peraih Nobel Perdamaian Narges Mohammadi memulai mogok makan di penjara Iran, lapor CNN.
Salah satu wanita paling berani di zaman kita, peraih Nobel Perdamaian Narges Mohammadi, telah memulai perjuangan putus asa untuk hidupnya di balik tembok penjara Iran. Kondisinya kritis, dan semua kontak dengannya telah diputus sepenuhnya.
Protes Putus Asa di Balik Jeruji Besi
Pada hari Senin, Narges Mohammadi secara resmi mengumumkan mogok makan. Hal ini dilaporkan oleh yayasannya di Paris dalam pernyataan eksklusif kepada CNN. Langkah ini merupakan protes terhadap penahanan ilegal dan kondisi tidak manusiawi yang dihadapi oleh ratusan tahanan politik di Iran.
Putra aktivis hak asasi manusia tersebut, Ali Rahmani, menyebut apa yang terjadi pada ibunya sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Menurutnya, rezim tersebut mencoba menghancurkan seorang wanita yang telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk perdamaian dan hak asasi manusia.
Kondisi Kritis dan Isolasi
Situasi seputar Mohammadi menyerupai film thriller dengan akhir yang tragis:
– Bencana medis: Narges menderita masalah jantung serius (dia telah selamat dari beberapa serangan jantung), masalah tulang belakang, dan tekanan darah tinggi yang kritis. Dia baru-baru ini menjalani operasi karena dugaan diagnosis kanker.
– Keheningan total: Sejak penangkapannya pada bulan Desember, aktivis hak asasi manusia ini hanya diizinkan satu kali menelepon saudara laki-lakinya. Pihak berwenang menuntut agar dia berbohong kepada keluarganya tentang kondisinya, tetapi Narges memilih kebenaran — dan tetap diam dan terisolasi.
– Kembali ke neraka: Mohammadi ditangkap selama upacara peringatan. Ia sekarang menghadapi hukuman total 36 tahun penjara karena propaganda.
Mengapa rezim takut padanya
Suami penerima penghargaan, Taghi Rahmani, percaya bahwa pihak berwenang lebih takut pada suara Narges daripada sanksi apa pun. Bahkan dari penjara, dia tetap menjadi simbol perjuangan untuk hak-hak perempuan dan demokrasi di Iran.
Komunitas internasional dan organisasi hak asasi manusia menyerukan intervensi segera. Setiap jam mogok makan bagi seorang wanita dengan riwayat medisnya dapat berakibat fatal.
Hubungan AS-Iran
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat meningkat tajam setelah Teheran secara brutal menindas protes anti-pemerintah pada awal Januari. Menurut organisasi hak asasi manusia, ribuan orang tewas selama demonstrasi tersebut.
Presiden AS, Donald Trump menginstruksikan timnya untuk menyiapkan skenario serangan cepat dan menentukan terhadap Iran, yang bertujuan untuk menunjukkan kekuatan tanpa menyeret AS ke dalam perang berkepanjangan di Timur Tengah.
Selain itu, AS baru-baru ini mengerahkan kapal perang tambahan ke Timur Tengah sebagai respons terhadap meningkatnya ketegangan dengan Iran.(yn)
Batal di Menit Terakhir! Perundingan AS–Iran Ambruk, Perang Jadi Opsi Nyata
EtIndonesia. Perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang direncanakan akan digelar hari Jumat, 6 Februari 2026, kembali mengalami perubahan signifikan setelah Teheran menolak sejumlah syarat yang diajukan oleh Washington, mengancam runtuhnya diskusi diplomatik yang penting bagi stabilitas kawasan.
Penolakan Syarat dari Teheran: Fokus Nuklir Jadi Titik Konflik
Perundingan awalnya direncanakan berlangsung di Oman, tetapi pembicaraan itu dibatalkan saat Iran bersikeras hanya ingin membahas isu program nuklirnya saja. Tehran menolak untuk memperluas agenda pembicaraan ke topik lain seperti program rudal balistik dan hubungan jaringan kelompok proksi di wilayah.
Sumber diplomatik menyatakan pihak AS meminta Teheran menerima pembicaraan yang mencakup:
- penghentian pengayaan uranium sepenuhnya,
- pembatasan program rudal balistik Iran,
- penghentian dukungan bagi kelompok militan proksi di kawasan.
Pejabat Iran menilai tuntutan tersebut sebagai prasyarat yang tidak dapat diterima, terutama terkait pembahasan isu non-nuklir. Teheran menegaskan pihaknya hanya akan membahas program nuklir dan menolak pembicaraan yang mencakup topik lain.
Kondisi Negosiasi & Sikap AS Setelah Pembatalan
Pejabat AS mengatakan kepada delegasi Iran bahwa mereka harus menyetujui semua tuntutan AS atau perundingan tidak akan berlangsung. Iran memilih “tidak ada apa-apa”, sehingga dialog diplomatik tersebut batal.
Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dan penasihat Gedung Putih Jared Kushner, semula dijadwalkan terbang menuju Qatar untuk mencari solusi alternatif, kemudian kembali ke Miami tanpa melakukan pertemuan di Oman.
Meskipun demikian, sejumlah pejabat AS menyatakan bahwa pintu diplomasi belum tertutup. Jika Iran bersedia kembali ke format semula — memperluas pembicaraan atau setidaknya merespons kerangka yang diajukan Washington — perundingan masih bisa digelar pekan ini atau pekan depan.
Desakan Negara Arab & Dunia Islam
Sejumlah negara Arab dan Islam, termasuk Qatar dan Turkiye, mendesak AS agar tidak membatalkan pertemuan di Oman sehingga proses diplomasi tetap berjalan. Tekanan ini mendorong negosiasi kembali dihidupkan dan memperluas upaya diplomatik di kawasan.
Sikap Pemimpin AS: Rubio Belum Yakin Kesepakatan Tercapai
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menyatakan dirinya belum yakin bahwa kesepakatan dapat dicapai, mengingat perbedaan tajam antara posisi kedua pihak. AS menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium, melumpuhkan program rudal balistik, serta menghentikan dukungan terhadap kelompok ekstremis, sekaligus memperbaiki hak asasi dalam negeri.
Rubio juga menegaskan bahwa Washington tidak akan menerima kesepakatan apa pun jika rudal Iran masih dianggap sebagai ancaman terhadap sekutu wilayah seperti Israel.
Ancaman Militer dan Ketidakpastian Diplomasi
Sumber intelijen menyatakan pejabat Israel memperingatkan jika diplomasi gagal, potensi serangan militer terhadap fasilitas militer atau infrastruktur Iran akan meningkat tajam — sebuah skenario yang dapat menimbulkan eskalasi cepat dalam konflik regional.
Ancaman Serius dari AS dan Situasi Regional
Selain dinamika diplomasi, ketegangan militer di kawasan juga meningkat, dipicu oleh pernyataan keras dari kalangan Washington.
Pernyataan Trump di Ruang Oval
Pada 3 Februari 2026, Presiden AS, Donald Trump mengejutkan publik internasional saat menyatakan dalam pertemuan di Ruang Oval bahwa AS mungkin harus melakukan operasi militer “pemenggalan kepala” ala Venezuela terhadap Iran — yang berarti menggulingkan kepemimpinan rezim di Teheran — diikuti dengan serangkaian serangan udara besar layaknya kampanye udara di Libya. Pernyataan itu mencakup ancaman menghancurkan unit Garda Revolusi Iran yang diperkirakan berjumlah puluhan ribu personel.
Pengerahan Kekuatan Militer AS
AS juga dilaporkan sedang mengerahkan tambahan kekuatan militer ke Timur Tengah. Salah satu kelompok kapal induk, USS George H. W. Bush, dilaporkan menuju kawasan Teluk Persia sebagai sinyal kesiapan militer AS terhadap berbagai kemungkinan eskalasi.
Respons Negara Arab: Yordania & Arab Saudi
Menanggapi kemungkinan operasi militer anti-Iran:
- Yordania (4 Februari 2026) menyatakan tegas bahwa wilayahnya tidak akan digunakan sebagai basis untuk melancarkan serangan terhadap Iran, meskipun AS memiliki pangkalan udara dengan ribuan personel di negaranya.
- Arab Saudi juga menegaskan sikap tidak memberikan izin bagi operasi militer dari wilayahnya, namun Riyadh menyatakan akan menanggapi jika serangan besar terjadi terhadap negara Teluk atau pangkalan AS yang berada di kawasan.
Kesimpulan: Diplomasi di Titik Genting
Perundingan nuklir AS–Iran yang seharusnya berlangsung Jumat ini berada dalam ketidakpastian besar. Ketegangan antara kebutuhan diplomasi dan tekanan militer memperlihatkan lingkungan geopolitik yang sangat rentan:
- Iran bersikeras hanya akan membahas isu nuklir, menolak pembicaraan tentang rudal balistik dan agresinya di kawasan.
- AS menuntut cakupan negosiasi yang lebih luas, sementara para pemimpin AS sendiri menyuarakan sikap keras terhadap rezim Teheran.
- Negara kawasan mendorong diplomasi tetap berjalan untuk mencegah konflik yang lebih besar.
Dengan berbagai tekanan diplomatik dan ancaman militer yang terus meningkat, perkembangan selanjutnya di Muscat dan Washington akan menjadi penentu kritis bagi masa depan hubungan AS–Iran dan stabilitas di Timur Tengah.
Telepon Darurat Xi Jinping: Janjikan Hadiah ke Trump, Militer Tiongkok Bergolak
EtIndonesia. Di tengah tekanan politik dan militer yang kian menyesakkan, Xi Jinping secara mendadak melakukan manuver diplomatik tingkat tinggi. Pada akhir Januari 2026, pemimpin Tiongkok itu lebih dahulu melakukan panggilan video dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, lalu disusul panggilan telepon langsung dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Rangkaian komunikasi ini langsung memicu perhatian internasional. Waktunya dinilai sangat sensitif, karena berlangsung ketika Xi sedang menghadapi dua krisis besar sekaligus: tekanan geopolitik eksternal dan gejolak kekuasaan internal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Xinhua Membuka Tabir: Taiwan Jadi Pokok Utama
Kantor berita resmi Tiongkok, Xinhua, menjadi media pertama yang mengungkap detail percakapan Xi–Trump. Dalam laporannya, Xinhua menegaskan bahwa Xi secara khusus menyampaikan satu pesan utama: isu Taiwan adalah kepentingan paling sensitif dan paling penting dalam hubungan Tiongkok–Amerika Serikat.
Xi menuntut agar Washington menangani penjualan senjata ke Taiwan dengan “sangat hati-hati”, sebuah peringatan yang muncul di tengah spekulasi luas tentang kondisi militer Tiongkok pasca-gejolak internal.
Versi Trump: Telepon Panjang, Daftar Panjang, Nada Sangat Positif
Tak lama berselang, Trump menuliskan pernyataannya di media sosial. Dia menyebut percakapan dengan Xi sebagai “sangat baik dan berlangsung lama”, mencakup beragam topik strategis:
- perdagangan bilateral
- kerja sama militer
- isu Taiwan
- perang Rusia–Ukraina
- situasi Iran dan Timur Tengah
Trump juga mengungkap rencana kunjungannya ke Tiongkok pada April 2026, serta menyatakan antusiasmenya secara terbuka.
Lebih jauh, Trump membeberkan komitmen ekonomi yang disebut berasal dari pihak Xi, antara lain:
- pembelian minyak dan gas alam AS oleh Tiongkok
- peningkatan impor produk pertanian Amerika
- rencana menaikkan impor kedelai hingga sekitar 20–25 juta ton
- pembahasan pengiriman mesin inti pesawat dan kerja sama teknologi lainnya
Trump menutup pernyataannya dengan kesimpulan optimistis: hubungan AS–Tiongkok, termasuk hubungan pribadinya dengan Xi, berada dalam kondisi “sangat baik”, dan diyakini akan menghasilkan banyak capaian positif dalam tiga tahun ke depan.
“Daftar Hadiah” Xi dan Kecurigaan Dunia
Bagi banyak pengamat, pola ini sangat tidak lazim. Xi tampak menyodorkan “daftar hadiah” ekonomi yang menggiurkan—dari kedelai, energi, hingga teknologi inti—untuk menyenangkan Trump.
Pertanyaan pun mengemuka: apakah Xi, seorang politisi yang dikenal sangat kalkulatif, sedang memanfaatkan obsesi Trump pada perdagangan demi mengamankan tujuan strategis yang jauh lebih mendesak?
Tiga Fokus Utama Perhatian Dunia
Panggilan telepon Xi–Trump segera memusatkan perhatian global pada tiga isu besar:
- Perundingan nuklir AS–Iran yang diperkirakan segera dimulai. Dunia menunggu langkah Trump berikutnya—apakah perang besar di Timur Tengah sudah di ambang pintu.
- Krisis kendali militer Xi Jinping, terutama setelah penanganan terhadap Zhang Youxia, yang justru memicu perlawanan lunak di tubuh militer. Dengan Sidang Parlemen Nasional (Lianghui) dijadwalkan berlangsung Maret 2026, risiko politik Xi semakin besar.
- Motif di balik “hadiah besar” kepada Trump—apakah ini sekadar diplomasi dagang, atau sinyal darurat dari seorang pemimpin yang posisinya sedang goyah?
Putin Juga Diundang: Panggung Internasional untuk Xi
Tak hanya Trump. Setelah panggilan video Xi–Putin, Kremlin mengonfirmasi bahwa Putin menerima undangan resmi Xi dan dijadwalkan berkunjung ke Tiongkok pada paruh pertama 2026.
Artinya, dalam waktu relatif berdekatan, Xi berupaya menghadirkan dua pemimpin dunia paling berpengaruh ke Beijing.
Pakar isu Tiongkok, Tang Jingyuan, menilai langkah ini sebagai upaya Xi “melampaui permintaan Trump”. Menurutnya, tujuan inti Xi adalah memberi panggung internasional bagi dirinya sendiri, untuk menunjukkan bahwa ia masih memiliki dukungan global—sebuah kebutuhan mendesak di tengah tekanan internal yang semakin berat.
Isu Taiwan dan Militer yang Lumpuh
Xinhua menekankan bahwa Taiwan menjadi fokus utama Xi dalam pembicaraan dengan Trump. Namun, analisis internal menunjukkan paradoks besar: Xi justru tidak berada dalam posisi yang memungkinkan untuk berperang.
Zhang Youxia dan Liu Zhengli merupakan figur kunci perencanaan isu Taiwan. Setelah keduanya jatuh, yang terdampak bukan hanya individu, tetapi seluruh jaringan loyalis dan perwira inti di bawah mereka.
Dalam kondisi ini:
- Komisi Militer Pusat dinilai nyaris lumpuh
- banyak perwira senior tidak lagi sepenuhnya dipercaya
- risiko bahwa senjata dapat “berbalik arah” justru menjadi kekhawatiran terbesar Xi
Kesimpulannya, perang di Selat Taiwan pada tahap ini hampir mustahil, bukan karena kurangnya niat, melainkan karena hilangnya kendali efektif atas militer.
Sidang Parlemen 4 Februari: Petir Menggelegar, Hujan Setetes
Pada 4 Februari 2026, Komite Tetap Parlemen Nasional Tiongkok ke-14 menggelar sidang darurat di Beijing, dipimpin Zhao Leji dan dihadiri sekitar 150 anggota.
Publik semula menduga sidang ini akan:
- mencabut status parlemen Zhang Youxia dan Liu Zhengli
- sekaligus mencopot jabatan mereka di Komisi Militer Negara
Namun hasilnya mengejutkan: nama Zhang dan Liu sama sekali tidak disentuh. Yang dicabut justru status beberapa anggota lain dari Shanghai, Shandong, dan Sichuan.
Banyak analis menilai, pada detik-detik terakhir muncul perlawanan besar yang tidak bisa ditekan, sehingga agenda sidang terpaksa “diturunkan levelnya”. Ini menjadi sinyal kuat bahwa upaya Xi membersihkan arena kekuasaan mengalami kegagalan serius.
Lebih mencolok lagi, selama lebih dari sepuluh hari setelah penangkapan Zhang, tidak ada satu pun sistem partai, pemerintahan, atau komando militer regional yang secara terbuka menyatakan dukungan penuh terhadap keputusan Xi.
Surat 25 Jenderal dan Titik Didih Militer
Di tengah ketidakpastian ini, beredar luas di internet sebuah surat terbuka yang diklaim ditandatangani 25 jenderal Tiongkok, menyebut 24 Januari 2026 sebagai “hari gelap”.
Surat tersebut:
- menuduh penindakan terhadap Zhang dan Liu sebagai kudeta istana, bukan antikorupsi
- menyebut Xi menggunakan slogan antikorupsi dan kemakmuran bersama untuk membangun kediktatoran pribadi
- menyerukan pembangkangan bersenjata demi “menyelamatkan diri, negara, dan rakyat”
Keaslian surat ini memang belum terverifikasi. Namun banyak pengamat menilai, benar atau palsunya surat itu bukan lagi inti persoalan. Yang jauh lebih penting adalah fakta bahwa narasi semacam ini bisa beredar luas, menandakan kemarahan internal telah melampaui rasa takut terhadap kekuasaan.
Kesimpulan: Telepon sebagai Sinyal Darurat
Rangkaian panggilan Xi kepada Trump dan Putin bukan sekadar diplomasi biasa. Ia mencerminkan seorang pemimpin yang sedang berpacu dengan waktu, berusaha mengamankan dukungan eksternal di saat fondasi internalnya retak.
Dalam konteks ini, telepon Xi bukan tanda kekuatan—melainkan sinyal darurat. Dan dunia kini menunggu:
apakah panggung internasional cukup untuk menutupi krisis di dalam Beijing, atau justru akan mempercepat babak baru dari gejolak kekuasaan Tiongkok.
