Operasi Senyap Dimulai? Pangkalan Rahasia Aktif, B-2 Dirumorkan Muncul, Timur Tengah di Ambang Api

EtIndonesia. Situasi keamanan di Timur Tengah memasuki fase paling tegang dalam beberapa tahun terakhir. Informasi terbaru yang beredar pada awal Februari 2026 menyebutkan bahwa kekuatan tempur Amerika Serikat telah memasuki Pangkalan Udara Nakhchivan di Azerbaijan serta Pangkalan Udara Shamsi di Pakistan. Dengan dukungan logistik dan politik dari Uni Emirat Arab, Pakistan, Azerbaijan, dan Kuwait, tahap awal operasi militer terhadap Iran disebut-sebut telah dimulai. Status keamanan kawasan pun dinaikkan ke siaga tinggi, memicu lonjakan ketegangan lintas negara.

Peringatan Mengejutkan dari Serbia

Presiden Serbia, Aleksandar Vučić, melontarkan pernyataan mengejutkan dengan memperkirakan bahwa Amerika Serikat berpotensi melancarkan serangan militer terhadap Iran dalam 48 jam, bahkan menyasar Teheran. Vučić menilai Gedung Putih mungkin menggunakan opsi militer untuk mengalihkan tekanan politik domestik.

Pernyataan ini menjadikan Serbia sebagai kepala negara pertama yang secara terbuka memprediksi pecahnya perang AS–Iran dalam waktu dekat. Mengingat kedekatan Serbia dengan Israel—sekutu paling strategis Washington di Timur Tengah—ucapan tersebut langsung memicu spekulasi luas di kalangan analis internasional.

Kesiapan Pertahanan AS Dipacu

Laporan The Wall Street Journal menyebutkan bahwa Washington mempercepat pengerahan sistem pertahanan udara berlapis untuk mengantisipasi aksi balasan Iran. Langkah ini mengindikasikan bahwa sebelum perintah serangan udara skala besar dikeluarkan, AS masih memerlukan waktu guna menyempurnakan kesiapan tempur menyeluruh.

Saat ini, AS telah membangun jaringan pertahanan di kawasan yang mencakup delapan kapal perusak berkemampuan intersepsi udara, jet tempur F-15E di Yordania untuk misi pencegatan drone, serta pengerahan THAAD dan Patriot di Yordania, Kuwait, Bahrain, Arab Saudi, dan Qatar. Tambahan enam jet tempur F-35 juga dipindahkan dari Karibia ke Timur Tengah, sementara pesawat perang elektronik EA-18G dikerahkan ke Eropa—menegaskan persiapan konflik berintensitas tinggi secara sistematis.

Armada Kapal Induk dan “Garis Merah” Trump

Seiring kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln sepenuhnya memasuki wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS, konsentrasi militer Amerika di Timur Tengah terus diperluas. Presiden Donald Trump menyebut armada tersebut sebagai kekuatan militer Amerika yang “sangat besar”, memberi Gedung Putih ruang manuver militer dan politik yang lebih luas.

Fox News mengutip pernyataan Duta Besar AS untuk NATO, Matt Whitaker, yang menegaskan bahwa pengerahan armada bukan sekadar demonstrasi kekuatan, melainkan jalan keluar terakhir bagi Iran. Menurutnya, Trump telah menarik garis merah yang jelas: eskalasi atau deeskalasi sepenuhnya bergantung pada keputusan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei—dan Washington tidak akan menunggu tanpa batas waktu.

Meski spekulasi serangan menguat, Whitaker menekankan bahwa AS tidak berniat menggulingkan rezim Iran, melainkan memaksa Teheran membuat konsesi pada isu-isu kunci. Gedung Putih menegaskan prioritas tetap pada perjanjian, namun keputusan harus diambil sebelum terlambat.

Respons Iran: Unjuk Kekuatan dan Isyarat Kompromi

Sebelumnya, Khamenei memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran dapat memicu konflik regional besar. Garda Revolusi Iran memamerkan latihan rudal balistik Khaibar Shekan (jangkauan 1.450 km, hulu ledak 500 kg) sebagai sinyal kemampuan balasan. Namun, setelah peringatan AS, Iran dilaporkan membatalkan latihan militer di Selat Hormuz.

Menurut Reuters, Teheran mengusulkan penyerahan sekitar 400 kg uranium yang diperkaya sebagai imbalan pencabutan sanksi. Juru bicara Kemenlu Iran, Ismail Baghaei, menyatakan bahwa semua dimensi perundingan tengah dievaluasi dan menegaskan waktu sangat krusial, dengan pencabutan sanksi sebagai prioritas utama. Iran mengajukan syarat awal penarikan pasukan AS dari wilayah sekitar Iran. Pejabat keamanan tertinggi Iran, Ali Larijani, mengonfirmasi melalui platform X bahwa pengaturan perundingan sedang berjalan.

Sumber-sumber Iran menyebutkan tiga prasyarat yang diajukan Washington: nol pengayaan uranium, pembatasan program rudal balistik, dan penghentian dukungan terhadap kelompok proksi regional. Dua pejabat Iran mengakui bahwa isu rudal balistik merupakan titik paling sulit untuk dikompromikan.

Koordinasi AS–Israel dan Eskalasi di Lebanon

Di tengah ketegangan, koordinasi militer AS–Israel meningkat tajam. Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, menggelar pertemuan darurat dengan Kepala Staf Umum Israel, Eyal Zamir, mengirim sinyal kuat koordinasi tingkat tinggi.

Hampir bersamaan, Israel Defense Forces meningkatkan operasi udara terhadap Hizbullah di Lebanon. Setelah peringatan evakuasi sipil, gelombang serangan presisi dilancarkan. IDF mengonfirmasi tewasnya Ali Dawoud Amich, pejabat teknik senior Hizbullah, serta dilumpuhkannya satu komandan pertahanan udara senior. Langkah ini dipandang sebagai tekanan tidak langsung terhadap Iran.

Rumor B-2 dan Sikap Rusia

Beredar pula laporan belum terkonfirmasi mengenai pendaratan pesawat siluman B-2 di Pangkalan Udara Bagram, Afghanistan, dengan rumor bahwa Taliban mengizinkan penggunaan pangkalan tersebut sebagai imbalan dukungan finansial. Meski belum ada konfirmasi resmi, kabar ini menambah kekhawatiran eskalasi.

Di sisi lain, Kremlin menyatakan bahwa Rusia tidak berencana mengirim pasukan untuk membela Iran jika AS menyerang. Moskow menegaskan solusi terbaik tetap diplomasi dan memperingatkan dampak destabilisasi regional. Para analis menilai sikap ini mencerminkan dua pesan: Rusia tidak ingin terseret perang baru, dan Moskow menjaga fleksibilitas strategis di tengah tekanan global serta beban konflik Ukraina.

Gambaran Besar:  Hingga awal Februari 2026, kawasan berada di persimpangan berbahaya. Pengerahan militer besar-besaran AS dan Israel berjalan beriringan dengan jalur diplomasi yang rapuh. Keputusan-keputusan dalam hitungan hari ke depan—baik di Washington maupun Teheran—akan menentukan apakah krisis ini mereda lewat perjanjian, atau justru meluncur ke konflik terbuka berskala regional.

Semangkuk Nasi Putih

EtIndonesia. Sekitar dua puluh tahun yang lalu, pada suatu senja, seorang pemuda yang tampak seperti mahasiswa mondar-mandir di depan sebuah rumah makan prasmanan di jalanan Taipei. Dia menunggu hingga sebagian besar pelanggan selesai makan dan pergi, barulah dia melangkah masuk ke dalam dengan wajah penuh rasa malu.

“Tolong beri saya satu mangkuk nasi putih, terima kasih,” katanya sambil menundukkan kepala.

Pasangan suami istri pemilik rumah makan yang masih baru merintis usaha itu merasa heran karena pemuda tersebut tidak mengambil lauk apa pun. Namun mereka tidak bertanya, dan langsung menyendokkan semangkuk nasi putih penuh lalu menyerahkannya.

Saat membayar, pemuda itu berkata dengan ragu :  “Bolehkah saya menyiramkan sedikit kuah sayur di atas nasi?”

Sang istri pemilik toko tersenyum dan menjawab “Tidak apa-apa, silakan saja. Tidak perlu bayar.”

Ketika setengah mangkuk nasi telah habis, pemuda itu teringat bahwa kuah sayur tidak dipungut biaya. Dia pun memesan satu mangkuk lagi.

“Satu mangkuk kurang ya? Kali ini saya beri lebih banyak!” jawab sang pemilik dengan ramah.

“Bukan begitu. Saya ingin membawanya pulang, dimasukkan ke kotak makan, untuk bekal makan siang besok di kampus.”

Mendengar itu, sang pemilik langsung memahami situasinya. Dia menduga pemuda itu berasal dari keluarga miskin di daerah pedesaan selatan, datang sendiri ke Taipei demi menuntut ilmu, mungkin sambil bekerja paruh waktu. Kesulitan hidupnya pasti tidak ringan.

Diam-diam, sang pemilik menyendokkan satu sendok besar daging cincang khas warung makan tersebut ke dasar kotak makan, menambahkan sebutir telur rebus kecap, lalu menutupinya dengan nasi putih hingga penuh. Dari luar, terlihat seolah-olah hanya nasi putih biasa.

Melihat itu, sang istri mengerti niat suaminya untuk menolong pemuda tersebut, namun dia bertanya dengan heran :  “Kenapa tidak langsung saja menaruh lauk di atas nasi? Mengapa harus disembunyikan di bawah?”

Sang suami berbisik di telinga istrinya: “Kalau dia langsung melihat nasi dengan lauk, bisa jadi dia merasa kita sedang mengasihaninya. Bukankah itu melukai harga dirinya? Kalau begitu, dia pasti sungkan datang lagi. Kalau pindah ke tempat lain dan terus hanya makan nasi putih, bagaimana dia punya tenaga untuk belajar?”

Sang istri tersenyum haru :  “Kamu benar-benar orang baik. Menolong orang lain sambil tetap menjaga harga diri mereka.”

Sang suami tertawa kecil : “Kalau aku bukan orang baik, mana mungkin kamu mau menikah denganku?”

Pasangan muda itu pun larut dalam kebahagiaan karena bisa membantu orang lain.

“Terima kasih, saya sudah kenyang. Sampai jumpa!” kata pemuda itu sambil bangkit berdiri.

Saat menerima kotak makan yang terasa berat di tangannya, dia tak kuasa menoleh kembali ke arah pasangan pemilik toko.

“Semangat ya! Sampai besok!”  Sang pemilik melambaikan tangan, kalimatnya seolah mengundang sang pemuda untuk datang lagi esok hari.

Mata pemuda itu berkaca-kaca, namun dia menahan air matanya agar tak terlihat.

Sejak hari itu, kecuali saat libur panjang, hampir setiap senja pemuda tersebut datang ke warung itu. Dia selalu makan satu mangkuk nasi putih di tempat, dan membawa pulang satu mangkuk lagi. Dan tentu saja, di bawah nasi putih yang dibawanya pulang, selalu tersembunyi kejutan berbeda setiap hari.

Hingga akhirnya pemuda itu lulus kuliah.  Selama dua puluh tahun berikutnya, dia tak pernah lagi terlihat di rumah makan tersebut.

Suatu hari, ketika pasangan pemilik toko itu hampir berusia lima puluh tahun, mereka menerima surat dari pemerintah kota tentang pembongkaran paksa bangunan toko mereka yang dianggap melanggar aturan. Menghadapi ancaman kehilangan mata pencaharian, sementara tabungan mereka telah habis untuk membiayai kuliah anak di luar negeri, mereka tak kuasa menahan tangis di dalam warung.

Tiba-tiba, seorang pria berjas rapi bermerek, tampak seperti eksekutif perusahaan besar, datang berkunjung.

“Halo. Saya wakil direktur sebuah perusahaan besar. Direktur utama kami menugaskan saya datang untuk mengundang Bapak dan Ibu membuka rumah makan prasmanan di gedung kantor kami yang segera beroperasi. Semua peralatan dan bahan akan dibiayai perusahaan. Bapak dan Ibu hanya perlu mengelola dapur dan memasak. Keuntungan akan dibagi dua dengan perusahaan.”

Pasangan itu saling berpandangan dengan bingung : “Siapa direktur utama perusahaan Anda? Mengapa beliau begitu baik kepada kami? Kami tidak merasa mengenal orang sehebat itu.”

Pria itu tersenyum :  “Bapak dan Ibu adalah penolong besar sekaligus sahabat baik direktur utama kami. Beliau sangat menyukai telur rebus kecap dan daging cincang dari warung ini. Itu saja yang saya tahu. Sisanya, silakan dibicarakan langsung saat bertemu beliau.”

Akhirnya, pemuda yang dulu hanya memesan semangkuk nasi putih, muncul kembali.

Setelah dua puluh tahun berjuang membangun usaha, dia telah berhasil menciptakan kerajaan bisnisnya sendiri. Semua pencapaiannya hari ini, tak lepas dari dorongan, perhatian, dan bantuan diam-diam pasangan pemilik rumah makan itu. Tanpa mereka, ia tak akan mampu menyelesaikan pendidikannya.

Saat perbincangan usai dan pasangan itu bersiap pamit, sang direktur utama berdiri, membungkuk dalam-dalam, lalu berkata dengan hormat : “Semangat ya! Ke depan, perusahaan ini masih sangat membutuhkan bantuan kalian. Sampai besok!”

Hikmah Cerita

Pemilik rumah makan dalam cerita ini berbuat baik tanpa ingin dikenal. Yang lebih mengharukan, ia menolong dengan penuh empati, bahkan menjaga harga diri orang yang ditolong. Cara halusnya mengundang sang pemuda untuk kembali, tanpa membuatnya merasa dikasihani, sungguh menunjukkan kebijaksanaan dalam memperlakukan sesama.

Beginilah seni menolong manusia—membantu tanpa melukai, memberi tanpa merendahkan.  Sebuah pelajaran hidup yang patut direnungkan dan diteladani.(yn)

Putin Langgar Janji ke Trump, Kyiv Dibombardir Besar-besaran: Dunia Masuk Fase Perang Baru

EtIndonesia. Perang Rusia–Ukraina memasuki fase krusial baru. Pada 4–5 Februari 2026, perwakilan Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat dijadwalkan bertemu di Uni Emirat Arab untuk membahas kemungkinan solusi politik guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir dua tahun. Pertemuan ini dinilai sebagai salah satu titik balik paling menentukan sejak perang dimulai, dengan implikasi luas terhadap tatanan keamanan global.

Menurut laporan Financial Times, yang mengutip sumber internal diplomatik, Ukraina telah mencapai kesepahaman awal dengan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa mengenai mekanisme respons jika Rusia kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Skema Respons Bertahap Barat terhadap Rusia

Dalam kesepakatan tersebut, disusun mekanisme penegakan berlapis sebagai bentuk pencegah yang lebih kredibel:

  • 24 jam pertama: Peringatan diplomatik resmi dilayangkan kepada Moskow.
  • Tahap lanjutan: Ukraina diberi legitimasi melakukan respons militer terbatas.
  • Tahap kedua: Pengerahan pasukan koalisi sukarelawan, yang melibatkan sejumlah negara Uni Eropa, Inggris, Norwegia, Islandia, dan Turki.
  • 72 jam berikutnya: Jika eskalasi berlanjut, akan diaktifkan mekanisme koordinasi militer yang melibatkan Amerika Serikat.

Skema ini dirancang untuk meningkatkan efek gentar dan mencegah Rusia secara sepihak merusak kesepakatan.

Namun, Rusia tetap bersikukuh menuntut Ukraina menyerahkan seluruh wilayah Donbas, tuntutan yang secara tegas ditolak Kyiv. Kementerian Luar Negeri Rusia bahkan memperingatkan bahwa kehadiran pasukan atau fasilitas militer asing di Ukraina akan dianggap sebagai campur tangan langsung dan menjadi target sah militer Rusia.

Putin Menyetujui Permintaan Trump, Lalu Melanggar Janji

Pada 29 Januari, Donald Trump mengungkapkan bahwa Ukraina tengah menghadapi gelombang dingin ekstrem, dan dia secara pribadi meminta Vladimir Putin untuk menahan serangan terhadap Kyiv dan kota-kota besar lainnya selama satu minggu. Permintaan itu, menurut Trump, disetujui Putin.

Namun kenyataan di lapangan berkata lain.

Serangan Terbesar Musim Dingin (2–3 Februari)

Pada malam 2 Februari hingga dini hari 3 Februari, Rusia melancarkan serangan udara terbesar sepanjang musim dingin ini. Menurut laporan Angkatan Udara Ukraina, Rusia menembakkan:

  • 71 rudal, dan
  • 450 drone, termasuk hampir 300 drone Shahed.

Serangan tersebut memicu pemadaman listrik dan sistem pemanas di berbagai wilayah, menyebabkan ratusan ribu warga terdampak di tengah suhu ekstrem yang turun hingga di bawah minus 20 derajat Celsius.

Ironisnya, alarm serangan udara di Kyiv dibunyikan tepat pada 3 Februari, saat Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte tengah melakukan kunjungan resmi ke ibu kota Ukraina.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, pada 3 Februari, menyatakan bahwa Kyiv menunggu respons tegas Amerika Serikat, seraya menegaskan bahwa penghentian serangan terhadap infrastruktur energi selama masa diplomasi adalah permintaan pribadi Presiden Trump.

Rutte menilai tindakan Moskow menunjukkan bahwa Rusia tidak sungguh-sungguh menginginkan perdamaian. Sikap serupa disampaikan Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, yang menegaskan persatuan Eropa dalam menghadapi agresi Rusia.

Perkembangan Militer: Dari Starlink hingga Ruang Angkasa

Di medan perang, Ukraina melaporkan keberhasilan menembak jatuh helikopter Mi-35 Rusia serta melancarkan serangan drone terhadap jalur logistik musuh. Rusia, di sisi lain, terpantau mengonsentrasikan drone di sekitar Kyiv dan Ukraina barat, mengindikasikan persiapan serangan lanjutan.

Ukraina juga mulai menerapkan sistem whitelist terminal Starlink, sehingga perangkat yang tidak terverifikasi tidak dapat digunakan. Langkah ini dinilai berpotensi melumpuhkan operasi drone Rusia secara signifikan.

Pada 3 Februari, Jerman mengumumkan investasi sekitar 35 miliar euro untuk membangun jaringan satelit militer orbit rendah yang mencakup lebih dari 100 satelit, guna komunikasi aman dan sistem peringatan dini rudal. Militer Jerman menegaskan bahwa perang Rusia–Ukraina telah membuktikan ruang angkasa kini menjadi medan tempur strategis baru.

Tekanan AS Meningkat: Tomahawk hingga Sanksi Energi

Pada 3 Februari, Senator AS, Lindsey Graham menyatakan bahwa strategi diplomatik untuk menekan Putin telah gagal. Dia mendesak Trump agar segera mengirimkan rudal jelajah Tomahawk ke Ukraina, yang menurutnya dapat mengubah keseimbangan perang secara drastis.

Graham juga mendukung kebijakan tarif Trump terhadap India, yang berdampak langsung pada penurunan tajam pembelian minyak Rusia. Tekanan ekonomi ini dinilai dapat mempercepat berakhirnya perang, sembari memperingatkan bahwa negosiasi yang “memberi hadiah pada agresi” akan membawa bencana global.

Krisis Nuklir dan Ancaman Tanpa Batas

Situasi semakin genting karena Perjanjian New START (2010) akan berakhir pada 5 Februari. Jika tidak diperpanjang, untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade AS dan Rusia tidak lagi dibatasi jumlah senjata nuklir strategis.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, menyatakan di Beijing bahwa Moskow siap menghadapi realitas tanpa pembatasan senjata nuklir, bahkan memperingatkan akan mengambil langkah militer jika AS menempatkan sistem pertahanan rudal di Greenland.

Pergeseran Global: Korea Utara, Panama, dan Krisis PBB

Di Asia Timur, Korea Utara merilis kalender resmi 2026 yang memuat hadiah dari pemimpin dunia. Menariknya, hadiah dari Putin tercantum dua kali, sementara tidak ada satu pun hadiah dari Xi Jinping, kecuali catatan lama tahun 1991 untuk Kim Il-sung. Analis menilai ini sebagai sinyal pergeseran orientasi Pyongyang ke Moskow.

Di belahan lain, perusahaan Eropa mengambil alih pengelolaan pelabuhan strategis di sekitar Terusan Panama, langkah yang dipandang menghancurkan ambisi geopolitik Partai Komunis Tiongkok di kawasan tersebut.

Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menghadapi krisis keuangan serius akibat tunggakan iuran negara anggota, menambah ketidakstabilan global di tengah eskalasi konflik.

Penutup: Dunia Berubah Cepat, Kepastian Makin Langka

Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa tatanan dunia tengah direstrukturisasi secara besar-besaran—dari perang konvensional, tekanan ekonomi, hingga ancaman nuklir dan militerisasi ruang angkasa. Di tengah ketidakpastian global yang kian tajam, satu hal yang semakin jelas: stabilitas internasional kini berada pada titik paling rapuh dalam beberapa dekade terakhir.

Editorial Surat Kabar Militer Partai Komunis Tiongkok Menuntut Kesetiaan Tentara Pasca-Pembersihan Dua Jenderal, Memicu Pertanyaan soal Stabilitas PLA

Serangan ulang terhadap dua jenderal yang disingkirkan serta seruan kesetiaan kepada Xi Jinping mengisyaratkan kegelisahan di tubuh militer Tiongkok setelah perombakan tingkat tinggi yang jarang terjadi

Michael Zhuang

EtIndonesia. Surat kabar resmi militer partai komunis Tiongkok kembali melancarkan serangan terbuka terhadap dua jenderal puncak yang baru saja disingkirkan, sambil mendesak pasukan untuk mendukung penyelidikan terhadap mereka dan bersumpah setia kepada pemimpin Tiongkok Xi Jinping—langkah yang menurut para analis mencerminkan meningkatnya kegelisahan di internal Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).

Dalam editorial halaman depan yang diterbitkan pada 31 Januari, PLA Daily menggambarkan penyelidikan terhadap mantan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC) Zhang Youxia dan anggota CMC Liu Zhenli sebagai sebuah “kemenangan besar” dalam kampanye anti-korupsi Partai Komunis Tiongkok (PKT). Artikel tersebut menyerukan para perwira dan prajurit di seluruh militer untuk “secara tegas mendukung” kepemimpinan Partai dan “menjaga tingkat konsistensi yang tinggi” dengan Xi.

Pesan yang diperbarui ini—muncul hanya beberapa hari setelah kedua jenderal tersebut secara resmi dicopot—memunculkan pertanyaan di kalangan analis apakah Beijing tengah kesulitan meredam perbedaan pendapat di dalam angkatan bersenjata, menyusul salah satu pembersihan militer paling dramatis dalam beberapa tahun terakhir.

Kecaman Kedua yang Langka

Pada 24 Januari, diumumkan bahwa Zhang dan Liu sedang diselidiki. Malam itu juga, PLA Daily memuat editorial bernada keras yang menuduh mereka telah secara serius merusak sistem yang menempatkan militer di bawah otoritas langsung pemimpin Partai—sebuah tuduhan politik yang menyita perhatian luas.

Setelah itu, media propaganda resmi sebagian besar bungkam. Artikel 31 Januari menjadi kecaman publik kedua yang jarang terjadi, dengan berulang kali menyebut nama kedua tokoh tersebut dan membingkai kasus mereka terutama dari sudut pandang korupsi.

Editorial tersebut menegaskan bahwa penyelidikan ini menunjukkan kampanye anti-korupsi tidak mengenal “nol toleransi.” Artikel itu ditutup dengan tuntutan agar militer mematuhi perintah Xi dan bertanggung jawab langsung kepadanya.

Analis Melihat Tanda-Tanda Kegelisahan

Shen Ming-Shih, peneliti di Institute for National Defense and Security Research Taiwan, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa bahasa yang luar biasa keras itu mengisyaratkan kemungkinan munculnya masalah moral di tubuh militer pasca-pembersihan.

“PKT cenderung menekankan apa yang justru mereka kekurangan,” ujarnya. “Fakta bahwa surat kabar militer merasa perlu melancarkan serangan kedua beberapa hari kemudian menunjukkan adanya ketidakstabilan di barisan—bahkan mungkin perlawanan.”

Setelah pembersihan awal terhadap kedua jenderal tersebut, orang dalam mengungkapkan bahwa Komisi Militer Pusat (KMP) menerapkan tingkat pengendalian internal “mendekati kondisi perang” demi menjaga stabilitas politik rezim. Shen mengatakan dorongan propaganda terbaru ini mungkin mencerminkan kekhawatiran bahwa sebagian unit masih bersimpati kepada Zhang, sosok berpengaruh yang telah lama berkiprah di PLA.

Menurut Shen, Xi kemungkinan menggunakan surat kabar militer untuk memproyeksikan kesan final—menegaskan bahwa Zhang dan Liu tidak memiliki peluang untuk dipulihkan—guna mencegah pembangkangan lebih lanjut dan menegaskan kembali kendali.

Anti-Korupsi atau Pembersihan Politik?

Sejumlah analis menilai bingkai “korupsi” menutupi fakta bahwa yang terjadi pada dasarnya adalah perebutan kekuasaan politik.

Dalam editorial 24 Januari, Zhang dan Liu pertama-tama dituduh melakukan pelanggaran politik—khususnya menantang otoritas ketua KMP, jabatan yang dipegang Xi. Sebaliknya, artikel 31 Januari hampir sepenuhnya berfokus pada korupsi, tanpa menyajikan tuduhan atau bukti spesifik.

“Korupsi menjadi label serba guna yang bisa dikenakan kepada siapa pun yang terkait dengan mereka,” kata Shen. “Begitulah cara pembersihan politik dilakukan.”

Su Tzu-yun, peneliti di lembaga yang sama, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa pesan tersebut mencerminkan rasa tidak aman yang mendalam di kalangan kepemimpinan Tiongkok.

“Slogan ‘anti-korupsi pasti menang, penguatan militer pasti berhasil’ justru menyingkap kecemasan PKT,” ujarnya. “Apa yang kita saksikan bisa jadi tahap awal fragmentasi politik dan militer PKT.”

Su menambahkan bahwa korupsi di PLA berakar mendalam, bermula dari kebijakan era 1990-an di bawah mantan pemimpin PKT Jiang Zemin yang mengizinkan unit militer menjalankan bisnis. Xi menggunakan kampanye anti-korupsi untuk menegaskan kembali kendali atas militer; namun kini, menurut Su, ia mungkin telah melangkah terlalu jauh.

“Di dalam militer, orang-orang paham ini adalah pembersihan politik,” katanya. “Upaya melegitimasinya tidak memulihkan moral—justru berisiko menghancurkannya.”

Sinyal Politik yang Lebih Luas

Perkembangan ini terjadi di tengah pesan politik yang lebih luas dari Beijing. Pada 30 Januari, Komite Tetap Politbiro PKT—badan pengambil keputusan tertinggi—menggelar pertemuan yang menekankan perlunya menjunjung “kepemimpinan terpusat dan terpadu,” menurut kantor berita negara Xinhua.

Komentator urusan Tiongkok yang berbasis di AS, Wang He, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa penekanan ini kemungkinan bertujuan memperkuat otoritas Xi setelah pembersihan tersebut.

Su memperingatkan bahwa pendekatan Xi yang tanpa kompromi dapat membawa konsekuensi berbahaya. Pembersihan yang berlanjut, katanya, berisiko menggerus moral, mengacaukan rantai komando, dan membuat militer tidak siap menghadapi krisis.

“Jika Xi memilih jalur petualangan militer, mungkin tidak ada lagi yang mampu menahannya,” ujarnya. “Pada saat yang sama, ia bisa mendapati dirinya kekurangan personel yang diperlukan untuk mengeksekusi langkah-langkah tersebut secara efektif—yang meningkatkan kemungkinan kegagalan.”

Risiko Reaksi Balik

Dalam beberapa hari setelah pencopotan Zhang dan Liu, PLA tidak mengeluarkan pernyataan kolektif yang mendukung keputusan Xi. Tinjauan The Epoch Times terhadap situs-situs resmi militer menunjukkan bahwa sejumlah unit, termasuk pasukan yang bertanggung jawab atas keamanan Beijing, justru mengintensifkan sesi studi politik yang berfokus pada “Pemikiran Xi Jinping tentang penguatan militer.”

Shen mengatakan artikel 31 Januari tampaknya dirancang untuk menopang kampanye ideologis tersebut. Namun, tanpa bukti korupsi yang jelas, ia memperingatkan bahwa indoktrinasi politik yang keras bisa menjadi bumerang.

“Mungkin efektif sementara,” kata Shen, “tetapi reaksi baliknya, ketika terjadi, bisa jauh lebih kuat.”

Sumber-sumber yang dekat dengan militer Tiongkok mengatakan kepada The Epoch Times bahwa sejumlah arahan yang dikeluarkan KMP pasca-penyelidikan menghadapi perlawanan luas di tingkat akar rumput. Menurut sumber tersebut, setidaknya dua dokumen yang dikirim ke komando teater utama tidak dijalankan, memunculkan tanda-tanda disfungsi dalam rantai komando PLA.

Laporan ini disumbangkan oleh Ning Haizhong dan Luo Ya.

Platform Perdagangan Emas Shuibei Shenzhen Kolaps, Video Para Korban dari Seluruh Penjuru Tiongkok Membludak Menuntut Hak Mereka

Laporan wawancara oleh reporter Epoch Times edisi bahasa mandarin, Gu Xiaohua

EtIndonesia. Bermula dari lonjakan tajam harga emas internasional, insiden kolaps dan kaburnya platform perdagangan kerap terjadi di Pusat Perdagangan Perhiasan Internasional Shuibei, Shenzhen. Setelah Hecx Chengxing Silver House kabur, platform perdagangan emas “Jie Wo Rui” kini ikut meledak. Ratusan korban dari seluruh negeri berkumpul di depan Shuibei untuk menuntut hak mereka. Aparat setempat merespon dengan memukul dan menangkap orang-orang di lokasi, situasi pun lepas kendali.


Ratusan Korban di Lokasi Kantor, Korban Datang dari Seluruh Negeri

Para korban mengatakan kepada Epoch Times edisi bahasa mandarin bahwa sekitar tanggal 20 Januari, harga emas melonjak lebih dari 2% dalam sehari, memicu gelombang spekulan emas masuk pasar. Platform perdagangan emas pasar gelap daring “Jie Wo Rui” mengalami penarikan dana besar-besaran hingga rantai pendanaannya putus. Pengguna tidak bisa menarik dana maupun mengambil emas yang telah dibeli di platform tersebut. Nilai dana yang terlibat setidaknya mencapai ratusan juta yuan.

Zhang Xiao (nama samaran) dari Hefei, Anhui, mengatakan bahwa ia menginvestasikan 60.000 yuan (Rp 145 juta) di platform tersebut pada akhir bulan lalu. Namun pada 20 Januari, dana tidak lagi bisa ditarik. Saat itu, pemilik Jie Wo Rui masih mengklaim di Xiaohongshu bahwa semuanya baik-baik saja. Beberapa hari berlalu tanpa perkembangan, Zhang merasa ada yang tidak beres dan pada 26 Januari ia datang ke Shuibei bersama istrinya.

Ia mengatakan kepada wartawan bahwa lebih dari seratus korban dari berbagai daerah berkumpul di lokasi. Pemerintah setempat tidak menyelesaikan masalah, melainkan mengerahkan polisi khusus dan petugas keamanan untuk “menjaga stabilitas”.

“Polisi memisahkan kami, tidak membiarkan kami berkumpul. Banyak orang dipukuli. Polisi berdiri di samping dan berkata mereka hanya menjaga ketertiban, tidak boleh emosional, tidak boleh ada yang memimpin. Siapa yang memimpin, ditangkap.”

Menurut Zhang, sebagian korban ditempatkan di stadion, sebagian di Gedung Shuibei, dan sebagian lagi di toko fisik Jie Wo Rui.

“Mereka sengaja memecah kami, tidak membiarkan kami berkumpul di Shuibei. Ada yang bahkan dikurung di lantai atas gedung Shuibei.”

Ia juga mengungkapkan bahwa pada 26 Januari terjadi tiga insiden percobaan bunuh diri dengan melompat.

“Di area lapangan olahraga, ada seorang perempuan hamil yang melompat, tapi tidak terlalu tinggi dan berhasil dicegah. Ada satu perempuan yang benar-benar melompat dan dibawa ambulans—tidak tahu ke mana. Yang lainnya ditarik turun oleh pacar atau keluarga. Mereka sudah diberi kompensasi, dan tidak ingin hidup lagi.”

Zhang mengatakan sebagian besar korban adalah perempuan, banyak di antaranya pasangan muda yang membeli emas ‘tiga perhiasan’ untuk pernikahan. Di lokasi juga ada seorang nenek berusia lebih dari 70 tahun, memegang KTP sambil duduk di tanah menangis histeris. Uang dirinya dan anaknya lebih dari 4 juta yuan tidak bisa ditarik.


Pemerintah Tambah Aparat Kepolisian, Korban Ditangkap

Menurut informasi wartawan, pada 27 Januari jumlah korban yang datang semakin banyak. Pemerintah setempat menambah pengerahan polisi. Terjadi bentrok fisik, dan sejumlah korban ditangkap.

Seorang korban yang dihubungi wartawan mengatakan ia sedang berada di kantor polisi untuk diperiksa, sehingga tidak bisa diwawancarai. Korban lain mengaku akun Douyin miliknya diblokir, tidak bisa mengirim informasi apa pun.

Zhang Xiao menegaskan bahwa satu-satunya tuntutan mereka adalah pengembalian modal, namun skema penggantian Jie Wo Rui hanya 20% dari modal.

“Kalau kamu top up 1 juta yuan, kamu hanya bisa ambil kembali 200 ribu yuan—itu pun belum tentu. Kamu harus tanda tangan perjanjian. Katanya uang akan dibayar dalam setengah bulan, tapi setelah itu bagaimana, tidak ada yang tahu.”

Ia menolak menandatangani perjanjian tersebut.

“Kalau ditandatangani, ini jadi perkara perdata—urusan pribadi antara kamu dan Jie Wo Rui. Kami ingin melaporkan kasus pidana, ini penipuan.”

Karena merasa haknya tidak dilindungi pemerintah dan polisi Shenzhen, Zhang memutuskan pulang ke daerah asal untuk melapor secara pidana.

Diketahui bahwa pada 27 Januari malam, pemilik Jie Wo Rui, Zhang Zhiteng, merilis video tanggapan dan menyatakan akan “memberi penjelasan kepada publik.”


Lebih dari 1.000 Korban, Dana Diduga Capai Ratusan Juta Yuan

Shenzhen Jie Wo Rui Jewelry Co., Ltd. didirikan pada 2014, dengan modal terdaftar 11 juta yuan. Zhang Zhiteng tercatat sebagai perwakilan hukum.

Menurut laporan Blue Whale News, nilai dana yang terlibat dalam kasus ini diperkirakan mencapai ratusan juta yuan, berdampak pada lebih dari seribu investor, dengan kerugian besar.

Dalam daftar pengumpulan korban “Jie Wo Rui”, kerugian individu umumnya puluhan ribu yuan, dengan kerugian tertinggi mencapai ratusan ribu hingga jutaan yuan per orang. Saat ini lebih dari 1.000 korban telah terdaftar, dengan total dana diperkirakan menembus 100 juta yuan.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa Jie Wo Rui memiliki toko fisik di Shuibei, bergerak di bidang jual beli dan daur ulang logam mulia serta perhiasan. Zhang Zhiteng dan kerabatnya dikenal sebagai figur populer di lingkaran emas Shuibei, dan Zhang memiliki hampir 70 ribu pengikut di Xiaohongshu.

Namun kini, dana dan emas titipan tidak dapat diambil. Sumber “ledakan” diduga berasal dari bisnis penetapan harga, yang pada dasarnya merupakan perdagangan berjangka ilegal tanpa lisensi (pasar gelap).


“Jie Wo Rui” Berkali-kali Diterpa Isu Kolaps

Seorang blogger Zhihu yang mengaku sebagai “veteran perhiasan Shuibei” mengulas jalur perkembangan Zhang Zhiteng dan akar penyebab kolaps kali ini.

Menurut artikel tersebut, Zhang awalnya bergerak di bisnis berlian, lalu beralih ke emas. Ia memasarkan gelang emas polos gaya kuno dengan ongkos kerja hanya 3 yuan, membangun reputasi lewat pembelian kelompok. Setelah basis pelanggan terbentuk, ia beralih ke daur ulang emas dan penetapan harga, serta mengembangkan mini-program spekulasi emas pertama di Shuibei untuk masyarakat umum.

Pengguna cukup menyetor uang, lalu mengunci harga 1 gram emas dengan uang muka 20 yuan. Emas dikirim untuk didaur ulang, dan uang cepat masuk ke rekening.

Belakangan, sistem ini bisa dipakai spekulasi—jual beli kosong tanpa emas fisik. Bahkan bagi yang tidak punya emas, Jie Wo Rui membuat mini-program lain bernama Longyejin, memungkinkan emas dipindahkan instan ke Jie Wo Rui. Tanpa pernah menyentuh emas, transaksi daur ulang tetap terjadi.

Selama bertahun-tahun, Jie Wo Rui menyedot penggemar lewat harga murah, dan menggiring mereka ke spekulasi berjangka.

Platform ini berkali-kali diterpa rumor kolaps, dan berusaha mencari “pelindung”. Salah satunya adalah perusahaan BUMN Jinqu, anggota bursa. Setelah Jinqu di Shenzhen kolaps akibat spekulasi berjangka, Jie Wo Rui mengambil alih perusahaan Shenzhen milik Jinqu, membuat banyak penggemar yakin ada backing kuat. Tahun lalu, Jie Wo Rui bahkan mengumumkan pendirian perusahaan patungan dengan otoritas aset negara setempat, untuk membungkus diri sebagai perusahaan “resmi”.

Artikel tersebut menutup dengan menyebutkan bahwa Zhang Zhiteng secara inovatif menggabungkan aplikasi internet pengumpulan emas, penjualan bahan baku, dan spekulasi emas, serta membukanya ke publik luas—dan inilah akar penyebab mengapa begitu banyak warga berbondong-bondong datang ke Shenzhen.

Editor Penanggung Jawab: Li Muen

Militer AS Menembak Jatuh Drone Iran di Laut Arab Saat Mendekati Kapal Induk USS Abraham Lincoln

Komando Pusat Amerika Serikat (U.S. Central Command/CENTCOM) menyatakan bahwa sebuah drone Iran mengabaikan instruksi de-eskalasi saat terbang mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln.

EtIndonesia. Sebuah jet tempur Amerika Serikat menembak jatuh drone Iran ketika drone tersebut mendekati kapal induk AS di Laut Arab pada 3 Februari, demikian diumumkan CENTCOM.

Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran. Presiden Donald Trump baru-baru ini memerintahkan pengerahan kekuatan angkatan laut ke Timur Tengah, serta mengancam serangan militer terhadap Iran jika Teheran tidak menyetujui pembatasan baru atas pengembangan nuklirnya.

CENTCOM, yang mengawasi operasi militer AS di Timur Tengah, mengatakan bahwa USS Abraham Lincoln saat itu beroperasi sekitar 500 mil dari pantai selatan Iran, ketika pasukan AS mendeteksi sebuah drone yang mereka identifikasi sebagai drone Shahed-139 milik Iran.

Dalam pernyataan pers yang dikirim melalui email, CENTCOM menyebutkan bahwa drone Iran tersebut “melakukan manuver yang tidak perlu ke arah kapal induk.”

CENTCOM mengatakan bahwa pasukan AS telah mengeluarkan instruksi de-eskalasi, namun drone itu tetap melanjutkan lintasannya menuju kapal induk. Pada titik itulah, sebuah jet tempur siluman F-35C Lightning II yang berpangkalan di kapal induk tersebut melakukan intervensi dan menembak jatuh drone.

“Tidak ada personel militer Amerika yang terluka dalam insiden ini, dan tidak ada peralatan AS yang mengalami kerusakan,” ujar CENTCOM.

CENTCOM juga melaporkan insiden terpisah beberapa jam kemudian, ketika dua kapal Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) serta sebuah drone Mohajer milik Iran mendekati kapal dagang berbendera dan berawak Amerika Serikat, M/V Stena Imperative. Kapal tersebut saat itu beroperasi di dekat Selat Hormuz.

Kapal-kapal IRGC tersebut diduga mengancam akan menaiki kapal dagang AS, namun kapal perusak berpeluru kendali USS McFaul tiba di lokasi. Angkatan Udara AS juga turun tangan untuk memberikan dukungan udara defensif.

Menurut CENTCOM, insiden kedua ini berhasil diredakan setelah kapal perang dan pesawat AS melakukan intervensi.

Pekan lalu, CENTCOM telah mengeluarkan peringatan langsung kepada pasukan Iran agar menghindari perilaku provokatif di dekat pasukan AS, mitra regional, maupun kapal-kapal komersial.

Penembakan jatuh drone Iran ini terjadi menjelang pertemuan yang direncanakan di Turki pada Jumat, antara Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Berbicara kepada wartawan di luar Gedung Putih pada Selasa, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan,

“Pembicaraan, sejauh ini, masih dijadwalkan.”

“Jelas, diplomasi membutuhkan dua pihak yang mau bekerja sama. Anda membutuhkan mitra yang bersedia. Dan itulah yang ingin dijajaki dan dibahas oleh Utusan Khusus Witkoff,” tambahnya.

Leavitt juga menyatakan bahwa Trump memiliki berbagai opsi untuk menghadapi Iran, seraya menyinggung serangan pada Juni 2025 terhadap tiga fasilitas nuklir Iran.

【Eksklusif】Orang Dalam Beberkan Militer Tiongkok Masuk Status “Hampir Perang” Usai Pencopotan Jenderal Puncak

Sumber internal menyebutkan bahwa langkah pengamanan dalam negeri yang ditingkatkan setelah pencopotan Zhang Youxia mencerminkan ketakutan rezim terhadap ketidakstabilan internal, bukan ancaman konflik eksternal.

EtIndonesia. Ketika Beijing mengumumkan pencopotan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (KMP) Zhang Youxia, keputusan tersebut langsung menimbulkan gelombang kejut di tubuh Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). Pada 24 Januari, beberapa jam sebelum Kementerian Pertahanan Tiongkok merilis pernyataan resmi, KMP diam-diam mengaktifkan tingkat pengendalian internal berstatus “hampir perang”, menurut sejumlah orang dalam yang mengetahui situasi internal militer Tiongkok.

Para narasumber berbicara kepada The Epoch Times dengan syarat anonim atau hanya mencantumkan nama keluarga, dengan alasan keselamatan mereka.

“Situasinya meningkat sangat cepat,” ujar seorang sumber militer Tiongkok pada 30 Januari. “Kami tidak tahu apa yang sedang terjadi—hanya tahu akan ada pengumuman penting dari Kementerian Pertahanan. Namun menaikkan sistem ke status ‘hampir perang’ tetap mengejutkan, apalagi pemimpin tertinggi tidak sedang melakukan kunjungan luar negeri.”

Menurut sumber tersebut, baru setelah kejatuhan Zhang diumumkan secara publik, banyak personel militer memahami tujuan sebenarnya dari peningkatan keamanan yang luar biasa itu.

“Belakangan orang sadar bahwa langkah itu dimaksudkan untuk mencegah insiden internal,” katanya. “Ada kekhawatiran sesuatu yang luar biasa bisa terjadi di dalam militer.”

Pada hari itu, pengamanan di sekitar markas KMP di Beijing diperketat secara nyata. Personel Biro Pengawal Pusat—unit elite yang bertugas melindungi pimpinan tertinggi Tiongkok—dikerahkan dalam jumlah besar. Komputer, dokumen, dan berkas-berkas dalam kotak dipindahkan dari kantor, sementara suasana di dalam kompleks berubah tegang dan sangat tertutup.

Seorang analis militer berbasis di Tiongkok mengatakan kepada The Epoch Times bahwa istilah “status hampir perang” memiliki makna khusus dalam kerangka pemerintahan Partai Komunis Tiongkok (PKT), yang sering disalahpahami oleh pengamat luar.

“Dalam sistem PKT, ‘hampir perang’ tidak selalu berarti persiapan menghadapi perang eksternal,” jelasnya. “Ini adalah mode siaga tinggi yang berpusat pada keamanan politik.”

Langkah semacam itu biasanya diaktifkan, katanya, ketika Xi Jinping bepergian ke luar negeri atau pada momen politik yang sangat sensitif, dengan tujuan utama menjamin stabilitas komando dan kepatuhan mutlak, bukan merespons ancaman militer asing.

Lu, seorang pensiunan veteran militer Tiongkok yang hanya ingin disebutkan nama marganya, menguatkan penilaian tersebut. Ia mengatakan bahwa secara historis, langkah-langkah semacam ini selalu terkait dengan keamanan pimpinan dan kontrol internal pada masa-masa politik genting.

“Kali ini tidak ada konflik eksternal besar, dan pemimpin tidak sedang berada di luar negeri,” ujar Lu. “Mengaktifkan tingkat kontrol seperti ini dalam kondisi tersebut dipandang luas di internal militer sebagai sinyal tidak normal. Ini bukan kesiapan perang eksternal. … Ini adalah kesiapan ‘hampir perang’ untuk urusan internal.”


Masa Penuh Ketidakpastian bagi Militer Tiongkok

Setelah pengumuman resmi pencopotan Zhang, para analis menggambarkan sistem pertahanan Tiongkok memasuki salah satu fase paling rapuh dalam beberapa tahun terakhir.

Tidak ada perubahan signifikan di Selat Taiwan, Laut Tiongkok Selatan, maupun di perbatasan darat Tiongkok yang dapat menjelaskan peningkatan siaga tersebut. Sebaliknya, berbagai indikator menunjukkan bahwa ketegangan bersumber dari pergeseran kekuasaan internal di puncak PKT, khususnya di internal KMP  yang mengendalikan angkatan bersenjata.

Salah satu perkembangan mencolok adalah meningkatnya penekanan pada istilah “kesetiaan absolut” dan “kepatuhan terhadap perintah”, bahasa yang muncul dengan frekuensi tidak biasa dalam pernyataan resmi dan komunikasi internal terbaru.

Analis militer tersebut mengatakan bahwa stabilitas PLA tidak bertumpu pada mekanisme checks and balances, melainkan pada otoritas personal dan loyalitas.

“Zhang Youxia sejak lama dipandang sebagai salah satu pilar utama Xi Jinping di dalam militer,” katanya. “Tokoh seperti Zhang memainkan peran krusial dalam menjaga keseimbangan faksi dan menekan potensi ketidakstabilan.”


Kekosongan Struktur Komando 

Orang-orang dalam militer mengatakan bahwa berkurangnya jumlah anggota KMP secara cepat telah mempersempit lingkaran orang yang benar-benar mampu memberi komando langsung kepada pasukan, sehingga meningkatkan ketidakpastian di kalangan perwira.

Meski Xi Jinping memegang jabatan Ketua KMP, ia tidak secara langsung memimpin pasukan di lapangan. Zhang Shengmin, anggota KMP yang baru diangkat, menghabiskan sebagian besar kariernya di bidang politik dan disiplin, bukan komando operasional. Berbeda dengan Zhang Youxia, yang memiliki kendali langsung atas pasukan tempur, Zhang Shengmin dipandang lemah dalam hal otoritas militer nyata.

Seorang sumber militer mengatakan kepada The Epoch Times bahwa muncul kekhawatiran apakah para perwira di komando teater akan menjalankan perintah tanpa ragu jika perintah itu datang dari sosok selain Zhang Youxia.

Sejumlah analis menilai bahwa atmosfer saat ini mencerminkan kecemasan yang lebih dalam di pucuk pimpinan PKT mengenai keandalan angkatan bersenjatanya sendiri.

Sejarah menunjukkan, kata mereka, bahwa ketika sebuah rezim semakin bergantung pada militer untuk menjaga stabilitas dari ancaman internal, maka keamanan dan stabilitas keseluruhan rezim tersebut justru memasuki fase rapuh.

Hu Ying turut berkontribusi dalam laporan ini.

Empat Petuah Sang Bijak

EtIndonesia. Seorang remaja berusia enam belas tahun datang mengunjungi seorang bijak yang telah lanjut usia.

Dia bertanya: “Bagaimana caranya agar aku bisa menjadi orang yang bahagia, sekaligus mampu membawa kebahagiaan bagi orang lain?”

Sang bijak tersenyum memandangnya dan berkata : “Nak, di usiamu yang masih sangat muda, memiliki keinginan seperti ini saja sudah sangat berharga. Banyak orang yang jauh lebih tua darimu—dari cara mereka bertanya saja sudah terlihat bahwa, sebanyak apa pun penjelasan diberikan, mereka tetap tak akan memahami kebenaran yang paling penting. Maka, biarlah mereka tetap seperti itu.”

Remaja itu mendengarkan dengan penuh ketulusan. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bangga diri.

Sang bijak melanjutkan: “Aku akan memberimu empat kalimat.”

Kalimat pertama: “Anggaplah dirimu sebagai orang lain.”

“Bisakah kamu menjelaskan makna kalimat ini?” tanya sang bijak.

Remaja itu menjawab: “Apakah maksudnya, ketika aku sedang merasa sakit dan sedih, aku mencoba memandang diriku sebagai orang lain, sehingga rasa sakit itu akan berkurang? Dan ketika aku terlalu gembira, dengan menganggap diriku sebagai orang lain, kegembiraan itu akan menjadi lebih tenang dan seimbang?”

Sang bijak mengangguk pelan.

Kalimat kedua: “Anggaplah orang lain sebagai dirimu sendiri.”

Remaja itu termenung sejenak, lalu berkata: “Dengan begitu, aku bisa benar-benar merasakan penderitaan orang lain, memahami kebutuhan mereka, dan ketika mereka membutuhkan pertolongan, aku bisa memberikan bantuan yang tepat?”

Mata sang bijak berbinar. Dia melanjutkan.

Kalimat ketiga:“Anggaplah orang lain sebagai orang lain.”

Remaja itu berkata:  “Apakah maksudnya kita harus sepenuhnya menghormati kemandirian setiap orang, dan dalam keadaan apa pun tidak boleh melanggar batas inti kehidupan orang lain?”

Sang bijak tertawa lepas:  “Bagus! Sangat bagus! Anak ini bisa diajar.”

Kalimat keempat: “Anggaplah dirimu sebagai dirimu sendiri.”

Sang bijak tersenyum dan berkata: “Kalimat ini terlalu sulit untuk dipahami sekarang. Simpanlah dulu, kelak kamu akan memahaminya perlahan.”

Remaja itu berkata : “Makna kalimat ini memang belum bisa langsung aku pahami. Namun keempat kalimat ini tampak saling bertentangan satu sama lain. Dengan apa aku bisa menyatukannya?”

Sang bijak menjawab dengan tenang: “Sederhana saja—dengan seumur hidupmu, dan dengan seluruh pengalaman hidupmu.”

Remaja itu terdiam lama. Lalu dia bersujud memberi hormat dan berpamitan.

Tahun demi tahun berlalu. Remaja itu tumbuh menjadi pria dewasa, lalu menjadi seorang tua.

Dan lama setelah dia meninggalkan dunia ini, orang-orang masih sering menyebut namanya.

Mereka berkata, dia adalah seorang bijak, karena dia adalah orang yang bahagia, dan juga membawa kebahagiaan bagi setiap orang yang pernah berjumpa dengannya.

Hikmah Cerita

Menganggap diri sebagai orang lain, menganggap orang lain sebagai diri sendiri, menganggap orang lain sebagai orang lain, dan menganggap diri sebagai diri sendiri—empat kalimat ini terdengar seperti permainan kata yang membingungkan.

Namun ketika direnungkan dengan sungguh-sungguh, kita belajar bahwa:

  • Ada saatnya kita harus menempatkan diri pada posisi orang lain.
  • Jika kita menuntut orang lain dengan keras, kita pun harus menuntut diri sendiri dengan standar yang sama.
  • Jika kita bisa memaafkan diri sendiri, kita juga harus mampu memaafkan orang lain.
  • Hormatilah bahwa setiap orang memiliki cara berpikir dan sudut pandang yang berbeda.
  • Jangan memaksakan pola pikir sendiri kepada orang lain.
  • Setiap orang unik, tak perlu membandingkan diri secara berlebihan.
  • Kenali kebutuhan diri, dan hiduplah sebagai diri sendiri.

Inilah pemahaman kami atas empat petuah sang bijak. Lalu, bagaimana denganmu? Empat kalimat ini—pelajaran apa yang kamu temukan di dalamnya? (jhn/yn)

Kuba Digenggam Trump: Tanpa Serangan, Tanpa Ampun, Havana–Beijing–Moskow Terkejut

EtIndonesia. Pada 1 Februari, sebuah pernyataan mengejutkan disampaikan langsung oleh Donald Trump dari kediamannya di Mar-a-Lago, Florida. Dalam kesempatan tersebut, Trump mengonfirmasi bahwa Amerika Serikat tengah membuka jalur dialog langsung dengan otoritas tertinggi Kuba. Bahkan mengisyaratkan kemungkinan tercapainya sebuah kesepakatan besar.

Pernyataan singkat ini segera memicu keguncangan geopolitik. Para analis menilai, sinyal tersebut tidak hanya mengguncang Havana, tetapi juga menimbulkan kegelisahan serius di Beijing dan Moskow.

Trump, dengan gaya khasnya yang spontan namun sarat makna strategis, mengatakan bahwa Kuba saat ini berada dalam krisis kemanusiaan dan ekonomi yang sangat berat. Ia menegaskan bahwa Washington sedang berbicara langsung dengan pejabat tertinggi Kuba dan berharap dialog tersebut akan berujung pada kesepakatan.

Trump juga menyinggung nasib warga Kuba yang menurutnya “diperlakukan dengan sangat buruk”, serta keluarga-keluarga yang telah terpisah selama bertahun-tahun akibat kebijakan rezim komunis.

Pernyataan itu dinilai bukan sekadar empati, melainkan sinyal tekanan sekaligus tawaran—sebuah pendekatan klasik Trump: tongkat dan wortel, namun dengan aturan keras bahwa hanya ada satu wortel, dan siapa yang menolak akan menghadapi konsekuensi berat.


Mengapa Kuba Sangat Penting bagi Amerika Serikat?

Selama ini, Kuba kerap dipersepsikan dunia sebagai negara tropis dengan cerutu, pantai, dan mobil klasik. Namun dalam kalkulasi geopolitik Amerika Serikat, Kuba adalah titik strategis yang sangat sensitif.

Secara geografis, Kuba merupakan negara asing terdekat dengan wilayah daratan Amerika Serikat. Jarak terpendek dari Kuba ke Key West, titik paling selatan Florida, hanya sekitar 90 mil atau 150 kilometer. Dalam konteks militer modern, jarak ini berarti hitungan menit bagi jet tempur.

Kuba juga menguasai dua jalur laut paling vital di selatan Amerika:

  • Selat Florida
  • Selat Yucatán

Kedua selat ini merupakan pintu keluar-masuk utama menuju Teluk Amerika (dahulu dikenal sebagai Teluk Meksiko). Siapa pun yang menguasai Kuba, secara efektif dapat memantau dan mengancam perut selatan Amerika Serikat.

Tak heran, dalam pepatah Tiongkok disebutkan:

“Di sisi ranjang sendiri, mana mungkin membiarkan orang lain tidur nyenyak.”

Dalam pandangan Washington, Kuba praktis berada di sisi bantal Amerika.


Mengapa Kuba Tidak Dijatuhkan Sejak Dulu?

Jawabannya terletak pada sejarah Perang Dingin.

Pada 1961, lebih dari 1.400 eksil Kuba yang didukung CIA mendarat di Teluk Babi dalam upaya menggulingkan pemerintahan Fidel Castro. Operasi ini gagal total hanya dalam tiga hari.

Tak lama kemudian, dunia menghadapi Krisis Rudal Kuba, ketika Uni Soviet mencoba menempatkan senjata nuklir di Kuba, langsung mengarah ke Amerika Serikat. Demi mencegah Perang Dunia Ketiga, Washington akhirnya berjanji tidak akan menginvasi Kuba, sebagai imbalan penarikan rudal Soviet.

Janji ini, ditambah perlindungan strategis Uni Soviet, membuat rezim Kuba bertahan selama puluhan tahun.

Setelah Uni Soviet runtuh, Kuba kehilangan pelindungnya. Namun kala itu, Washington menilai Kuba sudah tidak lagi berbahaya—cukup dilemahkan perlahan melalui sanksi ekonomi, tanpa perlu konflik bersenjata.


Perubahan Fundamental: Masuknya Tiongkok

Situasi berubah drastis dalam beberapa tahun terakhir.

Meski Rusia melemah, Partai Komunis Tiongkok justru memperluas pengaruhnya di Kuba. Berbagai laporan intelijen Barat menyebutkan bahwa Tiongkok telah mendirikan fasilitas penyadapan dan pengawasan elektronik di Kuba, menjadikannya pos terdepan untuk memata-matai Amerika Serikat.

Bagi Trump, ini adalah pelanggaran langsung terhadap garis merah keamanan nasional AS.


Strategi Trump: Menjatuhkan Kuba Tanpa Perang

Berbeda dari pendekatan militer konvensional, Trump memilih perang ekonomi ultra-terarah, menyasar urat nadi energi Kuba.

Selama puluhan tahun, Kuba bertahan hidup melalui “transfusi energi”:

  • Dari Uni Soviet
  • Lalu dari Venezuela di era Hugo Chávez dan Nicolás Maduro, dalam bentuk pasokan minyak murah atau gratis

Namun setelah Venezuela runtuh, aliran minyak ke Kuba terputus total.

Laporan menyebutkan, cadangan minyak Kuba tersisa kurang dari 15 hari. Setelah itu, pembangkit listrik terancam berhenti dan negara bisa jatuh ke dalam pemadaman total.

Pada 29 Januari 2026, Trump menandatangani perintah eksekutif yang secara resmi:

  • Menetapkan Kuba sebagai ancaman terhadap keamanan nasional AS
  • Menyatakan status darurat nasional
  • Menerapkan nol toleransi terhadap rezim komunis Kuba
  • Mengancam negara mana pun yang menyuplai minyak ke Kuba dengan tarif dan sanksi tambahan
  • Menegaskan bahwa target kebijakan ini adalah Partai Komunis Kuba, bukan rakyatnya

Akibat kebijakan ini, Meksiko, pemasok minyak terbesar Kuba setelah Venezuela, langsung menghentikan ekspor minyak.

Prinsip Trump sederhana:  tanpa tentara, cukup mencekik energi.


Isi Kesepakatan yang Mungkin Dicapai

Para analis memperkirakan, kesepakatan yang dimaksud Trump kemungkinan mencakup tiga poin utama:

  1. Pengusiran dan pembongkaran seluruh fasilitas intelijen Tiongkok di Kuba
  2. Pemutusan hubungan Kuba dengan Iran, Hamas, dan Hizbullah
  3. Pembebasan tahanan politik serta langkah awal menuju demokratisasi

Jika poin-poin ini terwujud, maka seluruh strategi Tiongkok di Belahan Barat akan runtuh secara sistemik.


Faktor Marco Rubio

Tambahan penting dalam dinamika ini adalah Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS yang berdarah Kuba. Orang tuanya melarikan diri dari Kuba saat rezim komunis berkuasa, menjadikan sikapnya terhadap Havana sangat keras.

Di media sosial bahkan muncul candaan bahwa Rubio suatu hari bisa menjadi Presiden Kuba. Menanggapi hal itu, Trump hanya berkata singkat namun sarat makna:
“Kedengarannya bagus.”


Kesimpulan:

Apa yang terjadi bukan sekadar dialog diplomatik biasa. Ini adalah operasi geopolitik presisi tinggi, di mana Trump berupaya menutup satu-satunya duri strategis yang masih menancap di tenggorokan Amerika Serikat—tanpa melepaskan satu peluru pun. (***)

Tangan Berdoa (Praying Hands)

EtIndonesia. Seniman besar asal Jerman, Albrecht Dürer, memiliki sebuah lukisan terkenal berjudul “Tangan Berdoa” (Praying Hands). Namun, di balik lukisan ini tersembunyi sebuah kisah tentang cinta, pengorbanan, dan ketulusan yang sangat mengharukan.

Pada abad ke-15, di sebuah desa kecil di Jerman, hiduplah sebuah keluarga dengan delapan belas orang anak. Sang ayah adalah seorang pandai besi. Demi menghidupi seluruh keluarganya, dia harus bekerja hingga delapan belas jam setiap hari.

Meski hidup dalam keterbatasan dan kesulitan, dua dari anak-anak keluarga itu memiliki mimpi yang sama. Mereka adalah Franz (Fransiskus) dan Albrecht. Keduanya bercita-cita mengembangkan bakat mereka di bidang seni.

Namun mereka juga sadar, ayah mereka tidak mungkin mampu membiayai dua orang anak sekaligus untuk belajar di akademi seni.

Suatu malam, kedua bersaudara itu berdiskusi di atas tempat tidur dan akhirnya mengambil sebuah keputusan: mereka akan melempar koin. Siapa yang menang akan pergi belajar ke akademi seni, sedangkan yang kalah akan bekerja di tambang untuk mencari uang. Empat tahun kemudian, giliran yang bekerja di tambang akan melanjutkan sekolah seni, dibiayai oleh saudaranya yang telah lulus.

Hasilnya, Albrecht yang lebih muda memenangkan undian tersebut.

Di akademi seni, Albrecht menunjukkan bakat yang luar biasa. Karya-karyanya bahkan dinilai lebih baik dibandingkan karya para dosennya.

Setelah lulus, dia tidak melupakan janjinya. Dia segera kembali ke kampung halaman untuk mencari kakaknya, Franz, yang selama empat tahun bekerja keras di tambang demi membiayai pendidikannya.

Pada hari kepulangannya, keluarga mengadakan sebuah jamuan besar untuk merayakan keberhasilannya. 

Di tengah perjamuan itu, Albrecht berdiri dan dengan penuh rasa terima kasih berkata kepada kakaknya: “Sekarang giliranku, Kakak. Aku akan mendukungmu sepenuhnya untuk belajar di akademi seni dan mewujudkan mimpimu!”

Semua mata tertuju pada Franz. Namun yang terlihat justru air mata mengalir di pipinya. Franz menundukkan kepala, menggeleng pelan, dan berkata lirih: “Tidak… tidak…”

Dia lalu berdiri, menatap adiknya dengan penuh kasih, menggenggam tangannya, dan berkata: “Lihatlah kedua tanganku. Empat tahun bekerja di tambang telah menghancurkannya. Sendi-sendinya kaku, tak bisa digerakkan. Sekarang bahkan mengangkat gelas untuk bersulang pun aku tak sanggup—apalagi menggenggam kuas atau pisau pahat. Adikku… sudah terlambat. Tapi melihatmu berhasil mewujudkan mimpimu, aku sungguh bahagia.”

Beberapa hari kemudian, Albrecht tanpa sengaja melihat kakaknya berlutut di lantai, menyatukan kedua tangannya yang kasar dan berdoa: “Ya Tuhan, tanganku tak lagi mampu mewujudkan impianku menjadi seorang seniman. Aku mohon, lipatgandakanlah bakat dan kemampuan itu kepada adikku, Albrecht.”

Menyaksikan pemandangan itu, Albrecht—yang sejak awal sudah sangat berterima kasih—langsung mengambil keputusan: dia akan mengabadikan kedua tangan kakaknya dalam sebuah karya seni.

Empat ratus lima puluh tahun kemudian, hingga hari ini, karya-karya Albrecht Dürer—baik sketsa, gambar pensil, cat air, ukiran kayu, maupun ukiran tembaga—dapat ditemukan di berbagai museum di seluruh dunia. Namun di antara semuanya, yang paling dikenal dan dikenang sepanjang masa adalah “Tangan yang Berdoa”.

Hikmah Cerita

Kisah yang menyentuh hati sering kali dikenang lintas zaman. Pengorbanan yang rela mengorbankan diri demi menerangi jalan orang lain, terutama saudara sendiri, adalah nilai luhur yang patut dihormati dan dikenang.

Cinta tanpa pamrih, doa tanpa suara, dan tangan yang rusak demi mimpi orang lain—itulah alasan mengapa “Tangan yang Berdoa” bukan sekadar lukisan, melainkan simbol keagungan hati manusia. (jhn/yn)

Setelah Penangkapan Zhang Youxia, PKT Kembali Menyebutkan “Persiapan Perang,” Menarik Perhatian Trump

Surat kabar militer Partai Komunis Tiongkok (PKT) pada 2 Februari 2026 kembali menerbitkan artikel komentar yang mengecam Zhang Youxia sebagai “penghalang dan batu sandungan”, sekaligus menegaskan perlunya memperkuat latihan dan kesiapan tempur secara menyeluruh dengan tujuan “siap berperang kapan saja”. Pernyataan ini membuat situasi Selat Taiwan kembali menjadi sorotan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa ia mengawasi dengan sangat cermat perkembangan kasus Zhang Youxia dan isu Taiwan.

EtIndonesia. Setelah Wakil Ketua Komisi Militer Pusat PKT Zhang Youxia dan Kepala Staf Departemen Staf Gabungan Komisi Militer Pusat, Liu Zhenli, secara resmi diumumkan “jatuh” pada 24 Januari, surat kabar militer PKT telah tiga hari berturut-turut menerbitkan artikel komentar terkait kasus tersebut.

Artikel komentar tanggal 2 Februari menyatakan:  “Penindakan tegas terhadap unsur-unsur korup seperti Zhang Youxia dan Liu Zhenli bertujuan menyingkirkan penghalang dan batu sandungan yang menghambat perkembangan perjuangan.”

Artikel itu juga menegaskan bahwa tahun ini merupakan tahun krusial untuk mencapai target perjuangan 100 tahun pendirian militer, sehingga diperlukan penguatan menyeluruh latihan dan kesiapan tempur, dengan kesiapan “berperang kapan saja”.

Seorang sumber internal militer bermarga Shen pada 29 Januari mengatakan kepada The Epoch Times bahwa konflik antara Zhang Youxia dan Xi Jinping bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil akumulasi ketegangan jangka panjang.

Menurut Shen, inti konflik antara Zhang dan Xi sebenarnya berfokus pada isu Taiwan. Zhang Youxia dan sebagian besar jenderal senior menentang penggunaan kekuatan militer untuk menyerang Taiwan, karena menilai hal itu akan menyebabkan korban jiwa dan kerugian peralatan yang sangat besar, bahkan berpotensi “menghabiskan satu cabang militer secara keseluruhan”. Namun, Xi Jinping disebut ingin menyerang Taiwan.

Setelah Zhang Youxia dan Liu Zhenli disingkirkan, stabilitas politik internal PKT dan situasi Selat Taiwan menjadi perhatian dunia internasional.

Presiden AS Donald Trump pada 31 Januari mengatakan kepada media di atas Air Force One bahwa ia akan mengawasi perkembangan ini dengan saksama.

Trump menyatakan:  “Bagi saya, di Tiongkok hanya ada satu ‘bos’, yaitu Ketua Xi. Orang yang saya hadapi adalah dia.”

Ketika ditanya apakah ia khawatir terhadap stabilitas Tiongkok atau isu Taiwan akibat kasus Zhang Youxia, Trump menjawab:  “Saya pikir Ketua Xi adalah ‘bos’. Saya mengawasi hal ini dengan sangat dekat.”

Setelah penangkapan Zhang Youxia, muncul banyak kejanggalan. Selain surat kabar militer PKT yang terus menyebut nama Zhang Youxia dan Liu Zhenli, media corong PKT lainnya secara kolektif bungkam mengenai kasus ini. Berbagai lembaga di bawah Komisi Militer Pusat, komando wilayah, dan matra-matra militer juga tidak memberikan pernyataan publik.

Pengamat politik Yuan Bin dalam tulisannya di The Epoch Times menilai situasi ini sangat tidak normal. Ia mengingatkan bahwa ketika Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Guo Boxiong dan Xu Caihou jatuh, surat kabar militer PKT juga menerbitkan editorial. Bahkan, dalam beberapa hari saja muncul laporan padat mengenai dukungan tegas dari seluruh wilayah militer, matra, markas besar, hingga prajurit tingkat akar rumput terhadap penindakan tersebut.

Yuan Bin menyatakan, hal ini menunjukkan bahwa dalam kasus Guo Boxiong dan Xu Caihou, militer PKT dari atas hingga bawah memang menjaga “keseragaman tingkat tinggi” dengan Xi Jinping.

Sebaliknya, dalam kasus penangkapan Zhang Youxia kali ini, meskipun Beijing berulang kali melalui surat kabar militer menyerukan agar seluruh militer menyatakan loyalitas kepada Xi Jinping, hingga kini tidak terlihat satu pun laporan atau pernyataan loyalitas di media militer PKT. 

Hal ini dianggap semakin menguatkan kebenaran rumor di dunia maya—bahwa secara luas terdapat ketidakpuasan di tubuh militer PKT terhadap penangkapan Zhang, berbagai perintah Komisi Militer Pusat mendapat perlawanan pasif, perintah militer tidak berjalan efektif, dan kondisi operasional militer PKT menunjukkan kejanggalan langka.

Laporan gabungan oleh reporter Luo Tingting / Editor Wen Hui

Aksi Protes Digelar di Berbagai Kota di Kanada, Fokus pada Kesulitan Hidup Hingga Ancaman Partai Komunis Tiongkok

EtIndonesia. Pada 31 Januari 2026, warga di berbagai kota di Kanada tetap turun ke jalan meski diterpa angin dan hujan, menggelar aksi unjuk rasa untuk menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap krisis ekonomi dan kesulitan hidup masyarakat. Para demonstran menyerukan agar pemerintah lebih memperhatikan kebutuhan rakyat kecil, sekaligus menghindari risiko politik yang dapat timbul dari hubungan dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Seorang peserta aksi di Vancouver, Renate, mengatakan:  “Biaya hidup sekarang lebih tinggi dari sebelumnya. Antrian di bank makanan makin panjang, dan lapangan kerja semakin langka. Ini benar-benar situasi yang sangat berbahaya.”

Peserta aksi Vancouver lainnya, Shar, menyatakan:  “Harga rumah sangat mahal. Mengajukan kredit hipotek sekarang sangat sulit.”

Renate menambahkan:  “Sistem kesehatan sudah runtuh, dan mereka juga mendorong kebijakan yang cukup ekstrim dengan melegalkan narkoba keras. Partai Liberal harus turun, negara ini sedang terus merosot.”

Peserta aksi Vancouver, Ryan Chen, mengatakan:  “Keamanan sekolah dan keamanan komunitas jauh lebih buruk dibanding saat saya pertama kali datang dari Taiwan pada tahun 2007.”

Di Toronto, demonstran Dave Toomath menyatakan:  “Semua ini sangat mengkhawatirkan. Hal-hal ini sedikit demi sedikit menggerogoti hakikat demokrasi yang saya kagumi.”

Para demonstran juga menyoroti hubungan dagang pemerintah dengan PKT, dengan kekhawatiran bahwa kerja sama tersebut menyimpan risiko politik tersembunyi. Mereka menyerukan agar Kanada melindungi nilai-nilai demokrasi.

Seorang demonstran bernama Renee mengatakan:  “Hari ini Carney membuat beberapa kesepakatan dengan Tiongkok (PKT), padahal itu bukan perdagangan yang adil. Pada akhirnya, PKT akan menipu dan mengambil seluruh kekayaan intelektual Kanada. Saya hanya ingin masyarakat sadar—jangan berurusan dengan iblis.”

Demonstran Toronto, Tammy Felts, mengatakan:  “Kesesuaian kita dengan Amerika Serikat jauh melampaui negara manapun di dunia. Namun dia justru membuka pintu bagi Tiongkok (PKT).”

Warga Hong Kong di Toronto, Dino Chan, menyatakan:  “Ini adalah bentuk pemaksaan politik. Hentikan perjanjian dagang dengan PKT, karena ini masalah yang sangat berbahaya. Kanada tidak boleh menipu dirinya sendiri.”

Dari isu ekonomi, imigrasi hingga nilai-nilai fundamental, para peserta aksi menyampaikan kekhawatiran mereka terhadap arah masa depan Kanada.

Seorang mantan kontraktor di Toronto yang menggunakan nama samaran Ronda ‘Flying Dutchman’ berkata:  “Biarkan jaringan pipa minyak kembali beroperasi. Kita perlu menghasilkan uang.”

Peserta aksi Vancouver, Shar, menambahkan:  “Kita membutuhkan kebijakan imigrasi yang hati-hati dan terukur.”

Shar juga mengatakan:  “Kami berharap Kanada tetap mempertahankan citranya sebagai negara yang damai.”

Renee menutup dengan pernyataan:  “Saya berharap kita memilih jalan yang menjunjung akal sehat umat manusia dan moral dasar manusia. Kita tidak ingin menuju komunisme, kita tidak ingin menuju sosialisme.”

Laporan langsung dari berbagai daerah oleh reporter New Tang Dynasty Television Kanada

Kebiasaan Orang Miskin

EtIndonesia. Pada zaman dahulu, hiduplah seorang pria yang sangat miskin. Melihat keadaannya yang memprihatinkan, seseorang yang kaya merasa iba dan tergerak hatinya untuk menolongnya agar bisa keluar dari kemiskinan.

Orang kaya itu kemudian memberikan seekor sapi kepadanya, sambil berpesan agar dia membuka lahan dengan sungguh-sungguh. Katanya, ketika musim semi tiba, tanamlah benih, dan saat musim gugur datang, dia pun bisa menjauh dari kata “miskin”.

Orang miskin itu pun dipenuhi harapan dan mulai berjuang.

Namun belum beberapa hari berlalu, masalah mulai muncul. Sapi butuh makan rumput, manusia butuh makan nasi. Kehidupan justru terasa lebih berat dibanding sebelumnya.

Lalu dia berpikir: “Lebih baik sapi ini aku jual. Dengan uangnya aku bisa membeli beberapa ekor kambing. Satu ekor bisa langsung disembelih untuk dimakan, sisanya bisa berkembang biak. Jika anak kambing lahir dan tumbuh besar, aku bisa menjualnya dan mendapatkan lebih banyak uang.”

Rencananya memang terwujud. Namun setelah memakan satu ekor kambing, anak kambing yang ditunggu-tunggu tak kunjung lahir. Hidup kembali terasa sulit, dan tanpa sadar dia pun menyembelih seekor kambing lagi.

Dia lalu berpikir: “Kalau begini terus tidak akan berhasil. Lebih baik kambing-kambing ini dijual, lalu uangnya dipakai membeli ayam. Ayam bertelur lebih cepat, telurnya bisa langsung dijual, dan hidupku bisa segera membaik.”

Sekali lagi, rencananya berjalan sesuai harapan. Namun kehidupan tetap tidak berubah. Kesulitan datang lagi, dan dia kembali tak mampu menahan diri untuk menyembelih ayam-ayamnya. Hingga akhirnya, hanya tersisa satu ekor ayam saja, dan seluruh impiannya runtuh.

Dia pun berpikir putus asa: “Menjadi kaya sudah tidak mungkin. Lebih baik ayam ini dijual saja, uangnya kupakai membeli arak. Tiga cawan diminum, maka semua masalah terasa tak ada.”

Tak lama kemudian, musim semi tiba. Orang kaya yang dulu bermurah hati datang dengan penuh semangat membawa benih. Namun yang dia temukan sungguh mengejutkan: si orang miskin sedang minum arak ditemani lauk ikan asin. Sapi sudah tidak ada, dan rumah itu tetap melarat seperti sebelumnya.

Orang kaya itu pun berbalik pergi.

Dan orang miskin itu tetap miskin selamanya.

Banyak orang miskin sebenarnya pernah memiliki mimpi. Bahkan pernah mendapat kesempatan, dan pernah pula mulai bertindak. Namun, bertahan sampai akhir adalah hal yang paling sulit.

Seorang investor pernah berkata bahwa rahasia kesuksesannya adalah ini: Saat tidak punya uang, seberat apa pun keadaannya, jangan pernah menyentuh modal investasi dan tabungan. Tekanan justru akan memaksamu menemukan cara baru untuk menghasilkan uang dan melunasi utang. Itu adalah kebiasaan yang baik.

Kepribadian membentuk kebiasaan. Kebiasaan menentukan keberhasilan.

Hikmah Cerita

Kebiasaan baik membawa seseorang menuju kesuksesan, sementara kebiasaan buruk menyeret seseorang menuju kegagalan. Sebuah kesempatan untuk bangkit yang sebenarnya tidak membutuhkan modal apa pun, justru terbuang sia-sia—sungguh disayangkan.

Pernah ada sebuah kalimat yang mengatakan: “Saat sebelum fajar adalah saat tergelap, dan detik sebelum sukses adalah saat paling melelahkan. Jika mampu bertahan, fajar akan menyingsing, dan kesuksesan sudah di depan mata.”

Perbedaan terbesar antara orang sukses dan orang gagal adalah ini: Orang sukses, setelah menetapkan tujuan, akan melangkah maju tanpa ragu. Saat menghadapi kesulitan, dia mengubah cara, bukan tujuannya, lalu terus berjuang. Sedangkan orang gagal, ketika baru menghadapi kesulitan, justru mengubah tujuan dan rencana. Akibatnya, rencana selalu kalah oleh perubahan, dan tak pernah benar-benar terwujud.(yn)