Pulang Lebih Lambat

EtIndonesia. Kemarin, kota kami menggelar sebuah ajang besar sehingga diberlakukan pembatasan lalu lintas. Kami telah menerima pemberitahuan sebelumnya: setelah jam kerja, kendaraan pribadi tidak boleh beroperasi dan baru diizinkan kembali pada malam hari.

Jika dilihat dari sudut pandang perencanaan pemerintah, pembatasan ini memang diperlukan.
Selama penyelenggaraan acara, banyak orang dari luar kota datang sehingga volume kendaraan meningkat drastis. Pengaturan lalu lintas sementara membantu memastikan kelancaran mobilitas pihak terkait acara, sekaligus mengurangi kemacetan dan risiko kecelakaan.

Namun dari sisi kehidupan warga, pembatasan ini terasa merepotkan. Jika memilih transportasi umum, kereta dan bus penuh sesak. Jika tetap ingin menggunakan mobil pribadi, kami harus menyesuaikan waktu agar tidak melanggar aturan. Setelah seharian bekerja, yang diinginkan tentu cepat pulang untuk beristirahat. Akibatnya, karena mobil tak bisa dipakai, kami hanya bisa menunggu di kantor—dan kelelahan pun terasa bertambah.

Setelah mempertimbangkan semuanya, kami memutuskan tetap menggunakan mobil. Sepulang kerja, kami menjemput anak, lalu mencari tempat untuk makan malam lebih dulu.  Restoran di sekitar tidak banyak, dan semuanya ramai. Butuh waktu cukup lama hingga akhirnya kami mendapatkan tempat.

Usai makan, waktu masih cukup. Kami pun memutuskan kembali ke kantor untuk bekerja sebentar.

Saya menyelesaikan beberapa urusan pekerjaan, sementara anak mengerjakan PR. Ketika semua selesai, waktu pembatasan lalu lintas pun hampir berakhir. Kami menuju parkiran dan bersiap pulang. Saat membuka aplikasi navigasi untuk mengecek kondisi jalan, ternyata lalu lintas sangat lancar—bahkan jauh lebih baik dari hari biasa.

Mungkin karena pembatasan tersebut, banyak pemilik kendaraan memilih tidak keluar, sehingga jalanan menjadi lebih lengang.

Akhirnya, waktu tempuh kami lebih singkat sekitar belasan menit dibandingkan biasanya.

Biasanya, setibanya di rumah kami masih harus memasak, membereskan pekerjaan rumah, dan kadang menyelesaikan urusan kantor. Namun kali ini, kami sudah makan malam di luar, tak perlu lagi mengurus dapur. Pekerjaan sudah diselesaikan di kantor, tak perlu memikirkannya lagi. Anak pun telah menuntaskan PR-nya, tanpa perlu diingatkan.

Sisa malam sepenuhnya bisa kami gunakan untuk bersantai. Perasaan pun langsung terasa ringan. Kami menonton film, bermain gim bersama—sebuah waktu berkualitas yang jarang terjadi.

Padahal, secara harfiah kami pulang lebih lambat dari biasanya. Namun justru mendapatkan pengalaman yang lebih menyenangkan—sesuatu yang sama sekali tidak kami duga.

Awalnya, karena pembatasan lalu lintas, hati dipenuhi keluhan. Namun setelah benar-benar dijalani, ternyata ada begitu banyak sisi positif.

Saya pun tak bisa menahan rasa haru: ternyata, banyak hal yang kita bayangkan sebelumnya tidak selalu akurat. Antara baik dan buruk, sering kali hanya dipisahkan oleh satu sudut pandang—dan bisa saling bertukar tempat.

Di perjalanan bertumbuh, jika kita belajar tidak tergesa-gesa menyimpulkan, melainkan menerima setiap perubahan dengan tenang, barangkali kita akan menemukan wajah lain dari kehidupan— yang selama ini luput kita lihat.(jhn/yn)

Viral Video Debut XPeng Robotics di Pusat Perbelanjaan Shenzhen, Tiongkok Berakhir Jatuh Tersungkur  

EtIndonesia. Pada 31 Januari, robot XPeng IRON melakukan debut pertunjukan langsung pertamanya di MixC Shenzhen Bay. Namun, di tengah proses berjalan, robot itu tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai. Para staf segera bergegas membantu dan akhirnya tiga orang staf mengangkat robot tersebut keluar dari lokasi, sehingga menimbulkan kehebohan.

Video yang beredar menunjukkan robot XPeng IRON dirancang dengan penampilan perempuan. Didampingi oleh staf, robot tersebut berjalan ke tengah area plaza, dikelilingi oleh banyak pengunjung yang menonton, serta sejumlah jurnalis yang merekam kejadian tersebut.

Saat pembawa acara perempuan sedang memberikan penjelasan, robot XPeng mengangkat tangannya dan membuat beberapa pose. Tiba-tiba, pusat gravitasinya menjadi tidak stabil, tubuhnya terhuyung ke belakang, lalu terjatuh ke lantai.

Para staf langsung berlari ke depan untuk mencoba menopang robot. Pada akhirnya, tiga orang staf mengangkat robot itu dan membawanya pergi dari lokasi. Peristiwa ini pun dijuluki oleh warganet sebagai “momen malu massal berskala besar”.

Video kegagalan debut robot humanoid XPeng IRON ini dengan cepat viral di platform X, dan menuai berbagai komentar sindiran dari warganet, antara lain:

“Ini cuma mainan remot, jangan dianggap serius.”
“Lelucon Tiongkok yang lain lagi.”

“Sekarang bahkan robot pun mulai ‘rebahan’.”
“Selain jalan dan jatuh, apa lagi yang bisa dilakukan benda ini?”

Ada pula warganet yang berkomentar:

“Inilah kebenaran robot ‘buatan dalam negeri’ yang katanya canggih. Hanya alat untuk mengumpulkan dana. Perkembangan nyata harus menunggu Amerika membuka paten teknologinya.”

“Begitu melihat dua ‘pengawal’ yang selalu dekat, bermasker dan berpakaian hitam, sudah terasa tidak meyakinkan. Tapi benar-benar tak menyangka mereka mengangkatnya keluar secara horizontal. Setidaknya siapkan tandu.”

Pada 1 Februari, Wakil Presiden XPeng Motors, Thomas (julukan ‘Kereta Listrik’), memberikan tanggapan dengan mengatakan bahwa robot IRON kembali memperagakan berjalan nyata di MixC Shenzhen Bay agar warga Shenzhen—terutama anak-anak—dapat merasakan secara langsung gambaran masa depan. Ia mengatakan robot tersebut berjalan berkali-kali, dan salah satunya terjatuh. Sang pembawa acara pun berkomentar, “Di jalan kehidupan, kita juga harus mengalami kemunduran.” Insiden jatuh ini justru membuat orang semakin yakin bahwa robot tersebut bukan manusia yang menyamar.

Sebelumnya, pada 5 November 2025, XPeng merilis generasi terbaru robot humanoid IRON dalam acara Technology Day. Cara berjalan robot tersebut—mirip peragawan di catwalk—sempat memicu kecurigaan publik bahwa robot itu sebenarnya diperankan oleh manusia.

Laporan gabungan oleh reporter Luo Tingting / Editor Wen Hui 

Kisah Kehidupan Xiao Zhen

EtIndonesia. Daya hidup sejati tidak tercermin dari penampilan luar. Seseorang mungkin tampak biasa saja, namun belas kasih yang tersembunyi di dalam dirinya dapat secara halus mengubah lingkungan sekitar, bahkan arah hidupnya sendiri.

Saya bertemu Xiao Zhen secara tak sengaja di sebuah pasar. Tak butuh waktu lama bagi kami untuk menjadi sahabat lintas usia. Kepolosan dan ketulusannya sungguh menyentuh hati.

Sebagai anak sulung dari keluarga petani miskin, Xiao Zhen terpaksa putus sekolah sejak kecil. Dia bekerja sebagai buruh kasar, lalu pada malam hari belajar di sekolah kejuruan hingga menguasai satu keterampilan. Setelah itu, dia berhasil bekerja di sebuah instansi pemerintah.

Kehidupannya perlahan membaik. Dia mampu membeli rumah sendiri— namun justru rumah itu mengundang iri dan ketamakan kerabat.

Meski hidupnya penuh liku, Xiao Zhen selalu bersyukur atas perlindungan Tuhan yang dia yakini hadir secara diam-diam dalam hidupnya.

Dengan mata berkaca-kaca, Xiao Zhen menceritakan pemderitaan hidup kedua orangtuanya sepanjang usia mereka, serta berbagai rintangan yang dia hadapi dalam perjuangan hidupnya sendiri.

Dia selalu memikirkan keluarganya dan siap mengulurkan tangan kapan pun dibutuhkan. Terhadap mereka yang lemah dan kekurangan, dia juga membantu sebisanya.

Tubuh Xiao Zhen lemah dan sering sakit-sakitan, namun justru dialah yang kerap mengingatkan orang lain tentang cara menjaga kesehatan diri.

Meski pendidikannya terbatas, Xiao Zhen sangat mencintai sastra.

Saat membaca The Epoch Times, dia memuji tampilan halamannya yang indah, tidak berbau tinta menyengat, dan isinya kaya serta beragam.

Ketika membaca kisah Li Bai di rubrik sastra, dia begitu gembira. Tanpa ragu, dia langsung memutuskan untuk berlangganan.

Mendengar saran saya, Xiao Zhen kini mulai mencoba menuliskan kisah-kisah yang selama ini dia ceritakan, kata demi kata, kalimat demi kalimat.

Saat menonton pertunjukan Shen Yun Performing Arts yang mendunia,  Xiao Zhen memuji tanpa henti, benar-benar terpesona.

Dia tertarik pada sebuah produk Shen Yun yang harganya jauh di atas anggarannya. Tak disangka, petugas toko memberi tahu bahwa barang itu sedang dijual dengan harga diskon.

Xiao Zhen pun berseri-seri penuh sukacita. Baginya, itu pertanda bahwa orang berhati baik selalu mendapat keberkahan— seolah langit benar-benar memberinya anugerah.

Kehidupan yang terus dipenuhi gelombang ujian adalah cara semesta menguji ketangguhan sebuah jiwa.

Melalui cobaan demi cobaan, kehidupan seseorang dapat terus dimurnikan, diangkat, dan ditempa hingga bersinar.

Hasil tempaan itulah yang mampu berdiri kokoh dalam semesta, sementara kemewahan dan kejayaan duniawi pada akhirnya akan sirna.

Xiao Zhen menghadapi tantangan hidup dengan keberanian dan ketulusan, menjalani hidup dengan penuh daya hidup.

Dan itulah— berkah terbesar dalam perjalanan hidup seorang manusia.(jhn/yn)

Aset Putra Kedua Khamenei di London Terungkap : Ia Memiliki Properti Senilai Ratusan Juta Poundsterling di Rich Street

EtIndonesia. Petunjuk baru mengenai aset luar negeri yang disembunyikan oleh keluarga Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, kembali terungkap. Aset tersebut diduga dimiliki oleh putra keduanya dan mencakup properti bernilai lebih dari 100 juta pound sterling yang berlokasi di “Jalan Para Miliarder” di London.

Menurut laporan Bloomberg, para penyelidik menemukan sebuah jaringan properti dan aset keuangan yang diyakini terkait dengan Mojtaba Khamenei. Jaringan ini beroperasi melalui perusahaan cangkang dan perantara, serta memiliki 11 properti di Bishops Avenue—yang dijuluki “Jalan Para Miliarder”—dengan nilai total melebihi 100 juta pound sterling (sekitar 137 juta dolar AS). Bishops Avenue terletak di kawasan Hampstead, London utara, yang dikenal sebagai kawasan tempat tinggal para superkaya dan selebritas.

Mojtaba Khamenei, kini berusia 56 tahun, dipandang sebagai salah satu kandidat potensial penerus Ayatollah Ali Khamenei. 

Sejak 2019, ia telah dikenai sanksi Amerika Serikat karena perannya di kantor Khamenei serta dugaan keterkaitannya dengan lembaga keamanan Iran. Selain di Inggris, portofolio properti Mojtaba juga mencakup vila-vila mewah di kawasan elit Dubai, serta properti komersial dan hotel di berbagai negara Eropa. Selain itu, ia juga dilaporkan memiliki rekening bank dan aset keuangan di sejumlah negara.

Seluruh aset tersebut tidak terdaftar atas nama Mojtaba secara langsung, melainkan dimiliki melalui perusahaan cangkang, perwalian, dan pihak ketiga. Skema semacam ini membantu menyamarkan identitas penerima manfaat sebenarnya dan mempersulit pelacakan.

Investigasi lebih lanjut menemukan bahwa jaringan aset ini bergantung pada seorang perantara kunci, yakni bankir Iran Ali Ansari. Ansari telah dijatuhi sanksi oleh Inggris pada Oktober tahun lalu karena diduga menyediakan pembiayaan bagi Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). 

Para penyelidik menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan yang terkait dengan Ansari diduga digunakan untuk membeli, mengelola, dan menahan aset luar negeri yang berkaitan dengan kepentingan Mojtaba. Dana-dana tersebut diyakini dipindahkan melalui transaksi berlapis yang melibatkan Inggris, Uni Emirat Arab, Swiss, serta pusat keuangan lepas pantai.

Para analis menilai bahwa pendapatan negara Iran—termasuk pendapatan minyak—kemungkinan disalurkan ke dalam jaringan ini. Laporan investigasi tersebut menjadi bukti terbaru mengenai akumulasi kekayaan besar keluarga Khamenei. 

Keluarga Khamenei dipandang sebagai salah satu dari empat keluarga paling berpengaruh di Timur Tengah, dan dikabarkan mengendalikan kerajaan bisnis dengan aset lebih dari 300 miliar dolar AS, dengan kepentingan di hampir seluruh sektor industri di Iran.

Setelah pecahnya aksi protes besar-besaran anti-pemerintah di Iran, media Israel pada 14 Januari melaporkan bahwa sejumlah pejabat tinggi Iran—termasuk putra Khamenei—telah mentransfer 1,5 miliar dolar AS ke rekening kustodian di Dubai dalam dua hari terakhir.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada 15 Januari mengatakan kepada media bahwa Amerika Serikat akan melacak aliran dana besar yang dipindahkan pejabat Iran ke luar negeri. Ia menegaskan:

“Tugas Departemen Keuangan adalah melacak aliran dana, baik melalui sistem perbankan maupun aset digital. Kami akan mengejar aset-aset ini—mereka tidak akan bisa terus memilikinya.”

Laporan gabungan oleh Jin Jing / Editor penanggung jawab: Lin Qing

Pengalaman yang Tak Bisa Dibeli dengan Uang

EtIndonesia. Tumbuh dalam keluarga dengan tradisi saling mengalah dan menghargai, setelah kami—para saudara—berumah tangga, masing-masing belajar untuk menerima keadaan, menahan diri, dan diam-diam menopang langit kehidupan kami sendiri.

Ibu pernah berkata dengan nada penuh perasaan: “Anak perempuan semuanya lembut dan berbudi, sementara para menantu perempuan cenderung lebih kuat pendiriannya. Anak-anak laki-laki kebanyakan memilih menyesuaikan diri.”

Bertahun-tahun kemudian, ketika menoleh ke belakang, di antara untung dan rugi, kami menyadari bahwa sebagian besar pilihan yang kami ambil adalah pilihan terbaik.

Suatu musim panas, pengasuh di rumah harus mengambil cuti panjang. Pada suatu siang, ibu mertua saya yang lumpuh mengompol saat tidur. Saya langsung menggendongnya dan mendudukkannya di atas kloset. Saya menarik shower, berniat membersihkannya, namun dia terus-menerus menolak.

Saya segera paham—dia mengira airnya dingin. Saya menyemprotkan air ke lantai di dekat kakinya, memastikan itu air hangat. Barulah dia mengangguk pelan.

Saat itu, saya tersadar: barangkali dia pernah diperlakukan seperti itu sebelumnya—tanpa merasakan kehangatan dan kepedulian.Betapa tak berdayanya seorang lansia. Kesadaran itu menusuk hati saya begitu dalam.

Setelah menidurkannya kembali, saya menangis diam-diam. Entah seberapa besar kepedihan yang dia simpan di dalam hatinya. Sementara itu, kondisi saya sendiri pun tidak mudah— saya sedang sibuk menulis tesis, sekaligus harus merawat bayi kecil.

Belum lagi, suatu ketika suami saya membawa sekelompok keponakan yang datang menjenguk untuk pergi berwisata, lalu meminta saya menyiapkan makan malam untuk semuanya. Saat itu, saya hampir runtuh.

Namun sesungguhnya, posisi suami saya juga tidak ringan. Dia memanfaatkan libur musim panas untuk menulis buku. Siang hari dia bekerja keras di laboratorium penelitian, malam hari pulang ke rumah dan terus menulis. Saat kelelahan, dia rebah di lantai untuk beristirahat. Tengah malam, dia masih harus membantu ibunya ke kamar kecil. Sepanjang musim panas itu, dia hampir tidak pernah tidur di ranjang.

Pemikiran suami saya sangat sederhana: “Kalau harus ada yang tumbang, biarlah satu orang saja.”

Sementara saya sendiri hanya ingin melakukan tugas mengajar dengan sebaik-baiknya. Saya tidak sefanatik suami dalam mengejar dunia akademik.

Akhirnya, saya memilih diam dan menerima peran sebagai “orang yang seharusnya berkorban”.

Namun bertahun-tahun kemudian, ketika merenungkannya kembali, dalam pandangan ajaran Buddha, saya menyadari bahwa ini mungkin adalah pelunasan karma. Dan di saat yang sama, saya menemukan bahwa kelapangan hati saya justru semakin luas. Jika dipikir-pikir, itu ternyata bukan hal buruk—bahkan sebuah anugerah.

Sesungguhnya, ketenteraman batin adalah hal yang paling berharga. Mengapa harus mengerahkan begitu banyak tenaga untuk saling mengukur dan membandingkan— apakah hati benar-benar menjadi lebih lega karenanya?

Sedikit lebih banyak empati, berarti sedikit lebih banyak kebebasan di dalam diri.

Dan pengalaman semacam ini— tak peduli berapa pun harganya, uang tak akan pernah mampu membelinya. Bukankah begitu? (jhn/yn)

Cuma Dapat 20 Yuan Semalam, Kurir Pria Menangis Tersedu-sedu di Jalan

EtIndonesia. Di tengah kelesuan ekonomi Tiongkok dan semakin sulitnya mencari pekerjaan, para pekerja seperti kurir makanan menghadapi penindasan sistemik, sehingga kehidupan mereka semakin berat. 

Baru-baru ini, seorang pria yang diduga bekerja sebagai kurir antar-makanan mendadak mengalami keruntuhan emosional saat berkendara di malam hari, berteriak dan menangis keras—pemandangan yang sungguh menyayat hati.

Dalam video terlihat:  Jalanan malam tampak sepi, hanya lampu jalan yang menemani. Lingkungan sekitar sunyi dan terasa dingin serta kesepian. Seorang pria mengenakan jaket gelap dan rompi reflektif sedang mengendarai sepeda motor. Tiba-tiba ia kehilangan kendali atas emosinya, hampir terisak sambil berteriak keras ke arah kamera:

“Semalaman cuma dapat 20 yuan!
Bisa menghidupi keluarga nggak?
Bisa bayar utang nggak?
Bahkan menghidupi diri sendiri saja tidak bisa—memalukan!”

Setelah itu, ia kembali berteriak keras:

“Ah… ah… ah…”

Ucapan-ucapannya mencerminkan penghinaan terhadap diri sendiri yang mendalam serta keputusasaan terhadap kenyataan hidup. Sepanjang video tidak ada musik latar—hanya terdengar jeritan pria tersebut, suara kendaraan yang melaju, dan sesekali suara angin—menciptakan suasana yang menekan dan sangat nyata.

Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi Tiongkok mengalami kemerosotan tajam. Banyak orang kehilangan pekerjaan dan sulit mendapatkan kerja, sehingga berbondong-bondong masuk ke sektor pengantaran makanan. Namun, mereka justru menghadapi eksploitasi modal dan berbagai kesulitan, dan harus berjuang keras hanya untuk bertahan hidup.

Adegan serupa telah berulang kali muncul di media sosial Tiongkok. Pada bulan November tahun lalu, sebuah video menunjukkan seorang kurir makanan yang tetap mengantar pesanan di tengah angin dan salju. Sambil menyeka salju es dari topinya, ia tak kuasa menahan tangis. Sepeda motor dan tubuhnya dipenuhi salju.

Bahkan dua hari lalu, sebuah video lain beredar di media sosial Tiongkok daratan yang memperlihatkan seorang kurir makanan berulang kali pingsan di pinggir jalan, namun setiap kali sadar, ia segera bangkit dan kembali mengantar pesanan.

Warganet pun menghela napas prihatin:  “Rakyat biasa di Tiongkok benar-benar hidup dengan sangat sulit. Begitu memilukan hingga membuat orang meneteskan air mata.” (Hui)

Editor: Lin Qing

Iran Kirim Sinyal Damai, Israel Membaca Tanda Bahaya: Diplomasi di Bawah Bayang-bayang Serangan

EtIndonesia. Ketegangan panjang antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase baru pada 2 Februari 2026, ketika Teheran secara terbuka mengirimkan sinyal kompromi yang jarang terjadi. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, Iran menyatakan kesediaannya kembali ke meja perundingan nuklir tanpa prasyarat, bahkan membuka kemungkinan skema nol pengayaan uranium, sebuah posisi yang selama ini menjadi tuntutan utama Washington.

Iran Siap Serahkan Uranium Tingkat Tinggi

Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada hari yang sama, Kementerian Luar Negeri Iran mengungkapkan bahwa Teheran tengah mempertimbangkan untuk menyerahkan sekitar 400 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan tinggi di bawah mekanisme pengawasan internasional. Langkah ini dinilai oleh para pengamat sebagai sikap paling mendekati tuntutan Amerika Serikat sejak kesepakatan nuklir lama runtuh.

Iran menyatakan bahwa langkah tersebut bertujuan membuka kembali jalur diplomasi dengan harapan sanksi internasional dapat dicabut, yang selama ini menekan ekonomi nasional dan memperburuk kondisi domestik.

Namun demikian, Teheran tetap mengajukan satu syarat penting: Amerika Serikat diminta menarik pasukan militernya yang berada di luar kawasan sekitar Iran sebelum perundingan resmi dimulai. Permintaan ini menunjukkan bahwa meskipun Iran melunak dalam isu nuklir, aspek keamanan regional tetap menjadi garis merah bagi Teheran.

Tiga Tuntutan Keras Washington

Di sisi lain, Presiden Donald Trump menegaskan kembali sikap keras Washington. Dia mendesak Iran untuk segera kembali ke perundingan nuklir dengan tiga prasyarat utama:

  1. Nol pengayaan uranium,
  2. Pembatasan ketat program rudal balistik Iran,
  3. Penghentian dukungan terhadap kelompok proksi bersenjata di kawasan Timur Tengah.

Sumber internal yang dikutip media internasional menyebutkan bahwa di dalam struktur kekuasaan Teheran berkembang pandangan bahwa program rudal balistik justru memiliki nilai tawar strategis lebih besar dibandingkan isu pengayaan uranium. Hal ini membuat negosiasi diperkirakan akan berlangsung alot dan sarat tarik-ulur kepentingan.

Pertemuan Rahasia Diatur di Ankara

Menurut laporan Axios, Amerika Serikat dan Iran, dengan mediasi Turki, Qatar, dan Mesir, tengah mengatur pertemuan tatap muka langsung dalam waktu dekat. Pertemuan tersebut direncanakan berlangsung di Ankara, Turki, dan diperkirakan akan mempertemukan utusan khusus Gedung Putih, Witkoff, dengan pejabat senior Iran.

Seorang pejabat yang mengetahui proses tersebut menyebutkan bahwa pembicaraan ini “sedang bergerak maju”, meskipun masih berada pada tahap awal dan penuh ketidakpastian.

Iran Akui Kehilangan Kepercayaan pada AS

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara eksklusif dengan CNN pada 2 Februari, mengonfirmasi bahwa peluang perundingan ulang masih terbuka. Dia menyatakan bahwa jika Amerika Serikat bersedia mematuhi prinsip kesepakatan nuklir yang adil, sebagaimana kerangka yang pernah diajukan Trump, maka dialog masih mungkin dilanjutkan.

Namun Araghchi juga secara terbuka mengakui bahwa Iran telah kehilangan kepercayaan terhadap Amerika Serikat, akibat pengalaman kegagalan kesepakatan sebelumnya dan perubahan kebijakan sepihak Washington.

Israel Tingkatkan Kewaspadaan Militer

Sementara jalur diplomasi kembali dibuka, Israel justru meningkatkan kewaspadaan militernya. Laporan The Times of Israel menyebutkan bahwa pimpinan militer Israel menilai kemungkinan aksi militer Amerika Serikat terhadap Iran kini lebih tinggi dibandingkan sepekan sebelumnya.

Mantan Kepala Intelijen Militer Israel, Amos Yadlin, memperingatkan agar komunitas internasional tidak meremehkan sifat ideologis dan tak terduga dari rezim Iran. Dia juga menilai bahwa sinyal negosiasi yang dilepaskan Washington bisa jadi merupakan bagian dari strategi pengelabuan sebelum langkah militer diambil.

Rafah Dibuka Kembali, Gaza Masuk Tahap Awal Gencatan Senjata

Masih pada 2 Februari 2026, Israel mengambil langkah signifikan di front lain dengan membuka kembali penyeberangan Rafah—satu-satunya jalur darat yang menghubungkan Gaza dengan Mesir. Penyeberangan ini sebelumnya ditutup hampir total selama sebagian besar masa perang, memutus akses keluar-masuk bagi lebih dari dua juta penduduk Gaza.

Pembukaan Rafah disebut sebagai langkah kunci tahap awal kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat. Pada hari pertama, diperkirakan sekitar 50 orang akan memasuki Gaza, dengan pengamanan dan pemeriksaan ketat oleh otoritas Israel.

Dalam tahap lanjutan kesepakatan tersebut, Hamas akan diminta melucuti senjata, sementara proses rekonstruksi Gaza direncanakan berada di bawah kendali lembaga internasional yang didukung komunitas global.

Persimpangan Diplomasi dan Risiko Perang

Serangkaian perkembangan ini menunjukkan bahwa kawasan Timur Tengah kini berada di persimpangan kritis antara diplomasi dan konfrontasi militer. Di satu sisi, Iran mengirim sinyal kompromi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di sisi lain, Amerika Serikat dan Israel tetap mempersiapkan berbagai skenario, termasuk opsi militer.

Apakah langkah Iran menandai awal deeskalasi nyata, atau sekadar jeda strategis sebelum krisis yang lebih besar, masih menjadi pertanyaan terbuka yang akan ditentukan dalam beberapa pekan ke depan.

Kamboja Bersihkan Kamp Scam Online, Ribuan Warga Tiongkok Ditangkap 

EtIndonesia. Pada 31 Januari, polisi Kamboja melancarkan operasi penegakan hukum berskala besar di sebuah kawasan penipuan telekomunikasi (scam online), dan menangkap lebih dari 2.000 warga negara asing, termasuk lebih dari 1.700 warga Tiongkok.

Menurut laporan Cambodia–China Times, pada pagi hari itu polisi Kamboja menggelar operasi besar-besaran di sebuah kamp penipuan online di Kota Bavet, Provinsi Svay Rieng. Dalam operasi tersebut, sekitar 2.044 orang asing yang terlibat ditangkap, termasuk 78 perempuan.

Di antara para warga asing yang ditahan terdapat:

  • 1.792 warga Tiongkok
  • 5 warga Taiwan
  • 177 warga Vietnam
  • 179 warga Myanmar
  • 30 warga Nepal
  • 1 warga Malaysia
  • 2 warga Laos
  • 36 warga India
  • 1 warga Meksiko

Operasi ini merupakan aksi pembersihan kamp penipuan terbesar yang dilakukan Kamboja dalam waktu dekat. Dilaporkan bahwa kawasan penipuan tersebut beroperasi dengan kedok kasino, memiliki 22 bangunan, dan telah lama digunakan untuk kegiatan ilegal.

Selain Provinsi Svay Rieng, beberapa wilayah lain seperti Provinsi Sihanoukville juga secara bersamaan melaksanakan operasi penindakan terhadap kamp-kamp penipuan online.

Sejak pertengahan Januari tahun ini, seiring dengan meningkatnya upaya pemerintah Kamboja dalam memberantas kejahatan penipuan online, banyak kamp penipuan dipindahkan atau dibubarkan. Akibatnya, sejumlah besar warga Tiongkok yang sebelumnya ditipu dan dipaksa bekerja di kamp-kamp tersebut berhasil melarikan diri dan mendatangi Kedutaan Besar Tiongkok di Phnom Penh untuk meminta bantuan.

Video yang beredar di internet menunjukkan banyak warga Tiongkok bertahan di luar gedung kedutaan, bahkan tidur di pinggir jalan pada malam hari, sehingga menarik perhatian media internasional. Namun, dilaporkan bahwa para warga Tiongkok yang sebelumnya menunggu di luar kedutaan tersebut kini telah dipindahkan seluruhnya.

Menurut media Kamboja, sekitar 500 warga Tiongkok yang keluar dari kamp penipuan online ditempatkan di sebuah lokasi penanganan sementara, berupa gudang besar yang telah dialihfungsikan di dekat bandara lama Phnom Penh.

Namun, banyak warganet menyatakan kekhawatiran atas keselamatan mereka, dengan komentar seperti:

“Sudah berhasil kabur dari kamp, tapi masih berani mendatangi Kedutaan Besar Tiongkok? Apakah mereka tidak tahu bahwa pemilik di balik kamp-kamp itu adalah pemerintah PKT?”

“Ditahan oleh PKT di gudang—jangan-jangan nanti malah dijual lagi ke pusat penipuan.”

Laporan gabungan oleh reporter Luo Tingting / Editor Wen Hui

Jendela

EtIndonesia. Dalam kehidupan, setiap dari kita akan berjumpa dengan bermacam-macam jendela. Ada jendela kayu berukir khas tradisional, ada pula jendela kaca aluminium bergaya modern. Rumah memiliki jendela, mobil memiliki jendela, pesawat memiliki jendela kecil di sisi badan. Ada jendela yang penuh ornamen, ada yang sederhana. Ada jendela besar dan jendela kecil. Ada jendela terang, ada pula jendela yang redup dan sunyi.

Saat membeli tiket, ada loket jendela pelayanan. Saat mengurus keperluan, ada jendela layanan publik.

Rumah tempat kita tinggal tak pernah lepas dari jendela— di depan dan di belakang, di selatan dan di utara, di timur dan di barat, bahkan ada jendela atap di atas dan jendela tanah di bawah.

Begitu pula hidup kita hari ini, selalu dikelilingi jendela. Layar ponsel dan komputer adalah jendela kita melihat dunia.  Buku adalah jendela yang memperluas pemahaman kita tentang kehidupan.

Langit adalah jendela kita mengenal semesta. Bumi adalah jendela kita memahami segala makhluk. Jendela adalah sepotong langit, tempat awan berarak perlahan; jendela juga sepetak bumi, tempat rerumputan tumbuh sunyi.

“Jendela memuat salju abadi Pegunungan Barat, di depan pintu berlabuh kapal dari Wu Timur sejauh ribuan li.” Itulah jendela dalam puisi.

“Dari mana engkau datang, wahai sahabatku? Seperti seekor kupu-kupu yang terbang masuk ke jendelaku.” Itulah jendela dalam imajinasi penyair.

“Di jendela berhias esok hari, apakah bunga prem musim dingin telah mekar?” Itulah jendela musim.

Pada hari cerah, kita membuka jendela menyambut cahaya pagi. Pada hari hujan, kita menutup jendela, mendengarkan tetes hujan mengetuk sunyi. Pada hari bersalju, kita menikmati kepingan putih berjatuhan, menyaksikan setangkai prem dingin tetap mekar dengan anggun.

Berdiri di depan jendela, kita bisa menikmati pemandangan, atau meluapkan perasaan.

“Di sisi jendela sunyi, lampu dipadamkan menjelang fajar, memeluk bayangan sendiri, tak mampu terlelap.” Itu jendela insomnia.

“Semalam penuh rindu bermimpi di depan jendela, sayang jarak terbentang, air dan langit memisahkan.” Itu jendela kerinduan.

“Tirai belum tersingkap, baru terjaga dari tidur, sendiri menatap dedaunan tertiup angin.” Itu jendela kesepian.

“Jangan bilang tak menyayat hati, tirai tersingkap angin barat, tubuh lebih kurus dari bunga krisan.” Itu jendela kepedihan.

“Jangan buka tirai, takut melihat bunga beterbangan, takut mendengar burung cuckoo meratap.” Itu jendela duka musim semi.

“Tirai bersulam terbuka, bulan mengintip lembut, orang belum tidur, bersandar pada bantal, rambut dan hiasan berserakan.” Itu jendela keindahan musim panas.

“Anggur hijau baru dicicipi, mudah memabukkan, bersandar di jendela kecil, tidur lelap penuh rasa.” Itu jendela kegelisahan senja musim gugur.

“Paling menawan, tirai kecil berkilau perak, digantung di dingin musim gugur, membawa harapan.” Itu jendela cahaya.

“Di luar jendela, cahaya bulan membeku seperti embun, mendengar lantunan ‘Bunga Prem’ hingga habis.” Itu jendela kepedihan yang sulit terurai.

Ruang memiliki jendela, waktu pun memiliki jendela. Peluncuran satelit dan wahana antariksa pun harus menunggu jendela waktu yang tepat.

Musim semi adalah jendela kelahiran.
Musim panas adalah jendela pertumbuhan.
Musim gugur adalah jendela panen.
Musim dingin adalah jendela penyimpanan.

Masa muda adalah jendela belajar dan menempa diri. Usia dewasa adalah jendela bekerja keras dan berjuang. Usia lanjut adalah jendela berbagi pengalaman dan memberi cahaya sisa kehidupan.

Kita tidak boleh sembarangan membuka jendela, hingga keliru urutan waktu.
Saat belajar, jangan membuka jendela asmara terlalu dini.
Saat bekerja, jangan membuka jendela kemalasan.
Saat mencinta, jangan membuka jendela ketidaksetiaan.
Saat membangun rumah tangga, jangan membuka jendela orang ketiga.

Jendela adalah sepasang mata yang jernih, dan juga sebuah hati yang indah.

Terhadap penyimpangan sosial, jangan menutup jendela pengawasan.
Terhadap kerusakan lingkungan, jangan menutup jendela kepedulian.
Terhadap orang tua, jangan menutup jendela bakti.
Terhadap saudara, jangan menutup jendela kasih dan persaudaraan.
Terhadap anak, jangan menutup jendela cinta.
Terhadap pasangan, jangan menutup jendela kasih sayang.
Terhadap orang bijak dan tua, jangan menutup jendela hormat.

Sebagai manusia, jangan menutup jendela kejujuran. Dalam berbuat, jangan menutup jendela nurani.

Namun, jendela bukan semakin banyak semakin baik. Terhadap urusan sekitar, tutuplah jendela “bukan urusanku”. Terhadap dunia, tutuplah jendela “bersikap acuh”.

Perbesarlah jendela kebahagiaan, perkecil jendela nama dan keuntungan. Bentangkan jendela kegembiraan hingga penuh layar, sembunyikan jendela keluh kesah dan keresahan. Tutuplah jendela yang tak perlu, singkirkan jendela yang tak berguna.

Setiap orang perlu menemukan jendela yang paling sesuai bagi dirinya.

Seperti kata bijak: “Ketika Tuhan menutup satu pintu, Dia pasti membuka jendela yang lain.”

Dan sungguh, kata-kata itu benar adanya.(jhn/yn)

Trump Menanggapi Pembersihan Militer Partai Komunis Tiongkok : Tiongkok Hanya Memiliki Seorang Pemimpin

EtIndonesia. Putaran terbaru pembersihan besar-besaran di tubuh militer Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang dilancarkan oleh pemimpin PKT Xi Jinping—termasuk terhadap Zhang Youxia—telah menarik perhatian luas dunia internasional. Setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa Washington sedang mencermati perkembangan tersebut, Presiden AS Donald Trump juga menyampaikan pandangannya secara terbuka dalam wawancara dengan wartawan di atas Air Force One.

Di dalam Air Force One, seorang wartawan bertanya kepada Trump: seminggu lalu terjadi pembersihan militer di negara tersebut, “Apa pandangan Anda tentang hal ini?”

Trump menjawab:  “Yang Anda maksud Tiongkok? Menurut saya, di Tiongkok hanya ada satu bos, yaitu Ketua Xi. Dialah satu-satunya orang yang saya ajak berurusan.”

Wartawan kemudian menanyakan apakah Trump memiliki kekhawatiran terkait stabilitas politik maupun isu Taiwan.

Trump kembali menegaskan bahwa menurutnya Xi Jinping adalah pemimpin tertinggi, dan ia terus memantau perkembangan tersebut (termasuk situasi Selat Taiwan).

Sebelumnya, ketika ditanya apakah Xi Jinping mungkin akan menyerang Taiwan, Trump mengisyaratkan bahwa selama dirinya masih menjabat, pemimpin PKT itu tidak akan berani mengambil tindakan tersebut.

CNN tahun lalu pernah menyiarkan rekaman pidato Trump dalam sebuah acara penggalangan dana, yang menunjukkan bahwa Trump secara pribadi pernah memperingatkan Xi Jinping: jika PKT berani menginvasi Taiwan, ia akan memerintahkan untuk “membombardir Beijing.”

Terkait kejatuhan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat PKT, Zhang Youxia, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Rabu lalu, saat menghadiri sidang dengar pendapat Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS, mengatakan:  “Ini adalah masalah internal dalam sistem mereka. Jelas mereka tidak berbagi atau membahas secara mendalam isu-isu ini dengan kami, tetapi kami tentu akan terus memantau situasinya dengan saksama.”

Reuters sebelumnya mengutip pernyataan mantan pejabat AS dan para analis yang menyebutkan bahwa dengan tumbangnya Zhang Youxia—jenderal tertinggi PKT—Amerika Serikat telah kehilangan penghubung penting dengan pucuk pimpinan militer Beijing. Kini, yang dihadapi AS adalah militer PKT yang semakin kurang stabil dan kekurangan komandan berpengalaman.

Drew Thompson, yang pernah menerima kunjungan Zhang Youxia ke AS saat menjabat sebagai pejabat Departemen Pertahanan AS, menulis bahwa Zhang adalah satu-satunya perwira aktif militer PKT yang mampu memberikan penilaian objektif kepada Xi Jinping mengenai kekuatan dan kelemahan militer Tiongkok serta biaya nyata dari sebuah perang.

“Xi Jinping menghadapi risiko disesatkan oleh para penjilat yang hanya mengatakan apa yang ingin ia dengar, dan hal ini dapat meningkatkan risiko salah perhitungan,” kata Drew. 

Para akademisi di Taiwan juga menilai bahwa karena tidak jelas siapa yang akan menjadi penasihat militer utama Xi Jinping ke depan, pembersihan di tingkat elite PKT telah mendorong kebijakan militer Beijing terhadap Taiwan ke dalam kondisi yang sangat tidak pasti. (Hui)

(Editor Penanggung Jawab: Lin Qing)

Di Luar Tantang Dolar, di Dalam Bersih-bersih: Membaca Strategi Berbahaya Xi Jinping

EtIndonesia. Saat dunia internasional tengah memusatkan perhatian pada upaya Donald Trump untuk “mengembalikan kejayaan Amerika Serikat”, kepemimpinan Tiongkok justru melontarkan langkah strategis yang mengejutkan. Dari jantung kekuasaan Zhongnanhai, sinyal konfrontasi ekonomi global kembali dilepaskan.

Pernyataan Xi Jinping yang Mengguncang Pasar Global

Pada 1 Februari, majalah corong utama Partai Komunis Tiongkok, Qiushi, menerbitkan artikel bertanda tangan langsung Xi Jinping. Dalam tulisan tersebut, Xi secara terbuka menyatakan bahwa yuan Tiongkok seharusnya menjadi mata uang cadangan global—sebuah pernyataan yang jarang dan sarat implikasi geopolitik.

Media keuangan internasional seperti Financial Times dan Bloomberg segera menafsirkan pernyataan itu sebagai deklarasi langsung tantangan Beijing terhadap dominasi dolar Amerika Serikat.

Garis Merah Trump: Ancaman Tarif dan Tekanan BRICS

Namun langkah ini dinilai berisiko tinggi. Sepanjang tahun lalu, Donald Trump berulang kali memperingatkan negara-negara BRICS bahwa setiap upaya menggoyang posisi dolar akan dibalas dengan kenaikan tarif besar-besaran. Sikap keras ini sebelumnya membuat Beijing—termasuk Xi Jinping—menahan diri dari retorika de-dolarisasi.

Fakta fundamental juga memperlemah ambisi tersebut: yuan belum dapat dikonversi secara bebas, dan di luar negara-negara yang dikenai sanksi Barat seperti Rusia dan Iran, hampir tidak ada ekonomi utama yang benar-benar berminat menjadikan yuan sebagai mata uang cadangan. Karena itu, gagasan “menggantikan dolar” selama ini kerap dianggap sekadar ambisi politis tanpa fondasi finansial yang kuat.

Mengapa Xi Berbicara Lantang Sekarang?

Pertanyaan besar pun muncul: mengapa Xi Jinping memilih momen ini untuk melontarkan pernyataan sekeras itu?

Sebagian pengamat berspekulasi bahwa kunjungan sejumlah pemimpin G7 ke Beijing telah memunculkan kembali rasa percaya diri berlebihan di kalangan elite PKT. Ada pula suara yang secara implisit menantang Washington: apakah ini saatnya Trump “memberi pelajaran” kepada Xi?

Namun di balik retorika luar negeri yang agresif, kondisi internal Partai Komunis Tiongkok justru tampak rapuh.

Guncangan Internal: Orang-orang Dekat Xi Berguguran

Komentator politik Cai Shenkun mengungkap bahwa pada 29 Januari, mantan Sekretaris Partai Provinsi Jilin, Jing Junhai, telah ditangkap.

Pengamat politik Chen Pokong menilai kasus ini sangat sensitif. Jing disebut sebagai tokoh yang memiliki kedekatan dengan keluarga Xi, bahkan pernah membangun makam raksasa untuk ayah Xi, Xi Zhongxun, dengan skala yang dikabarkan melampaui Makam Ming Xiaoling dan Sun Yat-sen.

Tak berhenti di situ, pekan sebelumnya dua pejabat tinggi lainnya juga tumbang:

  • Sun Shaocheng, Sekretaris Partai Mongolia Dalam, yang berasal dari “faksi Shandong”.
  • Wang Xiangxi, Menteri Manajemen Darurat, pejabat yang dipromosikan langsung oleh Xi Jinping.

Secara resmi, kementerian ini menangani bencana alam. Namun secara internal, lembaga tersebut juga bertanggung jawab atas rencana darurat elite PKT, termasuk skenario evakuasi dan pemindahan aset jika terjadi krisis rezim.

Artinya, tiga tokoh yang tumbang tersebut justru berasal dari kubu Xi sendiri.

Setelah Zhang Youxia, Mengapa Xi Tak Bisa Melindungi Kubu Sendiri?

Pertanyaan kian menguat setelah sebelumnya Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat, juga dilaporkan ditangkap. Chen Pokong mengajukan dua kemungkinan utama:

  1. Kekuatan anti-Xi di dalam partai masih sangat besar, sehingga Xi tidak sepenuhnya mengendalikan situasi.
  2. Xi sengaja mengorbankan pion untuk menyelamatkan raja, merelakan orang-orang dekatnya diselidiki demi meredam kemarahan internal dan membeli waktu politik.

Bocoran Kekayaan Keluarga Xi dan Rantai Energi

Di tengah situasi genting ini, akun X “Xingaodi No.1” mempublikasikan bocoran yang langsung viral di komunitas Tionghoa luar negeri. Disebutkan bahwa Qi Qiaoqiao, kakak perempuan Xi Jinping, memonopoli impor minyak murah dari Venezuela dan Iran—dibeli sekitar 20 dolar per barel dan dijual kembali ke Sinopec seharga 40–60 dolar per barel.

Keuntungan bersih yang diklaim mencapai 400 miliar yuan per tahun. Bahkan, menurut sumber tersebut, jika seluruh jaringan bisnis keluarga Xi dihitung, total kekayaannya jauh melampaui angka itu.

Jika bocoran ini akurat, maka setiap langkah Trump memukul rantai energi PKT juga berarti langsung mengancam sumber kekayaan keluarga Xi.

Persiapan Perang? Pembersihan “Pejabat Telanjang”

Analisis terbaru dari Jamestown Foundation menambah lapisan kekhawatiran. Lembaga ini menilai bahwa pembersihan terhadap “pejabat telanjang” (pejabat yang keluarga dan asetnya berada di luar negeri) telah memasuki tahap ketiga—dari pembatasan jabatan sensitif menjadi pembersihan total.

Kini, pejabat setingkat wakil menteri ke atas dipaksa memilih: keluarga pulang ke Tiongkok, atau mengundurkan diri—tanpa kompromi.

Jamestown menilai langkah ini sebagai pola khas persiapan menjelang konflik besar, dengan pelajaran dari Rusia: sanksi Barat sangat mematikan karena keluarga dan aset elite Rusia bergantung pada Barat. Beijing tampaknya berusaha menutup celah serupa, terutama jika terjadi krisis Taiwan atau konflik besar lainnya.

Kesimpulan: Serangan ke Luar, Krisis ke Dalam

Langkah Xi Jinping kini tampak kontradiktif:

  • Di dalam negeri, ia “memotong tangan dan kaki sendiri” dengan membersihkan orang-orang dekat.
  • Di luar negeri, dia justru menantang garis merah Donald Trump dan dominasi dolar AS.

Apakah ini tanda hilangnya kendali, strategi bertahan hidup politik, atau sekadar suntikan moral untuk konsumsi domestik?

Tiga kemungkinan pun mengemuka:

  • A. Xi Jinping benar-benar serius menantang dolar AS
  • B. Xi memanfaatkan momen diplomatik untuk memperkuat blok Tiongkok–Rusia–Korea Utara
  • C. Tekanan internal terlalu besar, sehingga pernyataan ini ditujukan ke dalam negeri sebagai “suntikan semangat”

Apa pun jawabannya, satu hal jelas: ketika sebuah negara raksasa menghadapi krisis internal dan eksternal secara bersamaan, dunia pun ikut berada dalam ketidakpastian besar.

Ketegangan Meningkat di Timur Tengah! Kapal Perang AS Memasuki Laut Merah Hingga Latihan Militer Iran 

EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat. Pada Minggu lalu (1 Februari), sebuah kapal perusak Angkatan Laut AS berlayar memasuki Laut Merah. Pada saat yang sama, Iran sejak Minggu lalu menggelar latihan militer dengan amunisi sungguhan di kawasan strategis Selat Hormuz.

Saat ini, Angkatan Laut AS menempatkan 10 kapal perang di kawasan Timur Tengah, termasuk enam kapal perusak, satu kapal induk, dan tiga kapal tempur pesisir. Pada Minggu lalu, sebuah kapal perusak yang sebelumnya bersandar di Pelabuhan Eilat, Israel, berlayar memasuki Laut Merah.

Pihak Israel menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari kerja sama militer berkelanjutan antara Amerika Serikat dan Israel.

Amerika Serikat terus memperkuat pengerahan kekuatan lautnya di Timur Tengah. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump berulang kali memperingatkan Iran bahwa jika Teheran tidak menyetujui kesepakatan nuklir atau tidak menghentikan pembunuhan terhadap   para pengunjuk rasa, Amerika Serikat akan melakukan intervensi militer.

Pada Sabtu malam (31 Januari), saat dalam perjalanan menuju Florida, Trump menolak menjelaskan kepada wartawan apakah ia telah mengambil keputusan terkait Iran.para demonstran, maka Amerika Serikat akan melakukan intervensi militer.

“Artinya, tentu saja saya tidak bisa memberitahu Anda. Namun seperti yang Anda ketahui, kami memang memiliki kapal-kapal yang sangat kuat dan berskala besar yang sedang bergerak ke arah sana. Saya tidak bisa mengatakannya, Anda tahu itu. Tetapi saya berharap mereka dapat merundingkan sebuah solusi yang bisa diterima oleh kedua belah pihak,” katanya. 

Pada hari yang sama, pejabat keamanan senior Iran Ali Larijani menyatakan bahwa pihaknya sedang mendorong penyusunan kerangka perundingan dengan Amerika Serikat.

Namun hingga kini, tidak ada tanda-tanda terbuka bahwa Iran dan Amerika Serikat melakukan dialog langsung. Pemimpin Tertinggi Iran yang berusia 86 tahun, Ayatollah Ali Khamenei, juga berulang kali menutup kemungkinan tersebut.

Menghadapi mendekatnya kelompok tempur kapal induk USS Lincoln, Iran mengumumkan bahwa mulai Minggu (1 Februari), mereka menggelar latihan militer dengan peluru tajam selama dua hari di kawasan strategis Selat Hormuz.

Khamenei juga mengeluarkan peringatan keras bahwa jika Amerika Serikat melancarkan aksi militer, hal itu akan memicu “perang regional berskala penuh.”

Pada saat yang sama, Khamenei untuk pertama kalinya melabeli demonstrasi anti-pemerintah di dalam negeri sebagai “kudeta.” Langkah ini memicu kekhawatiran luas bahwa pihak berwenang akan menggunakan dalih tersebut untuk melakukan eksekusi massal terhadap puluhan ribu orang yang telah ditangkap.

Mengingat Presiden Trump sebelumnya secara tegas menyatakan bahwa “eksekusi massal” adalah garis merah yang dapat memicu aksi militer AS, langkah Iran ini dipandang sebagai uji coba berbahaya di ambang perang.

Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television: Yan Feng dan Wang Yanqiao

Leverage Spekulatif Meniup Gelembung, Harga Emas–Perak Anjlok Tajam

Baru-baru ini harga emas dan perak global mengalami kejatuhan tajam secara mendadak. Harga emas turun sekitar 80 dolar AS, sementara perak anjlok sekitar 35 dolar AS, keduanya mencatat penurunan harian terbesar dalam sejarah. Banyak spekulan yang sebelumnya bertaruh bahwa harga emas dan perak akan terus melonjak langsung terkejut dan merugi besar; bahkan para analis keuangan pun tak lagi bisa “tenang”, ramai-ramai mengeluarkan analisis dan peringatan.

EtIndonesia. Sekitar pukul 03.00 dini hari waktu Beijing pada 31 Januari 2026, harga perak lebih dulu mengalami “flash crash”, jatuh lurus dari level tinggi 110 dolar AS per ons hingga menyentuh titik terendah 75,38 dolar AS, dengan penurunan mencapai 34,67%. 

Tak lama kemudian, emas yang dijuluki “raja aset lindung nilai” ikut runtuh. Harga emas merosot dari kisaran 5.500 dolar AS per ons hingga kembali ke 4.709 dolar AS, turun lebih dari 12%. Penurunan harian emas dan perak sama-sama mencetak rekor terburuk sepanjang sejarah.

Badai ini datang begitu tiba-tiba tanpa tanda-tanda sebelumnya. Bahkan ada investor Tiongkok yang baru saja memamerkan di media sosial, “harga perak tembus 100, untung lagi”, namun hanya beberapa jam kemudian langsung kena margin call dan bangkrut, bukan hanya kehilangan seluruh modal, tetapi juga terlilit utang besar akibat penggunaan leverage.

Kalangan industri keuangan secara umum menilai bahwa pencalonan Kevin Warsh—mantan gubernur Federal Reserve—oleh Presiden AS Donald Trump sebagai Ketua The Fed berikutnya, menjadi pemicu langsung kejatuhan harga emas dan perak kali ini.

Kevin Warsh dikenal luas di dunia keuangan sebagai tokoh “hawkish”, yang kerap secara terbuka mengkritik kebijakan pelonggaran moneter berlebihan The Fed. Karena itu, pencalonannya sebagai Ketua The Fed merupakan pukulan telak bagi ekspektasi pasar sebelumnya yang memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga dan membiarkan dolar AS terus melemah.

Akibatnya, setelah kabar pencalonan Kevin Warsh diumumkan, indeks dolar AS langsung menguat tajam di pasar Eropa dan Amerika, sementara harga emas dan perak—yang dihitung dalam dolar AS—langsung mengalami kejatuhan seperti longsoran salju.

Selain itu, konsensus lain di kalangan pelaku pasar menyebutkan bahwa sentimen spekulatif di pasar logam mulia sepanjang Januari tahun ini sangat berlebihan. Aktivitas spekulasi dengan leverage telah mendorong harga emas dan perak jauh menyimpang dari fundamentalnya, sehingga ketika koreksi terjadi, dampaknya menjadi sangat brutal.

Akun media keuangan Tiongkok “Jinshi Xianweijing” (Mikroskop Pasar Emas) pada 31 Januari menulis komentar bahwa kejatuhan harga emas dan perak kali ini bukan sekadar penyesuaian ekspektasi, melainkan keruntuhan total strategi perdagangan yang dibangun di atas dua logika inti: “kebijakan moneter longgar” dan “pelemahan dolar AS”. 

Setelah perubahan ekspektasi kebijakan memicu sumbu ledakan, tumpukan leverage yang menggunung dan likuiditas pasar yang sangat rapuh membuat ledakan ini menjadi sangat menghancurkan.

Artikel tersebut menganalisis bahwa sebelum kejatuhan, pasar logam mulia telah memasuki fase spekulasi yang sangat ekstrem. Sejumlah besar investor ritel dan institusi berbondong-bondong masuk ke pasar melalui kontrak berjangka, opsi, dan berbagai produk derivatif dengan leverage tinggi. Akibatnya, indeks kekuatan relatif (RSI) emas dan perak sempat menembus level 90, yang merupakan sinyal “overbought ekstrem tingkat buku teks.”

Menjelang kejatuhan harga, Bursa Perdagangan Chicago (CME) menaikkan persyaratan margin untuk kontrak berjangka perak, yang menjadi jerami terakhir bagi banyak trader berleverage tinggi. 

Ditambah lagi, peristiwa ini terjadi tepat pada waktu pasar London sudah tutup dan pasar Asia baru mulai aktif, yaitu periode dengan likuiditas paling tipis. Setelah level harga kunci ditembus, sistem perdagangan algoritmik otomatis memicu gelombang besar perintah jual, melipatgandakan besarnya penurunan dalam waktu singkat dan membentuk “spiral kematian” klasik di pasar.

Artikel tersebut juga menegaskan bahwa logika jangka panjang yang mendorong kenaikan emas dan perak—seperti pembelian emas oleh bank sentral berbagai negara serta risiko geopolitik—sebenarnya belum berubah. Namun, ketika media sosial dipenuhi narasi fanatik seperti “menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah” dan investor ritel beramai-ramai “naik kereta”, pasar sejatinya sudah sarat dengan gelembung spekulatif yang ditiup oleh leverage dan algoritma.

Di bagian akhir, artikel itu mempertanyakan: ketika atribut finansial emas dan perak dipermainkan dan dieksploitasi oleh modal hingga sedemikian ekstrem, seberapa jauh nilai asli mereka sebagai “aset nilai lindung” masih mampu menopang harga? Saat ekspektasi likuiditas kembali berbalik dan arus modal besar datang lagi, apakah yang dilihat orang awam adalah peluang—atau jebakan lain yang telah dirancang dengan cermat?

Laporan komprehensif oleh reporter He Yating / Editor PLin Qing 

Konvoi Tank, Rudal, dan Pasukan Bersenjata Menutup Jalan: Tiongkok Menuju Krisis Kekuasaan Terbesar?

EtIndonesia. Sembilan hari telah berlalu sejak otoritas Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengumumkan kasus yang menimpa Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC). Namun alih-alih mereda, situasi justru berkembang ke arah yang semakin tidak biasa.

Dalam kurun waktu sembilan hari terakhir, ruang publik Tiongkok—baik di media sosial domestik maupun platform luar negeri—dibanjiri berbagai rumor, spekulasi, dan analisis. Di antara semua itu, terdapat satu fenomena yang hampir disepakati oleh banyak pengamat: pergerakan pasukan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) secara serempak dan berskala besar di berbagai wilayah Tiongkok.

Pergerakan Militer Terekam di Banyak Provinsi

Berdasarkan puluhan video dan rekaman lapangan yang beredar luas di internet sejak akhir Januari hingga awal Februari 2026, terlihat aktivitas militer yang tidak lazim di sejumlah provinsi dan kota besar.

Di wilayah Yixing (Provinsi Jiangsu), Xuzhou, dan Taizhou, terekam iring-iringan kendaraan yang diduga kuat merupakan peluncur rudal, tank, serta kendaraan lapis baja, bergerak melalui jalan tol utama dengan arah dominan menuju utara.

Sementara itu, di wilayah selatan dan timur Tiongkok—termasuk Guangdong, Fujian, Anhui, Shandong, Mongolia Dalam, Tianjin, serta kawasan Changping, Beijing—terlihat aktivitas intensif kendaraan militer yang ditutup terpal kamuflase, kendaraan pengangkut pasukan, kendaraan teknik militer, hingga helikopter tempur yang terbang rendah.

Beberapa rekaman bahkan menunjukkan tentara bersenjata lengkap turun langsung ke jalan, disertai pengumpulan pasukan sementara pada malam hari serta penutupan ruas-ruas jalan tertentu—langkah yang umumnya hanya dilakukan dalam kondisi keamanan tingkat tinggi.

Konvoi Besar di Guangxi Dini Hari 2 Februari

Pada dini hari 2 Februari 2026, sebuah video yang direkam oleh warganet di Pingnan, Guangxi memperlihatkan iring-iringan panjang truk militer melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya, menambah kekhawatiran publik akan adanya operasi berskala nasional.

Data terbuka menunjukkan bahwa Guangxi merupakan basis utama Angkatan Darat Grup ke-74 dan ke-75, yang berada di bawah Komando Wilayah Selatan PLA—salah satu komando paling strategis dalam struktur militer Tiongkok.

Pertanyaan Kritis: Siapa yang Memberi Perintah?

Rangkaian mobilisasi lintas wilayah ini memunculkan pertanyaan mendasar di kalangan analis militer dan politik:

Bagaimana mungkin mobilisasi militer berskala besar dapat terjadi, sementara hingga kini tidak ada satu pun komando wilayah atau matra militer yang secara terbuka menyatakan dukungan kepada Xi Jinping?

Pertanyaan ini semakin tajam mengingat Xi Jinping secara formal masih menjabat sebagai Ketua CMC. Namun, absennya pernyataan loyalitas terbuka dari struktur militer justru menimbulkan dugaan bahwa kendali nyata atas PLA sedang berada dalam kondisi tidak normal.

Analisis Mantan Perwira AL: Xi Tak Lagi Mengendalikan Militer

Pada 2 Februari 2026, Yao Cheng, mantan perwira Angkatan Laut PKT berpangkat Letnan Kolonel, mengunggah sebuah video analisis yang segera menarik perhatian luas.

Dalam pemaparannya, Yao Cheng menegaskan bahwa:

  • Mobilisasi pasukan secara serempak di berbagai wilayah tidak mungkin terjadi tanpa koordinasi tingkat tinggi,
  • dan hampir mustahil merupakan perintah langsung Xi Jinping.

Menurut Yao, selama bertahun-tahun Xi Jinping melakukan pembersihan internal besar-besaran di tubuh militer, yang justru memicu kejenuhan dan perlawanan diam-diam di kalangan perwira. Akibatnya, Xi dinilai telah kehilangan kemampuan efektif untuk mengendalikan militer.

Dugaan Rencana Darurat Zhang Youxia

Lebih jauh, Yao Cheng memperkirakan bahwa Zhang Youxia sebenarnya telah lama mengetahui rencana Xi untuk menyingkirkannya. Oleh karena itu, dia menduga bahwa rangkaian pergerakan lintas komando ini merupakan rencana darurat (contingency plan) yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh Zhang dan jaringan pendukungnya di dalam militer.

Menurut Yao, saat ini wilayah sekitar Beijing pada dasarnya telah berada dalam kondisi pengepungan militer, dengan rincian sebagai berikut:

  • Angkatan Darat Grup ke-79 dari Komando Wilayah Utara telah bergerak ke arah selatan,
  • Angkatan Darat Grup ke-80 dari Shandong juga telah dikerahkan,
  • Dari Komando Wilayah Tengah, Grup ke-81, ke-82, dan ke-83 dilaporkan telah melakukan pergerakan.

“Semua Jalur Mundur Ditutup”

Dalam kesimpulannya, Yao Cheng menyatakan bahwa: “Seluruh jalur mundur Xi Jinping pada dasarnya telah ditutup. Militer tidak akan membiarkannya melarikan diri.”

Dia bahkan membandingkan situasi ini dengan strategi pengepungan total yang biasa digunakan PLA dalam rencana operasi militer terhadap Taiwan, di mana seluruh jalur darat, udara, dan logistik dikunci secara simultan.

Situasi Masih Berkembang

Hingga 2 Februari 2026, belum ada pernyataan resmi tambahan dari pemerintah Tiongkok maupun Komisi Militer Pusat yang menjelaskan secara terbuka tujuan mobilisasi lintas wilayah tersebut. Namun, skala dan sinkronisasi pergerakan militer ini membuat banyak pengamat menilai bahwa Tiongkok tengah berada pada salah satu momen paling sensitif dalam sejarah politik-militernya dalam satu dekade terakhir.

Perkembangan selanjutnya diperkirakan akan menjadi penentu arah kekuasaan di Beijing—dan berpotensi berdampak jauh melampaui batas Tiongkok sendiri.