Tragedi MU5735:  Membedah 23 Detik Terakhir di Balik Dinding Keheningan

EtIndonesia. Pada sore yang tenang, 21 Maret 2022, sebuah suara dentuman yang memekakkan telinga merobek kesunyian di pegunungan Desa Molang, Kabupaten Teng, Wuzhou. China Eastern Airlines dengan nomor penerbangan MU5735, sebuah Boeing 737-800 yang membawa 132 jiwa, terjun bebas dari ketinggian 8.900 meter dengan sudut yang hampir vertikal sebelum hancur menjadi kepingan di tanah. 

Benturan tersebut begitu dahsyat hingga menciptakan kawah sedalam 20 meter dan membuat seluruh pesawat hancur total, menyisakan hanya puing-puing hangus dan duka yang mendalam bagi keluarga korban.

Empat tahun telah berlalu, namun otoritas penerbangan Tiongkok (CAAC) tetap bungkam tanpa merilis laporan akhir investigasi. Namun, sebuah kebocoran data besar dari Dewan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (NTSB) melalui Undang-Undang Kebebasan Informasi (FOIA) akhirnya menyingkap tabir gelap yang selama ini ditutupi dengan alasan “keamanan nasional”. 

Laporan setebal 2.000 halaman data mentah tersebut kini menjadi dasar analisis yang mengejutkan: tragedi ini bukan disebabkan oleh kegagalan mesin, melainkan aksi sengaja dari dalam kokpit.

“Violent Push”: Detik-Detik Menuju Kematian

Data dari Flight Data Recorder (FDR) yang bocor mengungkap anomali teknis yang mustahil terjadi karena malfungsi sistem. Pada fase jelajah yang stabil, dua mesin pesawat tiba-tiba mati bukan karena kerusakan, melainkan karena intervensi manual.

Dalam data tersebut tercatat: “Dua sakelar kontrol bahan bakar mesin tiba-tiba dialihkan secara manual dari posisi run (berjalan) ke posisi cut-off (mati) hanya dalam waktu satu detik”. 

Para ahli penerbangan menekankan bahwa pada model Boeing 737, sakelar ini memiliki mekanisme pengunci yang mengharuskan pilot menariknya ke atas secara fisik sebelum bisa memutarnya. “Sangat tidak mungkin mesin mati sendiri; ini adalah tindakan manusia yang sangat spesifik,” ungkap Saluran YouTube 新聞最嘲點 Mr.姜光宇 (News Point)

Segera setelah pasokan bahan bakar terputus, sistem auto-pilot terlepas secara otomatis. Pada titik inilah terjadi aksi yang digambarkan sebagai “dorongan kasar” (violent push) pada kolom kemudi. Pesawat dipaksa menukik tajam secara vertikal. FDR berhenti merekam pada ketinggian 7.900 meter karena hilangnya daya listrik akibat matinya mesin, namun sisa 23 detik terakhir sebelum transmisi terputus menjadi bukti kunci bahwa pesawat diperintahkan untuk jatuh oleh seseorang di balik kemudi.

Luka di Balik Seragam: Rivalitas Guru dan Murid

Penyelidikan mendalam kini tertuju pada dinamika psikologis di dalam kokpit yang dihuni oleh tiga orang: Kapten Yang Hongda (32), Wakil Pilot Pertama Zhang Zhengping (59), dan Wakil Pilot Kedua Ni Gongtao (27).

Zhang Zhengping bukanlah pilot sembarangan. Ia adalah pilot senior dengan pengalaman lebih dari 40 tahun dan 30.000 jam terbang, yang dikenal luas sebagai “Instruktur Zhang”. Tragisnya, Kapten Yang Hongda yang memimpin penerbangan tersebut adalah mantan murid didikan Zhang sendiri.

Di usia senjanya, Zhang mengalami degradasi karier yang menyakitkan. Ia yang pernah menjabat sebagai Kepala Pilot di China Eastern Yunnan diturunkan pangkatnya menjadi wakil pilot pertama, kemungkinan besar karena kesalahan administratif atau gesekan dengan manajemen. “Siswa menjadi kapten, sementara gurunya menjadi wakilnya. Ada kesenjangan psikologis yang tak terkatakan di sini,” sebut laporan tersebut menggambarkan situasi di kokpit.

Penurunan pangkat ini berdampak drastis pada ekonominya. Gaji Zhang dilaporkan merosot dari 800.000 yuan per tahun menjadi hanya 200.000 yuan—sebuah pemangkasan sebesar 75 persen yang menghancurkan stabilitas finansialnya.

Tekanan Ekonomi dan Krisis Evergrande

Selain masalah karier, Zhang Zhengping diduga terjerat dalam krisis finansial yang melanda Tiongkok. Muncul laporan bahwa Zhang menginvestasikan seluruh tabungan hidupnya ke dalam produk keuangan yang terkait dengan raksasa properti Evergrande, yang meledak dan gagal bayar pada tahun 2021.

“Seorang pria berusia 60 tahun yang melihat tabungan seumur hidupnya lenyap seketika akibat kegagalan investasi, ditambah penghinaan profesional di tempat kerja, menghadapi tekanan mental yang luar biasa,” demikian analisis mengenai kondisi psikis Zhang sebelum penerbangan maut tersebut. Tekanan ini diduga memicu apa yang disebut sebagai “balas dendam yang bersifat bunuh diri” terhadap sistem yang dianggapnya tidak adil.

Pergulatan Terakhir di Ketinggian 20.000 Kaki

Ada dua versi mengenai apa yang terjadi di dalam kokpit selama detik-detik jatuh. Versi pertama menyebutkan bahwa Zhang mungkin menggunakan dalih meminta kopi untuk membuat Kapten Yang keluar dari kokpit, lalu mengunci pintu dan memulai manuver mautnya.

Namun, versi kedua yang didukung oleh data FDR menunjukkan adanya “input kontrol yang saling berlawanan”. Pada ketinggian sekitar 20.000 kaki, sempat ada tanda-tanda pesawat mencoba untuk mendatar (level flight) sejenak. Ini mengindikasikan adanya pergulatan fisik di kokpit. Sementara satu orang (diduga Zhang) mendorong kemudi sekuat tenaga ke bawah, orang lain (diduga Yang) berusaha menariknya ke atas untuk menyelamatkan pesawat.

Seorang konsultan teknis NTSB mencatat bahwa setelah bahan bakar diputus dan pesawat meluncur dengan kecepatan mendekati kecepatan suara dalam posisi menukik, peluang untuk pemulihan sangatlah tipis. “Dibutuhkan ruang dan waktu yang sangat besar untuk menghidupkan kembali mesin dan mengangkat hidung pesawat dalam kondisi seperti itu,” jelasnya. Perlawanan Kapten Yang sayangnya sudah terlambat.

Sensor dan “Stabilitas Sosial”

Sikap diam pemerintah Tiongkok selama empat tahun terakhir menuai kritik internasional. Pada tahun 2025, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) mulai mempertanyakan keterlambatan laporan akhir CAAC. Jawaban resmi dari otoritas Tiongkok tetap konsisten: mengungkap kebenaran dapat “membahayakan keamanan nasional dan stabilitas sosial”.

Para pengamat menilai bahwa Tiongkok sangat takut jika masyarakat mengetahui bahwa seorang pilot senior memilih untuk menghancurkan diri dan 131 orang lainnya karena kemarahan terhadap ketidakadilan sistemik dan kerugian ekonomi akibat kebijakan negara. Kasus MU5735 dianggap sebagai refleksi dari “tekanan tinggi” di dalam masyarakat Tiongkok yang sewaktu-waktu bisa meledak.

Meskipun rekaman suara kokpit (CVR) merekam setiap teriakan dan percakapan terakhir dengan jelas berkat baterai cadangannya, data audio tersebut tetap menjadi rahasia negara di tangan Beijing. Tanpa transparansi penuh, tragedi MU5735 akan terus menjadi luka terbuka dan pengingat kelam bahwa di balik kecanggihan teknologi penerbangan, faktor manusia tetaplah yang paling rapuh. (***)

Catur Besar Global 2026: Di Balik Tirai Beijing dan Strategi “Cekikan” Maritim AS

EtIndonesia– Pukul 20.03 waktu Beijing, 13 Mei 2026, dunia menyaksikan sebuah fragmen sejarah yang kontradiktif. Di landasan pacu Bandara Internasional Ibu Kota Beijing, karpet merah dibentangkan lebar-lebar untuk menyambut Donald Trump. Namun, di saat yang sama, ribuan mil jauhnya di Selat Gibraltar, Selat Malaka, hingga pesisir Afrika, mesin perang dan diplomasi Amerika Serikat sedang bekerja dalam kesenyapan untuk satu tujuan: mengunci jalur nadi ekonomi Tiongkok.

Skizofrenia Politik di Karpet Merah

Kunjungan Trump ke Beijing disambut dengan kemegahan yang hampir melampaui protokol kenegaraan biasa. Barisan kehormatan tiga angkatan bersenjata Tiongkok berdiri tegak di bawah temaram lampu malam, sementara ratusan pemuda mengibarkan bendera. Namun, sebuah insiden ganjil terjadi. Tepat saat Trump hendak melangkah turun dari Air Force One, media pemerintah Global Times (Huanqiu Wang) tiba-tiba memutus siaran langsung domestiknya.

Jiang Feng, pengamat politik dalam kanal YouTube 江峰·視界 (Jiang Feng Shijie), menyebut fenomena ini sebagai bentuk ketakutan akut rezim akan realitas.

“Di satu sisi, melalui kanal bahasa Inggris, para pakar Tiongkok memohon kerja sama dengan nada yang sangat rendah hati kepada dunia. Namun di sisi lain, siaran dalam negeri diputus total karena Beijing tidak berani memperlihatkan kepada rakyatnya betapa tunduknya pejabat tinggi mereka di hadapan pemimpin Amerika,” ujar Jiang Feng dalam laporannya.

Sensor ini dilakukan untuk menjaga narasi “Serigala Pejuang” (Wolf Warrior) agar tidak runtuh di mata publik domestik, meski secara diplomatik Tiongkok sedang berada di posisi tawar yang sangat lemah.

Diplomasi “Pintu Belakang” di Incheon

Ketidakhadiran He Lifeng, arsitek ekonomi Tiongkok, dalam upacara penyambutan di Beijing terjawab melalui laporan intelijen terbuka. Ia diketahui berada di ruang VIP Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan, melakukan negosiasi darurat selama tiga jam dengan Menteri Keuangan AS sebelum pesawat Trump mendarat di Beijing.

Jiang Feng mendeskripsikan pertemuan ini sebagai “serah terima di pasar gelap” (black market delivery).

“Ini adalah tragedi rezim diktator; wajah (prestise) dipertahankan di bawah lampu malam Beijing, tetapi ‘isi perut’ (konsesi ekonomi) telah dikuras habis di ruang rahasia Incheon bahkan sebelum Trump mendarat,” papar Jiang Feng.

Di Beijing, Trump tidak datang sekadar dengan diplomat, tetapi dengan “Dewa Kematian Teknologi”: Elon Musk dan Jensen Huang. Kehadiran Musk dengan Starlink-nya dan Huang dengan dominasi AI NVIDIA mengirimkan pesan jelas bahwa Amerika memegang kunci saraf masa depan Tiongkok.

Zhongnanhai: Rezim “Zombie” dan Transisi Kekuasaan

Laporan Jiang Feng juga mengungkap keretakan di jantung kekuasaan Zhongnanhai. Xi Jinping digambarkan sebagai “zombie politik” yang secara de facto telah kehilangan kendali militer kepada faksi reformis yang dipimpin oleh Liu Yuan dan para tetua partai. Xi dibiarkan berada di baris depan karpet merah sebagai “kambing hitam” untuk menandatangani perjanjian-perjanjian yang dianggap merugikan kedaulatan ekonomi Tiongkok di masa depan.

Strategi “Unilateral” AS: Mengunci Titik Didih Dunia

Namun, narasi besar bukan hanya terjadi di Beijing. Kanal YouTube 天高海闊 (Tian Gao Hai Kuo) mengungkapkan bahwa Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump sedang menjalankan strategi penguasaan jalur maritim secara unilateral, melepaskan ketergantungan pada sekutu lama yang dianggap tidak lagi sejalan.

Latihan militer “Africa 2026” di Maroko yang melibatkan 5.000 personel menjadi sinyal kuat. AS kini membangun aliansi militer baru dengan Maroko untuk mengontrol Selat Gibraltar secara mandiri, tanpa bergantung lagi pada Inggris dan pangkalan Gibraltar mereka.

“AS memberi tahu orang Inggris bahwa mereka tidak lagi memerlukan kerja sama mereka. AS telah mencapai kesepakatan dengan Maroko… sehingga pengendalian Selat Gibraltar dapat dilakukan oleh kekuatan AS sendiri secara sepihak,” ungkap narator kanal 天高海闊.

Selat Malaka dan Ancaman di Bawah Laut

Di Asia Tenggara, AS mempererat cengkeraman di Selat Malaka dan Selat Lombok melalui kerja sama militer dengan Indonesia. Pada 14 April 2026, kesepakatan modernisasi militer ditandatangani untuk meningkatkan kehadiran fisik AS di jalur yang sangat krusial bagi Tiongkok ini.

Tiongkok sangat bergantung pada Selat Malaka, di mana 80% energi mereka mengalir melalui jalur tersebut.

“Ketika Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk mengendalikan Selat Malaka… jika hubungan diplomatik kedua belah pihak pecah, kendali AS akan menghasilkan strategi yang sangat kuat terhadap Tiongkok,” jelas laporan tersebut.

Ketegangan ini diperparah dengan penemuan pesawat bawah laut (UUV) tak berawak buatan Tiongkok di perairan Indonesia, yang memicu kewaspadaan tinggi di Jakarta dan mempercepat aliansi militer dengan Washington dan Canberra.

Somaliland: Pangkalan Baru di “Gerbang Air”

Langkah paling berani adalah upaya AS untuk mengakui kedaulatan Somaliland guna membangun pangkalan udara dan laut di Berbera. Langkah ini bertujuan untuk mengontrol Selat Bab el-Mandeb dan menjauhkan pengaruh dari Djibouti, di mana Tiongkok juga memiliki pangkalan militer.

Somaliland menawarkan pelabuhan air dalam dan landasan pacu terpanjang di Afrika (bekas fasilitas NASA) yang siap digunakan tanpa perlu pembangunan infrastruktur dasar yang besar. Dengan mengakui Somaliland, AS tidak hanya mengamankan jalur minyak global, tetapi juga secara efektif “mengepung” aset strategis Tiongkok di Tanduk Afrika.

Kesimpulan: Menuju Ketidakpastian Global

Dunia di tahun 2026 tidak lagi digerakkan oleh diplomasi multilateral yang manis, melainkan oleh penguasaan titik-titik mati (choke points) strategis. Dari karpet merah Beijing yang penuh kepura-puraan hingga pangkalan militer sunyi di Somaliland, Amerika Serikat sedang menggambar ulang peta kekuatan dunia.“Dari aksi strategis Amerika Serikat ini, tampaknya mereka telah membuat penilaian tentang apakah dunia akan damai di masa depan. Sayangnya, hubungan internasional di masa depan tidak akan tenang,” tutup laporan dari kanal 天高海闊 .

Menentang Kebijakan Pemerintahan Kiri, Aksi Demonstrasi Besar-besaran Meledak! Puluhan Ribu Warga Spanyol Tuntut PM Pedro Sánchez Mundur

EtIndonesia. Demonstrasi besar-besaran pecah di ibu kota Spanyol pada Sabtu (23/5/2026). Puluhan ribu warga turun ke jalan menuntut Perdana Menteri Pedro Sánchez mengundurkan diri. Para demonstran juga menyerukan pemilu baru untuk mengakhiri kendali pemerintahan sayap kiri.

Pada hari itu, puluhan ribu orang membawa spanduk bertuliskan “Menurunkan Perdana Menteri Pedro Sánchez adalah prioritas negara” dan “Bubarkan mafia sosialis”, sambil berbaris di jalan-jalan Madrid.

“Kami berkumpul di sini hari ini untuk menuntut persatuan Spanyol dan hak yang setara bagi rakyat Spanyol. Kami ingin mengakhiri berbagai tindakan sewenang-wenang dari kaum kiri. Spanyol harus mengutamakan kepentingan rakyat,” ujar Wakil regional Castilla-La Mancha, Celestino del Teso. 

Gelombang protes yang diberi nama “Pawai Martabat” ini berkaitan dengan serangkaian skandal korupsi yang melibatkan kubu Sánchez.

Pada Selasa, sekutu penting Sánchez sekaligus mantan Perdana Menteri Spanyol, José Luis Rodríguez Zapatero, diselidiki atas dugaan transaksi kekuasaan dan uang. Meskipun Zapatero membantah melakukan pelanggaran hukum, pemerintahan Sánchez kini menghadapi tekanan besar.

Selain itu, istri Sánchez, Begoña Gómez, mulai diselidiki sejak April 2024. Bulan lalu, pengadilan memutuskan Gómez bersalah atas tuduhan korupsi. Saudara laki-laki Sánchez, David Sánchez, juga menghadapi berbagai tuduhan seperti penyalahgunaan kekuasaan dan penggelapan dana publik.

“Spanyol sudah jatuh ke titik terendah, dan penyebab utamanya adalah Perdana Menteri Sánchez. Dia harus mundur. Membersihkan para kaki tangannya saja tidak cukup, karena bos mereka masih menguasai Spanyol,” ujar anggota organisasi “Forward Freedom” dari wilayah Asturias, Marta Sanz. 

Hubungan dekat Sánchez dengan pemerintah Tiongkok juga membuat kalangan bisnis dan oposisi merasa khawatir.

Dalam empat tahun terakhir, Sánchez telah empat kali mengunjungi Tiongkok dan mendorong perluasan perdagangan dengan Tiongkok. Ia memandang pemerintah Tiongkok sebagai mitra strategis, bukan lawan ekonomi dan politik.

Baru-baru ini, dalam konflik Iran, Sánchez juga menolak mengizinkan pesawat tempur Amerika Serikat mendarat di Spanyol. Publik khawatir meningkatnya gesekan dengan pemerintah AS dapat membuat Spanyol membayar harga yang mahal.

“Kami menyerukan pemilu segera untuk menyelesaikan masalah ini sekali dan untuk selamanya. Biarkan rakyat Spanyol yang memutuskan, dan sekarang juga usir kelompok kriminal ini dari kekuasaan,” ujar anggota Partai Vox dari Castilla-La Mancha, David Moreno. 

Laporan gabungan reporter NTDTV, Tang Li.

Berbagai Kalangan Prediksi Perubahan Besar di Partai Komunis Tiongkok, Xi Jinping Dikhawatirkan Bisa Runtuh Tiba-Tiba Tanpa Tanda

EtIndonesia. Sejak pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping berkuasa, ekonomi Tiongkok terus memburuk, elit internal partai terjebak dalam pertarungan politik, dan banyak orang kaya melarikan diri dari Tiongkok. Berbagai kalangan kini memprediksi nasib Xi dan menunggu kejatuhannya. Ada analisis yang menyebut Xi semakin otoriter dan diktator, sehingga rezimnya bisa runtuh secara mendadak tanpa tanda-tanda, baik akibat pemberontakan rakyat maupun konflik internal tingkat tinggi.

Sejak mengambil alih kekuasaan pada 2012, Xi dinilai sering salah mengambil keputusan besar dalam kebijakan dalam dan luar negeri, sehingga menyebabkan penderitaan rakyat dan membuat para pejabat menjadi pasif. Terutama kebijakan “nol-COVID dinamis” selama tiga tahun yang dipimpin langsung olehnya, yang dianggap menghancurkan ekonomi Tiongkok.

Di lingkungan pemerintahan, banyak pejabat partai dan militer yang sebelumnya dipromosikan langsung oleh Xi kini jatuh atau menghilang, sehingga ia disebut semakin terisolasi dan dikelilingi krisis.

Dalam beberapa tahun terakhir, Xi juga mengusung kebijakan yang disebut “kemakmuran bersama”, yang menurut kritik merupakan bentuk perampasan sistematis terhadap perusahaan swasta dan kalangan kaya. Akibatnya, banyak modal asing hengkang dari Tiongkok dan para miliarder Tiongkok mempercepat pelarian mereka ke luar negeri. 

Media Inggris 《The Economist》tahun lalu melaporkan bahwa para pengusaha Tiongkok menghilang secara misterius dengan kecepatan mencengangkan — hampir setiap minggu ada satu orang yang ditangkap.

Komentator independen Du Zheng pada 23 Mei menulis di media Taiwan 《上報》bahwa Xi semakin otoriter dan diktator. Banyak orang pesimis terhadap masa depan Tiongkok, tetapi ada pula yang percaya bahwa “segala sesuatu yang ekstrim akan berbalik arah”, dan rezim PKT bisa runtuh mendadak tanpa peringatan.

Kalangan Bisnis dan Akademisi Mulai Memprediksi Masa Kekuasaan Xi

Artikel itu menyebut bahwa dalam beberapa tahun terakhir, kalangan bisnis dan akademisi telah memprediksi berapa lama Xi akan bertahan berkuasa.

Sebagai contoh, Zhang Xin — istri pengusaha properti terkenal Pan Shiyi yang kini tinggal di Amerika Serikat — pernah menyatakan pada 2013 bahwa Tiongkok tidak membutuhkan 20 tahun untuk berubah menjadi negara demokratis. Dalam wawancara dengan media asing, ia mengatakan:

“Korupsi ada di mana-mana di Tiongkok. Siapa pun yang memiliki sedikit kekuasaan pasti korup dan berharap Anda menyuap mereka.”

Setelah lama bungkam, Pan Shiyi baru-baru ini kembali bersuara. Pada 16 April, ia menerbitkan tulisan panjang berjudul “Refleksi Saya”, yang mengungkap bahwa model perkembangan perusahaan properti Tiongkok di masa lalu adalah “skema Ponzi”. 

Ia juga mengkritik penggunaan utang tinggi serta menyoroti kelemahan sistem pra-penjualan rumah dan ketergantungan pemerintah daerah pada penjualan tanah. Menurutnya, krisis properti saat ini bukan hanya kesalahan pengembang, melainkan hasil gabungan dari sistem, keuangan, fiskal daerah, ekspansi perusahaan, dan ekspektasi sosial.

Ekonom Tiongkok Xiang Songzuo pernah berkata dalam pidato publik tahun 2019: “Sikap umum para pengusaha swasta sekarang adalah: ‘Menggunakan kami adalah pilihan terpaksa, menghancurkan kami adalah cita-cita mulia.’”

Du Zheng menilai kalimat itu secara langsung menunjukkan sifat manipulatif PKT terhadap sektor swasta, sekaligus mengisyaratkan bahwa ekonomi swasta hanya bisa memiliki masa depan cerah jika sistem komunis runtuh.

Kritik dari Tokoh-Tokoh Tiongkok

Miliarder properti Ren Zhiqiang, yang kini dijatuhi hukuman berat oleh PKT, pernah mengatakan dalam sebuah forum di Beijing pada Januari 2013:

“Semua yang hadir di sini, bangkitlah dan robohkan tembok di depan kita! Bangun sistem demokrasi sosial kita!”
“Sistem ini sudah busuk total!”

Du Zheng juga menyebut bahwa baru-baru ini ia sering berbicara dengan sopir taksi online yang banyak mengantar pebisnis Tiongkok yang telah pindah ke luar negeri. Banyak dari mereka hanya menggelengkan kepala ketika Xi Jinping disebut. Menurutnya, kebijakan Xi yang represif telah meningkatkan rasa takut di masyarakat Tiongkok.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak warga Tiongkok yang menempuh jalur ilegal menuju Amerika Serikat juga disebut terdorong oleh memburuknya lingkungan politik di dalam negeri.

Penulis itu mengungkap bahwa sekitar tahun 2022, seorang teman lama yang bergerak di bisnis budaya di Tiongkok pernah memberitahunya tentang adanya kelompok rahasia para pembangkang yang sebagian besar terdiri dari pengusaha, juga beberapa pejabat menengah dan polisi. Mereka berkomunikasi melalui aplikasi aman dan diam-diam melakukan edukasi demokrasi kepada masyarakat. Mereka disebut sedang menunggu kesempatan, dan akan muncul ketika situasi berubah.

Xi Disamakan dengan Kaisar Tirani dalam Sejarah

Penulis menilai pandangan masyarakat terhadap Xi kini mirip dengan penilaian sejarah terhadap Kaisar Yang dari Dinasti Sui: “Mulutnya berbicara seperti raja bijak, tetapi tindakannya seperti tiran.”

Menurutnya, dalam pandangan Xi, mempertahankan kekuasaan dan rezim adalah prioritas utama, sehingga ia rela terus melakukan perjuangan politik tanpa henti.

Penulis memperkirakan bahwa sekalipun Xi berhasil terpilih kembali pada Kongres Nasional PKT ke-21, belum tentu ia dapat menyelesaikan masa jabatannya. Alasannya ada tiga:

  1. Kesehatannya diduga memiliki masalah serius yang tersembunyi, terutama akibat kebiasaan minum alkohol.
  2. Jika Xi memaksakan penyatuan Taiwan dengan kekuatan militer, hal itu justru bisa mempercepat keruntuhannya secara tak terduga.
  3. Pemerintahan totaliter PKT dinilai terlalu represif, sehingga seperti rezim-rezim tirani dalam sejarah, dapat runtuh mendadak akibat pemberontakan rakyat atau konflik internal elite.

Mantan pejabat Kementerian Luar Negeri PKT, Han Lianchao, sebelumnya juga menulis di platform X bahwa Xi kini sudah menjadi “orang yang benar-benar terisolasi”. Ia disebut terjebak dalam “spiral kematian”:

“Semakin banyak pembersihan politik, semakin korup; semakin korup, semakin banyak pembersihan; semakin banyak pembersihan, semakin takut; semakin takut, semakin banyak pembersihan.”

Komentator politik “Xin Gaodi” juga menulis di X bahwa selama lebih dari 10 tahun memimpin, Xi telah melakukan “empat kesalahan besar” secara sistematis, bukan sekadar kesalahan sementara. Menurutnya, stagnasi ekonomi, perpecahan sosial, isolasi internasional, dan kegagalan pemerintahan kini terjadi bersamaan. Dalam sejarah Tiongkok, rezim yang melakukan empat kesalahan besar sekaligus biasanya cepat runtuh.

Sementara itu, veteran media Australia Dr. Lin Song sebelumnya mengatakan kepada Epoch Times bahwa Xi ingin terus menjadi “kaisar” dan tidak ingin turun dari kekuasaan. Namun banyak rakyat Tiongkok kini mulai sadar melihat berbagai masalah di negara mereka. Selama Xi terus bermimpi menjadi kaisar, katanya, yang dihadapi rakyat bukan lagi sekadar pergantian pemimpin, melainkan dorongan untuk menjatuhkan seluruh rezim PKT.

Sumber : NTDTV.com

Gadis 12 Tahun Jago Kungfu Pecahkan Dua Rekor Guinness dengan 69 Salto Kepala dalam 1 Menit dan 11 Kali Split dalam 1 Menit

EtIndonesia. Topik “Gadis 12 tahun mencetak dua Rekor Guinness dengan kungfu Tiongkok” pada 22 Mei menjadi trending di Tiongkok. Zhang Sixuan, yang berasal dari Tangyin, Henan, Tiongkok, berhasil mencetak dua Rekor Dunia Guinness sekaligus dengan melakukan 69 salto kepala dalam satu menit dan 11 kali gerakan split di atas bangku dalam satu menit.

Menurut laporan, Zhang Sixuan mulai belajar bela diri sejak usia 5 tahun dan berlatih sekitar 6 jam setiap hari. Pada usia 9 tahun, ia telah memperoleh gelar “Bintang Kungfu Shaolin Selatan Dunia”. Ia bercita-cita menjadi pelatih bela diri dan meneruskan seni bela diri Yuejiaquan (Tinju Keluarga Yue).

Pada 14 Juli 2024, dalam “Final Kompetisi Global Shaolin Kaogong 2024” yang diadakan di depan Kuil Shaolin, Dengfeng, Henan, lebih dari seratus peserta dari 47 negara dan wilayah ikut bertanding. Saat itu, Zhang Sixuan yang baru berusia 9 tahun tampil di atas panggung. Gerakan tendangan tinggi “Chaotian Deng” yang bersih dan tegas langsung mendapat tepuk tangan meriah dari seluruh penonton.

“Gadis kecil ini sangat stabil!” puji para juri di lokasi. Setelah itu, Zhang Sixuan melanjutkan dengan serangkaian salto belakang dan gerakan “Tongzi Baifo” (anak kecil memberi penghormatan kepada Buddha), menunjukkan dasar kungfu yang sangat kuat dan kembali mendapat tepuk tangan panjang.

Kepala Sekolah Bela Diri Jingzhong di Kabupaten Tangyin, Zhao Zhenwu, mengatakan bahwa Zhang Sixuan sejak kecil berlatih “kungfu anak Shaolin”. Selain sangat mahir dalam kelenturan tubuh, ia juga mampu memainkan Yuejiaquan.

“Kungfu anak Shaolin membutuhkan tiga sampai empat tahun latihan untuk bisa dikuasai, dan hanya anak-anak yang tahan menderita yang bisa mencapai tingkat seperti ini,” kata Zhao Zhenwu. Ia menambahkan bahwa Zhang Sixuan sangat kuat mental dan tidak pernah menangis saat latihan.

“Ia sangat menyukai seni bela diri. Saat liburan pun sering tetap tinggal di sekolah untuk berlatih, dan bercita-cita menjadi pelatih bela diri,” ujarnya.

Lahir dan besar di kampung halaman Jenderal Yue Fei, Zhang Sixuan sejak kecil sudah mampu menghafal dengan lancar puisi klasik patriotik 《滿江紅·寫懷》 (“Man Jiang Hong · Menulis Perasaan”). Zhao Zhenwu mengatakan bahwa menghafal puisi itu merupakan pelajaran wajib di sekolah:

“Mereka harus bisa menghafal ‘Man Jiang Hong’ agar dapat mempelajari dan memahami semangat Yue Fei.”

Laporan gabungan reporter Luo Tingting / Wen Hui

Apakah Buah-buahan Ini Masih Layak Dimakan? Leci dan Persik Direndam dalam Bahan Kimia Hingga Semangka yang Disemprot Obat 

Media daratan Tiongkok sebelumnya mengungkap bahwa buah bayberry (yangmei) di Fujian direndam pemanis buatan, sehingga memicu kekhawatiran publik apakah buah-buahan di Tiongkok masih aman dikonsumsi. Belakangan, beredar banyak video di internet yang memperlihatkan bahwa leci dan persik renyah juga direndam cairan kimia, bahkan semangka pun disemprot obat.

EtIndonesia. Baru-baru ini, persik renyah yang dijual di Xiamen juga terungkap direndam cairan pemanis. Para pedagang mengakui bahwa “hampir semua penjual melakukannya” dan mengatakan bahwa cairan tersebut “berbahaya bagi kesehatan”.

Selain itu, banyak video menunjukkan pedagang merendam leci dalam air yang dipenuhi zat putih mengambang, bahkan ada yang menuangkan bubuk putih tak dikenal ke dalam air. Sebagian netizen menduga itu adalah bahan pengawet atau penambah berat buah. Ada pula yang mempertanyakan apakah bahan kimia tersebut beracun.

Setelah kasus ini terungkap, banyak pedagang membuat video untuk “membantah rumor”, dengan mengklaim bahwa perendaman itu hanya untuk “mendinginkan” leci. Namun penjelasan tersebut justru membuat banyak netizen semakin curiga.

Beberapa tahun lalu, media Tiongkok pernah melaporkan bahwa karena leci mudah membusuk, setelah dipanen buah tersebut biasanya direndam dalam cairan kimia. Yang paling umum digunakan adalah formalin. Cairan ini bersifat korosif ringan; anak-anak yang mengkonsumsinya mudah mengalami demam dan bahkan bisa memicu penyakit tangan, kaki, dan mulut.

Video lain juga memperlihatkan pedagang menyemprot atau mengoleskan cairan kimia tak dikenal pada semangka saat pengangkutan maupun penjualan.

Di internet juga beredar foto surat pemberitahuan yang diduga berasal dari sebuah pusat perbelanjaan kepada para pedagang buah. Isi surat menyebutkan bahwa setelah kasus bayberry direndam cairan kimia terungkap, inspeksi acak kini semakin sering dilakukan. Pihak pengelola meminta pedagang menarik lebih dari sepuluh jenis buah dari rak penjualan atau merendamnya dengan air garam, jika tidak maka akan sulit lolos pemeriksaan.

Selain buah-buahan, internet juga dihebohkan dengan video budidaya udang buatan yang menunjukkan air kolam sangat keruh dan kotor. Beberapa netizen mengatakan kondisi seperti itu sudah menjadi hal biasa dalam budidaya udang di daratan Tiongkok.

Sumber : NTDTV.com

Menghadapi Kesulitan Keuangan, Kementerian Kehakiman Tiongkok Mengumumkan Pemecatan 300.000 “Personel yang Tak Memenuhi Syarat”

Di tengah perlambatan ekonomi dan krisis keuangan pemerintah Tiongkok, baru-baru ini Kementerian Kehakiman Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengklaim telah membersihkan lebih dari 300 ribu “petugas penegak hukum administratif” yang tidak memenuhi syarat dalam waktu satu tahun. Netizen mempertanyakan: “Siapa yang merekrut mereka? Apakah ada yang bertanggung jawab?”

EtIndonesia. Pada 21 Mei, dalam konferensi pers Kantor Informasi Dewan Negara PKT, Kementerian Kehakiman PKT menyatakan bahwa dalam “aksi khusus penertiban penegakan hukum administratif terkait perusahaan”, pihaknya telah “menyesuaikan dan membersihkan lebih dari 300 ribu personel penegak hukum administratif yang tidak memenuhi syarat”, serta “menghapus lebih dari 400 ribu item penegakan hukum yang tidak diperlukan”. Mereka juga mengklaim telah membantu perusahaan mengurangi kerugian ekonomi sebesar 30,7 miliar yuan.

Namun, pengumuman tersebut tidak menjelaskan personel dari lembaga mana saja yang dibersihkan. Pernyataan ini langsung memicu kehebohan di internet.

Para netizen ramai mempertanyakan:
“Siapa yang merekrut mereka? Apakah ada yang bertanggung jawab?”
“Lebih dari 300 ribu orang, bagaimana mereka bisa masuk ke sistem penegakan hukum? Berapa banyak uang pajak rakyat yang sudah dihabiskan? Sekarang hanya dibersihkan begitu saja tanpa penjelasan?”
“Pemerasan dan pungutan liar hanya berakhir dengan pemecatan? Bukankah seharusnya diproses sesuai hukum?”
“Kalau memang tidak memenuhi syarat, bagaimana mereka bisa diterima sejak awal?”

(Tangkapan layar dari internet)

Ada pula netizen yang mengkritik:
“Setiap melihat angka-angka seperti ini, rasanya mereka malah sedang membanggakan diri, bukannya merasa malu.”
“Ini sebenarnya hanya cara mengurangi pengeluaran di tengah penurunan ekonomi.”
“Rata-rata satu provinsi sekitar 10 ribu orang, berarti satu kabupaten kira-kira lebih dari seratus orang. Tapi situasinya terlihat tenang-tenang saja, mungkin bukan benar-benar dibersihkan, hanya diganti nama.”
“Departemen penegakan hukum negara ternyata memelihara sekelompok preman profesional!”

Di platform Weibo Tiongkok, media resmi pemerintah yang memberitakan informasi ini akhirnya menutup kolom komentar karena terlalu banyak suara kritis.

Selama bertahun-tahun, berbagai tingkat pemerintahan PKT mempekerjakan banyak personel ilegal atau tanpa kualifikasi penegakan hukum, seperti pegawai kontrak, tenaga bantuan, petugas grid management, serta pekerja outsourcing atau tenaga “di luar formasi resmi”. 

Dengan dalih “penegakan hukum”, mereka melakukan kontrol dan pemerasan terhadap masyarakat maupun perusahaan. Namun ketika muncul masalah dan memicu kemarahan publik, para personel ini sering dijadikan kambing hitam dan dihukum oleh pihak berwenang.

Dalam beberapa tahun terakhir, seiring runtuhnya pasar properti Tiongkok dan hengkangnya investasi asing, keuangan pemerintah daerah semakin terpuruk. PKT pun mulai secara bertahap memberhentikan para “pegawai di luar formasi resmi” tersebut.

Laporan gabungan reporter Li Li / Lin Qing

Tangki Bahan Kimia Bocor di California, AS, Ancaman Ledakan Picu Evakuasi 40.000 Warga

Sebuah tangki bahan kimia di California Selatan, Amerika Serikat, yang berada tidak jauh dari Disneyland mengalami kebocoran uap akibat panas berlebih pada 21 Mei. Karena ada risiko ledakan dan penyebaran gas beracun ke wilayah padat penduduk, pihak berwenang pada 22 Mei memerintahkan evakuasi darurat terhadap sekitar 40 ribu warga.

EtIndonesia. Insiden kebocoran ini terjadi di pabrik plastik milik perusahaan dirgantara GKN Aerospace di Garden Grove, Orange County. Tangki tersebut berisi 7.000 galon (sekitar 26 ribu liter) methyl methacrylate (MMA), yaitu cairan yang mudah menguap dan mudah terbakar yang umum digunakan dalam pembuatan plastik.

Menurut laporan Associated Press, Garden Grove terletak sekitar 61 kilometer di selatan pusat kota Los Angeles. Wilayah tersebut memiliki komunitas keturunan Vietnam yang besar dan aktif, serta berjarak kurang dari 1,6 kilometer dari dua taman hiburan utama Disneyland. Hingga 22 Mei, Disneyland belum menerima perintah evakuasi.

AFP melaporkan bahwa petugas pemadam kebakaran setempat memperingatkan situasi sangat kritis. Komandan penanganan bencana, Craig Covey, mengatakan:

“Saat ini hanya ada dua kemungkinan. Pertama, tangki pecah dan sekitar 6.000 hingga 7.000 galon bahan kimia berbahaya mengalir ke area parkir setempat. Kedua, tangki mengalami ledakan akibat panas tak terkendali dan memicu ledakan pada tangki bahan bakar atau bahan kimia lain di sekitarnya.”

Rekaman udara dari stasiun televisi lokal menunjukkan petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air ke tangki berkapasitas total 34 ribu galon tersebut.

“Kami sedang mengatur proses evakuasi untuk menghadapi dua kemungkinan ini: kebocoran besar atau ledakan. Kami meminta masyarakat bekerja sama dalam proses pengungsian.”

Kepala Kepolisian Garden Grove, Amir El-Farra, menyatakan sekitar 40 ribu orang diminta mengungsi, tetapi masih ada ribuan warga yang enggan meninggalkan rumah mereka.

Pejabat kesehatan Orange County juga mengimbau warga agar segera melapor kepada pihak berwenang jika mencium “bau buah yang sangat menyengat”.

“Mencium bau itu tidak berarti konsentrasi gas cukup tinggi untuk menimbulkan gejala, tetapi kami tidak ingin ada siapa pun yang mencium bau tersebut. Jadi jika Anda mencium aromanya, segera beri tahu kami.”

Menurut situs resmi Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), MMA dapat mengiritasi kulit, mata, dan selaput lendir tubuh manusia. 

“Paparan jangka pendek maupun jangka panjang melalui inhalasi diketahui dapat menyebabkan gangguan saluran pernapasan. Ada juga laporan bahwa paparan akut (paparan dosis tinggi dalam waktu singkat) dapat menyebabkan gejala pada sistem saraf.”

Sumber : NTDTV.com

Penerbangan Cathay Pacific dari Australia ke Hong Kong Alami Turbulensi, 8 Orang Terluka, Ambulans Disiagakan

EtIndonesia. Pesawat Cathay Pacific penerbangan CX156 yang terbang dari Brisbane, Australia menuju Hong Kong pada Sabtu (23/5/2026), mengalami turbulensi di tengah perjalanan sehingga menyebabkan 8 penumpang dan awak kabin mengalami luka ringan akibat benturan. Setelah kabar tersebut tersebar, Bandara Internasional Hong Kong di Chek Lap Kok mengerahkan sejumlah ambulans untuk bersiaga di lokasi. Pesawat akhirnya mendarat dengan selamat, dan petugas medis segera memeriksa para korban serta membawa mereka ke rumah sakit untuk perawatan.

Menurut situs resmi Cathay Pacific, pesawat tersebut tiba di Hong Kong sekitar pukul 06.41 pagi hari ini.

Media Hong Kong melaporkan bahwa Cathay Pacific menyatakan setelah penerbangan mendarat pada pukul 06.45 waktu Hong Kong, petugas medis segera naik ke pesawat untuk memeriksa kondisi beberapa penumpang dan awak kabin yang merasa tidak sehat, serta memberikan penanganan yang diperlukan.

Korban terdiri dari dua penumpang perempuan dan satu penumpang laki-laki, serta lima awak kabin — empat pria dan satu wanita. Semua korban dilaporkan dalam keadaan sadar.

Sekitar pukul 08.15 pagi, ambulans secara bertahap membawa kedelapan korban ke Rumah Sakit North Lantau. Terlihat salah satu pramugari mengenakan penyangga leher (neck brace).

Sumber : NTDTV.com

Nenek Berusia 80 Tahun di Zhejiang, Tiongkok Masih Bekerja untuk Menafkahi Keluarga, Picu Perdebatan Hangat

EtIndonesia. Pada 23 Mei 2026, media Zhejiang melaporkan bahwa seorang lansia berusia 80 tahun di Jiaxing, Zhejiang, masih bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan pertamanan dengan gaji bulanan sekitar 3.400 yuan. Ditambah uang pensiunnya, total pendapatan bulanannya mencapai 7.000 yuan.

Saat ini, lansia tersebut bertugas melakukan pekerjaan ringan sesuai kemampuannya di perusahaan itu. Ia mengatakan kepada wartawan bahwa setelah pensiun ia merasa “bosan” jika hanya tinggal di rumah, sehingga memutuskan mencari pekerjaan paruh waktu. Sebagian besar uang yang diperolehnya diberikan untuk cicitnya, digunakan untuk biaya pendidikan dan kebutuhan hidup. Ia juga memegang prinsip: “Selama masih mampu bekerja, maka harus bekerja.”

Berita tersebut dengan cepat menyebar di internet dan memicu banyak komentar emosional dari netizen:

“Seorang lansia 80 tahun, usia yang seharusnya dirawat anak dan cucu, malah masih bekerja demi mereka. Ini sebenarnya kelanjutan kasih sayang keluarga atau justru pemindahan tekanan antar generasi?”

Ada juga yang berpendapat: “Ini mencerminkan fenomena aneh di masyarakat saat ini: banyak anak muda menganggur di rumah dan memilih rebahan, sementara para lansia justru aktif masuk ke persaingan kerja dan menjadi penopang utama ekonomi keluarga.”

Sebagian lainnya bertanya: “Ketika lansia secara sukarela masuk ke persaingan kerja demi membantu ekonomi keluarga, sementara anak muda yang seharusnya menjadi tulang punggung malah terpaksa memilih rebahan karena sulit mendapat pekerjaan, sebenarnya kesulitan hidup seperti apa yang sedang tercermin di zaman ini?”

Analisis: Lansia 80 Tahun Harus Membuktikan Diri “Masih Berguna”, Itu Sendiri Sudah Kejam

Komentator media independen “Shanshui Xianping” menulis bahwa kehidupan pensiun bagi orang berusia 80 tahun seharusnya diisi dengan berjalan-jalan di taman, berlatih tai chi, menjaga cucu, atau duduk menikmati matahari di panti jompo.

Namun nenek 80 tahun ini masih bekerja demi anak, cucu, dan cicitnya. Menurutnya, ini adalah “corong kekayaan” khas keluarga Tiongkok — uang selalu mengalir ke bawah, tidak pernah ke atas. Setiap sen yang dihemat generasi tua dengan susah payah akan terus mengalir kepada generasi berikutnya.

Artikel itu menyebut bahwa saat sang nenek berkata “uang ini untuk cicit saya”, mungkin ia masih tersenyum. Dalam budaya tradisional Tiongkok, mampu membantu keturunan dianggap sebagai bukti bahwa seseorang “masih berguna” dan memiliki martabat.

Namun justru di situlah masalahnya. Sebuah masyarakat yang membuat orang berusia 80 tahun harus membuktikan nilainya dengan cara “masih berguna”, pada dasarnya adalah sesuatu yang kejam. Martabat yang sesungguhnya adalah ketika seseorang di usia 70 atau 80 tahun bisa memilih untuk tidak bekerja — bukan terpaksa bekerja di usia yang seharusnya sudah beristirahat.

Artikel tersebut menekankan bahwa ini bukan sekadar pilihan pribadi sang nenek, melainkan kesulitan yang dihadapi satu generasi. Bayangkan, seorang nenek berusia 80 tahun masih memperoleh penghasilan 7.000 yuan per bulan dan tetap bekerja paruh waktu. Lalu apa yang dilakukan anak, cucu, dan cicitnya? Seberapa rendah pendapatan mereka hingga harus bergantung pada bantuan seorang leluhur berusia 80 tahun?

Dan ini bukan kasus tunggal. Di kota-kota kecil di Tiongkok, para lansia yang berjualan di pasar, memungut botol bekas di taman, atau menjaga parkiran sepeda di kompleks perumahan — uang pensiun, hasil jual sayur, atau pendapatan kecil mereka sering kali berubah menjadi uang susu cucu, biaya sekolah, atau uang muka rumah bagi keturunan mereka.

Anak Muda Menghadapi Krisis Pekerjaan

Berbeda tajam dengan para lansia yang aktif ikut “persaingan kerja”, generasi muda Tiongkok kini menghadapi kesulitan pekerjaan yang serius.

Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi Tiongkok terus memburuk. Banyak pabrik dan perusahaan tutup, sehingga situasi pekerjaan bagi anak muda makin suram. Ditambah persaingan industri yang semakin ketat, biaya hidup yang naik, serta tekanan harga rumah, pendidikan, dan biaya kesehatan, generasi muda menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Semakin banyak anak muda terjebak dalam kondisi “tidak bisa rebahan dengan tenang, tetapi juga tidak mampu terus bersaing”.

Universitas Renmin Tiongkok pernah merilis “Survei Perkembangan Pemuda Tiongkok” yang menunjukkan bahwa 28,5% anak muda hidup dalam kondisi “45 derajat” — istilah untuk keadaan “tidak sanggup terus bersaing, tetapi juga tidak bisa benar-benar menyerah”. Sementara yang benar-benar memilih “rebahan” hanya 12,8%. Sebanyak 58,7% anak muda masih berada dalam tekanan persaingan yang berat.

Presiden Universitas Keuangan dan Ekonomi Shanghai, Liu Yuanchun, pernah memperingatkan dalam laporan gabungan bahwa masalah pengangguran pemuda di Tiongkok mungkin akan berlanjut hingga 10 tahun ke depan. Dalam jangka pendek, situasi diperkirakan terus memburuk. Jika tidak ditangani dengan baik, persoalan ini dapat memicu masalah sosial lain di luar bidang ekonomi, bahkan berpotensi menjadi pemicu masalah politik.

Laporan gabungan reporter Li Yun/Li Quan – NTDTV.com

Ketika 950 KM Ditembus Drone Ukraina! Rusia Panik, Putin Gelar Rapat Darurat Tengah Malam

EtIndonesia. Konflik Rusia–Ukraina kembali memasuki fase yang semakin berbahaya. Dalam beberapa hari terakhir, Ukraina dilaporkan meningkatkan intensitas serangan drone jarak jauh ke wilayah Rusia, termasuk menyerang target militer strategis, pusat operasi pasukan khusus, hingga fasilitas energi vital yang berada jauh dari garis depan perang.

Gelombang serangan terbaru ini memunculkan kekhawatiran baru di Moskow karena kemampuan drone Ukraina dinilai semakin canggih, presisi, dan mampu menembus sistem pertahanan udara Rusia hingga ratusan kilometer dari perbatasan.

Operasi “Salju Akhmat” Guncang Donetsk

Salah satu operasi terbesar terjadi pada 19 Mei malam hingga 20 Mei 2026. Dalam operasi yang disebut “Salju Akhmat”, militer Ukraina dilaporkan menyerang kota Snizhne di wilayah Donetsk yang saat ini berada di bawah pendudukan Rusia.

Menurut sumber militer Ukraina, target utama operasi tersebut bukan sekadar posisi tempur biasa, melainkan fasilitas penting yang digunakan untuk mendukung operasi drone Rusia di medan perang.

Beberapa sasaran yang disebut terkena serangan antara lain:

  • pusat pelatihan operator drone,
  • bengkel perakitan UAV,
  • gudang amunisi,
  • serta fasilitas operasi pasukan khusus Chechnya.

Serangan itu disebut dilakukan menggunakan kombinasi drone jarak jauh dan sistem serangan presisi yang mampu menembus pertahanan Rusia pada malam hari.

Laporan awal dari pihak Ukraina menyebut sedikitnya 65 personel Rusia tewas dalam operasi tersebut. Korban dikabarkan mencakup operator drone, instruktur militer, teknisi UAV, dan personel pasukan elite yang selama ini terlibat dalam operasi garis depan.

Jika laporan ini benar, maka serangan tersebut menjadi salah satu pukulan paling berat terhadap jaringan operasi drone Rusia sepanjang Mei 2026.

Ukraina Kini Menyerang Jauh di Belakang Garis Pertahanan Rusia

Yang paling mengkhawatirkan bagi Moskow bukan hanya jumlah korban, melainkan fakta bahwa Ukraina kini mampu menyerang jauh ke belakang wilayah yang selama ini dianggap relatif aman.

Pengamat militer menilai pola serangan Ukraina telah berubah drastis dibanding fase awal perang. Jika sebelumnya fokus utama berada di garis depan Donbas dan wilayah selatan, kini Kyiv mulai menjalankan strategi penghancuran infrastruktur strategis Rusia secara sistematis.

Strategi tersebut mencakup:

  • penghancuran fasilitas energi,
  • serangan ke depot logistik,
  • penghancuran fasilitas drone,
  • serta gangguan terhadap jalur pasokan militer Rusia.

Tujuannya diyakini untuk melemahkan kemampuan perang Rusia dalam jangka panjang, bukan hanya memenangkan pertempuran taktis di garis depan.

Kilang Minyak Syzran Dibakar dari Jarak 950 Kilometer

Beberapa jam setelah operasi di Donetsk, Ukraina kembali melancarkan serangan besar lainnya.

Pada malam 20 Mei 2026, drone Ukraina menyerang kilang minyak Syzran yang berada lebih dari 950 kilometer dari perbatasan Ukraina. Jarak tersebut menunjukkan bahwa kemampuan serangan jarak jauh Ukraina kini telah berkembang jauh melampaui perkiraan banyak pihak.

Menurut laporan yang beredar, serangan menghantam menara distilasi utama di kompleks kilang dan memicu ledakan besar yang diikuti kebakaran hebat.

Api dilaporkan membumbung tinggi di area fasilitas energi tersebut dan membutuhkan waktu lama untuk dikendalikan.

Kilang Syzran sendiri merupakan salah satu fasilitas penting dalam jaringan energi Rusia. Kerusakan pada instalasi semacam itu tidak hanya berdampak pada distribusi bahan bakar, tetapi juga dapat mempengaruhi logistik militer Rusia.

Zelenskyy Sebut Ini “Sanksi Ekonomi Jarak Jauh”

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, secara langsung mengomentari operasi tersebut.

Dalam pernyataannya, Zelenskyy menyebut serangan terhadap fasilitas energi Rusia sebagai bentuk “sanksi ekonomi jarak jauh” terhadap Moskow.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa Ukraina kini tidak lagi sekadar bertahan dari invasi Rusia, melainkan aktif mencoba menghancurkan fondasi ekonomi yang menopang mesin perang Kremlin.

Menurut intelijen Ukraina, sepanjang Mei 2026 saja sudah ada sedikitnya 11 fasilitas energi Rusia yang dihantam melalui serangan presisi.

Target-target tersebut mencakup:

  • kilang minyak,
  • terminal bahan bakar,
  • depot logistik energi,
  • dan fasilitas distribusi bahan bakar strategis.

Serangan yang terus berulang membuat banyak analis percaya bahwa Kyiv kini menjalankan strategi perang ekonomi secara penuh.

Rusia Dinilai Mulai Kewalahan

Sejumlah analis militer Barat menilai Rusia mulai menghadapi tekanan serius akibat intensitas serangan drone Ukraina yang terus meningkat.

Masalah utama bagi Moskow bukan hanya menghancurkan drone yang datang, tetapi mempertahankan wilayah yang sangat luas dari serangan kecil namun mematikan.

Drone modern memiliki beberapa keunggulan:

  • sulit terdeteksi radar,
  • biaya produksi relatif murah,
  • dapat diluncurkan dalam jumlah besar,
  • dan mampu menyerang target secara presisi.

Dalam beberapa bulan terakhir, Ukraina juga diyakini berhasil meningkatkan teknologi navigasi, kecerdasan buatan, serta kemampuan penerbangan rendah untuk menghindari radar Rusia.

Akibatnya, sistem pertahanan udara Rusia mulai menghadapi tantangan besar karena harus melindungi ribuan kilometer wilayah sekaligus.

Kremlin Dikabarkan Gelar Rapat Darurat

Di tengah meningkatnya serangan tersebut, sumber internal Rusia melaporkan bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin, langsung memanggil para jenderal senior dan pejabat keamanan ke Kremlin untuk menggelar rapat darurat.

Menurut bocoran yang beredar di berbagai kanal pengamat militer, suasana rapat disebut berlangsung sangat tegang.

Putin dikabarkan meluapkan kemarahan terhadap kegagalan sistem pertahanan udara Rusia yang dinilai tidak mampu menghentikan gelombang drone Ukraina yang semakin sulit dideteksi.

Beberapa laporan bahkan menyebut Kremlin mulai khawatir bahwa Ukraina akan terus meningkatkan frekuensi serangan ke pusat industri, fasilitas energi, dan basis militer jauh di wilayah Rusia.

Jika tren ini terus berlangsung, tekanan terhadap ekonomi Rusia diperkirakan akan semakin berat, terutama karena biaya perbaikan infrastruktur energi dan pertahanan udara terus meningkat.

Perang Memasuki Babak Baru

Serangan-serangan terbaru ini memperlihatkan bahwa perang Rusia–Ukraina kini telah memasuki babak baru yang jauh lebih kompleks.

Perang tidak lagi hanya terjadi di parit-parit garis depan atau pertempuran artileri di Donbas. Kini, konflik berubah menjadi perang teknologi, perang drone, dan perang penghancuran infrastruktur strategis.

Banyak analis percaya bahwa kemampuan Ukraina menyerang target hingga hampir 1.000 kilometer ke wilayah Rusia akan menjadi faktor yang dapat mengubah arah perang dalam jangka panjang.

Di sisi lain, Rusia diperkirakan akan meningkatkan sistem pertahanan udara, memperketat keamanan fasilitas energi, dan mungkin melancarkan serangan balasan yang lebih besar terhadap Ukraina.

Dengan eskalasi yang terus meningkat sepanjang Mei 2026, dunia internasional kini semakin khawatir bahwa konflik ini dapat berkembang menjadi konfrontasi yang lebih luas dan sulit dikendalikan. (***)

Kecelakaan Tambang Besar di Shanxi, Tiongkok : Ledakan Gas Tambang Batu Bara Tewaskan 90 Orang

EtIndonesia. Beberapa hari lalu, sebuah tambang batu bara di Kota Changzhi, Provinsi Shanxi, Tiongkok mengalami ledakan gas. Saat ini setidaknya 90 orang dilaporkan tewas.

Pada 23 Mei, Biro Manajemen Darurat Kabupaten Qinyuan mengumumkan bahwa pada 22 Mei pukul 19.29, terjadi ledakan gas di Tambang Batu Bara Liushenyu milik Grup Tongzhou di Kabupaten Qinyuan. 

Saat kejadian, terdapat 247 pekerja di bawah tanah. Hingga 23 Mei pukul 06.00 pagi, sebanyak 201 orang telah berhasil naik ke permukaan, 8 orang dinyatakan meninggal dunia dan 38 orang masih berada di bawah tanah. Penyebab kecelakaan masih diselidiki.

Namun hingga pukul 14.00 siang pada 23 Mei, media resmi Tiongkok melaporkan bahwa jumlah korban tewas telah mencapai 90 orang. Operasi penyelamatan masih terus berlangsung.

Karena rezim Tiongkok kerap dituduh menutupi skala bencana, banyak pihak menduga jumlah korban sebenarnya mungkin jauh lebih besar daripada angka resmi.

Seorang pekerja pengangkut batu bara mengatakan kepada media The Beijing News bahwa tambang tersebut beroperasi dalam tiga shift. Saat kejadian, para pekerja shift tengah sedang turun ke tambang. Lokasi kini telah dipasang garis polisi dan tidak dapat dimasuki. Sebagian besar pekerja tambang berasal dari Qinyuan dan Qinxian.

Pekerja lain yang menangani kelistrikan mengatakan dua temannya yang biasanya bekerja di bawah tanah lolos dari maut karena saat itu mereka bertugas pada shift pagi.

Warganet Tiongkok meninggalkan banyak komentar:

  • “Ya Tuhan, masih banyak orang terjebak di dalam.”
  • “Sangat menyedihkan.”
  • “Baru pagi sudah melihat berita seperti ini, benar-benar membuat hati berat.”
  • “Katanya terjadi di sumur nomor tiga.”
  • “Masih banyak orang belum keluar dari tambang, sangat mengkhawatirkan.”
  • “Kalau ledakan gas, kemungkinan kecil bisa selamat.”
  • “Jumlah korban sebenarnya mungkin jauh lebih banyak.”

Ada juga yang mempertanyakan perubahan jumlah korban: “Awalnya diumumkan 201 orang selamat, 8 orang meninggal, dan 38 masih dicari. Kok tiba-tiba korban tewas jadi sebanyak ini?”

Sebagian warganet menduga beberapa korban yang berhasil keluar ternyata dalam kondisi kritis dan akhirnya meninggal.

Komentar lain menyebut:

  • “Keuntungan industri batu bara dibayar dengan keringat dan keselamatan pekerja garis depan.”
  • “Satu shift bisa sampai sebanyak itu orang masuk tambang?”
  • “Sebagai pekerja tambang, melihat berita seperti ini sangat menyakitkan.”
  • “Berdasarkan pengalaman kerja saya, kecelakaannya pasti sangat serius.”
  • “Ini tambang hitam. Keamanan dan kondisi kerjanya sangat buruk.”

Seorang warganet yang ayahnya bekerja di tambang berkata: “Ayah saya bilang, kalau terjadi ledakan gas, hampir tidak ada yang bisa lolos.”

Banyak orang juga menyoroti dampak tragedi ini terhadap keluarga korban:

  • “Berapa banyak keluarga kehilangan anak dan ayah mereka.”
  • “Dalam belasan jam saja, jumlah korban melonjak drastis. Sangat mengerikan.”
  • “Harus ada pemeriksaan keselamatan besar-besaran dan pihak bertanggung jawab harus dihukum.”

Menurut laporan, saat kejadian terdapat 247 orang di bawah tanah. Hingga kini, 156 orang berhasil diselamatkan dan 90 orang tewas. Selain itu, 123 orang dilarikan ke rumah sakit.

Para korban luka dirawat di beberapa rumah sakit di Kota Changzhi dan Kabupaten Qinyuan. Mereka terutama mengalami keracunan gas beracun dan kini menjalani terapi oksigen hiperbarik. Pihak berwenang juga telah menahan penanggung jawab perusahaan terkait.

“Saat saya berada di area kerja 311, saya tidak mendengar suara ledakan apa pun. Tiba-tiba muncul asap dengan bau belerang seperti habis peledakan. Saya langsung menyuruh semua orang lari. Dalam perjalanan saya melihat ada yang pingsan karena asap. Saya sendiri juga pingsan. Setelah sekitar satu jam lebih, saya sadar dan membangunkan orang di sebelah saya, lalu kami keluar bersama,” ujar seorang penambang yang selamat bernama Wang Yong kepada CCTV. 

Komentator independen Cai Shenkun menulis di platform X bahwa jumlah korban kemungkinan masih akan terus bertambah dan mungkin akhirnya melebihi 100 orang.

Ia menilai tragedi besar ini menjadi pukulan berat bagi Gubernur Shanxi yang baru menjabat tahun lalu, Lu Dongliang. Sebelumnya sempat beredar rumor bahwa Lu akan dipindahkan menjadi Sekretaris Partai di Yunnan, namun tragedi ini kemungkinan besar akan mempengaruhi karier politiknya.

Data publik menunjukkan bahwa perusahaan tambang yang terlibat, Shanxi Tongzhou Group Liushenyu Coal Industry Co., sebelumnya bernama Shanxi Liushenyu Coal Industry Co. Tambang tersebut berada di Desa Shangzhuang, Kabupaten Qinyuan, Kota Changzhi, dengan kapasitas produksi yang diklaim mencapai 1,2 juta ton per tahun.

Informasi dari Biro Energi Kota Changzhi menunjukkan bahwa tambang tersebut tergolong tambang dengan kandungan gas tinggi, sehingga memiliki risiko besar terhadap ledakan gas.

Provinsi Shanxi dikenal sebagai provinsi utama penghasil batu bara di Tiongkok. Dengan wilayah yang lebih luas daripada Yunani dan populasi sekitar 34 juta jiwa, ratusan ribu penambang di provinsi itu menggali 1,3 miliar ton (1,17 miliar metrik ton) batu bara tahun lalu, atau hampir sepertiga dari total produksi batu bara Tiongkok.

Pada Oktober 2021, Biro Pengawasan Keselamatan Tambang Beijing menemukan bahwa tambang-tambang batu bara di Shanxi menghadapi sejumlah masalah keselamatan serius, termasuk protokol keselamatan yang tidak memadai untuk situasi darurat seperti kebocoran gas serta kurangnya pengawasan terhadap para pekerja.

Li Yuanhua, mantan profesor madya pendidikan di Capital Normal University di Beijing, mengatakan kepada The Epoch Times pada Oktober 2021 bahwa meskipun PKT telah menetapkan aturan keselamatan, aturan tersebut sering kali tidak ditegakkan.

Li juga menuduh bahwa tambang-tambang yang tidak aman masih bisa mendapatkan izin untuk kembali beroperasi karena pemerintah daerah mengejar pendapatan pajak, serta adanya kolusi antara pemerintah dan pihak bisnis.

Pada Februari 2023, sebanyak 53 orang tewas setelah terjadi runtuhan di tambang terbuka di wilayah Mongolia Dalam, Tiongkok utara. Pada November 2009, ledakan di sebuah tambang di Provinsi Heilongjiang, Tiongkok timur laut, menewaskan 108 orang, menurut media pemerintah.

Dilaporkan oleh Li Enzhen/ Li Quan – NTDTV.com

Kopdar Indo Barca Surabaya Berbalut Edukasi Investasi, BRI dan Danareksa Hadirkan NGOPI SORE

SURABAYA, 22 Mei 2026 – Suasana santai khas komunitas sepak bola berpadu dengan edukasi keuangan dalam acara “NGOPI SORE” (Ngobrol Seputar Investasi Saham, Obligasi, Reksadana) yang digelar oleh Bank BRI Regional Office Surabaya bersama BRI Danareksa Sekuritas. Kegiatan yang berlangsung di Surabaya ini juga didukung oleh Bursa Efek Indonesia Kanwil Jawa Timur dan Pegadaian Kanwil Surabaya.

Acara yang dikemas dalam bentuk kopi darat (kopdar) bersama Komunitas Indo Barca Chapter Surabaya ini menjadi bukti bahwa literasi keuangan dapat disampaikan dengan cara yang ringan dan dekat dengan komunitas.

Kartu Debit dan Brizzi Bertema FC Barcelona

Ery Wicaksono, Funding & Transaction Head BRI RO Surabaya, menyampaikan bahwa kopdar kali ini terasa berbeda.

“Teman-teman Indo Barca mendapat edukasi sambil NGOPI SORE, tetapi juga mendapat penawaran dari Bank BRI selaku Official Commercial Banking Partner of FC Barcelona in Indonesia, berupa kartu debit dan Brizzi (e-Money BRI) bertema FC Barcelona,” ujarnya saat membuka acara.

Para peserta yang merupakan penggemar berat klub asal Catalunya itu pun tampak antusias dengan produk bernuansa Blaugrana tersebut.

Ragam Produk dan Layanan dari BRI, Pegadaian, hingga Sekuritas

Tiga narasumber hadir untuk memberikan pemaparan menarik:

  • Rafli Rizki Septian, Relationship Manager BRI, menjelaskan cara mendapatkan Kartu Debit FC Barcelona. Cukup dengan membuka tabungan di Bank BRI dengan setoran awal hanya Rp1 juta, peserta sudah bisa memiliki kartu eksklusif tersebut.
  • Gais Nomanto, Manager Pegadaian Cabang Dinoyo Surabaya, memaparkan keunggulan memiliki tabungan emas di Pegadaian, sebagai salah satu instrumen investasi yang aman dan likuid.
  • Taufan Febiola, Branch Manager BRI Danareksa Sekuritas Regional Cabang Surabaya, memperkenalkan produk unggulan seperti BRIGHTS Move-in (program pemindahan saham tanpa biaya dengan fee transaksi 0,125% untuk pembelian), fitur Smart Invest, layanan dividen dipercepat (BREW), hingga Gadai Efek.

Buka Rekening Saham Gratis dengan Saldo Awal Rp50 Ribu

Sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan jumlah investor ritel, BRI Danareksa Sekuritas memberikan kesempatan kepada peserta untuk membuka rekening saham secara gratis. Tak hanya itu, setiap rekening juga diisi saldo RDN BRI senilai Rp50 ribu melalui program Cuan XTRA.

Langkah ini sejalan dengan upaya Bursa Efek Indonesia untuk memperluas basis investor di Jawa Timur, khususnya di kalangan komunitas dan generasi muda.

Kegiatan NGOPI SORE ini membuktikan bahwa edukasi pasar modal dan perbankan tidak harus kaku. Dengan pendekatan komunitas yang hangat seperti kopdar Indo Barca, literasi keuangan dapat tersampaikan dengan lebih efektif dan menyenangkan.

Setelah 30 Tahun, AS Resmi Buru Pemimpin Kuba Raúl Castro! Kasus Penembakan Pesawat Sipil 1996 Kini Berubah Jadi Krisis Global

EtIndonesia. Pada 20 Mei 2026, pemerintah Amerika Serikat secara resmi kembali membuka salah satu kasus paling kontroversial dalam sejarah hubungan antara Amerika Serikat dan Kuba. Melalui Departemen Kehakiman AS, Washington mengumumkan tuntutan pidana terhadap sejumlah tokoh penting Kuba terkait insiden penembakan dua pesawat sipil Amerika pada 24 Februari 1996, tragedi yang menewaskan empat warga Amerika Serikat dan sempat mengguncang dunia internasional.

Langkah tersebut langsung menarik perhatian global karena salah satu nama yang tercantum dalam dakwaan adalah Raúl Castro, mantan pemimpin Kuba yang kini berusia 94 tahun dan pada saat tragedi terjadi menjabat sebagai Menteri Pertahanan Kuba.

Banyak analis internasional menilai bahwa langkah hukum ini bukan sekadar upaya mencari keadilan atas kasus lama. Di baliknya, pemerintahan Presiden Donald Trump dinilai sedang mengirim pesan strategis yang jauh lebih besar: Washington siap meningkatkan tekanan politik, psikologis, intelijen, ekonomi, bahkan militer terhadap rezim komunis Kuba.


Tragedi 24 Februari 1996 yang Mengubah Hubungan AS-Kuba

Untuk memahami mengapa kasus ini kembali memanas setelah tiga dekade, dunia harus kembali ke tanggal 24 Februari 1996.

Pada hari itu, tiga pesawat sipil ringan milik organisasi “Brothers to the Rescue” lepas landas dari Florida menuju wilayah perairan dekat Kuba. Organisasi tersebut awalnya dikenal sebagai kelompok kemanusiaan yang membantu menyelamatkan warga Kuba yang melarikan diri menuju Amerika Serikat menggunakan rakit kayu, kapal kecil, hingga perahu seadanya.

Pada awal 1990-an, kondisi Kuba mengalami krisis ekonomi parah setelah runtuhnya Uni Soviet. Hilangnya bantuan ekonomi dari Moskow membuat perekonomian Kuba terpukul hebat. Kelangkaan makanan, bahan bakar, dan kebutuhan pokok memicu gelombang besar pelarian warga Kuba menuju Amerika Serikat.

Di tengah situasi itu, “Brothers to the Rescue” menjadi simbol harapan bagi banyak pengungsi Kuba.

Namun seiring waktu, aktivitas organisasi tersebut berubah semakin politis. Selain melakukan misi penyelamatan, kelompok itu mulai mendekati wilayah udara Kuba dan menjatuhkan selebaran anti-komunis yang menyerukan perlawanan terhadap pemerintahan Havana.

Pemerintah Kuba menganggap tindakan tersebut sebagai provokasi dan operasi subversif yang didukung Amerika Serikat untuk menggulingkan rezim komunis.

Ketegangan pun mencapai puncaknya pada 24 Februari 1996.

Pemimpin Kuba Raúl Castro Image by U.S. DOJ/news release

Jet tempur Kuba diterbangkan secara darurat. Tak lama kemudian, dua rudal udara-ke-udara ditembakkan ke arah dua pesawat sipil Amerika.

Kedua pesawat langsung hancur di udara.

Empat warga Amerika tewas seketika, sementara satu pesawat lainnya berhasil melarikan diri dan kembali ke Florida.

Investigasi internasional dan pemerintah Amerika Serikat kemudian menyimpulkan bahwa penembakan terjadi di wilayah udara internasional. Namun pemerintah Kuba bersikeras bahwa pesawat-pesawat tersebut telah memasuki wilayah udara Kuba secara ilegal dan dianggap mengancam keamanan nasional.

Insiden itu langsung memicu kemarahan dunia internasional.

Tragedi tersebut juga menjadi salah satu faktor utama yang mendorong disahkannya Helms-Burton Act pada Maret 1996, sebuah undang-undang yang memperketat embargo dan sanksi ekonomi Amerika Serikat terhadap Kuba.


Pemerintahan Trump Hidupkan Kembali Kasus Lama

Tiga puluh tahun setelah tragedi itu, pemerintahan Trump kini kembali membawa kasus tersebut ke panggung utama politik internasional.

Pelaksana tugas Jaksa Agung Amerika Serikat, Blanche, mengeluarkan pernyataan keras yang langsung menjadi sorotan dunia:

“Jika Anda membunuh warga Amerika, kami akan memburu Anda. Tidak peduli siapa Anda dan jabatan apa yang Anda miliki.”

Pernyataan itu dipandang banyak pengamat sebagai ancaman terbuka terhadap para pemimpin rezim otoriter di berbagai negara.

Sementara itu, Donald Trump juga menyampaikan pesan politik yang sangat jelas: “Keadilan mungkin datang terlambat, tetapi tidak akan pernah absen.”

Di mata para analis geopolitik, pembukaan kembali kasus lama ini merupakan bagian dari strategi Trump untuk menunjukkan bahwa pemerintahannya tidak akan melupakan serangan terhadap warga Amerika, meskipun peristiwa itu telah terjadi puluhan tahun lalu.


Raúl Castro Didakwa, Legitimasi Rezim Kuba Dipertanyakan

Dalam dokumen tuntutan Departemen Kehakiman AS, Raúl Castro dan sejumlah pejabat Kuba lainnya dituduh terlibat dalam konspirasi pembunuhan terhadap empat warga Amerika melalui penembakan pesawat sipil tersebut.

Langkah ini memiliki dampak politik yang sangat besar.

Dengan mendakwa mantan pemimpin tertinggi Kuba, Washington secara tidak langsung sedang mempertanyakan legitimasi pemerintahan militer Kuba saat ini.

Banyak pengamat menilai bahwa Amerika Serikat sedang mencoba membangun narasi internasional bahwa rezim Kuba bukan lagi pemerintahan sah, melainkan kelompok penguasa yang bertanggung jawab atas pembunuhan warga sipil.

Jika narasi tersebut berhasil dibangun di mata publik internasional, maka langkah-langkah yang lebih keras terhadap Kuba — baik diplomatik, ekonomi, intelijen, maupun militer — akan lebih mudah dibenarkan.


María Elvira Salazar Kirim Peringatan Keras kepada Keluarga Castro

Ketegangan semakin meningkat ketika anggota Kongres AS keturunan Kuba, María Elvira Salazar, secara terbuka melontarkan peringatan keras kepada keluarga Castro.

Ia bahkan membandingkan situasi Kuba dengan tekanan Washington terhadap pemerintahan Nicolás Maduro di Venezuela.

Dalam pernyataannya, Salazar menyebut keluarga Castro sebaiknya segera meninggalkan Kuba sebelum menghadapi tindakan yang lebih keras dari pemerintahan Trump.

Ia mengatakan:

“Sekarang ada sheriff baru, dan sheriff itu bernama Trump.”

Pernyataan tersebut dianggap sebagai sinyal bahwa Washington tidak lagi sekadar ingin memberi tekanan diplomatik, melainkan mungkin sedang mempersiapkan perubahan besar terhadap rezim Kuba.


Trump Secara Terbuka Mengaku CIA Beroperasi di Kuba

Salah satu momen paling mengejutkan datang langsung dari Donald Trump.

Dalam sebuah pernyataan publik, Trump secara terbuka mengatakan:

“Kami punya banyak orang di Kuba. CIA juga ada di sana.”

Pernyataan seperti itu sangat jarang diucapkan secara terbuka oleh seorang Presiden Amerika Serikat.

Selama puluhan tahun, Washington hampir tidak pernah secara langsung mengakui keberadaan operasi intelijen aktif di negara lain.

Namun Trump justru secara terang-terangan menyebut bahwa Amerika memiliki jaringan dan pengaruh di dalam Kuba.

Ia juga menambahkan bahwa komunitas Kuba di Miami berharap suatu hari nanti dapat kembali ke tanah kelahiran mereka dan berinvestasi di Kuba pasca-rezim komunis.


Tiga Tujuan Strategis di Balik Pernyataan Trump

Para analis menilai ucapan Trump memiliki sedikitnya tiga tujuan strategis besar.

1. Menghancurkan Kepercayaan Internal Elite Kuba

Ketika Presiden AS secara terbuka mengatakan bahwa Amerika memiliki banyak orang di dalam Kuba, maka rasa curiga di tubuh pemerintahan Kuba hampir pasti meningkat.

Pejabat militer dan intelijen Kuba bisa mulai saling mencurigai sebagai mata-mata Amerika.

Dalam banyak kasus sejarah, konflik internal seperti ini sering mempercepat keruntuhan rezim otoriter.

2. Memberi Semangat kepada Kelompok Oposisi Kuba

Pernyataan Trump juga dipandang sebagai pesan kepada kelompok oposisi Kuba bahwa mereka tidak sendirian.

Ucapan mengenai keberadaan CIA dianggap sebagai sinyal bahwa Washington mendukung gerakan perubahan politik di Kuba.

3. Mengirim Peringatan kepada Rusia dan Tiongkok

Trump tampaknya juga ingin mengirim pesan kepada Tiongkok dan Rusia agar tidak terlalu jauh ikut campur dalam urusan Kuba.

Dalam beberapa tahun terakhir, Havana memang semakin dekat dengan Beijing dan Moskow, terutama dalam kerja sama intelijen, teknologi, dan militer.


Marco Rubio: “Masalah Kuba Bukan Amerika, Tapi Rezimnya”

Tak lama setelah Trump berbicara, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menyampaikan pidato keras yang ditujukan langsung kepada rakyat Kuba.

Sebagai menteri luar negeri pertama keturunan Kuba dalam sejarah Amerika Serikat, Rubio berbicara menggunakan bahasa Spanyol dan menolak narasi lama pemerintah Kuba yang menyalahkan embargo Amerika atas krisis ekonomi negara tersebut.

Menurut Rubio, penyebab utama penderitaan rakyat Kuba adalah sistem diktator komunis dan elite militer yang menguasai sektor-sektor ekonomi paling menguntungkan.

Rubio menyebut militer Kuba mengendalikan bisnis pariwisata, perdagangan valuta asing, hingga impor-ekspor, sementara rakyat biasa harus mengantre panjang hanya untuk mendapatkan kebutuhan pokok.

Ia juga menuding Kuba telah menjadi pusat aktivitas intelijen Rusia dan Tiongkok di kawasan Amerika Latin.


Rubio Dorong Agenda “De-Komunisasi Kuba”

Marco Rubio kemudian mengajukan dua agenda besar:

  1. Program “de-komunisasi Kuba”
  2. Bantuan kemanusiaan senilai 100 juta dolar AS

Bantuan tersebut disebut akan disalurkan melalui Gereja Katolik dan organisasi amal internasional, bukan melalui pemerintah Kuba.

Namun banyak pengamat skeptis bantuan itu benar-benar dapat terhindar dari kontrol elite partai dan militer Kuba selama sistem politik saat ini masih bertahan.


USS Nimitz Bergerak ke Laut Karibia

Situasi semakin memanas ketika Komando Selatan Amerika Serikat mengumumkan bahwa gugus tempur kapal induk USS Nimitz telah bergerak ke Laut Karibia dekat Kuba.

Kapal induk bertenaga nuklir itu membawa berbagai kapal perang pendamping, termasuk kapal perusak rudal berpemandu USS Gridley.

Gugus tempur tersebut memiliki kemampuan operasi udara, pertahanan rudal, perang anti-kapal selam, hingga peluncuran rudal jelajah Tomahawk untuk menyerang target darat secara presisi.

Yang paling menarik perhatian para analis adalah pernyataan resmi Komando Selatan AS yang menyebut bahwa USS Nimitz menjaga stabilitas global “dari Selat Taiwan hingga Teluk Arab”.

Banyak pengamat melihat pernyataan tersebut sebagai sinyal bahwa Washington kini mulai menempatkan Kuba dalam level strategis yang sejajar dengan ketegangan di Timur Tengah dan Asia-Pasifik.


Dugaan Persiapan Operasi Militer terhadap Kuba

Di saat yang sama, berbagai laporan intelijen menyebut Pentagon sedang menyusun sejumlah simulasi operasi militer terhadap Kuba.

Berbagai skenario disebut tengah diuji, mulai dari operasi tekanan terbatas hingga kemungkinan penghancuran pusat komando militer Kuba.

Jika laporan-laporan tersebut benar, maka langkah hukum, tekanan diplomatik, operasi intelijen, hingga pengerahan militer yang dilakukan Washington saat ini tampak bukan sebagai kebijakan yang berdiri sendiri.

Sebaliknya, semuanya terlihat seperti bagian dari satu strategi besar yang saling terhubung.

Kini dunia mulai bertanya-tanya: apakah Amerika Serikat hanya sedang meningkatkan tekanan psikologis terhadap Havana, atau sebenarnya sedang membuka babak baru konfrontasi besar di kawasan Karibia?

Tiga dekade setelah tragedi penembakan pesawat sipil tahun 1996, hubungan Amerika Serikat dan Kuba tampaknya kembali memasuki salah satu periode paling berbahaya dalam sejarah modern kedua negara. (***)

Elite Rusia Mulai Bicara Terbuka: Hubungan dengan Tiongkok Ternyata Tak Seindah Propaganda

EtIndonesia. Kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Tiongkok pada 20 Mei 2026 menjadi salah satu peristiwa geopolitik yang paling banyak disorot dunia internasional dalam beberapa hari terakhir. Di tengah tekanan ekonomi akibat perang berkepanjangan dengan Ukraina dan sanksi Barat yang terus menekan Moskow, Putin datang ke Beijing dengan harapan memperkuat “jalur penyelamat” ekonomi Rusia melalui kerja sama strategis dengan Tiongkok.

Secara simbolis, kunjungan tersebut memang terlihat sangat megah. Pemerintah Rusia dan Tiongkok mengumumkan penandatanganan lebih dari 40 dokumen kerja sama di berbagai bidang. Media resmi kedua negara juga menggambarkan hubungan Moskow–Beijing sebagai “persahabatan tanpa batas” yang semakin kokoh menghadapi tekanan Barat.

Namun di balik kemegahan acara dan sederet seremoni diplomatik, banyak pengamat internasional justru melihat sesuatu yang berbeda: hasil konkret yang benar-benar penting bagi Rusia dinilai sangat minim.

Fokus utama perhatian dunia tertuju pada proyek pipa gas raksasa “Power of Siberia 2”, sebuah proyek energi strategis yang selama ini dianggap sebagai harapan besar Rusia untuk menggantikan pasar energi Eropa yang hilang sejak pecahnya perang Rusia–Ukraina.

Hingga akhir kunjungan Putin, proyek tersebut ternyata masih belum mendapatkan kepastian final.


Lebih dari 40 Kesepakatan, Tetapi Kebanyakan Hanya Bersifat Simbolis

Dalam pertemuan bilateral pada 20 Mei 2026 itu, kedua negara memang mengumumkan berbagai kerja sama baru, mulai dari pertukaran budaya, pendidikan, media, teknologi, hingga perpanjangan kebijakan bebas visa tertentu.

Namun para analis menilai sebagian besar dokumen yang ditandatangani lebih bersifat deklarasi politik dan kerangka kerja umum, bukan kontrak ekonomi besar yang benar-benar dapat membantu Rusia keluar dari tekanan keuangan dan energi saat ini.

Bagi Kremlin, kebutuhan paling mendesak sebenarnya bukan kerja sama budaya atau media, melainkan kepastian pembelian energi jangka panjang dari Tiongkok.

Itulah sebabnya proyek “Power of Siberia 2” menjadi inti perhatian dunia.


Mengapa “Power of Siberia 2” Sangat Penting bagi Rusia?

Setelah perang Rusia–Ukraina pecah pada Februari 2022, hubungan energi Rusia dengan Eropa mengalami perubahan drastis. Negara-negara Uni Eropa secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap gas Rusia dan mulai mencari pemasok alternatif.

Akibatnya, Moskow kehilangan salah satu pasar energi terbesar dan paling menguntungkan yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung pemasukan negara.

Dalam situasi itulah Rusia mulai memandang Tiongkok sebagai pasar pengganti utama.

Melalui proyek “Power of Siberia 2”, Rusia berharap dapat mengalihkan sebagian besar pasokan gas yang sebelumnya dijual ke Eropa menuju pasar Tiongkok. Jalur pipa tersebut dirancang menghubungkan ladang gas Rusia dengan wilayah utara Tiongkok melalui Mongolia.

Bagi Kremlin, proyek ini bukan sekadar bisnis energi biasa. Ini adalah proyek strategis jangka panjang yang dapat menentukan masa depan ekonomi Rusia selama beberapa dekade ke depan.

Namun justru di sinilah masalah besar mulai muncul.


Beijing Tidak Lagi Terburu-Buru Membeli Gas Rusia

Berbeda dengan kondisi Rusia yang sangat membutuhkan pasar baru, Tiongkok saat ini justru berada dalam posisi jauh lebih nyaman.

Beijing memiliki banyak pilihan sumber energi gas alam. Selain sudah menerima pasokan dari jalur “Power of Siberia 1”, Tiongkok juga memperoleh gas dari Asia Tengah, jalur pipa Tiongkok–Myanmar, serta impor LNG dari negara-negara seperti Qatar dan Australia.

Di saat yang sama, ekonomi domestik Tiongkok juga sedang menghadapi perlambatan besar.

Krisis sektor properti, lemahnya konsumsi domestik, serta pertumbuhan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin membuat peningkatan permintaan gas tidak lagi secepat beberapa tahun lalu.

Karena itu, Beijing tidak berada dalam posisi mendesak untuk segera menyetujui proyek baru dengan harga mahal.

Situasi ini membuat posisi tawar Rusia menjadi jauh lebih lemah.


Perang Harga Gas: Rusia Minta Mahal, Beijing Menawar Separuhnya

Salah satu hambatan terbesar dalam negosiasi “Power of Siberia 2” adalah persoalan harga.

Rusia berharap harga gas untuk jalur kedua dapat mendekati harga proyek “Power of Siberia 1”, yakni sekitar 260 hingga 290 dolar AS per 1.000 meter kubik.

Namun menurut berbagai laporan media internasional, pihak Tiongkok hanya bersedia menawarkan kisaran 120 hingga 130 dolar AS per 1.000 meter kubik — hampir separuh dari harga yang diinginkan Moskow.

Perbedaan ini bukan sekadar negosiasi dagang biasa.

Beijing memahami bahwa Rusia saat ini kehilangan sebagian besar pasar Eropa dan sangat membutuhkan pembeli jangka panjang. Dalam industri gas alam, jaringan pipa menciptakan ketergantungan besar karena gas tidak bisa dipindahkan semudah minyak bumi.

Begitu infrastruktur pipa selesai dibangun, Rusia praktis akan sangat bergantung pada Tiongkok sebagai pembeli utama.

Karena itulah Beijing diyakini berusaha menekan harga serendah mungkin demi memperoleh keuntungan maksimal.


Rusia Takut Efek Domino Harga Murah

Di sisi lain, Moskow juga tidak berani menerima harga terlalu rendah.

Jika Rusia memberikan harga “diskon besar” kepada Tiongkok, negara-negara lain seperti India, Turki, bahkan calon pembeli Eropa di masa depan berpotensi menuntut harga serupa.

Bila hal itu terjadi, pendapatan energi Rusia bisa mengalami tekanan sangat besar dalam jangka panjang.

Karena itu, banyak analis menilai bahwa negosiasi “Power of Siberia 2” sebenarnya adalah pertarungan kepentingan strategis antara dua negara yang sama-sama mencoba memaksimalkan keuntungan nasional masing-masing.

Hubungan Rusia–Tiongkok mungkin terlihat sangat dekat di panggung politik, tetapi di balik layar keduanya tetap saling berhitung dengan sangat hati-hati.


Elite Rusia Mulai Bicara Terbuka soal “Ketimpangan” Hubungan dengan Tiongkok

Belakangan ini, tanda-tanda kekecewaan dari kalangan elite Rusia mulai muncul secara lebih terbuka.

Direktur Pendiri Dewan Urusan Internasional Rusia, Andrey Kortunov, mengungkapkan bahwa perdagangan Rusia–Tiongkok dalam dua tahun terakhir sebenarnya nyaris stagnan.

Ia bahkan memberikan contoh yang cukup menarik mengenai fenomena “demam es krim Rusia” di Tiongkok beberapa tahun lalu.

Saat itu, produk es krim Rusia sempat sangat populer di pasar Tiongkok. Banyak perusahaan Rusia mengira mereka berhasil membuka pasar besar yang menjanjikan.

Namun tidak lama kemudian, perusahaan-perusahaan Tiongkok mulai mempelajari formula dan model produksinya, lalu memproduksi produk serupa secara lokal.

Akibatnya, ekspor es krim Rusia ke Tiongkok disebut anjlok hingga 20 kali lipat. Produk sosis Rusia juga dikabarkan mengalami situasi serupa.

Pernyataan tersebut dianggap cukup sensitif karena menunjukkan bahwa sebagian elite Rusia mulai mempertanyakan narasi resmi tentang hubungan ekonomi “saling menguntungkan” antara Moskow dan Beijing.


Hubungan Politik Dekat, Tetapi Kepentingan Ekonomi Tetap Berbeda

Sejumlah analis internasional kini menilai hubungan Rusia–Tiongkok sebenarnya lebih didorong oleh kebutuhan politik bersama menghadapi tekanan Barat, bukan karena adanya kepercayaan ekonomi penuh di antara kedua pihak.

Rusia membutuhkan dukungan ekonomi dan diplomatik dari Tiongkok di tengah isolasi Barat.

Sebaliknya, Beijing dinilai melihat situasi ini sebagai peluang strategis untuk memperoleh energi murah sekaligus memperkuat pengaruhnya terhadap Moskow.

Karena itu, meskipun kedua negara terus menunjukkan citra “persahabatan tanpa batas” di depan publik, realitas di balik layar tampaknya jauh lebih kompleks.

Kunjungan Putin ke Beijing pada 20 Mei 2026 mungkin berhasil menghadirkan kemegahan diplomatik dan simbol politik yang kuat. Namun bagi banyak pengamat, satu hal justru semakin jelas:

Dalam hubungan Rusia–Tiongkok saat ini, masing-masing pihak tetap mengutamakan kepentingannya sendiri — dan di meja negosiasi ekonomi, Beijing tampaknya memegang posisi yang jauh lebih kuat dibanding Moskow. (***)