Elite Rusia Mulai Bicara Terbuka: Hubungan dengan Tiongkok Ternyata Tak Seindah Propaganda

EtIndonesia. Kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Tiongkok pada 20 Mei 2026 menjadi salah satu peristiwa geopolitik yang paling banyak disorot dunia internasional dalam beberapa hari terakhir. Di tengah tekanan ekonomi akibat perang berkepanjangan dengan Ukraina dan sanksi Barat yang terus menekan Moskow, Putin datang ke Beijing dengan harapan memperkuat “jalur penyelamat” ekonomi Rusia melalui kerja sama strategis dengan Tiongkok.

Secara simbolis, kunjungan tersebut memang terlihat sangat megah. Pemerintah Rusia dan Tiongkok mengumumkan penandatanganan lebih dari 40 dokumen kerja sama di berbagai bidang. Media resmi kedua negara juga menggambarkan hubungan Moskow–Beijing sebagai “persahabatan tanpa batas” yang semakin kokoh menghadapi tekanan Barat.

Namun di balik kemegahan acara dan sederet seremoni diplomatik, banyak pengamat internasional justru melihat sesuatu yang berbeda: hasil konkret yang benar-benar penting bagi Rusia dinilai sangat minim.

Fokus utama perhatian dunia tertuju pada proyek pipa gas raksasa “Power of Siberia 2”, sebuah proyek energi strategis yang selama ini dianggap sebagai harapan besar Rusia untuk menggantikan pasar energi Eropa yang hilang sejak pecahnya perang Rusia–Ukraina.

Hingga akhir kunjungan Putin, proyek tersebut ternyata masih belum mendapatkan kepastian final.


Lebih dari 40 Kesepakatan, Tetapi Kebanyakan Hanya Bersifat Simbolis

Dalam pertemuan bilateral pada 20 Mei 2026 itu, kedua negara memang mengumumkan berbagai kerja sama baru, mulai dari pertukaran budaya, pendidikan, media, teknologi, hingga perpanjangan kebijakan bebas visa tertentu.

Namun para analis menilai sebagian besar dokumen yang ditandatangani lebih bersifat deklarasi politik dan kerangka kerja umum, bukan kontrak ekonomi besar yang benar-benar dapat membantu Rusia keluar dari tekanan keuangan dan energi saat ini.

Bagi Kremlin, kebutuhan paling mendesak sebenarnya bukan kerja sama budaya atau media, melainkan kepastian pembelian energi jangka panjang dari Tiongkok.

Itulah sebabnya proyek “Power of Siberia 2” menjadi inti perhatian dunia.


Mengapa “Power of Siberia 2” Sangat Penting bagi Rusia?

Setelah perang Rusia–Ukraina pecah pada Februari 2022, hubungan energi Rusia dengan Eropa mengalami perubahan drastis. Negara-negara Uni Eropa secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap gas Rusia dan mulai mencari pemasok alternatif.

Akibatnya, Moskow kehilangan salah satu pasar energi terbesar dan paling menguntungkan yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung pemasukan negara.

Dalam situasi itulah Rusia mulai memandang Tiongkok sebagai pasar pengganti utama.

Melalui proyek “Power of Siberia 2”, Rusia berharap dapat mengalihkan sebagian besar pasokan gas yang sebelumnya dijual ke Eropa menuju pasar Tiongkok. Jalur pipa tersebut dirancang menghubungkan ladang gas Rusia dengan wilayah utara Tiongkok melalui Mongolia.

Bagi Kremlin, proyek ini bukan sekadar bisnis energi biasa. Ini adalah proyek strategis jangka panjang yang dapat menentukan masa depan ekonomi Rusia selama beberapa dekade ke depan.

Namun justru di sinilah masalah besar mulai muncul.


Beijing Tidak Lagi Terburu-Buru Membeli Gas Rusia

Berbeda dengan kondisi Rusia yang sangat membutuhkan pasar baru, Tiongkok saat ini justru berada dalam posisi jauh lebih nyaman.

Beijing memiliki banyak pilihan sumber energi gas alam. Selain sudah menerima pasokan dari jalur “Power of Siberia 1”, Tiongkok juga memperoleh gas dari Asia Tengah, jalur pipa Tiongkok–Myanmar, serta impor LNG dari negara-negara seperti Qatar dan Australia.

Di saat yang sama, ekonomi domestik Tiongkok juga sedang menghadapi perlambatan besar.

Krisis sektor properti, lemahnya konsumsi domestik, serta pertumbuhan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin membuat peningkatan permintaan gas tidak lagi secepat beberapa tahun lalu.

Karena itu, Beijing tidak berada dalam posisi mendesak untuk segera menyetujui proyek baru dengan harga mahal.

Situasi ini membuat posisi tawar Rusia menjadi jauh lebih lemah.


Perang Harga Gas: Rusia Minta Mahal, Beijing Menawar Separuhnya

Salah satu hambatan terbesar dalam negosiasi “Power of Siberia 2” adalah persoalan harga.

Rusia berharap harga gas untuk jalur kedua dapat mendekati harga proyek “Power of Siberia 1”, yakni sekitar 260 hingga 290 dolar AS per 1.000 meter kubik.

Namun menurut berbagai laporan media internasional, pihak Tiongkok hanya bersedia menawarkan kisaran 120 hingga 130 dolar AS per 1.000 meter kubik — hampir separuh dari harga yang diinginkan Moskow.

Perbedaan ini bukan sekadar negosiasi dagang biasa.

Beijing memahami bahwa Rusia saat ini kehilangan sebagian besar pasar Eropa dan sangat membutuhkan pembeli jangka panjang. Dalam industri gas alam, jaringan pipa menciptakan ketergantungan besar karena gas tidak bisa dipindahkan semudah minyak bumi.

Begitu infrastruktur pipa selesai dibangun, Rusia praktis akan sangat bergantung pada Tiongkok sebagai pembeli utama.

Karena itulah Beijing diyakini berusaha menekan harga serendah mungkin demi memperoleh keuntungan maksimal.


Rusia Takut Efek Domino Harga Murah

Di sisi lain, Moskow juga tidak berani menerima harga terlalu rendah.

Jika Rusia memberikan harga “diskon besar” kepada Tiongkok, negara-negara lain seperti India, Turki, bahkan calon pembeli Eropa di masa depan berpotensi menuntut harga serupa.

Bila hal itu terjadi, pendapatan energi Rusia bisa mengalami tekanan sangat besar dalam jangka panjang.

Karena itu, banyak analis menilai bahwa negosiasi “Power of Siberia 2” sebenarnya adalah pertarungan kepentingan strategis antara dua negara yang sama-sama mencoba memaksimalkan keuntungan nasional masing-masing.

Hubungan Rusia–Tiongkok mungkin terlihat sangat dekat di panggung politik, tetapi di balik layar keduanya tetap saling berhitung dengan sangat hati-hati.


Elite Rusia Mulai Bicara Terbuka soal “Ketimpangan” Hubungan dengan Tiongkok

Belakangan ini, tanda-tanda kekecewaan dari kalangan elite Rusia mulai muncul secara lebih terbuka.

Direktur Pendiri Dewan Urusan Internasional Rusia, Andrey Kortunov, mengungkapkan bahwa perdagangan Rusia–Tiongkok dalam dua tahun terakhir sebenarnya nyaris stagnan.

Ia bahkan memberikan contoh yang cukup menarik mengenai fenomena “demam es krim Rusia” di Tiongkok beberapa tahun lalu.

Saat itu, produk es krim Rusia sempat sangat populer di pasar Tiongkok. Banyak perusahaan Rusia mengira mereka berhasil membuka pasar besar yang menjanjikan.

Namun tidak lama kemudian, perusahaan-perusahaan Tiongkok mulai mempelajari formula dan model produksinya, lalu memproduksi produk serupa secara lokal.

Akibatnya, ekspor es krim Rusia ke Tiongkok disebut anjlok hingga 20 kali lipat. Produk sosis Rusia juga dikabarkan mengalami situasi serupa.

Pernyataan tersebut dianggap cukup sensitif karena menunjukkan bahwa sebagian elite Rusia mulai mempertanyakan narasi resmi tentang hubungan ekonomi “saling menguntungkan” antara Moskow dan Beijing.


Hubungan Politik Dekat, Tetapi Kepentingan Ekonomi Tetap Berbeda

Sejumlah analis internasional kini menilai hubungan Rusia–Tiongkok sebenarnya lebih didorong oleh kebutuhan politik bersama menghadapi tekanan Barat, bukan karena adanya kepercayaan ekonomi penuh di antara kedua pihak.

Rusia membutuhkan dukungan ekonomi dan diplomatik dari Tiongkok di tengah isolasi Barat.

Sebaliknya, Beijing dinilai melihat situasi ini sebagai peluang strategis untuk memperoleh energi murah sekaligus memperkuat pengaruhnya terhadap Moskow.

Karena itu, meskipun kedua negara terus menunjukkan citra “persahabatan tanpa batas” di depan publik, realitas di balik layar tampaknya jauh lebih kompleks.

Kunjungan Putin ke Beijing pada 20 Mei 2026 mungkin berhasil menghadirkan kemegahan diplomatik dan simbol politik yang kuat. Namun bagi banyak pengamat, satu hal justru semakin jelas:

Dalam hubungan Rusia–Tiongkok saat ini, masing-masing pihak tetap mengutamakan kepentingannya sendiri — dan di meja negosiasi ekonomi, Beijing tampaknya memegang posisi yang jauh lebih kuat dibanding Moskow. (***)

Iran Geger! Drone Israel Diduga Dipakai UEA untuk Menyerang, AS Malah Perketat Blokade Laut

EtIndonesia. Pada Selasa, 20 Mei 2026, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan peringatan keras terkait mandeknya proses negosiasi nuklir antara Washington dan Teheran.

Dalam keterangannya kepada media di Joint Base Andrews, Trump menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran telah memasuki “tahap akhir”. Namun di saat yang sama, ia menegaskan bahwa Amerika Serikat siap kembali melancarkan operasi militer apabila Iran menolak mencapai kesepakatan.

Trump mengatakan bahwa jalur pelayaran strategis di kawasan Timur Tengah harus segera dibuka kembali, terutama menyangkut keamanan di Selat Hormuz yang selama beberapa pekan terakhir menjadi pusat ketegangan global.

“Kita harus membuka jalur selat itu agar bisa langsung dilalui. Karena itu, kita harus mengambil langkah besar. Saya hanya berpikir, apakah mereka benar-benar memikirkan rakyat Iran? Karena menurut saya, beberapa tindakan mereka sama sekali tidak mengutamakan kepentingan rakyat,” katanya. 

Pernyataan tersebut langsung memicu spekulasi bahwa Washington sedang bersiap meningkatkan tekanan militer terhadap Teheran.


Fox News: AS Diduga Bersiap untuk Gelombang Kedua Operasi Militer

Tak lama setelah pernyataan Trump muncul, sejumlah media Amerika, termasuk Fox News, melaporkan bahwa militer AS diduga tengah mempersiapkan gelombang kedua operasi militer terhadap Iran.

Perhatian dunia pun kembali tertuju pada aktivitas militer Amerika di kawasan Timur Tengah. Beberapa pesawat tanker Angkatan Udara AS dilaporkan terlihat berada di sekitar Bandara Ben Gurion.

Kemunculan pesawat tanker tersebut dinilai para analis sebagai indikasi penting, karena pesawat jenis itu biasanya digunakan untuk mendukung operasi udara jarak jauh dan pengisian bahan bakar pesawat tempur di tengah operasi militer.

Situasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa konflik yang sempat mereda kini kembali berada di ambang eskalasi besar.


Iran Tuduh Amerika Sengaja Memicu Perang Baru

Di pihak lain, Iran memberikan respons keras terhadap langkah-langkah Washington.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuduh Amerika Serikat sengaja berupaya memicu perang baru di kawasan Timur Tengah.

Melalui pernyataannya yang dikutip media Iran pada 20 Mei 2026, Ghalibaf menyatakan bahwa baik operasi terbuka maupun operasi rahasia Amerika menunjukkan bahwa Washington belum meninggalkan tujuan militernya terhadap Iran.

Ia menilai Amerika masih terus mencari cara untuk memulai konflik baru demi menekan Teheran secara politik dan ekonomi.

Meski demikian, di tengah meningkatnya ancaman militer, pemerintah Iran juga mengonfirmasi bahwa mereka masih meninjau proposal perdamaian terbaru yang diajukan pihak Amerika Serikat.


CENTCOM Rilis Video Marinir AS Naik ke Kapal Dagang Iran

Masih pada 20 Mei 2026, United States Central Command atau CENTCOM merilis video yang langsung menarik perhatian internasional.

Video tersebut memperlihatkan helikopter serang Marinir AS melakukan patroli di sekitar sebuah kapal dagang yang melintas di wilayah perairan strategis Timur Tengah. Dalam rekaman itu terlihat pasukan Marinir turun dari helikopter dan naik ke atas kapal.

Dalam pernyataannya di platform X, CENTCOM menyebut bahwa pasukan dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 telah menaiki kapal dagang berbendera Iran bernama “Tian Hai”.

Menurut CENTCOM, kapal tersebut diduga mencoba melanggar blokade yang diterapkan Amerika Serikat dan berlayar menuju pelabuhan Iran.

Militer AS menyatakan bahwa setelah pemeriksaan dilakukan dan awak kapal diperintahkan mengubah arah pelayaran, pasukan Marinir kemudian meninggalkan kapal tersebut tanpa insiden besar.

Washington juga menegaskan bahwa operasi blokade akan terus dilaksanakan secara penuh.

Hingga 20 Mei 2026, militer Amerika mengklaim sebanyak 91 kapal dagang telah diarahkan ulang demi memastikan seluruh pihak mematuhi aturan blokade yang diterapkan di kawasan.


Proposal Perdamaian Rahasia Bocor, Hormuz dan Uranium Jadi Fokus Utama

Di tengah memanasnya situasi, muncul pula kebocoran informasi yang menghebohkan publik internasional.

Seorang influencer garis keras Iran bernama Gorhaki mengaku membocorkan isi proposal perdamaian terbaru yang disebut diajukan Amerika Serikat kepada Teheran.

Menurut klaim tersebut, proposal Washington mencakup beberapa poin utama:

  • Pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz
  • Pelepasan sekitar 25% aset Iran yang dibekukan, dengan nilai diperkirakan mencapai 25 miliar dolar AS
  • Izin bagi Iran untuk mengirim uranium hasil pengayaan ke luar negeri
  • Pembatasan tingkat pengayaan uranium maksimum 3,67%

Selain itu, seluruh proses disebut harus dijalankan secara bertahap dalam waktu 30 hari agar Iran bisa kembali mengekspor minyak dan melanjutkan pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat.

Meski isi proposal tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, dan banyak pihak meragukan keasliannya, sejumlah pengamat menilai kebocoran semacam ini kemungkinan besar memang sengaja dilakukan untuk memperkuat posisi tawar Iran dalam negosiasi.


Drone Israel Diduga Digunakan UEA untuk Menyerang Iran

Perkembangan lain yang tak kalah mengejutkan juga muncul pada hari yang sama.

Sejumlah media melaporkan bahwa dalam sebuah serangan terbaru ke wilayah Iran, pasukan Uni Emirat Arab menyerang target sipil dan militer di Provinsi Hormozgan.

Namun yang paling menyita perhatian dunia bukan hanya serangan tersebut, melainkan jenis senjata yang digunakan.

Beredar laporan bahwa UEA mengerahkan puluhan drone serang “Orbiter X” buatan Israel.

Pihak Iran mengaku mengetahui asal drone itu setelah berhasil merebut setidaknya dua unit drone dalam kondisi relatif utuh.

Menurut laporan media Iran, drone-drone tersebut dikirim Israel ke UEA pada minggu kedua sejak pecahnya perang Iran. Bahkan disebutkan bahwa militer Israel secara langsung mengantarkan drone itu ke pangkalan militer UEA.

Jika informasi tersebut benar, maka hal ini menunjukkan bahwa negara-negara sekutu Teluk masih aktif terlibat dalam tekanan militer terhadap Iran, meskipun Amerika Serikat dan Israel untuk sementara tampak mengurangi serangan langsung mereka.


Timur Tengah Dinilai Mulai Bergerak ke Pola “Perang Perwakilan”

Sejumlah analis internasional menilai perkembangan terbaru ini memperlihatkan perubahan pola konflik di Timur Tengah.

Alih-alih hanya melibatkan Amerika Serikat dan Israel secara langsung, konflik kini mulai bergerak menuju pola “proxy war” atau perang perwakilan, di mana negara-negara sekutu bertindak mewakili kepentingan aliansi yang lebih besar.

Artinya, meskipun Washington dan Tel Aviv untuk sementara menahan diri dari operasi besar secara terbuka, negara-negara Teluk kemungkinan besar tetap akan bergerak untuk menekan Iran melalui operasi militer terbatas, serangan drone, maupun tekanan ekonomi dan jalur perdagangan.

Dengan negosiasi nuklir yang masih belum mencapai titik temu, sementara operasi militer dan blokade terus berlangsung, kawasan Timur Tengah kini kembali berada di ambang fase konflik yang jauh lebih berbahaya. (***)

Rahasia Besar Iran Terbongkar: Fasilitas Nuklir Super Dalam Disebut Tak Bisa Dijangkau AS

EtIndonesia— Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah mantan pejabat militer senior Amerika melontarkan pernyataan yang mengejutkan dunia internasional. Di tengah spekulasi mengenai langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah kembali ke Gedung Putih, muncul dugaan bahwa Iran kemungkinan bukan lagi sedang mengejar senjata nuklir, melainkan mungkin sudah berhasil memilikinya secara diam-diam.

Pernyataan kontroversial itu disampaikan oleh mantan Kolonel Angkatan Darat Amerika Serikat, Larry Wilkerson, dalam sebuah wawancara yang tayang pada 20 Mei 2026 bersama pembawa acara terkenal di platform X, Mario Nawfal.

Ucapan Wilkerson langsung memicu gelombang kekhawatiran baru di kalangan pengamat geopolitik, intelijen, dan militer internasional. Jika pernyataannya benar, maka keseimbangan kekuatan di Timur Tengah berpotensi berubah drastis dalam waktu singkat.

Sosok Larry Wilkerson Bukan Tokoh Sembarangan

Larry Wilkerson bukanlah analis biasa yang sekadar memberikan opini politik. Ia pernah menjabat sebagai kepala staf Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Colin Powell, dan termasuk salah satu tokoh penting dalam lingkaran keamanan nasional AS pada era perang Irak.

Wilkerson juga diketahui pernah terlibat langsung dalam berbagai operasi intelijen strategis, termasuk penanganan isu nuklir Korea Utara serta pengungkapan jaringan proliferasi nuklir internasional milik Abdul Qadeer Khan pada tahun 2002. Abdul Qadeer Khan sendiri dikenal luas sebagai “bapak bom nuklir Pakistan” dan pernah dituduh menyebarkan teknologi nuklir ke berbagai negara.

Menurut Wilkerson, kasus intelijen pada awal 2000-an itu membuka mata Washington bahwa Korea Utara dan Iran ternyata memiliki hubungan kerja sama militer dan nuklir yang jauh lebih dalam dibanding yang diketahui publik.

Dugaan Korea Utara Membantu Iran Bangun Fasilitas Nuklir Bawah Tanah

Dalam wawancara tersebut, Wilkerson mengungkapkan bahwa Korea Utara diduga bukan hanya memasok teknologi kepada Iran, tetapi juga membantu Teheran membangun jaringan fasilitas nuklir rahasia di bawah tanah.

Ia menjelaskan bahwa kondisi geografis Iran dianggap sangat mirip dengan Korea Utara, terutama dari sisi struktur pegunungan dan lapisan batuannya. Faktor inilah yang disebut memudahkan pembangunan fasilitas militer tersembunyi yang sulit dideteksi satelit maupun serangan udara.

Menurut Wilkerson, Pyongyang kemungkinan mengajarkan teknik pembangunan bunker superdalam kepada Iran, termasuk metode perlindungan fasilitas nuklir dari serangan rudal penghancur bunker milik Amerika Serikat.

Ia bahkan menyatakan bahwa fasilitas rahasia tersebut mungkin berada sangat dalam di bawah tanah hingga lokasi pastinya belum diketahui secara pasti oleh intelijen AS maupun badan intelijen Israel, Mossad.

Pernyataan ini menjadi sangat sensitif karena selama bertahun-tahun Israel dan Amerika Serikat terus memantau aktivitas nuklir Iran melalui pengawasan satelit, operasi siber, serta infiltrasi intelijen.

Iran Diduga Sudah Masuki Tahap Akhir Perakitan Senjata Nuklir

Bagian paling mengejutkan dari wawancara Wilkerson muncul ketika ia menyebut bahwa Iran kemungkinan kini telah memasuki tahap akhir pengembangan senjata nuklir.

Menurutnya, fasilitas bawah tanah rahasia itu diduga sedang digunakan untuk proses akhir perakitan, termasuk memasukkan uranium yang telah diperkaya ke dalam sistem rudal.

Meski tidak menunjukkan bukti konkret secara publik, Wilkerson mengatakan dirinya percaya Iran sudah jauh lebih maju dibanding perkiraan banyak analis Barat.

Ia juga memperingatkan bahwa apabila suatu hari Israel menyerang fasilitas nuklir utama Iran atau menyerang situs sensitif seperti kompleks nuklir Dimona di Israel, Teheran mungkin akan langsung membuka “kartu truf” dan mengumumkan diri sebagai negara pemilik senjata nuklir.

Skenario semacam itu dinilai dapat memicu perubahan besar dalam peta geopolitik global, khususnya di Timur Tengah.

Solusi Diplomatik Dinilai Hampir Mustahil

Wilkerson juga menyampaikan pandangan pesimistis mengenai peluang diplomasi antara Washington dan Teheran.

Menurutnya, jika Iran benar-benar telah menyelesaikan pengembangan senjata nuklir secara diam-diam, maka peluang menghentikan program tersebut lewat negosiasi hampir tidak ada.

Ia menilai satu-satunya pilihan yang mungkin tersisa bagi Amerika Serikat adalah menemukan lokasi fasilitas rahasia tersebut, lalu melancarkan operasi militer cepat menggunakan pasukan khusus.

Namun langkah seperti itu tentu membawa risiko sangat besar, termasuk kemungkinan perang regional berskala luas yang melibatkan Israel, Iran, kelompok proksi di Timur Tengah, hingga kekuatan global lain seperti Rusia dan Tiongkok.

Konflik Internal Iran Mulai Memanas

Di tengah meningkatnya tekanan eksternal, Iran juga disebut sedang menghadapi gejolak internal yang serius.

Menurut laporan sejumlah media Arab dan Radio Free Voice, sepanjang Maret hingga April 2026 terjadi bentrokan bersenjata di beberapa kota penting Iran, termasuk Teheran, Isfahan, dan Tabriz.

Yang mengejutkan, bentrokan itu bukan melibatkan kelompok oposisi, melainkan konflik antara Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dengan militer reguler Iran sendiri.

Beberapa laporan bahkan menyebut adanya korban jiwa di kedua pihak.

Sumber-sumber tersebut mengungkapkan bahwa Garda Revolusi mulai mencurigai adanya kebocoran informasi rahasia mengenai pangkalan rudal serta fasilitas drone Iran kepada Israel dan Amerika Serikat.

Kecurigaan kemudian mengarah kepada unsur-unsur tertentu di tubuh militer reguler Iran yang dituduh menjadi “mata-mata internal.”

Situasi itu disebut memicu gelombang penangkapan besar-besaran serta ketegangan serius di internal aparat keamanan Iran.

Pengamat menilai konflik seperti ini sangat berbahaya karena dapat berkembang menjadi perebutan kekuasaan internal yang mengancam stabilitas pemerintahan Iran sendiri.

Trump Dinilai Sedang Menunggu Momen Terbaik

Bagi Presiden Donald Trump, kondisi tersebut dianggap sebagian analis sebagai peluang strategis yang sangat menguntungkan.

Selama ini Trump dikenal memiliki pendekatan tekanan maksimum terhadap Iran, namun pada saat yang sama lebih menyukai strategi melemahkan lawan tanpa harus terlibat perang besar berkepanjangan.

Sejumlah analis percaya Washington mungkin sedang memanfaatkan tekanan ekonomi, infiltrasi intelijen, serta konflik internal Iran untuk memperlemah rezim dari dalam.

Sementara itu, analis intelijen dari Channel 14, Dror Barzadeh, mengatakan elite Iran percaya Trump kemungkinan hanya akan melakukan serangan terbatas jika benar-benar memutuskan mengambil opsi militer.

Karena itulah, menurutnya, Teheran diduga sengaja memperlambat proses negosiasi sambil terus melontarkan ancaman keras kepada Amerika Serikat dan Israel.

Dunia Menunggu Langkah Berikutnya

Kini perhatian dunia internasional tertuju pada satu pertanyaan besar: apakah Amerika Serikat di bawah Donald Trump akan benar-benar melancarkan operasi militer terhadap Iran?

Atau justru Iran akan lebih dahulu terguncang oleh konflik internal sebelum perang besar benar-benar terjadi?

Di tengah meningkatnya ketegangan global, Timur Tengah kembali berdiri di ambang krisis baru yang dapat mempengaruhi keamanan internasional, harga energi dunia, hingga keseimbangan kekuatan nuklir global.

Untuk saat ini, belum ada bukti resmi yang dipublikasikan pemerintah Amerika Serikat maupun badan intelijen internasional yang memastikan Iran telah memiliki senjata nuklir. Namun pernyataan Larry Wilkerson telah cukup untuk memicu alarm baru di panggung geopolitik dunia. (***)

Pembantaian Geng di Honduras, 19 Orang Tewas di Perkebunan Sawit

EtIndonesia. Sebuah pembantaian terjadi pada 21 Mei di kawasan perkebunan kelapa sawit di Honduras utara dan menewaskan sedikitnya 19 orang. Insiden ini terjadi ketika pemerintah Honduras sedang mempersiapkan tindakan militer terhadap kejahatan geng. Saat ini, tingkat pembunuhan di Honduras mencapai 24 orang per 100.000 penduduk.

Peristiwa pembantaian terjadi di Rigores, wilayah Bajo Aguan, tempat kelompok-kelompok geng yang saling bermusuhan selama bertahun-tahun memperebutkan kendali atas perkebunan sawit dan jalur penyelundupan narkoba.

Seorang pemimpin kelompok masyarakat pedesaan setempat mengatakan melalui telepon kepada AFP bahwa para petani yang dibunuh di Lembah Aguan bekerja untuk sebuah geng bersenjata yang menguasai perkebunan sawit tersebut.

Peta Honduras

Rekaman yang ditayangkan media lokal menunjukkan sedikitnya sembilan jenazah berserakan di area perkebunan sawit yang luas. Juru bicara kejaksaan, Yuri Mora, mengatakan di televisi lokal bahwa dua tim penyidik menemukan 13 jenazah di satu lokasi dan 6 jenazah di lokasi lain, dan jumlah korban tewas kemungkinan masih akan bertambah. Penutup kepala, sepatu bot, dan pakaian kerja milik para korban tampak berserakan di tanah.

“Dari gambar di lokasi kejadian, situasinya seperti neraka. Beberapa orang jelas dibunuh menggunakan senjata berkekuatan besar, termasuk senapan laras panjang dan senapan buru,” ujar Menteri Keamanan Honduras, Gerzon Velasquez kepada wartawan. 

Velasquez mengatakan motif kejahatan masih belum jelas, tetapi lokasi kejadian “telah berada dalam konflik selama bertahun-tahun”. Kelompok geng bersenjata sering terlibat baku tembak untuk memperebutkan hak eksploitasi minyak sawit dan jalur penyelundupan narkoba.

Kepala Kepolisian Trujillo, Carlos Rojas, mengatakan kepada media lokal bahwa geng-geng menduduki lahan hutan primer, menebangi vegetasi secara ilegal untuk membuka lahan penanaman kelapa sawit Afrika sebagai tanaman komersial, lalu menggunakan hasilnya untuk membeli senjata.

Kongres Honduras baru saja menyetujui serangkaian reformasi untuk memerangi kekerasan kriminal. Kebijakan baru itu memberi wewenang kepada militer untuk ikut menjalankan tugas keamanan publik dan membentuk satuan tugas baru guna memerangi kejahatan terorganisasi. Pemerintah juga mempertimbangkan untuk menetapkan geng dan kartel narkoba sebagai organisasi teroris.

Presiden konservatif Honduras yang baru, Nasry Asfura, berjanji akan bekerja sama dengan Presiden AS Donald Trump dalam memerangi kejahatan terorganisasi di Amerika Latin.

Sumber : NTDTV.com

Iran Berencana Mengenakan Biaya Bagi yang Melintasi Selat Hormuz, AS Memperingatkan Tidak Dapat Diterima

ETIndonesia. Laporan Bloomberg menyebutkan Iran sedang berdiskusi dengan Oman untuk membangun sebuah “sistem pungutan permanen” guna secara resmi mengendalikan Selat Hormuz.

Selat Hormuz terletak di antara Iran dan Oman dan merupakan salah satu jalur transportasi energi terpenting di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur ini.

Namun, sejak pecahnya konflik antara AS-Israel dan Iran pada akhir Februari tahun ini, Iran sempat secara drastis membatasi lalu lintas di selat tersebut, yang menyebabkan harga energi global melonjak dan tekanan inflasi meningkat.

Kini, Iran tidak hanya enggan sepenuhnya memulihkan pelayaran normal, tetapi juga berencana memperluas kontrolnya atas Selat Hormuz.

Menurut laporan tersebut, Iran bersiap membentuk lembaga baru bernama “Otoritas Teluk Persia dan Selat”. Di masa depan, kapal-kapal yang melintasi selat kemungkinan harus melapor terlebih dahulu kepada lembaga tersebut dan membayar biaya transit.

Menanggapi hal ini, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan penolakan keras. Pada 21 Mei, ia mengatakan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur perairan internasional dan penerapan sistem pungutan di sana “sepenuhnya tidak dapat diterima”. Ia mengatakan: “Ini adalah ancaman bagi dunia dan sepenuhnya ilegal.”

Saat ini, Iran bersikeras bahwa mereka tidak akan sepenuhnya memulihkan lalu lintas normal di Selat Hormuz kecuali Amerika Serikat mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Meskipun Iran mengklaim bahwa dalam beberapa waktu terakhir sudah ada kapal tanker yang melewati selat dengan pengawalan Garda Revolusi, banyak perusahaan pelayaran internasional mengatakan bahwa sebagian besar perusahaan masih enggan mengambil risiko melintas karena ancaman rudal, drone, dan ranjau laut masih ada.

Selain itu, Iran juga menyatakan bahwa bahkan jika perang berakhir, mereka akan terus memperkuat kontrol atas Selat Hormuz di masa mendatang untuk mencegah Amerika Serikat dan Israel kembali melancarkan serangan.

Sementara itu, pejabat tinggi sektor energi United Arab Emirates memperingatkan bahwa jika masyarakat internasional membiarkan Iran memungut biaya di jalur pelayaran penting dunia, maka hal itu akan menciptakan “preseden berbahaya” yang dapat mengancam kebebasan pelayaran global di masa depan.

Sumber : NTDTV.com

Iran Dilaporkan Menolak Menyerahkan Uranium Diperkaya, Trump: Kami Pasti Akan Mendapatkannya

EtIndonesia. Pada Kamis (21 Mei), pemerintah Iran dilaporkan mengambil sikap keras dengan melarang pengiriman uranium yang diperkaya ke luar negeri. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa pihak AS pada akhirnya akan mengambil kembali uranium dengan tingkat pengayaan tinggi tersebut.

Selain itu, menurut informasi intelijen, dengan dukungan Rusia dan PKT, Iran sedang membangun kembali persenjataan dan kemampuan produksi drone dengan kecepatan yang melebihi perkiraan.

Pada Rabu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menelepon Trump secara mendesak dan mendesak militer AS agar tidak menunda kesempatan perang serta segera melanjutkan serangan militer terhadap Iran.

Trump pada Rabu (20 Mei) mengatakan bahwa ia bersedia menunggu beberapa hari lagi agar Iran memberikan “jawaban yang benar”. Namun, ia juga mengeluarkan peringatan yang tegas.

“Percayalah kepada saya, situasinya sekarang berada di garis batas. Jika kami tidak mendapatkan jawaban yang benar, situasi akan memburuk dengan cepat. Kami sudah siap sepenuhnya,” ujarnya. 

Trump menambahkan bahwa jika kesepakatan dapat dicapai, maka banyak waktu dan tenaga bisa dihemat, dan yang terpenting adalah lebih banyak nyawa dapat diselamatkan.

Pada Kamis, Panglima Angkatan Darat Pakistan Asim Munir awalnya dijadwalkan mengunjungi Iran untuk melakukan mediasi darurat terkait perundingan damai AS-Iran dan mencoba mendorong kemajuan negosiasi. Namun, pada hari yang sama tiba-tiba muncul kabar bahwa kunjungan tersebut dibatalkan. Sejumlah analis menilai bahwa Amerika Serikat mungkin akan segera melancarkan serangan terhadap Iran.

Hal ini karena Iran tampaknya semakin bersikap keras dalam isu nuklir yang paling krusial. Dua sumber Iran mengatakan kepada Reuters bahwa pemimpin tertinggi Mojtaba telah memerintahkan agar uranium yang diperkaya tidak boleh dikirim ke luar negeri.

Kelompok garis keras Iran berpendapat bahwa jika material tersebut dikirim keluar negeri, maka rezim Iran akan menjadi lebih rentan menghadapi serangan Amerika Serikat dan Israel di masa depan.

Sebelum perang, Iran pernah secara sukarela menyatakan bersedia mengirim setengah dari stok uranium yang diperkayanya ke luar negeri.

Trump pada Kamis kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat pada akhirnya akan mengambil kembali uranium Iran yang diperkaya tingkat tinggi.

“Kami akan mendapatkan uranium yang diperkaya tinggi itu. Kami tidak membutuhkannya, dan kami juga tidak menginginkannya. Setelah kami mendapatkannya, mungkin kami akan menghancurkannya, tetapi kami sama sekali tidak akan membiarkannya berada di tangan mereka (Iran),” ujarnya. 

Pada hari yang sama, harga minyak mentah Brent melonjak hampir 3 persen dan sempat mencapai 108,09 dolar AS per barel. Dunia luar menilai situasi negosiasi AS-Iran menjadi semakin rumit.

Menurut pejabat AS dan sumber Israel yang mengetahui masalah tersebut, Netanyahu pada Rabu melakukan percakapan telepon selama satu jam dengan Trump. Netanyahu mendesak AS untuk melanjutkan aksi militer terhadap Iran karena ia menilai penundaan serangan hanya akan menguntungkan Iran.

CNN pada Kamis mengutip beberapa pejabat intelijen AS yang mengatakan bahwa kecepatan Iran dalam membangun kembali industri militernya jauh melampaui perkiraan dunia luar.

Intelijen menunjukkan bahwa selama gencatan senjata enam minggu yang dimulai awal April, Iran telah memulihkan sebagian produksi drone, dan kemungkinan dapat sepenuhnya memulihkan kemampuan serangan drone dalam waktu paling cepat enam bulan.

Penilaian tersebut juga menyebutkan bahwa pembangunan kembali kemampuan militer Iran mencakup penggantian peluncur rudal yang hancur selama konflik serta pemulihan kemampuan produksi sistem persenjataan penting. Ini berarti bahwa bahkan setelah AS kembali melancarkan pemboman, Iran masih mungkin menjadi ancaman besar bagi negara-negara di kawasan.

Sumber-sumber mengatakan bahwa dukungan Rusia dan PKT menjadi salah satu alasan Iran dapat pulih dengan cepat. PKT disebut tetap memasok komponen yang dapat digunakan untuk pembuatan rudal kepada Iran selama konflik berlangsung. 

Laporan gabungan jurnalis NTD Television, Yi Jing.

Iran Tidak Boleh Memiliki Senjata Nuklir, Trump: Tidak Ada yang Lebih Penting dari Ini

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat (22/5/2026) menegaskan bahwa apa pun yang terjadi, AS pasti akan mengambil kembali uranium yang diperkaya tingkat tinggi yang ditimbun Iran dan akan menghancurkan bahan nuklir tersebut.

Terkait perundingan damai, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengungkapkan bahwa sudah ada kemajuan. Namun, jika Iran tetap ingin mengenakan biaya pelayaran di selat strategis, maka kesepakatan gencatan senjata tidak akan tercapai.

Di sisi lain, ada laporan yang menyebutkan bahwa saat ini pimpinan Garda Revolusi Islam telah “membajak” Iran dan secara paksa mendominasi posisi kebijakan dalam negosiasi.

“Tidak ada yang lebih penting daripada memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir, dan kami sama sekali tidak akan membiarkan itu terjadi,” kata Trump. 

Meskipun pihak Iran menyatakan tidak akan menyerahkan material nuklirnya, Trump sebelumnya menegaskan bahwa pada akhirnya AS pasti akan mengambil kembali uranium yang diperkaya tinggi yang disimpan Iran.

Ia menyatakan bahwa jika Iran memiliki senjata nuklir, perang nuklir dapat pecah di Timur Tengah dan dampaknya akan meluas ke Eropa bahkan Amerika Serikat.

Seorang wartawan bertanya: “Apakah mereka boleh tetap menyimpan uranium yang diperkaya?”

Trump menjawab: “Kami akan mengambilnya. Kami tidak membutuhkannya, dan kami tidak ingin memilikinya. Setelah kami mendapatkannya, mungkin kami akan menghancurkannya, tetapi kami tidak akan membiarkan mereka memilikinya. Mengerti?”

Sebelumnya, Rubio juga mengatakan kepada wartawan bahwa dalam negosiasi untuk mengakhiri perang, telah muncul beberapa perkembangan positif. Delegasi Pakistan sedang menuju Teheran untuk mendorong pembicaraan lebih lanjut.

Rubio mengatakan:“Pilihan utama Presiden selalu mencapai kesepakatan, mencapai konsensus, dan menggunakan jalur diplomatik.”

Ia menambahkan:“Saat ini memang sudah terlihat beberapa tanda positif, tetapi kami juga memahami situasinya, dan saya tidak ingin terlalu optimistis. Mari kita lihat perkembangan beberapa hari ke depan.”

Rubio dan Trump sama-sama menegaskan bahwa Strait of Hormuz harus tetap terbuka untuk pelayaran bebas biaya. Jika Teheran bersikeras memberlakukan biaya transit, maka kesepakatan damai tidak mungkin tercapai.

Mantan pejabat Dewan Keamanan Nasional AS, Richard Goldberg, dalam sebuah artikel opini di New York Post menyatakan bahwa elit Teheran mungkin bisa menipu dunia dengan video propaganda buatan AI, unggahan media sosial, dan pernyataan tertulis untuk “pemimpin tertinggi bayangan”, namun mereka tidak dapat menghindari kenyataan runtuhnya ekonomi akibat blokade militer AS.

Ia mengatakan bahwa Trump saat ini berada di posisi unggul dan selanjutnya harus mendorong tiga garis strategi: terus melakukan blokade dan perang ekonomi untuk mengguncang rezim Iran; membentuk ulang tatanan energi global guna memperkuat dominasi AS, menstabilkan harga energi, sekaligus membendung ambisi PKT; serta meluncurkan “Operasi Jalur Pelayaran Epik” atau “Blockade Plus”, yaitu memerintahkan militer AS membuka jalur pelayaran di selat tersebut guna memulihkan kebebasan navigasi.

Goldberg berpendapat bahwa di bawah tekanan berlapis dari AS, Teheran pada akhirnya harus mengalah dalam isu senjata nuklir, jika tidak maka keruntuhan rezim akan semakin cepat.

Seiring negosiasi yang menemui jalan buntu, para pakar menunjukkan bahwa komandan Garda Revolusi Iran, Ahmad Vahidi, kini telah menjadi tokoh inti dalam membentuk sikap keras Iran dalam negosiasi dengan Amerika Serikat. Ada informasi yang menyebutkan bahwa ia merupakan salah satu anggota kelompok inti yang memiliki akses langsung kepada pemimpin tertinggi Mojtaba.

“Vahidi dan anggota lingkaran intinya tidak hanya memperkuat kendali atas respons militer dalam konflik ini, tetapi kemungkinan juga telah menguasai kebijakan negosiasi Iran,” demikian Institute for the Study of War. 

Analisis lain menyebutkan bahwa tokoh seperti Vahidi “tidak hanya mengelola perang, tetapi juga secara aktif membentuk ulang suksesi kekuasaan, memperkuat otoritas di sekitar pemimpin tertinggi yang melemah, dan pada dasarnya telah ‘membajak’ Iran melalui pengelolaan krisis.”

Laporan jurnalis NTD Television, Wang Ziyi, dari AS

Amerika Serikat Akan Tambah 5.000 Tentara ke Polandia

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (21 Mei) mengumumkan bahwa AS akan menambah 5.000 personel militer ke Polandia. Awal bulan ini, Trump sempat berbicara melalui telepon dengan Presiden Polandia Karol Nawrocki untuk membahas perubahan penempatan pasukan AS di Eropa setelah Washington mengumumkan pengurangan pasukan AS di Jerman.

Trump menulis di platform media sosial miliknya, Truth Social, bahwa berdasarkan terpilihnya Nawrocki sebagai Presiden Polandia serta hubungan baik antara keduanya, “saya dengan senang hati mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan menambah 5.000 tentara ke Polandia.”

Saat ini sekitar 8.500 tentara AS ditempatkan di Polandia, baik dalam misi North Atlantic Treaty Organization maupun operasi berdasarkan perjanjian bilateral kedua negara. Polandia merupakan sekutu penting di sayap timur NATO yang berbatasan dengan Rusia.

Wakil Menteri Pertahanan Polandia, Paweł Zalewski, sebelumnya mengatakan kepada media Polandia bahwa pemerintah Polandia sedang berdiskusi dengan Pentagon untuk memperkuat penempatan militer AS di Polandia.

Rencana penempatan militer AS di Eropa belakangan menjadi perhatian besar. Setelah berselisih dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz terkait perang Iran, Trump bahkan mengatakan bahwa ia mungkin mempertimbangkan keluar dari NATO. Pada awal Mei, Washington mengumumkan akan menarik sekitar 5.000 tentara AS dari Jerman.

Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance awal pekan ini mengatakan bahwa rencana pengerahan 4.000 tentara AS ke Polandia hanya ditunda, bukan dibatalkan. Namun, ia juga menegaskan bahwa Eropa harus “lebih mandiri dan memperkuat diri sendiri”.

Menurut data dari Defense Manpower Data Center milik Pentagon, hingga Desember 2025 terdapat sekitar 68.000 personel militer AS yang ditempatkan secara permanen di pangkalan luar negeri di Eropa. Angka tersebut belum termasuk personel rotasi maupun peserta latihan militer.

Sumber : NTDTV.com

Apakah Makanan Bisa Memengaruhi Suasana Hati? Tujuh Jenis “Makanan Ramah Emosi”

EtIndonesia. Banyak orang saat sedang sedih atau stres merasa sangat ingin makan makanan manis, dan setelah memakannya merasa seperti “energi kembali penuh”. Dari sudut pandang ilmu gizi, memang ada hubungan tertentu antara makanan dan suasana hati. Berikut tujuh jenis “makanan ramah emosi” yang diperkenalkan.

Pertama adalah pisang. Pisang mengandung triptofan, vitamin B6, dan magnesium, yaitu nutrisi yang berkaitan dengan pembentukan neurotransmiter. Zat-zat ini membantu tubuh mengatur emosi dengan lebih baik, sehingga pisang sering dianggap sebagai buah yang baik untuk suasana hati.

Kedua adalah buah-buahan sitrus seperti jeruk, mandarin, dan grapefruit. Penelitian menemukan bahwa orang yang sering mengkonsumsi buah sitrus memiliki risiko depresi sekitar 20% lebih rendah. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan bakteri baik di usus yang disebut “Faecalibacterium prausnitzii”. Probiotik ini mempengaruhi metabolisme serotonin dan dopamin, yaitu zat yang berhubungan dengan emosi, sehingga membantu menjaga kestabilan suasana hati.

Ketiga adalah blueberry. Blueberry kaya akan antosianin dan polifenol lainnya yang memiliki efek antioksidan, membantu menjaga kesehatan otak dan mengurangi stres oksidatif.

Keempat adalah bayam. Mengkonsumsi lebih banyak sayuran hijau tua seperti bayam baik untuk kesehatan tubuh maupun emosi.

Kelima adalah ikan laut dalam, seperti salmon dan sarden. Ikan-ikan ini kaya akan asam lemak Omega-3, terutama EPA dan DHA, yang sangat berperan dalam pengaturan emosi.

Keenam adalah kerang-kerangan. Makanan ini mengandung seng dan vitamin B12. Kekurangan seng dapat menyebabkan ketidakseimbangan neurotransmiter dan meningkatkan rasa cemas.

Terakhir adalah coklat hitam. Kakao dalam cokelat hitam mengandung flavonoid dan magnesium yang membantu mengurangi stres oksidatif serta memberikan efek positif bagi otak dan suasana hati.

Karena itu, kondisi “lingkungan usus” memang dapat mempengaruhi emosi. Pola makan sehat dan seimbang, ditambah jadwal hidup teratur serta olahraga yang cukup, memang dapat membantu menjaga kondisi tubuh dan suasana hati tetap lebih baik.

Hari Falun Dafa Sedunia ke-27 : Lebih dari 40 Pejabat Negara Bagian New York Sampaikan Penghargaan dan Ucapan Selamat

Tanggal 13 Mei 2026 menandai peringatan ke-27 “Hari Falun Dafa Sedunia”. Hari tersebut juga merupakan peringatan 34 tahun diperkenalkannya Falun Dafa ke publik serta hari ulang tahun pendirinya, Master Li Hongzhi. Untuk merayakan penyebaran luas Falun Dafa di dunia, lebih dari 40 pejabat di Negara Bagian New York memberikan piagam penghargaan dan ucapan selamat. Senat Negara Bagian New York juga baru-baru ini meloloskan resolusi legislatif untuk memperingati “Hari Falun Dafa Sedunia ke-27”.

EtIndonesia. Lebih dari 40 pejabat, termasuk anggota Kongres AS, anggota legislatif negara bagian, anggota Dewan Kota New York, serta pejabat dari berbagai county, kota, dan wilayah di New York, secara berturut-turut memberikan penghargaan atau surat ucapan selamat untuk merayakan Hari Falun Dafa ke-27.

Pada 13 Mei 2026, anggota Kongres Negara Bagian New York, anggota legislatif negara bagian, anggota Dewan Kota New York, serta lebih dari 40 pejabat dari berbagai county, kota, dan distrik memberikan piagam penghargaan atau mengirimkan surat ucapan selamat untuk merayakan Hari Falun Dafa Sedunia ke-27. Foto menunjukkan sebagian anggota Majelis Negara Bagian New York di antara para pejabat tersebut. (Situs resmi/Epoch Times)

Para pejabat tersebut menyampaikan apresiasi kepada para praktisi Falun Gong yang, meski menghadapi penganiayaan dari Partai Komunis Tiongkok (PKT), tetap secara damai dan teguh membela kebebasan berkeyakinan dan nilai-nilai kemanusiaan. Mereka juga menyampaikan rasa terima kasih dan penghormatan atas kontribusi jangka panjang praktisi Falun Gong bagi komunitas, Negara Bagian New York, dan masyarakat luas.

Anggota DPR AS dari Distrik Kongres ke-18 New York, Patrick K. Ryan, dalam pidatonya di “Catatan Kongres” (Congressional Records), menyatakan:

“Tuan Ketua, hari ini saya berdiri untuk memberikan penghormatan kepada Hari Falun Dafa Sedunia ke-27 dan kepada para praktisi Falun Dafa di distrik kongres ke-18 New York yang setiap hari membawa nilai-nilai Falun Dafa ke dalam komunitas kami.”

Anggota Majelis Negara Bagian New York untuk Daerah Pemilihan ke-141, Crystal D. Peoples-Stokes, menyampaikan salam kepada para praktisi Falun Gong di daerah pemilihannya (Buffalo), serta bersama warga Negara Bagian New York dan Kota Buffalo merayakan Hari Falun Dafa Sedunia. (Epoch Times)
Anggota Majelis Negara Bagian New York untuk Daerah Pemilihan ke-19, Edward P. Ra, “memberikan penghargaan atas perayaan tahunan Hari Falun Dafa Sedunia.” (Epoch Times)
Anggota Majelis Negara Bagian New York untuk Daerah Pemilihan ke-112, Mary Beth Walsh, menandatangani resolusi untuk memberikan penghargaan kepada Hari Falun Dafa Sedunia. (Epoch Times)
Anggota Majelis Negara Bagian New York untuk Daerah Pemilihan ke-98, Karl A. Brabenec, mengeluarkan piagam penghargaan. (Epoch Times)

Falun Dafa pertama kali diperkenalkan kepada publik pada 13 Mei 1992 di Changchun, Tiongkok. Selama 34 tahun terakhir, praktik ini telah menyebar ke lebih dari 100 negara dan wilayah serta dicintai oleh ratusan juta orang. 

Dengan prinsip inti ‘Sejati, Baik, Sabar’, Falun Dafa memberikan jalan menuju kesehatan jasmani dan rohani, ketenangan batin, serta cara pandang yang mengutamakan kepentingan orang lain. Bagi banyak orang, Falun Dafa telah menjadi dasar gaya hidup, cara berinteraksi dengan sesama, dan praktik memahami makna kehidupan.”

Senat Negara Bagian New York secara resmi meloloskan “Resolusi Legislatif No. 1648” untuk merayakan 13 Mei sebagai “Hari Falun Dafa Sedunia ke-27”, sekaligus memberikan penghargaan atas kontribusi Falun Dafa dalam meningkatkan kesehatan fisik, mental, dan kesejahteraan sosial.

Pemimpin sementara Senat Negara Bagian New York sekaligus pemimpin mayoritas, Andrea Stewart-Cousins, dalam pengumuman tertanggal 13 Mei mengenai penghormatan kepada Falun Dafa menulis:

“Lembaga legislatif ini dengan bangga memberikan penghargaan kepada para praktisi Falun Dafa atas dedikasi berkelanjutan mereka dalam mempromosikan kesehatan, kesadaran batin, belas kasih, dan keharmonisan dalam masyarakat.”

Selain itu, Suffolk County, Nassau County, Erie County, Orange County, Dutchess County, dan Kota Schenectady juga secara terpisah menetapkan tanggal 13 Mei sebagai “Hari Falun Dafa” di wilayah masing-masing.

Laporan jurnalis NTD Television, Yu Liang, dari New York.

Peringatan Ebola! AS Meningkatkan Pembatasan Masuk Hingga Ada Penerbangan Dialihkan ke Kanada

Menanggapi wabah Ebola di Afrika, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mengumumkan peningkatan penuh terhadap pengawasan masuk dan pemeriksaan kesehatan. Penumpang yang dalam 21 hari terakhir pernah mengunjungi wilayah wabah wajib masuk melalui Bandara Internasional Dulles di Washington dan menjalani pemeriksaan kesehatan

EtIndonesia. CDC Amerika Serikat mengumumkan bahwa warga negara AS dan pemegang kartu penduduk tetap (green card) yang dalam 21 hari terakhir pernah bepergian ke Republik Demokratik Kongo, Sudan Selatan, dan Uganda, wajib memasuki AS melalui Bandara Dulles di Washington untuk menjalani pemeriksaan kesehatan. Pada saat yang sama, pemerintah juga mengumumkan penangguhan masuk bagi warga negara asing terkait.

Selain itu, sebuah penerbangan Air France yang semula menuju Detroit terpaksa dialihkan dan mendarat di Montreal, Kanada, karena salah satu penumpang tidak memenuhi aturan masuk terbaru Amerika Serikat.

Pejabat karantina Kanada mengkonfirmasi bahwa penumpang tersebut tidak menunjukkan gejala, dan kemudian telah dipulangkan kembali ke Paris.

Terkait hal ini, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa tujuan utama pemerintah adalah “memastikan virus Ebola tidak masuk ke Amerika Serikat.”

“Tadi malam ada sebuah penerbangan menuju Detroit yang dialihkan, karena kami harus melindungi rakyat Amerika. Jadi tujuan pertama adalah memastikan Ebola tidak pernah masuk ke Amerika Serikat. Tujuan kedua adalah melakukan segala yang kami bisa untuk membantu Republik Demokratik Kongo dan negara-negara tetangganya agar wabah ini tidak menyebar,” ujarnya. 

Ia juga menyebutkan bahwa Amerika Serikat telah mengajukan program pendanaan untuk membangun 50 klinik sementara pertama di wilayah wabah Afrika guna mendukung penanggulangan epidemi.

Wabah kali ini melibatkan varian langka virus Ebola jenis “Bundibugyo”. World Health Organization telah menetapkan wabah ini sebagai “Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional”.

Berdasarkan statistik terbaru WHO, wabah ini telah menyebabkan 139 kematian dan sekitar 600 kasus suspek, namun skala sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar daripada angka yang ada saat ini.

Laporan jurnalis NTD Television, Zheng Shengxun, dari AS

Segitiga Abadi—Kunci Kuno Aristoteles untuk Komunikasi yang Efektif

Karakter pembicara, keadaan emosional audiens, dan struktur logis argumen membentuk segitiga komunikasi klasik Aristoteles

Duncan Burch

Baik ketika berusaha meyakinkan perusahaan agar mempekerjakan Anda, membujuk investor mendanai bisnis Anda, mendorong pelanggan membeli produk, maupun membentuk opini di pengadilan atau ruang publik, retorika yang kuat adalah kunci utama.

Retorika adalah seni kuno menggunakan bahasa untuk membujuk, memberi informasi, atau memotivasi audiens. Dalam banyak hal, kemampuan retorika seseorang memainkan peran penting dalam efektivitas dan keberhasilannya dalam hidup.

Lebih dari 2.300 tahun lalu, filsuf Yunani Aristotle menjelaskan tiga aspek utama komunikasi persuasif, dan sejak itu para seniman, politikus, serta pebisnis sukses terus mempelajari dan menggunakannya.

Dalam bukunya Rhetoric, Aristoteles mendefinisikan ketiga aspek tersebut sebagai berikut: “Jenis pertama bergantung pada karakter pribadi pembicara; jenis kedua pada kemampuan menempatkan audiens dalam keadaan pikiran tertentu; dan jenis ketiga pada bukti, atau bukti yang tampak, yang diberikan oleh kata-kata dalam pidato itu sendiri.”

Tiga istilah Yunani untuk segitiga abadi ini adalah Ethos, Pathos, dan Logos. Ethos merujuk pada karakter orang yang menyampaikan argumen; Pathos merujuk pada keadaan emosional audiens; dan Logos merujuk pada struktur logis dari argumen itu sendiri.

Pengaruh Aristoteles yang Bertahan Lama

Pada usia 18 tahun, Aristoteles pindah ke Athena untuk belajar di Akademi Plato, tempat ia belajar di bawah bimbingan filsuf terkenal Plato selama hampir 20 tahun dan menjadi salah satu murid paling unggul di akademi tersebut. Setelah Plato meninggal, Aristoteles diundang oleh Raja Philip II ke ibu kota Makedonia, Pella, untuk mengajar putra sang raja, yang kemudian dikenal sebagai Alexander the Great.

Sekitar usia 50 tahun, Aristoteles kembali ke Athena dan mendirikan akademinya sendiri untuk penelitian ilmiah dan filsafat di Lyceum. Karena gemar berjalan-jalan sambil mengajar di area Lyceum, akademinya kemudian dikenal sebagai Mazhab Peripatetik. Ia memimpin akademi itu selama 12 tahun, hingga menjelang wafatnya pada 322 SM. Selama masa tersebut, ia juga menulis banyak risalah ilmiah dan filsafatnya.

Tulisan-tulisan Aristoteles sangat berpengaruh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, mulai dari fisika dan astronomi hingga biologi dan geologi. Pengaruhnya bahkan lebih besar lagi dalam bidang filsafat seperti etika, politik, ekonomi, dan tentu saja retorika. Karya-karyanya masih dipelajari di universitas-universitas di seluruh dunia hingga saat ini, dan ia diakui luas sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah.

Tiga buku yang membentuk Rhetoric masih dipelajari oleh pengacara, politikus, pembicara publik, dan penulis yang ingin menyusun argumen persuasif. Wawasannya tentang tiga aspek utama daya tarik retorika telah digunakan secara efektif selama lebih dari 2.000 tahun.

Ethos: Perhatikan Karakter Pembicara

Tak lama sebelum mengakhiri masa jabatan presiden keduanya, George Washington menyampaikan pidato perpisahan kepada rakyat Amerika, di mana ia mengumumkan keputusannya pensiun dari jabatan publik dan tidak mencalonkan diri kembali.

Meskipun pernah memimpin Tentara Kolonial dalam kemenangan melawan Britania Raya, menjadi arsitek Konstitusi Amerika Serikat, dan menjabat sebagai presiden pertama negara baru itu, kata-kata pembuka pidatonya justru menunjukkan kerendahan hati dan rasa syukur. Hal itu memperlihatkan kepada audiens bahwa ia adalah sosok yang berkarakter baik.

Di awal pidatonya, setelah berterima kasih kepada rakyat karena telah menaruh kepercayaan besar kepadanya, ia berkata, “Dalam menjalankan amanah ini, saya hanya bisa mengatakan bahwa dengan niat baik, saya telah memberikan upaya terbaik saya bagi organisasi dan administrasi pemerintahan, meskipun penilaian saya sangat mungkin keliru.”

Mengenai Ethos, Aristoteles menulis, “Kita lebih percaya kepada orang baik dibandingkan orang lain: Ini berlaku secara umum untuk semua persoalan, dan sepenuhnya benar ketika kepastian mutlak tidak mungkin dicapai dan pendapat terpecah.”

Dalam pidatonya, Washington memperingatkan bahaya menempatkan loyalitas partisan di atas kewajiban dan kesopanan, serta memperingatkan risiko keterikatan dengan kekuatan asing. Meski ia menyampaikan argumennya secara rasional dan membangkitkan patriotisme audiensnya, ia memulai dengan ethos, yaitu membangun kredibilitasnya untuk berbicara mengenai isu-isu tersebut.

Pathos: Menyentuh Emosi

Saat berusaha meyakinkan audiens, penting juga mempertimbangkan keadaan emosional mereka. Mengenai pathos, Aristoteles menulis bahwa “persuasi dapat muncul melalui para pendengar ketika pidato membangkitkan emosi mereka. Penilaian kita ketika senang dan bersahabat tidak sama dengan ketika kita tersakiti dan bermusuhan.”

Namun ia juga mengkritik banyak orang sezamannya karena hanya mengandalkan emosi. Ia menambahkan, “Para penulis retorika masa kini mengarahkan seluruh upaya mereka untuk menghasilkan efek-efek semacam itu.”

Apa yang benar pada zaman Aristoteles masih berlaku hingga sekarang. Banyak politikus, pengiklan, dan penulis modern cenderung hampir sepenuhnya mengandalkan emosi, sering kali tanpa berusaha membangun kredibilitas atau menggunakan logika.

Banyak politikus masa kini, khususnya, dengan menempatkan kepentingan partisan di atas akal sehat dan kesopanan, bukan hanya merusak kredibilitas mereka sendiri, tetapi juga membuat mereka tak lagi mampu menyampaikan argumen logis. Banyak jurnalis dan organisasi media modern juga kehilangan kredibilitas karena alasan serupa. Dengan menyajikan pemberitaan sepihak, mereka menjadi tidak mampu membahas isu secara objektif dan meyakinkan.

Akibatnya, mereka hanya bisa menarik emosi orang-orang yang memang sudah sepakat dengan mereka. Namun tanpa kredibilitas dan logika, argumen mereka sebagian besar gagal dalam hal persuasi.

Dalam beberapa kasus, pendekatan yang murni emosional memang bisa cukup efektif. Tetapi bagi audiens yang kritis, pendekatan semacam itu tidak akan pernah sekuat emosi yang diseimbangkan dengan kredibilitas dan logika.

Sebagai contoh, banyak iklan televisi menampilkan hewan yang disiksa atau anak-anak yang kekurangan gizi untuk menggugah emosi penonton dan meminta donasi. Namun iklan yang paling efektif juga menyertakan informasi mengenai sejarah dan pencapaian lembaga tersebut, sehingga calon donor percaya bahwa sumbangannya akan digunakan dengan baik.

Demikian pula, daya tarik emosional dari pengalaman keluarga yang menyenangkan di restoran atau tempat hiburan dapat memikat konsumen. Namun ketika dikombinasikan dengan bukti kualitas tempat tersebut dan nilai ekonominya, daya tarik itu menjadi jauh lebih kuat.

Meski memperingatkan bahaya ketergantungan berlebihan pada emosi, Aristoteles tetap mengakui bahwa keadaan emosional audiens adalah salah satu dari tiga sarana utama persuasi. Bahkan, sebagian besar Buku II dari Rhetoric berisi pembahasan rinci tentang berbagai emosi seperti ketidaksukaan, kemarahan, kebencian, ketakutan, rasa malu, belas kasihan, dan kemarahan moral, beserta lawan dari masing-masing emosi tersebut. Ia juga membahas jenis orang berdasarkan usia, status, kekayaan, dan faktor lainnya yang paling rentan terhadap emosi tertentu.

Dengan kata lain, ketika mencoba meyakinkan seseorang atau sekelompok orang untuk menerima suatu argumen, sangat penting memahami dan mempertimbangkan kondisi emosional serta kecenderungan audiens, terutama terkait dampak emosional dari bukti yang disampaikan.

Logos: Bangun Argumen yang Logis

Pada tahun 1963, Martin Luther King Jr. berdiri di tangga Memorial Lincoln di Washington dan menyampaikan pidato yang kemudian dikenal sebagai I Have a Dream. Dalam pidatonya, King menyerukan pemenuhan janji kebebasan bagi warga kulit hitam Amerika dan menuntut agar mereka memperoleh hak yang sama seperti warga kulit putih.

Ethos King telah terbentuk melalui berbagai aksi perlawanan tanpa kekerasan terhadap hukum-hukum rasis, dan semakin diperkuat oleh kefasihan serta retorikanya yang luhur. Daya tarik emosional pidato tersebut—Pathos—tidak diragukan lagi. Bahkan lebih dari 60 tahun kemudian, pidato itu masih dianggap sebagai salah satu pidato paling mengharukan dan paling kuat dalam sejarah Amerika. Namun, seindah apa pun bahasa puitis dan visi masa depan yang ia gambarkan, pidato itu tidak akan seefektif itu tanpa logika mendalam dan konsisten yang menjadi fondasinya.

Mengenai Logos, Aristoteles menulis bahwa “persuasi tercipta melalui pidato itu sendiri ketika kita membuktikan suatu kebenaran atau sesuatu yang tampak benar melalui argumen persuasif yang sesuai dengan kasus yang dibahas.”

Di awal pidatonya, King mengakui keberadaan patung Abraham Lincoln di belakangnya dan mengatakan bahwa meskipun Lincoln telah menandatangani Proklamasi Emansipasi lebih dari 100 tahun sebelumnya, warga kulit hitam masih belum menikmati hak dan kebebasan yang sama dengan warga kulit putih. Ia menunjukkan bahwa orang kulit hitam masih dicegah memilih di beberapa negara bagian, dan bahkan kesulitan memperoleh makanan atau penginapan saat bepergian di banyak wilayah negara yang masih memasang tanda “Whites Only”.

“Dalam arti tertentu, kita datang ke ibu kota negara untuk mencairkan cek,” kata King. “Ketika para pendiri republik ini menulis kata-kata agung dalam Konstitusi dan Deklarasi Kemerdekaan, mereka menandatangani surat janji yang menjadi hak waris setiap orang Amerika. Surat itu adalah janji bahwa semua manusia, ya, manusia kulit hitam maupun kulit putih, dijamin hak yang tidak dapat dicabut atas kehidupan, kebebasan, dan pencarian kebahagiaan.”

Berbeda dengan banyak tokoh sezamannya maupun orang-orang yang kemudian mengklaim meneruskan perjuangannya setelah ia dibunuh, King tidak merendahkan prinsip-prinsip dasar negara itu. Sebaliknya, ia merangkul prinsip-prinsip tersebut dan menegaskan bahwa semuanya harus berlaku sama bagi setiap orang tanpa memandang ras.

Pidatonya memberi dampak besar bukan hanya kepada mereka yang mendengarnya langsung—yang sebagian besar memang sudah sependapat dengannya—tetapi juga kepada orang-orang yang menontonnya di televisi atau mendengarkan rekamannya kemudian hari. Setelah itu terjadi perubahan besar dalam perlakuan terhadap warga kulit hitam di Amerika dan kemajuan signifikan menuju kesetaraan di hadapan hukum.

Bagaimanapun juga, tidak ada argumen yang lebih logis melawan rasisme selain gagasan sederhana yang disampaikan dalam pidato itu: bahwa seseorang seharusnya “tidak dinilai dari warna kulitnya, tetapi dari isi karakternya.”

Sebanyak apa pun kredibilitas dan emosi yang dimiliki, sebuah argumen tidak akan efektif jika tidak logis dan tidak mampu menyentuh akal sehat audiens.

Artikel ini terbit di The Epoch Times edisi Bahasa Inggris

Sebutir Telur per Minggu Dapat Menurunkan Risiko Alzheimer

Bisakah sarapan menjadi obat Anda?

Zena le Roux

Dr. Dale Bredesen, seorang ahli saraf yang telah menangani ribuan pasien dengan penurunan fungsi kognitif, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa nutrisi kini muncul sebagai faktor penting dalam membantu mengatasi penyakit Alzheimer, baik untuk pencegahan maupun memperlambat perkembangannya.

Salah satu bagian dari pendekatannya mungkin akan mengejutkan Anda: telur.

Banyak penelitian telah menunjukkan pengaruh telur terhadap Alzheimer.

Mengapa Telur Penting

Sebuah studi yang diterbitkan dalam The Journal of Nutrition menemukan bahwa mengonsumsi lebih dari satu butir telur per minggu dikaitkan dengan penurunan risiko terkena Alzheimer sebesar 47 persen, dibandingkan dengan orang yang makan telur kurang dari sekali sebulan atau tidak sama sekali. Konsumsi telur juga dikaitkan dengan kinerja yang lebih baik pada tes yang mengukur area otak yang terlibat dalam perencanaan, fokus, dan pengambilan keputusan.

“Hubungan ini masuk akal secara biologis,” kata Chantelle van der Merwe, seorang ahli gizi terdaftar, kepada The Epoch Times.

Telur menyediakan beberapa nutrisi yang sangat dibutuhkan otak. Salah satu yang paling penting adalah kolin. “Kolin adalah prekursor asetilkolin, neurotransmiter paling penting untuk memori,” kata Bredesen.

Telur juga mengandung antioksidan seperti lutein, yang membantu melindungi sel-sel otak dari kerusakan, serta asam lemak omega-3 yang mendukung struktur otak dan membantu mengatur peradangan.

Ada juga bukti bahwa penderita Alzheimer mengalami kekurangan kolin dan DHA, sejenis lemak omega-3, di otak mereka. Telur adalah salah satu dari sedikit makanan yang mengandung keduanya, dan kedua nutrisi ini terbukti bekerja lebih baik bersama-sama dibandingkan jika dikonsumsi sendiri-sendiri.

Kekurangan Kolin

Sekitar 39 persen penurunan risiko Alzheimer yang terkait dengan konsumsi telur dijelaskan oleh kolin saja, sehingga nutrisi ini penting untuk diperhatikan lebih dekat.

Sebagian besar orang yang menjalani pola makan Barat standar masih jauh dari kebutuhan kolin harian mereka. Asupan yang direkomendasikan sekitar 425 mg per hari untuk wanita dan 550 mg per hari untuk pria. Satu butir telur mengandung sekitar 150 mg kolin, menjadikannya salah satu sumber makanan terkaya akan kolin.

Kolin tidak hanya mendukung produksi neurotransmiter. Nutrisi ini membantu menjaga integritas struktural membran sel otak dan berkontribusi pada pembentukan mielin, lapisan pelindung di sekitar serabut saraf. Kolin juga memengaruhi bagaimana gen-gen yang terkait dengan memori, pembelajaran, dan kemampuan berpikir diaktifkan atau dinonaktifkan, sehingga memengaruhi fungsi otak jangka panjang.

Singkatnya, menurut van der Merwe, kolin terlibat dalam hampir setiap aspek bagaimana sel-sel otak dibangun, dipelihara, dan berkomunikasi.

Tubuh hanya mampu memproduksi sedikit kolin dan asam lemak omega-3 sendiri, sehingga sebagian besar kebutuhan otak harus diperoleh dari makanan. Kuning telur adalah salah satu sumber kolin terbaik, selain daging, ayam, ikan, dan produk susu, sementara makanan nabati hanya mengandung jumlah kecil.

Gambaran yang Lebih Besar

Bredesen menempatkan telur dalam kerangka nutrisi yang lebih luas. Ia mengatakan bahwa sindrom metabolik adalah salah satu faktor umum yang berkontribusi terhadap penyakit Alzheimer.

“Ada 100 juta warga Amerika yang mengalami sindrom metabolik, dan ini memang berkaitan dengan nutrisi,” kata Bredesen. “Hal ini sering dipicu oleh gaya hidup khas Amerika, termasuk pola makan tinggi karbohidrat yang memicu peradangan, kurang aktivitas fisik, dan stres.”

Dalam praktik klinisnya, ia mengamati bahwa pasien yang menerapkan pola makan bergizi—pola makan kaya tumbuhan dengan pendekatan ketogenik ringan—cenderung mengalami perbaikan paling cepat dan paling menyeluruh. Telur cocok secara alami dalam pola makan tersebut: padat nutrisi, mudah disiapkan, dan praktis untuk dikonsumsi rutin oleh lansia.

“Nutrisi optimal penting baik untuk pencegahan maupun pengobatan terbaik bagi pasien dengan penurunan kognitif,” tambah Bredesen.

Panggang Labu Gurih Penunjang Otak

Salah satu resep yang sering dibagikan van der Merwe kepada pasiennya untuk meningkatkan asupan kolin adalah Panggang Labu Gurih dengan Keju Cottage dan Tomat Kering.

Selain manfaat kognitif dari telur, labu gem menyediakan karbohidrat yang dilepaskan perlahan sehingga membantu menstabilkan gula darah dan mendukung energi kognitif yang stabil, berbeda dengan lonjakan dan penurunan energi akibat karbohidrat olahan.

Keju cottage menambahkan sumber protein yang menyediakan asam amino untuk produksi neurotransmiter. Bawang putih dan bawang bombai mengandung senyawa sulfur yang membantu mengurangi stres oksidatif yang berkaitan dengan penuaan otak. Rempah-rempah seperti oregano dan basil menambahkan polifenol yang memiliki sifat melindungi saraf.

Panggang Labu Gurih dengan Keju Cottage dan Tomat Kering

Waktu Persiapan: 40 menit
Waktu Memasak: 25–30 menit
Waktu Didiamkan: 10 menit
Porsi: 4–6 orang

Bahan-bahan

  • 4–5 buah labu gem, dibelah dua dan dibuang bijinya
  • 1 bawang bombai kecil, cincang halus
  • 1 siung bawang putih, dihancurkan
  • 1/4 cangkir tomat kering, dicincang
  • 1 cangkir keju cottage
  • 5 butir telur utuh
  • 1 sendok teh oregano kering
  • 1 sendok teh basil kering
  • 1/2 sendok teh paprika asap
  • Garam dan lada hitam secukupnya

Cara Membuat

  1. Rebus atau kukus labu gem hingga lunak (sekitar 20–25 menit). Keruk daging buahnya lalu haluskan ringan, sisakan sedikit tekstur.
  2. Tumis ringan bawang bombai dan bawang putih, lalu tambahkan tomat kering dan masak sebentar hingga aromanya keluar.
  3. Dalam mangkuk besar, campurkan labu yang telah dihaluskan, tumisan bawang, keju cottage, telur, rempah-rempah, bumbu, dan bahan tambahan opsional lainnya. Aduk hingga tercampur rata. Adonan harus kental tetapi masih mudah disendok.
  4. Pindahkan ke loyang panggang dan panggang pada suhu 350°F (sekitar 175°C) selama 25–30 menit hingga bagian tengah matang dan bagian atas berwarna keemasan.
  5. Diamkan selama lima hingga 10 menit sebelum dipotong agar bentuknya tetap kokoh.

Sajikan bersama salad sederhana dari mentimun dan tomat. Anda juga bisa menambahkan ayam atau ikan panggang untuk tambahan protein atau omega-3.

Barang Berserakan dan Rumah Berantakan Diam-diam Merusak Fokus, Memicu Stres, dan Menurunkan Kualitas Hidup

Memiliki lebih sedikit barang membebaskan waktu dan energi yang dapat kita gunakan untuk terhubung lebih dalam dengan diri sendiri, orang lain, dan keyakinan kita

Emma Suttie

Selama 20 tahun terakhir, gerakan minimalis berkembang pesat. Banyak orang mulai menjalani hidup dengan kepemilikan yang lebih sadar, ruang yang lebih rapi, dan ketenangan yang dihasilkannya bagi tubuh maupun pikiran mereka.

Namun demikian, berantakan dan barang yang berserakan masih menjadi masalah besar. Meski memiliki dampak negatif secara fisik dan psikologis, ketika kita secara sengaja mulai menyingkirkannya dari kehidupan dan lingkungan kita, kesehatan mental membaik dan kita menciptakan ruang untuk terhubung lebih dalam dengan diri sendiri, orang lain, dan nilai-nilai spiritual.

“Berantakan adalah kelimpahan barang yang berlebihan sehingga secara kolektif menciptakan ruang hidup yang kacau dan tidak teratur,” kata Joseph Ferrari kepada The Epoch Times.

Ferrari, yang meneliti psikologi kekacauan, membedakannya dari gangguan menimbun barang (hoarding). Menurutnya, selain merupakan gangguan kejiwaan, hoarding melibatkan penumpukan obsesif barang-barang yang sama, sedangkan kekacauan bersifat lebih luas dan umum.

“Hoarding itu sangat vertikal—Anda memiliki banyak barang yang sama,” katanya. “Sedangkan kekacauan lebih horizontal—lebih soal luas penyebarannya. Penimbun barang pasti memiliki kekacauan, tetapi orang yang hidup berantakan belum tentu penimbun.”

Otak Anda Saat Dikelilingi Barang Berserakan 

Barang-barang di sekitar kita memengaruhi otak dengan cara yang jarang disadari orang. Berantakan membuat lingkungan kita menjadi rumit secara visual dan mental, memaksa otak memproses informasi yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan tugas yang sedang dilakukan. Akibatnya adalah meningkatnya beban kognitif, menurunnya fokus, terganggunya pengambilan keputusan, dan kelelahan mental kronis.

Penelitian dari Princeton University Neuroscience Institute menemukan bahwa berantakan visual bersaing memperebutkan perhatian kita, sehingga lebih sulit untuk berpikir jernih dan efisien.

Sebuah studi dari University of California, Los Angeles yang mengamati keluarga di rumah mereka menemukan bahwa ruang hidup yang berantakan berkaitan dengan kadar kortisol yang lebih tinggi, terutama pada wanita yang melihat kekacauan sebagai pengingat visual terus-menerus atas tugas-tugas yang belum selesai.

Ferrari, seorang psikolog komunitas, bersama rekannya Catherine Roster, seorang psikolog konsumen, mempelajari konsep “rumah psikologis”—perasaan bahwa tempat tinggal mencerminkan diri kita dan memberikan kenyamanan sejati.

“Semakin banyak kekacauan dan barang yang Anda miliki, semakin rendah rasa nyaman Anda terhadap rumah,” kata Ferrari.

Dalam penelitiannya, Ferrari secara konsisten menemukan bahwa orang yang hidup dengan lebih banyak kekacauan melaporkan tingkat kebahagiaan yang lebih rendah dan kualitas hidup yang menurun. Data menunjukkan bahwa memiliki lebih banyak barang tidak membuat orang lebih bahagia.

Mengapa Kita Terus Membeli

Akar dari berantakan modern sebenarnya relatif baru. Penulis sekaligus penganut minimalisme Joshua Becker mencatat dalam bukunya Uncluttered Faith bahwa konsumerisme pada dasarnya mulai berkembang setelah Perang Dunia II pada era 1940-an. Ia menulis bahwa rumah-rumah kini semakin besar, keluarga semakin kecil, dan kita memiliki begitu banyak barang sehingga rata-rata rumah di Amerika diperkirakan menyimpan sekitar 300.000 benda.

“Barang material lebih terjangkau daripada sebelumnya karena kini jauh lebih mudah diakses, dan saya pikir teknologi membuat daya tarik kepemilikan barang semakin kuat dibanding sebelumnya,” kata Becker kepada The Epoch Times. “Algoritma media sosial sangat pandai memberi tahu kita apa yang kita inginkan dan kapan harus menyodorkannya kepada kita.”

Mekanisme ini sebagian bersifat neurologis. Sebagian besar budaya konsumerisme modern dibangun di atas sistem penghargaan dalam otak. Membeli sesuatu yang baru memicu dopamin, neurotransmiter yang terkait dengan rasa senang, motivasi, antisipasi, dan penghargaan.

Namun efek itu hanya sementara. Otak dengan cepat beradaptasi, rasa puas memudar, dan kita mulai mencari pembelian berikutnya. Para psikolog menyebut pola ini sebagai “adaptasi hedonis,” yang membantu menjelaskan mengapa sebanyak apa pun kita membeli, rasanya tidak pernah cukup.

Meningkatkan Kesehatan Mental

Becker mengatakan salah satu alasan minimalisme dapat meningkatkan kesehatan mental adalah karena gaya hidup ini memungkinkan kita mengambil kembali kendali—bukan hanya atas lingkungan fisik, tetapi juga atas energi, sumber daya, sikap, dan pilihan hidup kita. Alih-alih menjalani hidup tanpa arah, kita bisa membuat keputusan yang membawa kita ke tujuan yang benar-benar diinginkan.

Mengalihkan fokus dari mengejar barang juga membebaskan energi untuk mencari tahu apa yang benar-benar membuat kita bahagia, apa yang penting bagi kita, dan bagaimana kita ingin menjalani hidup—lalu mengejar tujuan-tujuan tersebut.

Mungkin salah satu manfaat yang paling tidak disangka dari memiliki lebih sedikit barang adalah kita memiliki lebih banyak waktu, energi, dan sumber daya untuk memberi dengan tulus, membangun hubungan dengan orang-orang di sekitar kita, serta menemukan makna dan tujuan hidup.

Meski terdengar bertentangan dengan intuisi, Becker mencatat bahwa ketika kita memiliki lebih sedikit, kita justru cenderung memberi lebih banyak.

“Salah satu kebahagiaan terbesar yang saya rasakan setelah menjadi seorang minimalis adalah akhirnya bisa memberi seperti yang selama ini saya inginkan,” tulisnya dalam bukunya.

Membersihkan kekacauan menciptakan ruang, baik secara fisik maupun batin. Hal itu juga mengurangi kelelahan fisik dan mental yang muncul akibat harus merawat semua barang yang kita miliki.

“Setiap barang di rumah kita membutuhkan perhatian,” tulis Becker. “Barang-barang itu harus dibersihkan, dirawat, diatur, diperbaiki, disimpan, dipindahkan, dan pada akhirnya disingkirkan. Tetapi ketika kita membersihkan kekacauan, sesuatu berubah. Rumah terasa lebih ringan, dan begitu juga diri kita.”

Terhubung dengan Hal yang Benar-Benar Penting

Bagi Ferrari, yang juga seorang diakon Katolik, dorongan untuk menyumbangkan barang-barang yang tidak lagi dibutuhkan daripada membuangnya memiliki kepuasan tersendiri.

“Ada orang-orang yang tidak punya apa-apa,” katanya. “Jika keluarga Anda tidak menginginkannya, baiklah, tinggalkan warisan. Teruskan kebaikan, karena dunia bukan hanya tentang saya, tetapi tentang kita.”

Selain manfaat kesehatan mental, memiliki lebih sedikit barang juga membantu kita fokus pada apa yang benar-benar penting. Banyak dari kita berpikir bahwa memiliki lebih banyak adalah hal yang kita inginkan dan yang akan membuat bahagia, tetapi kita tidak pernah benar-benar sampai ke titik itu. Ketika “barang-barang” mulai disingkirkan dari hidup kita, hal-hal yang benar-benar penting mulai muncul dengan jelas.

Bagi Becker, minimalisme membantunya terhubung lebih dalam dengan keyakinannya, yang ia bahas dalam buku terbarunya.

“Siapa pun yang ingin bertumbuh dalam imannya, memiliki lebih sedikit barang akan membantunya melakukannya,” katanya kepada The Epoch Times.

Becker, yang telah menulis tentang minimalisme selama hampir dua dekade, mengatakan bahwa tujuan sebenarnya bukan menghilangkan keinginan, melainkan mengarahkannya menjauh dari benda-benda dan menuju hal-hal yang bermakna, termasuk cinta, keadilan, belas kasih, dan iman.

“Ketika konsumerisme menjadi bagian dari hati dan hidup kita, kita kehilangan kesempatan untuk mengalami kesunyian, ketenangan, dan meditasi, karena kesunyian adalah kebalikan dari dorongan untuk terus memiliki lebih banyak,” kata Becker. “Ketika saya bisa merasa cukup dengan apa yang saya miliki, saya dapat sedikit menarik diri, tenang bersama diri sendiri, dan menemukan kedamaian itu.”

Emma adalah seorang praktisi akupunktur dan telah banyak menulis tentang kesehatan untuk berbagai publikasi selama dekade terakhir. Kini ia menjadi reporter kesehatan untuk The Epoch Times dengan fokus pada pengobatan Timur, nutrisi, trauma, dan pengobatan gaya hidup.

Artikel ini sebelumnya terbit di The Epoch Times edisi Bahasa Inggris

Presiden Marcos Jr : Filipina Tak Punya Pilihan Selain Terseret dalam Perang atas Taiwan

Presiden Filipina dijadwalkan berkunjung ke Jepang pekan depan untuk bertemu Perdana Menteri Sanae Takaichi dan membahas tindakan agresif Tiongkok.

EtIndonesia. Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. mengatakan bahwa negaranya pada akhirnya akan terseret ke dalam konflik di Taiwan mengingat kedekatan geografis Filipina dengan pulau demokratis yang memiliki pemerintahan sendiri tersebut, yang diklaim oleh Beijing.

“Bagi Filipina, kami tidak punya pilihan, karena Taiwan sangat dekat dengan Filipina, dan kami memiliki hampir 200.000 warga Filipina yang tinggal dan bekerja di Taiwan,” kata Marcos dalam diskusi meja bundar dengan media Jepang pada 18 Mei.

“Jadi kami memiliki banyak pertimbangan lain, tetapi pada akhirnya kami sampai pada posisi yang sama, yaitu ingin menghindari konfrontasi apa pun.”

Rezim komunis Tiongkok memandang Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri dan tidak pernah mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk membawa pulau itu di bawah kekuasaan Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Dalam pertemuan puncak di Beijing pada 14 Mei, pemimpin Tiongkok Xi Jinping mengatakan kepada Presiden AS Donald Trump bahwa kesalahan penanganan isu Taiwan dapat memicu situasi yang “sangat berbahaya” antara dua ekonomi terbesar dunia, menurut Kementerian Luar Negeri Tiongkok.

Trump, saat berbicara kepada wartawan di dalam Air Force One dalam perjalanan menuju Washington, mengonfirmasi bahwa Taiwan menjadi topik utama dalam pembicaraannya dengan Xi. Namun, ia menegaskan bahwa kebijakan Amerika Serikat terhadap Taiwan tetap tidak berubah.

Amerika Serikat, seperti kebanyakan negara lain, tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan. Namun, Undang-Undang Hubungan Taiwan (Taiwan Relations Act) menegaskan bahwa keputusan Washington menjalin hubungan diplomatik dengan Beijing alih-alih Taipei didasarkan pada harapan bahwa masa depan Taiwan akan ditentukan melalui cara damai.

Dalam beberapa tahun terakhir, rezim Tiongkok telah menggelar latihan militer besar-besaran di Selat Taiwan dan mengirim pesawat serta kapal militernya ke dekat Taiwan hampir setiap hari. Tekanan militer yang terus meningkat ini memicu kekhawatiran global akan potensi konflik di selat tersebut, yang merupakan jalur pelayaran penting dunia.

Berbicara kepada media Jepang pada 18 Mei, Marcos menegaskan bahwa ia ingin menghindari keterlibatan dalam konflik apa pun. Namun, kedekatan geografis membuat konflik atas Taiwan dapat menyeret negaranya.

“Jika terjadi konflik, cukup lihat peta, Anda bisa tahu bahwa Filipina bagian utara setidaknya akan menjadi bagian dari itu, atau akan merasakan dampaknya,” ujarnya. “Kami tentu tidak ingin menjadi bagian dari konflik apa pun di mana pun.”

Pulau paling utara Filipina, Mavulis, berjarak sekitar 88 mil dari daratan utama Taiwan.

Presiden Filipina itu juga menegaskan bahwa tidak ada perubahan dalam kebijakan “Satu Tiongkok” negaranya, di mana Manila secara resmi mengakui Beijing, bukan Taipei.

“Kami selalu memegang kebijakan Satu Tiongkok. Dan kami akan terus melakukannya,” kata Marcos. “Setiap konflik harus diselesaikan secara damai.”

Saat diminta menanggapi pernyataan Marcos dalam konferensi pers rutin pada 19 Mei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Guo Jiakun mendesak Manila untuk mengakui klaim kedaulatan Beijing atas Taiwan.

‘Tindakan Pemaksaan’ Beijing

Marcos dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan selama tiga hari ke Jepang mulai 26 Mei, menandai kunjungan pertama presiden Filipina ke negara itu dalam lebih dari satu dekade.

Selain isu energi, Marcos mengatakan bahwa ia juga ingin membahas keamanan kawasan dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mendatang.

“Jepang dan Filipina mengalami kesulitan yang sama terkait tindakan pemaksaan, terkait berbagai taktik zona abu-abu yang diterapkan di Laut Tiongkok Selatan dan di seluruh Laut Tiongkok,” kata Marcos kepada wartawan pada 18 Mei. “Jadi itu tentu akan menjadi sesuatu yang kami bahas.”

Manila sedang terlibat sengketa maritim dengan Beijing di Laut Tiongkok Selatan, wilayah kaya sumber daya alam yang hampir seluruhnya diklaim oleh Tiongkok.

Jepang juga terus khawatir atas kehadiran rutin kapal Penjaga Pantai Tiongkok di sekitar gugusan pulau yang dikelola Jepang di Laut Tiongkok Timur tetapi juga diklaim oleh Beijing. Menurut Penjaga Pantai Jepang, sepanjang Mei kapal-kapal besar penjaga pantai Tiongkok yang bersenjata berat terdeteksi setiap hari di dekat pulau tak berpenghuni tersebut—dikenal sebagai Senkaku oleh Jepang dan Diaoyu oleh Tiongkok.

Jepang juga menghadapi tekanan diplomatik dan ekonomi dari rezim Tiongkok sejak November 2025, ketika Takaichi mengaitkan kemungkinan konflik Taiwan dengan situasi yang dapat “mengancam kelangsungan hidup” Jepang—sebuah penetapan yang memungkinkan Tokyo mengerahkan pasukan.

Pulau paling barat Jepang, Yonaguni, hanya berjarak 68 mil dari Taiwan. Negara kepulauan itu juga menampung lebih dari 50.000 tentara Amerika beserta pesawat militer canggih AS.

Pada Januari lalu, Jepang dan Filipina menandatangani dua pakta pertahanan yang menurut para analis kepada The Epoch Times sangat penting untuk menghadapi agresi rezim Tiongkok.

Pada April, ketika Filipina dan Amerika Serikat menggelar latihan militer tahunan Salaknib, Jepang mematahkan tradisi puluhan tahun dengan mengerahkan Pasukan Bela Diri Daratnya untuk ikut berpartisipasi secara langsung.

Marcos, saat berbicara kepada wartawan Jepang pada 18 Mei, menyebut perubahan peran Jepang dari pengamat menjadi peserta sebagai “perkembangan signifikan” bagi kelanjutan kerja sama dan pelatihan personel menuju interoperabilitas yang lebih baik.

“Jepang kini mengizinkan dirinya berpartisipasi dalam latihan seperti itu,” kata Marcos. “Dan itu penting karena mengubah peta permainan. Perubahannya sangat signifikan.

“Kami ingin mendengar lebih banyak tentang apa sebenarnya yang ingin dilakukan Jepang, dan apa yang bersedia mereka lakukan.”

Sumber ; Theepochtimes.com