Khamenei Menghilang, Israel Siaga Penuh—Timur Tengah di Ambang Ledakan Besar

EtIndonesia. Ketegangan di Timur Tengah kembali naik tajam dalam beberapa pekan terakhir, ditandai oleh meningkatnya sinyal kesiapsiagaan dari Iran, langkah siaga penuh Israel, serta penguatan postur militer Amerika Serikat di sekitar kawasan Teluk. Di tengah situasi itu, beredar pula sejumlah klaim intelijen sumber terbuka (OSINT) mengenai aktivitas militer Tiongkok dan perubahan pola kemunculan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei—meski sebagian di antaranya belum dapat diverifikasi secara independen.

Gelombang Krisis: Iran di Bawah Tekanan Dalam Negeri, Ancaman Eksternal Menguat

Situasi Iran sejak awal Januari 2026 menjadi perhatian dunia karena kombinasi dua faktor: krisis domestik dan ketegangan eksternal dengan Amerika Serikat serta Israel.

Pada 9 Januari 2026, Reuters melaporkan Khamenei menyampaikan pidato di tengah protes yang meluas; dia menegaskan tidak akan mundur dan menuding demonstrasi dipicu pihak luar. Media internasional juga menyoroti kerasnya respons aparat terhadap gelombang protes dan pembatasan internet yang berdampak ekonomi serta politik.

Di saat tekanan internal belum mereda, tensi eksternal ikut naik. Pada 20 Januari 2026, Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran memperingatkan bahwa serangan terhadap Khamenei akan memicu “jihad” (seruan perang suci), sebuah sinyal bahwa Teheran menganggap isu keselamatan pemimpin tertingginya sebagai garis merah.

“Khamenei Menghilang”? Ini yang Bisa Dipastikan dan yang Masih Klaim

Dalam narasi yang beredar di beberapa kanal, disebutkan Khamenei “menghilang dari ruang publik” dan membatalkan agenda Jumat karena alasan keamanan. Namun, hingga 26 Januari 2026, klaim “menghilang” tersebut tidak memiliki konfirmasi resmi yang kuat dari sumber arus utama dan lebih banyak beredar sebagai spekulasi/OSINT.

Yang bisa dipastikan dari laporan Reuters: pada periode awal Januari, Khamenei masih tercatat tampil/dirujuk dalam konteks pidato terkait situasi protes (9 Januari 2026), sehingga pernyataan “menghilang total” perlu diperlakukan hati-hati dan tidak boleh dianggap fakta tanpa verifikasi tambahan.

Iran Meningkatkan Sinyal Balasan: Target “Investasi Terkait AS”

Pada 23 Januari 2026, Reuters melaporkan seorang ulama berpengaruh Iran memperingatkan bahwa Iran bisa menargetkan investasi yang terkait AS di kawasan jika diserang—indikasi bahwa Teheran menyiapkan spektrum respons yang tak hanya militer langsung, tetapi juga menyasar kepentingan ekonomi dan jaringan regional.

Peringatan ini memperkuat kekhawatiran para pejabat keamanan kawasan: apabila terjadi serangan pendahuluan, pembalasan Iran dapat mengambil bentuk rudal balistik, drone, serta operasi melalui kelompok proksi, yang berpotensi mengubah konflik menjadi perang regional.

Israel Masuk Mode Siaga: Antisipasi Efek Domino Jika AS Bertindak

Di sisi Israel, media setempat melaporkan penguatan postur dan persiapan menghadapi skenario paling buruk. Pada 25 Januari 2026, Haaretz menulis tentang pengerahan dan penguatan aset AS di sekitar kawasan dan konteks ancaman terhadap Iran, termasuk dinamika penempatan pesawat tempur tertentu dan kesiapan kawasan.

Dalam kalkulasi Israel, risiko utama adalah efek domino: jika target strategis Iran diserang, balasan dapat menyasar Israel secara langsung maupun melalui front lain (misalnya via proksi lintas batas), sehingga Tel Aviv merasa perlu menyiapkan pertahanan berlapis sejak awal.

Pengerahan Militer AS: Indikator “Fase Nyata” Bukan Sekadar Ancaman

Walau detail angka-angka tertentu yang beredar di media sosial (misalnya jumlah Tomahawk spesifik per kapal) sering kali sulit diverifikasi secara publik, tren besarnya jelas: AS memperkuat kesiapan dan jejaring komando-operasi di kawasan.

Salah satu indikator yang sering dinilai sebagai langkah “pra-operasi” adalah penguatan kemampuan komando, kontrol, dan koordinasi di teater Timur Tengah. Di level resmi, situs Komando Pusat AS (CENTCOM) menunjukkan aktivitas dan agenda latihan/penguatan kemampuan kawasan selama Januari 2026, meski tidak selalu merinci semua pergerakan sensitif secara operasional.

Klaim “16 Pesawat Angkut Militer Tiongkok ke Iran”: Ramai, Tapi Statusnya Masih Abu-abu

Bagian lain yang paling menyita perhatian adalah klaim bahwa 16 pesawat angkut militer Tiongkok mendarat di Iran dalam waktu singkat, yang ditafsirkan sebagai sinyal dukungan terbuka Beijing kepada Teheran.

Namun, sejauh penelusuran sumber terbuka, informasi ini banyak berasal dari laporan yang menyebut “narasi beredar” dan unggahan media sosial, bukan konfirmasi resmi negara atau lembaga yang dapat diverifikasi penuh.

Artinya: isu ini patut dicatat sebagai perkembangan yang sedang diperdebatkan, tetapi untuk standar berita yang ketat, ia sebaiknya ditempatkan sebagai klaim OSINT sambil menunggu bukti independen (misalnya data penerbangan yang tervalidasi, citra satelit, atau pernyataan resmi).

Kesimpulan Sementara: Kawasan Mendekati Titik Kritis

Rangkaian kejadian sepanjang 9–25 Januari 2026 menunjukkan eskalasi yang nyata:

  • 9 Jan 2026: Khamenei berpidato terkait protes, menandai tekanan domestik yang meningkat.
  • 20 Jan 2026: Parlemen Iran mengeluarkan peringatan “jihad” jika Khamenei diserang—sinyal garis merah Teheran.
  • 23 Jan 2026: Peringatan potensi pembalasan Iran yang menyasar kepentingan terkait AS di kawasan.
  • 25 Jan 2026: Laporan media Israel menyoroti penguatan postur dan konteks kesiagaan menghadapi skenario serangan.
  • Klaim OSINT (sekitar pertengahan–akhir Jan 2026): isu pesawat angkut Tiongkok ke Iran ramai, tetapi belum terverifikasi tegas.

Dengan kondisi ini, para analis menilai kawasan berada dalam fase “mudah tersulut”: satu insiden—serangan terbatas, salah hitung, atau provokasi di front lain—dapat memicu rangkaian pembalasan yang sulit dikendalikan.

Pendidikan Keuangan Anak dalam Keluarga Yahudi

EtIndonesia. Bagaimana Para Miliarder Mendidik Anak Mereka? Apakah mereka sejak kecil diberi uang yang tak ada habisnya? Justru sebaliknya!

Belakangan ini, saya mencermati pendidikan keuangan dalam keluarga dan pola asuh orang tua di sekitar kita. Banyak yang cenderung terlalu longgar. Padahal, jika berbicara tentang siapa yang paling pandai menghasilkan uang dan paling piawai mengajarkan anak-anaknya tentang uang, maka orang Yahudi berada di peringkat teratas di dunia.

Pendidikan Keuangan Orang Yahudi Diakui Dunia

Orang Yahudi memiliki sistem pendidikan keuangan anak yang sangat khas. Mereka bahkan memiliki kebiasaan memberikan saham kepada anak yang baru berusia satu tahun, terutama di kalangan Yahudi Amerika Utara.

Tahapan pendidikan keuangan anak dalam keluarga Yahudi umumnya sebagai berikut:

  • Usia 3 tahun: Anak mulai diajari mengenali uang logam dan uang kertas.
  • Usia 5 tahun: Anak diajari bahwa uang dapat digunakan untuk membeli barang yang mereka inginkan, serta diperkenalkan bagaimana uang diperoleh.
  • Usia 7 tahun: Anak mulai belajar membaca label harga barang dan memperdalam konsep “uang ditukar dengan barang”.
  • Usia 8 tahun: Anak diajari bahwa uang dapat diperoleh dengan bekerja paruh waktu, serta membiasakan mereka menabung di bank.
  • Usia 11–12 tahun: Anak diajarkan untuk memahami tipu daya iklan televisi, menyusun rencana pengeluaran minimal dua minggu, serta mengenal dan menggunakan istilah-istilah perbankan dengan benar.

Rockefeller: Miliarder yang Sangat Ketat Mendidik Anak

Raja minyak dunia Rockefeller juga berasal dari keluarga Yahudi. Dia mewajibkan anak-anaknya mencatat setiap pengeluaran harian sebelum tidur, bahkan mengajarkan mereka mencari tahu di mana barang bisa dibeli dengan harga lebih murah. Tujuannya jelas: membiasakan hidup hemat sejak dini.

Padahal Rockefeller adalah orang terkaya di Amerika dan miliarder pertama di dunia yang memiliki kekayaan lebih dari satu miliar dolar. Namun uang saku yang dia berikan kepada anak-anaknya sangat sedikit—bahkan lebih ketat dibanding keluarga biasa.

Orang Terkaya Amerika Mengajarkan Anak Tidak Boros Sejak Kecil

Aturan uang saku yang diterapkan Rockefeller adalah sebagai berikut:

  • Usia 7–8 tahun: uang saku mingguan sebesar 30 sen dolar
  • Usia 11–12 tahun: uang saku mingguan sebesar 1 dolar
  • Di atas 12 tahun: uang saku mingguan sebesar 3 dolar

Uang saku diberikan seminggu sekali. Anak-anak diwajibkan membuat anggaran terlebih dahulu dan mencatat dengan rinci setiap pengeluaran. Catatan ini harus diserahkan saat menerima uang saku berikutnya.

Jika pencatatan rapi dan penggunaan uang tepat, maka minggu berikutnya uang saku akan ditambah 5 sen. Sebaliknya, jika tidak jelas, jumlahnya akan dikurangi.

Bahkan seorang miliarder seperti Rockefeller pun mendidik anaknya dengan cara ini. Lalu, masih pantaskah kita memanjakan anak secara berlebihan?

Kekayaan Bisa Habis, Tapi Kebijaksanaan Akan Selalu Menyertai

Pada umumnya, para miliarder berusaha keras agar anak-anak mereka tidak tumbuh dengan rasa superior hanya karena lahir di keluarga kaya. Mereka ingin anak-anaknya mendapatkan pendidikan keuangan dasar seperti anak-anak biasa.

Yang terpenting, mereka ingin anak-anak memahami bahwa uang itu tidak mudah diperoleh, sehingga kelak mereka mampu menjaga dan mengelola kekayaan.

Dalam pekerjaan saya, saya pernah mewawancarai banyak pengusaha besar—termasuk Yen Kai-tai dan Wang Ling-chiao, yang sering disebut “lahir dengan sendok emas”. Namun masa kecil mereka tidaklah mudah. Yen Kai-tai, misalnya, berangkat dan pulang sekolah naik bus sekolah seperti anak-anak lainnya, tanpa mobil mewah antar-jemput.

Harta Bisa LenYap, Tapi Hikmah Tetap Abadi

Dalam keluarga Yahudi, para ibu sering mengajukan pertanyaan ini kepada anak-anaknya: “Jika suatu hari rumahmu terbakar dan seluruh hartamu dirampas, lalu apa yang akan kamu bawa untuk menyelamatkan diri?”

Anak-anak biasanya menjawab secara spontan: uang, berlian, atau perhiasan.

 Namun sang ibu akan berkata: “Anakku, yang harus kamu bawa bukanlah uang atau berlian, melainkan kebijaksanaan.”

Karena kebijaksanaan adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dirampas oleh siapa pun.

Hikmah Cerita

Artikel ini memberi pemahaman yang lebih dalam tentang makna pepatah: “Daripada memberi ikan, lebih baik mengajarkan cara memancing.”

Setiap orangtua tentu ingin anaknya sukses dan berhasil. Mereka bekerja keras, berusaha memenuhi segala kebutuhan anak demi masa depan yang lebih baik. Namun sering kali, tanpa disadari, anak justru menganggap semua itu sebagai sesuatu yang wajar dan semestinya.

Selain memenuhi kebutuhan materi, yang jauh lebih penting adalah pendidikan batin dan pembentukan pola pikir—agar anak memahami betapa sulitnya mencari uang dan betapa besar pengorbanan orang tua.

Hal-hal ini tidak bisa diajarkan hanya lewat kata-kata, sekolah, atau buku. Dia harus ditanamkan melalui pendidikan keluarga dan interaksi nyata antara orangtua dan anak, agar anak dapat benar-benar merasakan dan belajar dari pengalaman hidup.

Semoga setelah membaca artikel ini, kita semua mendapat inspirasi baru tentang bagaimana mendidik dan membesarkan anak, khususnya dalam hal keuangan dan nilai kehidupan.(jhn/yn)

Jenderal Zhang Youxia Sedang Diselidiki: Kekacauan di Zhongnanhai, Semua orang Hidup Dalam Ketakutan

Situasi politik Tiongkok memasuki titik balik! petinggi partai komunis Tiongkok, Zhang Youxia disingkirkan, Xi Jinping terisolasi dan tanpa dukungan, militer kehilangan para jenderalnya—runtuhnya “bangunan” Partai Komunis Tiongkok (PKT) dinilai telah menjadi kenyataan.

EtIndonesia. Pada 24 Januari 2026, Kementerian Pertahanan Tiongkok secara mendadak mengumumkan bahwa Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (KMP) Zhang Youxia dan Kepala Staf Gabungan KMP Liu Zhenli diduga terlibat pelanggaran disiplin dan hukum yang serius. 

Setelah diteliti oleh pimpinan pusat partai, diputuskan untuk membuka penyelidikan resmi terhadap Zhang Youxia dan Liu Zhenli. Sejak rumor penahanan Zhang Youxia ramai beredar di internet pada 20 Januari hingga pengumuman resmi, ia menjadi salah satu jenderal yang “jatuh” dengan proses tercepat sejauh ini.

Saat Zhang Youxia ditangkap, di luar negeri tengah ramai ditayangkan serial berjudul Winnie’s Last Days (Akhir Zaman Winnie), yang menyindir terjadinya kudeta di Zhongnanhai: seorang “Jenderal Zhang” yang tak lagi mampu menahan diri mengerahkan pasukan untuk menangkap sang diktator “Winnie” yang duduk di singgasana kekuasaan. 

“Winnie” merupakan sebutan rakyat untuk Xi Jinping. Kebetulan ini menunjukkan bahwa penangkapan Zhang Youxia mungkin bukan hasil perencanaan matang, melainkan lebih menyerupai tindakan impulsif.

Analisis menyoroti frasa kunci dalam pengumuman resmi: “diputuskan setelah diteliti oleh pimpinan pusat partai”. Ungkapan ini biasanya hanya digunakan untuk tokoh setingkat wakil negara ke atas, kasus yang menyangkut keamanan politik sistemik, atau tindakan besar yang harus mendapat persetujuan tingkat tertinggi. Ini berarti bukan komisi disiplin yang terlebih dahulu menemukan masalah, melainkan kesimpulan politik sudah ditetapkan lebih dulu, baru kemudian prosedur dijalankan.

Zhang Youxia yang berusia 75 tahun—dari segi posisi di militer, latar belakang, dan hubungannya dengan Xi—dipandang mirip dengan Lin Biao pada era Mao Zedong. Opini publik di luar negeri menilai dampak peristiwa ini dapat disejajarkan dengan “Insiden Lin Biao” atau “Insiden Wang Lijun”, yang merupakan kejadian-kejadian insidental langka namun sering memicu perubahan besar dalam konstelasi politik.

Profesor Universitas California, Victor Shih menyatakan keterkejutannya. Ia sebelumnya mengira He Weidong-lah figur bergaya Lin Biao, namun ternyata justru Zhang Youxia—sahabat lama yang pernah membantu Xi mengkonsolidasikan kekuasaan. Hal ini akan menyebabkan tersingkirnya gelombang terakhir jenderal militer yang memiliki pengalaman tempur nyata dalam Perang Vietnam.

Sejak berkuasa pada 2012, Xi Jinping telah membersihkan lebih dari 100 perwira tinggi militer, termasuk empat wakil ketua Komisi Militer Pusat. Dalam susunan terbaru KMP, kini hanya tersisa Zhang Shengmin. 

Skala pembersihan ini melampaui Revolusi Kebudayaan maupun pembersihan besar-besaran di Uni Soviet. Xi Jinping kerap dibandingkan dengan Chongzhen, kaisar terakhir Dinasti Ming—dikenal kejam, curiga, dan gemar membunuh; dalam 17 tahun pemerintahannya ia mengganti 14 menteri perang, dan akhirnya menjadi pengakhiri Dinasti Ming.

Zhang Youxia memiliki tiga “label” yang sulit ditiru di tubuh militer:

  • Keturunan merah generasi kedua: ayahnya adalah seorang jenderal pendiri negara.
  • Pengalaman tempur nyata: pernah bertempur dalam Perang Vietnam, yang hampir punah di jajaran elite saat ini.
  • Senioritas dan basis kuat: memiliki posisi stabil di berbagai kepemimpinan lintas generasi.

Zhang Youxia dianggap sebagai sosok terakhir di militer yang masih mewakili logika profesional dan suara sistem. Penyingkirannya akan membawa tiga konsekuensi utama:

  1. Pengambilan keputusan menjadi tidak profesional: para jenderal tidak lagi memikirkan cara memenangkan perang, melainkan cara menebak kehendak atasan.
  2. Sistem komando menjadi hampa: konsep operasi gabungan terdegradasi, keputusan kembali terpusat pada satu orang; level menengah hanya boleh menjalankan perintah, bukan menilai.
  3. Meningkatnya risiko petualangan eksternal: karena tak ada yang berani menjadi “rem”, semua hanya mengikuti arus, sangat rentan terhadap salah perhitungan dan kehilangan kendali.

Analisis menyebutkan bahwa hilangnya kemampuan militer untuk melakukan kritik profesional, diplomasi yang makin emosional, meningkatnya biaya pengendalian internal, serta melemahnya kemampuan koreksi kesalahan, pada akhirnya akan merembet ke nilai tukar, lapangan kerja, kebijakan wajib militer, dan skala kontrol sosial.

Ketika sistem mengosongkan semua “zona penyangga”, itu menunjukkan menurunnya kepercayaan diri terhadap diri sendiri. Kini, setiap pusat pemikiran independen di tubuh militer otomatis dipandang sebagai titik risiko. Ini menandai bahwa runtuhnya “bangunan besar” PKT telah menjadi kenyataan. (Hui)

Zhongnanhai : Komplek dan Kantor Pusat Partai Komunis Tiongkok di Beijing

Kejatuhan Tokoh-tokoh Pragmatis Zhang Youxia dan Liu Zhenli Menandai Runtuhnya Kekuatan Militer Partai Komunis Tiongkok 

Kelompok jenderal berpengalaman tempur di militer Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah disapu bersih. Zhang Youxia dan Liu Zhenli tumbang, kekuatan militer PKT mengalami pukulan berat, dan Xi Jinping dinilai telah mengosongkan sepenuhnya sistem komando militer.

Anggota Politbiro PKT sekaligus Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (KMP) Zhang Youxia, serta anggota KMP dan Kepala Staf Gabungan KMP Liu Zhenli, hari ini secara mendadak diumumkan “jatuh”. 

Analisis menyebutkan, keduanya merupakan jenderal terakhir di militer PKT yang memiliki pengalaman tempur nyata. Kejatuhan mereka menjadi hantaman besar bagi kekuatan militer PKT, sekaligus menandai bahwa Xi Jinping telah menguras habis sistem komando militer PKT.

EtIndonesia. Pada 24 Januari 2026, Kementerian Pertahanan Tiongkok mengumumkan bahwa anggota Politbiro dan Wakil Ketua KMP Zhang Youxia, serta anggota KMP dan Kepala Staf Gabungan KMP Liu Zhenli, “diduga terlibat pelanggaran disiplin dan hukum yang serius”, sehingga resmi diselidiki dan diperiksa.

Ini merupakan pertama kalinya sejak 1989 PKT menyingkirkan dua anggota Politbiro dalam satu masa jabatan yang sama.

Kala itu, PKT mencopot pemimpin partai saat itu sekaligus Wakil Ketua KMP peringkat pertama, Zhao Ziyang, beserta seorang kolega Politbiro lainnya. Mereka dianggap bersikap lunak dalam menangani demonstrasi di Beijing, yang pada akhirnya ditumpas dengan kekerasan militer.

Adapun Zhang Youxia yang kini tumbang, lahir pada Juli 1950 di Weinan, Provinsi Shaanxi. Ayahnya, Zhang Zongxun, adalah seorang jenderal pendiri negara (shangjiang) PKT yang pernah menjabat Menteri Logistik Umum militer. Zhang Youxia ikut serta dalam Perang Tiongkok–Vietnam tahun 1979, dan pada 1984 memimpin pasukan dalam Pertempuran Liangshan.

Perlu dicatat, Zhang Zongxun dan Zhang Youxia dikenal sebagai “ayah-anak jenderal”. Zhang Zongxun merupakan rekan dekat ayah Xi Jinping, Xi Zhongxun, sejak sebelum PKT berkuasa. Setelah Xi Jinping naik ke tampuk kekuasaan, Zhang Youxia menjadi salah satu “pangeran merah” di militer yang mendukung kekuasaan Xi.

Liu Zhenli, yang diumumkan tumbang bersamaan dengan Zhang Youxia, lahir Agustus 1964 di Luancheng, Provinsi Hebei. Ia masuk militer pada September 1983 dan ditempatkan di Kompi Intai Divisi Infanteri ke-112. Sejak 30 April 1986, ia ikut serta dalam Pertempuran Liangshan dan bertugas di garis depan selama lebih dari satu tahun.

Komentator politik Li Linyi menyatakan bahwa militer PKT sudah bertahun-tahun tidak berperang. Zhang Youxia dan Liu Zhenli adalah jenderal terakhir yang benar-benar memiliki pengalaman tempur. Penyingkiran mereka merupakan pukulan berat, bukan hanya bagi kekuatan militer PKT, tetapi juga bagi rezim itu sendiri.

Peneliti dari Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Taiwan, Shen Ming-shih, mengatakan kepada Epoch Times bahwa Zhang dan Liu adalah jenderal beraliran “praktisi tempur”, sehingga pandangan politik dan pemikiran mereka berbeda dari Xi Jinping, dan karena itulah mereka disingkirkan.

Sementara tokoh-tokoh seperti He Weidong dan Miao Hua—yang sebelumnya disingkirkan melalui manuver Zhang Youxia—tidak memiliki pengalaman tempur, namun secara politik jauh lebih loyal kepada Xi Jinping. Di bawah arahan mereka, militer mungkin tidak menjadi lebih kuat, tetapi akan mengeksekusi perintah Xi sepenuhnya. Hal ini justru meningkatkan risiko tindakan ekspansionis atau operasi militer ke luar negeri.

Dari tujuh anggota Komisi Militer Pusat periode ke-20 PKT, kini hanya tersisa Zhang Shengmin dan Xi Jinping. Di jajaran jenderal aktif, selain Wakil Ketua KMP Zhang Shengmin dan Menteri Pertahanan Dong Jun, masih ada Panglima Komando Teater Timur Yang Zhibin dan Panglima Komando Teater Tengah Han Shengyan yang dipromosikan menjadi jenderal pada Desember lalu.

Shen Ming-shih menyatakan, sebelumnya masih ada beberapa jenderal lain yang pernah terlibat pertempuran pada 1988, namun mereka kini telah tumbang atau dicopot.

Masalah terbesar militer PKT saat ini adalah banyaknya kekosongan jabatan jenderal, khususnya para letnan jenderal yang kemungkinan besar akan terseret oleh kasus Zhang Youxia dan Liu Zhenli, lalu ikut dibersihkan. Hal ini akan mengosongkan sistem komando tingkat tinggi militer PKT.

Shen memperkirakan bahwa Zhang Shengmin, yang baru saja dipromosikan menjadi Wakil Ketua KMP, kemungkinan telah “diamankan” oleh Xi Jinping. Kini KMP hanya tersisa satu orang selain Xi, dan apakah anggota baru akan segera diangkat masih belum jelas.

Zhong Shaojun sebelumnya dipandang sebagai kandidat untuk mengisi jabatan anggota KMP. Apakah ia akan kembali tampil masih perlu diamati. Jika tidak ada sosok yang cocok, Xi kemungkinan akan menarik Menteri Pertahanan Dong Jun untuk masuk ke KMP, setidaknya agar ada dua hingga tiga orang demi menjalankan fungsi komisi tersebut.

Asisten peneliti di Institut Strategi dan Sumber Daya, Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Taiwan, Zhong Zhidong, mengatakan kepada Epoch Times bahwa saat ini di antara anggota KMP tidak ada satu pun jenderal yang benar-benar memiliki pengalaman tempur. Zhang Shengmin sendiri adalah kader politik. Jika Xi berniat melakukan aksi militer terhadap Taiwan, kondisi ini tentu akan berdampak besar. Penyingkiran Zhang Youxia dan Liu Zhenli kali ini juga berkaitan dengan upaya Xi menunjukkan sikap ingin terus berkuasa.

Sebelumnya, akademisi Australia Yuan Hongbing mengatakan kepada Epoch Times bahwa apa yang disebut Xi Jinping sebagai “revolusi diri” melalui pembersihan besar-besaran, pada kenyataannya telah menghancurkan seluruh struktur kepemimpinan militer PKT. Tahun 2026 akan menjadi tahun terlemah bagi “tentara penjaga partai” PKT.

Komentator Li Linyi menambahkan, setelah menyingkirkan Zhang Youxia dan Liu Zhenli, tidak menutup kemungkinan Xi justru menjadi semakin nekat, bahkan berani mengambil risiko menyerang Taiwan untuk membuktikan kemampuannya. Oleh karena itu, komunitas internasional tidak boleh meremehkan situasi di Selat Taiwan. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Trump Ungkap “Senjata Rahasia”: Senjata Discombobulator Dipakai dalam Operasi Tangkap Maduro

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan sebuah perangkat militer rahasia yang menurutnya menjadi kunci sukses operasi militer di Venezuela yang berlangsung pada 3 Januari 2026, dalam wawancara eksklusif dengan The New York Post yang dipublikasikan pada 24–25 Januari 2026.

Trump menyebut alat itu sebagai “The Discombobulator”, sebuah perangkat yang menurutnya mampu melumpuhkan sistem pertahanan lawan secara drastis, memungkinkan pasukan AS menguasai situasi di ibu kota Caracas dan menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, tanpa korban jiwa di pihak Amerika Serikat.

Senjata “Discombobulator”: Apa yang Diungkap Trump

Dalam wawancara tersebut, Trump menjelaskan bahwa Discombobulator tidak hanya menonaktifkan sistem radar dan pertahanan Venezuela, tetapi juga membuat rudal buatan Rusia dan Tiongkok yang dimiliki pemerintah Venezuela tidak bisa diluncurkan sama sekali.

“Mereka punya roket dari Rusia dan Tiongkok, dan mereka tidak pernah berhasil meluncurkan satu pun. Ketika mereka menekan tombol—tidak ada yang berfungsi,” ujar Trump.

Dia mengatakan bahwa efek senjata itu lebih efektif daripada peralatan militer konvensional dalam operasi semacam ini, namun menolak menjelaskan teknologi teknis di baliknya dengan alasan kerahasiaan dan keamanan nasional.

Operasi di Caracas: Kronologi Singkat

Menurut laporan-laporan laporan independen dan laporan investigasi media, operasi militer besar yang dimulai dini hari tanggal 3 Januari 2026 melibatkan kombinasi serangan udara, perang elektronik, dan penyusupan pasukan khusus ke kompleks pertahanan utama Venezuela. Serangan awal menargetkan radar, sistem komunikasi, dan unit pertahanan udara di sekitar Caracas, merusak kemampuan reaksi cepat pasukan Venezuela.

Sebagai bagian dari strategi, pasukan AS dilaporkan menggunakan taktik perang elektronik untuk memutus sistem komunikasi dan kendali, sehingga memudahkan misi pendaratan heli pasukan khusus di titik-titik strategis. Selanjutnya pasukan elit berhasil menangkap Maduro dan Flores sebelum mereka bisa mencari perlindungan di bunker bawah tanah kompleks militer.

Sumber-sumber independen melaporkan bahwa sedikitnya 100 orang tewas dalam serangan itu, termasuk sejumlah tentara bayaran dan personel keamanan Venezuela, serta beberapa warga sipil. Tidak ada laporan resmi yang menyebutkan jumlah korban di pihak AS.

Efek Senjata dan Kesaksian Saksi

Selain pernyataan Trump, beberapa laporan media memasukkan klaim dari saksi mata yang menggambarkan efek misterius dari apa yang disebut sebagai “senjata sonik” atau energi intens. Seorang mantan pengawal Maduro menggambarkan sensasi seperti gelombang suara ekstrem yang menyebabkan:

  • pusing hebat
  • mimisan
  • muntah darah
  • ketidakmampuan bergerak secara tiba-tiba

Media juga menekankan bahwa klaim ini belum dikonfirmasi secara independen oleh sumber militer resmi atau lembaga riset teknologi. Beberapa analis berpendapat bahwa apa pun perangkat itu, efeknya dapat berkaitan dengan gabungan teknologi perang elektronik, frekuensi energi, dan taktik perang modern lainnya, bukan semata “senjata tunggal yang luar biasa”.

Maduro dan Cilia Flores: Status Hukum Terkini

Setelah ditangkap, Maduro dan istrinya dilaporkan dibawa ke Amerika Serikat, di mana keduanya menghadapi dakwaan federal terkait narkoterrorisme, konspirasi, dan kepemilikan senjata ilegal di sebuah pengadilan di Brooklyn, New York. Maduro mengklaim dirinya sebagai “prisoner of war” dan tetap menganggap dirinya sebagai Presiden sah Venezuela, sementara pemerintah internasional dan kelompok HAM menyuarakan protes atas tindakan AS tersebut.

Dinamika Politik di Venezuela Pasca-Operasi

Pasca operasi, Delcy Rodríguez, yang sebelumnya merupakan pemimpin oposisi dalam tubuh pemerintahan, ditunjuk sebagai Presiden Interim Venezuela. Dia mengumumkan pembebasan ratusan tahanan politik dan berencana menjalin kerja sama lebih lanjut dengan AS, termasuk dalam pengamanan pasokan minyak Venezuela yang sangat besar.

Beberapa negara dan organisasi internasional—termasuk sekutu dekat Venezuela—mengutuk operasi tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan. Diskusi soal legalitas intervensi militer dan penahanan pemimpin sah negara itu pun semakin kuat di forum-forum internasional.

Pandangan Ahli tentang Era Baru Perang Modern

Para pakar militer menilai bahwa skenario seperti yang diklaim Trump menunjukkan perubahan paradigma perang modern, di mana prioritas bukan sekadar kehancuran fisik terhadap lawan, melainkan pelumpuhan sistem pertahanan dan komunikasi lawan secara efektif tanpa harus mengandalkan jumlah besar pasukan atau pertempuran konvensional. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa banyak klaim tetap perlu diverifikasi secara teknis dan ilmiah sebelum disimpulkan sebagai fakta.

Kesimpulan

Perkembangan terbaru ini menggambarkan dinamika konflik internasional yang kompleks, serta kecenderungan senjata mutakhir dan strategi non-konvensional menjadi bagian dari operasi militer besar. Meskipun Amerika Serikat menggambarkan operasi ini sebagai kemenangan strategis, banyak pihak internasional masih mempertanyakan legalitas, etika, dan risiko jangka panjang dari penggunaan teknologi militernya.

Pendaki AS Mendaki Gedung Tertinggi Taiwan Tanpa Tali dalam 91 Menit

EtIndonesia. Pendaki AS, Alex Honnold mendaki gedung pencakar langit Taipei 101 tanpa tali atau jaring pengaman pada hari Minggu (25/1), disaksikan oleh ribuan penggemar yang bersorak dan melambaikan tangan saat dia memanjat salah satu gedung tertinggi di dunia.

“Keren,” kata Honnold saat dia sampai di puncak gedung tertinggi Taiwan setelah pendakian “solo bebas” selama 91 menit, yang diorganisir dan disiarkan langsung oleh Netflix.

“Sungguh cara yang indah untuk melihat Taipei,” katanya kepada wartawan setelah misinya, yang ditunda sehari karena cuaca buruk.

Taipei 101 setinggi 508 meter, yang mendominasi cakrawala kota dan merupakan daya tarik wisata utama, adalah gedung tertinggi di dunia dari tahun 2004 hingga 2010, sebuah gelar yang saat ini dipegang oleh Burj Khalifa di Dubai.

Pendakian tersebut, tanpa peralatan keselamatan, berlangsung dengan dukungan penuh dan izin dari Taipei 101 dan pemerintah kota.

Honnold mengatakan bahwa dia pernah berpikir untuk mendaki struktur tersebut tanpa izin.

“Tetapi kemudian karena menghormati bangunan dan semua orang di tim yang telah mengizinkan saya mengaksesnya, saya berpikir, yah, jelas saya tidak akan mengambil alih ini, saya akan menghormati orang-orang dan melihat apakah ini akan berhasil.”

Produser Eksekutif James Smith mengatakan bahwa jarang sekali sebuah bangunan mempercayai seorang pendaki dan mengizinkan acara seperti itu terjadi, menyebut Taipei 101 sebagai “ikon sejati negara ini”.

Para politisi Taiwan menggunakan media sosial untuk berterima kasih kepada Honnold dan Netflix karena telah menempatkan Taiwan – yang lebih terbiasa tampil di berita utama global karena kehebatan semikonduktornya atau ancaman militer Tiongkok – di sorotan internasional dengan perspektif yang berbeda.

“Selamat kepada Alex yang berani dan tak kenal takut karena telah menyelesaikan tantangan ini,” tulis Presiden Lai Ching-te di halaman Facebook-nya.

“Melalui kamera siaran langsung Netflix, dunia tidak hanya melihat Taipei 101 – tetapi juga melihat kehangatan dan semangat rakyat Taiwan, serta perbukitan dan pemandangan indah negeri ini,” tambahnya.

Ini bukan pertama kalinya Taipei 101 didaki.

Pada tahun 2004, pendaki asal Prancis, Alain Robert, yang dijuluki “Spiderman” karena pendakiannya tanpa tali di beberapa gedung pencakar langit tertinggi di dunia, mendaki gedung tersebut, meskipun dengan menggunakan tali pengaman, dalam waktu empat jam.(yn)

Ternyata Sangat Sederhana

EtIndonesia. Ada seorang anak muda yang bekerja sebagai murid magang di sebuah bengkel sepeda. Suatu hari, seseorang mengantar sepeda yang rusak untuk diperbaiki. Anak magang itu bukan hanya memperbaiki sepeda tersebut, tetapi juga membersihkannya hingga tampak indah seperti baru.

Para murid magang lain menertawakannya, menganggap dia terlalu berlebihan. Tak lama kemudian, pemilik sepeda datang mengambil sepedanya.

Keesokan harinya, anak magang itu justru direkrut untuk bekerja di perusahaan milik pemilik sepeda tersebut.

Ternyata, untuk menjadi orang yang menonjol itu sangat sederhana—cukup mau sedikit merugi dan memberi lebih.

Seorang pemilik peternakan meminta anaknya bekerja keras setiap hari di ladang.

Seorang teman berkata kepadanya :  “Kamu tidak perlu membuat anakmu bekerja sekeras itu. Tanaman tetap akan tumbuh dengan baik.”

Pemilik peternakan itu menjawab :  “Aku bukan sedang membesarkan tanaman, aku sedang membesarkan anakku.”

Ternyata, mendidik anak itu sangat sederhana—biarkan dia merasakan sedikit kesusahan.

Seorang pelatih tenis bertanya kepada murid-muridnya :  “Jika sebuah bola tenis jatuh ke dalam tumpukan rumput, bagaimana cara mencarinya?”

Ada yang menjawab: “Mulai dari tengah tumpukan rumput.”

Ada yang berkata :  “Mulai dari bagian yang paling cekung.”

Ada juga yang menjawab : “Mulai dari bagian rumput yang paling panjang.”

Pelatih pun menyampaikan jawaban yang benar: “Cari secara teliti, dari satu ujung lapangan rumput ke ujung lainnya.”

Ternyata, cara menemukan keberhasilan itu sangat sederhana—hitung dari satu sampai sepuluh tanpa melompati satu pun langkah.

Ada sebuah toko yang selalu terang benderang.

Seseorang bertanya :  “Lampu apa yang kalian pakai? Kok awet sekali?”

Pemilik toko menjawab :  “Lampu kami juga sering rusak, hanya saja setiap rusak langsung kami ganti.”

Ternyata, cara menjaga dan mempertahankan sesuatu itu sangat sederhana—cukup rajin.

Seekor katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan :  “Tempatmu terlalu berbahaya. Pindahlah ke tempatku.”

Katak pinggir jalan menjawab :  “Aku sudah terbiasa, malas pindah.”

Beberapa hari kemudian, katak sawah datang menjenguk, namun mendapati katak pinggir jalan telah terlindas mobil dan mati di jalan.

Ternyata, cara mengendalikan arah hidup itu sangat sederhana—jauhi kemalasan.

Seekor anak ayam baru saja menetas dari telur, kebetulan ada kura-kura yang lewat. Sejak itu, anak ayam tersebut terus membawa cangkang telurnya seumur hidup.

Ternyata, untuk melepaskan beban berat itu sangat sederhana—lepaskan kelekatan dan pandangan yang kaku.

Beberapa anak ingin menjadi malaikat. Tuhan memberi masing-masing sebuah tempat lilin dan berpesan agar mereka menjaga cahayanya tetap bersih.

Hari demi hari berlalu, Tuhan tak kunjung datang. Semua anak berhenti membersihkan tempat lilin mereka. Namun ada satu anak yang terus membersihkannya setiap hari, meski sering diejek sebagai anak bodoh.

Suatu hari, Tuhan datang tiba-tiba. Semua tempat lilin tertutup debu tebal, kecuali milik anak yang dianggap bodoh itu. Akhirnya, hanya dialah yang menjadi malaikat.

Ternyata, menjadi malaikat itu sangat sederhana—cukup lakukan dengan sungguh-sungguh.

Seekor anak babi memohon kepada Tuhan agar diizinkan menjadi murid-Nya. Tuhan mengabulkannya. Kebetulan, ada seekor anak sapi yang baru keluar dari lumpur, tubuhnya penuh kotoran.

Tuhan berkata kepada anak babi : “Pergilah, bantu bersihkan tubuhnya.”

Anak babi terkejut dan berkata :  “Aku adalah murid Tuhan, bagaimana mungkin aku melayani sapi yang kotor seperti itu?”

Tuhan menjawab : “Jika kamu tidak melayani sesama, bagaimana orang lain tahu bahwa kamu adalah murid-Ku?”

Ternyata, memperlakukan orang lain itu sangat sederhana—cukup dengan ketulusan hati.

Sebuah tim pendulang emas berjalan di gurun pasir. Semua tampak letih dan menderita, kecuali satu orang yang melangkah dengan ringan dan ceria.

Orang lain bertanya :  “Mengapa kamu terlihat begitu santai?”

Ia tersenyum dan menjawab : “Karena barang yang kubawa paling sedikit.”

Ternyata, kebahagiaan itu sangat sederhana—kurangi keinginan, belajarlah merasa cukup.

Seseorang melamar pekerjaan. Tanpa sengaja, ia memungut sampah di lorong dan membuangnya ke tempat sampah. Aksi kecil itu terlihat oleh pewawancara yang kebetulan lewat, dan akhirnya ia mendapatkan pekerjaan tersebut.

Ternyata, untuk mendapatkan penghargaan itu sangat sederhana—biasakan diri dengan kebiasaan baik.

Ternyata, hidup pun sangat sederhana— selama kita mampu menghargai, merasa cukup, dan bersyukur, maka hidup akan memancarkan keindahannya sendiri.

Hikmah Cerita

Salam hangat untuk para pembaca. Semoga kumpulan cerita pendek dalam buletin hari ini berkenan di hati.

Meski singkat, setiap kisah mengandung makna yang mengajak kita merenung. Penulis sungguh patut dikagumi—dengan kata-kata sederhana ia mampu mengungkap hakikat kehidupan, serta menunjukkan bahwa kesuksesan bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari langkah-langkah kecil yang terus dikumpulkan.

Di balik hal-hal yang tampak rumit, sebenarnya sering tersembunyi kesederhanaan. Namun di balik kesederhanaan, sering pula tersimpan kerumitan.

Saat kita suka membandingkan, hal yang sederhana pun menjadi rumit. Namun ketika kita berhenti memperhitungkan dan mengeluh, hal yang rumit justru menjadi sederhana. (jhn/yn)

Di Balik Rasa Amarah

EtIndonesia. Mampu memikirkan perasaan orang lain adalah sebuah pembinaan diri, sebuah kebijaksanaan, dan juga sebuah berkah.

Di Balik Rasa Amarah : Serangan sebagai Reaksi Setelah Terluka

Baru-baru ini saya mendengar sebuah kisah seperti ini.

Seorang pria memelihara seekor anjing Chihuahua yang jinak dan penurut. Suatu hari, anjing kecil itu digigit oleh anjing besar milik tetangga. Tetangga tersebut segera menggendongnya dan mengembalikannya kepada sang pemilik.

Saat pemiliknya dengan penuh rasa sayang mengulurkan tangan untuk menerima anjing itu, tak disangka—anjing tersebut tiba-tiba menyerang dan menggigit tangan tuannya dengan kuat.

Namun sang pemilik tidak marah sama sekali. 

Dia justru berkata kepada tetangganya: “Dia menggigit saya karena dia sedang terluka.”

Itu adalah reaksi naluriah seekor anjing yang sedang kesakitan. Bukan karena dia membenci tuannya, melainkan sebagai bentuk perlindungan diri agar tidak kembali terluka.

Jika sang pemilik salah paham dan mengira anjing itu sengaja menyerangnya, dia pasti akan marah, dan keadaan justru akan menjadi semakin buruk.

Pelampiasan Amarah: Sisa Emosi yang Belum Reda

Ada seorang ayah yang pulang kerja. Begitu masuk rumah, dia melihat putrinya yang berusia belasan tahun sedang menggunakan peralatannya untuk memperbaiki sesuatu. Alat-alat itu berserakan di mana-mana dan ruang tamu tampak berantakan.

Tanpa sadar, sang ayah langsung memarahi putrinya dengan keras.

Putri yang cerdas itu, setelah merapikan semuanya, mendekati ayahnya, memeluknya, lalu berkata: “Ayah, hari ini pasti ada hal yang tidak menyenangkan terjadi di kantor, ya?”

Gadis itu memahami bahwa kemarahan ayahnya tidak sepenuhnya ditujukan kepadanya. Sang ayah mungkin sedang terluka oleh hal lain. Karena itu, dia tidak bereaksi dengan emosi, justru menenangkan ayahnya. Ini adalah bentuk kebijaksanaan yang luar biasa.

Bukankah kita sering menjumpai situasi serupa dalam kehidupan sehari-hari?

Misalnya:

  • Anak pulang sekolah dan membanting tasnya. Saat ditanya ada apa, dia malah menjawab ketus: “Ih, cerewet banget sih!”
  • Istri bertanya kepada suami ingin makan apa malam ini, tetapi suami menjawab dengan tidak sopan: “Sudah menikah sekian lama, masa kamu belum tahu aku suka makan apa?”
  • Suami pulang kerja dan melihat istrinya duduk lesu sambil menggendong anak. Saat dia bertanya dengan penuh perhatian: “Lagi nggak enak hati ya?”
    Istrinya malah menjawab dengan marah: “Kenapa baru pulang sekarang?”

Kepedulian: Obat Terbaik bagi Luka Batin

Dalam situasi seperti ini, jika masing-masing merasa bahwa kemarahan lawan bicara ditujukan kepada dirinya, maka dia pun akan ikut marah. Entah membalas dengan kata-kata tajam, atau memilih bersikap dingin dan menjauh.

Karena kita sendiri juga terluka, dan secara naluriah ingin melindungi diri.

Namun jika kita bisa melihatnya dengan cara lain—dia bersikap kasar karena dia sedang terluka—maka persoalan akan jauh lebih mudah diselesaikan.

Lalu bagaimana seharusnya kita menghadapi seseorang yang hatinya sedang terluka?

Pertama, dia perlu dipahami dan diterima.

Seorang ibu bisa berkata kepada anaknya:“Kamu pasti merasa disakiti di sekolah hari ini. Sini, ceritakan pada Ibu apa yang terjadi.”

Seorang istri bisa berkata kepada suaminya yang sedang marah: “Kamu kelihatan sedang tidak enak hati. Selain aku, siapa lagi yang membuatmu kesal hari ini?”

Dan seorang suami bisa berkata kepada istrinya yang sedang terpuruk: “Seharian mengurus anak di rumah pasti melelahkan. Apa yang bisa aku lakukan sekarang untuk membantumu?”

Dengan cara seperti ini, emosi lawan bicara biasanya akan cepat mereda. Saat dia merasa dipahami dan diterima, bahkan mungkin dia akan merasa bersalah atas sikap kasarnya tadi.

Perjalanan Batin: Awal dari Terobosan

Dalam Roma 12:20 tertulis: “Jika musuhmu lapar, berilah dia makan; jika haus, berilah dia minum. Dengan berbuat demikian, engkau menumpukkan bara api di atas kepalanya.”

Apalagi terhadap orang-orang terdekat kita—mereka jelas bukan musuh. Bukankah kita seharusnya lebih memperlakukan mereka dengan kebaikan?

Dari sudut pandang lain, ketika kitalah yang menjadi pribadi sensitif, mudah marah, tidak rasional, dan kehilangan kendali emosi, kita juga perlu menyadari bahwa kemungkinan besar kita sendiri pernah terluka, dan luka itu belum sepenuhnya sembuh.

Saya pernah mengalami cedera di jari kaki. Suatu hari, anggota keluarga tidak sengaja menyentuhnya saat lewat. Saya langsung berteriak kesakitan:“Kenapa sih diinjak! Sakit banget!”

Orang itu terkejut. Apakah dia sengaja menyakiti saya? Tentu tidak.

Dia hanya menyentuh sedikit, dan sama sekali tidak berniat melukai. Jika tidak ada luka, meskipun benar-benar terinjak, saya pun tidak akan marah.

Saya berteriak karena ada luka yang belum sembuh. Setiap kali tersentuh—oleh orang lain atau karena kelalaian sendiri—rasa sakit itu muncul, disertai kemarahan, dan membuat orang lain enggan mendekat.

Luka batin pun demikian.

Seorang perempuan pernah menelepon saya sambil menangis: “Saya merasa hampir menghancurkan anak-anak saya. Kesalahan kecil saja membuat saya berteriak marah kepada mereka. Saya tahu saya tidak seharusnya berkata kasar, tapi saya tidak bisa mengendalikan diri…”

Saya berkata kepadanya : “Itu karena di dalam dirimu ada luka yang sangat dalam dan belum sembuh sepenuhnya. Anak-anakmu tanpa sengaja menyentuh luka itu.”

Luka perempuan itu adalah rasa rendah diri—ketidakpastian akan nilai dirinya sendiri. Ketika anak-anaknya tidak tampil baik, ia merasa dirinya ditolak. Kemarahan hanyalah reaksi naluriah setelah merasa tidak berharga.

Jika kita mampu mengenali luka batin yang masih perlu disembuhkan, lalu mengobatinya dengan cara yang tepat, kita akan menjadi pribadi yang emosinya stabil dan disukai banyak orang.

Kita pun akan menyadari bahwa banyak ketidakbahagiaan sebenarnya bukan disebabkan oleh orang lain, melainkan oleh ego dan harga diri kita sendiri.

Renungan

“Mampu memikirkan perasaan orang lain adalah sebuah pembinaan diri, sebuah kebijaksanaan, dan juga sebuah berkah.”

Kalimat ini sangat saya sukai.

Saya percaya, siapa pun yang menjadikannya sebagai prinsip hidup pasti memiliki hati yang luas dan hubungan sosial yang baik. Saya pun berharap bisa menjadi pribadi yang semakin pengertian.

Saya akan menyimpan kalimat ini di dalam hati, dan menggunakannya sebagai pengingat setiap kali terjadi gesekan dengan orang lain—dengan harapan, suatu hari nanti saya benar-benar bisa menjadi seseorang yang berhati lapang dan penuh empati. (jhn/yn)

Sumber Orang Dalam : Kabarnya Jenderal PKT Zhang Youxia Diduga Hendak Menangkap Xi Jinping Tapi Infonya Dibocorkan

Pada 24 Januari 2026, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat PKT (PLA) Zhang Youxia dan anggota Komisi Militer Pusat Liu Zhenli dilaporkan sedang diselidiki. Menyusul hal tersebut, tokoh demokrasi Tiongkok ternama Sheng Xue mengutip keterangan dari sumber yang mengetahui situasi, menyebutkan bahwa Zhang Youxia dan Liu Zhenli ditangkap karena “upaya kudeta yang gagal”, setelah rencana mereka dibocorkan sebelum dilaksanakan. Namun, insiden ini disebut “sangat mengejutkan Xi Jinping”.

EtIndonesia. Pada 24 Januari sore, Zhang Youxia—anggota Politbiro PKT sekaligus Wakil Ketua Komisi Militer Pusat—serta Liu Zhenli—anggota Komisi Militer Pusat dan Kepala Staf Gabungan—secara resmi diumumkan “tumbang” karena “diduga melakukan pelanggaran disiplin dan hukum yang serius. Kini telah dibuka penyelidikan terhadap keduanya.

Malam harinya, media militer PKT memuat editorial yang mengecam keras Zhang dan Liu, dengan bahasa yang tajam, menuding mereka “sangat mengkhianati kepercayaan dan amanah Komite Sentral Partai dan Komisi Militer Pusat”, “secara serius menginjak-injak dan merusak sistem tanggung jawab ketua Komisi Militer”, serta “membahayakan fondasi kekuasaan Partai”.

Diduga Bersiap Menangkap Xi Jinping, Rencana Bocor dan Terjadi Baku Tembak

Terkait hal ini, Sheng Xue menulis di platform X di luar negeri bahwa seorang teman di dalam Tiongkok (bernama samaran Tuan X) telah memberitahukan kepada dirinya pada 19 Januari bahwa “Zhang Youxia telah ditangkap, kemungkinan besar telah terjadi peristiwa besar di PKT”. Namun saat itu ia sedang menghadiri pertemuan di Ottawa dan terlalu sibuk, sehingga hanya menyimpan catatan percakapan tersebut.

Menurut Tuan X, pada 18 Januari 2026 malam, Zhang Youxia dan Liu Zhenli berencana mengambil tindakan untuk menangkap Xi Jinping. Pada hari itu, Xi Jinping disebut-sebut berencana menginap di Hotel Jingxi di Beijing. Dalam beberapa tahun terakhir, Xi disebut “tidak menetap di satu tempat”, sering berpindah lokasi setiap beberapa hari.

Sheng Xue, aktivis Demokrasi Tiongkok yang bermukim di Kanada (Dokumentasi Sheng Xue)

“Zhang Youxia dan Liu Zhenli berencana menangkap Xi Jinping dan dijadwalkan bertindak pada  18 Januari malam. Namun dua jam sebelum aksi, rencana itu bocor. Hari itu Xi berada di Hotel Jingxi. Mereka mengira akan mudah menangkapnya di sana, tetapi dua jam sebelum penangkapan, seseorang membocorkannya. Xi segera meninggalkan Hotel Jingxi dan secara diam-diam mengatur operasi penangkapan balik.”

Namun, “pihak Zhang Youxia tidak mengetahui bahwa informasi tersebut telah bocor ke Xi Jinping, sehingga tetap mengirim personel pendahulu untuk bertindak. Personel yang telah tiba di Hotel Jingxi kemudian terlibat baku tembak dengan pasukan yang telah diatur oleh Xi Jinping.” Bahkan, disebutkan bahwa kedua belah pihak mengalami korban jiwa dan luka-luka.

Sheng Xue bertanya apakah orang-orang Zhang Youxia saat itu dikerahkan di satu lokasi atau tersebar di beberapa tempat.

Tuan X menjawab, “Hal itu tidak diberitahukan kepada saya. Namun ada satu hal, yaitu Xi sering tinggal di sini, lalu berpindah ke Zhongnanhai atau tempat lain. Sangat jarang ia tinggal dua malam berturut-turut di satu tempat. Di internet ada yang mengatakan Xi sengaja memancing Zhang Youxia keluar. Itu ada benarnya.”

“Yang saya tahu hanyalah bahwa dua jam sebelumnya Xi sudah mengetahui rencana tersebut, lalu segera bergerak menangkap Zhang Youxia dan Liu Zhenli. Pada saat yang sama, keluarga Zhang dan Liu juga langsung ditangkap.”

Mengapa dalam aksi sebesar dan seberbahaya ini mereka tidak lebih dulu mengamankan keluarga? Tuan X menjelaskan, “Zhang dan Liu saat itu memperkirakan operasi ini akan berhasil. Lagi pula, melindungi keluarga atau tidak sebenarnya tidak ada artinya. Jika lebih dulu mengatur keluarga, justru akan membocorkan rencana. Selain itu, Xi sudah menempatkan banyak mata-mata di sekitar keluarga mereka.”

Mengenai berapa lama persiapan dilakukan, Tuan X mengatakan, “Itu tidak diketahui. Yang jelas, Xi Jinping baru mengumumkan informasi ke publik setelah menuntaskan penanganan pemberontakan tersebut. Bukankah beberapa hari lalu saya sudah mengatakan bahwa penangkapan mendadak Zhang Youxia dan Liu Zhenli pasti menandakan peristiwa besar?”

Zhang Youxia Disebut Terpaksa Memberontak, “Xi Jinping Sangat Terkejut”

Terkait aksi ini, Tuan X mengatakan, “Informasi yang saya dengar menyebutkan bahwa Xi Jinping benar-benar sangat terkejut. Ibu dan kakak perempuannya juga mengetahuinya dan sangat ketakutan. Mereka tinggal di Wisma Tamu Shenzhen. Langkah-langkah pengamanan segera diambil, termasuk status siaga penuh di seluruh wisma. Di luar wisma kini dijaga sangat ketat.”

Mengapa Zhang Youxia sampai memberontak? Tuan X mengatakan, “Kemungkinan besar karena terpaksa. Xi Jinping terus melakukan pembersihan internal, sehingga tidak mungkin lagi ada orang yang mau bekerja sama dengannya dengan sepenuh hati.”

Sheng Xue menganalisis, “Ini adalah lingkaran setan. Xi Jinping sangat curiga dan berpikiran sempit, tidak mempercayai siapa pun. Akibatnya, orang-orang di sekitarnya hidup dalam ketakutan setiap hari. Semakin takut, semakin berhati-hati, semakin terlihat tidak normal, dan semakin mudah terjadi masalah. Selain itu, sistem PKT pada dasarnya adalah kotak hitam, sehingga selalu ada saling menghitung dan saling berjaga.”

 “Zhang Youxia makin merasa dirinya dalam bahaya, terlebih karena di Komisi Militer Pusat sudah ada He Weidong, Miao Hua, dan Li Shangfu yang lebih dulu disingkirkan.”

Menurut Sheng Xue, kali ini PKT berbeda dari sebelumnya karena dengan cepat mengeluarkan pengumuman resmi dan menggunakan bahasa yang sangat keras. Hal ini menunjukkan bahwa Xi Jinping ingin menggunakan opini publik untuk menekan siapa pun yang berniat bergerak, dan memperingatkan agar tidak bertindak gegabah.

Tuan X menambahkan bahwa saat ini Xi memiliki dua kemungkinan: pertama, ia akan berkuasa sampai akhir hayatnya, dan mungkin akan membubarkan Komisi Militer Pusat; kedua, ia akan dengan cepat menyerahkan kekuasaan. Apa pun pilihannya, keluarga Xi sangat ketakutan dan mungkin akan membujuknya untuk tidak melanjutkan jabatannya.

Sheng Xue: Xi Jinping Terpukul Keras, PKT Mungkin Mengalami Perubahan

Menurut Tuan X, metode pembersihan internal yang dilakukan Xi Jinping kali ini sama persis dengan cara Mao Zedong dahulu. Ia mencontohkan bagaimana Mao menangani Peng Dehuai: mula-mula meminta kritik dan saran; Peng kemudian menulis surat pribadi kepada Mao yang mengkritik Lompatan Jauh ke Depan dan komunalisasi rakyat. Mao awalnya tampak tenang, tetapi pada rapat pleno 23 Juli tiba-tiba melancarkan serangan balik dan menuduh surat Peng sebagai serangan terhadap Partai.

Sheng Xue menilai, “Xi Jinping kemungkinan besar akan sangat terpukul oleh peristiwa ini, dan hal itu bisa membawa perubahan besar dalam PKT: entah kekuasaan akan semakin terpusat dan brutal, atau Xi akan runtuh karena faktor psikologis, mental, atau fisik.”

Namun demikian, hingga saat ini kebenaran informasi di atas masih belum dapat diverifikasi.

Tang Zheng – NTD

Sebelum Petinggi Jenderal Besar  PKT Zhang Youxia dan Liu Zhenli Ditangkap, CIA Rilis Video Cari “Kebenaran Tentang Tiongkok”, Picu Spekulasi

Kabar bahwa Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Partai Komunis Tiongkok (PKT) Zhang Youxia dan Kepala Staf Gabungan Komisi Militer Pusat PKT Liu Zhenli diselidiki secara bersamaan telah mengguncang berbagai kalangan. Kini arah politik Tiongkok pun menjadi perhatian besar. Menjelang kejatuhan Zhang Youxia, Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) merilis sebuah video yang menyatakan ingin mencari kebenaran tentang Tiongkok, sehingga memicu berbagai spekulasi.

EtIndonesia. Pada 24 Januari sore, Zhang Youxia—anggota Politbiro Partai Komunis Tiongkok (PKT) sekaligus Wakil Ketua Komisi Militer Pusat—serta Liu Zhenli—anggota Komisi Militer Pusat dan Kepala Staf Gabungan—secara resmi diumumkan telah “jatuh”. Kecepatan peralihan dari rumor daring ke pengumuman resmi ini terbilang tidak biasa. Opini publik secara luas menilai bahwa telah terjadi pertarungan sengit di internal elite PKT.

Laporan terbaru South China Morning Post yang mengutip sumber internal menyebutkan bahwa Zhang Youxia secara resmi ditahan oleh badan antikorupsi militer pada 19 Januari.

Pada 24 Januari, ilmuwan politik Tiongkok Liu Junning menulis di platform X dengan mengutip sumber anonim bahwa tanggal paling awal yang beredar di media sosial dalam negeri Tiongkok mengenai penangkapan Zhang Youxia adalah 16 Januari.

Sementara itu, pada 15 Januari, CIA Amerika merilis sebuah video di platform X yang menyatakan:  “CIA ingin mengetahui kebenaran tentang Tiongkok. Kami sedang mencari orang-orang yang mengetahui dan dapat menyampaikan kebenaran tersebut.” 

Video tersebut memberikan sembilan langkah aman yang dapat dilakukan, termasuk: menggunakan uang tunai atau kartu hadiah untuk membeli perangkat komunikasi tanpa perlu memberikan data pribadi; menghubungi secara anonim dari tempat umum yang memiliki Wi-Fi; mengunduh peramban internet dan perangkat lunak VPN buatan Amerika atau negara Barat; membuat alamat email baru; serta menghubungi mereka melalui dark web, dan lain-lain.

CIA juga mengingatkan: “Jika kondisi Anda memungkinkan, pertimbangkan untuk keluar negeri terlebih dahulu sebelum menjalankan langkah pertama.”

Pakar isu Tiongkok Li Linyi mengatakan kepada The Epoch Times bahwa badan intelijen Amerika Serikat selalu memantau secara ketat dinamika politik PKT. Menurutnya, video CIA di media sosial X tampak di permukaan sebagai upaya mencari kebenaran tentang apa yang terjadi di Tiongkok, namun tidak menutup kemungkinan bahwa mereka sedang mencari petunjuk terkait konflik internal serius antara Zhang Youxia dan Xi Jinping.

Pengamat politik Xiao Shan menilai bahwa meskipun situasi PKT tidak stabil, yang paling menjadi perhatian CIA adalah gejolak di tubuh militer PKT.   

“Gejolak dalam militer PKT secara langsung mempengaruhi apakah PKT akan melancarkan perang terhadap Taiwan. Jika Taiwan diserang, itu akan langsung berdampak pada keamanan nasional Amerika Serikat dan strategi Asia-Pasifiknya. Karena itu Amerika sangat memperhatikannya,” katanya. 

Penangkapan dua jenderal kelas berat di militer PKT ini memicu perhatian publik yang sangat besar. Di kalangan masyarakat beredar luas rumor bahwa Zhang Youxia dan Liu Zhenli diduga bekerja sama melancarkan kudeta, namun rencana tersebut gagal karena ada pihak yang membocorkan informasi.

Pada 23 Januari, komentator independen Cai Shenkun menulis di platform X bahwa kabar penangkapan Zhang Youxia dan 17 jenderal senior lainnya adalah “benar-benar akurat”. Ia menyebutkan bahwa Biro Pengamanan Khusus Kementerian Keamanan Publik, Biro Pengawal Pusat, dan Komisi Pusat Inspeksi Disiplin terlibat bersama dalam operasi penangkapan tersebut, yang ia gambarkan sebagai “kudeta militer kelas berat”. Selanjutnya, akan ada gelombang besar penangkapan terhadap perwira berpangkat mayor jenderal, brigadir jenderal, bahkan perwira setingkat komandan divisi.

Komentator politik Zhong Yuan dalam artikelnya di The Epoch Times pada 25 Januari menulis bahwa penyelidikan terhadap Zhang Youxia dan Liu Zhenli menandai perubahan drastis baru dalam perebutan kendali militer. Hal ini sama saja dengan mengonfirmasi pertentangan antara “pimpinan pusat partai” dan Komisi Militer PKT yang telah berlangsung lebih dari setahun.

Penulis berpendapat bahwa konflik internal PKT kini telah terbuka ke publik, dan berbagai upaya penutupan sebelumnya tiba-tiba tersingkap. Zhang Youxia dan Liu Zhenli kemungkinan bersiap melakukan tekanan politik menjelang Sidang Dua Tahunan PKT, namun justru lebih dulu tumbang. 

Perebutan kekuasaan atas militer PKT kembali mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan pertentangan antar faksi telah menjadi tidak dapat didamaikan. Tindakan ekstrem yang tiba-tiba ini sepenuhnya mengekspos pertarungan hidup-mati di internal PKT.

Penulis juga menyatakan bahwa konflik internal PKT telah mencapai titik tidak bisa disembunyikan lagi. Dengan semakin terbukanya pertarungan internal yang sengit, ini menandakan kegagalan upaya PKT mempertahankan kekuasaannya, dan kekacauan politik tersebut akan semakin mempercepat berakhirnya rezim “Dinasti Merah”.

Komentator urusan terkini Zhang Tianliang mengatakan bahwa kini semua ponsel para perwira militer telah disita. Bahkan, semua orang hidup dalam ketakutan. Jika terjadi pemberontakan rakyat, akibat terputusnya rantai komando, Xi Jinping tidak akan mampu mengerahkan militer untuk menindasnya. 

“Setelah kasus besar Zhang Youxia, para perwira sangat membenci Xi Jinping. Jika terjadi “peristiwa 4 Juni” lagi, cukup dengan ragu-ragu, menunda, pasif, atau tidak bertindak, para perwira bisa menyebabkan runtuhnya PKT. Perwira mana yang mau mempertahankan rezim Xi Jinping yang dianggapnya sebagai rezim sampah? Segala sesuatu yang mencapai ekstrem akan berbalik—ujung dari totalitarianisme adalah kebebasan,” tambahnya. 

Li Siya – NTDTV.com

(Peringatan: Konten Sensitif) Adegan Mengerikan! Turis Diserang dan Digigit Macan Tutul Salju di Xinjiang 

EtIndonesia. Pada 23 Januari 2026, di dekat Lembah Baoshi di luar kawasan wisata Koktokay, Xinjiang, terjadi insiden macan tutul salju melukai manusia. Seorang wisatawan digigit macan tutul salju hingga mengalami pendarahan di bagian wajah.

Video yang beredar di internet memperlihatkan seorang wisatawan tergeletak di atas salju, dengan seekor macan tutul salju berdiri di dekatnya sambil mengamati keadaan sekitar. Terdengar orang-orang di sekitar berteriak, “Ada yang digigit!” dan “Telepon 120, telepon 120!” (nomor darurat medis di Tiongkok). 

Pada akhirnya, macan tutul salju tersebut berjalan pergi ke arah hutan. Video lain menunjukkan seorang wisatawan yang mengenakan pakaian ski berwarna ungu dan helm, dibantu oleh beberapa orang untuk bangun dari salju, sambil menutupi wajahnya dengan tangan. Wajah dan pakaiannya tampak berlumuran darah.

Menurut laporan Yangzi Evening News, seorang pemilik penginapan setempat menyatakan bahwa diduga macan tutul salju yang sama sudah pernah muncul di padang rumput di seberang penginapan pada  22 Januari sore. 

Diduga hewan tersebut mendekati kawasan permukiman karena kesulitan mencari makanan. Ia juga mengatakan bahwa macan tutul salju tidak menyerang secara aktif, melainkan karena wisatawan mendekat sehingga memicu insiden. Lembah Baoshi merupakan jalur yang dilalui dari Desa Talate menuju area ski, dan hanya berjarak beberapa kilometer dari penginapan.

Namun, seorang saksi mata menyampaikan versi berbeda. Ia mengatakan melihat macan tutul salju itu berbaring diam di atas salju selama sekitar 10 menit, lalu tiba-tiba berlari kencang sejauh puluhan meter dan menerkam wisatawan tersebut. Saat wisatawan menyadari hal itu, sudah tidak ada waktu untuk menghindar.

Video yang disediakan saksi mata tersebut memperlihatkan bahwa rombongan mereka melihat macan tutul salju dari jarak cukup jauh, terbaring di atas salju. Salah satu dari mereka menelepon untuk mencoba menghubungi pihak perlindungan satwa dan melaporkan penampakan macan tutul salju beserta lokasi mereka, saat sedang dalam perjalanan menuju area ski. Beberapa saat sebelumnya mereka bahkan mengatakan bahwa hewan itu tampak sekarat, namun tiba-tiba macan tutul salju itu langsung bangkit dan berlari menyerang seseorang.

Seorang warganet mengatakan bahwa saat kejadian, korban bersama dua orang lainnya turun ke area salju di pinggir jalan, bukan dengan sengaja untuk memotret atau mendekati macan tutul salju. Ketika serangan terjadi, mereka sudah berada di salju yang cukup dalam dan sama sekali tidak sempat menghindar. Setelah banyak orang berdatangan ke lokasi, barulah macan tutul salju tersebut melepaskan gigitannya dan pergi.

Seorang penanggung jawab agen perjalanan di Xinjiang mengatakan kepada media daratan Tiongkok bahwa macan tutul salju merupakan satwa yang dilindungi tingkat nasional kelas satu, memiliki sifat liar dan agresif, serta sama sekali bukan “hewan lucu” yang bisa didekati.

Pada 23 Januar malami, pemerintah Kabupaten Fuyun, Altay, Xinjiang, mengeluarkan pernyataan resmi yang menyebutkan bahwa sekitar pukul 19.00 pada 23 Januari, di wilayah Desa Talate, Kota Koktokay, Kabupaten Fuyun, seorang wisatawan ski diserang dan digigit macan tutul salju di sabuk hutan di pinggir jalan saat dalam perjalanan kembali ke hotel. Korban kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Rakyat Kabupaten Fuyun untuk mendapatkan perawatan, dan kondisinya dilaporkan stabil.

Diketahui bahwa dalam beberapa hari terakhir, jejak dan kemunculan macan tutul salju telah beberapa kali terpantau di sekitar kawasan wisata Koktokay, dan pihak pengelola kawasan wisata sebelumnya telah mengeluarkan peringatan. 

Li Siya

Aneh! Situs Resmi  Komisi Pusat Inspeksi Disiplin Partai Komunis Tiongkok Menghapus Pengumuman Kejatuhan Petinggi Militer Zhang Youxia dan Liu Zhenli

EtIndonesia. Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Partai Komunis Tiongkok (PKT) Zhang Youxia, dan anggota Komisi Militer Pusat Liu Zhenli, secara tidak lazim diumumkan jatuh dengan sangat cepat, hal ini dinilai mencerminkan pertarungan internal PKT yang sengit. Situs resmi Komisi Pusat Inspeksi Disiplin (KPID) PKT secara mencurigakan menghapus pengumuman kejatuhan keduanya, sehingga memicu berbagai spekulasi.

Setelah kabar masalah yang menimpa Zhang Youxia dan Liu Zhenli beredar selama beberapa hari, pada  24 Januari sore waktu Beijing, juru bicara Kementerian Pertahanan PKT mengumumkan dalam konferensi pers bahwa keduanya telah resmi diselidiki dan diperiksa.

Pukul 15.00, situs resmi Kementerian Pertahanan secara khusus merilis pengumuman berjudul “Zhang Youxia dan Liu Zhenli Diduga Melakukan Pelanggaran Disiplin dan Hukum Berat, Diperiksa dan Diselidiki”.

 Pukul 15.10, kembali dirilis pengumuman “Juru Bicara Kementerian Pertahanan Jiang Bin Menyampaikan Informasi Terkait Isu Militer Terkini”, di mana butir pertama langsung mengumumkan kejatuhan Zhang Youxia dan Liu Zhenli.

Di situs resmi Komisi Disiplin PKT, pemberitahuan pemecatan Zhang Youxia dapat dicari, namun saat tautan diklik, artikelnya telah dihapus. (Tangkapan layar halaman web)

Saat ini, jika mencari kata kunci “Zhang Youxia” di situs resmi KPID PKT, terlihat bahwa pada pukul 15.50 situs tersebut pernah memuat artikel “Zhang Youxia dan Liu Zhenli Diduga Melakukan Pelanggaran Disiplin dan Hukum Berat, Diperiksa dan Diselidiki”, yang diduga merupakan salinan dari pengumuman Kementerian Pertahanan. Namun, ketika tautan artikel tersebut diklik, muncul keterangan “Konten yang Anda akses tidak ada atau telah dihapus.”

 Hasil pencarian juga menunjukkan bahwa baru pada pukul 21.24 malam itu, situs KPID PKT memuat ulang dari Kantor Berita Xinhua bagian tanya jawab Kementerian Pertahanan yang berisi pengumuman kejatuhan Zhang Youxia dan Liu Zhenli.

Penghapusan mendadak dan tidak lazim atas pengumuman kejatuhan Zhang Youxia di situs resmi KPID PKT dinilai sangat aneh. 

Para analis menafsirkan bahwa hal ini secara tidak langsung mencerminkan tingkat pertarungan internal PKT yang sengit dan kacau. Ada pula yang berpendapat bahwa pihak berwenang mungkin hanya ingin menurunkan suhu pemberitaan dan tidak ingin dunia luar terlalu memperhatikan konflik elite tingkat tinggi.

Di platform X di luar negeri, warganet ramai meninggalkan komentar, antara lain:
“Militer bukan di bawah urusan mereka (KPID).”
“Tidak mungkin ini masalah teknis, pasti disengaja.”
“Sedang ada operasi pembebasan penjara!!!!! Dua kubu sedang berebut keyboard!!!!!”
“Mau umumkan, tapi juga mau menekan panasnya isu.”

Kabar terbaru yang beredar di internet menyebutkan bahwa situasi internal militer PKT saat ini sangat tegang, bahkan sistem komando pun dikabarkan telah terganggu, dengan tujuan mencegah terjadinya kudeta militer. Bahkan ada rumor bahwa Zhang Youxia dan Liu Zhenli sebenarnya tidak ditangkap. Namun, semua informasi ini untuk saat ini sulit diverifikasi.

Pada 20 Januari 2026, keduanya tidak hadir dalam pembukaan kelas pelatihan pejabat tingkat provinsi dan kementerian. Setelah itu, berbagai bocoran menyebutkan bahwa termasuk mereka berdua, sejumlah jenderal senior PKT telah ditangkap; bahkan rumah Zhang Youxia dikabarkan digeledah dan beberapa anggota keluarganya ikut ditangkap. (Hui)

Hakikat dan Kehilangan Arah

EtIndonesia. Ada seorang pria paruh baya yang sehari-harinya sangat sibuk bekerja. Karena itu, dia jarang punya waktu untuk menemani anak laki-laki satu-satunya, dan hal ini membuatnya selalu merasa bersalah.

Suatu hari, dia bertekad untuk berubah. Dia sengaja mengosongkan jadwal pada suatu Sabtu sore, membeli dua tiket pertandingan liga utama, dan berniat menghabiskan waktu berkualitas bersama putranya.

Waktu yang ditunggu pun tiba. Ayah dan anak itu berangkat dengan gembira menggunakan mobil. Namun sayangnya, mereka justru terjebak kemacetan parah.

Ketika pertandingan sudah dimulai, mobil mereka masih terhenti di tengah jalan. Keduanya pun mulai mengeluh dan kesal, menyalahkan kemacetan dan kondisi lalu lintas.

Tiba-tiba sang ayah tersadar: “Bukankah aku sengaja meluangkan waktu hari ini untuk bersama anakku? Sekarang aku sedang bersamanya. Kalau begitu, mengapa aku harus begitu memusingkan pertandingan itu?”

Sejak saat itu, dia melepaskan rasa kesalnya dan menghabiskan sore itu dengan mengobrol hangat dan penuh tawa bersama sang anak.

Banyak dorongan dalam hidup manusia berangkat dari niat dan hakikat yang baik. Namun dalam proses pelaksanaannya, kita sering kali justru kehilangan arah.

Seperti sang ayah tadi—hakikat tujuannya adalah menemani anaknya. Namun dalam perjalanan, dia hampir terseret oleh kemacetan, pertandingan, dan emosi lain yang membuatnya lupa akan tujuan awalnya.

Hakikat pernikahan adalah kebersamaan dua insan yang saling memahami dan menghargai. Tetapi tidak sedikit orang yang akhirnya tersesat dalam pertengkaran, perbedaan pendapat, dan perdebatan sepele seperti siapa yang harus mencuci piring—hingga lupa pada makna awal pernikahan itu sendiri.

Begitu pula dengan persahabatan. Awalnya dibangun atas dasar saling membantu dan berbagi kebahagiaan, tetapi seiring waktu sering berubah menjadi perhitungan, sikap dingin, dan keluhan.

Benar, banyak hal berangkat dari niat yang baik. Namun setelah melangkah, sering kali kita seperti pesawat luar angkasa yang melaju ke langit tak dikenal, lalu tenggelam dalam samudra “kehilangan arah” yang tak bertepi.

Pada hakikatnya, manusia memiliki cinta, perasaan, kasih sayang, dan kebijaksanaan. Namun ketika hakikat ini terjun ke dunia nyata, ada hukum lain yang menariknya menuju wilayah yang tak terduga—itulah yang disebut kehilangan arah.

Hakikat agama adalah untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Tetapi dalam sejarah, betapa banyak peperangan justru terjadi atas nama agama.

Hakikat kegiatan amal adalah menolong yang miskin dan lemah. Namun bukankah tak sedikit kegiatan amal yang akhirnya tersesat dalam pencarian nama dan keuntungan?

Mencius berbicara tentang hakikat manusia yang pada dasarnya baik, menegaskan bahwa di lubuk hati terdalam manusia ada kebaikan sejati. Namun Xunzi, dengan tegas dan tanpa tedeng aling-aling, menunjukkan bahwa hakikat ini memiliki kemungkinan besar untuk tersesat di sepanjang perjalanan hidup.

Tak heran jika ajaran Konfusianisme selama ribuan tahun tidak berani sepenuhnya memihak pada pandangan “manusia itu sepenuhnya baik” atau “sepenuhnya jahat”. Sebab kenyataannya, hakikat kebaikan yang murni sangat mudah tersesat di dunia ini.

Di dalam hati setiap manusia, terdapat cinta. Dari hakikat inilah kita terdorong untuk melakukan banyak hal. Namun dalam kehidupan sehari-hari, betapa sering cinta berubah menjadi perpisahan, pertengkaran, kekecewaan, bahkan kebencian.

Itu pun merupakan bentuk kehilangan arah—kehilangan arah dari tujuan hakikatnya.

Abad ke-21, penemuan terbesar umat manusia mungkin adalah menemukan dirinya sendiri.

Menemukan hakikat diri, memahami tujuan sejati dari hakikat itu, lalu kembali ke sana—agar tidak terus tersesat.

Kini pesawat dan kapal banyak menggunakan sistem navigasi satelit GPS, agar tahu di mana mereka berada dan tidak tersesat.

Lalu, bukankah di dalam batin manusia juga dibutuhkan semacam “sistem penunjuk arah”, agar kita tidak kehilangan hakikat diri kita sendiri?

Jangan ulangi kesalahan yang sama: berangkat dari niat yang baik, namun tersesat di hiruk-pikuk dunia fana.

Ketika kamu merasa sangat tidak nyaman, berharaplah kamu bisa seperti ayah dalam cerita tadi—kembali menemukan tujuan awalmu, lalu melepaskan semua emosi negatif yang sebenarnya tidak perlu.

Renungan

Dalam melakukan sesuatu, manusia selalu memiliki tujuan atau hasil yang diharapkan. Selama tujuan akhirnya tercapai, maka meskipun prosesnya tidak berjalan sesuai rencana, itu sebenarnya tidak menjadi masalah.

Misalnya, seseorang yang kamu sukai sedang merasa murung. Kamu ingin menghiburnya, lalu membeli setangkai bunga mawar untuk diberikan kepadanya. Namun tanpa sengaja kamu terjatuh, dan bunga mawar itu pun patah. Melihat kejadian itu, ia justru tertawa.

Walaupun bunganya rusak, orang yang kamu sayangi tetap berhasil terhibur. Prosesnya memang tidak sesuai dengan bayanganmu, tetapi hasil akhirnya sudah tercapai.

Maka jangan biarkan diri tersesat karena proses yang tidak mulus. Lihatlah kembali tujuan dan hakikat dari apa yang sedang kamu lakukan.(jhn/yn)

Petinggi Militer Zhang Youxia Disingkirkan — Analisis: Kekuasaan Partai Komunis Tiongkok Bergerak Menuju Kehancuran Diri

EtIndonesia. Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (KMP) Partai Komunis Tiongkok, Zhang Youxia, tiba-tiba disingkirkan. Pertarungan internal PKT yang brutal dinilai kini terbuka ke publik. Para analis di luar negeri menyatakan bahwa peristiwa ini cukup untuk mengguncang struktur kekuasaan militer PKT, dan rezim PKT sedang menuju keruntuhan.

Seiring dengan diumumkannya kejatuhan Zhang Youxia dan anggota KMP Liu Zhenli, dari tujuh anggota KMP PKT kini hanya tersisa dua orang: Ketua KMP Xi Jinping dan Wakil Ketua Zhang Shengmin. Bahkan wakil ketua tetap KMP yang memegang kekuasaan riil atas militer pun disingkirkan, sehingga pertarungan internal PKT yang kejam ini tak lagi bisa ditutupi dengan dalih “antikorupsi”.

Direktur Eksekutif Indo-Pacific Strategic Think Tank sekaligus jurnalis senior Jepang, Akio Yaita, menulis di platform X bahwa ini adalah peristiwa politik besar yang cukup untuk mengguncang situasi politik PKT serta struktur kekuasaan militernya. KMP kini hanya tersisa dua orang, dan Zhang Shengmin pun dipandang sebagai bawahan dekat Zhang Youxia, sehingga setiap saat bisa terseret ke dalam kasus Zhang Youxia.

Ia menyatakan bahwa rasa curiga Xi Jinping telah mencapai tingkat yang sangat parah. Xi bukan hanya tidak mampu menoleransi suara yang tidak sejalan, tetapi bahkan mulai memandang semua orang di sekitarnya sebagai ancaman potensial.

Profesor hukum Universitas Manajemen Singapura, Gao Shuchao (Henry Gao), juga menulis bahwa dengan bahasa yang mudah dipahami, apa yang sedang terjadi di Tiongkok dapat dijelaskan sebagai berikut: logika kediktatoran adalah kekuasaan absolut; ini berarti Anda tidak bisa mempercayai siapa pun; ini berarti Anda harus menyingkirkan semua orang terdekat; dan ini berarti bahwa kecuali seseorang menjadi diri Anda sendiri, maka tidak ada seorang pun yang benar-benar aman.

Akio Yaita menulis bahwa militer PKT sedang dikuras sedikit demi sedikit oleh cara kerja kekuasaan semacam ini. Sejak 2013, di bawah kepemimpinan Xi Jinping, militer berulang kali menjalani kampanye antikorupsi, namun hasilnya bukanlah pembangunan militer yang terinstitusionalisasi dan profesional, melainkan gelombang demi gelombang pembersihan politik. Antikorupsi yang berlangsung terus-menerus pada akhirnya membuat seolah-olah semua orang menjadi pejabat korup. 

Ia menilai, dari sudut pandang ini, makna kejatuhan Zhang Youxia bukan hanya urusan internal militer, tetapi juga akan mempengaruhi keseluruhan struktur kekuasaan PKT. Struktur kepemimpinan, hati dan pikiran, serta moral pasukan kemungkinan mengalami kerusakan fatal. Rezim ini bahkan belum dihancurkan oleh musuh eksternal, namun telah lebih dulu mengalami kehancuran dari dalam.

Ia menyimpulkan bahwa PKT hari ini sedang perlahan melangkah menuju titik sejarah kehancuran diri. Ketika kekuasaan hanya menyisakan rasa takut sebagai perekat, ketika loyalitas menggantikan kemampuan sebagai satu-satunya standar, rezim ini mungkin masih tampak besar dari luar, tetapi di dalamnya sudah rapuh tak tertahankan. Struktur seperti ini mungkin tidak akan runtuh seketika, namun hampir pasti tidak akan mampu menghadapi badai yang sesungguhnya.  (***)