Tuhan Menyayanginya, Maka Dia Disuruh Membersihkan Toilet

EtIndonesia. Di kalangan masyarakat Jepang, beredar luas sebuah kisah kecil yang sangat menyentuh hati.

Bertahun-tahun silam, seorang gadis muda yang masih belia datang ke Hotel Imperial Tokyo untuk bekerja sebagai pelayan. Ini adalah pekerjaan pertamanya sejak terjun ke dunia kerja—langkah pertama dalam perjalanan hidupnya. 

Karena itu, dia merasa sangat bersemangat dan diam-diam bertekad dalam hati:“Aku harus bekerja dengan sungguh-sungguh!”

Namun, dia sama sekali tak menyangka bahwa tugas pertama yang diberikan atasannya adalah membersihkan toilet.

Membersihkan toilet! Jujur saja, pekerjaan ini tidak disukai siapa pun. Apalagi gadis itu belum pernah melakukan pekerjaan kasar. Kulitnya halus, terbiasa hidup bersih—mampukah dia melakukannya?

Membersihkan toilet merupakan ujian berat, baik secara visual, penciuman, maupun fisik. Belum lagi tekanan psikologis yang membuatnya hampir tak sanggup menahan rasa mual. Saat dia mengulurkan tangannya yang putih dan lembut, memegang kain lap untuk membersihkan kloset, perutnya langsung terasa bergejolak. Rasa mual menyerbu, ingin muntah namun tak keluar—sangat menyiksa.

Yang lebih berat lagi, atasannya menetapkan standar kerja yang sangat tinggi, bahkan terasa mengerikan: toilet harus dibersihkan hingga benar-benar mengilap, seperti baru.

Dia tentu paham apa arti “seperti baru”. Dia juga sadar betul bahwa dirinya tidak cocok membersihkan toilet, dan hampir mustahil memenuhi standar setinggi itu. Dia pun terjebak dalam kebingungan dan penderitaan batin. Dia menangis. Dia bimbang.

Di hadapannya terbentang pilihan hidup pertama yang sangat menentukan: apakah dia harus terus bertahan, atau mencari pekerjaan lain?

Bertahan—terlalu berat.  Pergi—apakah itu berarti mundur sebelum berjuang?

Bukankah hidup tidak seharusnya dijalani dengan mundur? 

Dia tidak rela menyerah begitu saja. Dia teringat tekadnya saat pertama datang:  langkah pertama dalam hidup harus dijalani dengan baik, tidak boleh asal-asalan.

Di saat kritis itulah, seorang senior di tempat kerjanya muncul tepat waktu. Dia membantu gadis itu keluar dari kebingungan dan penderitaannya, membantunya melangkah mantap pada pijakan pertama kehidupan. Yang lebih penting lagi, dia membantunya memahami bagaimana seharusnya jalan hidup dijalani.

Namun sang senior tidak menasihatinya dengan teori kosong. Dia langsung memberi contoh.

Pertama, dia membersihkan toilet itu berulang-ulang hingga benar-benar mengilap seperti baru.
Lalu, dia mengambil segelas air dari dalam kloset tersebut… dan meminumnya hingga habis, tanpa ragu sedikit pun.

Tindakan nyata jauh lebih kuat daripada ribuan kata.

Tanpa berkata apa-apa, dia menyampaikan kepada Noda Seiko sebuah kebenaran yang sangat sederhana namun mendalam: “Makna mengilap seperti baru terletak pada kata baru.
Sesuatu yang baru tidaklah kotor. Tidak ada orang yang menganggap toilet baru itu kotor. Air di dalam toilet yang benar-benar bersih pun tidak kotor—bahkan bisa diminum. Sebaliknya, hanya ketika air di dalam toilet sudah cukup bersih untuk diminum, barulah toilet itu benar-benar layak disebut mengilap seperti baru.”

Dan hal itu—ternyata—bisa dilakukan.

Kemudian, sang senior memberinya sebuah senyum penuh makna, serta tatapan yang sarat perhatian dan dorongan. Itu sudah lebih dari cukup.

Gadis itu begitu terharu hingga hampir tak sanggup menahan dirinya. Tubuh dan jiwanya bergetar hebat. Dia terdiam, matanya berkaca-kaca. Seketika dia tersadar—seperti terbangun dari mimpi panjang.

Dengan tekad yang bulat, dia berkata dalam hati: “Sekalipun seumur hidup aku hanya membersihkan toilet, aku akan menjadi orang yang paling hebat dalam membersihkan toilet!”

Sejak saat itu, ia berubah menjadi pribadi yang sepenuhnya baru—penuh semangat. Kualitas kerjanya mencapai standar tinggi sang senior. Dia bahkan berkali-kali meminum air dari toilet yang telah dia bersihkan—untuk menguji kepercayaan dirinya, membuktikan kualitas kerjanya, dan meneguhkan dedikasi profesionalnya.

Sejak itu pula, dia melangkah dengan sangat mantap pada langkah pertama kehidupannya. Sejak itu, dia menapaki jalan kesuksesan, dan memulai perjalanan hidup yang terus bergerak menuju keberhasilan.

Puluhan tahun berlalu dalam sekejap mata. Kini, dia telah menjadi salah satu pejabat utama pemerintah Jepang—Menteri Urusan Dalam Negeri dan Komunikasi ( 3 Agustus 2017 sampai 2 Oktober 2018)

Namanya adalah Noda Seiko.

Keyakinan hidupnya yang teguh tercermin dalam dedikasi profesionalnya yang luar biasa: “Sekalipun seumur hidup aku hanya membersihkan toilet, aku akan menjadi orang yang paling unggul dalam membersihkan toilet.”

Di situlah rahasia kesuksesannya—tidak misterius, tidak rumit. Keyakinan inilah yang membuatnya puluhan tahun terus melaju di jalan keberhasilan. Keyakinan inilah yang memberinya kehidupan yang sukses—menjadikannya seorang yang beruntung karena sukses, sekaligus sukses karena keteguhannya.

Hikmah cerita

Tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil di dunia ini—karena semua pekerjaan tetap harus dilakukan oleh seseorang. Kesuksesan adalah buah dari keringat dan kepahitan yang tak terhitung jumlahnya.

Kesuksesan bukanlah hasil sesaat. Kuncinya terletak pada persiapan sehari-hari dan kerja keras yang terus-menerus.

Ada orang yang, berbekal ketekunan dan kesanggupan menanggung derita, mampu menciptakan prestasi luar biasa dari pekerjaan biasa. Namun ada pula orang yang memegang “mangkuk emas”, tetapi tetap harus meminta-minta pada orang lain.

Perbedaan di antaranya—layak kita renungkan dengan seksama.(jhn/yn)

Internet Diputus Berhari-hari! Media Iran di Luar Negeri Ungkap Kebrutalan Penindasan, 2.000  Orang Dilaporkan Tewas

Aksi protes di Iran terus berkobar. Akses internet di dalam negeri telah diputus selama empat hari berturut-turut. Otoritas menggunakan kekuatan mematikan di seluruh negeri. Media Iran di luar negeri melaporkan bahwa sekitar 2.000 orang telah tewas. Aktivis Iran di luar negeri juga mengungkapkan bahwa setiap pasien dengan luka tembak yang dibawa ke rumah sakit akan diculik sehingga tidak dapat menerima perawatan medis.

EtIndonesia. Pada malam 11 Januari, 2026 jaringan internet di Iran telah diputus total, bahkan lampu jalan juga dimatikan. Namun warga Iran tetap turun ke jalan, menggunakan cahaya ponsel mereka untuk menerangi jalan, dan ribuan orang memadati jalanan Teheran untuk melanjutkan aksi protes.

Organisasi pemantau internet NetBlocks dan Cloudflare menyatakan bahwa koneksi internet nasional telah mendekati nol selama empat hari berturut-turut. Saat ini, pasukan keamanan rezim Iran telah menggunakan kekuatan mematikan untuk menyerang para demonstran. Saluran “Iran International” melaporkan bahwa pada l 8 dan 9 Januari saja, diperkirakan sedikitnya 2.000 orang tewas di seluruh negeri.

Wakil Direktur Organisasi Aktivis Hak Asasi Manusia Iran, Skylar Thompson, mengatakan:
“Kami menyaksikan penyalahgunaan kekuatan mematikan terhadap para demonstran oleh rezim, dan juga memiliki bukti bahwa penembakan jarak dekat, penggunaan gas air mata, serta senjata kelas militer digunakan untuk menindas demonstrasi jalanan. Ini sama sekali tidak dapat diterima.”

Seorang aktivis Iran yang disebutkan namanya dalam unggahan daring mengungkapkan bahwa pasukan keamanan telah menguasai seluruh rumah sakit di Teheran dan mencari para korban luka. 

Setiap pasien dengan luka tembak yang dibawa ke rumah sakit akan segera diculik, sehingga tidak dapat menerima perawatan. Meski menghadapi penindasan dengan kekerasan oleh aparat, rakyat Iran tetap melanjutkan perlawanan.

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa perempuan Iran membakar foto Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei untuk menyalakan rokok—sebuah bentuk perlawanan yang sangat berani. Dalam kondisi normal, tindakan tersebut dapat membuat mereka dipenjara, bahkan mengalami perlakuan kekerasan karena dianggap tidak menghormati pemimpin tertinggi.

Laporan disusun oleh Huang Liangjian dan Chen Lingzhi, NTD Asia-Pacific.

Warga Iran Tak Gentar Represi, Terus Turun ke Jalan; Pemandangan Mengerikan Saat Mayat- mayat di Pusat Forensik 

EtIndonesia. Menghadapi penindasan berdarah yang semakin meningkat terhadap aksi protes, rakyat Iran menunjukkan keberanian luar biasa dan terus turun ke jalan meskipun berada di bawah tekanan tinggi. Sejumlah video yang beredar di internet memperlihatkan banyak kantong jenazah dan mayat, menggambarkan kekerasan brutal yang dilakukan aparat.

Aksi Protes Terus Berlanjut

Pada malam 11 Januari, meskipun menghadapi penindasan kejam, pembantaian besar-besaran, dan pemutusan akses internet, warga kembali turun ke jalan.

Di kawasan Punak, Teheran, massa meneriakkan slogan:  “Ini adalah pertempuran terakhir, Dinasti Pahlavi pasti akan kembali!”

Di Tonekabon dan Shahsavār, lautan manusia terlihat memadati area luar kota.

Di Teheran, warga membentangkan spanduk di jembatan simpang susun jalan tol bertuliskan:
“Kami akan berjuang, ini lebih kuat daripada sekadar perlawanan.”

Pemandangan Mengerikan di Pusat Forensik

Sejak pemerintah Iran memutus jaringan internet pada 8 Januari, berbagai video dan informasi yang disalurkan melalui Starlink dan jalur lain menunjukkan bahwa penindasan berdarah telah meningkat tajam.

CNN melaporkan adanya video yang memperlihatkan deretan kantong jenazah hitam berisi mayat yang disusun di lorong luar gedung Pusat Forensik Kahrizak di Teheran. Media resmi Iran mengakui isi video tersebut dan menyatakan bahwa jenazah-jenazah itu adalah warga sipil.

Media yang berbasis di London, Iran International, merilis video yang menunjukkan mayat-mayat berserakan di Pusat Forensik Kahrizak, Teheran. Nomor pada foto-foto dalam video mengindikasikan kemungkinan terdapat hingga 250 jenazah. Disebutkan bahwa jenazah-jenazah ini dibawa ke lokasi tersebut menggunakan truk pikap setelah penindasan pada 8 Januari.

⚠️ (Video berikut mengandung gambar yang mengganggu, harap berhati-hati)

Iran International melaporkan bahwa video memperlihatkan puluhan mayat ditempatkan di dalam sebuah bangunan industri, sementara mayat-mayat lainnya juga ditemukan di bangunan industri lain di sekitarnya.

Dua saksi mata yang pergi ke Kahrizak untuk mencari anggota keluarga mereka mengatakan bahwa mereka melihat lebih dari 400 jenazah di lokasi tersebut. Perkiraan paling konservatif menunjukkan bahwa dalam 48 jam terakhir, setidaknya 2.000 orang tewas di seluruh Iran.

Lembaga swadaya masyarakat yang berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), pada 11 Januari menyatakan bahwa mereka telah memverifikasi 538 kematian, termasuk 490 pengunjuk rasa. Lebih dari 10.000 orang dilaporkan ditangkap selama dua minggu aksi protes.

Dukungan Internasional untuk Aksi Protes Iran

Pada 11 Januari, warga di Montreal, Toronto, dan Ottawa (Kanada) menggelar aksi untuk mendukung para pengunjuk rasa Iran.

Di Toronto, ribuan orang turun ke jalan dalam aksi solidaritas.

Di Los Angeles, juga digelar aksi dukungan bagi warga Iran yang memprotes pemerintah.

Laporan gabungan oleh reporter Jin Jing / Lin Qing – NTDTV.com

Tentara Iran Menyampaikan Pesan kepada Trump: Tentara dan Rakyat Berharap Anda Menyelamatkan Kami 

Aksi protes warga Iran masih terus berlangsung, sementara tindakan penindasan semakin meningkat dan telah menyebabkan banyak demonstran tewas. Seorang tentara Iran mengunggah sebuah video di media sosial yang ditujukan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dengan mengatakan: “Tentara dan rakyat berharap Anda datang untuk menyelamatkan kami.”

EtIndonesia. Sebuah video yang beredar di platform X memperlihatkan seorang tentara Iran berseragam militer dan mengenakan ban lengan, berbicara langsung ke kamera dan menyampaikan pesan kepada Presiden AS Donald Trump:

“Kami—anggota militer dan seluruh rakyat Iran—berharap Anda dapat datang menyelamatkan kami, membebaskan kami dari rezim tirani ini, agar kami dapat membangun kembali Iran. Seperti yang Anda katakan tentang Amerika, kami juga ingin berkata: ‘Make Iran Great Again!’”

Di akhir video, tentara tersebut terlihat mencium foto Trump.

Sejumlah warganet berkomentar: “Sebagian besar tentara dan rakyat Iran telah sadar. Kediktatoran jahat akan segera dihancurkan! Kami percaya Presiden Trump akan dicintai oleh rakyat dunia! Semangat!”

Sejak pecahnya aksi protes nasional menentang pemerintahan diktator di Iran, tidak sedikit tentara dan polisi yang memilih mendukung para demonstran dan bergabung dalam perlawanan. Namun belakangan ini, rezim Iran memutus jaringan internet dan mulai melakukan penindasan brutal terhadap para pengunjuk rasa.

Sebuah video menunjukkan bahwa pada malam tanggal 10 Januari, di kota Mashhad—kota terbesar kedua di Iran—seorang demonstran merekam momen ketika militer Iran menembaki para pengunjuk rasa.

Dalam video tersebut terdengar suara tembakan tanpa henti, sementara sekelompok demonstran berlarian menyelamatkan diri. Pria yang merekam video itu berteriak dalam bahasa Inggris kepada dunia: “Lihat, mereka menembaki kami! Mereka menembaki kami! Tolong bantu kami!”

Banyak warganet menanggapi:

“Peristiwa Tiananmen versi Iran telah dimulai. Amerika dan Israel, sudah saatnya kalian menghunus pedang keadilan.”

“Tragedi Tiananmen sedang terjadi di negara lain.”

Sekitar 10 Januari  pukul 01.00 dini hari , menanggapi situasi Iran yang semakin memanas, Trump menulis di media sosial: “Iran sedang menunjukkan kerinduan akan ‘kebebasan’—mungkin yang belum pernah terlihat sebelumnya. Amerika Serikat siap memberikan bantuan kapan saja!!!”

Sebelumnya, Presiden Trump juga telah mengeluarkan peringatan tegas dari Gedung Putih, menekankan bahwa AS memantau situasi dengan sangat cermat:

“Jika mereka (rezim Iran) mulai membunuh rakyatnya, kami akan bertindak. Ini tidak berarti kami akan mengirim pasukan, tetapi kami akan menghantam titik vital mereka dengan keras.”

Video lain yang beredar di internet menunjukkan bahwa pada malam 9 Januari, jalan-jalan kota Amol di Iran dipenuhi massa yang marah. Para demonstran menyalakan api unggun di tengah malam, dan seluruh kota menggema dengan teriakan “Matilah diktator!”. Gas air mata dari aparat keamanan pun gagal membubarkan kerumunan besar tersebut.

Pada malam 10 Januari, slogan anti-pemerintah kembali menggema di jalan-jalan Teheran, sementara pihak berwenang melakukan penindasan mematikan terhadap para demonstran.

Lembaga Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat menyatakan bahwa aksi protes ini telah menyebabkan setidaknya 72 orang tewas, dan lebih dari 2.300 orang ditahan.

Selain itu, staf dari tiga rumah sakit di Iran mengatakan kepada BBC bahwa penindasan brutal oleh pemerintah membuat rumah sakit dipenuhi korban luka dan korban tewas.

Seorang tenaga medis di sebuah rumah sakit di Teheran mengatakan: “Kepala dan jantung anak-anak muda ditembak secara langsung.”

Dokter lain menyebutkan bahwa sebuah rumah sakit mata di Teheran telah memasuki mode krisis.

Sebagian besar korban luka berusia 20 hingga 25 tahun. Ada yang tertembak di mata, ada yang peluru menembus bagian belakang kepala, dan ada pula yang tertembak di kepala sekaligus di jantung. Beberapa korban bahkan meninggal sebelum sempat dibawa ke rumah sakit. Di kamar jenazah, mayat ditumpuk satu di atas yang lain, bahkan dipindahkan ke ruang doa untuk disimpan.

Saat ini, pemerintah Iran telah memutus akses internet. Sebagian warga mencoba mempertahankan komunikasi yang sangat terbatas dengan dunia luar melalui terminal Starlink milik Elon Musk. (Hui)

 HuiLaporan gabungan oleh reporter Luo Tingting / Editor  Hui)

12 Malam Tanpa Internet, Iran Berubah Jadi Medan Perang

EtIndonesia. Di jalan-jalan Teheran, teriakan “Matilah para diktator!” kini menggema lebih keras daripada sirene polisi. Amarah publik telah meluap ke titik yang belum pernah terlihat selama puluhan tahun terakhir. Para pedagang tua di Grand Bazaar Teheran—pasar bersejarah yang telah menjadi jantung ekonomi Iran selama berabad-abad—menutup rapat pintu besi toko mereka. Aksi ini bukan sekadar mogok dagang, melainkan pernyataan politik terbuka: memutuskan hubungan dengan rezim yang berkuasa.

Apa yang terjadi di Iran hari ini bukan lagi sekadar “perang demi roti”. Ini telah berubah menjadi serangan balik terakhir rakyat terhadap kelas elite kekuasaan—anak-anak pejabat yang hidup mewah, mengendarai Porsche, memamerkan pesta glamor, sambil dengan dingin berkata kepada rakyat miskin, “Kalau tidak bisa hidup, mati saja.”

Kronologi Krisis: Dari Runtuhnya Rial hingga Ledakan Amarah

Gelombang protes nasional Iran bermula pada 28 Desember 2025, dipicu oleh krisis ekonomi akut dan merosotnya taraf hidup masyarakat. Nilai tukar rial Iran anjlok tajam. Menjelang akhir 2025, kurs pasar gelap mencapai sekitar 1.450.000 rial per dolar AS, dari kisaran 800.000 setahun sebelumnya. Dalam hitungan bulan, tabungan rakyat praktis terpangkas setengah.

Gaji bulanan penuh waktu seorang pekerja Iran kini, jika dikonversi ke dolar AS, hanya sekitar 100 dolar—jumlah yang bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan dasar satu keluarga. Inflasi pangan melonjak hingga 72 persen, membuat belanja harian terasa seperti “mengiris daging sendiri”, sebagaimana diungkapkan seorang warga dalam video yang viral di media sosial.

Pada 8 Januari 2026, pemerintah Iran mengambil langkah ekstrem dengan memutus jaringan internet secara nasional. Selama 12 malam berturut-turut, aksi protes meletus di berbagai kota besar dan menengah—termasuk wilayah yang sebelumnya nyaris tak pernah mengalami kerusuhan. Pemadaman internet justru memperkuat kemarahan publik.

Grand Bazaar: Penyangga Rezim yang Runtuh

Dalam sejarah Iran, Grand Bazaar bukan sekadar pasar. Dia adalah barometer ekonomi sekaligus penyangga stabilitas politik. Pada Revolusi Islam 1979, dukungan pedagang bazaar menjadi faktor kunci tumbangnya monarki Pahlavi.

Namun kali ini, pilar itu runtuh.

Para pedagang menghadapi dilema fatal: berbisnis berarti rugi, sementara menabung berarti menyaksikan nilai uang menguap. Dalam tekanan inflasi, monopoli, dan kebijakan diskriminatif, mogok massal menjadi satu-satunya pilihan rasional.

Akar Masalah: Sistem Nilai Tukar Ganda dan Perampokan Terstruktur

Kemiskinan memang pemicu, tetapi bukan keseluruhan cerita. Inti kemarahan rakyat terletak pada ketidakadilan sistemik.

Iran menerapkan sistem nilai tukar ganda: kurs resmi yang jauh lebih rendah dari kurs pasar, dengan dalih untuk impor barang kebutuhan pokok seperti obat dan gandum. Dalam praktiknya, akses ke dolar murah ini hanya dinikmati oleh keluarga elite yang dekat dengan kekuasaan.

Skemanya sederhana:

  • Elite menukar rial dengan dolar negara pada kurs resmi
  • Dolar dijual kembali di pasar gelap dengan keuntungan berlipat
  • Atau digunakan untuk mengimpor barang mewah—mobil sport, tas Hermès, gaya hidup elit

Akibatnya, rakyat kekurangan obat dan pangan, sementara kawasan utara Teheran dipenuhi mobil supermewah. Ini bukan ekonomi pasar, melainkan pencurian sistemik.

Kekaisaran Bayangan: Yayasan “Amal” dan Garda Revolusi

Masalah diperparah oleh keberadaan yayasan-yayasan besar yang mengatasnamakan amal, namun pada kenyataannya merupakan kerajaan bisnis raksasa yang dikendalikan langsung oleh Ali Khamenei dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Yayasan-yayasan ini:

  • Menguasai lebih dari 60 persen ekonomi nasional
  • Bebas pajak dan tidak diaudit
  • Memiliki monopoli di sektor minyak, telekomunikasi, konstruksi, hingga farmasi

Dalam kondisi seperti ini, kerja keras kehilangan makna, dan bisnis jujur menjadi lelucon pahit.

“Gen Unggul” dan Amarah Kelas Sosial

Ketimpangan ini melahirkan istilah sinis di kalangan rakyat: “gen unggul”—ungkapan yang merujuk pada klaim elite bahwa kekayaan mereka berasal dari faktor bawaan, bukan privilese.

Pernyataan arogan sejumlah anak pejabat, pamer kemewahan di media sosial, hingga gaya hidup kontras saat rakyat kelaparan, mempercepat perubahan slogan protes.

 Dari tuntutan ekonomi, massa kini berteriak: “Matilah diktator!”, “Hancurkan negara lama, hidup negara baru!”

Respons Rezim: Peluru, Represi, dan Teknologi dari Tiongkok

Rezim merespons dengan peluru tajam, gas air mata, dan pasukan khusus. Suara tembakan di jalanan Teheran terdengar seperti medan perang.

Yang lebih menggetarkan, Iran mengandalkan teknologi pengawasan canggih dari Tiongkok:

  • Kamera pengenal wajah
  • Sistem identifikasi massa
  • Peralatan interogasi
  • Bahkan “kursi harimau”, alat penyiksaan yang sebelumnya digunakan di Xinjiang

Iran perlahan berubah menjadi penjara digital raksasa.

Perlawanan Rakyat: Starlink dan Kreativitas Bawah Tanah

Meski terisolasi, rakyat Iran tidak menyerah. Mereka menggunakan berbagai cara untuk menembus sensor:

  • Internet satelit Starlink
  • Penyelundupan perangkat komunikasi
  • Pesan tersembunyi dalam gambar
  • Bluetooth dan catatan tangan
  • Bahkan ruang obrolan gim daring seperti Clash of Clans dan Call of Duty

Dimensi Global: Seruan ke Amerika Serikat

Di berbagai sudut Teheran, muncul grafiti dan sebutan tidak resmi seperti “Jalan Trump”—simbol harapan pada tekanan internasional.

Pada 8 Januari 2026, Donald Trump secara terbuka memperingatkan bahwa jika pemerintah Iran membantai demonstran, Amerika Serikat akan memberikan “pukulan yang sangat keras”. Namun pada 9 Januari, situasi justru memburuk: Iran hampir sepenuhnya terputus dari dunia luar, penerbangan internasional dibatalkan, dan konfrontasi antara rezim dan rakyat memasuki fase tanpa kompromi.

Cermin Tiongkok: Dua Peradaban Kuno di Persimpangan

Sementara Teheran membara, di Beijing para pemuda menyebut hidup mereka sebagai berada di “waktu sampah sejarah”—fase tanpa harapan. Pengangguran melonjak, masa depan mengabur, dan protes muncul dalam bentuk terfragmentasi namun tragis.

Iran dan Tiongkok, dua peradaban kuno dengan model kediktatoran berbeda, kini menghadapi krisis struktural yang serupa:

  • Kontrak ekonomi runtuh
  • Generasi muda terbangun
  • Mesin represi kelelahan

Pertanyaan terakhir pun menggantung di udara: Ketika aparat mulai kehilangan gaji dan legitimasi, ke mana moncong senjata akan mengarah?

Revolusi Iran Kian Panas, AS Ungkit Operasi Venezuela—Pesan Tersirat untuk Teheran?

EtIndonesia. Situasi Revolusi Nasional Iran memasuki hari ke-15 pada 11 Januari 2026, ditandai dengan berlanjutnya aksi protes di berbagai wilayah Iran setelah Putra Mahkota, Reza Pahlavi untuk keempat kalinya menyampaikan seruan nasional kepada rakyat Iran. 

Gelombang perlawanan di dalam negeri berlangsung seiring dengan meningkatnya aksi solidaritas diaspora Iran di Eropa, Amerika Serikat, Kanada, serta ratusan kota lain di seluruh dunia, yang secara terbuka menyatakan dukungan terhadap rakyat Iran dan kepemimpinan simbolik Reza Pahlavi.

Diaspora Iran Bergerak Serentak

Pada 11 Januari, komunitas Iran di luar negeri kembali turun ke jalan. Aksi-aksi tersebut menampilkan tuntutan yang konsisten: diakhirinya rezim ulama dan dimulainya transisi politik yang damai. Para pengamat menilai konsistensi mobilisasi diaspora memperkuat tekanan internasional, sekaligus menjaga atensi media global pada perkembangan di dalam Iran.

Rekaman Air Force One dan Sinyal dari Washington

Di tengah eskalasi tersebut, spekulasi mengenai langkah Amerika Serikat kian menguat. Sejumlah akun berpengaruh di platform X membagikan rekaman audio yang diklaim merekam percakapan Presiden AS, Donald Trump dengan wartawan di Air Force One. 

Saat ditanya apakah Iran telah melampaui “garis merah”, Trump menjawab: “Mereka mulai melampaui batas. Tampaknya sudah ada korban jiwa. Militer sedang menyelidiki hal ini. Kami memiliki langkah balasan yang sangat kuat.”

Pernyataan tersebut memicu harapan di kalangan demonstran bahwa Washington akan mengambil tindakan tegas terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebagaimana AS pernah bertindak keras terhadap Nicolás Maduro di Venezuela.

Gedung Putih Angkat Kesaksian Operasi Venezuela

Masih pada 11 Januari, Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt membagikan ulang sebuah kesaksian wawancara mantan personel keamanan Venezuela—yang sebelumnya loyal pada rezim Maduro—melalui platform X. 

Leavitt menyertakan pesan singkat yang mencolok: “Hentikan sejenak pekerjaanmu dan tonton ini.”

Kesaksian tersebut diproduksi oleh sebuah stasiun televisi di California bersama seorang pembawa acara podcast, dan menggambarkan secara rinci operasi militer AS di Venezuela.

“Radar Lumpuh, Drone Membanjiri Langit”

Menurut pengakuan mantan pengawal itu, begitu operasi dimulai, sistem radar Venezuela langsung lumpuh total tanpa peringatan, membuat pertahanan kehilangan kesadaran situasional. Tak lama berselang, gerombolan drone muncul dalam jumlah besar, menyulitkan pasukan untuk mendeteksi maupun bereaksi tepat waktu.

Dia menyebut fase pertempuran darat sebagai bagian paling menakutkan. Militer AS, katanya, hanya mengerahkan sekitar 8 helikopter dan ±20 personel, namun dengan perlengkapan yang melampaui doktrin militer konvensional. Dalam baku tembak singkat, kepadatan dan akurasi tembakan digambarkan sangat tinggi—seolah ratusan peluru dilepaskan setiap menit—mengakibatkan kerugian besar di pihak penjaga. Situasi itu dia ibaratkan “pemanenan sepihak”, bukan pertempuran setara.

Klaim Senjata Gelombang Suara

Bagian paling kontroversial dari kesaksian tersebut adalah klaim penggunaan senjata berbasis gelombang suara. Senjata ini, menurutnya, memancarkan gelombang kuat yang memicu sakit kepala hebat, mimisan, muntah darah, hingga hilangnya kemampuan bergerak, tanpa menggunakan amunisi konvensional.

Saat operasi berlangsung, Venezuela disebut telah mengoperasikan kendaraan amfibi VN-16, kendaraan tempur infanteri VN-18, serta sistem roket multi-laras SR-5 buatan Tiongkok—yang sebelumnya dipromosikan sebagai tulang punggung pertahanan modern Amerika Selatan. Namun, jaringan pertahanan udara yang mendapat dukungan Tiongkok dan Rusia diklaim gagal memberikan peringatan dini, dan sejumlah fasilitas militer berhasil ditekan dalam waktu singkat.

Reaksi Publik dan Pesan Geopolitik

Di media sosial, sejumlah warganet menilai publikasi kesaksian ini bukan kebetulan, melainkan sinyal strategis yang ditujukan kepada Partai Komunis Tiongkok—sebagai pengingat bahwa keunggulan militer AS tidak dapat dikejar hanya dengan investasi besar dalam waktu singkat.

Venezuela, Logam Tanah Jarang, dan Rantai Pasok Global

Di luar isu senjata, fokus internasional kini mengarah pada kepentingan sumber daya di Venezuela. Para analis menilai cadangan logam tanah jarang Venezuela berpotensi mencapai sekitar setengah cadangan Tiongkok. Mengingat Tiongkok dan Iran telah menembus rantai pasok Venezuela secara mendalam, langkah AS dipandang sebagai bagian dari strategi besar restrukturisasi sumber daya global—menghubungkan Belahan Barat dan Asia, dengan Venezuela sebagai salah satu simpul kunci.

Titik Balik Strategis

Dengan latar itu, berbagai kalangan menilai operasi di Venezuela bukan sekadar aksi militer atau pergantian rezim, melainkan titik balik strategis yang dapat membentuk ulang rantai pasok global untuk 10–20 tahun ke depan. Di saat yang sama, sinyal-sinyal dari Washington—di tengah Revolusi Iran hari ke-15—menunjukkan bahwa dinamika geopolitik kawasan dan dunia tengah memasuki fase yang jauh lebih menentukan.

Darah di Jalanan Iran: Korban Diduga Tembus 2.000, Mossad Kirim Pesan Rahasia

EtIndonesia. Situasi keamanan di Iran terus memburuk seiring berlanjutnya gelombang besar aksi protes anti-pemerintah yang menyapu berbagai wilayah negara tersebut. Pada 10 Januari 2026, sejumlah laporan media internasional mengungkapkan bahwa aparat keamanan Iran semakin mengintensifkan tindakan represif, bahkan menggunakan persenjataan militer berat terhadap demonstran damai.

Senjata Berat Digunakan di Kota-kota yang Lepas dari Kendali Pemerintah

Menurut laporan Iran International, di sejumlah kota menengah Iran yang dilaporkan telah terlepas dari kendali efektif pemerintah pusat, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dikerahkan secara penuh. Pasukan ini dilaporkan menggunakan senapan mesin berat, senjata otomatis, serta berbagai jenis persenjataan militer untuk membubarkan dan menyerang massa demonstran yang tidak bersenjata.

Tindakan tersebut menandai eskalasi signifikan dalam metode penindasan, dari sebelumnya penggunaan gas air mata dan peluru karet, menjadi kekuatan mematikan berskala militer.

Korban Tewas dan Penangkapan Terus Bertambah

Berdasarkan laporan Associated Press (AP), hingga 10 Januari, sedikitnya 538 orang telah tewas dalam aksi protes di berbagai wilayah Iran. Dari jumlah tersebut, 490 korban merupakan demonstran, sementara 48 lainnya adalah personel keamanan. Selain itu, lebih dari 10.600 orang dilaporkan telah ditahan oleh aparat negara.

Namun demikian, sejumlah sumber lokal dan jaringan aktivis HAM menyatakan bahwa angka resmi tersebut kemungkinan besar jauh di bawah kondisi sebenarnya. Menurut perkiraan mereka, jumlah demonstran yang tewas diduga telah melampaui 2.000 orang, terutama akibat tembakan langsung di jalanan dan operasi pembersihan malam hari.

Amerika Serikat Evaluasi Berbagai Opsi terhadap Iran

Di tengah eskalasi kekerasan tersebut, dua pejabat Amerika Serikat mengungkapkan kepada CNN bahwa Presiden Donald Trump tengah mengevaluasi berbagai opsi strategis terkait Iran. Opsi-opsi tersebut meliputi:

  • Serangan siber terhadap infrastruktur rezim Iran
  • Pengetatan sanksi ekonomi
  • Dukungan daring dan teknologi bagi demonstran
  • Hingga kemungkinan intervensi militer langsung

Meski demikian, hingga laporan ini disusun, belum ada keputusan final yang diambil oleh Gedung Putih.

Iran Minta Bantuan Milisi Irak

Sementara itu, Fox News, mengutip pejabat Amerika Serikat, melaporkan bahwa pemerintah Iran telah meminta bantuan kelompok bersenjata Irak, termasuk Kataib Hezbollah, untuk membantu menekan dan mengendalikan gelombang protes yang semakin meluas.

Langkah ini dipandang sebagai indikasi bahwa kapasitas aparat keamanan domestik Iran mulai tertekan, sehingga rezim berupaya mengandalkan jaringan milisi regional yang selama ini berada dalam orbit pengaruh Teheran.

Pernyataan Militer Iran Dinilai Bersifat Defensif

Pada 10 Januari, The Wall Street Journal melaporkan bahwa militer reguler Iran merilis sebuah pernyataan resmi. Dalam pernyataan tersebut, militer menyatakan akan:

  • Melindungi kepentingan nasional
  • Menjaga infrastruktur strategis
  • Mengamankan properti publik

Pernyataan itu juga menuding Israel dan kelompok “musuh” sebagai pihak yang berupaya mengacaukan keamanan publik Iran.

Namun, sejumlah analis menilai pernyataan tersebut bersifat sangat umum dan defensif, serta tidak secara eksplisit menyebutkan keterlibatan langsung militer reguler dalam penindasan terhadap demonstran. Hal ini memicu spekulasi bahwa terdapat keretakan atau perbedaan sikap internal antara militer reguler dan Korps Garda Revolusi.

Laporan Eksekusi Perwira IRGC dan Dugaan Pelarian Elite Agama

Kabar terbaru yang beredar menyebutkan bahwa Kolonel Mehdi Rasimi, seorang perwira yang bertanggung jawab memimpin pasukan Garda Revolusi di wilayah tertentu, diduga telah dieksekusi oleh demonstran anti-pemerintah. Hingga kini, informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Selain itu, beredar pula laporan belum terkonfirmasi yang menyebutkan bahwa sejumlah Ayatollah Republik Islam Iran beserta anggota keluarganya terlihat di Bandara Moskow, Rusia, diduga sedang berupaya melarikan diri dari Iran di tengah memburuknya situasi keamanan.

Starlink Tembus Blokade Internet Iran

Selama aksi protes berlangsung, kelompok perlawanan berbasis teknologi dilaporkan memanfaatkan layanan internet satelit Starlink milik Elon Musk untuk menembus blokade internet nasional yang diberlakukan pemerintah Iran.

Melalui koneksi ini, para aktivis berhasil mengirimkan rekaman video, foto, dan informasi lapangan secara real time ke luar negeri. Meskipun pemerintah Iran berusaha mengganggu dan memutus koneksi, tingkat keberhasilan sambungan dilaporkan tetap mencapai 90,71%, sebuah angka yang dinilai sangat tinggi dalam kondisi represi digital.

Pesan Mossad dan Sinyal Intervensi

Pada 10 Januari, The Jerusalem Post melaporkan bahwa badan intelijen Israel, Mossad, telah menyampaikan pesan dalam bahasa Persia yang ditujukan langsung kepada rakyat Iran. Pesan tersebut berbunyi: “Saatnya telah tiba. Kami bersama kalian—di jalanan.”

Pesan ini dipandang sebagai sinyal psikologis dan politik yang kuat, menunjukkan bahwa krisis Iran telah menarik perhatian serius aktor-aktor intelijen regional.

Media Amerika Serikat juga melaporkan bahwa Presiden Trump telah menerima sejumlah pengarahan informal terkait kemungkinan intervensi militer terhadap Iran, dan dijadwalkan mengikuti pengarahan resmi pada hari Selasa.

Dunia Menanti Langkah Trump

Para pengamat internasional menilai bahwa gaya kepemimpinan Donald Trump yang kerap bertindak di luar pola diplomasi konvensional berpotensi kembali mengejutkan dunia. Mereka membandingkan situasi ini dengan penangkapan hidup-hidup Nicolás Maduro, yang sebelumnya juga terjadi secara tak terduga.

Dengan Iran kini berada di titik kritis, banyak pihak menilai bahwa langkah Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan dapat menentukan arah masa depan Iran—dan stabilitas kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.

Dari London ke Teheran: 30 Ribu Turun ke Jalan, Bayangan Serangan AS Menguat

EtIndonesia. Situasi di Iran terus mengalami eskalasi tajam, baik di dalam negeri maupun di panggung internasional. Pada 11 Januari 2026, gelombang dukungan terhadap rakyat Iran meluas hingga ke luar negeri, sementara aktivitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah memicu spekulasi serius mengenai potensi konflik terbuka.

Aksi Solidaritas Global di London

Pada Sabtu, 11 Januari, lebih dari 30.000 orang yang terdiri dari warga Iran diaspora, komunitas Yahudi, serta kelompok patriot Inggris turun ke jalan di pusat kota London. Mereka menggelar aksi solidaritas besar-besaran untuk menyatakan dukungan terhadap rakyat Iran yang terus melakukan perlawanan terhadap rezim berkuasa.

Para demonstran membawa spanduk, bendera, serta meneriakkan seruan dukungan bagi perubahan demokratis di Iran. Aksi ini menjadi salah satu demonstrasi internasional terbesar terkait Iran dalam beberapa tahun terakhir.

“Model Bangladesh” Mulai Diterapkan di Iran

Di dalam negeri, para demonstran Iran mulai menerapkan strategi yang dikenal sebagai “model Bangladesh”, yaitu menandai rumah-rumah pejabat tinggi rezim. Metode ini pernah digunakan dalam gelombang protes di Bangladesh dan terbukti efektif dalam menekan elite kekuasaan dengan cara non-konvensional namun berdampak psikologis besar.

Langkah ini menandai eskalasi baru dalam taktik perlawanan rakyat Iran, yang kini semakin terorganisir dan terarah.

Pesan Simbolik dari Gedung Putih

Di tengah meningkatnya ketegangan, Gedung Putih sebelumnya mengunggah sebuah pesan bernada tegas yang berbunyi: “Tuhan memberkati militer kita. Tuhan memberkati Amerika. Dan ini baru permulaan.”

Unggahan tersebut disertai foto Donald Trump mengenakan topi bertuliskan angka 4547 serta slogan ikonik “Make America Great Again”, yang langsung memicu berbagai spekulasi mengenai langkah lanjutan Washington terhadap Iran.

Aktivitas Militer AS Picu Spekulasi Serangan

Pada Minggu malam, 11 Januari, Gedung Putih mengisyaratkan adanya pergerakan signifikan pesawat militer Amerika Serikat di sekitar wilayah udara Iran. Dalam beberapa jam terakhir, pesawat pengisian bahan bakar udara KC-135R dan pembom strategis B-52 dilaporkan lepas landas dari Pangkalan Udara Al Udeid, yang terletak di barat daya Doha, Qatar.

Selain itu, pesawat tempur AS terpantau beroperasi di dekat wilayah udara Iran. Yang menarik, beberapa pesawat tersebut berulang kali memasuki wilayah udara Iran lalu berbalik arah menuju Pakistan, pola penerbangan yang dinilai tidak lazim.

KC-135R biasanya beroperasi bersama jet tempur dalam misi jarak jauh, sehingga memunculkan dugaan kuat tentang kehadiran pesawat siluman generasi kelima seperti F-35 atau F-22, yang dikenal sulit dideteksi radar.

Dugaan Keterlibatan Pakistan

Spekulasi semakin menguat setelah muncul laporan bahwa Pakistan diduga kembali menyediakan pangkalan militernya bagi Amerika Serikat sebagai titik operasi potensial terhadap Iran.

Situasi ini diperkuat oleh informasi mengenai pertemuan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, dengan delegasi gabungan Israel–Amerika Serikat, yang disebut-sebut membahas kemungkinan serangan terhadap Iran.

Indikator Tak Lazim di Washington

Sinyal lain yang menarik perhatian para pengamat adalah lonjakan tidak biasa jumlah reservasi di Hotel Fitzgerald, yang berlokasi dekat Pentagon. Pola serupa pernah terjadi menjelang sejumlah operasi militer besar Amerika Serikat, termasuk intervensi terhadap Libya di masa lalu.

Bantahan Sumber AS dan Opsi Serangan

Meski demikian, seorang sumber Amerika mengatakan kepada sebuah situs berita politik bahwa saat ini tidak ada pengerahan besar-besaran pasukan atau aset militer AS di Timur Tengah, serta menegaskan bahwa waktu pengambilan keputusan Presiden sangat sempit.

Menurut laporan tersebut, opsi yang sedang dipertimbangkan Presiden meliputi:

  • Serangan presisi terbatas di dalam wilayah Iran
  • Serangan siber ofensif
  • Operasi non-konvensional tanpa pengerahan pasukan darat

Pemerintah AS disebut ingin menghindari korban sipil dalam jumlah besar, sehingga target potensial difokuskan pada sasaran militer, simbol pemerintahan, dan infrastruktur minyak strategis.

Selain itu, Washington juga mempertimbangkan pengiriman terminal internet satelit milik Elon Musk untuk membantu demonstran Iran tetap terhubung di tengah pemutusan jaringan komunikasi.

Dampak Strategis dan Kondisi Pertahanan Iran

Seorang mantan pejabat AS menyatakan bahwa serangan terhadap kepemimpinan tertinggi Iran akan memberikan dampak paling signifikan, namun memerlukan perencanaan matang dan waktu yang lebih panjang.

Situs politik tersebut juga melaporkan bahwa akibat serangan gabungan Israel–AS terhadap program nuklir dan rudal Iran dalam “Perang 12 Hari”, sistem pertahanan udara Iran telah melemah secara drastis dalam setahun terakhir.

Ancaman Balasan dan Seruan Internasional

Ketua Parlemen Iran secara terbuka memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat melancarkan serangan, maka seluruh pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah akan menjadi sasaran balasan.

Di sisi lain, Reza Pahlavi kembali menyerukan dukungan internasional bagi transisi demokrasi di Iran, menyatakan bahwa momentum perubahan tidak boleh disia-siakan.

Sementara itu, pada 11 Januari, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan keterkejutannya atas laporan penggunaan kekuatan ekstrem oleh aparat Iran terhadap demonstran. Ia mendesak otoritas Iran untuk menahan diri semaksimal mungkin dan menghormati hak-hak dasar warganya. (***)

Malam Ketika Rezim Khamenei “Kehilangan” Ibu Kota: Punak Dikuasai, Masjid Dibakar

EtIndonesia. Iran memasuki hari ketiga pemutusan total jaringan telepon dan internet nasional, sebuah langkah darurat yang diambil pemerintah untuk menekan gelombang protes anti-rezim yang terus meluas. 

Meski demikian, arus informasi dari dalam negeri tidak sepenuhnya terputus. Dengan bantuan layanan internet satelit milik Elon Musk, rekaman video dan laporan lapangan tetap berhasil dikirim ke luar Iran dan menyebar luas di media internasional.

Kawasan Elit Punak  Jatuh ke Tangan Demonstran

Pada malam Jumat, 10 Januari 2026, situasi di kawasan Punak-e, Teheran Barat, berubah drastis. Rekaman video menunjukkan pasukan keamanan tidak lagi terlihat melakukan penindasan di wilayah tersebut. Sebaliknya, suasana perayaan justru muncul, dengan kembang api dinyalakan di tengah kerumunan massa.

Diperkirakan lebih dari 100.000 demonstran memadati alun-alun Punak-e. Ribuan ponsel dinyalakan serentak, menciptakan lautan cahaya, sementara massa meneriakkan slogan “Hidup Raja!” serta secara terbuka menyerukan kembalinya Dinasti Pahlavi.

Punake memiliki makna politik yang sangat sensitif. Kawasan ini dikenal sebagai permukiman elite internal lingkar kekuasaan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, termasuk pejabat tinggi militer dan keluarga yang memiliki hubungan dekat dengan rezim. Secara simbolis, wilayah ini kerap disamakan dengan Zhongnanhai di Beijing, pusat kekuasaan tertinggi Partai Komunis Tiongkok.

Pendudukan Punak-e oleh demonstran menyampaikan pesan yang tegas dan tanpa ambiguitas:  tidak ada lagi wilayah terlarang atau tabu bagi perlawanan rakyat.

Kantor Polisi Dikuasai, Balai Kota Dibakar

Gelombang perlawanan tidak hanya terkonsentrasi di ibu kota. Di kota Babol, Iran Utara, warga dilaporkan berhasil menguasai kantor polisi setempat dan membebaskan para tahanan.

Sementara itu, pada Sabtu, 11 Januari 2026, beredar luas video yang memperlihatkan gedung balai kota Karaj dibakar massa. Karaj merupakan ibu kota Provinsi Alborz, berjarak sekitar 40 kilometer dari Teheran, serta termasuk salah satu kota terpadat dan paling sensitif secara politik dan keamanan di Iran. Pembakaran fasilitas pemerintahan di kota ini dipandang sebagai eskalasi besar dalam skala dan keberanian aksi.

Serangan terhadap Aparat dan Status Siaga Tingkat Perang

Sebelum menyasar institusi negara secara terbuka, massa protes dilaporkan lebih dulu menargetkan aparat-aparat kunci rezim. Dalam sebuah insiden terbaru, Kepala Kepolisian Shaur, Mohammad Haghighat, diserang ketika berada di dalam kendaraan yang sedang melaju.

Kelompok bersenjata anti-pemerintah “Tentara Keadilan” secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Media Israel melaporkan bahwa Ali Khamenei telah menaikkan status kesiapsiagaan nasional Iran ke tingkat “di atas masa perang”, sebuah indikator bahwa rezim memandang situasi ini sebagai ancaman eksistensial.

Seorang warganet Iran menuliskan komentar yang banyak dibagikan: “Inilah ciri khas kediktatoran—perang melawan rakyat selalu lebih penting daripada perang melawan musuh asing.”

Sinyal Keras dari Washington

Di tengah eskalasi krisis, pada 10 Januari 2026, Donald Trump menulis di platform Truth Social bahwa Iran sedang menuju cahaya kebebasan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan menegaskan bahwa Amerika Serikat siap memberikan bantuan kapan saja.

Laporan The Wall Street Journal menyebutkan bahwa pemerintahan Trump mulai mendiskusikan berbagai skenario militer terhadap Iran, termasuk opsi serangan udara besar-besaran terhadap target-target militer strategis Iran.

Sejumlah akun intelijen sumber terbuka (OSINT) juga melaporkan bahwa Amerika Serikat tengah melakukan pengangkutan militer skala besar ke Timur Tengah, memperkuat spekulasi tentang kemungkinan eskalasi regional.

Korban Jiwa dan Pembakaran Simbol Ideologi

Namun, harga yang dibayar rakyat Iran sangat mahal. Pada 10 Januari 2026, berdasarkan estimasi Iran International TV, sedikitnya 2.000 demonstran dilaporkan tewas hanya dalam 48 jam terakhir, akibat tindakan represif pasukan pemerintah.

Rezim Iran juga secara terbuka mengancam hukuman mati bagi siapa pun yang merusak tempat ibadah. Meski demikian, perlawanan tidak surut.

Analis militer dan pertahanan Iran, Babak Taghvaei, menyatakan bahwa ratusan masjid, sekolah agama, dan seminari telah dibakar massa di berbagai wilayah Iran.

Salah satu peristiwa paling simbolis terjadi pada malam 10 Januari 2026, ketika Masjid Abuzar di Teheran dibakar demonstran. Di Iran, masjid bukan sekadar bangunan keagamaan, melainkan pilar utama ideologi Republik Islam.

 Pembakaran masjid menandai bahwa protes telah melampaui seluruh “garis merah”, berubah dari penolakan terhadap penguasa menjadi penolakan total terhadap sistem politik yang ada.

Efek Domino: Ketakutan Menyebar ke Tiongkok

Menariknya, pihak yang disebut-sebut paling merasakan ketakutan atas potensi perubahan rezim di Iran justru adalah Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Sejak gelombang protes Iran meledak, polisi antihuru-hara dan kendaraan lapis baja Tiongkok dilaporkan terlihat di berbagai kota besar. Di Chongqing, ratusan polisi dikerahkan untuk menjaga ketat bank-bank utama. Di Shenyang, kendaraan lapis baja dengan senapan mesin berat dikerahkan di Jalan Zhongjie—perlengkapan yang lebih menyerupai operasi semi-militer ketimbang patroli sipil.

Di Taiyuan, Provinsi Shanxi, aparat bahkan mengaktifkan platform komando pengawasan ketinggian, menempatkan pasukan khusus di posisi tinggi untuk memantau dan mengendalikan kerumunan dari atas. Bahkan kota tingkat empat seperti Zhumadian, Henan, dilaporkan memasuki status siaga tinggi, sementara di Xincai, jalan tol ditutup untuk mencegah potensi pengumpulan massa.

Seorang netizen Tiongkok menyimpulkan situasi tersebut dengan tajam: “Rezim yang mengaku melayani rakyat justru paling takut rakyat turun ke jalan. Stabilitas menjadi naluri, ketakutan tercermin dalam tindakan. Mereka tidak menyelesaikan masalah, tetapi menyingkirkan orang yang mengajukan masalah—itulah wajah asli kekuasaan PKT.”

Trump: Greenland Seperti Venezuela, Jika AS Tidak Bertindak Akan Jatuh ke Tangan Tiongkok dan Rusia

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan di Gedung Putih bahwa Greenland, seperti Venezuela, merupakan isu keamanan nasional yang sangat penting bagi Amerika Serikat. Jika AS tidak bertindak, Greenland berisiko jatuh ke dalam pendudukan Tiongkok dan Rusia. Trump mengatakan ia berharap dapat mencapai kesepakatan untuk memperoleh Greenland, namun jika tidak, maka opsi yang lebih keras akan digunakan.

Menanggapi pernyataan tersebut, para pemimpin lima partai di Parlemen Greenland dalam pernyataan bersama pada Jumat (9 Januari) menegaskan kembali bahwa masa depan Pulau Greenland harus ditentukan oleh rakyat Greenland sendiri.

 “Jika Anda melihat ke arah Greenland sekarang, di sana ada kapal perusak Rusia, ada kapal perusak Partai Komunis Tiongkok, ada kapal selam Rusia—mereka ada di mana-mana. Kami tidak akan membiarkan Tiongkok dan Rusia menduduki Greenland. Jika tidak, mereka pasti akan berhasil,” kata Trump. 

Pada Jumat, Trump mengumpulkan para eksekutif perusahaan minyak di Gedung Putih dan mengumumkan rencana rekonstruksi minyak Venezuela senilai 100 miliar dolar AS. Dalam pertemuan tersebut, Trump mengatakan bahwa Greenland seperti Venezuela—jika tidak segera ditangani, wilayah itu akan jatuh ke dalam kendali Tiongkok dan Rusia, dan hal ini merupakan masalah besar bagi keamanan nasional AS.

Trump:  “Ini juga merupakan masalah keamanan nasional yang sangat besar, sama seperti Greenland. Kita tidak boleh membiarkan Tiongkok dan Rusia menguasai Greenland, dan kita tidak boleh membiarkan Tiongkok dan Rusia menguasai Venezuela. Jika kita tidak bertindak, Tiongkok dan Rusia sudah mengendalikan Venezuela.”

Trump menambahkan bahwa ia akan mengupayakan perolehan Greenland melalui kesepakatan terlebih dahulu, namun jika itu tidak berhasil, maka ia akan beralih ke cara yang lebih tegas.

Trump:  “Saya ingin mencapai kesepakatan—itu cara yang paling mudah. Jika kita tidak bisa menggunakan cara yang mudah, maka kita akan menggunakan cara yang keras.”

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menilai bahwa pernyataan tersebut tidak berarti Amerika Serikat akan secara langsung mengambil alih Greenland dengan kekuatan militer.

 “Saya tetap tidak percaya bahwa Amerika Serikat akan melancarkan aksi militer untuk menguasai Pulau Greenland. Saya dengan tegas menyatakan tidak akan mendukung pendekatan semacam itu, dan saya telah menuliskannya secara jelas. Saya pikir hal itu tidak menguntungkan siapa pun. Terus terang, saya bahkan menilai itu juga tidak menguntungkan bagi Amerika Serikat,” katanya. 

Meloni mengatakan bahwa ia dapat memahami kekhawatiran Amerika Serikat. Ia menambahkan bahwa bukan hanya Greenland, tetapi NATO juga perlu menunjukkan kehadiran yang penting di kawasan Arktik.

Diterjemahkan oleh Jiang Ziyang, New Tang Dynasty Asia-Pacific Television.

Venezuela Mulai Membebaskan Tahanan Politik, Keluarga Menanti Reuni di Luar Penjara

Pada Sabtu (10/1/2026), otoritas Venezuela mulai membebaskan sebagian tahanan yang dianggap sebagai tahanan politik. Di luar Penjara El Rodeo di ibu kota, para anggota keluarga dengan cemas menunggu, berharap dapat kembali berkumpul dengan orang-orang tercinta.

EtIndonesia.  Sejumlah keluarga berkumpul di luar penjara untuk menantikan kemungkinan adanya kabar pembebasan kerabat mereka pada Sabtu (10 Januari). 

Lorealber Gutierrez mengatakan bahwa ibu, saudara laki-laki, pasangan, bibi, dan sepupunya telah ditahan sejak mengikuti aksi protes setelah pemilihan presiden Agustus 2024, dan hingga kini masih ditahan.

 “Saya percaya mereka pasti bisa keluar dari tempat itu, dan kami akan kembali berkumpul seperti dulu. Itulah yang paling saya inginkan. Saya ingin bersama kakak saya; saya sudah empat tahun tidak bertemu dengannya,” ujar Lorealber Gutierrez, anggota keluarga tahanan. 

Di luar penjara, seorang ibu bernama Mirta Marin juga menunggu dengan penuh harap. Putranya telah ditahan di Penjara Rodeo I selama delapan bulan.

“Tidak ada seorang pun yang menjelaskan kepada saya mengapa pemerintah Venezuela membawa anak saya ke sini. Saya hanya bisa menunggu di sini dan terus mendukung, berharap mereka benar-benar memberikan kebebasan yang telah mereka janjikan berkali-kali,” kata Mirta Marin, ibu dari tahanan. 

Malam sebelumnya, sebagian keluarga sempat mengadakan aksi berjaga dengan lilin di luar penjara, berharap pengumuman pemerintah mengenai “pembebasan besar-besaran” benar-benar diwujudkan.

Kelompok hak asasi manusia menyatakan bahwa pemerintah Venezuela telah membebaskan 18 tokoh oposisi, termasuk 5 warga negara Spanyol serta mantan calon presiden dari pihak oposisi, Enrique Márquez. Namun, pihak berwenang belum merilis daftar lengkap para tahanan yang dibebaskan, dan juga belum menjelaskan jumlah total pembebasan yang akan dilakukan.

Selain itu, dilaporkan bahwa pada Jumat (9 Januari), Gedung Putih Amerika Serikat menyatakan Presiden Donald Trump telah menandatangani perintah eksekutif darurat untuk memastikan dana digunakan demi tujuan kebijakan luar negeri AS. 

Perintah tersebut melindungi pendapatan minyak Venezuela yang disimpan di rekening Departemen Keuangan AS (Dana Simpanan Pemerintah Asing) dari penahanan, proses hukum, penyitaan, atau perampasan.

Laporan gabungan oleh Yi Xin dan Zhang Ruiqi, wartawan New Tang Dynasty Television.

13 Hari Rakyat Melawan, Iran Tak Bisa Kembali Seperti Dulu, Dunia Bertanya: Siapa Selanjutnya?

EtIndonesia. Gelombang aksi protes besar-besaran di Iran telah memasuki hari ke-13 berturut-turut pada Jumat, 10 Januari 2026. Meski menghadapi penindasan aparat keamanan dan pemutusan jaringan internet secara nasional, rakyat Iran tetap turun ke jalan pada Jumat malam, menggelar demonstrasi serentak di berbagai kota, termasuk ibu kota Teheran.

Militer Iran Klaim Lindungi Infrastruktur, Rakyat Tetap Melawan

Pada 10 Januari, militer Iran mengeluarkan pernyataan resmi yang menyebutkan bahwa mereka tengah “melindungi infrastruktur vital negara” dan menyerukan masyarakat untuk menggagalkan apa yang mereka sebut sebagai “konspirasi musuh”. Namun di lapangan, pernyataan tersebut tidak menghentikan laju demonstrasi.

Di sejumlah wilayah Teheran, termasuk Lapangan Heravi, massa berkumpul rapat bahu-membahu sambil meneriakkan slogan: “Ini untuk Iran, bukan untuk rezim!”

Laporan dari dalam negeri Iran menyebutkan bahwa sejumlah masjid dibakar atau dirusak oleh massa di berbagai daerah. Aksi tersebut dipandang sebagai simbol penolakan terbuka terhadap legitimasi rezim ulama yang telah berkuasa selama lebih dari empat dekade.

Pemadaman Listrik Gagal Redam Aksi

Masih pada 10 Januari, pemerintah Iran dilaporkan memutus aliran listrik di beberapa wilayah Teheran dalam upaya menekan demonstrasi. Namun langkah ini justru memunculkan pemandangan simbolik: para demonstran menyalakan lampu kilat ponsel, menerangi jalan-jalan kota yang gelap, menciptakan suasana perlawanan yang menggugah emosi.

Di berbagai kota, sebagian demonstran bahkan memanjat tiang listrik untuk mencopot dan menghancurkan kamera pengawas jalanan, yang diketahui merupakan produk perusahaan asal Tiongkok yang dijual ke Iran.

Aksi Solidaritas di Luar Negeri

Di luar negeri, aksi simbolik juga terjadi. Sejumlah demonstran Iran dilaporkan memanjat Kedutaan Besar Iran di London, menurunkan bendera resmi rezim, dan menggantinya dengan bendera nasional Iran Singa dan Matahari, simbol Iran pra-revolusi 1979.

Pesan perlawanan kini menyebar luas, dari Iran bagian utara hingga wilayah selatan yang didominasi kelas pekerja. Banyak pengamat menilai bahwa demonstrasi telah berubah dari aksi protes sporadis menjadi seruan nasional untuk “Iran yang baru”.

Amerika Serikat Kirim Dukungan Terbuka

Pada hari yang sama, Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, menyatakan bahwa rakyat Iran mendambakan kebebasan dan menegaskan bahwa Amerika Serikat siap memberikan bantuan kapan pun diperlukan.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menulis di platform X bahwa AS mendukung rakyat Iran yang berani. Senator Lindsey Graham juga menyatakan bahwa rakyat Iran “tidak sendirian” dan sedang mendapatkan dukungan internasional.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth membagikan ulang pernyataan Trump di media sosial, menegaskan kembali kesiapan Amerika Serikat untuk bertindak kapan saja.

Peringatan Keras untuk Para Diktator

Masih pada 10 Januari, Departemen Luar Negeri AS merilis sebuah video berisi pernyataan keras dari Menlu Rubio yang ditujukan kepada para pemimpin otoriter di seluruh dunia. 

Rubio memperingatkan: “Jangan bermain-main dengan presiden ini. Dia bukan sedang berakting. Setiap janji akan diwujudkan.”

Isu Retaknya Elite Kekuasaan Iran

Di media sosial, beredar klaim bahwa Presiden Iran, Masoud Pezeshkian telah mengajukan pengunduran diri kepada Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.

Pezeshkian sebelumnya dilaporkan sempat memerintahkan militer untuk tidak menembaki warga sipil, yang memicu ketegangan serius dengan Khamenei. Namun hingga kini, klaim pengunduran diri tersebut belum dikonfirmasi secara resmi.

AS Bahas Opsi Militer terhadap Iran

Media Israel pada 10 Januari mengutip laporan The Wall Street Journal yang menyebutkan bahwa seorang pejabat AS anonim mengungkapkan pemerintahan Trump sedang membahas berbagai opsi terhadap Iran, termasuk rencana awal serangan udara besar-besaran terhadap target militer Iran.

Di media sosial, muncul pula perdebatan publik, mulai dari usulan menjatuhkan senjata ke Iran melalui udara, hingga pendapat bahwa membiarkan elite rezim melarikan diri adalah cara terbaik menghadapi para diktator.

Operasi Militer AS di Suriah: Sinyal Global

Masih pada 10 Januari 2026 siang waktu Pantai Timur AS, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa militer AS bersama pasukan sekutu melancarkan serangan udara besar terhadap kelompok ekstremis di Suriah dalam kelanjutan Operasi Eagle Eye.

Operasi ini melibatkan:

  • Lebih dari 20 pesawat tempur, termasuk F-15, A-10, AC-130, dan drone MQ-9
  • Dukungan udara dari Yordania dan sekutu lainnya
  • Lebih dari 90 amunisi berpemandu presisi ditembakkan ke 35 target

Serangan ini merupakan respons atas penyergapan di dekat Palmyra pada akhir 2025, yang menewaskan dua prajurit Garda Nasional AS dari Iowa dan seorang penerjemah sipil Amerika.

Dimensi Global: Rusia, Ukraina, dan Venezuela

Dalam wawancara terbaru, Presiden Trump menyatakan bahwa Vladimir Putin “tidak takut pada Eropa, tetapi hanya pada Amerika Serikat”. Pernyataan ini memicu kekhawatiran di kalangan sekutu Eropa.

Sementara itu, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan bahwa Kyiv dan Washington hampir setiap hari berkomunikasi dan tengah menjajaki perjanjian perdagangan bebas. Menurut The Daily Telegraph, AS dan Ukraina menargetkan Perjanjian Kemakmuran senilai 800 miliar dolar AS untuk rekonstruksi Ukraina dalam 10 tahun ke depan, dengan keterlibatan BlackRock.

Di sisi lain, Rusia terus meningkatkan eskalasi militer, termasuk peluncuran rudal balistik hipersonik berkemampuan nuklir ke wilayah Ukraina yang dekat dengan perbatasan Polandia.

Langkah Darurat AS atas Minyak Venezuela

Pada 10 Januari, Presiden Trump juga menandatangani perintah eksekutif darurat yang menetapkan status darurat nasional untuk melindungi pendapatan minyak Venezuela yang disimpan di AS. Seluruh aset dan pendapatan minyak Venezuela di AS akan dikonsolidasikan dalam dana perwalian yang dikelola pemerintah AS.

Menurut data OPEC, Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, lebih dari 300 miliar barel, namun produksinya masih terbatas akibat sanksi dan minim investasi.

Penutup

Pengamat internasional menilai bahwa rangkaian peristiwa ini menunjukkan satu tren global yang semakin jelas: rezim-rezim otoriter yang dibangun di atas represi dan sentimen anti-Amerika kini menghadapi tekanan serius, baik dari dalam negeri maupun dari dinamika geopolitik global.

Seperti yang diungkapkan jurnalis senior Akio Yaita, situasi Iran saat ini memancarkan “aroma sejarah”—sebuah tanda bahwa perubahan besar mungkin sedang berlangsung.

Teheran Membara: Penembakan Warga, Ribuan Tewas, Rezim Iran Kehilangan Kendali

EtIndonesia. Gelombang aksi protes anti-pemerintah di Iran memasuki hari ke-14 pada Jumat, 10 Januari, dengan eskalasi yang kian tajam di berbagai wilayah, terutama di ibu kota Teheran. Meskipun rezim Iran memberlakukan pemblokiran total jaringan internet dan meningkatkan tindakan represif aparat keamanan, demonstrasi besar tetap berlangsung, khususnya di kawasan Heravi.

Di wilayah tersebut, ribuan pengunjuk rasa terdengar meneriakkan slogan, “Hanya setelah para mullah pergi, barulah kita memiliki negara,” sebagai simbol penolakan terhadap pemerintahan ulama yang telah berkuasa selama lebih dari empat dekade.

Rekaman Bocor Tunjukkan Penembakan Warga Sipil

Sejumlah pengamat Iran mengunggah rekaman video terbaru di platform X yang diklaim bocor dari dalam negeri. Video tersebut memperlihatkan pasukan bersenjata menembaki warga sipil tak bersenjata di jalanan, memperkuat laporan mengenai meningkatnya kekerasan aparat terhadap massa demonstran.

Pada hari yang sama, Sabtu, sejumlah pejabat Iran dilaporkan meningkatkan intensitas penindasan dan mengeluarkan peringatan keras bahwa keamanan nasional merupakan “garis merah” yang tidak boleh dilanggar. Pernyataan ini dipandang sebagai sinyal bahwa rezim siap menggunakan segala cara untuk mempertahankan kekuasaan.

Laporan Korban Jiwa Capai Ribuan

Di tengah situasi yang semakin kacau, beredar laporan bahwa dalam 48 jam terakhir sedikitnya 2.000 orang di seluruh Iran tewas akibat bentrokan dan tindakan represif aparat. Angka ini belum dapat diverifikasi secara independen, namun mencerminkan tingkat kekerasan yang dilaporkan oleh berbagai sumber di dalam dan luar negeri.

Akibat memburuknya situasi keamanan, sejumlah maskapai internasional, termasuk Lufthansa dan Turkish Airlines, telah menangguhkan penerbangan ke Teheran dan beberapa kota besar lainnya di Iran. Meski demikian, pada malam hari, aksi protes tetap berlanjut di berbagai kota besar.

Persatuan Etnis Menggema di Tabriz

Di Tabriz, ibu kota Provinsi Azerbaijan Timur, massa demonstran meneriakkan slogan persatuan: “Orang Azerbaijan dan Persia bersatu, negara akan meraih kebebasan.” 

Seruan ini mencerminkan meluasnya perlawanan lintas etnis yang selama ini kerap dimanfaatkan rezim sebagai alat perpecahan.

Di kawasan Heravi, besarnya jumlah massa membuat aparat kesulitan melakukan penindasan, menciptakan situasi yang oleh pengamat disebut sebagai “mimpi buruk terburuk” bagi rezim Iran.

Starlink Aktif di Tengah Pemadaman Total

Sebuah video yang direkam di kawasan Gisha, Teheran, menunjukkan massa meneriakkan, “Tahun ini adalah tahun kekacauan, Khamenei akan digulingkan.” Video tersebut dilaporkan berhasil dikirim keluar Iran melalui jaringan Starlink, meski negara itu tengah mengalami pemadaman internet total.

Pada 9 Januari, Channel 14 Israel mengutip sumber yang mengetahui situasi tersebut, menyebutkan bahwa Elon Musk secara diam-diam mengaktifkan layanan Starlink gratis bagi para pengunjuk rasa di Iran, memungkinkan warga tetap memiliki koneksi internet dasar di tengah pemutusan jaringan nasional.

Lembaga pemantau internet NetBlocks melaporkan bahwa sejak 8 Januari, lalu lintas internet di Teheran dan berbagai wilayah lain anjlok tajam, menandakan terjadinya pemadaman komunikasi berskala besar. Iran juga dilaporkan mencoba menggunakan teknologi pengacauan sinyal satelit untuk memblokir akses Starlink.

Seorang blogger di platform X menulis bahwa Iran saat ini juga mengalami pemadaman listrik total, dengan hanya segelintir orang yang dapat terhubung ke Starlink. Rezim disebut secara aktif mengganggu dan merusak perangkat Starlink yang berhasil dioperasikan warga.

Dukungan Simbolik dan Moral dari Rakyat

Meski terisolasi dari dunia luar, jalanan Iran tetap dipenuhi massa. Para demonstran terus meneriakkan: “Selama para mullah belum lenyap, tanah ini tidak akan pernah merdeka.”

Berbagai foto yang beredar menunjukkan warga Iran berpose di sekitar perangkat Starlink, menampilkan simbol gunting dan empat layar ponsel dengan gambar “Tank Man Iran”, bendera Kerajaan Pahlavi, adegan Donald Trump dalam pertempuran, serta ilustrasi Musk berjabat tangan dengan Trump. Sejumlah warga menyampaikan pesan bahwa moral perlawanan tetap tinggi dan situasi masih dipandang optimistis.

Israel, AS, dan Sinyal Militer Global

Menurut laporan The Times of Israel, Wakil Kepala Kantor Perdana Menteri Israel, Cohen, baru-baru ini meminta seorang investor Israel-Amerika bernama Francis untuk menanyakan kepada tim Musk apakah Starlink dapat beroperasi di Iran saat pemutusan internet total. Musk dilaporkan berjanji mempertahankan layanan Starlink tetap gratis selama aksi protes berlangsung, serta memerintahkan jajaran eksekutifnya untuk mencegah gangguan teknis dari rezim Iran.

Pada hari yang sama, Sabtu, 10 Januari, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Hegseth, membagikan pernyataan Komando Pusat AS (CENTCOM) dan menulis: “Kami tidak akan pernah melupakan dan tidak akan pernah menyerah.”

Pernyataan tersebut merujuk pada serangan besar-besaran militer AS dan pasukan mitra terhadap target ekstremis ISIS di Suriah pada sore hari 10 Januari, sebagai respons atas serangan kelompok tersebut pada Desember lalu yang menewaskan tiga warga Amerika. Washington menegaskan komitmennya untuk terus memburu ekstremis yang mengancam keselamatan warga AS di mana pun berada.

Rencana Kontinjensi AS terhadap Iran

Pada 10 Januari, The Wall Street Journal melaporkan bahwa pemerintahan Trump tengah menyusun rencana awal untuk kemungkinan menyerang Iran, termasuk opsi serangan udara besar-besaran terhadap target militer Iran. Diskusi tersebut mencakup penentuan lokasi potensial sebagai sasaran, meski hingga kini belum ada konsensus maupun pengerahan pasukan, dan pembahasan disebut masih bersifat rutin.

Trump sendiri menulis di Truth Social bahwa Iran sedang berjuang untuk kebebasan dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan Amerika Serikat siap memberikan bantuan kapan pun diperlukan. Dia juga memperingatkan Teheran agar tidak menembaki rakyatnya, dengan ancaman balasan dari AS jika peringatan tersebut diabaikan.

Harapan Baru di Tengah Krisis

Sementara itu, Panahi, seorang tokoh Iran yang kini berada di luar negeri, menulis di platform X bahwa sejak ia dan keluarganya melarikan diri dari rezim Islam, ia tidak pernah kembali ke Iran. Menurutnya, dengan Trump kembali ke Gedung Putih, para pejuang kebebasan Iran kini melihat harapan baru untuk menantang dan mengalahkan kekuasaan para mullah fanatik.