Kaum Muda Ramai-Ramai Membuat Wasiat, Pakar : Bentuk Perlindungan Diri Pasif di Tengah Kekacauan Sosial

EtIndonesia.com  Beberapa tahun terakhir berbagai bencana alam dan musibah terus terjadi di Tiongkok, sementara kasus kematian mendadak di kalangan usia muda dan produktif dilaporkan meningkat. Semakin banyak anak muda mulai membuat wasiat sejak dini. 

Para analis menilai bahwa tren “wasiat di usia muda” mencerminkan kecemasan sistemik yang ditimbulkan oleh memburuknya kondisi ekonomi dan kekacauan sosial, sekaligus menjadi sinyal bahwa generasi muda telah kehilangan kepercayaan terhadap masa depan.

Dalam pandangan tradisional, membuat wasiat biasanya dianggap sebagai sesuatu yang dilakukan oleh orang lanjut usia. Namun kini, membuat wasiat secara bertahap menjadi pilihan di kalangan anak muda Tiongkok.

Mahasiswa perguruan tinggi di daratan Tiongkok :  “Saya berusia 20 tahun dan sekarang mahasiswa tingkat tiga. Menurut saya, mengikuti proses pembuatan wasiat juga merupakan salah satu cara untuk merenungkan kehidupan saya.”

Siswa sekolah menengah atas di Tiongkok daratan:  “Saya baru berusia 18 tahun. Menurut saya, hal ini memang seharusnya dilakukan. Ini merupakan bentuk pengaturan kehidupan yang lebih baik.”

Seorang pekerja industri internet berusia 26 tahun bermarga Jiang mengatakan bahwa beberapa temannya meninggal secara tiba-tiba akibat kecelakaan. Hal itu membuatnya memutuskan untuk membuat wasiat lebih awal. Jika sesuatu terjadi pada dirinya, keluarganya tidak perlu menghadapi kekacauan dalam mengurus harta maupun pemakaman.

Menurut Buku Putih Tahunan 2025 China Will Registration Center, jumlah orang berusia di bawah 30 tahun yang membuat wasiat meningkat 42,3% dibandingkan 2024. Tahun lalu, jumlah wasiat yang didaftarkan oleh generasi yang lahir pada tahun 2000-an telah melampaui 200 dokumen, menunjukkan bahwa generasi muda semakin cepat mulai merencanakan urusan setelah kematian.

Wakil direktur kantor notaris internet di Hangzhou mengatakan, ketika dirinya mulai bekerja dalam layanan notarisasi wasiat pada 2006, sebagian besar orang yang datang adalah lansia berusia 70–80 tahun. Kini, anak muda yang baru berusia 18 tahun datang untuk berkonsultasi dan membuat wasiat sudah menjadi hal yang sangat umum.

Isi wasiat kaum muda juga tidak lagi terbatas pada aset tradisional seperti rumah dan tabungan. Akun gim, akun media sosial, perawatan hewan peliharaan, keinginan untuk mendonorkan organ, hingga pengaturan pemakaman pribadi kini turut dimasukkan dalam perencanaan wasiat.

Selain itu, seiring bertambahnya jumlah orang yang lajang, bercerai, dan tinggal sendirian, layanan kombinasi “perwalian yang ditentukan sebelumnya + wasiat” juga semakin mendapat perhatian.

Pada Desember tahun lalu, seorang perempuan lajang yang tinggal sendirian di Shanghai, bermarga Jiang, meninggal dunia dan meninggalkan harta sekitar 3 juta yuan RMB. Karena tidak memiliki ahli waris, harta tersebut akhirnya diterima oleh departemen urusan sipil. 

Ketika Jiang menjalani perawatan darurat di rumah sakit, kerabat jauhnya yang mengurus pemakaman bahkan tidak dapat menggunakan sepeser pun dari hartanya untuk membayar biaya pengobatan, pemakaman, maupun membeli makam. Kasus ini membuat banyak orang mulai menyadari pentingnya mengatur urusan setelah kematian sejak dini.

Influencer internet dari daratan Tiongkok :  “Kasus Nyonya Jiang juga menjadi peringatan bagi kita. Kita memang perlu secepatnya membuat pengaturan mengenai ‘perwalian yang ditentukan sebelumnya’.”

Mengenai tren anak muda di Tiongkok daratan yang ramai-ramai membuat wasiat, cendekiawan independen Lai Jianping menilai bahwa fenomena tersebut mencerminkan ketidakpastian yang semakin besar yang dirasakan kaum muda terhadap masa depan.

Lai Jianping, mantan pengacara Beijing dan cendekiawan independen:  “Semua orang semakin merasakan bahwa masyarakat Tiongkok saat ini berada dalam kondisi kacau dan kehilangan norma. Dalam bidang ekonomi, lapangan pekerjaan, pernikahan, keluarga, maupun hubungan asmara, semuanya tampak kacau, penuh risiko dan ketidakpastian.”

Lai Jianping mengatakan banyak anak muda tidak mampu mengubah lingkungan sosial yang mereka hadapi. Karena itu, mereka hanya dapat mengatur urusan setelah kematian sejak dini untuk mengurangi konflik dan penyesalan apabila terjadi sesuatu yang tidak terduga.

 “Berbagai faktor ekonomi dan sosial menumpuk menjadi satu, sehingga mereka merasa cemas dan putus asa serta menganggap tidak ada jalan keluar. Namun, mereka juga tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah-masalah mendasar tersebut,” katanya. 

“Jadi, mereka hanya dapat melakukan perlindungan diri secara pasif dan defensif. Mereka berpikir, seandainya besok saya meninggal karena alasan apa pun, setidaknya jika saya sudah membuat pengaturan sebelumnya, saya telah menjalankan tanggung jawab dasar saya,” ujarnya. 

Zhang Junjie, seorang mahasiswa asal Tiongkok daratan yang sedang menempuh pendidikan di Amerika Serikat, mengatakan bahwa tren anak muda membuat wasiat merupakan tanda bahwa kekuatan spiritual masyarakat Tiongkok sedang perlahan runtuh dan disebut sebagai pertanda bahwa rezim otoriter akan menuju kehancuran.

 “Semakin banyak orang sekarang menyadari bahwa hari esok belum tentu lebih baik daripada hari ini, dan tahun depan belum tentu lebih baik daripada tahun ini. Nasib dan kehidupan generasi berikutnya sudah berada dalam keadaan yang tidak dapat diprediksi,” katanya. 

“Semakin banyak anak muda yang hidup dalam ketakutan, kebingungan, dan kecemasan, serta semakin kehilangan kepercayaan terhadap masyarakat Tiongkok. Melalui cara seperti membuat wasiat, mereka juga menyampaikan perlawanan dan ketidakpuasan secara diam-diam terhadap masyarakat Tiongkok,” ujarnya. 

Di internet, sebuah pertanyaan yang berbunyi, “Apakah kamu bangga telah membuat anak-anak muda hidup dalam ketakutan dan kecemasan seperti ini?”, telah beredar luas dan dianggap mewakili suara banyak warganet di daratan Tiongkok.

Komunisme Menyusup ke Amerika Serikat, Analis: Merebut Kekuasaan dengan Kemasan Sosialisme

EtIndonesia.com  Dalam beberapa waktu terakhir, kekuatan sosialisme demokratik di Amerika Serikat berulang kali mencatat terobosan dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat di sejumlah negara bagian, sehingga pengaruhnya semakin meluas. 

Para analis menilai, sebagian politisi sengaja mengaburkan posisi mereka mengenai sosialisme dan menggunakan slogan seperti demokrasi dan kesetaraan untuk membungkus gagasan-gagasan radikal. Tujuannya, menurut mereka, adalah masuk terlebih dahulu ke dalam sistem politik Amerika, kemudian secara bertahap mendorong agenda politik tersebut.

Kasus terbaru terjadi di Florida. Politisi progresif Angie Nixon secara mengejutkan memenangkan nominasi Partai Demokrat untuk kursi senator. Pada saat yang sama, jumlah anggota organisasi Democratic Socialists of America (DSA) telah melampaui 120.000 orang, menjadikannya salah satu organisasi sosialis terbesar di Amerika Serikat.

Pada 19 Agustus, The Hill menerbitkan sebuah komentar yang menyebut bahwa kekuatan sosialis secara bertahap memasuki politik Amerika dengan menggunakan strategi “membuat orang percaya bahwa mereka tidak ada.”

Artikel tersebut mengatakan bahwa platform politik DSA cukup radikal. Organisasi itu disebut mendukung pembentukan apa yang disebut “Republik Sosialis Demokratik”, termasuk menghapus Electoral College, Senat, jabatan presiden, dan Mahkamah Agung, kemudian membangun kembali sistem politik yang disebut “sistem unikameral” atau parlemen satu kamar.

Namun, persoalannya adalah bahwa gagasan-gagasan tersebut jarang secara terbuka dibahas dalam kampanye sejumlah kandidat. Bahkan ketika media menanyakan apakah para kandidat mendukung gagasan tersebut, sebagian memilih menghindar atau sengaja mengecilkan hubungan mereka dengan DSA.

The Hill menyatakan bahwa para kandidat berusaha mengurangi penonjolan identitas sosialis mereka selama kampanye, dengan terlebih dahulu mendapatkan suara pemilih dan kemudian masuk ke dalam sistem politik.

Terkait hal tersebut, Dr. Wang Juntao mengatakan bahwa bahaya sosialisme tidak hanya terletak pada aspek ekonomi, tetapi juga pada konsentrasi kekuasaan yang dapat mengarah pada korupsi dan pemerintahan totaliter. Menurutnya, sistem politik yang telah lama diterapkan Partai Komunis Tiongkok (PKT) merupakan contoh konsentrasi kekuasaan yang sangat tinggi.

“Pada kenyataannya, semua negara yang menerapkan sosialisme telah mengalami kegagalan, sedangkan negara-negara yang mengikuti kapitalisme ala Amerika justru berhasil. Tanpa kebebasan, masyarakat pada akhirnya akan dengan cepat mengalami stagnasi. Monopoli kekuasaan akan menyebabkan korupsi. Karena itu, karakteristik sosialisme adalah membangun sistem totaliter,” ujar Wang Juntao, Ketua Komite Nasional Partai Demokrasi Tiongkok. 

Para analis menilai, hal yang benar-benar perlu diwaspadai adalah ketika seseorang menyembunyikan agenda sosialisme radikal di balik layar, kemudian mengemasnya dengan istilah demokrasi, kesetaraan, dan kemajuan untuk mengurangi kewaspadaan masyarakat dan memperoleh kekuasaan politik.

“Lebih tepatnya, sosialisme di Amerika bukan sedang bangkit dengan cepat, melainkan sedang berjuang dalam kondisi sekarat. Sejak awal 1990-an, setelah berakhirnya Perang Dingin, dunia Barat memasuki era globalisasi ekonomi,” ujar Komentator isu terkini Lan Shu. 

“Nilai-nilai yang dianggap sesuai dengan era globalisasi ekonomi tersebut adalah pluralisme, inklusivitas, dan kesetaraan. Namun, seiring dunia Barat semakin jelas melihat bahwa PKT sedang menjadi ancaman keamanan terbesar bagi dunia, serta model PKT mengalami kegagalan dengan cepat dalam beberapa tahun terakhir, hal itu juga berarti bahwa kekuatan politik di Amerika yang menyebut dirinya sosialis tersebut telah berada di ujung jalan. Pada akhirnya, mereka akan terkubur bersama dengan berakhirnya era globalisasi ekonomi,” ujarnya. 

Laporan New Tang Dynasty Television oleh Yi Xin dan Qiu Yue.

Gempa Magnitudo 6,7 Mengguncang Peru, Getaran Dahsyat, Longsor dan Bangunan Roboh Terekam Kamera  

EtIndonesia.com  Pada Kamis (20/8) sore, gempa bumi berkekuatan 6,7 magnitudo mengguncang Peru. Guncangan terasa kuat di sejumlah wilayah, bahkan hingga ibu kota Lima. Setidaknya 3 orang terluka dan puluhan bangunan dilaporkan mengalami kerusakan.

Menurut pengukuran Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), sekitar pukul 13.00 waktu setempat pada 20 Agustus (pukul 02.00 dini hari 21 Agustus waktu Beijing), gempa berkekuatan 6,7 magnitudo terjadi di Peru. Episentrum berada pada koordinat 14,641° LS dan 73,524° BB, dengan kedalaman sekitar 99 kilometer. Pusat gempa berada di Pegunungan Andes, sekitar 31 kilometer barat laut Aniso, di wilayah Ayacucho.

Institut Geofisika Peru (IGP) pada awalnya memperkirakan kekuatan gempa mencapai 7,2 magnitudo.

Direktur IGP Hernando Tavera mengatakan, karena pusat gempa berada cukup dalam, energi gempa telah melemah secara signifikan ketika merambat ke permukaan. Kondisi tersebut membantu mencegah terjadinya kerusakan yang lebih parah.

Gempa ini berdampak cukup luas. Sejumlah provinsi merasakan guncangan dengan intensitas sedang hingga kuat. Longsor terjadi di sekitar episentrum sehingga warga setempat segera mengungsi. Guncangan juga terasa jelas di Lima serta wilayah Ica, Arequipa, Huancavelica, Apurímac dan Cusco. Tidak ada risiko tsunami akibat gempa itu.

Video yang beredar di platform X dari lokasi kejadian memperlihatkan Pegunungan Andes di sekitar episentrum mengalami longsor akibat guncangan hebat, disertai kepulan debu putih dalam jumlah besar. Dalam beberapa rekaman, bangunan berguncang hebat hingga roboh, sementara kendaraan rusak tertimpa puing-puing batu bata. Warga terlihat panik dan berusaha menyelamatkan diri.

Media lokal melaporkan bahwa di kota-kota pegunungan Puquio dan Coracora yang relatif dekat dengan episentrum, guncangan terasa sangat kuat. Warga mengatakan tanah berguncang dengan jelas dan berlangsung cukup lama. Banyak orang segera berlari keluar rumah karena khawatir bangunan mereka mengalami kerusakan.

Wali Kota Coracora, Yony Odon, mengatakan masyarakat merespons dengan cepat dan segera meninggalkan bangunan untuk mencari tempat berlindung.

Menurut laporan televisi nasional Peru, berdasarkan laporan awal, gempa tersebut telah menyebabkan 3 orang terluka. Sedikitnya 22 rumah, 6 sekolah, dan 12 pusat layanan kesehatan mengalami kerusakan. Pihak berwenang masih terus melakukan penilaian terhadap dampak bencana.

Peru terletak di kawasan Cincin Api Pasifik, salah satu wilayah dengan aktivitas gempa paling tinggi di dunia. Pada 18 Juli tahun ini, gempa berkekuatan 5,5 magnitudo juga mengguncang kawasan Andes di Peru dan menyebabkan sedikitnya 6 orang meninggal dunia serta lebih dari 30 orang terluka.

Pada 2007, gempa dahsyat berkekuatan 7,9 magnitudo mengguncang wilayah Ica, Peru, dan menewaskan hampir 600 orang. (***)

Bagaimana Topi Biasa Menjadi Simbol Jabatan dalam Sejarah Tradisional Tiongkok

Topi kasa hitam pada awalnya hanyalah penutup kepala sehari-hari yang dikenakan baik oleh rakyat biasa maupun para juru tulis. Dibutuhkan waktu sekitar seribu tahun—serta sebuah aturan berpakaian yang ditetapkan seorang kaisar—untuk mengubahnya menjadi simbol kekuasaan politik yang hingga kini masih membentuk bahasa Tionghoa.

Dalam bahasa Tionghoa, memperoleh jabatan pemerintahan hingga kini masih disebut sebagai “mengenakan topi kasa hitam”, sedangkan diberhentikan dari jabatan disebut “topi kasa hitamnya dilepas.” Seorang pejabat yang mengkhawatirkan kariernya dikatakan sedang berusaha “mempertahankan topi kasa hitamnya.”

Gambaran tersebut begitu umum dalam drama sejarah maupun percakapan sehari-hari sehingga seolah-olah berasal dari masa awal kemunculan birokrasi Tiongkok. 

Padahal, topi kasa hitam, atau wushamao, pada awalnya merupakan penutup kepala biasa yang dapat dikenakan siapa saja. Baru setelah berabad-abad terjadi perubahan bertahap dalam cara para penguasa Tiongkok mengatur pakaian birokrat, topi tersebut berubah menjadi lambang jabatan.

Sebelum Ada “Topi”, Ada Penutup Kepala Upacara

Kata mao, yang berarti “topi”, sebenarnya bukan istilah kuno. Pada era sebelum Dinasti Qin, sebelum abad ke-3 SM, teks-teks Tiongkok menggunakan berbagai istilah lain untuk menyebut penutup kepala, seperti guan, bian, ze, atau istilah umum touyi, yang berarti “pakaian kepala”.

Yang paling penting di antaranya adalah guan, yakni penutup kepala resmi yang dikenakan seorang pemuda dalam upacara kedewasaan untuk menandai peralihannya menjadi orang dewasa sekaligus pengakuan atas kedudukan sosialnya.

Kitab tata upacara klasik yang dikenal sebagai Yili menyebut seperangkat pakaian dewasa pertama tersebut sebagai yuanfu, yaitu pakaian resmi yang dikenakan seorang pria setelah mencapai usia dewasa.

Kata sehari-hari mao baru menyebar kemudian, setelah periode Han dan Wei, kira-kira mulai abad ke-3 Masehi.

Mode Dinasti Jin Timur yang Bisa Dipakai Siapa Saja

Asal-usul topi kasa hitam dapat ditelusuri hingga Dinasti Jin Timur pada abad ke-4 Masehi. Pada masa itu, para pelayan dan pejabat di istana kekaisaran mulai mengenakan topi yang terbuat dari kain kasa sutra hitam.

Bahan tersebut kemudian memberikan nama pada topi itu: wu berarti “hitam”, sedangkan sha berarti “kasa sutra halus”.

Catatan sejarah menempatkan penggunaan topi semacam itu di lingkungan istana pada masa pemerintahan Kaisar Cheng dari Jin, dan berbagai bentuk baru kemudian muncul pada masa Dinasti Liu Song di wilayah selatan.

Pada tahap ini, topi tersebut belum menunjukkan pangkat ataupun kewenangan. Ia masih merupakan penutup kepala kasual yang umum. Para pejabat memakainya, tetapi para sarjana dan rakyat biasa juga mengenakannya. Topi itu sama sekali belum menunjukkan posisi seseorang.

Zhu Yuanzhang, pendiri Dinasti Ming, yang melalui aturan berpakaian pada 1370 menetapkan topi kasa hitam sebagai bagian wajib dari pakaian resmi setiap pejabat. (Gambar: National Palace Museum, Taipei)

Dinasti Sui Memasukkan Topi ke Dalam Aturan Resmi

Pada masa Dinasti Sui, yang menyatukan kembali Tiongkok pada akhir abad ke-6, topi kasa hitam untuk pertama kalinya masuk ke dalam aturan resmi mengenai pakaian pejabat.

Sejarah kelembagaan era Tang yang dikenal sebagai Tongdian mencatat bahwa pada tahun-tahun awal pemerintahan Kaihuang, pendiri Dinasti Sui, Kaisar Wen, mengizinkan semua orang, mulai dari menteri senior istana hingga juru tulis junior, mengenakan topi kasa hitam ketika menghadap ke istana.

Topi tersebut telah berubah menjadi bagian yang diakui dari pakaian resmi, bukan lagi sekadar penutup kepala yang dikenakan di jalan.

Namun, pangkat masih ditentukan oleh keseluruhan pakaian, termasuk warna jubah, ikat pinggang, dan hiasannya, bukan oleh topi semata.

Sebuah ungkapan populer yang muncul kemudian menyebutkan bahwa topi pejabat tingkat pertama memiliki sembilan keping batu giok, pejabat tingkat kedua memiliki delapan, dan seterusnya. Namun, hal tersebut merupakan bagian dari tradisi rakyat. Kedudukan resmi seorang pejabat tidak pernah ditentukan hanya dengan menghitung jumlah batu giok pada topinya.

Pada Masa Tang, Topi Tetap Dipakai Berbagai Pangkat

Dinasti Tang, yang menggantikan Sui pada abad ke-7, mempertahankan sistem tersebut. Topi kasa hitam tetap menjadi pakaian standar bagi pejabat sipil maupun militer dan semakin kuat diasosiasikan dengan citra publik seorang pejabat.

Meski demikian, topi tersebut belum menjadi tanda eksklusif jabatan.

Orang-orang dari berbagai pangkat dan status sosial masih mengenakan topi kasa hitam dalam berbagai bentuk. Belum ada hubungan yang benar-benar ketat dan baku antara topi tersebut dengan tingkat tertentu dalam birokrasi.

Kaisar Taizu dari Dinasti Song, pendiri Dinasti Song, mengenakan topi bersayap yang dikenal sebagai futou. (Gambar: National Palace Museum, Taipei)

Pejabat Song dan Topi dengan “Sayap” Panjang

Pada masa Dinasti Song, mulai abad ke-10, bentuk topi pejabat mengalami perubahan besar.

Ciri yang paling menonjol adalah sepasang “sayap” datar dan panjang yang memanjang ke kedua sisi kepala. Generasi berikutnya menyebutnya sebagai futou bersayap terbuka (spread-wing futou), sementara futou merupakan istilah untuk model penutup kepala lunak tersebut.

Selama berabad-abad, beredar sebuah kisah mengenai asal-usul sayap panjang itu.

Menurut kisah tersebut, pendiri Dinasti Song, Zhao Kuangyin, memerintahkan agar sayap topi dibuat lebih panjang untuk mencegah para menterinya saling berdekatan dan berbisik ketika berada dalam sidang.

Dengan topi yang begitu lebar, para pejabat tidak bisa berdiri terlalu dekat satu sama lain. Jika mereka menoleh untuk membisikkan sesuatu kepada rekannya, gerakan tersebut akan segera terlihat oleh kaisar.

Kisah itu berulang kali muncul dalam sejarah populer, film, dan serial televisi.

Namun, sejarah resmi Dinasti Song, termasuk Songshi, tidak mencatat adanya perintah semacam itu. Karena itu, sebagian besar peneliti menganggap sayap panjang tersebut lebih mungkin merupakan hasil dari tradisi ritual, perubahan selera mode, dan perkembangan alami pakaian istana, bukan alat pengawasan yang sengaja dirancang untuk mencegah para pejabat mengobrol.

Kisah tentang kaisar yang ingin menghentikan para menterinya berbisik memang menarik, tetapi kemungkinan besar hanya sebuah cerita populer.

Dinasti Ming Menjadikan Topi sebagai Simbol “Pejabat”

Topi kasa hitam benar-benar menjadi simbol jabatan pada masa Dinasti Ming.

Setelah mendirikan Dinasti Ming pada 1368, kaisar pertamanya, Zhu Yuanzhang, menetapkan aturan baru yang menyeluruh mengenai pakaian pejabat.

Sejarah resmi Dinasti Ming, dalam bagian yang membahas aturan kendaraan dan pakaian, mencatat bahwa pada tahun ketiga pemerintahan Hongwu, yakni 1370, ditetapkan bahwa untuk urusan pemerintahan sehari-hari di istana, para pejabat harus mengenakan topi kasa hitam, jubah berkerah bulat, dan ikat pinggang sebagai pakaian resmi.

Sejak saat itu, topi tersebut menjadi bagian wajib dari pakaian resmi setiap pejabat ketika menjalankan tugas di istana.

Hukum Dinasti Ming melarang rakyat biasa mengenakan pakaian resmi pejabat. Akibatnya, topi kasa hitam menjadi terikat erat dan permanen dengan status sebagai pejabat.

Ungkapan “mengenakan topi kasa hitam” kemudian berkembang menjadi cara umum untuk mengatakan bahwa seseorang memegang jabatan pemerintahan. Sebaliknya, “kehilangan topi kasa hitam” berarti seseorang telah kehilangan atau dicopot dari jabatannya.

Kedua ungkapan tersebut masih digunakan dalam bahasa Tionghoa hingga sekarang.

Dinasti Qing Menghapus Topinya, tetapi Mempertahankan Istilahnya

Ketika Dinasti Qing berkuasa pada 1644, sistem pakaian pejabat dirombak secara menyeluruh.

Para pejabat beralih menggunakan topi bergaya Manchu. Pangkat kini ditunjukkan melalui sistem baru berupa manik-manik berwarna dan bulu merak yang dipasang pada topi.

Topi kasa hitam peninggalan Dinasti Ming pun menghilang dari panggung sejarah.

Pada masa awal peralihan antar-dinasti, sejumlah daerah masih mempertahankan pakaian model Ming untuk sementara waktu. Namun, setelah pemerintahan Qing semakin mapan, aturan berpakaian baru sepenuhnya menggantikan topi Ming.

Topi itu memang sudah tidak lagi berada di kepala para pejabat, tetapi kata-kata yang berkaitan dengannya tetap hidup.

Karena topi kasa hitam telah menjadi simbol pangkat dan jabatan selama Dinasti Ming, istilah tersebut terus bertahan dalam bahasa Tionghoa sebagai lambang jabatan, karier, dan kekuasaan.

Sepotong kain kasa hitam yang pada abad ke-4 pernah dikenakan secara setara oleh pejabat istana maupun rakyat biasa, sekitar seribu tahun kemudian berubah menjadi simbol kekuasaan politik itu sendiri.

Dinasti Qing mengirim topi tersebut ke museum sejarah, tetapi kata-katanya justru bertahan jauh lebih lama. Hingga sekarang, dalam bahasa Tionghoa, naik-turunnya nasib seorang pejabat masih digambarkan melalui sebuah topi yang hampir tidak pernah dikenakan orang selama tiga abad terakhir.

Oleh Xiao Guang, Vision Times

Rusia Dihantam dari 9 Titik! Ukraina Mulai Putus Urat Nadi Pasukan Putin

EtIndonesia.com— Ukraina kembali meningkatkan tekanan terhadap jaringan logistik dan fasilitas militer Rusia di wilayah pendudukan. Dalam rangkaian serangan yang berlangsung pada malam 18 Agustus hingga dini hari 19 Agustus 2026, pasukan pertahanan Ukraina menyerang sedikitnya sembilan sasaran yang tersebar mulai dari Zaporizhzhia, Donetsk, Luhansk, Kherson hingga Semenanjung Krimea.

Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina mengonfirmasi bahwa salah satu sasaran penting adalah jembatan jalan raya di atas Sungai Molochna, dekat Molochansk, Oblast Zaporizhzhia. Menurut pihak Ukraina, jembatan tersebut digunakan pasukan Rusia untuk mendukung logistik militernya.

Serangan ini menjadi penting karena terjadi hanya sekitar dua pekan setelah Ukraina menghantam jalur transportasi lain yang melintasi sungai yang sama.

Pada 4 Agustus 2026, militer Ukraina secara resmi mengumumkan telah menyerang jembatan kereta api di atas Sungai Molochna dekat Svitlodolynske, sekitar 50 kilometer dari garis depan. Ukraina menyebut jalur tersebut digunakan Rusia untuk kebutuhan logistik militer serta pemindahan pasukan dan peralatan.

Dengan serangan terbaru di Molochansk, dua jenis jalur transportasi—kereta api dan jalan raya—yang berada di koridor Sungai Molochna kini telah menjadi sasaran dalam rentang sekitar dua minggu.

Pola ini menunjukkan bahwa Ukraina tidak semata-mata berusaha menghancurkan kendaraan atau pasukan Rusia secara langsung, tetapi semakin sistematis menekan jaringan transportasi yang menopang operasi Rusia di garis depan.

Sembilan Sasaran dalam Satu Malam

Serangan malam 18–19 Agustus tidak hanya diarahkan ke Zaporizhzhia.

Menurut Staf Umum Ukraina, tiga fasilitas penyimpanan drone Rusia juga diserang di sekitar Novopetrykivka dan Novotroitske di Oblast Donetsk serta Lobacheve di Oblast Luhansk.

Di wilayah pendudukan Krimea, Ukraina menyerang sebuah repeater darat yang digunakan untuk mengendalikan drone serang Geran dan Gerbera di sekitar Olenivka.

Sementara di Oblast Kherson, sebuah stasiun kendali darat drone Rusia dekat Verkhnii Rohachyk turut menjadi sasaran.

Operasi kemudian berlanjut ke Luhansk. Ukraina melaporkan serangan terhadap gudang logistik di Kadiivka dan sebuah lokasi konsentrasi persenjataan serta perlengkapan militer Rusia di sekitar Lysychansk. Besarnya kerusakan dan kerugian Rusia masih dalam proses penilaian.

Jika dihitung berdasarkan lokasi yang diumumkan, rangkaian tersebut memperlihatkan serangan terkoordinasi terhadap sembilan sasaran berbeda.

Targetnya juga memiliki pola yang jelas: jembatan, gudang logistik, penyimpanan drone, sistem kendali drone, serta konsentrasi peralatan militer.

Jembatan Menjadi Sasaran Strategis

Jembatan memiliki nilai sangat besar dalam perang darat karena menjadi penghubung bagi truk logistik, kendaraan lapis baja, amunisi, bahan bakar, pasukan tambahan hingga peralatan teknik.

Apabila satu jalur penyeberangan rusak, pasukan harus mencari rute alternatif. Akibatnya, perjalanan menjadi lebih panjang dan kepadatan kendaraan dapat meningkat di koridor pengganti.

Bagi Ukraina, menyerang jaringan seperti ini memberikan keuntungan strategis: satu serangan terhadap simpul transportasi berpotensi menghasilkan dampak yang jauh lebih luas dibandingkan hanya menghancurkan sebuah kendaraan di garis depan.

Kementerian Pertahanan Ukraina sendiri menyatakan bahwa penghancuran jaringan logistik memang telah menjadi bagian penting dari kampanye serangan jarak menengahnya. Sepanjang Juli 2026, Ukraina mengklaim telah menyerang 14 jembatan jalan raya, jembatan kereta api, jalan layang dan penyeberangan ponton yang digunakan Rusia untuk kepentingan militer. Operasi itu difokuskan terutama di Donetsk, Luhansk, Kherson, Zaporizhzhia dan Krimea.

Artinya, serangan terhadap jembatan di Molochansk bukanlah insiden yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari pola operasi yang lebih luas.

Strategi Mengisolasi Garis Depan

Tujuan akhirnya tampaknya adalah menciptakan tekanan terhadap pasukan Rusia tanpa selalu harus melancarkan serangan frontal berskala besar.

Dalam pertempuran langsung, pihak penyerang biasanya menghadapi risiko korban tinggi karena harus menembus parit, ranjau, drone FPV, artileri serta posisi pertahanan yang telah dipersiapkan.

Sebaliknya, apabila gudang amunisi, pusat kendali drone dan jalur transportasi di belakang garis depan dapat dihancurkan, kemampuan pasukan di depan untuk terus bertempur berpotensi menurun.

Pasukan mungkin masih memiliki tank dan artileri, tetapi semuanya bergantung pada bahan bakar, amunisi, suku cadang dan personel yang harus terus dikirim dari belakang.

Itulah mengapa perang logistik kini menjadi salah satu elemen penting dalam pertempuran Rusia-Ukraina.

Serangan terbaru juga terjadi ketika Rusia masih menjalankan operasi ofensif di beberapa sektor. Institute for the Study of War mencatat bahwa pada 18–19 Agustus 2026, pasukan Rusia tetap melakukan operasi ofensif di arah Hulyaipole dan Zaporizhzhia barat, meskipun belum terdapat kemajuan Rusia yang terkonfirmasi di sejumlah sektor tersebut.

Dengan demikian, Ukraina tampaknya berusaha menyerang bukan hanya pasukan yang sedang bergerak maju, tetapi juga sistem yang memungkinkan pergerakan itu terus berlangsung.

Perang Berubah Menjadi Pertarungan Jaringan Logistik

Rangkaian serangan pada 18–19 Agustus memperlihatkan bagaimana karakter perang semakin berkembang.

Pertempuran tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang mampu menguasai sebuah desa atau mempertahankan garis parit. Jaringan komunikasi, gudang, jembatan, pusat kendali drone dan koridor transportasi puluhan kilometer di belakang garis depan kini sama pentingnya dengan posisi tempur itu sendiri.

Bagi Rusia, tantangannya adalah menjaga agar jaringan tersebut tetap berfungsi meskipun terus berada dalam jangkauan drone dan persenjataan presisi Ukraina.

Sementara bagi Ukraina, keberhasilan menghancurkan satu jembatan belum tentu langsung mengubah situasi di medan perang. Rusia masih dapat membangun jalur alternatif, menggunakan jembatan ponton atau memperbaiki infrastruktur yang rusak.

Namun apabila serangan dilakukan berulang kali terhadap banyak simpul sekaligus, beban terhadap sistem logistik akan terus meningkat.

Itulah gambaran yang terlihat pada 19 Agustus 2026: Ukraina berusaha menyerang jaringan pendukung Rusia secara luas—dari Sungai Molochna hingga Donbas, Kherson dan Krimea.

Targetnya bukan hanya menghancurkan fasilitas satu per satu, tetapi membuat pasukan Rusia di garis depan semakin sulit memperoleh pasokan, mengoperasikan drone, memindahkan perlengkapan dan mempertahankan tempo serangannya.

Dalam perang berkepanjangan seperti ini, sebuah jembatan mungkin terlihat sebagai sasaran sederhana. Namun ketika jembatan, gudang, pusat kendali dan jalur suplai dihantam secara bersamaan, dampaknya dapat menjalar jauh melampaui lokasi ledakan itu sendiri. (***)

Trump Balikkan Keadaan? Selat Hormuz yang Jadi Senjata Iran Kini Berubah Jadi Jebakan

EtIndonesia.com  — Pertarungan Amerika Serikat dan Iran kini semakin bergeser dari konfrontasi militer terbuka menuju perang ekonomi, energi, dan penguasaan jalur perdagangan. Pemerintahan Presiden Donald Trump berusaha meningkatkan tekanan terhadap Teheran melalui kombinasi blokade maritim, sanksi ekonomi, dan upaya menjaga aliran minyak dari kawasan Teluk tetap berjalan.

Namun, pertanyaan terbesar masih belum terjawab: apakah strategi tersebut benar-benar telah berhasil mengurangi kemampuan Iran menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tekanan terhadap dunia?

Jawabannya ternyata jauh lebih rumit.

CNN dalam laporan pada 17 Agustus 2026 menyoroti perbedaan besar antara data pemerintah Amerika Serikat dan perusahaan pelacak kapal mengenai jumlah minyak yang berhasil keluar dari kawasan Teluk.

Menurut angka yang dikutip CNN dari perusahaan pelacakan, sekitar 4 juta barel minyak per hari saat itu diperkirakan melewati Selat Hormuz. Setelah digabungkan dengan minyak yang dialihkan melalui jaringan pipa darat, totalnya diperkirakan mencapai sekitar 11 hingga 12 juta barel per hari.

Namun, pemerintah Trump memberikan angka lebih tinggi. Washington menyatakan sekitar 9 juta barel per hari dapat melewati Selat Hormuz. Jika digabungkan dengan jalur alternatif, jumlah keseluruhannya diperkirakan mencapai sekitar 15 hingga 16 juta barel per hari, jauh lebih dekat dengan tingkat sekitar 20 juta barel per hari sebelum perang.

Perbedaan tersebut sangat penting karena menentukan seberapa besar daya tawar Iran terhadap Washington.

Jika angka pemerintah AS benar, kemampuan Teheran menggunakan Selat Hormuz untuk menekan pasar energi global telah berkurang secara signifikan. Tetapi jika data perusahaan pelacak kapal lebih mendekati kenyataan, gangguan pasokan minyak masih sangat serius.

Data terbaru bahkan menunjukkan situasi belum dapat dikatakan normal.

Pada Kamis, 20 Agustus 2026, data Kpler yang dikutip Reuters menunjukkan hanya tujuh kapal komoditas melewati Selat Hormuz. Angka tersebut turun dari 14 kapal sehari sebelumnya dan tetap jauh di bawah tingkat normal sebelum konflik.

Kondisi itu sekaligus menunjukkan bahwa klaim mengenai pemulihan penuh jalur pelayaran harus diperlakukan dengan hati-hati.

Salah satu faktor yang membuat perhitungan semakin sulit adalah adanya kapal yang berlayar dengan transponder AIS dimatikan. Akibatnya, perusahaan pelacak komersial tidak selalu dapat memperoleh gambaran lengkap mengenai jumlah kapal dan minyak yang sebenarnya melewati kawasan tersebut.

Di sisi lain, negara-negara Teluk berusaha mengurangi ketergantungan terhadap Hormuz.

Arab Saudi memiliki jaringan pipa East-West, yang menghubungkan kawasan produksi minyak di bagian timur negara itu dengan fasilitas ekspor di Yanbu, pesisir Laut Merah.

Jalur tersebut memungkinkan minyak Saudi menghindari Selat Hormuz sepenuhnya. Kapasitas jaringan itu dapat mencapai sekitar 7 juta barel per hari dalam kondisi tertentu, meskipun tidak berarti seluruh kapasitas tersebut selalu digunakan untuk ekspor.

Strategi pengalihan semacam inilah yang menjadi salah satu senjata terpenting untuk mengurangi dampak gangguan Hormuz terhadap pasar energi dunia.

Pada saat bersamaan, Washington meningkatkan tekanan langsung terhadap Iran.

CENTCOM secara resmi mengumumkan bahwa blokade terhadap lalu lintas menuju dan keluar dari pelabuhan Iran kembali diberlakukan mulai 14 Juli 2026 pukul 16.00 waktu Amerika Serikat bagian timur.

Tujuan operasi tersebut bukan menutup seluruh perdagangan di kawasan Teluk, melainkan menghambat kapal yang menuju atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, sementara kapal lain yang tidak melanggar blokade tetap diperbolehkan melintas.

Tekanan itu kini diperluas ke sektor keuangan.

Pada 20 Agustus 2026, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington bersiap memberlakukan apa yang disebutnya sebagai sanksi paling keras terhadap Iran. Strateginya adalah meningkatkan tekanan ekonomi sedemikian rupa sehingga Washington dapat memperoleh konsesi dari Teheran tanpa harus memperluas operasi militer.

Di sinilah perhitungan politik Trump menjadi penting.

Pemilu paruh waktu Amerika Serikat akan berlangsung pada 3 November 2026, kurang dari tiga bulan lagi. Perang berkepanjangan, harga energi tinggi, serta keterlibatan militer yang semakin besar berpotensi menjadi persoalan politik bagi Gedung Putih.

Karena itu, strategi ekonomi menawarkan pilihan berbeda: melemahkan kemampuan Iran memperoleh pendapatan, mempersempit jaringan perdagangan internasionalnya, serta meningkatkan biaya ekonomi bagi negara atau perusahaan yang membantu Teheran.

Tetapi strategi tersebut juga membawa risiko besar.

Harga minyak belum kembali normal. Pada 21 Agustus 2026, Brent masih diperdagangkan di sekitar US$93 per barel, sementara WTI berada sekitar US$86 per barel. Pasar dengan demikian masih memperhitungkan risiko serius terhadap pasokan energi Timur Tengah.

Di tengah tekanan tersebut, jalur diplomasi juga terus dicoba.

Utusan Trump, Jared Kushner, melakukan pembicaraan di kawasan Timur Tengah ketika Washington berusaha mencari jalan keluar dari konflik. Namun perbedaan mendasar antara Amerika Serikat dan Iran mengenai program nuklir, sanksi, blokade, serta kendali pelayaran di Hormuz membuat kesepakatan tetap sulit dicapai.

Bagi pemerintahan Trump, sasaran strategisnya semakin jelas: menekan program nuklir Iran, mengurangi kemampuan Teheran memperoleh pendapatan minyak, dan membatasi dukungan finansial terhadap kelompok-kelompok bersenjata sekutunya di kawasan.

Karena itu, babak berikutnya kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh rudal, pesawat tempur, atau kapal perang.

Pertarungan sesungguhnya akan berlangsung pada rekening bank, tanker minyak, perusahaan pelayaran, jaringan pipa, pelabuhan, dan jalur perdagangan internasional.

Apabila Washington berhasil mempertahankan aliran energi dunia sambil pada saat yang sama memutus pendapatan Iran, tekanan terhadap Teheran dapat meningkat secara drastis.

Sebaliknya, apabila Iran masih mampu mengganggu Hormuz dan membuat harga minyak melonjak, Teheran tetap memiliki kartu tawar yang sangat kuat.

Dengan demikian, istilah “Pendaratan Normandia ekonomi” yang digunakan untuk menggambarkan strategi Trump mungkin terdengar dramatis, tetapi hasil akhirnya masih jauh dari pasti.

Yang jelas, memasuki 21 Agustus 2026, Selat Hormuz belum sepenuhnya kembali normal dan Iran belum kehilangan seluruh pengaruhnya. Namun Washington sedang berusaha keras mengubah sebuah jalur laut yang selama puluhan tahun menjadi sumber kekuatan strategis Iran menjadi titik tekanan ekonomi terhadap Teheran sendiri.

Pertanyaannya sekarang bukan sekadar siapa yang menguasai Selat Hormuz, tetapi siapa yang mampu bertahan paling lama dalam perang ekonomi yang semakin mahal ini. (***)

Iran Dikepung dari Segala Arah! Dubai Tutup Jalur, Ekspor Minyak Teheran Diklaim Jatuh ke Nol

EtIndonesia.com — Tekanan terhadap Iran kini memasuki fase yang semakin kompleks. Bukan hanya melalui sanksi Amerika Serikat dan blokade maritim, tetapi juga melalui upaya memutus jaringan perdagangan serta keuangan yang selama bertahun-tahun membantu Teheran mempertahankan aksesnya ke pasar internasional.

Dalam laporan yang terbit 20 Agustus 2026, The Wall Street Journal menilai keberhasilan strategi tekanan ekonomi Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan sangat bergantung pada satu titik penting: Dubai. Kota yang menjadi pusat perdagangan dan keuangan Uni Emirat Arab itu selama bertahun-tahun merupakan salah satu pintu utama Iran menuju sistem perdagangan global.

Iran selama ini dapat digambarkan memiliki semacam jaringan penopang berbentuk segitiga. Tiongkok berperan sebagai pembeli penting minyak Iran dan sumber pemasukan valuta asing. Rusia menjadi salah satu mitra strategis Teheran, termasuk dalam kerja sama pertahanan. Sementara Dubai memiliki peran berbeda tetapi tidak kalah penting, yakni sebagai pusat perdagangan, re-ekspor, perusahaan perantara, pertukaran mata uang, dan aktivitas keuangan yang menghubungkan Iran dengan negara ketiga.

Posisi Dubai menjadi sangat strategis karena Iran menghadapi pembatasan serius dalam mengakses sistem keuangan internasional akibat sanksi Barat. Karena itu, memutus hubungan Iran dengan Dubai berpotensi memberikan pukulan yang jauh melampaui perdagangan bilateral biasa.

Perubahan besar terjadi pada 19 Agustus 2026, ketika Uni Emirat Arab mengumumkan penghentian seluruh aktivitas perdagangan, pertukaran komersial dan transaksi keuangan dengan Iran hingga pemberitahuan lebih lanjut. Keputusan tersebut diumumkan setelah UEA menuduh Iran meluncurkan dua rudal balistik yang diarahkan ke lalu lintas maritim di kawasan Teluk. Iran membantah tuduhan tersebut.

Bagi Washington, keputusan Abu Dhabi memberikan momentum baru dalam kampanye untuk mempersempit ruang gerak ekonomi Teheran. Dubai selama ini bukan sekadar mitra dagang biasa. UEA juga merupakan pusat re-ekspor yang memungkinkan barang dari negara ketiga masuk ke Iran.

Dengan demikian, apabila pembatasan tersebut benar-benar diterapkan secara ketat, Iran berpotensi kehilangan salah satu jalur terpenting untuk mendapatkan barang, memindahkan uang, serta menjalankan transaksi internasional.

AS Memburu Jaringan Pemindahan Uang Tunai

Tekanan itu semakin kuat pada Kamis, 20 Agustus 2026, ketika Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan sanksi terhadap 10 individu yang dituduh terlibat dalam jaringan penyelundupan uang tunai untuk Hizbullah, kelompok Lebanon yang memiliki hubungan erat dengan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC-Quds Force.

Menurut Departemen Keuangan AS, jaringan tersebut menggunakan kurir yang bepergian melalui penerbangan komersial antara Iran, Turki, Uni Emirat Arab dan Lebanon. Washington menuduh jaringan itu membantu memindahkan uang tunai hingga bernilai ratusan juta dolar dengan memanfaatkan perusahaan kedok, tempat penukaran valuta asing serta berbagai saluran di luar sistem perbankan konvensional.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa strategi Washington tidak lagi hanya berfokus pada ekspor minyak Iran. Sasaran berikutnya adalah infrastruktur keuangan informal yang memungkinkan uang tetap bergerak ketika akses perbankan resmi dibatasi.

Jalur Oman Semakin Banyak Digunakan

Pada saat bersamaan, posisi Iran di Selat Hormuz juga menghadapi tekanan baru.

CNN dalam laporan 18 Agustus 2026, dengan mengutip data perusahaan analisis komoditas dan pelacakan kapal Kpler, melaporkan bahwa lebih dari 80 persen kapal yang melintasi Selat Hormuz dalam dua pekan sebelumnya menggunakan jalur di sisi Oman.

Angka tersebut penting karena sekitar satu bulan sebelumnya hampir tidak terdapat lalu lintas komersial melalui jalur tersebut. Homayoun Falakshahi, kepala analisis minyak mentah Kpler, menilai perkembangan itu mengindikasikan Iran setidaknya telah kehilangan sebagian kemampuannya mengendalikan pola lalu lintas kapal di selat tersebut.

Namun, kondisi tersebut tidak berarti Selat Hormuz telah sepenuhnya kembali normal. Risiko keamanan masih tinggi dan volume pelayaran secara keseluruhan tetap terdampak konflik. Karena itu, data 80 persen lebih tepat dibaca sebagai perubahan komposisi rute kapal yang masih melakukan transit, bukan berarti 80 persen dari volume pelayaran normal sebelum perang telah kembali.

USS George Washington Tiba di Timur Tengah

Tekanan militer Amerika juga diperkuat dengan kedatangan kelompok tempur kapal induk USS George Washington.

CENTCOM mengonfirmasi bahwa kelompok tempur tersebut memasuki kawasan tanggung jawabnya pada 19 Agustus 2026 dan kemudian beroperasi di Laut Arab. Kapal induk bertenaga nuklir itu diproyeksikan menggantikan USS Abraham Lincoln, yang telah menjalani pengerahan sangat panjang di kawasan tersebut.

Kehadiran George Washington memperlihatkan bahwa Washington masih mempertahankan kekuatan militer besar di kawasan meskipun strategi terhadap Iran kini semakin menonjolkan tekanan ekonomi.

Perlu dicatat, angka 67 kapal dagang yang dialihkan oleh CENTCOM sebenarnya telah diumumkan pada 13 Mei 2026, setelah empat minggu pertama pelaksanaan blokade, bukan merupakan angka baru per 20 Agustus. Pada saat itu CENTCOM juga menyatakan empat kapal telah dilumpuhkan untuk memastikan kepatuhan dan 15 kapal pembawa bantuan kemanusiaan diizinkan melintas.

Iran Akui Ekspor Minyak Jatuh ke Nol

Tekanan terbesar justru terlihat dari pernyataan pejabat Iran sendiri.

Dalam wawancara televisi pada 19 Agustus 2026, Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati secara terbuka mengakui bahwa ekspor minyak Iran telah jatuh hingga nol.

Menurut Hemmati, pembatasan ekspor, perang, sanksi Amerika Serikat dan persoalan akses terhadap cadangan devisa telah menciptakan kondisi yang sangat sulit.

“Ini adalah kenyataan bahwa kami tidak mengekspor minyak,” kata Hemmati.

Pernyataan tersebut menjadi sangat penting karena minyak selama bertahun-tahun merupakan salah satu sumber utama penerimaan valuta asing Iran. Data pelayaran sebelumnya juga menunjukkan aktivitas ekspor dari Pulau Kharg—terminal utama ekspor minyak Iran—telah mengalami penghentian sangat serius sejak akhir Juli.

Persoalan lain adalah dana Iran yang sebelumnya dijanjikan akan dibebaskan. Kesepakatan yang dibahas pada Juni 2026 mencakup pelepasan sekitar 12 miliar dolar AS aset Iran yang dibekukan, tetapi akses terhadap dana tersebut kemudian menjadi sumber perdebatan dan ketidakpastian.

Jika pendapatan minyak benar-benar terhenti sementara akses terhadap cadangan devisa tetap terbatas, kemampuan pemerintah membiayai impor, subsidi, operasi negara dan berbagai program domestik akan semakin tertekan.

Pada akhirnya, inilah yang membuat keputusan UEA memiliki arti strategis jauh lebih besar.

Iran kini menghadapi tekanan dari beberapa arah sekaligus: ekspor minyak yang tersendat, blokade maritim Amerika Serikat, sanksi sekunder, pemburuan jaringan keuangan informal, serta penutupan jalur perdagangan dan transaksi melalui UEA.

Jika seluruh langkah tersebut dapat dipertahankan dalam jangka panjang, strategi Washington bukan lagi sekadar membatasi satu sumber pendapatan Iran. Sasaran yang lebih besar adalah membongkar jaringan eksternal yang selama bertahun-tahun memungkinkan Teheran bertahan menghadapi sanksi.

Dan, dalam pertarungan ekonomi terbaru ini, Dubai kini berada tepat di pusat perhitungan Washington dan Teheran. (***)

Dunia Dibuat Tegang! F-16 NATO Hancurkan Drone Peledak, Rusia Picu Alarm Hingga Antarktika

EtIndonesia.com  Situasi keamanan internasional kembali menunjukkan peningkatan ketegangan pada Kamis, 20 Agustus 2026. Dalam rentang waktu yang hampir bersamaan, Rumania menghadapi ancaman kapal nirawak bermuatan bahan peledak di dekat proyek gas strategis Laut Hitam, aktivitas Rusia memicu peringatan keselamatan penerbangan menuju Antarktika, sementara Korea Utara meluncurkan sekitar 10 rudal balistik jarak pendek.

Rangkaian peristiwa tersebut terjadi di lokasi yang berjauhan, tetapi memperlihatkan bagaimana persaingan militer dan ketegangan geopolitik kini berdampak semakin luas terhadap infrastruktur energi, penerbangan internasional, dan keamanan kawasan.

F-16 Rumania Hancurkan Drone Laut Dekat Neptun Deep

Insiden paling serius terjadi di Laut Hitam pada 20 Agustus 2026, ketika Angkatan Udara Rumania mengerahkan dua pesawat tempur F-16 setelah sebuah kapal nirawak berukuran kecil ditemukan di Zona Ekonomi Eksklusif Rumania.

Menurut Kementerian Pertahanan Rumania, objek tersebut pertama kali dilaporkan sebuah kapal komersial sekitar pukul 06.28 waktu setempat. Lokasinya berada di dekat platform Neptun Alpha, sekitar 80 mil laut di sebelah timur Constanța. Salah satu F-16 kemudian melepaskan tembakan menggunakan kanon internal dan mengenai sasaran.

Menteri Pertahanan Rumania Radu Miruță mengatakan wahana tersebut membawa bahan peledak dan keberadaannya menimbulkan ancaman, terlebih karena terdapat ratusan pekerja di kawasan proyek tersebut. Setelah serangan F-16, kapal Penjaga Pantai yang membawa tim penjinak bahan peledak Angkatan Laut Rumania dikirim untuk memeriksa lokasi.

Insiden ini menjadi sangat sensitif karena terjadi di sekitar Neptun Deep, proyek gas lepas pantai strategis yang diharapkan membantu menjadikan Rumania salah satu produsen gas terbesar di Uni Eropa.

Presiden Rumania Nicușor Dan secara terbuka menyalahkan Rusia atas insiden tersebut dan menegaskan bahwa negaranya, bersama sekutu NATO, akan terus mempertahankan kesiagaan menghadapi ancaman terhadap wilayah maupun infrastruktur strategis. Pemerintah Rusia belum memberikan tanggapan terhadap tuduhan tersebut.

Yang semakin mengkhawatirkan, kejadian 20 Agustus bukan insiden pertama pada bulan ini.

Pada 11 Agustus 2026, dua wahana udara nirawak jenis Gerbera ditemukan mengapung di kawasan yang juga berdekatan dengan Neptun Deep. Angkatan Laut Rumania kemudian menghancurkannya melalui peledakan terkendali. Ukraina ketika itu mengonfirmasi bahwa wahana tersebut bukan milik pasukannya.

Dengan demikian, munculnya objek nirawak berbahaya di sekitar fasilitas energi strategis Rumania dalam waktu kurang dari dua pekan memperkuat kekhawatiran mengenai keamanan infrastruktur Laut Hitam.

Penerbangan C-17 Menuju Antarktika Terpaksa Berbalik

Ketegangan yang berkaitan dengan aktivitas Rusia juga terasa ribuan kilometer dari medan perang Ukraina.

Pada 18 Agustus 2026, sebuah pesawat angkut militer Amerika Serikat C-17 Globemaster III lepas landas dari Christchurch, Selandia Baru, menuju Stasiun McMurdo di Antarktika.

Namun, kurang dari tiga jam setelah perjalanan dimulai, pesawat tersebut berbalik arah dan kembali ke Selandia Baru setelah muncul peringatan mengenai aktivitas Rusia yang dinilai berpotensi membahayakan penerbangan.

Otoritas Penerbangan Sipil Selandia Baru mengatakan pihaknya menerima pemberitahuan dari otoritas manajemen lalu lintas udara Rusia mengenai rencana peluncuran rudal dan potensi bahaya terhadap wilayah udara internasional.

Informasi tersebut kemudian diteruskan melalui sistem peringatan penerbangan sehingga awak C-17 mengambil keputusan untuk kembali.

Detail mengenai aktivitas Rusia itu sendiri masih terbatas. Karena itu, terlalu dini menyimpulkan bahwa rudal tersebut secara langsung mengancam pesawat Amerika. Namun, kejadian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas militer dan kedirgantaraan Rusia dapat menghasilkan dampak keselamatan hingga kawasan Samudra Selatan yang sangat jauh dari Ukraina.

Korea Utara Tembakkan Sekitar 10 Rudal Balistik

Ketegangan juga meningkat di Asia Timur.

Pada Kamis, 20 Agustus 2026, sekitar pukul 17.00 waktu Korea, Kepala Staf Gabungan Korea Selatan mendeteksi Korea Utara meluncurkan sekitar 10 rudal balistik jarak pendek dari kawasan Pyongyang menuju Laut Timur atau Laut Jepang.

Rudal-rudal tersebut menempuh jarak sekitar 300 kilometer sebelum jatuh ke laut. Militer Korea Selatan segera meningkatkan pengawasan dan kesiagaan untuk mengantisipasi kemungkinan peluncuran tambahan, sekaligus bertukar informasi dengan Amerika Serikat dan Jepang.

Peluncuran tersebut dipandang berkaitan erat dengan ketegangan seputar latihan militer gabungan Ulchi Freedom Shield antara Amerika Serikat dan Korea Selatan.

Trump sebelumnya memerintahkan pengurangan signifikan terhadap latihan tersebut sebagai bagian dari upaya membuka kembali jalur diplomasi dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Namun Pyongyang menunjukkan bahwa pengurangan latihan belum cukup untuk mengubah pandangannya terhadap kebijakan Washington.

Saudara perempuan Kim Jong Un, Kim Yo Jong, bahkan menilai perubahan skala latihan tidak mengubah apa yang disebut Korea Utara sebagai karakter bermusuhan kebijakan Amerika. Meski demikian, ia tetap menggambarkan hubungan pribadi antara Trump dan Kim Jong Un sebagai hubungan yang sangat baik.

Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung sendiri mengambil posisi berhati-hati. Seoul berusaha mempertahankan kekuatan aliansinya dengan Washington sekaligus tidak menutup peluang penurunan ketegangan dan kembalinya dialog dengan Pyongyang.

Korea Utara Diperkirakan Miliki 80–120 Senjata Nuklir

Perkembangan yang tidak kalah penting muncul pada hari yang sama ketika Menteri Pertahanan Korea Selatan Ahn Gyu-back berbicara di hadapan komite pertahanan parlemen.

Ahn mengatakan bahwa perkiraan yang umum digunakan oleh sejumlah lembaga penelitian Korea Selatan menempatkan persenjataan nuklir Korea Utara pada kisaran 80 hingga 120 unit.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pernyataan Presiden Trump pada 19 Agustus 2026, ketika ia menyebut Kim Jong Un memiliki 57 senjata nuklir yang sangat kuat.

Namun Ahn kemudian memperjelas bahwa angka 80–120 bukanlah jumlah resmi yang diumumkan militer Korea Selatan, melainkan perkiraan lembaga penelitian domestik. Informasi intelijen terperinci mengenai kemampuan nuklir Korea Utara tetap dikategorikan sebagai informasi rahasia antara Seoul dan Washington.

Korea Selatan juga menegaskan bahwa perkiraan jumlah hulu ledak tersebut tidak berarti Seoul secara resmi mengakui Korea Utara sebagai negara pemilik senjata nuklir.

Dengan demikian, perkembangan pada 18–20 Agustus 2026 memperlihatkan situasi keamanan global yang semakin kompleks. Dari drone bermuatan bahan peledak di dekat fasilitas gas Rumania, aktivitas Rusia yang berdampak pada jalur penerbangan menuju Antarktika, hingga rentetan rudal Korea Utara dan perdebatan mengenai besarnya arsenal nuklir Pyongyang, ancaman keamanan kini semakin sulit dipisahkan berdasarkan kawasan.

Bagi NATO dan negara-negara Asia Timur, rangkaian kejadian ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ancaman modern tidak lagi hanya datang melalui pasukan konvensional. Drone, rudal balistik, senjata nuklir, gangguan terhadap infrastruktur energi, serta aktivitas militer di ruang udara dan laut kini menjadi bagian dari satu lingkungan keamanan global yang semakin saling terhubung. (***)

Dikabarkan Terjadi Penikaman di Jalan Secara Beruntun di Shantou dan Xining, Tiongkok, Banyak Orang Menjadi Korban

EtIndonesia.com  Belakangan ini, beredar video yang diduga menunjukkan aksi penikaman secara acak di jalan yang terjadi di Shantou, Provinsi Guangdong, dan Xining, Provinsi Qinghai. Kedua insiden tersebut dikabarkan menyebabkan sejumlah orang terluka atau tewas. Selain itu, di Maoming, Guangdong, juga terjadi kasus penikaman di depan umum yang diduga berkaitan dengan masalah asmara.

Insiden di Shantou

Pada malam 18 Agustus, beredar informasi di internet bahwa terjadi aksi penikaman secara acak di jalan di kawasan permukiman urban Chen’cuohe, Kota Shantou.

Video dari lokasi menunjukkan sebuah ambulans membawa korban yang terluka. Seorang pria berbaju kuning yang diduga sebagai pelaku terlihat tengkurap di jalan dan telah dikendalikan oleh warga. Banyak masyarakat berkumpul menyaksikan kejadian tersebut.

Detail kasus tersebut masih belum jelas. Beredar informasi bahwa seorang pria melakukan serangan secara acak dan melukai sejumlah orang. Namun, informasi tersebut belum terkonfirmasi. Pihak berwenang Tiongkok juga belum mengeluarkan pemberitahuan resmi terkait kejadian tersebut.

Dugaan penikaman di Xining

Pada dini hari 19 Agustus, video lain dari Kota Xining memperlihatkan seorang pria berbaju putih membawa pisau dan diduga melakukan penikaman di jalan.

Dalam video terlihat beberapa pria membawa tongkat dan berhadapan dengan pria tersebut. Kemudian, seorang pengemudi kendaraan listrik yang bekerja sebagai kurir makanan datang dari belakang dan menabrak pria berbaju putih tersebut hingga jatuh. Orang-orang di lokasi kemudian bersama-sama mengendalikannya.

Beredar pula informasi bahwa pria tersebut melukai beberapa orang. Namun, informasi ini juga belum terkonfirmasi, dan pihak berwenang belum memberikan keterangan resmi.

Penikaman di Maoming pada malam Qixi

Selain itu, pada malam 19 Agustus, yang bertepatan dengan malam perayaan Qixi—hari kasih sayang tradisional Tiongkok—beredar sejumlah video dan foto yang menunjukkan adanya kasus penikaman di kawasan Haijing Mingzhu New City, Kota Diancheng, Distrik Dianbai, Kota Maoming.

Dalam video, seorang pria berpakaian hitam terlihat menyerang seorang perempuan dengan senjata tajam di depan umum. Perempuan tersebut diduga tewas akibat serangan tersebut.

Di internet, kasus ini disebut-sebut sebagai kembali terjadi “pembunuhan karena masalah asmara pada malam Qixi”. Namun, pihak berwenang juga belum memberikan keterangan resmi mengenai kejadian itu. 

Reporter Chen Zhenjin, laporan gabungan

MYZE Hotel Sumenep Rayakan Kemerdekaan dengan Donor Darah dan Bersihkan Rumah Ibadah Lintas Agama

Sumenep – Semarak kemerdekaan Indonesia tak hanya dirayakan dengan bendera dan upacara. MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL memilih cara yang lebih bermakna: menggelar aksi sosial donor darah dan membersihkan rumah ibadah lintas agama.

Rangkaian kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) ini digelar dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, sebagai wujud kepedulian terhadap sesama dan semangat toleransi.

Donor Darah untuk Sesama

Kegiatan donor darah diselenggarakan bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) bertempat di Cakranegara Meeting Room MYZE Hotel Sumenep. Aksi ini bertujuan membantu memenuhi ketersediaan stok darah di Sumenep, sekaligus menjadi bentuk kepedulian nyata bagi masyarakat yang membutuhkan transfusi darah.

Bersih-Bersih Rumah Ibadah, Rawat Toleransi

Tak hanya donor darah, MYZE Hotel Sumenep juga melaksanakan program Cleaning Day di dua rumah ibadah, yaitu Masjid Baitul Arham dan Gereja Maria Gunung Karmel. Kegiatan bersih-bersih ini mengusung tema “Merawat Toleransi, Menjaga Keharmonisan Bangsa dalam Bingkai Semangat Bhinneka Tunggal Ika”.

Jajaran manajemen dan staf hotel turun langsung membersihkan area tempat ibadah, sebagai simbol komitmen menjaga kerukunan antarumat beragama di tengah masyarakat.

Komitmen Memberi Dampak Positif

Akfian Farado Gusti, General Manager MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL, menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen hotel untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

“Melalui rangkaian kegiatan CSR dalam memperingati hari kemerdekaan ini, kami ingin berbagi keberkahan dan mempererat tali persaudaraan sesama anak bangsa. Aksi donor darah dan pembersihan rumah ibadah ini adalah simbol kepedulian, rasa syukur, serta komitmen kami dalam merawat nilai-nilai toleransi dan kemanusiaan di Sumenep. Kami berharap kontribusi kecil ini dapat membawa manfaat yang luas bagi masyarakat,” ujar Akfian.

Semangat Kebersamaan di Momentum Kemerdekaan

Melalui sinergi aksi kemanusiaan dan keharmonisan antarumat beragama ini, MYZE Hotel Sumenep berharap dapat terus menebarkan inspirasi positif dan memperkuat semangat kebersamaan di momentum peringatan kemerdekaan Indonesia.

Kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa makna kemerdekaan tidak hanya tentang kebebasan, tetapi juga tentang kepedulian, gotong royong, dan saling menghormati antar sesama anak bangsa.

VASA Hotel Surabaya Gelar “Jelajah Kuliner Nusantara”, Sajikan Bebek Betutu hingga Iga Bakar Konro di 209 Dining

Surabaya, Agustus 2026 – VASA Hotel Surabaya melalui restoran 209 Dining menghadirkan pengalaman kuliner istimewa bertajuk “Jelajah Kuliner Nusantara”. Acara ini merupakan kolaborasi eksklusif dengan chef ternama Indonesia, Chef Vindex Tengker, yang mengajak para pecinta kuliner menyusuri kekayaan cita rasa Nusantara melalui rangkaian hidangan autentik, kreatif, dan berkelas.

Mengusung semangat memperkenalkan keberagaman kuliner Indonesia dalam perspektif modern, Jelajah Kuliner Nusantara menghadirkan ragam rasa, aroma, rempah, serta cerita dari berbagai penjuru Indonesia dalam satu pengalaman bersantap.

Tujuh Kuliner Nusantara dalam Satu Malam

Berlangsung di 209 Dining, VASA Hotel Surabaya, acara ini tersedia pada sesi makan malam mulai 21 hingga 23 Agustus 2026. Tujuh kuliner tradisional khas Indonesia menjadi menu andalan selama tiga hari tersebut, yaitu:

  • Bebek betutu
  • Gulai ikan kakap
  • Iga bakar konro
  • Klapertart
  • Laksa ayam
  • Sate padang
  • Ayam bakar cincane

Selain itu, berbagai varian buffet corner juga telah disiapkan oleh tim kuliner VASA Hotel untuk melengkapi pengalaman bersantap para tamu.

Perjalanan Rasa, Bukan Sekadar Makan

Rudyanto Effendi, Director of Food and Beverage VASA Hotel Surabaya, menyatakan bahwa acara ini dirancang sebagai perjalanan kuliner yang membawa tamu mengenal kembali kekayaan gastronomi Indonesia.

“Melalui Jelajah Kuliner, kami ingin membawa para tamu menikmati Indonesia melalui perspektif yang berbeda. Kolaborasi dengan Chef Vindex Tengker menjadi kesempatan bagi kami untuk menghadirkan sebuah culinary experience yang bukan hanya mengenai makanan, tetapi juga cerita, budaya, dan kekayaan Indonesia yang terangkum dalam setiap sajian,” ujarnya.

Setiap sajian menjadi representasi dari keberagaman budaya dan tradisi kuliner Nusantara yang diwariskan dari generasi ke generasi. Suasana dining yang elegan, pelayanan personal, serta atmosfer modern menjadikan setiap momen bersantap terasa lebih istimewa.

Chef Vindex: Kuliner Indonesia Punya Cerita Panjang

Chef Vindex Tengker menambahkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan gastronomi yang sangat luas dan setiap daerah memiliki karakter rasa yang unik.

“Kuliner Indonesia memiliki cerita yang sangat panjang. Setiap daerah mempunyai bahan, rempah, teknik, dan tradisi yang berbeda. Melalui Jelajah Kuliner, kami mencoba membawa kekayaan tersebut ke dalam sebuah pengalaman dining yang lebih modern, namun tetap menghormati cita rasa aslinya,” ungkapnya.

Mau Belajar atau Kerja dengan Suasana Baru? Sae Rassa Restaurant Hadirkan “Workspace Promo” Spesial

Sumenep – Bagi mahasiswa yang bosan belajar di kampus, pekerja yang ingin suasana kerja berbeda, atau freelancer yang butuh tempat nyaman untuk menyelesaikan proyek, kini ada solusi baru di Sumenep. Sae Rassa Restaurant di MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL meluncurkan program “Workspace Promo”, sebuah ruang kerja dan belajar yang nyaman dengan fasilitas lengkap.

Mengusung konsep “Study Better. Work Better. All in One Place”, promo ini terbuka untuk semua kalangan. Baik mahasiswa yang mengerjakan tugas, pekerja yang ingin bekerja dengan suasana baru, komunitas, hingga individu yang butuh ruang produktif.

Fasilitas Lengkap, Entry Gratis

Yang menarik, pengunjung bisa menikmati akses workspace dengan free entry alias gratis masuk. Fasilitas yang tersedia meliputi:

  • High-speed Wi-Fi untuk mendukung aktivitas daring
  • Convenient power outlets di berbagai sudut, jadi tidak perlu khawatir kehabisan baterai laptop atau ponsel

Selama berada di area workspace, pengunjung juga dapat memesan berbagai pilihan makanan dan minuman untuk menemani waktu produktif. Ada penawaran spesial Coffee Bon Bon yang dibanderol hanya Rp30.000/net—cocok menjadi teman ngopi sambil menyelesaikan pekerjaan, membaca, belajar, atau berdiskusi.

Ruang yang Relevan dengan Kebutuhan Masa Kini

Akfian Farado Gusti, General Manager MYZE Hotel Sumenep by ARTOTEL, menyampaikan bahwa kehadiran Workspace menjadi salah satu upaya hotel untuk menghadirkan ruang yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

“Kami ingin Sae Rassa Restaurant – MYZE Hotel Sumenep tidak hanya menjadi tempat untuk menginap, tetapi juga menjadi ruang yang nyaman bagi siapa saja untuk belajar, bekerja, berkarya, dan beraktivitas. Melalui Workspace Promo, kami menghadirkan suasana yang mendukung produktivitas dengan fasilitas yang nyaman serta pilihan makanan dan minuman yang dapat dinikmati selama berada di workspace,” ujar Akfian.

Pilihan Tepat untuk Keluar dari Rutinitas

Dengan suasana yang nyaman dan fasilitas yang menunjang, Workspace Promo Sae Rassa Restaurant dapat menjadi pilihan bagi mereka yang ingin keluar sejenak dari rutinitas belajar atau bekerja di rumah maupun kantor, dan menemukan suasana baru yang lebih segar.

Promo ini cocok untuk:

  • Mahasiswa yang ingin menyelesaikan tugas tanpa harus di kampus
  • Pekerja yang membutuhkan tempat bekerja secara fleksibel
  • Freelancer yang mencari ruang kreatif
  • Siapa pun yang ingin menikmati waktu produktif dengan secangkir kopi

Xi Jinping Jarang “Kunjungan Kilat” ke AS untuk Bertemu Trump, Apa yang Tersembunyi di Baliknya?

 Situs Politico Amerika Serikat melaporkan pada 17 Agustus bahwa pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping akan mengunjungi Amerika Serikat pada September untuk bertemu dengan Presiden Donald Trump di Washington, D.C. Namun, Xi tidak akan melanjutkan perjalanan ke New York untuk menghadiri dan berpidato dalam debat umum Majelis Umum PBB. Ia justru akan segera kembali ke Tiongkok. Jadwal “kunjungan kilat” yang jarang terjadi ini memicu berbagai spekulasi.

EtIndonesia.com Politico mengutip empat orang yang mengetahui jadwal Xi yang mengatakan bahwa Xi diperkirakan akan bertemu Trump di Washington pada 24 September, tetapi tidak akan menghadiri debat umum Majelis Umum PBB yang dimulai pada 22 September di New York. Seorang sumber mengatakan Xi kemungkinan tiba pada malam 23 September dan meninggalkan Amerika Serikat pada 25 September.

Jika melihat pertemuan penting antara para pemimpin PKT dan Amerika Serikat selama hampir satu dekade terakhir, sebagian besar berlangsung di sela-sela pertemuan multilateral seperti G20, APEC, atau Sidang Umum PBB. Kunjungan kenegaraan khusus biasanya disertai jamuan makan malam dengan kalangan bisnis, kunjungan budaya, dan kegiatan lainnya, dengan durasi sekitar 3 hingga 5 hari.

Namun, perjalanan Xi kali ini hanya berlangsung sekitar satu hari, dengan satu-satunya tujuan utama adalah pertemuan Xi-Trump.

Pendiri Partai Demokrasi Baru Tiongkok, Yang Maosen, menilai kunjungan singkat Xi ke AS tersebut sangat tidak lazim.

 “Kalau dia datang pada malam 23 September dan pergi pad 25 September, lalu hanya berada di Gedung Putih selama sehari pada 24 September, itu menunjukkan bahwa dia hanya datang untuk ‘menyerahkan tugas’. Trump sudah mengunjungi dia, jadi sekarang dia melakukan kunjungan balasan,” katanya. 

“Secara prinsip, dia seharusnya menghadiri Sidang Umum PBB. Namun, dia bahkan tidak berani datang ke PBB. Kalau dia datang ke New York, mungkin dia tahu bahwa akan sulit baginya untuk pergi tanpa masalah,” ujarnya. 

Ketua International Alliance of Chinese Democracy, Jie Lijian, berpendapat bahwa keputusan Xi untuk tidak menghadiri Sidang Umum PBB mungkin juga berkaitan dengan kekhawatiran terhadap situasi di dalam negeri Tiongkok.

 “Menurut gaya kunjungan Xi Jinping sebelumnya, dia sangat mementingkan gengsi dan suka menunjukkan pencapaian. Cara datang cepat dan pergi cepat seperti ini hanya menunjukkan satu hal: situasi di dalam negeri sudah penuh dengan berbagai masalah. Rakyat tidak puas, ekonomi berantakan, dan pertarungan di Zhongnanhai juga semakin meningkat sehingga dia tidak berani tinggal lama di Amerika Serikat,” katanya. 

Terakhir kali Xi Jinping mengunjungi Amerika Serikat adalah pada November 2023, dengan perjalanan selama empat hari, 14–17 November. Saat itu Xi pergi ke San Francisco untuk menghadiri KTT APEC dan mengadakan pertemuan dengan Presiden AS saat itu, Joe Biden, yang dikenal sebagai “pertemuan Xi-Biden”.

Selama kunjungan tersebut, kelompok-kelompok demonstran hampir selalu muncul di berbagai lokasi penting dalam agenda Xi.

Demonstran anti-komunis:  “Gulingkan Xi Jinping! Gulingkan Xi Jinping! Free China! Free Hong Kong!”

Pada saat itu, konsulat PKT disebut mempekerjakan sejumlah besar kelompok pro-komunis untuk mengganggu dan memukuli para demonstran. Kedua pihak terlibat bentrokan sengit. Jie Lijian juga menjadi salah satu korban pemukulan.

 “Saya juga salah satu korbannya. Saya dipukuli hingga akhirnya harus dirawat di rumah sakit. Saya sangat berterima kasih kepada Departemen Kehakiman AS, FBI, dan Kongres. Setelah itu mereka melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap para pelaku kekerasan tersebut, termasuk lebih dari 35 pimpinan organisasi dan kelompok yang pro-PKT. Banyak dari mereka sekarang sudah dihukum,” ujar Jie Lijian. 

“Jadi, jika pertemuan Trump-Xi kali ini benar-benar terlaksana, saya yakin akan jauh lebih sedikit organisasi masyarakat Tionghoa pro-PKT yang berani datang,” katanya. 

Yang Maosen mengatakan, meskipun kunjungan Xi hanya berlangsung singkat, ia tetap akan menghadapi demonstrasi.

 “Tentu saja kami akan datang. Bukan hanya saya, orang-orang yang seharusnya datang untuk berdemonstrasi sekarang mungkin akan lebih banyak. Banyak orang sudah memendam kemarahan. Situasinya semakin buruk dibandingkan sebelumnya,” katanya. 

“Pada 2023, itu baru saja setelah Gerakan Kertas Putih, sehingga kemarahan yang terpendam masih seperti itu. Kemudian dari 2023 hingga 2024, melihat berbagai tindakan yang bertentangan dengan kepentingan masyarakat di Tiongkok dan di tingkat internasional, saya rasa jika dia datang kali ini, orang yang datang berdemonstrasi akan lebih banyak dibandingkan di San Francisco,” ujarnya. 

Dalam beberapa tahun terakhir, PKT semakin meningkatkan tindakan represi lintas negara, sehingga para aktivis dan pembangkang yang berada di Amerika Serikat menghadapi tekanan besar. Namun, tindakan tersebut juga semakin menarik perhatian aparat keamanan Amerika Serikat.

 “PKT berharap kami takut dan berhenti. Namun, kami tetap pada prinsip yang sama: kami sama sekali tidak akan membiarkan ancaman represi lintas negara yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok menjadi kenyataan,” kata Jie Lijian. 

Bukan hanya di Amerika Serikat. Tahun lalu, ketika Xi Jinping pergi ke Korea Selatan untuk menghadiri KTT APEC di Gyeongju dan bertemu dengan Trump, banyak warga Korea Selatan berkumpul di luar lokasi APEC untuk memprotes PKT. Mereka membawa spanduk bertuliskan “Langit akan memusnahkan PKT” dan “Hentikan pencurian negara”.

Di sekitar lokasi pertemuan Trump-Xi yang berlangsung di Busan, Korea Selatan, juga muncul aksi demonstrasi anti-komunis.

Chef Berpengalaman Internasional Kini Pimpin Nagano Restaurant, Sajikan Sushi dan Wagyu Premium ala Jepang

Surabaya – VASA Hotel Surabaya kembali mengukuhkan posisinya sebagai destinasi kuliner premium di kota pahlawan. Kini, Nagano Japanese Restaurant resmi dipimpin oleh Chef Masakazu Mikuriya, seorang koki Jepang berpengalaman yang telah berkarier di berbagai negara, mulai dari Jepang, Thailand, Filipina, Turki, Yordania, hingga Abu Dhabi.

Kehadiran Chef Masa—sapaan akrabnya—menjadi angin segar bagi pecinta kuliner Jepang di Surabaya. Dengan mengusung filosofi omotenashi atau keramahtamahan khas Jepang, ia menghadirkan pengalaman bersantap yang tidak hanya mengutamakan cita rasa autentik, tetapi juga ketelitian dalam teknik memasak, kualitas bahan baku premium, serta penyajian yang elegan.

Menu Andalan yang Wajib Dicoba

Beberapa menu unggulan yang direkomendasikan Chef Masa antara lain:

  • Premium sashimi selection dengan potongan ikan segar berkualitas tinggi
  • Signature sushi yang dibuat langsung oleh chef
  • Berbagai pilihan grilled dishes khas robatayaki
  • Hidangan wagyu premium yang dimasak dengan teknik khas Jepang untuk menghasilkan rasa maksimal

“Kami ingin setiap tamu yang datang ke Nagano tidak hanya menikmati makanan Jepang, tetapi juga merasakan budaya, seni, dan dedikasi yang menjadi bagian dari setiap hidangan yang kami sajikan. Setiap detail memiliki makna, mulai dari pemilihan bahan, teknik memasak, hingga presentasi di atas piring,” ujar Chef Masa dalam rilis yang diterima, Agustus 2026.

Komitmen VASA Hotel Surabaya

Kehadiran Chef Masa menjadi bagian dari komitmen VASA Hotel Surabaya dalam menghadirkan pengalaman kuliner berkelas internasional. Menurut Camelia Ayu Rahmawati, Senior Marketing Communications Manager VASA Hotel Surabaya, langkah ini merupakan strategi untuk memperkuat identitas Nagano Restaurant sebagai destinasi kuliner Jepang premium di Surabaya.

“Kami percaya bahwa pengalaman bersantap terbaik lahir dari perpaduan antara kualitas bahan, keahlian seorang chef, dan pelayanan yang istimewa. Kehadiran Chef Masa menjadi nilai tambah yang akan memberikan pengalaman autentik bagi para tamu sekaligus memperkuat posisi Nagano sebagai salah satu restoran Jepang premium terbaik di Surabaya,” ungkap Camelia.

Nagano Restaurant berlokasi di VASA Hotel Surabaya dan melayani makan siang maupun makan malam dengan suasana modern yang terinspirasi dari estetika Jepang. Restoran ini juga menyediakan ruang privat untuk pertemuan bisnis, jamuan keluarga, maupun berbagai perayaan spesial.

Tambang Emas di Republik Afrika Tengah Runtuh, 100 Orang Tewas 

Pada 18 Agustus, sebuah tambang emas di Republik Afrika Tengah mengalami kecelakaan runtuh dan menyebabkan sedikitnya 100 orang tewas.

EtIndonesia.com Insiden kecelakaan  terjadi pada Selasa sore waktu setempat, 18 Agustus, di kawasan pertambangan Desa Zamboye, Provinsi Nana-Mambéré, dekat perbatasan dengan Kamerun. Tambang emas itu merupakan lokasi pertambangan rakyat informal dengan teknologi yang masih sangat sederhana.

Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, terlihat sebagian area tambang terbuka yang sangat luas. Ratusan penambang emas rakyat tampak sedang bekerja di lokasi tersebut.

“Situasinya sangat mengerikan. Tanah benar-benar runtuh dan mengubur orang-orang hidup-hidup,” ujar seorang pekerja tambang di lokasi, Cédric Mbango kepada AFP. 

Menurut laporan Associated Press (AP), seorang relawan Palang Merah yang ikut dalam operasi penyelamatan dan seorang pejabat setempat pada Rabu mengatakan bahwa lebih dari 100 orang tewas dalam insiden runtuhnya tambang emas di wilayah barat Republik Afrika Tengah.

Karena masih terdapat sejumlah orang yang hilang dan diduga tertimbun di bawah reruntuhan, jumlah korban tewas kemungkinan masih akan bertambah.

Relawan Palang Merah setempat yang terlibat dalam operasi penyelamatan mengatakan bahwa selain para korban tewas, sejumlah orang yang selamat juga mengalami luka-luka serius.

Jaksa Pengadilan Baboua dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa penyelidikan telah dimulai untuk menentukan penyebab runtuhnya tambang, mengidentifikasi para korban dan pihak yang bertanggung jawab atas pengoperasian tambang, serta menentukan kemungkinan adanya tanggung jawab pidana.