Xi Jinping Jarang “Kunjungan Kilat” ke AS untuk Bertemu Trump, Apa yang Tersembunyi di Baliknya?

 Situs Politico Amerika Serikat melaporkan pada 17 Agustus bahwa pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping akan mengunjungi Amerika Serikat pada September untuk bertemu dengan Presiden Donald Trump di Washington, D.C. Namun, Xi tidak akan melanjutkan perjalanan ke New York untuk menghadiri dan berpidato dalam debat umum Majelis Umum PBB. Ia justru akan segera kembali ke Tiongkok. Jadwal “kunjungan kilat” yang jarang terjadi ini memicu berbagai spekulasi.

EtIndonesia.com Politico mengutip empat orang yang mengetahui jadwal Xi yang mengatakan bahwa Xi diperkirakan akan bertemu Trump di Washington pada 24 September, tetapi tidak akan menghadiri debat umum Majelis Umum PBB yang dimulai pada 22 September di New York. Seorang sumber mengatakan Xi kemungkinan tiba pada malam 23 September dan meninggalkan Amerika Serikat pada 25 September.

Jika melihat pertemuan penting antara para pemimpin PKT dan Amerika Serikat selama hampir satu dekade terakhir, sebagian besar berlangsung di sela-sela pertemuan multilateral seperti G20, APEC, atau Sidang Umum PBB. Kunjungan kenegaraan khusus biasanya disertai jamuan makan malam dengan kalangan bisnis, kunjungan budaya, dan kegiatan lainnya, dengan durasi sekitar 3 hingga 5 hari.

Namun, perjalanan Xi kali ini hanya berlangsung sekitar satu hari, dengan satu-satunya tujuan utama adalah pertemuan Xi-Trump.

Pendiri Partai Demokrasi Baru Tiongkok, Yang Maosen, menilai kunjungan singkat Xi ke AS tersebut sangat tidak lazim.

 “Kalau dia datang pada malam 23 September dan pergi pad 25 September, lalu hanya berada di Gedung Putih selama sehari pada 24 September, itu menunjukkan bahwa dia hanya datang untuk ‘menyerahkan tugas’. Trump sudah mengunjungi dia, jadi sekarang dia melakukan kunjungan balasan,” katanya. 

“Secara prinsip, dia seharusnya menghadiri Sidang Umum PBB. Namun, dia bahkan tidak berani datang ke PBB. Kalau dia datang ke New York, mungkin dia tahu bahwa akan sulit baginya untuk pergi tanpa masalah,” ujarnya. 

Ketua International Alliance of Chinese Democracy, Jie Lijian, berpendapat bahwa keputusan Xi untuk tidak menghadiri Sidang Umum PBB mungkin juga berkaitan dengan kekhawatiran terhadap situasi di dalam negeri Tiongkok.

 “Menurut gaya kunjungan Xi Jinping sebelumnya, dia sangat mementingkan gengsi dan suka menunjukkan pencapaian. Cara datang cepat dan pergi cepat seperti ini hanya menunjukkan satu hal: situasi di dalam negeri sudah penuh dengan berbagai masalah. Rakyat tidak puas, ekonomi berantakan, dan pertarungan di Zhongnanhai juga semakin meningkat sehingga dia tidak berani tinggal lama di Amerika Serikat,” katanya. 

Terakhir kali Xi Jinping mengunjungi Amerika Serikat adalah pada November 2023, dengan perjalanan selama empat hari, 14–17 November. Saat itu Xi pergi ke San Francisco untuk menghadiri KTT APEC dan mengadakan pertemuan dengan Presiden AS saat itu, Joe Biden, yang dikenal sebagai “pertemuan Xi-Biden”.

Selama kunjungan tersebut, kelompok-kelompok demonstran hampir selalu muncul di berbagai lokasi penting dalam agenda Xi.

Demonstran anti-komunis:  “Gulingkan Xi Jinping! Gulingkan Xi Jinping! Free China! Free Hong Kong!”

Pada saat itu, konsulat PKT disebut mempekerjakan sejumlah besar kelompok pro-komunis untuk mengganggu dan memukuli para demonstran. Kedua pihak terlibat bentrokan sengit. Jie Lijian juga menjadi salah satu korban pemukulan.

 “Saya juga salah satu korbannya. Saya dipukuli hingga akhirnya harus dirawat di rumah sakit. Saya sangat berterima kasih kepada Departemen Kehakiman AS, FBI, dan Kongres. Setelah itu mereka melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap para pelaku kekerasan tersebut, termasuk lebih dari 35 pimpinan organisasi dan kelompok yang pro-PKT. Banyak dari mereka sekarang sudah dihukum,” ujar Jie Lijian. 

“Jadi, jika pertemuan Trump-Xi kali ini benar-benar terlaksana, saya yakin akan jauh lebih sedikit organisasi masyarakat Tionghoa pro-PKT yang berani datang,” katanya. 

Yang Maosen mengatakan, meskipun kunjungan Xi hanya berlangsung singkat, ia tetap akan menghadapi demonstrasi.

 “Tentu saja kami akan datang. Bukan hanya saya, orang-orang yang seharusnya datang untuk berdemonstrasi sekarang mungkin akan lebih banyak. Banyak orang sudah memendam kemarahan. Situasinya semakin buruk dibandingkan sebelumnya,” katanya. 

“Pada 2023, itu baru saja setelah Gerakan Kertas Putih, sehingga kemarahan yang terpendam masih seperti itu. Kemudian dari 2023 hingga 2024, melihat berbagai tindakan yang bertentangan dengan kepentingan masyarakat di Tiongkok dan di tingkat internasional, saya rasa jika dia datang kali ini, orang yang datang berdemonstrasi akan lebih banyak dibandingkan di San Francisco,” ujarnya. 

Dalam beberapa tahun terakhir, PKT semakin meningkatkan tindakan represi lintas negara, sehingga para aktivis dan pembangkang yang berada di Amerika Serikat menghadapi tekanan besar. Namun, tindakan tersebut juga semakin menarik perhatian aparat keamanan Amerika Serikat.

 “PKT berharap kami takut dan berhenti. Namun, kami tetap pada prinsip yang sama: kami sama sekali tidak akan membiarkan ancaman represi lintas negara yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok menjadi kenyataan,” kata Jie Lijian. 

Bukan hanya di Amerika Serikat. Tahun lalu, ketika Xi Jinping pergi ke Korea Selatan untuk menghadiri KTT APEC di Gyeongju dan bertemu dengan Trump, banyak warga Korea Selatan berkumpul di luar lokasi APEC untuk memprotes PKT. Mereka membawa spanduk bertuliskan “Langit akan memusnahkan PKT” dan “Hentikan pencurian negara”.

Di sekitar lokasi pertemuan Trump-Xi yang berlangsung di Busan, Korea Selatan, juga muncul aksi demonstrasi anti-komunis.

INSPIRASI ERABARU

3 Kebiasaan Sederhana untuk Menjaga Kesehatan Otak yang Hanya Membutuhkan Beberapa Menit Sehari

Banyak orang paruh baya dan lanjut usia mulai mengenali momen-momen kecil yang menimbulkan keraguan. Anda hendak keluar rumah, tetapi tidak menemukan kunci. Sebuah nama...

Ke Mana Arah Pernikahan? Pelajaran Abadi dari Kisah Li Wa

Hari ini, kita hidup di tengah kelimpahan materi, tetapi sekaligus menghadapi kerapuhan emosional. Pernikahan dan hubungan asmara modern kerap gagal memberikan rasa aman. Perdebatan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine