Kisah Inspiratif: Menciptakan Fakta dari yang “Mustahil”


EtIndonesia. Ada seorang anak yang sejak kecil sangat mencintai olahraga basket. Seperti kebanyakan anak Amerika yang tergila-gila pada bola basket, dia pun bermimpi suatu hari bisa berlaga di NBA.

Memiliki mimpi seperti itu sebenarnya adalah hal yang indah. Namun sejak awal, orangtuanya justru menasihatinya agar mengurungkan niat tersebut. Para tetangga yang mendengar impiannya pun hanya tertawa kecil. Apakah mereka sengaja ingin mematahkan mimpi seorang anak?

Belum tentu.

Di mata mereka, nasihat itu murni didasari niat baik. Sebab menurut mereka, mimpi anak ini mustahil terwujud. Bahkan orangtuanya yang paling menyayanginya pun berpikir demikian. Alasannya sederhana: sejak kecil, anak ini selalu jauh lebih pendek dibanding teman-teman sebayanya. Dengan kondisi fisik seperti itu, bermain basket mungkin masih masuk akal sebagai hobi, tetapi bercita-cita menjadi bintang NBA dianggap tak lebih dari mimpi di siang bolong.

Namun anak ini tidak menyerah. Sekalipun itu hanya dianggap mimpi, dia tetap ingin memperjuangkannya.

Tahun demi tahun berlalu. Dia tumbuh dewasa, tetapi mimpinya tidak pernah berubah. Demi mewujudkan cita-citanya, dia berlatih tanpa henti—melatih tembakan, dribel, operan, serta memperkuat fisik. Hampir setiap hari, orang-orang bisa melihatnya bermain basket di lapangan, bertanding dengan siapa pun yang bersedia.

Berkat latihan jangka panjang, dia mulai meraih berbagai prestasi. Namun demikian, masyarakat tetap menertawakan mimpinya untuk masuk NBA. Pasalnya, setelah dewasa pun tinggi badannya hanya sekitar 1,60 meter. Bagi kebanyakan orang, seseorang setinggi itu bermimpi bermain di NBA adalah lelucon.

Tapi baginya, itu adalah tujuan hidup.

Dia berlatih beberapa kali lebih keras dibanding orang lain. Setiap sesi latihan dijalaninya dengan seratus persen kesungguhan. Dan benar saja—kerja keras tidak pernah mengkhianati orang yang bersungguh-sungguh.

Dia mulai dikenal sebagai pemain basket terbaik di kotanya, mewakili kota dalam berbagai kejuaraan. Kemudian, dia menjadi salah satu pemain all-around terbaik di tingkat negara bagian, sekaligus point guard paling andal. Hingga akhirnya, dia benar-benar berhasil masuk NBA, bergabung dengan Charlotte Hornets.

Meski tubuhnya mencatat rekor sebagai pemain terpendek sepanjang sejarah NBA, dia justru dikenal sebagai salah satu guard paling efektif dan minim kesalahan. Kontrol bolanya luar biasa, tembakan jarak jauhnya akurat, bahkan dia mampu—dengan lompatan yang nyaris tak masuk akal—memotong operan pemain lawan yang tingginya lebih dari dua meter.

Yang paling mencolok dari dirinya adalah kecepatan gerak di lapangan. Seorang komentator basket pernah menggambarkannya: “Kecepatannya seperti peluru yang sedang berputar.”

Bagi mereka yang akrab dengan dunia NBA, nama itu tentu sudah tidak asing lagi. Dia adalah Muggsy Bogues—pemain basket terpendek dalam sejarah NBA.

Pesan Kehidupan

“Mustahil” sering kali hanyalah alasan bagi mereka yang malas dan penakut—alasan untuk menyerah sebelum mencoba, dan batasan semu yang kita pasang sendiri terhadap potensi kita.

Ketika semua batas “tidak mungkin” disingkirkan,  keajaiban pun punya ruang untuk terjadi.(jhn/yn)

Militer Taiwan Kerahkan Jet Tempur F-16 dan Sistem HIMARS Sebagai Tanggapan Latihan Tembak langsung PLA di Sekitar Taiwan

EtIndonesia. Komando Teater Timur Tentara Komunis Tiongkok (PKT) pada Senin (29 Desember) mengumumkan pelaksanaan latihan militer mengelilingi Taiwan di lima kawasan laut utama di sekitar pulau tersebut, serta memperingatkan akan dilakukan latihan tembak langsung. PKT menyatakan langkah ini bertujuan untuk memperingatkan apa yang mereka sebut sebagai kekuatan separatis dan campur tangan asing.

Menanggapi hal itu, Kantor Kepresidenan Taiwan mengecam keras tindakan tersebut. Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan menyatakan telah sepenuhnya memantau pergerakan militer PKT dan mengerahkan jet tempur F-16V serta sistem roket HIMARS dalam kesiapsiagaan penuh guna menjamin keselamatan negara dan rakyat. 

Warga Taiwan menegaskan bahwa Taiwan akan mempertahankan sikap kemandiriannya, dan pemerintah telah siap menghadapi berbagai bentuk provokasi.

Komando Teater Timur PKT secara mendadak mengumumkan latihan militer mengelilingi pulau, dengan patroli kesiapan tempur di Selat Taiwan serta perairan utara, barat daya, tenggara, dan timur Taiwan, serta mengumumkan bahwa pada  30 Desember akan dilakukan latihan tembak langsung di kelima wilayah tersebut. PKT mengklaim latihan ini merupakan peringatan keras terhadap kekuatan separatis dan campur tangan eksternal.

Kantor Kepresidenan Republik Tiongkok (Taiwan) mengecam PKT karena mengabaikan norma internasional, dan menegaskan bahwa pihak Taiwan telah sepenuhnya menguasai perkembangan situasi serta siap menghadapi segala kemungkinan.

“Menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan serta kawasan Indo-Pasifik merupakan konsensus tinggi komunitas internasional. Latihan yang secara khusus dilakukan oleh Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok di sekitar negara kami tidak hanya secara kasar merusak stabilitas keamanan di Selat Taiwan dan kawasan Indo-Pasifik, tetapi juga merupakan tantangan terbuka terhadap hukum dan tatanan internasional. Terkait provokasi sepihak Tiongkok, militer nasional dan lembaga keamanan nasional telah melakukan pemantauan menyeluruh sejak awal dan mempersiapkan respons secara lengkap, sehingga keselamatan negara dan rakyat dapat terjamin. Masyarakat tidak perlu khawatir,” kata juru bicara Kantor Kepresidenan Taiwan, Kuo Ya-hui. 

Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan menyatakan bahwa PKT dalam beberapa waktu terakhir terus menggunakan ancaman militer dan operasi kognitif terhadap Taiwan dan kawasan Indo-Pasifik, yang menjadi penyebab utama rusaknya perdamaian regional.

Dalam video yang dirilis Kementerian Pertahanan, ditampilkan berbagai persenjataan dan kekuatan militer Taiwan, termasuk sistem roket mobilitas tinggi HIMARS buatan Amerika Serikat. Kementerian menegaskan bahwa pihaknya sedang memantau secara ketat pergerakan pesawat dan kapal PKT serta melaksanakan latihan kesiapsiagaan tempur.

Kementerian Pertahanan juga merilis rekaman jet tempur F-16V (Block 20) dan kapal perang Angkatan Laut Taiwan Tian Dan yang memantau pesawat dan kapal militer PKT.

Wakil Direktur Kantor Intelijen Staf Umum Kementerian Pertahanan Taiwan, Hsieh Jih-sheng, mengatakan: “Apakah mereka akan melakukan tembak langsung atau tidak, keputusan ada di pihak mereka (PKT). Namun militer kami berpegang pada prinsip mengantisipasi musuh secara luas, sehingga setiap kemungkinan situasi harus kami pertimbangkan.”

Penjaga Pantai Taiwan menyatakan telah mengerahkan kapal-kapal besar di perairan sekitar untuk berhadapan dengan kapal Penjaga Pantai Tiongkok.

Dewan Urusan Daratan (MAC) Taiwan juga mengeluarkan siaran pers yang mengecam latihan militer PKT tersebut.

Warga Taiwan, Nona Huang, mengatakan: “Mereka (PKT) hanya demi harga diri mereka sendiri, ingin mengubah Taiwan menjadi bagian dari negara mereka. Tetapi orang Taiwan tidak berpikir seperti itu.”

Warga lainnya, Tuan Lin, mengatakan: “Menurut saya mereka (PKT) melakukan latihan seperti ini hanya untuk menakut-nakuti kami, sebagai bentuk intimidasi. Karena sebelumnya juga cukup sering terjadi latihan serupa.”

Selain itu, menurut situs pelacakan data penerbangan, beberapa pesawat militer Amerika Serikat sempat melakukan patroli di wilayah udara dekat Taiwan. Menanggapi hal tersebut, Kementerian Pertahanan Taiwan menyatakan bahwa “memang ada negara lain yang beraktivitas di sekitar Selat Taiwan”, namun tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.

Sebelas hari sebelumnya, Amerika Serikat mengumumkan penjualan senjata kepada Taiwan senilai 11,1 miliar dolar AS, yang merupakan paket penjualan senjata terbesar sejauh ini, dan telah memicu protes keras dari PKT. (Hui)

Laporan gabungan oleh Guo Yue-xi, reporter New Tang Dynasty Television.

Persaingan Pasar Kian Ketat, Starbucks AS Berencana Menutup Sekitar 400 Gerai di Perkotaan Serta Memilih Pindah ke Kawasan Pinggiran 

Raksasa jaringan kopi Starbucks, yang sebelumnya sangat padat membuka gerai di kota-kota besar Amerika Serikat seperti New York dan Los Angeles, kini akan menyesuaikan strategi ekspansi di kawasan metropolitan dan berencana menutup sekitar 400 gerai. Saat ini, Starbucks memiliki lebih dari 18.000 gerai di Amerika Serikat dan Kanada.

EtIndonesia. Dengan persaingan pasar yang semakin ketat, ditambah meluasnya kerja jarak jauh, menurunnya populasi di pusat kota, serta meningkatnya biaya operasional gerai, Starbucks mengubah strategi dengan menutup banyak gerai yang berlokasi di lantai dasar gedung perkantoran pusat kota dan mengalihkan fokus operasional ke wilayah pinggiran kota.

Menurut laporan CNN, CEO Starbucks Brian Niccol mendorong sebuah rencana pemulihan senilai 1 miliar dolar AS, yang mencakup penutupan sekitar 400 gerai yang terkonsentrasi di kota-kota metropolitan besar. Langkah ini saat ini telah diterapkan secara bertahap di berbagai kota.

Juru bicara Starbucks mengatakan kepada CNN bahwa gerai-gerai tersebut merupakan gerai dengan kinerja operasional yang buruk atau tidak lagi memenuhi standar merek. Perusahaan juga berencana meluncurkan desain baru dan peningkatan pengalaman pelanggan pada tahun 2026.

Gerai yang telah ditutup sejauh ini meliputi 42 gerai di New York, lebih dari 20 di Los Angeles, 15 di Chicago, dan 7 di San Francisco.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa Starbucks berencana merenovasi 1.000 gerai dalam satu tahun ke depan, dengan menambah sofa, meja, kursi, serta stopkontak listrik, guna meningkatkan pengalaman ruang dan mendorong pelanggan untuk tinggal lebih lama.

Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan penjualan Starbucks melambat, dan harga sahamnya turun sekitar 6% tahun ini. Para analis menilai, tantangan utama Starbucks adalah bahwa satu gerai harus melayani pelanggan takeaway dan pelanggan yang duduk lama secara bersamaan, sementara kedua tipe pelanggan ini memiliki pola konsumsi yang sangat berbeda, sehingga menyulitkan penyesuaian operasional.

Selain itu, dengan persaingan pasar yang semakin ketat, meluasnya kerja jarak jauh, berkurangnya populasi pusat kota, serta kenaikan biaya operasional gerai, Starbucks terus menyesuaikan strateginya dengan menutup banyak gerai di pusat bisnis kota dan mengalihkan fokus ke kawasan pinggiran. (Hui)

Bocah  7 Tahun Masuk Rumah Sakit Karena Melahap Makanan Pedas, Publik Terbelah Soal Tuntutan Orangtuanya 

EtIndonesia. Seorang bocah laki-laki berusia 7 tahun di Tiongkok mencuri dan melahap makanan pesan antar milik tetangganya. Akibat menyantap hidangan yang “super pedas”, ia mengalami sakit parah hingga harus dirawat di rumah sakit. Orang tuanya kemudian menuntut tetangga tersebut untuk mengganti biaya pengobatan, sehingga memicu perdebatan luas.

Menurut laporan gabungan media  daratan Tiongkok, bocah tersebut sering mencuri makanan pesan antar milik tetangganya, yang membuat sang tetangga sangat terganggu. Untuk memberi pelajaran kepada pencuri tersebut, tetangga itu sengaja memesan makanan dengan tingkat kepedasan ekstrem, menunggu agar pencuri kembali beraksi.

Pada hari kejadian, bocah itu menemukan makanan pesan antar yang belum dibuka dan diletakkan tanpa pengawasan di depan pintu rumah tetangga. Seperti biasa, ia mengambil makanan tersebut dan membawanya pulang untuk dimakan. Karena terlalu pedas, tak lama setelah makan bocah itu mengalami ketidaknyamanan, berupa sakit perut hebat dan muntah berulang kali. Setelah dibawa ke rumah sakit dan diperiksa, ia didiagnosis radang lambung dan usus akut,  dan harus menjalani perawatan inap. Biaya medis dilaporkan melebihi 2.000 yuan.

Setelah kejadian tersebut, ibu bocah itu menuntut agar tetangga menanggung biaya pengobatan, dengan alasan bahwa makanan yang terlalu pedas itulah yang menyebabkan anaknya jatuh sakit.

Namun, tetangga tersebut bersikukuh bahwa makanan pesan antar itu adalah milik pribadinya yang dibeli secara sah, dan bocah tersebut mengambil serta memakannya tanpa izin, sehingga segala konsekuensi tidak seharusnya menjadi tanggung jawabnya.

Menanggapi sengketa ini, sejumlah pengacara menilai bahwa memesan makanan adalah tindakan perdata yang wajar, tidak melanggar hukum maupun norma kesusilaan. Meski pemesanan makanan super pedas itu dilakukan dengan perkiraan bahwa makanan mungkin akan dicuri, tindakan tersebut tetap dianggap sebagai upaya melindungi hak milik yang sah, sehingga tidak ada kewajiban untuk memberikan ganti rugi.

Peristiwa ini memicu perdebatan sengit di dunia maya. Banyak warganet Tiongkok mengecam orang tua anak tersebut, menilai mereka tidak mampu membedakan benar dan salah serta gagal mendidik anak. 

Beberapa komentar warganet antara lain:
“Anak mungkin belum mengerti, tapi orang tuanya ke mana? Saya tidak percaya orang tua tidak tahu kalau anaknya sering mencuri makanan.”
“Dengan orang tua yang tidak masuk akal seperti ini, pantas saja anaknya jadi pencuri.”
“Anak yang tumbuh di keluarga seperti ini, entah itu berkah atau malah musibah.” (Hui)

Robot Perawatan Gigi Pertama di Dunia yang Membersihkan Gigi Anda Secara Otomatis

EtIndonesia. Dipasarkan sebagai robot perawatan gigi pertama di dunia, sikat gigi robot “g.eN” adalah perangkat yang membersihkan gigi pengguna tanpa bantuan apa pun.

Apakah Anda benci harus menyikat gigi beberapa kali sehari, tetapi takut jika tidak melakukannya dapat merusak gigi Anda? Nah, Anda beruntung, karena para ilmuwan Jepang telah menciptakan sikat gigi berteknologi tinggi yang tidak memerlukan usaha apa pun selain memasukkannya ke dalam mulut Anda. Cukup gigit corongnya, dan mesin dapat secara otomatis melakukan proses menyikat dalam waktu sekitar satu menit.

Menggunakan teknologi yang dikembangkan oleh Laboratorium Robotika Universitas Waseda, sikat gigi robot “g.eN” memiliki beberapa kepala sikat kecil yang bergerak ke atas, bawah, kiri, dan kanan, yang digerakkan oleh motor kecil namun bertenaga. Dirancang untuk membersihkan kedua sisi gigi secara bersamaan sambil meminimalkan penyikatan yang tidak merata, yang tampaknya merupakan masalah pada penyikatan manual.

Sikat gigi robotik “g.eN” memiliki berat 220 gram, mendukung pengisian daya USB Type-C, dan memiliki beberapa mode pengoperasian (“Mudah,” “Teliti,” “Perawatan Khusus,” dan “Anak-anak”).

Sebuah makalah penelitian yang dipresentasikan pada Japan Society of Healthcare Dentistry 2022 melaporkan bahwa g.eN mencapai tingkat retensi plak rata-rata 22,4%, menunjukkan bahwa ini memenuhi standar untuk “kebersihan mulut yang baik.” Dia mencapai efek pembersihan yang setara atau lebih baik daripada menyikat gigi konvensional, tanpa memerlukan upaya langsung.

Setelah mengamankan dua paten, g.eN saat ini berada dalam tahap penggalangan dana (crowdfunding), dan telah melampaui targetnya hampir empat kali lipat. Anda dapat memesannya dengan harga diskon 31.042 yen (sekitar Rp 3,3 juta).

Meskipun sikat gigi robotik ini awalnya dimaksudkan sebagai alternatif yang lebih nyaman bagi orang-orang dengan keterbatasan fisik yang tidak dapat menggunakan sikat gigi manual, g.eN telah menarik minat masyarakat umum, yang sebagian besar di antaranya memang tidak suka menyikat gigi dengan tangan.(yn)

Upah Rendah dan Biaya Pernikahan yang Tinggi, Berkeluarga Menjadi Kemewahan bagi Rakyat Tiongkok

EtIndonesia. Dalam hampir sepuluh tahun terakhir, angka pernikahan dan jumlah kelahiran di Tiongkok terus menurun. Tahun ini, pemerintah meluncurkan berbagai kebijakan untuk mendorong pernikahan. Namun, di tengah kelesuan ekonomi dan penurunan upah secara luas, tingginya biaya pernikahan serta tekanan ekonomi membuat membangun keluarga tetap menjadi kemewahan bagi masyarakat biasa.

Zhang, pria berusia 32 tahun, mengungkapkan bahwa karena tidak mampu membayar uang seserahan sebesar 288.000 yuan, ia terpaksa berpisah dengan pacarnya. Selain itu, biaya hidup setelah menikah juga sangat besar: cicilan rumah, cicilan mobil, dan biaya membesarkan anak semuanya membutuhkan uang. Melihat banyak kerabat dan teman yang hidup penuh konflik setelah menikah serta tingginya angka perceraian, ia tidak ingin menjalani kehidupan seperti itu.

“Orang biasa tidak bisa menikah, saya juga tidak ingin menikah. Dengan penghasilan hanya beberapa ribu yuan, benar-benar tidak cukup untuk menafkahi keluarga. Saya juga tidak mampu membeli rumah,” ujar Zhang, lajang asal Qingdao. 

“Sebenarnya bisa saja menikah, tapi itu berarti menguras seluruh tabungan keluarga kami seumur hidup, bahkan harus berhutang. Setelah menikah, apakah bisa bertahan? Kalau tidak ada uang, langsung bercerai. Jangan berpikir punya anak pasti jadi jaminan hari tua. Kalau anak tidak menggerogoti masa tua kita saja sudah bagus,” tambahnya. 

Laporan Perkembangan Pernikahan dan Keluarga Tiongkok menunjukkan bahwa rata-rata uang seserahan di pedesaan melonjak dari 88.000 yuan pada 2015 menjadi 187.000 yuan pada 2024, dan di beberapa daerah bahkan mencapai lebih dari 300.000 yuan, sehingga menyebabkan semakin banyak pria lajang di pedesaan.

Li, kurir makanan berusia 22 tahun yang berasal dari desa, telah bekerja mengantar makanan di Hangzhou selama tiga tahun. Demi menghemat lebih dari 1.000 yuan per bulan untuk sewa, ia bahkan mendirikan tenda di bawah jembatan untuk tinggal. Ia mengatakan bahwa pendapatan kurir makanan kini jauh lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Untuk mencukupi hidup sendiri saja sudah sulit, apalagi memikirkan pernikahan.

“Mengantar makanan itu sangat melelahkan, tapi tidak menghasilkan uang. Kalau tidak punya uang, bagaimana bisa berkeluarga? Hanya orang kaya yang bisa menikah. Orang miskin, punya uang seserahan? Punya rumah? Punya mobil? Punya tabungan? Setelah menikah, anak makan apa? Ada uang susu formula? Saya juga tidak ingin menikah, tekanannya terlalu besar. Ini mungkin tragedi generasi muda zaman sekarang,” kata Li, kurir makanan di Hangzhou. 

Wang, pria 41 tahun, mengatakan bahwa harga rumah di Tianjin telah turun kembali ke level sepuluh tahun lalu, dengan penurunan lebih dari setengah. Kini, dengan beberapa ratus ribu yuan sudah bisa membeli satu unit rumah, namun gaji bulanan pekerja biasa umumnya hanya 3.000–4.000 yuan, sehingga memenuhi kebutuhan dasar saja sudah sulit. Tanpa bantuan finansial dari orang tua, sangat sulit untuk membangun keluarga.

“Sekarang kebanyakan perempuan hanya melihat uang. Kegagalan pernikahan semuanya karena pengangguran; pengangguran sama dengan perceraian. Nilai kebajikan perempuan tradisional sudah hilang. Hidup sendiri itu menyenangkan dan bebas. Dengan penghasilan saya 4.000–5.000 yuan per bulan, saya masih bisa menabung, jadi orang tua saya sekarang juga tidak lagi mendesak saya untuk menikah,” ujarnya. 

He, pria 38 tahun, dan istrinya sama-sama bekerja sebagai programmer, namun tahun lalu keduanya terkena PHK dan sama-sama menganggur. Biaya untuk dua anak serta cicilan rumah membuatnya sangat cemas. Ia mengungkapkan bahwa banyak orang yang kehilangan pekerjaan akhirnya pulang ke kampung halaman bersama keluarga, atau bahkan rumah tangga berantakan dan pasangan berpisah.

“Kehidupan sebagian besar orang yang lahir setelah tahun 1980-an berjalan sesuai pola: menikah, punya anak, beli rumah, beli mobil. Dulu, selama Anda berpenghasilan, mengikuti seluruh proses ini berarti sudah ‘dipanen’ oleh sistem—banyak orang akhirnya terlilit utang. Begitu kehilangan pekerjaan dan tidak ada keluarga yang menopang, tekanannya luar biasa besar sampai sulit tidur karena cemas,” katanya. 

Laporan oleh Xiong Bin dan Bai Ni, reporter New Tang Dynasty Television.

 Kisah Inspiratif: Mimpi adalah GPS Kehidupan

EtIndonesia. Pada tahun 1946, seorang anak laki-laki berusia enam tahun bernama Carlos Slim Helú menemukan sesuatu yang menarik di kios kecil pinggir jalan: kartu bisbol. Pada kartu-kartu itu tercetak foto para pemain tim bisbol Meksiko. Ketika seorang pemain tampil gemilang, anak-anak seusianya akan berebut membeli kartu bergambar pemain tersebut.

Helú kecil segera menyadari satu hal penting: nilai kartu bisbol bisa naik seiring prestasi pemainnya. Maka, setiap kali dia memperkirakan seorang pemain akan tampil lebih baik—atau saat dia mendapat kabar bahwa performa seorang pemain sedang menanjak—dia cepat-cepat menggunakan uang jajan dari ayahnya untuk membeli kartu tersebut dalam jumlah banyak. Setelah nilainya naik, dia menjualnya kembali dengan harga lebih tinggi.

Di usia yang masih sangat muda, Helú berhasil melipatgandakan uang jajannya hanya dengan ketajaman pengamatan dan keberanian menangkap peluang. Keberhasilan kecil ini menumbuhkan minat besar pada dunia bisnis dan investasi. Masa kecil yang penuh keyakinan itu membuatnya berani bermimpi besar: “Aku akan bekerja keras untuk menjadi orang terkaya di dunia.”

Dia menceritakan mimpinya kepada sang ayah. Bukannya menertawakan mimpi yang terdengar mustahil, ayahnya justru membacakan sebuah kutipan:

“Saat muda, aku penuh semangat dan bermimpi mengubah dunia. Namun seiring bertambahnya usia dan pengalaman, aku sadar tak mampu mengubah dunia. Aku lalu memperkecil tujuan: ingin mengubah negaraku, tapi itu pun terlalu besar. Ketika memasuki usia paruh baya, aku mencoba mengubah keluargaku sendiri—namun mereka tetap sama. Hingga di usia senja, aku akhirnya mengerti: seharusnya aku mengubah diriku terlebih dahulu. Dengan memberi teladan, mungkin aku bisa memengaruhi keluargaku; lalu negaraku; dan pada akhirnya, dunia.”

Ayahnya mengusap kepala Helú kecil dan berkata :  “Kalimat ini terukir pada sebuah batu nisan di dekat Westminster Abbey. Tuhan menolong mereka yang punya mimpi dan berani mengubah diri. Nak, hidup yang dijalani dengan kecerdasan akan terus bertambah nilainya. Kamu pasti bisa.”

Helú mengangguk mantap, menyimpan kata-kata itu dalam hatinya.

Saat masuk sekolah dasar, Helú belajar dengan tekun sambil mulai mencatat pemasukan, membaca laporan keuangan, dan menjalankan usaha kecil-kecilan. Dia sabar menunggu kesempatan investasi pertama yang benar-benar berarti.

Kesempatan itu datang pada usia 11 tahun. Ketika Meksiko tengah menggenjot pembangunan ekonomi dan kekurangan dana, pemerintah menerbitkan obligasi negara. Dengan dukungan ayahnya, Helú membeli sejumlah obligasi tersebut. Keputusan ini terbukti sangat cerdas: seiring pertumbuhan ekonomi Meksiko, nilai obligasi itu melonjak lebih dari 30 kali lipat.

Empat tahun kemudian—di usia 15 tahun—berkat hasil investasinya sendiri, dia telah menjadi pemegang saham salah satu bank terbesar di Meksiko.

Pada tahun 1960, Helú diterima di Universitas Nasional Meksiko. Menariknya, dia tidak memilih jurusan ekonomi, melainkan teknik sipil. Ketika ditanya alasannya, dia tersenyum dan berkata bahwa ilmu teknik lebih melatih cara berpikirnya.

Selama empat tahun kuliah, dia tak hanya piawai menangkap peluang di pasar berjangka, tetapi juga berinvestasi pada proyek produksi botol bir. Kedua langkah ini memberinya keuntungan yang signifikan.

Kepercayaan diri, ternyata, lebih berharga daripada emas. Alam semesta berpihak pada mereka yang punya mimpi, kecerdasan, dan kemauan bekerja keras.

Setelah lulus, Helú mendirikan Grupo Carso. Dia mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang kinerjanya buruk atau sahamnya sangat diremehkan pasar. Dengan analisis rasional, keputusan ilmiah, dan restrukturisasi manajemen, dia mengubah kerugian menjadi keuntungan. Kekayaannya bertumbuh seperti bola salju—dan wujud mimpinya semakin nyata.

Langkah kecil, dilakukan terus-menerus, akhirnya membawa hasil yang besar.

Penulis Paulo Coelho menulis dalam bukunya The Alchemist: “Tak ada hati yang terluka karena mengejar mimpi… ketika kamu sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, seluruh alam semesta akan bersatu membantumu.”

Carlos Slim Helú—pengusaha dari negara berkembang Meksiko—memiliki kekayaan pribadi sekitar 53,5 miliar dolar AS, menghasilkan 2.200.000 dolar AS per jam. Namun dia tetap mengemudikan mobil lama berusia lebih dari sepuluh tahun dan tinggal di lingkungan perumahan biasa.

Ketika ditanya mengapa, dia menjawab dengan sederhana: “Bagi saya, uang hanyalah simbol. Yang terpenting adalah mimpi saya sejak usia enam tahun telah terwujud. Dan mimpi—itulah GPS kehidupan.”(jhn/yn)

Kisah Inspiratif: Yang Pergi, Tak Pernah Kembali

EtIndonesia. Pertemuan itu terjadi kembali—setelah tujuh tahun berlalu—di sebuah musim dingin.  Di kota kecil di utara, hujan malam turun rintik-rintik, membasahi wajah, terasa dingin menusuk kulit.

Dia menutup pintu mobil, melihat cipratan lumpur yang terlempar ke bodi kendaraan, lalu mengeluh dalam hati mengapa suaminya tidak mengingatkannya membawa payung di hari hujan seperti ini. Bibir kecilnya mengerucut tanpa sadar, tanda rasa kesal yang samar.

Sementara itu, dia—pria itu—berputar cukup lama mencari tempat parkir. Hujan deras mengaburkan pandangan. Setelah berputar-putar di antara arus kendaraan, akhirnya dia menemukan celah sempit yang pas-pasan—cukup untuk badan mobil saja. Bahkan membuka pintu dan menurunkan kaki pun terasa sulit. Saat akhirnya berhasil melangkah keluar, kakinya justru menginjak genangan air.

Dia menggeleng pelan dan menghela napas tipis.

Dia hendak kembali menggerutu—orang macam apa ini, memarkir mobil terlalu dekat, nanti bagaimana aku keluar?  Namun kata-kata itu tertahan di bibirnya. Otot wajahnya menegang sedikit.

Di saat yang sama, pria itu membelalakkan mata. Pandangannya terpaku pada wajahnya.

Dia terdiam sejenak. Ingatan melesat seperti lari sprint seratus meter—kembali ke tujuh tahun silam. Senyum hangat itu. Tatapan yang tenang. Isyarat yang lembut. Bahkan sepatu yang basah seolah kembali terasa hangat.

Mereka masuk ke sebuah kafe bernama “Pertemuan.”  Di malam hujan, sudut ruangan terasa hangat dan sunyi.

Dia menatap pria di hadapannya dengan saksama. Saat alunan lagu “Semoga Kau Baik-baik Saja” terdengar, riak emosi muncul di matanya. Tatapan itu—pria itu—masih terasa begitu akrab. Dia adalah sosok yang pernah lama berkelana dalam mimpinya, dan juga seseorang yang dia rindukan dalam kesepian malam-malam panjang.

Matanya menyimpan kesedihan lembut. Jari-jarinya pucat. Garis wajahnya tegas. Hanya saja, rambut panjangnya telah dipotong pendek, dan di matanya kini ada kedewasaan serta ketenangan yang tak ada dulu.

Dia memesan segelas susu vanila, lalu memberi isyarat kepadanya. Pria itu masih refleks mengernyitkan dahi.

“Kalau masih ingat kebiasaanku, tolong pesan untukku,” katanya.

Dia berkata pada pelayan : “Untuk Tuan ini, satu gelas Cinta Setan.”

Dia mengangkat bahu dan tersenyum pahit.

“Aku tak bisa menyetir sambil mabuk.”

Dia menjawab pelan : “Waktu tak pernah berhenti. Di tengah hiruk-pikuk usia, kita memang harus mengubah banyak kebiasaan.”

Dia tersenyum tanpa suara, mengangkat gelas hitam yang dinamai setan, dan meneguknya perlahan.

“Bertahun-tahun berlalu, tapi satu hal yang tak berubah darimu—kebiasaan mengernyitkan dahi. Di antara alismu, selalu ada bayangan yang tak pernah bisa kuterobos.”

Dia menjawab : “Orangnya mungkin sama, tapi zaman telah berganti. Seperti minuman yang kamu pesan untukku ini—aku tahu, di hatimu, kamu selalu menyimpan rasa tak rela terhadapku.”

“Bukan kebencian,” katanya lirih.  “Aku hanya tak sanggup kalah oleh waktu, tak mampu bertarung melawan kenangan. Waktu diam-diam mengikis ketajamanku. Aku tak lagi sekeras dan seegois dulu. Tapi kamu pergi begitu saja… dan sepanjang hidup ini, kamu masih berutang satu penjelasan padaku.”

Dia menyalakan rokok. Tatapannya tenggelam seperti terperosok ke rawa. Gelas berkaki tinggi terus diputar di antara jemarinya. Lama dia terdiam.

“Sebenarnya, tahun ujian masuk perguruan tinggi itu, aku seharusnya bisa melangkah bersamamu ke masa depan yang sama. Tapi di saat terakhir, aku terpaksa berhenti.”

“Kamu berasal dari keluarga baik-baik. Kamu punya masa depan cerah. Sedangkan aku… hanya pemuda miskin yang bahkan kesulitan membayar uang kuliah. Di saat bersamaan, kakek—satu-satunya keluarga yang kupunya—jatuh sakit parah. Aku terpaksa berbohong, mengatakan bahwa aku gagal ujian, hanya demi menenangkan harapannya.”

“Musim panas itu, ibumu datang ke restoran tempatku bekerja. Dia ingin berbicara. Dia menawarkan sejumlah uang—sebagai bantuan, atau mungkin kompensasi. Syaratnya satu: aku harus berpisah darimu atas inisiatifku sendiri.”

“Aku menolak uang itu. Tapi aku mendengar baik-baik kalimat ‘harus sepadan.’ Sampai hari ini, aku tak pernah membencinya. Mungkin dia benar. Saat itu, aku memang tak mampu memberimu apa pun.”

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan, isaknya berkali-kali memutus kalimat.

Dia berkata lirih : “Aku masih ingat hari kamu meninggalkan kota kecil itu. Kamu mengenakan gaun merah muda. Itu hadiah terakhir dariku. Aku berdiri di sudut peron, melihatmu perlahan menghilang dari pandanganku.”

“Aku ingat ruang kelasmu—di belokan tangga. Tahun kedua kuliah, kamu menjadi penyiar radio kampus. Dan setiap siaranmu selalu diakhiri dengan lagu Qi Qin kesukaanku.”

“Aku ingat tahun ketiga, saat kamu punya pacar. Suatu malam di lapangan basket terbuka, kamu menangis dalam pelukannya. Hari itu ulang tahunmu—juga hari kalian resmi bersama.”

“Aku ingat menjelang kelulusan, kamu sering mengenakan setelan kerja biru tua, syal biru muda di leher, dan bros kristal berbentuk kupu-kupu. Suatu sore, sepulang magang, kamu turun dari bus nomor 24 yang penuh sesak. Tumit sepatu hakmu terkilir. Pria itu mengantarmu ke rumah sakit dengan sepeda. Sebelumnya kamu jongkok menangis di halte, tak berdaya… lalu tersenyum bahagia saat duduk di belakang sepedanya.”

“Mungkin kamu heran, mengapa aku tahu semua ini. Sebenarnya, selama tahun-tahun kuliahmu, aku tak pernah benar-benar pergi. Kita hidup di kota yang sama. Aku hanya berdiri di sudut-sudut jalan sebagai penjaga diam—berpapasan denganmu, lagi dan lagi.”

Dia menangis tersedu, menghabiskan semua tisu. Dia memesan kopi—tanpa gula—seperti dulu.

Saat berpisah, dia mengeluarkan dua keping CD dari mobil. Bungkusnya hitam polos, tanpa tulisan.

“Ini kami temukan tiga tahun lalu, saat aku dan suamiku bulan madu di Lijiang. Aku tahu… kamu pasti menyukainya.”

Dia mengeluarkan sebuah foto dari dompetnya dengan sangat hati-hati. Gambar itu membeku pada masa kuliahnya—rok yang berkibar, tubuh anggun.

“‘Dirimu’ yang pernah kusimpan di saku ranselku, menemaniku ke banyak tempat… kini harus kukembalikan. Maafkan aku atas semua keterpaksaan di masa lalu.”

Dia memundurkan mobil dari arus kendaraan, menyalakan lampu untuk meneranginya.

Dia membuka CD itu.

Di dalamnya, tertulis tangan: “Malam datang dan pagi berlalu, yang pergi—tak pernah kembali.”(jhn/yn)

Menggali Cerita di Balik Angka: Menakar Potensi “Ekonomi Pengalaman” dan Konservasi Nasional

EtIndonesia.com.  Di tengah keriuhan indikator makroekonomi seperti inflasi dan produk domestik bruto (PDB), wajah asli ekonomi Indonesia sering kali tersembunyi dalam dinamika mikro yang jarang mendapat sorotan utama.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai bahwa meskipun ekonomi nasional menunjukkan tren positif, lajunya masih berada di bawah potensi yang sesungguhnya. Ia mengibaratkan kondisi saat ini sebagai mesin yang memerlukan dorongan lebih kuat agar bisa setara dengan negara berkembang lainnya.

Melirik “Experience Economy” senilai Rp400 Triliun

Salah satu sektor yang kini mulai menggeliat namun belum sepenuhnya menjadi narasi utama pemerintah adalah experience ekonomi atau ekonomi pengalaman. Sektor ini merupakan penggabungan antara industri kreatif, film, musik, pariwisata, hingga layanan kebugaran (wellness). Berbeda dengan model jasa tradisional, ekonomi pengalaman menawarkan nilai tambah melalui suasana dan kesan yang didapatkan konsumen.

“Hiburan itu digabungkan menjadi ekonomi pengalaman atau experience ekonomi. Jadi orang sekarang bukan hanya masuk jasa film, tapi dia beli merchandise-nya, dia menikmati keluar dari stresnya kondisi ekonomi sekarang. Dan itu tumbuhnya luar biasa, Rp400 triliun untuk Indonesia,” ujar Bhima di kanal youtube Merry Riana (29/12/2025) menekankan potensi besar sektor ini yang mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Fenomena ini terlihat dari pergeseran gaya hidup, seperti tren konsumsi matcha di kalangan perempuan yang mencari alternatif kafein selain kopi, hingga kebangkitan industri perfilman dan konser musik nasional yang kini digerakkan oleh promotor-promotor muda. Data menunjukkan bahwa di kawasan Asia Pasifik, motivasi utama masyarakat berlibur adalah untuk mencari ketenangan dan kebugaran (wellness), yang kini menjadi ceruk pasar nomor satu di atas wisata kuliner maupun budaya.

Paradigma Baru: Konservasi di Atas Ekstraksi

Di sisi lain, Bhima menawarkan kritik mendasar terhadap cara pandang pemerintah terhadap kekayaan alam. Jika selama ini tambang dan sawit dianggap sebagai anugerah ekonomi utama, Celios melihat peluang yang jauh lebih besar pada sektor konservasi hutan dan mangrove dalam jangka panjang.

“Indonesia ini punya kekayaan alam tambang anugerah, sawit anugerah. Saya membacanya agak kebalik, kalau kita bisa mengkonservasi hutan suatu saat yang lain enggak punya hutan, ini nilainya jauh lebih besar. Nilainya Rp2.000 triliun lebih dalam 15 tahun ke depan kalau kita pilih jalan itu,” papar Bhima.

Ia menambahkan bahwa beberapa kepala daerah mulai menyadari keterbatasan sumber daya ekstraktif, seperti nikel yang diprediksi hanya bertahan beberapa tahun lagi, sehingga mulai beralih pada diversifikasi ekonomi berbasis perikanan dan pengolahan hasil laut.

Independensi Riset dan Evaluasi Kebijakan

Sebagai lembaga riset independen, Celios menekankan pentingnya kebijakan berbasis data (evidence-based policy) di tengah dinamika politik yang sering kali mengaburkan objektivitas. Bhima menceritakan bagaimana riset dapat menjadi alat advokasi publik, seperti saat komunitas penggemar K-Pop menggunakan data Celios untuk memprotes rencana kenaikan PPN 12 persen karena dinilai memberatkan pelaku usaha muda dan konsumen generasi Z.

Kritik tajam juga sempat dilayangkan Celios melalui survei kinerja menteri yang menunjukkan adanya ketimpangan kualitas antar-anggota kabinet. Meskipun hasil survei tersebut memicu reaksi beragam dari para menteri—mulai dari permintaan audiensi hingga protes terkait ketidakadilan penilaian—Bhima menegaskan bahwa fungsi riset adalah untuk memberikan peringatan dini kepada Presiden agar melakukan evaluasi terhadap pembantunya.

“Ekonom kalau bikin kebijakan itu jutaan orang bisa diselamatkan. Sebaliknya, kalau ekonom ngasih salah riset, salah kebijakan, salah data, itu korbannya juga jutaan orang,” tegasnya merujuk pada tanggung jawab moral seorang peneliti ekonomi.(isw)

Sangihe di Bawah Bayang-Bayang Tambang: Ketika Kedaulatan Hukum Terbentur Tembok Korporasi

EtIndonesia— Di beranda utara Nusantara, Kepulauan Sangihe kini menjadi saksi bisu atas drama penegakan hukum yang timpang. Meskipun warga telah memenangkan gugatan hingga tingkat Mahkamah Agung (MA) untuk mencabut izin operasi pertambangan, deru alat berat dan aktivitas eksplorasi PT Tambang Masangihe (PTTMS) dilaporkan masih terus berlangsung. Sangihe, sebuah pulau kecil seluas 736 kilometer persegi yang seharusnya dilindungi undang-undang, kini tengah dipertaruhkan kedaulatannya di hadapan modal asing.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014, wilayah dengan luas di bawah 2.000 kilometer persegi dikategorikan sebagai pulau kecil yang mutlak dilarang untuk ditambang. Kanti W. Janis, seorang pengacara publik sekaligus diaspora Sangihe, menilai upaya pemberian izin tambang di wilayah tersebut sebagai langkah yang sangat tidak masuk akal mengingat luasnya yang terbatas.

 “Saya lihat izin yang mau dikasih itu sekitar 60 persen (dari luas pulau). Itu enggak masuk akal. Sangihe ini sangat kecil dan terisolasi. Kalau ada apa-apa, susah orang untuk menyelamatkan diri, apalagi di situ banyak gunung api yang aktif,” ujar Kanti W. Janis dalam sebuah wawancara mendalam DI KANAL Forum Keadilan TV (29/12/2025).

Kanti juga menyoroti bagaimana PT TMS, yang 70 persen sahamnya dimiliki oleh Baru Gold Corporation asal Kanada, seolah menjadi “negara dalam negara”. Meski izin lingkungan dan izin operasi produksi telah dibatalkan oleh putusan MA yang sudah berkekuatan hukum tetap (inkrah), perusahaan tersebut masih beroperasi dengan dalih Kontrak Karya tahun 1997.

Jejak Tragedi dan Kriminalisasi

Konflik ini tak hanya menyisakan kerusakan ekologis, tetapi juga luka kemanusiaan yang dalam. Kasus kematian Wakil Bupati Sangihe, Helmud Hontong, yang meninggal secara mendadak di dalam pesawat setelah menyerahkan surat penolakan tambang ke Jakarta, masih menyisakan kecurigaan besar bagi publik.

Kanti menceritakan kejanggalan di balik peristiwa tersebut:

“Dia meninggal muntah darah, padahal dia itu habis melakukan general check up dan dinyatakan sehat. Ini kok jadi kayak dimunirkan?” ungkapnya, merujuk pada gejala tidak biasa yang dialami almarhum. 

Di sisi lain, warga yang berjuang mempertahankan tanahnya justru menghadapi represi. Seorang nelayan bernama Robinson Saul dijatuhi hukuman 10 bulan penjara hanya karena membawa pisau saat unjuk rasa—padahal pisau tersebut adalah alat kerjanya sehari-hari. 

Kanti menilai aparat keamanan cenderung menjadi pelindung perusahaan daripada melindungi rakyat. Ia bahkan menyebut adanya oknum polisi aktif yang diduga menjadi pengacara sekaligus pemegang saham di perusahaan tersebut.

Ancaman “Genosida” Lingkungan

 Secara ekologis, dampak pembukaan lahan sudah mulai terlihat nyata. Setidaknya 30 hektar hutan telah gundul, dan penggunaan bahan kimia seperti sianida serta merkuri dalam proses pemurnian emas mulai meracuni sumber air dan hasil laut warga.

“Saya ke sana November 2023… sudah satu keluarga keracunan. Airnya sudah semakin kering karena tambang ini menyerap air sangat banyak. Kolam sianidanya terbuka dan bau sekali,” kata Kanti memberikan gambaran lapangan,.

Kanti menambahkan bahwa eksploitasi ini merupakan bentuk ketidakadilan global, di mana perusahaan asing membuang limbah di Indonesia demi keuntungan di bursa saham internasional.

“Negara-negara seperti Kanada di mana-mana ngomong mereka green, sustainability… tapi di sini mereka meracuni alam kita, meracuni orang-orang kita. Jadi munafik banget, cuman duit aja,” tegasnya.

Menanti Wibawa Negara

Kini, warga Sangihe hanya bisa menggantungkan harapan pada ketegasan Presiden dan Kapolri untuk mengeksekusi putusan pengadilan. Kanti menekankan bahwa masalah Sangihe bukan sekadar konflik agraria, melainkan isu kedaulatan nasional di wilayah perbatasan yang berbatasan langsung dengan Filipina dan Laut Cina Selatan,.

Tanpa langkah tegas untuk menghentikan operasi tambang ilegal tersebut, wibawa hukum Indonesia dianggap sedang dipertaruhkan di hadapan para “broker” saham internasional. (yud)

Setelah 30 Tahun Sunyi, Tangis Bayi Akhirnya Menggema di Desa Pegunungan Italia

EtIndonesia. Ada sebuah lagu klasik berbahasa Inggris berjudul When a Child Is Born (Ketika Seorang Anak Dilahirkan), yang menceritakan tentang kelahiran Yesus Kristus yang membawa terang dan harapan bagi umat manusia. Dalam beberapa hari terakhir, sebuah kisah lain yang membawa harapan juga beredar di Italia: pada tahun 2025, sebuah desa kecil di pegunungan Italia akhirnya menyambut kelahiran bayi pertama dalam hampir 30 tahun.

Desa pegunungan kecil ini adalah Pagliara dei Marsi, sebuah desa kuno yang terletak di Gunung Girifalco, wilayah Abruzzo, Italia. Bayi perempuan tersebut bernama Lara Bussi Trabucco.

Menurut laporan surat kabar Inggris The Guardian pada 26 Desember, bayi Lara lahir pada  Maret 2025, memecah ketenangan desa kecil Italia tersebut. Sebuah perayaan besar pun digelar untuk merayakan peristiwa langka yang sudah 30 tahun tidak terjadi: kelahiran seorang bayi. Pada saat yang sama, hal ini kembali menarik perhatian pada masalah “musim dingin demografi” yang dihadapi Italia.

Kelahiran Lara bahkan menjadi “objek wisata” lokal, menarik orang-orang yang sebelumnya belum pernah mendengar tentang desa kecil ini untuk datang berkunjung. Ibu Lara, Cinzia Trabucco, mengatakan: “Dia baru berusia 9 bulan, tapi sudah terkenal.”

Kehadiran Lara melambangkan harapan, namun juga mengingatkan masyarakat bahwa krisis demografi di Italia semakin memburuk.

Berdasarkan data dari Badan Statistik Nasional Italia (Istat), pada tahun 2024 jumlah kelahiran di Italia turun ke titik terendah dalam sejarah, yakni hanya 369.944 kelahiran. Tingkat kesuburan juga turun ke rekor terendah, dengan rata-rata perempuan usia subur melahirkan 1,18 anak—salah satu tingkat kesuburan terendah di Uni Eropa. 

Data sementara tujuh bulan pertama tahun 2025 menunjukkan bahwa angka kelahiran Italia akan terus menurun. Wilayah Abruzzo berada dalam kondisi paling parah, dengan jumlah kelahiran dari Januari hingga Juli tahun ini turun 10,2% dibandingkan periode yang sama pada 2024.

Penurunan populasi disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk ketidakstabilan lapangan kerja, arus besar kaum muda yang meninggalkan kampung halaman, kurangnya dukungan bagi ibu yang bekerja, meningkatnya tingkat infertilitas, serta semakin banyak orang yang memilih untuk tidak memiliki anak.

Dalam konteks ini, orang tua Lara tampak agak berbeda dari kebanyakan orang. Sang ibu, Cinzia, kini berusia 42 tahun dan berprofesi sebagai guru musik. Ia lahir di kota kecil Frascati di sekitar Roma. Setelah bertahun-tahun bekerja di ibu kota Italia, ia memutuskan untuk pindah ke desa pegunungan tempat kakeknya dilahirkan, menjauh dari hiruk-pikuk kota untuk membangun keluarga. Beberapa tahun lalu, ia bertemu dengan seorang pekerja bangunan setempat bernama Paolo Bussi, yang kini berusia 56 tahun.

Wali kota setempat, Giuseppina Perozzi, sangat berterima kasih atas kedatangan Cinzia dan berharap kisah mereka dapat menginspirasi orang lain untuk melakukan hal serupa. Ia mengatakan: “Pagliara dei Marsi telah lama menderita akibat penurunan populasi yang tajam. Meninggalnya banyak warga lanjut usia memperparah masalah ini, sementara tidak terjadi regenerasi antargenerasi.”

Namun, dengan kelahiran seorang anak, tantangan baru juga akan muncul. Lara yang kini berusia 9 bulan akan segera menghadapi masalah kurangnya fasilitas pendidikan seperti penitipan anak. Akibat penurunan jumlah penduduk, rumah sakit—termasuk layanan kebidanan—serta sekolah-sekolah di wilayah tersebut juga menghadapi risiko penutupan lebih lanjut. (Hui)

Laporan terjemahan oleh reporter Jin Hong / Lin Qing

Penjara di Liaoning, Tiongkok  Gunakan Cara-Cara Keji untuk Menganiaya Praktisi Falun Gong

Penjara di Liaoning Gunakan Cara-Cara Rendah dan Keji untuk Menganiaya Praktisi Falun Gong

EtIndonesia. Pan Jing, seorang praktisi Falun Gong dari Kota Dandong, Provinsi Liaoning, karena tetap berpegang pada keyakinan Sejati–Baik–Sabar, berulang kali diculik dan ditahan oleh aparat Partai Komunis Tiongkok (PKT). Ia pernah dua kali dijatuhi hukuman kerja paksa ilegal dan sekali dimasukkan secara paksa ke rumah sakit jiwa untuk dianiaya. 

Pada tahun 2022, ia kembali dijatuhi hukuman ilegal selama tiga tahun dan dibawa ke Penjara Wanita Provinsi Liaoning untuk mengalami penganiayaan. Pada 4 Oktober tahun ini, ia akhirnya menyelesaikan masa hukuman yang tidak adil tersebut. Baru-baru ini, ia mengungkapkan siksaan tidak manusiawi yang dialaminya selama di penjara.

Menurut laporan Minghui.org, di Penjara Wanita Provinsi Liaoning, karena Pan Jing menolak menerima apa yang disebut “transformasi” yang dipaksakan oleh pihak penjara—yakni memaksanya meninggalkan keyakinan—ia atas perintah sipir dipukuli dan dimaki oleh para narapidana. Ia tidak diizinkan mandi, tidak diizinkan menggunakan toilet, bahkan dipaksa memakan kotoran manusia. 

Selain itu, ia juga tidak diizinkan tidur dan dipaksa berdiri terus-menerus selama empat hari empat malam. Ia juga dipaksa meminum obat-obatan psikiatri serta dicekoki secara brutal susu bubuk yang direndam dengan air seni.

Minghui.org mengecam bahwa cara-cara PKT dalam menganiaya praktisi Falun Gong telah begitu keji dan rendah, hingga sama sekali kehilangan sisi kemanusiaan.

Falun Gong, yang juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah disiplin spiritual yang berlandaskan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar.  Praktik ini pertama kali diperkenalkan kepada publik di Tiongkok pada tahun 1992 dan dengan cepat berkembang pesat. Menurut perkiraan resmi pada saat itu, hingga akhir dekade tersebut setidaknya 70 juta orang telah memulai latihan Falun Gong.

 Partai Komunis Tiongkok (PKT) karena takut bahwa popularitas Falun Gong mengancam kekuasaan rezimnya, melancarkan kampanye penganiayaan nasional pada tahun 1999, berbagai organisasi hak asasi manusia dan pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mendokumentasikan praktik penahanan sewenang-wenang secara luas, kerja paksa, penyiksaan, serta pengambilan organ secara paksa terhadap para praktisi.

Pada 20 Juli 2025, praktisi Falun Gong di wilayah New York dan sekitarnya mengadakan parade akbar di Pecinan Manhattan, menyerukan diakhirinya penganiayaan PKT terhadap praktisi Falun Gong dan mendukung 449 juta rakyat Tiongkok yang telah mengundurkan diri dari PKT, Liga Pemuda Komunis, dan Pionir Muda. (Dai Bing/The Epoch Times)

Tunduk? Media Partai Tiba-Tiba Terbitkan Editorial untuk Mendekati Amerika Serikat

Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok dan Amerika Serikat kerap mengalami gesekan di bidang ekonomi, perdagangan, dan lain-lain. Media resmi PKT selama ini terus menghasut sentimen anti-Amerika di kalangan masyarakat domestik. 

Namun pada 28 Desember, People’s Daily (Harian Rakyat) secara tiba-tiba menerbitkan sebuah editorial yang menyatakan bahwa slogan yang dikemukakan Trump, “Make America Great Again” (Jadikan Amerika Hebat Kembali), tidak bertentangan dengan pembangunan dan kebangkitan Tiongkok. Hal ini pun menarik perhatian luas.

Editorial tersebut menyatakan bahwa kepentingan Tiongkok dan Amerika Serikat tidak mungkin sepenuhnya sejalan. Adanya persaingan bahkan gesekan di bidang tertentu adalah hal yang normal. Perbedaan tidak seharusnya dibesar-besarkan tanpa batas hingga jatuh ke dalam lingkaran setan yang merugikan.

Para pengamat menilai, perubahan sikap mendadak media Partai yang menunjukkan sikap bersahabat terhadap Amerika Serikat ini merupakan bentuk pelunakan sikap terhadap Trump. (hui)

Untuk Pertama Kalinya dalam Sejarah! “Ledakan di Dalam Ledakan” Bintang yang Sekarat Menghasilkan Sejumlah Besar Emas

EtIndonesia. Para astronom baru-baru ini untuk pertama kalinya mengamati bahwa sebuah bintang raksasa yang berada di ambang kematian mengalami fenomena “ledakan di dalam ledakan” selama proses keruntuhan, yang menghasilkan emas, platinum, dan unsur-unsur berat kosmik lainnya dalam jumlah besar.

Menurut laporan situs sains LiveScience, peristiwa yang diberi kode AT2025ulz ini pertama kali terdeteksi pada 18 Agustus 2025 oleh observatorium gelombang gravitasi LIGO di Amerika Serikat dan Virgo di Eropa.

Sinyal gelombang gravitasi awal menunjukkan bahwa ini merupakan peristiwa penggabungan benda langit. Tak lama kemudian, fasilitas Zwicky Transient Facility (ZTF) di California juga mengamati cahaya merah yang cepat meredup—ciri khas dari kilonova—yang menandakan bahwa wilayah kosmik tempat bintang tersebut berada sedang “menempa” unsur-unsur berat seperti emas dan platinum.

Namun, titik cahaya tersebut tidak meredup sepenuhnya seperti yang biasanya diamati. Sebaliknya, cahaya itu justru kembali menguat dan bergeser ke panjang gelombang biru, yang merupakan ciri khas supernova.

Tim peneliti mengajukan hipotesis bahwa ini adalah sebuah bintang raksasa yang, selama proses keruntuhan, intinya terlebih dahulu terbelah menjadi dua dan membentuk dua bintang neutron yang lebih kecil. Kedua bintang neutron tersebut kemudian bertabrakan hebat dalam hitungan jam, memicu ledakan ganda yang menggabungkan karakteristik supernova dan kilonova.

Fenomena “ledakan di dalam ledakan” ini menjelaskan mengapa data pengamatan menampilkan spektrum cahaya yang tampak bertentangan—berubah dari merah ke biru.

Yang semakin menarik perhatian para ilmuwan adalah hasil analisis data gelombang gravitasi. Penelitian menunjukkan bahwa dari dua bintang neutron yang bergabung, setidaknya satu di antaranya memiliki kemungkinan 99% bermassa lebih kecil dari Matahari. Hal ini secara langsung menantang prediksi fisika bintang konvensional, karena selama ini komunitas ilmiah umumnya meyakini bahwa batas massa minimum bintang neutron tidak boleh lebih rendah dari 1,2 kali massa Matahari.

Tim peneliti menilai bahwa hanya melalui model keruntuhan dan pembelahan bintang yang berotasi sangat cepat, bintang neutron dengan massa seringan itu dapat terbentuk.

Meski masih perlu menyingkirkan kemungkinan bahwa ini hanyalah kebetulan dari dua peristiwa tak terkait yang saling tumpang tindih, jika peristiwa “superkilonova” ini dapat dipastikan, maka hal tersebut akan menjadi terobosan besar dalam teori evolusi benda langit.

Asisten profesor Universitas Carnegie Mellon, Antonella Palmese, menyatakan bahwa jika superkilonova benar-benar ada, maka di masa depan para ilmuwan akan dapat mengamati lebih banyak kasus serupa melalui Observatorium Vera C. Rubin atau Teleskop Luar Angkasa Roman milik NASA. (hui)

Trump Berbicara dengan Putin Sebelum Pertemuan Puncak Trump-Zalenskyy,  Trump Sebut Perang Bisa Berakhir dalam Beberapa Minggu

Menjelang pergantian tahun, situasi geopolitik global memasuki momen krusial. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada 28 Desember terbang ke Mar-a-Lago, Florida, untuk melakukan pertemuan yang sangat disorot dunia dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Banyak pihak menilai, “pertemuan Trump–Zelenskyy” ini menjadi peluang kunci untuk mendorong berakhirnya perang Rusia–Ukraina yang telah berlangsung hampir empat tahun.

EtIndonesia. Pada  28 Desember 2025, Presiden AS Donald Trump menyambut kedatangan Presiden Zelensky di Mar-a-Lago. Keduanya tampak dalam suasana hati yang cukup baik.

Delegasi kedua pihak menggelar pertemuan di ruang makan utama Mar-a-Lago. Presiden Trump menilai bahwa perundingan saat ini telah memasuki tahap akhir dan mungkin sudah memenuhi syarat untuk mencapai kesepakatan.

Pertemuan berlangsung sekitar tiga jam. Usai pertemuan, Trump mengungkapkan bahwa negosiasi kesepakatan telah selesai sekitar 95%. Jika semuanya berjalan lancar, kesepakatan bisa dicapai dalam waktu beberapa minggu, meskipun masih ada kemungkinan gagal karena berbagai faktor.

Presiden Trump juga menulis di platform media sosial Truth Social bahwa sebelum bertemu Zelensky, ia telah melakukan panggilan telepon yang produktif dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Ini merupakan panggilan kesembilan antara pemimpin AS dan Rusia sejak awal tahun 2025.

Dalam beberapa hari terakhir, Rusia melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap Ukraina. Ketika wartawan menanyakan apakah Putin sungguh-sungguh menginginkan perdamaian, Trump menanggapi:

Presiden AS Donald Trump: “Ini adalah perang yang paling sulit. Tetapi kami pasti akan menyelesaikannya. Hari ini kami akan mengadakan pembicaraan yang sangat baik. Pria ini (Zelensky) bekerja sangat keras, dia sangat berani, dan rakyatnya juga sangat berani.”

“Dia (Putin) serius. Saya bisa mengatakan bahwa saya percaya Ukraina juga telah melancarkan beberapa serangan yang sangat keras. Saya mengatakan ini tanpa maksud menyalahkan. Kita lihat saja nanti, tetapi saya percaya kedua belah pihak ingin mengakhiri perang. Kedua negara ingin mengakhiri perang.”

Zelenskyy menyatakan bahwa Amerika Serikat setuju memberikan jaminan keamanan selama 15 tahun bagi Ukraina setelah perang berakhir. Namun, Kyiv khawatir jangka waktu tersebut terlalu singkat dan tidak cukup untuk mencegah Rusia kembali menginvasi. Ia berharap Presiden Trump mempertimbangkan untuk memperpanjang jaminan keamanan menjadi 30, 40, bahkan 50 tahun.

Kedua pihak juga menyusun rancangan jaminan keamanan trilateral antara Ukraina, Amerika Serikat, dan Eropa. Dokumen lainnya menguraikan kerja sama ekonomi yang disebut “Peta Jalan Kemakmuran Ukraina”.

“Ini juga membawa manfaat ekonomi yang sangat besar bagi Ukraina. Anda tahu, ada banyak pekerjaan rekonstruksi yang harus dilakukan di sana, dan banyak kekayaan yang bisa digali. Mereka memiliki kekayaan yang sangat besar, potensi kekayaan yang luar biasa. Mereka ingin segera memulainya. Namun, apa yang sedang kita bicarakan sekarang benar-benar membawa manfaat ekonomi yang sangat besar bagi Ukraina. Meski demikian, semuanya masih belum final,” ujarnya. 

“Namun, pasti akan ada sebuah perjanjian keamanan. Dan itu akan menjadi perjanjian yang kuat. Negara-negara Eropa terlibat secara mendalam. Mereka akan sangat terlibat dalam perlindungan keamanan dan berbagai urusan lainnya. Negara-negara Eropa benar-benar luar biasa.”

Presiden Trump juga menyatakan bahwa setelah bertemu Zelensky, ia akan kembali menelepon Putin untuk melanjutkan negosiasi.

Pada Senin (29 Desember), Moskow menyatakan bahwa pihaknya menuntut penarikan pasukan Ukraina dari wilayah Donbas.

Zelenskyy mengonfirmasi bahwa tim Ukraina akan bertemu kembali pekan depan untuk memfinalisasi berbagai isu terkait. Mengenai masalah wilayah, ia cenderung mengadakan referendum nasional di Ukraina untuk menentukan keputusannya. (Hui)

Laporan oleh Zhang Liang, reporter New Tang Dynasty Television, dari Amerika Serikat.