Terungkap! Penembak Massal di Pantai Bondi Australia Pernah ke Filipina Sebelum Melancarkan Serangan Berdarah

EtIndonesia. Duo ayah dan anak yang melakukan penembakan massal di Bondi pada 14 Desember diketahui melakukan perjalanan ke Filipina pada  November, demikian dikonfirmasi oleh sumber-sumber keamanan di Australia.

Menurut Biro Imigrasi Filipina, Naveed Akram (24) dan ayahnya yang kini telah meninggal, Sajid Akram (50), terbang ke Kota Davao di wilayah Mindanao dan berada di negara tersebut dari 1 hingga 28 November.

Seperti yang sebelumnya dilaporkan The Epoch Times, Akram yang lebih muda memiliki keterkaitan dengan anggota jaringan pro–Negara Islam (Islamic State/IS) di Australia—termasuk pendakwah jihad Wisam Haddad dan perekrut pemuda IS yang telah divonis bersalah, Youssef Uweinat—yang dapat ditelusuri sejak tahun 2019.

Namun, Perdana Menteri Anthony Albanese mengatakan kepada media penyiaran publik pada 15 November bahwa lembaga keamanan menilai aktivitas Akram tidak cukup untuk membenarkan pencantumannya dalam daftar pemantauan terorisme.

Dua bendera Negara Islam ditemukan di dalam mobil keluarga Akram di Pantai Bondi, dan para penyelidik menyatakan mereka meyakini pasangan tersebut telah bersumpah setia kepada kelompok teroris itu.

Banyak komentar pada rekaman media sosial yang menampilkan para penembak—keduanya menggunakan senapan bolt-action (diduga Beretta BRX1)—menyoroti kecepatan pengisian ulang dan penembakan. Sejumlah pihak berkomentar bahwa seorang “amatir” tidak mungkin mencapai tingkat tembakan secepat yang terlihat.

Menurut laporan Kantor Inspektur Jenderal Amerika Serikat, sejak penggunaan simbol dan merek ISIS mulai dipakai oleh kelompok-kelompok radikal di Filipina sekitar tahun 2014, telah terjadi sejumlah serangan di wilayah selatan yang konsisten dengan taktik Negara Islam. Serangan tersebut mencakup bom bunuh diri, alat peledak rakitan (IED), serangan perkotaan terkoordinasi, serta penyanderaan.

Makalah dari West Point Combating Terrorism Centre dan International Crisis Group mendokumentasikan pertumbuhan kehadiran ISIS di Mindanao, termasuk rujukan terhadap basis, kamp, dan aktivitas pelatihan terkoordinasi di antara kelompok-kelompok pro-ISIS.

Laporan Negara tentang Terorisme dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mencantumkan unsur-unsur yang berafiliasi dengan ISIS dan mencatat berlanjutnya operasi kekerasan serta aktivitas bergaya pelatihan di Filipina selatan.

Namun, kamp pelatihan teroris  di Filipina tidak menyerupai kamp pelatihan besar, permanen, dan bertanda jelas seperti yang dijalankan ISIS di Irak atau Suriah. Kamp-kamp tersebut lebih digambarkan sebagai kamp hutan, pertanian terpencil, bahkan gua, dengan fasilitas yang mudah dipindahkan.

Pengepungan Marawi pada tahun 2017 merupakan manifestasi paling jelas dari kehadiran ISIS di Filipina, ketika militan menguasai dan berupaya memerintah sebagian wilayah sebuah kota besar selama lima bulan, serta memanfaatkan petempur asing dan pelatihan untuk melancarkan perang perkotaan.

Sejak insiden tersebut, pasukan keamanan Filipina—dengan dukungan internasional—telah melaksanakan operasi kontra-pemberontakan dan kontra-terorisme secara berkelanjutan, termasuk upaya membersihkan kamp-kamp, memutus lokasi pelatihan, dan menangkap para pemimpin kelompok.

Pelaku Penembakan Massal di Pantai Bondi Australia Terinspirasi Ideologi ISIS

Australian Federal Polic (AFP) dan Kepolisian NSW mengonfirmasi para pelaku menyimpan materi ekstremis serta bahan peledak rakitan (IED), seiring penyelidikan terorisme yang semakin mendalam

EtIndonesia. Otoritas kontra-terorisme Australia menyatakan bahwa penembakan massal yang menyasar perayaan Yahudi di Bondi Beach, Sydney, terinspirasi ideologi Negara Islam (IS).

Serangan yang menargetkan perayaan Hanukkah di lokasi ikonik Sydney itu segera diklasifikasikan sebagai aksi terorisme.

Pada 14 Desember malam, duo ayah–anak tersebut melepaskan tembakan ke arah sekitar 1.000 orang yang tengah merayakan malam pertama Hanukkah. Sedikitnya 15 orang tewas hingga kini dan lebih dari 40 lainnya luka-luka. Salah satu penembak tewas di lokasi, sementara pelaku lainnya berada dalam kondisi kritis.

Komisioner Kepolisian Federal Australia, Krissy Barrett, mengatakan temuan awal mengarah pada inspirasi ISIS, namun menegaskan bahwa penyelidikan masih berada pada tahap awal.

“Tidak ada bukti yang menunjukkan keterlibatan pihak lain dalam serangan ini. Namun, kami memperingatkan bahwa hal itu bisa berubah seiring berjalannya penyelidikan,” ujar Barrett kepada wartawan pada 16 Desember.

Ia menekankan pemisahan tegas antara ideologi radikal dan agama secara luas.

“Ini adalah dugaan tindakan individu yang berpihak pada organisasi teroris, bukan sebuah agama,” katanya.

Perdana Menteri Anthony Albanese menggemakan pernyataan tersebut, menegaskan bahwa serangan ini tampak bermotif ideologis.

“Tampaknya serangan ini dimotivasi oleh ideologi Negara Islam,” kata Albanese dalam wawancara radio.

 “Ideologi kebencian yang telah berkembang lebih dari satu dekade ini, dan dalam kasus ini memicu kesiapan melakukan pembunuhan massal. Kami bekerja sekeras mungkin.”


Bendera ISIS dan Bahan Peledak

Komisioner Polisi NSW Mal Lanyon mengonfirmasi penyidik menemukan materi ekstremis dan perangkat peledak yang terkait dengan para tersangka.

“Saya juga mengonfirmasi bahwa kendaraan yang terdaftar atas nama pelaku yang lebih muda berisi IED, dan juga dua bendera ISIS buatan sendiri,” kata Lanyon.

Polisi belum mengungkap rincian lebih lanjut mengenai jenis bahan peledak tersebut atau apakah direncanakan untuk digunakan.

“Kami terus menelusuri motif di balik tragedi ini,” ujar Lanyon.
“Ini penyelidikan yang sangat kompleks dan harus dilakukan secara menyeluruh.”

Albanese menegaskan bahwa ideologi ISIS tetap menjadi ancaman global.

“Penyimpangan radikal terhadap Islam adalah masalah serius,” katanya.
“ISIS menciptakan ideologi kejahatan yang telah dikecam, bukan hanya oleh pemerintah Australia, tetapi oleh dunia.”


Jejak ASIO Terungkap

Penyelidikan ini juga memicu sorotan tajam terhadap penilaian intelijen, setelah terungkap bahwa pelaku yang lebih muda pernah diselidiki terkait ekstremisme.

Naveed Akram (24) sempat menarik perhatian ASIO pada 2019 karena dugaan keterkaitan dengan radikalisme. Namun setelah diwawancarai, ia dibebaskan dan tidak dimasukkan ke dalam daftar pantauan teror.

Albanese mengatakan penyelidikan ASIO kala itu tidak mengidentifikasi Akram sebagai ancaman berkelanjutan.


Perjalanan ke Luar Negeri Diselidiki

Polisi juga mengonfirmasi bahwa para tersangka melakukan perjalanan ke luar negeri tak lama sebelum penembakan.

“Saya dapat mengonfirmasi bahwa mereka bepergian ke Filipina,” kata Lanyon.
“Alasan dan tujuan perjalanan tersebut, serta lokasi yang mereka datangi, masih dalam penyelidikan.”

Hingga kini, otoritas belum memastikan apakah perjalanan tersebut berkaitan langsung dengan serangan.


Penyelidikan Satuan Anti-Teror

Kasus ini ditangani oleh NSW Joint Counter Terrorism Team, yang melibatkan Polisi Federal Australia, Polisi NSW, ASIO, dan Komisi Kejahatan NSW.

Barrett mengatakan satuan tugas tengah menelaah sejumlah besar barang bukti yang disita, namun belum akan merilis rincian tambahan.

“Kami memahami pentingnya informasi bagi publik, tetapi fokus utama kami adalah tindakan nyata—melakukan penyelidikan menyeluruh.”


Koreksi Soal Izin Senjata

Polisi juga mengeluarkan klarifikasi terkait informasi izin senjata api yang sebelumnya dirilis.

Lanyon menegaskan bahwa Naveed Akram tidak memiliki izin senjata sejak 2015, bertentangan dengan pernyataan awal.

“Saya ingin meluruskan catatan,” katanya.

Sajid Akram mengajukan izin senjata pada Oktober 2015, namun permohonan itu kedaluwarsa pada 2016 karena persyaratan tidak dipenuhi.

Permohonan izin kategori AB kembali diajukan pada 2020, direkomendasikan, dan resmi diterbitkan pada 2023.

Polisi kemudian mengonfirmasi bahwa pria berusia 50 tahun tersebut memegang izin senjata yang masih berlaku selama sekitar dua tahun sebelum serangan, dan senjata yang disita terdaftar secara legal di bawah izin tersebut.

Mengapa Resolusi PBB 2758 Tahun 1971 tentang Taiwan Kini Justru Menghantui Beijing: 5 Kesalahan Tersembunyi dalam Sebuah “Kemenangan” Diplomatik

Oleh Fu Longshan, Vision Times

Ketika Resolusi Majelis Umum PBB 2758 disahkan pada 1971, Beijing membingkainya sebagai salah satu kemenangan diplomatik terbesar Perdana Menteri Komunis Tiongkok saat itu, Zhou Enlai. Republik Rakyat Tiongkok (RRT) mengambil “kursi Tiongkok,” Majelis Umum PBB mengusir delegasi Republik Tiongkok (ROC), dan RRT masuk ke dalam sistem PBB sebagai satu-satunya wakil resmi Tiongkok.

Namun, di dalam korps diplomatik RRT sendiri, beredar cerita lain. Menurut sejumlah pejabat yang kini telah lama pensiun, Zhou di kemudian hari justru memandang pemungutan suara tersebut bukan sebagai kemenangan sempurna, melainkan kesalahan strategis yang mempersempit ruang gerak Beijing dan justru memperkuat posisi jangka panjang Taiwan.

Alasannya, kata mereka, bisa dirangkum dalam satu kalimat yang konon diucapkan Zhou setelah itu:  “Pemungutan suara itu terjadi terlalu cepat.”


Keputusan yang Terlalu Agresif

ROC, yang pernah memerintah seluruh Tiongkok, terpaksa meninggalkan daratan utama setelah kalah dalam perang saudara Tiongkok dan mundur ke Pulau Taiwan pada 1949, tempat ia bertahan hingga kini.

Republik Rakyat Tiongkok yang diproklamasikan oleh pemimpin komunis Mao Zedong, meskipun menguasai hampir seluruh wilayah yang diklaim ROC, tidak terwakili di Perserikatan Bangsa-Bangsa—sebuah situasi yang sangat mengusik PKT.

Namun setelah keputusan internasional mencabut perwakilan Taiwan demi rezim PKT, catatan internal menggambarkan bahwa penyesalan Zhou bukanlah soal gengsi, melainkan soal timing strategis.

Pada 1971, Amerika Serikat pernah mengajukan model dua perwakilan: RRT akan mengambil kursi “Tiongkok,” sementara ROC tetap berada di PBB dalam bentuk tertentu—mungkin sebagai “Taiwan” atau “Chinese Taipei”—setidaknya dengan status pengamat.

Zhou menolaknya mentah-mentah dan menuntut pengusiran penuh terhadap segala sesuatu yang terkait dengan “perwakilan Chiang Kai-shek.”

Baru kemudian, menurut berbagai catatan, ia menyadari bahwa pilihan itu telah menghapus platform tawar-menawar yang kelak dibutuhkan Beijing. Seandainya ROC dibiarkan tetap berada dalam sistem sebagai pengamat, Beijing mungkin akan memiliki ruang yang lebih besar—lebih banyak kendali narasi, lebih banyak legitimasi untuk negosiasi di masa depan, dan lebih sedikit peluang bagi Taiwan untuk membingkai posisinya sebagai “belum ditentukan.”

Pengusiran Taiwan justru memunculkan simpati internasional; absennya Taiwan menciptakan ruang bagi argumen bahwa statusnya tidak pernah benar-benar diselesaikan. Dan tanpa kehadiran ROC di dalam PBB, RRT kehilangan apa yang oleh sebagian diplomat kemudian disebut sebagai “ambiguitas yang masih dapat dikelola.”

Seorang mantan pejabat, dalam catatan yang beredar di dalam sistem, merangkum kritik internal itu demikian:  “Kami merebut semua kartu sekaligus, dan dengan itu kami justru memberikan narasi kepada Taiwan.”


Sinyal dari Tahun-Tahun Terakhir Zhou Enlai

Meski Beijing tidak pernah mengakui keraguan apa pun secara terbuka, sejumlah jejak sejarah menguatkan cerita internal tersebut:

  • Dalam memoar Henry Kissinger, Zhou digambarkan tampak “belum sepenuhnya tenang” soal Resolusi 2758, seraya mencatat bahwa Tiongkok memang memenangkan kursi, tetapi “belum menyelesaikan masalahnya.”
  • Antara 1973 hingga 1975, publikasi internal urusan luar negeri mengutip Zhou yang mengatakan bahwa persoalan Taiwan “akan membutuhkan perjuangan jangka panjang”—sebuah pernyataan yang tidak lazim jika Beijing benar-benar yakin 2758 telah menyelesaikan persoalan itu.
  • Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, Zhou dilaporkan mengatakan kepada para diplomat bahwa penyatuan memerlukan “kekuatan” dan “waktu yang tepat,” yang memunculkan pertanyaan: jika 2758 sudah menyelesaikan status Taiwan, mengapa masih perlu menunggu timing?

Tidak satu pun dari catatan ini bertentangan dengan implikasi yang lebih dalam: Zhou mengetahui bahwa kemenangan diplomatik itu tidaklah lengkap.


Lima Kerentanan yang Enggan Diakui Beijing

Ming Chu-cheng, profesor emeritus ilmu politik di National Taiwan University (NTU), menilai bahwa klaim Beijing bahwa Resolusi 2758 telah menyelesaikan status Taiwan berdiri di atas landasan yang rapuh. Akar persoalannya terletak pada lima kerentanan berikut:

1. Resolusi itu tidak pernah membahas status Taiwan

Resolusi 2758 hanya mengalihkan kursi Republik Tiongkok kepada RRT, mengakui RRT sebagai wakil Tiongkok, serta mengusir “perwakilan Chiang Kai-shek.” Resolusi ini tidak pernah menyebut “Taiwan,” apalagi membahas kedaulatan, wilayah, atau rakyat di pulau tersebut.

Sekretariat PBB secara terbuka menegaskan hal ini pada 2023–2024: Resolusi 2758 tidak menyelesaikan persoalan Taiwan.

2. Ini adalah keputusan politik, bukan penetapan hukum

Resolusi Majelis Umum PBB tidak memiliki kewenangan untuk menetapkan kedaulatan, membatalkan hak penentuan nasib sendiri, atau membubarkan suatu pemerintahan.

Beijing mempromosikan 2758 sebagai putusan hukum yang mengikat, tetapi secara hukum resolusi ini tidak memiliki kekuatan seperti itu.

3. Tidak ada demokrasi besar yang mengakui kedaulatan RRT atas Taiwan

Amerika Serikat tidak mengakui klaim RRT atas Taiwan, meskipun mengakui adanya “satu Tiongkok.”

Jepang mengakui RRT sebagai “Tiongkok,” tetapi tidak mengakui status Taiwan sebagai bagian dari RRT. Uni Eropa juga menegaskan bahwa kebijakan satu Tiongkok versi mereka tidak sama dengan prinsip satu Tiongkok versi Beijing yang mengklaim Taiwan sebagai wilayah sah RRT.

Seluruh posisi diplomatik negara-negara demokrasi besar ini bertentangan dengan narasi resmi Beijing.

4. Taiwan tidak pernah “diusir” dari PBB

Yang dikeluarkan adalah “perwakilan Chiang Kai-shek,” bukan pemerintah Taiwan. Taiwan sendiri tidak pernah menjadi anggota PBB atas nama “Taiwan,” melainkan hanya sebagai ROC.

5. Taiwan tetap merupakan negara secara de facto

Taiwan memiliki kendali politik efektif atas wilayahnya, pemerintahan demokratis, status yang tidak pernah dicabut, serta penduduk dengan hak modern atas penentuan nasib sendiri.

Tak satu pun dari fakta ini dapat dihapus oleh Resolusi 2758, yang memang tidak bisa dan tidak pernah menyelesaikan persoalan kedaulatan.

Kelima celah ini secara mendasar melemahkan klaim Beijing tentang adanya “konsensus internasional.”


Medan Pertarungan Narasi yang Paling Ditakuti Beijing

Seperti dicatat Prof. Ming, Resolusi 2758 bukanlah kata akhir dalam sengketa Tiongkok–Taiwan, melainkan justru bagian aktif dari perang informasi yang telah berlangsung lama. Strategi PKT bertumpu pada pengaburan berbagai konsep politik dan hukum, antara lain:

  • perwakilan → kedaulatan
  • pemungutan suara politik → putusan hukum
  • keheningan global → dukungan global
  • kebijakan satu Tiongkok → prinsip satu Tiongkok

Tugas Taiwan, menurut Ming, bukanlah bertarung di ruang pengadilan, melainkan di ranah narasi internasional. Dengan mengembalikan makna resolusi pada teks aslinya—apa yang benar-benar dikatakan Resolusi 2758, bukan apa yang diklaim Beijing—Taiwan dapat menegaskan kembali hak penentuan nasib sendiri secara demokratis, yang kini jauh lebih kuat dibandingkan pada 1971.

Bagi RRT, Resolusi 2758 semula dimaksudkan sebagai momen yang menutup persoalan Taiwan. Namun setengah abad kemudian, resolusi itu justru berpotensi menjadi titik awal kebangkitan diplomatik Taiwan.

Bukti Baru Ungkap: Pelarian dari Tiongkok Diduga Dibidik Polisi Rahasia saat Tewas “Misterius” dalam Insiden Kayak

EtIndonesia. Seorang pembangkang asal Tiongkok yang tewas dalam kecelakaan kayak di British Columbia, Kanada diduga sedang menjadi target polisi rahasia Tiongkok pada saat kematiannya, menurut bukti yang diungkap oleh seorang mantan mata-mata Tiongkok.

Mantan mata-mata tersebut, yang menggunakan nama samaran “Eric”, membelot ke Australia pada 2023 dan tahun lalu berbicara kepada ABC News Australia. Kini, ia juga membagikan keterlibatannya dalam perburuan pembangkang Tiongkok di seluruh dunia kepada lembaga penyiaran publik Kanada, menurut laporan Radio Canada tertanggal 4 Desember.

Eric diduga bekerja selama 15 tahun sebagai agen penyamaran untuk Kementerian Keamanan Publik Tiongkok guna memantau para pembangkang di luar negeri. Ia mengatakan kepada Radio Canada—cabang berbahasa Prancis dari CBC—bahwa publik berhak mengetahui apa yang dilakukan kepolisian Tiongkok.

ABC melaporkan bahwa Eric melarikan diri ke Australia dari Tiongkok pada 2023 dan menyerahkan kepada badan intelijen Australia ratusan dokumen, catatan keuangan, foto, serta pesan terenkripsi yang memaparkan riwayatnya sebagai agen rahasia.

Untuk mendukung tuduhannya, Eric memperlihatkan kepada para jurnalis isi telepon genggamnya, termasuk dokumen keuangan, transfer dana rahasia, nama-nama individu yang terlibat dalam kegiatan spionase, serta ribuan pesan teks dan video.

Eric bertanggung jawab memantau pembangkang Tiongkok bernama Hua Yong, yang tewas secara “misterius” saat ber-kayak di lepas pantai British Columbia pada akhir 2022, setelah ia memperoleh perlindungan di sana, ujar Eric kepada Radio Canada.

Hua adalah seorang pelukis sekaligus pengkritik Partai Komunis Tiongkok (PKT). Ia ditangkap pada 2012 dan dikirim ke kamp re-edukasi karena ikut berdemo di Lapangan Tiananmen, Beijing. Ia kembali ditangkap pada 2017 akibat mendokumentasikan penghancuran sebuah kawasan permukiman di Beijing, lalu mencari perlindungan di Thailand pada 2020.

Kasus Hua

Eric mengaku dipercaya oleh polisi Tiongkok untuk menangani kasus Hua. Ia mengungkapkan adanya percakapan dengan seorang pejabat Kementerian Keamanan Publik yang mengatakan bahwa atasan mereka menganggap Hua sebagai sosok yang “merepotkan” dan ingin “menyingkirkannya”, sebagaimana dilaporkan Radio Canada.

Eric juga menyebut bahwa jika Hua berhasil ditangkap, ia akan menerima bonus lebih dari 25.000 dolar.

Untuk memperoleh kepercayaan Hua, Eric menciptakan identitas palsu sebagai aktivis anti-PKT di dunia maya dan diposisikan seolah-olah sebagai manajer sebuah kelompok hotel lokal yang bercita-cita menggulingkan PKT—sesuatu yang menjadi ikatan antara dirinya dan Hua. Sementara itu, Eric secara diam-diam melaporkan keberadaan Hua kepada badan polisi rahasia.

Eric mengatakan kepada Radio Canada bahwa terlalu berisiko baginya untuk tidak melapor kepada polisi tentang posisi Hua, karena hal itu bisa menimbulkan kecurigaan terhadap dirinya sendiri.

Hua meninggalkan Thailand pada 2021 dan tiba di Nova Scotia dengan visa perlindungan kemanusiaan, menurut laporan ABC. Ia kemudian menetap di British Columbia, di mana Eric terus melacaknya dari jarak jauh dan melaporkan pergerakannya kepada polisi Tiongkok.

Pada November 2022, Hua dilaporkan pergi ber-kayak dan diduga tenggelam. Jenazahnya ditemukan di sebuah pulau di lepas Pantai Sunshine, British Columbia. Polisi federal Kanada (RCMP) sebelumnya menyatakan kepada The Epoch Times bahwa kematian tersebut tidak dinilai mencurigakan setelah dilakukan penyelidikan menyeluruh.

Namun, hingga kini kantor koroner British Columbia belum mengeluarkan laporan resmi, jauh melampaui batas waktu normal 16 bulan untuk penyelidikan koroner di wilayah tersebut, menurut lembaga penyiaran publik.

Kantor koroner, sebagaimana dikutip Radio Canada, menyatakan bahwa kompleksitas kasus dan penyelidikan oleh lembaga lain dapat menyebabkan penundaan yang lebih lama.

Eric mengaku sempat mempertanyakan pada saat itu apakah Hua sebenarnya dibunuh, seraya menyebut bahwa “pasti ada tim agen rahasia lain di Kanada” yang juga menangani Hua.

“Ancaman Utama”

Eric mengatakan kepada Radio Canada bahwa ia setuju mengungkap kisahnya karena sebelum menjadi mata-mata, ia adalah seorang pembangkang pro-demokrasi. Ia mengaku mulai diawasi otoritas setelah bergabung dengan Partai Sosial Demokrat Tiongkok pada 2008 dan kemudian dipaksa bekerja sama dengan kepolisian Tiongkok.

“Jika Anda tidak bekerja sama, jika Anda tidak bertindak sesuai tuntutan mereka, kemungkinan besar Anda akan masuk penjara,” ujar Eric, dikutip oleh Radio Canada.

“Setelah pembelotan seperti yang saya lakukan, biasanya akan dibentuk tim khusus untuk menangani kasus tersebut. Mereka akan melacak dan mengumpulkan informasi tentang saya dalam jangka panjang untuk menentukan apa yang akan mereka lakukan terhadap saya.”

Eric juga mengatakan bahwa ia ingin mengingatkan warga Kanada bahwa rezim Tiongkok adalah “ancaman utama bagi demokrasi Kanada.”

“Itu adalah rezim totaliter dengan kecenderungan fasis yang kuat, yang menimbulkan ancaman serius terhadap perdamaian dunia, tatanan demokrasi kita, dan kebebasan berekspresi,” ujar Eric kepada media tersebut.

Laporan investigatif dari LSM Spanyol Safeguard Defenders pada 2022 mengungkap bahwa kantor-kantor polisi luar negeri tidak resmi milik Tiongkok beroperasi di kota-kota besar Kanada sebagai bagian dari jaringan serupa di puluhan negara.

Penyelidikan lanjutan oleh otoritas Kanada kemudian mengonfirmasi keberadaan kantor polisi ilegal Tiongkok tersebut. Kantor-kantor ini disebut terlibat dalam represi lintas negara serta pengejaran terhadap orang-orang yang dianggap menjadi target kepentingan Beijing.

Eric mengatakan kepada Radio Canada bahwa ia telah menyerahkan dokumen-dokumen secara tertutup kepada Komisi Campur Tangan Asing Kanada, setelah diduga diundang untuk memberikan kesaksian sebagai saksi pada musim gugur tahun lalu.

Kekhawatiran mengenai campur tangan asing dan represi transnasional oleh rezim Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir semakin meningkat di Ottawa. Pemerintah Kanada meluncurkan penyelidikan publik pada 2023 melalui Komisi Campur Tangan Asing guna menilai kemampuan negara tersebut dalam menghadapi intervensi asing.

Laporan akhir komisi itu menyimpulkan bahwa Tiongkok merupakan “pelaku paling aktif dalam campur tangan asing yang menargetkan lembaga-lembaga demokrasi Kanada.”

Noé Chartier turut berkontribusi dalam laporan ini

Faksi Hu–Wen Bongkar Basis Kekuatan Xi Saat “Faksi Zhejiang” Terancam Runtuh

Gelombang penghilangan mendadak para pejabat, penyelidikan korupsi, dan pembersihan tingkat tinggi kini mengguncang lapisan teratas Partai Komunis Tiongkok (PKT). Para analis memperingatkan bahwa basis kekuasaan Xi Jinping—yang selama ini terlindungi kuat—mulai menunjukkan tanda-tanda keretakan.

Oleh Li Jingyao, Vision Times

Menghilangnya secara tiba-tiba anggota Komite Tetap Politbiro Li Xi, bersamaan dengan absennya anggota Politbiro Ma Xingrui dalam “sesi belajar kolektif” ke-23 PKT, telah mempercepat spekulasi bahwa gempa politik besar sedang terjadi di Tiongkok. Hampir bersamaan, Chen Weijun—anggota Komite Tetap sekaligus Wakil Ketua Eksekutif Xinjiang—diumumkan tengah diselidiki atas dugaan “pelanggaran disiplin dan hukum yang serius.”

Para analis menilai rangkaian peristiwa ini menandai strategi terkoordinasi dari faksi Hu Jintao–Wen Jiabao: menyerang basis kekuasaan Xi Jinping dari luar ke dalam, dimulai dari klik Zhejiang dan Shandong sebelum bergerak menuju para loyalis inti Xi. Dengan Ma Xingrui dan Chen Weijun yang sudah tumbang, kini banyak pihak meyakini bahwa Chen Min’er akan menjadi tokoh besar berikutnya yang jatuh. Apa yang dulu dikenal sebagai “Tentara Baru Zhijiang” kini menunjukkan tanda-tanda keruntuhan yang kian dekat.


Ma Xingrui Diduga Ditangkap

Absennya Ma Xingrui dari pertemuan Politbiro secara luas ditafsirkan sebagai konfirmasi bahwa ia telah ditahan. Politbiro adalah badan kekuasaan tertinggi di Beijing. Para pengamat sebenarnya sudah mencium adanya masalah sejak berbulan-bulan lalu, ketika Ma secara mendadak dicopot dari jabatan Sekretaris Partai Xinjiang pada Juli lalu dengan alasan samar “dipindah tugas.”

Analis yang berbasis di AS, Dr. Lei Ge, menyatakan jaringan korupsi Ma kini terurai dengan cepat:
“Koalisi anti-Xi kini bergerak di Xinjiang, Shenzhen, Shaanxi, dan Beijing, mengumpulkan bukti yang langsung menyentuh garis keluarga Xi–Peng. Ma Xingrui bisa menjadi anggota Politbiro pertama yang tumbang pada 2026.”

Saat ini beredar dua versi internal mengenai penahanan Ma:

Versi 1 — Ditangkap di dalam rapat:
Sejumlah saksi menyebut beberapa petugas disiplin militer berseragam tempur masuk ke ruang rapat dan, “dengan satu orang di tiap sisi, setengah menyeret, setengah mengangkat,” membawa Ma Xingrui keluar dari aula.

Versi 2 — Disebut dalam rapat, ditangkap di luar:
Menurut versi ini, Zhang Youxia secara terbuka “memberi sinyal” dengan menyebut namanya, lalu Ma ditangkap kemudian oleh satuan gabungan dari Komisi Disiplin Pusat (CCDI) dan Komisi Disiplin Militer.

Para informasi dalam juga mencatat bahwa Ma Xingrui dan Peng Liyuan sama-sama terkait dengan faksi Shandong, sehingga perintah ini dipandang sangat sarat makna politik. Terlepas dari versi mana yang benar, para pengamat sepakat pada dua fakta:

  1. Ma tidak menghadiri rapat.
  2. Operasi penangkapannya dipimpin oleh militer—bukan oleh otoritas pusat yang berada langsung di bawah kendali Xi.

Apakah Li Xi Dipaksa Menjadi “Korban Simbolis”?

Sebagian analis berpendapat absennya Li Xi mungkin semata-mata karena ia sedang berada di luar lokasi untuk mengawasi penahanan Ma. Namun, yang lain memperingatkan adanya penjelasan yang jauh lebih mengkhawatirkan. Pengamat politik Jiang Feng menilai Xi Jinping kini bukan lagi pihak yang menentukan agenda.
“Kekuatan dominan sekarang adalah Zhang Youxia dan para tetua partai. Jika mereka bisa menjatuhkan Ma Xingrui, mereka juga bisa menjatuhkan Li Xi.”

Jika Li Xi memang sedang menjalankan operasi penangkapan, kata Jiang, itu menunjukkan ia dipaksa memberikan “pengorbanan simbolis”—sebuah isyarat politik tradisional untuk menunjukkan kesetiaan di bawah tekanan. Namun, jika Li Xi tidak mengarahkan operasi apa pun dan justru dilarang menghadiri rapat, kursi kosong itu berarti sesuatu yang jauh lebih serius: bisa jadi Li Xi sendiri sudah disingkirkan.

Analis Li Yanming menekankan bahwa posisi Li Xi kini makin rapuh.
“Di antara semua loyalis Xi Jinping, Li Xi adalah yang paling lantang menggaungkan slogan seperti ‘Dua Peneguhan’ dan ‘kesetiaan mutlak.’ Jika pengaruh Xi melemah, Li Xi otomatis menjadi target utama dalam setiap penataan ulang politik.”


Operasi Sistematis Anti-Xi

Jiang Feng menggambarkan apa yang ia sebut sebagai serangan tiga tahap yang dirancang oleh Zhang Youxia dan blok Hu–Wen:

Tahap 1: Mengguncang pinggiran kekuasaan.
Penangkapan Wakil Direktur Pendidikan Zhejiang, Tang Xiaoshu, memicu gelombang kejut di tingkat bawah dan menandakan bahwa jaringan lama Xi di Zhejiang telah terbuka.

Tahap 2: Memutus jalur pasokan kekuatan.
Menumbangkan Chen Weijun di Xinjiang—seorang loyalis Ma Xingrui—memutus sistem pendukung terakhir Ma dan membawa penyelidik langsung ke jaringan pengambil keputusan inti.

Tahap 3: Menyasar para tokoh besar.
Bukti yang dikumpulkan melalui penyelidikan daerah kini mengarah langsung ke figur-figur senior: Ma Xingrui, Huang Kunming, Chen Min’er, dan Li Xi.

“Jika Ma, Huang, Chen Min’er, dan Li Xi jatuh,” kata Jiang, “seluruh struktur kekuasaan Xi Jinping runtuh. Yang tersisa di tangan Cai Qi hanyalah cangkang kosong.”


Membongkar Seluruh Sistem

Seorang informan internal PKT yang menulis dengan nama samaran “Orang Biasa di Balik Tembok” menggambarkan proses ini sebagai berikut:
“Hu dan Wen sedang memainkan permainan mencabut balok-balok dari menara Xi Jinping. Mereka menarik satu per satu, lalu menunggu seluruh struktur ambruk.”

Ia mencatat, begitu Ma Xingrui menghilang, CCDI langsung mengumumkan penyelidikan terhadap Chen Weijun—sebuah eskalasi cepat yang dirancang untuk menekan seluruh kepemimpinan Xinjiang.

YouTuber Jiang Wangzheng melaporkan bahwa kejatuhan Chen Weijun berakar dari masalah-masalah selama masa jabatannya di Wenzhou dan Xinjiang, dan bahwa ia pada akhirnya berpihak pada Ma Xingrui—sehingga menjadi rentan begitu Ma dijadikan target.

“Orang Biasa di Balik Tembok” menilai bahwa kejatuhan Chen Weijun menandai keruntuhan yang lebih luas:
“Chen Weijun seharusnya sudah jatuh bersamaan dengan mantan Sekretaris Hangzhou, Zhou Jiangyong. Namun Xi secara pribadi melindunginya dan memindahkannya ke Xinjiang. Kini, perlindungan itu telah hilang.”


Domino Berikutnya: Chen Min’er

“Li Qiang mungkin masih bisa selamat dengan cara menjaga jarak dari Xi, tetapi Chen Min’er tidak akan seberuntung itu. Ia adalah tulang punggung faksi Zhejiang—dan persis target yang dibutuhkan Hu dan Wen.”

Jika Chen Weijun membuka mulut, ujar para analis, kasus-kasus korupsi lama di Zhejiang bisa dibuka kembali, memberikan dasar hukum dan politik yang sempurna untuk membongkar faksi Zhejiang secara keseluruhan.

“Jika Xi tak bisa melindungi Chen Weijun,” tulis sang komentator, “maka kejatuhan Chen Min’er hanyalah soal waktu.”

Dari faksi Shandong hingga faksi Zhejiang, koalisi anti-Xi kini tengah membongkar basis politik Xi lapis demi lapis. Jika Ma Xingrui, Huang Kunming, Chen Min’er, dan Li Xi benar-benar dinetralkan, peta kekuasaan internal Xi Jinping akan terpecah menjadi kepingan-kepingan kecil.

Untuk saat ini, semua mata tertuju pada siapa yang akan jatuh berikutnya—dan apakah Xi Jinping masih memiliki sisa kemampuan untuk melawan.


Catatan Redaksi: Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini merupakan opini penulis

Beijing Mengancam Para Pengkritik Usai Kebakaran di Hong Kong

Kantor Beijing untuk Perlindungan Keamanan Nasional di Hong Kong mengeluarkan pernyataan bernada keras pada malam 3 Desember, ketika kemarahan publik atas kebakaran di Hong Fuk Court terus meningkat. Kantor tersebut menyatakan bahwa hukum akan menjangkau “siapa pun yang menentang Tiongkok dan mengacaukan Hong Kong, sejauh apa pun mereka melarikan diri,” serta memperingatkan bahwa siapa pun yang melintasi “garis merah,” sekalipun berada di luar negeri atau di Taiwan, akan menghadapi konsekuensi.

Juru bicara yang tidak disebutkan namanya itu menuduh “segelintir kecil kekuatan asing yang bermusuhan” telah memanfaatkan tragedi ini sambil berpura-pura menjadi pembela kepentingan publik. Pernyataan tersebut mengklaim kelompok-kelompok ini berusaha menghidupkan kembali pola gerakan protes anti-ekstradisi tahun 2019 dengan mendukung jaringan kontak lokal, mengganggu pekerjaan bantuan, serta merusak operasi pascabencana. Tindakan mereka, menurut pernyataan itu, bersifat “jahat dan menjijikkan.”


Beijing Menuding ‘Kekuatan Asing’

Kantor tersebut kemudian menuduh para aktor eksternal itu sama sekali menghindari upaya penyelamatan dan justru “menyebarkan rumor dari balik bayang-bayang, memutarbalikkan fakta, serta menyerang pemerintah dan para petugas di garis depan.” Perilaku semacam ini, katanya, telah menutupi kontribusi pihak-pihak yang benar-benar terlibat dalam penanganan bencana.

Mengulangi peringatannya, sang juru bicara menegaskan bahwa “siapa pun yang mengacaukan Hong Kong akan dihukum, tanpa memandang jarak.” Dengan diberlakukannya secara penuh Undang-Undang Keamanan Nasional serta Ordinansi Perlindungan Keamanan Nasional, Hong Kong disebut tidak akan “pernah lagi dibiarkan tanpa perlindungan.” Siapa pun yang berharap menghidupkan kembali gerakan perlawanan masa lalu atau “melancarkan revolusi warna,” tambahnya, dinilai sebagai “khayalan belaka.”

Menurut pernyataan tersebut, undang-undang keamanan nasional telah “menebarkan jaring yang tak dapat ditembus.” Setiap tindakan yang dianggap merugikan Hong Kong akan didokumentasikan dan dikejar tanpa batas waktu, dan setiap “tangan hitam” yang mencampuri kota itu akan dihadapi dengan “pedang supremasi hukum.”


Ruang Kritik Publik Kian Menyempit

Setelah kebakaran pada 26 November, warga Hong Kong bergerak cepat—mengorganisasi pasokan bantuan, menawarkan pertolongan, serta mengajukan pertanyaan tentang persoalan-persoalan yang lebih dalam di balik terjadinya kebakaran tersebut. Campuran antara duka cita publik dan kritik itu segera memicu reaksi cepat dari pemerintah Hong Kong maupun Beijing. Para pejabat senior, komentator pro-Beijing, serta kantor keamanan nasional sama-sama memperingatkan agar tidak ada upaya “memanfaatkan bencana untuk mengguncang stabilitas Hong Kong,” yang menandakan semakin diperketatnya sikap terhadap perbedaan pendapat.

Pada 2 Desember, Asosiasi untuk Demokrasi dan Penghidupan Rakyat (Association for Democracy and People’s Livelihood/ADPL) merencanakan konferensi pers untuk menyampaikan keprihatinan atas penanganan tragedi tersebut. Namun sesaat sebelum acara dimulai, para penyelenggara memberi tahu media bahwa kegiatan itu harus dibatalkan. Mereka mengatakan bahwa “sebuah departemen tertentu” telah memberi tahu bahwa acara tersebut неapat dilanjutkan. Laporan kemudian menyebutkan bahwa para pemimpin organisasi, termasuk ketuanya Liu Shing-lei, telah dihubungi oleh Departemen Keamanan Nasional Kepolisian Hong Kong untuk menghadiri pertemuan tertutup.


Komentator Lokal Meluapkan Kekecewaan

Pada hari yang sama, kolumnis pro-pemerintah Judy Fok menulis sebuah artikel berjudul “Perbaiki Dulu Pembusukan yang Mengundang Lalat.” Ia berpendapat bahwa Hong Kong selama bertahun-tahun telah terjebak pada prioritas yang keliru—menitikberatkan persatuan politik dan pertunjukan seremonial, sementara mengabaikan tata kelola pemerintahan, persoalan penghidupan rakyat, serta reformasi birokrasi. Dengan anggota legislatif dan media yang dibatasi ketat, fungsi pengawasan pun hampir sepenuhnya lenyap.

“Bencana besar hanyalah soal waktu,” tulisnya. “Yang tidak pernah diduga oleh siapa pun adalah bahwa harga yang harus dibayar mencapai ratusan nyawa dan ribuan keluarga.”


Penangkapan Terkait Kampanye Petisi

Sebelum gelombang penangkapan terbaru, warga Hong Kong telah melancarkan sebuah petisi yang memuat empat tuntutan: dukungan bagi para korban, penyelidikan independen, peninjauan terhadap sistem pengawasan regulasi, serta pertanggungjawaban dari para pejabat.

Namun pada 29 November, salah satu penggagas petisi tersebut, Kwan Ching-fung, ditahan oleh Departemen Keamanan Nasional. Keesokan harinya, polisi menangkap mantan anggota dewan distrik Tuen Mun, Cheung Kam-hung, serta seorang relawan bermarga Lee. Baik Kwan maupun Cheung kemudian dibebaskan dengan jaminan pada 1 Desember, yang justru memunculkan pertanyaan lanjutan mengenai bagaimana otoritas menanggapi tuntutan atas transparansi.

 Membagi Bubur

EtIndonesia. Ada tujuh orang yang tinggal bersama. Setiap hari mereka harus membagi satu ember bubur besar, tetapi masalahnya: bubur itu tidak pernah cukup untuk semua orang.

Pada awalnya, mereka memutuskan untuk mengundi siapa yang bertugas membagi bubur. Setiap hari bergantian satu orang. Namun hasilnya mengecewakan: dalam seminggu, hanya ada satu hari di mana mereka benar-benar bisa makan kenyang—yaitu hari ketika mereka sendiri yang membagi bubur.

Mereka kemudian mencoba cara baru: memilih satu orang yang dianggap paling bermoral untuk membagi bubur setiap hari. Tapi masalah lain muncul. Beberapa orang mulai mencari cara untuk menyenangkan dan menyuap si pembagi bubur. Akibatnya, suasana kelompok menjadi kacau dan penuh kecurigaan.

Selanjutnya mereka membuat sistem yang lebih rumit: membentuk tiga komite pembagi bubur serta empat komite penilai. Namun hasilnya tetap buruk—mereka malah saling bertengkar dan saling menjatuhkan. Ketika bubur akhirnya sampai ke mulut, bubur itu sudah dingin.

Akhirnya, mereka menemukan cara yang benar-benar efektif:

Pembagian bubur tetap dilakukan secara bergiliran, tetapi orang yang bertugas membagi bubur harus mengambil mangkokannya paling akhir—setelah semua orang selesai memilih.

Karena tidak ingin si pembagi bubur mendapat bagian paling sedikit, semua orang pun berusaha membagi bubur dengan adil dan merata. Sejak itu, mereka hidup lebih rukun, lebih senang, dan hari-hari mereka menjadi semakin baik.

Pesan moral:

Dalam dialektika materialisme, perubahan kuantitas adalah prasyarat bagi perubahan kualitas. Ketika suatu sistem mengubah struktur dan urutan komponennya, meskipun jumlah totalnya tidak berubah, sifat keseluruhan bisa berubah secara drastis.

Aturan “pembagi bubur mengambil bagian terakhir” adalah perubahan struktur—dia merupakan perubahan kecil (perubahan kuantitatif). Hasilnya—yaitu kehidupan yang lebih harmonis dan penuh kebahagiaan—adalah perubahan besar (perubahan kualitatif) yang muncul sebagai konsekuensinya.

Kisah ini mengajarkan bahwa sistem yang adil tidak selalu butuh aturan rumit, tetapi membutuhkan struktur yang tepat, yang mampu memotivasi setiap orang untuk bertindak adil.(jhn/yn)

 Anak Laki-Laki dan Keledai Mati

EtIndonesia. Seorang anak kota pindah untuk tinggal di desa. Dia membeli seekor keledai dari seorang petani seharga 100 dolar. Petani itu menerima uangnya dan berjanji akan mengantarkan keledai tersebut keesokan harinya.

Namun keesokan harinya, petani itu datang dengan wajah cemas.

Dia berkata: “Keledainya sudah mati, dan uangmu sudah aku pakai, jadi aku tidak bisa mengembalikannya.”

Anak itu tidak marah. Dia hanya berkata: “Kalau begitu, berikan saja keledai yang sudah mati itu padaku.”

Beberapa hari kemudian, petani bertemu kembali dengan anak itu dan penasaran bertanya : “Keledai mati itu kau apakan?”

Anak itu tersenyum dan menjawab :  “Aku mengadakan undian berhadiah, dan menjadikan keledai itu sebagai hadiahnya. Aku menjual 500 lembar tiket, masing-masing 2 dolar.”

Petani terkejut: “Lho, tidak ada yang protes karena hadiahnya keledai mati?”

Anak itu berkata santai : “Tidak, hanya pemenangnya saja yang protes… dan uang 2 dolarnya sudah kukembalikan.”

Bertahun-tahun kemudian, anak itu tumbuh menjadi CEO sebuah perusahaan besar.

Pesan moral:

Dalam proses berpikir, analisis dan sintesis yang disertai imajinasi serta kreativitas akan membuat kemampuan manusia berkembang jauh lebih besar. Hasil yang diperoleh sering kali mengejutkan.

Anak itu tampaknya sial karena menghabiskan 100 dolar untuk seekor keledai mati. Namun dia tidak berhenti pada cara penyelesaian yang biasa. Dia memanfaatkan sifat manusia yang suka berjudi dan berharap “mendapat hadiah besar”, lalu mengubah kerugian menjadi peluang. Dengan kreativitasnya, dia memperoleh 1.000 dolar dari seekor keledai mati.

Anda bisa bayangkan, seandainya dia berpikir kaku, tanpa inisiatif dan tanpa kreativitas, mungkin dunia ini tidak akan memiliki sosok pemimpin yang kelak menjadi seorang CEO.(jhn/yn)

 Perangkap Tikus, Ayam, Babi, dan Sapi

EtIndonesia. Seekor tikus mengintip melalui lubang di dinding dan melihat petani serta istrinya sedang memasang sebuah perangkap tikus. Dia sangat terkejut dan segera berlari ke halaman untuk memberi tahu semua hewan di peternakan.

Namun, ayam, babi, dan sapi hanya menertawakannya. Mereka menganggap masalah itu tidak ada hubungannya dengan mereka.

Malam harinya, seekor ular berbisa tanpa sengaja terjepit perangkap tersebut. Ketika istri petani datang memeriksa, dia tidak sengaja digigit oleh ular itu. Dia pun harus dibawa ke rumah sakit.

Untuk membantu memulihkan kondisi istrinya yang sedang dirawat, petani memotong ayam sebagai bahan makanan bergizi. Tetangga dan kerabat yang mendengar kabar itu datang menjenguk dan bergiliran menjaga. Untuk menjamu mereka, petani pun memotong babi.

Beberapa hari kemudian, kondisi istrinya memburuk dan akhirnya dia meninggal. Banyak orang datang menghadiri pemakamannya, sehingga petani kembali memotong sapi untuk menjamu para pelayat.

Hasilnya, satu perangkap tikus yang tampaknya sepele, akhirnya menyebabkan ayam, babi, dan sapi kehilangan nyawa.

Pesan moral:

Dalam dialektika materialisme, segala sesuatu di dunia ini saling terhubung. Tidak ada satu pun hal yang berdiri sendiri. Seluruh dunia merupakan sebuah kesatuan yang saling berkaitan. Namun, hubungan itu selalu bersifat khusus dan bergantung pada kondisi tertentu.

Sekilas, perangkap tikus tampak hanya berkaitan dengan seekor tikus, bukan dengan ayam, babi, maupun sapi. Tetapi ketika situasi berubah dan perangkap itu menjepit ular berbisa, rantai kejadian berikutnya justru berdampak besar pada ketiga hewan tersebut.

Kisah ini mengingatkan kita agar tidak memandang remeh masalah yang tampak “bukan urusan kita”. Kadang, sesuatu yang terlihat jauh sekalipun bisa membawa dampak pada diri kita ketika kondisi berubah.(jhn/yn)

 Charlie Chaplin: Menertawakan Hidup

EtIndonesia.Pada akhir abad ke-19, lahir seorang anak laki-laki yang malang di London, Inggris. Ketika dia baru berusia satu tahun, kedua orangtuanya bercerai, dan dia diasuh oleh ibunya. Namun, saat dia berusia enam tahun, ibunya mengalami gangguan jiwa dan harus dirawat di rumah sakit jiwa. Dia pun kemudian dimasukkan ke panti asuhan.

Sejak kecil, dia sudah bekerja serabutan demi bertahan hidup: menjadi pembantu di apotek, pelayan di hotel, penjaga toko buku, buruh di pabrik kaca, hingga magang di percetakan. Masa kecilnya penuh dengan penderitaan, tanpa kebahagiaan yang seharusnya dimiliki seorang anak.

Namun, kemudian dia menemukan cara yang ampuh untuk menghadapi penderitaan itu: dia menguasai rahasia dan kekuatan tertawa.

Dia menjadikan tawa sebagai senjatanya. Dia merekam tawanya dalam film, dan setiap film yang dia buat ditonton oleh lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia. Dia menaklukkan penonton, menaklukkan dunia. Anak malang itu kelak menjadi sosok legendaris yang kita kenal sebagai Charlie Chaplin.

Pesan moral:

Dalam dialektika materialisme, setiap kontradiksi dalam kondisi tertentu dapat berubah menjadi kebalikannya. Penyakit, penderitaan, dan kegagalan memang merupakan sisi tragis dalam hidup, tetapi bila kita mampu menghadapinya dengan sikap positif dan tindakan yang optimis, semua itu dapat berubah menjadi harta berharga.

Chaplin menggunakan kekuatan tawa untuk menghadapi pahitnya kehidupan. Dia menaklukkan dunia, dan sekaligus mengangkat derajat hidupnya sendiri ke tingkat yang lebih tinggi.(jhn/yn)

Leedon Hotel & Suites Surabaya Hadirkan Rumah Jahe Spektakuler Sambut Natal & Tahun Baru 2025

Surabaya – Menyambut libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, Leedon Hotel & Suites Surabaya menghadirkan daya tarik unik dan kreatif: sebuah Gingerbread House atau Rumah Jahe berukuran besar yang terbuat dari bahan-bahan ramah lingkungan. Kreasi ini menjadi pusat perhatian di lobi hotel dan bagian dari strategi untuk menarik tamu selama periode libur panjang.

Rumah Jahe yang diberi nama “Gingger House” ini memiliki ukuran menyerupai rumah seluas 40 meter persegi, dilengkapi detail tempelan batu bata dari cookies jahe. Yang istimewa, bahan baku utamanya berasal dari olahan limbah daur ulang yang diolah secara kreatif oleh tim pastry hotel.

“Kami memanfaatkan bahan-bahan limbah yang diolah sedemikian rupa, ditambahkan wangi kayu manis agar terasa seperti asli. Kami juga menyediakan tester ginger bread yang bisa dimakan untuk tamu yang penasaran dengan rasanya,” ujar Pastry Chef Setiawan, sang penggagas ide.

Executive Chef Sandy mengungkapkan proses pembuatan rumah jahe ini membutuhkan persiapan matang selama dua bulan dan melibatkan kolaborasi dengan tim Engineering. Hasilnya, sebuah instalasi yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga dilengkapi dengan story telling yang menarik.

Menanggapi antusiasme pengunjung, Fuja, Marcomm Manager Leedon Hotel & Suites Surabaya, tak ingin menyia-nyiakan momentum. Hotel menawarkan hampers spesial Natal dengan harga nett IDR 178.000 per buah. Bagi tamu yang berfoto dengan Rumah Jahe dan membagikannya di media sosial, tersedia kesempatan memenangkan doorprize voucher menginap.

“Kami juga bekerja sama dengan sales department untuk mengantarkan hampers kepada pelanggan setia Leedon,” tambah Fuja.

Untuk mengakomodasi lonjakan tamu selama Nataru, hotel yang berlokasi strategis di Jalan Jaksa Agung Suprapto No. 37 ini telah meluncurkan paket menginap menarik. Dengan harga di bawah dua juta rupiah, tamu dapat menikmati akomodasi selama tiga hari dengan segala fasilitas dan layanan berbintang empat.

“Compulsory room malam tahun baru kami sudah hampir penuh, tinggal 20 kamar lagi. Kami menyediakan makan malam buffet untuk tamu yang mengambil paket tersebut. Kami peka bahwa libur Nataru tahun ini panjang, dari 22 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, makanya kami tawarkan paket menginap panjang dengan harga terjangkau,” jelas Riany Fuja.

Tak hanya instalasi dan paket menginap, hotel yang baru saja merayakan ulang tahun ketiga pada 1 November 2025 ini juga akan mengadakan serangkaian acara bernuansa Natal. Salah satunya adalah penampilan choir dari gereja OMK Kristus Raja di lobi hotel, lengkap dengan khotbah singkat dan jamuan makan malam Natal, yang terbuka untuk tamu hotel.

Dengan tagline “Everything is Possible”, Leedon Hotel & Suites Surabaya terus berkomitmen memberikan pengalaman terbaik bagi beragam segmentasi tamu, mulai dari government, korporat, travel agent, hingga FIT (Free Independent Traveler) dan pemesanan melalui OTA (Online Travel Agent).

Instalasi Rumah Jahe raksasa ini dapat dinikmati tamu dan masyarakat umum di lobi hotel hingga awal Januari 2026.

Kebakaran di Pasar Induk Kramat Jati Jakarta Timur :  350 Kios Buah dan Makanan Hangus dengan Kerugian Rp 10 Miliar

EtIndonesia. Kebakaran yang melanda pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur pada Senin (15/12) menyebabkan sebanyak 350 kios buah dan makanan hangus terbakar. Kerugian akibat kebakaran tersebut diperkirakan mencapai Rp 10 miliar.  Hal demikian diungkapkan oleh Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Disgulkarmat) DKI Jakarta. 

Damkar DKI Jakarta juga berhasil memadamkan api tak lama setelah kebakaran terjadi. Sedangkan, Perumda Pasar Jaya mempercepat proses perbaikan kios dan menyediakan lokasi sementara untuk para pedagang yang terdampak.

Kepala Disgulkarmat DKI Jakarta, Bayu Meghantara, mengungkapkan, sebanyak 19 unit gabungan (16 unit Jakarta Timur, 1 unit Jakarta Selatan, dan 2 unit Dinas Gulkarmat DKI Jakarta), serta 95 personel pemadam kebakaran dikerahkan untuk menangani peristiwa itu. Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran ini.

Ia menyampaikan, operasi pemadaman dilakukan mulai pukul 07.29 WIB. Lalu, pukul 08.06 WIB, lokalisir perambatan api berhasil dilakukan. 

Pasar Induk kramat jati kebakaran (Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Disgulkarmat) DKI Jakarta)

“Tadi, juga para petugas sudah melakukan pendinginan untuk mengurai material yang mudah terbakar agar tidak menyisakan api maupun asap. Seluruh proses penanganan selesai pukul 10.35 WIB dan sudah berstatus aman. Kami berkoordinasi lebih lanjut dengan pihak terkait untuk penyelidikan penyebab kebakaran,” ujar Bayu, di Jakarta, pada Senin (15/12) dikutip dari keterangannya.

Di sisi lain, Direktur Utama Perumda Pasar Jaya, Agus Himawan, memaparkan, sebanyak 350 kios pedagang dengan jenis komoditi pepaya dan pisang terdampak dalam peristiwa itu. Saat ini, pihaknya tengah mengurus klaim asuransi untuk proses pemulihan kios.

“Bangunan Sub Grosir Buah C2(A) telah diasuransikan ke PT Asuransi Umum Bumi Putera Muda dengan Pertanggungan Kebakaran Risiko Khusus. Masa berlakunya sejak 9 Januari 2025 sampai 9 Januari 2026. Pihak pengelola Perumda Pasar Jaya segera berkoordinasi dengan perusahaan asuransi untuk proses klaim dan pemulihan,” ujarnya. 

Pasar Induk kramat jati kebakaran (Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Disgulkarmat) DKI Jakarta)

“Kami juga menyiapkan lokasi/kios sementara agar aktivitas perdagangan di bangunan Sub Grosir Buah C2(A) Pasar Induk Kramat Jati segera kembali normal,” imbuhnya.  (***)

Kucing di Tiongkok Selamat Setelah Terjebak di Mesin Cuci yang Sedang Beroperasi, Hanya Mengalami Luka Ringan di Hidungnya

EtIndonesia. Seekor kucing peliharaan di Tiongkok yang terjebak di dalam tabung mesin cuci yang sedang beroperasi selama beberapa menit selamat dengan luka ringan.

Sebuah video yang diunggah pada 5 Desember oleh pemiliknya, yang menggunakan akun online @jiemodaxiaojie, menjadi viral, mengumpulkan 217.000 suka dan 20.000 komentar.

Pemilik dari Provinsi Jiangsu di Tiongkok timur mengatakan dia terkejut menemukan kucing peliharaannya di dalam mesin cuci saat mengeluarkan pakaian dari dalamnya.

Kucing itu, yang diberi nama Jintiao, berada di dalam tabung selama proses pencucian yang berlangsung lebih dari 10 menit.

Dalam video tersebut, kucing yang basah kuyup dan menggigil itu terhuyung-huyung ke arah pemiliknya. Hidungnya merah.

Wanita itu mengatakan dia tidak berani menyentuhnya, karena tidak tahu apakah kucing itu terluka.

Dua hari kemudian, dia mulai mengunggah video lagi.

Dalam video tersebut, Jintiao tampak sehat dan lincah. Kucing itu hanya mengalami luka ringan di cakarnya dan pulih setelah pemiliknya mengeringkannya dengan cara dilap dan ditiup.

Pemilik hewan itu berjanji akan lebih berhati-hati saat menggunakan mesin cuci di masa mendatang.

Namun, dia menghadapi kritik daring atas kelalaiannya. Beberapa bahkan menuduhnya menyiksa kucingnya.

“Saat melihat kucingnya terjebak di dalam mesin cuci selama beberapa menit, dia tidak segera memeriksanya atau membawanya ke rumah sakit, tetapi merekam video kucing itu, dengan mengatakan dia terlalu takut untuk menyentuhnya. Seharusnya dia tidak pernah diizinkan memelihara kucing,” kata seorang pengamat daring.

Yang lain mengatakan: “Mungkin tidak bijaksana untuk menyentuh kucing itu tanpa mengetahui apakah dia menderita luka dalam.”

Banyak yang mendesak wanita itu untuk segera membawa Jintiao ke rumah sakit untuk memeriksa luka yang tidak terlihat.

Dia tidak membalas pesan-pesan itu atau mengungkapkan apakah dia telah memeriksakan Jintiao ke dokter hewan.

Pengamat daring ketiga memperingatkan: “Keluarga yang memiliki hewan peliharaan harus selalu memeriksa apakah mereka bersembunyi di dalam tabung mesin cuci sebelum menggunakannya.”

Ini bukan pertama kalinya kecelakaan seperti itu terjadi pada kucing peliharaan di Tiongkok.

Pada bulan Agustus, seorang wanita di Jiangsu memposting bahwa anak kucing peliharaannya secara tidak sengaja terjebak di dalam mesin cuci selama 15 menit. Dia memantau kondisi kucingnya sepanjang hari untuk memastikan kucing itu pulih.

Seorang wanita lain di Provinsi Shandong bagian timur mengatakan kucingnya dirawat di rumah sakit setelah terjebak di dalam mesin cuci. Kucing itu menderita gangguan hati dan jantung.

Beberapa orang juga berbagi tips tentang cara mencegah kucing mereka yang penasaran mengalami nasib yang sama.

“Selalu tutup pintu setelah mencuci pakaian,” kata seseorang.

“Saya memanggil nama kucing saya setiap kali saya akan mencuci pakaian, dan hanya menyalakan mesin ketika saya yakin dia sudah berada di luar mesin,” kata orang lain.(yn)

Pasukan Khusus Ukraina Menghantam Kereta Bahan Bakar, Depot Minyak, dan Pangkalan Drone Rusia di Krimea yang Diduduki

EtIndonesia. Unit-unit Pasukan Operasi Khusus (SOF) Ukraina melakukan serangan terhadap sejumlah target militer Rusia di wilayah Donetsk dan Krimea yang diduduki sementara, menurut Pasukan Operasi Khusus Angkatan Bersenjata Ukraina.

Menurut pernyataan tersebut, drone serang FP-2 digunakan untuk menghantam target.

Secara khusus, di Krimea yang diduduki dekat pemukiman Yantarne, drone Ukraina menghantam kereta yang membawa bahan bakar dan pelumas untuk tentara Rusia saat sedang bergerak. Sebuah depot bahan bakar di daerah pemukiman Batumyne juga dihantam.

Selain itu, di wilayah Donetsk, unit SOF menghantam stasiun perang elektronik Volna-2 di Marianivka, serta pusat pelatihan operator drone FPV dekat Dokuchaievsk.

“Pasukan Operasi Khusus terus melakukan aksi asimetris untuk melemahkan kemampuan ofensif tentara Rusia,” demikian bunyi keterangan video tersebut.

Sebelumnya, dilaporkan bahwa drone serang yang dioperasikan oleh Direktorat Intelijen Utama Ukraina di Krimea yang diduduki sementara telah menghancurkan beberapa sistem radar Rusia dan sebuah helikopter berbasis kapal.

Secara khusus, pada malam tanggal 1-2 November, HUR menyerang pos komando batalyon rudal permukaan-ke-udara S-400 Triumf yang sedang bertugas tempur, serta sistem radar multifungsi Rusia 92N6E di Krimea.

Pada malam yang sama, tanggal 1 November, ledakan dahsyat dilaporkan terjadi di wilayah Moskow, Rusia. HUR berhasil menghancurkan tiga jalur pipa produk minyak bumi strategis Koltsevoy.(yn)