Mantan PM Zhu Rongji Meninggal Dunia, Kenangan akan Reformasi Muncul Kembali di Tengah Pengamanan Ketat di Beijing

Pada Rabu (12 Agustus), kantor berita resmi Partai Komunis Tiongkok, Xinhua, melaporkan bahwa mantan Perdana Menteri Dewan Negara Tiongkok Zhu Rongji meninggal dunia setelah sakit dan tidak berhasil diselamatkan melalui perawatan medis. Ia meninggal dunia pada pukul 11.06 tanggal 12 Agustus 2026 di Beijing, dalam usia 98 tahun.

Zhu Rongji menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Dewan Negara dan kemudian Perdana Menteri dari 1991 hingga 2003. Sebelum pensiun, ia menjabat sebagai anggota Komite Tetap Politbiro Komite Sentral PKT.

Setelah Zhu Rongji meninggal dunia, muncul perbandingan antara kebijakan ekonomi pada masa pemerintahannya dengan kebijakan ekonomi saat ini. Pemerintahan Xi Jinping disebut sangat khawatir terhadap perkembangan tersebut. Berikut laporan analisisnya.

EtIndonesia.com Zhu Rongji menjadi Wakil Perdana Menteri Dewan Negara pada 1991, kemudian naik menjadi Perdana Menteri pada 1998 dan meninggalkan jabatannya pada 2003.

Semasa hidupnya, Zhu Rongji mendorong reformasi ekonomi dan mendorong Tiongkok bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Kebijakan tersebut pada saat itu menimbulkan banyak kontroversi. Karena itu, selama bertahun-tahun muncul anggapan bahwa Zhu Rongji dan pemimpin PKT saat itu, Jiang Zemin, memiliki perbedaan serius dalam kebijakan ekonomi dan pembagian kekuasaan.

Setelah Deng Xiaoping meninggal pada 1997, kekuasaan Jiang Zemin berkembang sangat pesat. Jiang menguasai militer dan pemerintahan. Satu-satunya bidang kekuasaan penting yang tidak dapat ia campuri adalah kewenangan Zhu Rongji dalam pengambilan keputusan ekonomi.

Karena itu, Jiang berusaha dengan berbagai cara untuk mengambil alih kekuasaan Zhu Rongji atas kebijakan ekonomi.

Sekitar 1999, Jiang Zemin mulai ikut campur dalam strategi ekonomi Zhu Rongji dan secara bertahap melemahkan kewenangan Zhu atas bidang ekonomi.

Setelah itu, perusahaan-perusahaan milik negara terus berkembang dan berubah menjadi perusahaan monopoli. Menurut laporan, perusahaan tersebut kemudian menjadi alat bagi kelompok Jiang Zemin dan para pejabat korup untuk mengambil keuntungan dari masyarakat dan mengumpulkan kekayaan. Kasus korupsi Zhou Yongkang dan Jiang Jiemin disebut sebagai contoh tipikal.

Selain perebutan kekuasaan ekonomi, Zhu Rongji dan Jiang Zemin juga memiliki pandangan politik yang berbeda mengenai Falun Gong, yang menganut prinsip “Sejati, Baik, Sabar”.

Pada 25 April 1999, puluhan ribu praktisi Falun Gong melakukan aksi petisi damai di Kantor Pengaduan di Beijing (Minghui.org).

Pada 25 April 1999, lebih dari 10.000 praktisi Falun Gong datang ke Beijing untuk melakukan aksi permohonan secara damai. Zhu Rongji, yang baru kembali dari kunjungan ke Amerika Serikat, bertemu dengan perwakilan praktisi Falun Gong. Masalah tersebut kemudian diselesaikan secara damai.

Namun, Jiang Zemin, yang saat itu menjadi pemimpin PKT, bersikeras melakukan penindasan terhadap Falun Gong.

Sejak 20 Juli 1999, PKT dan kelompok Jiang Zemin melancarkan penganiayaan secara menyeluruh dan sistematis terhadap Falun Gong, yang menurut laporan tersebut masih berlangsung hingga saat ini.

Polisi secara paksa menahan seorang praktisi Falun Gong saat kerumunan orang berkumpul di Tiananmen Square, Beijing, pada 1 Oktober 2000. Foto oleh Chien‑Min Chung/Associated Press

Kini, setelah Zhu Rongji meninggal dunia, perhatian publik bukan lagi terutama tertuju pada Zhu sebagai individu, melainkan pada jalur reformasi ekonomi yang ia wakili.

Di tengah kemerosotan ekonomi Tiongkok saat ini, dengan tekanan dari berbagai sisi seperti krisis properti, utang pemerintah daerah, dan menurunnya kepercayaan terhadap perusahaan swasta, kematian Zhu Rongji dengan mudah memicu perbandingan antara era Zhu Rongji dan era Xi Jinping dalam kebijakan ekonomi.

BACA JUGA : Mantan PM Partai Komunis Tiongkok Zhu Rongji Meninggal Dunia, Pernyataan “Keras” Semasa Hidup Kembali Disorot

 “Meskipun Zhu Rongji telah meninggal, simbol sejarah ‘perdana menteri reformasi’ yang ia wakili justru akan menjadi semakin menonjol dan jelas. Di tengah tekanan yang sedang dihadapi ekonomi Tiongkok, jalur yang ditempuh Zhu Rongji akan dengan mudah dibandingkan dengan kondisi sekarang,” ujar Chen Wenjia, penasihat khusus Institut Strategi Indo-Pasifik.

Komentator isu terkini Li Linyi:  “Saya kira Zhu Rongji sendiri mungkin tidak pernah membayangkan bahwa pada saat ini ekonomi Tiongkok akan dibuat berantakan oleh Xi Jinping, dan bahwa ‘pabrik dunia’ akan berubah menjadi tempat produksi barang berlebih yang kemudian berusaha keras diekspor ke luar negeri.”

“Saya kira ini juga sesuatu yang tidak pernah ia perkirakan. Sebenarnya, ketika PKT saat itu ingin bergabung dengan WTO, hal itu sendiri merupakan sebuah penipuan, karena banyak janji yang tidak mereka penuhi. Jika semua masalah itu dihitung secara keseluruhan, sumber persoalannya sebenarnya dapat ditelusuri kembali ke era Jiang Zemin.”

Kematian Zhu Rongji terjadi bertepatan dengan pertemuan Beidaihe PKT. Menurut sejumlah informasi, pemerintah telah mempersiapkan pengumuman kematiannya sebelumnya, sementara platform internet juga menutup kolom komentar.

Hal tersebut disebut menunjukkan betapa sensitifnya situasi politik internal PKT, dengan pemerintah berada dalam kondisi sangat waspada dan siaga tinggi.

Shen Mingshi, peneliti Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan mengatakan :  “Zhu Rongji selama ini dianggap sebagai orang yang menentang Xi Jinping. Jadi, apakah pengumuman kematiannya yang begitu cepat pada saat ini juga memiliki tujuan untuk melemahkan kelompok anti-Xi dan mengurangi tantangan terhadap Xi Jinping?”

“Pengumuman yang cepat mengenai sakit dan meninggalnya Zhu Rongji memang mengurangi ruang untuk melakukan berbagai manuver. Tentu saja, situasinya sekarang cukup sensitif karena Sidang Pleno Kelima Komite Sentral PKT akan digelar pada Oktober. Apakah Xi Jinping akan melanjutkan masa jabatannya dan bagaimana pergantian kekuasaan akan berlangsung—semuanya merupakan persoalan sensitif.”

Ada juga opini yang membandingkan kematian Zhu Rongji dengan gejolak politik yang muncul setelah meninggalnya Hu Yaobang pada 1989.

Sebagian pihak menilai pemerintah mungkin khawatir peristiwa Tiananmen 1989 terulang kembali. Gelombang opini publik ini juga dapat mendorong PKT semakin memperketat pengendalian terhadap informasi dan opini publik.

Chen Wenjia:  “Tidak bisa dikatakan bahwa peristiwa Tiananmen pasti akan terulang. Kondisi sosial, politik, dan lingkungan internasional saat itu sudah sepenuhnya berbeda dengan sekarang.”

“Penilaian yang lebih masuk akal adalah bahwa kematian Zhu Rongji mungkin memicu masyarakat untuk mengenang era reformasi dan membandingkan masa lalu dengan kondisi sekarang. Hal ini bahkan dapat menyebabkan gejolak opini publik. Namun, dalam jangka pendek, yang kemungkinan akan kita lihat adalah PKT semakin memperketat pengendalian opini publik dan menjaga stabilitas politik, bukan langsung munculnya peristiwa seperti Tiananmen.”

Laporan New Tang Dynasty Television oleh Chen Yue dan Chang Chun.

Kampus Jadi Laboratorium AI: UGM, Indosat, dan NVIDIA Buka Pusat Riset Kecerdasan Buatan Pertama di Indonesia

YOGYAKARTA, 13 Agustus 2026 — Sebuah langkah besar dalam perjalanan Indonesia menuju kedaulatan teknologi telah diambil. Kementerian Komunikasi dan Digital, Indosat Ooredoo Hutchison, NVIDIA, dan Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi meluncurkan UGM Indosat NVIDIA AI Technology Center (NVAITC) di Yogyakarta, Kamis (13/8).

Pusat teknologi berbasis universitas pertama di Indonesia ini bukan sekadar laboratorium biasa. Ini adalah ruang di mana riset, inovasi, dan pengembangan talenta digital bertemu—sebuah wadah yang dirancang untuk mengubah Indonesia dari sekadar pengguna AI menjadi pencipta solusi AI bagi dunia.

Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Meutya Hafid, menegaskan bahwa inisiatif ini adalah fondasi bagi visi jangka panjang Indonesia di bidang kecerdasan buatan.

“Indonesia AI Center of Excellence mencerminkan visi jangka panjang untuk menempatkan Indonesia sebagai bangsa yang tak hanya mengadopsi AI, tetapi juga mampu mengembangkan dan menyumbangkan inovasi AI ke dunia. Melalui inisiatif ini, kita sedang meletakkan fondasi kedaulatan AI Indonesia sekaligus memastikan bahwa AI menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi, daya saing nasional, dan solusi atas berbagai tantangan utama bangsa,” ujar Meutya.

Ditenagai Teknologi Kelas Dunia, untuk Talenta Lokal

Pusat teknologi ini ditenagai oleh platform AI full-stack milik NVIDIA dan GPU Merdeka, platform sovereign GPU-as-a-Service dari Indosat. Kapabilitas yang disediakan mencakup accelerated computing kelas enterprise, perangkat lunak AI, model terlatih, kerangka pengembangan, hingga bimbingan teknis dan pelatihan.

Yang tak kalah penting, pusat ini juga akan menghubungkan para peneliti Indonesia dengan jaringan ahli global—membuka pintu kolaborasi internasional dan berbagi pengetahuan yang selama ini mungkin terasa jauh.

Vikram Sinha, President Director and Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison, menekankan bahwa pusat ini adalah bukti nyata komitmen untuk tidak meninggalkan siapa pun di era AI.

“Di Indosat, kami percaya bahwa tidak boleh ada satu pun masyarakat Indonesia yang tertinggal di era AI. Melalui UGM Indosat NVAITC, kami menghadirkan teknologi dan keahlian AI global terbaik ke Indonesia, sekaligus memperluas akses bagi ekosistem peneliti, mahasiswa, startup, dan inovator di seluruh pelosok negeri,” ujar Vikram.

Sementara itu, Marc Hamilton, Vice President of Solutions Architecture and Engineering NVIDIA, menyoroti potensi besar komunitas peneliti Indonesia.

“Indonesia adalah rumah bagi komunitas peneliti, pengembang, dan inovator luar biasa yang berpotensi membentuk masa depan AI. Melalui UGM Indosat NVIDIA AI Technology Center, NVIDIA berkomitmen untuk membekali talenta Indonesia dengan model terbuka dan keahlian terdepan di dunia guna mengubah potensi tersebut menjadi inovasi yang berdampak, baik di tingkat lokal maupun global,” katanya.

Riset untuk Masalah Nyata: TB, Pertanian, dan Bencana

Pusat riset ini tidak akan berhenti pada teori. Tiga proyek awal telah dirancang untuk menjawab tantangan nyata yang dihadapi Indonesia:

  1. eNose-TB: Teknologi screening berbasis AI untuk mendukung penanggulangan tuberkulosis (TB) di Indonesia. TB masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius, dan teknologi ini diharapkan bisa mempercepat deteksi dan penanganan.
  2. SmartAgri: Pemanfaatan multimodal AIedge computing, dan teknologi pertanian presisi untuk meningkatkan produktivitas dan ketahanan pangan di iklim tropis. Ini adalah jawaban atas tantangan ketahanan pangan yang semakin mendesak.
  3. Tech4Disaster: Platform AI geospasial yang memperkuat kemampuan prediksi, mitigasi, dan penanganan bencana. Indonesia, sebagai negara yang rawan bencana, sangat membutuhkan inovasi di bidang ini.

Dr. Dian Kesumapramudya Nurputra, M.Sc., Ph.D., Sp.A., Dosen FK-KMK UGM sekaligus Peneliti Utama Tim Riset eNose-TB, menyampaikan antusiasmenya.

“Sebagai peneliti, kami percaya bahwa teknologi yang dikembangkan di Indonesia mampu menyelesaikan berbagai tantangan yang ada di dalam negeri. Melalui pusat teknologi ini, akses ke infrastruktur AI dan keahlian berstandar dunia akan membantu kami mempercepat riset. Langkah ini membawa kami semakin dekat pada mimpi besar untuk menghadirkan teknologi kesehatan yang terjangkau dan mudah diakses, demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Pendidikan dan Kolaborasi Lintas Disiplin

Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., Rektor UGM, menambahkan bahwa pusat ini sejalan dengan komitmen UGM dalam pendidikan, riset, dan inovasi yang berdampak nyata.

“UGM berkomitmen penuh mendukung ambisi AI Indonesia melalui pendidikan, riset, dan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat. Melalui UGM Indosat NVAITC, kami memperluas akses terhadap infrastruktur AI canggih dan keahlian global bagi para mahasiswa dan peneliti, sekaligus memperkuat kolaborasi lintas disiplin di bidang strategis seperti kesehatan, pertanian, dan ketahanan bencana,” jelas Prof. Ova.

Peluncuran pusat ini merupakan puncak dari serangkaian tahapan yang telah dimulai sejak Juli 2025, mulai dari inisiasi tata kelola organisasi, penandatanganan Letter of Intent pada awal 2026, hingga peresmian pada 13 Agustus 2026. Ini adalah awal dari komitmen jangka panjang untuk memajukan riset, pengembangan talenta, dan inovasi AI di Indonesia—sebuah langkah nyata menuju masa depan di mana talenta nasional, keahlian global, dan inovasi lokal bersatu untuk menciptakan dampak bagi masyarakat.

Trump Jadi Target Operasi? Operasi Rahasia AS Terbongkar, Ancaman Rudal Iran Bikin Israel Siaga!

EtIndonesia.com Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase yang sangat sensitif pada 10–11 Agustus 2026. Di tengah tekanan ekonomi, operasi militer di kawasan, persoalan Selat Hormuz, dan meningkatnya aktivitas kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Teheran, satu faktor lain semakin penting diperhatikan: koordinasi keamanan dan militer antara Amerika Serikat dan Israel.

Hubungan pertahanan Washington dan Yerusalem bukan sekadar kerja sama politik. Dalam situasi ketika konflik Iran semakin meluas ke jalur laut, Yaman, Laut Merah, hingga jaringan pangkalan Amerika di Timur Tengah, koordinasi kedua negara dapat memainkan peran penting dalam menentukan bagaimana mereka merespons ancaman berikutnya.

Koordinasi CENTCOM dan Israel Menjadi Faktor Penting

Salah satu gambaran paling jelas mengenai hubungan tersebut terlihat dalam kunjungan Komandan Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, ke Israel pada 29–30 Maret 2026.

CENTCOM secara resmi mengonfirmasi bahwa Cooper bertemu dengan Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel atau IDF, Letnan Jenderal Eyal Zamir. Keduanya membahas perkembangan operasi yang ditujukan untuk mengurangi kemampuan Iran memproyeksikan kekuatan di luar wilayahnya. Mereka juga menegaskan kembali kuatnya kemitraan pertahanan Amerika Serikat–Israel serta pentingnya melanjutkan koordinasi militer.

Pertemuan tersebut menjadi semakin relevan ketika dilihat dari situasi pada Agustus 2026. Aktivitas Houthi di Yaman, ketegangan di Teluk Oman dan Selat Hormuz, serta kemungkinan serangan terhadap kepentingan Amerika maupun Israel membuat pertukaran intelijen dan koordinasi pertahanan udara menjadi semakin penting.

Israel sendiri selama bertahun-tahun mempertahankan prinsip bahwa ketika ancaman terhadap keamanan nasionalnya dianggap terlalu besar, negara itu harus tetap memiliki kemampuan melakukan tindakan secara mandiri. Namun dalam menghadapi Iran, hubungan dengan Amerika Serikat memberikan Israel keuntungan strategis yang sangat besar, mulai dari intelijen, koordinasi operasional hingga kemampuan pertahanan.

Jejak Mossad dalam Program Nuklir Iran

Di sisi lain, kemampuan intelijen Israel di dalam Iran kembali menjadi sorotan.

Salah satu tokoh yang sangat erat dikaitkan dengan operasi tersebut adalah mantan Direktur Mossad Yossi Cohen. Pada masa kepemimpinannya, Mossad menjalankan sejumlah operasi yang diarahkan untuk memperoleh informasi mengenai program nuklir Iran.

Operasi yang paling terkenal adalah pengambilan arsip nuklir Iran dari sebuah gudang di kawasan industri Shorabad, Teheran, pada 2018. Arsip tersebut mencakup puluhan ribu dokumen dan memberikan Israel informasi mengenai sejarah serta struktur program nuklir Iran, termasuk informasi mengenai fasilitas pengayaan bawah tanah Fordow.

Kemampuan Israel memperoleh informasi sedalam itu memberikan gambaran mengenai skala penetrasi intelijen yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Persoalan yang kemudian menjadi perhatian besar adalah stok uranium Iran.

Uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen memang belum sama dengan uranium tingkat senjata yang biasanya dikaitkan dengan pengayaan sekitar 90 persen. Namun angka 60 persen sudah sangat jauh melampaui tingkat pengayaan yang lazim digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik tenaga nuklir.

Karena itu, keberadaan material dengan tingkat pengayaan tinggi tetap dipandang sebagai persoalan strategis. Semakin tinggi tingkat pengayaan yang telah dicapai, semakin sedikit pekerjaan teknis tambahan yang diperlukan apabila sebuah negara memutuskan meningkatkan pengayaan menuju tingkat yang dapat digunakan untuk senjata.

Ancaman terhadap Pesawat Trump Terungkap

Di tengah ketegangan tersebut, muncul pula kisah mengenai operasi keamanan untuk melindungi Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Peristiwa itu berkaitan dengan perjalanan Trump menghadiri KTT NATO di Ankara, Turki, pada 7–8 Juli 2026. Trump tiba di Ankara pada 7 Juli untuk mengikuti pertemuan dua hari para pemimpin NATO.

Awalnya perhatian publik tertuju pada keputusan yang tidak biasa mengenai pesawat kepresidenan.

Trump tiba di Turki menggunakan pesawat kepresidenan baru, tetapi ketika meninggalkan Ankara, ia justru menggunakan pesawat Air Force One lama. Pada saat itu, perubahan tersebut memunculkan berbagai pertanyaan mengenai alasan keamanan.

Jawabannya mulai terungkap pada 24 Juli 2026.

CBS News melaporkan bahwa pejabat Amerika memperoleh informasi mengenai ancaman yang dinilai kredibel dari Iran dan kelompok-kelompok sekutunya terhadap pesawat yang membawa Trump. Menurut laporan tersebut, intelijen Amerika mendeteksi dugaan rencana untuk menembakkan rudal ke pesawat kepresidenan. Secret Service kemudian mengubah rencana perjalanan sebagai tindakan pencegahan.

Trump akhirnya meninggalkan Ankara menggunakan Air Force One generasi lama sebelum melanjutkan perjalanan melalui Inggris. Pesawat lama tersebut diketahui memiliki sejumlah teknologi pertahanan terhadap ancaman rudal, termasuk sistem yang dirancang membantu mengacaukan serangan terhadap pesawat.

Dengan demikian, perubahan pesawat yang semula terlihat sebagai persoalan perjalanan biasa ternyata berhubungan dengan kekhawatiran keamanan yang jauh lebih serius.

Washington Memilih Tekanan Ekonomi, tetapi Opsi Militer Tetap Terbuka

Perkembangan tersebut terjadi ketika strategi pemerintahan Trump terhadap Iran memasuki fase baru.

Dalam wawancara yang diberitakan Reuters pada 9 Agustus 2026, Trump mengatakan Amerika Serikat sedang mengambil pendekatan yang relatif terkendali sambil mengamati dampak tekanan ekonomi terhadap Iran. Washington tetap menggunakan sanksi, tekanan finansial dan blokade sebagai instrumen untuk melemahkan kemampuan Teheran.

Namun dua hari kemudian, pada 11 Agustus 2026, Trump kembali memperjelas bahwa pilihan militer belum disingkirkan.

Reuters melaporkan Trump menggambarkan dua kemungkinan besar yang dihadapinya terhadap Iran: membiarkan tekanan ekonomi terus memperburuk kondisi Teheran atau, jika diperlukan, melancarkan serangan militer yang sangat keras.

Pernyataan itu menunjukkan strategi dua jalur Washington. Amerika Serikat tampaknya belum ingin terburu-buru memasuki eskalasi militer besar, tetapi tetap mempertahankan kekuatan bersenjata sebagai alat tekanan apabila jalur ekonomi dan diplomasi tidak menghasilkan perubahan.

Timur Tengah Memasuki Fase Sangat Rapuh

Rangkaian perkembangan hingga 11 Agustus 2026 menunjukkan bahwa persoalan Amerika Serikat–Iran kini jauh lebih luas daripada sekadar perselisihan mengenai program nuklir.

Selat Hormuz tetap menjadi pusat pertarungan strategis karena merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Namun ketegangan juga telah merambat ke Teluk Oman, Laut Merah, Yaman, jaringan pangkalan Amerika, serta hubungan pertahanan Amerika Serikat dengan Israel.

Pada saat bersamaan, aktivitas intelijen terhadap program nuklir Iran terus menjadi faktor yang tidak terlihat tetapi sangat menentukan.

Ancaman terhadap perjalanan Presiden Trump bahkan memperlihatkan bahwa konflik tersebut telah menyentuh lapisan keamanan tertinggi pemerintahan Amerika Serikat.

Karena itu, pertanyaan terbesar sekarang bukan sekadar apakah Washington dan Teheran akan kembali mencapai meja perundingan.

Persoalan yang lebih menentukan adalah apakah kedua pihak masih mampu mengendalikan eskalasi sebelum sebuah serangan, salah perhitungan militer, atau insiden di laut berubah menjadi pemicu konflik regional yang jauh lebih besar.

Dengan tekanan ekonomi Amerika yang semakin kuat, opsi militer yang tetap terbuka, koordinasi AS–Israel yang terus berjalan, aktivitas kelompok sekutu Iran, serta perebutan pengaruh di jalur-jalur strategis kawasan, 11 Agustus 2026 menjadi salah satu titik penting dalam babak terbaru konflik Timur Tengah.

Dalam situasi seperti ini, satu kesalahan perhitungan saja dapat mengubah kebuntuan diplomatik menjadi konfrontasi yang jauh lebih sulit dikendalikan. (***)

Perang Laut di Depan Mata? AS Tembaki Kapal di Teluk Oman, Iran dan Houthi Bergerak!

EtIndonesia.com  Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat tajam pada Selasa, 11 Agustus 2026, setelah serangkaian insiden militer terjadi hampir bersamaan di Teluk Oman dan Yaman. Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa konflik yang berpusat pada Iran kini semakin berisiko meluas ke jalur-jalur pelayaran strategis dan medan konflik regional lainnya.

Salah satu perkembangan paling serius terjadi di Teluk Oman, ketika militer Amerika Serikat dilaporkan menembaki sebuah kapal berbendera Panama yang dituduh berusaha menerobos blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Menurut laporan Reuters pada 11 Agustus 2026, yang mengutip laporan Wall Street Journal dan seorang pejabat Amerika Serikat, sebuah helikopter militer AS melepaskan tembakan terhadap bagian kemudi kapal setelah awak kapal disebut mengabaikan peringatan dari personel Amerika yang sedang menjalankan operasi penegakan blokade. Kapal tersebut kemudian diidentifikasi oleh sumber keamanan maritim sebagai Vela Nova, sebuah kapal kontainer berbendera Panama.

Insiden tersebut terjadi ketika Vela Nova sedang berlayar di Teluk Oman, sekitar 71 mil laut dari pantai Pakistan. Informasi awal dari perusahaan keamanan maritim Inggris Vanguard menyebut kapal itu diyakini terkena rudal yang ditembakkan dari sebuah helikopter.

Laporan Financial Times kemudian menyebut helikopter militer Amerika menggunakan rudal Hellfire untuk melumpuhkan kapal tersebut setelah peringatan berulang kali tidak dipatuhi. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dari 17 awak kapal.

Peristiwa ini menjadi penting karena memperlihatkan bahwa blokade terhadap Iran bukan sekadar tekanan ekonomi di atas kertas. Washington kini menunjukkan kesediaan menggunakan kekuatan militer untuk menghentikan kapal yang dianggap melanggar pembatasan tersebut.

Reuters melaporkan bahwa tindakan terhadap Vela Nova merupakan operasi ke-12 Amerika Serikat terhadap kapal yang dinilai melanggar blokade sejak April 2026.

Situasi ini secara otomatis meningkatkan risiko salah perhitungan di laut. Teluk Oman merupakan pintu menuju Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia. Setiap bentrokan antara kapal sipil dan kekuatan militer di kawasan tersebut dapat memberikan dampak jauh melampaui konflik Amerika Serikat-Iran, terutama terhadap keamanan pelayaran internasional.

Aktivitas Rudal Iran Ikut Menjadi Sorotan

Pada saat perhatian tertuju pada insiden Vela Nova, muncul pula laporan mengenai aktivitas rudal antikapal Iran dari kawasan Sirik, di Provinsi Hormozgan, Iran selatan.

Kawasan tersebut memiliki posisi strategis karena terletak tidak jauh dari jalur masuk menuju Selat Hormuz dan Teluk Oman.

Laporan mengenai peluncuran rudal dan ledakan di sekitar kawasan itu memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan adanya aktivitas militer Iran yang berkaitan dengan meningkatnya ketegangan di laut.

Namun, hingga informasi yang tersedia pada 11 Agustus 2026, rincian mengenai hubungan langsung antara aktivitas di Sirik dan insiden Vela Nova belum dapat dipastikan secara independen.

Karena itu, terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa kedua peristiwa tersebut merupakan bagian dari satu pertukaran serangan langsung antara Iran dan Amerika Serikat.

Yang jelas, meningkatnya aktivitas militer di sekitar Teluk Oman semakin mempersempit ruang kesalahan. Satu insiden yang salah ditafsirkan dapat memicu respons berantai dan membawa konflik menuju konfrontasi laut yang lebih luas.

Yaman Kembali Membara

Eskalasi pada 11 Agustus 2026 tidak hanya terjadi di sekitar Iran.

Di Yaman, kelompok Houthi kembali meningkatkan operasi militernya dengan melancarkan serangan rudal balistik terhadap kawasan Al-Makha atau Mocha di pesisir Laut Merah serta wilayah Marib.

Mocha memiliki posisi sangat penting dalam peta konflik Yaman. Kota pelabuhan di pesisir barat tersebut berada di kawasan yang dikuasai kekuatan anti-Houthi, termasuk pasukan yang berafiliasi dengan National Resistance Forces.

Sementara itu, Marib merupakan salah satu pusat utama kekuatan pemerintah dan kelompok anti-Houthi di Yaman. Konsentrasi pasukan pemerintah di negara itu antara lain berada di Marib, Taiz, serta sejumlah provinsi selatan dan timur.

Dengan menyerang Mocha dan Marib hampir bersamaan, Houthi tampaknya berusaha mempertahankan tekanan terhadap dua wilayah yang mempunyai nilai strategis berbeda: Mocha sebagai titik penting di dekat jalur pelayaran Laut Merah dan Marib sebagai pusat pertahanan kekuatan anti-Houthi di daratan.

Perkembangan tersebut menjadi semakin mengkhawatirkan karena krisis kini terjadi di dua jalur pelayaran strategis sekaligus: Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb.

Pada hari yang sama, Reuters juga melaporkan serangan Houthi terhadap kapal kargo Tihamah di sekitar Pulau Perim, Selat Bab el-Mandeb. Empat awak kapal dilaporkan tewas, sementara dua anggota tim penyelamat dari National Resistance Forces juga terbunuh dalam serangan berikutnya.

Artinya, ancaman terhadap pelayaran komersial kini tidak hanya datang dari ketegangan di sekitar Iran, tetapi juga kembali meningkat di pintu masuk selatan Laut Merah.

Arab Saudi, Turki dan Pakistan Masuk Perhitungan Teheran

Di tengah situasi tersebut, perkembangan hubungan pertahanan antara Arab Saudi, Turki dan Pakistan juga semakin diperhatikan Iran.

Teheran harus memperhitungkan kemungkinan perubahan arsitektur keamanan regional apabila ketiga negara tersebut memperdalam koordinasi militernya.

Namun, keberadaan kerja sama pertahanan tidak otomatis berarti Turki maupun Pakistan akan terjun langsung dalam perang melawan Iran.

Pernyataan Ankara sebelumnya bahkan menegaskan bahwa kerja sama tersebut tidak ditujukan secara khusus terhadap Iran atau negara tertentu.

Bagi Teheran, persoalan utamanya adalah bagaimana memastikan konflik dengan Amerika Serikat dan Israel tidak berkembang menjadi konfrontasi yang melibatkan semakin banyak kekuatan regional.

Dengan Teluk Oman semakin termiliterisasi, serangan Houthi kembali meningkat di Yaman, serta negara-negara regional memperkuat kerja sama pertahanan, 11 Agustus 2026 menjadi gambaran betapa rapuhnya keamanan Timur Tengah saat ini.

Insiden Vela Nova menunjukkan bahwa blokade terhadap Iran kini memiliki konsekuensi militer nyata. Sementara serangan di Mocha, Marib dan Bab el-Mandeb memperlihatkan bahwa konflik regional dapat menyebar melalui berbagai front sekaligus.

Jika jalur diplomasi gagal meredakan ketegangan, persoalan berikutnya bukan lagi sekadar apakah konflik akan meluas, tetapi seberapa jauh perluasan tersebut dapat dikendalikan sebelum menyeret lebih banyak negara ke dalam konfrontasi terbuka. (***)

Geger! Iran Tuntut US$300 Miliar, Trump Balik Tuntut Ganti Rugi Puluhan Tahun Akibat Tindakan Iran dan Proksinya

EtIndonesia.com Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase yang semakin rumit. Pada Senin, 10 Agustus 2026, tuntutan Teheran terkait penyelesaian konflik dan pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi perhatian internasional setelah Iran mengajukan serangkaian persyaratan besar kepada pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Iran menginginkan kompensasi dalam jumlah sangat besar, pencairan aset-aset Iran yang dibekukan, pelonggaran tekanan ekonomi, serta sejumlah konsesi lain sebelum persoalan Selat Hormuz dapat diselesaikan secara menyeluruh.

Menurut laporan Reuters pada 10 Agustus 2026, tuntutan Iran mencakup sekitar 300 miliar dolar AS sebagai kompensasi atas kerusakan akibat perang, serta pembebasan aset-aset Iran yang masih dibekukan. Teheran juga mengaitkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan pencabutan blokade laut Amerika Serikat.

Besarnya angka tersebut membuat negosiasi semakin sulit. Terlebih lagi, Washington tidak menerima begitu saja tuntutan kompensasi dari Teheran.

Presiden Donald Trump justru membalikkan persoalan tersebut dengan mengatakan bahwa jika masalah ganti rugi akan dimasukkan dalam pembicaraan, Amerika Serikat juga dapat mengajukan tuntutan kompensasi kepada Iran.

Washington ingin memperhitungkan kerugian yang menurut pemerintah AS disebabkan oleh tindakan Iran dan kelompok-kelompok yang didukung Teheran selama beberapa dekade terakhir. 

Dengan demikian, persoalan kompensasi kini bukan lagi sekadar tuntutan sepihak Iran, melainkan berpotensi menjadi salah satu sumber perselisihan terbesar dalam perundingan mendatang.

Dari Dana Rekonstruksi hingga Tuntutan US$300 Miliar

Angka 300 miliar dolar AS sebenarnya bukan angka yang benar-benar baru dalam hubungan Washington dan Teheran pada 2026.

Pada 17 Juni 2026, Reuters melaporkan adanya kerangka dana investasi swasta senilai sekitar 300 miliar dolar AS yang dirancang untuk mendorong rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran. Lebih dari separuh komitmen terhadap dana tersebut ketika itu disebut telah tersedia. Namun, pemerintahan Trump menegaskan bahwa skema tersebut bukan berarti pemerintah Amerika Serikat akan secara langsung membayar Iran sebesar 300 miliar dolar.

Perbedaan antara dana investasi dan tuntutan kompensasi menjadi penting.

Kerangka pada Juni pada dasarnya diarahkan untuk memobilisasi investasi ke Iran sebagai bagian dari upaya penyelesaian konflik. Sementara tuntutan terbaru Teheran menempatkan angka 300 miliar dolar sebagai kompensasi atas kerusakan yang dikaitkan dengan perang.

Perubahan tersebut semakin memperbesar jarak antara kedua pihak.

Iran menuntut kompensasi, pembebasan aset dan berakhirnya berbagai tekanan Amerika Serikat. Sebaliknya, Washington menuntut Iran bertanggung jawab atas kerugian yang menurut pemerintah AS disebabkan oleh Teheran selama puluhan tahun.

Akibatnya, kemungkinan tercapainya kesepakatan cepat mengenai Hormuz semakin mengecil.

Selat Hormuz Tetap Menjadi Kartu Strategis Iran

Di tengah kebuntuan diplomatik tersebut, Selat Hormuz tetap menjadi pusat pertarungan kepentingan.

Selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab itu merupakan salah satu jalur energi terpenting dunia. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut dapat memengaruhi pasokan minyak dan gas sekaligus mendorong kenaikan harga energi internasional.

Pada 10 Agustus 2026, harga minyak kembali meningkat ketika pasar meragukan kemungkinan tercapainya kesepakatan cepat untuk membuka kembali jalur tersebut. Ketidakpastian berlanjut hingga 11 Agustus, ketika harga minyak mencapai level tertinggi dalam sekitar satu pekan.

Meski demikian, negara-negara Teluk selama bertahun-tahun telah membangun jalur alternatif untuk mengurangi ketergantungan mutlak terhadap Hormuz.

Arab Saudi, misalnya, memiliki jaringan pipa East-West menuju kawasan Yanbu di Laut Merah. Infrastruktur semacam ini memungkinkan sebagian minyak dialihkan menuju terminal ekspor tanpa harus melewati Hormuz.

Namun kapasitas jalur alternatif tersebut tidak serta-merta menghilangkan kepentingan strategis selat itu. Hormuz tetap menjadi jalur utama bagi perdagangan energi dan pelayaran komersial kawasan.

Karena itulah, kemampuan Iran mengganggu lalu lintas di Hormuz masih memberikan Teheran alat tekanan yang sangat besar dalam menghadapi Washington.

Trump Memilih Tekanan Ekonomi, tetapi Opsi Militer Tetap Membayangi

Strategi pemerintahan Trump kini tampaknya berusaha menggabungkan diplomasi dengan tekanan ekonomi dan ancaman kekuatan militer.

Washington menilai kondisi ekonomi Iran semakin tertekan akibat perang, sanksi, gangguan perdagangan, inflasi, serta kerusakan terhadap berbagai infrastruktur.

Trump sendiri mengatakan bahwa Amerika Serikat sedang mengambil pendekatan relatif rendah profil sambil membiarkan tekanan ekonomi terhadap Iran terus bekerja. Ia menggambarkan Iran sebagai negara yang sedang menghadapi inflasi sangat tinggi dan persoalan keuangan serius.

Dengan kata lain, Washington tampaknya berharap tekanan ekonomi dapat memaksa Teheran memberikan konsesi tanpa harus segera memasuki kembali operasi militer berskala besar.

Namun, opsi militer belum sepenuhnya dikeluarkan dari perhitungan.

Kondisi tersebut menciptakan situasi yang sangat berbahaya: kedua pihak sama-sama mencoba meningkatkan daya tawar sambil menghindari kesan bahwa mereka sedang mundur.

Mojtaba Khamenei Rombak Komando Militer Iran

Di tengah tekanan dari Amerika Serikat, Iran justru melakukan perubahan besar pada struktur kepemimpinan militernya.

Pada Senin, 10 Agustus 2026, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mengangkat sejumlah pejabat senior ke posisi strategis dalam struktur militer dan keamanan negara.

Di antaranya adalah Ali Abdollahi sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran dan Ahmad Vahidi sebagai Panglima Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC. Perubahan lain juga menyentuh struktur Angkatan Laut IRGC dan Basij.

Ali Abdollahi juga diperintahkan melanjutkan proses integrasi Markas Pusat Khatam al-Anbiya dengan Staf Umum Angkatan Bersenjata. Tujuannya dinilai berkaitan dengan upaya memperkuat koordinasi antara militer reguler Iran dan IRGC serta mempercepat pengambilan keputusan dalam kondisi perang.

Perombakan tersebut menunjukkan bahwa Teheran bukan hanya mempersiapkan diri menghadapi negosiasi, tetapi juga kemungkinan konfrontasi yang berkepanjangan.

Dari sisi militer, Iran membutuhkan rantai komando yang lebih terpusat dan mampu bertahan apabila serangan kembali terjadi.

Sementara dari sisi politik, perubahan tersebut memberikan pesan bahwa kepemimpinan Mojtaba Khamenei sedang berusaha mengonsolidasikan kendali terhadap institusi keamanan dan militer.

Dengan tuntutan Iran yang semakin tinggi, tuntutan balasan Washington yang tidak kalah keras, dan restrukturisasi komando militer di Teheran, krisis Selat Hormuz kini memasuki babak baru yang jauh lebih kompleks.

Diplomasi masih berlangsung, tetapi ruang kompromi semakin sempit. Pertanyaan terbesar sekarang bukan hanya apakah Washington dan Teheran mampu mencapai kesepakatan, melainkan berapa lama kedua negara dapat mempertahankan tekanan tanpa akhirnya kembali terseret ke dalam konfrontasi militer yang lebih besar. (***)

50.000 Tentara Korea Utara Akan Dikerahkan? Rusia Mendapat Dukungan Rudal dari Korea Utara

EtIndonesia.com Pada Selasa dini hari (11 Agustus), pasukan Rusia melancarkan serangan besar-besaran terhadap Kyiv dan Zaporizhzhia. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menuduh Rusia menggunakan rudal yang dipasok Korea Utara dan memperingatkan bahwa kerja sama militer antara Rusia dan Korea Utara terus diperluas.

Di sisi lain, pasukan Ukraina terus melakukan serangan jauh ke dalam wilayah Rusia untuk memaksa Moskow kembali ke meja perundingan. Pada Selasa, Zelenskyy juga mengkonfirmasi bahwa Ukraina telah menyerahkan proposal terbaru untuk mengakhiri perang kepada perwakilan Amerika Serikat.

Dalam kegelapan malam, api berkobar sementara petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api di tengah asap tebal dan puing-puing. Pada Selasa, rudal balistik Rusia menghantam Distrik Shevchenkivskyi di Kyiv, menyebabkan sebuah rumah sakit mengalami kerusakan parah.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan bahwa pasukannya menyerang pusat penyortiran perusahaan Nova Poshta di Kyiv. Pusat tersebut dituduh digunakan untuk menyimpan dan mendistribusikan berbagai perlengkapan penggunaan ganda militer-sipil, termasuk komponen drone dan peralatan perang elektronik.

Di wilayah selatan Ukraina, Zaporizhzhia kembali mengalami serangan besar-besaran Rusia pada Selasa dini hari, setelah sebelumnya diserang pada Senin (10 Agustus).

Zelenskyy mengkonfirmasi bahwa dalam serangan tersebut, pasukan Rusia menggunakan rudal balistik yang dipasok Korea Utara, rudal jelajah hipersonik Zircon, serta bom udara berpemandu presisi KAB.

Serangkaian serangan tersebut menyebabkan setidaknya enam orang tewas dan lebih dari 20 orang terluka.

Pada saat yang sama, Zelenskyy kembali memperingatkan mengenai semakin dalamnya kerja sama militer antara Rusia dan Korea Utara.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy:  “Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Rusia mereka tidak lagi memiliki wilayah belakang strategis yang aman. Untuk pertama kalinya, mereka tidak dapat melancarkan perang tanpa bala bantuan dari Korea Utara. Sekarang mereka sedang mempersiapkan pengerahan pasukan Korea Utara tambahan di wilayah mereka. Bayangkan, mereka sudah menerima tambahan rudal balistik dari Korea Utara.”

Dalam beberapa hari terakhir, Zelenskyy mengungkapkan bahwa Pyongyang berencana mengerahkan antara 30.000 hingga 50.000 tentara Korea Utara ke Rusia.

Reuters mengutip pejabat dari badan intelijen militer Ukraina yang mengatakan bahwa satu unit rudal Korea Utara telah mulai dikerahkan ke Rusia bagian barat. Unit tersebut kemungkinan dilengkapi 120 rudal balistik dan enam kendaraan peluncur.

Data intelijen menunjukkan bahwa sejak akhir 2023, Rusia telah meluncurkan puluhan rudal yang dipasok Korea Utara ke wilayah Ukraina.

Selain itu, Zelenskyy memperingatkan bahwa Ukraina akan terus melakukan serangan jarak jauh terhadap wilayah Rusia untuk memaksa Moskow kembali ke meja perundingan.

Pada Selasa, drone Ukraina menyerang gudang perusahaan Wildberries di kota Voronezh, Rusia bagian selatan. Dalam beberapa pekan terakhir, raksasa ritel daring yang sering dijuluki “Amazon-nya Rusia” tersebut terus menjadi sasaran serangan Ukraina.

Pada Senin, pasukan Ukraina juga menyerang Republik Tatarstan, Rusia, yang berjarak lebih dari 1.100 kilometer dari perbatasan Ukraina. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 13 orang, sementara sebuah kilang minyak penting di wilayah tersebut mengalami kerusakan akibat serangan.

Emma Burrows, reporter Associated Press:  “Para pakar mengatakan bahwa Ukraina kini telah menghancurkan sekitar 35% kapasitas produksi bahan bakar Rusia. Pertanyaannya adalah, apakah serangan Ukraina cukup kuat untuk memaksa Putin menghentikan perang?”

Pada Selasa, Zelenskyy mengonfirmasi bahwa Ukraina telah menyerahkan proposal untuk mengakhiri perang kepada perwakilan Amerika Serikat.

 “Kami telah menyerahkan proposal kami kepada pihak Amerika. Amerika Serikat dapat membantu memperkuat pertahanan kami, khususnya dalam bidang pertahanan udara, serta memberikan tekanan kepada Rusia agar mengubah rencananya dan mempersiapkan diri untuk mengakhiri perang, bukan memperpanjangnya,” kata Zalenskyy. 

Laporan gabungan: Yi Jing, NTD Television

Pegawai Toko Ayam Goreng Kelelahan hingga Menangis dan Kejang-kejang di Lantai 

ETIndonesia.com Baru-baru ini, sebuah toko ayam goreng di Shenzhen, Tiongkok hanya memiliki seorang pegawai muda yang bekerja di dapur. Menghadapi banyaknya pesanan makanan untuk diantar, pegawai tersebut kelelahan hingga menangis dan kehilangan suara, lalu akhirnya jatuh ke lantai dan mengalami kejang. Banyak warganet Tiongkok merasa ikut prihatin dan mengeluhkan: “Menjadi pekerja memang sangat sulit!”

Video yang beredar di internet memperlihatkan bahwa pada larut malam 10 Agustus, di sebuah gerai ayam goreng untuk dibawa pulang bernama “Buke Zhaji” di Distrik Longhua, Shenzhen, Guangdong, seorang pegawai laki-laki muda terlihat menangis sambil mempercepat pekerjaannya membuat ayam goreng karena khawatir pesanan terlambat dan mendapat keluhan.

Beberapa kurir makanan yang sedang menunggu di area pengambilan pesanan melihat pegawai tersebut bekerja hingga hampir mengalami gangguan emosional. Salah seorang kurir berusaha menenangkannya:

“Jangan terlalu tegang. Jangan terburu-buru. Pelan-pelan saja, kerjakan perlahan. Tidak ada yang mendesak kamu.”

Pegawai tersebut terus berlari kecil di dapur, menggoreng potongan ayam dan mengemas pesanan. Napasnya tampak mulai tidak teratur dan tangannya terlihat gemetar.

Seorang kurir bertanya kepadanya:

“Kenapa cuma kamu seorang?”

Kurir lainnya, melihat kondisi pegawai yang menangis dan hampir tidak sanggup bekerja, berkata dengan penuh empati:

“Kita semua dieksploitasi.”

Kurir lainnya terus berusaha menenangkan pegawai tersebut:

“Jangan terburu-buru, jangan menangis.”

Dalam video terlihat bahwa pegawai itu sudah kesulitan bernapas. Sambil memegang wadah makanan dan memasukkan ayam goreng ke dalamnya, ia tampak tidak mampu berdiri dengan stabil. Seluruh tubuhnya gemetar dan napasnya semakin cepat.

Kemudian seorang kurir bertanya:

“Pesanan Meituan yang 40 sudah selesai?”

Kurir lainnya segera berkata: “Jangan panggil dia, jangan! Dia sudah hampir tidak kuat. Jangan desak dia lagi.”

Video tersebut kemudian memperlihatkan pegawai ayam goreng itu akhirnya kelelahan hingga ambruk dan mengalami kejang di lantai. Seorang pria berdiri di sampingnya dan meminta pegawai tersebut untuk tenang sambil berkata:

“Biar saya yang kerjakan. Saya yang kerjakan.”

Video pegawai toko ayam goreng yang kelelahan hingga ambruk tersebut kemudian viral di internet dan menarik perhatian publik. Sejumlah warganet berkomentar:

“Yang saya lihat hanyalah eksploitasi tenaga kerja oleh pemilik modal.”

“Menjadi pekerja memang sangat sulit!”

“Bekerja di bidang restoran memang sangat melelahkan, apalagi pekerja musiman saat liburan musim panas. Kerja lebih banyak, penghasilan lebih sedikit, dan masih harus menghadapi PUA (tekanan psikologis).”

“Sekarang banyak pemilik usaha seperti ini. Membuka satu toko, hanya mempekerjakan satu atau dua orang untuk menangani pesanan online, lalu berharap bisa duduk santai menerima uang. Ketika pegawai tidak sanggup mengerjakan semuanya, gajinya malah dipotong.”

Setelah kejadian tersebut, pihak toko ayam goreng memberikan tanggapan bahwa gerai tersebut seharusnya memiliki dua orang pegawai. Namun, pada hari kejadian, salah satu pegawai mengajukan cuti sehingga hanya seorang pegawai baru yang harus menangani semuanya seorang diri. Kondisi tersebut akhirnya menyebabkan gangguan emosional yang memicu alkalosis respiratorik (respiratory alkalosis).

Setelah dipastikan kondisi fisiknya tidak bermasalah, pegawai tersebut kemudian mengundurkan diri, dan seluruh gajinya telah dibayarkan.

Luo Tingting/Wen Hui

Ubur-Ubur Menyebabkan Masalah di Prancis, Pembangkit Listrik Nuklir Terpaksa Mematikan 3 Reaktor

EtIndonesia.com Perusahaan listrik Prancis, Électricité de France (EDF), baru-baru ini mengatakan bahwa ledakan populasi ubur-ubur telah menyumbat pompa air pendingin, sehingga tiga reaktor nuklir di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Gravelines, Prancis utara, terpaksa dihentikan.

Menurut laporan AFP, dalam pernyataan pada 11 Agustus, EDF mengatakan bahwa tiga reaktor di PLTN Gravelines telah dihentikan. Selain itu, satu reaktor lainnya beroperasi dengan kapasitas setengah, sementara satu reaktor sedang menjalani pemeliharaan rutin. Dengan demikian, hanya satu reaktor yang masih beroperasi secara normal.

EDF menyatakan:  “Insiden ini tidak berdampak terhadap keselamatan fasilitas pembangkit listrik nuklir, personel, maupun lingkungan.”

Berdasarkan perhitungan dari data yang dipublikasikan EDF sejak 2015, sebelum ubur-ubur menyebabkan penghentian reaktor, produksi listrik tenaga nuklir Prancis pada 9 Agustus sudah berada 15,6% di bawah tingkat normal.

Dengan gelombang panas kelima tahun ini diperkirakan akan terus menguat sepanjang pekan ini, produksi listrik tenaga nuklir Prancis kemungkinan akan semakin terdampak.

Tahun ini, Prancis telah mengalami beberapa gelombang panas dan kekeringan, yang berulang kali mengganggu pembangkitan listrik tenaga nuklir. Pada Juni dan Juli, EDF terpaksa menghentikan sejumlah reaktor akibat suhu yang sangat tinggi.

Diketahui bahwa PLTN Gravelines juga mengalami kejadian serupa tahun lalu, ketika ledakan populasi ubur-ubur memaksa beberapa reaktornya dihentikan.

Selain itu, ledakan populasi ubur-ubur juga pernah menyebabkan pembangkit listrik tenaga nuklir di negara lain berhenti beroperasi. Pada 2013, sebuah PLTN di Swedia terdampak oleh serbuan ubur-ubur, sedangkan pada 1999, PLTN di Jepang juga pernah menghentikan operasinya akibat populasi ubur-ubur yang sangat besar.

Para ahli mengatakan bahwa penangkapan ikan secara berlebihan dan polusi plastik telah mengurangi jumlah predator alami ubur-ubur. Di sisi lain, perubahan iklim yang menyebabkan suhu air laut meningkat juga menciptakan kondisi yang mendukung perkembangbiakan ubur-ubur secara besar-besaran.

Sumber : NTDTV.com

Laporan Lapangan: Topan Dolphin Hantam Shanghai; Dunia Usaha Alami Kerugian Besar

Topan ke-13 tahun ini, “Dolphin” dua kali mendarat di pesisir Zhejiang. Zhejiang, Shanghai, Jiangsu, dan sejumlah wilayah lainnya dilanda angin kencang serta hujan deras. Di banyak tempat terjadi genangan dan banjir serius. Shanghai bahkan sempat berubah menjadi “kota air”, dengan banyak toko dan kendaraan terendam. Banyak penerbangan di bandara dibatalkan dan lalu lintas mengalami gangguan parah.

EtIndonesia.com Pada 9 Agustus malam, “Dolphin” berturut-turut mendarat di pesisir Yuhuan dan Yueqing, Zhejiang. Sejumlah wilayah di bagian timur Zhejiang dilanda hujan deras dan angin kencang. Kecepatan hembusan angin mencapai level 13–16, sementara hembusan lokal di Yuhuan bahkan melampaui level 17.

Pada 10 Agustus, curah hujan selama 24 jam di Xujiahui, Shanghai, memecahkan rekor curah hujan harian selama 154 tahun. Banyak ruas jalan di kota tergenang, kendaraan terendam, dan sejumlah kompleks perumahan terkepung banjir. Distrik Jinshan, Shanghai, mengeluarkan peringatan hujan badai level merah. Seluruh wilayah menghentikan kegiatan kerja, sekolah, dan sebagian layanan transportasi.

Pada 11 Agustus, situasi bencana di Shanghai terus memburuk. Banyak toko di sepanjang jalan kemasukan air banjir sehingga sejumlah besar barang dagangan terendam.

 “Saluran sungainya sudah penuh, air tidak bisa dibuang. Di jalan masih ada genangan yang sangat dalam. Di seberang adalah kawasan industri Tinglin. Banyak sekali mobil yang terendam. Semua toko di sepanjang jalan juga kebanjiran,” ujar Lin, pemilik sebuah perusahaan di Kota Tinglin, Distrik Jinshan, Shanghai. 

Lin mengatakan bahwa kawasan industri Tinglin memiliki beberapa kompleks industri dan setiap kompleks setidaknya memiliki puluhan perusahaan yang mengalami kerugian.

 “Kami juga sama sekali tidak melakukan persiapan. Barang-barang yang berada di gudang lantai satu hampir semuanya rusak. Kami tidak sempat memindahkannya. Karena malam itu hujan turun sepanjang malam. Ketika kami datang ke sini pada pagi berikutnya, semuanya sudah terendam,” ujarnya. 

Seorang pemilik toko di Shanghai menangis sambil mengeluhkan bahwa seluruh tokonya terendam dan mengalami kerugian besar.

Pemilik toko:  “Setelah melihat kondisi awal, kerugiannya diperkirakan sekitar 1 juta yuan.”

Sebuah toko tas bermerek juga kemasukan air banjir. Banyak tas mewah terendam dan para pegawai berusaha menyelamatkan barang-barang di dalam toko.

Pegawai toko tas bermerek:  “Di bagian bawah sini masih ada banyak tas. Chanel, Gucci semuanya ditaruh di deretan ini. Tadi Louis Vuitton ada di sini, sedangkan Hermès ada di sana. Bisa dilihat papan ini bahkan sudah mengapung. Rasanya seperti kiamat!”

Selain kerugian materi, seorang warga di kompleks perumahan Du Xiang, Jiuliting, Distrik Songjiang, Shanghai, dilaporkan meninggal akibat tersengat listrik.

Hujan deras juga menyebabkan gangguan besar terhadap transportasi Shanghai. Pada 9 Agustus, sebanyak 1.384 penerbangan kedatangan dan keberangkatan dibatalkan di berbagai bandara. Pada 10 Agustus, sebanyak 943 penerbangan kembali dibatalkan. Selain itu, sejumlah jalan tol memberlakukan pembatasan kecepatan, sebagian jalur kereta bawah tanah dihentikan, dan transportasi air juga terdampak sepenuhnya.

Situasi di Zhejiang juga sangat serius. Banyak jalan di Wenzhou tergenang, bahkan sebuah truk terbalik akibat terpaan angin kencang. Sebuah supermarket di Kabupaten Sanmen, Taizhou, terendam banjir sehingga seluruh barang dagangannya terkena air. Di Wenling, angin kencang menerbangkan atap bangunan dan jalan-jalan di kawasan kota berubah seperti sungai.

Saat ini, setidaknya 74 sungai di wilayah Danau Taihu dan pesisir timur Zhejiang telah melampaui batas siaga, sementara sungai-sungai kecil dan menengah menghadapi risiko banjir yang cukup tinggi.

Pada 10 Agustus, “Dolphin” meninggalkan Zhejiang dan bergerak menuju Jiangxi, tetapi hujan deras belum berhenti. Ningbo, Taizhou, Wenzhou, dan sejumlah wilayah lainnya masih mengalami hujan lebat secara lokal. Di banyak tempat, jalan berubah menjadi sungai, kendaraan terendam, pohon tumbang, bahkan ada warga yang menggunakan perahu karet untuk bepergian di kawasan perkotaan.

Pada 11 Agustus, Zhang, seorang pekerja migran di Kabupaten Yongjia, Wenzhou, mengatakan kepada reporter NTD bahwa banyak pabrik di daerah tersebut terendam banjir. Peralatan rusak dan barang-barang mengalami kerusakan, menyebabkan kerugian besar bagi perusahaan.

Zhang, pekerja migran di Kabupaten Yongjia, Wenzhou:  “Yongjia terendam sampai 2 meter. Pabrik-pabrik kebanjiran, pemiliknya pasti menangis. Beberapa barang terendam air. Daerahnya terlalu rendah. Air banjir masuk kembali. Begitu hujan deras turun, langsung mengalami kerugian.”

Chen, seorang warga Wenling, Taizhou, Zhejiang, mengatakan bahwa hampir semua lantai satu bangunan di daerahnya kemasukan air dan hingga kini air belum surut.

“Sekarang air masih sedalam ini. Menurut Anda, berapa lama baru bisa surut? Air langsung menenggelamkan semua mobil. Di beberapa tempat, beberapa ruas jalan terendam. Bagian yang paling dalam mencapai sekitar 1–2 meter,” katanya.

Saat ini, “Dolphin” terus bergerak ke arah utara. Dari 11 hingga 16 Agustus, hujan diperkirakan akan meluas ke wilayah Tiongkok Timur, Tiongkok Utara, dan kawasan Huanghuai, bahkan dampaknya kemungkinan mencapai wilayah timur laut. Sejumlah daerah diperkirakan mengalami hujan ekstrem.

Observatorium Meteorologi Beijing telah mengeluarkan peringatan hujan badai level oranye dan berencana mengaktifkan respons darurat pengendalian banjir level II. Dari 11 hingga 13 Agustus, Beijing diperkirakan mengalami hujan deras. Wilayah pegunungan berpotensi mengalami banjir bandang, tanah longsor, runtuhan, dan aliran lumpur.

Hebei, Henan, dan sejumlah wilayah lainnya juga telah mengeluarkan peringatan hujan deras serta mengaktifkan respons darurat pengendalian banjir level IV.

Li Yun/Xiong Bin/ Zhong Yuan

Iran Ancam Pembunuhan, Trump Lolos Dramatis dengan Taktik Pengalihan Menggunakan “Truk Makanan”

EtIndonesia.com  Taktik pengelabuan yang dilakukan Dinas Rahasia Amerika Serikat (U.S. Secret Service) menarik perhatian dunia. Media Amerika mengungkap bahwa Presiden AS Donald Trump baru-baru ini menghadapi ancaman pembunuhan dari Iran. Untuk menghindari potensi bahaya, Trump diam-diam dipindahkan ke pesawat lain dengan bantuan truk pemasok makanan, sehingga berhasil mengecoh pihak yang mungkin mengincarnya.

Menurut laporan The Washington Post, setelah KTT NATO di Ankara, Turki, bulan lalu, Gedung Putih mengumumkan kepada publik bahwa Trump mengubah rencana penerbangannya. Semula ia dijadwalkan menaiki pesawat kepresidenan baru, tetapi kemudian disebut akan menggunakan pesawat lama untuk terbang ke Inggris.

Namun kenyataannya, tidak lama setelah Trump naik ke pesawat, dengan bantuan Secret Service, ia diam-diam dipindahkan menggunakan truk pemasok makanan ke sebuah pesawat C-32A yang lebih kecil. Pesawat tersebut kemudian membawanya menuju Inggris.

Sebelum meninggalkan Ankara, Trump bahkan menulis di media sosial Truth Social bahwa demi “nostalgia”, ia akan menaiki Air Force One lama berwarna biru muda menuju Pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris RAF Mildenhall.

Para wartawan yang ikut dalam rombongan kemudian mengungkapkan bahwa Secret Service meminta mereka menutup tirai jendela pesawat dan tidak membukanya.

Ketika wartawan kemudian menanyakan alasan tirai harus ditutup, Trump mengatakan bahwa mereka “mungkin sedang berada dalam penerbangan yang berbahaya”.

Trump bahkan berkata: “Tetapi kalau sesuatu terjadi pada saya, sesuatu juga akan terjadi pada kalian. Benar, kan?”

The Washington Post melaporkan bahwa operasi pengelabuan tersebut dilakukan setelah adanya ancaman yang dianggap kredibel.

Taktik serupa pernah digunakan pada tahun 2000. Saat itu, mantan Presiden Bill Clinton menaiki sebuah pesawat pemerintah tanpa tanda khusus menuju Pakistan, sementara Air Force One resmi diterbangkan sebagai pesawat umpan untuk mengelabui pihak yang mungkin mengancam keselamatannya.

Menanggapi laporan mengenai pergantian pesawat secara rahasia tersebut, Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung mengatakan kepada media: “Seperti yang baru-baru ini dikatakan Presiden, ada banyak musuh Amerika yang mengawasinya dengan penuh ancaman. Kami akan menggunakan segala cara untuk menghadapi ancaman tersebut.”

Namun, sejumlah pejabat Amerika menyatakan ketidakpuasan karena taktik dan prosedur keamanan yang sangat rahasia tersebut bocor kepada media dan publik. Mereka menilai kebocoran itu dapat membatasi operasi pengamanan presiden Amerika Serikat di masa depan.

Negosiasi AS-Iran

Di tengah perhatian besar terhadap perkembangan negosiasi, Trump sebelumnya mengkritik para pemimpin Iran sebagai “negosiator yang licik”. Namun, ia mengatakan Amerika Serikat akan terus memberikan tekanan sembari berupaya mencapai kesepakatan damai dengan Teheran.

“Mereka tidak membayar gaji para tentara. Para tentara meninggalkan mereka satu demi satu,” katanya. 

“Dari sisi ekonomi, mereka berada dalam kekacauan. Mereka tidak bisa mendapatkan pinjaman, sementara kami mengendalikan uang mereka,” ujarnya, 

“Saya adalah bankir mereka,” tambahnya. 

Pakistan mengatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin dekat untuk mencapai semacam kesepakatan.

Qatar juga menyatakan bahwa pembicaraan antara Oman dan Iran mengenai pelayaran melalui selat tersebut telah memasuki “tahap kritis”, dan Qatar telah menerima tanggapan positif dari kedua negara.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, mengatakan: “Upaya mediasi kami sedang berlangsung, dan pembicaraan antara kedua pihak juga terus dilakukan.”

Kondisi Pemimpin Tertinggi Iran Dipertanyakan

Sementara itu, rekaman terbaru Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, diketahui ternyata merupakan rekaman lama yang kembali beredar, sehingga menimbulkan kecurigaan.

Setelah rekaman tersebut terbongkar sebagai video lama, sejumlah sumber Iran mengatakan bahwa kondisi kesehatan Mojtaba semakin memburuk dan bahkan mendekati kondisi kritis.

Seiring rumor mengenai kemungkinan kematiannya semakin kuat, sejumlah pihak menilai bahwa jika Mojtaba meninggal dunia, hal tersebut dapat memberikan dampak yang sangat besar terhadap rezim Iran.

Di tengah perang dengan Amerika Serikat, proses pengambilan keputusan di Iran berpotensi mengalami kelumpuhan dan rezim dapat menghadapi kekosongan kekuasaan.

Selain itu, kehilangan pemimpin tertinggi kedua dalam waktu kurang dari enam bulan juga berpotensi memicu ketidakstabilan sosial di Iran dan aksi protes masyarakat dalam skala besar.

Laporan gabungan: Wang Ziyi, New Tang Dynasty Television

Teguh Memegang Prinsip Sejati, Baik, Sabar, Lansia Praktisi Falun Gong Dipaksa Dipenjara 

Dalam beberapa tahun terakhir, berulang kali muncul laporan mengenai praktisi Falun Gong lanjut usia di Tiongkok yang dipaksa masuk penjara dan mengalami penganiayaan. Banyak dari mereka dilaporkan mengalami penganiayaan hingga meninggal karena menolak pemaksaan mengakui kesalahan atau menolak menandatangani apa yang disebut “surat jaminan” untuk meninggalkan latihan Falun Gong.

EtIndonesia.com Beberapa tahun terakhir, semakin sering dilaporkan kasus praktisi Falun Gong lanjut usia yang dipaksa “masuk penjara” oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). Kasus-kasus itu telah terjadi di lebih dari selusin provinsi dan kota yang berada langsung di bawah pemerintah pusat. Praktisi yang sudah sangat lanjut usia mengalami penganiayaan yang sangat berat, dan sejumlah di antaranya dilaporkan meninggal akibat perlakuan yang mereka alami. 

He Zeying, seorang praktisi Falun Gong berusia 79 tahun dari Distrik Qilin, Kota Qujing, Provinsi Yunnan, ditangkap setelah menyampaikan kepada masyarakat mengenai penganiayaan PKT terhadap Falun Gong. 

Pada Juli 2024, Pengadilan Distrik Qilin menjatuhkan hukuman tiga tahun penjara kepadanya. Karena hasil pemeriksaan kesehatan tidak memenuhi persyaratan untuk menjalani hukuman di penjara, ia awalnya diperbolehkan pulang dengan status jaminan. Namun, karena menolak menulis “surat pengakuan bersalah”, pada 5 Mei 2025 ia dipaksa masuk ke Penjara Wanita No. 2 Provinsi Yunnan.

Liu Shuling, seorang praktisi Falun Gong dari Kota Zunyi, Provinsi Guizhou, ditangkap di rumahnya oleh polisi keamanan nasional pada 25 Mei 2021. Liu yang saat itu berusia lebih dari 70 tahun dijatuhi hukuman lima tahun penjara secara ilegal. Di Penjara Wanita No. 1 Guizhou, ia dilaporkan mengalami penganiayaan berat hingga akhirnya mengalami kelumpuhan.

Pada 26 Mei 2026, setelah menyelesaikan masa hukuman dan keluar dari penjara, Liu meninggal dunia 27 hari kemudian, tepatnya pada 23 Juni, dalam kondisi yang disebut keluarganya sebagai kematian akibat penganiayaan.


“Sekarang Xi Jinping bukan hanya memperluas penindasan terhadap Falun Gong melalui apa yang disebut yurisdiksi lintas negara, tetapi juga melakukan penindasan di luar negeri. Di Amerika Serikat, Australia, dan berbagai tempat lainnya, mereka melakukan perang hukum, perang politik, dan perang opini publik,” ujar Yuan Hongbing, ahli hukum yang tinggal di Australia. 

“Pada saat yang sama, di dalam negeri Tiongkok, ia juga menggunakan kekerasan terorisme negara yang semakin brutal untuk menindas Falun Gong. Kegilaan yang seperti berada di ambang kehancuran ini justru menunjukkan betapa takutnya pemerintahan Xi Jinping terhadap para praktisi Falun Gong,” lanjutnya, 

Menurut laporan Minghui org, terdapat instruksi dari tingkat pemerintahan yang lebih tinggi di berbagai daerah. Seorang sumber dari kalangan internal kepolisian mengatakan bahwa di Provinsi Yunnan, berdasarkan instruksi Hu Dapeng, yang pada Juni 2024 dipindahkan dari posisi Kepala Kantor Kementerian Keamanan Publik menjadi Sekretaris Komite Urusan Politik dan Hukum Yunnan sekaligus Kepala Departemen Kepolisian Yunnan, semua praktisi Falun Gong yang telah dijatuhi hukuman secara ilegal diperintahkan untuk dipaksa masuk penjara.

Saat ini, menurut laporan tersebut, sembilan praktisi Falun Gong di Yunnan telah dipaksa masuk penjara, dan yang tertua berusia 88 tahun.

 “Mereka menjatuhkan hukuman dan memenjarakan orang-orang yang sebenarnya tidak bersalah. Ini jelas merupakan tindakan yang tidak manusiawi. Baik orang muda maupun orang lanjut usia, menjatuhkan hukuman dan memenjarakan mereka merupakan pelanggaran terhadap konvensi internasional dan juga hukum yang berlaku di dalam negeri,” ujar Liu Ming, akademisi dari daratan Tiongkok.

“Menjatuhkan hukuman kepada seseorang hanya karena pemikiran atau keyakinannya bahkan lebih merupakan tindakan yang bertentangan dengan kemanusiaan,” tambahnya. 

Mengapa aparat PKT di tingkat kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan begitu keras terhadap praktisi Falun Gong lanjut usia?

 “Sejak era Mao, ‘reformasi pemikiran’ sudah menjadi praktik yang umum. Itu merupakan bentuk kejahatan yang sangat kejam. Sampai sekarang, meskipun secara lahiriah bukan lagi gerakan politik, logika yang sama masih digunakan. Ini pada dasarnya bukan tindakan hukum yang sebenarnya,” kata Liu Ming. 

Komentator menyatakan bahwa prinsip yang dianut para praktisi Falun Gong, yaitu “Sejati, Baik, Sabar” (真、善、忍), menjadi tantangan terhadap apa yang mereka gambarkan sebagai “kepalsuan, kejahatan, dan perjuangan” yang dianut PKT.

 “Dulu pemimpin PKT Jiang Zemin mengklaim akan memusnahkan Falun Gong dalam tiga bulan. Namun sekarang sudah 27 tahun berlalu. Falun Gong bukan hanya tidak musnah, tetapi justru semakin berkembang,” ujar Yuan Hongbing. 

“Media yang didirikan oleh praktisi Falun Gong sekarang telah menjadi salah satu media berbahasa Mandarin terbesar di luar negeri. Dalam situasi seperti ini, ketika kediktatoran pribadi Xi Jinping yang absolut juga menghadapi krisis politik yang belum pernah terjadi sebelumnya…” jelasnya. 

Pengacara HAM dari Tiongkok daratan, Wu Shaoping, pernah mengatakan:  “Kita sangat memahami penderitaan yang dialami para praktisi Falun Gong. Itu benar-benar sesuatu yang sulit dibayangkan oleh orang biasa. Para lansia seperti ini masih harus mengalami penderitaan semacam itu. Sungguh sangat menyedihkan.”

Ia berharap masyarakat di seluruh dunia tidak lagi memiliki ilusi terhadap PKT dan mengatakan bahwa hanya dengan berakhirnya rezim tersebut, masyarakat di Tiongkok dapat memperoleh kebebasan.

 “Ketekunan para praktisi Falun Gong dalam mempertahankan keyakinan mereka ketika melawan tirani PKT benar-benar dapat menggugah hati. Melalui tindakan mereka, para praktisi Falun Gong menunjukkan kepada rezim PKT bahwa pencarian dan keteguhan manusia terhadap kebebasan berkeyakinan tidak akan tunduk kepada tirani PKT,” ujar Yuan Hongbing. 

Pada Juli 1999, PKT melancarkan penganiayaan besar-besaran terhadap praktisi Falun Gong. Hingga kini, jumlah praktisi Falun Gong yang dilaporkan meninggal akibat penganiayaan—berdasarkan data yang disampaikan melalui berbagai saluran masyarakat sipil—telah mencapai lebih dari 5.000 orang, termasuk orang-orang yang sudah lanjut usia.

Huang Yimei/Luo Ya/Tony

Guangdong, Tiongkok Dikejutkan Angin Puyuh Debu Berwarna Hitam, Pemandangannya Mengerikan

EtIndonesia.com Baru-baru ini, angin puyuh debu berwarna hitam muncul secara tiba-tiba di Stasiun Tanshui, Kota Yangchun, Provinsi Guangdong, Tiongkok dan menarik perhatian publik.

Menurut laporan media daratan Tiongkok, pada 11 Agustus, sebuah angin puyuh debu muncul di lahan terbuka di luar Stasiun Tanshui, Kota Yangchun, Guangdong. Arus udara berbentuk spiral berwarna hitam mengangkat debu ke udara.

Saksi mata mengatakan bahwa angin puyuh debu tersebut berlangsung sekitar 3 menit sebelum menghilang dengan sendirinya. Setelah itu, kereta lain melintas secara normal.

Lin Xiaoning, orang yang merekam kejadian tersebut, mengatakan bahwa dirinya merupakan seorang blogger yang gemar memotret dan merekam kereta api. Sekitar pukul 16.00 pada 11 Agustus, ia sedang berada di Stasiun Kereta Api Tanshui ketika berhasil merekam kejadian tersebut.

“Angin puyuh debu itu muncul tepat di depan kereta. Beberapa petugas juga melihatnya. Tinggi pusaran debu itu kira-kira lebih dari 100 meter. Setelah berlangsung sekitar 3–4 menit, pusaran itu menghilang dengan sendirinya. Ini pertama kalinya saya mengalami kejadian seperti ini. Saat melihatnya, saya juga cukup bersemangat.”

Sumber : NTDTV.com

Penelitian Terbaru Ungkap Minum Kopi Secara Signifikan Menurunkan Risiko Penyakit Hati

EtIndonesia.com  Sebuah penelitian baru membawa kabar baik bagi para penggemar kopi. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa minum kopi setiap hari berkaitan dengan penurunan risiko sirosis hati dan kanker hati secara signifikan. Bahkan, kopi tanpa kafein juga menunjukkan manfaat serupa.

Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Cedars-Sinai Health Sciences University ini menganalisis data 355.000 orang dari UK Biobank. Pada awal penelitian, seluruh peserta tidak mengalami sirosis maupun kanker hati. Setelah mengikuti mereka selama rata-rata 13 tahun, hasilnya menunjukkan bahwa semakin tinggi konsumsi kopi, semakin rendah kejadian penyakit yang berkaitan dengan hati.

Dibandingkan dengan orang yang tidak minum kopi, mereka yang minum lima cangkir atau lebih per hari memiliki:

  • risiko sirosis hati 32% lebih rendah;
  • risiko kanker hati 47% lebih rendah;
  • risiko meninggal akibat penyakit terkait hati 42% lebih rendah.

Selain itu, pada kelompok yang minum 1–2 cangkir kopi per hari, risiko sirosis hati dan kanker hati masing-masing turun 20% dan 24%.

Sementara itu, mereka yang minum 3–4 cangkir per hari memiliki risiko sirosis hati 30% lebih rendah dan risiko kanker hati 35% lebih rendah.

Penelitian  juga menemukan bahwa kopi tanpa kafein memiliki efek perlindungan yang serupa. Para peneliti memperkirakan bahwa hal ini menunjukkan bahwa kafein mungkin bukan satu-satunya komponen aktif. Senyawa alami lain yang terdapat dalam kopi juga mungkin berperan.

Dibandingkan dengan penelitian sebelumnya mengenai hubungan antara kopi dan kesehatan hati, penelitian baru ini menggunakan pemindaian MRI hati serta analisis protein dalam darah, sehingga memberikan bukti tambahan.

Hasil pemindaian MRI menunjukkan bahwa orang yang minum kopi memiliki tingkat perlemakan hati, kandungan zat besi di hati, fibrosis hati, dan peradangan yang lebih rendah.

Pemeriksaan darah juga menunjukkan bahwa kelompok peminum kopi memiliki kadar protein yang lebih tinggi yang berkaitan dengan fungsi hati yang sehat, sementara kadar protein yang berkaitan dengan jaringan parut dan peradangan hati lebih rendah.

Namun, para peneliti menekankan bahwa penelitian ini merupakan penelitian observasional. Artinya, penelitian tersebut hanya menunjukkan adanya “hubungan yang kuat” antara konsumsi kopi dan kesehatan hati, tetapi tidak dapat membuktikan bahwa kopi secara langsung mencegah penyakit hati.

Para peneliti juga menegaskan bahwa meskipun orang yang minum lima cangkir atau lebih per hari terlihat memperoleh manfaat, mereka tidak menyarankan masyarakat untuk minum kopi sebanyak itu.

Ju Dong Yang, penulis senior penelitian sekaligus direktur medis Program Kanker Hati di Cedars-Sinai Health Sciences University, mengatakan:

“Kami tidak menyarankan masyarakat mulai minum kopi hanya berdasarkan penelitian ini dengan tujuan melindungi hati. Langkah pencegahan tetap harus berfokus pada menjaga berat badan yang sehat, membatasi konsumsi alkohol, berolahraga secara teratur, serta mengendalikan kadar gula darah, tekanan darah, dan kolesterol.”

Penelitian terkait diterbitkan pada 1 Juli tahun ini dalam jurnal Clinical Gastroenterology and Hepatology.

Odesa Membara! Ukraina Balas, S-400 Rusia Jadi Sasaran

EtIndonesia.com Perang Rusia-Ukraina kembali memasuki fase yang semakin intens. Pada 9 Agustus 2026, Rusia melancarkan salah satu serangan udara gabungan terbesar tahun ini terhadap Odesa, kota pelabuhan strategis di pesisir Laut Hitam yang merupakan kota terbesar ketiga di Ukraina.

Dalam serangan yang berlangsung sekitar dua jam tersebut, Rusia dilaporkan mengerahkan lebih dari 70 drone serang tipe Shahed, bersamaan dengan sejumlah rudal dari berbagai jenis. 

Serangan menghantam sejumlah kawasan di Odesa, menyebabkan bangunan mengalami kerusakan dan kendaraan terbakar. Sedikitnya delapan orang dilaporkan terluka. Serangan tersebut kembali memperlihatkan besarnya tekanan yang dihadapi sistem pertahanan udara Ukraina, terutama ketika Kyiv harus menghadapi gelombang drone dan rudal secara bersamaan.

Namun, ketika Ukraina menghadapi tekanan udara Rusia, perkembangan penting juga muncul terkait persenjataan jarak jauh yang berpotensi memperkuat kemampuan tempur Kyiv.

Pada awal Agustus 2026, muncul pemberitahuan mengenai rencana Turkiye mentransfer sejumlah besar persenjataan buatan Amerika Serikat kepada Ukraina. Karena peralatan tersebut berasal dari AS, transfer kepada negara ketiga harus melalui prosedur dan pemberitahuan yang berlaku di Washington.

Paket yang diusulkan itu sangat signifikan. Di antaranya terdapat 12 peluncur M270 Multiple Launch Rocket System, serta 2.524 roket M26 kaliber 227 milimeter dengan hulu ledak DPICM atau Dual-Purpose Improved Conventional Munition.

M270 memiliki kemampuan membawa dua pod amunisi sekaligus. Artinya, untuk roket keluarga 227 milimeter, satu kendaraan dapat membawa hingga 12 roket, dua kali kapasitas enam roket yang biasanya dibawa satu HIMARS.

Selain itu, terdapat rencana transfer 70 rudal M39 ATACMS. Senjata ini dapat diluncurkan dari keluarga peluncur HIMARS maupun M270 dan memberikan Ukraina kemampuan menyerang sasaran bernilai tinggi jauh di belakang garis depan, seperti pusat komando, konsentrasi pasukan, fasilitas logistik dan posisi pertahanan udara.

Paket tersebut juga mencakup sekitar 47.000 proyektil artileri M509A1 kaliber 203 milimeter. Jika keseluruhan transfer terealisasi, tambahan persenjataan tersebut berpotensi meningkatkan kemampuan Ukraina dalam menekan jaringan logistik dan posisi militer Rusia.

Perlu dicatat, pada tahap pengumuman awal, transfer tersebut masih terkait proses pemberitahuan kepada Kongres AS, sehingga tidak tepat apabila seluruh persenjataan itu dianggap sudah tiba dan langsung digunakan Ukraina.

Di tengah perkembangan tersebut, Ukraina juga meningkatkan operasi drone terhadap pertahanan udara Rusia di kawasan Laut Hitam.

Pada malam 8 menuju 9 Agustus 2026, Pasukan Sistem Nirawak Ukraina melaporkan serangan terhadap posisi sistem pertahanan udara S-400 Triumf Rusia di dekat Gelendzhik, Krasnodar Krai. Komandan Pasukan Sistem Nirawak Ukraina, Robert “Madyar” Brovdi, menyatakan posisi tersebut sebelumnya digunakan untuk meluncurkan rudal pada hari sebelumnya.

Menurut laporan Ukraina, serangan drone kemudian diarahkan ke lokasi yang telah berhasil diidentifikasi. Rekaman dan laporan dari kawasan tersebut menunjukkan adanya aktivitas serangan terhadap jaringan pertahanan udara Rusia. Ukraina juga mengklaim menyerang beberapa komponen pertahanan udara lainnya di wilayah selatan Rusia.

Operasi tersebut penting karena sistem seperti S-400 merupakan bagian utama dari jaringan pertahanan udara jarak jauh Rusia. Apabila Ukraina mampu secara konsisten mengganggu radar, peluncur dan elemen pendukungnya, ruang operasi bagi drone serang jarak jauh Ukraina di sekitar Laut Hitam dapat semakin terbuka.

Pertempuran drone juga semakin mendominasi garis depan.

Unit-unit Ukraina terus menggunakan drone FPV dan drone pembawa bahan peledak untuk memburu kendaraan lapis baja, artileri, posisi pertahanan hingga pasukan yang berlindung di bunker. Dalam berbagai rekaman medan perang, drone bahkan terlihat mengejar tentara dan kendaraan dalam jarak sangat dekat.

Fenomena tersebut menunjukkan perubahan besar dalam karakter perang modern. Jika pada perang konvensional sebelumnya tentara terutama harus mengkhawatirkan tembakan artileri, tank atau pasukan infanteri lawan, kini sebuah drone kecil yang dikendalikan dari jarak beberapa kilometer dapat menjadi ancaman mematikan bahkan sebelum kedua pihak bertemu secara langsung.

Ukraina juga terus mengembangkan kemampuan drone pencegat untuk menghadapi pesawat nirawak Rusia.

Salah satu pencapaian yang menarik perhatian terjadi pada akhir Juli 2026. Unit drone serang Lasar’s Group dari Garda Nasional Ukraina dilaporkan berhasil menghancurkan drone pengintai Rusia ZALA Z-20 pada ketinggian sekitar 6.400 meter di sektor selatan.

Ketinggian tersebut disebut sebagai rekor intersepsi yang dipublikasikan untuk operasi drone melawan drone. Pesawat nirawak Rusia diduga terbang sangat tinggi untuk menghindari jangkauan drone pencegat Ukraina, tetapi tetap berhasil dikejar dan dihancurkan.

Perkembangan ini memperlihatkan bahwa peperangan drone di Ukraina tidak lagi terbatas pada serangan FPV di dekat permukaan tanah. Pertempuran kini berlangsung mulai dari parit dan jalur logistik hingga ribuan meter di udara.

Bagi Ukraina, teknologi drone menjadi salah satu cara untuk mengimbangi keunggulan Rusia dalam jumlah pasukan, artileri dan sejumlah kategori persenjataan berat. Sementara bagi Rusia, perkembangan tersebut menciptakan kebutuhan untuk terus memperkuat perlindungan elektronik maupun pertahanan udara terhadap ancaman yang semakin murah, banyak dan sulit dideteksi.

Dengan serangan besar Rusia terhadap Odesa pada 9 Agustus 2026, serangan balasan Ukraina terhadap jaringan pertahanan udara Rusia di kawasan Laut Hitam, serta munculnya rencana transfer M270, ATACMS dan ribuan amunisi dari Turkiye, perang memasuki persaingan baru antara daya tembak jarak jauh dan teknologi drone.

Medan perang Ukraina kini menunjukkan satu kenyataan penting: pertarungan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki tank, rudal atau artileri paling banyak, tetapi juga oleh siapa yang paling cepat menemukan sasaran, menembus pertahanan lawan, dan mengubah teknologi murah menjadi kekuatan serang yang efektif. (***)

Rusia Kecolongan! Drone Ukraina Tembus 1.200 KM, Kilang Raksasa Tatarstan Dihantam

EtIndonesia.com Perang Rusia-Ukraina kembali menunjukkan perubahan besar dalam pola pertempuran. Medan konflik kini tidak lagi terbatas pada garis depan di Ukraina timur dan selatan. Serangan jarak jauh semakin sering menjangkau fasilitas strategis yang berada jauh di pedalaman Rusia.

Pada Senin pagi, 10 Agustus 2026, gelombang drone jarak jauh Ukraina menembus wilayah Rusia dan mencapai Republik Tatarstan, kawasan industri penting yang terletak sekitar 1.200 kilometer dari perbatasan Ukraina.

Salah satu wilayah yang menjadi pusat perhatian adalah Nizhnekamsk, kota industri yang menjadi rumah bagi sejumlah fasilitas minyak dan petrokimia terbesar Rusia. Serangan tersebut menjadi semakin penting karena memperlihatkan kemampuan Ukraina untuk membawa ancaman langsung ke wilayah yang sebelumnya dianggap relatif aman karena letaknya sangat jauh dari medan perang.

Rekaman yang beredar dari kawasan Tatarstan memperlihatkan aktivitas drone di udara, disusul ledakan dan kepulan asap dari kawasan industri. Ukraina kemudian menyatakan bahwa salah satu sasaran operasinya adalah Kilang Minyak TANECO di Nizhnekamsk.

TANECO merupakan fasilitas pengolahan minyak milik kelompok energi Rusia, Tatneft, sekaligus salah satu kompleks pengolahan minyak modern yang memiliki posisi penting dalam industri energi Rusia.

Menurut data yang beredar mengenai kapasitas fasilitas tersebut, TANECO mampu mengolah minyak mentah dalam jumlah besar setiap tahunnya dan menghasilkan berbagai produk bahan bakar, termasuk bensin dan diesel. Karena itu, setiap gangguan terhadap fasilitas tersebut berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap rantai produksi dan distribusi bahan bakar Rusia.

Militer Ukraina menyatakan serangan pada 10 Agustus berhasil mengenai kilang tersebut dan memicu kebakaran. Rekaman yang beredar di media sosial juga memperlihatkan kepulan asap hitam membubung dari kawasan industri.

Namun, serangan kali ini juga menimbulkan korban manusia dalam jumlah besar.

Menurut otoritas Rusia, sedikitnya 13 orang tewas, termasuk seorang anak, sementara jumlah korban luka kemudian meningkat menjadi sekitar 75 orang. Sejumlah korban dilaporkan berada di sebuah bangunan tempat tinggal atau asrama di kawasan Nizhnekamsk. Pemerintah Rusia menyatakan serangan tidak hanya mengenai kawasan industri, tetapi juga fasilitas sipil.

Pemimpin Republik Tatarstan, Rustam Minnikhanov, kemudian menetapkan hari berkabung sebagai bentuk penghormatan terhadap para korban.

Peristiwa ini sekaligus memperlihatkan risiko besar dari semakin intensifnya perang drone jarak jauh. Meskipun Ukraina mengatakan sasaran operasi jarak jauhnya adalah fasilitas yang mendukung kemampuan militer dan ekonomi perang Rusia, serangan di kawasan industri yang berdekatan dengan permukiman atau tempat tinggal pekerja tetap membawa risiko korban sipil.

Di sisi lain, serangan terhadap TANECO merupakan bagian dari strategi Ukraina yang semakin jelas terlihat dalam beberapa bulan terakhir: menekan sektor energi Rusia jauh dari garis depan.

Kyiv berulang kali menyatakan bahwa fasilitas energi tertentu merupakan bagian penting dari kemampuan Rusia membiayai dan menjalankan operasi militernya. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky juga sebelumnya menegaskan bahwa konsekuensi perang akan semakin terasa di wilayah Rusia sendiri.

Strategi tersebut menciptakan persoalan baru bagi Moskow.

Rusia memiliki wilayah yang sangat luas. Selama bertahun-tahun, faktor geografis tersebut memberikan keuntungan strategis karena sebagian besar pusat industri dan fasilitas energi utama berada ratusan hingga ribuan kilometer dari Ukraina.

Namun perkembangan teknologi drone jarak jauh secara perlahan mengubah perhitungan tersebut.

Fasilitas yang sebelumnya dianggap terlalu jauh untuk dijangkau kini harus menghadapi ancaman serangan udara. Akibatnya, Rusia harus melindungi bukan hanya garis depan, pangkalan militer, dan wilayah perbatasan, tetapi juga kilang minyak, pabrik petrokimia, lapangan udara, gudang logistik dan berbagai fasilitas industri di wilayah pedalaman.

Di sinilah muncul dilema besar bagi pertahanan udara Rusia.

Apabila lebih banyak sistem pertahanan udara ditempatkan di sekitar fasilitas strategis jauh di pedalaman, jumlah sistem yang tersedia untuk melindungi pasukan Rusia di garis depan berpotensi berkurang. Sebaliknya, apabila pertahanan udara tetap diprioritaskan untuk medan pertempuran, fasilitas energi dan industri di wilayah belakang akan menghadapi risiko serangan yang lebih besar.

Tekanan lainnya adalah persoalan perbaikan.

Kilang minyak modern merupakan kompleks industri yang sangat rumit. Di dalamnya terdapat jaringan pipa, unit distilasi, sistem pengolahan, kompresor, pompa, katup industri serta berbagai perangkat berpresisi tinggi.

Karena itu, Ukraina tidak harus menghancurkan seluruh kompleks untuk mengganggu produksi. Kerusakan pada beberapa bagian penting saja dapat memaksa operator menghentikan unit tertentu demi keselamatan dan melakukan pemeriksaan menyeluruh sebelum produksi dapat kembali berjalan normal.

Masalah tersebut menjadi semakin rumit karena sanksi Barat membatasi akses Rusia terhadap sejumlah teknologi dan komponen industri tertentu. Apabila perangkat khusus buatan luar negeri mengalami kerusakan, proses mencari pengganti, melakukan rekayasa ulang atau memperoleh komponen melalui negara ketiga dapat membutuhkan biaya dan waktu lebih besar.

Dengan demikian, dampak ekonomi sebuah serangan drone tidak selalu dapat diukur hanya dari besarnya ledakan atau luasnya kebakaran.

Gangguan produksi selama berhari-hari atau berminggu-minggu, biaya perbaikan, peningkatan kebutuhan pertahanan udara, serta tekanan terhadap rantai pasokan dapat menciptakan kerugian yang jauh lebih panjang.

Serangan 10 Agustus juga bukan pertama kalinya fasilitas energi di Nizhnekamsk menjadi sasaran. Kawasan industri Tatarstan telah beberapa kali menghadapi serangan drone sepanjang perang, termasuk serangan sebelumnya terhadap fasilitas minyak dan petrokimia di wilayah tersebut.

Fenomena ini memperlihatkan perubahan penting dalam peperangan modern.

Pertempuran tidak lagi semata-mata ditentukan oleh jumlah tank, artileri atau pasukan di garis depan. Drone jarak jauh yang relatif murah kini dapat digunakan untuk memaksa negara sebesar Rusia menyebarkan sumber daya pertahanannya ke wilayah yang sangat luas.

Bagi Ukraina, strategi tersebut bertujuan menciptakan tekanan berlapis: mengganggu produksi energi, meningkatkan biaya perlindungan infrastruktur, menekan jaringan logistik, sekaligus membawa konsekuensi perang semakin jauh ke wilayah Rusia.

Namun serangan Nizhnekamsk juga memperlihatkan sisi paling berbahaya dari strategi tersebut. Ketika perang jarak jauh semakin intensif dan sasaran industri berada dekat dengan kawasan tempat tinggal pekerja, risiko jatuhnya korban sipil ikut meningkat.

Dengan 13 orang dilaporkan tewas dan sekitar 75 lainnya terluka, serangan di Tatarstan pada 10 Agustus 2026 menjadi salah satu contoh paling serius mengenai bagaimana perang drone Rusia-Ukraina kini telah berkembang jauh melampaui garis depan.

Jarak lebih dari seribu kilometer tidak lagi menjadi jaminan keamanan.

Dan bagi Rusia, tantangan yang muncul bukan sekadar bagaimana menghentikan drone yang datang, tetapi bagaimana melindungi ribuan fasilitas penting yang tersebar di wilayah negaranya yang sangat luas—tanpa pada saat yang sama melemahkan pertahanan udara yang sangat dibutuhkan di medan perang. (***)