EtIndonesia.com Perang Rusia-Ukraina kembali memasuki fase yang semakin intens. Pada 9 Agustus 2026, Rusia melancarkan salah satu serangan udara gabungan terbesar tahun ini terhadap Odesa, kota pelabuhan strategis di pesisir Laut Hitam yang merupakan kota terbesar ketiga di Ukraina.
Dalam serangan yang berlangsung sekitar dua jam tersebut, Rusia dilaporkan mengerahkan lebih dari 70 drone serang tipe Shahed, bersamaan dengan sejumlah rudal dari berbagai jenis.
Serangan menghantam sejumlah kawasan di Odesa, menyebabkan bangunan mengalami kerusakan dan kendaraan terbakar. Sedikitnya delapan orang dilaporkan terluka. Serangan tersebut kembali memperlihatkan besarnya tekanan yang dihadapi sistem pertahanan udara Ukraina, terutama ketika Kyiv harus menghadapi gelombang drone dan rudal secara bersamaan.
Namun, ketika Ukraina menghadapi tekanan udara Rusia, perkembangan penting juga muncul terkait persenjataan jarak jauh yang berpotensi memperkuat kemampuan tempur Kyiv.
Pada awal Agustus 2026, muncul pemberitahuan mengenai rencana Turkiye mentransfer sejumlah besar persenjataan buatan Amerika Serikat kepada Ukraina. Karena peralatan tersebut berasal dari AS, transfer kepada negara ketiga harus melalui prosedur dan pemberitahuan yang berlaku di Washington.
Paket yang diusulkan itu sangat signifikan. Di antaranya terdapat 12 peluncur M270 Multiple Launch Rocket System, serta 2.524 roket M26 kaliber 227 milimeter dengan hulu ledak DPICM atau Dual-Purpose Improved Conventional Munition.
M270 memiliki kemampuan membawa dua pod amunisi sekaligus. Artinya, untuk roket keluarga 227 milimeter, satu kendaraan dapat membawa hingga 12 roket, dua kali kapasitas enam roket yang biasanya dibawa satu HIMARS.
Selain itu, terdapat rencana transfer 70 rudal M39 ATACMS. Senjata ini dapat diluncurkan dari keluarga peluncur HIMARS maupun M270 dan memberikan Ukraina kemampuan menyerang sasaran bernilai tinggi jauh di belakang garis depan, seperti pusat komando, konsentrasi pasukan, fasilitas logistik dan posisi pertahanan udara.
Paket tersebut juga mencakup sekitar 47.000 proyektil artileri M509A1 kaliber 203 milimeter. Jika keseluruhan transfer terealisasi, tambahan persenjataan tersebut berpotensi meningkatkan kemampuan Ukraina dalam menekan jaringan logistik dan posisi militer Rusia.
Perlu dicatat, pada tahap pengumuman awal, transfer tersebut masih terkait proses pemberitahuan kepada Kongres AS, sehingga tidak tepat apabila seluruh persenjataan itu dianggap sudah tiba dan langsung digunakan Ukraina.
Di tengah perkembangan tersebut, Ukraina juga meningkatkan operasi drone terhadap pertahanan udara Rusia di kawasan Laut Hitam.
Pada malam 8 menuju 9 Agustus 2026, Pasukan Sistem Nirawak Ukraina melaporkan serangan terhadap posisi sistem pertahanan udara S-400 Triumf Rusia di dekat Gelendzhik, Krasnodar Krai. Komandan Pasukan Sistem Nirawak Ukraina, Robert “Madyar” Brovdi, menyatakan posisi tersebut sebelumnya digunakan untuk meluncurkan rudal pada hari sebelumnya.
Menurut laporan Ukraina, serangan drone kemudian diarahkan ke lokasi yang telah berhasil diidentifikasi. Rekaman dan laporan dari kawasan tersebut menunjukkan adanya aktivitas serangan terhadap jaringan pertahanan udara Rusia. Ukraina juga mengklaim menyerang beberapa komponen pertahanan udara lainnya di wilayah selatan Rusia.
Operasi tersebut penting karena sistem seperti S-400 merupakan bagian utama dari jaringan pertahanan udara jarak jauh Rusia. Apabila Ukraina mampu secara konsisten mengganggu radar, peluncur dan elemen pendukungnya, ruang operasi bagi drone serang jarak jauh Ukraina di sekitar Laut Hitam dapat semakin terbuka.
Pertempuran drone juga semakin mendominasi garis depan.
Unit-unit Ukraina terus menggunakan drone FPV dan drone pembawa bahan peledak untuk memburu kendaraan lapis baja, artileri, posisi pertahanan hingga pasukan yang berlindung di bunker. Dalam berbagai rekaman medan perang, drone bahkan terlihat mengejar tentara dan kendaraan dalam jarak sangat dekat.
Fenomena tersebut menunjukkan perubahan besar dalam karakter perang modern. Jika pada perang konvensional sebelumnya tentara terutama harus mengkhawatirkan tembakan artileri, tank atau pasukan infanteri lawan, kini sebuah drone kecil yang dikendalikan dari jarak beberapa kilometer dapat menjadi ancaman mematikan bahkan sebelum kedua pihak bertemu secara langsung.
Ukraina juga terus mengembangkan kemampuan drone pencegat untuk menghadapi pesawat nirawak Rusia.
Salah satu pencapaian yang menarik perhatian terjadi pada akhir Juli 2026. Unit drone serang Lasar’s Group dari Garda Nasional Ukraina dilaporkan berhasil menghancurkan drone pengintai Rusia ZALA Z-20 pada ketinggian sekitar 6.400 meter di sektor selatan.
Ketinggian tersebut disebut sebagai rekor intersepsi yang dipublikasikan untuk operasi drone melawan drone. Pesawat nirawak Rusia diduga terbang sangat tinggi untuk menghindari jangkauan drone pencegat Ukraina, tetapi tetap berhasil dikejar dan dihancurkan.
Perkembangan ini memperlihatkan bahwa peperangan drone di Ukraina tidak lagi terbatas pada serangan FPV di dekat permukaan tanah. Pertempuran kini berlangsung mulai dari parit dan jalur logistik hingga ribuan meter di udara.
Bagi Ukraina, teknologi drone menjadi salah satu cara untuk mengimbangi keunggulan Rusia dalam jumlah pasukan, artileri dan sejumlah kategori persenjataan berat. Sementara bagi Rusia, perkembangan tersebut menciptakan kebutuhan untuk terus memperkuat perlindungan elektronik maupun pertahanan udara terhadap ancaman yang semakin murah, banyak dan sulit dideteksi.
Dengan serangan besar Rusia terhadap Odesa pada 9 Agustus 2026, serangan balasan Ukraina terhadap jaringan pertahanan udara Rusia di kawasan Laut Hitam, serta munculnya rencana transfer M270, ATACMS dan ribuan amunisi dari Turkiye, perang memasuki persaingan baru antara daya tembak jarak jauh dan teknologi drone.
Medan perang Ukraina kini menunjukkan satu kenyataan penting: pertarungan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki tank, rudal atau artileri paling banyak, tetapi juga oleh siapa yang paling cepat menemukan sasaran, menembus pertahanan lawan, dan mengubah teknologi murah menjadi kekuatan serang yang efektif. (***)


