The Epoch Times Dilarang Meliput KTT ASEAN dan APEC, Cerminkan Pola Campur Tangan Partai Komunis Tiongkok

Pemimpin redaksi The Epoch Times kecam tekanan berkelanjutan dari Beijing 

EtIndonesia. Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan tur ke Asia pada akhir Oktober, seorang jurnalis The Epoch Times yang ikut bersama rombongan Gedung Putih menghadapi berbagai hambatan untuk dapat meliput sejumlah acara penting. Insiden ini mencerminkan pola gangguan berulang dari otoritas komunis di Beijing.

Bersama media afiliasinya, NTD, The Epoch Times akhirnya ditolak aksesnya dalam dua acara utama yang mempertemukan para pemimpin dunia pada akhir Oktober, yakni KTT Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC).

Kedua pertemuan itu memperlihatkan pengaruh besar Beijing di kawasan, dengan menandatangani berbagai perjanjian dagang dan mendorong penguatan hubungan ekonomi dengan negara-negara yang sudah sangat bergantung pada Tiongkok.

Sebelum berangkat ke Asia, staf The Epoch Times telah memperoleh izin liputan (akreditasi pers) resmi untuk kedua pertemuan tersebut, sama seperti media internasional lainnya. Namun, media itu menjadi satu-satunya lembaga yang semula disetujui tetapi kemudian ditolak oleh panitia KTT ASEAN. 

Penolakan ini terjadi setelah serangkaian kejanggalan: perbedaan informasi, gangguan teknis yang tidak jelas, janji palsu soal pengambilan kartu pers, pembatalan sepihak, hingga saling lempar tanggung jawab.

Kasus ini menambah daftar panjang penolakan terhadap media tersebut, yang dalam beberapa kasus memiliki kaitan langsung dengan tekanan dari Beijing.

“Partai Komunis Tiongkok adalah musuh kebebasan pers,” kata Pemimpin Redaksi The Epoch Times, Jasper Fakkert, dalam pernyataannya.

 “Sangat mengkhawatirkan bahwa rezim ini dapat mempengaruhi organisasi internasional seperti PBB dan ASEAN untuk menargetkan surat kabar terbesar keempat di Amerika Serikat.”


Musuh Kebebasan Pers

The Epoch Times berbasis di New York dan memiliki lebih dari satu juta pelanggan. Sejak didirikan, media ini terus menjadi sasaran intimidasi Partai Komunis Tiongkok, mulai dari ancaman langsung, tindakan penghalangan oleh delegasi Tiongkok, hingga tekanan di balik layar terhadap otoritas lokal.

Pada tahun 2000, rezim Tiongkok menangkap jurnalis dan kontributor pertama The Epoch Times di Tiongkok dan menghukum beberapa di antaranya hingga 10 tahun penjara. Pada masa awal, agen negara Tiongkok menekan para pengiklan agar menarik kerja sama, sementara diplomat Tiongkok berupaya mengganggu kegiatan peliputan. Pejabat PBB—yang baru-baru ini juga menolak akses media tersebut pada September lalu—mengakui pada 2003 dan 2004 bahwa mereka menerima tekanan dari Beijing terkait akses media untuk The Epoch Times.

Kampanye intimidasi itu terus berlanjut hingga kini. Rezim Tiongkok juga diduga mengarahkan serangan peretas terhadap situs The Epoch Times dan menyusup ke akun surel para eksekutifnya.

Dalam beberapa waktu terakhir, serangan terhadap media ini meningkat. Peretas yang berafiliasi dengan Tiongkok diketahui meniru identitas karyawan The Epoch Times untuk mengancam lembaga pemerintah dan organisasi sipil di AS. Kantor pusat media itu bahkan menerima ancaman bom lewat email bertepatan dengan hari jadinya. Awal Oktober lalu, media ini juga menerima amplop dengan tanda pos Tiongkok yang berisi bubuk putih misterius dan salinan surat kabar mereka.

Menanggapi rangkaian insiden tersebut, Aleksandra Bielakowska, Manajer Advokasi Asia-Pasifik dari Reporters Without Borders (RSF), menyatakan bahwa lembaganya “sangat prihatin atas gelombang pelecehan yang terus meningkat terhadap media independen dan stafnya.”

“Taktik-taktik ini jelas mencerminkan metode yang digunakan oleh rezim Tiongkok, yang semakin menekan dan mengintimidasi media yang pemberitaannya tidak sejalan dengan narasi resmi,” ujarnya kepada The Epoch Times setelah mengetahui intimidasi terbaru dan penolakan kartu pers serupa di PBB. 

“Tidak ada jurnalis yang seharusnya diancam dengan cara seperti ini. Otoritas Tiongkok harus dimintai pertanggungjawaban atas kampanye yang melanggar kebebasan pers di seluruh dunia.”


Tekanan Ekonomi dan Kejanggalan di Lapangan

Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar di antara negara-negara APEC, dan selama 16 tahun terakhir menjadi mitra utama bagi 11 negara anggota ASEAN.

Baik Malaysia maupun Korea Selatan—dua negara tempat jurnalis The Epoch Times mengalami penolakan akses—telah lama berada di bawah tekanan Beijing untuk mengikuti garis kebijakan Partai Komunis.

Menjelang kunjungan pemimpin Tiongkok, Xi Jinping, ke Kuala Lumpur pada April lalu, pemerintah Malaysia menahan sekelompok pengungsi  yang melarikan diri dari penindasan di Tiongkok, dan baru membebaskan mereka setelah Xi meninggalkan negara tersebut.

Di Korea Selatan, NTD mendapatkan pengakuan langka dari Kedutaan Besar Tiongkok bahwa mereka secara langsung meminta pejabat Korea untuk melarang pertunjukan kelompok seni asal AS yang sering menyoroti pelanggaran HAM di Tiongkok.

Tekanan serupa tampaknya juga dialami panitia lokal selama tur Presiden Trump di Asia.

Travis Gillmore, koresponden Gedung Putih untuk The Epoch Times, tiba di Kuala Lumpur dua hari sebelum Trump bergabung dengan KTT ASEAN untuk menandatangani serangkaian perjanjian dengan negara-negara anggota.

Gillmore telah memegang akreditasi media yang disetujui sebelumnya. Namun ketika staf Kedutaan Besar AS dan Gedung Putih hendak mengambil kartu pers untuk para jurnalis AS, pejabat ASEAN tiba-tiba mengatakan profil Gillmore perlu diperbarui—tanpa menjelaskan bagian mana yang kurang.

Kode QR yang semula menjadi tanda sementara akreditasinya juga “menghilang,” dan sistem online tak menyediakan opsi pembaruan data. Negosiasi berjam-jam dengan meja media ASEAN tak membuahkan hasil.

Gillmore berkali-kali diminta untuk “datang lagi nanti,” tetapi setiap kali kembali, kartu persnya tidak pernah tersedia.

Salah satu kejanggalan lain adalah pesan WhatsApp yang ia terima pada 25 Oktober pukul 18.30 dari seseorang bernama “AD” yang memintanya mengambil kartu pers keesokan hari. Namun pesan itu dihapus tengah malam. Saat Gillmore datang pagi-pagi, staf ASEAN mengatakan tidak ada kartu untuknya dan menyebut insiden itu “salah paham.”

“Saya melihat Travis dan mengira itu Anda, jadi saya kirim pesan itu, ternyata orang lain,” kata staf ASEAN bernama Fatika kepada Gillmore.

Ketika didesak soal kejanggalan tersebut, Fatika hanya menyebut situasi itu “belum pernah terjadi sebelumnya.” Saat ditanya apakah ada tekanan dari Partai Komunis Tiongkok, ia menjawab bahwa Gillmore sebaiknya “menekan dari atas” agar masalahnya bisa selesai.

Pada 26 Oktober, staf ASEAN sempat mengatakan bahwa kartu pers Gillmore telah disetujui dan sedang dicetak, namun tak pernah diserahkan. Upaya menghubungi pejabat ASEAN lewat telepon dan email pun tak direspons.

Kasus serupa dialami Mari Otsu dan Chen Lei, koresponden Gedung Putih dan juru kamera NTD, yang tiba di Gyeongju, Korea Selatan, untuk meliput KTT APEC. Di hotel tempat mereka menginap, tenda media di pusat pers bahkan sudah mencantumkan logo NTD. Namun staf APEC justru membatasi akses mereka dengan alasan “terjadi kekeliruan.”

Mereka sempat diberi tahu bahwa kartu pers sudah ditemukan, tetapi pernyataan itu ditarik kembali beberapa menit kemudian dengan alasan pesan sebelumnya “dikirim karena kesalahan.”

Hingga berita ini diturunkan, baik panitia APEC maupun ASEAN belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari The Epoch Times.

AS Uji Coba Peluncuran Rudal Balistik Antarbenua Minuteman III

EtIndonesia. Militer AS telah melakukan uji coba peluncuran rudal balistik antarbenua (ICBM) Minuteman III, menurut layanan pers Pangkalan Angkatan Luar Angkasa Vandenberg.

Minuteman III tanpa senjata diluncurkan dari Pangkalan Angkatan Luar Angkasa Vandenberg di California pada 5 November 2025. Uji coba ini bertujuan untuk memverifikasi keandalan, kesiapan tempur, dan akurasi sistem ICBM, yang tetap menjadi elemen kunci pertahanan nasional Amerika Serikat.

Rudal tersebut menempuh jarak sekitar sekitar 6.750 kilometer sebelum mencapai Situs Uji Pertahanan Rudal Balistik Ronald Reagan di Atol Kwajalein di Republik Kepulauan Marshall.

Para ahli dari Komando Pertahanan Rudal dan Antariksa Angkatan Darat AS mengumpulkan data penting menggunakan radar, sensor optik, dan sistem telemetri untuk menganalisis karakteristik penerbangan.

Perlu dicatat bahwa Minuteman III adalah rudal balistik antarbenua Amerika yang telah beroperasi sejak awal 1970-an dan merupakan landasan triad nuklir AS.

Rudal ini dapat membawa hulu ledak nuklir hingga jarak lebih dari 12.000 kilometer, dan menyerang target dengan presisi tinggi.

Meskipun usianya sudah tua, Minuteman III terus dimodernisasi, dengan peningkatan pada sistem kendali, kendali, dan keamanannya.

AS melanjutkan uji coba nuklir

Pekan lalu, Presiden AS, Donald Trump mengumumkan bahwa dia telah memerintahkan militer untuk melanjutkan uji coba nuklir.

Menurut pemimpin Amerika tersebut, dia membuat keputusan ini karena negara-negara lain telah melakukan uji coba serupa.

Langkah ini diambil setelah Presiden Rusia, Vladimir Putin membanggakan senjata “terbaru” Rusia.

Secara khusus, dia berbicara tentang keberhasilan uji coba rudal Burevestnik, yang dia klaim dilengkapi dengan unit tenaga nuklir, dan mengatakan bahwa tidak ada senjata serupa di dunia.

Pemimpin Kremlin juga mengklaim bahwa Rusia telah berhasil menguji drone bawah air bertenaga nuklir Poseidon.(yn)

Dokumen Pengadilan Bongkar Bukti yang Digunakan Partai Komunis Tiongkok untuk Menganiaya Pengikut Berkeyakinan di Tiongkok

Dokumen yang ditelaah The Epoch Times mencakup lebih dari satu dekade, memperlihatkan upaya sistematis rezim Tiongkok dalam menindas para praktisi Falun Gong

EtIndonesia. Sebuah laptop terbuka menampilkan artikel tentang tanggapan penonton terhadap pertunjukan Shen Yun Performing Arts di Kennedy Center Opera House, Washington. Bagi aparat Tiongkok, hal ini dianggap sebagai “bukti memberatkan.”

Polisi setempat telah mengikuti seorang perempuan yang mereka kenal sebagai praktisi Falun Gong dengan maksud menangkapnya karena keyakinannya. Saat perempuan itu mengunjungi rumah seorang kenalan, polisi masuk dan menemukan keduanya sedang membaca artikel tentang Shen Yun di laptop. Minat mereka terhadap kelompok seni pertunjukan asal Amerika tersebut dijadikan bukti utama dalam penangkapan dan proses hukum mereka, sebagaimana dijelaskan dalam dokumen pengadilan.

Aparat menyita dua eksemplar teks ajaran Falun Gong serta laptop tersebut. Dalam dokumen pengadilan disebutkan, perempuan itu juga pernah meminta kenalannya untuk keluar dari keanggotaan Partai Komunis Tiongkok (PKT)—sebuah ajakan yang merupakan bagian dari gerakan akar rumput yang mendorong warga Tiongkok memutus hubungan dengan rezim yang dituding melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Polisi sudah lama mengetahui bahwa perempuan itu adalah praktisi Falun Gong, karena ia pertama kali ditahan pada 1999 saat mulai berlatih, dan sejak itu beberapa kali dipenjara karena menolak meninggalkan keyakinannya.

Jaksa berargumen bahwa karena ia pernah dihukum lima tahun penjara atas keyakinannya dan tetap berlatih Falun Gong setelah bebas, maka ia dianggap “residivis” dan pantas dijatuhi hukuman lebih berat.

Tinjauan The Epoch Times terhadap dokumen pengadilan para tahanan nurani di Tiongkok menunjukkan bahwa di antara barang bukti yang disebut “ilegal” terdapat CD, gambar, serta artikel yang berkaitan dengan Shen Yun Performing Arts.


Seni Pertunjukan yang Jadi Target Rezim

Shen Yun didirikan oleh para praktisi Falun Gong—latihan spiritual damai yang telah dianiaya secara brutal oleh PKT sejak 1999.

Didirikan di New York pada 2006, kelompok seni ini kini menjadi perusahaan tari klasik Tiongkok terkemuka di dunia. Saat ini, Shen Yun memiliki delapan rombongan yang tampil secara bersamaan di berbagai negara, menjangkau sekitar satu juta penonton setiap tahun dengan slogan “Tiongkok sebelum komunisme.”

Selama lebih dari dua dekade, Shen Yun menuai pujian luas, namun justru membuat banyak pihak mempertanyakan alasan rezim Tiongkok begitu keras menentang pertunjukan ini. Pihak berwenang bahkan berulang kali menekan teater dan pemerintah daerah di luar negeri agar membatalkan atau memboikot pertunjukan tersebut.

Dalam dua jam pertunjukannya, Shen Yun menampilkan kisah “5.000 tahun peradaban Tiongkok” melalui sekitar 15 segmen tari dan musik. Di antaranya menampilkan tarian dari berbagai etnis di Tiongkok—seperti Mongolia dan Tibet—yang kebudayaannya justru ditekan oleh PKT. Pertunjukan ini juga mengangkat tokoh-tokoh pahlawan, kaisar, serta sejarah klasik yang selama puluhan tahun coba dihapus atau diubah oleh rezim. Beberapa adegan menggambarkan kondisi Tiongkok masa kini, memperlihatkan para praktisi Falun Gong yang mempertahankan keyakinannya di tengah penindasan brutal.


Falun Gong dan “Lima Racun” Menurut PKT

Menurut pembelot rezim Tiongkok dan FBI, PKT menganggap Falun Gong sebagai salah satu dari “lima racun”—kelompok yang dianggap berbahaya bagi kekuasaan partai karena menawarkan pandangan alternatif tentang Tiongkok. Empat lainnya adalah warga Tibet, aktivis pro-demokrasi (termasuk dari Hong Kong), pendukung kemerdekaan Taiwan, dan etnis Uyghur.

Falun Gong, atau Falun Dafa, mengajarkan nilai-nilai Sejati, Baik, Sabar (Zhen-Shan-Ren). Ajaran ini berkembang pesat sejak diperkenalkan pada awal 1990-an; menjelang akhir dekade itu, pemerintah memperkirakan jumlah pengikutnya mencapai 70 hingga 100 juta orang.

Namun, PKT hanya mengakui agama-agama yang dikontrol negara dan mengkriminalisasi praktik keagamaan di luar kendalinya.

Penerapan hukum Tiongkok secara ekstrateritorial juga membuat penindasan ini meluas ke luar negeri, dengan agen dan perwakilan PKT berupaya mencemarkan dan mengkriminalkan Falun Gong di berbagai negara. Sumber internal mengatakan bahwa pada 2022, pemimpin PKT Xi Jinping memerintahkan peningkatan kampanye penindasan Falun Gong di luar negeri, dengan fokus pada organisasi yang didirikan oleh para praktisi, termasuk Shen Yun.

Meski penindasan di Tiongkok terus berlangsung selama 26 tahun, Falun Gong kini dipraktikkan secara bebas di sekitar 100 negara di dunia.


Dokumen Ungkap Pola Penindasan Selama Dua Dekade

Dokumen yang ditelaah The Epoch Times mencakup lebih dari sepuluh tahun, menunjukkan bahwa pola penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong hampir tidak berubah selama seperempat abad. Untuk melindungi para tahanan nurani—beberapa di antaranya mungkin telah dibebaskan—nama asli mereka tidak dipublikasikan.

Banyak praktisi dalam kasus yang dikaji pernah ditahan berulang kali karena keyakinannya. Hingga 2013, PKT memiliki aturan yang memungkinkan hukuman kerja paksa hingga lima tahun tanpa proses pengadilan. Pada awal masa penindasan, penangkapan besar-besaran terjadi di seluruh negeri, dan banyak kasus dalam dokumen menunjukkan para praktisi dikirim ke kamp kerja paksa pada awal 2000-an.

Seorang petani dijatuhi hukuman kerja paksa selama setahun pada 2002 karena berlatih Falun Gong. Sepuluh tahun kemudian, pada Februari 2012, ia kembali ditahan karena “dicurigai melakukan kejahatan yang sama,” dan baru secara resmi ditangkap sebulan setelahnya. Saat itu, ia merawat ibu tua dan anak laki-lakinya yang masih kecil. Pengacaranya memohon keringanan hukuman.

Polisi menemukan alat penerima TV satelit di rumahnya—yang memungkinkannya menonton siaran luar negeri melewati penyensoran internet PKT—serta sejumlah DVD yang mereka duga untuk disebarkan. Sebagian berisi konten Falun Gong, dan ribuan sampul DVD bertuliskan nama yang mengindikasikan isi terkait Shen Yun.

Pada 2013, seorang mahasiswi dituduh memiliki dan menyebarkan materi tentang Falun Gong, termasuk buku Sembilan Komentar tentang Partai Komunis serta beberapa DVD berisi konten Shen Yun. Mahasiswi itu pernah beberapa kali ditahan di awal 2000-an dan dua kali dikirim ke kamp kerja paksa selama total tiga tahun. Ia baru resmi ditangkap pada 2012 karena keyakinannya. Dalam pernyataan yang disampaikan ke pengadilan, ia menggambarkan penyiksaan fisik dan psikologis yang dialaminya selama penahanan. Ibunya meninggal dunia tanpa sempat melihat putrinya bebas.

Pada 2014, seorang manajer bisnis dijatuhi hukuman lima tahun penjara karena berlatih Falun Gong dan membagikan materi terkait, termasuk 123 CD berisi lagu-lagu dan video Falun Gong serta Shen Yun, juga 1.200 stiker bertuliskan “Sejati, Baik, Sabar” dan “Falun Dafa Baik.”

Pada 2017, seorang petani dijatuhi hukuman satu tahun enam bulan penjara. Berdasarkan dokumen pengadilan, vonis itu didasarkan pada “bukti” bahwa dalam kurun 15 tahun (2000–2015), ia memproduksi 17 cakram Falun Gong, 55 gambar Shen Yun, empat gambar Sembilan Komentar tentang Partai Komunis, serta 102 kata-kata  bertuliskan ajaran Falun Gong. 

Sumber : Theepochtimes.com

Gedung Putih: AS Bekerja Sama dengan Negara-Negara Arab untuk Akhiri Konflik di Sudan

Sekjen Liga Arab Ahmed Aboul Gheit menyerukan tindakan mendesak untuk melindungi warga sipil dan menghentikan kekerasan.

EtIndonesia. Amerika Serikat tengah bekerja sama dengan mitra-mitra Arabnya untuk mengakhiri konflik di Sudan, kata Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt pada 4 November, seraya menggambarkan situasinya sebagai “sangat kompleks.”

Dalam konferensi pers, Leavitt mengatakan Washington “secara aktif terlibat dalam upaya mediasi perdamaian” dan tetap “berkomitmen untuk bekerja sama dengan para mitra internasional, termasuk anggota kelompok Quad—Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab—serta pihak lain untuk memimpin proses perdamaian yang mencakup krisis kemanusiaan saat ini dan tantangan politik jangka panjang.”

Kelompok Quad merupakan forum diplomatik informal yang terdiri dari Amerika Serikat dan tiga negara Arab tersebut, yang bekerja sama dalam isu-isu strategis kawasan.

Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt berbicara dalam konferensi pers di Gedung Putih pada 12 Februari 2025. Madalina Vasiliu / The Epoch Times

Pada 29 Oktober, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan terkejut atas laporan bahwa Pasukan Dukungan Cepat (RSF), kelompok paramiliter Sudan, telah membunuh lebih dari 460 orang di sebuah rumah sakit di kota El-Fasher, Sudan bagian barat. RSF membantah tuduhan itu.

WHO melaporkan bahwa pasien dan pendamping mereka dibunuh oleh anggota RSF di Rumah Sakit Saudi pada 29 Oktober. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan sebelum serangan terbaru itu, WHO telah memverifikasi 285 serangan terhadap fasilitas kesehatan di Sudan, dengan sedikitnya 1.204 korban jiwa serta lebih dari 400 tenaga kesehatan dan pasien luka-luka sejak konflik meletus pada 2023.

Departemen Luar Negeri AS mengutuk kekejaman massal tersebut dan mendesak RSF untuk “menghentikan aksi balas dendam dan kekerasan etnis.”

“Amerika Serikat akan terus bekerja sama dengan para mitra untuk mencari jalan damai. Tidak ada solusi militer yang layak, dan dukungan militer dari pihak luar hanya memperpanjang konflik. AS mendesak kedua pihak untuk menempuh jalur negosiasi guna mengakhiri penderitaan rakyat Sudan,” bunyi pernyataan Departemen Luar Negeri AS pada 1 November di platform X (Twitter).

Leavitt juga mengakui meningkatnya perhatian media terhadap konflik itu dan menyebut telah berdiskusi dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada hari yang sama. Ia menambahkan bahwa pemerintahan AS “secara rutin berkomunikasi” dengan para mitra Arabnya mengenai perkembangan di Sudan.


Perang yang Memporakporandakan Sudan

Perang di Sudan telah menghancurkan negara terbesar ketiga di Afrika itu.

Pertempuran antara Angkatan Bersenjata Sudan dan RSF telah menewaskan lebih dari 61.000 orang di Negara Bagian Khartoum saja, menurut studi tahun 2024 oleh Sudan Research Group dari London School of Hygiene and Tropical Medicine.

para pengungsi Sudan yang melarikan diri dari El Fasher tiba di kota Tavira yang dilanda perang di wilayah Darfur, Sudan barat, setelah Pasukan Dukungan Cepat (RSF) merebut kota tersebut. (AFP via Getty Images)

PBB menyebut lebih dari 7 juta orang telah mengungsi di dalam negeri per pertengahan Oktober, memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah sangat parah.


Dorongan Diplomatik untuk Gencatan Senjata

Pada September, Washington dan mitra Quad-nya—Mesir, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab—bersama-sama mengusulkan gencatan senjata kemanusiaan selama tiga bulan di Sudan, yang akan dilanjutkan dengan gencatan senjata permanen dan transisi sembilan bulan menuju pemerintahan sipil. Namun, pemerintah Sudan menolak usulan tersebut.

Pada 24 Oktober, Amerika Serikat menjadi tuan rumah pertemuan anggota Quad di Washington untuk memperkuat upaya bersama menuju perdamaian dan stabilitas di Sudan.

Kelompok itu menegaskan kembali komitmen mereka terhadap rencana September dan sepakat membentuk komite operasional bersama untuk mengoordinasikan prioritas mendesak, termasuk akses kemanusiaan, gencatan senjata, dan penghentian dukungan eksternal bagi pihak-pihak yang bertikai.

“[Presiden Donald Trump] menginginkan perdamaian, dan kami bersatu dalam komitmen untuk mengakhiri penderitaan rakyat Sudan,” ujar Massad Boulos, Penasihat Senior AS untuk Urusan Arab dan Afrika, setelah pertemuan tersebut.

Boulos memimpin upaya diplomatik di kawasan. Akhir pekan lalu, ia mengadakan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty, dan kemudian bertemu dengan pejabat Liga Arab di Kairo.

Menurut Boulos, pembahasan di Mesir berfokus pada “perluasan akses kemanusiaan dan upaya penyelesaian konflik di Sudan,” serta kerja sama kontra-terorisme dan isu migrasi regional.

Ia mengatakan, pertemuan dengan Sekjen Liga Arab Ahmed Aboul Gheit juga membahas tantangan paling mendesak di kawasan.

“Kami mengecam kejahatan keji terhadap warga sipil di El-Fasher dan menyerukan tindakan segera untuk melindungi masyarakat serta menghentikan kekerasan,” kata Boulos.


Kekejaman Meningkat dan Reaksi Dunia

Serangan terhadap El-Fasher pada akhir Oktober memicu kecaman internasional. Laporan dari organisasi kemanusiaan dan warga menggambarkan pembunuhan massal, kekerasan seksual, dan serangan terhadap pekerja bantuan selama ofensif berlangsung.

“Kami sangat terguncang oleh meningkatnya kekerasan dan serangan terhadap warga sipil di El-Fasher,” ujar Boulos pada 29 Oktober. “Penargetan terhadap kelompok rentan dengan tindakan kekerasan dan pembalasan adalah hal yang menjijikkan dan tidak dapat diterima.”

Ia menegaskan bahwa para pelaku “harus dimintai pertanggungjawaban” dan mendesak pimpinan RSF agar mengubah komitmen mereka untuk melindungi warga sipil menjadi “tindakan nyata di lapangan.”

Dalam forum di Qatar pada 4 November, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mendesak pihak-pihak yang bertikai di Sudan untuk “duduk di meja perundingan” dan mengakhiri “mimpi buruk kekerasan” yang tengah melanda negara itu.

Para menteri luar negeri Jerman, Yordania, dan Inggris pada 1 November juga menyerukan gencatan senjata segera di Sudan.

“Terlalu lama konflik ini diabaikan, sementara penderitaan rakyat terus bertambah,” kata Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper dalam forum keamanan Manama Dialogue di Bahrain.

Ia juga menjanjikan tambahan bantuan kemanusiaan senilai 6,5 juta dolar AS sebagai tanggapan atas kekerasan di El-Fasher.

Wanita Didenda Rp 24 Juta Karena Kucingnya Terus Berkunjung ke Tetangganya

EtIndonesia. Seorang wanita Prancis terkejut mengetahui bahwa dia telah didenda €1.250 (sekitar Rp 24 juta) karena kucing peliharaannya telah memasuki properti tetangganya tanpa izin.

Kucing adalah hewan petualang yang tidak terlalu peduli dengan hukum manusia; mereka pergi ke mana pun mereka mau, tetapi kebiasaan mereka dapat berakibat sangat mahal bagi pemiliknya. Contohnya, seorang pemilik kucing dari wilayah Hérault, Prancis, terkejut mengetahui adanya keluhan yang diajukan oleh tetangganya tentang kucingnya yang sering datang dan pergi di properti mereka.

Dalam keluhannya, tetangga tersebut, yang namanya tidak diungkapkan, menyebutkan jejak kaki di plester, urin di selimut, dan kotoran di kebun sebagai kerusakan yang disebabkan oleh kucing jahe, Remy. Pada bulan Januari lalu, pengadilan memihak penggugat dan mendenda pemilik kucing, Dominique, sebesar €1.250, dengan hukuman tambahan jika kucing tersebut kembali melewati pagar.

“Ketika saya menerima pemberitahuan putusan, rasanya seperti saya dipukul dengan keras di kepala,” ujar Dominique kepada surat kabar Prancis Le Parisien. “Sejak putusan itu, saya membiarkan Rémi di rumah. Berat badannya bertambah dan menjadi agresif. Saya bahkan tidak bisa membiarkannya di kebun saya karena takut dia akan melompati pagar. Rasanya seperti dia dijatuhi hukuman tahanan rumah, semacam penjara dan hukuman ganda.”

Pemilik kucing berusia 70 tahun itu menunjukkan bahwa tetangganya tidak dapat membuktikan bahwa Remy bersalah karena memasuki rumah tanpa izin padahal ada kucing lain, beberapa di antaranya liar, di lingkungan tersebut, tetapi hakim tampaknya tidak peduli.

Sayangnya, kasus ini masih jauh dari selesai, karena Dominque telah dipanggil ke pengadilan lagi pada bulan Desember mendatang. Rupanya, Remy melanggar pagar yang terkenal itu dan bisa membuat pemiliknya dikenakan denda tambahan sebesar €2.000 dan denda harian sebesar €150 .

Perselisihan hukum yang tidak biasa ini menarik perhatian kelompok-kelompok pembela hak asasi hewan Prancis, yang banyak di antaranya percaya bahwa keputusan pengadilan tersebut melanggar hak-hak kucing, karena mereka memiliki naluri alami untuk menjelajahi lingkungan sekitar.

Beberapa yang lalu, kami menulis tentang kasus serupa tentang pasangan Prancis yang digugat oleh tetangga mereka karena ayam jantan peliharaan mereka berkokok terlalu keras.(yn)

Mencintai Itu Mudah, Hidup Bersama yang Sulit

EtIndonesia. Ada ungkapan lama: jatuh cinta itu gampang, mempertahankannya yang sulit. Untuk pasangan yang benar-benar berjodoh baik, mungkin masalah seperti ini tidak muncul. Tapi untuk mereka yang bertemu dalam “karmic relationship” atau hubungan yang penuh benturan, masalah hidup bersama hampir pasti terjadi. Dari pertengkaran kecil bisa berkembang jadi pisah rumah, perceraian, pertarungan fisik, bahkan tragedi yang lebih gelap.

Beberapa waktu lalu, seorang teman lama bercerita soal proses perceraiannya. Dia penuh kemarahan dan emosi saat menceritakannya. Cerita itu langsung mengingatkanku pada seorang rekan kerja tahun lalu: awal tahun dia membagikan kue pernikahan untuk pernikahan putrinya, dan menjelang akhir tahun dia membagikan lagi — putrinya bercerai dan menikah lagi. Dari dua kisah ini saja terlihat, bagi sebagian orang, jatuh cinta adalah hal mudah, tapi hidup bersama adalah tantangan besar.

Aku sering menulis tentang etika dan moralitas, membagikan cerita tentang karma dan konsekuensi dalam percakapan. Akibatnya, banyak yang menganggap aku “bijak soal hidup,” lalu meminta saran untuk urusan rumah tangga dan konflik pasangan. Sebenarnya aku selalu grogi ketika menghadapi masalah seperti itu — bukan karena tidak peduli, tapi karena urusan rumah tangga adalah medan paling rumit, dan salah memberi saran bisa merusak hidup seseorang. Tapi karena tidak tega menolak, lama-lama aku belajar dan memahami beberapa hal dari pengalaman nyata orang-orang yang datang curhat.

Mengapa aku awalnya enggan menasihati soal konflik pasangan? Karena setiap rumah tangga seperti lautan yang hanya pasangan itu sendiri yang tahu kedalamannya. Ada kasus di berita: pasangan bertengkar; sang suami memilih keluar sebentar agar istrinya tenang. Ketika dia kembali, istrinya sudah bunuh diri. Tragis, dan menunjukkan bahwa tidak ada rumus pasti dalam menangani konflik rumah tangga. Apa yang baik untuk satu pasangan belum tentu baik untuk pasangan lain. Saran hanya bisa dijadikan pertimbangan, bukan aturan mutlak.

Mencintai itu mudah karena saat dua hati saling tertarik, semuanya terasa alami dan indah. Tapi ketika hubungan masuk tahap pernikahan atau hidup bersama, persoalan tidak lagi sebatas perasaan. Ada pasangan, ada komitmen fisik dan emosional, ada harta, ada keluarga, ada anak. Kalau hubungan retak, kerumitan yang muncul jauh lebih besar daripada sekadar patah hati masa pacaran. 

Karena itu, orangtua bilang: “Jika masih mungkin dipertahankan, pertahankanlah dulu.”

 Banyak orang lebih memilih menyarankan berdamai dulu ketimbang bercerai.

Dalam kehidupan rumah tangga, selain kesabaran, ekonomi memainkan peran besar. Suami harus mampu memberi rasa aman dan memenuhi kebutuhan keluarga, tapi pembagian finansial pun harus adil. Kekuasaan ekonomi yang hanya dipegang satu pihak sering menimbulkan ketidakimbangan dan rasa superioritas atau ketergantungan berlebihan, yang akhirnya memicu pertengkaran. Maka, dalam hal keuangan, keseimbangan adalah pondasi ketenangan.

Karena pada akhirnya, rumah tangga bukan hanya tentang cinta. Itu tentang dua insan yang belajar tumbuh bersama, menahan ego, menghadapi dunia, dan saling menguatkan. Dan jika memang tidak bisa dipertahankan, setidaknya pisahlah dengan hati yang tetap manusiawi — tanpa dendam, tanpa nista, tanpa merusak masa depan diri sendiri.

Jatuh cinta adalah awal. Hidup bersama adalah perjalanan. Di situlah ketahanan hati diuji. (jhn/yn)

Menurut Sebuah Sumber: Drone Ukraina Serang Kilang Lukoil di Wilayah Nizhny Novgorod, Rusia

EtIndonesia. Pasukan Ukraina menyerang kilang Lukoil-Nizhegorodnefteorgsintez di Kota Kstovo menggunakan drone. Puluhan kendaraan udara nirawak digunakan dalam serangan tersebut, menurut sumber di Intelijen Pertahanan.

Menurut sumber, serangan itu terjadi pada malam 4 November. Drone-drone tersebut dioperasikan oleh personel dari Intelijen Pertahanan Kementerian Pertahanan, Angkatan Bersenjata Ukraina, dan Pasukan Operasi Khusus.

Untuk serangan tersebut, tentara mengerahkan lebih dari lima puluh drone buatan Ukraina, termasuk model Bober dan FP-1.

Sumber mengklarifikasi bahwa serangan itu terjadi saat kolom rektifikasi, yang bertanggung jawab atas pemrosesan utama minyak dan sebelumnya rusak dalam serangan sebelumnya, sedang diperbaiki.

Beberapa saluran Telegram Rusia juga melaporkan serangan di kilang Kstovo. Video yang beredar daring menunjukkan ledakan dan kebakaran di fasilitas tersebut.

Lukoil-Nizhegorodnefteorgsintez

Lukoil-Nizhegorodnefteorgsintez adalah salah satu kilang minyak terbesar di Rusia, yang memasok, antara lain, wilayah Moskow, yang menyumbang sekitar 30% dari konsumsi bensin negara tersebut.

Kapasitas pemrosesan minyak mentah kilang ini sekitar 17 juta ton per tahun.

Kilang ini memproduksi lebih dari 50 jenis produk, termasuk bahan bakar otomotif, penerbangan, dan diesel, serta bitumen, parafin, dan produk minyak bumi lainnya.

Produk-produknya secara aktif digunakan oleh pasukan pendudukan Rusia dan kompleks industri pertahanan negara tersebut.

Serangan Malam Hari terhadap Rusia

Sebelumnya, Andriy Kovalenko, kepala Pusat Penanggulangan Disinformasi di bawah Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional, melaporkan bahwa setelah serangan malam hari terhadap Rusia oleh pesawat tanpa awak tak dikenal, dua perusahaan segera menghentikan operasinya.

Secara spesifik, ini termasuk kilang Nizhny Novgorod.

Selain itu, beberapa daerah di wilayah Kursk mulai mengalami masalah pasokan listrik. (yn)

Festival Mangrove Jatim Ke-8: Sinergi Pemulihan Lingkungan dan Pemberdayaan Ekonomi Lokal

Bangkalan, Jawa Timur – Pesisir Kabupaten Bangkalan menjadi pusat perhatian dalam gelaran Festival Mangrove Jawa Timur ke-8 yang berlangsung meriah. Acara yang dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan ini tidak hanya menjadi ajang konservasi lingkungan, tetapi juga menunjukkan komitmen nyata dalam pemberdayaan UMKM subsisten binaan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur dan investasi masa depan melalui penyerahan beasiswa.

Kolaborasi Multisektor untuk Kelestarian Lingkungan

Festival yang dihadiri oleh para pejabat tinggi pemerintah ini merefleksikan pendekatan holistik dalam pembangunan berkelanjutan. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dalam sambutannya menekankan pentingnya kerja sama semua pihak. “Luasan mangrove Jawa Timur mencapai 51% dari total di Pulau Jawa, menjadi bukti nyata sinergi seluruh elemen masyarakat,” ujarnya.

Dirjen Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kementerian Kehutanan RI, Ir. Dyah Murtiningsih, M.Hum., menyampaikan apresiasi yang mendalam. “Rehabilitasi mangrove adalah tanggung jawab lintas sektor dan generasi. Kolaborasi menjadi kunci kesuksesan,” tegasnya. Data yang dipaparkan menunjukkan pencapaian signifikan Provinsi Jawa Timur dengan peningkatan tutupan lahan mangrove sebesar 13,29% atau setara 3.618 hektar pada periode 2021-2024.

Acara ini dihadiri oleh berbagai stakeholders, mulai dari perwakilan TNI, kementerian, pemerintah daerah, akademisi, pelaku usaha, hingga musisi ternama Kakak Slank yang turut memeriahkan kegiatan ini.

Transformasi UMKM Subsisten Madura Melalui Pendampingan BI

Bank Indonesia Jawa Timur menampilkan tiga UMKM binaan yang menunjukkan kemajuan pesat melalui program pendampingan berkelanjutan:

1. Kelompok Ceria Konveksi: Dari Usaha Kecil Menjadi Bisnis Terstruktur

Berbasis di Dusun Glugur, Desa Jangkar, Kecamatan Tanah Merah, kelompok yang terdiri dari 16 anggota ini bergerak di bidang konveksi seragam sekolah. Dengan pendampingan BI sejak 2022, mereka mencatatkan perkembangan yang mengesankan dengan omzet tahun 2023 mencapai Rp 1,1 miliar dan laba bersih Rp 46 juta.

Pendampingan BI dilaksanakan secara bertahap dan komprehensif:

– Tahun 2022: Fokus pada pembangunan fondasi melalui fasilitasi rekening tabungan, pembentukan legalitas kelompok, dan edukasi produk perbankan serta pola pikir wirausaha

– Tahun 2023: Penguatan bisnis melalui digitalisasi toko online, sistem pencatatan keuangan, dan penyusunan model bisnis

– Tahun 2024: Pengembangan usaha melalui pendalaman sistem akuntansi (HPP dan Laporan Laba/Rugi), optimalisasi media sosial, dan pengenalan branding

– Tahun 2025: Pemantapan melalui literasi keuangan tingkat lanjut, sertifikasi produk, dan manajemen usaha terpadu

Dukungan sarana prasarana berupa 2 unit mesin potong kain, 2 unit mesin jahit speed, dan 2 unit mesin obras telah meningkatkan kapasitas produksi secara signifikan.

“Pada awalnya sebelum ada pendampingan BI kami belum berpikir untuk mengembangkan usaha ini, BI memberikan pelajaran bagaimana kami bisa mengembangkan usaha kami ini agar baik,” jelas Kholiq sebagai pemilik usaha Konveksi Ceria.

2. Kelompok Ecoprint Kan Pao: Mengangkat Seni Lokal ke Tingkat Global

Berlokasi di Dusun Pao, Desa Jangkar, Kecamatan Tanah Merah, kelompok dengan 26 anggota ini mengkhususkan diri pada produksi kain dan baju ecoprint. Meskipun masih dalam tahap pengembangan dengan omzet 2023 sebesar Rp 4.050.000, mereka menunjukkan komitmen kuat dengan seluruh anggota telah memiliki rekening bank.

Program pendampingan BI difokuskan pada:

– Penguatan dasar keuangan dan aspek legalitas (2022)

– Penyusunan program kerja dan model bisnis (2023)

– Pelatihan produksi totebag ecoprint dan strategi pemasaran digital (2024)

– Persiapan sertifikasi dan pengelolaan usaha (2025)

Bantuan peralatan berupa mesin jahit dan perlengkapan produksi telah mendorong peningkatan kapasitas kelompok.

Ibu Saidah (65) membuktikan bahwa seni dan ekonomi dapat bersinergi sempurna. Dengan memanfaatkan tanaman pekarangan untuk motif ecoprint, ia mampu menciptakan produk seni bernilai hingga Rp 300.000 per potong.

“Bimbingan BI mempercepat pemasaran produk kami,” ujar Ibu Saidah. Pendampingan yang diterima mencakup pelatihan produksi totebag ecoprint, manajemen keuangan, hingga pemanfaatan media sosial untuk pemasaran.

3. Kelompok Pengrajin Agel: Inovasi Berbasis Kearifan Lokal

Terdiri dari 14 anggota yang berdomisili di Dusun Sambas, Desa Kelbung, Kecamatan Sepulu, kelompok ini memproduksi tas dari bahan daun agel. Dengan pencapaian omzet Rp 23.753.500 pada 2023, mereka telah membangun kemitraan pemasaran yang solid dengan CV Daun Agel.

Proses produksi yang unik meliputi:

– Ekstraksi serat daun agel

– Pemurnian dan proses pemintalan menggunakan teknik tradisional

– Pengeringan dan pembentukan produk akhir

Pendampingan BI mencakup penyediaan peralatan khusus seperti mesin bordir manual, mesin potong kulit, dan berbagai jenis mesin jahit yang mendukung optimalisasi proses produksi.

“Awalnya daun Agel ini adalah limbah, banyak tumbuh tapi tidak dimanfaatkan apa-apa, hanya dibakar,” jelas Mohammad Riswandi Himawan selaku marketing.

Kelompok Agel menjadi bukti nyata transformasi ekonomi berbasis inovasi lokal. Riswandi juga memaparkan proses revolusioner pengolahan daun gebang – yang semula hanya limbah – menjadi produk fashion bernilai tinggi.

“Prosesnya dimulai dari pengambilan serat daun, pembersihan bulu-bulu, kemudian dipilin menggunakan berbagai teknik tradisional,” jelas Riswandi dengan semangat. Satu tas membutuhkan satu gulung tali sepanjang 20 meter dari satu pohon, menunjukkan efisiensi dan keberlanjutan proses produksi.

Yang membanggakan, melalui pendampingan BI, Daun Agel telah menembus pasar internasional dengan ekspor ke Singapura dan Prancis. Kelompok yang memberdayakan 50 wanita dari dua desa ini kini telah bertransformasi menjadi usaha berorientasi ekspor dengan dukungan digitalisasi melalui website e-commerce.

Investasi Masa Depan Melalui Program Beasiswa

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Perwakilan BI Jawa Timur secara simbolis menyerahkan beasiswa kepada 60 perwakilan dari 611 mahasiswa penerima Beasiswa Bank Indonesia yang tersebar di 9 perguruan tinggi di Jawa Timur. Program ini merepresentasikan komitmen BI dalam membentuk sumber daya manusia unggul untuk masa depan bangsa.

“Program beasiswa dari Bank Indonesia bukan sekadar bantuan finansial, melainkan investasi jangka panjang mengingat pendidikan merupakan fondasi utama pembangunan,” tegas perwakilan BI dalam sambutannya.

Dampak Nyata dan Berkelanjutan

Kesuksesan tiga UMKM binaan BI di Bangkalan menjadi bukti konkret efektivitas program pendampingan yang terstruktur dan berkesinambungan. Pendekatan empat pilar – literasi keuangan keluarga, literasi keuangan usaha, pengembangan usaha, dan penguatan kelembagaan – telah membawa transformasi mendalam dalam kapasitas dan kinerja usaha.

Festival Mangrove Jawa Timur ke-8 tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi membuktikan sinergi positif antara pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi. Kerja sama antara pemerintah, institusi keuangan, akademisi, dan masyarakat ini menciptakan efek berantai yang positif – mulai dari pemulihan ekosistem, penguatan ekonomi lokal, hingga penyiapan generasi penerus yang kompeten.

Melalui program yang terintegrasi ini, UMKM subsisten tidak hanya bertransformasi menjadi usaha yang mandiri dan berdaya saing, tetapi juga aktif berkontribusi dalam mewujudkan pembangunan ekonomi inklusif dan berkelanjutan di Jawa Timur. Kolaborasi ini menjadi contoh nyata bagaimana pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan menuju kesejahteraan masyarakat yang holistik dan berkelanjutan.

MYZE Hotel Sumenep Gelar Donor Darah dan Pemeriksaan Mata Gratis, Wujudkan Kepedulian untuk Masyarakat

0

Sumenep, 3 November 2025 – MYZE Hotel Sumenep kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat melalui penyelenggaraan kegiatan Donor Darah dan Pemeriksaan Mata Gratis. Acara yang berlangsung pada Senin, 3 November 2025 di Foyer Ballroom MYZE Hotel Sumenep ini, sukses menarik puluhan partisipan dari kalangan masyarakat umum dan karyawan hotel.

Bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Sumenep dan Klinik Utama Sumenep, kegiatan sosial ini merupakan bagian dari komitmen nyata Corporate Social Responsibility (CSR) MYZE Hotel Sumenep. Antusiasme masyarakat terlihat tinggi, dengan banyaknya peserta yang memanfaatkan momen ini untuk berbagi kebaikan melalui donor darah serta memeriksakan kesehatan mata mereka secara cuma-cuma.

General Manager MYZE Hotel Sumenep, Anndy Bramasto, S.E., M.Par., menyampaikan apresiasi atas partisipasi aktif masyarakat. “Kami bersyukur dan berterima kasih atas sambutan yang luar biasa. Kegiatan ini adalah bentuk nyata komitmen kami tidak hanya sebagai penginapan, tetapi juga sebagai bagian dari komunitas yang ingin berkontribusi bagi kesehatan dan kesejahteraan warga Sumenep,” ujarnya.

Lebih lanjut, Anndy menegaskan bahwa inisiatif seperti ini akan terus dilaksanakan secara berkelanjutan. “Kami berharap kegiatan positif ini dapat memberikan manfaat langsung dan memotivasi pihak lain untuk turut serta dalam aksi sosial,” tambahnya.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan posisi MYZE Hotel Sumenep sebagai properti akomodasi yang tidak hanya fokus pada pelayanan bisnis, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan sosial.

Memaafkan Adalah Anugerah Terbesar dalam Hidup

EtIndonesia. Menyusuri jalan pulang ke kampung halaman, ditemani cahaya keemasan senja yang perlahan meredup. Sudah lebih dari sepuluh tahun meninggalkan tempat ini. Pemandangannya masih sama, tapi hati rasanya berlapis-lapis: rindu, syukur, getir, dan segala hal yang sulit dijelaskan. 

Hidup mengajarkan kita untuk siap menyambut kekaguman sekaligus merangkul kekecewaan. Untuk memahami perubahan zaman, dinginnya hati manusia, dan tetap berusaha tenang ketika dihantam persoalan hidup. Kadang muncul pikiran, mungkin jadi orang yang cuek dan polos lebih gampang bahagia. 

Tapi kamu yang berjalan di sampingku berkata: “Hidup yang paling penting adalah bahagia. Tapi jangan sampai jadi orang yang tak punya hati. Tanpa hati, bagaimana kita bisa merasakan keindahan hidup?”

“Bagi mereka yang punya hati, rasa sedih dan tersentuh itu wajar.”

“Betul, yang penting jangan sampai berlebihan, nanti hanya melukai diri sendiri.”

Emosi yang terlalu dalam kadang perlu sedikit dilenturkan. 

Dulu aku pernah bilang pada seorang teman: “Aku begini karena aku orangnya terlalu pakai perasaan, nggak bisa diubah.” 

Dia langsung menjawab: “Jangan jadikan itu alasan lagi. Kita sudah dewasa, berarti kita harus bisa belajar berubah.” 

Benar juga. Usia bertambah bukan jaminan kedewasaan. Setiap fase hidup membawa pelajaran dan ruang untuk tumbuh.

Setahun terakhir penuh perubahan dan ujian. Banyak renungan pun ikut muncul. Pertengkaran, konflik, kehilangan, rasa kecewa dalam hubungan… semuanya ternyata punya akar yang sama. Saat bisa memahami satu hal dengan jernih, kita bisa memahami banyak lainnya. Menghadapi ketidakadilan atau kegagalan, kita harus belajar memaafkan. Kalau tidak, hidup akan terasa sangat berat. Hati yang selalu murung justru akan menarik lebih banyak hal tidak menyenangkan ke dalam hidup.

Memaafkan itu tanda kelas seseorang. Itu adalah wujud kehalusan hati, kematangan batin, dan jembatan untuk saling memahami. Memaafkan bagaikan sebuah payung yang melindungi kita di tengah hujan kehidupan.

Setiap orang tumbuh dalam pengalaman berbeda, pendidikan berbeda, lingkungan berbeda. Tidak mungkin semua orang berpikir sama. Benturan, kesalahpahaman, perselisihan adalah hal wajar dalam hidup. Kadang, lebih baik tersenyum dan biarkan waktu menjernihkan segalanya. Langit pun tidak selalu cerah; kadang penuh awan gelap. Kita tertawa, kita bersedih, dan melalui semua rasa itulah kita akhirnya benar-benar paham apa arti bahagia.

Memaafkan adalah karunia terbesar dalam hidup. Bukan hanya membebaskan kita dari luka, tetapi juga mengangkat diri kita pada kedewasaan yang lebih tinggi.

Ada sebuah kisah sederhana. Seorang wartawan bertanya pada petani tua: “Jika Anda punya dua rumah mewah atau dua mobil mewah, apakah Anda akan menyumbangkan salah satunya?”

Si petani menjawab : “Tentu saja mau.”

Wartawan terus bertanya tentang harta besar lainnya, dan petani selalu menjawab mau menyumbang separuhnya.

Sampai akhirnya wartawan bertanya: “Kalau begitu, apakah Anda bersedia menyumbangkan satu dari dua ekor sapi Anda?”

Petani langsung berubah panik: “Tidak mau!”

Wartawan bingung: “Kenapa? Barang besar kamu mau sumbang, kok sapi tidak?”

Petani menjawab lirih: “Karena sapi itu… benar-benar aku miliki.”

Saat persoalan tidak menyentuh kita, kita bisa bijak dan tenang. Tapi jika menyangkut diri sendiri, tiba-tiba terasa besar dan berat. Karena kita terlalu menganggap diri penting, dan terlalu meremehkan orang lain, maka hati mudah goyah. Justru ujian hidup memberi kita kesempatan melihat kekurangan diri, lalu memperbaikinya.

Setiap hari adalah latihan jiwa. Saat hidup tenang, latihlah untuk tidak terlena. Saat jatuh, latihlah keteguhan hati. 

Jangan buru-buru menyimpulkan sesuatu, apalagi saat emosi memuncak.  Belajar melihat dari sudut pandang lain.  Sederhanakan yang rumit, jangan merumitkan yang sederhana. Jika seseorang bisa membuatmu marah, itu artinya hatimu belum cukup kuat.  Jangan mudah terbang karena pujian, dan jangan runtuh hanya karena satu celaan.

Bumi terus berputar, matahari tetap bersinar, dan jalannya tidak berubah. Yang perlu disesuaikan adalah hati kita. (jhn/yn)

Banjir Bandang Nduga, Papua Pegunungan : 15 Orang Tewas, 8 Orang Masih Dalam Pencarian

EtIndonesia– Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali menghimpun data pencarian korban terdampak banjir bandang di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, Selasa (4/11/2025) pukul 18.55 WIB.

“Dilaporkan sebanyak 15 orang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia, sedangkan 8 orang lainnya masih dalam proses pencarian tim gabungan di Kampung Yuguru, Distrik Meborok,” kata Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB. 

Banjir bandang yang melanda dua distrik ini terjadi pada Sabtu (1/11) pukul 17.00 waktu setempat yang disebabkan oleh hujan dengan intensitas tinggi di kawasan hulu.

Proses pencarian korban hilang dan evakuasi korban meninggal dunia akibat banjir bandang yang melanda Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, Selasa (4/11). Sumber foto : BPBD Kabupaten Nduga

Berdasarkan peringatan dini cuaca ekstrem yang dikeluarkan oleh instansi terkait pada periode 4 sampai 6 November 2025, Papua Pegunungan berpotensi dilanda hujan sedang hingga lebat. 

Sebelumnya dilaporkan, upaya pencarian dan pertolongan masih dilakukan petugas gabungan pascabanjir bandang di Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pengunungan, hingga Selasa (4/11). Sebanyak 23 orang masih dinyatakan hilang oleh BPBD setempat. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nduga bersama dinas terkait dan warga melakukan upaya pencarian korban hilang. Total korban tersebut sebanyak 23 orang, dengan rincian 15 orang di Distrik Dal dan 8 lainnya di Distrik Yuguru. Bencana tersebut tidak mengakibatkan adanya pengungsian warga. 

Proses pencarian korban hilang dan evakuasi korban meninggal dunia akibat banjir bandang yang melanda Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, Selasa (4/11). Sumber foto : BPBD Kabupaten Nduga

Sejumlah warga yang hilang diduga hanyut terbawa arus kuat saat menyeberang Sungai Papan. 

Selain upaya pencarian dan pertolongan, BPBD setempat masih terus memutakhirkan data dampak bencana. 

Wilayah terdampak bencana berada di 2 distrik, yaitu Distrik Dal dan Distrik Yuguru. Daerah di Distrik Dal yang diterjang banjir bandang berlokasi di dua kampung, Kampung Dal dan Kampung Silan. 

Proses pencarian korban hilang dan evakuasi korban meninggal dunia akibat banjir bandang yang melanda Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, Selasa (4/11). Sumber foto : BPBD Kabupaten Nduga

Banjir bandang tersebut terjadi pada Sabtu lalu (1/11), pukul 17.00 waktu setempat atau WIT. Kejadian berlangsung setelah adanya hujan intensitas tinggi di kawasan hulu. 

Sementara itu, informasi peringatan dini di wilayah Papua, terpantau di Papua Barat Daya. Pada Selasa (4/11) wilayah Papua Barat Daya berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang hingga pukul 13.20 waktu setempat atau WIT. Daerah dengan potensi tersebut berada di Kabupaten Raja Ampat dan dapat meluas ke wilayah Kabupaten Sorong dan Kota Sorong. Potensi ini masih dapat berlangsung hingga pukul 14.20 WIT. 

BNPB mengimbau pemerintah daerah dan warga untuk tetap waspada dan siap siaga terhadap potensi ancaman bahaya hidrometeorologi basah. Warga dapat memantau secara kontinyu informasi cuaca di wilayahnya dari informasi resmi pemerintah. Sedangkan pemerintah daerah, khususnya BPBD, diharapkan untuk melakukan upaya pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan, seperti diseminasi informasi peringatan dini atau evakuasi warga. (***) 

Florida Melarang Warga Negara Tiongkok Membeli Properti

EtIndonesia. Florida telah diberikan hak untuk memberlakukan larangan bagi warga negara Tiongkok untuk membeli properti. Pengadilan banding federal menyetujui undang-undang negara bagian yang terkait, menurut Reuters.

Pengadilan Banding Amerika Serikat untuk Sirkuit Kesebelas telah menguatkan undang-undang yang disahkan di Florida pada tahun 2023 yang melarang warga negara Tiongkok yang bukan penduduk tetap AS untuk membeli tanah atau properti di negara bagian tersebut.

Undang-undang tersebut, yang ditandatangani oleh Gubernur Ron DeSantis saat itu, menjadi bagian dari upaya yang bertujuan untuk membatasi pengaruh Partai Komunis Tiongkok di Amerika Serikat.

American Civil Liberties Union (ACLU) mengajukan gugatan terhadap undang-undang tersebut, dengan menyatakan bahwa undang-undang tersebut mendiskriminasi orang Asia berdasarkan kewarganegaraan dan bertentangan dengan peraturan investasi asing federal.

Pengadilan dengan cermat memeriksa semua bukti dan memutuskan bahwa para penggugat tidak memiliki cukup alasan untuk menggugat undang-undang tersebut, karena undang-undang tersebut hanya berlaku untuk individu yang tinggal permanen di Tiongkok, bukan mereka yang telah lama tinggal di Amerika Serikat.

Apa yang diatur dalam undang-undang

Undang-undang ini melarang warga negara Tiongkok yang tidak memiliki kewarganegaraan AS atau kartu hijau untuk membeli properti di negara bagian Florida.

Namun, ada pengecualian — individu dengan visa kerja atau pelajar dapat membeli satu properti hunian hingga dua hektar, asalkan berlokasi setidaknya 8 kilometer dari pangkalan militer.

Mengapa ini penting

Gubernur DeSantis menyatakan bahwa pembatasan tersebut diberlakukan untuk melindungi keamanan nasional dan mencegah pengaruh Komunis Tiongkok atas fasilitas strategis AS, khususnya pangkalan militer, yang jumlahnya lebih dari dua lusin di Florida.

Namun, para pembela hak asasi manusia memperingatkan bahwa undang-undang tersebut dapat “secara terang-terangan menargetkan imigran berdasarkan asal-usul dan etnis mereka” dan mengingatkan bahwa undang-undang serupa pernah ada di Amerika Serikat pada awal abad ke-20 dan ditujukan terhadap imigran Asia.

ACLU telah menyatakan akan terus melawan inisiatif semacam itu dan sedang mempertimbangkan kemungkinan untuk mengajukan gugatan baru.

Pada saat yang sama, para ahli memperkirakan bahwa setelah putusan pengadilan, negara-negara lain mungkin juga mempertimbangkan untuk memberlakukan pembatasan bagi warga negara Tiongkok atau negara-negara lain yang dianggap tidak bersahabat oleh Washington.

Sehari sebelumnya, Tiongkok mengumumkan penangguhan tarif tambahan sebesar 24% untuk barang-barang AS selama satu tahun. (yn)

Hidup Ibarat Kapal Berlayar di Lautan: yang Terpenting Adalah Menentukan Arah

EtIndonesia. Dalam hidup, kita harus punya tekad. Tanpa tekad, sulit menjadi seseorang dan sulit menyelesaikan sesuatu. Hidup tanpa tujuan ibarat kapal tanpa kemudi, terombang-ambing dan akhirnya hanya akan terdampar di pantai kekecewaan.

Jika menetapkan tekad, tetapkanlah cita-cita besar. Jangan hanya mengejar nama sebentar yang cepat padam, tapi kejarlah kemuliaan yang dikenang sepanjang waktu.

Kita harus punya cita-cita yang tinggi, dan juga keteguhan hati untuk menjaganya. Meski ada tantangan, jangan goyah dan jangan lupakan tujuan awal. Mereka yang bisa melakukan hal-hal besar selalu memulai dari tekad yang besar. Jangan biarkan hal-hal kecil, masalah remeh, atau gangguan duniawi merusak masa depan yang jauh lebih luas.

Kepercayaan diri dan cita-cita adalah tenaga pendorong terbesar dalam perjalanan menuju kebahagiaan dan kemajuan.

Hidup seperti kapal yang berlayar di laut luas. Yang paling penting adalah tahu ke mana arah tujuan kita. Mereka yang memiliki cita-cita jauh akan muncul kekuatan batin dan semangat luar biasa yang seakan dianugerahkan oleh langit.

Air mancur takkan lebih tinggi dari sumbernya; begitu juga pencapaian seseorang takkan melampaui cita-cita yang dia miliki.

Jalan hidup kadang tampak samar, tapi selama kita hidup, kita harus menyelesaikan perjalanan ini dengan baik. Dunia ini tidak pernah benar-benar buntu; jika cukup banyak orang melangkah bersama di jalannya masing-masing, di situlah jalan akan terbentuk.

Di dunia ini ada dua jenis manusia: mereka yang membiarkan waktu berlalu sia-sia, dan mereka yang menjalani hidup dengan makna.

Selama hidup, jangan kehilangan harapan; selama bernapas, jangan menyerah pada tujuan. Kita melangkah di waktu yang panjang dan misterius ini, kadang tersesat, kadang menemukan arah baru. Tapi tetaplah berjalan mendahului mimpimu, memanggil hal-hal baik dengan tindakan, dan membuktikan harapan melalui usaha.

Tanpa tekad, seseorang bagaikan kapal tanpa kemudi, atau kuda tanpa tali kendali, hanya akan melayang dan berlari tanpa tujuan sampai akhirnya berhenti entah di mana.

Melakukan sesuatu perlu fondasi yang kuat: jadikan tekad dan tujuan sebagai arah, jadikan kemauan dan keteguhan sebagai tenaga penggerak.

Semakin tinggi tujuan seseorang, semakin besar kemampuannya berkembang, dan semakin besar manfaatnya bagi dunia.

Karena sekali memulai, kita tidak boleh berhenti. Itulah arti keteguhan. Jika tidak sanggup bertahan, maka di manapun kita berada, kita akan berakhir menyerah.

Orang yang bingung bukan karena takut hari ini, tapi takut masa depan. Meski miskin, tetaplah teguh. Jangan gugur dari cita-cita tinggi.

Yang sering disesali dalam hidup bukanlah kegagalan, tapi saat kita menyerah, mundur, bermalas-malasan, dan tidak berusaha sebaik mungkin.

Tidak harus takut pada perjalanan yang jauh, yang harus kita takutkan adalah cita-cita yang pendek. Jika visi sama, gunung dan lautan bukan penghalang; jika arah berbeda, dekat pun terasa jauh.

Jalan hidup adalah pilihan kita. Bila menyesal, hanyalah bisa kita telan sendiri. Maka tetapkanlah tujuan, jadikan itu pegangan.

Tekad dan keteguhan adalah pasangan yang saling melengkapi; keduanya tidak bisa dipisahkan.

Hidup kita berjalan di jalur yang kita pilih dan bangun sendiri. Di sanalah kebahagiaan sejati dan pencapaian terbesar akan ditemui.(jhn/yn)

Drone Misterius Terlihat di Dekat Fasilitas Nuklir AS di Belgia untuk Kedua Kalinya Minggu Ini

EtIndonesia. Di Belgia, drone tak dikenal kembali terlihat di dekat Pangkalan Udara Kleine-Brogel pada Selasa malam, 4 November, menurut Nieuwsblad.

Warga Kota Peer di dekatnya melaporkan melihat enam drone dengan asal yang tidak diketahui terbang di area tersebut.

Wali Kota Peer, Steven Mathey, melaporkan bahwa antara pukul 18 : 30 dan 19 : 00, polisi menerima pemberitahuan dari beberapa warga tentang drone tak dikenal.

Polisi tiba di lokasi kejadian tetapi hanya dapat mengidentifikasi dua drone secara visual.

Polisi federal mengirimkan helikopter untuk mencari di area tersebut, tetapi tidak menemukan apa pun dan segera kembali, kata wali kota.

Ini adalah insiden kedua dalam seminggu di mana drone tak dikenal muncul di atas Pangkalan Udara Kleine-Brogel. Penampakan pertama terjadi pada malam 1 November.

Saat itu, polisi dipanggil ke lokasi kejadian, tetapi juga tidak menemukan apa pun.

Pangkalan militer ini menyimpan senjata nuklir AS dan akan segera menjadi pangkalan jet tempur F-35.

Tanggapan militer Belgia

Seperti yang dilaporkan RBC-Ukraina, setelah insiden pesawat nirawak pertama di Pangkalan Udara Kleine-Brogel, Menteri Pertahanan Belgia, Theo Francken, menyatakan bahwa pesawat nirawak tersebut telah memata-matai jet tempur dan amunisi.

Dia tidak secara langsung menyalahkan Rusia, tetapi mengisyaratkan bahwa dia tidak melihat adanya kemungkinan pelaku lain yang melanggar wilayah udara Belgia.

Dua hari kemudian, Kepala Staf Angkatan Darat Belgia, Frédéric Vansina, memerintahkan tentara untuk menembak jatuh pesawat nirawak yang mencurigakan, tetapi hanya dengan cara yang aman – yaitu, tanpa menyebabkan kerusakan tambahan.

Menurut Vansina, program Belgia untuk meningkatkan pertahanan pesawat nirawak kini sedang dipercepat.

Laporan media menunjukkan bahwa produsen senjata FN Herstal telah diminta untuk memasok Kementerian Pertahanan dengan senapan anti-pesawat nirawak khusus sesegera mungkin.

Drone di Bandara Brussel

Juga pada Selasa malam, 4 November, lalu lintas udara di Bandara Brussel dihentikan karena alasan keamanan menyusul kemunculan drone tak dikenal. Penghentian penerbangan berlangsung sekitar satu jam sebelum operasi dilanjutkan. (yn)