Kasus Kematian Yu Menglong Memicu Gelombang Pengunduran Diri dari Partai Komunis Tiongkok, Jadi Sorotan Media Luar Negeri
oleh Ning Haizhong dan Luo Ya
EtIndonesia — Lebih dari sebulan sejak aktor Tiongkok Yu Menglong meninggal dunia akibat jatuh dari gedung, namun seruan masyarakat di dalam dan luar negeri untuk menuntut keadilan baginya tak kunjung mereda.
Peristiwa ini bahkan memicu gelombang baru warga Tiongkok, baik di dalam negeri maupun yang tinggal di luar negeri, yang mengumumkan pengunduran diri mereka dari Partai Komunis Tiongkok (PKT), Liga Pemuda Komunis, dan Pionir Muda — sebuah gerakan yang dikenal sebagai “tiga pengunduran diri” (San Tui).
Fenomena ini tidak hanya menarik perhatian para pengamat internasional, tetapi juga menjadi topik hangat di berbagai media di luar negeri seperti di Taiwan.

Kasus Yu Menglong Penuh Misteri, Warga Tiongkok di Dalam dan Luar Negeri Sadar dan Bergabung Dalam Gerakan “Tiga Pengunduran Diri”
Aktor daratan Tiongkok Yu Menglong, berusia 37 tahun, meninggal dunia secara misterius pada 11 September 2025 setelah “jatuh dari gedung.” Meskipun kepolisian dengan cepat menyingkirkan kemungkinan tindak pidana serta menangkap orang yang mengunggah komentar, menghapus ulasan, dan secara ketat menyensor semua opini publik terkait, namun kecurigaan masyarakat tidak mereda.
Berbagai kabar di masyarakat menyebut bahwa Yu Menglong diduga menjadi korban pembalasan karena menolak “aturan tak tertulis” para penguasa di dunia hiburan.
Bahkan beredar kabar bahwa pelaku pembunuhan merupakan anak tidak sah dari seorang pemimpin tinggi PKT, sehingga membuat otoritas menutup-nutupi dan melarang keras pemberitaan mengenai kasus kematian Yu Menglong.
Belakangan ini, semakin banyak pula skandal gelap di bawah rezim PKT yang mulai terbongkar.
Pada 20 September, seorang warganet meluncurkan petisi global bertajuk “Tegakkan Keadilan bagi Yu Menglong” melalui organisasi non-pemerintah AVAAZ. Hingga pukul 22.00 malam waktu Beijing pada 15 Oktober, sebanyak 401.807 orang telah menandatangani petisi tersebut sebagai bentuk dukungan.
Sementara itu, misteri dan kecurigaan di balik kematian Yu Menglong juga memicu gelombang kesadaran di kalangan rakyat Tiongkok.
Banyak warga setelah terkejut dan sadar akan kebenaran yang disembunyikan, mulai menyatakan pengunduran diri dari Partai Komunis Tiongkok (PKT), Liga Pemuda, dan Pionir Muda melalui situs “Pengunduran Diri dari PKT” di luar negeri.
Dalam kurun waktu hampir sebulan, situs pengunduran diri Epoch Times menerima banyak pernyataan “Tiga Pengunduran Diri (三退)” yang secara eksplisit menyebutkan bahwa keputusan mereka dipicu oleh kasus Yu Menglong.

Salah satunya datang dari Zhang Qisheng, warga Nanyang, Provinsi Henan, yang menulis dalam pernyataannya yang diterjemahkan :
“Saya baru berusia 22 tahun. Setelah berhasil menembus tembok sensor internet, saya melihat begitu banyak kejahatan yang ditutupi PKT—perbuatan yang membuat manusia dan dewa pun murka. Kasus Yu Menglong kali ini membuat rakyat menyadari betapa kejinya rezim yang menggunakan mesin negara untuk melindungi para pelaku kejahatan. Saya dengan ini mencabut semua sumpah yang pernah saya ucapkan kepada PKT, dan dengan tegas mengundurkan diri dari Pionir Muda, Liga Pemuda Komunis, dan Partai Komunis. Saya bersumpah untuk tidak pernah berdamai dengan PKT.”
Sementara itu, Li Fangfang, warga Tiongkok yang kini tinggal di Kanada, menulis:
“Akhir-akhir ini, fakta-fakta mengejutkan dari kasus Yu Menglong semakin membuka mata saya. Negara yang dikuasai PKT sekarang ini ibarat mesin penggiling daging raksasa — rakyat biasa hanyalah sumber organ dan komponen hidup bagi para penguasa merah, yang bisa dibuang kapan saja tanpa keamanan sedikit pun. Saya dengan tegas menyatakan mundur sepenuhnya dari Pionir Muda dan Liga Pemuda PKT! Saya berharap semakin banyak rakyat Tiongkok yang sadar dan bangkit.”
Pada 29 September, sebuah pernyataan dari dalam Tiongkok yang ditandatangani dengan nama “Saat Fajar Menyingsing” menyatakan:
“Pengorbanan Yu Menglong telah membangunkan orang-orang yang seharusnya sadar. Kami harus keluar dari Pionir Muda, keluar dari Liga Pemuda Komunis, dan keluar dari Partai Komunis. Kami tidak ingin lagi menjadi korban kaum penguasa merah. Saatnya fajar menyingsing—kembalikan keadilan bagi Yu Menglong!”

Pada 7 Oktober, seseorang bernama Naixin Liang menulis dalam pernyataan “Tiga Pengunduran Diri”-nya:
“Saya bergabung dengan Pionir Muda saat SD dan masuk Liga Pemuda Komunis saat SMP. Dulu sering mendengar seruan untuk melakukan ‘tiga pengunduran diri’, tapi tidak pernah menganggapnya serius. Namun kali ini, karena kasus Yu Menglong, saya menyadari bahwa mereka benar-benar jahat melebihi bayangan saya, membalik seluruh pandangan hidup saya, membuat saya benar-benar sadar. Saya ingin keluar dari organisasi itu.”
Tiga orang lainnya, termasuk seseorang bernama Da Sheng, menyatakan dalam pernyataannya:
“Karena kasus Yu Menglong, saya benar-benar tersadar dan tidak lagi punya harapan terhadap PKT. Saya ingin menjadi orang yang bersih. Kami sekeluarga bertiga memutuskan keluar dari Liga Pemuda Komunis.”
Seorang warga Tiongkok yang kini tinggal di Amerika Serikat dengan nama Li Shuai menulis dalam pernyataannya:
“Selama ini saya adalah orang yang sangat patriotik. Saya masih ingat, ketika pertama kali datang ke Amerika, saya merasa marah setiap kali teman sekelas dari Taiwan memperkenalkan diri bukan sebagai orang Tiongkok. Karena sejak kecil kami diajari untuk berterima kasih kepada para ‘pahlawan’ yang berkorban demi negara; kami percaya tanpa Partai tidak akan ada kehidupan baru seperti sekarang. Selama 30 tahun saya tidak pernah goyah dengan keyakinan itu.
Namun dengan perkembangan teknologi, kini informasi tidak bisa sepenuhnya diblokir, terutama di luar negeri. Banyak kebusukan yang mereka sembunyikan mulai terungkap. Terutama kali ini, kasus Yu Menglong membuat saya tidak bisa tenang untuk waktu lama.”
Li Shuai melanjutkan:
“Saya mencoba bersuara di internet, tapi semua postingan saya dihapus tanpa alasan. Mereka menindas dan mengendalikan pikiran rakyat; siapa pun yang mereka ingin binasakan, akan binasa. Apakah ini masih negara yang saya cintai? Saya sangat sedih! Sekelompok iblis sedang menguasai negeri saya! Saya ingin keluar dari organisasi jahat ini! Saya memang tidak bergabung dengan Partai, tetapi saya akan melakukan dua pengunduran diri — keluar dari Pionir Muda dan Liga Pemuda Komunis.”

Media Taiwan Ramai Memberitakan Kasus Yu Menglong dan Gelombang “Tiga Pengunduran Diri” di Tiongkok
Kasus Yu Menglong juga mendapat perhatian luas di Taiwan, terutama karena guru sekaligus mentornya, Sun Derong, berada di Taiwan dan terus bersuara lantang. Tindakan Sun mendorong berbagai media Taiwan untuk menindaklanjuti dan melaporkan kasus ini.
Dalam beberapa hari terakhir, media Taiwan gencar memberitakan bahwa peristiwa kematian Yu Menglong telah memicu gelombang besar pengunduran diri warga Tiongkok dari Partai Komunis dan organisasi afiliasinya.
Media tersebut juga mengutip data dari situs “Pengunduran Diri dari PKT” oleh Epoch Times, yang menunjukkan bahwa lebih dari 450 juta orang Tiongkok telah menyatakan keluar dari Partai, Liga Pemuda, dan Pionir Muda.
Media-media Taiwan seperti Sanli (SETN), ETtoday (Dongsen), Formosa TV (Minshi), Newtalk, dan Zaoka turut menurunkan laporan berturut-turut dengan judul-judul berikut:
- “PKT Menutupi Kabar Kematian Yu Menglong, Malah Memicu Gelombang Besar ‘Tiga Pengunduran Diri’! Lebih dari 450 Juta Orang Mengajukan Diri Keluar dari Partai Komunis”
- “Yu Menglong Diduga Diperkosa dan Dibunuh — Misteri yang Berlangsung Selama Sebulan! Lebih dari 450 Juta Warga Tiongkok Dinyatakan Ingin ‘Keluar dari Partai Komunis’”
- “Kematian Jatuh dari Gedung Yu Menglong Masih Misterius Setelah Lebih dari Sebulan! Warga Tiongkok Ramai-Ramai Menyatakan Keluar dari Partai Komunis: Di Mana Keamanan Kami?”
- “Penyebab Kematian Yu Menglong Penuh Kejanggalan — Terungkap Gelombang ‘Keluar dari Partai Komunis’, Warga Tak Dapat Kebenaran Malah Ditangkap”
- “Kasus Yu Menglong Picu Gelombang ‘Tiga Pengunduran Diri’ — Pakar Ungkap Kebenaran di Balik Sistem ‘Manusia Memakan Manusia’ Ala PKT: Jika Tak Sadar, Tragedi Akan Terulang”
Media-media tersebut secara serentak menyoroti bahwa tindakan keras rezim Tiongkok dalam menutupi kasus Yu Menglong justru mempercepat kesadaran rakyat dan memicu ledakan besar gerakan “tiga pengunduran diri” dari Partai Komunis Tiongkok dan organisasi afiliasinya.
Ketua Pusat Layanan Global Pengunduran Diri dari Partai Komunis, Wang Zhiyuan, mengatakan kepada Epoch Times bahwa melalui kasus Yu Menglong, masyarakat Taiwan dapat melihat dengan jelas sifat sebenarnya dari Partai Komunis Tiongkok (PKT). Ia menilai hal ini menunjukkan bahwa strategi “front persatuan” yang selama bertahun-tahun dijalankan oleh PKT telah gagal total.
Sementara itu, Zhou Junhong, mantan pengacara dari Shenzhen, Tiongkok, mengatakan kepada Epoch Times bahwa Partai Komunis kini terjebak dalam situasi terpojok dari segala arah.
“Baik di dalam negeri maupun di dunia internasional, PKT telah kehilangan hati rakyat,” ujarnya.
Analisis: Rakyat Tiongkok Menyelamatkan Diri Lewat “Tiga Pengunduran Diri”, Kekuasaan PKT di Ambang Runtuh
Wang Zhiyuan menyatakan bahwa melalui kasus Yu Menglong, rakyat Tiongkok semakin melihat dengan jelas korupsi dan kejahatan Partai Komunis Tiongkok (PKT).
Banyak warga yang dulu masih memiliki harapan terhadap partai itu kini telah sadar, termasuk para “xiaofenhong” (kaum muda pro-PKT). Menurut Wang, ini menunjukkan bahwa rakyat Tiongkok sedang mencari pembebasan spiritual. Fenomena tersebut menandakan bahwa di Tiongkok — baik dari aspek spiritual, sosial, maupun ekonomi — kekuasaan PKT sedang menuju kehancuran menyeluruh.
Wang menambahkan, gerakan “tiga pengunduran diri” (San Tui) kini menunjukkan perubahan mencolok. Dahulu, kebanyakan orang menggunakan nama samaran untuk menyatakan pengunduran diri mereka di internet.
Namun kini, semakin banyak warga yang berani mencantumkan nama asli secara terbuka. Terutama di luar negeri, dalam acara-acara publik yang mendapat sorotan media internasional, banyak orang yang secara resmi menerima sertifikat pengunduran diri dari PKT.
Wang juga menambahkan, Antara akhir April hingga awal Agustus saja, tercatat lebih dari 60 pemuda asal Tiongkok yang secara terbuka menerima sertifikat tersebut dalam sebuah pertemuan umum.
Sementara itu, Zhou Junhong berpendapat bahwa di Tiongkok saat ini tidak ada kebenaran dan keadilan. Menurutnya, hanya ketika semakin banyak rakyat Tiongkok sadar bahwa tirani PKT adalah sumber penderitaan dan tragedi nasional, lalu bangkit melawan, barulah muncul harapan bagi bangsa Tiongkok.
“Kini, dengan keluar dari partai, liga, dan pionir muda, serta memutuskan hubungan sepenuhnya dengan PKT, seseorang bisa benar-benar menyelamatkan dirinya. Ini adalah bentuk perlawanan dan kebangkitan diri. Hanya dengan memisahkan diri total dari Partai Komunis Tiongkok, kita sebagai orang Tiongkok bisa menjadi individu yang merdeka, bebas dari kendali iblis,” ujar Zhou.
Zhou menambahkan bahwa PKT menindas praktisi Falun Gong yang mendorong orang untuk keluar dari partai, serta mencemarkan nama Epoch Times, karena hal yang paling ditakuti oleh PKT adalah rakyat ingin meninggalkannya atau bahkan sekadar membicarakan hal itu.
“Partai Komunis bertahan dengan mengendalikan ideologi rakyat. Jika ia tak lagi bisa mengontrol pikiran orang, maka kejatuhannya adalah hal yang tak terelakkan,” katanya.
Sumber : Epochtimes.com
Peretas Rusia Serang Delapan Pangkalan Militer Inggris, Curi Dokumen Rahasia
EtIndonesia. Inggris telah meluncurkan penyelidikan atas serangan siber berskala besar yang memberi peretas akses ke data rahasia dari delapan pangkalan militer, lapor Daily Mirror.
Sebuah kelompok peretas Rusia yang terkait dengan Vladimir Putin membobol sistem Kementerian Pertahanan Inggris.
Para penyerang memperoleh akses ke:
- Dokumen internal;
- Daftar personel;
- Alamat email resmi;
- Informasi rahasia lainnya, beberapa di antaranya kemudian dipublikasikan di web gelap.
Serangan siber Rusia
Laporan menunjukkan bahwa peretas memasuki sistem melalui perusahaan kontraktor Dodd Group, yang menyediakan layanan untuk fasilitas militer. Kementerian Pertahanan Inggris menyebut insiden itu “katastrofik.” Para peretas berhasil menerobos sistem keamanan siber berlapis-lapis dan mengakses data terkait keamanan beberapa pangkalan militer.
Di antara lokasi yang ditargetkan adalah Pangkalan Udara Lakenheath di Suffolk, yang menampung jet tempur F-35 AS. Menurut media Inggris, pangkalan ini mungkin juga menyimpan senjata nuklir.
Pelanggaran tersebut kemungkinan melibatkan kelompok peretas Rusia, Lynx, yang sebelumnya terlibat dalam investigasi serupa.
Data pribadi anggota militer dan veteran, termasuk nama, detail perbankan, dan alamat, kemungkinan telah jatuh ke tangan para penyerang. Catatan penggajian berisi informasi sekitar 272.000 personel militer, menjadikan kebocoran ini salah satu yang terbesar dalam sejarah Kementerian Pertahanan Inggris.
Laporan sebelumnya meliput serangan siber yang mengganggu operasional di beberapa bandara Eropa. Serangan tersebut memengaruhi bandara di London, Brussel, dan Berlin.
Pada hari-hari menjelang pemilihan parlemen pada 3-4 Oktober, Republik Ceko mencatat peningkatan serangan siber dari Rusia.
Pada bulan Desember tahun lalu, peretas Rusia menargetkan registri negara bagian Kementerian Kehakiman Ukraina. Ini merupakan salah satu serangan siber terbesar sejak perang skala penuh dimulai. (yn)
“25.000 Warga Amerika Akan Tewas”: Trump Saat AS Menyerang ‘Kapal Selam Pengangkut Narkoba’
EtIndonesia. Presiden Donald Trump mengatakan pada hari Sabtu (18/10) bahwa Amerika Serikat akan memulangkan dua tersangka pengedar narkoba ke negara asal mereka, Ekuador dan Kolombia, setelah serangan militer terhadap “kapal selam penyelundup narkoba” mereka di Karibia yang menewaskan dua orang lainnya.
“Merupakan kehormatan besar bagi saya untuk menghancurkan KAPAL SELAM PENGANGKUT NARKOBA yang sangat besar yang sedang berlayar menuju Amerika Serikat melalui rute transit perdagangan narkoba yang terkenal,” kata Trump di platform Truth Social-nya, menambahkan bahwa kapal tersebut memuat fentanil dan narkoba lainnya.
“Dua teroris tewas. Dua teroris yang selamat sedang dipulangkan ke negara asal mereka, Ekuador dan Kolombia, untuk ditahan dan diadili.”
📹 DESTROYED: Confirmed DRUG-CARRYING SUBMARINE navigating towards the United States on a well-known narcotrafficking transit route.
— The White House (@WhiteHouse) October 18, 2025
"Under my watch, the United States of America will not tolerate narcoterrorists trafficking illegal drugs, by land or by sea." – President Trump pic.twitter.com/N4TAkgPHXN
Presiden Kolombia Gustavo Petro mengonfirmasi bahwa tersangka Kolombia telah dipulangkan.
“Kami senang dia masih hidup dan akan dituntut sesuai hukum,” ujar Petro di platform media sosial X.
Serangan yang diumumkan Trump pada hari Jumat itu merupakan yang terbaru dalam kampanye militer AS yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang menurutnya bertujuan untuk membendung aliran narkoba dari Amerika Latin ke Amerika Serikat.
Setidaknya enam kapal, sebagian besar speedboat, telah menjadi sasaran serangan AS di Karibia sejak September, dengan Venezuela diduga sebagai asal beberapa di antaranya.
Washington mengatakan kampanyenya memberikan pukulan telak terhadap perdagangan narkoba, tetapi tidak memberikan bukti bahwa orang-orang yang terbunuh—setidaknya 27 orang sejauh ini—adalah penyelundup narkoba.
Para ahli mengatakan pembunuhan singkat semacam itu ilegal, meskipun menargetkan pengedar narkotika yang telah dikonfirmasi.
Washington belum mengungkapkan titik keberangkatan kapal selam yang diduga sebagai penyelundup narkoba tersebut.
Kapal semi-submersible yang dibangun di galangan kapal hutan gelap telah bertahun-tahun digunakan untuk mengangkut kokain dari Amerika Selatan, khususnya Kolombia, ke Amerika Tengah atau Meksiko, biasanya melalui Samudra Pasifik. (yn)
Rudal Tomahawk Sangat Krusial — Trump: Rusia dan Ukraina Harus Segera Gencatan Senjata
EtIndonesia. Pada Jumat (17/10/2025), Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Gedung Putih selama lebih dari dua jam untuk membahas perang Rusia–Ukraina. Trump mengatakan suasana pertemuan tersebut sangat bersahabat, dan ia menyerukan agar pertempuran dihentikan dan perjanjian damai segera ditandatangani. Setelah kembali ke Florida pada hari yang sama, Trump kembali menegaskan melalui media bahwa kedua belah pihak harus segera melakukan gencatan senjata.
“Mereka harus segera melakukan gencatan senjata di sepanjang garis depan saat ini. Kalau tidak, situasinya akan menjadi sangat rumit, dan kalian tidak akan pernah bisa menyelesaikannya,” ujar Trump.
Pernyataan ini disampaikan Trump kepada media setelah ia naik pesawat Air Force One dan kembali ke Florida usai bertemu Zelensky.
Pada hari yang sama, Zelenskyy juga menyampaikan sikap Ukraina, yakni dua hal utama: pertama, perlu duduk bersama untuk berunding; kedua, harus ada gencatan senjata. Namun, ia menilai Presiden Rusia Vladimir Putin tidak berniat menghentikan perang, sehingga tekanan internasional terhadap Rusia harus terus dilakukan.
Mengenai keinginan Kiev untuk memperoleh rudal jelajah Tomahawk dari Amerika Serikat, Trump menunjukkan sikap yang sangat berhati-hati.
“Jika (persenjataan) ditingkatkan, itu bisa berarti perang meluas, dan banyak hal buruk bisa terjadi. Rudal Tomahawk adalah persoalan yang sangat serius,” ujar Trump.
Pada Sabtu (18 Oktober), Kanselir Jerman Friedrich Merz, saat berkunjung ke wilayah barat Jerman, mengatakan bahwa kunjungan Zelenskyy ke Gedung Putih menunjukkan bahwa Eropa harus mempercepat upaya mengakhiri perang Rusia–Ukraina. Ia mengungkapkan bahwa pada Jumat malam, ia telah melakukan pembicaraan panjang dengan Zelenskyy. Merz menegaskan, Eropa harus memberikan dukungan penuh kepada Ukraina — dari sisi ekonomi, politik, dan militer.
Sebelum pertemuan antara Trump dan Zelenskyy, pada Kamis (16 Oktober), Trump telah berbicara melalui telepon selama dua setengah jam dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Keduanya sepakat untuk mengadakan pertemuan tingkat tinggi antara para penasihat mereka pada pekan depan. Diperkirakan dalam beberapa minggu mendatang, Trump dan Putin akan menggelar pertemuan puncak di Budapest, Hungaria. (Hui/asr)
Laporan gabungan dari wartawan NTD: Qiu Yue dan Jiang Diya.
Pasien Hidup dengan Mayat, Perawat Wuhan: Jumlah Kematian Jauh Melebihi Laporan Resmi
EtIndonesia. Mantan perawat Rumah Sakit Ketiga Kota Wuhan, Zhang Yu, mengungkapkan bahwa selama masa wabah virus Komunis Tiongkok (COVID-19), jumlah kematian yang ia saksikan jauh melampaui angka resmi yang diumumkan pemerintah. Ia berharap rakyat Tiongkok dapat melihat dengan jelas betapa besar bahaya yang dibawa Partai Komunis Tiongkok (PKT) bagi masyarakat.
Zhang Yu mulai bekerja sebagai perawat sejak tahun 2014 di Rumah Sakit Ketiga Wuhan. Setelah melihat bagaimana rezim komunis mengabaikan nyawa rakyat selama pandemi, ia akhirnya menyadari sifat sejati PKT dan mengundurkan diri pada April 2015.
Ia mengenang bahwa dari Januari hingga Maret 2020, seluruh sepuluh lantai gedung rumah sakit dibuka untuk pasien COVID-19, dan setiap lantai menampung hampir 40 pasien.
“Setiap shift kami bekerja selama delapan jam, dan di lantai kami saja, setiap giliran kerja ada sekitar 4 hingga 5 pasien meninggal dunia,” ujarnya.
Menurutnya, tiga lantai rumah sakit khusus menampung pasien COVID-19 dalam kondisi berat, masing-masing berkapasitas hampir 40 orang. Setiap tiga hari, seluruh pasien berganti karena meninggal, dan digantikan oleh pasien baru. Ia menambahkan bahwa di rumah sakit rujukan utama COVID-19 di Wuhan, dari 10 pasien hanya 1 atau 2 yang bisa diselamatkan.
Zhang Yu berkata lagi: “Setelah pasien meninggal, biasanya harus menunggu lebih dari 24 jam sebelum petugas krematorium datang menjemput. Jadi pasien yang masih hidup harus tinggal bersama jenazah di kamar yang sama selama satu atau dua hari.”
Menurut data resmi hingga 27 Maret 2020, jumlah kematian akibat virus di Wuhan adalah 2.535 orang, namun angka ini banyak diragukan oleh pihak luar.
Zhang Yu menggambarkan suasana di rumah sakit: “Bagian rawat jalan dan IGD saat itu seperti kiamat. Kursi di lorong-lorong penuh oleh pasien, yang tidak kebagian tempat duduk membawa papan kayu atau ranjang lipat sendiri dan tidur di berbagai sudut rumah sakit. Ada pasien yang baru saja masuk rumah sakit, beberapa saat kemudian sudah berteriak memanggil perawat karena tidak kuat lagi.”
Ia menuturkan, saat itu rumah sakit mensyaratkan hasil CT scan dan tes PCR positif secara bersamaan untuk memastikan diagnosis COVID-19. Namun, banyak pasien tidak diberi tes PCR dengan alasan alat tidak tersedia, dan akhirnya dicatat sebagai pneumonia biasa, bukan COVID-19.
Zhang Yu mengatakan: “Para pasien berpikir bahwa begitu masuk rumah sakit mereka akan diselamatkan. Padahal, itu hanya seperti pindah dari rumah ke penjara lain. Mereka hanya diberi obat-obatan yang tidak efektif, seolah-olah ada pengobatan, padahal itu hanya untuk menenangkan ketakutan mereka.”
Ia juga mengungkapkan bahwa selama pandemi, ia terpisah dari anaknya yang berusia dua tahun selama hampir setengah tahun tanpa bisa bertemu.
Zhang Yu berkata: “Mereka benar-benar tidak mengizinkan kami bertemu. Anak saya dikurung di rumah, saya dikurung di tempat kerja. Dengan dalih demi kebaikan kami, mereka justru membatasi kebebasan pribadi dan kebebasan berbicara.”
Ia dengan tegas menyatakan bahwa PKT adalah penipu sekaligus preman. Setelah tiba di Amerika Serikat pada Mei 2025, Zhang Yu mengumumkan pengunduran diri dari semua organisasi terkait PKT melalui situs Tuidang milik Epoch Times.
Zhang Yu menutup dengan mengatakan: “PKT telah lama mencuci otak rakyat, tetapi saya percaya sekarang mereka tidak lagi berhasil. Semakin banyak anak muda yang mulai sadar, bahkan generasi orang tua saya pun mulai terbangun. Jika kita bersatu, kekuatan kita akan besar. Kita harus seperti para pemuda dalam Gerakan Kertas Putih dan peristiwa Tiananmen — berani berdiri dan mengatakan ‘tidak’ kepada rezim itu.” (Hui/asr)
Laporan dari wartawan NTD, Li Yujie dan Li Xunzhen, di Los Angeles.
2 Tewas Saat Pesawat Kargo Tergelincir dari Landasan Pacu Bandara Hong Kong ke Laut
EtIndonesia. Sebuah pesawat kargo yang terbang dari Dubai tergelincir dari landasan pacu ke laut saat mendarat di Bandara Internasional Hong Kong pada Senin dini hari, kata operator bandara kota tersebut, sementara media lokal melaporkan kematian dua orang.
Foto-foto yang diambil setelah kecelakaan menunjukkan sebuah pesawat kargo Boeing 747 dengan livery AirACT sebagian terendam air di dekat tanggul laut bandara dengan seluncur penyelamat dikerahkan dan bagian hidung serta ekor terpisah.
Empat awak pesawat diselamatkan, kata pihak bandara Hong Kong dalam sebuah pernyataan. Dua orang yang berada di dalam kendaraan darat di dekat landasan pacu yang diduga tertabrak pesawat tersebut telah tewas, South China Morning Post melaporkan, mengutip polisi.
Polisi tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Landasan pacu utara di bandara kargo tersibuk di dunia ditutup setelah insiden tersebut, kata Bandara Internasional Hong Kong, seraya menambahkan bahwa landasan pacu selatan dan tengah akan tetap beroperasi.
Kecelakaan itu terjadi sekitar pukul 03.50 waktu Hong Kong pada hari Senin.
Departemen Penerbangan Sipil Hong Kong mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Senin bahwa pesawat itu “menyimpang dari landasan pacu utara setelah mendarat dan jatuh ke laut.”
“Dua staf darat terdampak dan jatuh ke laut, dan kondisi mereka masih menunggu konfirmasi.”
Emirates mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa penerbangan EK9788 mengalami kerusakan saat mendarat di Hong Kong pada hari Senin dan merupakan pesawat kargo Boeing 747 yang disewa dari dan dioperasikan oleh ACT Airlines.
“Awak pesawat dipastikan selamat dan tidak ada kargo di dalamnya,” kata Emirates.
ACT Airlines adalah maskapai Turki yang menyediakan kapasitas kargo tambahan untuk maskapai-maskapai besar. Maskapai ini tidak segera menanggapi permintaan komentar di luar jam kerja normal.
Layanan pelacakan penerbangan FlightRadar24 mengatakan pesawat yang terlibat dalam kecelakaan itu berusia 32 tahun dan pernah beroperasi sebagai pesawat penumpang sebelum diubah menjadi pesawat kargo.
Departemen Penerbangan Sipil Hong Kong mengatakan pihaknya telah melaporkan insiden tersebut kepada Otoritas Investigasi Kecelakaan Udara kota dan akan mendukung penyelidikan tersebut.(yn)
Korut Melarang Keras Penggunaan Ponsel Tiongkok — Jika Ketahuan, Bisa Ditembak Mati
Baru-baru ini, sumber dari Korea Utara mengungkapkan bahwa rezim Pyongyang secara ketat melarang warga menggunakan ponsel merek Tiongkok, dengan alasan bahwa memiliki ponsel Tiongkok dianggap sebagai tindakan mata-mata yang mengancam keamanan negara. Siapa pun yang ketahuan bisa dihukum mati dengan tembakan.
EtIndonesia. Menurut laporan media Korea Selatan Daily NK pada 15 Oktober, seorang sumber dari Provinsi Ryanggang, Korea Utara, mengatakan bahwa di kota perbatasan Hyesan, warga yang menggunakan ponsel Tiongkok kini hidup dalam ketakutan.
“Departemen Keamanan Negara tidak hanya memperketat pengawasan, tapi juga menyebut kemungkinan hukuman mati. Karena itu, warga tidak berani menyalakan ponsel mereka,” ujar sumber tersebut.
Sumber itu menjelaskan bahwa pada akhir September, Kementerian Keamanan Negara Korea Utara mengeluarkan perintah kepada dinas keamanan di wilayah perbatasan yang menyebutkan bahwa “memiliki ponsel Tiongkok adalah tindakan mata-mata yang mengancam keamanan nasional dan akan dihukum berat jika ditemukan.”
Instruksi tersebut juga menegaskan bahwa “tidak hanya orangnya yang diperiksa, tetapi juga asal-usul ponsel harus ditelusuri.”
Belakangan, Departemen Keamanan Kota Hyesan meningkatkan frekuensi penggunaan alat pendeteksi sinyal untuk mencari pengguna ponsel Tiongkok. Mereka juga mengirim petugas untuk mengadakan kampanye edukasi, memperingatkan warga agar tidak menggunakan ponsel Tiongkok.
Petugas keamanan mengatakan bahwa memiliki ponsel Tiongkok dianggap sebagai kejahatan anti-negara yang merusak wibawa nasional dan mencoreng citra negara. Mereka mengancam,
“Siapa pun yang ketahuan menggunakan ponsel Tiongkok tidak hanya akan dihukum sendiri, tetapi keluarganya juga akan dikenai hukuman hukum. Jika kasusnya serius, mereka bisa ditembak mati.”
Sumber tersebut menggambarkan bahwa seluruh kota kini diselimuti ketakutan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Banyak orang yang mendengar tentang ancaman eksekusi memilih untuk menyembunyikan atau membuang ponsel mereka.
“Kota Hyesan sangat sunyi di malam hari. Tak ada yang berani menelepon. Mata-mata Departemen Keamanan seperti menyala-nyala. Semua orang takut melakukan kesalahan sedikit saja yang bisa membawa malapetaka.”
Situasi serupa juga terjadi di daerah perbatasan Provinsi Hamgyong Utara. Seorang sumber setempat mengatakan:
“Sekarang pengawasan terhadap penggunaan ponsel Tiongkok sangat ketat, jadi semua aktivitas dihentikan. Orang-orang bahkan tidak berani bernapas keras.”
Sumber itu menambahkan bahwa pihak keamanan meningkatkan patroli dan melakukan pemeriksaan mendadak di desa-desa penting.
“Sekarang pengawasan sangat ketat. Kalau ketahuan ada catatan panggilan atau kartu SIM asing, ponselnya akan disita, pemiliknya bisa dipenjara, bahkan diinterogasi.”
Ia mengatakan, “Menggunakan ponsel Tiongkok sekarang berarti mempertaruhkan nyawa — bahkan bisa menyeret keluarga ikut celaka. Dulu, ada yang dihukum penjara seumur hidup karena menggunakan ponsel Tiongkok, tapi hukuman mati jarang terjadi. Sekarang semua orang takut benar-benar akan ditembak mati.”
Di Korea Utara, banyak kegiatan penyelundupan, pengiriman uang dari luar negeri, bahkan informasi politik dan militer mengalir keluar melalui jaringan Tiongkok. Pemerintah Korea Utara menganggap hal itu sebagai tindakan pengkhianatan, dan terus melakukan penindakan keras.
Sejak pandemi COVID-19 (virus Komunis Tiongkok) pada 2020, rezim Kim Jong-un menutup perbatasan dengan alasan pencegahan wabah, sekaligus melakukan pembersihan besar-besaran terhadap perangkat komunikasi ilegal dan arus informasi asing.
Larangan terhadap ponsel Tiongkok ini memunculkan keraguan mengenai hubungan Korea Utara–Tiongkok. Pada 3 September, saat parade militer PKT di Beijing, Kim Jong-un, Xi Jinping, dan Vladimir Putin muncul bersama di balkon Tiananmen. Banyak pihak menyebut ketiganya sebagai “Poros Kejahatan Baru,” yang saling memanfaatkan tetapi juga saling waspada.
Faktanya, selama bertahun-tahun, pemerintah Korea Utara selalu berhati-hati terhadap rezim Beijing, bahkan menyebut PKT sebagai “musuh turun-temurun.”
Pada tahun 2018, Daily NK melaporkan bahwa pemerintah Korea Utara melarang penjualan produk buatan Tiongkok. Seorang sumber kala itu mengatakan:
“Selain produk industri, semua barang makanan dan elektronik dari Tiongkok dilarang dijual. Karena keputusan itu diumumkan secara tiba-tiba, banyak pedagang yang biasanya menjual produk Tiongkok menjadi kebingungan.”
Mantan Wakil Direktur Badan Intelijen Nasional Korea Selatan, Han Ki-bum, pernah mengungkap bahwa pada tahun 2015, Kim Jong-un mengatakan: “Amerika dan Jepang adalah musuh seratus tahun Korea Utara, tetapi Partai Komunis Tiongkok adalah musuh selama lima ribu tahun.” (Hui/asr)
Laporan gabungan oleh Luo Tingting / Wen Hui
