Kasus Kematian Yu Menglong Memicu Gelombang Pengunduran Diri dari Partai Komunis Tiongkok, Jadi Sorotan Media Luar Negeri

oleh Ning Haizhong dan Luo Ya

EtIndonesia — Lebih dari sebulan sejak aktor Tiongkok Yu Menglong meninggal dunia akibat jatuh dari gedung, namun seruan masyarakat di dalam dan luar negeri untuk menuntut keadilan baginya tak kunjung mereda. 

Peristiwa ini bahkan memicu gelombang baru warga Tiongkok, baik di dalam negeri maupun yang tinggal di luar negeri, yang mengumumkan pengunduran diri mereka dari Partai Komunis Tiongkok (PKT), Liga Pemuda Komunis, dan Pionir Muda — sebuah gerakan yang dikenal sebagai “tiga pengunduran diri” (San Tui). 

Fenomena ini tidak hanya menarik perhatian para pengamat internasional, tetapi juga menjadi topik hangat di berbagai media di luar negeri seperti di Taiwan.

Drama terakhir yang dilakoni Yu Menglong berjudul Feud

Kasus Yu Menglong Penuh Misteri, Warga Tiongkok di Dalam dan Luar Negeri Sadar dan Bergabung Dalam Gerakan “Tiga Pengunduran Diri”

Aktor daratan Tiongkok Yu Menglong, berusia 37 tahun, meninggal dunia secara misterius pada 11 September 2025 setelah “jatuh dari gedung.” Meskipun kepolisian dengan cepat menyingkirkan kemungkinan tindak pidana serta menangkap orang yang mengunggah komentar, menghapus ulasan, dan secara ketat menyensor semua opini publik terkait, namun kecurigaan masyarakat tidak mereda.

Berbagai kabar di masyarakat menyebut bahwa Yu Menglong diduga menjadi korban pembalasan karena menolak “aturan tak tertulis” para penguasa di dunia hiburan. 

Bahkan beredar kabar bahwa pelaku pembunuhan merupakan anak tidak sah dari seorang pemimpin tinggi PKT, sehingga membuat otoritas menutup-nutupi dan melarang keras pemberitaan mengenai kasus kematian Yu Menglong. 

Belakangan ini, semakin banyak pula skandal gelap di bawah rezim PKT yang mulai terbongkar.

Pada 20 September, seorang warganet meluncurkan petisi global bertajuk “Tegakkan Keadilan bagi Yu Menglong” melalui organisasi non-pemerintah AVAAZ. Hingga pukul 22.00 malam waktu Beijing pada 15 Oktober, sebanyak 401.807 orang telah menandatangani petisi tersebut sebagai bentuk dukungan.

Sementara itu, misteri dan kecurigaan di balik kematian Yu Menglong juga memicu gelombang kesadaran di kalangan rakyat Tiongkok. 

Banyak warga setelah terkejut dan sadar akan kebenaran yang disembunyikan, mulai menyatakan pengunduran diri dari Partai Komunis Tiongkok (PKT), Liga Pemuda, dan Pionir Muda melalui situs “Pengunduran Diri dari PKT” di luar negeri.

Dalam kurun waktu hampir sebulan, situs pengunduran diri Epoch Times menerima banyak pernyataan “Tiga Pengunduran Diri (三退)” yang secara eksplisit menyebutkan bahwa keputusan mereka dipicu oleh kasus Yu Menglong.

Pada 11 September 2025, aktor Tiongkok daratan Yu Menglong jatuh hingga tewas di kompleks hunian Sunshine Upper East, Beijing. (Gambar: Tangkapan layar daring)

Salah satunya datang dari Zhang Qisheng, warga Nanyang, Provinsi Henan, yang menulis dalam pernyataannya yang diterjemahkan :

“Saya baru berusia 22 tahun. Setelah berhasil menembus tembok sensor internet, saya melihat begitu banyak kejahatan yang ditutupi PKT—perbuatan yang membuat manusia dan dewa pun murka. Kasus Yu Menglong kali ini membuat rakyat menyadari betapa kejinya rezim yang menggunakan mesin negara untuk melindungi para pelaku kejahatan. Saya dengan ini mencabut semua sumpah yang pernah saya ucapkan kepada PKT, dan dengan tegas mengundurkan diri dari Pionir Muda, Liga Pemuda Komunis, dan Partai Komunis. Saya bersumpah untuk tidak pernah berdamai dengan PKT.”

Sementara itu, Li Fangfang, warga Tiongkok yang kini tinggal di Kanada, menulis:

“Akhir-akhir ini, fakta-fakta mengejutkan dari kasus Yu Menglong semakin membuka mata saya. Negara yang dikuasai PKT sekarang ini ibarat mesin penggiling daging raksasa — rakyat biasa hanyalah sumber organ dan komponen hidup bagi para penguasa merah, yang bisa dibuang kapan saja tanpa keamanan sedikit pun. Saya dengan tegas menyatakan mundur sepenuhnya dari Pionir Muda dan Liga Pemuda PKT! Saya berharap semakin banyak rakyat Tiongkok yang sadar dan bangkit.”

Pada 29 September, sebuah pernyataan dari dalam Tiongkok yang ditandatangani dengan nama “Saat Fajar Menyingsing” menyatakan:

“Pengorbanan Yu Menglong telah membangunkan orang-orang yang seharusnya sadar. Kami harus keluar dari Pionir Muda, keluar dari Liga Pemuda Komunis, dan keluar dari Partai Komunis. Kami tidak ingin lagi menjadi korban kaum penguasa merah. Saatnya fajar menyingsing—kembalikan keadilan bagi Yu Menglong!”

Yu Menglong di serial drama Eternal Love (2017)

Pada 7 Oktober, seseorang bernama Naixin Liang menulis dalam pernyataan “Tiga Pengunduran Diri”-nya:

“Saya bergabung dengan Pionir Muda saat SD dan masuk Liga Pemuda Komunis saat SMP. Dulu sering mendengar seruan untuk melakukan ‘tiga pengunduran diri’, tapi tidak pernah menganggapnya serius. Namun kali ini, karena kasus Yu Menglong, saya menyadari bahwa mereka benar-benar jahat melebihi bayangan saya, membalik seluruh pandangan hidup saya, membuat saya benar-benar sadar. Saya ingin keluar dari organisasi itu.”

Tiga orang lainnya, termasuk seseorang bernama Da Sheng, menyatakan dalam pernyataannya:

“Karena kasus Yu Menglong, saya benar-benar tersadar dan tidak lagi punya harapan terhadap PKT. Saya ingin menjadi orang yang bersih. Kami sekeluarga bertiga memutuskan keluar dari Liga Pemuda Komunis.”

Seorang warga Tiongkok yang kini tinggal di Amerika Serikat dengan nama Li Shuai menulis dalam pernyataannya:

“Selama ini saya adalah orang yang sangat patriotik. Saya masih ingat, ketika pertama kali datang ke Amerika, saya merasa marah setiap kali teman sekelas dari Taiwan memperkenalkan diri bukan sebagai orang Tiongkok. Karena sejak kecil kami diajari untuk berterima kasih kepada para ‘pahlawan’ yang berkorban demi negara; kami percaya tanpa Partai tidak akan ada kehidupan baru seperti sekarang. Selama 30 tahun saya tidak pernah goyah dengan keyakinan itu.

Namun dengan perkembangan teknologi, kini informasi tidak bisa sepenuhnya diblokir, terutama di luar negeri. Banyak kebusukan yang mereka sembunyikan mulai terungkap. Terutama kali ini, kasus Yu Menglong membuat saya tidak bisa tenang untuk waktu lama.”

Li Shuai melanjutkan:

“Saya mencoba bersuara di internet, tapi semua postingan saya dihapus tanpa alasan. Mereka menindas dan mengendalikan pikiran rakyat; siapa pun yang mereka ingin binasakan, akan binasa. Apakah ini masih negara yang saya cintai? Saya sangat sedih! Sekelompok iblis sedang menguasai negeri saya! Saya ingin keluar dari organisasi jahat ini! Saya memang tidak bergabung dengan Partai, tetapi saya akan melakukan dua pengunduran diri — keluar dari Pionir Muda dan Liga Pemuda Komunis.”

Media Taiwan secara luas memberitakan insiden Yu Menglong, menyerukan kepada warga Tiongkok untuk mundur dari Partai Komunis Tiongkok. (Gambar komposit The Epoch Times)

Media Taiwan Ramai Memberitakan Kasus Yu Menglong dan Gelombang “Tiga Pengunduran Diri” di Tiongkok

Kasus Yu Menglong juga mendapat perhatian luas di Taiwan, terutama karena guru sekaligus mentornya, Sun Derong, berada di Taiwan dan terus bersuara lantang. Tindakan Sun mendorong berbagai media Taiwan untuk menindaklanjuti dan melaporkan kasus ini.

Dalam beberapa hari terakhir, media Taiwan gencar memberitakan bahwa peristiwa kematian Yu Menglong telah memicu gelombang besar pengunduran diri warga Tiongkok dari Partai Komunis dan organisasi afiliasinya. 

Media tersebut juga mengutip data dari situs “Pengunduran Diri dari PKT” oleh  Epoch Times, yang menunjukkan bahwa lebih dari 450 juta orang Tiongkok telah menyatakan keluar dari Partai, Liga Pemuda, dan Pionir Muda.

Media-media Taiwan seperti Sanli (SETN), ETtoday (Dongsen), Formosa TV (Minshi), Newtalk, dan Zaoka turut menurunkan laporan berturut-turut dengan judul-judul berikut:

  • “PKT Menutupi Kabar Kematian Yu Menglong, Malah Memicu Gelombang Besar ‘Tiga Pengunduran Diri’! Lebih dari 450 Juta Orang Mengajukan Diri Keluar dari Partai Komunis”
  • “Yu Menglong Diduga Diperkosa dan Dibunuh — Misteri yang Berlangsung Selama Sebulan! Lebih dari 450 Juta Warga Tiongkok Dinyatakan Ingin ‘Keluar dari Partai Komunis’”
  • “Kematian Jatuh dari Gedung Yu Menglong Masih Misterius Setelah Lebih dari Sebulan! Warga Tiongkok Ramai-Ramai Menyatakan Keluar dari Partai Komunis: Di Mana Keamanan Kami?”
  • “Penyebab Kematian Yu Menglong Penuh Kejanggalan — Terungkap Gelombang ‘Keluar dari Partai Komunis’, Warga Tak Dapat Kebenaran Malah Ditangkap”
  • “Kasus Yu Menglong Picu Gelombang ‘Tiga Pengunduran Diri’ — Pakar Ungkap Kebenaran di Balik Sistem ‘Manusia Memakan Manusia’ Ala PKT: Jika Tak Sadar, Tragedi Akan Terulang”

Media-media tersebut secara serentak menyoroti bahwa tindakan keras rezim Tiongkok dalam menutupi kasus Yu Menglong justru mempercepat kesadaran rakyat dan memicu ledakan besar gerakan “tiga pengunduran diri” dari Partai Komunis Tiongkok dan organisasi afiliasinya.

Ketua Pusat Layanan Global Pengunduran Diri dari Partai Komunis, Wang Zhiyuan, mengatakan kepada Epoch Times bahwa melalui kasus Yu Menglong, masyarakat Taiwan dapat melihat dengan jelas sifat sebenarnya dari Partai Komunis Tiongkok (PKT). Ia menilai hal ini menunjukkan bahwa strategi “front persatuan” yang selama bertahun-tahun dijalankan oleh PKT telah gagal total.

Sementara itu, Zhou Junhong, mantan pengacara dari Shenzhen, Tiongkok, mengatakan kepada Epoch Times bahwa Partai Komunis kini terjebak dalam situasi terpojok dari segala arah. 

“Baik di dalam negeri maupun di dunia internasional, PKT telah kehilangan hati rakyat,” ujarnya.

Analisis: Rakyat Tiongkok Menyelamatkan Diri Lewat “Tiga Pengunduran Diri”, Kekuasaan PKT di Ambang Runtuh

Wang Zhiyuan menyatakan bahwa melalui kasus Yu Menglong, rakyat Tiongkok semakin melihat dengan jelas korupsi dan kejahatan Partai Komunis Tiongkok (PKT). 

Banyak warga yang dulu masih memiliki harapan terhadap partai itu kini telah sadar, termasuk para “xiaofenhong” (kaum muda pro-PKT). Menurut Wang, ini menunjukkan bahwa rakyat Tiongkok sedang mencari pembebasan spiritual. Fenomena tersebut menandakan bahwa di Tiongkok — baik dari aspek spiritual, sosial, maupun ekonomi — kekuasaan PKT sedang menuju kehancuran menyeluruh.

Wang menambahkan, gerakan “tiga pengunduran diri” (San Tui) kini menunjukkan perubahan mencolok. Dahulu, kebanyakan orang menggunakan nama samaran untuk menyatakan pengunduran diri mereka di internet. 

Namun kini, semakin banyak warga yang berani mencantumkan nama asli secara terbuka. Terutama di luar negeri, dalam acara-acara publik yang mendapat sorotan media internasional, banyak orang yang secara resmi menerima sertifikat pengunduran diri dari PKT. 

Wang juga menambahkan, Antara akhir April hingga awal Agustus saja, tercatat lebih dari 60 pemuda asal Tiongkok yang secara terbuka menerima sertifikat tersebut dalam sebuah pertemuan umum.

Sementara itu, Zhou Junhong berpendapat bahwa di Tiongkok saat ini tidak ada kebenaran dan keadilan. Menurutnya, hanya ketika semakin banyak rakyat Tiongkok sadar bahwa tirani PKT adalah sumber penderitaan dan tragedi nasional, lalu bangkit melawan, barulah muncul harapan bagi bangsa Tiongkok.

“Kini, dengan keluar dari partai, liga, dan pionir muda, serta memutuskan hubungan sepenuhnya dengan PKT, seseorang bisa benar-benar menyelamatkan dirinya. Ini adalah bentuk perlawanan dan kebangkitan diri. Hanya dengan memisahkan diri total dari Partai Komunis Tiongkok, kita sebagai orang Tiongkok bisa menjadi individu yang merdeka, bebas dari kendali iblis,” ujar Zhou.

Zhou menambahkan bahwa PKT menindas praktisi Falun Gong yang mendorong orang untuk keluar dari partai, serta mencemarkan nama Epoch Times, karena hal yang paling ditakuti oleh PKT adalah rakyat ingin meninggalkannya atau bahkan sekadar membicarakan hal itu.

“Partai Komunis bertahan dengan mengendalikan ideologi rakyat. Jika ia tak lagi bisa mengontrol pikiran orang, maka kejatuhannya adalah hal yang tak terelakkan,” katanya.

Sumber : Epochtimes.com

Nasihat Hidup: Bertemanlah Sebanyak Mungkin dengan Orang yang Memiliki Keluarga Bahagia

EtIndonesia. Memilih teman berarti memilih takdirmu sendiri.

Di situs Zhihu, ada sebuah pertanyaan: “Mengapa banyak orang mengatakan, sebaiknya kita berteman dengan orang yang keluarganya bahagia?”

Jawaban yang paling disukai adalah: “Dulu waktu sekolah aku pikir keluarga itu tidak penting. Sekarang aku paham, teman yang keluarganya bahagia tidak akan iri ketika aku membeli mobil atau rumah, tidak akan menertawakan kebahagiaanku seolah aku sedang pamer.”

Sepanjang hidup, kita akan mengenal banyak orang. Namun, teman yang salah hanya akan menguras tenaga dan membuat hati lelah, sementara teman yang tepat justru memberi energi, ketenangan, dan arah hidup.

Jadi, pada akhirnya — memilih teman sama dengan memilih masa depanmu sendiri. Dan jika bisa, bertemanlah dengan orang yang keluarganya bahagia.

01. Orang dengan keluarga bahagia, selalu hangat dan menyembuhkan

Penulis Liu Zhenyun pernah berkata: “Bergaullah dengan orang yang darinya kamu bisa mendapat kehangatan dan pelajaran.”

Putri sastrawan Qian Zhongshu dan Yang Jiang, yaitu Qian Yuan, adalah salah satu contohnya.

Saat berusia 10 tahun, dia pulang bersama orangtuanya ke rumah keluarga besar. Ketika anak-anak lain asyik bermain di halaman, Qian Yuan justru menemani kakeknya di dalam rumah — membetulkan selimutnya, duduk tenang di sisi ranjang sambil membaca buku.

Ketika dewasa, dia menjadi sosok yang ramah dan disukai banyak orang. Murid-muridnya sering menjadikannya tempat curhat. Bahkan ketika sudah lelah sepulang kerja, setiap kali ada murid yang menelepon — entah untuk bertanya pelajaran atau sekadar curhat — dia akan mendengarkan dengan sabar.

Seorang muridnya bahkan pernah berkata : “Andai saja ibuku bisa sebaik Guru Qian Yuan.”

Ketika Qian Yuan sakit dan dirawat di rumah sakit, teman, kolega, dan murid-muridnya datang silih berganti menjenguk; kamar rawatannya penuh bunga setiap hari.

Kekuatan penyembuhan yang dia miliki tidak lahir begitu saja — melainkan tumbuh dari kasih sayang dan kehangatan keluarga yang ia rasakan sejak kecil.

Sejak lahir, walau banyak orang mengatakan dia tidak cantik, ayahnya justru selalu memujinya di depan semua orang, seolah dia harta berharga. Dia tumbuh dalam rumah yang penuh cinta: di musim dingin keluarga mereka makan sup ayam asin kesukaan bersama, di musim panas sore-sore ia bermain membuat wajah lucu bersama sang ayah.

Dalam kenangannya, orangtuanya tidak pernah bertengkar. Selalu saling menghormati dan penuh kasih.

Dia pernah berkata dengan tulus : “Aku sangat berterima kasih pada Ayah dan Ibu. Karena kalian saling mencintai, aku tumbuh sebagai anak yang bahagia.”

Anak yang dibesarkan dengan cinta, akan membawa energi positif dan kehangatan bagi dunia. Mereka optimis, perhatian, dan mampu membuat orang di sekitarnya merasa nyaman — seperti matahari kecil yang selalu menyinari.

Karena mereka tahu bagaimana rasanya dicintai, mereka juga tahu bagaimana cara menyayangi orang lain.

Jadi, bergaullah lebih banyak dengan orang yang keluarganya bahagia. Energi mereka menular — dan sinar dari hati mereka akan memantulkan cahaya ke hidupmu juga.

02. Orang dengan keluarga bahagia, emosinya stabil dan mudah diajak hidup berdampingan

Pernahkah kamu memperhatikan bahwa orang yang berasal dari keluarga bahagia selalu punya aura tenang? Mereka stabil, tidak mudah marah, dan membuat siapa pun merasa nyaman saat bersamanya.

Seorang netizen bernama @Acha pernah berbagi pengalaman: Dia dan temannya sedang hendak naik pesawat, tapi secara tak sengaja dia kehilangan tiket keduanya.

Dia panik dan meminta maaf berulang kali. Tapi sang teman hanya tersenyum dan berkata: “Tidak apa-apa. Kamu tidak sengaja. Waktunya masih cukup, yuk kita cari cara buat ganti tiket dulu.”

Saat itu Acha hampir menangis. Dia teringat masa kecilnya — bagaimana orangtuanya sering memarahinya saat berbuat salah.  Tapi kali ini, ada seseorang yang menenangkannya, bukan menyalahkan.

Temannya lalu bercerita bahwa dulu dia juga pernah kehilangan koper keluarga saat berlibur. Tapi bukannya dimarahi, orangtuanya malah berkata: “Tidak apa-apa. Yang penting kita bersama.”

 Mereka pun membeli baju baru di kota itu dan tetap menikmati liburan dengan gembira.

Ayahnya sering mengatakan : “Yang penting adalah mencari solusi, bukan mencari siapa yang salah.”

Dan sejak saat itu, Acha menyadari — orang yang tumbuh di keluarga penuh kasih tidak akan menghakimi, tapi akan menenangkan.

Karena mereka tahu, setiap orang bisa salah, tapi kasih sayang harus tetap lebih besar dari kesalahan. Dengan orang seperti ini, kamu akan merasa aman dan damai.

Bersama mereka, kamu tidak takut gagal — karena kamu tahu, mereka akan menggandeng tanganmu dan berkata: “Tidak apa, kita cari jalan keluarnya bersama.”

03. Orang dengan keluarga bahagia membawa keyakinan hidup yang positif

Setiap orang memancarkan energi.  Dan tingkat energi itu menentukan kualitas hidup kita.

Orang yang berasal dari keluarga bahagia biasanya memiliki energi positif yang kuat. Mereka hangat, berpikir jernih, punya keyakinan hidup yang teguh, dan tanpa sadar menularkan semangat itu ke sekitarnya.

Dalam drama “Kisah Mawar”, tokoh Su Gengsheng adalah wanita sukses yang sejak kecil terluka oleh keluarganya sendiri. Dia tumbuh menjadi dingin, tertutup, dan penuh pertahanan.
Tampak kuat di luar, tapi rapuh di dalam.

Berbeda dengan sahabatnya, Huang Yimei, yang lahir dalam keluarga penuh cinta. Orangtuanya harmonis, penuh kasih, jarang bertengkar. Sejak kecil, mereka selalu mendukung anaknya dalam hal apapun — baik sekolah, pekerjaan, maupun cinta.

Karena dibesarkan dalam cinta tanpa syarat, Huang Yimei tumbuh menjadi sosok ceria, percaya diri, dan berani mencintai maupun dicintai.

Pertemuan dua karakter ini mengubah hidup Su Gengsheng. Ketika dia menangis di tengah tekanan keluarga, Yimei memeluknya, menenangkan, dan bahkan membawanya makan bakpao kecil kesukaannya.

Sedikit demi sedikit, Su Gengsheng belajar membuka hati. Dia belajar mengekspresikan perasaan, belajar percaya, dan akhirnya — belajar mencintai.  Pada akhirnya, dia berani menerima cinta dan menemukan kebahagiaannya sendiri.

Kita bisa melihat bahwa orang yang berasal dari keluarga bahagia seperti cermin kehidupan.
Mereka menunjukkan bahwa cinta sejati dan stabil memang ada.  Bahwa kebahagiaan bukan khayalan — dan kamu pun layak memilikinya.

Mereka memancarkan cahaya yang bisa menuntunmu keluar dari bayangan masa lalu. Bersama mereka, kamu belajar kembali mencintai hidup.

04. Penutup: Pilih Teman, Pilih Masa Depan

Ada kalimat indah yang berkata: “Teman adalah keluarga yang kita pilih sendiri.”

Kita memang tidak bisa memilih keluarga tempat kita dilahirkan, tetapi setiap pertemanan di masa dewasa adalah pilihan sadar atas takdir kita sendiri.

Teman yang berasal dari keluarga bahagia akan memberimu lebih dari sekadar kenyamanan sesaat —  mereka memberi cahaya, arah, dan kekuatan untuk tumbuh.

Maka, semoga sisa hidup kita dikelilingi oleh orang-orang yang layak kita sebut “keluarga pilihan”. Orang-orang yang membawa kedamaian, bukan drama; kehangatan, bukan beban.

Ikuti cahaya, dekati cahaya — dan pada akhirnya, jadilah cahaya itu sendiri.(jhn/yn)

Ketika Temanmu Semakin Sedikit, Mungkin Karena Kamu Sedang Diam-diam Menjadi Lebih Baik

EtIndonesia. Apakah kamu pernah mengalami masa di mana satu per satu teman di sekitarmu pergi, hingga kamu merasa bingung, kecewa, bahkan mulai meragukan diri sendiri? Sebenarnya, kamu tak perlu khawatir — itu justru tanda bahwa kamu sedang diam-diam tumbuh menjadi lebih baik.

Seperti kata Profesor Luo Xiang: “Semakin tinggi kamu melangkah, semakin sedikit teman yang akan bersamamu. Sebab, orang yang mau naik ke atas selalu sedikit.”

Harimau berjalan sendirian, sementara sapi dan domba berkelompok.  Kesepian adalah jalan yang harus ditempuh oleh mereka yang kuat.

01. Kesepian: Jalan Menuju Kekuatan

Dalam hidup, selalu ada orang yang takut diasingkan dan takut ditolak. Mereka memaksa diri untuk masuk ke dalam lingkaran yang sebenarnya tidak mereka sukai — berbicara dengan canggung, bertingkah bukan seperti diri sendiri, hanya demi mendapatkan “persahabatan murah”.

Ada pula orang yang salah paham dengan pepatah “banyak teman, banyak jalan”, lalu menghabiskan waktu dan energi untuk membina relasi, menjilat sana-sini, menyanjung orang lain, seolah hubungan baik bisa dibeli lewat segelas minuman.

Padahal, pertemanan yang tidak tulus justru menguras energi, bukan menambah nilai. Mengorbankan diri demi diterima orang lain tidak akan membuatmu punya teman sejati. Hidup tidak pernah diukur dari seberapa banyak teman yang kamu punya, tapi seberapa tulus kamu hidup sebagai dirimu sendiri.

Kesadaran diri dimulai ketika seseorang berani menjauh dari pergaulan dangkal.

Penulis Li Shanglong pernah bercerita, saat baru mulai bekerja, dia sering ikut pesta hanya untuk cepat diterima di kelompoknya. Setiap malam dia duduk di meja minum, mendengar orang lain membanggakan diri, membicarakan baju mahal, atau kenalan dengan bos besar. Kadang dia ikut tertawa, bahkan ikut melontarkan lelucon kasar — padahal hatinya kosong.
Dia merasa punya banyak teman, sampai suatu malam dia mabuk berat, terbangun di tengah malam, menatap langit-langit gelap dan merasa hampa.

Naskah-naskah impiannya menumpuk di meja, berdebu, tak pernah disentuh tiga tahun lamanya Malam itu dia sadar: hidupnya berjalan ke arah yang salah.

Sejak hari itu, ia berhenti menghadiri pesta tanpa makna, fokus membaca dan menulis. Dia tumbuh, dan perlahan — perasaan hidup itu kembali. Tak lama kemudian, bukunya diterbitkan dan disambut hangat pembaca.

Dia berkata: “Temanku memang berkurang, tapi aku menjadi jauh lebih baik.”

Penulis Ma De juga berkata: “Jiwa seseorang hanya bisa menemukan kejernihan dan cahaya dalam kesendirian.”

Ketika kamu menjauh dari hiruk-pikuk dunia, kamu akan mulai mendengar suara hatimu yang paling jujur. Dan saat kamu tak lagi sibuk mencari teman, kamu justru punya waktu lebih untuk menumbuhkan dirimu sendiri.

Arsitek Wang Shu, peraih Penghargaan Pritzker 2012, pernah berkata: “Saya berterima kasih pada masa-masa kesepian. Karena kesepian, saya belajar menggambar. Karena menyendiri, saya bisa tenang berpikir — banyak inspirasi desain muncul dari masa itu.”

Kesepian adalah masa terbaik untuk menambah nilai diri.

Jadi, berhentilah mengejar hubungan palsu dan berhentilah memikirkan pandangan orang lain. Singkirkan pergaulan yang tak memberi nilai, dan gunakan waktumu untuk tumbuh. Ketika kamu fokus pada perkembangan diri, perubahan itu akan datang dengan sendirinya.

02. Ketika Jalanmu Berbeda, Persahabatan Pun Bisa Berakhir

Beberapa waktu lalu, teman masa kecilku menelepon. Katanya ingin berkunjung ke kota tempatku tinggal dan sekalian makan bersama. Aku senang sekali — terbayang masa-masa sekolah, bercanda, berjuang bersama.

Namun pertemuan itu ternyata tak seperti yang kubayangkan. Di meja makan, suasana terasa canggung. Satu pihak bicara tentang puisi dan perjalanan, pihak lain hanya membahas uang dan merek tas. Yang satu berbagi cerita tentang budaya dan pengalaman hidup, yang lain hanya sibuk dengan urusan anak dan pekerjaan rumah.

Ketika tahu bahwa di waktu luang aku suka membaca dan menulis, dia malah menertawakan : “Masih aja belajar? Nggak bosan?”

Kami berusaha mencari topik yang sama, tapi gagal. Dan di dalam hati, aku tahu: kami sudah berjalan di jalur yang berbeda.

Aku sempat sedih, tapi kemudian aku membaca kalimat dari guru Guo Chunlin yang membuatku tenang: “Kalau kamu berlari lebih cepat, wajar temanmu yang dulu akan tertinggal.”

Proses tumbuh dewasa selalu berarti perubahan lingkaran pergaulan. Ketika langkah tidak lagi seirama, jarak pun terbentuk.

Bukan karena kita jadi buruk atau sombong, tapi karena frekuensi hidup sudah berbeda.

Sejarah juga mencatat kisah Guan Ning dan Hua Xin, dua sahabat yang akhirnya berpisah. Guan Ning hidup sederhana, fokus belajar dan menjauh dari ambisi duniawi. Sementara Hua Xin terobsesi dengan kekayaan dan kekuasaan. Suatu hari mereka menemukan emas di ladang. Guan Ning tak peduli, tapi Hua Xin langsung memungutnya.

Lain kali, ketika mereka sedang belajar, lewatlah kereta mewah — Hua Xin langsung berhenti membaca untuk melihat, sementara Guan Ning tetap tenang. Akhirnya Guan Ning memutuskan persahabatan itu — peristiwa yang dikenal sebagai “memutus tikar persahabatan.”

Karena itu, tak perlu sedih jika suatu hari kamu merasa kehilangan beberapa teman. Pertumbuhan adalah proses mengucapkan selamat tinggal pada yang tak lagi sejalan — untuk memberi ruang bagi pertemuan dengan orang baru yang sefrekuensi.

“Hanya mereka yang seirama yang bisa saling menguatkan. Hanya mereka yang searah yang bisa berjalan bersama.”

Dan jangan lupa, ada pepatah Tiongkok kuno: “Musik yang indah, hanya sedikit orang yang mampu mengapresiasinya.” (Qu Gao He Gua)

Jalan menuju kesuksesan memang sepi. Jadi, kalau temanmu makin sedikit, jangan resah. Mungkin itu tandanya kamu sedang naik ke level kehidupan berikutnya.

03. Orang Cerdas Tahu Kapan Harus Memilih Sunyi

Penulis Su Cen berkata: “Tak perlu mengundang terlalu banyak orang masuk ke dalam hidupmu — mereka hanya akan membuat hidupmu sesak.”

Seperti pohon besar, kalau terlalu banyak cabang, batang utamanya tak akan tumbuh tinggi. Hanya dengan memangkas ranting yang berlebihan, pohon bisa menyalurkan energi untuk tumbuh kokoh.

Begitu pula dengan manusia — semakin baik seseorang, semakin sederhana lingkarannya Seorang pembawa acara terkenal di Tiongkok, yang dikenal di kalangan bisnis dan politik, ternyata hampir tak punya teman pribadi.

Di luar pekerjaannya, dia tak pernah menghadiri pesta atau makan malam. Dia menolak undangan dengan sopan, dan lebih memilih menggunakan waktu untuk meneliti tamu acaranya dan mengasah kemampuan profesionalnya.

Dia berkata : “Waktu saya saja belum cukup untuk bekerja. Dari mana sempat mengurus basa-basi?”

Teman yang sedikit bukan berarti kamu sombong, tapi karena kamu sudah lebih sadar arah hidupmu.

Sastrawan Qian Zhongshu juga dikenal dengan sikapnya yang lucu namun dingin.

 Ketika teman hendak merayakan ulang tahunnya dan bertanya tanggal lahirnya, dia menjawab: “Hari itu belum tiba.”

 Ketika ada tamu datang memberi salam tahun baru, dia menolak dari balik pintu sambil berkata:  “Terima kasih! Saya sibuk, silakan pulang.”

 Dan ketika seorang pembaca luar negeri ingin menemuinya, dia menjawab dengan humor:  “Kalau kamu makan telur yang enak, perlu kah kamu bertemu dengan ayam yang menelurkannya?”

Bagi Qian Zhongshu, waktu berbicara basa-basi dengan orang tak penting lebih baik dipakai untuk membaca, menulis, atau bersama keluarga.

Itulah kebijaksanaan hidup — menyaring yang tak perlu, dan memelihara yang benar-benar penting.

Di mana kamu menaruh waktumu, di sanalah bunga keberhasilan akan tumbuh.

Orang pintar tahu kapan harus mengurangi lingkaran sosial, agar hidupnya tak kehilangan fokus.

Penutup

Penulis Jia Pingwa dalam bukunya Zizai Duxing (Bebas Melangkah Sendiri) menulis: “Berpisah dengan teman lama, terkadang justru hal yang baik.”

Tidak semua orang pantas dijadikan teman, dan tidak semua pertemuan pantas dihadiri. Ketika kamu fokus pada tujuan hidupmu, kamu akan menemukan bahwa kesendirian bukan hukuman, melainkan kesempatan untuk menaikkan nilai dirimu sendiri.

Jadi, jangan takut pada kesepian. Kesepian bukan akhir, melainkan tangga menuju tahap kehidupan yang lebih tinggi. (jhn/yn)

Peretas Rusia Serang Delapan Pangkalan Militer Inggris, Curi Dokumen Rahasia

EtIndonesia. Inggris telah meluncurkan penyelidikan atas serangan siber berskala besar yang memberi peretas akses ke data rahasia dari delapan pangkalan militer, lapor Daily Mirror.

Sebuah kelompok peretas Rusia yang terkait dengan Vladimir Putin membobol sistem Kementerian Pertahanan Inggris.

Para penyerang memperoleh akses ke:

  • Dokumen internal;
  • Daftar personel;
  • Alamat email resmi;
  • Informasi rahasia lainnya, beberapa di antaranya kemudian dipublikasikan di web gelap.

Serangan siber Rusia

Laporan menunjukkan bahwa peretas memasuki sistem melalui perusahaan kontraktor Dodd Group, yang menyediakan layanan untuk fasilitas militer. Kementerian Pertahanan Inggris menyebut insiden itu “katastrofik.” Para peretas berhasil menerobos sistem keamanan siber berlapis-lapis dan mengakses data terkait keamanan beberapa pangkalan militer.

Di antara lokasi yang ditargetkan adalah Pangkalan Udara Lakenheath di Suffolk, yang menampung jet tempur F-35 AS. Menurut media Inggris, pangkalan ini mungkin juga menyimpan senjata nuklir.

Pelanggaran tersebut kemungkinan melibatkan kelompok peretas Rusia, Lynx, yang sebelumnya terlibat dalam investigasi serupa.

Data pribadi anggota militer dan veteran, termasuk nama, detail perbankan, dan alamat, kemungkinan telah jatuh ke tangan para penyerang. Catatan penggajian berisi informasi sekitar 272.000 personel militer, menjadikan kebocoran ini salah satu yang terbesar dalam sejarah Kementerian Pertahanan Inggris.

Laporan sebelumnya meliput serangan siber yang mengganggu operasional di beberapa bandara Eropa. Serangan tersebut memengaruhi bandara di London, Brussel, dan Berlin.

Pada hari-hari menjelang pemilihan parlemen pada 3-4 Oktober, Republik Ceko mencatat peningkatan serangan siber dari Rusia.

Pada bulan Desember tahun lalu, peretas Rusia menargetkan registri negara bagian Kementerian Kehakiman Ukraina. Ini merupakan salah satu serangan siber terbesar sejak perang skala penuh dimulai. (yn)

Kecanduan Ponsel Bisa Jadi Tanda Rendahnya Kemampuan Kognitif, Menurut Riset Terbaru

EtIndonesia. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kecanduan smartphone berkaitan erat dengan rendahnya harga diri serta kemampuan kognitif yang lemah.

Saat ini, hampir semua orang di negara maju memiliki ponsel pintar. Namun, banyak di antaranya mengalami “nomophobia” — ketakutan berlebihan ketika ponsel tidak berada di dekat mereka. Fenomena ini kini dianggap sebagai masalah sosial global.

Berbagai studi menunjukkan bahwa orang yang kecanduan ponsel cenderung merasa lebih kesepian, sulit mengendalikan diri, dan menunjukkan gejala seperti pengguna zat adiktif. Ketika penggunaan ponsel dibatasi, mereka bahkan bisa mengalami gejala “putus ponsel”, seperti gelisah, stres, atau kehilangan fokus.

Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan

Riset dilakukan oleh tiga peneliti asal Italia: Rosa Fabio, Alessia Stracuzzi, dan Riccardo Lo Faro, yang meneliti hubungan antara ketergantungan smartphone dengan kemampuan pengendalian diri — baik perilaku maupun kognitif.

Sebanyak 111 partisipan berusia antara 18 hingga 65 tahun terlibat. Sekitar 28% di antaranya adalah mahasiswa, sementara 78% adalah pekerja (data asli seperti dalam laporan). Data penggunaan ponsel mereka dikumpulkan melalui aplikasi “SocialStatsApp”, yang melacak durasi aktivitas di TikTok, Facebook, Instagram, dan WhatsApp.

Tingkat kecanduan diukur menggunakan skala Smartphone Addiction Scale – Short Version (SAS-SV), sedangkan kondisi psikologis partisipan dinilai melalui indeks kesehatan mental, skala ketakutan akan tertinggal (Fear of Missing Out / FOMO), dan skala prokrastinasi.

Tiga Tahap Eksperimen

Penelitian ini berlangsung dalam tiga tahap utama:

  1. Pra-uji (Baseline):
    Peneliti memantau penggunaan ponsel peserta untuk mengetahui kebiasaan awal mereka.
  2. Tahap eksperimen (Pembatasan):
    Peserta diminta hanya boleh menggunakan ponsel satu jam per hari selama tiga hari berturut-turut.
  3. Pascauji (Pemulihan):
    Selama tujuh hari berikutnya, peserta bebas menggunakan ponsel seperti biasa.

Sebelum dan sesudah tahap pembatasan, dilakukan pengukuran terhadap berbagai fungsi kognitif: memori kerja, perhatian, kendali eksekutif, waktu reaksi visual dan auditori, kemampuan menahan gerak refleks, dan kontrol perilaku.

Hasil yang Mengejutkan

Hasil penelitian menunjukkan:

  • Peserta dengan tingkat kecanduan ponsel tinggi lebih sering melanggar aturan selama eksperimen. Mereka tetap menghabiskan waktu lebih lama di layar, bahkan ketika diminta membatasi penggunaannya.
  • Mereka juga menunjukkan penurunan kinerja kognitif yang signifikan, termasuk:
    • Memori kerja yang lebih lemah
    • Waktu reaksi visual dan pendengaran yang lebih lambat
    • Kesulitan mengontrol gerakan impulsif
    • Daya fokus dan kontrol perilaku yang rendah
  • Selain itu, kelompok ini memiliki skor kesehatan mental yang lebih rendah,
    tetapi lebih tinggi dalam FOMO (takut tertinggal informasi) dan prokrastinasi (menunda-nunda pekerjaan).

Menurut para peneliti, temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kecanduan ponsel, semakin rendah kemampuan pengendalian diri seseorang. Ketidakmampuan mengatur diri ini berdampak pada menurunnya kinerja otak dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Sebaliknya, mereka yang tidak terlalu bergantung pada ponsel menunjukkan tingkat kesejahteraan mental yang lebih baik, lebih sedikit menunda pekerjaan, dan lebih jarang merasa takut tertinggal.

Catatan Menarik: Beberapa Peserta Tak Mampu Bertahan

Uniknya, beberapa peserta yang awalnya ikut penelitian memilih mundur setelah mendengar bahwa mereka harus membatasi penggunaan ponsel menjadi satu jam per hari selama tiga hari. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat kecanduan berat mungkin membuat seseorang tidak mampu lepas dari ponselnya, bahkan untuk waktu yang sangat singkat.

Kesimpulan: Kecanduan Ponsel Bukan Sekadar Kebiasaan, Tapi Masalah Kognitif

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah International Journal of Environmental Research and Public Health dengan judul:“Smartphone Misuse Leads to Behavioral and Cognitive Self-Control Deficits”
(“Penyalahgunaan Smartphone Menyebabkan Gangguan Pengendalian Diri Perilaku dan Kognitif”).

Temuan ini memperkuat pandangan bahwa kecanduan ponsel bukan sekadar masalah gaya hidup, tetapi juga terkait dengan fungsi otak dan psikologis manusia.

Ketika seseorang kehilangan kemampuan mengendalikan diri di dunia digital, dia juga perlahan kehilangan kemampuan mengendalikan pikirannya di dunia nyata.(jhn/yn)

“25.000 Warga Amerika Akan Tewas”: Trump Saat AS Menyerang ‘Kapal Selam Pengangkut Narkoba’

EtIndonesia. Presiden Donald Trump mengatakan pada hari Sabtu (18/10)  bahwa Amerika Serikat akan memulangkan dua tersangka pengedar narkoba ke negara asal mereka, Ekuador dan Kolombia, setelah serangan militer terhadap “kapal selam penyelundup narkoba” mereka di Karibia yang menewaskan dua orang lainnya.

“Merupakan kehormatan besar bagi saya untuk menghancurkan KAPAL SELAM PENGANGKUT NARKOBA yang sangat besar yang sedang berlayar menuju Amerika Serikat melalui rute transit perdagangan narkoba yang terkenal,” kata Trump di platform Truth Social-nya, menambahkan bahwa kapal tersebut memuat fentanil dan narkoba lainnya.

“Dua teroris tewas. Dua teroris yang selamat sedang dipulangkan ke negara asal mereka, Ekuador dan Kolombia, untuk ditahan dan diadili.”

Presiden Kolombia Gustavo Petro mengonfirmasi bahwa tersangka Kolombia telah dipulangkan.

“Kami senang dia masih hidup dan akan dituntut sesuai hukum,” ujar Petro di platform media sosial X.

Serangan yang diumumkan Trump pada hari Jumat itu merupakan yang terbaru dalam kampanye militer AS yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang menurutnya bertujuan untuk membendung aliran narkoba dari Amerika Latin ke Amerika Serikat.

Setidaknya enam kapal, sebagian besar speedboat, telah menjadi sasaran serangan AS di Karibia sejak September, dengan Venezuela diduga sebagai asal beberapa di antaranya.

Washington mengatakan kampanyenya memberikan pukulan telak terhadap perdagangan narkoba, tetapi tidak memberikan bukti bahwa orang-orang yang terbunuh—setidaknya 27 orang sejauh ini—adalah penyelundup narkoba.

Para ahli mengatakan pembunuhan singkat semacam itu ilegal, meskipun menargetkan pengedar narkotika yang telah dikonfirmasi.

Washington belum mengungkapkan titik keberangkatan kapal selam yang diduga sebagai penyelundup narkoba tersebut.

Kapal semi-submersible yang dibangun di galangan kapal hutan gelap telah bertahun-tahun digunakan untuk mengangkut kokain dari Amerika Selatan, khususnya Kolombia, ke Amerika Tengah atau Meksiko, biasanya melalui Samudra Pasifik. (yn)

Jika Seseorang Bersikap Kasar pada Keluarga Tapi Ramah pada Orang Lain, Bukan Karena Dia Tak Berbakti — Melainkan Karena Tiga Alasan Ini

EtIndonesia. Dalam hiruk pikuk kehidupan modern, kita semua menjalankan banyak peran: di luar rumah, kita berusaha tampil sopan, ramah, dan profesional; namun di rumah — tempat yang seharusnya paling hangat — justru banyak dari kita melampiaskan emosi dengan nada tinggi, sikap dingin, bahkan ketidaksabaran terhadap orang yang paling mencintai kita.

Pernahkah kamu memperhatikan hal ini?  Mengapa seseorang bisa begitu lembut di depan orang lain, tapi begitu keras pada keluarganya sendiri?

Sastrawan terkenal Mo Yan (莫言) pernah berkata dengan tajam: “Jika seseorang bersikap buruk pada keluarganya tapi sangat sopan pada orang luar, bukan berarti dia tidak berbakti — melainkan karena tiga alasan.”

Apa sebenarnya tiga alasan itu? Mari kita telusuri satu per satu.

1. Salah Menggunakan “Rasa Aman” dalam Keluarga

Rumah seharusnya menjadi tempat teraman untuk beristirahat, tempat kita bisa menjadi diri sendiri tanpa topeng.  Namun justru karena perasaan aman itu, banyak orang terlalu bebas melampiaskan emosi negatif kepada keluarga.

Kita merasa keluarga akan selalu memahami, selalu memaafkan — sehingga tanpa sadar menjadikan mereka “tempat pembuangan emosi.”

Di luar rumah, kita menahan diri: berbicara sopan, menampilkan senyum, menjaga citra. Tapi di rumah, kita menanggalkan semua kontrol itu — padahal rasa “nyaman” yang salah arah bisa menjadi racun bagi hubungan keluarga.

Rasa aman seharusnya menjadi dasar kasih sayang, bukan alasan untuk menyakiti mereka yang paling mencintai kita.

2. Peran dalam Keluarga yang Kabur

Di tempat kerja, seseorang bisa menjadi pemimpin yang tegas.  Namun ketika pulang ke rumah, ia sering tak tahu bagaimana menyesuaikan perannya.

Alih-alih menjadi ayah yang hangat, dia masih bersikap seperti bos; alih-alih menjadi pasangan yang lembut, dia membawa pulang sikap otoriter dari kantor.

Ketika peran pribadi dan peran profesional tidak bisa dipisahkan, maka keluarga pun menjadi korban. Kita memperlakukan orang rumah seperti bawahan — dengan perintah, bukan dengan perhatian. Sementara pada orang luar, kita justru menampilkan diri sebagai pribadi yang sopan dan penuh pengertian.

Masalahnya bukan pada niat, tetapi pada ketidakjelasan peran dan ketidakseimbangan antara “profesionalisme” dan “kemanusiaan”.

3. Kurangnya Komunikasi Emosional

Hubungan keluarga yang sehat tidak bisa bertahan tanpa komunikasi. Namun ironisnya, banyak orang menganggap bahwa keluarga tidak perlu bicara — “karena sudah saling mengerti.”

Padahal, diam bukan berarti paham, dan memahami seseorang tidak berarti berhenti mendengarkan.

Ketika emosi tidak pernah disalurkan dengan benar, mereka akan menumpuk hingga akhirnya meledak dalam bentuk kemarahan, ketidaksabaran, dan jarak emosional. Sementara dengan orang luar, kita justru menjaga komunikasi agar terlihat sopan dan menyenangkan.

Inilah mengapa banyak keluarga tampak harmonis di luar, namun di dalamnya menyimpan dingin yang tak terucap.

Keluarga yang tidak berbicara perlahan akan berhenti memahami. Hubungan yang tidak diungkapkan perlahan akan kehilangan rasa.

Bagaimana Memperbaiki: Belajar Membangun Ulang Kehangatan Keluarga

Mengetahui penyebabnya hanyalah langkah pertama — yang lebih penting adalah bagaimana mengubahnya.

01. Sadari bahwa rumah juga butuh “perawatan”.

Jangan jadikan keluarga sebagai tempat pelampiasan stres, tapi sebagai tempat berbagi ketenangan. Belajarlah menahan emosi, dan pilih kata-kata dengan kasih, karena luka dari mulut sering lebih dalam daripada yang terlihat.

02. Kembalikan keseimbangan peran.

Setelah keluar dari pintu kantor, lepaskan topeng profesionalmu. Di rumah, kamu bukan bos atau bawahan — kamu adalah anak, pasangan, atau orangtua. Keluarga tidak butuh ketegasanmu, mereka butuh kelembutanmu.

03. Perbanyak komunikasi emosional.

Luangkan waktu untuk berbicara dari hati ke hati, bukan sekadar soal pekerjaan atau rutinitas, tapi tentang perasaan. Mendengarkan tanpa menghakimi seringkali lebih menyembuhkan daripada seribu nasihat.

Penutup

Perkataan Mo Yan mengingatkan kita bahwa ketidaksabaran terhadap keluarga bukanlah tanda keburukan, tapi tanda kelelahan dan ketidaksadaran.  Namun, alasan tidak bisa menjadi pembenaran.

Keluarga adalah satu-satunya tempat di mana cinta sejati tidak menuntut balasan, tapi justru karena itu, dia paling mudah diabaikan.

Mari mulai hari ini, belajar menukar nada tinggi dengan kelembutan, mengganti acuh dengan perhatian, dan menggunakan cinta serta rasa hormat untuk merawat rumah — pelabuhan terakhir tempat kita selalu ingin kembali.

Karena ketika dunia menolakmu, keluarga adalah satu-satunya tempat yang masih membuka pintunya untukmu tanpa syarat. (jhn/yn)

Rudal Tomahawk Sangat Krusial — Trump: Rusia dan Ukraina Harus Segera Gencatan Senjata

EtIndonesia.  Pada Jumat (17/10/2025), Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Gedung Putih selama lebih dari dua jam untuk membahas perang Rusia–Ukraina. Trump mengatakan suasana pertemuan tersebut sangat bersahabat, dan ia menyerukan agar pertempuran dihentikan dan perjanjian damai segera ditandatangani. Setelah kembali ke Florida pada hari yang sama, Trump kembali menegaskan melalui media bahwa kedua belah pihak harus segera melakukan gencatan senjata.

“Mereka harus segera melakukan gencatan senjata di sepanjang garis depan saat ini. Kalau tidak, situasinya akan menjadi sangat rumit, dan kalian tidak akan pernah bisa menyelesaikannya,” ujar Trump. 

Pernyataan ini disampaikan Trump kepada media setelah ia naik pesawat Air Force One dan kembali ke Florida usai bertemu Zelensky.

Pada hari yang sama, Zelenskyy juga menyampaikan sikap Ukraina, yakni dua hal utama: pertama, perlu duduk bersama untuk berunding; kedua, harus ada gencatan senjata. Namun, ia menilai Presiden Rusia Vladimir Putin tidak berniat menghentikan perang, sehingga tekanan internasional terhadap Rusia harus terus dilakukan.

Mengenai keinginan Kiev untuk memperoleh rudal jelajah Tomahawk dari Amerika Serikat, Trump menunjukkan sikap yang sangat berhati-hati.

“Jika (persenjataan) ditingkatkan, itu bisa berarti perang meluas, dan banyak hal buruk bisa terjadi. Rudal Tomahawk adalah persoalan yang sangat serius,” ujar Trump.

Pada  Sabtu (18 Oktober), Kanselir Jerman Friedrich Merz, saat berkunjung ke wilayah barat Jerman, mengatakan bahwa kunjungan Zelenskyy ke Gedung Putih menunjukkan bahwa Eropa harus mempercepat upaya mengakhiri perang Rusia–Ukraina. Ia mengungkapkan bahwa pada Jumat malam, ia telah melakukan pembicaraan panjang dengan Zelenskyy. Merz menegaskan, Eropa harus memberikan dukungan penuh kepada Ukraina — dari sisi ekonomi, politik, dan militer.

Sebelum pertemuan antara Trump dan Zelenskyy, pada Kamis (16 Oktober), Trump telah berbicara melalui telepon selama dua setengah jam dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Keduanya sepakat untuk mengadakan pertemuan tingkat tinggi antara para penasihat mereka pada pekan depan. Diperkirakan dalam beberapa minggu mendatang, Trump dan Putin akan menggelar pertemuan puncak di Budapest, Hungaria. (Hui/asr)

Laporan gabungan dari wartawan NTD: Qiu Yue dan Jiang Diya.

Pasien Hidup dengan Mayat, Perawat Wuhan: Jumlah Kematian Jauh Melebihi Laporan Resmi 

EtIndonesia. Mantan perawat Rumah Sakit Ketiga Kota Wuhan, Zhang Yu, mengungkapkan bahwa selama masa wabah virus Komunis Tiongkok (COVID-19), jumlah kematian yang ia saksikan jauh melampaui angka resmi yang diumumkan pemerintah. Ia berharap rakyat Tiongkok dapat melihat dengan jelas betapa besar bahaya yang dibawa Partai Komunis Tiongkok (PKT) bagi masyarakat.

Zhang Yu mulai bekerja sebagai perawat sejak tahun 2014 di Rumah Sakit Ketiga Wuhan. Setelah melihat bagaimana rezim komunis mengabaikan nyawa rakyat selama pandemi, ia akhirnya menyadari sifat sejati PKT dan mengundurkan diri pada April 2015.

Ia mengenang bahwa dari Januari hingga Maret 2020, seluruh sepuluh lantai gedung rumah sakit dibuka untuk pasien COVID-19, dan setiap lantai menampung hampir 40 pasien.

“Setiap shift kami bekerja selama delapan jam, dan di lantai kami saja, setiap giliran kerja ada sekitar 4 hingga 5 pasien meninggal dunia,” ujarnya. 

Menurutnya, tiga lantai rumah sakit khusus menampung pasien COVID-19 dalam kondisi berat, masing-masing berkapasitas hampir 40 orang. Setiap tiga hari, seluruh pasien berganti karena meninggal, dan digantikan oleh pasien baru. Ia menambahkan bahwa di rumah sakit rujukan utama COVID-19 di Wuhan, dari 10 pasien hanya 1 atau 2 yang bisa diselamatkan.

Zhang Yu berkata lagi: “Setelah pasien meninggal, biasanya harus menunggu lebih dari 24 jam sebelum petugas krematorium datang menjemput. Jadi pasien yang masih hidup harus tinggal bersama jenazah di kamar yang sama selama satu atau dua hari.”

Menurut data resmi hingga 27 Maret 2020, jumlah kematian akibat virus di Wuhan adalah 2.535 orang, namun angka ini banyak diragukan oleh pihak luar.

Zhang Yu menggambarkan suasana di rumah sakit: “Bagian rawat jalan dan IGD saat itu seperti kiamat. Kursi di lorong-lorong penuh oleh pasien, yang tidak kebagian tempat duduk membawa papan kayu atau ranjang lipat sendiri dan tidur di berbagai sudut rumah sakit. Ada pasien yang baru saja masuk rumah sakit, beberapa saat kemudian sudah berteriak memanggil perawat karena tidak kuat lagi.”

Ia menuturkan, saat itu rumah sakit mensyaratkan hasil CT scan dan tes PCR positif secara bersamaan untuk memastikan diagnosis COVID-19. Namun, banyak pasien tidak diberi tes PCR dengan alasan alat tidak tersedia, dan akhirnya dicatat sebagai pneumonia biasa, bukan COVID-19.

Zhang Yu mengatakan: “Para pasien berpikir bahwa begitu masuk rumah sakit mereka akan diselamatkan. Padahal, itu hanya seperti pindah dari rumah ke penjara lain. Mereka hanya diberi obat-obatan yang tidak efektif, seolah-olah ada pengobatan, padahal itu hanya untuk menenangkan ketakutan mereka.”

Ia juga mengungkapkan bahwa selama pandemi, ia terpisah dari anaknya yang berusia dua tahun selama hampir setengah tahun tanpa bisa bertemu.

Zhang Yu berkata: “Mereka benar-benar tidak mengizinkan kami bertemu. Anak saya dikurung di rumah, saya dikurung di tempat kerja. Dengan dalih demi kebaikan kami, mereka justru membatasi kebebasan pribadi dan kebebasan berbicara.”

Ia dengan tegas menyatakan bahwa PKT adalah penipu sekaligus preman. Setelah tiba di Amerika Serikat pada Mei 2025, Zhang Yu mengumumkan pengunduran diri dari semua organisasi terkait PKT melalui situs Tuidang milik Epoch Times.

Zhang Yu menutup dengan mengatakan: “PKT telah lama mencuci otak rakyat, tetapi saya percaya sekarang mereka tidak lagi berhasil. Semakin banyak anak muda yang mulai sadar, bahkan generasi orang tua saya pun mulai terbangun. Jika kita bersatu, kekuatan kita akan besar. Kita harus seperti para pemuda dalam Gerakan Kertas Putih dan peristiwa Tiananmen — berani berdiri dan mengatakan ‘tidak’ kepada rezim itu.” (Hui/asr)

Laporan dari wartawan NTD, Li Yujie dan Li Xunzhen, di Los Angeles.

2 Tewas Saat Pesawat Kargo Tergelincir dari Landasan Pacu Bandara Hong Kong ke Laut

EtIndonesia. Sebuah pesawat kargo yang terbang dari Dubai tergelincir dari landasan pacu ke laut saat mendarat di Bandara Internasional Hong Kong pada Senin dini hari, kata operator bandara kota tersebut, sementara media lokal melaporkan kematian dua orang.

Foto-foto yang diambil setelah kecelakaan menunjukkan sebuah pesawat kargo Boeing 747 dengan livery AirACT sebagian terendam air di dekat tanggul laut bandara dengan seluncur penyelamat dikerahkan dan bagian hidung serta ekor terpisah.

Empat awak pesawat diselamatkan, kata pihak bandara Hong Kong dalam sebuah pernyataan. Dua orang yang berada di dalam kendaraan darat di dekat landasan pacu yang diduga tertabrak pesawat tersebut telah tewas, South China Morning Post melaporkan, mengutip polisi.

Polisi tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Landasan pacu utara di bandara kargo tersibuk di dunia ditutup setelah insiden tersebut, kata Bandara Internasional Hong Kong, seraya menambahkan bahwa landasan pacu selatan dan tengah akan tetap beroperasi.

Kecelakaan itu terjadi sekitar pukul 03.50 waktu Hong Kong pada hari Senin.

Departemen Penerbangan Sipil Hong Kong mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Senin bahwa pesawat itu “menyimpang dari landasan pacu utara setelah mendarat dan jatuh ke laut.”

“Dua staf darat terdampak dan jatuh ke laut, dan kondisi mereka masih menunggu konfirmasi.”

Emirates mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa penerbangan EK9788 mengalami kerusakan saat mendarat di Hong Kong pada hari Senin dan merupakan pesawat kargo Boeing 747 yang disewa dari dan dioperasikan oleh ACT Airlines.

“Awak pesawat dipastikan selamat dan tidak ada kargo di dalamnya,” kata Emirates.

ACT Airlines adalah maskapai Turki yang menyediakan kapasitas kargo tambahan untuk maskapai-maskapai besar. Maskapai ini tidak segera menanggapi permintaan komentar di luar jam kerja normal.

Layanan pelacakan penerbangan FlightRadar24 mengatakan pesawat yang terlibat dalam kecelakaan itu berusia 32 tahun dan pernah beroperasi sebagai pesawat penumpang sebelum diubah menjadi pesawat kargo.

Departemen Penerbangan Sipil Hong Kong mengatakan pihaknya telah melaporkan insiden tersebut kepada Otoritas Investigasi Kecelakaan Udara kota dan akan mendukung penyelidikan tersebut.(yn)

Pengungkapan Guru dengan 30 Tahun Pengalaman: Lebih Baik Anak Nilainya Jelek, Asal Jangan Terlalu Didorong Masuk Bimbel

EtIndonesia. Dalam masyarakat yang serba cepat seperti sekarang, banyak orang tua hidup dengan rasa cemas dan terburu-buru. Mereka takut anaknya “tertinggal”, khawatir tidak bisa bersaing, dan akhirnya terjebak dalam perlombaan tak berujung: siapa yang mulai duluan, siapa yang belajar lebih banyak, siapa yang nilainya paling tinggi.

Akibatnya, kelas tambahan dan bimbingan belajar (bimbel) bermunculan di mana-mana — dari mal hingga perumahan, bahkan online pun tak kalah ramai. Bagi banyak keluarga, bimbel seolah sudah menjadi “standar wajib” dalam membesarkan anak.

Namun pertanyaannya:  

  • Apakah bimbel benar-benar seefektif iklannya?  
  • Apakah dia sungguh membantu anak berkembang — atau justru menambah beban yang tak terlihat?

Seorang guru senior dengan pengalaman mengajar lebih dari 30 tahun pernah berkata dengan tegas: “Saya lebih rela melihat anak nilainya jelek untuk sementara, daripada melihat mereka kelelahan dan kehilangan semangat belajar karena bimbel.”

Mari kita bahas alasannya.

01. Terlalu Dini dan Berlebihan Belajar Justru Bisa Membunuh Rasa Ingin Tahu

Banyak orangtua bahkan sejak anak masuk TK, sudah mulai “memanaskan mesin”:  belajar berhitung, membaca puisi klasik, latihan percakapan bahasa Inggris, dan sebagainya.

Anaknya memang tampak cepat tangkap — bisa membaca lebih cepat dari teman-temannya, bisa menjawab lebih banyak soal.  Orangtua pun merasa bangga, seolah-olah telah “menang di garis start”.

Namun para pendidik profesional justru mengingatkan: Belajar terlalu dini dan terlalu padat belum tentu baik.

Anak yang “terlihat bisa” sebenarnya sering hanya menghafal, bukan memahami. Dia tahu jawaban, tapi tak tahu mengapa jawabannya benar.

Dalam jangka pendek, hasilnya tampak memuaskan. Tapi ketika pelajaran mulai menuntut logika dan pemahaman mendalam, mereka justru kehilangan arah, kehilangan motivasi — bahkan muncul rasa jenuh dan muak belajar.

Saya punya tetangga, Bu Wang, yang sejak anaknya kelas 1 SD sudah mendaftarkannya ke berbagai bimbel: matematika, bahasa Inggris, piano, menggambar.

Hasilnya? Awalnya nilai anaknya memang cemerlang. Tapi ketika naik ke kelas 5, dia mulai “drop”.

Dia terbiasa hanya menghafal rumus tanpa memahami logika, sehingga ketika soal mulai kompleks, semuanya berantakan. Anak itu bahkan mulai membenci sekolah.

Inilah mengapa banyak guru berpengalaman berkata: “Lebih baik anak sedikit tertinggal, asalkan dia tetap punya rasa ingin tahu dan semangat belajar.”

Sebab esensi pendidikan bukanlah memperbanyak latihan soal, melainkan menumbuhkan pemahaman dan cara berpikir.

02. Bimbel Bukan Obat Mujarab, dan Tidak Cocok untuk Semua Anak

Orangtua sering beralasan: “Teman-teman anakku semua ikut bimbel, masa anakku tidak?”

Padahal efek bimbel berbeda bagi setiap anak.

  • Bagi anak yang sudah pandai, bimbel mungkin berguna untuk memperluas wawasan atau memperkuat dasar.
  • Tapi bagi anak yang masih kesulitan di sekolah, menambah jam belajar di luar justru menambah tekanan.

Seorang guru SD pernah bercerita kepada saya: “Saya paling takut melihat orangtua yang begitu nilai anaknya turun sedikit, langsung mendaftarkan ke bimbel. Kalau di kelas saja belum paham, ditambah bimbel malah tambah stres. Anak jadi hilang percaya diri — seolah-olah dirinya bodoh.”

Jadi, bimbel bukan solusi ajaib. Ia hanya alat bantu sementara, tidak bisa menggantikan minat, motivasi, dan cara belajar anak sendiri.

Kalau anak belum tahu bagaimana cara memahami pelajaran, maka sebanyak apa pun bimbel hanya akan menjadi tambalan sementara — seperti “obat sakit kepala yang hanya menenangkan sesaat, bukan menyembuhkan akar masalah.”

03. Orangtua Harus Menyadari Tujuan Sejati dari Belajar

Kesalahan terbesar banyak orangtua adalah menganggap belajar = nilai tinggi.

Padahal, nilai hanyalah hasil sampingan. Tujuan sebenarnya dari belajar adalah membangun kemampuan berpikir, rasa ingin tahu, dan daya pecah masalah.

Anak yang hanya belajar demi ujian, akan cepat lupa setelah ujian selesai. Tapi anak yang belajar karena tertarik, akan mengingat dan menerapkan pengetahuannya seumur hidup.

Saya sendiri pernah punya pengalaman ini: Saat anak saya, Dafa, masih di taman kanak-kanak, banyak teman-temannya sudah bisa berhitung cepat. Saya sempat panik — takut anak saya tertinggal.

Namun saya kemudian mengubah pendekatan:  Alih-alih menyuruhnya latihan soal, saya ajak dia bermain cerita dan logika berhitung — menghitung buah apel di pasar, atau menebak bentuk-bentuk angka dalam permainan.

Hasilnya, dia justru menyukai angka dan logika. Begitu masuk SD, dia cepat beradaptasi dan belajar dengan semangat. Dia tidak takut pelajaran, karena dia menikmati prosesnya.

Dari pengalaman itu, saya sadar: “Yang penting bukan seberapa cepat anak bisa belajar, tapi seberapa kuat minatnya untuk terus belajar.”

04. Jika Harus Bimbel, Belajarlah Memilih dengan Cerdas

Bukan berarti bimbel harus ditolak sepenuhnya.  Dalam beberapa situasi, bimbel bisa membantu — asal tepat sasaran dan tidak berlebihan.

Misalnya:

  • Anak memang tertinggal dalam satu pelajaran tertentu.
  • Menjelang ujian kenaikan kelas atau ujian masuk sekolah lanjutan.
  • Anak memiliki disiplin dan fokus tinggi, serta tahu cara memanfaatkan waktu.

Namun sebelum mendaftar, orangtua perlu menimbang matang:

  1. Kenali akar masalah.
    Apakah anak tidak paham pelajaran, atau hanya tidak fokus di kelas?
    Sering kali masalahnya bukan kemampuan, tapi kebiasaan belajar.
  2. Pilih format yang sesuai.
    Les privat atau kelompok kecil sering lebih efektif daripada kelas besar yang tidak personal.
    Sesuaikan juga dengan kepribadian dan kondisi finansial keluarga.
  3. Jangan sampai jadwal anak padat berlebihan.
    Banyak anak sekolah lima hari, lalu dua hari sisanya penuh bimbel.
    Akibatnya, mereka tidak punya waktu bermain atau beristirahat.
    Padahal, otak yang lelah tidak bisa menyerap apa pun.
  4. Perhatikan emosi dan minat anak.
    Jika anak mulai enggan, stres, atau lesu, hentikan sejenak.
    Belajar seharusnya menumbuhkan semangat, bukan menumpuk tekanan.

05. Kadang, yang Perlu “Disembuhkan” Bukan Anak — Tapi Kecemasan Orangtua

Fakta paling pahit dalam dunia pendidikan modern adalah ini:

Banyak anak tidak benar-benar tertekan oleh sekolah, tapi oleh kecemasan orangtuanya sendiri.

Ketika melihat anak orang lain bisa lebih cepat membaca, atau mendengar tetangga sudah ikut bimbel mahal, banyak orang tua panik dan terburu-buru.

Padahal, pendidikan adalah maraton, bukan sprint. Anak yang terlalu dipacu di awal, belum tentu bisa berlari jauh di kemudian hari.

Tugas orangtua bukan memastikan anak selalu nomor satu, tetapi menumbuhkan anak yang senang belajar dan percaya diri.

Ajarkan mereka membaca karena cinta ilmu, bukan karena takut gagal. Ajarkan mereka berpikir karena penasaran, bukan karena terpaksa.

Sebab jika anak mencintai belajar, maka ia tak akan berhenti belajar — bahkan tanpa bimbel sekalipun.

Kelas tambahan bukanlah monster yang menakutkan, tetapi juga bukan obat ajaib yang bisa menyembuhkan semua masalah belajar.

Apakah bimbel bisa membantu anak atau tidak, itu tidak ditentukan oleh lembaganya, melainkan oleh anak itu sendiri — apakah ia benar-benar memahami cara belajar,  dan apakah ia memiliki kemauan untuk berpikir secara mandiri.

Belajar adalah proses seumur hidup. Daripada menghabiskan waktu dan uang mengejar nilai jangka pendek, lebih baik menemani anak menumbuhkan rasa ingin tahu dan semangat eksplorasi.  Hanya dengan begitu mereka bisa memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat,
yang akan menjadi bekal terpenting dalam menghadapi dunia yang terus berubah.

Para orangtua yang terkasih, bagaimana pandangan Anda tentang bimbel? Apakah Anda berencana mendaftarkan anak Anda? Silakan berbagi pandangan di kolom komentar — mari kita saling berdiskusi dan belajar menjadi orang tua yang lebih bijak.(jhn/yn)

Korut Melarang Keras Penggunaan Ponsel Tiongkok — Jika Ketahuan, Bisa Ditembak Mati

Baru-baru ini, sumber dari Korea Utara mengungkapkan bahwa rezim Pyongyang secara ketat melarang warga menggunakan ponsel merek Tiongkok, dengan alasan bahwa memiliki ponsel Tiongkok dianggap sebagai tindakan mata-mata yang mengancam keamanan negara. Siapa pun yang ketahuan bisa dihukum mati dengan tembakan.

EtIndonesia. Menurut laporan media Korea Selatan Daily NK pada 15 Oktober, seorang sumber dari Provinsi Ryanggang, Korea Utara, mengatakan bahwa di kota perbatasan Hyesan, warga yang menggunakan ponsel Tiongkok kini hidup dalam ketakutan.

“Departemen Keamanan Negara tidak hanya memperketat pengawasan, tapi juga menyebut kemungkinan hukuman mati. Karena itu, warga tidak berani menyalakan ponsel mereka,” ujar sumber tersebut.

Sumber itu menjelaskan bahwa pada akhir September, Kementerian Keamanan Negara Korea Utara mengeluarkan perintah kepada dinas keamanan di wilayah perbatasan yang menyebutkan bahwa “memiliki ponsel Tiongkok adalah tindakan mata-mata yang mengancam keamanan nasional dan akan dihukum berat jika ditemukan.”

 Instruksi tersebut juga menegaskan bahwa “tidak hanya orangnya yang diperiksa, tetapi juga asal-usul ponsel harus ditelusuri.”

Belakangan, Departemen Keamanan Kota Hyesan meningkatkan frekuensi penggunaan alat pendeteksi sinyal untuk mencari pengguna ponsel Tiongkok. Mereka juga mengirim petugas untuk mengadakan kampanye edukasi, memperingatkan warga agar tidak menggunakan ponsel Tiongkok.

Petugas keamanan mengatakan bahwa memiliki ponsel Tiongkok dianggap sebagai kejahatan anti-negara yang merusak wibawa nasional dan mencoreng citra negara. Mereka mengancam,

“Siapa pun yang ketahuan menggunakan ponsel Tiongkok tidak hanya akan dihukum sendiri, tetapi keluarganya juga akan dikenai hukuman hukum. Jika kasusnya serius, mereka bisa ditembak mati.”

Sumber tersebut menggambarkan bahwa seluruh kota kini diselimuti ketakutan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Banyak orang yang mendengar tentang ancaman eksekusi memilih untuk menyembunyikan atau membuang ponsel mereka.

“Kota Hyesan sangat sunyi di malam hari. Tak ada yang berani menelepon. Mata-mata Departemen Keamanan seperti menyala-nyala. Semua orang takut melakukan kesalahan sedikit saja yang bisa membawa malapetaka.”

Situasi serupa juga terjadi di daerah perbatasan Provinsi Hamgyong Utara. Seorang sumber setempat mengatakan:

“Sekarang pengawasan terhadap penggunaan ponsel Tiongkok sangat ketat, jadi semua aktivitas dihentikan. Orang-orang bahkan tidak berani bernapas keras.”

Sumber itu menambahkan bahwa pihak keamanan meningkatkan patroli dan melakukan pemeriksaan mendadak di desa-desa penting.

“Sekarang pengawasan sangat ketat. Kalau ketahuan ada catatan panggilan atau kartu SIM asing, ponselnya akan disita, pemiliknya bisa dipenjara, bahkan diinterogasi.”

Ia mengatakan, “Menggunakan ponsel Tiongkok sekarang berarti mempertaruhkan nyawa — bahkan bisa menyeret keluarga ikut celaka. Dulu, ada yang dihukum penjara seumur hidup karena menggunakan ponsel Tiongkok, tapi hukuman mati jarang terjadi. Sekarang semua orang takut benar-benar akan ditembak mati.”

Di Korea Utara, banyak kegiatan penyelundupan, pengiriman uang dari luar negeri, bahkan informasi politik dan militer mengalir keluar melalui jaringan Tiongkok. Pemerintah Korea Utara menganggap hal itu sebagai tindakan pengkhianatan, dan terus melakukan penindakan keras.

 Sejak pandemi COVID-19 (virus Komunis Tiongkok) pada 2020, rezim Kim Jong-un menutup perbatasan dengan alasan pencegahan wabah, sekaligus melakukan pembersihan besar-besaran terhadap perangkat komunikasi ilegal dan arus informasi asing.

Larangan terhadap ponsel Tiongkok ini memunculkan keraguan mengenai hubungan Korea Utara–Tiongkok. Pada 3 September, saat parade militer PKT di Beijing, Kim Jong-un, Xi Jinping, dan Vladimir Putin muncul bersama di balkon Tiananmen. Banyak pihak menyebut ketiganya sebagai “Poros Kejahatan Baru,” yang saling memanfaatkan tetapi juga saling waspada.

Faktanya, selama bertahun-tahun, pemerintah Korea Utara selalu berhati-hati terhadap rezim Beijing, bahkan menyebut PKT sebagai “musuh turun-temurun.”

Pada tahun 2018, Daily NK melaporkan bahwa pemerintah Korea Utara melarang penjualan produk buatan Tiongkok. Seorang sumber kala itu mengatakan:

“Selain produk industri, semua barang makanan dan elektronik dari Tiongkok dilarang dijual. Karena keputusan itu diumumkan secara tiba-tiba, banyak pedagang yang biasanya menjual produk Tiongkok menjadi kebingungan.”

Mantan Wakil Direktur Badan Intelijen Nasional Korea Selatan, Han Ki-bum, pernah mengungkap bahwa pada tahun 2015, Kim Jong-un mengatakan: “Amerika dan Jepang adalah musuh seratus tahun Korea Utara, tetapi Partai Komunis Tiongkok adalah musuh selama lima ribu tahun.” (Hui/asr)

Laporan gabungan oleh Luo Tingting / Wen Hui