Retakan Besar di Jantung Rusia: Senator Bongkar Fakta Mengerikan Perang Ukraina

EtIndonesia. Pengakuan dari kalangan pejabat Rusia dan tokoh separatis pro-Rusia mengungkap adanya retakan dalam narasi resmi Kremlin yang semula menekankan keunggulan militer Rusia di medan perang Ukraina. Kini, realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya: konflik memasuki fase impas, dengan kerugian material dan psikologis yang signifikan.

1. Pernyataan Dmitry Rogozin: Keseimbangan Kekuatan?

Pada 19 September 2025, Dmitry Rogozin, Senator Rusia yang juga dikenal sebagai tokoh militer-politik pro-Kremlin, dalam wawancara dengan media Bloknot melalui platform VKontakte menyatakan bahwa garis depan antara Rusia dan Ukraina kini berada dalam posisi stalemate atau jalan buntu.

Beberapa poin kunci dari pengakuan Rogozin:

  • Dia menyebut bahwa kemajuan peta pertempuran “bergerak dengan kesulitan luar biasa, dengan harga yang kolosal,” dan bahwa Rusia membayar mahal untuk setiap meter wilayah yang direbut.
  • Rogozin lebih jauh menegaskan bahwa peralatan militer yang masuk ke radius 20 km dari garis depan, baik dari pihak Rusia maupun Ukraina, “pasti akan dibakar (dihancurkan).”
  • Dia menggambarkan medan sebagai area terbuka (bare fields), tanpa perlindungan alam seperti hutan, sehingga unit yang bergerak sangat rentan terhadap drone, ranjau, dan pengintaian musuh. 
  • Meskipun demikian, dia tetap menekankan bahwa tekanan militer tetap ada dan kemenangan “akan menjadi milik kita”—namun dengan catatan bahwa biayanya sangat tinggi. 

Pernyataan ini menandai perubahan retorika yang cukup tajam dari klaim-klaim optimistik sebelumnya, di mana Kremlin dan media pro-Rusia sering menyajikan narasi bahwa Rusia memegang keunggulan strategis dan operasional.

Kremlin sendiri merespon lambat berkembangnya front Rusia sebagai “progres taktis” alias langkah strategis jangka panjang, tidak sebagai tanda kegagalan. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov menyebut bahwa laju perlahan bukan kekalahan. 

2. Klaim Igor Gubarev: Kilang Rusia “Hancur 26 %”, Propaganda Menyesatkan

Menanggapi pernyataan Rogozin, mantan pemimpin separatis pro-Rusia Igor Gubarev (nama lengkap dan jabatan terkini tidak dapat diverifikasi secara independen dari sumber media arus utama) turut menambahkan bahwa Ukraina telah menghancurkan sekitar 26 % kapasitas kilang minyak Rusia. Dia mengklaim bahwa propaganda Kremlin yang menjanjikan “kemenangan cepat” justru menyesatkan rakyat Rusia.

Namun penting dicatat: tidak ada laporan kredibel saat ini yang mengonfirmasi angka 26 % secara keseluruhan dari seluruh kapasitas kilang Rusia. Berbagai laporan media internasional memang menyebut bahwa Ukraina telah melancarkan serangkaian serangan terhadap fasilitas energi Rusia, menyebabkan kerusakan dan gangguan produksi di beberapa kilang strategis. 

Misalnya:

  • Pada 15 September 2025, kilang Kirishi Rusia dikabarkan menghentikan unit pemrosesan penting setelah serangan drone Ukraina. Unit ini menyumbang hampir 40 % kapasitas pengolahan kilang tersebut (yang sendiri memiliki kapasitas cukup besar). 
  • Di awal Juli–September 2025, Ukraina diduga melancarkan serangkaian serangan terhadap kilang-kilang utama Rusia di Bashkortostan (Salavat), Volgograd, Saratov dan beberapa lokasi lain. Akibatnya, sebagian fasilitas pengolahan berhenti atau beroperasi di kapasitas terbatas. 
  • Misalnya, kilang Salavat, yang dikendalikan Gazprom Neftekhim Salavat, menjadi target serangan drone dalam beberapa hari terakhir (termasuk pada 24 September 2025).

Jadi, klaim Gubarev mengenai “26 % kapasitas kilang hancur” tampaknya bersifat retoris dan belum didukung data publik independen yang terverifikasi.

Gubarev juga menyebut bahwa propaganda Kremlin yang menggembar-gemborkan kemenangan cepat—yang dulu banyak disebarkan melalui media negara dan lembaga resmi—telah menciptakan ekspektasi berlebihan di kalangan warga Rusia. Menurutnya, kenyataan di medan perang jauh lebih keras, menimbulkan ketidakpuasan bahkan di kalangan pendukung perang.

3. Fakta di Lapangan: Serangan Terhadap Infrastruktur Energi Rusia

Laporan-laporan media independen dan lembaga pemantau konflik internasional mendukung gambaran bahwa Ukraina semakin intensif menyerang infrastruktur energi Rusia untuk melemahkan kemampuan logistik dan pendanaan militer Moskow.

Beberapa contoh kejadian spesifik terverifikasi:

  • Kilang Kirishi (14 September 2025) — Sebuah unit pemrosesan dihentikan setelah terkena dampak serangan drone, menyulut api dan memicu penghentian sementara beberapa proses kilang. 
  • Serangan Salavat (24 September 2025) — Rusia mengonfirmasi bahwa fasilitas Gazprom Salavat, kompleks petrokimia terbesar di kota Salavat, terkena serangan drone Ukraina.
  • Kilang Saratov & Samara (20 September 2025) — Ukraina mengklaim telah menyerang kilang di Saratov dan Samara, serta infrastruktur transportasi terkait. Ledakan dan kebakaran dilaporkan terjadi.
  • Kilang Kirishi sebelumnya (September 2025) — Kebakaran kecil di kilang telah berhasil dipadamkan, tidak ada korban tewas dilaporkan. 
  • Serangan terhadap kilang Rusia secara umum — Sejak awal 2025, fasilitas di berbagai daerah seperti Krasnodar, Volgograd, Ryazan, Saratov, Tuapse, dan lainnya telah digempur oleh drone dan serangan udara Ukraina, menyebabkan kerusakan dan penurunan produksi. 

Dampak nyata dari serangan-serangan ini antara lain:

  1. Penurunan kapasitas produksi — Beberapa unit kilang rusak atau harus dihentikan sementara, menurunkan volume pemrosesan minyak mentah.
  2. Gangguan logistik militer — Fasilitas kilang dan depot bahan bakar sangat penting untuk mendukung operasi militer jangka panjang, terutama pengiriman bahan bakar ke front.
  3. Tekanan ekonomi dan sosial domestik — Keterbatasan pasokan bahan bakar, harga yang melonjak, dan gangguan distribusi dapat memicu ketidakpuasan publik di Rusia.
  4. Peningkatan fokus Ukraina pada strategi perang ekonomi — Serangan terhadap energi Rusia dianggap salah satu cara untuk menyerang tulang punggung ekonomi Moskow dan membatasi kemampuan berperang Rusia dalam jangka panjang.

Namun, serangan-serangan ini juga berisiko memicu eskalasi militer lebih luas, terutama jika terjadi di wilayah yang jauh dari garis depan atau melibatkan fasilitas sipil besar.

4. Interpretasi dan Implikasi

Dari rangkaian pengakuan internal (Rogozin) dan klaim-klaim separatis (Gubarev), ditambah fakta kerusakan infrastruktur energi Rusia yang terdokumentasi, beberapa kesimpulan dan kemungkinan arah perkembangan konflik bisa disusun:

  • Kekuatan relatif Rusia-Ukraina semakin mendekati keseimbangan — Rogozin mengakui bahwa Rusia tak lagi bisa dengan mudah mendominasi di garis depan. Rusia menghadapi tantangan besar saat mencoba mendorong garis pertempuran lebih jauh.
  • Propaganda “kemenangan cepat” makin sulit dipertahankan — Dengan korban (materi, sumber daya manusia) yang terus bertambah, narasi optimisme berlebihan mulai retak di tengah tekanan publik Rusia.
  • Strategi Ukraina meluas ke perang energi — Selain pertempuran darat, Ukraina tampaknya semakin mengandalkan serangan terhadap sistem energi Rusia sebagai instrumen tekanan strategis.
  • Resistensi Rusia terhadap tekanan strategis — Meskipun terbuka kelemahan, Rusia masih mempertahankan klaim bahwa progres perlahan adalah bagian dari strategi jangka panjang, dan bukan tanda kemunduran total.
  • Risiko eskalasi dan dampak internasional — Serangan jauh ke wilayah Rusia dapat menimbulkan respon keras, baik militer maupun diplomatik, termasuk dari negara-negara tetangga atau aliansi.

5. Catatan Keterbatasan dan Verifikasi

  • Klaim “26 % kilang hancur” oleh Gubarev belum dapat diverifikasi oleh sumber kredibel independen.
  • Beberapa laporan kerusakan kilang berasal dari sumber militer atau media pro-Ukraina / Rusia, yang mungkin memiliki bias.
  • Situasi di medan perang terus dinamis—apa yang berlaku hari ini bisa berubah esok hari.


Tanggal 19–24 September 2025 menandai fase kritis dalam narasi perang Rusia-Ukraina: pengakuan langsung dari tokoh Rusia bahwa front hampir mandek, ditambah tekanan nyata terhadap infrastruktur energi Rusia, membuka ruang bagi interpretasi bahwa eskalasi militer di masa depan lebih bergantung pada inovasi strategis, bukan sekadar jumlah senjata atau pasukan. Rusia kini menghadapi dilema antara mempertahankan citra dominasi militer dan mengakui kenyataan pahit di medan tempur.

Seekor Kuda yang Tak Pernah Diselamatkan

EtIndonesia.Pertama kali saya melihat kuda sungguhan, rasanya seperti menatap layar perak di bioskop. Kehadiran kuda itu mengguncang desa. Meski saat itu musim panen, orang-orang dari desa sekitar tetap berbondong-bondong datang. Rumah si pemilik kuda, Qüe sang tukang jagal, dipenuhi keramaian. Setiap tamu yang datang, kalau belum sempat menepuk pantat kuda, rasanya enggan pulang.

Kuda itu gagah dan tinggi, kulit dan bulunya putih bersih. Meski sudah tua, tetap tampak indah—pasti dulunya seekor kuda perang. Namun di tangan Qüe, dia diperlakukan tak ubahnya hewan ternak biasa. Dia dipaksa mengerjakan pekerjaan kasar yang bahkan sapi pun enggan melakukannya. Tak pernah dimandikan, tak pernah disisir, tubuhnya penuh lumpur dan kotoran. Bekas cambuk baru berlapis di atas luka lama. Dia dihina, disiksa, dilecehkan.

“Jangan sakiti kuda ini!”

Tak ada seorang pun berani mengatakan itu kepada Qüe yang galak. Tapi saya, bocah tiga belas tahun dengan suara gemetar, memberanikan diri bersuara—meski keluar hanya seperti bisikan.

Tekad Seorang Bocah

Hari itu musim panas, udara panas membara. Diam-diam, saya mengikuti kuda itu. Entah karena dia tak terbiasa bekerja di sawah, atau karena merasa dipermalukan mencangkul di depan banyak orang, kuda itu sering berontak, berusaha melepaskan bajak yang membebani tubuhnya.

Qüe makin marah, makin brutal. Kata-katanya dingin: setelah musim panen usai, dia akan menyembelih kuda itu, membagi dagingnya ke orang sekampung.

Hati saya seperti diiris seribu pisau. Saya pun mengambil keputusan: saya harus menyelamatkannya.

Aksi Tengah Malam

Suatu malam, saya memberanikan diri. Dengan hati berdebar, saya mengalihkan perhatian anjing penjaga, lalu menyelinap masuk ke kandang. Saya membuka pintu, melepaskan tali pengikat leher kuda.

“Pergilah! Kamu bebas sekarang. Berlarilah sejauh mungkin,” bisik saya.

Bagaimana mungkin seekor kuda perang yang mulia harus merendahkan diri di tangan seorang tukang jagal kejam?

Namun kebebasan yang datang tiba-tiba rupanya terlalu asing. Kuda itu hanya berdiri termangu, matanya kosong. Saya bahkan harus menariknya keluar dari kandang dan menutup pintu kembali, agar dia tak bisa lagi mundur.

“Sampai di sini yang bisa kulakukan. Jalan menuju kebebasan ada di depanmu,” saya menunjuk arah jalan setapak yang menembus keluar desa. “Jangan kembali. Jangan biarkan dirimu terhina lagi.”

Namun dia hanya menggeleng pelan, berdiri kaku di depan kandang. Matanya tak menunjukkan kerinduan pada kebebasan, seakan jiwanya sudah lama dipenjara.

Kesempatan yang Hilang

Saya memberi isyarat dari jauh, berulang kali menggerakkan tangan, berdesis pelan: “Lari! Cepat lari!” 

Tapi kuda itu tetap tak bergerak.

Di dalam rumah, dengkur Qüe mendadak terhenti. Tak lama kemudian, lampu menyala. Saya panik. Aksi penyelamatan berhenti seketika. Kuda itu tetap diam di tempat.

Beberapa minggu kemudian, setelah musim panen selesai, Qüe menjual kuda itu ke tukang jagal lain di desa sebelah.

Akhir yang Pahit

Tak lama, di jalan, saya mendengar orang-orang bercakap tentang daging kuda. Saya berharap mendengar sesuatu seperti: “Saat makan dagingnya, gigi kami membentur peluru yang tertinggal di tubuhnya,” sebagai bukti bahwa dia memang seekor kuda perang.

Namun, yang saya dengar hanya satu kalimat datar: “Rasanya tidak enak. Ada bau keringat asam.”

Dan di situlah, cerita seekor kuda yang tak pernah bisa diselamatkan, berakhir.

Kisah ini menusuk hati—tentang kebebasan yang tersedia, namun tak sanggup diambil; tentang jiwa yang terlalu lama dikekang, hingga lupa bagaimana bermimpi.(jhn/yn)

Langkah Berani Indonesia di PBB: Dukung Israel, Disambut Tepuk Tangan Meriah

EtIndonesia. Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diwarnai kejutan besar ketika Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, secara terbuka menyatakan dukungan terhadap keamanan dan stabilitas Israel. Pernyataan ini datang di tengah pertemuan penting yang juga dihadiri Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan para pemimpin delapan negara Arab dan Muslim.

Pertemuan Trump dengan Pemimpin Arab–Muslim

Donald Trump pada 24 September 2024 bertemu dengan para pemimpin negara muslim, dari Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Mesir, Yordania, Turki, dan Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, Trump menegaskan komitmen bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan Israel mencaplok Tepi Barat. Dia menyebut langkah itu penting demi tercapainya gencatan senjata di Gaza sekaligus membuka jalan bagi rekonstruksi pascaperang.

Rencana Trump mencakup beberapa poin utama:

  • Gencatan senjata sementara selama beberapa pekan,
  • Pembebasan 48 sandera yang masih ditahan,
  • Penarikan bertahap pasukan Israel,
  • Penempatan pasukan perdamaian dari negara-negara Arab,
  • Rekonstruksi Gaza dengan pendanaan kolektif dari negara peserta.

Meski begitu, rencana tersebut tidak melibatkan Hamas secara langsung. Negara-negara peserta menyambut baik inisiatif itu, namun mereka tetap menolak keras kemungkinan Israel menduduki Gaza, mengusir warga Palestina, ataupun mencaplok Tepi Barat.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan menyebut pertemuan ini “produktif,” sementara media UEA menekankan bahwa pembebasan sandera dan bantuan kemanusiaan menjadi prioritas utama.

Insiden Konvoi Erdoğan di New York

Di tengah agenda diplomatik, insiden terjadi pada pagi hari ketika konvoi Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan menuju markas PBB di Manhattan. Konvoinya dihentikan oleh polisi New York karena jalan sedang diprioritaskan untuk rombongan Trump.

Pengawal Erdoğan mencoba menyingkirkan barikade dan memaksa maju, namun polisi menolak dengan tegas. Situasi sempat memanas dan ekspresi Erdoğan terlihat kesal, tetapi akhirnya rombongan mematuhi prosedur. Polisi menegaskan langkah itu adalah prosedur standar pengamanan VIP.

Peristiwa serupa juga dialami Presiden Prancis, Emmanuel Macron pada 22 September, ketika iring-iringannya terhenti akibat jalur yang diprioritaskan untuk Trump.

Indonesia Mengejutkan Dunia

Momen paling mengejutkan datang dari pidato Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, di hadapan Sidang Umum PBB. 

Prabowo menegaskan: “Kita harus mengakui, menghormati, dan menjamin keamanan serta stabilitas Israel. Hanya dengan itu, perdamaian sejati dapat terwujud.”

Prabowo bahkan menawarkan lebih dari 20 ribu pasukan penjaga perdamaian untuk ditempatkan di Gaza atau wilayah konflik lain, sesuai mandat Dewan Keamanan PBB.

Pidato ini disambut delapan kali tepuk tangan meriah di ruang sidang, termasuk apresiasi terbuka dari Presiden Trump. Media utama Israel,  The Times of Israel menyebut langkah Indonesia sebagai “momen keberanian dari negara Muslim terbesar di dunia.”

Namun, sikap tersebut juga memicu perpecahan di kalangan negara-negara pro-Palestina, yang menilai langkah itu sebagai pergeseran besar dalam posisi diplomatik Indonesia.

Dampak Geopolitik

Pengamat menilai pernyataan Prabowo bukan sekadar soal isu Palestina–Israel, melainkan sinyal penguatan aliansi strategis antara AS dan Indonesia. Langkah ini dipandang sebagai upaya menghadapi ekspansi pengaruh Tiongkok di kawasan Asia-Pasifik.

Dengan dukungan politik yang mengejutkan dari Jakarta, Trump kini memiliki pijakan baru dalam mendorong inisiatif perdamaian Timur Tengah. Namun, tantangan terbesar tetap pada implementasi rencana tersebut, terutama karena absennya Hamas dalam proses ini.

Praktisi Falun Gong Gelar Aksi di Depan Gedung PBB, Serukan Hentikan Penganiayaan

Dalam rangkaian Sidang Umum PBB, sejumlah praktisi Falun Gong di wilayah New York mengadakan aksi di depan markas besar PBB. Mereka menyerukan masyarakat internasional untuk bersama-sama menghentikan penganiayaan brutal yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). 

Ketua Organisasi Internasional Penyelidikan Penganiayaan Falun Gong, Wang Zhiyuan, dalam wawancara menuduh PKT telah melakukan kejahatan genosida serta kejahatan terhadap kemanusiaan, termasuk pengambilan organ hidup. Mantan Duta Besar AS untuk Kebebasan Beragama, Sam Brownback, juga mengecam penindasan lintas negara secara ilegal oleh PKT, serta menyerukan negara-negara agar menuntut para pelakunya.

EtIndonesia. Puluhan praktisi Falun Gong berkumpul di U.N. Plaza, Manhattan, New York, Amerika Serikat pada 23 September 2025 untuk mendesak para pemimpin dunia yang menghadiri Sidang Umum PBB agar tegak menentang penganiayaan Partai Komunis Tiongkok terhadap kelompok tersebut.

Mereka menggelar spanduk yang mengecam penganiyaan, melakukan latihan meditasi, dan membagikan selebaran di Hammarskjold Plaza Park, menyerukan orang-orang yang menjunjung keadilan internasional untuk turun tangan menghentikan pelanggaran HAM oleh PKT.

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah disiplin spiritual yang berlandaskan pada prinsip Sejati, Baik, dan Sabar. Latihan ini diperkenalkan kepada publik di Tiongkok pada awal 1990-an, dan menurut perkiraan resmi, pada akhir dekade itu terdapat sekitar 70 juta hingga 100 juta orang yang berlatih di Tiongkok.

Sidang Umum PBB ke-80 dibuka pada 23 September. Praktisi Falun Gong melakukan latihan dan aksi damai di luar markas besar PBB di New York, menyerukan negara-negara untuk bersama-sama menghentikan penganiayaan oleh PKT. (Huang Xiaotang/Epoch Times)

Pada tahun 1999, pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) saat itu, Jiang Zemin, melancarkan penganiayaan brutal terhadap para praktisi Falun Gong dengan menggunakan seluruh kekuatan aparat negara. Ia mengarahkan lembaga dan aparat negara untuk secara fisik menghancurkan para pengikutnya, meruntuhkan mereka secara finansial, serta merusak reputasi mereka, dengan keyakinan bahwa rezim dapat melenyapkan latihan tersebut dalam enam bulan. 

Sidang Umum PBB ke-80 dibuka pada 23 September. Praktisi Falun Gong melakukan latihan dan aksi damai di luar markas besar PBB di New York, menyerukan negara-negara untuk bersama-sama menghentikan penganiayaan oleh PKT.

Sejak saat itu, jumlah yang tak terhitung banyaknya praktisi telah mengalami penahanan sewenang-wenang, kerja paksa, penyiksaan, bahkan kematian akibat pengambilan organ secara paksa.

Wang Zhiyuan

“(PKT) menganiaya Falun Gong, telah melanggar kejahatan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, khususnya pengambilan organ praktisi Falun Gong secara hidup-hidup. Ini adalah kejahatan jahat yang belum pernah ada dalam sejarah manusia. Dan kejahatan ini sudah meluas ke seluruh masyarakat,” kata Ketua  WOIPFG (World Organization to Investigate the Persecution of Falun Gong) atau Organisasi Penyelidikan Penganiayaan Falun Gong Internasional, Wang Zhiyuan. 

Beberapa tahun terakhir, PKT melancarkan penindasan lintas negara, termasuk pengawasan, intimidasi, pendirian kantor polisi rahasia, hingga perang opini melawan Falun Gong. Menurut Wang Zhiyuan, hal ini bukan hanya merusak landasan kebebasan berkeyakinan di Amerika Serikat, tetapi juga menantang demokrasi dan kebebasan masyarakat internasional.

Pihak penyelenggara menyampaikan, ketika iring-iringan mobil Presiden AS Donald Trump melintas di depan spanduk, Trump tersenyum dan melambaikan tangan kepada praktisi Falun Gong.

Mantan Duta Besar AS untuk Kebebasan Beragama Internasional, Samuel Dale Brownback, mengatakan: “PKT sedang berperang melawan keyakinan spiritual. Yang paling mereka takuti adalah Falun Gong, karena Falun Gong begitu populer di Tiongkok. Penindasan lintas negara yang mereka lakukan adalah kesalahan total. Itu ilegal dalam hukum internasional. Sebagai orang Amerika, setidaknya di negara kita, kita harus melakukan segala upaya untuk menuntut orang-orang yang terlibat dalam penindasan lintas negara dan terorisme yang didukung PKT.”

Mantan Duta Besar AS untuk Kebebasan Beragama Internasional, Samuel Dale Brownback

Di lokasi juga hadir praktisi Falun Gong asal Tiongkok yang menceritakan pengalaman mereka mengalami penganiayaan secara langsung.

Praktisi Falun Gong asal Tiongkok, Guo Jinfu, menuturkan: “Selama dua kali ditangkap dan dianiaya, saya berkali-kali disetrum dengan tong listrik sampai buang air kecil dan besar tidak terkendali, dan berkali-kali dipaksa diberi makan lewat selang.”

Sidang Umum PBB ke-80 dibuka pada 23 September. Praktisi Falun Gong melakukan latihan dan aksi damai di luar markas besar PBB di New York, menyerukan negara-negara untuk bersama-sama menghentikan penganiayaan oleh PKT. (Huang Xiaotang/Epoch Times)

Sebelum berlatih Falun Gong, Guo menderita berbagai penyakit kronis seperti asma, eksim, dan penyakit Ménière. Setelah berlatih Falun Gong, penyakit-penyakit itu hilang. Meski menghadapi penganiayaan brutal PKT, ia tetap teguh pada keyakinannya.

Guo Jinfu menegaskan: “Sejati-Baik-Sabar itu tidak salah, Falun Gong tidak salah. Justru setelah kami dianiaya, kami menjelaskan kebenaran kepada masyarakat luas agar mereka tahu, dan meminta mereka menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong.”

Selain praktisi Falun Gong, hadir pula aktivis pro-demokrasi asal Tiongkok yang ikut menyerukan penghentian penganiayaan.

Seorang aktivis pro-demokrasi Tiongkok menyatakan: “Tumbangkan Partai Komunis Tiongkok, dukung Falun Gong, Falun Dafa baik.”

Pada saat yang sama, konvoi mobil bertema “Akhiri PKT” (END CCP) juga berkeliling di jalan-jalan ramai Manhattan, menyampaikan pesan kepada lebih banyak masyarakat.

Baru-baru ini, Amerika Serikat mengungkap bahwa PKT terus melancarkan penindasan lintas negara di luar negeri. Di luar sidang umum PBB, setiap tahun selalu tampak praktisi Falun Gong. Mereka mengatakan, selama penganiayaan belum berhenti, mereka akan terus melakukan aksi damai dan menyerukan kebenaran agar semakin banyak orang mengetahui fakta sebenarnya. (***)

Diterjang Topan Super Ragasa, Daratan Tiongkok  Siaga Tempur – Lebih dari 1 Juta Orang Dievakuasi

EtIndonesia. Topan ke-18 tahun ini, Ragasa, telah meningkat menjadi topan super dan semakin mendekati Guangdong, Tiongkok.  Sejumlah daerah di Guangdong sudah sepenuhnya masuk ke status siaga darurat pada Rabu (24/9/2025). 

Kota Zhuhai telah mengeluarkan peringatan topan tingkat tertinggi (merah), sementara warga setempat mulai melakukan panic buying untuk menimbun persediaan. 

Hingga saat ini, lebih dari 1 juta orang telah dievakuasi di seluruh provinsi Guangdong. Hong Kong juga telah mengeluarkan sinyal topan super, dan diperkirakan ratusan penerbangan di bandara Hong Kong akan dibatalkan.

“Topan ini sudah naik jadi topan super, diperkirakan akan mendarat pada 24 September. Ragasa benar-benar dahsyat, kekuatannya luar biasa!” ujar seorang vlogger. 

Menurut badan meteorologi Guangdong, dalam 24 jam ke depan, topan Ragasa akan bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan sekitar 20 km/jam, dan akan mendarat pada 24 September di wilayah pantai antara Zhuhai hingga Xuwen. Peringatan topan merah tertinggi sudah dikeluarkan.

Seorang pembuat konten lokal dari Zhuhai, di area perbatasan Hengqin, melaporkan:

“Sekarang pukul enam sore, pintu hotel segera ditutup. Jalanan sudah sepi, semua orang menunggu topan datang. Suasananya sangat tegang, benar-benar mencapai puncak.”

Sejak Selasa (23/9/2025), seluruh Guangdong masuk ke keadaan darurat. Warga melakukan panic buying, banyak supermarket hampir habis diserbu pembeli.

Di Zhuhai, hotel-hotel dan toko-toko di sepanjang jalan sudah dikosongkan. Pintu kaca diperkuat dengan papan kayu, banyak rumah tangga menempelkan perekat berbentuk huruf X atau tanda bintang pada jendela besar mereka.

Seorang warga Zhuhai, Ny. Huang, berkata: “Kami sudah menempelkan perekat berbentuk huruf X di kaca besar kamar tidur saya, meski tidak tahu apakah efektif. Sekarang angin mulai kencang, sebelumnya hanya hujan tanpa angin, tapi sekarang mulai bertiup lebih kuat.”

Vlogger lain memperlihatkan: “Pintu-pintu hotel semua sudah ditutup rapat, ditempeli perekat, jendela diberi penyangga vertikal. Katanya saat topan besar terakhir, semua kaca pecah. Jadi sekarang hotel sudah kosong, semua barang di lantai satu dipindahkan.”

Sejak Selasa, kota-kota besar seperti Shenzhen, Guangzhou, Shanwei, Dongguan, Zhuhai, Zhanjiang, dan Yangjiang telah mengumumkan lima penghentian: sekolah diliburkan, pekerjaan dan produksi dihentikan, transportasi darat dan laut dihentikan, serta bisnis ditutup. Kota Haikou di Provinsi Hainan juga mengumumkan langkah serupa.

Ny. Huang menambahkan: “Belum tahu apakah nanti listrik akan dipadamkan. Mereka mungkin akan melihat situasi lalu menyesuaikan.”

Hingga pukul 18.00 sore pada 23 September, jumlah orang yang dievakuasi di Guangdong telah mencapai lebih dari 1,04 juta jiwa.

Sebelum topan mendarat, Hong Kong yang berbatasan dengan Guangdong sudah dilanda gelombang besar dan limpasan air laut. Air laut meluap dari saluran pembuangan hingga menyembur setinggi 2–3 meter. Dilaporkan sebuah keluarga tiga orang terseret ombak saat menonton gelombang di pantai, beruntung berhasil diselamatkan oleh nelayan setempat dan segera dibawa ke rumah sakit.

Observatorium Hong Kong telah mengeluarkan sinyal topan super. Pemerintah Hong Kong juga mengumumkan libur sekolah selama 2 hari, penghentian layanan kereta cepat, serta pembatalan ratusan penerbangan di bandara internasional Hong Kong.

Sumber : NTDTV.com

Topan Super Ragasa Menerjang, 100 Lebih Pohon Tumbang Hingga Air Laut Hantam Pintu Kaca Hotel di Hong Kong, Ada Orang yang Terseret Ombak

Pada  24 September 2025 dini hari, akibat dampak topan super “Ragasa”, Hong Kong dilanda badai besar. Air laut menghantam pintu kaca sebuah hotel di Hong Kong hingga pecah, dan ada orang yang terseret ombak.

EtIndonesia. Pada 24 September 2025 dini hari, Observatorium Hong Kong mengeluarkan sinyal badai tertinggi, yaitu sinyal topan nomor 10. Video yang beredar di internet menunjukkan, pada dini hari, pintu kaca Hotel Fullerton Ocean Park yang berada di tepi laut dihantam ombak hingga pecah. Air laut langsung menerobos masuk ke dalam hotel, dan ada orang yang terseret oleh gelombang besar.

Menurut laporan otoritas Hong Kong, pada  23 September siang, sekeluarga beranggotakan empat orang sedang melihat ombak di Chai Wan, ketika itu ibu dan anaknya terseret gelombang besar. Lalu, sang ayah segera melompat ke laut untuk menolong, dan akhirnya ketiganya berhasil diselamatkan oleh petugas pemadam kebakaran. Namun, ibu dan anak tersebut sudah dalam kondisi tidak sadarkan diri.

Video lain memperlihatkan kedahsyatan topan super “Ragasa”. Pada  24 September dini hari, permukaan air laut di sepanjang pantai Hong Kong naik lebih dari 3 meter.

Sebagai langkah antisipasi, seluruh sekolah di Hong Kong diliburkan, para pekerja pada umumnya tidak masuk kerja, dan sebagian besar layanan transportasi dihentikan.

Otoritas Otoritas Rumah Sakit Hong Kong mengumumkan bahwa hingga 24 September pukul 08.00 pagi, sebanyak 19 orang mengalami luka-luka selama badai berlangsung dan telah dibawa ke rumah sakit umum untuk mendapat perawatan.

Selain itu, pihak berwenang menerima lebih dari 160 laporan pohon tumbang, serta beberapa laporan banjir.

Pada pukul 06.00 pagi, Pusat Meteorologi Nasional Tiongkok mengeluarkan peringatan oranye untuk topan dan hujan lebat.

Diperkirakan topan “Ragasa” akan mendarat di wilayah pesisir antara Taishan dan Zhanjiang, Guangdong, pada 24 September sore hingga malam hari , dengan hembusan angin yang bisa mencapai level 17. Sejumlah daerah di Guangdong telah memberlakukan “lima penghentian”, yaitu penghentian sekolah, pekerjaan, transportasi, produksi, dan kegiatan usaha. (***)

Sumber : NTDTV.com

Gan Jing World Luncurkan Platform Anak dengan Tur Penjelajahan Gratis

Platform ini menerapkan yang disebut oleh perusahaan ini sebagai sistem keamanan tiga lapis yang menggabungkan Ethical AI  dan peninjau konten manusia

oleh Rudy Blalock

Gan Jing World meluncurkan platform streaming khusus anak-anak, Gan Jing Kids, dengan masa uji coba gratis bagi keluarga untuk menemukan konten edukatif yang lebih aman dan berlandaskan nilai-nilai tradisional.

Peluncuran platform ini bertepatan dengan debut “Mina”, film animasi eksklusif pertama dari perusahaan ini yang mana tayang perdana pada 12 September di layanan utama GJW+ serta platform anak terbaru tersebut.

“Kami memilih Mina sebagai film orisinal eksklusif pertama Gan Jing World di Amerika Utara karena kisahnya penuh harapan dan nilai-nilai positif yang dekat dengan hati kami,” kata CEO Gan Jing World, Sherry Yin.

 “Kami sungguh berharap film ini dapat menyentuh kehidupan anak-anak dan keluarga dengan cara yang bermakna—terutama di masa ketika lingkungan daring dipenuhi konten yang tidak sehat,” imbuhnya. 

Gan Jing Kids memposisikan diri sebagai jawaban atas kekhawatiran umum para orangtua mengenai konten digital anak. Platform ini menggunakan sistem keamanan tiga lapis yang mencakup kecerdasan buatan etis, peninjau konten manusia, dan kurasi oleh pakar.

Layanan ini menghapus fitur-fitur yang sering dianggap bermasalah oleh orang tua, seperti gulir tanpa akhir, algoritme manipulatif, sistem komentar, dan fungsi obrolan. Pelanggan mendapat konten video bebas iklan sepenuhnya.

“Akhirnya ada platform streaming anak dengan harga lebih terjangkau dan konten lebih aman untuk anak-anak saya—keluarga kami menyukainya!” kata orang tua Susanna Prion.

Platform ini menyusun kontennya dalam enam kategori edukasi yang disebut perusahaan mendukung perkembangan komprehensif anak, mencakup ranah kognitif, kreativitas, dan pembentukan karakter:

  • Bahasa Inggris dan perkembangan kognitif: Pocoyó, menampilkan tokoh muda penuh rasa ingin tahu bersama teman-teman hewannya dalam petualangan belajar untuk anak usia 4 tahun ke bawah.
  • Pembelajaran sosial-emosional: Superdino, mengikuti kisah dinosaurus di sebuah pulau misterius, untuk anak usia 5–8 tahun.
  • Bahasa dan bercerita: The Wonderful World of Chinese Characters, menghubungkan anak-anak dengan sejarah budaya melalui eksplorasi bahasa, untuk usia 5–8 tahun.
  • Sains dan penemuan: How Does Water Move Around?, menjelaskan siklus air melalui proses hujan, penguapan, dan kondensasi, untuk anak usia 9–12 tahun.
  • Kreativitas dan seni: Nicole’s Attic, tempat anak-anak berpartisipasi dalam proyek seni kolaboratif dan menemukan bakat individu, untuk usia 9–12 tahun.
  • Kesehatan dan gerak: Ponysitters Club: The Big Sleepover, menekankan kerja sama tim dan pencapaian tujuan, untuk anak usia 5–8 tahun.

“Putri saya menyukai para karakternya dan belajar bahasa serta bagaimana bersikap sopan dan baik. Saya sangat merekomendasikannya kepada semua orang tua,” kata orangtua Ben Hedges.

Film animasi Mina menceritakan kisah seorang putri pemberani yang menolak hanya menunggu untuk diselamatkan setelah diculik oleh penyihir jahat. Kisahnya mengikuti upayanya melarikan diri bersama putri-putri lain yang ditawan serta usaha calon suaminya untuk menyelamatkannya.

Film ini dipimpin oleh sutradara pemenang penghargaan Alex Tsitsilin, yang dikenal lewat seri The Snow Queen. Naskahnya ditulis oleh Analisa LaBianco dan Jeffery Spencer, dengan pengisi suara Alyson Leigh Rosenfeld, Dan Edwards, dan Vanessa Johansson.

“Putri Mina mewakili ketangguhan dan kemandirian,” ujar Yin. “Ia bukan hanya berdiri teguh untuk dirinya sendiri, tetapi juga dengan penuh kasih membimbing teman-temannya melewati tantangan, selalu mendahulukan kebutuhan mereka di atas dirinya. Semangat penuh belas kasih ini mencerminkan misi Gan Jing Kids untuk menumbuhkan kebaikan, rasa hormat, dan nilai-nilai positif dalam diri setiap anak.”

Gan Jing World baru-baru ini memperkenalkan teknologi Ethical AI yang dirancang untuk menciptakan lingkungan daring lebih aman.

Sistem ini menggunakan model pembelajaran mendalam canggih untuk menyaring konten tidak pantas sekaligus memprioritaskan materi yang mendukung kesehatan mental. AI ini terdiri dari tiga komponen: Penilaian Kualitas Video untuk menilai gambar, Deteksi Konten Tidak Pantas dengan akurasi lebih dari 90 persen, serta Analisis Teks untuk mengukur nada dan sentimen dalam konten tertulis.

“Sama seperti memberi anak-anak kita makanan sehat, saya berharap mereka juga terbiasa dengan ide-ide yang menjunjung kebaikan dan keluhuran. Gan Jing Kids adalah platform digital yang tepat untuk dipilih,” kata orang tua Jessica Kneipp.

Platform ini beroperasi di bawah filosofi Gan Jing World “Teknologi untuk Kemanusiaan”, yang menekankan penggunaan alat digital untuk menumbuhkan kebaikan dan rasa hormat sekaligus melindungi privasi pengguna.

Nama platform itu Ganjing berarti “bersih” dalam bahasa Mandarin, mencerminkan komitmennya untuk menghadirkan konten bebas dari materi yang bersifat erotis. 

Sumber: NTD News

Trump Menyoroti Agenda Globalis dalam Pidato di PBB

Di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa agenda PBB terkait migrasi massal dan iklim merusak negara-negara bebas dan maju.

EtIndonesia. NEW YORK CITY — Pada 23 September 2025, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengkritik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengecam apa yang disebutnya sebagai agenda globalis terkait imigrasi dan energi hijau, yang ia sebut sebagai “monster berkepala dua” dalam pidatonya di Majelis Umum PBB di New York.

 Ia memperingatkan negara-negara anggota bahwa kebijakan tersebut “menghancurkan sebagian besar dunia bebas.”

Dalam pidatonya yang hampir berlangsung satu jam, Trump menuduh badan internasional itu gagal menyelesaikan masalah yang seharusnya ditangani, seperti mengakhiri konflik, bahkan justru menciptakan persoalan baru.

 “Contoh terbaik adalah isu politik nomor satu di zaman kita: krisis migrasi tak terkendali,” kata Trump. “Negara-negara Anda sedang hancur.”

Trump mengatakan PBB “mendanai serangan terhadap negara-negara Barat” dengan memberikan dukungan uang tunai, makanan, tempat tinggal, dan bantuan lain kepada para migran.

Ia kemudian mengkritik agenda energi terbarukan hijau PBB. Menurutnya, globalisme membebankan beban lebih besar kepada negara maju untuk mengurangi dampaknya terhadap lingkungan, sementara negara lain tetap mencemari secara besar-besaran.

Beberapa kali, ia menyinggung negara-negara Eropa, memperingatkan agar tidak mengikuti agenda semacam itu.

 “Saya mencintai Eropa. Saya mencintai rakyat Eropa. … Anda melakukannya karena ingin terlihat baik, ingin tampak benar secara politik, dan itu menghancurkan warisan Anda,” kata Trump.

“Seluruh konsep globalis yang meminta negara industri yang sukses untuk menyakiti diri mereka sendiri dan mengganggu tatanan masyarakat secara radikal harus ditolak sepenuhnya dan segera.”

Pertemuan tahun ini menandai peringatan 80 tahun PBB dengan tema “Lebih baik bersama: 80 tahun dan seterusnya untuk perdamaian, pembangunan, dan hak asasi manusia.”

Trump selama ini menjadi pengkritik keras PBB, mempertanyakan efektivitasnya dalam menyelesaikan konflik internasional. Setelah menjabat, Amerika Serikat keluar dari sejumlah organisasi PBB atau memangkas pendanaannya.

“Bebaskan Sandera Sekarang”

Menjelang pidato Trump di Majelis Umum PBB, para sekutu AS termasuk Inggris, Prancis, Australia, dan Kanada mengumumkan bahwa mereka akan mengakui negara Palestina di tengah perang Israel–Hamas yang meletus setelah kelompok berbasis di Gaza itu melancarkan serangan mendadak pada 7 Oktober 2023. Dalam serangan tersebut, sekitar 1.200 orang, sebagian besar warga sipil, tewas dan lebih dari 250 orang diculik. Saat ini, puluhan sandera masih ditahan di Gaza.

Trump mengkritik langkah para sekutunya tersebut.  “Alih-alih menyerah pada tuntutan tebusan Hamas, mereka yang menginginkan perdamaian seharusnya bersatu dengan satu pesan: Bebaskan sandera sekarang,” katanya.

Dalam pidatonya, Trump juga memperingatkan sekutu Eropa dan NATO agar tidak terus membeli minyak Rusia yang terkena sanksi, menyebutnya sebagai hal yang “memalukan.”

 “Mereka harus segera menghentikan semua pembelian energi dari Rusia. Jika tidak, kita semua hanya membuang-buang waktu,” ujarnya.

Trump juga mengatakan ia siap memberlakukan tarif baru yang keras terhadap Rusia jika menilai Moskow tidak siap membuat kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang sudah berlangsung lebih dari tiga tahun.

Terakhir kali Trump berpidato di Majelis Umum dari mimbar yang sama adalah pada 2020, saat puncak pandemi COVID-19. Ketika itu, ia menyerukan agar komunitas internasional meminta pertanggungjawaban Tiongkok atas merebaknya virus di kota Wuhan serta upaya menutup-nutupinya.

Trump memperingatkan bahwa riset berisiko terkait senjata biologis dan patogen buatan manusia masih terus berlangsung meski dunia dilanda pandemi, dan mengumumkan bahwa pemerintahannya akan memimpin upaya internasional untuk menegakkan Konvensi Senjata Biologis.

Teleprompter Rusak, Eskalator Macet

Sebelum berpidato, Trump menyapa para pemimpin dan tamu asing di PBB dengan melontarkan candaan soal teleprompter dan eskalator di gedung PBB New York yang tidak berfungsi.

 “Saya tidak keberatan berpidato tanpa teleprompter,” ujarnya sambil bercanda. “Saya hanya bisa bilang siapa pun yang mengoperasikan teleprompter ini dalam masalah besar.”

Dalam pidatonya, Trump mengklaim bahwa ia telah mengakhiri tujuh perang.

 “Saya mengakhiri tujuh perang, berurusan dengan para pemimpin masing-masing negara, dan bahkan tidak pernah menerima satu panggilan pun dari PBB yang menawarkan bantuan menyelesaikan kesepakatan itu,” katanya.

 “Yang saya dapat dari PBB hanyalah sebuah eskalator yang berhenti di tengah jalan ketika saya naik.”

Trump kemudian menulis di Truth Social bahwa teleprompter yang rusak dan eskalator yang macet membuat pidatonya di PBB kemungkinan “lebih menarik,” dan ia menyebutnya suatu kehormatan bisa berpidato di sana, “meski peralatan mereka agak bermasalah.”

Laporan ini juga mendapat kontribusi dari Travis Gillmore, Ryan Morgan, dan Savannah Hulsey Pointer.

Seorang Wanita di Tiongkok Meninggal Dunia Akibat Gagal Organ Setelah Menginjak Asam Fluorida Saat Berjalan-jalan

EtIndonesia. Seorang wanita di Tiongkok timur meninggal dunia setelah menginjak asam (acid) yang dikenal sebagai “air pelarut tulang”, yang memicu kekhawatiran publik atas pengelolaan limbah berbahaya.

Pada 9 September, seorang wanita berusia 52 tahun bermarga Tu dari Hangzhou pingsan setelah menginjak wadah asam fluorida bekas saat berjalan melintasi lereng bukit.

Bahan kimia tersebut menyebabkan pembengkakan yang cepat, dan dia dibawa ke rumah sakit, di mana dokter menemukan bahwa dia menderita gagal organ ganda dan ketidakseimbangan elektrolit yang parah.

“Kemungkinan untuk menyelamatkannya sudah tipis,” kata seorang dokter kepada media Tiongkok daratan, The Paper.

Dalam lima hari, Tu meninggal dunia akibat gagal jantung dan paru-paru.

Anaknya, yang mengunggah foto dengan nama “LIV Yuanbao”, menulis di media sosial: “Saya tidak pernah melihat keajaiban terjadi.”

“Ibu saya meninggalkan kami dengan cara yang tidak dapat kami pahami, dan begitu cepat. Saya harap tidak ada kecelakaan di surga.”

Postingan tersebut mengatakan bahwa wadah asam tersebut sangat tua sehingga mudah pecah, menambahkan bahwa paparan asam fluorida sekecil apa pun dapat berakibat fatal, dan paparan Tu jauh lebih besar dari itu.

Asam fluorida adalah larutan tak berwarna. Asam ini sangat korosif dan dapat melarutkan logam maupun kaca.

Asam ini digunakan dalam industri dan kedokteran gigi untuk tugas-tugas seperti penghilangan karat, penggoresan kaca, dan perawatan permukaan.

Para dokter memperingatkan bahwa paparan tersebut memerlukan tindakan segera dengan melepas pakaian yang terkontaminasi, membilas dengan air, dan segera mencari pertolongan medis.

Bahan kimia tersebut dapat menembus kulit, mengikis jaringan dan tulang, sehingga dijuluki “air pelarut tulang”.

China Newsweek melaporkan bahwa insiden itu terjadi di lereng bukit di belakang kompleks perumahan yang akan dihancurkan.

Polisi menutup dan mendekontaminasi lokasi tersebut dan mengatakan keluarga Tu akan menerima dukungan.

The Beijing News juga melaporkan bahwa penduduk setempat pernah menanam sayuran di dekatnya.

Penyelidik menemukan dua botol asam lagi, yang kini telah disingkirkan.

Polisi mengatakan asam tersebut ditinggalkan oleh seorang petugas kebersihan bermarga Ai, yang pekerjaannya termasuk membersihkan dinding.

Dia pindah dari daerah itu pada tahun 2015 dan sejak itu telah ditahan.

Menurut seorang pengacara yang dikutip oleh Hongxing News, Ai dapat menghadapi hukuman penjara hingga tujuh tahun karena secara lalai melepaskan zat berbahaya.

Insiden ini telah menjadi tren di media sosial Tiongkok daratan, ditonton lebih dari 20 juta kali.

Seorang pengamat daring berkata: “Ini adalah kecelakaan keselamatan publik yang serius. Tu sangat disayangkan, dan saya turut berduka cita atas kepergiannya.”

“Mengapa bahan kimia berbahaya seperti itu tertinggal di jalan? Polisi perlu menyelidiki secara menyeluruh dan memberikan penjelasan kepada korban,” tulis yang lain.

Di Tiongkok, asam fluorida industri dengan konsentrasi di atas 30 persen diatur secara ketat.

Namun, di beberapa platform e-commerce Tiongkok daratan, versi dengan konsentrasi lebih rendah dijual dengan harga 10 hingga 40 yuan.

Salah satu iklan menggambarkannya sebagai pembersih kaca dan ubin dan menyarankan pembeli untuk mengenakan sarung tangan dan masker.

Pada bulan Januari, seorang pria di Tiongkok tenggara mengenakan dua pasang sarung tangan saat membersihkan keramik dengan bahan kimia tersebut, tetapi masih mengalami korosi pada tiga jarinya. (yn)

Berapa Harga Pacarmu?

EtIndonesia. Dalam sebuah acara hiburan televisi, seorang wanita pembawa acara dengan nada tajam bertanya pada seorang pria peserta:  “Kenapa kamu begitu peduli dengan uang?”

Pria itu tersenyum dan menjawab: “Karena uang bisa membeli segalanya!”

Sontak, penonton di studio heboh, bahkan mencemooh.

Namun pria itu kembali tersenyum dan berkata: “Mari kita lakukan sebuah uji coba. Temanya sederhana: bayangkan ada seseorang yang membencimu, tapi jatuh cinta pada pacarmu. Dia ingin kamu mundur, dan untuk itu dia bersedia memberi kompensasi. Pertanyaannya: berapa harga yang sanggup membuatmu menyerah?”

Awalnya, semua penonton menatap dengan sinis.

Pria itu lalu menyebutkan harga pertama: 50 ribu yuan.

Suasana studio langsung riuh:  “50 ribu? Itu sama saja menghina orang! Demi uang segitu, rela menyerahkan cinta? Itu bukan hanya mengkhianati pasangan, tapi juga menginjak harga diri!”

Kemudian, pria itu menaikkan harga kedua: 500 ribu yuan.

Kali ini, suara penonton mulai berkurang. Beberapa orang mulai berhitung dalam hati. Setelah cukup lama, sebagian besar pria tetap mengatakan “tidak”. Pacar yang duduk di samping mereka menatap penuh haru.

Namun, ada juga sebagian kecil yang berkata “ya”. 

Salah seorang di antaranya menjelaskan:  “Saya sendiri tidak punya uang. Orangtua saya sudah susah payah seumur hidup. Kalau di usia tua mereka sakit tapi tak ada biaya untuk berobat, demi mereka saya rela melepas cinta.”

Pria itu kembali menaikkan harga ketiga: 5 juta yuan.

Setengah dari para pria mendadak terdiam, sisanya menjawab dengan suara pelan: “Saya tetap memilih cinta.”

Tapi pacar mereka justru terlihat ragu. Seorang gadis bahkan berdiri dan berkata:  “Kalau ada pria yang rela mengeluarkan 5 juta demi saya, rasanya saya tidak punya alasan untuk menolak.”

Kebanyakan pria pun akhirnya goyah. Dengan 5 juta, mereka bisa membeli rumah, mobil, membuat keluarga hidup nyaman, bahkan memulai usaha.

Pria itu kembali menaikkan harga keempat: 50 juta yuan!

Seluruh ruangan heboh. Hanya satu pria yang tetap berkata “tidak”. 

Dia menegaskan:  “Cinta saya tak ternilai dengan uang.”

Namun, ketika ditanya pendapat pacarnya, si gadis menjawab jujur: “Aku memang tersentuh oleh keteguhannya. Tapi lebih tersentuh lagi jika ada seseorang yang rela mengorbankan 50 juta demi diriku. Pandangannya memang patut dihormati, tapi… itu tidak realistis.”

Pada akhirnya, hampir semua orang memilih uang. Padahal orang yang dimaksud tetaplah sama, sifatnya pun tidak berubah—tetapi ketika jumlah uang berubah, penilaian orang terhadapnya pun ikut berubah.

Cinta memang dikatakan tak ternilai. Tapi ketika diuji dengan tawaran uang, banyak orang justru berubah sikap. Kalau cinta bisa ditukar dengan uang, apakah itu masih pantas disebut cinta? 

Ada yang mengatakan:  “Yang ditukar dengan uang bukanlah cinta, melainkan hak kepemilikan. Karena cinta sejati sudah pergi sejak awal.”

Di akhir acara, pria itu menyampaikan kalimat penutup yang dalam: “Saya percaya pada cinta, percaya pada kebaikan manusia. Justru karena itu saya berusaha keras mencari uang. Saya hanya tidak ingin cinta dan kemanusiaan saya diuji oleh uang orang lain.” (yn)

Topan Ragasa: 14 Tewas, 124 Hilang Akibat Jebolnya Tanggul Danau di Taiwan

EtIndonesia. Setidaknya 14 orang tewas ketika tanggul danau berusia puluhan tahun jebol di Taiwan, kata seorang pejabat pemerintah, Rabu (24/9), setelah Topan Super Ragasa menghantam pulau itu dengan hujan deras.

Ragasa menghantam Philipina utara dan Taiwan pada Senin dengan hujan lebat dan angin kencang, memaksa ribuan orang mengungsi.

Tanggul danau di wilayah timur Hualien jebol pada Selasa, menghanyutkan sebuah jembatan dan menyapu sebuah kota.

“Hingga pukul 7 pagi Rabu (23.00 GMT Selasa), 14 orang dipastikan tewas dan 18 luka-luka,” kata Lee Kuan-ting, seorang pejabat pers Pemerintah Kabupaten Hualien.

Lee mengatakan kepada AFP bahwa tim penyelamat juga sedang mencari 30 orang yang dilaporkan hilang di daerah tersebut.

Badan Pemadam Kebakaran Nasional kemudian memperbarui jumlah orang hilang menjadi 124 orang.

Petugas pemadam kebakaran Hualien mengatakan banjir sempat naik setinggi lantai dua sebuah rumah di beberapa bagian kota pada hari Selasa, menyebabkan sekitar 263 orang terlantar.

Mereka tidak dalam bahaya langsung dan diminta untuk tinggal dan menunggu air surut.

Rekaman yang dirilis oleh badan pemadam kebakaran menunjukkan jalanan yang terendam banjir dan mobil-mobil yang setengah terendam air sementara pohon-pohon tumbang di area tersebut.

Di seluruh Taiwan, lebih dari 7.600 orang dievakuasi akibat Topan Ragasa.

Sekitar 3.100 orang telah dievakuasi sebelumnya dan pindah ke rumah kerabat di daerah dekat sungai di Hualien, menurut badan pemadam kebakaran.

Taiwan mengalami badai tropis yang sering terjadi dari Juli hingga Oktober.

Topan Danas, yang melanda pulau itu pada awal Juli, menewaskan dua orang dan melukai ratusan orang saat badai tersebut menurunkan hujan lebih dari 50 cm di wilayah selatan selama akhir pekan. (yn)

Tuhan Suka Sandal Emas

EtIndonesia. Menjelang Natal, suasana supermarket begitu padat. Setiap kasir dipenuhi antrean panjang. Aku memilih barisan yang paling pendek—tetap saja butuh waktu sekitar 20 menit.

Di depanku berdiri dua anak kecil: seorang bocah lelaki kira-kira lima tahun dan adik perempuannya yang lebih kecil.

Sang kakak mengenakan jaket tipis yang sudah lusuh, ujungnya hampir menyentuh lantai. Celana jeansnya kependekan, dan di kakinya hanya ada sepasang sepatu olahraga usang dengan beberapa jari yang menyembul keluar. Tangannya yang kotor menggenggam erat beberapa lembar uang kusut.

Adiknya pun sama sederhananya. Rambutnya keriting acak-acakan, wajahnya masih ada sisa noda makanan dari makan malam kemarin. Namun di pelukannya, dia mendekap erat sebuah benda berharga: sepasang sandal rumah berwarna emas, berkilau hangat diterpa cahaya lampu toko. Mendengar musik Natal yang riang, dia ikut bernyanyi lirih meski nadanya sumbang—wajahnya tetap penuh kebahagiaan.

Sepasang Sandal Emas

Ketika tiba giliran mereka di kasir, si gadis kecil dengan hati-hati meletakkan sandal emas itu di atas meja, menatapnya seolah itu harta karun.

Kasir menghitung cepat dan berkata: “Jumlahnya 6,09 dolar.”

Sang kakak mulai membuka satu per satu uang kusut di tangannya, lalu merogoh ke dalam saku celana dalam-dalam. Semua hanya berjumlah 3,12 dolar. 

Dia menoleh ke adiknya, berusaha tegar meski wajahnya berat: “Sepertinya kita harus mengembalikan sandal ini. Kita bisa datang lagi besok… mungkin besok kita sudah cukup uang.”

Mendengar itu, wajah si gadis langsung berubah. 

Matanya berkaca-kaca lalu dia tersedu: “Tapi… Tuhan pasti suka sandal ini…”

Ucapannya pecah bersama air mata deras.

Sang kakak meraih pundaknya, menepuk lembut: “Aku tahu… tapi kita harus kerja lebih keras dulu. Jangan menangis, besuk kita akan kembali.”

Hadiah Kecil di Hari Natal

Hati ini tercekat menyaksikan pemandangan itu. Tanpa pikir panjang, aku mengeluarkan 3 dolar dari dompet dan menyerahkannya ke kasir.

“Tolong, ini untuk kedua anak ini. Mereka sudah menunggu lama. Lagi pula, sekarang kan Natal.”

Transaksi selesai. Aku hendak pergi ketika merasakan ada tangan kecil menarik bajuku.

Suara lembut bergetar terdengar: “Terima kasih, Ibu…”

Aku menoleh. Si gadis kecil menatapku dengan wajah penuh bekas air mata, namun tersenyum indah bak malaikat.

Jalan Emas Menuju Surga

Aku tak kuasa menahan rasa ingin tahu, dan bertanya pada mereka : “Kenapa tadi kamu bilang Tuhan pasti suka sandal ini?”

Sang kakak menjawab dengan wajah serius: “Mama kami sedang sakit parah. Dokter bilang, mungkin sebelum Natal Mama akan pergi ke surga. Papa bilang, Mama akan segera bertemu Tuhan.”

Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara bergetar: “Guru di gereja bilang, jalan ke surga itu dari emas berkilau, seperti cahaya. Kalau Mama memakai sandal emas ini, dia akan tampak sangat pantas berjalan di jalan itu. Tuhan pasti suka sandal ini… juga akan suka Mama kami. Benar begitu, kan?”

Air mataku langsung mengalir. Aku berjongkok, merengkuh kedua anak polos itu dalam pelukan.

“Ya… aku percaya. Mama kalian akan tampak sangat indah dengan sandal ini. Dan Tuhan pasti akan menyayanginya.”

Renungan

Natal adalah waktu memberi. Tapi kadang yang paling mengharukan bukanlah hadiah besar—melainkan cinta sederhana dari anak kecil untuk ibunya.

Sepasang sandal emas, bagi mereka bukan sekadar alas kaki, melainkan simbol kasih sayang dan keyakinan bahwa cinta seorang ibu akan selalu diterima di surga.

Karena pada akhirnya, Tuhan memang paling menyukai hati yang penuh kasih. (jhn/yn)