Korban Tewas Akibat Penyeberangan Ilegal ke Spanyol Meningkat Menjadi 72 Orang

EtIndonesia.com Krisis penyeberangan ilegal di Ceuta, wilayah kantong (enklave) Spanyol yang terletak di Afrika Utara, terus memburuk. Hingga 2 Agustus, jumlah korban tewas telah meningkat menjadi 72 orang. Sementara itu, ribuan migran terus meninggalkan Ceuta dan kembali ke Maroko.

“Berdasarkan data terbaru yang kami miliki saat ini, jumlah korban meninggal dunia mencapai 72 orang. Itulah angka terbaru yang kami ketahui,” ujar Perwakilan Pemerintah Spanyol di Ceuta, Miguel Terriano. 

Miguel Terriano menambahkan bahwa pemerintah telah mengerahkan lebih banyak personel keamanan untuk menangani krisis tersebut.

“Jumlah personel kepolisian yang ditempatkan di kota ini telah ditingkatkan dari 696 menjadi 1.042 orang, atau naik sekitar 33,3 persen. Selain itu, pada hari Kamis yang sama, angkatan bersenjata juga telah dikerahkan dengan sekitar 2.000 personel. Dengan demikian, selama beberapa hari terakhir kami telah menempatkan hampir 3.000 petugas keamanan di Ceuta untuk memulihkan ketertiban, dan mereka akan tetap bertugas selama masih diperlukan,” katanya. 

Sebelumnya, sekitar 50.000 hingga 60.000 migran ilegal dilaporkan berhasil menerobos perbatasan, memicu krisis besar yang mengakibatkan banyak korban jiwa.

Meskipun pemerintah Spanyol telah menerapkan langkah-langkah pengendalian baru, sebagian migran masih terus mencapai Ceuta melalui jalur laut.

Di saat yang sama, banyak migran juga mulai meninggalkan Ceuta untuk kembali ke Maroko. Pasukan keamanan mengawal mereka menuju pos perbatasan El Tarajal.

Pemerintah Spanyol menyatakan bahwa lebih dari 48.000 orang telah kembali ke Maroko dalam waktu 48 jam.

Salah seorang migran, Jalal Khadir, mengatakan : “Di sini tidak ada makanan, tidak ada siapa-siapa. Polisi juga tidak datang. Orang-orang hanya duduk di sini, dan kami semua ingin pergi.”

Gelombang penyeberangan lintas batas yang belum pernah terjadi sebelumnya ini telah mendorong 22 negara anggota Uni Eropa untuk mengeluarkan pernyataan bersama yang menyerukan penguatan perlindungan perbatasan eksternal Uni Eropa.

Laporan disusun oleh Yan Feng dan Zhao Jialin, NTDTV.

Benarkah Messi Menjual Final Piala Dunia 2026?

LAPORAN KHUSUS

Stadion terlihat megah di bawah lampu sorot, namun atmosfer di tribun kehormatan jauh dari kata hangat. Di sana, Presiden Amerika Serikat Donald Trump harus duduk berdampingan dengan Raja Felipe VI dari Spanyol dan Perdana Menteri Spanyol yang beraliran kiri. Ketegangan geopolitik antara Washington dan Madrid—yang dipicu oleh penutupan pangkalan militer AS di Rota dan Morón—tampak nyata bahkan sebelum peluit pertama dibunyikan. 

Spanyol akhirnya keluar sebagai juara setelah mengalahkan Argentina 1-0 lewat gol Ferran Torres di babak tambahan waktu menit ke-106. Namun, bagi dunia internasional, drama yang sebenarnya baru dimulai tepat setelah trofi diserahkan.

“Piala Dunia telah berakhir, namun dua ‘pertandingan’ yang benar-benar ramai justru baru saja dimulai,” ujar Jiang Feng dalam ulasannya di kanal YouTube 江峰时刻 (Jiang Feng Moments). Gelombang informasi yang menghantam jagat maya pasca-final bukan sekadar kekecewaan penggemar, melainkan sebuah anomali digital yang terorganisir: teori konspirasi bahwa Lionel Messi dan tim nasional Argentina sengaja mengalah.

Tsunami Disinformasi: Petisi 23 Juta Tanda Tangan

Hanya dalam hitungan hari setelah final, sebuah situs independen bernama Argentina Out muncul ke permukaan. Situs tersebut meluncurkan petisi yang menuntut agar Argentina dilarang selamanya dari Piala Dunia karena dugaan “pengaturan skor”. Angka yang muncul sangat fantastis: lebih dari 23 juta tanda tangan dari 170 negara terkumpul dalam waktu singkat.

Namun, Jiang Feng menyoroti kejanggalan di balik angka tersebut. “Angka 23 juta ini melampaui jumlah penduduk banyak negara. Jika dilihat sekilas, ini tampak seperti keajaiban internet, tetapi angka ini tidak diaudit secara independen,” jelas Jiang Feng. 

Verifikasi lebih lanjut menunjukkan bahwa situs tersebut sering kali mengalami error 404 saat mencoba dilacak basis data tanda tangannya, mengindikasikan penggunaan bot atau mesin untuk memanipulasi persepsi publik.

Kampanye ini disertai dengan serangan pribadi yang masif terhadap Messi. Megabintang itu tiba-tiba dijuluki sebagai “penipu” dan “produk kemasan FIFA” oleh ribuan akun anonim. Ironisnya, kebencian moral ini meledak secara serentak di kalangan akun-akun yang bahkan sebelumnya tidak mengenal nama pemain tengah Argentina.

Bedah “Bocoran” Internal: Dari Agüero hingga Riquelme

Bahan bakar utama teori konspirasi ini adalah potongan teks yang diklaim sebagai bocoran internal dari lingkaran dalam tim nasional Argentina. Salah satu yang paling viral adalah pernyataan yang diatribusikan kepada Sergio Agüero. Jiang Feng mengutip teks tersebut yang mengklaim bahwa ruang ganti Argentina sebelum final terasa “menyesakkan dan tertekan”.

Dalam kutipan yang beredar, Agüero konon berkata: “Messi tidak normal. Biasanya saat pemanasan ia bisa mencetak lima atau enam gol, tapi kali ini hanya dua. Messi bahkan meminta rekan setimnya untuk berpura-pura cedera”. Narasi ini membandingkan kekalahan 2026 dengan final Piala Dunia 1990, di mana mendiang Diego Maradona bersikeras bahwa mereka “dipaksa” kalah dari Jerman.

Namun, penelusuran mendalam terhadap media-media besar di Argentina, Spanyol, maupun media berbahasa Inggris menunjukkan hasil nol. Tidak ada rekaman audio maupun transkrip wawancara asli dari Agüero terkait hal ini. Teknik manipulasi serupa juga menyeret nama legenda Juan Román Riquelme. Sebuah kutipan palsu mengeklaim Riquelme bercerita bahwa pada 1990, ketua federasi sepak bola Argentina meminta Maradona untuk mengalah.

“Sangat mudah untuk membedah kebohongan ini. Pada tahun 1990, Riquelme baru berusia 12 tahun,” ungkap Jiang Feng. “Ini adalah struktur khas dari perang informasi modern: seratus akun menyebarkan narasi, tapi semuanya berasal dari satu sumber tunggal yang tidak jelas, atau bahkan tidak ada sumbernya sama sekali”.

Anatomi Kekalahan: Taktik Scaloni yang Menjadi Bumerang

Bagi pengamat sepak bola, performa Argentina di final memang tampak tidak biasa. Tim yang sebelumnya menunjukkan semangat juang luar biasa saat membalikkan keadaan melawan Mesir di babak 16 besar dan Inggris di semifinal, tiba-tiba bermain sangat pasif melawan Spanyol.

Melawan Mesir, meskipun tertinggal dua gol hingga menit ke-79, pelatih Lionel Scaloni melakukan perjudian besar dengan menarik mundur posisi Messi untuk mengacaukan struktur pertahanan lawan. Argentina menang 3-2. Melawan Inggris, Scaloni bahkan berani membuang “perisai” pertahanannya untuk menekan total hingga menang 2-1.

Namun di final, Scaloni menerapkan pola 4-4-2 yang sangat konservatif. Argentina hanya mencatatkan dua tembakan dan nol tembakan tepat sasaran sepanjang laga. Jiang Feng menganalisis bahwa ini bukan karena instruksi untuk mengalah, melainkan kesalahan strategi “menunggu” yang fatal. 

“Scaloni mungkin menaruh seluruh harapannya pada satu rencana: menekan lini tengah, menurunkan tempo, dan menyeret pertandingan ke adu penalti karena mereka memiliki kiper ‘master psikologis’ seperti Emiliano Martínez,” urai Jiang Feng. Sayangnya, strategi untuk “tidak kalah” justru membuat mereka kehilangan semangat dan kemampuan untuk menang.

Kontroversi semakin memuncak saat Rodri (pemain Spanyol) dianugerahi Golden Ball sebagai pemain terbaik turnamen, mengalahkan Messi yang mencetak delapan gol dan empat assist. “Ada dua sistem penilaian yang berbenturan di sini. Messi mewakili kreativitas dan kecemerlangan individu, sementara Rodri mewakili struktur tim dan kemenangan kolektif,” kata Jiang Feng. 

Ketidakterbukaan FIFA dalam proses pemungutan suara inilah yang kemudian dieksploitasi oleh aktor-aktor di balik layar untuk membangun narasi “pengaturan politik”.

Jejak Digital dan Aktor di Balik Layar

Siapa yang paling diuntungkan dari kekacauan informasi ini? Jiang Feng menunjuk pada pola serangan digital yang mirip dengan operasi pengaruh rahasia yang pernah dilakukan oleh aktor negara tertentu di masa lalu. Ia merujuk pada data platform X (dahulu Twitter) yang pernah menghapus ratusan ribu akun palsu dari Tiongkok yang digunakan untuk memanipulasi opini publik terkait protes Hong Kong 2019 dan pemilu Taiwan.

Operasi ini sering kali menggunakan teknik “分化” (divisi/pemecahan). Mereka tidak lagi sekadar memuji Tiongkok, melainkan berpura-pura menjadi pemilih lokal atau komunitas luar negeri untuk menyebarkan disinformasi. “Bahaya utama dari akun-akun palsu ini bukan untuk meyakinkan orang, melainkan untuk mengganggu kemampuan masyarakat dalam menerima informasi normal,” tegas Jiang Feng.

Dalam konteks Argentina, serangan terhadap Messi dan tim nasionalnya juga berimbas pada kebijakan domestik pemerintahan sayap kanan Javier Milei. Pemerintahan Milei, yang baru saja mencapai kesepakatan ekonomi penting dengan AS di bawah Trump, kini menghadapi tekanan dari pendukungnya sendiri untuk menghentikan layanan kesehatan dan pendidikan gratis bagi warga asing sebagai balasan atas “serangan” internasional terhadap Messi.

“Menjelek-jelekkan Argentina sebenarnya adalah cara untuk menyerang kebijakan luar negeri dan ekonomi Amerika Serikat saat ini dari samping,” Jiang Feng menjelaskan. Dengan memanfaatkan sentimen nasionalisme yang kental dalam sepak bola, aktor-aktor ini menciptakan kekacauan di dalam negeri Argentina sekaligus merusak citra sekutu-sekutu strategis AS.

Kesimpulan: Stoikisme Sang Messiah

Di tengah badai fitnah dan teori konspirasi yang merajalela, Lionel Messi memilih jalan yang paling tidak terduga bagi banyak orang: diam. Setelah final, ia memberikan ucapan selamat kepada Spanyol secara terbuka, lalu menghilang dari hiruk-pikuk publik.

“Messi tidak butuh pujian yang besar, dan ia tidak peduli untuk membalas rumor-rumor ini,” kata Jiang Feng. Messi dilaporkan langsung kembali ke Rosario untuk menemani ayahnya yang sedang sakit, layaknya seorang putra biasa.

Jiang Feng menyimpulkan fenomena ini sebagai pengingat akan pentingnya berpikir kritis di era perang informasi. “Kemarahan menyebar lebih cepat daripada kebaikan, dan keraguan lebih mudah menggoyahkan penilaian daripada kepercayaan,” pesannya. Apa yang menimpa Messi adalah bukti bahwa mesin disinformasi hari ini bisa menargetkan siapa saja—mulai dari bintang olahraga, kelompok keyakinan, hingga sebuah negara—untuk kepentingan geopolitik yang lebih besar. Namun, ketenangan Messi menunjukkan bahwa kebenaran pada akhirnya tidak memerlukan pembelaan yang berisik, melainkan kejernihan jiwa seorang pahlawan sejati.

[Laporan ini disarikan dari kanal YouTube: 江峰时刻 (Jiang Feng Moments) edisi 23 Juli 2026]

Tingkat Positif COVID-19 di Tiongkok Lampaui 20%, IGD Penuh, Penggunaan Obat Meningkat Tajam

Kasus COVID-19 di Tiongkok kembali menunjukkan tren peningkatan. Tingkat hasil tes positif baru-baru ini untuk pertama kalinya melampaui 20%. Sejumlah dokter di daratan Tiongkok menyebut bahwa “COVID-19 kembali merebak.” Bahkan ada dokter yang mengunggah di media sosial bahwa ruang gawat darurat rumah sakit sudah penuh sesak, hingga pasien tidak lagi memiliki tempat untuk berbaring

EtIndonesia.com Berdasarkan data yang dirilis Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok (CDC) pada 30 Juli, selama periode 20–26 Juli, tingkat positif tes COVID-19 mencapai 20,3%, naik sekitar 4 poin persentase dibandingkan minggu sebelumnya. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di antara seluruh penyakit menular saluran pernapasan yang dipantau.

Data juga menunjukkan bahwa hanya dalam waktu tiga minggu, tingkat positif COVID-19 di layanan rawat jalan dan instalasi gawat darurat meningkat dari 9,6% menjadi 20,3%, atau lebih dari dua kali lipat dibandingkan minggu epidemiologi ke-27.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa karena pemerintah Tiongkok sering dituduh tidak sepenuhnya terbuka mengenai data wabah, jumlah kasus sebenarnya sulit diketahui secara pasti.

Di media sosial Tiongkok, banyak warganet mengaku kembali terinfeksi COVID-19. Mereka menulis bahwa virus tersebut “sulit dicegah”, dan mengeluhkan bahwa kantor maupun sekolah dipenuhi orang yang jatuh sakit, bahkan ada yang mengatakan seluruh anggota keluarganya ikut terinfeksi.

Pada 31 Juli, seorang dokter dari Provinsi Shandong menulis di Weibo:”IGD rumah sakit sudah penuh sesak, bahkan lantai pun tidak ada tempat lagi untuk berbaring. Pasien COVID-19 atau yang gejalanya ringan diminta pulang. Pasien pneumonia harus menerima infus sambil berdiri atau berjalan. Yang tersisa di IGD semuanya pasien berat. Tidak ada lagi tempat tidur, benar-benar sudah habis.”

Pada 1 Agustus, akun “Medsci (梅斯醫學)” di platform NetEase mengutip seorang dokter dari Provinsi Liaoning yang mengatakan bahwa dalam beberapa waktu terakhir terjadi lonjakan bersamaan kasus COVID-19, influenza A, dan influenza B, sehingga penggunaan obat antivirus meningkat tajam.

Ledakan Besar di Jalan Tol Shandong, Bola Api Menelan Deretan Kendaraan, Pemerintah Hanya Melaporkan Satu Korban Luka

Pada 1 Agustus, terjadi ledakan besar di sebuah ruas jalan tol di Kota Yucheng, Dezhou, Provinsi Shandong. Video kejadian tersebut dengan cepat menyebar luas di internet Tiongkok, namun tidak lama kemudian rekaman-rekaman tersebut dilaporkan telah dihapus dari berbagai platform daring di Tiongkok.

Video yang kemudian beredar di luar negeri memperlihatkan sebuah truk di tengah antrean kendaraan tiba-tiba meledak. Kobaran api besar langsung membumbung tinggi ke udara, sementara gelombang kejut ledakan begitu kuat hingga membuat telepon genggam seorang saksi mata terlepas dari tangannya. Lokasi kejadian tampak porak-poranda, dan kendaraan di sekitarnya ikut dilalap api.

Menurut keterangan warga desa di sekitar lokasi, kecelakaan bermula dari tabrakan antara dua kendaraan, kemudian tabung gas yang dibawa salah satu truk meledak.

Rekaman di lokasi menunjukkan bahwa ledakan tersebut sangat besar, sementara saat kejadian terdapat banyak kendaraan lain di sekitar lokasi.

Namun, pemerintah daerah menyatakan bahwa insiden tersebut telah segera ditangani dan hanya menyebabkan satu orang terluka tanpa korban jiwa.

Pernyataan resmi itu segera memicu keraguan dari sejumlah warganet di luar negeri. Banyak yang berkomentar: “Dengan ledakan sebesar itu, kalau hanya satu orang yang terluka, sulit dipercaya.”

Video Bayi Baru Lahir Tersenyum Lebar Jadi Viral di Internet

EtIndonesia.com  Sebuah video yang memperlihatkan seorang bayi yang baru lahir tersenyum lebar seolah-olah sedang “tertawa bahagia” menjadi viral di media sosial Tiongkok. Pada 3 Agustus, topik tersebut masuk dalam daftar pencarian terpopuler dan memicu banyak diskusi di kalangan warganet.

Dalam video yang beredar, seorang perawat menggendong bayi yang baru lahir sambil berkata:”Bayi ini tidak menangis, malah tersenyum. Lihat deh.”

Tak lama kemudian, bayi itu tampak tersenyum lebar hingga membuat sang perawat ikut tertawa. Tingkah lucunya membuat banyak warganet merasa gemas.

Beragam komentar warganet

Topik tersebut segera menjadi perbincangan hangat. Sejumlah komentar yang muncul antara lain:

  • “Kalau tidak menangis, biasanya dokter akan merangsangnya sampai menangis. Bayi memang harus menangis saat lahir.”
  • “Saya juga tidak menangis saat lahir. Kata ibu saya, dokter sampai harus menepuk saya agar menangis.”
  • “Menangis saat lahir itu baik karena membantu paru-paru bayi menyesuaikan diri dengan lingkungan luar.”

Ada pula yang meragukan bahwa video itu benar-benar direkam tepat setelah bayi dilahirkan.

  • “Sepertinya bukan detik-detik setelah lahir. Saat baru lahir tubuh bayi biasanya masih kotor, sedangkan bayi ini tampaknya sudah dimandikan.”
  • “Tangisan pertama terjadi sesaat setelah keluar dari rahim. Bayi di video ini sudah dimandikan dan dibedong, mungkin usianya sudah sehari.”
  • “Kemungkinan bayi ini sudah lahir beberapa hari.”

Sementara itu, banyak komentar lain memuji kelucuan bayi tersebut:

  • “Waktu anak perempuan saya lahir, perawat juga bilang dia sedang tersenyum.”
  • “Lucu sekali, bahkan seperti tertawa sambil mengeluarkan suara.”
  • “Kalau bayi lain menangis keras, bayi ini malah dengan tenang mengamati dunia baru. Santai sekali.”
  • “Bayi seperti ini memang jarang. Semoga tumbuh sehat dan selalu bahagia.”

Dokter: Menangis saat lahir lebih penting daripada tersenyum

Dokter spesialis anak Zhu Haiqiao, Kepala Departemen Pediatri Rumah Sakit Rakyat Provinsi Zhejiang, menjelaskan melalui akun Weibo bahwa dari sudut pandang medis, menangis saat lahir sebenarnya lebih penting daripada tersenyum.

Menurutnya, menangis membutuhkan kerja paru-paru sehingga membantu alveolus (kantung udara paru-paru) mengembang dan memulai fungsi pernapasan. Sebaliknya, tersenyum hanya melibatkan otot-otot wajah.

Ia mengatakan bahwa bayi yang baru lahir secara normal memang akan menangis, bukan tersenyum. Oleh karena itu, bayi yang hanya tersenyum tetapi tidak menangis belum tentu merupakan tanda yang baik.

Tangisan pertama menandakan paru-paru mulai bekerja

Pada 3 Agustus, sebuah artikel yang dimuat di Sina oleh blogger “Yuying Fengxiangbiao” (育嬰風向標) menjelaskan bahwa ketika bayi lahir, paru-parunya masih berupa jaringan yang belum terisi udara.

Tangisan pertama merupakan tanda bahwa bayi telah menghirup udara, mengembangkan alveolus, dan berhasil membangun sistem pernapasan mandiri. Suara tangisan menunjukkan bahwa udara telah melewati pita suara dan sistem pernapasan mulai berfungsi dengan baik.

Penulis menjelaskan bahwa dokter biasanya menilai kesehatan bayi baru lahir berdasarkan kemampuannya bernapas secara efektif serta apakah tangisannya cukup kuat dan teratur. Selama bayi dapat menangis, bernapas dengan normal, dan warna kulitnya tampak kemerahan atau merah muda yang sehat, maka ekspresi yang tampak seperti “tersenyum” sesaat setelah lahir umumnya masih dianggap normal.

Yang perlu diwaspadai justru jika bayi tidak menangis sama sekali

Penulis juga menegaskan bahwa kondisi yang perlu mendapat perhatian adalah apabila bayi sama sekali tidak menangis dan tidak menunjukkan gerakan bernapas setelah dilahirkan.

Dalam situasi seperti itu, tenaga medis akan segera melakukan tindakan darurat, misalnya:

  • menepuk punggung bayi,
  • membersihkan lendir dari saluran napas,
  • atau merangsang telapak kaki agar bayi mulai bernapas.

Karena itu, orang tua tidak perlu terlalu cemas apabila bayi tidak langsung menangis pada detik pertama setelah lahir. Selama akhirnya bayi dapat bernapas dengan normal, kondisi kesehatannya umumnya tetap baik.

Sumber : NTDTV.com

Suhu di Yangsan, Korea Selatan, Mencapai 42,5°C, Tertinggi dalam 122 Tahun

EtIndonesia.com Kota Yangsan, Provinsi Gyeongsang Selatan, Korea Selatan, mencatat suhu maksimum 42,5°C pada 2 Agustus siang, memecahkan rekor suhu tertinggi dalam 122 tahun sejarah pengamatan cuaca di negara tersebut. Dalam hampir tiga bulan terakhir, gelombang panas berkepanjangan telah menyebabkan 1.871 kasus penyakit akibat panas, dengan 13 orang meninggal dunia.

Menurut kantor berita Yonhap, pada pukul 13.16 waktu setempat, suhu di Yangsan mencapai 42,0°C, kemudian naik menjadi 42,5°C pada pukul 13.26, menjadikannya suhu tertinggi sejak Korea Selatan memulai pengamatan meteorologi modern pada tahun 1904.

Badan Meteorologi Korea (KMA) pada pukul 11.00 meningkatkan status peringatan suhu tinggi di wilayah barat laut Seoul menjadi peringatan gelombang panas, sehingga seluruh wilayah Seoul berada pada tingkat kewaspadaan panas level kedua tertinggi.

Berdasarkan data dari 97 stasiun pengamatan iklim yang dikelola KMA serta lebih dari 550 stasiun cuaca otomatis di seluruh negeri, suhu yang tercatat di Yangsan pada hari itu menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.

KMA menjelaskan bahwa suhu ekstrem yang melanda Yangsan dan sejumlah wilayah di Provinsi Gyeongsang Selatan disebabkan oleh kombinasi langka antara sistem cuaca berskala besar dan kondisi topografi setempat. Pemerintah memperingatkan warga di daerah terdampak agar segera menghentikan seluruh aktivitas di luar ruangan.

Gelombang panas yang berkepanjangan juga telah menimbulkan korban jiwa dan mengganggu kehidupan masyarakat di berbagai wilayah Korea Selatan. Menurut data dari Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA), sejak 15 Mei hingga 31 Juli, tercatat 1.871 kasus gangguan kesehatan akibat panas, dengan 13 kematian.

Di wilayah Seoul, dilaporkan terdapat 162 kasus penyakit akibat panas, termasuk 2 korban meninggal dunia.

KMA memperkirakan bahwa gelombang panas dan malam tropis masih akan terus berlangsung di sebagian besar wilayah Korea Selatan. Suhu yang dirasakan di banyak daerah diperkirakan melebihi 33°C, sementara di wilayah pedalaman dapat melampaui 35°C.

Sumber : NTDTV.com

Pakar:  PKT Diam-diam Membantu Iran Menguras Persediaan Amunisi AS Demi Mempersiapkan Invasi ke Taiwan

EtIndonesia.com  Konflik di Timur Tengah terus berlanjut. Peran apa yang dimainkan Partai Komunis Tiongkok (PKT) dalam konflik tersebut? Dalam wawancara eksklusif dengan NTDTV, analis senior urusan militer Asia dari International Assessment and Strategy Center, Rick Fisher, mengatakan bahwa PKT bukan hanya memberikan dukungan diam-diam kepada Iran, tetapi juga berupaya menguras persediaan amunisi militer Amerika Serikat sebagai persiapan untuk kemungkinan menggunakan kekuatan militer terhadap Taiwan di masa depan.

“PKT memperburuk konflik ini dengan memberikan intelijen strategis, data satelit, serta komponen-komponen yang selama bertahun-tahun digunakan untuk memproduksi drone bahkan rudal balistik bagi Iran,” katanya. 

“Saya yakin PKT sangat senang melihat Amerika Serikat terseret ke dalam konflik yang dalam banyak hal diciptakan oleh PKT sendiri. Selama puluhan tahun, program nuklir Iran telah memperoleh dukungan dan pendanaan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dari PKT,” tambahnya. 

“PKT ingin Amerika Serikat menghabiskan persediaan amunisinya agar mereka dapat terus meningkatkan ketegangan di Samudra Pasifik dan Laut Tiongkok Selatan, seperti yang telah mereka lakukan dalam beberapa bulan terakhir. Tentu saja, mereka juga sedang mempersiapkan konfrontasi terakhir yang akan menentukan masa depan Taiwan,” jelasnya. 

Jaringan pengaruh PKT di Amerika Serikat

Fisher juga memperingatkan bahwa PKT selama bertahun-tahun telah memanfaatkan sistem demokrasi, kebebasan, dan hukum Amerika Serikat untuk membangun jaringan pengaruh yang luas di seluruh negeri, sehingga menimbulkan ancaman serius terhadap keamanan nasional AS.

“Sejak akhir 1980-an, selain membangun jaringan pengaruh yang luas di Washington, D.C., PKT juga telah membangun lingkaran pengaruh di ibu kota setiap negara bagian di Amerika Serikat,” katanya. 

“Hubungan antara Amerika Serikat dan PKT pada dasarnya tidak seimbang. PKT dapat memanfaatkan kebebasan yang dimiliki Amerika untuk melawan Amerika sendiri, sementara Amerika tidak memiliki kesempatan yang sama untuk memasuki masyarakat Tiongkok dan memperjuangkan kepentingannya di sana,” katanya. 

“Mengungkap kebenaran adalah pertahanan terbaik”

Fisher menegaskan bahwa langkah paling efektif bagi Amerika Serikat adalah mengungkap berbagai aktivitas PKT.

“Pertahanan terbaik adalah mengungkap kebenaran. Masyarakat Amerika pada dasarnya tidak mengetahui lembaga-lembaga yang bekerja demi kepentingan PKT, lembaga pemikir yang menerima pendanaan dari PKT, maupun universitas yang memperoleh dana dari entitas-entitas PKT. Banyak di antara organisasi tersebut memiliki hubungan yang sangat erat dengan militer PKT. Mengungkap hubungan-hubungan ini merupakan garis pertahanan pertama kita. Pada saat yang sama, membatasi aktivitas PKT juga sangat penting,” katanya. 

Laporan oleh Tiffany Meier, NTDTV, Washington, D.C., Amerika Serikat.

Kontrol Perbatasan untuk Seluruh Rakyat Tiongkok ? Partai Komunis Tiongkok  Perluas Pembatasan Warga Keluar-Masuk Tiongkok

Kemudahan warga Tiongkok untuk mengajukan paspor tanpa harus melalui berbagai lapisan persetujuan serta kebebasan bepergian ke luar negeri untuk urusan pribadi baru benar-benar dinikmati sejak akhir tahun 1990-an. Namun, peraturan baru yang diumumkan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) pada 31 Juli dinilai sebagai kemunduran besar. Mulai dari proses pengajuan paspor hingga izin keluar dan masuk negara akan dikenai pembatasan yang lebih ketat, bahkan kewenangan untuk melarang seseorang keluar negeri kini diberikan hingga kepada lembaga administrasi imigrasi tingkat kabupaten. Pengamat menilai langkah ini merupakan sinyal kuat bahwa PKT sedang kembali menuju kebijakan “menutup diri dari dunia luar”.

EtIndonesia.com Pada 31 Juli, pemerintah PKT mengumumkan “Peraturan Dewan Negara tentang Administrasi Keluar dan Masuk Wilayah Negara”, yang akan mulai berlaku pada 15 September.

Peraturan tersebut terdiri dari 19 pasal, yang berfokus pada pencegahan risiko keamanan dalam perjalanan keluar-masuk negara, pemeriksaan keaslian alasan pengajuan izin, penyempurnaan mekanisme pembatasan perjalanan, serta pengaturan terhadap layanan perantara.

Pemeriksaan lebih ketat terhadap pemohon

Pasal 3 mengatur bahwa otoritas imigrasi dan lembaga penerbit visa berhak memeriksa identitas pemohon serta alasan keberangkatan atau kedatangan. Mereka dapat meminta penjelasan serta mengharuskan pemohon menyerahkan dokumen, arsip, maupun data elektronik yang relevan, dan pemohon wajib bekerja sama.

Sementara itu, Pasal 4 secara tegas menyebutkan bahwa apabila seorang warga negara Tiongkok melanggar aturan pengendalian ekspor atau pengelolaan ekspor-impor teknologi sehingga dianggap dapat membahayakan keamanan industri maupun keamanan teknologi negara, maka kementerian terkait dapat memutuskan untuk melarang orang tersebut meninggalkan Tiongkok.

Peraturan itu juga menyebutkan bahwa pihak yang dikenai larangan keluar negeri pada prinsipnya harus diberi pemberitahuan tertulis mengenai fakta, alasan, dan dasar hukumnya. Namun, apabila dianggap dapat mempengaruhi keamanan negara atau penyelidikan perkara pidana, pihak berwenang dapat tidak memberitahukan alasan tersebut kepada yang bersangkutan.

Selain itu, warga negara Tiongkok yang melakukan tindakan yang dianggap membahayakan keamanan atau kepentingan negara saat berada di luar negeri dapat dikenai larangan keluar negeri selama enam bulan hingga tiga tahun setelah kembali ke Tiongkok.

Menuai Kritik Luas

Peraturan baru ini memicu kritik dan kekhawatiran luas di internet. Banyak pihak menyebutnya sebagai aturan keluar-masuk negara yang paling ketat sekaligus paling tidak transparan dalam sejarah Tiongkok modern.

Banyak warganet berpendapat bahwa “pintu Tiongkok” sedang perlahan ditutup—bukan hanya bagi perpindahan orang, tetapi juga arus modal dan informasi. Mereka khawatir negara itu suatu saat bisa kembali ke kondisi seperti pada era Mao Zedong.

“Serangkaian kebijakan ini merupakan kebijakan yang membodohi rakyat. Kedua, membatasi mobilitas manusia. Ketiga, membatasi pergerakan modal. Tujuannya agar orang di dalam negeri tidak mengetahui apa yang terjadi di luar negeri, dan orang di luar negeri tidak dapat membantu mereka yang berada di dalam negeri. Pemerintah takut risiko internal meledak dan takut kehilangan kendali atas masyarakat,” ujar pengacara hak asasi manusia asal Tiongkok, You Feiyu. 

Menurut You Feiyu, berbagai undang-undang yang diberlakukan PKT, seperti Undang-Undang Anti-Spionase, Undang-Undang Persatuan Etnis, dan Undang-Undang Keamanan Nasional Hong Kong, memiliki pola yang sama, yakni membatasi mobilitas masyarakat agar mereka tidak mengetahui fakta-fakta yang dapat menimbulkan risiko bagi rezim.

“Seluruh rakyat kini menjadi objek pengawasan perbatasan”

Mantan pengacara pembela hak asasi manusia dari Tiongkok, Lei Zhifeng, mengatakan: “Tujuan Partai Komunis Tiongkok adalah mengendalikan negara ini selamanya. Dahulu pembatasan keluar-masuk hanya ditujukan kepada sebagian kecil orang yang dianggap dapat mengancam kekuasaan mereka. Tetapi berdasarkan peraturan baru ini, pada dasarnya seluruh rakyat Tiongkok kini menjadi objek pengawasan dan pengendalian keluar-masuk negara.”

Penulis dan komentator politik terkenal Li Chengpeng juga menulis di platform X bahwa peraturan baru tersebut merupakan bentuk perluasan, legalisasi, dan normalisasi pengawasan perbatasan. Menurutnya, seseorang kini dapat langsung dicegah di pos pemeriksaan imigrasi tanpa diberi alasan, dan dapat dilarang bepergian ke luar negeri hanya karena dianggap mengancam keamanan negara.

Sementara itu, pengacara HAM Wang Quanzhang menulis bahwa bahkan sebelum peraturan ini diterbitkan, PKT sudah sering membatasi warga untuk keluar negeri. Selama bertahun-tahun, tidak terhitung jumlah orang yang dicegah bepergian dengan alasan “mengancam keamanan negara”, bahkan masa larangan tersebut sering diperpanjang secara sewenang-wenang.

Hak memperoleh paspor dipertanyakan

Banyak pengguna internet juga mempertanyakan ketentuan mengenai “memperoleh dokumen perjalanan secara curang.”

Mereka bertanya: “Apa yang dimaksud dengan memperoleh secara curang? Bukankah mengajukan dokumen pribadi merupakan hak dasar setiap warga negara? Mengapa harus memerlukan alasan tertentu?”

You Feiyu menambahkan: “Dari peraturan keluar-masuk ini dan sebelumnya Undang-Undang Persatuan Etnis, kita dapat melihat bahwa rezim semakin memperkuat pemerintahan yang bersifat totaliter. Pelanggaran terhadap kesejahteraan rakyat dan hak asasi manusia semakin parah.”

Ia memperkirakan bahwa kebijakan PKT ke depan akan semakin represif dan keras, bahkan berpotensi mengarah pada sistem seperti masa Revolusi Kebudayaan. Menurutnya, perluasan kewenangan aparat dalam melakukan pemeriksaan juga akan membuka lebih banyak peluang penyalahgunaan kekuasaan dan meningkatkan korupsi.

Ringkasan isi aturan baru

Pengamat media senior yang berbasis di Amerika Serikat, Fang Wei, merangkum isi peraturan tersebut sebagai berikut:

  • Jika pemerintah menganggap seseorang tidak layak bepergian ke luar negeri, ia dapat dicegah berangkat.
  • Jika alasan bepergian dianggap tidak tepat, izin keluar negeri dapat ditolak.
  • Orang yang pernah dijatuhi sanksi di dalam negeri dapat sewaktu-waktu dilarang keluar negeri.
  • Orang yang dianggap mengancam keamanan negara ketika berada di luar negeri dapat dilarang bepergian lagi setelah kembali ke Tiongkok.
  • Orang yang menguasai teknologi penting juga dapat dilarang meninggalkan negara.

Lei Zhifeng mengatakan bahwa sejak tahun 1990-an masyarakat biasa mulai dapat mengajukan paspor, tidak lagi hanya diplomat atau pejabat pemerintah.

“Sekarang pintu itu benar-benar akan ditutup. Orang yang tidak diizinkan tidak akan bisa memperoleh paspor, dan sekalipun sudah memiliki paspor, mereka belum tentu bisa meninggalkan negara,” katanya. 

Menurut Lei Zhifeng, alasan PKT menerapkan kontrol perbatasan terhadap seluruh rakyat adalah karena situasi internasional, kondisi dalam negeri, dan tekanan ekonomi membuat rezim semakin tidak percaya diri sehingga memilih menerapkan pengawasan yang lebih ketat.

Sumber : NTDTV.com

Militer Ukraina Kembali Membombardir Gudang “Wild Berries” Rusia, Menlu AS Berencana Memulai Kembali Pembicaraan Perdamaian Rusia-Ukraina

Pada 2 Agustus 2026, militer Ukraina melancarkan serangan jauh ke wilayah Rusia dengan menargetkan gudang perusahaan e-commerce serta kilang minyak. Sementara itu, Rusia terus menggempur Kyiv dan berbagai wilayah Ukraina melalui serangan udara. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan bahwa persediaan rudal pencegat sistem pertahanan udara Patriot telah habis dan mendesak komunitas internasional untuk segera memberikan bantuan. 

Di saat yang sama, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mengungkapkan bahwa Washington sedang berupaya mencari peluang untuk menghidupkan kembali perundingan damai Rusia-Ukraina dalam beberapa minggu kedepan guna mengakhiri perang.

EtIndonesia.com Pada 2 Agustus, gudang milik raksasa e-commerce Rusia Wildberries kembali menjadi sasaran serangan drone Ukraina. Asap hitam pekat terlihat membubung dari lokasi kejadian. Gudang tersebut berada di Oblast Samara, sekitar 800 kilometer dari garis depan perang di Ukraina.

Sejak 18 Juli, militer Ukraina telah menyerang lebih dari selusin gudang milik Wildberries dengan tujuan melemahkan salah satu penopang penting perekonomian Rusia.

Selain itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengkonfirmasi bahwa drone Ukraina juga menyerang sebuah kilang minyak di dekat Kota Saratov, Rusia, pada malam hari, sehingga memicu kebakaran.

Pangkalan Udara Engels milik Rusia serta lokasi peluncuran drone tempur di Oblast Bryansk juga dilaporkan menjadi sasaran serangan presisi Ukraina.

Di sisi lain, pada 1 Agustus, Rusia kembali melancarkan serangan besar-besaran terhadap Ukraina yang menewaskan sedikitnya sembilan orang dan melukai 28 lainnya.

Pada 2 Agustus, Zelenskyy mengatakan bahwa selama sepekan terakhir, 16 wilayah Ukraina, termasuk Kyiv dan Kharkiv, telah diserang Rusia. Menurutnya, Rusia menggunakan sekitar 1.900 drone, hampir 1.600 bom udara, serta 144 rudal dari berbagai jenis dalam serangan tersebut.

Ia kembali mendesak negara-negara sekutu untuk menyediakan lebih banyak sistem pertahanan udara dan memperingatkan bahwa stok rudal pencegat Patriot buatan Amerika Serikat telah habis.

Sementara itu, dalam wawancara dengan Fox News, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa meskipun kesenjangan antara Rusia dan Ukraina masih sangat besar, Washington terus mencari peluang untuk memulihkan dialog damai antara Moskow dan Kyiv.

Rubio mengatakan : “Dalam beberapa minggu ke depan, kami akan berupaya menghidupkan kembali dialog antara kedua belah pihak dan berusaha mengakhiri perang ini. Presiden telah memberitahu timnya bahwa jika ada peluang sekecil apa pun untuk mendorong kemajuan dalam perundingan damai, maka kami harus memanfaatkannya.”

Laporan disusun oleh Yu Liang, New Tang Dynasty Television.

Mendadak! Trump Batalkan Serangan ke Iran, Elite Teheran Pecah Dua Kubu! Ada Apa Sebenarnya?

EtIndonesia.com – Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali mengalami perkembangan yang mengejutkan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mendadak membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran. Keputusan yang diumumkan pada malam hari Jumat, 1 Agustus 2026, itu langsung memicu beragam reaksi, baik dari dalam pemerintahan Iran maupun komunitas internasional.

Pengumuman tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik masih terbuka. Namun di saat yang sama, berbagai laporan menunjukkan bahwa perbedaan pandangan di dalam elite politik Iran justru semakin mencuat, sehingga masa depan proses negosiasi masih dipenuhi ketidakpastian.

Dalam pernyataan yang diunggah melalui media sosialnya pada 1 Agustus 2026, Presiden Donald Trump menjelaskan bahwa Amerika Serikat memutuskan untuk menunda operasi militer setelah Iran bersama sejumlah negara di kawasan Timur Tengah meminta agar aksi militer dihentikan sementara serta menyatakan kesiapan untuk mendorong tercapainya sebuah kesepakatan diplomatik.

Trump menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan berarti Washington mengurangi tekanannya terhadap Teheran. Sebaliknya, menurutnya, langkah itu merupakan bagian dari strategi untuk memberikan kesempatan terakhir bagi proses negosiasi.

Presiden AS tersebut menekankan bahwa syarat utama pembatalan serangan adalah seluruh pihak harus mampu bergerak cepat mencapai sebuah kesepakatan yang dapat diterima bersama.

Menurut Trump, tekanan militer yang selama ini diberikan Amerika Serikat telah berhasil menciptakan daya tekan yang cukup besar sehingga Iran bersedia kembali ke meja perundingan. Namun ia juga mengingatkan bahwa militer Amerika tetap berada dalam kondisi siap siaga dan mampu melaksanakan operasi dalam waktu singkat apabila pembicaraan mengalami kegagalan.

Dengan kata lain, pembatalan serangan bukanlah akhir dari ancaman militer, melainkan sebuah jeda strategis yang masih bergantung pada perkembangan diplomasi dalam beberapa waktu ke depan.

Namun, tidak lama setelah pernyataan Trump dipublikasikan, muncul dua sikap berbeda dari pihak Iran yang menunjukkan bahwa tidak semua unsur pemerintahan memiliki pandangan yang sama mengenai arah kebijakan negara.

Kelompok pertama segera membantah berbagai laporan yang menyebut telah tercapai kesepakatan tertentu, khususnya terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Mereka menegaskan bahwa tidak pernah ada kesepakatan mengenai pembukaan kembali selat tersebut dan menyebut berbagai laporan yang beredar sebelumnya sebagai informasi yang tidak benar.

Pernyataan itu sempat memunculkan kesan bahwa Teheran belum siap memberikan konsesi apa pun kepada Amerika Serikat maupun negara-negara lain yang terlibat dalam proses mediasi.

Namun, situasi berubah beberapa saat kemudian ketika Presiden Iran Masoud Pezeshkian justru menyampaikan pernyataan yang bernada jauh lebih positif.

Ia mengungkapkan bahwa sebuah Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang telah ditandatangani merupakan hasil pembahasan bersama seluruh anggota organisasi terkait dan telah memperoleh persetujuan kolektif.

Menurut Presiden Iran, dokumen tersebut menjadi hasil dari kebijaksanaan bersama seluruh pihak yang terlibat.

Dalam pernyataannya, ia mengatakan: “Saya percaya nota kesepahaman ini akan menjadi landasan utama hubungan luar negeri kami pada masa mendatang.”

Pernyataan tersebut segera memunculkan berbagai spekulasi bahwa di balik sikap resmi Iran sebenarnya tengah berlangsung proses negosiasi yang jauh lebih kompleks dibandingkan yang tampak di ruang publik.

Perbedaan pernyataan dari dua kelompok tersebut juga memperlihatkan adanya perbedaan strategi di dalam struktur pemerintahan Iran sendiri mengenai bagaimana negara itu seharusnya menghadapi tekanan Amerika Serikat.

Analisis yang diterbitkan Associated Press (AP) pada Sabtu, 2 Agustus 2026, menyebutkan bahwa perpecahan di dalam elite politik Iran kini semakin terlihat jelas.

Menurut laporan tersebut, terdapat dua kelompok utama yang memiliki pandangan sangat berbeda mengenai masa depan hubungan Iran dengan Amerika Serikat.

Kelompok pertama merupakan kubu garis keras yang berpendapat bahwa Iran harus terus melanjutkan konfrontasi hingga titik akhir tanpa memberikan konsesi kepada Washington.

Mereka meyakini bahwa setiap bentuk kompromi hanya akan dianggap sebagai kelemahan dan dapat memperbesar tekanan terhadap Iran di masa depan.

Salah satu tokoh yang paling dikenal mewakili pandangan tersebut adalah Saeed Jalili, mantan kepala perunding nuklir Iran yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu figur paling keras dalam isu hubungan dengan Barat.

Di sisi lain terdapat kelompok pragmatis yang menilai bahwa kondisi ekonomi dan keamanan Iran saat ini tidak memungkinkan negara tersebut terus terlibat dalam konflik berkepanjangan.

Kelompok ini lebih memilih memanfaatkan momentum diplomasi guna memperoleh ruang bernapas, mengurangi tekanan internasional, serta membuka peluang bagi pemulihan ekonomi nasional.

Menurut mereka, perang yang berlangsung terlalu lama hanya akan memperbesar kerugian ekonomi, memperburuk kondisi sosial, serta meningkatkan tekanan terhadap masyarakat Iran.

Selain munculnya perbedaan pandangan di tingkat elite, laporan AP juga mencatat adanya perubahan sikap di tengah masyarakat Iran.

Selama Juli 2026, semakin banyak kalangan sipil yang mulai secara terbuka menyuarakan penolakan terhadap kelanjutan konflik.

Lebih dari 250 pejabat pemerintah, mantan pejabat, profesor, akademisi, dan tokoh masyarakat dilaporkan menandatangani sebuah petisi anti-perang.

Dalam dokumen tersebut mereka memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan akan membawa konsekuensi yang sangat mahal bagi masa depan Iran.

Mereka juga menekankan bahwa kepentingan rakyat harus menjadi prioritas utama dibandingkan mempertahankan konflik tanpa batas waktu.

Dalam petisi tersebut dinyatakan: “Kami percaya bahwa sebagian besar rakyat Iran mendambakan perdamaian dan berhak menikmati kehidupan yang layak.”

Pernyataan tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap dampak perang, terutama terhadap kondisi ekonomi, lapangan pekerjaan, inflasi, serta stabilitas sosial di dalam negeri.

Di tengah tarik-menarik antara kubu garis keras dan kelompok pragmatis, muncul satu pertanyaan penting yang hingga kini masih belum memperoleh jawaban pasti.

Pertanyaan itu berkaitan dengan posisi Mojtaba Khamenei, sosok yang disebut-sebut sebagai pemimpin tertinggi baru Iran.

Hingga awal Agustus 2026, Mojtaba Khamenei belum pernah tampil secara terbuka untuk menjelaskan arah kebijakan yang akan diambilnya terkait hubungan dengan Amerika Serikat maupun masa depan konflik di kawasan.

Meski demikian, baik kubu garis keras maupun kelompok pragmatis sama-sama mengklaim bahwa mereka memperoleh dukungan dari Mojtaba, sehingga memunculkan ketidakjelasan mengenai sikap politik sebenarnya dari pemimpin tersebut.

Ketidakpastian inilah yang dinilai banyak pengamat sebagai salah satu faktor utama yang akan menentukan arah kebijakan Iran dalam beberapa pekan maupun sebulan mendatang.

Sementara itu, keputusan Donald Trump membatalkan serangan militer memberikan kesempatan bagi proses diplomasi untuk terus berjalan. Namun, peluang tercapainya kesepakatan masih sangat bergantung pada kemampuan kedua belah pihak menjembatani perbedaan kepentingan yang selama ini menjadi sumber utama ketegangan.

Dengan kondisi politik internal Iran yang masih terbelah serta Amerika Serikat yang tetap mempertahankan opsi militer apabila perundingan gagal, situasi di Timur Tengah diperkirakan akan tetap berada dalam fase yang sangat sensitif. Dunia kini menantikan apakah momentum diplomasi ini benar-benar mampu menghasilkan kesepakatan yang berkelanjutan, atau justru hanya menjadi jeda singkat sebelum ketegangan kembali meningkat. (***)

Hamas Siap Lucuti Senjata, Tapi Israel Malah Lancarkan Serangan Besar!  Perdamaian Kembali Terancam?

EtIndonesia.com – Situasi di Jalur Gaza masih berada dalam kondisi yang sangat tegang meskipun Hamas sebelumnya menyatakan kesediaannya untuk mempertimbangkan pelucutan senjata sebagai bagian dari proposal perdamaian yang didukung Amerika Serikat. Pemerintah Israel menegaskan bahwa pernyataan tersebut belum cukup menjadi dasar untuk menghentikan operasi militernya, karena hingga kini belum terlihat langkah konkret dari Hamas untuk benar-benar membubarkan sayap bersenjatanya.

Di tengah upaya diplomatik yang terus berlangsung, militer Israel tetap melancarkan serangan udara ke berbagai wilayah di Jalur Gaza pada Minggu, 3 Agustus 2026, dengan alasan bahwa ancaman keamanan dari kelompok bersenjata Palestina masih belum berakhir.

Pemerintah Israel berpendapat bahwa setiap kesepakatan damai hanya dapat diwujudkan apabila Hamas benar-benar menyerahkan seluruh persenjataannya dan menghentikan seluruh aktivitas militernya secara permanen. Selama syarat tersebut belum dipenuhi, operasi militer disebut akan terus dilanjutkan.

Menteri Energi Israel, Eli Cohen, menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada keputusan resmi mengenai penghentian operasi militer di Jalur Gaza. Menurutnya, kabinet Israel masih berpegang pada tujuan utama operasi, yaitu memastikan seluruh ancaman keamanan terhadap Israel benar-benar dihilangkan.

Ia menyatakan bahwa operasi militer akan tetap berlangsung sampai Israel mencapai sasaran strategis yang telah ditetapkan pemerintah. Dalam pernyataannya, Cohen juga mengungkapkan bahwa pasukan Israel kini mengklaim telah menguasai sekitar 70 persen wilayah Jalur Gaza, sebuah perkembangan yang menurut pemerintah menunjukkan keberhasilan operasi darat yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

Di lapangan, intensitas serangan udara Israel masih terus meningkat. Berdasarkan keterangan pejabat kesehatan Palestina, pesawat-pesawat tempur Israel menyerang sejumlah titik di berbagai wilayah Jalur Gaza.

Serangan tersebut menyasar Kota Gaza di bagian utara, Deir al-Balah di wilayah tengah, serta Khan Younis di bagian selatan. Ketiga wilayah tersebut selama beberapa waktu terakhir menjadi lokasi pertempuran sengit antara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan kelompok-kelompok bersenjata Palestina.

Laporan yang dirilis pada dini hari 3 Agustus 2026 menyebutkan sedikitnya 19 orang dilaporkan meninggal dunia akibat rangkaian serangan udara tersebut. Selain korban jiwa, sejumlah bangunan tempat tinggal dan fasilitas sipil juga dilaporkan mengalami kerusakan, sementara tim penyelamat masih terus melakukan pencarian terhadap kemungkinan adanya korban yang tertimbun reruntuhan.

Di saat operasi udara terus berlangsung di Gaza, militer Israel juga meningkatkan aktivitas militernya di wilayah lain. Pada pagi hari 3 Agustus 2026, Angkatan Laut Israel memulai latihan militer berskala besar di kawasan Laut Mediterania.

Latihan tersebut dilaksanakan di sepanjang wilayah pesisir Israel, mulai dari kawasan Shavei Zion di bagian utara hingga Ashdod di wilayah selatan. Menurut keterangan resmi Pasukan Pertahanan Israel (IDF), latihan tersebut merupakan agenda yang telah direncanakan jauh sebelumnya dan dijadwalkan berlangsung hingga malam 4 Agustus 2026.

Selama latihan berlangsung, IDF mengumumkan bahwa jumlah kapal perang yang beroperasi di kawasan Mediterania akan ditambah secara signifikan. Selain itu, personel keamanan yang bertugas di sepanjang wilayah pesisir juga diperkuat guna menjamin keamanan jalannya latihan.

Pihak militer Israel menegaskan bahwa latihan tersebut bukan merupakan persiapan untuk operasi militer baru, melainkan bagian dari program peningkatan kesiapan tempur rutin Angkatan Laut Israel. Namun, waktu pelaksanaannya yang bertepatan dengan meningkatnya ketegangan di Gaza membuat latihan tersebut menjadi sorotan berbagai pihak.

Sementara itu, di tingkat internasional, sejumlah tokoh dan organisasi yang tergabung dalam Komite Perdamaian Timur Tengah menyampaikan kritik terhadap langkah pemerintah Israel yang tetap melanjutkan operasi militer.

Mereka menilai tindakan tersebut berpotensi menggagalkan momentum diplomatik yang selama ini diupayakan oleh Amerika Serikat, Mesir, Qatar, serta sejumlah negara lain untuk mencapai gencatan senjata yang lebih permanen.

Komite tersebut mendesak seluruh pihak agar tetap menghormati proses negosiasi yang sedang berlangsung dan memenuhi komitmen terhadap rencana penghentian konflik. Menurut mereka, kesempatan untuk mengakhiri perang tidak boleh disia-siakan ketika jalur diplomasi mulai menunjukkan perkembangan.

Meski demikian, di dalam pemerintahan Israel sendiri masih terdapat keraguan besar terhadap kesungguhan Hamas untuk melaksanakan pelucutan senjata secara sukarela.

Seorang pejabat Israel yang turut mengikuti pembahasan dalam Komite Perdamaian Timur Tengah mengatakan kepada The Times of Israel bahwa situasi saat ini masih berada pada tahap yang sangat sensitif.

Menurutnya, pemerintah Israel belum memberikan persetujuan untuk menghentikan operasi militer karena masih menunggu kepastian mengenai implementasi berbagai poin yang sedang dinegosiasikan.

Pejabat tersebut menjelaskan bahwa dalam beberapa jam terakhir berbagai informasi dan perkembangan baru terus bermunculan. Walaupun demikian, ia mengakui mulai terlihat adanya sejumlah langkah yang dinilai dapat membuka peluang menuju penyelesaian konflik.

Ia mengatakan bahwa seluruh pihak saat ini masih berupaya mengatasi berbagai hambatan yang tersisa agar situasi keamanan dapat kembali stabil.

Lebih lanjut, pejabat tersebut mengungkapkan bahwa selama proses negosiasi berlangsung, pemerintah Israel terus menerima laporan perkembangan secara rinci dari tim perunding.

Menurutnya, Israel sebenarnya telah memahami arah pembahasan karena sebagian besar poin tersebut berasal dari Rencana Perdamaian Komprehensif yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada tahun sebelumnya dan kemudian memperoleh dukungan melalui resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dalam kerangka proposal tersebut, Israel disebut telah menyetujui dua poin utama yang dianggap dapat menjadi dasar bagi pembentukan mekanisme keamanan baru di Jalur Gaza.

Sebelumnya, Al Jazeera bersama sejumlah media Israel juga melaporkan isi pembahasan yang dilakukan Komite Perdamaian Timur Tengah.

Menurut laporan tersebut, salah satu tujuan utama proposal perdamaian adalah mewujudkan pelucutan senjata secara bertahap terhadap Hamas serta kelompok-kelompok bersenjata Palestina lainnya.

Apabila kesepakatan tersebut berhasil diwujudkan, rakyat Palestina diharapkan dapat membentuk pemerintahan sipil yang mengelola Jalur Gaza secara mandiri, sementara Israel memperoleh jaminan keamanan jangka panjang yang selama ini menjadi tuntutan utamanya.

Namun, pada hari yang sama, Kantor Perdana Menteri Israel mengeluarkan pernyataan resmi yang membantah berbagai laporan yang beredar mengenai adanya kemajuan signifikan dalam proses negosiasi.

Pemerintah Israel menyatakan bahwa sedikitnya 15 proposal pelucutan senjata yang diajukan Komite Perdamaian hingga kini masih belum memenuhi syarat utama yang ditetapkan pemerintah Israel.

Syarat tersebut adalah demiliterisasi penuh Jalur Gaza, termasuk pembubaran seluruh kelompok bersenjata, penyerahan seluruh persenjataan berat, penghancuran infrastruktur militer, serta jaminan bahwa Hamas tidak lagi memiliki kemampuan untuk membangun kembali kekuatan militernya di masa mendatang.

Dengan masih adanya perbedaan mendasar mengenai syarat-syarat tersebut, peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat masih menghadapi tantangan besar. Di satu sisi, jalur diplomasi terus diupayakan oleh para mediator internasional, sementara di sisi lain operasi militer Israel masih berlangsung dan situasi kemanusiaan di Jalur Gaza terus menjadi perhatian masyarakat internasional.  (***)

Lembaga Pemikir AS Bahas Greenland: Jika Terlalu Lama Menunggu, Beijing Akan Menjadi Investor Utama”

EtIndonesia.com  Sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keinginannya untuk memperoleh kendali atas Greenland, pemerintah Denmark dan sebagian masyarakat Greenland menunjukkan penolakan terhadap gagasan itu.

Meskipun dalam beberapa waktu terakhir Trump tidak lagi secara terbuka membahas Greenland, masyarakat Denmark dinilai menyadari bahwa isu ini tidak dapat dihindari dan pada akhirnya harus dihadapi.

Pada 1 Agustus, media Denmark melaporkan bahwa sebuah lembaga pemikir terkemuka di Amerika Serikat menyarankan agar Denmark mengesampingkan rasa tidak suka terhadap Trump dan mempertimbangkan masa depan Greenland secara lebih pragmatis.

Peneliti Heritage Foundation: Denmark Perlu Berunding

Jurnalis senior Stéphanie Surrugue dari Danish Broadcasting Corporation (DR) melaporkan bahwa ia baru-baru ini mewawancarai Paul McCarthy, Peneliti Senior Bidang Eropa dan Kebijakan Luar Negeri di Heritage Foundation, salah satu lembaga pemikir konservatif terbesar di Amerika Serikat.

McCarthy berpendapat bahwa Denmark perlu mengesampingkan sikap emosional terhadap Trump dan memandang serius perundingan mengenai masa depan Greenland, karena menurutnya kepentingan Amerika Serikat terhadap wilayah tersebut tidak akan berubah.

Laporan tersebut menjelaskan bahwa Heritage Foundation telah memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap pemerintahan Trump, baik pada masa jabatan pertama maupun kedua, melalui analisis kebijakan, rekomendasi reformasi, serta masukan mengenai penunjukan pejabat pemerintah.

McCarthy mengatakan bahwa Denmark terlihat kurang menunjukkan kemauan untuk bernegosiasi dalam kelompok kerja tingkat tinggi yang melibatkan Amerika Serikat, Denmark, dan Greenland.

Ia menyarankan:”Nasihat saya kepada para pemimpin dan rekan-rekan di Eropa adalah: kesampingkan reaksi emosional terhadap Trump, duduklah untuk berunding, dan lihatlah apa yang dapat dicapai melalui kerja sama.”

“Ancaman Sebenarnya adalah Pengaruh PKT dan Rusia”

McCarthy juga mengemukakan pandangannya mengenai tantangan yang dihadapi Greenland.

“Saat ini Greenland sebenarnya sedang menghadapi pengaruh dari sejumlah rezim yang menurut saya sangat bermasalah, seperti Partai Komunis Tiongkok dan Rusia di bawah kepemimpinan Vladimir Putin. Kita perlu mengubah keadaan ini dalam jangka panjang. Ini bukan hanya soal pangkalan militer, tetapi juga membangun ekonomi Greenland agar lebih kuat dan menarik lebih banyak investasi,” ujarnya. 

Mengusulkan Investasi Jangka Panjang

Menurut McCarthy, Greenland membutuhkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

“Yang kita perlukan adalah pembangunan. Ada berbagai model yang dapat membantu mewujudkannya. Misalnya membentuk struktur perusahaan atau, dalam jangka panjang, dana investasi nasional yang mempertemukan pemerintah dan sektor swasta untuk melakukan investasi jangka panjang di Greenland,” ujarnya. 

“Jangan Terlalu Lama Menunggu”

McCarthy memperingatkan bahwa Barat tidak boleh menunda investasi di Greenland.

Ia mengatakan: “Jika kita terus menunggu, PKT akan menjadi investor yang dominan, suka ataupun tidak.”

Ia menambahkan: “Karena itu, saya menyerukan kepada Kopenhagen: mari mulai bertindak dan mulai bekerja. Tujuan kita harus menjadikan Greenland sebagai bagian dari proyek trans-Atlantik Barat, bukan proyek yang didominasi PKT.”

Ia juga menyatakan: “PKT tidak akan melewatkan Eropa, dan juga tidak akan melewatkan Greenland. Saya berharap kenyataannya tidak demikian, tetapi mereka terus bergerak maju.”

Kekayaan Mineral Menjadi Perhatian

Menurut McCarthy, salah satu alasan utama ketertarikan PKT terhadap Greenland adalah potensi sumber daya mineral yang berada di bawah lapisan es.

Ia mengatakan:”PKT sangat ingin memperoleh akses terhadap sumber daya logam tanah jarang yang berada di bawah lapisan es. Mungkin mereka belum dapat menambangnya sekarang, tetapi mereka sangat ingin terlibat. Hal itu sangat jelas.”

Ia menambahkan bahwa ancaman tersebut merupakan tantangan jangka panjang, sehingga negara-negara Barat tidak boleh menunggu hingga situasinya menjadi lebih buruk.

Soal Kedaulatan Greenland

Salah satu isu yang paling menjadi perhatian masyarakat Denmark dan Greenland adalah masalah kedaulatan wilayah.

McCarthy berpendapat:”Apapun yang terjadi, masa depan Greenland akan dibangun melalui kerja sama. Siapa pun yang memiliki kedaulatan atau kendali resmi nantinya, jika Denmark tetap mempertahankan kendali atas Greenland, menurut saya itu juga tidak menjadi masalah.”

Ia juga mengatakan bahwa dirinya tidak mendukung gagasan menjadikan Greenland sebagai salah satu negara bagian Amerika Serikat.

Menurutnya:”Menurut saya gagasan itu tidak masuk akal. Amerika Serikat tidak membutuhkan negara bagian tambahan, dan Kongres kemungkinan besar juga tidak akan menyetujuinya.”

Kedaulatan dan Keamanan Nasional

McCarthy menegaskan bahwa persoalan Greenland berkaitan erat dengan keamanan nasional.

“Kedaulatan negara dan keamanan nasional saling berkaitan. Greenland berada di Belahan Barat dan kawasan Arktik. Ini bukan pertama kalinya Amerika Serikat berusaha memperoleh Greenland. Bahkan, ini merupakan upaya keempat sejak masa Perang Saudara Amerika. Isu ini selalu ada karena Greenland letaknya sangat dekat dengan Amerika Serikat,” katanya. 

Laporan disusun oleh Jin Hong / Editor: Lin Qing – NTDTV.com

Ketegangan di Timur Tengah Meningkat, AS Mendesak Warganya Segera Meninggalkan Kawasan 

EtIndonesia.com Pada 1 Agustus, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat secara tiba-tiba mengeluarkan peringatan keamanan baru bagi 10 negara di Timur Tengah, yang mengimbau warga negara Amerika di kawasan tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan dan mempertimbangkan meninggalkan wilayah itu sesegera mungkin.

Negara-negara yang tercakup dalam peringatan tersebut meliputi:

  • Israel,
  • Yordania,
  • Irak,
  • Qatar,
  • Arab Saudi,
  • Uni Emirat Arab,
  • Bahrain,
  • Kuwait,
  • Oman,
  • Lebanon.

Pemerintah Amerika Serikat juga mengingatkan agar masyarakat mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan:

  • pembatalan penerbangan,
  • penutupan wilayah udara,
  • dan gangguan transportasi.

Kedutaan AS di Yordania: Bersiap untuk Evakuasi

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yordania memperingatkan bahwa situasi yang melibatkan pemerintah Iran saat ini “sulit diprediksi” dan dapat memburuk sewaktu-waktu.

Oleh karena itu, warga negara Amerika yang berada di Timur Tengah disarankan untuk segera meninggalkan kawasan tersebut atau setidaknya mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu diperlukan evakuasi.

Pemerintah AS juga memperingatkan bahwa Iran maupun kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Iran berpotensi menyerang:

  • kedutaan Amerika Serikat,
  • perusahaan-perusahaan Amerika,
  • maupun sasaran lain yang berkaitan dengan Amerika Serikat.

Kedutaan juga secara khusus mengimbau warga agar menghindari kawasan pangkalan militer di Yordania, karena lokasi-lokasi tersebut dinilai berpotensi menjadi sasaran serangan.

Imbauan bagi Warga AS di Israel

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yerusalem mengeluarkan peringatan serupa.

Warga negara Amerika yang berada di Israel dianjurkan untuk mengunduh aplikasi peringatan resmi militer Israel agar dapat menerima informasi secara langsung apabila terjadi:

  • serangan roket,
  • peluncuran rudal,
  • maupun serangan pesawat nirawak (drone).

Mereka juga disarankan menyiapkan persediaan darurat, seperti:

  • makanan,
  • air minum,
  • obat-obatan,
  • dan kebutuhan pokok lainnya.

Iran Ancam Membalas

Sebelum peringatan Amerika Serikat dikeluarkan, Tasnim News Agency, media yang memiliki kedekatan dengan pemerintah Iran, menyatakan bahwa apabila Amerika Serikat atau Israel terus menyerang Iran, maka Iran akan membalas dengan menyerang fasilitas energi penting milik Amerika Serikat dan Israel.

Respons Gedung Putih

Gedung Putih menyatakan bahwa Presiden Donald Trump tidak akan membiarkan tindakan yang disebut sebagai aksi teror Iran terus berlanjut.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Iran akan terus menghadapi konsekuensi hingga kembali ke meja perundingan.

Dalam rapat kabinet yang berlangsung di Camp David pada Jumat, Trump juga mengatakan bahwa Amerika Serikat akan terus meningkatkan tekanan terhadap Iran dan akan memberikan “serangan yang sangat keras” sampai Iran tidak lagi mampu bertahan.

Kuwait Mengaku Mencegat Drone

Pada hari yang sama, militer Kuwait mengumumkan bahwa pada dini hari mereka berhasil mencegat beberapa drone yang disebut berasal dari Iran.

Menurut pihak militer Kuwait, drone-drone tersebut diduga berusaha menyerang fasilitas-fasilitas penting di negara itu.

Insiden tersebut dilaporkan hanya menyebabkan kerusakan pada sebagian properti dan tidak menimbulkan korban jiwa.

Situasi di Gaza

Di sisi lain, pertempuran di Jalur Gaza masih terus berlangsung.

Meskipun Hamas sebelumnya mengumumkan kesediaannya untuk melakukan pelucutan senjata, militer Israel pada hari yang sama tetap melancarkan serangan udara ke sejumlah sasaran di Gaza.

Militer Israel menyatakan telah menghancurkan lima lokasi penyimpanan senjata Hamas.

Laporan tersebut menambahkan bahwa meskipun langkah perlucutan senjata Hamas dianggap sebagai kemajuan penting menuju gencatan senjata, masih terdapat banyak hambatan sebelum kedua pihak benar-benar dapat mencapai perdamaian.

Sumber : NTDTV.com

Trump Nyatakan “Kehilangan Kepercayaan” terhadap Iran, Laporan Menyebut AS dan Israel Segera Melancarkan Serangan Udara Bersama

EtIndonesia.com  Menurut beberapa pejabat Amerika Serikat yang dikutip dalam laporan berbagai media, Presiden AS Donald Trump pada Jumat (31 Juli) dikabarkan telah menyetujui rencana operasi militer baru dalam rapat kabinet di Maryland. 

Operasi itu disebut-sebut dapat dimulai paling cepat pada akhir pekan ini dan menargetkan fasilitas energi utama Iran, kilang minyak, serta pembangkit listrik melalui serangan udara berskala besar. Laporan  juga menyebut bahwa militer Israel kemungkinan akan ikut serta dalam operasi militer. 

Trump: “Saya Kehilangan Kepercayaan”

Dalam rapat kabinet itu, Trump mengatakan bahwa dirinya telah “kehilangan kepercayaan” terhadap proses perundingan dengan Iran.

Seorang wartawan bertanya:”Anda mengatakan Iran sangat tidak dapat dipercaya. Apakah Anda masih yakin dapat mencapai kesepakatan dengan Iran?”

Trump menjawab: “Saya semakin tidak mempercayai mereka karena mereka berbohong dan memutarbalikkan fakta.”

Trump juga menyatakan bahwa setelah berbulan-bulan pemboman oleh militer Amerika Serikat, persediaan rudal Iran telah banyak berkurang dan kemampuan produksinya hampir hilang. Meski demikian, ia masih berpendapat bahwa Iran pada akhirnya akan memilih mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.

Unggahan di Truth Social

Pada Sabtu (1 Agustus), Trump mengunggah dua gambar pesawat tempur di platform media sosial Truth Social.

Pada hari yang sama, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) merilis foto yang memperlihatkan sebuah helikopter CH-47 Chinook milik Angkatan Darat AS bersiap mendarat di lokasi yang tidak disebutkan di kawasan Timur Tengah.

Helikopter jenis ini umumnya digunakan untuk mengangkut personel, peralatan, dan logistik militer.

Laporan tentang Kemungkinan Serangan Bersama

Menurut laporan tersebut, sejumlah sumber mengatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir, militer Amerika Serikat kemungkinan akan segera bekerja sama dengan Israel untuk melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap:

  • fasilitas energi utama Iran,
  • pembangkit listrik,
  • kilang minyak,
  • serta infrastruktur sipil lainnya.

Laporan itu menyebut serangan tersebut berpotensi menjadi salah satu operasi udara paling besar terhadap Iran.

Israel Tingkatkan Status Siaga

Media Israel Channel 12 (N12) melaporkan bahwa militer Israel menilai Iran kemungkinan tetap akan meluncurkan rudal balasan, meskipun Israel tidak ikut dalam gelombang pertama serangan.

Karena itu, Kementerian Pertahanan Israel disebut telah menaikkan status kesiagaan menjadi “Highest Alert” (Siaga Tertinggi).

Peringatan bagi Warga Negara Amerika

Seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, Kedutaan Besar AS di sejumlah negara, termasuk:

  • Uni Emirat Arab,
  • Israel,
  • Yordania,
  • Arab Saudi,
  • dan Irak, telah mengimbau warga negara Amerika agar mempertimbangkan meninggalkan negara-negara tersebut atau setidaknya mempersiapkan diri untuk evakuasi jika diperlukan.

Warga AS juga diminta menghindari perjalanan ke pangkalan-pangkalan militer di Yordania.

Iran Ancam Membalas

Menurut laporan itu, Iran menyatakan bahwa apabila Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara, Iran akan membalas dengan menyerang infrastruktur penting serta kepentingan sekutu Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

AS Lacak Aset Iran

Sebelumnya, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengatakan bahwa pemerintah AS sedang melacak aset-aset Iran di berbagai negara.

“Saat ini inflasi mereka telah mencapai sekitar 180 persen. Mereka bahkan tidak mampu membayar gaji tentaranya,” katanya. 

“Dana-dana milik Iran itu akan digunakan untuk memberikan kompensasi kepada rakyat Iran serta warga Amerika yang menjadi korban tindakan Iran, baik dalam insiden kapal perusak USS Cole maupun serangan terhadap barak militer Amerika di Lebanon,” tambahnya. 

Laporan disusun oleh Guo Yuexi, NTD Television.

Angin Kencang Memperparah Kebakaran Hutan, Api Kembali Berkobar di Sejumlah Negara Eropa, Korban Tewas Akibat Gelombang Panas Mencapai Rekor Baru 

EtIndonesia.com  Musim panas tahun ini di Eropa diwarnai oleh gelombang panas yang memecahkan rekor, ditambah curah hujan yang rendah sehingga memicu kebakaran hutan besar di berbagai negara. Pada Sabtu (1 Agustus), angin kencang menyebabkan kebakaran di berbagai wilayah Yunani menyebar dengan cepat hingga memaksa warga mengungsi. 

Sementara itu, kebakaran di sebagian wilayah Prancis dan Spanyol kembali memburuk. Di Spanyol, muncul dugaan bahwa sebagian kebakaran sengaja dipicu karena ditemukan dua titik api yang terpisah.

Yunani Menghadapi Risiko Kebakaran Hutan yang Sangat Tinggi

Menurut laporan Reuters, kebakaran besar melanda kawasan dekat Porto Germeno, sekitar 60 kilometer di barat laut Athena, di tepi Teluk Korintus (Gulf of Corinth). Api dan asap tebal melahap hutan serta semak belukar, memaksa petugas pemadam kebakaran, polisi, dan tim penyelamat mundur secara perlahan demi keselamatan.

Petugas penyelamat garis depan, Giorgos Doulas, mengatakan : “Situasinya sangat serius, terutama hari ini (1 Agustus). Anginnya sangat kencang, dengan kecepatan embusan lebih dari 73 kilometer per jam, sehingga arah penyebaran api sulit diprediksi.”

Helikopter pemadam terus melakukan penyiraman air dan menjatuhkan bahan penghambat api untuk mencegah kebakaran meluas.

Karena muncul beberapa titik kebakaran baru, pemerintah memerintahkan evakuasi warga di wilayah Agia Paraskevi, Kryo Pigadi, dan Agios Nektarios, yang terletak di barat laut Athena.

Sebelumnya, lebih dari 200 penduduk Agios Vasileios telah dievakuasi melalui jalur laut.

Pihak berwenang memperingatkan bahwa wilayah Boeotia, Attica, dan Pulau Evia akan menghadapi risiko kebakaran hutan yang sangat tinggi pada 2 Agustus.

Kebakaran di Prancis Kembali Berkobar, Spanyol Selidiki Dugaan Pembakaran Sengaja

Di Prancis, kebakaran hutan di kawasan pegunungan Var, wilayah tenggara negara itu, yang sebelumnya berhasil dikendalikan tiga hari lalu, kembali berkobar pada 31 Juli. Akibatnya, hampir 2.500 orang harus dievakuasi pada malam hari.

Setelah membakar sekitar 1.800 hektare lahan, kobaran api kembali berhasil distabilkan.

Di Spanyol, hanya dua hari setelah pemerintah mengakhiri status darurat nasional akibat kebakaran besar di wilayah tengah negara tersebut, sejumlah kebakaran baru kembali muncul.

Situasi di Provinsi León kembali memburuk. Satu titik kebakaran baru muncul pada malam hari, satu kebakaran lainnya masih terus berlangsung, sementara satu titik lainnya mulai menunjukkan perkembangan yang membaik.

Di provinsi tetangga, Zamora, kebakaran yang telah membakar sekitar 11.000 hektare mulai berhasil dikendalikan. Sebanyak 14 kota yang sebelumnya dievakuasi kini telah dibuka kembali dan seluruh pembatasan telah dicabut.

Di bagian timur Spanyol, kebakaran di La Vall d’Uixó, Provinsi Castellón, akhirnya berhasil dikendalikan setelah berlangsung selama tujuh hari. Luas area yang terbakar mendekati 10.000 hektare, dan seluruh warga yang sebelumnya mengungsi telah diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing.

Polisi menyatakan bahwa karena ditemukan dua titik awal kebakaran yang terpisah, tidak menutup kemungkinan adanya unsur pembakaran yang disengaja.

Sementara itu, kebakaran besar yang telah menghanguskan lebih dari 70.000 hektare lahan di wilayah Madrid dan Ávila kini telah berhasil dikendalikan. Kebakaran baru yang sempat muncul di dekat Waduk San Juan, sebelah barat ibu kota Madrid, juga telah berhasil dipadamkan pada 31 Juli.

Korban Meninggal Akibat Gelombang Panas Mencapai Rekor Baru

Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa tahun ini telah menyebabkan lonjakan angka kematian di berbagai negara.

  • Austria mencatat 395 kematian akibat panas ekstrem selama bulan Juni, menjadi jumlah tertinggi dalam satu bulan sepanjang sejarah negara tersebut.
  • Inggris memperkirakan bahwa hingga saat ini pada tahun 2026 telah terjadi sekitar 2.877 kematian yang berkaitan dengan suhu panas ekstrem.
  • Prancis melaporkan terdapat 5.764 kematian berlebih (excess deaths) secara nasional antara 17 Juni hingga 2 Juli.
  • Jerman, berdasarkan estimasi Robert Koch Institute (RKI), memperkirakan bahwa hingga saat ini sekitar 9.800 kematian berkaitan dengan dampak gelombang panas.

Gelombang panas yang berkepanjangan, disertai kekeringan dan angin kencang, terus meningkatkan risiko kebakaran hutan di berbagai wilayah Eropa, sementara pemerintah di sejumlah negara masih mempertahankan status siaga tinggi untuk menghadapi potensi kebakaran susulan.

Sumber : NTDTV.com

Mulai 15 September! PKT Perketat Pengawasan Keluar-Masuk Warga Negara, Akademisi Ungkap “Rasa Krisis Rezim”

EtIndonesia.com  Partai Komunis Tiongkok (PKT) pada Jumat (31 Juli) mengumumkan peraturan baru mengenai pengelolaan keluar-masuk wilayah negara yang akan mulai berlaku pada 15 September. Peraturan itu secara langsung memperketat pembatasan terhadap perjalanan warga negara ke luar dan masuk Tiongkok.

Sejumlah analis menilai bahwa aturan tidak tertulis mengenai pengawasan perbatasan yang selama ini diterapkan kini telah diubah menjadi peraturan resmi, menunjukkan bahwa kontrol terhadap perbatasan Tiongkok semakin ketat dan mencerminkan meningkatnya rasa krisis di kalangan rezim PKT.

Peraturan baru yang diberi nama “Peraturan Dewan Negara tentang Pengelolaan Keluar-Masuk Wilayah Negara” terdiri dari 19 pasal. Aturan tersebut merinci langkah-langkah yang disebut sebagai pencegahan risiko keamanan terkait perjalanan keluar negeri, verifikasi keaslian alasan permohonan keluar-masuk negara, penyempurnaan langkah pembatasan perjalanan, serta penambahan aturan mengenai penyelenggara jasa perantara.

Para analis berpendapat bahwa pengesahan aturan ini berarti praktik-praktik pembatasan yang sebelumnya dilakukan secara tidak resmi kini dilegalkan, dan hal itu dapat menimbulkan dampak yang besar.

“Sebelumnya kita sudah mengetahui bahwa ada orang-orang yang ketika hendak meninggalkan Tiongkok dihentikan di perbatasan. Bahkan paspor mereka dipotong lalu dikembalikan, sehingga mereka tidak diizinkan keluar negeri. Ketika ditanya alasannya, petugas tidak memberikan penjelasan,” ujar Profesor Zhang Tianliang, pengajar Fakultas Humaniora di Feitian University di Amerika Serikat. 

“Dulu ini merupakan aturan tidak tertulis, tetapi sekarang telah menjadi aturan resmi. Artinya, jika sekarang mereka memotong paspor Anda, mereka bisa mengatakan bahwa mereka sedang ‘menegakkan hukum’ berdasarkan pasal-pasal tertentu, sehingga hampir tidak mungkin untuk membantahnya,” tambahnya. 

Menurut peraturan itu, warga negara Tiongkok yang dianggap melanggar aturan dan dinilai berpotensi membahayakan keamanan industri atau keamanan teknologi dapat dilarang meninggalkan negara.

Selain itu, apabila seorang warga negara dianggap melakukan tindakan di luar negeri yang disebut membahayakan keamanan nasional, maka setelah kembali ke Tiongkok ia dapat dikenai larangan keluar negeri selama enam bulan hingga tiga tahun.

“Bagi PKT, tidak ada yang namanya undang-undang pengawasan perbatasan yang paling keras, yang ada hanyalah aturan yang semakin keras. Sejak awal tahun ini, mereka mulai dari mengendalikan arus dana masyarakat hingga akhirnya melarang warga meninggalkan negara secara fisik. Hal ini menunjukkan bahwa rasa krisis di dalam rezim PKT sangat kuat. Jika Anda melakukan sesuatu yang menurut PKT berbahaya atau tidak dapat diterima, maka setelah Anda kembali ke dalam negeri, Anda tetap bisa dikenai tindakan oleh mereka,” ujar pakar masalah Tiongkok sekaligus komentator politik, Wang He. 

Para analis juga menilai bahwa selain memperketat pengawasan terhadap arus modal dan keluarnya tenaga ahli dari Tiongkok, pemerintah kini semakin membatasi kebebasan bergerak warga negaranya.

Zhang Tianliang menambahkan: “Peraturan ini secara terbuka mencantumkan berbagai praktik tidak tertulis yang selama ini dilakukan PKT. Artinya, mereka kini secara terang-terangan membatasi keluar-masuk warga negara, sekaligus memperketat pengawasan terhadap lembaga perantara.” 

“Pembatasan terhadap perjalanan ke luar negeri telah berkembang dari pembatasan teknologi, pembatasan tenaga ahli, pembatasan modal, hingga kini pembatasan terhadap orang biasa. Dapat dikatakan bahwa pintu negara semakin tertutup rapat.”

Sementara itu, Wang He berpendapat : “Kebijakan ini menunjukkan bahwa arah politik Tiongkok semakin bergeser ke kiri. Dahulu ada ungkapan yang mengatakan: Hong Kong menjadi seperti daratan Tiongkok, daratan menjadi seperti Xinjiang, dan Xinjiang menjadi seperti Korea Utara. Tampaknya PKT sedang melaju cepat ke arah tersebut.”

Laporan disusun oleh Qiu Yue, NTD Television