Longsor Salju di Puncak Tertinggi ke-12 di Dunia Menyebabkan Pendaki Gunung Purja dan 10 Anggota Timnya Hilang

EtIndonesia.com Sepuluh pendaki gunung internasional yang dipimpin oleh pendaki gunung terkenal asal Nepal, Nirmal Purja, hilang setelah longsoran salju di Broad Peak, salah satu puncak tertinggi di dunia, di Pakistan utara. Operasi pencarian dan penyelamatan sedang berlangsung.

Broad Peak, yang terletak di Pegunungan Karakoram, memiliki ketinggian 8.047 meter dan merupakan puncak tertinggi ke-12 di dunia.

Menurut laporan Associated Press, Karrar Haidri, wakil presiden Alpine Club of Pakistan, mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa klub tersebut menerima laporan awal bahwa tim pendaki yang dipimpin oleh Purja telah terjebak dalam longsoran salju dan kemudian kehilangan kontak.

Haidri menyatakan bahwa tim pendaki tersebut termasuk lima pendaki Nepal, Sohail Sakhi dari Hunza, Pakistan, Nathira dari Oman, Mallory Geis dari Amerika Serikat, seorang pendaki Tiongkok bernama Wang, dan seorang pendaki asing lainnya.

Pihak berwenang terkait sedang melakukan segala upaya untuk memobilisasi helikopter dan sumber daya penyelamatan lainnya, tetapi ini bergantung pada kondisi cuaca dan keadaan operasional sebenarnya.

Purja, juga dikenal sebagai Nims Dai, lahir di Nepal dan sekarang menjadi warga negara Inggris.

Purja mencetak rekor pada tahun 2019 dengan mendaki semua 14 puncak dunia dengan ketinggian 8.000 meter dalam 189 hari, menjadi orang tercepat yang mencapai prestasi ini pada saat itu. Kisah pendakian gunungnya ditampilkan dalam serial dokumenter populer Netflix *14 Peaks: Nothing Is Impossible*.

Pada tahun 2023, seorang pendaki wanita Norwegia dan pemandu Sheba asal Nepal melampaui rekor Purgar setelah mencetak rekor baru.

Sumber : NTDTV.com

Banjir Langka Melanda Gurun di Xinjiang dan Gansu, Tiongkok, Wilayah Gurun Berubah Menjadi Hamparan Air (Disertai Video)

Dalam beberapa hari terakhir, banjir langka melanda sejumlah wilayah di tepi gurun di Xinjiang bagian selatan dan Dunhuang, Provinsi Gansu, Tiongkok sehingga menarik perhatian publik. Pada 29 Juli, banjir bandang terjadi di Kabupaten Luntai, Prefektur Otonomi Mongol Bayingolin (Bayingolin), Xinjiang. Air bah meluap hingga ke Jalan Tol Tuhe (Turpan–Hotan), menyebabkan banyak orang dan kendaraan terjebak. Pada hari yang sama, Dunhuang di Provinsi Gansu juga diterjang banjir. Permukaan air Sungai Danghe naik dengan cepat hingga menimbulkan risiko luapan.

EtIndonesia.com Pada 29 Juli 2026  pukul 15.50, Kabupaten Luntai dilanda hujan deras yang sangat ekstrem. Sejumlah wilayah dengan cepat tergenang air dan mengalami banjir perkotaan, sehingga lalu lintas di berbagai ruas jalan terganggu.

Sekitar pukul 18.10, akibat luapan banjir, kawasan Simpang Susun Luntai (Jembatan Layang Talake) di Jalan Tol G3012 Tuhe berubah menjadi lautan air keruh. Air bercampur lumpur melintasi permukaan jalan, sementara genangan di daerah yang lebih rendah mencapai setinggi pinggang orang dewasa. Banyak kendaraan terjebak banjir, menyebabkan antrean kendaraan hingga hampir 1.500 meter.

Data menunjukkan bahwa pada tanggal 29 Juli, curah hujan di Kabupaten Luntai mencapai 76,6 milimeter dalam waktu kurang dari dua jam. Hujan paling deras terjadi antara pukul 16.00 hingga 17.00, dengan curah hujan lebih dari 50 milimeter hanya dalam satu jam.

Wilayah tersebut memiliki iklim gurun yang kering, dengan rata-rata curah hujan tahunan sekitar 72 milimeter. Artinya, hujan yang turun dalam waktu dua jam hampir menyamai total curah hujan selama satu tahun.

Badan Meteorologi Kabupaten Luntai menyatakan bahwa hujan deras kali ini merupakan hujan singkat terkuat dalam hampir 20 tahun terakhir.

Kesaksian Warga

Sejumlah warganet di Tiongkok mengungkapkan keterkejutannya:

  • “Selama bertahun-tahun tinggal di Xinjiang, saya belum pernah melihat hujan sebesar ini.”
  • “Luntai diguyur hujan deras, gurun berubah menjadi rawa. Awan hitam masih terus menggantung di langit dan hujan belum juga berhenti.”
  • “Saat melewati Hutan Batu Hongshan menuju Kuqa, saya dihantam hujan lebat. Saya sangat ketakutan hingga terus menginjak pedal gas.”
  • “Di Xinjiang saya melihat banjir yang benar-benar luar biasa. Sangat menakutkan, jalan tol penuh dengan air.”

Dunhuang Juga Dilanda Banjir

Selain itu, pada 29 Juli, akibat hujan deras yang terus mengguyur wilayah hulu selama beberapa hari, Dunhuang, Provinsi Gansu, juga mengalami banjir.

Pada 30 Juli pagi, sejumlah warga setempat dan wisatawan mengatakan kepada media bahwa ketika banjir datang, permukaan sungai naik sangat cepat. Di beberapa ruas jalan raya, air berwarna kuning kecokelatan yang membawa lumpur mengalir deras di kedua sisi jalan.

Sungai yang mengalir melalui Dunhuang adalah Sungai Danghe, yang berada di tepi Gurun Kumtag. Wilayah aliran sungai tersebut memiliki rata-rata curah hujan tahunan kurang dari 70 milimeter.

Pada  29 Juli, debit air dari hulu Sungai Danghe meningkat tajam. Permukaan air di jalur sungai yang melintasi kawasan perkotaan Dunhuang naik dengan cepat, arusnya sangat deras, dan muncul risiko luapan.

Video yang diunggah oleh saksi mata memperlihatkan banjir keruh membawa lumpur menerjang hamparan Gurun Gobi yang luas. Di pintu pelimpah sebuah waduk, semburan air mengangkat lumpur hingga beberapa meter ke udara.

Wisatawan Terkejut Melihat Gurun Dilanda Banjir

Seorang wisatawan asal Zhejiang, bermarga Zhang, mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya ia menyaksikan banjir terjadi di gurun.

Saat sedang berkendara di kawasan perkotaan pada 29 Juli, ia melihat sebuah sungai di tepi jalan mengalir sangat deras, meskipun perjalanan mereka tidak terganggu.

Sementara itu, seorang wisatawan asal Shanghai yang bermarga Lan (nama samaran) semula berencana mengemudi menuju Gunung Heidu pada 29 Juli. Dalam perjalanan, ia melihat air bah berwarna kuning kecokelatan mengalir deras di sepanjang jalan hingga meluap ke permukaan jalan.

Ia mengatakan:”Saat itu kendaraan dari arah berlawanan semuanya diminta putar balik. Karena kami sudah hampir tiba di Gunung Heidu, kami masih bisa lewat. Setelah itu jalan langsung ditutup. Namun objek wisata Gunung Heidu juga ditutup pada hari itu karena cuaca.”

Reaksi Warganet

Banyak orang mengaku belum pernah menyaksikan fenomena seperti ini.

Beberapa komentar di media sosial antara lain:

  • “Ini pertama kalinya dalam hidup saya melihat banjir di Gurun Gobi. Warga setempat mengatakan ini adalah pemandangan langka yang mungkin hanya terjadi sekali dalam seratus tahun.”
  • “Fenomena luar biasa di jalan tol Gurun Gobi. Sulit membayangkan jalan tol gurun yang saya lewati sekarang bisa dilanda banjir.”
  • “Gurun Gobi yang biasanya kering dan penuh pasir tiba-tiba berubah menjadi aliran air yang deras. Dalam cuaca ekstrem, alam benar-benar melampaui imajinasi.”
  • “Banjir di Dunhuang, sungguh tidak pernah terpikir bahwa gurun juga bisa kebanjiran.”
  • “Sopir yang mengantar kami mengatakan bahwa sepanjang hidupnya ia belum pernah melihat gurun dilanda banjir.”

Disusun oleh reporter Li Enzhen / Editor: Li Quan – NTDTV.com

Dokter Huang Shih-wei dari Taiwan : Pengambilan Organ Secara Paksa adalah Skandal Terbesar Abad ke-21, Umat Manusia Sedang Menghadapi Sebuah Pilihan

EtIndonesia.com Jika tindakan Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengambil organ tubuh manusia secara paksa tanpa persetujuan merupakan tindakan yang kejam dan mengancam seluruh umat manusia, mengapa masih begitu banyak orang memilih untuk menghindari persoalan ini, memilih untuk tetap “tidak mau tahu” dan “diam”?

Dalam sebuah episode terbaru program “Health 1+1”, dokter Taiwan Dr. Huang Shih-wei, yang telah meneliti dugaan pengambilan organ secara paksa di Tiongkok selama lebih dari 20 tahun, mengatakan bahwa seluruh masyarakat dunia seharusnya keluar dari ketidaktahuan mengenai PKT dan menolak untuk berdiam diri terhadap kejahatan. 

Menurutnya, pengambilan organ secara paksa merupakan skandal terbesar umat manusia pada abad ke-21, dan merupakan persoalan yang harus dihadapi secara serius oleh setiap orang.

Awal Penyelidikan

Kisah ini bermula pada tahun 2001. Saat itu, Dr. Huang memperhatikan bahwa sejumlah pasien di Taiwan pergi ke daratan Tiongkok untuk menjalani transplantasi organ. Pada awalnya ia tidak terlalu memikirkannya karena mendengar bahwa organ-organ tersebut berasal dari narapidana yang telah dihukum mati, sesuatu yang pada masa lalu juga pernah terjadi di Taiwan.

Namun, pada tahun 2006 terjadi sebuah peristiwa yang sangat mengejutkannya. Sejak saat itu ia mulai memperhatikan laporan mengenai dugaan pengambilan organ terhadap praktisi Falun Gong dan memulai penelitian yang berlangsung selama dua dekade.

Kesaksian “Annie” Membuka Tabir

Pada tahun 2006, seorang perempuan bernama Annie datang ke Amerika Serikat dan mengungkapkan bahwa mantan suaminya pernah mengambil kornea mata dari praktisi Falun Gong.

Annie sebelumnya bekerja sebagai staf akuntansi di sebuah rumah sakit di Tiongkok, sedangkan mantan suaminya adalah seorang ahli bedah saraf. Karena dihantui rasa bersalah, dokter tersebut menyesali keterlibatannya setelah dikatakan telah mengambil sekitar 2.000 kornea mata. Ketika ia ingin berhenti, ia diberi tahu bahwa setelah “naik ke kapal”, ia tidak mungkin turun lagi.

Keduanya akhirnya melarikan diri dari Tiongkok, dan setelah tiba di Amerika Serikat, Annie secara terbuka mengungkap dugaan praktik pengambilan organ terhadap praktisi Falun Gong.

Pada tahun yang sama, Dr. Huang yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Asosiasi Internasional Peduli Transplantasi Organ Taiwan mulai menaruh perhatian pada isu tersebut.

Sebagai seorang dokter, ia memiliki kesempatan bertemu dengan pasien-pasien Taiwan yang kembali setelah menjalani transplantasi organ di Tiongkok. Dari situlah ia mulai melakukan penelitiannya.

Mendengar Kisah Hampir Seratus Pasien

Dr. Huang mewawancarai hampir seratus orang yang pernah menjalani transplantasi di Tiongkok dan meminta mereka menceritakan pengalaman mereka.

Ia mengatakan:”Setelah mendengar semua kisah itu, Anda akan memiliki gambaran mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Anda akan mengetahui bahwa disana terdapat persediaan organ dalam jumlah yang sangat besar, dan orang-orang di dalam sistem tersebut dapat dikorbankan kapan saja untuk transplantasi. Yang lebih mengejutkan lagi, biaya memperoleh organ di tingkat penyedia hampir tidak ada.”

Sistem Pengambilan Organ yang Terorganisasi

Menurut Dr. Huang, berdasarkan berbagai kesaksian yang ia dengar, seorang dokter di Tiongkok dapat memperoleh organ seperti ginjal atau hati dengan biaya sekitar 5.000 yuan.

Rumah sakit kemudian mendorong para dokter untuk meningkatkan pendapatan. Dalam penyusunan anggaran tahunan, rumah sakit bahkan dapat memperoleh jatah ratusan ginjal melalui sistem tersebut untuk dijadikan sumber pemasukan.

Agar memperoleh keuntungan lebih besar, rumah sakit berusaha menjual organ kepada pasien asing yang mampu membayar mahal. Dengan demikian, baik rumah sakit maupun para dokter memperoleh keuntungan finansial.

Setelah mendengar berbagai cerita itu, Dr. Huang menyimpulkan bahwa dugaan praktik tersebut melibatkan operasi yang sangat terorganisasi.

Ia menjelaskan:”Organ tidak bisa begitu saja diambil dan langsung digunakan. Harus ada proses pengambilan, pengangkutan, penyimpanan, perantara internasional, hingga pengaturan seluruh perjalanan pasien. Semua itu merupakan layanan yang terintegrasi dalam satu sistem. Karena itulah saat itu Tiongkok mengklaim kualitas transplantasinya sangat baik.”

Menurutnya, sistem tersebut mencakup persediaan organ, jaringan transportasi dan penyimpanan organ, hingga ruang operasi yang lengkap.

Perubahan Kualitas Organ

Dr. Huang juga mendapat informasi dari seorang ahli ginjal di Taiwan bahwa sebelum tahun 1999, kualitas ginjal hasil transplantasi dari Tiongkok umumnya kurang baik.

Namun, antara tahun 2000 hingga 2006, pasien-pasien Taiwan yang kembali dari transplantasi di Tiongkok hampir semuanya memperoleh ginjal dengan kualitas yang sangat baik.

Mengingat Kembali Tragedi Nazi

Setelah mendengar berbagai kisah pasien dan kolega-koleganya, Dr. Huang mengatakan ia teringat pada sejarah kejahatan medis pada masa Nazi Jerman.

Ia berkata:”Saat mengetahui semua ini, saya langsung teringat pada apa yang dilakukan Nazi. Saat itu para dokter ikut terlibat dalam eksperimen terhadap orang Yahudi. Setelah Perang Dunia II berlangsung Pengadilan Nürnberg, yang kemudian melahirkan Deklarasi Jenewa dan sumpah profesi dokter. Kami semua mempelajari sejarah itu dan mengira hal seperti itu tidak akan pernah terulang lagi. Namun ternyata penyebabnya tetap sama, yaitu ketidaktahuan dan sikap acuh tak acuh.”

Menurutnya, dugaan pengambilan organ secara paksa yang sedang terjadi merupakan pengulangan tragedi serupa, dan kembali diperparah oleh ketidaktahuan serta sikap diam masyarakat.

Reaksi Kalangan Medis

Dr. Huang mengatakan bahwa ketika ia menceritakan temuannya kepada rekan-rekan dokter, sebagian merasa marah dan bersimpati, tetapi menganggap diri mereka tidak mampu berbuat apa-apa.

Sebagian lainnya bersikap acuh tak acuh. Mereka merasa persoalan tersebut bukan urusan mereka dan hanya ingin fokus pada pasien, pekerjaan, dan penghasilan mereka.

Ia juga menilai masih banyak orang yang belum memahami karakter PKT.

“Lebih Buruk daripada Kejahatan Nazi”

Menurut Dr. Huang, dugaan pengambilan organ secara paksa oleh PKT bahkan lebih mengerikan dibanding kejahatan Nazi.

Jika Nazi melakukan kekejaman dalam konteks perang, maka menurutnya praktik tersebut didorong oleh keuntungan ekonomi.

Ia mengatakan bahwa banyak orang akhirnya memilih mengabaikan persoalan tersebut demi kepentingan ekonomi.

Memahami PKT

Dr. Huang mengatakan bahwa ia kemudian berusaha mempelajari sejarah PKT lebih dalam.

Menurutnya, salah satu buku yang paling membantunya memahami PKT adalah “Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis”.

Ia mengatakan bahwa setelah memahami sejarah PKT, praktik tersebut tidak lagi terasa mengejutkan karena, menurut pandangannya, pengambilan organ hanyalah salah satu cara PKT memperlakukan orang-orang yang dianggap sebagai musuh.

“Skandal Terbesar Abad ke-21”

Dr. Huang berpendapat bahwa dugaan pengambilan organ secara paksa akan menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah kedokteran abad ke-21.

Ia mengatakan:”Ini adalah skandal terbesar umat manusia pada abad ke-21.”

Menurutnya, skala dugaan praktik tersebut sangat besar karena jumlah praktisi Falun Gong yang banyak serta besarnya populasi Tiongkok yang menyebabkan permintaan organ sangat tinggi.

Ia juga berpendapat bahwa persoalan tersebut pada akhirnya akan berdampak secara global karena banyak dokter dan ilmuwan Tiongkok belajar di luar negeri, perusahaan farmasi internasional berinvestasi di Tiongkok, dan kerja sama internasional terus berkembang.

“Karena itu, penganiayaan dan dugaan pengambilan organ ini pada akhirnya melibatkan seluruh dunia.”

“Ini Adalah Ujian bagi Setiap Orang”

Selama 20 tahun terakhir, Dr. Huang dan rekan-rekannya terus menyuarakan persoalan ini, namun menurutnya dugaan praktik tersebut belum berakhir.

Ia mengajak masyarakat untuk tidak memilih diam dan percaya bahwa persoalan ini merupakan ujian moral bagi setiap manusia.

Dr. Huang juga menceritakan pernah bertemu seorang praktisi agama Buddha yang mengatakan kepadanya bahwa komunisme adalah “kejahatan”, dan bahwa: “Kejahatan tidak akan pernah berubah. Kejahatan tidak akan bertahan selamanya. Kejahatan hadir untuk menguji manusia.”

Dr. Huang mengatakan ia memperoleh pemahaman dari kalimat tersebut: “Kejahatan tidak akan berubah, dan tidak akan bertahan selamanya. Semua ini adalah ujian bagi manusia. Entah Anda menyebutnya Tuhan, Buddha, atau Langit, pada akhirnya setiap orang akan menghadapi ujian moralnya sendiri.”

Disusun oleh reporter Jin Hong / Editor: Xu Gengwen – NTDTV.com

Kasus Spionase NATO: Identitas Perempuan Keturunan Tionghoa Terungkap, Diduga Terkait Infiltrasi Talenta Luar Negeri oleh Partai Komunis Tiongkok

EtIndonesia.com  Pihak berwenang Belgia baru-baru ini menangkap seorang perempuan warga negara Kanada keturunan Tionghoa dengan tuduhan melakukan kegiatan spionase saat menjalani program magang di NATO. Seiring berkembangnya penyelidikan, identitas dan latar belakang perempuan tersebut terungkap melalui pemberitaan media, sehingga kembali memicu kecaman terhadap dugaan praktik Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang memanfaatkan talenta di luar negeri untuk mengumpulkan intelijen secara diam-diam.

Hasil investigasi Canadian Broadcasting Corporation (CBC) mengkonfirmasi bahwa perempuan keturunan Tionghoa berkewarganegaraan Kanada yang dituduh Belgia melakukan kegiatan mata-mata untuk negara ketiga tersebut memiliki nama resmi Biwei Zhang.  Dalam lingkungan kerja ia menggunakan nama Claire Zhang, sedangkan di media sosial menggunakan nama Catina Zhang.

Menurut informasi yang tersedia untuk umum, pada tahun 2022 ia meraih gelar magister Ilmu Komputer dari Universitas Ottawa dengan spesialisasi kecerdasan buatan (AI) dan rekayasa sistem. Ia pernah bekerja atau magang di sejumlah lembaga pemerintah Kanada dan organisasi internasional di Eropa. 

Pada Juli tahun lalu, ia mulai magang di divisi TI Markas Besar Tertinggi Pasukan Sekutu NATO di Eropa (SHAPE). Selama masa magang, perilakunya dianggap mencurigakan sehingga menarik perhatian badan kontra intelijen.

Sejumlah pejabat keamanan menyatakan bahwa pola dalam kasus ini mirip dengan metode yang dalam beberapa tahun terakhir diduga digunakan PKT untuk mengumpulkan informasi intelijen melalui talenta yang berada di luar negeri.

Wakil Ketua Global Front Demokrasi Tiongkok, Sheng Xue, mengatakan: ‘Selama beberapa dekade terakhir, sebagian besar negara demokrasi telah menjalin hubungan politik, ekonomi, serta kerjasama akademik dengan PKT. Di balik berbagai bentuk pertukaran tersebut, pintu justru terbuka lebar sehingga memungkinkan pengaruh PKT masuk dan melakukan kegiatan spionase seperti ini.’

Mantan pejabat intelijen Kanada, Dan Stanton, mengatakan bahwa NATO sejak lama menjadi target utama operasi intelijen berbagai negara, dan para peserta magang lebih mudah dijadikan titik masuk untuk kegiatan tersebut.

Posisi di organisasi internasional seperti ini umumnya menjalani pemeriksaan keamanan yang menjadi tanggung jawab pemerintah Kanada. Karena itu, kasus ini juga memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan adanya celah dalam proses pemeriksaan keamanan tersebut.

Sheng Xue juga mengatakan : Semakin jelas suatu negara memahami sifat rezim PKT dan semakin mendalam pemahamannya terhadap berbagai metode yang digunakan PKT, serta semakin serius negara itu menangani masalah spionase PKT, maka semakin banyak kemajuan yang akan terlihat.

Saat ini, pengadilan telah memutuskan bahwa Biwei Zhang tidak diizinkan memperoleh pembebasan dengan jaminan. Kasus tersebut masih dalam penyelidikan lebih lanjut.

Laporan oleh reporter NTD, Shu Can, dari Kanada.

Gedung Putih Membantah Klaim Beijing: Data yang Dicuri Mencakup Data Pemilih yang Tidak Bersifat Publik

EtIndonesia.com  Setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkap dokumen rahasia yang telah dideklasifikasi mengenai dugaan pencurian data pemilih Amerika oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT), Gedung Putih kembali menegaskan bahwa tindakan PKT tersebut merupakan “campur tangan dalam pemilu”. 

Selain itu, Senator Amerika Serikat Rick Scott kembali mengungkap tindakan keras yang dilakukan rezim komunis, termasuk PKT, terhadap rakyatnya sendiri, serta menyerukan kerja sama internasional untuk melawan ancaman tersebut. Berikut laporan jurnalis NTD Zhang Liang dan Li Jiayin.

Gedung Putih: Data yang Dicuri Mencakup Data Pemilih yang Tidak Dipublikasikan

Reporter NTD, Zhang Liang, melaporkan bahwa Gedung Putih pada 31 Juli 2026 mengeluarkan pernyataan resmi yang menyebut tindakan PKT mencuri data pemilih Amerika pada pemilu 2020 memenuhi definisi “campur tangan dalam pemilu” menurut komunitas intelijen AS.

Pernyataan ini dikeluarkan setelah Presiden Trump, dalam pidato publik dua minggu lalu, mengungkap dokumen rahasia yang telah dideklasifikasi mengenai dugaan campur tangan PKT dalam pemilu. Sebelumnya, sejumlah media melaporkan bahwa data yang diperoleh Beijing hanyalah data komersial yang tersedia untuk umum.

Namun, Gedung Putih menegaskan bahwa PKT beserta para agennya membeli, mencuri, atau meretas sekitar 220 juta data pendaftaran pemilih warga Amerika, termasuk data yang tidak dipublikasikan. Menurut Gedung Putih, tindakan tersebut merupakan bentuk campur tangan dalam pemilu.

Gedung Putih juga memperingatkan bahwa apabila kekuatan asing menguasai data tersebut, mereka berpotensi melakukan berbagai aktivitas berbahaya, seperti memanipulasi data atau menghalangi warga untuk memberikan suara.

Senator AS Peringatkan Ancaman Komunisme dan Menyoroti Tindakan PKT

Wadah pemikir, Hudson Institute mewawancarai Senator Amerika Serikat Rick Scott mengenai ancaman terbesar yang dihadapi dunia saat ini, yaitu pemerintahan totaliter komunis.

“Lihatlah apa yang terjadi di Tiongkok. Xi (pemimpin PKT) sangat kejam. Ia membunuh rakyatnya sendiri, mengambil organ warga, menganiaya etnis Uyghur, juga praktisi Falun Gong, dan lain-lain. Ia ingin menguasai dunia,” ujarnya. 

Scott juga menyatakan bahwa PKT, Rusia, Korea Utara, Iran, dan rezim-rezim otoriter lainnya sedang bekerja sama. Menurutnya, Amerika Serikat dan negara-negara Barat harus meningkatkan kewaspadaan.

Ia menambahkan:”Kita harus menghentikan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan Tiongkok, tidak boleh mengizinkan saham perusahaan Tiongkok diperdagangkan di bursa efek kita. Kita tidak seharusnya membeli produk mereka, berinvestasi di Tiongkok, ataupun mengizinkan mahasiswa dari Tiongkok datang ke Amerika. Kita harus menghentikan semua ini.”

Departemen Kehakiman AS Perkuat Operasi Anti Penipuan

Departemen Kehakiman Amerika Serikat pada hari yang sama  menggelar konferensi pers untuk melaporkan keberhasilan divisi penegakan hukum anti penipuan.

Asisten Jaksa Agung Divisi Penegakan Hukum Anti Penipuan Nasional, Colin MacDonald, mengatakan: “Dalam 115 hari terakhir, Departemen Kehakiman telah melaksanakan ratusan operasi penegakan hukum besar terhadap penipuan di seluruh negeri, termasuk mengajukan tuntutan terhadap para pelaku yang menargetkan dana pembayar pajak senilai miliaran dolar, yang sebenarnya diperuntukkan bagi masyarakat miskin, orang sakit, dan lansia.”

Departemen Kehakiman juga mengumumkan bahwa sejak 4 Juli hingga saat ini, kantor kejaksaan federal di wilayah tenggara telah mendakwa 12 terdakwa tambahan atas dugaan penipuan terhadap program yang didanai oleh pajak, dengan nilai perkara mencapai 90 juta dolar AS.

Mereka juga menyerukan agar para pelaku kejahatan menghentikan aksinya karena pemerintah federal terus bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memberantas penipuan.

Pertumbuhan GDP AS Melambat pada Kuartal II, Namun Konsumsi dan Investasi Tetap Kuat

Biro Analisis Ekonomi Amerika Serikat (BEA) hari ini merilis estimasi awal Produk Domestik Bruto (GDP) AS untuk kuartal kedua tahun 2026.

Selama periode April hingga Juni, ekonomi AS tumbuh 1,5%, lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 1,8% dan juga di bawah pertumbuhan kuartal pertama yang mencapai 2,1%.

Reporter Zhang Liang menjelaskan bahwa perlambatan pertumbuhan terutama disebabkan oleh lonjakan impor dan penurunan belanja pemerintah. Meski demikian, sektor-sektor lainnya tetap menunjukkan kinerja yang kuat. Konsumen tidak terlalu terpengaruh oleh fluktuasi harga minyak dan justru meningkatkan pengeluaran. Sementara itu, perusahaan-perusahaan terus berinvestasi pada perangkat TI dan perangkat lunak yang dibutuhkan untuk pembangunan kecerdasan buatan (AI).

Laporan oleh Zhang Liang dan Li Jiayin, NTD, Washington DC.

Ribuan Imigran Ilegal Menyeberang dengan Berenang, Perbatasan Spanyol Menghadapi Krisis

Krisis imigran ilegal di Eropa kembali memanas dalam beberapa hari terakhir. Menurut laporan media Spanyol, sejumlah besar imigran ilegal dari Afrika Utara berenang menyeberangi laut menuju Ceuta, wilayah kantong (enklave) Spanyol yang terletak di Afrika Utara. Di antara mereka terdapat banyak keluarga yang membawa anak-anak saat menyeberang. 

Ribuan imigran ilegal dilaporkan menerobos garis pertahanan dan memasuki kawasan perkotaan Ceuta, sehingga memicu krisis di perbatasan. Pemerintah setempat meminta pemerintah Spanyol segera menetapkan status darurat, namun permintaan tersebut ditolak.

EtIndonesia.com Sejumlah besar migran dari Afrika Utara terus berenang menuju Ceuta, enklave Spanyol di Afrika Utara, sehingga memperburuk situasi di perbatasan Spanyol pada Kamis 30 Juli 2026. 

Rekaman yang diambil media Maroko memperlihatkan ratusan imigran ilegal berenang dari pantai Maroko menuju Ceuta. Dari pantauan langsung terlihat ratusan orang berada di laut, sementara banyak warga berkumpul di pantai untuk menyaksikan peristiwa tersebut.

Salah satu rekaman memperlihatkan seorang ayah membawa lima anak perempuannya yang masih di bawah umur, semuanya mengenakan alat pelampung saat berenang menuju Ceuta. Hal ini menunjukkan bahwa gelombang migran kali ini tidak hanya terdiri dari pria muda, tetapi juga keluarga dan anak-anak.

Ribuan imigran ilegal dilaporkan menerobos barikade polisi, memanjat pagar perbatasan, berlari ke pantai, lalu memasuki jalan-jalan di kota. Karena khawatir kekurangan personel keamanan akan memicu gangguan ketertiban, banyak toko di daerah tersebut terpaksa menghentikan sementara kegiatan usahanya.

Stasiun Televisi Nasional Spanyol memperkirakan sedikitnya 2.000 hingga 3.000 imigran ilegal telah memasuki Ceuta. Namun, angka tersebut belum dikonfirmasi secara resmi oleh pemerintah Spanyol.

Pemerintah Ceuta menyatakan bahwa cuaca musim panas yang baik memang biasanya meningkatkan jumlah upaya penyeberangan ilegal. Namun tahun ini, jumlah orang yang menyeberang dengan cara berenang meningkat secara luar biasa.

Ketua Pemerintah Otonomi Ceuta, Juan Jesús Vivas, meminta pemerintah Spanyol segera menetapkan status darurat serta mengirim tambahan personel untuk membantu menjaga keamanan dan ketertiban di perbatasan.

Awal Juli ini, Mahkamah Agung Spanyol memutuskan bahwa imigran ilegal yang tiba di Ceuta melalui jalur laut tidak boleh langsung dipulangkan sebelum proses hukum yang berlaku selesai dijalankan.

Pihak kepolisian berpendapat bahwa jaringan penyelundup manusia memanfaatkan putusan tersebut untuk mendorong semakin banyak imigran ilegal melakukan penyeberangan menuju Eropa.

Reporter Televisi NTD, Zheng Shengxun melaporkan.

Trump Umumkan Hamas dan Kelompok Bersenjata Lainnya Setujui Perlucutan Senjata, Gaza Akan Dikendalikan oleh Pemerintahan Palestina yang Baru

Gaza disebut memasuki babak baru menuju perdamaian. Pada malam 30 Juli, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Dewan Perdamaian (Board of Peace) telah mencapai sebuah kesepakatan bersejarah, di mana seluruh kelompok bersenjata di Gaza akan melucuti senjata sepenuhnya, dan wilayah tersebut pada akhirnya akan dikelola oleh pemerintahan Palestina yang baru.

EtIndonesia.com Pada 30 Juli 2026 malam, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengunggah pernyataan di platform Truth Social. Ia menulis : “Hari ini, Dewan Perdamaian telah mencapai sebuah kesepakatan bersejarah. Hamas dan seluruh kelompok bersenjata lainnya di Gaza akan melucuti senjata sepenuhnya. Ini merupakan tonggak penting menuju perdamaian dan keamanan yang berkelanjutan.”

Trump mengatakan bahwa kesepakatan ini merupakan langkah kunci menuju pemerintahan baru Palestina yang nantinya akan memerintah Gaza. Pemerintahan tersebut akan bekerja sama erat dengan Dewan Perdamaian untuk membantu rakyat Palestina. 

Pada saat yang sama, Israel juga akan memperoleh jaminan keamanan yang layak, dan Gaza tidak lagi akan digunakan sebagai basis serangan teroris.

Trump menjelaskan bahwa ini merupakan tonggak penting dalam pelaksanaan “Rencana 20 Poin Trump”. Kesepakatan tersebut akan dilaksanakan secara bertahap dan hati-hati. Setelah proses pelucutan senjata selesai, pasukan Israel akan ditarik dari Gaza. 

Selanjutnya, Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force) akan bekerja sama dengan kepolisian Palestina yang baru untuk menjaga keamanan warga Gaza serta negara-negara tetangganya.

Trump kembali menegaskan bahwa ancaman seperti serangan 7 Oktober tidak boleh terulang lagi. Berdasarkan kesepakatan ini, Gaza pada akhirnya akan diserahkan kepada sebuah pemerintahan Palestina yang benar-benar mengabdi kepada rakyat Palestina.

Trump juga menyatakan bahwa meskipun telah tercapai kemajuan yang bersejarah, Gaza masih mengalami kerusakan berat akibat perang dan proses rekonstruksinya akan menjadi tugas yang sangat besar.

Ia mengungkapkan bahwa keberhasilan tercapainya kesepakatan ini terutama berkat upaya para mediator dari Mesir, Qatar, dan Turkiye, serta anggota tim pemerintahan Trump. Ia menyampaikan terima kasih dan ucapan selamat kepada semua pihak yang terlibat.

Trump menutup pernyataannya dengan mengatakan : “Selamat kepada semua pihak atas kemajuan luar biasa ini! Sebelumnya, semua orang mengira hal ini tidak akan pernah mungkin tercapai.”

Disusun berdasarkan laporan wartawan Jin Hong/Editor: Li Quan

Rudal Iran Berbalik Makan Tuan! Trump Gempur Iran Tanpa Ampun, Gedung Perusahaan Tiongkok Jadi Korban Sasaran Iran

EtIndonesia.com Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat secara drastis setelah kedua negara saling melancarkan serangan militer pada Rabu, 29 Juli 2026. Rangkaian aksi saling balas tersebut memperlihatkan bahwa konflik di kawasan Teluk Persia kini telah memasuki fase yang semakin berbahaya, dengan sasaran yang semakin luas dan risiko eskalasi yang terus meningkat.

Peristiwa diawali ketika Iran kembali meluncurkan serangan rudal ke arah pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di Yordania. Serangan tersebut merupakan bagian dari rangkaian konfrontasi yang telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir di Timur Tengah.

Tidak lama setelah serangan terjadi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pernyataan tegas dalam wawancaranya bersama Fox News. Trump menegaskan bahwa Washington tidak akan membiarkan setiap serangan terhadap pasukannya berlalu tanpa balasan.

“Kami akan menghajar mereka habis-habisan,” ujar Trump, menegaskan sikap pemerintahannya terhadap tindakan Iran.

Pernyataan tersebut kemudian terbukti bukan sekadar retorika politik. Pada malam harinya, sekitar pukul 20.00 waktu setempat, militer Amerika Serikat memulai salah satu operasi udara terbesar yang ditujukan terhadap infrastruktur militer Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di kawasan pesisir Teluk Persia.

Operasi Selama Hampir Dua Jam

Serangan berlangsung selama hampir dua jam dan menyasar jaringan fasilitas militer IRGC yang tersebar di sepanjang pesisir utara Teluk Persia, membentang hampir 800 kilometer dari wilayah barat hingga timur Iran.

Sejumlah kota strategis menjadi sasaran utama operasi tersebut, antara lain:

  • Abadan;
  • Bushehr;
  • Pulau Qeshm;
  • Bandar Abbas;
  • serta lebih dari sepuluh kota pesisir lainnya.

Menurut berbagai laporan, puluhan fasilitas militer, gudang logistik, pusat penyimpanan amunisi, serta infrastruktur pendukung IRGC menjadi target pemboman presisi dalam operasi tersebut.

Wilayah-wilayah tersebut selama ini diketahui memiliki nilai strategis yang sangat tinggi bagi Iran. Selain menjadi lokasi pangkalan angkatan laut dan pusat logistik militer, kawasan pesisir Teluk Persia juga merupakan jalur utama distribusi persenjataan serta pengawasan terhadap lalu lintas kapal di sekitar Selat Hormuz.

Ledakan Besar Mengguncang Abadan

Perhatian terbesar dalam operasi tersebut tertuju pada Kota Abadan, yang mengalami ledakan susulan dalam skala sangat besar setelah serangan berlangsung.

Berbagai rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan kobaran api raksasa disertai ledakan berulang yang berlangsung cukup lama setelah serangan pertama terjadi.

Fenomena tersebut dinilai menjadi indikasi kuat bahwa sasaran yang terkena bukan hanya bangunan biasa, melainkan gudang penyimpanan amunisi atau persenjataan dalam jumlah besar.

Ledakan sekunder semacam ini lazim terjadi ketika rudal mengenai fasilitas penyimpanan bahan peledak, roket, atau amunisi berat. Setelah ledakan awal menghancurkan bangunan utama, persenjataan yang tersimpan di dalamnya akan terus meledak secara berantai selama beberapa waktu.

Dugaan HIMARS Diluncurkan dari Kuwait

Analis pertahanan Babak Taghvaee, dengan mengutip berbagai laporan open-source intelligence (OSINT), menyebut bahwa ledakan besar di Abadan diduga dipicu oleh rudal berpemandu presisi yang ditembakkan dari sistem roket M142 HIMARS milik Amerika Serikat yang ditempatkan di Kuwait.

Menurut analisis tersebut, rudal-rudal presisi berhasil menghantam gudang senjata IRGC secara langsung sehingga memicu ledakan berantai yang sangat besar.

Apabila analisis tersebut benar, maka operasi ini menunjukkan pendekatan baru yang lebih efisien dalam strategi militer Amerika.

Alih-alih mengirim pesawat tempur memasuki wilayah udara Iran yang dipenuhi sistem pertahanan udara, Amerika dapat meluncurkan rudal jarak jauh dari wilayah Kuwait tanpa perlu mempertaruhkan pilot maupun pesawatnya.

Strategi tersebut memberikan beberapa keuntungan sekaligus.

Pertama, risiko kehilangan personel hampir dapat dihilangkan sepenuhnya karena seluruh sistem peluncur berada di luar wilayah Iran.

Kedua, biaya operasional menjadi jauh lebih rendah dibandingkan pengerahan pesawat tempur lengkap yang memerlukan dukungan pengisian bahan bakar di udara, pesawat pengintai, pesawat peperangan elektronik, serta perlindungan udara lainnya.

Ketiga, sistem HIMARS dikenal memiliki waktu respons yang sangat cepat. Setelah menerima koordinat sasaran, peluncur dapat menembakkan rudal hanya dalam hitungan menit.

Secara geografis, Kota Abadan juga berada dalam posisi yang memungkinkan untuk dijangkau oleh sistem tersebut. Kota yang terletak di dekat perbatasan Iran dengan Kuwait itu hanya berjarak puluhan hingga sekitar seratus kilometer dari wilayah Kuwait, sehingga masih berada dalam jangkauan maksimum rudal HIMARS yang diperkirakan mencapai sekitar 300 kilometer, tergantung jenis amunisi yang digunakan.

Iran Melancarkan Serangan Balasan ke Kuwait

Pada hari yang sama, Iran juga melaksanakan serangan balasan ke arah Kuwait.

Menurut laporan awal, sebagian besar rudal yang ditembakkan berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Kuwait beserta sistem pertahanan milik negara-negara sekutu yang berada di kawasan tersebut.

Namun, satu rudal dilaporkan berhasil lolos dari pencegatan.

Yang menarik, rudal tersebut justru tidak mengenai instalasi militer Amerika maupun fasilitas pertahanan Kuwait.

Sebaliknya, rudal itu menghantam sebuah gedung milik perusahaan asal Tiongkok yang berada di wilayah utara Kuwait.

Insiden tersebut segera menarik perhatian karena sasaran yang terkena bukan merupakan target militer utama.

Gedung Perusahaan Tiongkok Mengalami Kerusakan Berat

Kementerian Pertahanan Kuwait kemudian mengonfirmasi bahwa rudal Iran memang menghantam bangunan milik perusahaan Tiongkok yang beroperasi di wilayah utara negara tersebut.

Akibat serangan itu, bangunan mengalami kerusakan berat dan setidaknya satu orang pekerja dilaporkan meninggal dunia.

Hingga pengumuman resmi disampaikan, pemerintah Kuwait belum mengungkap identitas maupun kewarganegaraan korban yang tewas dalam insiden tersebut.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Kuwait, Atwan, menjelaskan bahwa pemerintah segera mengaktifkan seluruh prosedur tanggap darurat setelah serangan terjadi.

Tim penyelamat, aparat keamanan, dan berbagai instansi terkait langsung dikerahkan ke lokasi untuk melakukan evakuasi korban, mengamankan area terdampak, serta menyelidiki penyebab dan dampak lebih lanjut dari serangan tersebut.

Pemerintah Kuwait juga menyatakan terus berkoordinasi dengan seluruh lembaga terkait guna memastikan situasi keamanan tetap terkendali serta mencegah kemungkinan terjadinya serangan lanjutan.

Peristiwa ini sekaligus menunjukkan bahwa meningkatnya konfrontasi antara Amerika Serikat dan Iran kini tidak lagi hanya mengancam kedua negara tersebut. Negara-negara di kawasan Teluk, termasuk Kuwait, berisiko ikut terdampak, sementara keberadaan perusahaan-perusahaan asing di wilayah konflik juga semakin rentan menjadi korban tidak langsung dari eskalasi militer yang terus berkembang. (***)

Nyaris Pecah Perang NATO VS Rusia! Rudal Putin Dekati Polandia, Jet Tempur Langsung Mengudara

EtIndonesia.com Pada 30 Juli 2026 dini hari, kawasan Eropa kembali berada dalam ketegangan tinggi setelah sebuah rudal jelajah Rusia jenis Kh-101 dilaporkan nyaris memicu krisis keamanan terbesar sejak pecahnya perang Rusia-Ukraina. 

Di tengah gelombang serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Moskow terhadap berbagai wilayah Ukraina, perhatian dunia justru tertuju ke perbatasan Polandia, negara anggota NATO yang selama ini menjadi salah satu pendukung utama Kyiv.

Insiden tersebut memunculkan kembali kekhawatiran lama bahwa perang Rusia-Ukraina sewaktu-waktu dapat meluas menjadi konflik yang melibatkan langsung negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Meskipun hingga saat itu belum ada konfirmasi resmi bahwa rudal benar-benar memasuki wilayah udara Polandia, respons cepat militer Polandia menunjukkan betapa seriusnya ancaman yang mereka hadapi.

Rusia Melancarkan Gelombang Serangan Besar

Pada dini hari 30 Juli 2026, militer Rusia kembali melancarkan serangan udara besar terhadap sejumlah kota dan fasilitas strategis di Ukraina. Serangan dilakukan menggunakan kombinasi rudal jelajah dan pesawat nirawak (drone) yang diarahkan ke berbagai sasaran di beberapa wilayah.

Namun berbeda dari serangan-serangan sebelumnya, perhatian dunia kali ini tidak hanya tertuju pada dampak serangan di wilayah Ukraina. Ketegangan justru meningkat ketika salah satu rudal yang diduga merupakan rudal jelajah Kh-101 dilaporkan melintas sangat dekat dengan wilayah perbatasan Polandia.

Situasi tersebut segera memicu kewaspadaan tinggi di pihak Polandia karena setiap pelanggaran wilayah udara negara anggota NATO berpotensi menimbulkan konsekuensi militer maupun diplomatik yang sangat serius.

Polandia Langsung Kerahkan Jet Tempur

Menanggapi situasi yang berkembang, Angkatan Udara Polandia segera mengaktifkan prosedur darurat.

Sejumlah pesawat tempur diterbangkan untuk melakukan patroli udara, sementara seluruh jaringan radar pertahanan udara ditempatkan dalam status siaga penuh. Sistem pemantauan ruang udara juga diperintahkan untuk melacak setiap objek yang bergerak mendekati wilayah Polandia.

Pemerintah Polandia menjelaskan bahwa pengerahan tersebut merupakan langkah pencegahan guna memastikan keamanan wilayah nasional serta melindungi warga sipil apabila terjadi eskalasi yang tidak diinginkan.

Meskipun demikian, situasi di lapangan berkembang sangat cepat.

Sirene Serangan Udara Berbunyi di Lublin

Tidak lama setelah pengerahan pesawat tempur dilakukan, sirene peringatan serangan udara terdengar di Lublin, kota terbesar di bagian timur Polandia yang letaknya relatif dekat dengan perbatasan Ukraina.

Bunyi sirene tersebut segera memicu kepanikan di kalangan masyarakat. Banyak warga mengikuti perkembangan situasi melalui media sosial dan berbagai kanal informasi daring.

Pada saat yang hampir bersamaan, sejumlah kanal militer di internet mulai menyebarkan laporan bahwa terdapat satu hingga dua rudal yang diduga memasuki wilayah udara Polandia.

Bahkan beredar pula sejumlah rekaman video yang diklaim memperlihatkan ledakan yang diduga berkaitan dengan rudal tersebut. Namun hingga saat itu, keaslian rekaman tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Belum Ada Konfirmasi Resmi

Meski berbagai laporan terus bermunculan, baik Pemerintah Polandia maupun NATO belum memberikan konfirmasi resmi bahwa rudal Rusia benar-benar memasuki wilayah udara Polandia.

Otoritas terkait masih melakukan proses penyelidikan dengan memanfaatkan data radar, rekaman satelit, serta informasi dari sistem pertahanan udara.

Sikap berhati-hati tersebut dinilai penting karena setiap pernyataan resmi mengenai pelanggaran wilayah negara anggota NATO dapat membawa konsekuensi politik dan militer yang sangat besar.

Dalam beberapa insiden sebelumnya, laporan awal mengenai rudal yang memasuki wilayah Polandia juga memerlukan investigasi menyeluruh sebelum pemerintah menyampaikan kesimpulan akhir kepada publik.

Ancaman yang Selama Ini Dikhawatirkan

Sejak perang Rusia-Ukraina pecah, para pengamat keamanan internasional telah lama memperingatkan mengenai kemungkinan konflik meluas ke negara-negara tetangga Ukraina, terutama Polandia, Lithuania, Latvia, dan Estonia yang merupakan anggota NATO.

Posisi geografis Polandia menjadikannya jalur utama pengiriman bantuan militer Barat kepada Ukraina. Karena itu, setiap aktivitas militer Rusia di dekat perbatasan selalu dipantau dengan sangat ketat.

Apabila sebuah rudal benar-benar memasuki wilayah Polandia dan menyebabkan korban jiwa atau kerusakan besar, maka tekanan politik terhadap NATO untuk memberikan respons yang lebih tegas hampir dipastikan akan meningkat.

Walaupun Pasal 5 NATO mengenai pertahanan kolektif tidak otomatis diberlakukan dalam setiap insiden, pelanggaran wilayah negara anggota tetap dipandang sebagai persoalan yang sangat sensitif.

Dugaan Strategi Menguji Batas NATO

Sejumlah analis pertahanan menilai bahwa apabila rudal tersebut memang sengaja diarahkan sangat dekat dengan wilayah Polandia, langkah itu bisa menjadi bagian dari strategi Rusia untuk menguji batas toleransi NATO.

Pendekatan semacam ini dinilai memungkinkan Moskow mengukur seberapa cepat respons militer negara-negara Barat tanpa harus secara langsung memicu perang terbuka.

Dengan kata lain, Rusia dapat mengirimkan sinyal strategis bahwa mereka masih memiliki kemampuan untuk menciptakan tekanan psikologis terhadap NATO, sekaligus mengamati pola reaksi militer aliansi tersebut.

Namun hingga kini, belum terdapat bukti resmi yang memastikan bahwa dugaan tersebut benar-benar merupakan bagian dari kebijakan Kremlin.

Faktor Washington Ikut Menjadi Sorotan

Selain perkembangan di medan perang, sejumlah pengamat juga mengaitkan meningkatnya ketegangan ini dengan dinamika politik di Amerika Serikat.

Kunjungan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy ke Washington disebut-sebut menghasilkan perkembangan penting dalam hubungan kedua negara.

Mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Rusia, Michael McFaul, mengungkapkan bahwa pemerintahan Amerika kini disebut tidak lagi mendorong Ukraina untuk menyerahkan wilayah Donbas sebagai bagian dari penyelesaian konflik.

Pernyataan tersebut menarik perhatian karena selama beberapa waktu sebelumnya sempat muncul berbagai spekulasi mengenai kemungkinan kompromi teritorial sebagai jalan menuju penghentian perang.

Donbas Menjadi Titik Perselisihan

Sebagai latar belakang, pada Agustus 2025, dalam pertemuan tingkat tinggi di Alaska, Presiden Rusia Vladimir Putin pernah mengusulkan agar Ukraina menyerahkan wilayah Donbas sebagai syarat untuk membekukan garis depan pertempuran.

Gagasan tersebut pada saat itu dipandang sebagai salah satu kemungkinan jalan menuju penghentian konflik.

Namun apabila Amerika Serikat kini benar-benar tidak lagi mendukung opsi tersebut, maka posisi negosiasi Rusia dinilai menjadi jauh lebih rumit.

Banyak analis mempertanyakan keuntungan strategis apa yang masih dapat diperoleh Moskow apabila perang terus berlanjut tanpa adanya peluang kompromi politik yang menguntungkan.

Di sisi lain, Kremlin juga menghadapi tantangan untuk menjelaskan kepada masyarakat Rusia mengenai tujuan jangka panjang operasi militer yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Eropa Memasuki Fase yang Semakin Berbahaya

Insiden pada 30 Juli 2026 memperlihatkan bahwa perang Rusia-Ukraina tidak lagi hanya berdampak pada kedua negara yang terlibat langsung dalam konflik. Negara-negara tetangga, khususnya anggota NATO, kini semakin sering berada dalam posisi siaga menghadapi potensi eskalasi.

Meskipun belum terdapat konfirmasi resmi mengenai masuknya rudal Rusia ke wilayah Polandia, respons cepat militer Polandia menunjukkan bahwa setiap ancaman terhadap wilayah NATO akan ditanggapi dengan kewaspadaan maksimal.

Ke depan, perkembangan hubungan antara Rusia, Ukraina, Amerika Serikat, dan NATO diperkirakan akan menjadi faktor utama yang menentukan apakah konflik tetap dapat dikendalikan atau justru berkembang menjadi krisis keamanan yang lebih luas di kawasan Eropa. (***)

Kilang Ryazan Membara! Drone Ukraina Hancurkan Pusat Logistik Raksasa Rusia, Kilang Minyak Ikut Meledak!

EtIndonesia.com  – Ukraina kembali meningkatkan intensitas serangan jarak jauhnya ke wilayah Rusia melalui operasi drone berskala besar yang menargetkan infrastruktur strategis. 

Pada Selasa pagi, 29 Juli 2026 waktu setempat, puluhan pesawat nirawak (drone) dilaporkan memasuki wilayah udara Kota Ryazan, sekitar 180–200 kilometer di tenggara Moskow. Serangan ini tidak hanya menghantam salah satu pusat logistik terbesar Rusia, tetapi juga memicu kebakaran di Kilang Minyak Ryazan yang memiliki peran vital dalam pasokan energi negara tersebut.

Rangkaian serangan tersebut memperlihatkan bagaimana Ukraina semakin mengandalkan strategi perang asimetris untuk menekan kemampuan logistik, industri, dan ekonomi Rusia, sekaligus memaksa Moskow mengeluarkan biaya yang jauh lebih besar dalam mempertahankan wilayahnya.

Menurut berbagai laporan yang beredar, operasi dimulai menjelang fajar ketika puluhan drone Ukraina terbang dalam beberapa gelombang menuju wilayah Ryazan. Waktu pelaksanaan diperkirakan dipilih secara sengaja karena kondisi cahaya yang masih minim dinilai dapat mengurangi efektivitas deteksi visual maupun respons awal sistem pertahanan udara Rusia.

Militer Rusia segera mengaktifkan sistem pertahanan udara setelah mendeteksi ancaman tersebut. Gelombang pertama drone dilaporkan berhasil dicegat oleh rudal pertahanan udara Rusia. Namun, serangan tidak berhenti sampai di situ.

Beberapa menit kemudian, gelombang kedua datang dengan jumlah yang lebih besar. Drone-drone tersebut dilaporkan mengubah jalur penerbangan, ketinggian, serta pola pendekatannya sehingga mampu melewati sebagian jaringan pertahanan udara sebelum akhirnya mencapai sasaran yang telah ditentukan.

Pusat Logistik Wildberries Menjadi Sasaran Utama

Salah satu target utama dalam operasi tersebut adalah pusat logistik milik Wildberries, perusahaan e-commerce terbesar sekaligus salah satu operator logistik terbesar di Rusia.

Kompleks logistik di Ryazan itu memiliki luas sekitar 173.000 meter persegi dan termasuk dalam jajaran sepuluh pusat logistik terbesar di Rusia. Lokasinya juga sangat strategis karena berada kurang dari 200 kilometer dari Moskow dan menjadi salah satu simpul utama distribusi barang menuju berbagai wilayah Rusia bagian tengah.

Beberapa drone dilaporkan menghantam langsung bangunan gudang tersebut.

Tak lama kemudian, ledakan besar mengguncang kawasan industri. Kobaran api raksasa disertai asap hitam pekat membubung tinggi ke udara dan terlihat dari berbagai titik di sekitar Ryazan.

Besarnya kebakaran memaksa pengelola menghentikan seluruh aktivitas operasional. Para pekerja dievakuasi secara darurat demi menghindari risiko ledakan susulan maupun runtuhnya struktur bangunan akibat kebakaran.

Kerusakan terhadap fasilitas logistik sebesar ini diperkirakan akan mengganggu rantai distribusi barang, baik untuk kebutuhan komersial maupun berbagai sektor industri yang bergantung pada jaringan logistik di sekitar Moskow.

Banyak analis menilai bahwa serangan tersebut bukan sekadar ditujukan untuk menghancurkan sebuah gudang, melainkan merupakan bagian dari upaya sistematis Ukraina dalam melemahkan kemampuan distribusi logistik Rusia melalui penghancuran pusat-pusat penyimpanan dan jaringan pendukungnya.

Kilang Minyak Ryazan Ikut Terbakar

Pada waktu yang hampir bersamaan, sasaran strategis lain juga dilaporkan terkena serangan.

Kilang Minyak Ryazan, salah satu fasilitas pengolahan minyak terbesar Rusia, mengalami ledakan yang diikuti kebakaran besar.

Fasilitas tersebut memiliki kapasitas pengolahan sekitar 17 juta ton minyak mentah per tahun, atau sekitar 5 persen dari total kapasitas pengilangan minyak Rusia.

Selama bertahun-tahun, kilang ini menjadi pemasok utama bahan bakar untuk kawasan Moskow dan wilayah Rusia bagian tengah, baik bagi kebutuhan sipil maupun militer.

Ini bukan pertama kalinya fasilitas tersebut menjadi target serangan Ukraina.

Sejak perang Rusia-Ukraina berlangsung, Kilang Ryazan telah beberapa kali diserang menggunakan drone jarak jauh. Bahkan pada pertengahan Mei 2026, salah satu serangan sebelumnya sempat memaksa sebagian operasi kilang dihentikan sementara akibat kerusakan pada fasilitas penting.

Serangan terbaru diperkirakan kembali memberikan tekanan terhadap produksi bahan bakar Rusia, terutama ketika negara tersebut masih menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan energi domestik.

Serangan Meluas ke Puluhan Wilayah Rusia

Ryazan bukan satu-satunya wilayah yang menjadi sasaran.

Dalam 24 jam terakhir, jaringan serangan drone Ukraina dilaporkan menjangkau 63 wilayah di Rusia maupun wilayah yang berada di bawah kendali Rusia.

Sejumlah daerah strategis seperti Bryansk, Belgorod, Taganrog, hingga Rostov-on-Don dilaporkan mengalami aktivitas pertahanan udara yang intens ketika pasukan Rusia berusaha menghadang gelombang drone yang datang dari berbagai arah.

Dari keseluruhan operasi tersebut, sedikitnya 20 sasaran dilaporkan berhasil ditembus dan terkena serangan.

Skala operasi ini menunjukkan bahwa Ukraina kini mampu melaksanakan serangan terkoordinasi terhadap banyak target secara bersamaan, sehingga memaksa Rusia membagi perhatian dan sumber daya pertahanan udaranya ke berbagai wilayah dalam waktu yang sama.

Perang Asimetris Semakin Mendominasi

Perkembangan terbaru di medan perang menunjukkan bahwa konflik Rusia-Ukraina kini telah memasuki fase baru.

Jika pada awal perang pertempuran lebih banyak mengandalkan artileri berat, tank, dan pesawat tempur, kini perang semakin didominasi oleh penggunaan drone murah yang mampu memberikan dampak strategis terhadap infrastruktur penting.

Sebagian besar drone bunuh diri maupun drone serang jarak jauh yang digunakan Ukraina diperkirakan hanya bernilai sekitar 3.000 hingga 8.000 dolar Amerika Serikat per unit.

Drone-drone tersebut relatif murah, mudah diproduksi secara massal, serta dapat dirakit menggunakan komponen yang tersedia secara luas.

Sebaliknya, untuk menghentikan ancaman tersebut, Rusia sering kali harus mengerahkan sistem pertahanan udara strategis seperti S-300 maupun S-400.

Setiap rudal pencegat yang ditembakkan oleh sistem tersebut dapat bernilai hingga jutaan dolar Amerika Serikat.

Perbedaan biaya yang sangat besar ini menciptakan apa yang banyak analis sebut sebagai ketimpangan biaya paling mencolok dalam peperangan modern.

Dengan menghabiskan drone bernilai beberapa ribu dolar, Ukraina dapat memaksa Rusia menggunakan rudal pencegat yang harganya ratusan bahkan ribuan kali lebih mahal.

Dilema Besar bagi Rusia

Situasi tersebut menempatkan Moskow dalam posisi yang sulit.

Apabila seluruh drone dicegat, Rusia harus terus menguras anggaran pertahanan sekaligus menghabiskan stok rudal pertahanan udara yang produksinya membutuhkan waktu cukup lama.

Namun jika memilih membiarkan sebagian drone lolos, berbagai fasilitas strategis seperti kilang minyak, pangkalan militer, pusat logistik, jaringan rel kereta api, hingga infrastruktur energi berpotensi mengalami kerusakan besar yang nilainya dapat mencapai puluhan juta dolar.

Dengan kata lain, apa pun keputusan yang diambil, Rusia tetap menghadapi konsekuensi yang mahal.

Dukungan Intelijen Barat Dinilai Berperan Penting

Laporan Financial Times yang dipublikasikan pada 29 Juli 2026 menyebut bahwa badan intelijen Amerika Serikat dan Prancis memberikan dukungan intelijen yang sangat rinci kepada Ukraina.

Informasi tersebut disebut membantu operator drone Ukraina memilih rute penerbangan yang mampu menghindari konsentrasi pertahanan udara Rusia.

Selain itu, data intelijen juga diyakini memungkinkan Ukraina mengidentifikasi bagian-bagian paling vital di dalam fasilitas industri, termasuk pusat kendali, sistem otomatisasi, jaringan pipa utama, serta komponen penting lain yang apabila rusak akan menghentikan keseluruhan proses produksi.

Berbeda dengan tangki penyimpanan minyak yang relatif lebih mudah diperbaiki atau diganti, pusat kendali dan sistem kontrol industri merupakan komponen berteknologi tinggi yang diproduksi secara khusus melalui proses manufaktur presisi.

Apabila bagian-bagian tersebut hancur, pemulihan fasilitas dapat memakan waktu berbulan-bulan, bahkan lebih lama, karena memerlukan penggantian peralatan khusus yang tidak tersedia dalam jumlah besar.

Serangan di Ryazan memperlihatkan bahwa perang Rusia-Ukraina kini bukan lagi sekadar perlombaan jumlah tank atau pesawat tempur, melainkan telah berkembang menjadi persaingan menghancurkan infrastruktur industri, logistik, dan energi lawan secara presisi. 

Dengan memanfaatkan drone berbiaya rendah namun didukung intelijen yang semakin canggih, Ukraina terus berupaya menekan kemampuan ekonomi dan militer Rusia, sementara Moskow dipaksa menghadapi dilema antara mempertahankan wilayahnya dengan biaya yang sangat besar atau menerima risiko kerusakan terhadap aset-aset strategis yang menjadi tulang punggung operasional negaranya. (***)

Setahun Sebelum Pandemi, Ilmuwan Militer PKT Mengirim Sampel Virus ke AS

EtIndonesia.com Baru-baru ini, sebuah komite Senat AS merilis dokumen yang telah dideklasifikasi.

Dikutip NTD, 30 Juli 2026, Dokumen tersebut menunjukkan bahwa Zhou Yusen, seorang ilmuwan militer Tiongkok, mengirim sampel COVID-19 ke sebuah laboratorium di Minnesota pada tahun 2018, lebih dari setahun sebelum wabah di Wuhan, Tiongkok.

Ini sekali lagi mengungkap penelitian rahasia yang dilakukan oleh militer Partai Komunis Tiongkok (PKT) tentang virus COVID-19.

Ilmuwan forensik FBI menentukan bahwa sampel COVID-19 yang dikirim adalah virus diare epidemik babi, yang menyebabkan tingkat morbiditas dan mortalitas tinggi pada peternakan babi.

Praktisi Falun Gong di Yunnan, Yang Jinhui, Meninggal Dunia Setelah 20 Hari Ditahan Secara Ilegal 

EtIndonesia.com Menurut laporan media New Tang Dynasty (NTD), Yang Jinhui (65), seorang praktisi Falun Gong dari Kota Gejiu, Prefektur Otonom Honghe, Provinsi Yunnan, meninggal dunia setelah ditahan selama 20 hari.

Berdasarkan laporan Minghui.org, Yang Jinhui ditangkap oleh pihak berwenang Tiongkok saat sedang bepergian bersama keluarganya dan kemudian ditahan di sebuah pusat penahanan.

Pihak berwenang menyatakan kepada keluarga bahwa Yang Jinhui meninggal akibat serangan jantung dan tidak dapat diselamatkan meskipun telah mendapatkan pertolongan medis. Namun, pihak keluarga meminta dilakukan autopsi, dan hingga kini hasilnya belum diumumkan.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Yang Jinhui sebelumnya merupakan seorang pegawai pemerintah di tingkat komunitas. Disebutkan pula bahwa ia telah beberapa kali ditangkap karena berlatih Falun Gong.

Falun Gong, yang juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah latihan spiritual yang berlandaskan pada prinsip Sejati, Baik, dan Sabar. Diperkenalkan kepada publik di Tiongkok pada awal 1990-an, latihan ini dengan cepat memperoleh popularitas luas. Menurut perkiraan resmi saat itu, jumlah praktisinya mencapai antara 70 juta hingga 100 juta orang pada akhir dekade itu. 

Pada Juli 1999, Partai Komunis Tiongkok (PKT), karena khawatir popularitas Falun Gong mengancam kekuasaannya, melancarkan kampanye penindasan brutal untuk memberantas latihan tersebut. Sejak saat itu, banyak praktisi mengalami penahanan sewenang-wenang, kerja paksa, penyiksaan, bahkan meninggal dunia akibat praktik pengambilan organ secara paksa.

Sejumlah pihak mengkritik tindakan pemerintah PKT terhadap para praktisi Falun Gong dan menilai penggunaan kekuasaan serta tindakan represif terhadap mereka sebagai pelanggaran terhadap hak-hak dasar manusia.

Jumlah Korban Tewas Gempa Magnitudo 7,1 di Kumamoto, Jepang, Meningkat Menjadi 28 Orang; Pemerintah Mengirimkan AC ke Tempat Pengungsian

Data terbaru dari Pusat Penanggulangan Bencana Kumamoto, Jepang, menunjukkan bahwa setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,1 pada 28 Juli, empat jenazah ditemukan di reruntuhan pusat perbelanjaan yang diduga hancur akibat ledakan gas, sehingga jumlah korban tewas meningkat menjadi 28 orang. 

Selain itu, di tengah cuaca yang sangat panas, pihak berwenang Kumamoto pada 29 Juli sore mengirimkan AC portabel angkatan pertama ke tempat penampungan di seluruh prefektur.

EtIndonesia.com Gempa berkekuatan magnitudo 7,1 melanda Kumamoto dengan intensitas maksimum 7 dan kedalaman hiposentrum 10 kilometer pada 28 Juli pukul 16.27 waktu setempat. Gempa susulan terus terjadi setelahnya, menyebabkan bencana parah yang tidak hanya mengakibatkan runtuhnya bangunan, tetapi juga memicu kebakaran, serta membuat puluhan ribu penduduk kehilangan pasokan listrik dan air.

Kanzo Matsumoto (73 tahun), yang mengelola penginapan pemandian air panas di Yatsushiro, mengatakan kepada AFP, “Ini adalah gempa terkuat yang pernah saya alami sepanjang hidup saya.”

Badan Meteorologi Jepang memperingatkan, “Di daerah yang mengalami guncangan cukup kuat, selama sekitar satu minggu ke depan, terutama dalam 2 hingga 3 hari ke depan, waspadalah terhadap kemungkinan terjadinya gempa dengan intensitas sekitar 7.”

Hingga pukul 06.30 pagi pada 30 Juli, jumlah korban tewas akibat gempa ini telah meningkat menjadi 28 orang, termasuk kasus-kasus yang masih diselidiki apakah terkait dengan bencana gempa.

Selain itu, Pemerintah Prefektur Kumamoto mengadakan rapat Markas Penanggulangan Bencana pada  30 Juli pukul 09.30 pagi menyatakan bahwa gempa kali ini telah menewaskan 17 orang, 6 orang mengalami henti jantung-pernapasan, dan setidaknya 1 orang masih hilang. Menurut data Prefektur Kumamoto, terdapat 415 tempat penampungan yang dibuka sebagai tanggapan atas gempa ini, dengan total 10.467 orang yang mengungsi, serta sekitar 22.950 rumah tangga di prefektur tersebut mengalami pemadaman listrik.

Kumamoto Mengirimkan AC Portabel Pertama ke Tempat Penampungan

Badan Meteorologi Jepang pada 29 Juli menyatakan bahwa mulai akhir pekan ini, suhu di seluruh Jepang akan meningkat secara signifikan. Khususnya di wilayah Kyushu hingga Kanto, wilayah Kumamoto bahkan berpotensi mengalami suhu ekstrem yang mendekati 40 derajat Celcius.

Selain itu, Pemerintah Prefektur Kumamoto menyatakan bahwa hingga pukul 16.00 pada 29 Juli, masih ada sekitar 65.000 rumah tangga yang mengalami pemadaman listrik, sementara di wilayah lain juga dilaporkan terjadi pemadaman air atau air yang keruh.

Pemerintah Prefektur Kumamoto menyatakan, di tengah kondisi pemadaman listrik dan air, untuk mengantisipasi suhu tinggi akhir pekan ini, pemerintah akan mengirimkan 3.300 unit AC ke tempat-tempat penampungan di Prefektur Kumamoto.

Sumber : NTDTV.com

Militer AS Selesaikan Serangan Terbaru untuk Melindungi Pasukan AS, Lalu Lintas Pelayaran, dan Negara-Negara Tetangga di Teluk

Pada 29 Juli, Komando Pusat AS (CENTCOM) merilis laporan terbaru yang menyatakan bahwa serangan besar-besaran terbaru terhadap Iran telah berhasil diselesaikan, sehingga melemahkan ancaman yang ditimbulkan oleh Iran dan para agennya terhadap pasukan AS, pelayaran komersial, serta negara-negara tetangga di Teluk.

EtIndonesia.com  Komando Pusat AS (CENTCOM) mengeluarkan pernyataan di platform X pada  29 Juli malam hari menyatakan bahwa pada pukul 22.00 Waktu Timur AS 29 Juli, pasukan AS berhasil menyelesaikan operasi serangan berskala besar terhadap Iran sebagai tanggapan atas upaya serangan rudal yang dilancarkan Iran terhadap pasukan AS sehari sebelumnya.

Pasukan militer Komando Pusat menyerang puluhan sasaran Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) di wilayah Iran, termasuk pusat komando militer, fasilitas rudal dan drone, fasilitas pengawasan dan pertahanan pesisir, serta kemampuan operasi maritim. Serangan ini bertujuan untuk semakin melemahkan ancaman yang ditimbulkan oleh Iran dan para proksinya terhadap pasukan AS, pelayaran komersial, dan negara-negara di sekitar Teluk.

Berdasarkan informasi awal dari sumber terbuka, dilaporkan ada 12 wilayah di Iran yang menjadi sasaran serangan udara:

1. Khorramshahr, Provinsi Khuzestan

2. Abadan, Provinsi Khuzestan

3. Bandar-e Mahshahr, Provinsi Khuzestan

4. Nurabad, Provinsi Fars

5. Bushehr, Provinsi Bushehr

6. Pulau Qeshm, Provinsi Hormozgan

7. Bandar Abbas, Provinsi Hormozgan

8. Sirik, Provinsi Hormozgan (Sirik, Hormozgan)

9. Ahvaz, Provinsi Khuzestan (Ahvaz, Khuzestan)

10. Arvandkenar, Provinsi Khuzestan (Arvandkenar, Khuzestan)

11. Pulau Kish (Kish Island)

12. Shadegan, Provinsi Khuzestan (Shadegan, Khuzestan)

Militer AS menyatakan bahwa sehari sebelumnya, Iran meluncurkan sejumlah rudal balistik dalam upaya melakukan serangan mendadak terhadap pasukan AS yang ditempatkan di Timur Tengah. Semua rudal Iran berhasil dicegat.

Militer AS juga menyatakan bahwa blokade laut terhadap Iran tetap berlaku. Hingga 29 Juli, Komando Pusat telah memerintahkan 20 kapal dagang untuk mengubah rute pelayaran, melumpuhkan 2 kapal, dan melakukan inspeksi di atas 2 kapal.

Kapal dagang dari negara lain terus melintasi Selat Hormuz dengan dukungan Angkatan Bersenjata AS. Sejak awal Mei, pasukan Komando Pusat telah membantu sekitar 1.000 kapal dan 500 juta barel minyak mentah melewati jalur air yang sempit ini.

Dilaporkan dan diterjemahkan oleh Jurnalis Jin Hong / Editor Li Quan

Sungguh Menggetarkan Hati! Banyak Pengangguran di Guangdong, Tiongkok Tidur di Lantai

Pada 29 Juli, seorang pengguna internet merekam pemandangan di Stasiun Kereta Api Changping Timur, Dongguan, di mana banyak pemuda pengangguran tidur di tanah, dan merasa terkejut melihat hal tersebut.

EtIndonesia.com Ekonomi Tiongkok terus mengalami kemerosotan, tingkat pengangguran tetap tinggi, dan banyak orang yang tidak dapat menemukan pekerjaan sehingga terpaksa tidur di jalanan. 

Di media sosial Tiongkok, terdapat banyak video yang menunjukkan bahwa di kota-kota seperti Shenzhen, Guangzhou, dan Dongguan di Provinsi Guangdong, banyak pengangguran yang tidur di tanah di taman, bawah jembatan, dan tepi jalan.

Pada 29 Juli, seorang netizen mengunggah video yang memperlihatkan banyak pemuda pengangguran yang langsung tidur di lantai di dalam Stasiun Kereta Api Changping Timur, Dongguan. Lingkungan di sana kotor dan berantakan, sehingga sangat memprihatinkan.

Video tersebut dengan cepat memicu perbincangan hangat di kalangan netizen. Di kolom komentar, ada netizen yang menulis bahwa di taman di seberang stasiun kereta api, jumlah pengangguran yang mengembara bahkan lebih banyak lagi.

Ada pula netizen yang mengatakan bahwa kondisi di stasiun kereta api ini masih tergolong lebih baik dibandingkan taman terbuka, setidaknya saat hujan mereka bisa berlindung dari hujan.

Sebuah video menunjukkan bahwa di dekat Pasar Tenaga Kerja Sanhe, Distrik Longgang, Shenzhen, banyak pekerja serabutan yang tidur di tepi jalan. Seorang pembuat video mengatakan bahwa mereka bahkan tidak mampu membayar tempat tidur seharga 15 yuan per malam, sehingga terpaksa berbaring sembarangan di tangga.

Tak sedikit netizen yang mengunggah video untuk menceritakan kondisi sulit yang mereka alami saat bekerja di luar kota. Ada yang berkata, “Sudah lima hari di Shenzhen tapi belum juga dapat pekerjaan, sungguh sulit.”

Ada pula yang mengeluh, “Mungkin dua hari ke depan saya juga harus tidur di taman. Sekarang tidak ada pekerjaan. Tidak pernah terbayangkan bahwa kunjungan pertama saya ke Shenzhen akan berakhir seperti ini. Mengapa di usia seperti ini, saya bahkan tidak punya pekerjaan yang layak dan harus tidur di taman? Saya melihat banyak sekali orang yang tidur di bawah jembatan di Shenzhen, mungkin saya juga akan berakhir seperti mereka.”

Seorang blogger wanita yang membeli ponsel bekas mengatakan dalam sebuah video bahwa ia merasa heran ketika ada yang memesan barang di bawah jembatan, lalu melihat seorang pemuda sedang menunggu di sana—ternyata dia adalah orang yang ingin menjual ponsel bekasnya.

Pemuda itu mengatakan bahwa ia bekerja dengan sistem pembayaran harian (dibayar setelah menyelesaikan pekerjaan harian), dan karena benar-benar kehabisan uang, ia memutuskan menjual ponselnya terlebih dahulu untuk mendapatkan uang makan. Dia mengaku, biasanya dia tidur di jalanan di sini, “Tidak ada pilihan lain, saya tidak punya rumah lagi.”

Dia menjelaskan, awalnya ada dua puluh hingga tiga puluh orang yang tidur di sini. Saat cuaca dingin, mereka mengambil selimut dari tempat sampah untuk menutupi diri. Kini mereka diusir oleh petugas pemerintah dan dilarang tidur di sini.

Dia berkata dengan jujur, “Masalah terbesar saat ini adalah tidak punya uang untuk makan. Makan dulu baru pikirkan yang lain, hidup sehari demi sehari.” Seorang blogger wanita akhirnya membeli ponsel bekas pria tersebut seharga 245 yuan.

Seorang mahasiswi lulusan sarjana mengunggah video yang menceritakan bahwa dia datang ke Guangzhou untuk mencari kerja, tetapi tidak menemukan pekerjaan, sehingga terpaksa bekerja di JD Logistics sebagai penyortir paket, “Hari pertama kerja, saya bekerja dari pukul 6 sore hingga pukul 6 pagi keesokan harinya, 12 jam dengan istirahat hanya satu jam. 12 jam itu benar-benar menyiksa; paket-paketnya menumpuk seperti gunung kecil, tangan saya tidak bisa berhenti sejenak pun. Terus-menerus memindai kode QR, dan saat menemui barang yang sangat berat, harus terus-menerus membungkuk. Pekerjaan ini benar-benar melelahkan bagi saya. Setelah hari pertama kerja selesai, saya berkata pada diri sendiri bahwa besok saya tidak akan datang lagi.”

Sebuah video menunjukkan sekelompok pemuda yang tidur di jalanan di sebuah kota di selatan Tiongkok, baik di bawah serambi bangunan maupun di trotoar pinggir jalan. Mereka hanya membentangkan selimut di tanah lalu langsung berbaring, dan ada yang bahkan meletakkan koper di sampingnya.

Pengguna internet yang mengunggah video tersebut mengatakan, “Ini adalah fenomena nyata di mana kaum muda menjadi tunawisma di tengah kelesuan ekonomi Tiongkok yang berkepanjangan pada tahun 2026.”

Laporan komprehensif oleh Reporter Luo Tingting / Editor :  Wen Hui