Kebakaran Hutan di Eropa Terus Berkobar, Tiga Petugas Pemadam Kebakaran Yunani Tewas

Kebakaran hutan di Eropa terus berkecamuk, ribuan orang di Prancis telah dievakuasi, dan pemerintah Spanyol juga mengumumkan status darurat akibat kebakaran hutan. Pada 29 Juli, beredar kabar dari Yunani bahwa tiga petugas pemadam kebakaran Yunani gugur saat memadamkan api di Pulau Kreta dan Semenanjung Peloponnesos.

EtIndonesia.com Menurut laporan Radio BBC pada 30 Juli, Pulau Kreta  yang merupakan destinasi wisata populer, saat ini dilanda kebakaran hutan di beberapa lokasi. Angin kencang memperparah penyebaran api, sehingga memaksa penduduk di beberapa desa untuk dievakuasi. Pada 29 Juli, dua petugas pemadam kebakaran terjebak saat kebakaran hutan melanda wilayah Rethymno di bagian barat pulau tersebut dan sayangnya tewas dalam tugas.

Saksi mata mengatakan, sejumlah kebakaran meletus di Pulau Kreta dan menyebar dengan cepat, dengan garis api terparah mencapai 15 kilometer.

Seorang warga bernama Chrissa Gioukaki mengatakan kepada Reuters, “Anginnya sangat kencang—sampai-sampai kadang-kadang sulit untuk berdiri tegak. Api sangat ganas, sungguh menakutkan.”

Seorang petugas pemadam kebakaran lainnya ditemukan dalam keadaan pingsan di dekat kota pelabuhan Gytheio, di bagian selatan Semenanjung Peloponnese, dan kemudian meninggal dunia setelah upaya penyelamatan tidak membuahkan hasil.

Kebakaran hutan juga melanda wilayah lain di Yunani, termasuk Pulau Paros dan Pulau Lesbos di Laut Aegea, serta kota Trifylia di bagian selatan daratan Yunani.

Di selatan Turkiye, akibat kebakaran di Provinsi Muğla, jalan raya utama yang menghubungkan Fethiye dan Antalya terpaksa ditutup, dan sebagian staf rumah sakit juga dievakuasi.

Sementara itu, Spanyol dan Prancis dilanda gelombang panas keempat musim panas ini, dan petugas pemadam kebakaran berupaya mencegah kebakaran hutan besar yang baru saja berhasil dikendalikan agar tidak berkobar kembali.

Di Spanyol, Perdana Menteri Pedro Sánchez memperingatkan bahwa 12 jam ke depan sangat krusial untuk memadamkan kebakaran hutan di dekat ibu kota Madrid. Ia menyatakan, meskipun saat ini upaya pemadaman berjalan lancar, kewaspadaan tinggi tetap diperlukan karena suhu yang meningkat, kelembaban yang menurun, serta kemungkinan terjadinya hembusan angin kencang.

Di Burgohondo, Provinsi Ávila, yang terletak 150 kilometer di sebelah barat Madrid, lebih dari 43.000 hektar lahan telah hangus. Kebakaran hutan ini dianggap sebagai yang terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah Spanyol. Sejak awal tahun ini, lebih dari 207.000 hektar lahan di Spanyol telah dilalap api.

Wali Kota Chapinería, Lucía Moya, mengatakan kepada stasiun televisi Madrid bahwa kebakaran ini menimbulkan dampak yang sangat parah bagi kotanya, “Banyak warga kehilangan tempat tinggal dan pekerjaan. Memulihkan kehidupan normal akan menjadi tugas yang berat.”

Meskipun kebakaran di pinggiran Madrid dan Castellón di pesisir timur belum menelan korban jiwa, pihak berwenang di kota Sevilla di selatan menyatakan bahwa seorang wanita yang menderita luka bakar parah akibat kebakaran di Los Gallardos, Almería, pada awal Juli ini telah meninggal di rumah sakit akibat luka-lukanya yang terlalu parah.

Kebakaran di Almería telah menewaskan 14 orang, termasuk warga negara Inggris, Belgia, Amerika Serikat, Prancis, dan Spanyol.

Di barat daya Prancis, beberapa kebakaran terbesar di departemen Gironde saat ini masih digambarkan sebagai “stabil” meskipun telah berkali-kali berkobar kembali. Namun, para pejabat memperingatkan bahwa cuaca kering dan berangin akan terus berlanjut, dengan suhu tertinggi mencapai 41 derajat Celcius (106 derajat Fahrenheit).

Kebakaran juga terjadi di wilayah Vila Real, di bagian timur laut Portugal, negara tetangga. Pejabat pertahanan sipil mengatakan kepada stasiun penyiaran publik RTP bahwa saat ini terdapat garis api aktif sepanjang 1 kilometer, dan mereka sedang memantau dengan cermat sebuah instalasi pengolahan air serta gudang gas alam di dekat kota Valpaços.

Berdasarkan data dari Copernicus Climate Change Service, perubahan iklim sedang mendorong kenaikan suhu global, dan Eropa merupakan benua dengan laju pemanasan tercepat, yaitu dua kali lipat dari rata-rata global. Hal ini menyebabkan gelombang panas musim panas yang sering terjadi, tekanan pada pasokan air di Eropa semakin meningkat, serta kebakaran hutan yang semakin dahsyat.

Dilaporkan dan diterjemahkan oleh Jurnalis Jin Hong / Editor Penanggung Jawab: Li Quan

AS Mencegat Seluruh Rudal Iran, Laporan Intelijen: Beijing Akan Memberikan Rudal kepada Iran

EtIndonesia.com Ketegangan antara AS dan Iran kembali meningkat setelah sempat mereda sejenak. Pada 28 Juli 2026, Iran melancarkan serangan mendadak dengan rudal balistik terhadap pasukan AS yang ditempatkan di Timur Tengah, yang memicu perhatian. 

Berikut laporan koresponden NTD di Washington, Zhang Liang.

Komando Pusat Angkatan Bersenjata AS (CENTCOM) baru-baru ini menyatakan bahwa serangan Iran terhadap pasukan AS yang ditempatkan di Yordania merupakan serangan mendadak. Pasukan AS hanya memiliki beberapa menit untuk menembak jatuh rudal-rudal tersebut, namun semua rudal berhasil dicegat oleh pasukan AS. Tidak ada laporan mengenai korban jiwa atau kerusakan fasilitas militer AS, dan ini merupakan sinyal yang jelas bahwa konflik kembali memanas.

Presiden Trump menyatakan, sebagai tanggapan atas serangan Teheran terhadap aset AS, Washington akan “memberi pelajaran keras kepada Iran”.

Selain itu, militer AS dan Arab Saudi bekerja sama melakukan serangan udara pada Selasa 28 Juli 2026  terhadap milisi Irak yang didukung Iran.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa pasukan AS dan angkatan bersenjata Arab Saudi pada hari itu melancarkan serangan presisi di Irak terhadap proksi pro-Iran. Langkah ini sebagai respons atas lebih dari 30 serangan yang dilancarkan Iran terhadap pasukan AS dan fasilitas energi Arab Saudi dalam 72 jam terakhir. Pihak AS menegaskan bahwa serangan Iran terhadap pasukan AS tidak berhasil.

Namun demikian, serangan balasan yang dilancarkan Iran dan kelompok Houthi terhadap dua jalur pelayaran penting di dunia terus meningkat.

Pada Rabu 28 Juli, Iran mengklaim telah menyerang tiga kapal yang melintasi Selat Hormuz. Kelompok Houthi yang didukung Iran juga sering menimbulkan keributan. Beberapa hari yang lalu, mereka mengklaim telah menyerang sebuah kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah menggunakan rudal balistik.

Meskipun demikian, Presiden Trump tetap memberikan ruang negosiasi kepada Iran, namun juga menyatakan bahwa jika negosiasi tidak membuahkan hasil, ia akan melancarkan serangan besar-besaran baru, termasuk menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran.

Mari simak pernyataan Presiden Trump.

Presiden AS Trump: “Saya perkirakan sekitar 91 juta orang akan kehilangan listrik dan jembatan. Keseimbangan di sini sangat rapuh. Jadi, saya rasa kita sekarang berada dalam posisi yang sangat menguntungkan. Mereka tahu saya akan melakukan ini. Jika mereka tidak mencapai kesepakatan, jembatan-jembatan itu akan lenyap, sungguh, dalam waktu kurang dari dua jam. Sebagian besar jembatan, terutama jembatan-jembatan utama, akan lenyap, dan pembangkit listrik juga akan dihancurkan dalam waktu satu hari. Anda tahu, jika saya bisa mencegah hal ini terjadi, tentu saja saya ingin mencegahnya.”

Reporter NTD hang Liang: Sementara itu, Reuters mengutip tiga sumber yang mengatakan bahwa Iran diperkirakan akan menerima 400 unit peluncur rudal pertahanan udara portabel buatan China dalam beberapa minggu ke depan. Transaksi senilai 60 hingga 70 juta dolar AS ini diperkirakan mencakup 300 hingga 400 unit sistem pertahanan udara portabel, termasuk rudal QW-12 dan FN-16 buatan Tiongkok.

Saat ini, informasi tersebut masih menunggu tanggapan resmi.

Senat AS Menggelar Sidang Mengenai Asal Usul Virus COVID-19, Anthony Fauci Menolak Menjawab Lebih dari 100 Pertanyaan

EtIndonesia.com Baru-baru ini, buku harian mantan Penasihat Medis Utama Gedung Putih dan mantan direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases (Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular) di bawah National Institutes of Health (NIH) Anthony Fauci, dipublikasikan. Pihak luar mempertanyakan apakah ia sengaja menyesatkan publik terkait asal-usul virus COVID-19 yang berasal dari laboratorium di Wuhan, demi menjaga reputasi dan kepentingan pribadinya. Pada Rabu, 29 Juli 2026, Fauci menghadiri sidang dengar pendapat Senat, namun ia menolak menjawab pertanyaan apa pun.

 Wartawan NTD Tao Ming dan Li Jiayin melaporkan: “Dalam sidang dengar pendapat Senat hari ini, mantan Penasehat Medis Utama pemerintahan Biden, Anthony Fauci, menolak menjawab pertanyaan mengenai asal-usul virus PKT serta keputusan pemerintah selama pandemi. Ia mengutip Amandemen Kelima Konstitusi AS dan menolak menjawab lebih dari 100 pertanyaan.”

Rand Paul, Ketua Komite Keamanan Dalam Negeri dan Urusan Pemerintahan Senat AS: “Satu juta warga Amerika meninggal akibat virus PKT. Diperkirakan, jumlah korban tewas akibat virus PKT di seluruh dunia mencapai 15 juta orang. Anthony Fauci secara terbuka mengemukakan teori bahwa virus tersebut muncul secara alami. Namun, secara pribadi, ia tahu betul bahwa banyak bukti menunjukkan virus tersebut berasal dari laboratorium. Rakyat Amerika berhak mendapatkan jawaban.”

Dalam buku hariannya pada awal pandemi, Fauci menulis, “Sekarang kita tahu, pasar bukanlah sumber virus, melainkan titik penyebaran.”

Paul mempertanyakan apakah Fauci menyembunyikan asal-usul virus karena ia pernah menyetujui pendanaan untuk penelitian mutasi virus.

Paul: “Saya berharap Dr. Fauci hari ini dapat mengakui bahwa mendanai penelitian berbahaya Partai Komunis Tiongkok adalah sebuah kesalahan, mengakui bahwa risiko penelitian berbahaya ini jauh melebihi manfaat yang mungkin diperoleh, meminta maaf, dan berjanji untuk membantu pemerintah merumuskan langkah-langkah pengamanan guna memastikan wabah yang disebabkan oleh manusia tidak terulang lagi.”

Anggota Partai Demokrat justru bersikeras dalam sidang dengar pendapat tersebut bahwa sidang ini bertujuan menjebak Fauci. Sementara itu, tanggapan Fauci pun sangat sederhana. Menurut statistik NBC, Fauci menolak menjawab pertanyaan sebanyak 106 kali.

Senator AS Josh Hawley: “Tidak ada yang lebih mencerminkan kejujuran daripada menolak menjawab. Mari kita coba. Hari ini hari apa?”

Fauci: “Berdasarkan saran pengacara, saya dengan hormat menggunakan hak yang diberikan kepada saya oleh Amandemen Kelima Konstitusi untuk menolak menjawab.”

Josh Hawley: “Apa warna dasi yang Anda kenakan?”

Fauci: “Berdasarkan saran pengacara saya, dengan ini saya menggunakan hak yang diberikan kepada saya oleh Amandemen Kelima Konstitusi untuk menolak menjawab.”

Josh Hawley: “Apa warna karpet di depan Anda?”

Fauci: “Berdasarkan saran pengacara saya, dengan ini saya menggunakan hak yang diberikan kepada saya oleh Amandemen Kelima Konstitusi untuk menolak menjawab.”

Josh Hawley: “Mari kita perjelas satu hal: Anda tidak memiliki hak apa pun yang diberikan oleh Amandemen Kelima, karena Anda telah diampuni, dan Anda sangat menyadari hal ini. Namun, saya rasa saya tahu alasan Anda melakukan ini. Karena Anda tidak ingin menjawab pertanyaan. Karena Anda telah melakukan berbagai hal yang mengerikan. Karena Anda menjadi kaya raya selama pandemi? Tidak hanya itu, Anda juga memanfaatkan pegawai federal, menggunakan uang pembayar pajak untuk mengajukan dan menuntut insentif tunai bagi diri Anda sendiri. Jumlah total insentif tunai tersebut melebihi 1 juta dolar AS. Semua ini terjadi selama pandemi, bukan? Ini adalah masalah.”

Fauci: “Berdasarkan saran pengacara, dengan ini saya menggunakan hak yang diberikan kepada saya oleh Amandemen Kelima Konstitusi untuk menolak menjawab.”

Tindakan Fauci berpotensi dikenai tuduhan “penghinaan terhadap Kongres”.

Ketua Komite Pengawasan DPR AS, James Comer, mengeluarkan pernyataan bahwa Fauci jelas mengetahui bahwa perintah pengampunan otomatisnya tidak memiliki dasar hukum yang kuat, namun hari ini ia memilih untuk melindungi diri sendiri daripada menyampaikan kebenaran kepada rakyat AS.

Presiden Trump juga mengeluarkan pernyataan yang mengkritik Fauci karena dengan tegas menyangkal bahwa virus berasal dari laboratorium, dan terus berusaha melindungi kepentingan Partai Komunis Tiongkok.

Laporan dari Gedung Putih AS oleh reporter New Tang Dynasty Television, Tao Ming dan Li Jiayin

Gempa Susulan Setelah Gempa Magnitudo 7,1 di Kumamoto, Jepang Terus Berlanjut, Jumlah Korban Tewas Terus Meningkat

EtIndonesia.com Setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,1 melanda Prefektur Kumamoto di Kyushu, Jepang, hingga saat ini setidaknya 14 orang dilaporkan tewas. Polisi, pemadam kebakaran, dan Pasukan Bela Diri Jepang sedang mempercepat operasi pencarian dan penyelamatan. Simak laporannya.

Setelah gempa besar tersebut, aktivitas geologis di wilayah Kumamoto masih terus berlangsung dengan intensitas tinggi. 

Tercatat 168 gempa susulan dengan intensitas 1 atau lebih, di mana 47 di antaranya mencapai intensitas 3 atau lebih. Gempa berkekuatan magnitudo 5,8  terjadi di wilayah Amakusa dan Rokuho, Prefektur Kumamoto, dan penduduk merasakan guncangan yang cukup kuat.

Saat ini, Prefektur Kumamoto telah mendirikan 465 pusat pengungsian, dengan jumlah pengungsi mendekati 10.000 orang, dan tim penyelamat sedang berupaya sekuat tenaga untuk melakukan pencarian dan penyelamatan. Badan Meteorologi Jepang telah secara resmi menamai gempa ini sebagai “Gempa Kumamoto Tahun Reiwa ke-8”.

“Saat itu saya sedang bekerja dan duduk di dalam mobil, tiba-tiba gempa menjadi sangat hebat. Tiang listrik dan bangunan-bangunan roboh, saya merasa sangat berbahaya, situasinya sangat buruk. Saya segera bergegas pulang, dan sejak itu terus membantu membersihkan lokasi kejadian,” ujar Masahiro Miyamoto, seorang relawan kebersihan Jepang. 

Setelah terjadinya ledakan di pusat perbelanjaan besar “Aeon Mall Kumamoto”, bangunan tersebut mengalami kerusakan parah. Tumpukan puing-puing menutupi pintu masuk sisi selatan pusat perbelanjaan tersebut; tim penyelamat kemudian mengerahkan alat berat untuk melakukan pencarian dan penyelamatan. Saat ini, 10 orang telah berhasil diselamatkan, 4 orang meninggal dunia, dan masih banyak yang belum ditemukan.

Sementara itu, di Pabrik Nippon Paper Yatsushiro di Kota Yatsushiro, di mana cerobong asapnya patah, 5 orang tewas, banyak yang terluka, dan 4 orang lainnya masih hilang.

Karena cuaca panas ekstrem yang terus melanda berbagai wilayah di Prefektur Kumamoto, puluhan ribu rumah tangga menghadapi pemadaman air dan listrik. Pasukan Bela Diri Jepang telah mulai mendistribusikan air minum dan peralatan pendingin udara di lokasi tersebut sejak sore hari.

Gempa bumi tidak hanya menyebabkan runtuhnya sebagian tembok batu Kastil Kumamoto, tetapi juga menyebabkan penangguhan sementara operasional sebagian rute Kereta Shinkansen Kyushu akibat kerusakan fasilitas. Beberapa ruas jalan tol ditutup, dan sejumlah penerbangan terpaksa dibatalkan. Pihak berwenang sedang mempercepat proses perbaikan.

Sebagai pusat produksi semikonduktor di Jepang, Prefektur Kumamoto mengalami penghentian sementara produksi di sejumlah perusahaan raksasa semikonduktor, termasuk Sony dan pabrik TSMC di Kumamoto, setelah gempa kuat tersebut. 

Industri ini khawatir bahwa jika penghentian produksi berlanjut, hal itu dapat mengganggu rantai pasokan global untuk industri otomotif, ponsel pintar, dan kecerdasan buatan (AI). 

Saat ini, evakuasi darurat di berbagai pabrik telah selesai, tidak ada laporan korban jiwa atau cedera di kalangan karyawan, dan perusahaan-perusahaan besar sedang memeriksa kerusakan pada pabrik dan peralatan produksi dengan segenap upaya.

Badan Meteorologi Jepang memperingatkan warga bahwa dalam seminggu ke depan sangat mungkin terjadi gempa susulan kuat dengan magnitudo 7, dengan risiko tertinggi dalam 2 hingga 3 hari ke depan.

Laporan komprehensif oleh reporter New Tang Dynasty Television, Lin Xi

Gempar! Serangan Gabungan AS-Arab Saudi Dimulai, Jalur Minyak Dunia Terancam Lumpuh

EtIndonesia.com – Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memasuki babak baru. Untuk pertama kalinya sejak meningkatnya konfrontasi antara Amerika Serikat dan Iran beserta jaringan kelompok proksinya, militer Amerika Serikat dan Arab Saudi melaksanakan operasi tempur gabungan dengan melancarkan serangan udara terhadap sejumlah target di Irak. 

Operasi tersebut menandai perubahan penting dalam dinamika keamanan kawasan, karena Arab Saudi yang selama ini lebih banyak mengambil posisi defensif kini secara terbuka bergabung dalam operasi militer bersama Washington.

Keputusan tersebut diambil setelah situasi keamanan di kawasan Teluk memburuk secara drastis dalam beberapa hari terakhir. Menurut berbagai laporan militer, dalam kurun 72 jam sebelum operasi berlangsung, kelompok-kelompok milisi di Irak yang didukung Iran melancarkan lebih dari 30 serangan menggunakan pesawat nirawak (drone) ke arah wilayah Arab Saudi.

Serangan-serangan tersebut sebagian besar diarahkan ke fasilitas keamanan serta sejumlah titik strategis di dekat wilayah perbatasan. Meski sebagian besar drone berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Saudi, intensitas serangan yang terus meningkat dipandang sebagai ancaman serius terhadap stabilitas kawasan.

Selama bertahun-tahun, kelompok-kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Iran memang beberapa kali melancarkan serangan terhadap kepentingan Amerika Serikat maupun negara-negara Teluk. Namun kali ini, serangan yang dilakukan secara beruntun terhadap Arab Saudi dianggap telah melampaui batas toleransi.

Pemerintah Arab Saudi kemudian memutuskan untuk tidak hanya mengandalkan sistem pertahanan udara, tetapi juga mengambil langkah ofensif bersama Amerika Serikat guna menghancurkan sumber ancaman sebelum serangan berikutnya terjadi.

Operasi gabungan tersebut dilaksanakan pada 29 Juli 2026. Pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat dan Angkatan Udara Kerajaan Arab Saudi menyerang sejumlah lokasi yang diyakini menjadi markas, gudang senjata, pusat komando, serta fasilitas logistik milik Pasukan Mobilisasi Rakyat Irak (Popular Mobilization Forces/PMF), organisasi yang menaungi berbagai kelompok milisi Syiah di Irak. Beberapa faksi dalam PMF diketahui memiliki hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC).

Menurut informasi awal yang beredar, tujuh lokasi menjadi sasaran serangan udara. Ledakan besar dilaporkan terjadi hampir bersamaan di berbagai wilayah yang menjadi basis kelompok tersebut.

Laporan dari sejumlah sumber keamanan menyebutkan bahwa sedikitnya 20 anggota milisi PMF tewas dalam operasi tersebut. Selain korban jiwa, sejumlah kendaraan militer, gudang amunisi, serta fasilitas komunikasi juga dilaporkan mengalami kerusakan berat.

Hingga saat ini, pemerintah Irak belum merilis angka resmi mengenai jumlah korban maupun tingkat kerusakan akibat operasi udara tersebut.

Para analis menilai bahwa tindakan Iran menggunakan kelompok-kelompok proksi di Irak merupakan bagian dari strategi untuk meningkatkan tekanan terhadap Amerika Serikat dan sekutunya tanpa harus terlibat dalam konfrontasi militer secara langsung.

Dengan memanfaatkan kelompok-kelompok bersenjata lokal, Iran dinilai mampu menciptakan tekanan keamanan secara berkelanjutan sambil mengurangi risiko terjadinya perang terbuka yang dapat menyeret kawasan ke dalam konflik yang lebih luas.

Namun, strategi tersebut kini mulai memicu reaksi yang semakin keras dari negara-negara Teluk.

Selain memanfaatkan kelompok milisi di Irak, Iran juga disebut terus meningkatkan aktivitas kelompok Houthi di Yaman.

Kelompok bersenjata yang menguasai sebagian besar wilayah Yaman utara tersebut dalam beberapa bulan terakhir kembali meningkatkan serangan drone dan rudal terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia.

Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur perdagangan paling vital di dunia. Sebagian besar pengiriman energi dari Timur Tengah menuju Eropa harus melewati jalur tersebut sebelum memasuki Terusan Suez.

Gangguan terhadap jalur pelayaran ini berpotensi mengganggu rantai pasok global serta mendorong kenaikan harga energi internasional.

Menurut laporan Reuters, kelompok Houthi bahkan sedang mempertimbangkan sebuah kebijakan kontroversial berupa pengenaan biaya transit terhadap setiap kapal dagang yang melintasi Selat Bab el-Mandeb.

Rencana tersebut disebut akan diberlakukan kepada sebagian besar kapal asing yang melewati kawasan itu.

Namun, berdasarkan informasi yang diperoleh dari sejumlah sumber diplomatik, kapal-kapal milik perusahaan pelayaran asal Tiongkok kemungkinan akan dibebaskan dari pungutan tersebut.

Apabila kebijakan itu benar-benar diterapkan, banyak pengamat menilai langkah tersebut akan memiliki implikasi geopolitik yang sangat besar.

Selain berpotensi melanggar prinsip kebebasan pelayaran internasional, kebijakan tersebut juga dipandang dapat memperlihatkan adanya perlakuan berbeda terhadap negara-negara tertentu.

Sejumlah analis bahkan menilai strategi tersebut merupakan bagian dari upaya Iran memperluas pengaruhnya terhadap dua jalur pelayaran paling strategis di dunia, yakni Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.

Selat Hormuz selama ini menjadi jalur utama ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia, sedangkan Bab el-Mandeb menjadi pintu masuk menuju Laut Merah dan Terusan Suez.

Apabila kedua jalur tersebut dapat dipengaruhi secara bersamaan oleh kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Iran, dampaknya terhadap perdagangan internasional diperkirakan akan sangat besar.

Skenario seperti itu diyakini hampir pasti akan memicu respons keras dari Amerika Serikat, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, maupun negara-negara Teluk lainnya yang sangat bergantung pada keamanan jalur laut tersebut.

Di tengah meningkatnya ancaman terhadap pelayaran internasional, dua sumber yang mengetahui perkembangan diplomatik kawasan mengungkapkan bahwa Arab Saudi kini sedang mengintensifkan upaya membentuk koalisi internasional untuk melindungi kapal-kapal dagang dari serangan kelompok Houthi.

Koalisi tersebut diperkirakan akan melibatkan sejumlah negara yang memiliki kepentingan langsung terhadap keamanan jalur perdagangan global, termasuk negara-negara Barat dan mitra-mitra regional di Timur Tengah.

Sementara itu, perkembangan penting juga terjadi di Yaman.

Pada 29 Juli 2026, pasukan pemerintah Yaman memperkenalkan sebuah drone tempur baru yang diklaim akan memperkuat kemampuan mereka dalam menghadapi kelompok Houthi.

Menurut sejumlah pengamat militer, desain pesawat nirawak tersebut memiliki kemiripan dengan drone Lucas buatan Amerika Serikat.

Drone Lucas dikenal sebagai sistem nirawak yang dirancang untuk membantu menghadapi ancaman drone bunuh diri, termasuk varian Shahed yang selama ini banyak digunakan oleh Iran maupun kelompok-kelompok proksinya.

Kemunculan drone baru itu dipandang sebagai indikasi bahwa pemerintah Yaman tengah mempersiapkan operasi militer yang lebih besar guna merebut kembali wilayah-wilayah yang masih dikuasai Houthi.

Di saat bersamaan, ketegangan kembali meluas ke kawasan Afrika Utara.

Pada sore 29 Juli 2026, Iran kembali diduga menginstruksikan salah satu kelompok sekutunya untuk melancarkan serangan drone terhadap sebuah fasilitas penyimpanan terapung gas alam cair (Floating LNG Storage Facility/FSRU) yang dioperasikan perusahaan Amerika Serikat di Pelabuhan Damietta, Mesir.

Serangan tersebut dilaporkan memicu kebakaran di area fasilitas terapung, sementara aparat keamanan Mesir segera melakukan langkah-langkah darurat untuk mengendalikan situasi dan mengamankan kawasan pelabuhan.

Sejumlah analis menilai bahwa apabila keterlibatan Iran benar-benar dapat dibuktikan, serangan tersebut menunjukkan upaya Teheran untuk memperluas tekanan terhadap kepentingan energi Amerika Serikat sekaligus meningkatkan tekanan politik terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump.

Rangkaian peristiwa dalam beberapa hari terakhir memperlihatkan bahwa konflik di Timur Tengah tidak lagi terbatas pada konfrontasi antara Amerika Serikat dan Iran, tetapi telah berkembang menjadi persaingan yang melibatkan berbagai negara, kelompok milisi, jalur pelayaran internasional, serta infrastruktur energi strategis. Dengan semakin banyaknya aktor yang terlibat dan meluasnya wilayah operasi, para pengamat memperingatkan bahwa setiap insiden baru berpotensi memicu eskalasi yang jauh lebih besar apabila tidak diimbangi dengan langkah-langkah diplomatik yang efektif. (***)

Iran Resmi Menyerang? Sumber Teheran Sebut Ini Serangan Pendahuluan terhadap Rencana Trump

EtIndonesia.com – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran melancarkan serangan rudal balistik secara mendadak terhadap sebuah pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah Yordania pada Rabu, 29 Juli 2026. 

Serangan ini dinilai sebagai salah satu eskalasi paling serius dalam beberapa waktu terakhir karena sasarannya bukan sekadar fasilitas pendukung, melainkan langsung mengarah ke infrastruktur utama yang digunakan militer Amerika Serikat untuk mengoperasikan kekuatan udaranya di kawasan.

Berdasarkan berbagai laporan yang beredar, Iran menembakkan empat rudal balistik yang seluruhnya diarahkan ke area hanggar pesawat di Pangkalan Udara Al-Salti, sebuah pangkalan strategis yang selama ini digunakan oleh militer Amerika Serikat bersama sekutunya dalam mendukung berbagai operasi di Timur Tengah.

Berbeda dengan sejumlah serangan sebelumnya yang lebih bersifat simbolis atau diarahkan ke wilayah terbuka, kali ini sasaran Iran dinilai jauh lebih spesifik. Target utama serangan adalah hanggar yang menjadi tempat penyimpanan dan perlindungan pesawat-pesawat militer Amerika Serikat. 

Jika rudal-rudal tersebut berhasil menembus pertahanan udara, kerusakan yang ditimbulkan diperkirakan tidak hanya mencakup kehancuran fasilitas militer, tetapi juga berpotensi mengurangi kemampuan operasional Amerika di kawasan.

Militer Amerika Hanya Memiliki Waktu Sangat Singkat

Menurut informasi yang diperoleh dari sejumlah sumber keamanan, serangan tersebut berlangsung secara tiba-tiba dan tidak didahului indikasi yang cukup kuat bahwa Iran akan melakukan peluncuran rudal dalam waktu dekat.

Kondisi ini menyebabkan pasukan Amerika Serikat yang bertugas di pangkalan hanya memiliki waktu beberapa menit untuk merespons ancaman yang datang.

Begitu sistem peringatan dini mendeteksi peluncuran rudal, personel militer segera mengaktifkan sistem pertahanan udara dan melakukan prosedur darurat guna melindungi personel maupun aset-aset penting di pangkalan.

Dalam hitungan menit, sistem pertahanan udara Amerika mulai bekerja untuk mencegat rudal-rudal yang melaju menuju sasaran. Kecepatan respons tersebut dinilai menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan dalam mencegah kerusakan yang jauh lebih besar.

Insiden ini kembali memperlihatkan betapa singkatnya waktu yang tersedia ketika menghadapi ancaman rudal balistik, terutama di kawasan Timur Tengah yang memiliki jarak antarpeluncuran relatif dekat sehingga memberikan waktu reaksi yang sangat terbatas bagi pihak yang diserang.

Al-Salti Pernah Menjadi Sasaran Serangan Mematikan

Pangkalan Udara Al-Salti bukanlah lokasi yang baru pertama kali menjadi target serangan.

Pangkalan yang sama sebelumnya pernah diserang dalam sebuah operasi yang mengakibatkan empat personel militer Amerika Serikat dilaporkan tewas. Serangan terdahulu tersebut menjadi salah satu insiden paling mematikan bagi pasukan Amerika di kawasan dalam beberapa tahun terakhir dan memicu peningkatan pengamanan di berbagai instalasi militer Amerika di Timur Tengah.

Karena memiliki sejarah keberhasilan dalam menimbulkan korban di lokasi tersebut, sejumlah analis menilai Iran kemungkinan kembali memilih pangkalan yang sama dengan harapan memperoleh hasil serupa.

Selain memiliki nilai strategis yang tinggi, pangkalan ini juga menjadi simbol kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan. Oleh sebab itu, serangan terhadap Al-Salti diyakini memiliki dampak militer sekaligus psikologis.

Diduga Bertujuan Meningkatkan Tekanan Politik terhadap Washington

Sejumlah pengamat keamanan internasional menilai bahwa sasaran utama operasi ini bukan hanya kerusakan fisik terhadap fasilitas militer, melainkan juga menciptakan tekanan politik di dalam negeri Amerika Serikat.

Apabila serangan tersebut berhasil menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar, pemerintah Amerika diperkirakan akan menghadapi tekanan yang semakin kuat dari publik maupun kalangan politik untuk mengevaluasi keberadaan pasukan Amerika di Timur Tengah.

Dalam beberapa konflik sebelumnya, jatuhnya korban di pihak militer Amerika sering kali memicu perdebatan mengenai biaya, risiko, dan efektivitas kehadiran militer di kawasan yang terus dilanda konflik.

Karena itu, sejumlah analis berpendapat bahwa Iran kemungkinan berharap serangan tersebut dapat memperbesar tekanan terhadap Presiden Donald Trump, sehingga mendorong perubahan kebijakan atau bahkan mempercepat penarikan sebagian pasukan Amerika dari wilayah Timur Tengah.

Strategi seperti ini bukan hal baru dalam konflik kawasan, di mana serangan terhadap instalasi militer sering kali tidak hanya bertujuan memperoleh keuntungan taktis, tetapi juga memengaruhi pengambilan keputusan politik lawan.

Iran Tidak Mengakui Keterlibatan Secara Resmi

Hingga beberapa waktu setelah serangan berlangsung, pemerintah Iran tidak mengeluarkan pernyataan resmi yang secara terbuka mengakui bahwa operasi tersebut dilaksanakan atas instruksi langsung pemerintah di Teheran.

Sikap ini dinilai sejalan dengan pola yang selama ini sering digunakan Iran dalam berbagai konflik regional, yakni menghindari pengakuan langsung terhadap operasi militer tertentu untuk mengurangi risiko eskalasi diplomatik maupun militer.

Namun demikian, sejumlah sumber yang dikutip berbagai media menyebutkan bahwa terdapat pernyataan dari seorang sumber di Iran yang memberikan gambaran mengenai alasan di balik serangan tersebut.

Disebut Sebagai Serangan Pendahuluan

Menurut sumber tersebut, peluncuran rudal ke Pangkalan Udara Al-Salti dipandang sebagai serangan pendahuluan (pre-emptive strike) terhadap rencana operasi militer gabungan yang diyakini sedang dipersiapkan oleh Amerika Serikat dan Israel.

Sumber itu mengklaim bahwa Presiden Donald Trump bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tengah menyusun langkah militer yang lebih luas terhadap Iran.

Atas dasar penilaian tersebut, Iran disebut memilih mengambil inisiatif dengan melancarkan serangan lebih dahulu daripada menunggu operasi militer gabungan tersebut dimulai.

Dalam pandangan sumber tersebut, konflik berskala lebih besar dianggap hampir tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, melakukan serangan lebih awal dinilai sebagai upaya untuk mengganggu persiapan lawan sekaligus menunjukkan bahwa Iran masih memiliki kemampuan menyerang target-target strategis Amerika di kawasan.

Situasi Kawasan Masih Sangat Rentan

Serangan rudal terhadap Pangkalan Udara Al-Salti menambah panjang daftar insiden militer yang terjadi di Timur Tengah sepanjang Juli 2026. Dalam beberapa pekan terakhir, kawasan ini terus diwarnai peningkatan aktivitas militer, mulai dari pengerahan tambahan sistem pertahanan udara, patroli intensif pasukan Amerika Serikat, hingga meningkatnya kesiagaan militer Israel.

Para pengamat menilai bahwa setiap serangan baru akan semakin meningkatkan risiko salah perhitungan yang dapat memicu konflik berskala lebih luas. Meskipun hingga kini belum ada tanda-tanda dimulainya perang terbuka antara Amerika Serikat dan Iran, rangkaian aksi saling mengirim sinyal militer menunjukkan bahwa situasi keamanan regional masih berada pada tingkat yang sangat rapuh.

Dengan kedua belah pihak terus meningkatkan kesiagaan dan mempertahankan posisi masing-masing, perkembangan beberapa hari ke depan diperkirakan akan menjadi penentu apakah ketegangan ini dapat diredakan melalui jalur diplomasi atau justru berkembang menjadi konfrontasi militer yang lebih besar di Timur Tengah. (***)

Dunia Siaga! Netanyahu Bongkar Rencana Rahasia Trump, Operasi Militer Terbesar ke Iran Disebut Segera Dimulai!’

EtIndonesia.com – Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali memasuki fase yang semakin krusial. Seorang pejabat senior Israel pada Rabu, 29 Juli 2026, mengungkapkan sejumlah informasi penting mengenai hasil pembicaraan tertutup antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pernyataan tersebut memunculkan spekulasi baru bahwa Washington kini tengah berada di titik penentuan terkait langkah selanjutnya terhadap Republik Islam Iran.

Menurut pejabat tersebut, Presiden Donald Trump saat ini sedang mempertimbangkan tiga opsi utama sebagai strategi menghadapi Iran. Pilihan pertama adalah berupaya mencapai kesepakatan baru mengenai program nuklir Iran melalui jalur diplomasi. Pilihan kedua ialah mempertahankan sekaligus memperketat tekanan ekonomi dan rezim sanksi yang selama ini diterapkan terhadap Teheran. Sementara pilihan ketiga adalah kembali menggunakan kekuatan militer melalui operasi berskala besar apabila seluruh jalur diplomatik dinilai gagal menghentikan ambisi nuklir Iran.

Pejabat Israel itu menegaskan bahwa keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan Presiden Trump. Menurutnya, hasil pembahasan bersama Netanyahu menunjukkan bahwa seluruh opsi masih berada di atas meja dan belum ada keputusan final yang diumumkan kepada publik.

Tidak lama setelah pertemuan kedua pemimpin tersebut berakhir, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) juga menyampaikan perkembangan terbaru mengenai situasi keamanan di kawasan Timur Tengah. Pernyataan tersebut semakin memperkuat kesan bahwa Washington tengah meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi dalam waktu dekat.

Dalam kesempatan yang sama, pejabat senior Israel tersebut juga mengungkap sejumlah penilaian intelijen terbaru mengenai kondisi internal Iran. Salah satu pernyataan yang paling menyita perhatian adalah mengenai Mojtaba Khamenei, putra Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Menurut pejabat itu, Mojtaba Khamenei dipastikan masih hidup. Namun hingga saat ini, tidak ada pihak yang diketahui pernah melihat keberadaannya secara langsung. Kondisi tersebut kembali memunculkan berbagai spekulasi mengenai tingkat kerahasiaan yang diterapkan pemerintah Iran terhadap tokoh yang selama ini disebut-sebut memiliki pengaruh besar di lingkaran kekuasaan Teheran.

Pejabat tersebut juga mengklaim bahwa operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel dalam beberapa waktu terakhir telah memberikan pukulan besar terhadap kemampuan strategis Iran. Menurut penilaian intelijen Israel, sebagian besar kapasitas produksi strategis Iran telah berhasil dihancurkan melalui serangkaian operasi militer dan operasi rahasia.

Ia bahkan menyebutkan bahwa saat ini Iran diperkirakan hanya memiliki sekitar 1.500 rudal yang masih tersisa sebagai bagian dari persediaan strategisnya. Meskipun angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, klaim tersebut menunjukkan keyakinan Israel bahwa kemampuan militer Iran telah mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan sebelum konflik meningkat.

Selain itu, hasil evaluasi intelijen terbaru juga menyimpulkan bahwa aktivitas pengayaan uranium Iran kemungkinan besar tidak dilakukan di kawasan pegunungan sebagaimana yang selama ini banyak diperkirakan oleh berbagai analis internasional. Jika penilaian tersebut benar, maka asumsi mengenai lokasi fasilitas nuklir Iran selama bertahun-tahun kemungkinan perlu ditinjau kembali.

Pejabat Israel tersebut juga menyinggung operasi yang menewaskan 29 ilmuwan nuklir Iran. Menurutnya, operasi tersebut merupakan salah satu target strategis yang sejak lama didorong oleh pemerintah Israel sebagai bagian dari upaya memperlambat perkembangan program nuklir Iran.

Lebih jauh lagi, Israel mengklaim telah memperoleh informasi intelijen yang sangat dapat dipercaya mengenai lokasi penyimpanan material nuklir Iran. Informasi tersebut disebut menjadi salah satu faktor penting dalam penyusunan berbagai opsi strategis yang kini sedang dipertimbangkan bersama Amerika Serikat.

Namun, pernyataan yang paling mengejutkan muncul ketika pejabat tersebut berbicara kepada Channel 15 Israel. Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat saat ini sedang mempersiapkan sebuah operasi militer terhadap Iran dengan skala yang jauh lebih besar dibandingkan operasi-operasi sebelumnya.

Menurutnya, apabila operasi tersebut benar-benar dilaksanakan, maka dunia akan menyaksikan sebuah tindakan militer yang belum pernah terjadi sebelumnya. Operasi itu disebut akan melampaui seluruh operasi yang pernah dilakukan terhadap Iran selama ini, baik dari sisi cakupan sasaran, kekuatan tempur yang digunakan, maupun tujuan strategisnya.

Pernyataan tersebut memunculkan kesan bahwa Washington tidak lagi hanya mempertimbangkan serangan terbatas sebagai bentuk pembalasan atas tindakan Iran, melainkan sedang mempersiapkan kemungkinan operasi militer yang lebih luas dan terkoordinasi.

Kalangan pertahanan Israel juga menilai bahwa Amerika Serikat kini semakin mendekati keputusan untuk melancarkan operasi balasan besar terhadap Iran. Mereka melihat adanya perubahan nada dalam berbagai pernyataan publik yang disampaikan oleh Perdana Menteri Netanyahu setelah bertemu Presiden Trump.

Menurut para pejabat pertahanan Israel, pertemuan antara kedua pemimpin itu diduga telah menjadi momentum penting untuk mulai menyusun kerangka kerja sama apabila nantinya diputuskan adanya operasi militer baru terhadap Iran. (***)

Kapal Gas Diserang Drone di Mesir, Trump Sebut Iran Akan Dihajar Sangat Keras

EtIndonesia.com — Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kembali mengalami eskalasi setelah terjadi serangan terhadap fasilitas energi di Mesir yang diikuti meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. 

Dalam waktu hampir bersamaan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada Teheran, sementara berbagai perkembangan di Irak menunjukkan bahwa konflik berpotensi meluas ke kawasan yang lebih besar.

Perkembangan tersebut semakin memperkuat kekhawatiran bahwa jalur pelayaran dan infrastruktur energi strategis di kawasan Timur Tengah kini menjadi sasaran baru di tengah meningkatnya konfrontasi antara Amerika Serikat, Iran, dan kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Teheran.

Kapal LNG Terbakar di Pelabuhan Damietta

Pada 29 Juli 2026, Kementerian Perminyakan dan Sumber Daya Mineral Mesir mengonfirmasi terjadinya kebakaran yang melibatkan sebuah kapal pengangkut gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) dan sebuah kapal penyimpanan terapung di Pelabuhan Damietta, Mesir, yang berada di pesisir Laut Mediterania.

Dalam pernyataan resminya, pemerintah Mesir menjelaskan bahwa insiden tersebut langsung mendapat penanganan dari otoritas pelabuhan dan tim pemadam kebakaran guna mencegah kobaran api meluas ke fasilitas lainnya.

Sementara itu, perusahaan keamanan maritim asal Inggris Ambrey mengungkapkan bahwa insiden tersebut diduga merupakan akibat dari serangan pesawat nirawak atau drone.

Menurut Ambrey, kapal LNG yang menjadi sasaran merupakan kapal milik perusahaan Yunani yang beroperasi menggunakan bendera Bermuda. Kapal tersebut sedang bersandar berdampingan dengan sebuah kapal penyimpanan terapung LNG yang dioperasikan perusahaan Amerika Serikat dan berbendera Kepulauan Marshall ketika serangan terjadi.

Drone tersebut menghantam sedikitnya satu dari kedua kapal dan memicu kebakaran yang kemudian menyebar.

Tiga sumber perdagangan internasional yang mengetahui langsung insiden tersebut mengatakan bahwa sasaran pertama adalah kapal penyimpanan terapung Energos Winter.

Benturan drone memicu ledakan dan kebakaran di atas kapal tersebut sebelum api akhirnya menjalar ke kapal LNG GasLog Salem yang berada tidak jauh dari lokasi.

Akibat kejadian tersebut, aktivitas pelabuhan sempat terganggu dan aparat keamanan segera melakukan pengamanan di sekitar kawasan dermaga.

Kapal Dipindahkan, Operasional Pelabuhan Dipulihkan

Perusahaan layanan pelayaran Inchcape Shipping Services melaporkan bahwa kapal yang mengalami ledakan telah dipindahkan ke lokasi yang lebih aman dan jauh dari pusat aktivitas pelabuhan.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko ledakan lanjutan maupun kebakaran susulan.

Pihak otoritas Mesir juga menyatakan bahwa operasional Pelabuhan Damietta akan dipulihkan secara bertahap melalui terminal dan dermaga lain sehingga distribusi logistik internasional tidak mengalami gangguan berkepanjangan.

Meskipun demikian, insiden tersebut langsung menarik perhatian dunia karena Pelabuhan Damietta merupakan salah satu pusat ekspor LNG terpenting Mesir sekaligus simpul strategis yang menghubungkan jalur perdagangan Laut Mediterania dengan Laut Merah.

Sejumlah analis keamanan menilai bahwa serangan terhadap fasilitas energi seperti ini dapat memberikan dampak yang jauh lebih luas dibandingkan kerusakan fisik semata.

Selain meningkatkan risiko terhadap pasokan energi global, serangan juga menunjukkan bahwa infrastruktur ekonomi kini menjadi sasaran dalam meningkatnya konflik regional.

Trump Ancam Iran dengan Respons Militer

Masih pada 29 Juli 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan tanggapan keras ketika berbicara kepada wartawan mengenai insiden di Mesir.

Trump mengatakan bahwa pemerintah Amerika telah mengetahui perkembangan tersebut dan menyampaikan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi yang berat apabila terbukti bertanggung jawab.

Menurut Trump, kini saatnya Amerika Serikat mengambil tindakan tegas.

Ia mengingatkan bahwa sebelumnya Iran pernah meminta agar Amerika tidak melakukan serangan terhadap wilayahnya, namun situasi saat ini telah berubah setelah pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania menjadi sasaran rudal balistik.

Trump menegaskan bahwa Iran akan menerima balasan yang sangat keras.

Meski demikian, ia juga menyatakan bahwa peluang diplomasi belum sepenuhnya tertutup.

Pemerintah Amerika, menurut Trump, masih akan melihat apakah pembicaraan dengan Iran dapat menghasilkan kesepakatan baru.

Selain itu, Trump juga berharap Kongres Amerika Serikat memasukkan sanksi tambahan terhadap Iran ke dalam rancangan undang-undang sanksi yang sebelumnya disusun untuk Rusia.

Seluruh Rudal Iran Berhasil Dicegat

Sebelumnya, pada pagi 29 Juli 2026, Trump juga memberikan wawancara kepada Fox News mengenai serangan rudal Iran terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania yang terjadi pada malam sebelumnya.

Ia menjelaskan bahwa pasukan Amerika hanya memiliki waktu beberapa menit untuk menghadapi serangan mendadak tersebut.

Meski demikian, seluruh rudal balistik yang ditembakkan Iran berhasil dicegat sebelum mencapai sasaran.

Trump mengatakan dirinya telah menyaksikan rekaman operasi pertahanan udara tersebut.

Dalam rekaman itu terlihat personel militer Amerika secara terus-menerus melaporkan koordinat setiap rudal yang masuk hingga seluruh ancaman berhasil dihancurkan.

Menurut Trump, keberhasilan operasi tersebut menunjukkan kesiapan sistem pertahanan Amerika Serikat dalam menghadapi ancaman rudal balistik.

Namun ia menegaskan bahwa keberhasilan mencegat seluruh rudal tidak akan mengurangi tekad Washington untuk memberikan respons militer.

Serangan Balasan ke Milisi Pro-Iran

Trump juga mengungkapkan bahwa operasi udara yang dilakukan Amerika Serikat bersama Arab Saudi terhadap kelompok-kelompok milisi Syiah di Irak pada malam yang sama telah melalui koordinasi dengan pemerintah Irak.

Operasi tersebut menargetkan sejumlah fasilitas milisi yang selama ini dikenal memiliki hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Trump menyebut kelompok-kelompok tersebut sebagai “kanker dunia” dan mengatakan bahwa pemerintah Amerika sedang mempertimbangkan langkah-langkah lanjutan terhadap jaringan proksi Iran di berbagai negara.

Namun perkembangan di Irak menunjukkan situasi yang tidak sepenuhnya sejalan dengan pernyataan Washington.

Pemerintah Irak Tempuh Jalur Hukum

Pada Rabu, 29 Juli 2026, Dewan Keamanan Nasional Irak memerintahkan Kementerian Luar Negeri untuk mengambil langkah hukum terkait serangan udara Amerika Serikat dan Arab Saudi terhadap kelompok-kelompok bersenjata yang berada di wilayah Irak.

Pemerintah Irak menilai operasi tersebut menimbulkan persoalan serius mengenai kedaulatan negara.

Sebagai dampaknya, Perdana Menteri Irak membatalkan rencana pertemuan dengan Putra Mahkota Arab Saudi yang semula dijadwalkan berlangsung pada 30 Juli 2026.

Keputusan tersebut dipandang sebagai sinyal meningkatnya ketegangan diplomatik antara Baghdad dan sekutu-sekutu Washington.

Kataib Hezbollah Beri Tenggat Waktu

Kelompok milisi Kataib Hezbollah juga mengeluarkan pernyataan pada hari yang sama.

Mereka memberikan waktu hingga 6 Agustus 2026 kepada pemerintah Irak untuk membuktikan kemampuannya mempertahankan kedaulatan negara setelah serangan udara Amerika Serikat dan Arab Saudi.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa tekanan terhadap pemerintah Irak datang bukan hanya dari luar negeri, tetapi juga dari kelompok-kelompok bersenjata yang memiliki pengaruh besar di dalam negeri.

Sementara itu, surat kabar Iran Hamshahri melaporkan bahwa empat penasihat militer Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) tewas dalam serangan udara gabungan tersebut.

Analisis: Iran Dinilai Mengubah Strategi

Sejumlah media internasional menilai bahwa pola tindakan Iran kini mengalami perubahan.

Analisis The Wall Street Journal menyebut bahwa jika sebelumnya Iran cenderung menunggu sebelum melakukan pembalasan, kini Teheran justru memilih mengambil inisiatif dengan melancarkan serangan lebih dahulu.

Strategi tersebut dinilai bertujuan menunjukkan bahwa Iran masih memiliki kemampuan menentukan ritme eskalasi konflik sekaligus menguji sejauh mana Presiden Donald Trump bersedia mengambil tindakan militer langsung.

Sementara itu, media Israel i24News mengutip seorang pejabat Israel yang menyatakan bahwa keputusan untuk menyerang Iran secara langsung kini sepenuhnya berada di tangan Presiden Trump.

Israel disebut telah menyampaikan berbagai pertimbangannya dan kini menunggu keputusan Washington mengenai langkah selanjutnya.

CENTCOM Larang Personel Unggah Video Serangan

Di tengah meningkatnya ketegangan, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) juga mengeluarkan instruksi keamanan baru kepada seluruh personel militernya di Timur Tengah.

Dalam surat yang ditandatangani Komandan CENTCOM, Jenderal Cooper, pada 28 Juli 2026, seluruh personel diminta tidak mengunggah rekaman video mengenai serangan terhadap pangkalan militer Amerika ke media sosial.

CENTCOM menilai video semacam itu dapat dimanfaatkan Iran untuk mengevaluasi efektivitas serangan mereka secara hampir real-time.

Menurut Cooper, sebelumnya telah beredar sebuah video yang memperlihatkan personel Amerika berlarian menuju bunker ketika Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania diserang pada 17 Juli 2026.

Video tersebut direkam menggunakan kacamata pintar Meta dan kemudian diunggah ke Instagram.

Dalam rekaman itu terlihat dengan jelas jalur evakuasi personel militer, waktu respons, hingga kondisi pangkalan saat serangan berlangsung.

Cooper menegaskan bahwa tanpa adanya rekaman seperti itu, Iran akan jauh lebih sulit mengetahui apakah rudal dan drone yang mereka luncurkan benar-benar mengenai sasaran.

Ia menjelaskan bahwa militer Amerika secara rutin menggunakan sistem peperangan elektronik, gangguan sinyal, serta berbagai metode penyamaran untuk menyulitkan lawan memperoleh informasi mengenai hasil serangan.

Karena itu, CENTCOM menilai penyebaran video oleh personel sendiri justru dapat menghilangkan keuntungan operasional yang dimiliki Amerika Serikat dan memberikan informasi intelijen yang sangat berharga kepada pihak lawan. (***)

AS Masuk Perangkap? Enam Rudal Iran Diduga Hanya Umpan untuk Menghabiskan THAAD dan Patriot

EtIndonesia.com – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah pada 29 Juli 2026, Iran meluncurkan enam rudal balistik ke arah pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di wilayah Yordania. Meski demikian, serangan tersebut justru memunculkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. 

Seluruh rudal berhasil dicegat sebelum mencapai sasaran, sementara sejumlah analis menilai pola serangan tersebut tidak menunjukkan karakteristik operasi militer yang bertujuan menghancurkan target.

Menurut berbagai laporan dan analisis yang beredar, keenam rudal yang digunakan merupakan rudal balistik generasi lama. Kondisi tersebut memunculkan dugaan bahwa Iran sejak awal tidak benar-benar berharap serangan tersebut berhasil menembus sistem pertahanan udara Amerika Serikat. 

Jika asumsi itu benar, maka tujuan utama operasi ini kemungkinan bukan untuk menimbulkan kerusakan fisik, melainkan untuk memaksa Amerika Serikat menghabiskan persediaan rudal pencegat yang jauh lebih mahal dan lebih sulit diproduksi.

Pandangan tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah analisis yang lebih luas. Beberapa pengamat menilai bahwa strategi semacam ini dapat memberikan keuntungan tidak langsung bagi pihak lain yang memiliki kepentingan strategis terhadap melemahnya kesiapan militer Amerika Serikat. 

Dalam sejumlah analisis geopolitik, muncul spekulasi bahwa pihak yang paling diuntungkan dari terkurasnya stok amunisi pertahanan Amerika bukan hanya Iran, tetapi juga Tiongkok. Namun demikian, hingga kini tidak ada bukti resmi yang mengonfirmasi adanya keterlibatan langsung Beijing dalam serangan rudal tersebut.

Biaya Perang yang Tidak Seimbang

Jika dilihat dari sisi ekonomi, strategi semacam ini dinilai cukup menarik. Satu rudal balistik jarak menengah Iran diperkirakan memiliki biaya produksi hingga sekitar 12 juta dolar Amerika Serikat.

Sebaliknya, untuk mencegat rudal tersebut, militer Amerika Serikat harus menggunakan sistem pertahanan udara berteknologi tinggi seperti THAAD atau Patriot PAC-3.

Harga satu rudal pencegat THAAD diperkirakan mencapai sekitar 10 juta dolar AS, sementara satu rudal Patriot PAC-3 bernilai sekitar 4 juta dolar AS. Dalam praktik operasional, satu ancaman rudal bahkan dapat memerlukan lebih dari satu rudal pencegat guna meningkatkan peluang keberhasilan intersepsi.

Karena itu, setiap serangan rudal, sekalipun gagal mengenai sasaran, tetap memaksa Pentagon mengeluarkan biaya yang sangat besar. Inilah yang membuat sejumlah analis berpendapat bahwa strategi menguras persediaan rudal pencegat lawan dapat menjadi salah satu bentuk perang ekonomi maupun perang logistik.

Mengapa Iran Tetap Menyerang Saat Gencatan Senjata?

Pertanyaan yang paling banyak muncul adalah mengapa Iran memilih meluncurkan serangan pada saat situasi relatif memasuki fase gencatan senjata.

Secara ekonomi, Iran saat ini masih menghadapi tekanan yang berat. Sanksi internasional, tekanan terhadap sektor energi, serta berbagai persoalan domestik membuat kemampuan fiskal pemerintah berada dalam kondisi yang tidak ideal.

Selain itu, sistem pertahanan udara Iran juga dilaporkan mengalami kerusakan di sejumlah wilayah akibat konflik sebelumnya.

Dalam kondisi seperti itu, sebagian pengamat menilai langkah yang paling rasional sebenarnya adalah menahan diri sambil memperbaiki kondisi militer dan ekonomi dalam negeri.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Iran tetap meluncurkan enam rudal balistik, tetapi tidak satu pun berhasil mencapai sasaran.

Dari sudut pandang militer murni, operasi tersebut hampir tidak menghasilkan keuntungan strategis yang nyata.

Karena itu muncul dugaan bahwa sasaran sebenarnya bukanlah pangkalan militer Amerika, melainkan memaksa Washington menggunakan rudal-rudal pencegat dalam jumlah besar sehingga persediaan amunisi pertahanannya terus berkurang.

Amerika Serikat dan Arab Saudi Melakukan Serangan Balasan

Sebagai respons atas serangan tersebut, Amerika Serikat bersama Arab Saudi dilaporkan melaksanakan operasi udara gabungan terhadap kelompok-kelompok bersenjata pro-Iran di Irak, terutama unsur-unsur Popular Mobilization Forces (PMF) yang selama ini diketahui memiliki hubungan erat dengan Teheran.

Langkah Arab Saudi kali ini dinilai cukup berbeda dibandingkan kebijakan yang selama bertahun-tahun diterapkan kerajaan tersebut.

Selama beberapa dekade terakhir, Riyadh cenderung mengandalkan kekuatan ekonomi serta perlindungan keamanan dari Amerika Serikat untuk menjaga stabilitas kawasan.

Bahkan ketika fasilitas minyak Saudi pernah menjadi sasaran serangan, pemerintah kerajaan tetap berupaya menghindari konfrontasi militer secara langsung.

Namun dalam perkembangan terbaru, Arab Saudi tidak hanya mengerahkan pesawat tempur, tetapi juga secara terbuka menyatakan bahwa tindakan tersebut dilakukan berdasarkan hak membela diri sebagaimana diatur dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Perubahan sikap ini dipandang sebagai sinyal bahwa sejumlah negara sekutu Amerika di Timur Tengah kini mulai mengambil posisi yang lebih aktif dalam menghadapi ancaman dari kelompok-kelompok yang didukung Iran.

Dugaan Jalur Dukungan Persenjataan dari Tiongkok

Di tengah tekanan ekonomi yang masih membebani Iran, muncul pertanyaan mengenai sumber pendanaan dan pasokan persenjataan yang memungkinkan Teheran mempertahankan aktivitas militernya.

Sejumlah laporan media internasional, termasuk Reuters, menyebut bahwa dalam beberapa minggu terakhir Iran diduga menerima sekitar 400 unit sistem rudal pertahanan udara buatan Tiongkok, dengan nilai transaksi diperkirakan mencapai 60 juta dolar Amerika Serikat.

Menurut laporan tersebut, pengiriman dilakukan melalui rute yang cukup kompleks. Peralatan militer disebut diberangkatkan dari Urumqi di wilayah Xinjiang, kemudian melewati Pakistan sebelum memasuki Iran melalui jalur darat.

Pemilihan jalur tersebut diduga bertujuan mengurangi kemungkinan terdeteksi oleh sistem pengawasan Amerika Serikat maupun negara-negara Barat.

Sementara itu, mekanisme pembayaran disebut melibatkan sebuah perusahaan cangkang yang terdaftar di Hong Kong, yakni Zhongqing Baoshang International Investment.

Sejumlah pengamat menilai Hong Kong semakin sering digunakan sebagai pusat transaksi keuangan internasional yang berkaitan dengan perdagangan barang-barang strategis.

Meski demikian, Kementerian Luar Negeri Tiongkok membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa Beijing tidak melakukan pengiriman senjata sebagaimana dituduhkan dalam berbagai laporan media.

Kekhawatiran Baru terhadap Persediaan Amunisi Amerika

Perdebatan mengenai strategi menguras stok rudal Amerika kembali mengemuka setelah sejumlah lembaga kajian pertahanan di Amerika Serikat menerbitkan analisis terbaru mengenai kesiapan logistik militer.

Dalam salah satu laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS) disebutkan bahwa persediaan amunisi Amerika Serikat saat ini masih dinilai cukup untuk menghadapi konflik berskala terbatas seperti yang terjadi di Timur Tengah.

Namun tantangan yang lebih besar muncul apabila di masa depan Washington harus menghadapi konflik berkepanjangan dengan negara yang memiliki kemampuan militer relatif seimbang, khususnya di kawasan Indo-Pasifik.

Laporan tersebut menyoroti bahwa tingginya konsumsi rudal dan amunisi dalam berbagai konflik beberapa tahun terakhir telah meningkatkan tekanan terhadap kapasitas produksi industri pertahanan Amerika Serikat.

Sebagian analis kemudian menghubungkan temuan tersebut dengan serangan enam rudal Iran pada 30 Juli.

Menurut mereka, apabila tujuan utama operasi memang hanya untuk memaksa Amerika menggunakan rudal-rudal pencegat, maka strategi tersebut dapat menjadi bagian dari perang jangka panjang yang berfokus pada pengurasan logistik lawan, bukan semata-mata penghancuran target militer.

Beberapa perkiraan bahkan menyebut bahwa Amerika Serikat memerlukan waktu sekitar tiga hingga lima tahun untuk memulihkan sepenuhnya stok amunisi tertentu apabila terjadi penggunaan dalam skala besar secara terus-menerus.

Meski demikian, hingga saat ini belum terdapat bukti yang menunjukkan bahwa peluncuran enam rudal Iran merupakan bagian dari strategi terkoordinasi dengan negara lain. Berbagai penilaian mengenai kemungkinan keterlibatan Beijing maupun tujuan jangka panjang di balik serangan tersebut masih berada pada ranah analisis para pengamat dan belum dikonfirmasi secara resmi oleh pemerintah negara-negara yang terkait.

Yang jelas, insiden pada 30 Juli 2026 kembali memperlihatkan bahwa konflik di Timur Tengah tidak lagi hanya diukur dari jumlah rudal yang ditembakkan atau target yang berhasil dihancurkan. Perang modern kini juga menyangkut kemampuan menguras logistik, melemahkan daya tahan industri pertahanan lawan, serta membentuk tekanan strategis yang dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan di kawasan lain, termasuk Indo-Pasifik. (***)

BREAKING! Iran Cegat 3 Kapal Asing, AS Kerahkan Armada Perang! Selat Hormuz Terancam Ditutup

EtIndonesia.com  – Ketegangan di kawasan Teluk Persia kembali meningkat setelah Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC Navy) dilaporkan mencegat tiga kapal pesiar asing yang sedang melintas di Selat Hormuz. Insiden yang terjadi pada Rabu, 29 Juli 2026, itu segera memicu respons militer dari Amerika Serikat dan kembali menempatkan salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia dalam kondisi yang sangat tegang.

Berdasarkan laporan Agence France-Presse (AFP), kapal-kapal milik Iran menghentikan laju tiga kapal asing yang sedang berlayar melalui Selat Hormuz. Setelah berhasil menghentikan kapal-kapal tersebut, personel Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam menaiki masing-masing kapal untuk melakukan pemeriksaan sebelum akhirnya menahan kapal beserta awaknya.

Hingga kini, belum seluruh rincian mengenai identitas kapal maupun kewarganegaraan awak kapal diumumkan secara resmi. Namun tindakan tersebut kembali menimbulkan kekhawatiran internasional karena dilakukan di salah satu jalur pelayaran yang setiap harinya dilalui jutaan barel minyak mentah dan gas alam cair menuju pasar dunia.

Selat Hormuz merupakan penghubung antara Teluk Persia dan Laut Arab. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur sempit ini setiap hari. Karena itu, setiap gangguan keamanan di kawasan tersebut hampir selalu berdampak terhadap stabilitas pasar energi global, biaya pengiriman internasional, hingga harga minyak dunia.

Menyusul tindakan Iran yang menggunakan kekuatan bersenjata untuk menghentikan dan menahan kapal-kapal asing tersebut, Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat yang bermarkas di Bahrain segera meningkatkan status kesiagaan tempurnya.

Militer Amerika kemudian mengerahkan sejumlah kapal perang tambahan untuk memperkuat patroli di kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk pengawasan sekaligus upaya mencegah Iran memperluas aksi yang dinilai dapat mengganggu kebebasan pelayaran internasional.

Sejumlah pejabat pertahanan Amerika menyatakan bahwa kebebasan bernavigasi di perairan internasional merupakan kepentingan strategis yang harus dipertahankan. Oleh karena itu, setiap tindakan yang menghambat lalu lintas kapal sipil akan terus dipantau secara ketat.

Dengan pengerahan armada tersebut, kapal-kapal perang Amerika dan pasukan Iran kembali berada dalam jarak operasi yang sangat dekat di kawasan yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu titik paling sensitif di Timur Tengah.

Iran Tolak Usulan Oman Mengenai Selat Hormuz

Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, perhatian juga tertuju pada perbedaan pandangan antara Iran dan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz.

Sebelumnya, pemerintah Oman pernah mengajukan sebuah usulan untuk mengurangi potensi konflik di jalur pelayaran tersebut.

Dalam proposal tersebut, Oman mengusulkan agar jalur pelayaran internasional dibagi secara proporsional sehingga:

  • separuh jalur pelayaran berada di wilayah perairan Iran;
  • separuh lainnya berada di wilayah perairan Oman;
  • pengelolaan lalu lintas pelayaran dilakukan secara bersama oleh kedua negara.

Usulan tersebut dimaksudkan untuk menciptakan mekanisme pengawasan bersama sekaligus mengurangi potensi sengketa mengenai hak navigasi internasional.

Namun, menurut berbagai laporan, Iran tidak hanya menolak proposal tersebut, tetapi juga mengajukan tuntutan yang jauh lebih luas.

Berdasarkan laporan Al Jazeera, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, dalam wawancara dengan media pemerintah Iran menyatakan bahwa Teheran menginginkan agar jalur utama pelayaran internasional sepenuhnya ditempatkan di wilayah perairan Iran.

Apabila usulan tersebut diterima, maka hampir seluruh jalur utama yang digunakan kapal-kapal dagang internasional akan berada di bawah kendali langsung pemerintah Iran.

Tidak berhenti sampai di situ, Iran juga dikabarkan tetap menginginkan hak untuk ikut mengawasi sebagian operasi pelayaran yang berada di wilayah perairan Oman.

Posisi tersebut menunjukkan bahwa Teheran menginginkan peran yang jauh lebih besar dibandingkan konsep pengelolaan bersama yang sebelumnya diusulkan oleh Muscat.

Iran Mengancam Selat Hormuz Tetap Ditutup

Dalam pernyataan yang sama, Kazem Gharibabadi juga menyampaikan peringatan kepada Oman.

Ia menegaskan bahwa apabila Oman tidak menerima persyaratan yang diajukan Iran, maka Selat Hormuz akan tetap berada dalam kondisi tertutup atau mengalami pembatasan operasional yang dapat menghambat lalu lintas kapal internasional.

Pernyataan tersebut kembali memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri pelayaran dan pasar energi global.

Bagi negara-negara pengimpor minyak, setiap ancaman terhadap Selat Hormuz memiliki konsekuensi ekonomi yang sangat besar karena kawasan tersebut merupakan jalur ekspor utama bagi negara-negara produsen minyak di Teluk Persia, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Qatar.

Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan ini berpotensi meningkatkan biaya asuransi kapal, memperpanjang waktu pengiriman, hingga mendorong kenaikan harga energi di pasar internasional.

Korps Garda Revolusi Iran Keluarkan Ancaman Baru

Selain persoalan jalur pelayaran, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga mengeluarkan ancaman baru yang semakin memperkeruh situasi.

Ancaman tersebut berkaitan dengan kemungkinan Amerika Serikat menggunakan sebagian aset Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri sebagai dana kompensasi bagi kapal-kapal yang mengalami kerugian akibat tindakan Iran.

Juru bicara IRGC memperingatkan bahwa setiap kapal yang dianggap membawa dana yang berasal dari aset Iran tersebut tidak akan diizinkan melintasi Selat Hormuz.

Pernyataan tersebut segera menarik perhatian para analis keamanan internasional.

Menurut mereka, ancaman itu lebih merupakan bentuk tekanan politik dan psikologis dibandingkan kebijakan yang benar-benar dapat diterapkan secara efektif.

Alasannya, transaksi keuangan internasional saat ini hampir seluruhnya dilakukan melalui sistem elektronik antarbank. Dana tidak lagi dipindahkan secara fisik menggunakan kapal sebagaimana terjadi pada masa lalu.

Dengan demikian, hampir mustahil menentukan apakah sebuah kapal tertentu memiliki keterkaitan dengan aset keuangan Iran yang dibekukan di luar negeri.

Karena itu, sejumlah pengamat menilai ancaman tersebut lebih ditujukan untuk meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Amerika Serikat dan negara-negara Barat daripada sebagai langkah operasional yang realistis.

Muncul Dugaan Iran Beralih ke Serangan Siber

Di sisi lain, sejumlah analis keamanan menilai bahwa strategi Iran kemungkinan tidak hanya berfokus pada tekanan militer maupun ancaman terhadap jalur pelayaran.

Mereka memperkirakan Teheran juga mulai mengintensifkan operasi di ranah siber sebagai bagian dari strategi menghadapi tekanan internasional.

Serangan siber dinilai menjadi salah satu instrumen yang relatif sulit dideteksi, tetapi mampu menimbulkan gangguan terhadap sistem logistik, jaringan pelabuhan, perusahaan pelayaran, hingga infrastruktur energi.

Berbeda dengan operasi militer konvensional yang mudah terlihat dan berisiko memicu konfrontasi langsung, operasi siber memungkinkan suatu negara memberikan tekanan terhadap lawannya tanpa harus mengerahkan kekuatan militer secara terbuka.

Walaupun hingga saat ini belum terdapat bukti resmi yang menghubungkan insiden tertentu dengan operasi siber Iran, para pengamat menilai kemungkinan tersebut tidak dapat diabaikan mengingat kemampuan siber Iran selama bertahun-tahun telah menjadi perhatian berbagai negara.

Dengan meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, dunia kini kembali memusatkan perhatian pada kawasan Teluk Persia. Jalur laut yang menjadi nadi perdagangan energi global tersebut kembali berubah menjadi titik konfrontasi antara Iran dan Amerika Serikat. 

Apabila tidak diikuti langkah diplomatik yang efektif, situasi ini dikhawatirkan dapat berkembang menjadi krisis keamanan yang lebih luas, dengan dampak yang tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di kawasan Timur Tengah, tetapi juga oleh perekonomian dunia secara keseluruhan. (***)

Diduga Iran Serang Sistem Air AS, Militer AS dan Arab Saudi Langsung Hantam Milisi Pro-Iran di Irak

EtIndonesia.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir. Konflik yang semula didominasi oleh operasi militer kini juga merambah ke ranah siber, diplomasi, hingga keamanan infrastruktur vital. 

Dalam rentang waktu 27–28 Juli 2026, sejumlah perkembangan terjadi hampir bersamaan, mulai dari dugaan serangan siber terhadap sistem penyediaan air bersih di Amerika Serikat, operasi udara gabungan Amerika Serikat dan Arab Saudi terhadap milisi pro-Iran di Irak, hingga meningkatnya aktivitas diplomatik yang melibatkan Iran, Ukraina, dan Israel.

Peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan bahwa persaingan antara kedua kubu kini tidak lagi terbatas pada medan tempur konvensional, tetapi juga mencakup serangan terhadap infrastruktur sipil, tekanan diplomatik, dan perebutan pengaruh di kawasan Timur Tengah.

Dugaan Serangan Siber Ganggu Sistem Air Bersih di Minnesota

Pada 27 Juli 2026, pemerintah negara bagian Minnesota, Amerika Serikat, mengeluarkan peringatan setelah sejumlah fasilitas penyediaan air bersih mengalami gangguan serius akibat dugaan serangan siber yang diyakini memiliki keterkaitan dengan kelompok peretas yang berafiliasi dengan Iran.

Insiden pertama diketahui terjadi di Kota Braham, ketika seorang operator instalasi pengolahan air melakukan pemeriksaan rutin pada pagi hari. Saat itu diketahui bahwa permukaan air di menara penampungan telah turun hingga mencapai batas minimum sehingga pompa air tanah seharusnya otomatis aktif untuk mengisi kembali cadangan air.

Namun yang terjadi justru di luar dugaan. Seluruh sistem pompa air tanah mendadak berhenti beroperasi secara bersamaan. Akibat kegagalan sistem otomatis tersebut, para teknisi terpaksa mengendalikan seluruh proses distribusi air secara manual agar pasokan air bersih kepada masyarakat tetap dapat dipertahankan.

Penyelidikan yang dilakukan pemerintah negara bagian kemudian menemukan bahwa kejadian tersebut bukan merupakan gangguan teknis biasa ataupun insiden yang berdiri sendiri.

Otoritas Minnesota mengungkapkan bahwa lebih dari 30 sistem penyediaan air di berbagai wilayah negara bagian mengalami serangan siber yang memiliki pola serupa dalam waktu yang hampir bersamaan.

Di beberapa kota, sistem kendali sumur air, pompa distribusi, serta fasilitas pengolahan air bahkan sempat lumpuh untuk sementara waktu sehingga memaksa petugas melakukan pengoperasian secara manual.

Peretas Diduga Menargetkan Sistem Kendali Infrastruktur

Hasil investigasi awal menunjukkan bahwa para pelaku berhasil menyusup ke dalam sistem kendali industri (industrial control system) yang mengatur operasi sumur air.

Setelah memperoleh akses tersebut, mereka mematikan sistem otomatis yang mengendalikan pompa dan fasilitas distribusi sehingga seluruh jaringan tidak lagi dapat bekerja sebagaimana mestinya.

Para penyelidik menilai metode penyusupan, sasaran yang dipilih, serta waktu pelaksanaan serangan memiliki kemiripan dengan sejumlah operasi siber yang selama ini dikaitkan dengan kelompok peretas Iran.

Meskipun pemerintah Amerika Serikat belum secara resmi menetapkan pihak yang bertanggung jawab, pola serangan tersebut dinilai konsisten dengan teknik yang sebelumnya digunakan dalam berbagai operasi siber yang menargetkan infrastruktur penting di negara-negara Barat.

Insiden ini kembali menimbulkan kekhawatiran bahwa infrastruktur sipil seperti jaringan listrik, sistem air bersih, hingga fasilitas energi kini menjadi sasaran strategis dalam konflik siber modern.

Amerika Serikat dan Arab Saudi Balas Serangan Milisi Pro-Iran

Sementara itu, ketegangan di Timur Tengah juga meningkat secara signifikan.

Pada 28 Juli 2026, Arab Saudi mengambil langkah yang sangat jarang dilakukan dengan bergabung secara langsung bersama militer Amerika Serikat dalam operasi udara terhadap kelompok-kelompok milisi pro-Iran di Irak.

Dalam operasi yang berlangsung hanya beberapa jam tersebut, pesawat tempur kedua negara melancarkan serangan presisi terhadap sedikitnya lima markas milisi, pusat komando brigade, pangkalan udara, serta sejumlah fasilitas logistik yang digunakan kelompok bersenjata pendukung Iran.

Serangan dilaporkan mencakup sasaran di tujuh provinsi Irak, menunjukkan bahwa operasi tersebut telah direncanakan secara luas dan menyasar jaringan milisi di berbagai wilayah.

Menurut laporan awal yang mengutip data Pasukan Mobilisasi Rakyat Irak (Popular Mobilization Forces/PMF), sedikitnya 20 anggota kelompok bersenjata tewas, sementara 32 orang lainnya mengalami luka-luka.

Jumlah korban diperkirakan masih dapat bertambah seiring berlanjutnya proses identifikasi dan evaluasi di lokasi-lokasi yang terkena serangan.

CENTCOM: Operasi Merupakan Respons atas Serangan Drone

Setelah operasi selesai dilaksanakan, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menjelaskan bahwa serangan tersebut merupakan respons terhadap meningkatnya aktivitas milisi pro-Iran dalam beberapa hari terakhir.

Menurut CENTCOM, selama tiga hari sebelumnya, kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah meluncurkan lebih dari 30 serangan menggunakan pesawat nirawak (drone) yang menargetkan fasilitas energi milik Arab Saudi.

Amerika Serikat menilai bahwa serangan-serangan tersebut dilakukan atas arahan IRGC dan merupakan bagian dari upaya meningkatkan tekanan terhadap sekutu Washington di kawasan Teluk.

Operasi udara gabungan tersebut, menurut CENTCOM, bertujuan untuk melemahkan kemampuan militer kelompok milisi sekaligus mencegah serangan lanjutan terhadap infrastruktur energi yang menjadi kepentingan strategis kawasan.

Ukraina Peringatkan Iran agar Tidak Memperluas Eskalasi

Di tengah meningkatnya ketegangan militer tersebut, jalur diplomasi juga tetap berlangsung.

Pada 28 Juli 2026, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha mengungkapkan bahwa dirinya telah melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Percakapan itu dilakukan setelah Iran mengecam dugaan serangan pesawat nirawak Ukraina terhadap salah satu kapal milik Iran.

Dalam pembicaraan tersebut, Sybiha memperingatkan Iran agar tidak memperburuk eskalasi situasi regional.

Ia juga kembali mendesak Teheran untuk menghentikan seluruh bentuk dukungan militer kepada Rusia yang selama ini dinilai membantu operasi Moskow dalam perang melawan Ukraina.

Menurut Sybiha, stabilitas kawasan hanya dapat dicapai apabila seluruh pihak menahan diri dan menghindari tindakan yang dapat memperluas konflik ke wilayah lain.

Israel dan Ukraina Bahas Ancaman Bersama

Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar menyampaikan melalui platform X bahwa dirinya juga telah berbicara dengan Andrii Sybiha.

Dalam percakapan tersebut, kedua menteri membahas berbagai tantangan keamanan yang dihadapi masing-masing negara, terutama yang berkaitan dengan aktivitas Iran di kawasan.

Sa’ar menyatakan bahwa Israel dan Ukraina memiliki kepentingan bersama dalam menghadapi ancaman yang berasal dari Iran.

Ia berharap hubungan kerja sama kedua negara, khususnya di bidang keamanan dan diplomasi, dapat terus diperkuat pada masa mendatang.

Sementara itu, Sybiha kembali menegaskan bahwa seluruh operasi militer Ukraina ditujukan semata-mata untuk mempertahankan negaranya dari agresi Rusia.

Ia membantah bahwa Ukraina memiliki tujuan untuk menyerang kapal sipil ataupun membahayakan warga sipil dalam setiap operasinya.

Fokus Iran Dinilai Tetap pada Jalur Pelayaran Strategis

Di tengah berbagai perkembangan tersebut, sejumlah pengamat menilai perhatian utama Iran saat ini tetap tertuju pada upaya mempertahankan pengaruhnya terhadap jalur-jalur pelayaran strategis di kawasan.

Setelah muncul berbagai insiden yang melibatkan kapal dagang dan meningkatnya aktivitas militer di sekitar perairan Timur Tengah, Teheran dinilai semakin berupaya menjaga kendali atas rute-rute pelayaran yang memiliki nilai ekonomi dan geopolitik tinggi.

Laporan tersebut juga menyoroti bahwa fokus Iran terhadap kepentingan strategis maritim dinilai lebih dominan dibandingkan perhatian terhadap dampak kemanusiaan dari meningkatnya ketegangan.

Bahkan, menurut analisis yang berkembang, keselamatan warga sipil maupun keselamatan personel militer Iran sendiri disebut bukan lagi menjadi prioritas utama ketika kepentingan strategis negara dianggap sedang dipertaruhkan.

Rangkaian peristiwa selama 27–28 Juli 2026 ini memperlihatkan bahwa persaingan antara Amerika Serikat dan Iran kini berlangsung di berbagai medan sekaligus, mulai dari dunia siber, operasi militer di Timur Tengah, hingga arena diplomasi internasional. 

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dinamika keamanan global semakin kompleks, dengan setiap perkembangan di satu kawasan berpotensi memicu reaksi berantai di kawasan lainnya. (***)

Perluasan Penggunaan Drone di Medan Perang : Rusia Diserang pada Malam Hari, Ukraina Laporkan 14 Luka-luka dan 1 Tewas

Belakangan ini, konflik antara Rusia dan Ukraina mengalami kebuntuan dalam pertempuran darat di garis depan. Namun, serangan udara jarak jauh dan pertempuran drone antara kedua belah pihak meningkat secara signifikan, serta meluas ke wilayah sekitarnya.

EtIndonesia.com  Ukraina baru-baru ini melancarkan serangkaian serangan untuk memperkuat serangan balasan jarak jauh terhadap fasilitas energi, logistik, dan militer Rusia, sebagai balasan atas pemboman malam hari yang dilakukan tentara Rusia terhadap kota-kota Ukraina.

Gubernur Wilayah Moskow, Vorobyov, pada Selasa 28 Juli  mengonfirmasi bahwa Moskow mengalami serangan drone berskala besar pada malam hari.

Walikota Moskow, Sobyanin, melalui Telegram menyatakan bahwa dari Senin malam hingga Selasa dini hari, terdeteksi lebih dari 390 drone Ukraina, dan 81 di antaranya berhasil dicegat. Namun, situasi sebenarnya masih belum jelas.

Dalam 24 jam terakhir, Rusia melancarkan 1.107 serangan terhadap 49 pemukiman di Oblast Zaporizhzhia, Ukraina bagian tenggara, yang mengakibatkan 14 orang terluka, termasuk 3 anak-anak, serta seorang pria berusia 67 tahun yang meninggal dunia.

Dari 131 drone yang diluncurkan oleh pasukan Rusia, pasukan pertahanan udara Ukraina berhasil mencegat 107 drone pada malam itu, namun 9 drone berhasil menembus wilayah Ukraina.

Pekan lalu, Ukraina meningkatkan intensitas serangannya terhadap pusat-pusat logistik utama di wilayah Rusia, termasuk lima fasilitas milik raksasa ritel Wildberries, yang menandakan bahwa perang ini telah memasuki fase baru, di mana pihak Kyiv berusaha melemahkan ekonomi Rusia.

Sementara itu, Presiden Ukraina Zelensky berharap dapat memperkuat dukungan Amerika Serikat terhadap Kyiv melalui pertemuannya dengan Presiden AS Trump, guna membantu menangkis serangan rudal Rusia.

Seiring dengan kunjungan Zelensky, Senat AS berencana melakukan pemungutan suara prosedural pada Selasa malam mengenai rancangan undang-undang yang diprakarsai oleh almarhum Senator Graham, yang intinya adalah sanksi terhadap negara-negara seperti Rusia dan Iran.

Laporan komprehensif oleh reporter New Tang Dynasty Television, Guo Yuexi

Apakah Xi Jinping Menipu Trump?  Iran Dikabarkan Akan Menerima Rudal Anti-Pesawat Tipe Bahu dari Partai Komunis Tiongkok

EtIndonesia.com Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengungkapkan bahwa pemimpin Partai Komunis Tiongkok Xi Jinping pernah menjamin kepadanya bahwa PKT tidak akan memasok senjata ke Iran. Namun, laporan terbaru menunjukkan bahwa Iran akan menerima sejumlah rudal anti-pesawat buatan Tiongkok dalam beberapa minggu ke depan, yang mana akan memperkuat kemampuan Iran dalam melawan pasukan AS.

Kantor berita Reuters pada 29 Juli mengutip sumber yang mengetahui masalah ini, mengungkapkan bahwa Iran akan menerima pengiriman pertama rudal pertahanan udara yang diluncurkan dari bahu yang dipesan dari Tiongkok dalam beberapa minggu ke depan. Nilai pesanan ini diperkirakan mencapai 60 hingga 70 juta dolar AS, dan ini merupakan pesanan senjata terbesar Iran yang diketahui publik sejak serangan militer AS terhadap negara tersebut pada akhir Februari.

Sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan bahwa pesanan tersebut mencakup 300 hingga 400 set sistem senjata pertahanan udara portabel untuk prajurit individu, termasuk rudal buatan Tiongkok “QW-12” dan “FN-16”.

Baik “QW-12” maupun “FN-16” merupakan rudal darat-ke-udara yang diluncurkan dari bahu dan dipandu inframerah, yang dirancang khusus untuk mencegat pesawat sayap tetap, helikopter, dan drone yang terbang pada ketinggian rendah.

Para pakar militer menyatakan bahwa sistem pertahanan udara portabel sangat penting karena memiliki mobilitas tinggi, dapat dikerahkan secara cepat dan tersebar, serta memberikan perlindungan pertahanan udara jarak pendek. Sistem ini lebih sulit diserang dibandingkan dengan peluncur rudal tetap.

Sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan kepada Reuters bahwa kontrak tersebut ditandatangani oleh pihak Iran dengan Zhongqing Baoshang International Investment Co., Ltd., yang berkantor pusat di Hong Kong. Perusahaan ini bertindak sebagai perantara antara Iran dan pemasok dari Partai Komunis Tiongkok.

Menurut laporan, berdasarkan jadwal pengiriman yang disepakati kedua belah pihak, pengiriman senjata tahap pertama akan dikirim melalui udara dari Urumqi, Xinjiang, Tiongkok, dan diteruskan melalui Pakistan ke Iran. Namun, sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan bahwa rincian seperti waktu pengiriman, jumlah, dan cara pengiriman masih dapat berubah.

Reuters juga mengutip dua pejabat badan intelijen Barat yang mengungkapkan bahwa Iran sedang merencanakan cara untuk mengangkut senjata dan komponen ganda (militer-sipil) yang disediakan oleh Tiongkok ke Iran melalui jalur darat.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa karena sensitivitas situasi, sumber-sumber tersebut meminta namanya dirahasiakan. Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan tanggapan terkait hal ini. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyebut laporan tersebut “tidak berdasar”.

Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran pada akhir Februari tahun ini, fasilitas militer dan infrastruktur strategis Iran mengalami kerusakan parah. Menghadapi serangan udara militer AS, Iran saat ini sangat membutuhkan pasokan persenjataan tambahan.

Para analis luar negeri menilai, di tengah aksi militer AS yang belum sepenuhnya mereda, pengiriman ratusan unit sistem pertahanan udara portabel oleh Partai Komunis Tiongkok ke Iran tidak hanya akan menjadi ancaman bagi pasukan AS, tetapi juga menyoroti semakin eratnya hubungan militer antara Iran dan Partai Komunis Tiongkok.

Yang patut diperhatikan, Presiden AS Donald Trump baru saja pada Jumat lalu (24 Juli) memposting di media sosial bahwa selama kunjungannya ke Tiongkok pada Mei tahun ini, ia mendapat jaminan dari Xi Jinping bahwa Tiongkok tidak akan memberikan bantuan militer kepada Iran.

Dalam postingannya, Trump mengatakan: “Ketua Xi mengatakan kepada saya bahwa ia tidak akan memberikan atau menjual senjata kepada Iran dalam keadaan apa pun, dan jaminan ini juga mencakup perusahaan-perusahaan Tiongkok.”

Sumber : NTDTV.com

Robot Turun ke Medan Perang! Militer AS Bentuk Satuan Tugas AI untuk Melawan Proksi Iran

Konflik di Timur Tengah terus meluas. Pada 28 Juli, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan bahwa Angkatan Bersenjata AS dan Arab Saudi telah melancarkan serangan presisi terhadap sasaran proksi yang didukung Iran di wilayah Irak.

EtIndonesia.com Komando Pusat AS (CENTCOM) pada 28 Juli memposting pengumuman di platform X yang menyatakan bahwa pasukan gabungan AS-Arab Saudi telah menyerang sasaran teroris yang didukung Iran di Irak. Proksi ini diperintahkan oleh Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) untuk mencoba menyerang pasukan AS dan infrastruktur energi Arab Saudi.

Pengumuman tersebut menyatakan bahwa dalam 72 jam terakhir, Korps Pengawal Revolusi Islam Iran mengarahkan proksi Iran di Irak timur untuk melancarkan lebih dari 30 serangan udara menggunakan drone, dan pesawat tempur AS-Arab Saudi membalas dengan keras terhadap sejumlah sasaran logistik dan persenjataan teroris. Angkatan Bersenjata AS menyatakan bahwa serangan tak beralasan terhadap pasukan AS tersebut tidak berhasil.

Angkatan Bersenjata AS mencatat bahwa antara Februari hingga April 2026, milisi  yang didukung Iran telah melancarkan lebih dari 600 serangan yang gagal terhadap warga negara dan fasilitas AS di Irak. Angkatan Bersenjata AS juga memperingatkan bahwa jika Iran dan agen-agen terorisnya tidak menghentikan serangan serupa, AS akan mengambil tindakan militer lebih lanjut.

Sebelumnya, militer AS juga mengumumkan bahwa blokade laut masih berlanjut; saat ini terdapat lebih dari 20 kapal perang Angkatan Laut AS yang menjalankan misi militer di kawasan Timur Tengah, termasuk penegakan ketat “Blokade Baja” AS terhadap Iran. 

Militer AS menyatakan, hingga 28 Juli, Komando Pusat AS telah mengalihkan rute 18 kapal dagang, melumpuhkan 2 kapal, dan melakukan inspeksi di atas kapal terhadap 2 kapal lainnya, guna memastikan kepatuhan penuh terhadap langkah-langkah blokade.

Pada 28 Juli, Komando Pusat AS juga mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan Uni Emirat Arab (UEA) untuk membentuk satuan tugas bilateral pertama yang berfokus pada percepatan pengembangan penerapan kecerdasan buatan (AI) di bidang militer. Satuan tugas AS-UEA yang diberi nama “Task Force Talon Synapse” ini direncanakan akan diluncurkan secara resmi dalam beberapa minggu ke depan.

Militer AS menyebutkan, tim yang berbasis di Abu Dhabi ini akan terdiri dari sekitar 20 personel AS dan UEA yang memiliki keahlian di bidang kecerdasan buatan, data, dan keamanan siber. Tim ini akan berfokus pada integrasi aplikasi kecerdasan buatan untuk memberikan dukungan intelijen, melindungi infrastruktur kritis, serta memantau lingkungan keamanan regional.

Dilaporkan dan diterjemahkan oleh Jurnalis Jin Hong / Editor Li Quan – NTDTV.com

Kisah di Balik Layar Terungkap : Investigasi Eksklusif Membongkar Aksi Front Persatuan Partai Komunis Tiongkok dalam Mengontrol Para Tokoh Media Mainstream

EtIndonesia.com Undang-Undang Pendaftaran Agen Asing AS (Foreign Agents Registration Act/FARA Act) baru-baru ini mengungkap bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengucurkan lebih dari seratus juta dolar AS setiap tahunnya untuk kegiatan lobi dan propaganda di Amerika Serikat. Pada 29 Juli, seorang jurnalis media AS kembali mengungkap bahwa sebuah organisasi yang terkait dengan sistem Persatuan dan Kerjasama PKT telah lama mengatur kunjungan para tokoh media arus utama AS ke Tiongkok, dalam upaya mempengaruhi pandangan masyarakat AS terhadap Beijing.

Natalie Winters, salah satu host media AS “War Room” dan koresponden Gedung Putih, baru-baru ini merilis hasil investigasi eksklusif yang mengungkap bahwa sebuah organisasi yang terkait dengan sistem Persatuan Front Persatuan Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah bertahun-tahun secara terus-menerus mengundang tokoh-tokoh media arus utama AS untuk melakukan kunjungan ke Tiongkok, dengan tujuan membentuk citra positif bagi Beijing dan menyebarkan pesan yang menguntungkan PKT.

Berdasarkan investigasi tersebut, tokoh-tokoh media yang disebutkan berasal dari berbagai media arus utama AS, seperti The New York Times, CNN, NBC, Los Angeles Times, dan NPR.

BACA JUGA : Partai Komunis Tiongkok Menggelontorkan 100 Juta Dolar AS Demi Menyusup ke AS, Analisis: Hanya Puncak Gunung Es

Natalie juga menunjukkan bahwa sebagian dari mereka yang diundang bahkan, atas pengaturan tertentu, mengunjungi fasilitas sensitif seperti pangkalan militer Partai Komunis Tiongkok, dan seluruh agenda tersebut diatur oleh “Dewan Dana Energi Tiongkok” yang terkait dengan sistem Persatuan Front Partai Komunis Tiongkok.

“Propaganda Partai Komunis Tiongkok tidak hanya memuji diri sendiri, tetapi juga menjelek-jelekkan pihak lain. Penjelek-jelekkan ini berkaitan dengan perang kognitif, sekaligus disertai narasi yang menyatakan bahwa orang Amerika itu jahat, dengan harapan masyarakat Amerika kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah mereka,” katan Liu Wenbin, dosen paruh waktu di Universitas Chung Yuan, Taiwan. 

“Apa tujuan akhirnya? Yaitu agar Amerika terus-menerus tidak mampu memusatkan perhatian untuk melakukan tindakan balasan terhadap Partai Komunis Tiongkok,” lanjutnya.

Penyelidikan menunjukkan bahwa organisasi ini didirikan oleh mantan Kepala Eksekutif Hong Kong, Dong Jianhua.

Laporan bipartisan Kongres AS pernah memperingatkan bahwa sistem Persatuan Front Persatuan Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah lama merayu tokoh-tokoh politik, bisnis, dan media di luar negeri untuk menyuarakan kepentingan Beijing, serta berusaha melemahkan kritik dari luar terhadap PKT.

“Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah lama memanfaatkan ilusi pemerintah Barat, terutama pemerintah AS, bahwa PKT mungkin akan melakukan reformasi sistem politik, untuk melakukan penetrasi mendalam dan mempengaruhi masyarakat AS, serta merangkul media AS, terutama media sayap kiri. Mereka memanfaatkan media-media ini untuk mempengaruhi opini publik AS, mempengaruhi pandangan orang Amerika terhadap PKT, serta mematikan kewaspadaan pemerintah AS terhadap ancaman PKT,” kata komentator berita terkini Lan Shu. 

Analisis menunjukkan bahwa, mulai dari mengucurkan ratusan juta dolar AS untuk kegiatan lobi dan propaganda luar negeri, hingga kini terungkapnya pengaturan pertukaran ke Tiongkok bagi para tokoh media arus utama, aksi penetrasi PKT semakin terungkap satu per satu. Ini juga menunjukkan bahwa sebenarnya yang diekspor oleh Beijing adalah serangkaian strategi persatuan dan perjuangan yang mana berusaha mempengaruhi persepsi masyarakat demokratis serta mengubah arah opini publik internasional. Ini seharusnya menjadi perhatian dan ditanggapi dengan tindakan balasan oleh komunitas internasional.

Laporan wawancara oleh reporter New Tang Dynasty Television, Yi Xin dan Qiu Yue