Rencana Gila Amerika: Setelah PKT Jatuh, Pasukan Elit AS Langsung Masuk Tiongkok!
EtIndonesia. Setiap kali ada prediksi bahwa rezim Partai Komunis Tiongkok (PKT) akan runtuh, suara sumbang selalu muncul: “Mana mungkin? Lihat saja, mereka masih sangat kokoh. Bisa-bisa seratus tahun lagi tetap bertahan.” Namun, di balik keraguan publik, justru pihak yang paling serius dan sistematis merancang skenario setelah kejatuhan PKT bukanlah kelompok aktivis oposisi atau pemerintah pengasingan, melainkan Hudson Institute—sebuah lembaga think tank strategis terkemuka dari Amerika Serikat.
Hudson Institute telah menyusun skenario lengkap, bahkan menyusun dokumen resmi kebijakan yang dirilis dalam format PDF pada Juli 2025. Dokumen ini, yang tampilannya menampilkan Tembok Besar di musim semi, bukan hanya simbolik, tetapi benar-benar menjadi pedoman yang dipersiapkan dengan sangat profesional untuk menghadapi “hari setelah PKT tumbang.”
Isi Laporan Hudson Institute: Skenario Intervensi Amerika di Tiongkok
1. “OSS in China Again”: Pasukan Khusus AS Kembali ke Tiongkok
Judul bab pertama dari dokumen Hudson Institute sangat tegas: “OSS in China Again.” OSS, atau Office of Strategic Services, merupakan cikal bakal CIA yang dulu aktif di Tiongkok pada era Perang Dunia II, membantu tentara Nasionalis melawan Jepang sekaligus membangun jaringan intelijen. Kini, menurut Hudson Institute, sejarah itu akan “berulang,” dengan Amerika bersiap masuk kembali ke Tiongkok jika PKT tumbang.
2. Mengapa Amerika Yakin PKT Akan Tumbang?
Hudson Institute berangkat dari keyakinan bahwa runtuhnya PKT hanya soal waktu. Fokus mereka bukan pada “apakah PKT akan jatuh,” tapi “apa yang akan terjadi setelah itu?” Sebab, PKT menguasai seluruh sendi negara—pemerintahan, militer, media, hingga intelijen—semua terpusat di tangan satu partai. Jika partai itu runtuh, kekacauan besar dikhawatirkan akan terjadi: potensi kekosongan kekuasaan, munculnya panglima perang lokal, senjata nuklir tanpa pengawasan, bahkan ancaman penyebaran wabah virus ke luar negeri.
Tahapan Rencana Intervensi Amerika
A. Phase Zero: Menjelang Keruntuhan PKT
Pada tahap ini, Amerika melalui pasukan khususnya membangun jaringan dan kontak rahasia dengan para elite Tiongkok yang diprediksi akan memegang peran penting pasca-PKT—mulai dari jenderal militer, pejabat daerah, hingga pemimpin perusahaan negara. Di waktu yang sama, Amerika juga menjalankan operasi perang informasi: menggoyang legitimasi PKT, mendorong wacana “Tiongkok bukan PKT,” serta memecah kekuatan internal partai.
B. Phase One hingga Three: Operasi Lapangan di Tiga Wilayah Kunci
- Tiongkok Timur Laut (Shenyang):
Kawasan ini strategis karena merupakan pusat kekuatan militer dan fasilitas nuklir. Pasukan AS akan masuk untuk menjaga keamanan nuklir dan menstabilkan situasi. - Tiongkok Barat Daya (Chengdu):
Fokus di sini pada isu keamanan biologi (termasuk laboratorium penelitian), serta stabilitas kawasan Tibet. - Tiongkok Selatan & Delta Sungai Mutiara (Guangzhou):
Wilayah vital secara ekonomi. Pasukan khusus akan mengamankan pelabuhan, jaringan listrik, dan mencegah penjarahan atau eksodus massal.
Catatan: Pasukan yang diterjunkan ini bukan pasukan pendudukan, melainkan tim khusus beranggotakan 10–100 personel yang sangat terlatih dan dapat bergerak secara rahasia serta cepat.
C. Tugas Utama Pasukan Khusus AS
- Membantu pemerintah transisi menjaga ketertiban dan perlindungan pejabat yang sudah keluar dari PKT.
- Menjaga aset strategis: fasilitas nuklir, pusat data, pelabuhan, dan bendungan.
- Mencegah penyelundupan atau kebocoran senjata pemusnah massal.
- Membentuk zona keamanan bersama kelompok lokal anti-PKT.
- Menghalangi intervensi negara tetangga seperti Korea Utara dan Rusia.
Lebih dari Sekadar Operasi Militer: Perang Memori dan Identitas
Penulis laporan menegaskan bahwa kerusakan terbesar yang dilakukan PKT bukan hanya pada aspek ekonomi atau kekerasan politik, melainkan pada manipulasi memori sejarah dan bahasa. Dengan mengubah narasi sejarah, PKT telah mengubah identitas kolektif bangsa.
Hudson Institute meyakini bahwa pasukan khusus AS juga harus berperan mengembalikan memori yang dihapus: membantu rakyat Tiongkok membongkar sejarah kelam dan membangun narasi identitas nasional yang baru. Ini adalah kombinasi perang militer, psikologis, dan budaya.
Transisi Damai: Tantangan dan Solusi
Prinsip Dasar Transisi Damai
- PKT harus diadili, tapi Tiongkok tidak boleh terjebak dalam perang saudara.
- Pejabat lama boleh tetap bekerja, asal melepaskan afiliasi PKT, tidak melakukan kejahatan, dan siap diawasi secara hukum.
Hudson Institute menegaskan bahwa jika ingin transisi damai, tidak mungkin mengelola negara hanya dengan mengandalkan pemerintah pengasingan atau tokoh media sosial. Justru, mereka yang selama ini menjadi birokrat dan aparatur sipil harus diberi ruang untuk menjalankan tugas, asalkan mau jujur dan terbuka.
Pengungkapan Kebenaran dan Rekonsiliasi Nasional
Langkah penting lainnya adalah membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi seperti yang dilakukan Afrika Selatan. Bukan untuk membalas dendam, melainkan untuk membuka luka, mencatat korban dan pelaku secara transparan, dan menyediakan ruang bagi pengakuan kesalahan serta rekonsiliasi nasional.
Risiko, Peluang, dan Masa Depan Tiongkok Pasca-PKT
Jika skenario Hudson Institute benar-benar terjadi—pasukan AS masuk, membentuk pemerintahan sementara, dan menjaga stabilitas dalam beberapa bulan pertama—maka pertanyaan kunci yang tersisa adalah: siapa yang akan mengambil alih tanggung jawab jangka panjang? Amerika hanya “perban sementara.” Solusi sesungguhnya tetap ada pada rakyat Tiongkok sendiri: keberanian untuk membangun kepercayaan sosial baru tanpa siklus balas dendam.
Bangun Kepercayaan Baru: Pengadilan Kebenaran Adalah Awal
Pengadilan ini bukan tentang pembalasan, melainkan awal bagi rekonstruksi sosial. Jika tidak ada ruang untuk kejujuran dan pengakuan, siklus balas dendam hanya akan berulang. Tetapi jika masyarakat diberi ruang berdialog dan saling memaafkan, kepercayaan sosial bisa dibangun ulang.
Penutup: Jalan Pilihan untuk Masa Depan
Apakah rakyat Tiongkok akan memilih jalan intervensi asing, otoritarianisme baru, atau kebangkitan berbasis kejujuran dan rekonsiliasi? Laporan Hudson Institute baru membahas bab pertama, dan episode berikutnya akan membedah skenario terkait keamanan laboratorium biologis dan bagaimana Amerika mempersiapkan respons terhadap risiko terbesar pasca-kejatuhan PKT, termasuk laboratorium P4 Wuhan.
Keberanian menghadapi masa lalu dan membangun kepercayaan adalah fondasi bagi masa depan Tiongkok yang bebas dari trauma dan luka sejarah.
Kebakaran Hutan dan Lahan Melanda Aceh, Riau, Sumsel, Sumbar dan Sumut
EtIndonesia. Pada Juli 2025, peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sejumlah daerah di Indonesia antara lain di Provinsi Aceh, Riau, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Dikutip dari siaran pers Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dari ujung barat Indonesia, seluas lima hektare lahan di Desa Alur Gading, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh dilalap si jago merah pada Sabtu (19/7). Kebakaran yang diketahui pada pukul 20.49 WIB ini berhasil dipadamkan pada pukul 01.37 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa kebakaran ini. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan aparat penegak hukum.
Sementara itu, di wilayah Sumatera Selatan, titik api terdeteksi di beberapa kabupaten dan kota. Titik api ini mulai terdeksi sejak awal tahun 2025. Total titik api terdeteksi mulai Januari hingga Juli (19/7) sebanyak 2.102 hotspot.
Adapun kabupaten kota terdampak karhutla antara lain Kabupaten Ogan Ilir, penukal Abab Lematang Ilir, Lahat, Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Banyuasin, Muara Enim, dan Kota Prabumulih. Total lahan terbakar di wilayah ini mencapai 56,70 hektare.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menerjunkan satgas udara untuk membantu satgas darat dalam menanggulangi penyebaran karhutla di wilayah Provinsi Sumatera Selatan dengan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Kegiatan OMC yang dilaksanakan sejak tanggal 13 Juli telah berakhir pada 19 Juli 2025 dengan akumulasi penerbangan sebanyak delapan sorti dan menghabiskan 6.400 kilogram bahan semai natruim Klorida (NaCl).

Beralih ke Sumatera Barat. Cuaca panas di wilayah Kabupaten Tanah Datar selama beberapa hari memicu kebakaran lahan pada Sabtu (19/7) sekitar pukul 12.00 WIB. Kejadian ini mengakibatkan total 12 hektare lahan di Kecamatan Pariangan, Tanjung Emas, dan Rambatan habis dilalap api. Hingga Minggu (20/7) tim gabungan melakukan penyaluran air untuk pemadaman api yag menjalar ke area sekitarnya.


Peristiwa serupa terjadi di Kabupaten Pesisir Barat. Cuaca panas dan pembakaran ranting bekas perkebunan oleh warga ditengarai menjadi pemicu menjalarnya api hingga menyebabkan kebakaran lahan di Nagari Kapuh, Kecamatan XI Koto Tarusan, pada Sabtu (19/7).


Api berhasil dipadamkan oleh tim gabungan BPBD Kabupaten Pesisir Selatan, Babinsa TNI, Perangkat Wali Nagari, dan masyarakat. Akibat peristiwa ini, kerugian materil terdata satu hektar lahan terbakar.
Kemudian karhutla di Provinsi Riau, laporan BNPB per Sabtu, 19 Juli, saat ini telah mencapai 646,13 hektare untuk luas lahan yang terbakar. Pemadaman masih berlangsung di sejumlah titik dengan berbagai upaya seperti pengerahan tim satgas darat, satgas udara dengan helikopter water bombing, penindakan hukum bagi warga yang sengaja membakar lahan hingga penanganan dampak kesehatan. Upaya tersebut juga mendapatkan pendampingan dari BNPB.
Berdasarkan prakiraan cuaca pada dasarian ketiga bulan Juli 2025, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia terpantau mengalami penurunan.
Pada musim kemarau ini, BNPB mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap cuaca panas yang berpotensi terjadi. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran seperti pembukaan lahan dan pembakaran sampah guna menghindari kebakaran lahan. Untuk menjaga kesehatan, masyarakat diimbau untuk memakai pelindung diri dengan masker dan payung untuk melindungi diri dari polusi udara dan sengatan terik matahari. (asr)
Moskow Digempur 100 Drone Ukraina, AS Tempatkan Bom Nuklir di Inggris—Perang Makin Panas!”
EtIndonesia. Perang Rusia-Ukraina terus menampilkan babak baru yang makin sulit diprediksi. Pada Sabtu, 20 Juli 2025, Ukraina melancarkan tiga gelombang serangan drone ke arah Moskow dalam satu hari, memperlihatkan wajah baru peperangan modern: drone kini menjadi senjata utama dalam pertahanan dan penyerangan jarak jauh antarkota bahkan antarnegara.
Hujan Drone di Atas Moskow, Sistem Pertahanan Rusia Gagal Total
Pada dini hari, lebih dari 100 drone Ukraina menyerbu Moskow. Sekitar 20 di antaranya berhasil menembus sistem pertahanan udara Rusia yang dikenal sangat kuat, bahkan sempat memasuki kawasan pusat kota. Malam itu, ledakan dan sirene serangan udara meraung di seluruh Moskow, menjadi pemandangan yang diperkirakan akan semakin sering terjadi ke depan.
Rusia sebenarnya memiliki sistem pertahanan udara canggih, Pantsir S1, yang menggabungkan rudal dan meriam antipesawat. Namun pada serangan kali ini, sistem tersebut justru mengalami kegagalan tragis—salah satu rudal yang ditembakkan untuk menghalau drone malah mengenai sebuah apartemen di Moskow, menimbulkan korban dan kepanikan warga.
Tak hanya Moskow, wilayah lain seperti stasiun kereta api dekat Rostov—jalur logistik utama militer Rusia—juga menjadi sasaran. Di lokasi tersebut, ledakan besar menghancurkan fasilitas yang diibaratkan sebagai “gudang senjata” militer Rusia.
Kiev Dihantam Rudal Hipersonik Kinzhal “ Dagger”, Warga Berlindung di Stasiun Metro
Pada waktu yang hampir bersamaan, Kiev juga tidak luput dari serangan. Namun, berbeda dengan Moskow yang dihujani drone, ibu kota Ukraina itu digempur rudal hipersonik “Dagger” buatan Rusia. Satu rudal Kinzhal “Dagger” bernilai hingga 10 juta dolar AS. Rekaman warga memperlihatkan tiga rudal “Dagger” meledak hampir bersamaan di pusat kota, memicu gelombang kejut dan kepanikan massal.
Warga Kiev kembali harus tidur di stasiun metro atau tempat perlindungan darurat lain. Ironisnya, salah satu stasiun metro penuh dengan asap tebal, diduga akibat serangan langsung atau korsleting. Padahal, banyak keluarga yang berlindung di sana dan alarm serangan udara belum juga berhenti.
Pada pagi harinya, kebakaran melanda sebuah mal, sebuah taman kanak-kanak (TK) terkena dampak, dan bahkan Kedutaan Besar Azerbaijan ikut hancur—menjadikannya kedutaan asing ke-11 yang jadi korban dalam perang ini.
Setelah delapan jam serangan non-stop, tercatat satu orang tewas dan dua lainnya luka-luka di Kiev, serta sejumlah apartemen hancur akibat rudal. Jika warga tidak mendapatkan peringatan dini, jumlah korban diyakini bisa jauh lebih besar.
Amerika Serikat Tempatkan Bom Nuklir di Inggris untuk Hadapi Ancaman Putin
Di tengah eskalasi perang terbuka, langkah strategis NATO dan Amerika Serikat ikut menjadi sorotan. Dilaporkan, AS untuk pertama kalinya dalam hampir dua dekade kembali menempatkan bom nuklir taktis di Inggris. Beberapa hari terakhir, bom termonuklir tipe B61-12 yang memiliki akurasi tinggi dan daya ledak variatif (0,3 hingga 50 kiloton) dipindahkan ke Pangkalan Lakenheath, Suffolk, Inggris. Sebagai gambaran, bom atom Hiroshima “hanya” berkekuatan 15 kiloton dan menewaskan 140.000 orang—satu bom B61-12 mampu menghasilkan daya rusak tiga kali lipat lebih dahsyat.
Langkah ini diambil untuk merespons ancaman nuklir yang sering dilontarkan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Ini adalah penempatan pertama sejak tahun 2005, di mana bom-bom tersebut dipindahkan langsung dari pangkalan udara di New Mexico, Amerika Serikat.
Pernyataan Kontroversial Jenderal Amerika: NATO Siap Rebut Kaliningrad dari Rusia
Situasi memanas ketika Jenderal Christopher T. Donahue, Komandan Angkatan Darat Amerika untuk Eropa dan Afrika, secara terang-terangan menyatakan bahwa NATO mampu merebut wilayah strategis Rusia di Baltik, yaitu Kaliningrad, dalam waktu singkat jika diperlukan. Wilayah kecil yang terjepit antara Polandia dan Lituania itu memang sangat strategis bagi Rusia. Pernyataan ini memicu reaksi keras dari Moskow; Ketua Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Rusia mengancam akan menggunakan senjata nuklir jika Kaliningrad sampai diserang.
Ukraina Uji Strategi Baru, Perburuan hingga ke Benua Lain
Selain medan perang utama, Ukraina juga melakukan serangan dan operasi intelijen hingga ke luar negeri. Pada 20 Juli 2025, Mayor Jenderal Korniev—komandan Divisi Lintas Udara ke-7 Rusia yang terkenal kejam—dilaporkan meninggal secara mendadak. Versi resmi menyebut akibat serangan jantung, namun rumor yang beredar menyebutkan kemungkinan racun dari operasi intelijen Ukraina.
Di Afrika, pasukan khusus Ukraina berhasil membunuh tentara bayaran Wagner, Nescherov, yang pernah melatih petinju kelas berat Rusia dan ikut dalam invasi awal ke Ukraina. Penangkapan dan eksekusi musuh hingga ke benua lain ini dinilai sebagai bukti meningkatnya kemampuan operasi rahasia Ukraina.
Zelenskyy Puji Trump, Kritik Biden, dan Buka Program Uji Senjata Dunia
Di panggung politik, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy memberikan pujian terbuka kepada Donald Trump atas bantuan senjata miliaran dolar dan sanksi tegas terhadap Rusia, yang menurutnya lebih efektif dibanding paket bantuan Presiden Biden.
Dalam wawancara terbaru, Zelenskyy menilai Trump memiliki kapasitas untuk mengakhiri perang, dan bahkan menyampaikan anekdot menarik: selama utusan Trump, Jenderal Kellogg, berada di Kiev, kota itu tidak diserang Rusia selama dua malam berturut-turut. Dia berseloroh bahwa Kellogg sebaiknya diberikan paspor Ukraina agar Rusia tidak lagi berani menyerang Kiev.
Zelenskyy juga mengumumkan inisiatif baru bernama “Program Uji Coba Ukraina”, yang membuka pintu bagi perusahaan produsen senjata di seluruh dunia untuk menguji langsung teknologi pertahanan mutakhir mereka di medan perang nyata Ukraina-Rusia. Mulai dari sistem pertahanan udara, bom canggih, sistem perang elektronik, hingga artileri pintar, semua bisa diuji secara langsung—sebuah keuntungan besar bagi dunia industri militer sekaligus memperkuat pertahanan Ukraina.
Kesimpulan:
Perang Rusia-Ukraina kini bukan lagi sekadar bentrokan dua negara, tapi telah menjadi panggung ujian teknologi militer dan kekuatan politik global. Eskalasi serangan, penempatan bom nuklir Amerika di Inggris, manuver militer hingga perburuan musuh di luar negeri, semuanya menandai babak baru yang penuh risiko dan ketidakpastian, tidak hanya bagi kawasan, tapi juga untuk dunia internasional.
Ikan yang Membeku Selama Setahun Hidup Kembali, Wanita di Liaoning, Tiongkok Saksikan Keajaiban dan Langsung Melepasnya ke Alam
Seorang wanita di Timur Laut Tiongkok (provinsi Liaoning) mengalami sebuah kejadian ajaib: seekor ikan kecil yang telah dibekukan selama satu tahun di dalam freezer, setelah dicairkan, hidup kembali. Melihat hal itu, wanita tersebut langsung melepaskannya kembali ke sungai, sambil memuji bahwa “kehidupan itu sungguh ajaib.”
EtIndonesia. Sebuah video yang viral di media sosial Tiongkok baru-baru ini, terlihat sebuah baskom berisi air dan banyak ikan kecil.
Seorang wanita dengan logat Timur Laut menceritakan bahwa tahun lalu ia menangkap beberapa ekor “ikan Liugen” dan satu ekor “ikan laotou (kakek),” lalu membekukannya di freezer selama musim dingin — dan kini ternyata ikannya masih hidup.
Ia berkata: “Sama saja dengan sudah beku setahun, saya tangkapnya musim panas tahun lalu.”
Dalam video, wanita itu menyentuh salah satu ikan kecil berbintik gelap di baskom. Ikan itu bergerak, dan wanita tersebut berseru: “Hidup! Ikan kakek hidup!” Ia lalu mengangkat ikan itu dan meletakkannya di atas jarinya, dan ikan tersebut terlihat menggerakkan ekor dan tubuhnya dengan lincah.
Wanita itu berkata: “Saya harus melepasnya ke alam.” Ia membawa ikan itu ke tepi sungai sambil berkata, “Biarlah ia hidup dengan bahagia,” dan melepaskan ikan itu ke dalam air, yang kemudian berenang dengan lincah — tampak begitu bahagia.
Wanita itu juga menjelaskan bahwa ia menangkap ikan-ikan tersebut menggunakan perangkap dasar tahun lalu, dan dari semua ikan Liugen yang ia simpan, hanya ikan laotou yang hidup kembali. Ia berkata, “Benar-benar keajaiban kehidupan.”
Menurut data publik, ikan yang disebut sebagai “ikan laotou (kakek)” di timur laut Tiongkok, juga dikenal sebagai shan pangtou, sha gu luzi, atau “ikan kebangkitan kembali”, memiliki nama ilmiah Perccottus glehni, termasuk ordo Perciformes. Dalam bahasa Inggris disebut Perch Sleeper.
Ciri fisiknya adalah kepala lebar dan pipih, warna tubuh cokelat gelap berbintik, dan pergerakannya lamban. Ikan ini menyukai habitat perairan tenang di anak sungai kecil, tidak aktif, tidak berenang jauh, dan tahan terhadap kondisi kekurangan oksigen. Berkat struktur insangnya yang unik, ikan ini dapat bertahan hidup bahkan dalam kondisi kekurangan oksigen ekstrem.
Kemampuannya bertahan di musim dingin juga sangat kuat — ia dapat berhibernasi di dalam lumpur dasar sungai dan hampir tidak bergerak, bahkan dalam kubangan dangkal yang membeku pun bisa selamat hingga musim semi. Oleh karena itu, ikan ini dikenal juga sebagai “ikan kebangkitan kembali” dan terutama ditemukan di sistem sungai Heilongjiang, Tumen, dan Liao.
Di kalangan masyarakat Timur Laut Tiongkok beredar pepatah: “Ikan laotou tidak bisa mati karena beku.” Saat musim dingin dan air sungai membeku, ikan ini bisa ikut membeku dalam es, dan saat musim semi tiba dan es mencair, ikan ini dapat hidup kembali.
Namun, beberapa warganet juga menyatakan keraguan terhadap video tersebut, menulis komentar seperti: “Palsu, ah,” atau “Nggak mungkin.” (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com
Permukaan Tanah di Banyak Wilayah Tiongkok Capai Lebih dari 80℃, Pipa Air Meledak karena Panas
Etindonesia. Sejak Juli, cuaca panas ekstrem melanda lebih dari 20 provinsi di Tiongkok, dengan suhu terasa di beberapa tempat melampaui 45℃. Banyak warganet melaporkan bahwa suhu permukaan tanah di daerah mereka mencapai lebih dari 80℃.
Menurut catatan resmi pemerintah Tiongkok, pada 15 Juli, Stasiun Gunung Fenghuang di Gongyi, Zhengzhou, Henan mencatat suhu udara mencapai 44,2℃, dan 94 stasiun cuaca di seluruh provinsi mencatat suhu di atas 40℃.
Pada 18 Juli, warga dari berbagai daerah di Henan membagikan video yang menunjukkan jendela rumah mereka retak karena panas, serta suhu permukaan tanah mencapai lebih dari 70℃. Beberapa warganet bahkan menyebutkan bahwa suhu permukaan tanah di Henan sudah melewati 85℃.
Di Chongqing, seorang pembuat konten mengunggah video yang menunjukkan suhu udara di Distrik Banan mencapai 42℃, dengan suhu permukaan tanah mencapai 86℃ — hingga bisa menggoreng telur tanpa api.
Panas ekstrem di Henan bukan hanya membunuh nyamuk, meledakkan jalan, dan memecahkan jendela rumah — bahkan membuat pipa air ledeng meledak.
Pada 16 Juli, sejumlah warganet mengunggah video yang memperlihatkan ledakan pipa air di Kota Xinyang, Provinsi Henan, yang menyemburkan air setinggi tiga hingga empat meter, hingga membuat jalanan tergenang seperti danau. Beberapa kendaraan terendam dan pasokan air di beberapa kompleks perumahan pun terputus.
Pihak layanan pelanggan perusahaan air setempat mengatakan bahwa ledakan pipa air “terkait dengan suhu tinggi”. Salah satu warga mengeluh bahwa terkena pemadaman air saat cuaca panas adalah hal yang menyebalkan. Seorang warganet bertanya: “Tidak ada proyek konstruksi, kenapa bisa meledak?” Warganet lain menjawab: “Panas sampai meledak.”
Panas ekstrem di Henan juga disertai kekeringan. Beberapa daerah tidak memiliki air untuk menyiram tanaman, sehingga jagung mengering dan mati. Seorang warga Desa Xinyang bermarga Gao mengatakan bahwa sungai di depan rumahnya telah kering total. Ada juga petani yang meninggal dunia karena kepanasan saat bekerja di ladang, sehingga kini penyiraman ladang baru dilakukan setelah pukul 19.00 malam.
Pada 18 Juli, seorang blogger dari Henan mengunggah video yang menggambarkan betapa tanah dibakar oleh panas, kekeringan dan kurang hujan membuat orang putus asa, tanaman layu, sungai menyusut, dan udara pun terasa seperti terbakar.
Blogger lain mengungkapkan bahwa Henan bukan hanya panas, tapi juga sangat kering sampai tidak ada air untuk diminum — sumur rumah warga pun kering, dan akses air bersih menjadi masalah besar.
Selain Henan, Provinsi Anhui juga mengalami gelombang panas dan kekeringan selama berhari-hari. Video pada 18 Juli menunjukkan tanaman di ladang hampir mati kekeringan, dan petani yang terus menyiram ladang menangis histeris karena keputusasaan.
Pada 17 Juli, seorang warga bermarga Luo dari Henan mengatakan kepada reporter Epoch Times bahwa keluarganya di Xinyang mengalami cuaca yang sangat panas, bahkan dua orang meninggal dunia: satu orang meninggal di dalam kota, satu lagi di pinggiran — yang terakhir adalah orang lanjut usia yang masih bekerja di ladang saat tengah hari, lalu pingsan karena panas dan saat ditemukan oleh warga yang lewat, sudah tidak bernapas.
Selain itu, Rumah Sakit Pencegahan Penyakit Akibat Kerja di Wuhan, Provinsi Hubei, juga mengumumkan bahwa sejauh ini telah ada 155 pasien yang dirawat karena heatstroke (sengatan panas) dan 5 di antaranya meninggal dunia. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com
Pertempuran Sektarian Tujuh Hari di Sweida, Suriah: Korban Tewas Naik Jadi 1.115 Orang
EtIndonesia. Meskipun gencatan senjata yang diumumkan pada 19 Juli tampaknya masih berlaku hingga sekarang, sebuah lembaga pemantau pada 20 Juli melaporkan bahwa jumlah korban tewas akibat kekerasan di Provinsi Sweida, wilayah inti komunitas minoritas Druze di Suriah, telah meningkat menjadi 1.115 orang sejak akhir pekan lalu — naik hampir 200 orang dibandingkan hari sebelumnya.
Menurut laporan AFP, Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) menyebutkan bahwa dari jumlah korban tewas:
- 427 adalah pejuang Druze
- 298 warga sipil Druze, termasuk 194 orang yang dieksekusi secara semena-mena oleh personel dari Kementerian Pertahanan dan Dalam Negeri Suriah
Pada 19 Juli 2025, kelompok bersenjata klan Badui dan suku-suku bersenjata lainnya masih bertempur dengan milisi Druze di kota Sweida, Suriah Selatan, bahkan terlihat mengevakuasi rekannya yang terluka dari medan tempur.
Pada hari yang sama, foto menunjukkan mayat bergelimpangan di tepi jalan di bagian utara kota Sweida, wilayah yang mayoritas dihuni komunitas Druze.
Menurut observatorium tersebut, 354 personel keamanan pemerintah dan 21 warga klan Badui juga termasuk di antara korban tewas — tiga di antaranya warga sipil yang dieksekusi oleh milisi Druze. Selain itu, 15 tentara pemerintah tewas akibat tembakan artileri Israel.
Korban tewas naik 204 orang dibandingkan hari sebelumnya, terdiri dari:
- +101 milisi Druze
- +36 warga sipil Druze
- +42 personel keamanan pemerintah
Sebelumnya, meskipun pemerintah Suriah telah mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan mediasi Amerika Serikat guna mencegah campur tangan militer lebih lanjut dari Israel, kelompok bersenjata Badui dan sekutunya tetap melanjutkan pertempuran sengit melawan milisi Druze di pusat kota Sweida selama tujuh hari berturut-turut.
Syrian Observatory melaporkan bahwa sejak tengah malam (pukul 21:00 GMT, 19 Juli), kota Sweida berada dalam keadaan tenang namun waspada. Pemerintah Suriah pun menutup semua jalan menuju provinsi tersebut untuk mencegah masuknya milisi suku bersenjata ke wilayah itu.
Komunitas Druze dan klan Arab Badui memiliki sejarah permusuhan lama. Bahkan, perjanjian damai sebelumnya gagal meredakan ketegangan — sebaliknya justru memperburuk konflik, yang kini turut melibatkan pemerintah Suriah yang dipimpin oleh kelompok Islamis, militer Israel, serta kelompok suku bersenjata dari wilayah Suriah lainnya.
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) yang berada di bawah naungan PBB menyatakan bahwa lebih dari 128.000 orang telah mengungsi dari Provinsi Sweida akibat kekerasan ini.
Foto udara yang diambil pada 19 Juli memperlihatkan kondisi jalanan kota Sweida yang dipenuhi oleh milisi suku bersenjata, Badui dan pejuang Druze yang terlibat baku tembak, bahkan terlihat mayat tergeletak di jalan.
Pada 20 Juli, milisi suku berdiri di samping pos pemeriksaan militer pemerintah di kota Busra al-Harir, sebelah timur Sweida — pos tersebut didirikan untuk mencegah mereka masuk lebih jauh ke dalam kota.
Pada hari yang sama, sebuah foto udara menunjukkan iring-iringan kendaraan Bulan Sabit Merah Suriah yang mengangkut bantuan kemanusiaan dari Pemerintah Sementara Suriah melintasi kota Busra al-Sham menuju Sweida, tempat komunitas Druze bertahan. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com
Hujan Lebat Ekstrem Melanda Korea Selatan: 18 Tewas, 9 Hilang dan 14 Ribu Orang Mengungsi
Etindonesia. Kementerian Administrasi dan Keamanan Korea Selatan pada Senin (21/7/2025) menyatakan bahwa sebanyak 4 orang lagi ditemukan tewas akibat hujan deras, sehingga total korban meninggal dalam pekan ini mencapai 18 orang, dengan 9 orang lainnya masih hilang. Karena operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung, jumlah korban diperkirakan masih bisa berubah.
Menurut laporan Yonhap News Agency, berdasarkan wilayah:
- Korban tewas:
- 10 orang di Sancheong, Gyeongsang Selatan
- 2 orang di Gapyeong, Gyeonggi-do
- 2 orang di Seosan, Chungcheong Selatan
- masing-masing 1 orang di Osan dan Pocheon (Gyeonggi-do), Dangjin (Chungcheong Selatan), dan Distrik Buk-gu, Gwangju
- 10 orang di Sancheong, Gyeongsang Selatan
- Korban hilang:
- 4 orang di Gapyeong
- 4 orang di Sancheong
- 1 orang di Distrik Buk-gu, Gwangju
- 4 orang di Gapyeong
Hujan ekstrem ini juga menyebabkan evakuasi sebanyak 14.166 orang dari 9.887 rumah di 15 provinsi dan kota.
Hingga 20 Juli pukul 18.00, pemerintah menerima 1.999 laporan kerusakan fasilitas publik dan 2.238 laporan kerusakan fasilitas pribadi.
Pemerintah Korea Selatan pada 20 Juli pukul 18.00 menurunkan status peringatan krisis hujan deras dari “parah” menjadi “waspada”, sekaligus mencabut laporan darurat dan laporan awal khusus terkait hujan lebat. Status darurat yang ditetapkan oleh Markas Penanggulangan Bencana dan Keselamatan Pusat kini telah dicabut, setelah berlangsung sekitar tiga hari.
Sementara itu, Kementerian Pertanian, Pangan dan Pedesaan Korea Selatan menyatakan bahwa hujan lebat telah menyebabkan 870.000 ekor unggas mati dan lebih dari 20.000 hektare lahan pertanian rusak. Salah satu daerah yang paling parah terdampak adalah Boeun, Chungcheong Selatan, di mana para petani melon dan semangka merugi besar karena pedagang enggan membeli semangka yang sudah tergenang air. (Hui/asr)
Sumber ; NTDTV.com
Putin & Trump Bakal Bertemu Diam-diam di Beijing? Ini Ancaman Baru AS untuk Rusia, Tiongkok, dan Dunia!
EtIndonesia. Situasi geopolitik internasional kian dinamis setelah Pemerintah Rusia secara resmi menyatakan kemungkinan pertemuan antara Presiden Vladimir Putin dan Presiden AS, Donald Trump, di Beijing pada bulan September mendatang. Pernyataan ini disampaikan oleh juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, yang mengonfirmasi bahwa Putin akan menghadiri peringatan kemenangan Perang Dunia II serta parade militer di Tiongkok pada 3 September. Bila Trump hadir di Beijing pada waktu yang sama, Kremlin tidak menutup peluang terjadinya dialog tingkat tinggi antara kedua tokoh penting dunia tersebut.
Namun di tengah potensi pertemuan besar ini, muncul insiden diplomatik baru yang menambah ketegangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Seorang warga negara AS keturunan Tionghoa, yang bekerja di Departemen Perdagangan Amerika, dikabarkan telah dicekal dan dilarang meninggalkan Tiongkok selama berbulan-bulan.
Menurut laporan Washington Post, pria yang juga merupakan mantan tentara Angkatan Darat AS itu telah ditahan sejak April lalu di Chengdu saat tengah mengunjungi kerabatnya. Otoritas Tiongkok menuduhnya terlibat aktivitas yang “mengancam keamanan nasional”.
Pemerintah AS langsung bergerak cepat. Melalui pernyataan resmi Kedutaan Besar AS di Beijing, ditegaskan bahwa “perlindungan terhadap warga negara Amerika di luar negeri adalah prioritas utama.”
Pemerintah AS juga mengirimkan nota diplomatik mendesak kepada Beijing, menuntut agar pria tersebut segera diizinkan pulang. Tindakan penahanan tanpa proses yang jelas ini dinilai sebagai langkah sewenang-wenang yang berpotensi memperburuk hubungan bilateral antara kedua negara adidaya.
Ultimatum dan Tekanan Baru dari Trump
Sementara itu, Trump kembali mengambil langkah tegas terhadap Rusia. Dia memberi ultimatum kepada Moskow agar dalam waktu 50 hari ke depan mampu mencapai kesepakatan damai dengan Kiev. Jika tidak, Trump mengancam akan memberlakukan tarif baru terhadap Rusia dan negara-negara mitra dagangnya. Batas waktu ini bertepatan dengan parade militer besar Tiongkok pada 3 September, yang juga akan dihadiri Putin.
Senada dengan sikap keras tersebut, Ketua Komite Anggaran Senat AS, Lindsey Graham, menegaskan bahwa negara-negara besar seperti Tiongkok, India, dan Brasil akan dikenai tarif hingga 100% jika terus membeli minyak murah dari Rusia.
“Putin bisa saja bertahan dari sanksi, tapi jika negara-negara ini tetap membeli minyak murah dari Rusia dan memperpanjang perang, kami tidak segan-segan menghancurkan perekonomian mereka,” tegas Graham.
Data menunjukkan bahwa Tiongkok, India, dan Brasil kini menyerap sekitar 80% ekspor minyak Rusia, yang menjadi sumber utama pendanaan mesin perang Moskow di Ukraina. Trump sendiri diyakini punya beberapa opsi strategis, seperti membujuk India untuk menghentikan impor minyak Rusia sekaligus meminta Arab Saudi meningkatkan produksi demi menstabilkan harga minyak dunia jika pasokan Rusia terhambat.
Kondisi Ekonomi Rusia Kian Tertekan
Krisis ekonomi di Rusia semakin nyata. Negara tersebut kini menghadapi defisit anggaran yang terus membengkak, pertumbuhan ekonomi yang melambat, lonjakan kredit macet, dan inflasi yang tinggi. Sanksi ekonomi internasional berdampak serius pada berbagai sektor vital, termasuk keuangan, energi, hingga penerbangan. Rubel terdepresiasi tajam, ekspor minyak dan gas anjlok, dan industri penerbangan nasional bahkan terancam kolaps.
Azerbaijan dan Armenia Berbalik Mendukung Ukraina
Dinamika lain yang patut diperhatikan adalah sikap dua negara Kaukasus, Azerbaijan dan Armenia, yang kini semakin menjauh dari pengaruh Rusia. Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev, secara terbuka menyatakan dukungan pada Ukraina dan berkomitmen melawan intervensi Rusia. Media Rusia bahkan menuduh agen-agen Azerbaijan yang bermukim di Rusia turut membantu Ukraina dalam melancarkan serangan terhadap Angkatan Udara Rusia.
Mantan Wakil Menteri Dalam Negeri Ukraina, Anton Gerashchenko, menulis di media sosial: “Azerbaijan siap mendukung Ukraina. Jangan pernah menerima nasib sebagai wilayah pendudukan Rusia.”
Azerbaijan kini tengah menyiapkan gugatan internasional terhadap Rusia terkait insiden Kekhchikilo, menandai semakin kuatnya perlawanan negara-negara bekas Uni Soviet terhadap hegemoni Moskow.
Walau Rusia sempat melontarkan ancaman tindakan militer, pada kenyataannya, Moskow kini tidak lagi memiliki kekuatan ekonomi maupun militer untuk melakukan intervensi langsung ke negara-negara tersebut. Jika Rusia nekat menyerang Azerbaijan, hal ini justru akan memperkeruh hubungannya dengan Turki, sekutu utama Baku.
Strategi Trump: Koalisi Global Hadapi Rusia
Trump diprediksi akan fokus membangun koalisi dengan India, Turki, serta negara-negara teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Melalui diplomasi personal yang selama ini menjadi kekuatannya, Trump berupaya meyakinkan India dan Turki agar menghentikan pembelian minyak Rusia. Dengan dukungan Arab Saudi dan UEA yang memiliki cadangan produksi minyak besar, suplai minyak dunia tetap terjaga meski ekspor Rusia berkurang drastis.
Selain upaya memutus pendanaan perang Moskow, Trump juga menjanjikan tambahan bantuan senjata untuk Ukraina dengan syarat negara-negara Eropa ikut berbagi beban pembiayaan. Sumber dana bantuan ini diyakini bisa berasal dari aset Rusia senilai 300 miliar dolar yang kini dibekukan di luar negeri.
Hasil Perang dan Biaya Kemanusiaan
Menurut data yang dipublikasikan akun media sosial “老司机”, setelah lebih dari tiga tahun perang Rusia-Ukraina, wilayah yang berhasil dikuasai Rusia hanya bertambah 0,53%. Untuk sepotong tanah yang bahkan tidak sampai 1%, lebih dari sejuta orang telah menjadi korban jiwa atau luka, ekonomi dan keuangan Rusia hancur, ekspor energi anjlok, nilai tukar rubel rontok, dan negeri itu kini menjadi sasaran utama sanksi internasional.
Tak hanya itu, industri penerbangan Rusia juga mengalami keruntuhan, menjadi bukti nyata bahwa perang berkepanjangan membawa dampak kerusakan masif yang tak sebanding dengan hasil yang didapatkan.
Abaikan Hukum Internasional, Rezim PKT Bangun Bendungan Raksasa di Sungai Yarlung Tsangpo
Mengabaikan keberatan dari India dan Bangladesh yang khawatir proyek bendungan raksasa baru akan mempengaruhi kondisi hidrologi kawasan, pemerintahan Partai Komunis Tiongkok (PKT) baru-baru ini mengumumkan bahwa proyek pembangkit listrik tenaga air di bagian hilir Sungai Yarlung Tsangpo (dikenal sebagai Brahmaputra di India) telah resmi dimulai. Publik khawatir proyek ini tidak hanya memicu konflik diplomatik, tetapi juga berisiko besar seperti proyek Bendungan Tiga Ngarai (Three Gorges Dam).
EtIndonesia. Pada 19 Juli, Perdana Menteri partai Komunis Tiongkok Li Qiang menghadiri upacara peletakan batu pertama proyek pembangkit listrik tenaga air Sungai Yarlung Tsangpo di Nyingchi, Tibet. Ini secara resmi mengumumkan dimulainya pembangunan.
Media pemerintah PKT melaporkan bahwa proyek ini akan mengandalkan metode pemotongan tikungan sungai dan pengalihan aliran melalui terowongan, serta membangun lima bendungan bertingkat. Total investasi diperkirakan sekitar 1,2 triliun yuan (sekitar 2.600 triliun rupiah). Listrik yang dihasilkan utamanya akan disalurkan ke wilayah lain di Tiongkok, dan sebagian kecil untuk kebutuhan lokal di Tibet.
Sebelumnya, media Hong Kong melaporkan bahwa India dan Bangladesh—yang berada di hilir Sungai Yarlung Tsangpo—telah menyatakan penolakan terhadap proyek ini.

“Pembangunan bendungan dapat merusak lingkungan alam, terutama di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet. Menurut hukum internasional, sungai lintas negara tidak boleh dialirkan atau ditahan melebihi 40% volume airnya. Namun, demi memenuhi kebutuhan listriknya sendiri, Tiongkok tetap nekat membangun proyek raksasa ini,” ujar Shen Mingshi, peneliti di Institut Penelitian Keamanan Nasional Taiwan.
Shen menjelaskan bahwa proyek ini sempat tertunda lama karena penolakan dari negara-negara tetangga. Fakta bahwa proyek ini kini dimulai menunjukkan bahwa kebutuhan listrik Tiongkok sudah sangat mendesak, sehingga mereka mengabaikan kritik internasional dan aturan perlindungan lingkungan demi membangun pembangkit listrik tersebut.
“Rezim PKT hanya peduli pada keuntungan jangka pendek dan tidak memiliki perencanaan jangka panjang. Banyak proyek raksasa seperti ini didorong oleh departemen pemerintah yang berharap mendapatkan anggaran besar, seperti dulu saat pembangunan Bendungan Tiga Ngarai—meski banyak suara penolakan. Bagi elit partai, proyek besar = peluang besar untuk korupsi,” kata Li Yuanhua, mantan dosen di Universitas Normal Ibu Kota (Beijing).
Li menambahkan, proyek besar semacam ini sering kali dijalankan karena ambisi otoriter pemimpin tertinggi dan kepentingan korupsi para pejabat tingkat menengah dan atas. Soal dampaknya bagi masyarakat dan masa depan, tidak jadi pertimbangan mereka.
Parlemen Tiongkok (PKT) sudah mengumumkan rencana pembangunan “super bendungan” di wilayah perbatasan Tiongkok-India pada Maret 2021, dan proyek ini disetujui pada Desember 2024.
Dari estimasi volume dan skalanya, proyek bendungan ini diperkirakan akan menghasilkan 300 miliar kilowatt-jam listrik per tahun, lebih dari tiga kali kapasitas tahunan Bendungan Tiga Ngarai.
Shen Mingshi menyatakan: “Proyek seperti ini menyimpan risiko besar, sebagaimana Bendungan Tiga Ngarai. Banyak ahli mencatat, meskipun bendungan itu tampaknya menyimpan air dan menghasilkan listrik dalam jumlah besar, kenyataannya efisiensinya jauh di bawah harapan semula.”
Faktanya, Bendungan Tiga Ngarai tidak pernah mencapai separuh kapasitas produksi yang dijanjikan. Selain itu, proyek ini menimbulkan masalah besar relokasi penduduk, dan bahkan setelah gempa Sichuan pada 2008, ada spekulasi bahwa konstruksi bendungan berkontribusi pada bencana tersebut.
Ahli sumber daya air Tiongkok di Jerman, Wang Weiluo, pernah menulis pada tahun 2021 bahwa proyek ini melanggar aturan kawasan konservasi alam Tiongkok sendiri, dan menyebut pembangunan ini sebagai ekspresi nasionalisme ekstrem oleh rezim PKT.
Tahun 2023, pakar strategi India dan kolumnis Brahma Chellaney menulis di Nikkei Asia bahwa lokasi bendungan ini berada di zona patahan antara lempeng India dan Eurasia, yang tergolong wilayah paling berbahaya di dunia. Ia menyebut proyek ini sebagai “bom air waktu” yang bisa menyebabkan bencana tak terpulihkan.
Washington Post juga melaporkan pada Desember lalu bahwa pembangunan proyek ini berisiko memicu kembali konflik perbatasan antara Tiongkok dan India.
Li Yuanhua menjelaskan lebih lanjut: “Kalau kamu memotong aliran sungai utama, itu seperti memutus aliran darah tubuh manusia. Rantai ekologi dan sistem iklim akan terganggu besar-besaran. Banyak ahli telah mengingatkan soal ini.”
Li menegaskan bahwa membangun bendungan raksasa tanpa memahami struktur geologi lokal sangat berbahaya. Selain kerusakan ekosistem dan risiko bencana geologi, akibatnya bisa bersifat permanen. Negara-negara maju bahkan mulai meninggalkan pembangunan proyek bendungan raksasa karena dampaknya terlalu merugikan.
Shen Mingshi menekankan bahwa Sungai Yarlung Tsangpo adalah sungai lintas negara. Jika terjadi masalah teknis, dampaknya akan berskala internasional dan bisa memicu konflik diplomatik besar dengan negara tetangga seperti India dan Bangladesh. (Hui/asr)
Song Feng | Luo Ya | Gao Yu – NTDTV.com
