Netanyahu Menominasikan Trump untuk Hadiah Nobel Perdamaian Dunia

Perdana Menteri Israel menyerahkan surat nominasi kepada Presiden AS dalam pertemuan pertama mereka setelah serangan udara AS terhadap situs nuklir Iran.

EtIndonesia. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada  Senin (7/6) menyerahkan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebuah surat yang menominasikannya untuk Hadiah Nobel Perdamaian Dunia, dalam sebuah pertemuan di Gedung Putih.

Netanyahu berada di Gedung Putih untuk mengadakan pembicaraan dengan Trump mengenai situasi di Timur Tengah, termasuk upaya mencapai perdamaian dengan Iran dan mengamankan kesepakatan gencatan senjata guna mengakhiri perang di Gaza.

“Dia (Trump) sedang membangun perdamaian, saat ini juga, dari satu negara ke negara lain, dari satu kawasan ke kawasan lain. Jadi saya ingin menyerahkan kepada Anda, Tuan Presiden, surat yang saya kirimkan kepada Komite Nobel,” kata pemimpin Israel itu saat menyerahkan surat tersebut kepada Trump. “Isinya adalah pencalonan Anda untuk Hadiah Perdamaian, yang sangat layak Anda terima, dan Anda seharusnya mendapatkannya.”

Trump menerima surat tersebut dan menanggapi, “Saya tidak tahu soal ini. Wow, terima kasih banyak. Terutama datang dari Anda, ini sangat berarti.”

Ini adalah pertemuan ketiga antara kedua pemimpin tersebut tahun ini, dan yang pertama sejak pasukan AS melancarkan serangan udara terhadap tiga situs nuklir Iran bulan lalu, di tengah saling serang rudal antara Israel dan Iran yang bertujuan untuk melumpuhkan kemampuan nuklir Iran. Amerika Serikat telah menjadi penengah dalam mencapai gencatan senjata antara Israel dan Iran setelah serangan tersebut.

Dalam pertemuan itu, Netanyahu juga memuji Trump atas perannya dalam membentuk Abraham Accords, yang bertujuan untuk menormalisasi hubungan antara Israel dengan negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan Maroko.

Trump telah mendorong penghentian permusuhan antara Israel dan kelompok teroris Hamas. Kedua pihak telah berperang sejak Hamas meluncurkan serangan mendadak ke Israel selatan pada 7 Oktober 2023.

Pemerintahan Trump telah mengusulkan kesepakatan gencatan senjata yang dapat membuka jalan bagi jeda perang selama 60 hari dan pembebasan para sandera yang ditahan oleh Hamas, setelah sebelumnya terjadi gencatan senjata selama enam minggu yang berakhir pada bulan Maret.

Kesepakatan tersebut telah didukung oleh Israel, namun Hamas belum menyetujuinya. Trump sebelumnya mengatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas bisa saja tercapai minggu ini.

Bulan lalu, pemerintah Pakistan mengumumkan bahwa mereka juga menominasikan Trump untuk Hadiah Nobel Perdamaian, dengan alasan perannya dalam mencegah konfrontasi besar antara India dan Pakistan.

Ketegangan meningkat antara kedua negara tersebut setelah pembantaian teroris terhadap 26 wisatawan India di dekat Pahalgam di wilayah Kashmir yang dikuasai India pada 22 April. India menuduh Pakistan mendukung para teroris, tuduhan yang dibantah oleh Pakistan.

Kedua negara akhirnya menyetujui gencatan senjata pada 10 Mei, dengan Pakistan memberikan kredit kepada Trump atas “intervensi diplomatik yang tegas dan kepemimpinan yang menentukan selama krisis India–Pakistan baru-baru ini.”

India menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut merupakan hasil dari pembicaraan antara militer India dan Pakistan.

Trump mengatakan kepada wartawan pada 12 Mei bahwa ia mengancam akan mencabut seluruh perdagangan AS dengan India dan Pakistan jika mereka tidak menghentikan pertempuran. (asr)

Emel Akan dan Chris Summers berkontribusi dalam laporan ini.

Trump Menjamu Netanyahu di Gedung Putih di Tengah Upaya Gencatan Senjata Gaza dan Kesepakatan Damai dengan Iran

Kedua pemimpin bertemu untuk ketiga kalinya pada tahun ini saat Amerika Serikat berupaya menjadi penengah dalam kesepakatan sandera dan gencatan senjata antara Israel dan Hamas.

EtIndonesia. WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyambut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih pada  7 Juli 2025. Mereka bertemu dalam jamuan makan malam yang berfokus pada pencapaian perdamaian permanen dengan Iran, mengamankan gencatan senjata di Gaza, dan memperluas Abraham Accords.

Di awal pertemuan, Netanyahu menyerahkan kepada Trump salinan surat yang ia kirimkan kepada Komite Nobel yang menominasikan Presiden AS untuk Hadiah Perdamaian, sambil mengatakan bahwa penghargaan tersebut “sangat layak” diterima Trump.

Sebagai tanggapan, Trump berkata, “Saya tidak tahu soal ini. Wow, terima kasih banyak. Terutama datang dari Anda, ini sangat berarti.”

Ini adalah pertemuan ketiga antara Trump dan Netanyahu tahun ini dan berlangsung saat Amerika Serikat berusaha menjadi perantara dalam kesepakatan pertukaran sandera sebagai bagian dari gencatan senjata antara Israel dan Hamas.

Diperkirakan lebih dari 50 sandera masih berada di Gaza. Sebelum bertolak ke Washington, Netanyahu mengatakan bahwa 20 dari mereka masih hidup.

“Prioritas utama presiden saat ini di Timur Tengah adalah mengakhiri perang di Gaza dan memulangkan semua sandera,” kata juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt kepada wartawan pada 7 Juli sebelum pertemuan berlangsung.

Usulan gencatan senjata terbaru yang ditengahi AS dan didukung oleh Israel baru-baru ini telah disampaikan kepada Hamas melalui para mediator, namun kelompok teroris tersebut belum menerima tawaran itu.

“Saya pikir kita sudah dekat dengan kesepakatan soal Gaza. Bisa jadi tercapai minggu ini,” kata Trump kepada wartawan pada 6 Juli. “Saya pikir ada peluang besar kita mencapai kesepakatan dengan Hamas minggu ini terkait cukup banyak sandera.”

Dalam pertemuan tersebut, Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, menyuarakan optimisme meskipun ada laporan terbaru mengenai tentara Israel yang tewas dalam penyergapan.

“Kita punya peluang untuk akhirnya mendapatkan kesepakatan damai, Tuan Perdana Menteri, seperti yang telah kita diskusikan, dan saya berharap itu bisa segera terwujud,” kata Witkoff.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan relokasi warga Palestina, Netanyahu menjawab, “Itu disebut pilihan bebas. Jika mereka ingin tetap tinggal, mereka boleh tinggal, tetapi jika mereka ingin pergi, mereka seharusnya bisa pergi. Ini tidak boleh menjadi penjara.”

Ia menambahkan bahwa Israel bekerja sama secara erat dengan Amerika Serikat untuk mencari negara-negara yang bersedia menawarkan masa depan yang lebih baik bagi warga Palestina.

“Kami hampir menemukan beberapa negara,” katanya.

Trump menambahkan bahwa ia telah menerima “kerja sama yang luar biasa” dari sejumlah negara di kawasan tersebut, seraya mengatakan, “Sesuatu yang baik akan terjadi.”

Gencatan senjata terakhir runtuh pada 18 Maret karena ketidaksepakatan terkait implementasi fase kedua, yang dimaksudkan untuk mengakhiri perang dan membebaskan semua sandera yang tersisa.

“Kami sedang berupaya untuk mewujudkan kesepakatan yang sedang dibicarakan ini,” kata Netanyahu kepada wartawan sebelum berangkat dari Israel pada 6 Juli. Ia mengatakan bahwa Trump “pasti dapat membantu mendorong tercapainya hasil ini, yang kita semua harapkan.”


Kesepakatan Damai dengan Iran

Pertemuan ini berlangsung beberapa minggu setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap fasilitas nuklir Iran di Fordow, Isfahan, dan Natanz. Setelah serangan tersebut, Amerika Serikat menjadi penengah dalam gencatan senjata antara Israel dan Iran.

Trump mengatakan kepada wartawan pada 6 Juli bahwa pemerintahannya sedang “mengupayakan banyak hal,” salah satunya adalah “kesepakatan permanen dengan Iran.”

Ia menyatakan bahwa perjanjian damai hanya bisa dicapai jika Iran meninggalkan ambisi nuklirnya. Ia mengatakan bahwa serangan AS terhadap situs nuklir Iran telah menyebabkan “penghancuran total” dan bahwa Iran harus “memulai dari awal lagi di lokasi yang berbeda.”

“Kami telah menjadwalkan pembicaraan dengan Iran, dan mereka ingin berbicara,” kata Trump saat pertemuan dengan Netanyahu, sambil menyinggung serangan AS terhadap tiga situs nuklir yang memicu gencatan senjata.

“Mereka ingin mencari solusi. Mereka sekarang sangat berbeda dibanding dua minggu lalu.”

Menurut Allison Minor, direktur Atlantic Council’s N7 Research Institute, Trump berupaya mengubah momentum gencatan senjata menjadi stabilitas yang lebih permanen di kawasan.

“Setelah gencatan senjata dengan Iran, Trump dan Netanyahu punya peluang untuk mengembalikan Abraham Accords ke jalurnya,” tulis Minor dalam sebuah laporan terbaru. “Jika Trump berhasil mengamankan gencatan senjata baru di Gaza, momentum ini hanya akan semakin besar.”

Abraham Accords, yang ditengahi oleh Trump pada 2020, menormalisasi hubungan antara Israel dan negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan Maroko.

Trump ingin agar Suriah menjadi salah satu negara berikutnya yang bergabung dalam perjanjian tersebut.

Minor menyatakan bahwa saat ini adalah momen bersejarah untuk membentuk kembali hubungan antara Suriah dan Israel, terutama setelah keputusan Trump untuk mencabut sanksi jangka panjang terhadap Suriah.

Pada 7 Juli, Trump juga mencabut penetapan organisasi teroris asing terhadap Hay’at Tahrir al-Sham. Kelompok yang dipimpin oleh Ahmed al-Sharaa ini merebut kekuasaan pada bulan Desember setelah menggulingkan Presiden Suriah saat itu, Bashar al-Assad, setelah bertahun-tahun perang saudara. Al-Sharaa kini menjabat sebagai Presiden Suriah.

Upaya Netanyahu untuk menormalisasi hubungan dengan Arab Saudi tampaknya masih tertahan, setidaknya hingga konflik Israel–Hamas terselesaikan.

Pihak Saudi menuntut adanya jalur yang jelas menuju pembentukan negara Palestina sebelum mereka bersedia menormalisasi hubungan dengan Israel. Pemerintahan Trump dalam beberapa kesempatan menolak untuk memastikan apakah solusi dua negara masih menjadi kebijakan resmi luar negeri AS.

Ketika ditanya mengenai solusi dua negara dalam pertemuan tersebut, Trump menyerahkan pertanyaan itu kepada Netanyahu.

“Anda punya orang terbaik di dunia untuk menjawab pertanyaan klasik itu,” ujar Trump sambil bergurau.

Netanyahu menjawab, “Saya pikir rakyat Palestina seharusnya memiliki semua kewenangan untuk mengatur diri mereka sendiri, tetapi tidak satu pun kekuasaan untuk mengancam kami.
Itu berarti bahwa kekuasaan tertentu—seperti keamanan secara keseluruhan—akan selalu berada di tangan kami.”


Hubungan Trump–Bibi

Netanyahu menginap di Blair House, yang berfungsi sebagai rumah tamu resmi presiden.

Menurut kantor Perdana Menteri Israel, sebelum pertemuan dengan Trump, Netanyahu bertemu dengan Steve Witkoff, utusan khusus untuk Timur Tengah, diikuti dengan pertemuan lain bersama Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

Netanyahu juga dijadwalkan bertemu dengan Wakil Presiden JD Vance dan Ketua DPR AS Mike Johnson  pada 8 Juli.

Trump secara umum telah menyuarakan dukungan kuat terhadap Netanyahu, termasuk menanggapi kasus korupsi yang dihadapinya.

“Sangat mengerikan apa yang mereka lakukan di Israel terhadap Bibi Netanyahu. Dia adalah Pahlawan Perang, dan seorang Perdana Menteri yang telah bekerja luar biasa bersama Amerika Serikat untuk mencapai keberhasilan besar dalam menyingkirkan ancaman Nuklir berbahaya dari Iran. Yang terpenting, saat ini dia sedang dalam proses merundingkan Kesepakatan dengan Hamas, yang akan mencakup pembebasan para Sandera,” tulis Trump di Truth Social pada 28 Juni.

“Ini adalah PERBURUAN PENYIHIR POLITIK, sangat mirip dengan Perburuan Penyihir yang saya sendiri pernah alami. Tragedi ‘Keadilan’ ini akan mengganggu proses negosiasi dengan Iran dan Hamas.”

Netanyahu menyampaikan rasa terima kasih atas pernyataan Trump tersebut.

“Terima kasih sekali lagi, @realDonaldTrump. Bersama-sama, kita akan Membuat Timur Tengah Hebat Lagi!” tulis Netanyahu dalam sebuah unggahan di platform media sosial X pada 29 Juni.

Jackson Richman turut berkontribusi dalam laporan ini.

Sumber : Theepochtimes.com

Israel Bombardir Yaman! Pelabuhan dan Kapal Diserang, Laut Merah Kian Membara

EtIndonesia. Situasi di kawasan Laut Merah kembali memanas setelah militer Israel secara resmi mengumumkan telah melancarkan serangan udara ke sejumlah fasilitas strategis yang dikuasai kelompok Houthi di Yaman. Menurut laporan terbaru dari CNA, serangan ini menjadi yang pertama kali dilakukan Israel dalam sebulan terakhir, menandai eskalasi baru dalam konflik regional yang kian kompleks.

Sasaran Serangan: Tiga Pelabuhan dan Satu Pembangkit Listrik

Militer Israel menyampaikan bahwa target serangan kali ini adalah tiga pelabuhan penting di pesisir barat Yaman, yakni Hodeidah, Ras Isa, dan Salif, serta satu unit pembangkit listrik strategis di Ras Kantib. Keempat lokasi tersebut diketahui selama ini berada di bawah kendali penuh milisi Houthi—kelompok bersenjata yang didukung Iran dan telah berulang kali melancarkan serangan terhadap wilayah Israel maupun jalur pelayaran internasional di Laut Merah.

Dalam pernyataan resminya, juru bicara militer Israel menegaskan bahwa operasi udara ini merupakan respons terhadap intensitas serangan Houthi yang terus meningkat, khususnya terhadap kapal-kapal niaga internasional serta infrastruktur energi milik Israel dan sekutu Barat.

“Kami mengambil langkah tegas untuk melindungi kepentingan nasional dan memastikan keamanan jalur pelayaran global,” tegas militer Israel.

Kapal “River Leader” Jadi Target Khusus

Selain fasilitas pelabuhan dan pembangkit listrik, salah satu sasaran serangan adalah kapal kargo “River Leader”, yang sempat disandera Houthi pada akhir 2023. Kapal ini diyakini telah digunakan Houthi untuk memasang sistem radar pengawasan dan mengendalikan serangan terhadap lalu lintas kapal di Laut Merah. Menurut sumber Israel, keberadaan sistem radar di kapal tersebut menjadi ancaman nyata bagi keamanan pelayaran internasional.

Peringatan Evakuasi Sebelum Serangan

Media milik Houthi sendiri membenarkan bahwa militer Israel memberikan peringatan terlebih dahulu kepada warga sipil untuk segera mengungsi dari area pelabuhan Hodeidah. Setelah peringatan itu, serangkaian serangan udara dilancarkan secara beruntun, menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur pelabuhan.

Belum ada laporan pasti mengenai jumlah korban jiwa atau kerusakan detail di lapangan, namun rekaman video amatir yang beredar di media sosial memperlihatkan kepulan asap tebal membubung tinggi dari kawasan pelabuhan yang dibombardir.

Serangan Terbaru di Laut Merah: Kapal “Magic Sea” Diserang

Beberapa jam sebelum serangan udara Israel, insiden lain terjadi di perairan Hodeidah. Kapal kargo berbendera Liberia, “Magic Sea”, yang dioperasikan oleh perusahaan Yunani, diserang secara brutal oleh delapan kapal kecil bersenjata, granat rakitan, empat drone laut, dan rudal. Aksi dramatis ini memperlihatkan semakin meningkatnya risiko keamanan di Laut Merah. Hingga kini, belum ada pihak yang secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, namun pola operasi kuat mengindikasikan keterlibatan Houthi.

Dampak Global: Jalur Perdagangan Dunia Terancam

Sejak pecahnya perang di Gaza pada Oktober 2023, milisi Houthi diketahui telah melancarkan lebih dari 100 serangan terhadap kapal-kapal internasional yang melintas di Laut Merah. Dari jumlah tersebut, dua kapal dilaporkan tenggelam, satu kapal dibajak, dan sedikitnya empat awak kapal tewas.

Gelombang serangan ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerugian materiil, tetapi juga secara langsung mengganggu arus perdagangan dunia. Banyak perusahaan pelayaran internasional memilih menghindari Laut Merah dan memutar rute melalui Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika, meski harus menempuh perjalanan jauh lebih lama dan biaya operasional meningkat signifikan.

Eskalasi Meski Ada Upaya Gencatan Senjata

Padahal, pada bulan Mei lalu, Presiden AS, Donald Trump sempat mengumumkan penghentian operasi pengeboman terhadap target Houthi di Yaman dalam upaya meredakan ketegangan di kawasan. Namun, situasi di Laut Merah kini kembali memanas. Serangan terbaru ini menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas keamanan di wilayah tersebut, dan menambah ketidakpastian bagi masa depan jalur perdagangan dunia.

Belum Ada Pihak Klaim Serangan “Magic Sea”

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal “Magic Sea”. Namun para analis militer menilai, modus operandi dan senjata yang digunakan hampir identik dengan aksi-aksi yang selama ini dilakukan oleh Houthi. Pemerintah Yunani dan Liberia mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera mengadakan sidang darurat membahas eskalasi di Laut Merah dan perlindungan pelayaran internasional.

Penutup

Situasi di Laut Merah diprediksi masih akan sangat dinamis dalam waktu dekat. Militer Israel dan koalisi internasional tampak semakin tegas dalam merespons setiap ancaman dari Houthi, namun risiko konfrontasi yang lebih besar di kawasan Teluk pun semakin terbuka. Bagi komunitas internasional, stabilitas dan keamanan jalur pelayaran di Laut Merah kini menjadi prioritas utama, mengingat besarnya dampak yang bisa dirasakan oleh ekonomi global.

Agar Bahagia, Belajarlah Berpikir Seperti Lansia

EtIndonesia. Pengalaman hidup para lansia tidak hanya penuh hikmah, tapi juga memberikan inspirasi dan keteladanan. Ujian hidup yang mereka lalui membuat mereka lebih kuat dan tahan banting. Maka tidak heran, para ahli menyarankan:

Jika Anda ingin lebih bahagia, mulailah berpikir seperti orang tua.

Belajar dari Pola Pikir Lansia

Dr. Loren A. Olson, seorang psikiater dan penulis asal Amerika, dalam tulisannya di situs Psychology Today, mengutip hasil penelitian dari Prof. Laura Carstensen, seorang pakar psikologi penuaan dari Universitas Stanford. 

Dia menemukan bahwa: Orang yang lebih tua justru lebih bahagia dibandingkan orang-orang usia paruh baya maupun kaum muda.

Hasil tersebut didukung oleh banyak studi lain yang menyatakan hal serupa.

Menurut dr. Olson, para lansia adalah gudang kebijaksanaan dan pengalaman hidup. Meski mungkin bekerja lebih lambat dari segi fisik, mereka masih mampu memberi kontribusi besar di dunia kerja. Bahkan, kata Olson, lansia bisa menjadi solusi untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja di berbagai sektor.

Bekerja kembali setelah pensiun juga memberi makna hidup baru bagi mereka.  Dia mencontohkan dirinya sendiri.

“Saya berusia 80 tahun dan masih bekerja. Saya tidak bergantung pada orang lain,” katanya.

Tentu, lanjut usia bukan satu-satunya faktor. Latar belakang pendidikan dan jenis pekerjaan juga turut menentukan apakah seseorang bisa terus berkarya di usia senja.

Paradoks Penuaan: Fisik Melemah, Tapi Bahagia Bertambah

Dr. Olson menyoroti apa yang dia sebut sebagai “paradoks penuaan”:

Meskipun secara fisik dan fungsional tubuh menurun seiring bertambahnya usia, namun justru tingkat kebahagiaan meningkat.

Berbagai penelitian membuktikan bahwa perasaan depresi, kecemasan, stres, rasa khawatir, dan kemarahan justru menurun seiring dengan bertambahnya umur.

“Menyadari bahwa kita tidak akan hidup selamanya justru dapat mengubah cara pandang kita terhadap hidup secara positif.” — Loren A. Olson

Usia Fisik, Usia Psikologis, dan Usia Biologis

Dr. Olson menjelaskan bahwa usia kronologis—angka di akta lahir—hanyalah satu dimensi. Kita juga memiliki usia biologis dan usia psikologis, yang bisa berbeda-beda antar individu, dan berubah seiring waktu.

Dengan bertambahnya usia, banyak aspek dalam diri kita yang justru membaik, misalnya:

·        Kemampuan menerima diri dan orang lain

·        Keinginan membangun hubungan yang lebih bermakna

·        Kebijaksanaan dan empati

·        Kemampuan memaafkan

·        Rasa syukur

·        Ketahanan mental (resiliensi)

·        Emosi yang lebih stabil

·        Reaksi impulsif yang semakin berkurang

Perubahan Tujuan Hidup: Dari Ambisi ke Kedamaian

Saat seseorang semakin tua, pandangan terhadap waktu ikut berubah. Fokus hidup mereka pun mengalami pergeseran.

Lansia cenderung mengalokasikan energi mental mereka untuk hal-hal positif dan menghindari paparan informasi negatif.

Meskipun waktu semakin terasa terbatas, tetapi urgensi mereka berubah. Bukan lagi soal mengejar ambisi atau status, melainkan soal menghargai dan menikmati setiap momen yang tersisa.

Fokus pada Hubungan yang Bermakna

Dr. Olson mengingat kembali masa mudanya, ketika seluruh perhatian diarahkan pada pencapaian—belajar, merancang karier, dan memperluas jaringan sosial. Saat itu, dia tidak pernah merasa waktu terbatas.

Namun kini, setelah usia bertambah, dia lebih memilih:

·        Menjalin hubungan yang hangat dan bermakna

·        Bekerja hanya di waktu dan tempat yang dia pilih

·        Mengurangi interaksi sosial yang tidak penting, dan memelihara hubungan yang paling berharga

Dia mengaku semakin menikmati hidup. Dia tidak lagi peduli pada hal-hal sepele, mampu lebih menghargai orang lain, dan lebih mudah memaafkan. Semakin dia melakukan itu semua, semakin ia merasa bahagia.

Menikmati Hidup di Tengah Kesedihan

Dia pun mengakui bahwa dia pernah mengalami kehilangan dan duka, namun sekarang dia bisa berdamai dengan kesedihan itu.

“Hidup tidak lagi seperti serangkaian peristiwa menyakitkan,” katanya.

 Sebaliknya, dia mengalami lebih banyak sukacita, kepuasan, dan rasa syukur.

“Saya tak lagi percaya pada konsep ‘besok masih ada hari’. Tidak ada jaminan bahwa saya masih akan hidup besok. Jadi saya gunakan hari ini sebaik mungkin. Saya biarkan masa depan menjadi kejutan—sebagaimana dia ingin datang.”

Ajakannya: Berpikirlah Seperti Lansia, Bahagialah Seperti Lansia

Di akhir tulisannya, dr. Olson mengajak kita semua untuk:

“Mulailah belajar berpikir seperti orang tua, dan nikmati kebahagiaan seperti yang mereka rasakan.”(jhn/yn)

Trump Mengatakan AS Akan Mengirim “Lebih Banyak Senjata” ke Ukraina

EtIndonesia. Presiden AS, Donald Trump mengatakan pada hari Senin (7/7) bahwa Amerika Serikat akan mengirim senjata tambahan ke Ukraina, setelah Gedung Putih mengumumkan penghentian beberapa pengiriman senjata untuk Kyiv minggu sebelumnya.

“Kita harus mengirim lebih banyak senjata — terutama senjata pertahanan,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

“Mereka sangat, sangat terpukul,” katanya tentang Ukraina, sambil mengatakan bahwa dia “tidak senang” dengan Presiden Vladimir Putin.

Putin melancarkan invasi skala penuh ke negara tetangga Rusia yang lebih kecil pada tahun 2022 dan telah menunjukkan sedikit keinginan untuk mengakhiri konflik meskipun ada tekanan dari Trump.

Ukraina sedang berjuang melawan beberapa serangan rudal dan pesawat nirawak terbesar Rusia dalam perang tiga tahun tersebut, dan penghentian penyediaan amunisi berpotensi menjadi tantangan serius bagi Kyiv.

Di bawah mantan presiden Joe Biden, Washington berkomitmen untuk memberikan lebih dari 65 miliar dolar bantuan militer kepada Ukraina.

Tetapi Trump — yang lama skeptis terhadap bantuan untuk Ukraina — belum mengikuti langkahnya, tidak mengumumkan paket bantuan militer baru untuk Kyiv sejak dia menjabat pada bulan Januari tahun ini.(yn)

Koalisi BRICS Kocar-kacir! Amerika Bersiap Menjatuhkan Sanksi Berat, Xi dan Putin Pilih Menghindar

EtIndonesia. KTT BRICS tahun ini yang diselenggarakan di Brasil menjadi sorotan dunia setelah dua pemimpin paling berpengaruh dalam kelompok ini—Presiden Tiongkok, Xi Jinping dan Presiden Rusia, Vladimir Putin—memilih untuk absen. Ketidakhadiran keduanya memunculkan anggapan luas di kalangan pengamat dan media internasional bahwa pertemuan ini adalah KTT BRICS dengan tingkat pengaruh politik paling rendah sepanjang sejarah penyelenggaraannya.

Menurut laporan Agence France-Presse (AFP), pertemuan BRICS tahun ini justru menampilkan berbagai perbedaan pendapat di antara negara-negara anggotanya. Meskipun demikian, para pemimpin BRICS masih menemukan satu kesamaan sikap, yakni sama-sama mengkritik Presiden Amerika Serikat dan kebijakan tarif perdagangannya yang semakin agresif.

Sikap Tegas Trump: Sanksi Tarif Tambahan untuk Lawan AS

Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan seusai KTT, negara-negara BRICS mengungkapkan keprihatinan mendalam atas peningkatan kebijakan tarif sepihak yang diterapkan Amerika Serikat. Mereka menegaskan, kebijakan tersebut tidak hanya merugikan kepentingan negara-negara berkembang, tapi juga mengancam stabilitas ekonomi global. Namun, Presiden AS, Donald Trump langsung merespons kritik tersebut dengan sikap keras. 

Melalui media sosial resminya pada malam tanggal 6 Juli 2025, Trump menyatakan: “Negara mana pun yang berpihak pada BRICS dan mengambil kebijakan anti-Amerika akan dikenai tambahan tarif 10%. Tidak ada pengecualian.”

BRICS Sulit Bersatu Hadapi Tekanan AS

Sejumlah analis menilai ancaman Trump ini semakin mempersulit posisi BRICS dalam membangun front bersama. Meskipun kelompok ini mewakili sekitar 40% populasi dunia dan lebih dari 35% PDB global, para anggotanya dinilai sangat sulit untuk bersatu melawan tekanan Amerika Serikat.

Pakar geopolitik dari Observer Research Foundation, Samir Saran,, menuturkan bahwa negara-negara BRICS cenderung mengedepankan pragmatisme dan lebih memprioritaskan kepentingan nasional dibandingkan aksi kolektif.

“Rusia lebih ingin berbicara tentang keamanan Eropa dengan Trump, Tiongkok sedang berusaha mencapai kesepakatan dagang dengan Amerika, sedangkan India justru bernegosiasi secara bilateral dengan AS. Pada akhirnya, hampir tak ada kasus nyata BRICS tampil satu suara menentang Washington, karena setiap negara punya kepentingan sendiri-sendiri,” jelas Samir Saran.

Pandangan serupa juga muncul di media sosial. Seorang pengguna platform X berkomentar sinis: “BRICS sekarang tinggal nama, nyaris bubar. Bos utamanya, Xi dan Putin, malah absen. Negara-negara kecil sisanya juga tak ada yang mau cari masalah dengan Amerika.”

Eskalasi Perang Dagang dan Strategi “Tarif Final” Trump

Ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan negara-negara dunia kian meningkat. Pada 7 Juli 2025, Presiden Trump mengumumkan bahwa pemerintahannya telah mengirim surat ultimatum kepada 12 negara utama di dunia, menuntut agar mereka menerima syarat tarif final dari AS, atau akan menghadapi sanksi ekonomi berat

Langkah ini menandai perubahan besar dalam strategi perdagangan Washington: meninggalkan jalur negosiasi multilateral yang selama ini dipegang, dan beralih ke pendekatan sepihak yang tegas untuk membendung ekspansi global Tiongkok.

Sebuah laporan eksklusif dari Financial Times mengungkapkan, Amerika Serikat akan mengenakan tarif jauh lebih tinggi terhadap produk-produk Tiongkok yang dikirim melalui negara ketiga di Asia Tenggara. Sebagai contoh, produk Vietnam yang tarifnya normal 20%, jika terbukti berasal dari Tiongkok lalu diekspor ulang melalui Vietnam, akan dikenai tarif 40%. Kebijakan ini jelas menarget praktik transshipment atau “pencucian asal barang”, sebuah celah yang sering dimanfaatkan Tiongkok untuk menghindari sanksi dagang AS.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan, jika negara-negara yang terlibat tidak segera menanggapi permintaan negosiasi, Amerika Serikat akan mengembalikan tarif tinggi pada waktu yang sudah dijadwalkan.

“Kebijakan ini bertujuan untuk menutup jalur belakang yang selama ini dipakai untuk mengakali regulasi ekspor ulang,” jelas Scott Bessent,.

“Big and Beautiful Act”: Trump Tutup Celah Pajak bagi Tiongkok

Strategi Amerika Serikat dalam menghadang Tiongkok tidak hanya terbatas pada perang tarif. Salah satu kebijakan paling signifikan, yakni “Big and Beautiful Act”, telah ditandatangani Trump pada 4 Juli 2025 dan kini menjadi perhatian banyak pihak.

Menurut penjelasan pakar hukum internasional asal Australia, Yuan Hongbing, kebijakan baru ini menghapus semua pengecualian pajak bagi perusahaan AS yang mendapatkan laba di Tiongkok. Artinya, jika keuntungan yang diperoleh tidak segera dipulangkan ke Amerika, perusahaan akan dikenai denda besar.

Kebijakan ini diyakini akan menutup salah satu jalur utama yang selama ini dimanfaatkan Tiongkok untuk mengembangkan ekonomi domestiknya lewat investasi dan modal Amerika.

Kesimpulan: Masa Depan BRICS di Persimpangan Jalan

KTT BRICS di Brasil kali ini menegaskan bahwa kelompok negara-negara besar berkembang tersebut kini berada di persimpangan jalan. Tanpa kehadiran dua pilar utamanya, Xi Jinping dan Putin, serta perbedaan strategi menghadapi tekanan dari Amerika Serikat, masa depan BRICS dipertanyakan. Di tengah eskalasi perang tarif global dan perubahan peta aliansi strategis, keretakan di tubuh BRICS semakin nyata, dan upaya melawan dominasi ekonomi serta politik AS tampaknya akan semakin sulit untuk dilakukan secara bersama-sama.

Tiga Tipe Wanita yang Sering Menyendiri Ini Justru Layak Dijadikan Sahabat Sejati

EtIndonesia. Dalam dunia pergaulan, ada orang yang senang berada di tengah keramaian, dan ada pula yang memilih menjalani hidup secara mandiri, tenang, dan menyendiri. Banyak yang beranggapan bahwa wanita yang sering menyendiri itu sulit didekati, tertutup, atau bahkan dingin. Namun sebenarnya, tidak semua sikap “menyendiri” berarti mereka anti-sosial atau tidak ramah.

Faktanya, ada wanita-wanita yang memilih untuk hidup dalam kesendirian karena mereka menyimpan kualitas luar biasa yang justru layak untuk dikenali lebih dalam. Ketika kamu menjalin persahabatan dengan mereka, kamu bisa mendapatkan hubungan yang hangat, tulus, dan bernilai tinggi.

Berikut ini adalah tiga tipe wanita penyendiri yang justru sangat cocok untuk dijadikan sahabat sejati:

1. Wanita yang Menyendiri demi Fokus pada Pertumbuhan Diri

Wanita seperti ini ibarat bunga yang mekar dalam keheningan—diam-diam memperkuat akar, dan tumbuh dengan indah dari dalam.

Mereka tidak tertarik pada pergaulan kosong yang menghabiskan waktu, melainkan memilih untuk menginvestasikan energi mereka dalam meningkatkan kualitas diri. Ada yang rajin mengikuti kursus, belajar keterampilan baru, atau mengejar sertifikasi profesional. Ada pula yang senang membaca, menulis, atau menciptakan karya seni.

Contohnya adalah Xiaolin, seorang wanita yang tinggal di lingkungan kami. Di luar jam kerja, dia lebih sering terlihat sendirian di perpustakaan belajar pemrograman. Akhir pekan, dia betah menghabiskan waktu di rumah untuk melukis. Dari luar, dia tampak seperti penyendiri. Tapi siapa sangka, berkat ketekunan itu, dia berhasil dipromosikan dan bahkan membuka pameran lukisan tunggalnya.

Bersahabat dengan wanita seperti ini akan membuatmu terinspirasi. Kamu akan belajar bagaimana menyisihkan waktu untuk diri sendiri, menemukan kedamaian di tengah hiruk pikuk dunia, dan terus tumbuh menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri.

Seperti kata penulis terkenal Lin Qingxuan: “Menikmati kesendirian bukan berarti kesepian, melainkan menemukan kekayaan batin dan hidup yang utuh.”

2. Wanita yang Mandiri dan Kuat Tanpa Ketergantungan pada Siapa pun

Wanita penyendiri yang memiliki kekuatan mental dan kemandirian sejati itu bagaikan pohon besar yang kokoh, tetap berdiri kuat walau tanpa sandaran.

Mereka memiliki pendirian dan kepercayaan diri yang tinggi. Ketika menghadapi masalah, mereka tidak panik, tidak mengeluh, dan tidak bergantung pada orang lain. Sebaliknya, mereka akan mencari solusi dan menyelesaikan sendiri dengan tenang.

Seorang teman bernama Ibu Chen, manajer di sebuah perusahaan, pernah menghadapi krisis proyek besar. Alih-alih panik atau menyalahkan tim, dia langsung memimpin rapat darurat, menganalisis masalah semalaman, dan akhirnya berhasil menyelamatkan proyek tepat waktu.

Dalam keseharian, dia terbiasa pergi ke pusat kebugaran sendirian, jalan-jalan, atau bahkan traveling seorang diri. Bukan karena tidak punya teman, tapi karena dia nyaman dengan dirinya sendiri.

Berteman dengan wanita seperti ini akan membuatmu merasakan ketenangan, kepercayaan diri, dan kekuatan batin yang luar biasa. Mereka tidak akan mengandalkanmu secara berlebihan, tetapi justru bisa menjadi pilar yang kuat ketika kamu sedang rapuh.

3. Wanita yang Penuh Kekayaan Batin dan Tidak Ikut Arus Dunia

Wanita penyendiri yang kaya secara spiritual dan batiniah itu ibarat bintang di langit malam—diam, namun bercahaya dengan cara yang unik.

Mereka hidup mengikuti hati nurani, bukan mengikuti tren atau tekanan sosial. Mereka memiliki dunia batin yang luas: mencintai seni, berkarya, dan menjalani hidup dengan nilai-nilai yang luhur.

Contohnya adalah Xiaowen, rekan kerja yang tidak banyak bersosialisasi tapi sangat aktif dalam kegiatan sosial. Setiap akhir pekan, dia akan mengunjungi panti jompo, menghibur para lansia, atau mengumpulkan buku untuk dikirim ke daerah terpencil. Dia melakukan semuanya diam-diam, tanpa gembar-gembor di media sosial.

Dia tidak peduli dengan pandangan sinis orang lain—karena yang dia cari adalah kebahagiaan yang bermakna, bukan validasi dari luar. Berteman dengan orang seperti ini membuatmu menyadari bahwa hidup bisa dijalani dengan ketulusan, kesederhanaan, dan kedalaman. Mereka membantu kita menemukan makna sejati kebahagiaan, bukan sekadar pencapaian semu.

Penutup: Kesendirian Bukanlah Kelemahan, Tapi Tanda Kedewasaan

Menyendiri bukan berarti anti-sosial. Wanita-wanita ini justru menunjukkan karakter dan kualitas hidup yang mengagumkan lewat gaya hidup mereka yang berbeda.

·        Fokus pada pengembangan diri membuat mereka terus maju,

·        Kemandirian membentuk mental baja yang tegar menghadapi hidup,

·        Kekayaan batin memberi mereka ketenangan dan arah hidup yang jelas.

Jika di sekitarmu ada wanita-wanita seperti ini, jangan ragu untuk mendekat dan mengenal lebih dalam. Bersahabat dengan mereka adalah perjalanan yang indah—penuh kehangatan, inspirasi, dan kejutan positif yang akan memperkaya hidupmu.(jhn/yn)

(Edisi Khusus) “Ketahuan! Hubungan Terlarang Putri Xi Jinping, Mengguncang Jantung Kekuasaan Tiongkok

EtIndonesia. Hari ini kita dihadapkan pada kisah yang tak kalah dramatis dari serial “drama istana” Tiongkok, namun semua ini benar-benar terjadi di dunia nyata. Cerita yang terbentang selama satu dekade ini bukan sekadar kabar angin, melainkan bocoran dari lingkaran dalam kekuasaan Partai Komunis Tiongkok (PKT). 

Kisah cinta rahasia antara Xi Mingze—“Putri Pertama” Tiongkok—dan Jiang Xiaoshuai, profesor Tionghoa di Massachusetts Institute of Technology (MIT), telah menguak sisi rapuh, getir, dan bahkan kejam dari sistem keluarga penguasa Beijing.

Awal Mula Skandal: Bocoran dari Orang Dalam

Kisah ini pertama kali mengemuka lewat pengakuan Wu Jianmin, analis politik senior yang dikenal kritis terhadap Beijing. Dalam sebuah program yang ramai diperbincangkan, Wu mengungkapkan: selama menempuh studi di Harvard University, Xi Mingze ternyata menjalin hubungan asmara diam-diam dengan Jiang Xiaoshuai—seorang profesor MIT yang terpaut usia 18 tahun lebih tua, sudah pernah menikah, bahkan telah memiliki anak.

Informasi ini, menurut Wu, bocor ke publik setelah seorang pejabat senior PKT di Washington secara tidak sengaja membukanya dalam perbincangan santai bersama kolega lamanya. Namun, dampaknya tidak lagi bisa dibendung. 

Kisah yang semula hanya beredar di kalangan terbatas, dengan cepat berkembang menjadi isu panas yang mengguncang keluarga elite PKT, bahkan disebut-sebut sempat menjadi bibit krisis politik internal.

Siapakah Xi Mingze?

Xi Mingze, satu-satunya putri Xi Jinping dan Peng Liyuan, sejak kecil dijuluki “Putri Pertama”. Namun, di balik label prestisius ini, kehidupan keluarganya jauh dari harmonis. Hubungannya dengan kedua orangtuanya disebut-sebut renggang, dengan sebagian besar masa kecilnya justru diasuh oleh keluarga Wang Xiaohong—tokoh kuat di Kementerian Keamanan Publik Tiongkok.

Ketika menginjak usia dewasa, Xi Mingze dikirim ke Harvard dengan identitas samaran “Chu Chen” untuk menuntut ilmu psikologi. Identitas ini dijaga sangat ketat, demi melindungi privasinya dari sorotan publik maupun incaran pihak-pihak tertentu.

Pertemuan Tak Terduga di Tanah Amerika

Suatu hari, dalam sebuah pertandingan tenis persahabatan antara Harvard dan MIT, Chu Chen (Xi Mingze) bertemu dengan Jiang Xiaoshuai—pembimbing doktoral MIT yang dikenal cerdas, berwawasan luas, dan berlogat khas Zhejiang. Keduanya segera akrab, berkat latar belakang daerah asal yang sama. Hubungan mereka berkembang secara alami dan penuh kehangatan.

Yang mengejutkan, Jiang sama sekali tidak mengetahui identitas asli Chu Chen. Ia hanya mengira sedang jatuh cinta pada gadis sederhana dari Hangzhou, tanpa menyadari bahwa ia sesungguhnya sedang berada di tengah badai politik tingkat tinggi.

Pengawasan Ketat: Cinta yang Tak Pernah Bebas

Namun, seperti semua kisah di lingkungan penguasa Beijing, hubungan ini tidak pernah benar-benar menjadi rahasia. Tim khusus PKT yang bertugas di Amerika telah lama memantau gerak-gerik Xi Mingze, dan setiap perkembangan segera dilaporkan ke Beijing.

Ketika Xi Jinping dan Peng Liyuan mendapat kabar mengenai hubungan putrinya dengan Jiang Xiaoshuai, keduanya sangat murka. Apalagi Jiang tidak hanya lebih tua, pernah menikah, dan telah memiliki anak, tapi juga bukan berasal dari keluarga elite “merah”. Status sosial dan loyalitasnya diragukan. Segera setelah masa berlaku visa F1 Xi Mingze habis, ia dipaksa pulang ke Beijing.

Isolasi Total dan Badai di Dalam Keluarga

Setibanya di Beijing, Xi Mingze menghadapi isolasi penuh. Seluruh akses komunikasi diputus: komputer dan ponselnya disita, kontak dengan dunia luar diblokir, bahkan jalur media sosial internasional diawasi ketat. Tak hanya itu, ia juga terlibat pertengkaran hebat dengan kedua orangtuanya. Xi Mingze terang-terangan menegaskan niatnya, “Seumur hidup, saya hanya mau menikah dengan Jiang Xiaoshuai.”

Kemarahan Xi Jinping pun memuncak. Ia bahkan membentak putrinya: “Masa aku harus menerima pria 50 tahun yang sudah punya anak jadi menantuku? Seperti apa jadinya keluarga Xi?”

Sementara itu, Peng Liyuan justru menggunakan kata-kata yang lebih tajam. Ia menyebut keluarga Jiang sebagai “kontra-revolusioner”, meragukan status sosialnya, dan bahkan menuding Jiang sebagai “pengkhianat teknologi” yang bekerja untuk TSMC di Taiwan. Perseteruan ini memperlihatkan betapa sistem kekuasaan Beijing tak segan mengorbankan keluarga demi menjaga citra dan stabilitas politik.

Namun, Xi Mingze bukan tipe gadis penurut. Ia berani membalas keras: “Bukankah nenek juga dulu adalah istri simpanan? Kalian sekarang malu padaku, kenapa dulu kalian tidak malu?” Ketegangan dalam keluarga mencapai puncaknya.

Upaya Mediasi dan Cinta yang Bertahan

Di tengah ketegangan ini, Wang Xiaohong—sosok yang sejak kecil membesarkan Xi Mingze—turun tangan untuk menengahi. Ia membujuk Xi Mingze agar memutuskan hubungan, dengan janji bahwa suatu saat ia bisa kembali ke Amerika untuk menyelesaikan studinya. Xi Mingze akhirnya setuju.

Namun, sesampainya di Amerika, alih-alih melupakan Jiang, Xi Mingze justru kembali menjalin komunikasi dengan pria yang dicintainya itu. Pada titik ini, Jiang sudah resmi bercerai dan memperoleh kewarganegaraan Amerika Serikat. Sempat berencana ke Tiongkok untuk mencari Chu Chen, ia tetap belum tahu siapa sebenarnya gadis yang dicintainya.

Baru setelah mendengar kabar dari alumni Harvard, Jiang menyadari bahwa Chu Chen tak lain adalah Xi Mingze, putri presiden Tiongkok. Syok dan kebingungan pun tak terhindarkan. Sepuluh tahun menjalin hubungan, ia tiba-tiba dihadapkan pada fakta bahwa kekasihnya adalah figur paling sensitif dalam rezim otoriter Tiongkok.

Komunikasi Rahasia dan Ancaman Kabur

Berusaha mempertahankan cintanya, Jiang mencoba mengirim pesan terenkripsi melalui grup WeChat alumni Harvard. Beruntung, pesan itu akhirnya diteruskan ke Xi Mingze oleh seorang teman lama. Mereka pun kembali berkomunikasi secara terbatas.

Dalam percakapan lewat telepon, dialog singkat yang emosional terjadi:

  • Jiang: “Kamu tahu siapa aku?”
  • Xi Mingze: “Aku tahu.”
  • Jiang: “Kamu sudah bercerai?”
  • Xi Mingze: “Sudah.”
  • Xi Mingze: “Aku akan ke Amerika, kamu mau menikahiku?”
  • Jiang: “Aku pasti akan menikahimu.”

Bahkan, demi memperjuangkan cintanya, Xi Mingze sempat mengancam orangtuanya: “Kalau kalian tidak setuju, aku akan kabur dan menikah diam-diam.”

Akhir Kisah: Antara Tragedi dan Harapan

Bagaimana akhir dari kisah ini? Tidak ada yang tahu pasti. Apakah Xi Mingze benar-benar berani kawin lari seperti ancamannya, atau justru kisah ini berakhir tragis akibat tekanan politik dan keluarga? Tidak seperti Hu Haiqing, putri Hu Jintao yang mendapat perlindungan ibu yang rasional, Xi Mingze justru sendirian menghadapi badai di tengah lingkaran kekuasaan yang dingin dan tanpa ampun.

Menurut Wu Jianmin, kasus ini bukan lagi sekadar kisah cinta, melainkan potret nyata kehancuran moral dan rapuhnya struktur keluarga elite PKT. Drama keluarga yang seolah “kudeta perempuan” di lingkungan inti kekuasaan ini menunjukkan bahwa stabilitas rezim otoriter sebenarnya sangat rentan, bahkan sejak dari dalam keluarga mereka sendiri.

Refleksi: Cermin Retak Kekuasaan Otoriter

Sebagian mungkin bertanya, “Apa pentingnya kisah cinta putri seorang diktator bagi kita?” Namun, jika kita amati lebih dalam, kisah ini jauh melampaui konflik keluarga biasa. Inilah cermin betapa elite PKT menggunakan seluruh instrumen kekuasaan—hak istimewa, intelijen, pengawasan total—demi mempertahankan sistem. Cinta, kebebasan memilih pasangan, bahkan rasa kasih sayang antar keluarga harus tunduk pada aturan partai.

PKT kerap menggaungkan nilai-nilai kekeluargaan dan sosialisme. Namun, ketika putri mereka sendiri jatuh cinta, pilihannya adalah dikurung, diancam, dan diputus dari dunia luar. Ironi ini menjadi bukti nyata betapa sistem tersebut sesungguhnya rapuh, penuh ketakutan, dan bertolak belakang dengan kodrat manusia yang mendambakan kebebasan.

Xi Jinping bisa saja menumpas lawan politik, mengendalikan militer, bahkan menaklukkan rakyat, tetapi ia tak berdaya mengendalikan hati putrinya sendiri. Jika kekuasaan dijalankan dengan tekanan, ancaman, dan kebohongan dalam waktu lama, bahkan anggota keluarga terdekat pun bisa berubah menjadi pembangkang.

Penutup: Lebih dari Sekadar Cinta Terlarang

Akhirnya, kisah Xi Mingze bukan sekadar drama cinta tragis—ini adalah pembongkaran total atas wajah munafik PKT. Ia hanya satu dari jutaan anak muda Tiongkok, bahkan untuk urusan jatuh cinta, sekolah di luar negeri, atau mengekspresikan diri, harus siap menghadapi sensor, pengawasan, bahkan kemungkinan “dihilangkan” oleh negara sendiri.

Kisah ini adalah peringatan: Kekuasaan yang dibangun di atas kontrol dan ketakutan, pada akhirnya akan menghadapi pembangkangan dari mereka yang paling dekat. Kerapuhan itu terlihat jelas dari drama keluarga Xi, yang sesungguhnya mencerminkan krisis yang jauh lebih besar di tubuh kekuasaan Tiongkok hari ini. (***)

Trump Siap ‘Menggulung’ 100 Negara! Siapa yang Berani Melawan? Anti Amerika dan Anggota BRICS Terancam Tambahan Tarif 10% 

EtIndonesia. Pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengguncang dunia perdagangan internasional dengan pengumuman kebijakan tarif terbaru yang disebut-sebut sebagai “gelombang proteksionisme” terbesar dekade ini. 

Trump secara resmi mengumumkan rencana penerapan tarif 10% terhadap sekitar 100 negara kecil mulai 1 Agustus 2025, sekaligus menetapkan tarif khusus hingga 25% untuk produk impor dari negara-negara besar Asia seperti Jepang dan Korea Selatan.

Surat Resmi untuk Jepang dan Korea Selatan

Pada 7 Juli 2025, publik dibuat heboh setelah Trump mengunggah dua surat resmi melalui platform Truth Social. Surat-surat itu ditujukan langsung kepada Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba, dan Presiden Korea Selatan, Lee Jae‑myung. Isinya, semua produk ekspor dari Jepang dan Korea Selatan ke AS akan dikenakan tarif dasar baru sebesar 25%, belum termasuk potensi tarif tambahan pada sektor-sektor strategis seperti otomotif dan elektronik.

Dalam suratnya, Trump menegaskan bahwa kebijakan tarif ini bertujuan mengoreksi defisit perdagangan kronis antara AS dan kedua negara tersebut. Ia juga memperingatkan bahwa jika Jepang atau Korea Selatan membalas dengan menaikkan tarif terhadap produk Amerika, AS akan menaikkan tarif lebih tinggi lagi—persis sebesar nilai kenaikan dari pihak lawan.

Pemerintah AS menyatakan, langkah ini adalah bagian dari strategi negosiasi keras untuk memaksa kedua sekutu utamanya di Asia itu menyepakati perjanjian dagang baru yang dianggap lebih adil dan menguntungkan Amerika Serikat.

Negara Lain Juga Terdampak: Tarif Berlapis Siap Diberlakukan

Tak hanya Jepang dan Korea Selatan, negara-negara lain juga masuk dalam daftar penyesuaian tarif baru AS.

 Mulai 1 Agustus 2025, Malaysia dan Kazakhstan akan dikenakan tarif 25%, Afrika Selatan sebesar 30%, sementara Laos dan Myanmar bahkan harus menghadapi tarif setinggi 40%. Menurut analis, kebijakan ini juga diarahkan untuk menghalangi upaya Tiongkok melakukan “relabeling”—yakni mengalihkan rute ekspor melalui negara ketiga demi menghindari tarif AS.

Gedung Putih melalui Sekretaris Pers, Karoline Leavitt, mengumumkan bahwa AS akan mengirimkan setidaknya 12 surat resmi tambahan kepada negara-negara lain pada Senin ini. Dan gelombang surat serupa dipastikan masih akan terus bergulir dalam waktu dekat.

Tarif dasar yang ditetapkan pemerintah AS dipisahkan dari “tarif sektoral”—artinya, produk strategis seperti kendaraan listrik, semikonduktor, atau baja masih bisa dikenakan tarif tambahan di luar angka 25-40% tersebut.

Namun demikian, AS membuka pintu negosiasi. Jika negara-negara tersebut bersedia mencabut hambatan dagang dan kebijakan non-tarifnya, tarif bisa saja diturunkan, atau justru dinaikkan jika kebijakan balasan dianggap tidak bersahabat. Semuanya kini tergantung pada respons masing-masing negara.

Kementerian Keuangan AS: “72 Jam yang Sangat Sibuk”

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, pada 6 Juli kepada CNN menegaskan, “72 jam ke depan akan sangat sibuk.” Bessent memperkirakan, langkah Trump akan memicu serangkaian negosiasi ulang dengan mitra utama Amerika—sementara 100 negara kecil yang perdagangan dengan AS relatif kecil akan menerima surat penetapan tarif 10%. Surat itu, menurut Bessent, bukan ancaman, tapi undangan untuk duduk berunding kembali.

Kepada CNBC, Bessent menyebut: “Banyak negara tiba-tiba mengubah sikap dalam bernegosiasi. Kotak masuk email saya penuh dengan proposal baru sejak kemarin malam. Pekan ini akan menjadi minggu terpadat dalam sejarah diplomasi perdagangan AS.”

Dampak Pasar: Saham dan Obligasi Merespons

Beberapa bulan lalu, Trump sempat menunda pemberlakuan tarif tinggi—keputusan yang membuat pasar saham dan obligasi AS kembali stabil setelah sempat dilanda kekhawatiran soal resesi dan inflasi akibat proteksionisme. 

Kini, meski ancaman tarif baru kembali bergema, pelaku pasar tampaknya mulai terbiasa dengan gaya negosiasi “palu gada” ala Trump. Sepanjang masa jabatan Trump, pasar tenaga kerja AS tetap kuat, dan hingga saat ini, lonjakan inflasi akibat tarif tinggi belum terwujud.

Ketua Dewan Penasihat Ekonomi Gedung Putih, Stephen Miran, dalam wawancara dengan ABC, menyatakan optimisme tentang kemajuan negosiasi dengan Uni Eropa dan India. Ia juga menyebut, dalam beberapa bulan terakhir, Trump telah berhasil meneken tiga perjanjian dagang penting dengan Inggris, Tiongkok, dan Vietnam.

Vietnam dan Asia Tenggara Ikut Gerah

Merespons tekanan tarif global, Vietnam pada 7 Juli 2025 mengumumkan bea anti dumping baru untuk baja Tiongkok—sebesar 23,1% hingga 27,83% untuk jangka lima tahun. Kebijakan ini menyasar perusahaan besar Tiongkok seperti Baoshan Steel, Maanshan Steel, dan Guangxi Liuzhou Steel Group. Sebagai bagian dari langkah menjaga stabilitas industri dalam negeri, Vietnam juga menghentikan investigasi anti dumping terhadap baja panas dari India.

KTT BRICS Memanas, Brasil Kritik Trump

Pada waktu yang sama, KTT BRICS di Rio de Janeiro, Brasil, menjadi panggung bagi kritik terhadap kebijakan tarif proteksionis Trump. Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, yang menjadi tuan rumah KTT dan juru bicara utama negara-negara Global South, secara tersirat menilai kebijakan tarif Trump “membahayakan tatanan ekonomi dunia”.

Tak tinggal diam, Trump membalas lewat Truth Social dengan menegaskan bahwa negara manapun yang mengambil posisi “anti-Amerika” bersama BRICS akan otomatis dikenai tarif tambahan 10%. Ia juga mengkritik keras pemerintah Brasil atas perlakuan terhadap mantan Presiden Bolsonaro—yang menurutnya, telah menjadi korban penindasan politik. Trump bahkan menyatakan akan terus memantau perkembangan kasus Bolsonaro, keluarganya, dan ribuan pendukungnya di Brasil.

Putaran Baru Perundingan dengan Tiongkok: TikTok Kembali Jadi Topik Panas

Pada 4 Juli 2025, Trump mengumumkan bahwa putaran baru negosiasi perdagangan dengan Tiongkok akan digelar awal pekan ini, fokus pada isu-isu strategis, termasuk nasib aplikasi TikTok di AS. Menteri Keuangan Bessent dikabarkan akan segera bertemu dengan Wakil Perdana Menteri Tiongkok, He Lifeng, untuk menuntaskan putaran negosiasi lanjutan.

 Kesimpulan

Dengan kebijakan tarif besar-besaran ini, pemerintahan Trump mengirim sinyal kuat bahwa AS tidak ragu memainkan kartu proteksionisme untuk menegosiasikan ulang tatanan perdagangan dunia. Imbasnya, pasar keuangan, peta aliansi global, hingga agenda geopolitik dipastikan akan bergerak dinamis dalam beberapa minggu ke depan. 

Dunia pun kini menanti: apakah negara-negara besar seperti Jepang, Korea Selatan, bahkan Tiongkok akan berkompromi, atau justru menyiapkan “balas dendam tarif” yang bisa mengubah wajah perdagangan internasional tahun 2025. (***)

Hamas Hancur, Gaza Jatuh ke Tangan Geng Bersenjata: Siapa Penguasa Baru di Tengah Anarki?

EtIndonesia. Situasi di Jalur Gaza memasuki babak baru yang semakin mencekam dan tak menentu. Berdasarkan laporan eksklusif yang dirilis BBC pada 7 Juli, seorang pejabat tinggi militer Hamas secara terbuka mengakui bahwa kelompoknya telah kehilangan kendali atas sekitar 80% wilayah Gaza. Dampak dari serangan militer Israel yang berlangsung tiada henti, ditambah runtuhnya struktur komando Hamas, telah menciptakan kekosongan kekuasaan yang segera diisi oleh kelompok-kelompok bersenjata baru. Kondisi ini mendorong Gaza ke jurang anarki total.

Runtuhnya Struktur Hamas dan Kekacauan Total

Pejabat militer Hamas yang tak ingin disebutkan namanya mengungkapkan bahwa sejak dimulainya serangan besar-besaran Israel, hampir seluruh jaringan politik, militer, dan keamanan Hamas di Gaza telah hancur berantakan. Data internal yang beredar menyebutkan, sekitar 95% pemimpin puncak Hamas di Gaza telah tewas akibat serangan udara, operasi darat, dan aksi-aksi infiltrasi yang terus berlanjut. Rantai komando Hamas benar-benar terputus.

Akibatnya, lembaga-lembaga keamanan yang selama ini menjaga ketertiban pun mulai ditinggalkan, bahkan dijarah oleh warga sipil yang panik dan kehilangan kepercayaan pada otoritas. Aparat keamanan dan polisi yang biasanya berpatroli di jalan-jalan Gaza, kini lenyap tanpa jejak. Situasi ini membuat siapapun, baik warga biasa maupun anggota kelompok bersenjata, bisa dengan mudah melakukan penculikan atau pembunuhan tanpa takut adanya konsekuensi hukum.

Kekosongan Kekuasaan dan Munculnya Enam Kelompok Bersenjata

Di tengah kekacauan ini, muncul enam kelompok bersenjata baru yang dengan cepat mengambil alih wilayah-wilayah yang sebelumnya dikontrol Hamas. Uniknya, sebagian besar kelompok ini berakar dari klan atau keluarga-keluarga besar yang memang memiliki pengaruh historis di Gaza. Mereka bergerak cepat untuk mengisi kekosongan kekuasaan dan membangun jaringan kekuatan sendiri.

Salah satu kelompok paling menonjol dipimpin oleh klan Shabbat, yang aktif di wilayah selatan Gaza. Kelompok ini bahkan dikabarkan mulai membentuk parlemen gabungan sebagai bentuk pemerintahan alternatif. Lebih mengejutkan lagi, ada dugaan kuat bahwa kelompok Shabbat telah menerima bantuan persenjataan dari Israel, sebagai bagian dari strategi untuk mempercepat runtuhnya dominasi Hamas di Gaza.

Dinamika Baru dan Ancaman Perang Saudara

Kabar mengenai keterlibatan Israel dalam memasok senjata kepada kelompok Shabbat langsung menimbulkan kecurigaan dan ketakutan baru di kalangan petinggi Hamas. Sumber-sumber lokal menyebutkan, Hamas sangat khawatir kelompok Shabbat akan menjadi pusat kekuatan oposisi utama, yang bisa menantang legitimasi dan sisa-sisa kekuasaan Hamas di Gaza.

Sebagai respons, Hamas dikabarkan memasang harga tinggi atau “bounty” bagi siapapun yang berhasil menangkap atau melumpuhkan anggota kunci kelompok Shabbat. 

Seorang pejabat Hamas bahkan mengatakan: “Lebih baik kami mengejar kelompok Shabbat daripada harus menghadapi tank-tank Israel di medan perang.” 

Pernyataan ini menegaskan betapa besar ancaman yang dirasakan Hamas dari kelompok-kelompok bersenjata internal, dibandingkan tekanan eksternal dari Israel.

Warga Sipil di Tengah Anarki

Di tengah perebutan kekuasaan dan perang internal ini, nasib warga sipil Gaza semakin memprihatinkan. Ketiadaan aparat keamanan dan runtuhnya struktur pemerintahan membuat kehidupan sehari-hari di Gaza berubah menjadi penuh ketidakpastian. Banyak warga mengaku takut keluar rumah, sementara sebagian lain terpaksa membentuk kelompok-kelompok perlindungan mandiri untuk menjaga keselamatan keluarga mereka.

Salah seorang warga Gaza, yang enggan disebut namanya, mengatakan kepada BBC: “Kami tidak tahu siapa yang menguasai wilayah kami hari ini. Setiap malam kami mendengar suara tembakan, dan tidak ada satu pun yang bisa kami andalkan untuk meminta perlindungan.”

Pandangan Pengamat dan Prospek Gaza ke Depan

Para pengamat Timur Tengah menilai, kondisi di Gaza saat ini sangat mirip dengan anarki total, di mana tidak ada satu pun otoritas yang mampu menegakkan hukum atau memberikan jaminan keamanan. Menurut analis politik BBC, jika situasi ini dibiarkan, Gaza berisiko terjerumus ke dalam perang saudara, di mana kekuatan-kekuatan bersenjata lokal akan terus bersaing memperebutkan wilayah dan sumber daya.

“Ketika otoritas formal lenyap, yang muncul adalah hukum rimba. Ini situasi yang sangat berbahaya, tidak hanya bagi masa depan Gaza, tetapi juga stabilitas kawasan Timur Tengah secara keseluruhan,” ungkap seorang analis dari International Crisis Group.

Penutup

Gaza saat ini berada di persimpangan jalan yang sangat genting. Runtuhnya kekuasaan Hamas, munculnya kelompok-kelompok bersenjata baru, serta kekacauan yang merajalela, menciptakan realitas baru yang penuh ketidakpastian. Tanpa solusi nyata dari komunitas internasional dan pemulihan otoritas pemerintahan yang kuat, ancaman perang saudara dan penderitaan berkepanjangan bagi warga Gaza menjadi sesuatu yang tak terelakkan.

Tiga Kebiasaan Buruk Ini Mengungkap Hati yang Licik — Wanita dengan Sifat Seperti Ini Sebaiknya Jangan Dijadikan Teman Dekat

EtIndonesia. Hidup bagaikan sebuah panggung besar, tempat beragam karakter memainkan kisahnya masing-masing. Dalam pergaulan sehari-hari, kita semua berharap bisa bertemu orang-orang yang tulus dan baik hati. Namun, kenyataannya, tidak sedikit orang yang menyembunyikan wajah aslinya di balik topeng manis.

Orang bijak berkata: “Kebiasaan mencerminkan sifat asli.”

Dan dalam banyak kasus, justru dari kebiasaan kecil seseoranglah kita bisa melihat karakter sejatinya.

Berikut adalah tiga jenis kebiasaan yang sering dimiliki oleh wanita berhati licik. Jika kamu menjumpai wanita dengan kebiasaan seperti ini, sebaiknya jaga jarak, agar tidak terjebak dalam “perangkap emosional” yang mereka ciptakan.

1. Gemar Menyebar Gosip dan Kabar Buruk

Lidah memang tak bertulang, tapi bisa melukai paling dalam.

Ada tipe wanita yang seolah memiliki “radar gosip”, selalu haus akan urusan pribadi orang lain dan gemar menambahkan bumbu demi kesenangan pribadi.

Di kantor, dia akan mengumpulkan rumor diam-diam:

·        Hari ini menyebar kabar bahwa seseorang dekat dengan atasan,

·        Besok menyebarkan isu bahwa temanmu membicarakanmu di belakang.

Di lingkungan tempat tinggal, dia akan membesar-besarkan hal remeh tetangganya menjadi gosip heboh.

Seperti karakter Nyonya Kang dalam drama “The Story of Minglan”, yang merusak keharmonisan rumah tangga dengan adu domba dan intrik licik.

Contoh nyata: seorang tetangga bernama Bu Wang suka menyebar isu di grup warga—menuduh satu keluarga menunggak iuran, keluarga lain menyiksa hewan peliharaan. Akibatnya, orang-orang yang tidak bersalah jadi sasaran fitnah.

Kebiasaan semacam ini lahir dari hati yang sempit dan penuh iri. Berteman dengan orang seperti ini, kamu tidak pernah tahu kapan giliranmu menjadi bahan omongan, dan hatimu pun bisa ikut tersakiti.

2. Suka Mencari Keuntungan Kecil, Bahkan Sampai Merugikan Orang Lain

Keserakahan sering terlihat dari hal-hal sepele.

Ada wanita yang menjadikan “mencari untung kecil” sebagai gaya hidup, dan tidak ragu merugikan orang lain demi sedikit keuntungan.

Contoh:

·        Di supermarket, dia mencopot label kedaluwarsa dari barang lama lalu ditempel ke barang baru.

·        Saat belanja bersama teman, dia mengambil camilan tester berkali-kali tanpa malu.

·        Saat belanja online, meski barangnya baik-baik saja, dia mencari alasan untuk minta pengembalian dana agar mendapat barang gratis.

Pernah viral di media sosial: seorang wanita memesan makanan secara daring, lalu berkali-kali melaporkan “barang kurang” atau “makanan basi” padahal semua dalam kondisi baik.Dia mengulangi modus itu pada banyak restoran hingga akhirnya diblokir.

Kebiasaan ini lahir dari pola pikir yang egois dan penuh perhitungan.

Jika kamu bersahabat dengan orang seperti ini, jangan kaget jika suatu hari kebaikanmu dimanfaatkan, dan ketika kamu tak lagi “menguntungkan”, dia akan berbalik menyerangmu tanpa rasa bersalah.

3. Tak Suka Melihat Orang Lain Bahagia, Sering Menjatuhkan dengan Kata-Kata Pedas

Api iri hati mampu membakar nurani.

Ada juga wanita yang tidak tahan melihat orang lain lebih baik darinya.

·        Teman kantor naik jabatan? Dia akan berkata: “Pasti ada main sama bos.”

·        Teman menikah? Dia sinis: “Paling juga cepat cerai.”

·        Keponakan orang lain lulus ujian? IDia mengejek: “Ah, pasti karena kenalan.”

Seperti ratu jahat dalam cerita Putri Salju—yang karena iri, mencoba menghancurkan kecantikan dan kebahagiaan orang lain.

Contoh nyata: seorang pengguna media sosial bernama Xiao Li pernah dirundung oleh sahabatnya sendiri.

Ketika Xiao Li mulai sukses di media sosial, “sahabatnya” justru menyebar fitnah bahwa semua kontennya hasil plagiat dan statistiknya dimanipulasi.

Bukan ikut bangga, malah sibuk menjatuhkan.

Kebiasaan seperti ini berasal dari rasa minder dan hati yang gelap. Berteman dengan orang seperti ini, kamu akan perlahan kehilangan rasa percaya diri, karena dia akan terus membuatmu merasa tidak cukup baik.

Kesimpulan: Hati-Hati, Jangan Hanya Lihat Wajah Ramahnya

Orangtua dulu berkata: “Melukis harimau bisa terlihat kulitnya, tapi tidak mudah mengenali tulangnya. Kenal wajah belum tentu kenal hati.”

Saat bersosialisasi, jangan tertipu senyum manis dan keramahan di permukaan.

Jika kamu melihat seseorang yang:

·        Suka menyebar gosip,

·        Suka mengambil keuntungan kecil dengan licik,

·        Atau tidak bisa melihat orang lain bahagia,

Maka sebaiknya kamu jangan terlalu dekat. Karena dalam pergaulan, perlindungan terbaik adalah menjaga jarak dari yang merusak hati dan kehidupan kita.

Lebih baik dikelilingi sedikit orang yang tulus, daripada banyak teman yang penuh perhitungan.(jhn/y)

Sirine Serangan Udara Terdengar di Beberapa Wilayah Israel, Militer Cegat Rudal dari Yaman

EtIndonesia. Pada  Minggu (6 Juli) dini hari, sirine peringatan serangan udara terdengar di beberapa wilayah Israel. Tak lama setelah itu, militer Israel mengumumkan bahwa mereka telah berhasil mencegat sebuah rudal yang ditembakkan dari Yaman menuju wilayah Israel.

Menurut laporan Reuters, juru bicara kelompok pemberontak Houthi di Yaman menyatakan beberapa jam kemudian bahwa kelompok tersebut menembakkan rudal balistik ke arah wilayah Jaffa, yang berada di bagian tengah Israel.

Israel kemudian mengeluarkan peringatan keras kepada kelompok Houthi, menyatakan bahwa jika mereka terus melakukan serangan terhadap Israel, maka Israel akan memberlakukan blokade laut dan udara terhadap mereka.

Kelompok Houthi, yang merupakan sekutu Iran, menguasai sebagian wilayah di Yaman. 

Sejak Israel melancarkan perang di Gaza pada Oktober 2023, Houthi terus melakukan serangan terhadap Israel dan juga terhadap pelayaran di Laut Merah dengan alasan mendukung rakyat Palestina di Gaza. Serangan ini telah mengganggu jalur perdagangan global. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

BRICS Gagal Bersatu Lawan Amerika Serikat, Malah Korbankan Beijing

Etindonesia. Ragam berita kali ini tentang Tiongkok yang sangat bergantung pada logam tanah jarang dari Myanmar hingga BRICS yang baru-baru menggelar KTT di Brasil gagal melawan Amerika Serikat. 

Logam Tanah Jarang Myanmar

Tiongkok selama ini memonopoli pasar global dalam proses pemurnian dan pengolahan logam tanah jarang   dan karena itu menjadikannya sebagai senjata dalam perang dagang antara AS dan Tiongkok. Namun, hal yang jarang diketahui publik adalah bahwa di balik dominasi tersebut, Tiongkok justru semakin bergantung pada pasokan rare earth dari Myanmar.

Menurut laporan dari surat kabar bisnis Jerman Handelsblatt dan kantor berita Reuters, sebagian besar rare earth yang digunakan di Tiongkok sebenarnya berasal dari Myanmar dan kemudian diproses di Tiongkok. Myanmar adalah negara pemasok rare earth asing paling penting bagi Tiongkok.

Data dari Bea Cukai Tiongkok tahun 2024 menunjukkan bahwa dua pertiga dari impor rare earth Tiongkok berasal dari Myanmar. Dalam empat bulan pertama tahun ini, hampir setengah dari impor rare earth berat datang dari Myanmar yang dilanda konflik bersenjata.

Laporan menyebutkan bahwa bahan tambang tersebut terutama diekstraksi dari Negara Bagian Kachin di utara Myanmar. Proses penambangan ini tidak hanya menyebabkan masalah kesehatan serius bagi warga setempat, tetapi juga merusak ekonomi tradisional masyarakat dan memperpanjang perang saudara yang telah berlangsung selama bertahun-tahun di wilayah tersebut.

Negara-Negara BRICS Gagal Bersatu Lawan AS, Malah Mengorbankan Tiongkok

KTT BRICS digelar pada 6 Juli di Rio de Janeiro, Brasil. Namun, dua pemimpin utama — Xi Jinping dari Tiongkok dan Vladimir Putin dari Rusia — sama-sama tidak hadir.

Media Barat melaporkan bahwa, demi menghindari kemarahan Presiden Trump, deklarasi KTT BRICS tahun ini mungkin akan menghindari isu-isu kontroversial, bahkan mengorbankan kepentingan Beijing.

Surat kabar Financial Times melaporkan bahwa meski BRICS sering menyombongkan diri mewakili hampir separuh populasi dunia, KTT tahunan yang digelar 6 Juli di Brasil justru menunjukkan kelemahan utama mereka — yaitu kesulitan untuk mencapai konsensus.

Sejak awal didirikan, BRICS terdiri dari 5 negara (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan), namun kini telah berkembang menjadi 11 negara anggota. Sayangnya, penambahan anggota justru menimbulkan perpecahan baru, memperbesar masalah kohesi internal yang sejak awal memang sudah rapuh. Ditambah lagi, perbedaan sistem pemerintahan antara negara demokratis dan otoriter memperlebar jurang konflik kepentingan.

Tahun ini, sekitar separuh pemimpin negara anggota BRICS tidak hadir dalam pertemuan, termasuk Xi Jinping dan Vladimir Putin.

Dengan BRICS yang semakin terpecah, mereka sulit mengeluarkan kebijakan ekonomi atau pernyataan bersama yang solid dan terkoordinasi.

Seorang akademisi Tiongkok mengatakan bahwa BRICS pada awalnya dibentuk dengan misi utama melawan dominasi AS, namun pada kenyataannya, bukan hanya gagal bersatu melawan Amerika, melainkan kini menerima pendekatan unilateralisme AS dan malah melakukan negosiasi satu lawan satu dengan Washington. Bahkan, dalam beberapa kasus, kepentingan Tiongkok justru dikorbankan. “Vietnam,” katanya, “adalah contoh nyata.” (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Gelombang Panas di Tiongkok: Mahasiswa Pingsan Dilarikan ke RS, Penjaga Asrama Tewas Kepanasan, Burung Jatuh karena Hipertermia

EtIndonesia. Gelombang panas melanda banyak provinsi di Tiongkok selama beberapa hari terakhir. Suhu tinggi membuat asrama mahasiswa berubah menjadi “ruang kukus”. Seorang mahasiswa di Yantai, Provinsi Shandong pingsan karena kepanasan dan dilarikan ke rumah sakit, sementara hotel-hotel di sekitar kampus penuh. Di Universitas Qingdao, seorang petugas asrama tewas karena serangan panas. Bahkan, ada mahasiswa lainnya juga dilarikan ke rumah sakit karena sengatan panas.

Mahasiswa Yantai Pingsan karena Panas, Hotel Sekitar Kampus Penuh

Di Kota Yantai, Provinsi Shandong, suhu tinggi terus berlangsung. Seorang pengguna internet membagikan video bahwa asrama mahasiswa di Kampus Donghai, Universitas Nanshan Yantai, tidak dilengkapi AC. Seorang mahasiswa pingsan karena panas dan dibawa ambulans ke rumah sakit. Topik ini menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Suhu tinggi di Shandong telah berlangsung selama beberapa hari. (Foto internet)

Pada 5 Juli, seorang mahasiswa dari kampus tersebut mengatakan kepada wartawan bahwa suhu tinggi sudah berlangsung beberapa hari. Asrama mereka tidak memiliki AC, hanya kipas angin kecil yang anginnya pun terasa panas karena suhu udara yang tinggi. Mereka hanya bisa mandi berkali-kali untuk menurunkan suhu tubuh.

Mahasiswa lainnya mengatakan, banyak yang pergi ke minimarket kampus untuk mencari tempat yang ber-AC, tetapi karena pintu asrama dikunci pada malam hari, mereka hanya bisa bertahan di minimarket sampai sekitar pukul 21.00 malam.

Manajer asrama lama meninggal karena serangan panas. (Foto internet)

Karena tidak ada solusi pendinginan lain di asrama, banyak mahasiswa yang harus “bertahan” di malam hari. Beberapa dari mereka sampai pingsan dan dilarikan ke rumah sakit dengan ambulans.

Seorang staf kampus mengatakan bahwa beberapa gedung di kampus sudah tua dan sistem kelistrikan tidak cukup kuat untuk mendukung pemasangan AC, sehingga belum bisa dipasang dalam waktu dekat. Ia menyatakan bahwa “pihak pimpinan kampus sedang berdiskusi mencari solusi.”

Para siswa mengukur suhu tubuh pria tua yang bertugas dan mendapati suhu tubuhnya mencapai 43,2 derajat. (Foto internet)

Menurut laporan Red Star News, banyak mahasiswa yang memilih menyewa penginapan di luar kampus karena panas, yang menyebabkan harga hotel dan homestay naik. Bahkan ada mahasiswa yang tidur di perpustakaan kampus.

Pada 6 Juli, sejumlah hotel dan homestay di sekitar kampus mengakui bahwa jumlah pemesanan dari mahasiswa meningkat drastis dan kamar mulai langka.

Shandong Alami Suhu Ekstrem hingga 42,7°C

Pada 5 Juli, sebagian besar wilayah Yantai mencatat suhu maksimum antara 36–39°C, bahkan beberapa daerah mencatat lebih dari 40°C. Suhu tertinggi tercatat di Jalan Chenggang, yaitu 42,7°C. Sebanyak 26 stasiun cuaca mencatat suhu di atas 40°C, terutama di wilayah Laizhou dan Zhaoyuan.

Petugas Asrama Universitas Qingdao Meninggal Dunia karena Heatstroke, Mahasiswa Juga Dirawat

Qingdao, yang biasanya menjadi tempat pelarian dari panas saat musim panas, juga dilanda gelombang panas. Pada 6 Juli, seorang petugas asrama pria berusia 60 tahun ditemukan pingsan di pos jaga dan dinyatakan meninggal di rumah sakit. Penyebab kematian yang tertulis dalam surat keterangan adalah “serangan panas” (heatstroke).

Foto pos penjagaan menunjukkan suhu dalam ruangan mencapai 43,2°C.

Lebih menyedihkan lagi, ditemukan tumpukan kwitansi piutang di laci petugas tersebut. Dalam catatan yang ditinggalkannya, ia telah delapan bulan tidak menerima gaji. Ia hanya makan mie instan rebus tiga kali sehari dan bahkan tidak sanggup membeli sayuran murah seharga 3 yuan di kantin.

Topik ini juga sempat menjadi trending di media sosial. Departemen Keamanan Universitas Qingdao membenarkan kejadian tersebut pada 6 Juli.

Mahasiswa menyebutkan bahwa almarhum adalah penjaga asrama wilayah Yingyuan. Ia tinggal di rumah jaga dekat pintu masuk. Rumah tersebut hanya memiliki kipas angin dan tidak ada AC.

Seorang mahasiswa juga mengatakan bahwa pada pagi hari 6 Juli, seorang mahasiswa lain dari asrama Yingyuan mengalami heatstroke dan dilarikan ke rumah sakit.

Badan Meteorologi Qingdao telah mengeluarkan peringatan suhu tinggi selama 10 hari berturut-turut dengan suhu lebih dari 35°C, dan suhu yang dirasakan mencapai lebih dari 40°C.

Banyak warganet mempertanyakan mengapa asrama di universitas-universitas Tiongkok masih belum memiliki AC. Seorang netizen menulis dengan marah:  “Di era kampus pintar di mana kampus 985 berlomba-lomba membangun teknologi, mengapa masih ada mahasiswa yang mempertaruhkan nyawa melawan panas?”

Ia juga mengkritik “pembangunan untuk pencitraan”, menyebutkan bahwa renovasi gerbang kampus bisa menghabiskan puluhan juta yuan, sementara anggaran untuk asrama kurang dari 5%.

Pada tanggal 4 Juli 2025, seekor burung di Wuhan juga jatuh ke tanah karena sengatan panas. (Foto gabungan dari Internet)

Panas Ekstrem di Wuhan: Burung Terjatuh karena Kepanasan

Sejak awal Juli, lebih dari sepuluh provinsi di Tiongkok dari Jiangnan hingga Tiongkok Timur Laut mengalami gelombang panas. Suhu di banyak kota melewati 40°C, bahkan ada yang mencapai lebih dari 45°C. Di wilayah Huabei, Huadong, dan Huanan, suhu permukaan tanah melebihi 60°C. Aspal jalan melunak, bodi mobil menjadi sangat panas, dan permukaan jalan retak.

Stasiun Meteorologi Xujiahui di Shanghai mencatat suhu udara 36,4°C, namun suhu daratan melebihi 60°C. Suara “mencicit” dari sol sepatu yang meleleh terdengar di jalanan.

Di Wuhan, Provinsi Hubei, pengukuran dari Pusat Meteorologi menunjukkan bahwa pada pukul 12 siang, suhu permukaan jalan di Distrik Jianghan mencapai 72,3°C. Bahkan telur bisa matang dalam waktu 5 menit jika diletakkan di jalan.

Pada 4 Juli pukul 14:17, seekor merpati abu-abu tiba-tiba jatuh dari langit di bawah pohon phoenix di Taman Zhongshan, Hankou. Sayapnya menghantam aspal panas dengan bunyi “plak”, paruhnya terbuka-tutup tapi tidak bersuara.

Seorang ibu bernama Chen yang melintas merekam kejadian itu dengan tangan gemetar:
“Itu kejang seperti kesetrum, dadanya naik-turun hebat — itu heatstroke!”

Di Taman Tepi Sungai Hankou juga ditemukan beberapa burung pipit yang dehidrasi. Para ahli memastikan bahwa burung-burung tersebut jatuh karena suhu tubuh yang tak terkendali saat mencari makan.

Data IGD Rumah Sakit Ketiga Kota Wuhan menunjukkan bahwa jumlah pasien yang dirawat akibat heatstroke minggu ini meningkat 300% dibandingkan tahun lalu. (Hui/asr)

Laporan oleh Xue Fei / Liu Mingxiang – NTDTV