Netanyahu Bertolak ke AS Temui Trump, Gencatan Senjata Gaza Berpeluang Terwujud Pekan Depan

Pada Minggu (6/7/2025), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertolak ke Amerika Serikat untuk bertemu Presiden AS Donald Trump, dalam rangka mendorong tercapainya gencatan senjata di Gaza dan mewujudkan perdamaian di Timur Tengah.

EtIndonesia. Perdana Menteri Netanyahu berangkat ke AS pada Minggu (6/7). Ia menyampaikan pernyataan di Bandara Ben Gurion sebelum terbang, menyatakan keyakinannya bahwa Presiden Trump “pasti bisa mendorong proses gencatan senjata”.

 “Saat bertemu Presiden Trump, saya akan terlebih dahulu mengucapkan terima kasih atas dukungan besarnya terhadap Israel. Israel belum pernah memiliki sahabat seperti ini di Gedung Putih. Kita telah bekerja sama dan meraih kemenangan besar dalam melawan musuh bersama kita, yaitu Iran,” katanya. 

Kunjungan ini akan menjadi kunjungan Netanyahu ke Gedung Putih yang ketiga sejak Trump menjabat kembali sebagai presiden hampir enam bulan lalu.

 “Undangan kepada Netanyahu untuk berkunjung ke Gedung Putih bukan hanya perayaan kemenangan militer terhadap Iran, tetapi juga bisa menjadi dorongan nyata bagi tercapainya gencatan senjata di Gaza. Ini penting bagi Presiden Trump, karena tidak hanya memperkuat basis dukungannya di dalam negeri, tetapi juga mendorong agenda kebijakan luar negerinya secara keseluruhan,” ujar Mona Yacoubian, Direktur Program Timur Tengah di Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS). 

Pada 1 Juli, Israel menerima proposal perjanjian gencatan senjata sementara yang diajukan Gedung Putih. Perjanjian tersebut mencakup 60 hari gencatan senjata awal, dengan Israel mengizinkan lebih banyak bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza. 

Sebagai imbalannya, Hamas diminta membebaskan 10 sandera yang masih hidup dan menyerahkan 18 jenazah sandera, serta memulai “perundingan damai substantif” pada hari pertama gencatan senjata. Presiden Trump akan bertindak sebagai “penjamin” kesepakatan tersebut.

Presiden AS Donald Trump:  “Minggu depan, mungkin akan tercapai kesepakatan terkait Gaza.”

( Wartawan: “Seberapa optimis Anda?”)
“Saya sangat optimis. Tapi seperti yang Anda tahu, situasinya berubah setiap hari — dan telah berubah selama bertahun-tahun.”

Pada 4 Juli, Hamas mengembalikan versi yang telah direvisi dari perjanjian tersebut kepada Israel. Netanyahu keesokan harinya menyatakan bahwa meskipun Israel tidak dapat menerima semua revisi tersebut, mereka tetap akan mengirim delegasi perunding ke Doha untuk mengikuti pembicaraan tidak langsung yang dimediasi oleh Qatar dan Mesir. Di hari yang sama, Presiden Trump menulis di media sosial “Truth Social” dan mendesak Hamas agar menerima perjanjian tersebut.

Pada 6 Juli, kelompok sekutu Hamas, yaitu Houthi di Yaman, menembakkan sebuah rudal balistik ke wilayah tengah Israel, tetapi berhasil dicegat oleh militer Israel. (Hui/asr)

Laporan oleh Zhang Qin – NTDTV

Elon Musk Dirikan “Partai Amerika”,  Media AS Menganalisis Empat Tantangan Utama yang Akan Dihadapinya

EtIndonesia. Setelah berselisih dengan Presiden AS Donald Trump, miliarder Elon Musk pada Sabtu (5 Juli) mengumumkan pembentukan partai politik baru dan menyatakan bahwa partai ini akan mewakili 80% pemilih moderat. Namun, media Amerika menganalisis bahwa partai baru ini akan menghadapi beberapa tantangan besar. 

Musk Mendirikan Partai Baru!

Dalam sebuah unggahan di platform X pada 5 Juli, Elon Musk menyatakan: “Hari ini, Partai Amerika (America Party) resmi didirikan — untuk mengembalikan kebebasan kepada kalian.”

Namun hingga kini, Musk belum menyerahkan dokumen pendaftaran resmi dan belum mengumumkan secara rinci platform atau manifesto partainya.

Pada hari yang sama, Musk menyatakan dukungan terhadap saran kebijakan dari seorang pengguna X, yang meliputi pengurangan utang nasional, modernisasi militer dengan kecerdasan buatan dan robotika, dukungan terhadap kebebasan berbicara, pengembangan teknologi, peningkatan angka kelahiran, serta mempertahankan posisi moderat dalam isu-isu lainnya.

Meski demikian, media Amerika mengutip analisis para ahli yang mengatakan bahwa menggoyang dominasi dua partai tradisional di AS bukanlah perkara mudah.

Tantangan Pertama:

Sistem pemilu “pemenang mengambil semua” (winner-take-all) di Amerika tidak menguntungkan bagi kebangkitan partai ketiga.

Sebagai contoh, pada tahun 1992, miliarder Ross Perot mencalonkan diri sebagai kandidat independen dan memperoleh hampir 1/5 suara populer, namun tidak memenangkan satu pun negara bagian dan tidak meraih suara elektoral, sehingga pemilu saat itu dimenangkan oleh Bill Clinton.

Tantangan Kedua:

Setelah keluar dari lingkaran pemerintah federal dan berseteru dengan Presiden Trump, pengaruh Musk dalam Partai Republik tampaknya semakin melemah. Para ahli menekankan bahwa meski Musk memiliki kekayaan besar, sebuah partai baru memerlukan sekelompok pendukung yang sangat loyal dan rela bertahan menghadapi banyak kegagalan di tahap awal — sesuatu yang tidak bisa dibeli hanya dengan uang.

Tantangan Ketiga:

Musk dikenal sebagai pengusaha inovatif yang suka menabrak batas dan menetapkan visi besar untuk timnya. Namun, apakah karakternya itu bisa cocok dengan dunia politik yang menuntut kesabaran, kampanye panjang, dan proses birokrasi yang rumit — masih menjadi tanda tanya.

Tantangan Keempat:

Musk menyatakan bahwa partai barunya mewakili 80% pemilih moderat. Namun, kelompok “80%” ini sangat beragam dalam pandangan politiknya, sehingga belum tentu memiliki kekompakan yang dibutuhkan untuk membentuk satu partai yang solid.

Meski begitu, pembentukan partai oleh Musk tetap berpotensi mengguncang lanskap politik Amerika.

Musk mengatakan bahwa ia menargetkan pemilu sela tahun 2026.

Profesor Mac McCorkle dari Sekolah Kebijakan Publik Sanford di Universitas Duke menyatakan bahwa meskipun kandidat dari Partai Amerika mungkin tidak akan menang dalam pemilu, mereka dapat berperan sebagai “pengganggu” yang mengacaukan strategi pemilu Partai Republik, dan bisa memperoleh cukup suara di negara bagian kunci seperti North Carolina untuk mengubah hasil akhir.

Seorang taipan yang masuk dunia politik — akankah Elon Musk menjadi “Trump kedua”?  Hanya waktu yang bisa menjawabnya. (Hui/asr)

Laporan oleh Jin Shi – NTDTV

Banjir di Texas Menewaskan 80 Orang, Trump Tandatangani Deklarasi Bencana Besar

  • Pada Minggu (6 Juli), jumlah korban tewas akibat banjir bersejarah di Texas meningkat menjadi sedikitnya 80 orang, sementara 41 orang masih dinyatakan hilang. 
  • Di Wilayah Kerr, yang paling parah terdampak, mencatat 59 korban jiwa, termasuk 21 anak-anak. Selain itu, 11 anak perempuan yang sedang berkemah juga dilaporkan hilang. 
  • Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari yang sama menandatangani Pernyataan Bencana Besar untuk wilayah Kerr, guna memastikan para petugas penyelamat di garis depan segera mendapatkan sumber daya yang mereka butuhkan.

EtIndonesia. Sejak  4 Juli 2025 dini hari, badai hebat mendadak melanda dan menyebabkan banjir bandang bersejarah di wilayah tengah Texas. Permukaan air Sungai Guadalupe naik drastis hingga 8 meter dalam waktu singkat. Arus deras menghancurkan jalan-jalan dan rumah-rumah, serta menjadi mimpi buruk bagi para berkemah di sepanjang sungai.

Hingga Minggu sore, jumlah korban tewas telah meningkat menjadi sedikitnya 80 orang, dan 41 orang masih hilang. Sebanyak 59 korban tewas berada di Kabupaten Kerr, yang merupakan daerah paling terdampak. Dari jumlah tersebut, 21 adalah anak-anak.

Seorang perekam di video yang beredar : “Di sana seharusnya banyak pohon, dan di sana biasanya ada jalan kecil. Sungguh mengerikan. Ya Tuhan!”

Sheriff Kerr County, Larry L. Leitha: “Dari korban meninggal dunia di (Kabupaten Kerr), 38 adalah orang dewasa dan 21 anak-anak. Ada pula 18 orang dewasa dan 4 anak yang identitasnya masih belum diketahui.”

Saat ini, masih ada 11 anak perempuan dan satu pembimbing dari lokasi perkemahan yang belum ditemukan. Tim penyelamat sedang mengerahkan semua sumber daya yang ada, termasuk helikopter dan drone, untuk melakukan pencarian dan penyelamatan secara maksimal. Sebanyak 850 orang telah berhasil dievakuasi ke tempat yang aman.

Manajer Kota Kerrville, Dalton Rice: “Saat ini prioritas utama kami adalah memastikan keluarga bisa bersatu kembali dengan orang-orang tercinta mereka. Karena itu, kami tidak akan berhenti sampai keluarga-keluarga ini dipersatukan kembali.”

Presiden Trump pada Minggu menandatangani Pernyataan Bencana Besar untuk Kabupaten Kerr, guna memastikan para petugas darurat dapat segera memperoleh sumber daya penting yang mereka perlukan.

Dalam pernyataan itu disebutkan bahwa keluarga-keluarga ini tengah mengalami tragedi yang sulit dibayangkan: banyak nyawa telah hilang, dan banyak orang masih dinyatakan hilang. Pemerintahan Trump akan terus bekerja sama erat dengan pemerintah negara bagian dan lokal.

Ketua DPR AS, Mike Johnson: “Semua sumber daya yang tersedia telah dikerahkan. Tentu saja, Presiden juga mengikuti perkembangan situasi ini dengan saksama. Kami akan menangani permintaan dana tambahan yang masuk, tetapi untuk saat ini, mereka masih fokus pada penyelamatan dan pemulihan. Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada semua pihak.”

Karena banjir datang dengan sangat cepat dan dahsyat, banyak warga masih trauma saat mengingat kembali peristiwa itu.

Warga Kerrville, Scott Walden: “Ini seperti banjir yang hanya terjadi sekali dalam dua ratus tahun. Ya, ini benar-benar tidak biasa. Dalam lima menit terakhir, permukaan air naik dari sana ke sini. Lalu sepuluh menit berikutnya, air sudah setinggi ini. Sangat menakutkan. Benar-benar mengerikan.”

Badan Meteorologi Nasional AS melaporkan bahwa badai petir menyebabkan curah hujan lebih dari 30 cm di Texas tengah — setara dengan separuh curah hujan tahunan rata-rata di wilayah tersebut. Saat ini, kondisi darurat banjir di Kabupaten Kerr sebagian besar telah berakhir, namun peringatan banjir untuk wilayah yang lebih luas masih berlaku hingga  6 Juli pukul 19.00 waktu setempat. (Hui/asr) 

Laporan oleh Yi Jing – NTDTV

BRICS Memudar? Pemimpin Tiongkok, Rusia, dan Iran Absen dari Pertemuan Puncak

KTT negara-negara BRICS diselenggarakan pada  Minggu (6/7/2025) di Rio de Janeiro, Brasil. Ini adalah pertemuan puncak pertama sejak perluasan keanggotaan BRICS. Namun, para pemimpin dari dua negara pendiri — Tiongkok dan Rusia — absen dari pertemuan tersebut.

EtIndonesia. Pertemuan KTT BRICS kali ini adalah yang pertama kalinya dalam 12 tahun terakhir Pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping tidak hadir dalam KTT. Alasan resmi yang diberikan adalah “bentrok jadwal”, dan Perdana Menteri Li Qiang dikirim sebagai pengganti.

Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin memilih berpartisipasi secara virtual karena masih menghadapi surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC).  Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, juga tidak hadir karena negaranya baru saja mengalami serangan udara oleh Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklirnya.

Pengamat menilai bahwa absennya para pemimpin ini mencerminkan melemahnya kohesi internal dalam BRICS pasca-perluasan. Bahkan, memperlihatkan bahwa peran aliansi ideologis BRICS kian kabur.

KTT kali ini membahas berbagai isu, termasuk perang di Gaza dan perkembangan kecerdasan buatan. Namun, setelah ekspansi, negara-negara BRICS kini memiliki pandangan yang berbeda dalam hal sikap terhadap Amerika Serikat, kebijakan ekonomi, dan geopolitik. Hal ini menimbulkan pertanyaan di kalangan luar: apakah kelompok ini masih mampu mencapai konsensus?

BRICS awalnya dibentuk oleh Brasil, Rusia, India, dan Tiongkok. Kemudian diikuti oleh Afrika Selatan, Mesir, Iran, dan negara lainnya. Saat ini, BRICS memiliki 10 anggota resmi. (Hui/asr)

Laporan oleh Xu Zhe dan Chi Xiao – NTDTV

Sebuah Kisah Nyata yang Mengharukan, Matamu akan Berkaca-kaca Setelah Membacanya…

EtIndonesia. Serangkaian kesalahpahaman yang menyakitkan telah mengguncang kebahagiaan. Ketika simpul takdir akhirnya berhasil dibuka—semuanya sudah terlambat. 

Kami berniat membawa ibu mertua tinggal bersama agar dia bisa menikmati masa tua dengan tenang. Namun ternyata, segala sesuatunya tak berjalan seperti yang kami harapkan.

Dua tahun setelah menikah, suamiku mengusulkan untuk menjemput ibunya dari desa agar bisa tinggal bersama kami di kota. Ayahnya telah lama tiada sejak suamiku masih kecil, dan ibunya adalah satu-satunya penopang hidupnya. 

Dia membesarkan dan menyekolahkannya hingga lulus universitas dengan penuh pengorbanan dan air mata. “Mengasuh dengan susah payah”—kalimat itu sangat cocok untuk menggambarkan ibunya. 

Aku langsung setuju. Aku segera menyiapkan kamar menghadap selatan dengan balkon yang hangat untuk mertuaku. Dia bisa menikmati matahari pagi, menanam bunga, dan bersantai.

Saat suamiku berdiri di kamar yang penuh cahaya, dia tak berkata sepatah pun. Tiba-tiba dia mengangkat tubuhku dan memutarku berputar-putar di udara. Saat aku tertawa sambil minta diturunkan, dia berkata pelan: “Ayo kita jemput Ibu.”

Suamiku bertubuh tinggi besar, aku senang memeluk dadanya. Rasanya tubuhku yang mungil bisa dia masukkan ke dalam sakunya kapan saja. Bila kami bertengkar dan aku keras kepala tak mau mengalah, dia akan mengangkatku tinggi-tinggi, menggoyang-goyangkanku di atas kepalanya hingga aku ketakutan dan menyerah. Rasa takut yang menyenangkan itu membuatku ketagihan.

Namun, ibu mertua sulit mengubah kebiasaan hidup dari desa. Aku biasa membeli bunga segar untuk diletakkan di ruang tamu. Suatu hari, dia tak tahan lagi dan berkata: “Kalian anak muda tidak tahu hidup hemat! Beli bunga buat apa? Tidak bisa dimakan!”

Aku tersenyum dan menjawab: “Bu, kalau rumah dipenuhi bunga, hati pun terasa lebih bahagia.”

Dia menunduk sambil menggerutu. Suamiku menimpali:  “Bu, itu kebiasaan orang kota. Nanti juga Ibu terbiasa.”

Sejak saat itu, ibu mertua tidak berkata lagi. Tapi tiap kali aku membawa bunga pulang, dia selalu bertanya harganya. Saat aku jawab, dia akan menggeleng sambil menghela napas.
Kalau aku belanja banyak barang dan pulang membawa beberapa kantong, dia akan menanyai satu per satu harganya. Suamiku lalu mencubit hidungku sambil berkata: “Istri bodohku, jangan jujur-jujur amat, pura-pura murah saja kan bisa.”

Kehidupan yang awalnya bahagia mulai timbul gesekan kecil. Ibu mertua paling tidak suka kalau suamiku membuatkan sarapan untukku. Di matanya, laki-laki memasak untuk istri adalah hal yang sangat tidak pantas. Saat sarapan, wajahnya sering masam. Aku berpura-pura tidak melihatnya. Dia pun membenturkan sumpitnya ke mangkuk sebagai bentuk protes diam-diam.

Aku adalah guru tari di Pusat Seni Anak. Tubuhku sudah cukup lelah karena terus bergerak seharian. Pagi hari adalah satu-satunya waktu aku bisa menikmati hangatnya selimut, jadi aku pura-pura tidak tahu atas protesnya.

Ibu mertua kadang-kadang membantuku mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi ketika dia ikut turun tangan, pekerjaanku malah bertambah. Misalnya, dia mengumpulkan semua kantong plastik bekas dan menyimpannya karena menurutnya bisa dijual untuk tambahan uang. Rumah jadi penuh plastik bekas. Dia juga tidak suka memakai sabun cuci piring. Supaya tidak melukai harga dirinya, aku harus mencuci ulang diam-diam setelahnya.

Suatu malam, aku ketahuan mencuci ulang piring. Dia langsung menutup pintu kamar dengan keras dan menangis keras-keras. Suamiku merasa bingung dan serba salah. Malam itu dia tidak bicara sepatah kata pun padaku. Aku mencoba menggoda dan bermanja, tapi dia tetap diam.

Akhirnya aku marah dan bertanya: “Apa salahku?”

Suamiku menatapku dan berkata: “Apa kamu tak bisa sedikit saja mengalah? Piring tidak bersih juga tidak akan membunuh orang, kan?”

Sejak itu, ibu mertua enggan berbicara denganku. Suasana rumah menjadi sangat canggung. Suamiku pun hidup dalam tekanan—dia tak tahu siapa yang harus dia buat bahagia lebih dulu.

Agar suaminya tidak lagi memasak, ibu mertua memutuskan sendiri mengambil alih tugas masak pagi. Dia senang melihat suaminya lahap makan masakannya, lalu menoleh ke arahku, seolah berkata: “Kamu istri macam apa? Bahkan membuat sarapan pun tidak bisa!”

Untuk menghindari suasana tak nyaman, aku memilih membeli susu kotak di jalan untuk sarapan.

Suatu malam, suamiku bertanya: “Lu Di, kamu tidak mau sarapan di rumah karena tak suka masakan Ibu, ya?”

Lalu dia membalikkan badan dan memberiku punggung yang dingin. Aku menangis dalam diam. 

Dia menghela napas dan berkata: “Lu Di, anggap saja demi aku. Sarapanlah di rumah, ya?”

Akhirnya aku kembali duduk di meja makan yang dingin dan kaku itu.

Namun pagi itu, saat aku menelan bubur buatan ibu mertua, tiba-tiba aku merasa sangat mual. Aku menahan dengan sekuat tenaga, tapi tak bisa. Aku menjatuhkan sendok dan lari ke kamar mandi, muntah hebat.

Saat aku keluar, aku mendengar ibu mertua menangis dengan dialek daerah sambil mengomel. Suamiku berdiri di depan pintu kamar mandi, memandangku dengan marah.

 Aku tergagap: “Aku… aku sungguh tidak sengaja.”

Namun suamiku langsung bertengkar hebat denganku untuk pertama kalinya. Ibu mertua memandangi kami, lalu bangkit dengan tertatih dan keluar dari rumah. Suamiku menatapku dengan penuh benci, lalu berlari mengejar ibunya.

Kehidupan Baru Datang—Namun Merenggut Nyawa Ibu Mertua

Tiga hari suamiku tidak pulang. Tidak ada kabar. Aku masih marah. Sejak ibu mertua datang, aku sudah banyak mengalah. Tapi kenapa aku harus selalu mengalah?

Aku mulai merasa selalu ingin muntah, tak nafsu makan, hati kacau. Seorang rekan kerja melihat wajahku pucat dan menyarankan agar aku pergi periksa ke rumah sakit.

Hasilnya: aku hamil.

Saat itulah aku sadar, muntah waktu sarapan itu adalah tanda kehamilan. Aku seharusnya bahagia, tapi juga merasa getir. Kenapa suamiku dan ibunya yang sudah berpengalaman tidak menyadari ini?

Di luar rumah sakit, aku melihat suamiku. Baru tiga hari tak bertemu, dia terlihat jauh lebih kurus. Aku ingin pergi, tapi melihat dirinya, hati ini luluh. Aku memanggilnya.

Dia menoleh, dan memandangku seolah aku orang asing. Ada rasa jijik dan benci yang tidak dia sembunyikan. Tatapannya melukai aku hingga ke dalam hati. Aku buru-buru menumpang taksi. Di dalam taksi, air mataku jatuh tak terbendung.
 

Aku ingin berteriak: “Sayang, aku mengandung anakmu!”

Namun kenyataan itu tak terjadi. Kenapa hanya karena satu pertengkaran, cinta kami jadi seburuk ini?

Malam itu, aku mendengar suara laci dibuka. Ketika aku menyalakan lampu, kulihat wajah suamiku penuh air mata. Dia sedang mengambil uang dan buku tabungan. Aku hanya diam memandangi dia dengan tatapan dingin. Dia pun berpura-pura tak melihatku dan buru-buru pergi.

Aku berpikir, mungkin dia ingin benar-benar meninggalkanku. Laki-laki yang rasional. Urusan cinta dan uang dia pisahkan dengan sangat jelas. Aku tertawa sinis, lalu menangis sejadi-jadinya.

Keesokan harinya, aku tidak pergi bekerja. Ingin menata ulang pikiranku. Aku berniat mencari suamiku dan bicara dari hati ke hati.

Namun saat sampai di kantornya, sekretarisnya melihatku dengan tatapan heran dan berkata  “Ibu Pak Chen tertabrak mobil. Beliau sedang di rumah sakit.”

Aku tertegun.

Aku segera berlari ke rumah sakit.

Saat aku tiba, ibu mertua telah meninggal dunia.

Suamiku tidak berkata sepatah pun padaku. Dia bahkan tak menatapku, wajahnya beku dan penuh kebencian.

Saat aku melihat wajah ibu mertua yang pucat dan kurus, air mataku mengalir tanpa henti. “Ya Tuhan… kenapa bisa jadi begini?”

Bahkan sampai upacara pemakaman selesai, suamiku tidak mengucapkan sepatah kata pun padaku. Tatapannya tetap penuh kebencian.

Aku kemudian mendengar dari orang lain bahwa setelah ibu keluar rumah hari itu, dia berjalan sendirian menuju stasiun, ingin pulang ke kampung.

Suamiku menyusulnya. Tapi semakin dia kejar, ibunya semakin cepat berjalan. Saat menyeberang jalan—sebuah bus melaju kencang dan…

Semuanya berakhir di sana.

Sejak Saat Itu, Dia Menganggapku Penyebab Kematian Ibunya

Kini aku tahu alasan suamiku begitu membenciku.

Baginya, aku adalah orang yang secara tidak langsung membunuh ibunya.

Jika aku tidak muntah pagi itu…

Jika kami tidak bertengkar…

Jika aku bisa sedikit lebih sabar…

Mungkin ibu mertua tidak akan pergi dari rumah…

Sejak hari itu, suamiku pindah ke kamar ibu.

Setiap malam dia pulang dalam keadaan mabuk.

Aku hidup dalam rasa bersalah yang menyiksa.

Aku ingin memberitahunya bahwa aku hamil, bahwa kami akan punya bayi.

Namun saat melihat matanya yang dingin, semua kata-kata menguap.

Aku berharap dia memarahiku, memukulku, atau membentakku. Itu lebih baik daripada sikap dingin yang menusuk jiwa ini.

Hari-hari berjalan dengan berat.  Kami hidup serumah seperti dua orang asing. Bahkan lebih buruk dari itu.  Aku adalah simpul mati dalam hidupnya, dan dia pun menjadi luka abadi dalam hatiku.

Suatu hari, aku melihat dia duduk di sebuah restoran barat bersama seorang gadis muda. Melalui kaca besar restoran itu, kulihat dia menyentuh rambut gadis itu dengan lembut.

Aku membeku. Lalu masuk ke restoran dan berdiri di hadapan mereka. Aku menatap suamiku tanpa air mata, tanpa kata-kata. Gadis itu pun berdiri, hendak pergi. Tapi suamiku menahannya,
dan menatap balik padaku dengan tatapan keras yang tak kalah dingin.

Aku hanya bisa mendengar detak jantungku yang pelan, seperti sedang berjalan menuju kematian. Aku kalah. Jika aku terus berdiri di situ, aku bisa pingsan bersama bayi dalam kandunganku.

Malam itu, suamiku tidak pulang.  Dengan cara itu, dia memberitahuku: Dengan kepergian ibunya, cinta kami pun telah mati.

Kadang, aku pulang dan melihat lemari sudah disentuh. Dia datang diam-diam, hanya untuk mengambil barang-barangnya. Aku tak mau menelepon. Dulu aku sempat ingin menjelaskan. Namun kini semuanya sudah sia-sia.

Aku hidup sendiri. 

Pergi kontrol kehamilan sendiri.

Setiap kali melihat seorang suami menggandeng istrinya yang hamil, hatiku seperti retak berkeping-keping.

Temanku menyarankan menggugurkan saja. Tapi aku menolak mentah-mentah.  Aku seperti orang gila yang bertekad melahirkan anak ini.

Setidaknya untuk menebus kesalahanku atas kematian ibu mertua.

Akhirnya, Malam Itu Tiba…

Suatu malam di akhir musim semi, rasa sakit di perutku membuatku berteriak keras. Suamiku tiba-tiba menerobos masuk, seolah dia memang tidak tidur malam itu—seolah dia memang menunggu momen itu.

Dia menggendongku, berlari menuruni tangga, menghentikan taksi, dan memegang erat tanganku sepanjang jalan. Sesekali dia menyeka keringat di dahiku.

Sesampainya di rumah sakit, dia langsung menggendongku menuju ruang bersalin.
 

Di atas punggung kurus dan hangatnya, aku tiba-tiba berpikir:  “Dalam hidup ini, adakah orang lain yang akan sepeduli dan mencintaiku seperti ini?”

Saat pintu ruang bersalin mulai ditutup, aku menoleh ke arahnya dan tersenyum. Saat keluar, dia menatapku dan anak kami sambil tersenyum penuh air mata. Aku menggenggam tangannya. Dia membalas senyum.

Namun tiba-tiba, tubuhnya lemas dan ambruk ke lantai. Aku panik dan memanggil namanya. Dia tetap tersenyum, tapi tidak membuka matanya lagi.

Kenyataan yang Terlambat: Dia Sedang Sakit Parah…

Dokter berkata, suamiku mengidap kanker hati stadium akhir. Dia sudah mengetahuinya sejak lima bulan yang lalu.

Lima bulan. Dia bertahan hanya demi melihat wajah anaknya.
 

Kata dokter, itu adalah keajaiban medis.

Aku pulang ke rumah dan langsung membuka komputer di kamarnya.

Dalam folder di desktop, ada file tulisan lebih dari 200.000 kata. Isinya adalah pesan-pesan untuk anak kami.

“Anakku, Ayah bertahan sampai hari ini hanya untuk melihatmu lahir. Itu adalah harapan terbesar Ayah.

Dalam hidup, kamu akan menemukan kebahagiaan dan juga kesulitan.

Ayah tidak bisa menemanimu tumbuh, tapi Ayah ingin menuliskan semuanya di sini—tentang kehidupan, tentang cinta, tentang kerja keras, agar kamu tahu apa yang harus kamu lakukan saat menghadapi semuanya.”

Dia menuliskan dengan rinci, dari hari pertama si anak masuk TK, SD, SMP, kuliah, hingga dunia kerja dan cinta.

Lalu aku menemukan sepucuk surat yang ditujukan untukku:

**”Sayangku… menikah denganmu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Maafkan aku atas semua luka yang pernah kuberi. Maaf aku menyembunyikan penyakitku, aku hanya ingin kamu menjalani kehamilan dengan tenang dan bahagia.

Jika kamu menangis saat membaca ini, berarti kamu telah memaafkanku. Maka, aku pun akan tersenyum.

Tolong… setiap tahun kirimkan hadiah dari Ayah untuk anak kita. Kotak-kotaknya sudah kubungkus, tanggalnya sudah tertulis…”**

Aku Kembali ke Rumah Sakit…

Suamiku masih tak sadarkan diri. Aku membawa anak kami dan meletakkannya di sebelahnya.


Kukatakan dengan lembut: 

**”Sayang, bukalah matamu dan tersenyumlah…

Aku ingin anak kita mengingat hangatnya pelukanmu…”**

Dia membuka matanya perlahan. Tersenyum pelan.

Anak kami menggeliat di dadanya, menggerak-gerakkan tangan mungilnya.

“Klik… klik…”
 

Aku memotret momen itu.

Tangisku pecah, jatuh bersama setiap jepretan.

Akhir Kata: Cinta yang Telah Luka, Namun Tak Pernah Hilang

Dulu aku pikir, aku tidak akan menangis lagi untuknya. Ternyata tidak pernah sekalipun aku menangis sehebat malam itu.

Luka di hatiku terlalu dalam. Aku ingin memaafkan. Tapi aku tak bisa melupakan—terutama tatapan dinginnya di restoran itu. Tatapan yang menusuk hatiku seperti pisau.

Lukaku adalah luka tanpa sengaja.

Lukanya… dia buat dengan sadar.

Kini, satu-satunya yang membuat hatiku hangat adalah anak kami.

Untuk cinta kami yang pernah ada, untuk ibu mertua yang kini tenang di alam sana, dan untuk suamiku…

Kau tetaplah cintaku yang tak tergantikan. (jhn/yn0

Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi, Dua Bandara Ditutup Sementara

EtIndonesia. Dua bandara ditutup akibat gunungapi Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, kembali erupsi pada Senin, 7 Juli 2025 pukul 11.05 WITA. 

Saat ini, status gunung bertipe strato volcano itu ditetapkan pada Level IV (Awas). Hujan abu vulkanik masih terpantau terjadi, seiring kondisi angin yang terus berhembus ke tiga arah.

“Atas peristiwa erupsi hari ini, dua bandara yakni Bandara Larantuka dan Bandara Maumere harus ditutup sementara akibat dampak sebaran abu. Meskipun demikian, arus lalu lintas di darat hingga kini masih terpantau aman dan lancar,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam rilsinya. 

Menyikapi kondisi ini, BNPB mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 6 kilometer dari pusat erupsi, serta di sektor barat daya–timur laut sejauh 7 kilometer. Kesiapsiagaan terhadap potensi banjir lahar juga perlu ditingkatkan, terutama di daerah aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Lewotobi Laki-laki, seperti Sungai Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya, dan Nurabelen, apabila terjadi hujan lebat.

Bagi warga yang terdampak hujan abu, disarankan untuk menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut guna melindungi saluran pernapasan. BNPB juga menekankan pentingnya bagi masyarakat untuk tetap tenang, mengikuti arahan resmi dari pemerintah daerah, serta tidak menyebarkan atau mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya.

Dalam masa darurat ini, Pemerintah senantiasa berkomitmen untuk menjaga pemenuhan kebutuhan dasar bagi warga terdampak. Ketersediaan dukungan bantuan logistik dipastikan tercukupi. 

Pada dua minggu yang lalu, BNPB juga telah mengirimkan 50.000 masker ke Flores Timur guna memenuhi kebutuhan masker bagi warga di sekitar kawasan terdampak erupsi.  (asr)

Sebuah Kisah Nyata yang Membuat 90% Pria Menitikkan Air Mata

EtIndonesia. Terdengar suara kunci berputar di lubang pintu—suamiku pulang. 

Namun kali ini, tidak seperti biasanya, dia tidak masuk rumah sambil berseru ceria: “Sayang, aku pulang! Lapar sekali! Ada makanan apa?”

Sebaliknya, dia hanya duduk di sofa, diam, termenung.  Aku memanggilnya beberapa kali, tapi tak ada respons. Aku mendekat, melihat dia terduduk lesu di pojok sofa, wajahnya suram, dan yang mengejutkan—bajunya penuh noda darah.

Aku panik.

Aku bertanya: “Apa yang terjadi?!”

Dia menggeleng pelan, dan berkata: “Tidak apa-apa… sebelum pulang, aku tangani kecelakaan lalu lintas. Suasana hati buruk. Kamu makan duluan ya, nanti aku cerita.”

“Kamu tidak makan?” tanyaku.

“Aku tak selera…” jawabnya.

Itu belum pernah terjadi sebelumnya.

Suamiku seorang polisi lalu lintas, sudah lima-enam tahun bertugas di bagian kecelakaan. Dia sering berkata, dia sudah agak mati rasa terhadap segala hal menyedihkan seperti perpisahan, kematian, dan tragedi jalanan. Bahkan aku sendiri sudah terbiasa melihat foto-foto berdarah dalam dokumen-dokumen kasus.

Tiap hari, kantornya kedatangan keluarga korban yang menangis histeris, namun dia tetap mampu bersikap profesional saat menangani kasus—tanpa mencampur emosi pribadi.

Aku sendiri adalah wanita yang mudah menangis, tapi suamiku seperti sudah kebal terhadap air mata.

Dia pernah berkata: “Kalau aku harus menangisi setiap orang yang meninggal, aku sudah tak bisa bertahan hidup di pekerjaan ini.”

Tapi hari ini berbeda. 

Jelas sekali… dia telah menangis.

Cerita berikut ini adalah kisah nyata yang diceritakan langsung oleh suamiku—seorang polisi lalu lintas.

“Pukul 16:03, saya menerima laporan dari pusat komando:

Telah terjadi tabrakan keras antara sebuah mobil sedan Santana 2000 dan sebuah truk kecil pengangkut barang, sekitar 400 meter dari lampu lalu lintas di Jalan Jiefang.

Karena lokasi kejadian tidak jauh, saya dan rekan saya, Xiao Wang, langsung meluncur ke lokasi. Saat kami tiba, ambulans belum datang. Kami segera bergegas menyelamatkan korban.

Pengemudi truk yang menjadi penyebab kecelakaan sudah kabur. Pintu kendaraannya terbuka lebar. Di dalam mobil yang ditabrak, ada dua orang—seorang pria dan seorang wanita. Pria itu penuh darah, wajahnya tampak sangat mengerikan, mungkin matanya tertusuk pecahan kaca kacamata. Wanita itu tampaknya masih sadar. Bersama orang-orang yang lewat, dia berusaha mengangkat tubuh pria itu keluar dari mobil.

Karena benturan yang sangat keras, bagian depan sedan Santana rusak parah. Pria itu terjepit di kursi pengemudi, kemungkinan besar kakinya patah, sehingga tidak bisa bergerak.

Saya menyuruh Xiao Wang segera membawa sang wanita ke rumah sakit, tapi wanita itu menolak. Dia justru memeluk pria itu erat-erat, seperti tidak rela berpisah.

Kami mengambil alat pencongkel untuk membuka pintu dan membebaskan pria itu.

Saat itulah saya melihat darah mulai mengalir dari sudut mulut wanita tersebut, wajahnya pucat. Berdasarkan pengalaman saya, itu pertanda tidak baik.

Di perjalanan ke rumah sakit, kami terjebak macet karena jam pulang kerja.

Wanita itu duduk di kursi belakang, memangku pria tersebut. Pria itu mengerang kesakitan. Tangan mereka saling menggenggam erat, jari-jemari mereka bertautan.

Darah terus mengalir dari mulut wanita itu, menetes ke pakaian si pria. Dia menutup rapat bibirnya, menahan darah agar tak menyembur keluar. Air matanya jatuh, satu per satu, dalam diam. Wajahnya mencerminkan rasa sakit yang dalam—namun juga cinta yang tak tergoyahkan.

Setibanya di rumah sakit, petugas medis sudah menunggu. Saat pria itu diangkat keluar oleh petugas, wanita itu tiba-tiba ambruk ke tanah.

Darah mengucur deras dari mulutnya.

Aku dan Xiao Wang langsung mengangkatnya. Berdasarkan pengamatan saya, dia pasti mengalami patah tulang rusuk yang menusuk organ dalam. Namun, dia masih bertahan sampai sekarang—sebuah kekuatan luar biasa dari cinta.

Dalam kondisi setengah sadar, wanita itu menggenggam tanganku dan berkata pelan: “Sayang… gunakan mataku untuk melihat dunia ini…”

Air mata langsung mengalir di wajahku.

Keduanya dibawa masuk ke ruang operasi.

Aku menyuruh Xiao Wang menghubungi keluarga dan mengurus administrasi, lalu aku kembali ke lokasi kecelakaan untuk penyelidikan lanjutan.

Di lokasi kejadian, pecahan kaca dan serpihan mobil berserakan. Noda darah masih tampak jelas.  Kecelakaan ini sungguh mengerikan.

Namun… ada yang tidak biasa.

Dari jejak rem dan pola kerusakan, aku menemukan dua hal yang mencurigakan:

1. Biasanya, dalam kecelakaan tabrak belakang, bagian depan mobil rusak di sisi kanan (sisi penumpang depan), karena pengemudi cenderung refleks membelokkan kemudi ke kiri untuk melindungi diri.

Tapi kali ini, kerusakan justru di sisi kiri—kursi pengemudi. Ini hanya bisa terjadi jika pengemudi tidak sempat menghindar, atau…

2. Dari panjang jejak rem, terlihat bahwa pengemudi punya cukup waktu untuk menghindar

 Jejak dan arah benturan menunjukkan bahwa awalnya dia memang membelokkan ke kiri, tetapi kemudian dengan paksa membelok ke kanan lagi. Hasilnya: tubuhnya sendiri yang menghantam keras bagian truk.

Mengapa?

Setelah dikonfirmasi beberapa saksi di tempat kejadian, hipotesis ini benar.

Pria itu memilih untuk membelok ke arah bahaya—demi menyelamatkan wanita di sebelahnya.

Wanita itu mungkin sudah tahu dia tak akan bertahan. Itulah mengapa dia terus menutup mulut, menahan darah, dan diam-diam menangis.  Mungkin dia hanya ingin menghabiskan sisa hidupnya di pelukan pria yang dia cintai.

Beberapa saat kemudian, Xiao Wang menelepon: “Perempuan itu… meninggal. Pria itu masih dirawat intensif. Wanita itu mengalami pendarahan internal akibat tulang rusuk yang menusuk paru-paru dan limpa. Pria itu mengalami cedera mata, patah tulang rusuk, dan kedua kaki patah.”

Pihak rumah sakit sedang mempertimbangkan untuk mentransplantasikan kornea sang wanita ke pria tersebut, sesuai dengan wasiat terakhirnya.

Setelah suamiku menyelesaikan ceritanya, dia memandangku dan berkata: “Selama jadi polisi, ini pertama kalinya aku merasa begitu… hancur. Aku baru benar-benar mengerti arti cinta dan pengorbanan.”

Air mataku mengalir tanpa sadar.

Aku tidak ada di tempat kejadian. Aku juga tak bisa memastikan kebenaran kisah itu.

Tapi aku benar-benar tersentuh oleh cahaya kemanusiaan dan cinta yang mereka berdua pancarkan.

Ketika seseorang rela menyerahkan harapan hidup demi orang yang dia cintai—itulah puncak kemuliaan manusia.

Di dunia yang makin keras, penuh egoisme dan kepentingan pribadi, kisah seperti ini adalah pengingat bahwa cinta sejati masih ada. Bahwa keindahan dan pengorbanan masih mampu menghangatkan hati yang mulai membeku.

Aku tidak tahu…

Apakah pria itu akhirnya bisa melihat dunia ini lewat mata kekasihnya

Tapi aku sungguh berharap…

Semoga dia selamat.

Semoga dia bisa hidup untuk dua orang.

Sebuah kisah yang sungguh menggetarkan hati.

Terima kasih telah membacanya. (jhn/yn)

Saat Anak Tidak Menghormatimu dan Mengabaikanmu: Jangan Marah, Jangan Mendebat, Jangan Mengeluh – Cukup Ingat Saja 3 Kata ‘TIDAK’ Ini”

EtIndonesia. Hubungan antara orangtua dan anak sejatinya adalah proses perpisahan yang berjalan perlahan—semakin lama, semakin jauh. Dan dalam proses ini, hanya bisa kita jalani dengan hati-hati dan penuh rasa syukur.

Seiring bertambahnya usia anak-anak, mereka mulai punya rahasia sendiri, pemikiran sendiri, bahkan sering kali—kasih sayang dan nasihat kita pun tak lagi dianggap penting.

Dulu saat masih kecil, mereka selalu lengket pada kita, menanyakan ini dan itu, seolah kita adalah pahlawan super mereka.

Kini, mereka sudah dewasa, punya “sayap” sendiri, dan mulai terbang ke langit impian mereka. Kadang, sikap cuek mereka, ketidakpedulian mereka, bahkan perlawanan mereka, membuat hati kita bingung dan sedih.

Namun, menghadapi perubahan ini, marah atau berdebat bukanlah solusi terbaik. Sebaliknya, yang kita butuhkan adalah lebih banyak pengertian dan penerimaan.

Jika suatu hari anakmu tak lagi menghormatimu, bahkan mengabaikanmu, ingatlah tiga hal penting ini:

Jangan marah, jangan berdebat, dan jangan mengeluh. Tiga kata “TIDAK” yang akan menyelamatkan hatimu dan keluargamu.

1. Tidak Marah – Tetap Tenang Saat Anak Mulai Dingin

Kita sering mendengar kisah-kisah yang menyayat hati…

Contohnya, tahun lalu beredar berita tentang seorang ibu tua yang tinggal sendirian di perumahan tua karena anak-anaknya jarang pulang menjenguk. Di malam hari, dia sering duduk sendirian di dekat jendela, menatap langit malam penuh bintang—dalam diam, dia menaruh harapan dan kesepian sekaligus.

Padahal, dia memiliki tiga anak. Semuanya bekerja di luar kota, sibuk dengan pekerjaan dan kehidupan masing-masing. Mereka memang sesekali menelepon, tapi waktu yang benar-benar mereka habiskan bersama ibunya sangat sedikit.

Bahkan saat sang ibu sakit, atau saat ulang tahun dan hari raya, anak-anaknya selalu punya alasan “sibuk kerja” dan jarang pulang. Namun ibu ini tidak pernah marah, dan tak pernah mengeluhkan anak-anaknya kepada orang lain. Sebaliknya, dia memilih untuk memahami dan memaafkan.

Dia tahu, hidup di luar kota itu tidak mudah. Maka dia sering berkata kepada tetangga: “Mereka sibuk, saya mengerti. Asal mereka baik-baik saja, saya sudah tenang.”

Sikap anak yang dingin atau tak menghormati, tidak akan bisa diubah dengan kemarahan. Justru, kemarahan hanya akan memperlebar jarak hati. Sebagai orangtua, kita harus belajar memahami dan menerima.

Ingatlah pepatah lama: “Rumah yang damai membawa kebahagiaan dalam segala hal.”

Hanya jika suasana rumah penuh cinta dan hangat, keluarga bisa benar-benar berkembang.

2. Tidak Berdebat – Jangan Bertengkar, Mundurlah Satu Langkah

Banyak konflik antara orangtua dan anak sebenarnya bermula dari hal-hal kecil. Tapi jika dibiarkan, bisa tumbuh menjadi jurang besar yang memisahkan.

Apakah bertengkar bisa menyelesaikan masalah? Tidak. Kadang, dengan mundur selangkah saja, langit jadi lebih luas.

Contohnya keluarga Pak Zhang.

Pak Zhang adalah pensiunan buruh. Anaknya, Xiao Zhang, bekerja di luar kota dan hanya pulang saat Imlek. Tahun lalu, saat anaknya pulang, awalnya mereka ingin menghabiskan waktu bersama, tapi malah berakhir dengan pertengkaran.

Xiao Zhang mengeluh tidak ada Wi-Fi di rumah. Pak Zhang malah marah karena anaknya pulang hanya main HP dan tak membantu apa pun.

Lalu, Xiao Zhang bilang ingin pindah kerja. Tapi Pak Zhang mengkhawatirkan anaknya yang sering pindah-pindah kerja, khawatir hidupnya tak stabil.

Akhirnya, dua-duanya saling debat dan suasana jadi tegang. Xiao Zhang pun memilih pergi lebih awal.

Setelah itu, Pak Zhang merenung. Dia sadar—semua yang dia katakan sebenarnya karena sayang. Tapi karena dibicarakan dengan emosi, maksud baiknya jadi terdengar menyakitkan.

Tahun ini, saat anaknya pulang, Pak Zhang memilih diam. Anaknya mau main HP, biarkan. Tidak bantu-bantu pun tak masalah.
Bisa pulang dan bersama sebentar saja sudah cukup. Lebih baik tenang, daripada ribut. Lebih baik damai, daripada menang debat.

Perbedaan pandangan antara orangtua dan anak sangat wajar. Umur, pengalaman, dan cara berpikir tentu berbeda. Tapi jika kita bisa mengalah sedikit, mendengarkan sedikit, hati pun bisa kembali dekat.

Seperti yang dikatakan penulis Prancis, André Maurois: “Berpikir bahwa dua orang akan selalu sejalan dalam pikiran, keinginan, dan keputusan adalah ilusi paling konyol.”

3. Tidak Mengeluh – Jangan Bicarakan Keburukan Anak di Depan Orang

Di lingkungan sekitar, sering terdengar keluhan para orangtua.

Misalnya, saat saya sedang berjalan santai di kompleks, saya dengar beberapa ibu-ibu ngobrol. Satu ibu bilang, anak lelakinya sudah umur 30-an tapi belum juga mau menikah, membuatnya malu di depan keluarga besar. Yang lain bilang, anak perempuannya sering gonta-ganti pekerjaan, membuatnya cemas setiap hari.

Kelihatannya sepele, hanya obrolan ringan. Tapi jika anak-anak tahu, bisa sangat melukai hati mereka. Mereka mungkin merasa dipermalukan, merasa tidak dimengerti, dan justru makin jauh dari orangtuanya.

Saya kenal seorang tetangga, Bu Li, yang punya anak perempuan bernama Xiao Ling yang bekerja di luar kota.

Setiap kali Xiao Ling pulang, Bu Li tak tahan untuk membicarakan kekurangan anaknya di depan tetangga.

Xiao Ling pun merasa malu dan tersinggung. Lama-lama, dia jarang pulang dan hubungan ibu-anak itu pun semakin dingin.

Filsuf Schopenhauer pernah berkata: “Masalah pribadi seharusnya dijaga sebagai rahasia. Jika teman dekat pun tidak melihatnya langsung, janganlah diceritakan kepada mereka.”

Urusan rumah tangga, cukup dibicarakan di rumah. Urusan anak-anak, cukuplah dibagikan pada pasangan—tak perlu diumbar ke publik.

Penutup: Jangan Marah, Jangan Bertengkar, Jangan Mengeluh — Itulah Kunci Hati Seorang Orangtua

Hubungan orangtua dan anak adalah proses penuh ujian dan latihan hati.

Saat kita mulai menua, bersikaplah lembut kepada anak, tanpa kemarahan, tanpa adu argumen, tanpa mengeluh. Lebih banyak pengertian, lebih sedikit menyalahkan, itulah bentuk cinta yang sejati.

Rawatlah emosimu. Jaga kesehatanmu. Siapkan ruang untuk masa tua yang tenang dan bermartabat. Itulah investasi terbaik yang bisa kamu berikan—untuk diri sendiri dan keluargamu.(jhn/yn)

Pria di Tiongkok Menawarkan Tabungan Seumur Hidupnya kepada Siapa pun yang Mau Merawat Kucingnya

EtIndonesia. Seorang pria berusia 82 tahun di Tiongkok selatan ingin mewariskan seluruh harta warisannya kepada siapa pun yang mau merawat kucingnya setelah dia meninggal.

Pria yang hanya diidentifikasi dengan nama belakangnya Long itu tinggal sendirian di Provinsi Guangdong. Tanpa anak dan kehilangan istrinya satu dekade lalu.

Long menemukan teman dalam kelompok kucing liar yang diselamatkannya pada suatu hari hujan. Dari empat kucing liar yang diselamatkannya, hanya satu, seekor kucing bernama Xianba, yang masih bersamanya, menurut laporan The South China Morning Post.

Karena khawatir dengan apa yang akan terjadi pada kucing itu saat dia pergi, Long secara aktif mencari orang yang dapat dipercaya yang akan merawat Xianba dan memberinya perawatan seumur hidup tanpa syarat.

Sebagai imbalannya, dia menawarkan seluruh harta miliknya, termasuk apartemen dan tabungannya, kepada orang yang merawatnya dan memastikan kesejahteraannya. Berbicara kepada Radio dan Televisi Guangdong, Long mengatakan satu-satunya syaratnya adalah pemilik baru harus “merawat Xianba dengan baik”.

Pasar hewan peliharaan di Tiongkok telah berkembang menjadi industri bernilai miliaran dolar, dengan pengeluaran mencapai sekitar 42 miliar dolar pada tahun 2024, meningkat 7,5 persen dari tahun sebelumnya, menurut Financial Times.

Kepemilikan hewan peliharaan di perkotaan sedang berkembang pesat, dengan perkiraan yang menunjukkan hewan peliharaan akan segera melebihi jumlah anak kecil di kota-kota Tiongkok. Generasi muda, khususnya mereka yang lahir pada tahun 1990-an dan 2000-an, mendorong tren ini dengan memperlakukan hewan peliharaan sebagai anggota keluarga dan menghabiskan banyak uang untuk makanan premium, perawatan kesehatan, perawatan, aksesori, dan bahkan pemakaman.

Tahun lalu, seorang wanita tua di Shanghai memutuskan untuk mewariskan seluruh kekayaannya sebesar 2,8 juta dolar untuk hewan peliharaannya, dengan mengatakan anak-anaknya yang sudah dewasa tidak mengunjungi atau merawatnya di usia tua.

Wanita itu dilaporkan mengubah surat wasiatnya setelah bertahun-tahun ditelantarkan oleh anak-anaknya, bahkan selama sakit. Dia mengatakan kucing dan anjingnya memberinya persahabatan dan kenyamanan emosional yang konstan. (yn)

India Ungkap Tiongkok Berikan ‘Data Langsung’ kepada Pakistan Selama Konflik 7 Mei

Wakil kepala staf Angkatan Darat India menuduh keterlibatan langsung Beijing dalam konflik dengan Pakistan, memicu kekhawatiran atas semakin dalamnya aliansi permusuhan

EtIndonesia. Wakil kepala staf Angkatan Darat India, Rahul Singh, pada 4 Juli mengatakan bahwa Tiongkok memberikan “data langsung” kepada Pakistan selama konflik berdarah yang berlangsung selama empat hari dua bulan lalu, menyoroti kekuatan bermusuhan yang sedang bermain.

Pada 7 Mei, India melancarkan serangan militer—yang dikenal sebagai Operasi Sindoor—terhadap Pakistan terkait sengketa wilayah di Pahalgam, yang kemudian memicu eskalasi tajam dari kedua negara bersenjata nuklir tersebut. Gencatan senjata diumumkan pada 10 Mei, yang untuk sementara meredakan ketegangan politik.

Berbicara dalam sebuah acara pertahanan pada hari Jumat mengenai pelajaran dari konflik tersebut, Singh mengatakan bahwa India menghadapi tiga musuh. 

“Pakistan berada di garis depan,” ucapnya, tetapi dari belakang, rezim komunis Tiongkok “memberikan segala bentuk dukungan yang memungkinkan,” katanya.

“Pakistan menerima data langsung tentang posisi pasukan kami dari Tiongkok,” ujar Singh. Selain memberikan data operasional secara real-time, “81 persen dari perlengkapan militer Pakistan adalah buatan Tiongkok.” Faktor lain dari dukungan Beijing adalah keinginannya untuk “menguji senjata-senjatanya melawan senjata lain, jadi ini seperti laboratorium hidup bagi mereka,” tambahnya.

Singh menyebut bahwa Tiongkok menerapkan taktik “dibunuh dengan pisau pinjaman”—sebuah cara menyerang musuh dengan memanfaatkan pihak ketiga, sebagaimana dijelaskan dalam buku strategi Tiongkok abad ke-6, Tiga Puluh Enam Strategi.

 “Mereka lebih memilih menggunakan tetangga untuk menyebabkan penderitaan, daripada terlibat langsung dalam pertarungan di perbatasan utara,” katanya.

Selain Tiongkok, “Turki juga memainkan peran yang sangat penting dalam memberikan dukungan yang terlihat: Bayraktar, tentu saja… Kami juga melihat banyak drone lainnya datang, mendarat di garis depan selama perang, bersama dengan individu-individu terlatih yang juga hadir,” ungkap Singh.

Hubungan bilateral antara Beijing dan Islamabad telah terjalin sejak tahun 1950, tak lama setelah Partai Komunis mengambil alih kekuasaan di Tiongkok, di mana Pakistan menjadi negara Muslim pertama yang mengakui Tiongkok di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sejak tahun 1960-an, rezim Tiongkok telah menunjukkan aliansi strategis yang erat dengan memodernisasi kemampuan militer Pakistan.

Setelah pembantaian di Pahalgam pada 22 April—sebuah serangan militan mematikan di Kashmir yang menewaskan 25 warga negara India dan satu warga negara Nepal—India mengumumkan pelaksanaan Operasi Sindoor. Serangan itu menargetkan markas-markas militer Pakistan dan dibalas dengan serangan balik, sebelum New Delhi setuju pada gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat.

Pakistan telah membantah tuduhan bahwa pihaknya berada di balik serangan tersebut dan menyarankan bahwa insiden itu adalah operasi bendera palsu yang dilakukan India.

Islamabad dan New Delhi secara berkala terlibat bentrokan terkait perebutan wilayah Kashmir sejak tahun 1947, ketika India dan Pakistan pertama kali dipisahkan dan memperoleh kemerdekaan dari Kekaisaran Inggris.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan gencatan senjata tersebut melalui media sosial, menyatakan bahwa ia “akan bekerja dengan kalian berdua untuk melihat apakah… dapat ditemukan solusi terkait Kashmir.”

Laporan ini turut disumbangkan oleh Andrew Thornebrooke.

Kaum Kurcaci yang Hilang di Hawai: 17 Tahun Lalu, Seseorang Tanpa Sadar Masuk ke Dunia Mereka

EtIndonesia. Sejak kecil, orang-orang di Hawaii tumbuh dengan cerita-cerita yang diturunkan dari mulut ke mulut—cerita tentang makhluk kecil misterius yang disebut sebagai kurcaci. Banyak tempat di pulau ini diyakini merupakan hasil karya tangan-tangan mungil mereka. Namun kini, para kurcaci itu diyakini telah menjauh dari peradaban, menghilang ke tempat yang tak terjamah manusia.

Legenda seperti ini sebenarnya tidak hanya ada di Hawaii. Berbagai bangsa dan wilayah di dunia pun memiliki cerita serupa. Namun yang membedakan kisah dari Hawaii adalah adanya pengalaman nyata beberapa orang yang diduga pernah secara tak sengaja bertemu mereka.

Kurcaci di Pulau Hawaii

Dalam mitologi Hawaii, dikenal makhluk kecil penghuni pulau bernama Menehune. Mereka adalah sejenis kurcaci yang menurut cerita, telah tinggal di kepulauan ini sejak berabad-abad lalu, jauh sebelum para pemukim Polinesia tiba di Hawaii.

Menehune dikenal sebagai makhluk mungil yang sangat menyukai pisang dan ikan. Mereka disebut hidup di hutan lebat dan pegunungan terpencil, di lembah-lembah yang sulit dijangkau manusia. Mereka nyaris tidak pernah muncul di pemukiman penduduk.

Secara deskriptif, para Menehune sering digambarkan seperti kurcaci dalam cerita fantasi: bertubuh kecil, terampil, dan ahli dalam membangun. Mereka dikenal sebagai tukang dan pengrajin yang luar biasa, dan banyak struktur kuno di Hawaii yang dikaitkan dengan mereka.

Contohnya adalah Kolam Ikan Alekoko di Pulau Kauai. Penduduk setempat menyebutnya sebagai Kolam Ikan Menehune, dan tempat ini telah masuk ke dalam Daftar Situs Bersejarah Nasional Amerika Serikat.  Kolam ini diperkirakan dibangun pada abad ke-15, dan merupakan kolam air asin pertama di pulau tersebut, diduga sepenuhnya dibuat oleh para Menehune.

Tak jauh dari sana, di dekat Kota Waimea, juga terdapat Saluran Irigasi Kikiaola, yang juga masuk daftar situs bersejarah. Struktur ini terdiri dari 120 balok batu basal yang dipotong dengan sangat presisi. Seorang arkeolog Amerika, Wendell C. Bennett, menyebutnya sebagai “karya puncak dari konstruksi saluran batu.”

Tak hanya kolam dan saluran, berbagai kuil, jalan, rumah, dan kano di pulau ini juga dipercaya merupakan hasil karya para kurcaci Menehune.

Kurcaci yang Bekerja dalam Kegelapan

Menehune dikenal sebagai makhluk malam. Mereka tidak pernah muncul di siang hari, dan hanya berkarya saat malam telah larut. Jika mereka tidak berhasil menyelesaikan pekerjaan sebelum matahari terbit, maka proyek itu akan ditinggalkan begitu saja.

Karena itu, sangat jarang manusia bisa melihat langsung para Menehune. Bahkan dikatakan, hanya anak-anak Menehune sendiri, atau manusia yang memiliki garis keturunan darah dari mereka, yang bisa melihat kemunculan mereka secara nyata.

Sebuah Pengalaman Aneh—17 Tahun Lalu

Seorang pria anonim membagikan pengalamannya. Pada tahun 2008, dia pindah dan menetap di Pulau Maui, pulau terbesar kedua di Kepulauan Hawaii.

Di dekat rumahnya, terdapat sepetak hutan bambu milik pribadi. Di tempat itu, terdapat sekitar belasan pot kecil berisi tanaman, yang dibiarkan tergeletak tak terurus.Dia lalu memindahkan semua pot itu ke tempat yang lebih tersembunyi, dan setiap hari memeriksa kondisinya agar bisa tumbuh sehat di bawah sinar matahari.

Namun suatu hari, saat dia kembali seperti biasa—semua pot itu menghilang tanpa jejak.

Dia mengira seseorang telah mencuri tanaman-tanaman itu, lalu dia mulai mencarinya. Pencariannya membawanya ke sebuah gua yang tersembunyi, penuh dengan pakis berdaun lebar yang tinggi menjulang.

Di dalam gua itu, dia menemukan sesuatu yang tak akan pernah dia lupakan:

·        Di antara kabut dan pakis, ada sebuah jembatan kecil dari lumut, seperti jembatan miniatur.

·        Jembatan itu mengarah ke sebuah batu besar berbentuk aneh, dan batu itu dipenuhi jamur bercahaya biru yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

·        Tanaman-tanaman miliknya tersusun rapi dalam bentuk lingkaran sempurna di sekitar batu.

·        Di sekelilingnya, terdapat ranting-ranting kecil berdiri tegak, dan taburan bunga gardenia, seolah seperti semacam ritual atau altar kecil.

Beberapa tahun kemudian, dia membagikan cerita itu kepada seorang penduduk lokal.

Mendengar ceritanya, orang lokal itu hanya tersenyum dan berkata: “Itu benar-benar pengalaman dengan para Menehune.”

Makhluk Misterius atau Warisan Leluhur?

Kisah Menehune hingga hari ini masih menjadi misteri. Apakah mereka benar-benar ada? Atau hanyalah mitos yang diwariskan secara turun-temurun?

Bagi banyak orang Hawaii, keberadaan mereka bukan sekadar dongeng, melainkan bagian dari identitas budaya dan sejarah yang terus hidup. Struktur-struktur kuno yang terlalu rumit untuk dibangun oleh masyarakat prasejarah biasa menjadi saksi bisu keberadaan mereka.

Dan siapa tahu… Mungkin di suatu malam yang tenang, di antara bisikan angin dan gemuruh laut, para Menehune masih bekerja dalam diam, membangun sesuatu—dengan tangan mungil mereka, jauh dari mata manusia.(jhn/yn)

Identitas Digital Internet Terbaru Tiongkok Picu Kekhawatiran Terkait Pengawasan dan Kontrol Digital Secara Total

Sistem ini  terintegrasi kepada lebih dari 400 aplikasi, mencakup e-commerce, layanan kesehatan, pariwisata, pendidikan, dan layanan publik.

EtIndonesia. Mulai 15 Juli 2025, Partai Komunis Tiongkok (PKT) akan meluncurkan sistem Identitas Internet (Internet ID) baru secara menyeluruh, memicu kekhawatiran bahwa inisiatif ini dapat membuka era baru pengawasan dan kontrol terhadap kehidupan digital lebih dari satu miliar orang.

Program baru ini diperkenalkan oleh enam departemen pemerintah utama, termasuk Kementerian Keamanan Publik PKT dan regulator internet tertinggi Tiongkok. 

Program ini akan mewajibkan pengguna untuk mendaftar dengan nama asli dan memperoleh “nomor internet” serta “sertifikat internet” yang diterbitkan oleh negara. Identitas digital ini akan digunakan untuk mengakses berbagai platform daring yang memerlukan otentikasi nama asli—berpotensi mencakup segalanya, mulai dari media sosial hingga catatan kesehatan, portal pendidikan, dan layanan pemerintahan.

Meskipun rezim Tiongkok bersikeras bahwa partisipasi bersifat sukarela, para pengamat memperingatkan bahwa sistem ini dirancang untuk diberlakukan secara bertahap seiring upaya rezim dalam memusatkan kontrol dan pengawasan terhadap pengguna internet di Tiongkok.

“Ini jelas merupakan peluncuran bertahap dari sistem pengawasan yang menyeluruh,” ujar Cao Lei, seorang analis data internet independen asal Tiongkok, kepada The Epoch Times.

Media milik negara partai komunis Tiongkok mengumumkan sistem baru ini pada  Mei dan mengklaim Internet ID sebagai sarana untuk “melindungi informasi pribadi” serta menyederhanakan regulasi dan verifikasi pemerintah. 

Untuk mengajukan Internet ID, pengguna harus menyerahkan dokumen identitas resmi seperti Kartu Identitas Penduduk Tiongkok, paspor, atau Izin Tinggal Daratan bagi penduduk Hong Kong, Makau, dan Taiwan. Proses ini juga mengharuskan verifikasi melalui pengenalan wajah dan nomor ponsel. Bahkan anak di bawah umur dianjurkan untuk mendaftar, dengan wali mereka menyerahkan identifikasi atas nama mereka.

Saat ini, sistem ini telah terintegrasi ke lebih dari 400 aplikasi, mencakup bidang e-commerce, layanan kesehatan, pariwisata, pendidikan, dan layanan publik.

Berdalih atas Nama Keamanan

Rezim Tiongkok mengklaim bahwa sistem baru ini bertujuan memerangi penipuan daring dan kejahatan siber, namun para pakar hukum dan pengguna internet di Tiongkok telah menyampaikan kritik.

Zhang Hong, seorang sosiolog di Universitas Tsinghua—universitas terkemuka di Tiongkok, mencatat bahwa kebijakan nama asli sebelumnya, seperti keharusan menunjukkan identitas saat mendaftar nomor telepon, hanya secara teoritis dapat digunakan untuk memberantas penipuan dan kejahatan siber. Namun dalam praktiknya, hal itu tidak membawa penurunan signifikan dalam angka kejahatan. “Rekening bank orang-orang masih saja diretas,” ujarnya kepada The Epoch Times.

Dalam sebuah artikel pada  Juni, profesor hukum dari Universitas Tsinghua, Lao Dongyan, mengkritik perluasan kontrol negara. “Sistem Internet ID pada dasarnya menerapkan alat penyelidikan kriminal yang biasa digunakan terhadap tersangka ke seluruh warga negara biasa,” tulisnya. “Ini jelas-jelas melanggar prinsip-prinsip hukum.”

Perluasan Sensor

Bagi banyak warga Tiongkok, daftar persyaratan identitas digital yang semakin panjang menciptakan atmosfer ketakutan dalam rezim yang sudah menerapkan pengawasan dan sensor yang sangat ketat.

Chen Xiaoping, seorang warga Dongguan, Tiongkok, menggambarkan situasinya kepada The Epoch Times. “Penerapan verifikasi identitas nama asli secara menyeluruh semakin mempersempit ruang kebebasan berbicara di dunia maya, membuat orang takut untuk menyampaikan pendapat karena khawatir akan ditandai.”

Sejak internet hadir di Tiongkok pada awal 1990-an, PKT memandang akses terbuka terhadap informasi sebagai ancaman terhadap kontrol politiknya. Khawatir rakyat Tiongkok akan terpapar ide-ide di luar narasi negara, rezim mulai membangun sistem sensor yang semakin hari semakin ketat.

Sensor terhadap situs luar negeri telah meluas ke platform media sosial dan mesin pencari. Rezim Tiongkok menciptakan mesin pencari, platform streaming video, dan layanan obrolan daring versinya sendiri setelah melarang Google, YouTube, Facebook, dan lainnya.

PKT sebelumnya telah menerapkan kewajiban verifikasi identitas untuk nomor telepon dan platform media sosial besar, meskipun sistem sensor yang sudah ketat pun telah memblokir dan menghapus konten daring yang sedikit saja mengkritik rezim. 

Namun demikian, mekanisme verifikasi identitas tersebut dijalankan oleh masing-masing situs atau aplikasi. Kini, sistem Internet ID baru mengalihkan tanggung jawab itu ke rezim, di bawah sistem manajemen terpusat milik PKT.

Pengawasan Daring

Weibo, platform mikroblog utama di Tiongkok, mulai mewajibkan verifikasi identitas untuk akun baru sejak tahun 2011. Persyaratan serupa kemudian diperluas ke grup obrolan daring dan platform media sosial lainnya.

WeChat, platform obrolan daring utama di Tiongkok yang mirip dengan WhatsApp, telah terintegrasi ke dalam sistem pembayaran nasional dan menjadi metode pembayaran paling umum di seluruh negeri. Hampir semua orang di Tiongkok yang memiliki ponsel telah mendaftar WeChat dengan verifikasi identitas, karena tanpanya, pembayaran dan transaksi harian menjadi sangat tidak praktis. Hal ini memungkinkan rezim mengidentifikasi hampir semua pengguna media sosial.

Bahkan di Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya, PKT menggunakan WeChat untuk menyusup dan memantau warga Tiongkok di luar negeri, karena aplikasi ini mencakup hampir seluruh aspek kehidupan daring masyarakat Tiongkok.

Dengan peluncuran pada 15 Juli mendatang, Tiongkok tampaknya siap untuk bergerak melampaui kebijakan nama asli yang terfragmentasi menuju sistem identitas digital terpusat yang dikendalikan negara—sebuah sistem yang menurut para kritikus tidak memberi ruang bagi privasi, perbedaan pendapat, atau anonimitas di dunia maya.

Sumber : Theepochtimes.com

Jepang Akan Mengekspor Kapal Perusak Bekas ke Philipina untuk Mencegah Ekspansi Tiongkok

EtIndonesia. Jepang akan mengekspor kapal perusak angkatan laut bekas ke Philipina untuk memperkuat pencegahannya terhadap ekspansi maritim Tiongkok, surat kabar Yomiuri melaporkan pada hari Minggu (6/7), karena kedua sekutu AS tersebut meningkatkan kerja sama untuk melawan Beijing.

Rencana ekspor tersebut melibatkan enam kapal perusak kelas Abukuma yang telah bertugas di Pasukan Bela Diri Maritim Jepang selama lebih dari tiga dekade, kata harian Jepang tersebut, mengutip beberapa sumber pemerintah yang tidak disebutkan namanya.

Menteri pertahanan Jenderal Nakatani dan Gilberto Teodoro menyetujui ekspor kapal perusak tersebut ketika mereka bertemu di Singapura bulan lalu, kata Yomiuri, seraya menambahkan bahwa militer Philipina akan memeriksa kapal perusak tersebut musim panas ini sebagai bagian dari persiapan akhir.

Delegasi pakar angkatan laut dari Philipina akan melakukan penilaian mendalam terhadap kapal-kapal tersebut, kata Angkatan Laut Philipina dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu, menyusul undangan resmi dari kementerian pertahanan Jepang.

“Hasil inspeksi ini akan memandu pertimbangan lebih lanjut tentang potensi akuisisi dan penyelarasannya dengan upaya modernisasi Angkatan Laut Philipina,” katanya, seraya menambahkan bahwa inisiatif tersebut mencerminkan kemitraan strategis yang semakin mendalam antara Philipina dan Jepang.

Seorang juru bicara Kementerian Pertahanan Jepang menolak mengomentari laporan tersebut dan Kementerian Luar Negeri Tiongkok tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Reuters.

Tokyo dan Manila mengatakan mereka menghadapi tantangan dari tindakan Beijing yang semakin agresif di perairan termasuk Laut Cina Selatan untuk Philipina dan Laut Cina Timur untuk Jepang.

Kerja sama militer bilateral telah mencakup latihan bersama, paket bantuan radar Jepang, dan dialog strategis tingkat tinggi. Tahun lalu mereka menandatangani perjanjian akses timbal balik, yang pertama bagi Jepang di Asia, yang memungkinkan pengerahan pasukan di wilayah masing-masing.

Untuk menghapus pembatasan ekspor peralatan militer untuk kapal perusak di bawah mandat pasifis Jepang, Tokyo akan memperlakukan pemasangan peralatan dan sistem komunikasi yang diminta oleh Manila sebagai proyek pengembangan bersama, kata Yomiuri.

Kapal perusak kelas Abukuma, jenis kapal perusak yang relatif kecil dengan bobot standar 2.000 ton, dioperasikan oleh sekitar 120 awak dan dipersenjatai dengan rudal antikapal selam dan antikapal, tabung torpedo, dan senjata, menurut situs web angkatan laut Jepang.

Angkatan Laut Philipina tidak memiliki kapal perusak, hanya fregat dan korvet, yang biasanya merupakan kapal yang lebih kecil dan bersenjata ringan. (yn)